(HD) 5. Bikin Pengin Crot




Halo, Kak!

Mulai dari sini Kakak sudah boleh iri. Aku aja iri sama diriku sendiri, kok bisa-bisanya aku ngalamin ini?

Menyentuh tubuh tentara tuh sebuah kemustahilan yang absolut. Apalagi di bagian-bagian yang sensitif.

Emangnya aku enggak pernah ngewe sama seorang tentara? Pernah, Kak. Sekali. Waktu threesome sama Deva (tapi itu cerita di lain hari). (Dan itu juga momen di mana aku akhirnya ‘putus’ dari Deva.) Cuma si tentara itu enggak sepenuhnya ‘tentara’. Ada satu hal dari ‘tentara’ tersebut yang membuatnya jadi enggak tentara. Aku penginnya tentara yang masih tentara, yang pake celana loreng-loreng, sepatu bot, masih aktif, dan masih pegang senjata.

Jadi secara teknis, aku belum pernah ngewe dengan tentara yang kufantasikan.

Meski mereka berserakan di kota ini sejak pendidikan taruna dibuka di lanud sini, bukan berarti aku bisa ngewe sebebas-bebasnya dengan mereka. Yang ada malah jumlah pengguna aplikasi homo agak berkurang sedikit demi sedikit karena takut ditangkap tentara.

Masalahnya, sejak aku threesome bareng si ‘tentara’ (dan Deva), aku makin terobsesi sama jenis manusia ini. Aku merasa tentara adalah makhluk superior yang menawan, sulit didapatkan, paling jantan sejagad raya, dan tak ada yang mengalahkan keseksiannya. Makanya aku sempat nge-hang pas dikasih tugas ngecekin kontolnya calon tentara. Sampai detik ini, aku masih enggak bisa ngebayangin gimana proses medical check up barengan lelaki-lelaki prima yang jantan ini.

Biasanya aku ngecek kontol aki-aki. Atau lelaki yang body-nya enggak fit sama sekali.

Tapi mungkin aku mestinya ngecek kontol aki-aki aja, sih. Mungkin aku bakal mimisan ketika pasienku semuanya calon tentara. Soalnya, satu tentara gagah mamerin ketek depan mukaku aja badanku langsung membeku kayak komputer Windows keluaran lama yang kebanyakan buka apps.

“Udah lama Abang enggak cukur bulu ketek.” Fian masih saja menoleh ke keteknya sendiri, meraba-raba bulunya dengan jari. Seakan-akan itu adalah bahan bulu yang lembut di toko kain yang perlu kita raba dan rasakan bulu-bulunya. “Gara-gara sibuk ngurusin anak-anak baru, jadi lupa rawat diri.”

Fian ganti mengangkat lengan satunya lagi, memamerkan keteknya yang satunya lagi, ketek yang sama-sama berbulu. Yang juga dia susurkan jemarinya hingga bulu-bulu itu bergoyang seperti rumput.

Aku menelan ludah.

Aku masih belum bisa merespons permintaan Fian yang pengin bulu-bulunya ku-waxing. Aku masih berdiri diam karena terpesona oleh dua ketek tentara itu. Ketek yang penampangnya lebar karena bahu dan lats-nya mengembang kekar penuh otot.

“Halo, Dek?” Fian melambaikan tangannya di depan wajahku. “Dek?”

Aku menggoyang kepalaku supaya kembali ke dunia nyata. “I ... iya.”

“Mau enggak?” Fian menyodorkan kotak berisi sugar wax itu.

Aku enggak menjawab. Karena aku masih gugup. Masih bego.

“Bayar berapa?”

“Eng ... enggak usah bayar,” jawabku, mengumpulkan kekuatan untuk berbicara.

Fian mengerutkan alisnya. Dia menghampiriku sembari mengamati wajahku. Dia juga menoleh ke belakang, ke arah yang kulihat. Seakan-akan ada hantu di sana. “Apa yang Adek lihat?”

Ketekmu, Baaang .... Aku lihat ketekmu barusaaannn .... (emot nangis) (emot nangis).

Fian menegakkan kepalanya. Hampir yakin aku melihat sesuatu di belakangnya barusan. “Ada yang ngintip?” Dengan sigap, seperti semua agen rahasia keren di film-film laga, Fian melompat ke jendela dan mengintip keluar.  Dia menyapukan pandangan tetapi enggak menemukan apa-apa. Enggak ada musuh, enggak ada hantu, enggak ada orang yang mengintai. “Aman kok, Dek.”

