Halo, Kak!
Mulai dari sini Kakak sudah boleh iri. Aku
aja iri sama diriku sendiri, kok bisa-bisanya aku ngalamin ini?
Menyentuh tubuh tentara tuh sebuah kemustahilan
yang absolut. Apalagi di bagian-bagian yang sensitif.
Emangnya aku enggak pernah ngewe
sama seorang tentara? Pernah, Kak. Sekali. Waktu threesome sama Deva (tapi
itu cerita di lain hari). (Dan itu juga momen di mana aku akhirnya ‘putus’ dari
Deva.) Cuma si tentara itu enggak sepenuhnya ‘tentara’. Ada satu hal dari
‘tentara’ tersebut yang membuatnya jadi enggak tentara. Aku penginnya tentara
yang masih tentara, yang pake celana loreng-loreng, sepatu bot, masih aktif,
dan masih pegang senjata.
Jadi secara teknis, aku belum pernah ngewe
dengan tentara yang kufantasikan.
Meski mereka berserakan di kota ini
sejak pendidikan taruna dibuka di lanud sini, bukan berarti aku bisa ngewe
sebebas-bebasnya dengan mereka. Yang ada malah jumlah pengguna aplikasi homo
agak berkurang sedikit demi sedikit karena takut ditangkap tentara.
Masalahnya, sejak aku threesome
bareng si ‘tentara’ (dan Deva), aku makin terobsesi sama jenis manusia ini. Aku
merasa tentara adalah makhluk superior yang menawan, sulit didapatkan, paling
jantan sejagad raya, dan tak ada yang mengalahkan keseksiannya. Makanya aku sempat
nge-hang pas dikasih tugas ngecekin kontolnya calon tentara. Sampai
detik ini, aku masih enggak bisa ngebayangin gimana proses medical check up
barengan lelaki-lelaki prima yang jantan ini.
Biasanya aku ngecek kontol aki-aki. Atau
lelaki yang body-nya enggak fit sama sekali.
Tapi mungkin aku mestinya ngecek kontol
aki-aki aja, sih. Mungkin aku bakal mimisan ketika pasienku semuanya calon
tentara. Soalnya, satu tentara gagah mamerin ketek depan mukaku aja badanku
langsung membeku kayak komputer Windows keluaran lama yang kebanyakan buka apps.
“Udah lama Abang enggak cukur bulu
ketek.” Fian masih saja menoleh ke keteknya sendiri, meraba-raba bulunya dengan
jari. Seakan-akan itu adalah bahan bulu yang lembut di toko kain yang perlu
kita raba dan rasakan bulu-bulunya. “Gara-gara sibuk ngurusin anak-anak baru,
jadi lupa rawat diri.”
Fian ganti mengangkat lengan satunya
lagi, memamerkan keteknya yang satunya lagi, ketek yang sama-sama berbulu. Yang
juga dia susurkan jemarinya hingga bulu-bulu itu bergoyang seperti rumput.
Aku menelan ludah.
Aku masih belum bisa merespons
permintaan Fian yang pengin bulu-bulunya ku-waxing. Aku masih berdiri
diam karena terpesona oleh dua ketek tentara itu. Ketek yang penampangnya lebar
karena bahu dan lats-nya mengembang kekar penuh otot.
“Halo, Dek?” Fian melambaikan tangannya
di depan wajahku. “Dek?”
Aku menggoyang kepalaku supaya kembali
ke dunia nyata. “I ... iya.”
“Mau enggak?” Fian menyodorkan kotak
berisi sugar wax itu.
Aku enggak menjawab. Karena aku masih
gugup. Masih bego.
“Bayar berapa?”
“Eng ... enggak usah bayar,” jawabku,
mengumpulkan kekuatan untuk berbicara.
Fian mengerutkan alisnya. Dia
menghampiriku sembari mengamati wajahku. Dia juga menoleh ke belakang, ke arah
yang kulihat. Seakan-akan ada hantu di sana. “Apa yang Adek lihat?”