Hatiku yang enggak aman, Bang. Hatikuuu .... Dan, selangkanganku .... Ah!

Fian bahkan membuka pintu untuk mengecek ke lorong. Sepuluh detik dia mengamati keadaan sekitar menggunakan keahliannya sebagai tentara. Dia kembali dengan kebingungan. “Adek lihat apa barusan?”

“Enggak, Bang. Enggak lihat apa-apa.” Dengan salah tingkah aku pun meletakkan lagi kotak sugar waxing itu ke atas meja. “Aku ..., aku mau bersih-bersih dulu. Kalau boleh.”

“Oh, ya ya ya .... Silakan,” balas Fian sembari membuka pintu lebar-lebar, lalu duduk di atas tempat tidurku. “Mau mandi dulu, ya?”

“I ... iya. Maaf, ya. Aku biasanya langsung mandi habis dari luar.”

“Enggak apa-apa. Mandi aja dulu, biar segar. Abang nunggu di sini boleh?”

“Boleh.”

Aku meletakkan semua perlengkapan yang perlu kuletakkan, lalu kubawa handuk dan baju ganti ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, aku sempat diam dulu sebentar untuk memproses apa yang terjadi. Aku membelalak sambil bertumpu ke dinding bak mandi. Sesekali aku menampar pipiku sendiri untuk memastikan ini bukan mimpi. Terakhir kali aku ngewe sama tentara, ternyata tentaranya “begitu”. Kalau memang suratan takdirku bisa menyentuh tentara, kukira tentaranya enggak akan seganteng itu. Jadi maaf kalau akunya lebai banget sekarang, Kak.

Setelah kusadari Fian mungkin menunggu terlalu lama di kamar, atau Ida mungkin sudah pulang dan menjemput Fian pergi, aku langsung mengambil gayung dan menyiramkan air ke tubuhku. Aku mandi agak cepat, tapi agak lengkap. Misalnya, aku mengenakan conditioner, aku luluran supaya kulitku lembut. Bahkan, aku melakukan douching dengan kilat, meskipun aku tahu skenario Fian nge-fuck aku enggak akan mungkin terjadi.

Ketika aku kembali ke kamar, Fian masih ada di sana. Duduk di atas tempat tidurku, bersandar ke dinding, sembari memainkan hape. Fian mendongak dan langsung turun dari tempat tidur saat melihatku masuk. Bahkan, dia yang menutupkan pintu kamarku.

Lalu, menguncinya.

Anjing. Kayak yang kita bakal ngewe aja, Bang!

Kan kontolku jadi ngaceng sekarang.

“Dek Ida masih harus ngurusin administrasi temennya. Kalau Abang nunggu di sini lebih lama, Adek masalah enggak?”

“Enggak,” jawabku, menguat-nguatkan diri.

Aku menarik napas dan segera menyiapkan sugar waxing-nya Ida. Produk ini enggak perlu dimasak atau dipanaskan dulu. Produknya cukup instan. Tinggal oles, tutup oleh kertas (tersedia cuma-cuma di dalam kotaknya), lalu kita tarik setelah beberapa saat. Namun selain menyiapkan sugar waxing itu, aku juga menyiapkan handuk yang direndam ke air hangat agar bisa dikompreskan ke ketek Fian setelah pencabutannya selesai.

Usai menyiapkan semua itu, aku berbalik menghadap Fian yang masih berdiri di depan pintu. Fian tersenyum kecil sembari menarik tepian bawah kemeja polonya ke atas, lalu melepaskan atasan itu dari tubuhnya.

Badan kekar dan seksi itu lagi.

“Siap?” Malah dia yang bertanya begitu.

“Abang siap?” balasku.

Dia lalu mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala. Mamerin ketek ala-ala cowok gym lagi flexing otot sayap. Dan emang otot sayapnya bagus banget. Fuck. Ditambah keteknya yang sempurna itu, bikin aku pengin mengabdi sebagai budaknya Fian.

“Ini harus dimulusin,” kata Fian, sembari menoleh ke masing-masing keteknya. “Kebetulan besok ada test pull up. Abang mesti ngasih contoh pull up yang bener ke calon taruna. Kalau keteknya mulus, enggak akan malu-maluin. Bener enggak?”

Enggak, jawabku dalam hati. Ketek macam begini mah, ada bulu enggak ada bulu, enggak akan pernah malu-maluin, Bang. Bagus, soalnya.

“Di mana?”