Ketekmu, Baaang .... Aku lihat
ketekmu barusaaannn .... (emot nangis) (emot nangis).
Fian menegakkan kepalanya. Hampir yakin
aku melihat sesuatu di belakangnya barusan. “Ada yang ngintip?” Dengan sigap,
seperti semua agen rahasia keren di film-film laga, Fian melompat ke jendela
dan mengintip keluar. Dia menyapukan
pandangan tetapi enggak menemukan apa-apa. Enggak ada musuh, enggak ada hantu,
enggak ada orang yang mengintai. “Aman kok, Dek.”
Hatiku yang enggak aman, Bang.
Hatikuuu .... Dan, selangkanganku .... Ah!
Fian bahkan membuka pintu untuk mengecek
ke lorong. Sepuluh detik dia mengamati keadaan sekitar menggunakan keahliannya
sebagai tentara. Dia kembali dengan kebingungan. “Adek lihat apa barusan?”
“Enggak, Bang. Enggak lihat apa-apa.”
Dengan salah tingkah aku pun meletakkan lagi kotak sugar waxing itu ke
atas meja. “Aku ..., aku mau bersih-bersih dulu. Kalau boleh.”
“Oh, ya ya ya .... Silakan,” balas Fian
sembari membuka pintu lebar-lebar, lalu duduk di atas tempat tidurku. “Mau
mandi dulu, ya?”
“I ... iya. Maaf, ya. Aku biasanya
langsung mandi habis dari luar.”
“Enggak apa-apa. Mandi aja dulu, biar
segar. Abang nunggu di sini boleh?”
“Boleh.”
Aku meletakkan semua perlengkapan yang
perlu kuletakkan, lalu kubawa handuk dan baju ganti ke kamar mandi. Di dalam
kamar mandi, aku sempat diam dulu sebentar untuk memproses apa yang terjadi.
Aku membelalak sambil bertumpu ke dinding bak mandi. Sesekali aku menampar
pipiku sendiri untuk memastikan ini bukan mimpi. Terakhir kali aku ngewe
sama tentara, ternyata tentaranya “begitu”. Kalau memang suratan takdirku bisa
menyentuh tentara, kukira tentaranya enggak akan seganteng itu. Jadi maaf kalau
akunya lebai banget sekarang, Kak.
Setelah kusadari Fian mungkin menunggu
terlalu lama di kamar, atau Ida mungkin sudah pulang dan menjemput Fian pergi,
aku langsung mengambil gayung dan menyiramkan air ke tubuhku. Aku mandi agak
cepat, tapi agak lengkap. Misalnya, aku mengenakan conditioner, aku luluran
supaya kulitku lembut. Bahkan, aku melakukan douching dengan kilat,
meskipun aku tahu skenario Fian nge-fuck aku enggak akan mungkin
terjadi.
Ketika aku kembali ke kamar, Fian masih
ada di sana. Duduk di atas tempat tidurku, bersandar ke dinding, sembari
memainkan hape. Fian mendongak dan langsung turun dari tempat tidur saat
melihatku masuk. Bahkan, dia yang menutupkan pintu kamarku.
Lalu, menguncinya.
Anjing. Kayak yang kita bakal ngewe aja, Bang!
Kan kontolku jadi ngaceng sekarang.
“Dek Ida masih harus ngurusin
administrasi temennya. Kalau Abang nunggu di sini lebih lama, Adek masalah
enggak?”
“Enggak,” jawabku, menguat-nguatkan
diri.
Aku menarik napas dan segera menyiapkan sugar
waxing-nya Ida. Produk ini enggak perlu dimasak atau dipanaskan dulu.
Produknya cukup instan. Tinggal oles, tutup oleh kertas (tersedia cuma-cuma di
dalam kotaknya), lalu kita tarik setelah beberapa saat. Namun selain menyiapkan
sugar waxing itu, aku juga menyiapkan handuk yang direndam ke air hangat
agar bisa dikompreskan ke ketek Fian setelah pencabutannya selesai.
Usai menyiapkan semua itu, aku berbalik
menghadap Fian yang masih berdiri di depan pintu. Fian tersenyum kecil sembari
menarik tepian bawah kemeja polonya ke atas, lalu melepaskan atasan itu dari
tubuhnya.
Badan kekar dan seksi itu lagi.
“Siap?” Malah dia yang bertanya begitu.
“Abang siap?” balasku.
Dia lalu mengangkat kedua tangannya ke
belakang kepala. Mamerin ketek ala-ala cowok gym lagi flexing
otot sayap. Dan emang otot sayapnya bagus banget. Fuck. Ditambah
keteknya yang sempurna itu, bikin aku pengin mengabdi sebagai budaknya Fian.
“Ini harus dimulusin,” kata Fian,
sembari menoleh ke masing-masing keteknya. “Kebetulan besok ada test pull up.
Abang mesti ngasih contoh pull up yang bener ke calon taruna. Kalau
keteknya mulus, enggak akan malu-maluin. Bener enggak?”
Enggak, jawabku dalam hati. Ketek macam
begini mah, ada bulu enggak ada bulu, enggak akan pernah malu-maluin,
Bang. Bagus, soalnya.
“Di mana?”
“Di ... atas kasur aja? Baring?” usulku.
Fian melemparkan tubuhnya ke atas tempat
tidur dengan jantan. Berguling dan langsung telentang dengan cepat. Padahal
cuma mau baring aja, tapi gesturnya tetap maskulin. Enggak kayak kita, Kak para
boti yang mau baring di atas kasur aja mesti duduk manis dulu di tepi
tempat tidur, kaki rapat, rapiin rambut ke sisi yang enggak ketindih, berbaring
dengan anggun secara menyamping, naikin kedua kaki, lalu balik telentang.
Energi manly yang tumpah-tumpah
dari Fian bikin aku jadi pengin ngondek di sini. Anjir.
Soalnya kalau aku sama-sama manly,
takutnya diajak panco.
“Dek?”
“Oh! Tu ... tunggu.” Tuh, kan. Ngelamun
lagi.
Goblok kamu, Rohmat.
Aku mengambil gunting dan tisu dari atas
meja. Aku berlutut di samping tempat tidur, tepat di depan ketek Fian. Tentara
itu melipat kedua tangannya ke belakang kepala. Dari dekat, lengan itu
benar-benar besar. Mulus juga, dengan lekukan-lekukan otot dan sebagian kecil
urat yang muncul ke permukaan kulit. Bulu keteknya lurus dan agak panjang.
Langsung mencuat tegak ke atas saat ditengadahkan begini.
Aromanya?
Bikin pengin crot.
Aroma ketek laki banget.
Kutarik napas panjang, lalu aku mulai
menggunting bulu-bulu ketek itu. Sewaktu aku menjepit bulu-bulu ketek itu
dengan jariku, lalu kugunting bagian bawahnya, aku merasakan geli yang enak di
permukaan jari.
Kresss ..., kresss ....
“Abang biasanya digunting apa di-wax?”
tanyaku, seperti tukang cukur yang hobi ngajak ngobrol pas lagi nyukur.
“Seringnya dibiarin sih, Dek. Tapi kalau
harus rapi, Abang cukur pake cukuran jenggot.”
“Silet?”
“Siap, benar!”
“Kalau pakai itu tuh, ada risiko ingrown
hair, Bang. Jadi rambut yang harusnya tumbuh keluar, malah tumbuh ke dalam.
Bisa inflamasi.”
“Gitu, ya?” Fian manggut-manggut sambil
menatap keteknya yang sedang kubabat habis menyisakan seperempatnya saja. “Ya
udah, lain kali, Abang ke Adek aja ya buat rapiin ketek.”
Jangan ngadi-ngadi, Bang. Tolong
pikirkan hati dan berahiku, Bang. Aku aja butuh kekuatan Iron Man nih buat
megang ketek Abang sambil bersikap kayak lelaki normal straight yang
enggak terobsesi sama ketek Abang. Susah, Bang. Dari tadi penginnya aku gosokin
muka di ketek Abang.