“Di ... atas kasur aja? Baring?” usulku.

Fian melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan jantan. Berguling dan langsung telentang dengan cepat. Padahal cuma mau baring aja, tapi gesturnya tetap maskulin. Enggak kayak kita, Kak para boti yang mau baring di atas kasur aja mesti duduk manis dulu di tepi tempat tidur, kaki rapat, rapiin rambut ke sisi yang enggak ketindih, berbaring dengan anggun secara menyamping, naikin kedua kaki, lalu balik telentang.

Energi manly yang tumpah-tumpah dari Fian bikin aku jadi pengin ngondek di sini. Anjir.

Soalnya kalau aku sama-sama manly, takutnya diajak panco.

“Dek?”

“Oh! Tu ... tunggu.” Tuh, kan. Ngelamun lagi.

Goblok kamu, Rohmat.

Aku mengambil gunting dan tisu dari atas meja. Aku berlutut di samping tempat tidur, tepat di depan ketek Fian. Tentara itu melipat kedua tangannya ke belakang kepala. Dari dekat, lengan itu benar-benar besar. Mulus juga, dengan lekukan-lekukan otot dan sebagian kecil urat yang muncul ke permukaan kulit. Bulu keteknya lurus dan agak panjang. Langsung mencuat tegak ke atas saat ditengadahkan begini.

Aromanya?

Bikin pengin crot.

Aroma ketek laki banget.

Kutarik napas panjang, lalu aku mulai menggunting bulu-bulu ketek itu. Sewaktu aku menjepit bulu-bulu ketek itu dengan jariku, lalu kugunting bagian bawahnya, aku merasakan geli yang enak di permukaan jari.

Kresss ..., kresss ....

“Abang biasanya digunting apa di-wax?” tanyaku, seperti tukang cukur yang hobi ngajak ngobrol pas lagi nyukur.

“Seringnya dibiarin sih, Dek. Tapi kalau harus rapi, Abang cukur pake cukuran jenggot.”

“Silet?”

“Siap, benar!”

“Kalau pakai itu tuh, ada risiko ingrown hair, Bang. Jadi rambut yang harusnya tumbuh keluar, malah tumbuh ke dalam. Bisa inflamasi.”

“Gitu, ya?” Fian manggut-manggut sambil menatap keteknya yang sedang kubabat habis menyisakan seperempatnya saja. “Ya udah, lain kali, Abang ke Adek aja ya buat rapiin ketek.”

Jangan ngadi-ngadi, Bang. Tolong pikirkan hati dan berahiku, Bang. Aku aja butuh kekuatan Iron Man nih buat megang ketek Abang sambil bersikap kayak lelaki normal straight yang enggak terobsesi sama ketek Abang. Susah, Bang. Dari tadi penginnya aku gosokin muka di ketek Abang.

Kresss ..., kresss ....

Karena menggunting bulu ketek tuh cepat, aku langsung naik ke tempat tidur dan duduk di depan ketek Fian yang satunya lagi. Sengaja aku enggak respons pernyataan Fian yang tadi.

Soalnya, kalau kurespons, “Iya, Bang! Gapapa, ke aku aja kalau mau cukur ketek.” Entar aku kelihatan kayak boti yang terobsesi sama ketek Fian.

Tapi kalau kurespons, “Enggak mau ah, Bang! Emangnya aku apa, disuruh nyukur ketek doang?! Hilih. Tinta!” Entar aku kelihatan kayak boti yang terobsesi sama ketek Fian, tapi pura-pura jaim.

Jadi, kubiarkan saja Semesta yang menuliskan suratan takdir antara aku dan ketek Fian.

“Abang sama Mbak Ida pacaran?” tanyaku seketika, mencoba menghalau berahi yang memuncak, tapi malah menanyakan pertanyaan yang enggak sopan. Habisnya sepanjang hari aku jealous bukan main membayangkan mereka berdua ngewe di kamar bawah sana. Aku iri aku enggak punya memek untuk kusodorkan ke Fian.

Tentara itu terkekeh kecil. “Enggak kok, Dek ....”

Aku merasa lega.

Short time aja?” tanyaku. “Dia lonte kan, Bang?”

Fian tergelak agak keras. “Hahaha ....” Perutnya yang rata bergetar seksi. “Kenapa emang kalau Dek Ida lonte?”

Aku menyebut Ida lonte, karena dia dengan kurang ajar menyebutku bencong di depan Fian. Jadi kalau Ida ketemu Fian lewat jalur aplikasi kencan, aku akan paparkan fakta bahwa Ida itu enggak pantas buat Fian.