Kresss ..., kresss ....
Karena menggunting bulu ketek tuh cepat,
aku langsung naik ke tempat tidur dan duduk di depan ketek Fian yang satunya
lagi. Sengaja aku enggak respons pernyataan Fian yang tadi.
Soalnya, kalau kurespons, “Iya, Bang!
Gapapa, ke aku aja kalau mau cukur ketek.” Entar aku kelihatan kayak boti
yang terobsesi sama ketek Fian.
Tapi kalau kurespons, “Enggak mau ah,
Bang! Emangnya aku apa, disuruh nyukur ketek doang?! Hilih. Tinta!”
Entar aku kelihatan kayak boti yang terobsesi sama ketek Fian, tapi
pura-pura jaim.
Jadi, kubiarkan saja Semesta yang
menuliskan suratan takdir antara aku dan ketek Fian.
“Abang sama Mbak Ida pacaran?” tanyaku
seketika, mencoba menghalau berahi yang memuncak, tapi malah menanyakan
pertanyaan yang enggak sopan. Habisnya sepanjang hari aku jealous bukan
main membayangkan mereka berdua ngewe di kamar bawah sana. Aku iri aku
enggak punya memek untuk kusodorkan ke Fian.
Tentara itu terkekeh kecil. “Enggak kok,
Dek ....”
Aku merasa lega.
“Short time aja?” tanyaku. “Dia
lonte kan, Bang?”
Fian tergelak agak keras. “Hahaha ....”
Perutnya yang rata bergetar seksi. “Kenapa emang kalau Dek Ida lonte?”
Aku menyebut Ida lonte, karena dia
dengan kurang ajar menyebutku bencong di depan Fian. Jadi kalau Ida ketemu Fian
lewat jalur aplikasi kencan, aku akan paparkan fakta bahwa Ida itu enggak
pantas buat Fian.
“Ya gapapa.” Aku mendengus. “Ya berarti
lubangnya udah kayak gerbang tol, Bang. Banyak yang keluar masuk.”
“HAHAHA ...!” Tawa Fian makin keras.
Senyumnya lebar sambil dia menatap ke wajahku. “Ya gapapa, gerbang tol juga.
Asal bayar. Jangan terobos masuk tapi enggak nge-tap dulu.”
“Idih! Hati-hati jalan tolnya rusak.
Jarang di-maintenance.”
Fian ngakak lagi. Bahunya berguncang,
jadinya aku agak kesulitan merapikan bulu ketek itu. “Kamu lucu banget, Dek
....”
“Abang enggak punya istri emang?”
“Belum. Masih single. Masih asyik
penugasan.”
“Pacar?”
“Lagi nyari.” Fian menghela napas sambil
meredakan tawanya. “Adek udah punya pacar belum?”
“Belum. Masih single.”
“Udah punya mantan?”
“Udah.” Dan entah mengapa tiba-tiba aku
bilang, “Tadi aku ketemu mantanku di supermarket.”
“Oya? Terus Adek nyapa dia?”
Kresss ..., kresss ....
Bulu ketek itu sudah lebih pendek dan
siap dikasih sugar waxing. Aku turun dari tempat tidur untuk mengambil kotak
berisi adonan sugar wax-nya. Sambil kuaduk-aduk untuk mengumpulkan
adonan di ujung spatula, aku menjawab pertanyaan Fian.
“Iya. Sempat ngobrol sebentar. Terus,
makan malam.”
“Aaahhh ..., pantas lama pulangnya.”
Fian terkekeh. “Terus Adek ngantar dia pulang dulu?”
Ngng ..., kebalik, sih. Aku yang diantar
pulang. Tapi aku menjawab, “Iya.” Aku pun berlutut lagi di tepi tempat tidur
untuk mengoleskan adonan sugar wax itu ke ketek Fian yang sebelumnya. “Ini
mesti nunggu beberapa menit. Jadi entar kita diamkan dulu.”
Kugulung-gulung adonan itu dengan
spatula, lalu kuoleskan ke ketek Fian secara menyeluruh.
“Aaahhh ..., dingin,” desah Fian. Kayak
yang keenakan. “Sakit enggak entar?”
“Kan Abang tentara. Masa yang begini aja
masih nanya sakit atau enggak?”
Fian menoleh dan menatap wajahku. Selama
seper sekian detik dia hanya menatapku tak percaya, lalu senyum mengembang
lebar. “Oookeee .... Siap, Komandan! Saya siap menghadapi sakitnya.”
Macho banget, anjing. Kontolku makin ngaceng.
Aku memanjat naik ke atas tempat tidur
dan mengoles ketek Fian yang satunya lagi dengan sugar wax. Fian sengaja
mendesah keenakan saat adonan itu ditebarkan di keteknya.
“Aku pasang kertas dulu, baru entar
ditarik.”
“Okeee ...,” jawab Fian, masih dengan
senyum lebar ganteng, dan kedua tangan di bawah kepala, memamerkan ketek yang
kini ditempeli kertas putih. “Jadi, kenapa Adek putus sama si mantan ini, hm?”
Aku enggak mungkin menyebutkan
alasannya. Karena alasan putusnya homo banget. Sebuah problem yang hanya
terjadi di pasangan gay saja. Enggak mungkin terjadi di pasangan straight.
Aku mengambil momen untuk mencari jawaban yang oke. Tapi ujung-ujungnya aku
cuma jawab, “Enggak cocok aja.”
“Biar cocok sama Adek, harus kayak
gimana ceweknya?”
Ceweknya tuh harus cowok, Bang.
Cowok kayak Abang.
Lagian kenapa nanya kayak gitu sih?
Bangsat. Kayak yang Abang bakal usaha buat nyocok-nyocokin sama aku aja.
Gara-gara bete menyadari aku enggak akan
pernah bisa sama Fian, aku hanya mengangkat bahu. “Enggak tahu. Yaaahhh ..., yang
enggak banyak berantem aja lah, Bang.” Lalu, kusetir pembicaraan agar membahas
Fian saja. “Abang sendiri, punya mantan enggak?”
“Ya punya, lah. Dari SMP udah sering
pacaran. Tapi pas pendidikan langsung jomlo sampai sekarang.”
“Belum pacaran lagi?”
“Ini ..., lagi nyari.”
“Nyari yang kayak gimana?”
“Yang cocok aja.”
Plak! Kupukul lengan Fian yang berotot itu
karena kesal. Tapi mukulnya pelan. Mirip boti. Atau mungkin pukulanku
ini keras. Tapi otot Fian lebih keras. Jadinya pukulanku melemah. “Ngikut-ngikut
aja, ah!”
Fian terkekeh.
“Lah, bener kan yang Adek bilang!” sahut
Fian, masih setengah tergelak. “Kalau banyak berantem, entar ngabisin energi.
Mending yang cocok aja.”
Aku mendengus. Dan mengganti topik lagi.
“Di TNI tuh, Abang sibuk banget, ya?”
“Yah, namanya juga abdi negara, Dek.
Setiap saat harus standby. Meski kita lagi enggak perang, tetap harus
latihan biar skill makin tajam.” Kemudian, Fian menceritakan bagaimana
kehidupannya sebagai tentara. Secara umum kehidupan personalnya saja, enggak
sampai ke kegiatan militernya. Misal barengan teman-temannya ngapain aja. Hobi
mereka apa. Kalau lagi latihan terbang, candaan apa yang mereka sampaikan ke
satu sama lain. Hal-hal umum macam itu. Aku jadi tahu circle Fian
seperti apa, atau bagaimana kehidupan pribadinya di luar militer.
Saat sedang membahas hobi, tiba-tiba
Fian bertanya begini kepadaku, “Dek Ida suka naik gunung, enggak?”
“Enggak tahu. Yang aku tahu, ada gunung
naik ke Ida. Jumlahnya dua.”