“Ya gapapa.” Aku mendengus. “Ya berarti lubangnya udah kayak gerbang tol, Bang. Banyak yang keluar masuk.”

“HAHAHA ...!” Tawa Fian makin keras. Senyumnya lebar sambil dia menatap ke wajahku. “Ya gapapa, gerbang tol juga. Asal bayar. Jangan terobos masuk tapi enggak nge-tap dulu.”

“Idih! Hati-hati jalan tolnya rusak. Jarang di-maintenance.”

Fian ngakak lagi. Bahunya berguncang, jadinya aku agak kesulitan merapikan bulu ketek itu. “Kamu lucu banget, Dek ....”

“Abang enggak punya istri emang?”

“Belum. Masih single. Masih asyik penugasan.”

“Pacar?”

“Lagi nyari.” Fian menghela napas sambil meredakan tawanya. “Adek udah punya pacar belum?”

“Belum. Masih single.”

“Udah punya mantan?”

“Udah.” Dan entah mengapa tiba-tiba aku bilang, “Tadi aku ketemu mantanku di supermarket.”

“Oya? Terus Adek nyapa dia?”

Kresss ..., kresss ....

Bulu ketek itu sudah lebih pendek dan siap dikasih sugar waxing. Aku turun dari tempat tidur untuk mengambil kotak berisi adonan sugar wax-nya. Sambil kuaduk-aduk untuk mengumpulkan adonan di ujung spatula, aku menjawab pertanyaan Fian.

“Iya. Sempat ngobrol sebentar. Terus, makan malam.”

“Aaahhh ..., pantas lama pulangnya.” Fian terkekeh. “Terus Adek ngantar dia pulang dulu?”

Ngng ..., kebalik, sih. Aku yang diantar pulang. Tapi aku menjawab, “Iya.” Aku pun berlutut lagi di tepi tempat tidur untuk mengoleskan adonan sugar wax itu ke ketek Fian yang sebelumnya. “Ini mesti nunggu beberapa menit. Jadi entar kita diamkan dulu.”

Kugulung-gulung adonan itu dengan spatula, lalu kuoleskan ke ketek Fian secara menyeluruh.

“Aaahhh ..., dingin,” desah Fian. Kayak yang keenakan. “Sakit enggak entar?”

“Kan Abang tentara. Masa yang begini aja masih nanya sakit atau enggak?”

Fian menoleh dan menatap wajahku. Selama seper sekian detik dia hanya menatapku tak percaya, lalu senyum mengembang lebar. “Oookeee .... Siap, Komandan! Saya siap menghadapi sakitnya.”

Macho banget, anjing. Kontolku makin ngaceng.

Aku memanjat naik ke atas tempat tidur dan mengoles ketek Fian yang satunya lagi dengan sugar wax. Fian sengaja mendesah keenakan saat adonan itu ditebarkan di keteknya.

“Aku pasang kertas dulu, baru entar ditarik.”

“Okeee ...,” jawab Fian, masih dengan senyum lebar ganteng, dan kedua tangan di bawah kepala, memamerkan ketek yang kini ditempeli kertas putih. “Jadi, kenapa Adek putus sama si mantan ini, hm?”

Aku enggak mungkin menyebutkan alasannya. Karena alasan putusnya homo banget. Sebuah problem yang hanya terjadi di pasangan gay saja. Enggak mungkin terjadi di pasangan straight. Aku mengambil momen untuk mencari jawaban yang oke. Tapi ujung-ujungnya aku cuma jawab, “Enggak cocok aja.”

“Biar cocok sama Adek, harus kayak gimana ceweknya?”

Ceweknya tuh harus cowok, Bang.

Cowok kayak Abang.

Lagian kenapa nanya kayak gitu sih? Bangsat. Kayak yang Abang bakal usaha buat nyocok-nyocokin sama aku aja.

Gara-gara bete menyadari aku enggak akan pernah bisa sama Fian, aku hanya mengangkat bahu. “Enggak tahu. Yaaahhh ..., yang enggak banyak berantem aja lah, Bang.” Lalu, kusetir pembicaraan agar membahas Fian saja. “Abang sendiri, punya mantan enggak?”

“Ya punya, lah. Dari SMP udah sering pacaran. Tapi pas pendidikan langsung jomlo sampai sekarang.”

“Belum pacaran lagi?”

“Ini ..., lagi nyari.”

“Nyari yang kayak gimana?”

“Yang cocok aja.”

Plak! Kupukul lengan Fian yang berotot itu karena kesal. Tapi mukulnya pelan. Mirip boti. Atau mungkin pukulanku ini keras. Tapi otot Fian lebih keras. Jadinya pukulanku melemah. “Ngikut-ngikut aja, ah!”

Fian terkekeh.

“Lah, bener kan yang Adek bilang!” sahut Fian, masih setengah tergelak. “Kalau banyak berantem, entar ngabisin energi. Mending yang cocok aja.”

Aku mendengus. Dan mengganti topik lagi. “Di TNI tuh, Abang sibuk banget, ya?”

“Yah, namanya juga abdi negara, Dek. Setiap saat harus standby. Meski kita lagi enggak perang, tetap harus latihan biar skill makin tajam.” Kemudian, Fian menceritakan bagaimana kehidupannya sebagai tentara. Secara umum kehidupan personalnya saja, enggak sampai ke kegiatan militernya. Misal barengan teman-temannya ngapain aja. Hobi mereka apa. Kalau lagi latihan terbang, candaan apa yang mereka sampaikan ke satu sama lain. Hal-hal umum macam itu. Aku jadi tahu circle Fian seperti apa, atau bagaimana kehidupan pribadinya di luar militer.

Saat sedang membahas hobi, tiba-tiba Fian bertanya begini kepadaku, “Dek Ida suka naik gunung, enggak?”

“Enggak tahu. Yang aku tahu, ada gunung naik ke Ida. Jumlahnya dua.”

Fian terkekeh. “Abang mau ngajakin dia hiking weekend ini. Tapi dia enggak ngasih jawaban jelas. Malah ganti topik atau bilang, ‘Lihat entar aja.’”

Giliranku yang terkekeh. “Mana ada lonte yang mau diajak naik gunung, Bang!”

“Gitu, ya?”

“Menurutku sih enggak mungkin mau, Bang. Ida enggak suka kalau dia enggak punya akses ke colokan selama lebih dari dua jam. Hobinya mantengin hape terus sambil live Tiktok. Jadi kalau tempatnya enggak ada cermin atau spot background yang Instagrammable, dia enggak akan mau ke sana.”

Fian manggut-manggut sembari memproses informasi itu. Sembari dia menelan kekecewaan karena enggak bisa hiking bareng Ida, Fian pun menceritakan, “Weekend ini temen-temen Abang mau hiking ke gunung belakang lanud itu. Kamu tahu, kan?”

“Yang kelihatan dari lanud itu?”

“Iya. Enggak tinggi-tinggi amat, itu. Cuma seribu MDPL. Bisa naik sama turun dalam sehari. Enggak perlu nginep. Nah, temen-temen Abang pada bawa plus one ke situ. Kebanyakan bawa pacar, tapi ada juga yang bawa adeknya. Tadinya Abang mau bawa Dek Ida. Cuma, yaaa .... Mungkin enggak bisa.”

“Sendiri aja, Bang. Kenapa harus bawa pasangan ke sana? Emang ada kondangan di puncak gunung?”

“Biar enggak gabut lah, Dek. Yang lain punya teman ngobrol, masa Abang ngobrol sama tanaman?” Fian terkekeh sembari menatapku dengan tatapan sungguh-sungguh.

Aku jadi salting. Sumpah. Aku bingung mau ngelihat ke mana. Jadi, aku ngelihat ke puting Fian yang berwarna gelap. Tapi itu malah membuatku sange. Kulemparkan ke arah bawah, aku malah melihat jendolan kontol Fian. Fuck.

“Kalau Adek yang nemenin Abang, mau?”

“A ... apa?”

“Naik gunung. Hari Sabtu. Enggak nginap, kok. Mau, ya?’

“A ... aku .... Aku enggak jago naik gunung.”

“Enggak usah jago, tinggal jalan nanjak aja ke puncaknya. Lagian udah ada jalannya. Bukan yang hutan belantara banget, Dek. Ya?”

Aku menelan ludah. “Aku enggak terbiasa naik gunung, Bang. Takutnya ..., takutnya ketinggalan. Temen Abang kan tentara semua.”

Plus one mereka enggak ada yang tentara. Jadi sama aja.” Fian tersenyum lebar dengan tatapan bahagia. “Kalau Adek capek, Abang janji, entar Abang gendong sampe puncak. Enggak usah cemas.”

Goblok kamu, Bang!

Kan aku jadi baper sekarang!

FUCK!

Aku benar-benar salah tingkah mendengar itu. Jadinya aku malah memainkan kertas waxing di ketek Fian seakan-akan bersiap untuk mencabutnya. Agak kurang kerjaan, tapi daripada aku merespons kata-kata romantis goblok barusan, mending mengalihkan perhatian.

Cuma masalahnya, aku tetap dongkol karena dia ngegodain aku dengan cara seperti itu. Ya memang dia enggak tahu kalau aku naksir. Tapi kan ....

Tapi masa iya dia ngomong gitu sama lelaki lain yang dia belum tahu straight apa gay?! Kan itu goblok, ya! Alhasil, dengan kesal aku menarik-narik ujung kertas di keteknya itu.

“Eh .... Ini ..., ini kayaknya udah bisa ditarik.” Lalu tanpa menunggu persetujuan Fian, aku langsung menarik kertas itu sampai lepas.

BRRREEETTTTTT ...!

“AAARGH!” Fian terkejut sembari mengaduh dan menatap keteknya sendiri. Tubuh Fian mengentak kecil, otot-ototnya menegang, tetapi karena dia terlatih untuk menahan rasa sakit, jadi Fian hanya mendesis kecil, kemudian mengatur napasnya dengan tenang.

Pengin banget aku request ke dia, kalau kesakitan begitu, dia teriaknya, “Komando Batalion Tiga!” Biar kayak di film bokep itu.

Walakin, aku lagi enggak mau ngomong sama dia. Jadi aku fokus ke ketek satunya lagi. Aku langsung mengulurkan tanganku untuk menarik ....

BRRREEETTTTTT ...!

HMPH!” Fian menahan napasnya dengan kilat, lalu menarik napas panjang. Dia recover dari rasa sakit waxing itu dengan cepat. Bahunya naik turun, tapi dia tetap memamerkan keteknya yang kini mulus dari bulu ketek.

Waxing dari Ida benar-benar tokcer. Sekali cabut, semua bulu ketek terangkat tanpa sisa.

Fian menoleh ke arahku. Masih mengatur napasnya yang memburu karena rasa sakit. Biasanya orang-orang akan langsung menurunkan lengannya karena kesakitan. Fian malah tetap memamerkan keteknya itu, seolah-olah menunjukkan bahwa dia I’m okay I’m fine gwenchana teng teng teng teng teng. Sambil menatapku dengan serius, Fian pun mengulang pertanyaan itu. “Adek ..., mau ikut hiking bareng Abang, enggak?”

Dan karena aku merasa bersalah sudah mencabut bulu ketek itu secara tiba-tiba, terpaksa aku bilang, “I ... iya, Bang.”

Fian merasa lega. Dia menatap kedua bulu keteknya dengan bangga. Senyumnya makin lebar ketika melihat tak satu bulu ketek pun hadir di ketek itu. Yang ada hanyalah permukaan mulus, kemerahan, ada titik-titik yang merah karena berdarah, tetapi aku langsung melompat dan mengusapnya dengan handuk hangat. Aku juga mengoleskan after waxing care supaya ketek Fian tetap sehat, mulus, dan kinclong. Bahkan kutambahkan pelembap dengan segera.

Pokoknya ini untuk membayar kesalahanku karena mencabut kertasnya tanpa aba-aba.

Fian hanya berbaring di sana dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala, mengamatiku melalukan segala waxing care yang kutahu. Tampak sorotan mata bangga dan gembira atas apa yang kulakukan kepada keteknya.

“Mantap mulusnya,” kata Fian. “Kayaknya jadi nih, Abang tawarin jasa cabut bulu ketek ke temen-temen tentara Abang yang lain.”

Jangan ngasih harapan, please.

“Coba kamu cium. Mulus enggak?” kata Fian tiba-tiba.

“Hah?”

“Buktikan hasil waxing ini enggak seperti kelihatannya aja. Tapi terasa lembut juga. Ayo sini, Dek. Cium ketek Abang, pake bibir Adek. Mulus enggak?”

Reaksi normal lelaki normal adalah menolaknya. Tapi aku, yang  bukanlah lelaki normal, tentu memberikan reaksi tidak normal. Yaitu, pelan-pelan aku membungkuk ke arah ketek Fian, menuruti perintah militernya untuk mencium ketek itu.

Jantungku berdegup-degup kencang ....

Wajahku semakin dekat dengan ketek Fian, lalu aku ....


[ ... ]


Komentar