Fian terkekeh. “Abang mau ngajakin dia hiking
weekend ini. Tapi dia enggak ngasih jawaban jelas. Malah ganti topik atau bilang,
‘Lihat entar aja.’”
Giliranku yang terkekeh. “Mana ada lonte
yang mau diajak naik gunung, Bang!”
“Gitu, ya?”
“Menurutku sih enggak mungkin mau, Bang.
Ida enggak suka kalau dia enggak punya akses ke colokan selama lebih dari dua
jam. Hobinya mantengin hape terus sambil live Tiktok. Jadi kalau
tempatnya enggak ada cermin atau spot background yang Instagrammable,
dia enggak akan mau ke sana.”
Fian manggut-manggut sembari memproses
informasi itu. Sembari dia menelan kekecewaan karena enggak bisa hiking
bareng Ida, Fian pun menceritakan, “Weekend ini temen-temen Abang mau hiking
ke gunung belakang lanud itu. Kamu tahu, kan?”
“Yang kelihatan dari lanud itu?”
“Iya. Enggak tinggi-tinggi amat, itu. Cuma
seribu MDPL. Bisa naik sama turun dalam sehari. Enggak perlu nginep. Nah,
temen-temen Abang pada bawa plus one ke situ. Kebanyakan bawa pacar,
tapi ada juga yang bawa adeknya. Tadinya Abang mau bawa Dek Ida. Cuma, yaaa
.... Mungkin enggak bisa.”
“Sendiri aja, Bang. Kenapa harus bawa
pasangan ke sana? Emang ada kondangan di puncak gunung?”
“Biar enggak gabut lah, Dek. Yang lain
punya teman ngobrol, masa Abang ngobrol sama tanaman?” Fian terkekeh sembari
menatapku dengan tatapan sungguh-sungguh.
Aku jadi salting. Sumpah. Aku
bingung mau ngelihat ke mana. Jadi, aku ngelihat ke puting Fian yang berwarna
gelap. Tapi itu malah membuatku sange. Kulemparkan ke arah bawah, aku
malah melihat jendolan kontol Fian. Fuck.
“Kalau Adek yang nemenin Abang, mau?”
“A ... apa?”
“Naik gunung. Hari Sabtu. Enggak nginap,
kok. Mau, ya?’
“A ... aku .... Aku enggak jago naik
gunung.”
“Enggak usah jago, tinggal jalan nanjak
aja ke puncaknya. Lagian udah ada jalannya. Bukan yang hutan belantara banget,
Dek. Ya?”
Aku menelan ludah. “Aku enggak terbiasa
naik gunung, Bang. Takutnya ..., takutnya ketinggalan. Temen Abang kan tentara
semua.”
“Plus one mereka enggak ada yang
tentara. Jadi sama aja.” Fian tersenyum lebar dengan tatapan bahagia. “Kalau
Adek capek, Abang janji, entar Abang gendong sampe puncak. Enggak usah cemas.”
Goblok kamu, Bang!
Kan aku jadi baper sekarang!
FUCK!
Aku benar-benar salah tingkah mendengar
itu. Jadinya aku malah memainkan kertas waxing di ketek Fian seakan-akan
bersiap untuk mencabutnya. Agak kurang kerjaan, tapi daripada aku merespons
kata-kata romantis goblok barusan, mending mengalihkan perhatian.
Cuma masalahnya, aku tetap dongkol
karena dia ngegodain aku dengan cara seperti itu. Ya memang dia enggak tahu
kalau aku naksir. Tapi kan ....
Tapi masa iya dia ngomong gitu sama
lelaki lain yang dia belum tahu straight apa gay?! Kan itu
goblok, ya! Alhasil, dengan kesal aku menarik-narik ujung kertas di keteknya
itu.
“Eh .... Ini ..., ini kayaknya udah bisa
ditarik.” Lalu tanpa menunggu persetujuan Fian, aku langsung menarik kertas itu
sampai lepas.
BRRREEETTTTTT ...!
“AAARGH!” Fian terkejut sembari mengaduh
dan menatap keteknya sendiri. Tubuh Fian mengentak kecil, otot-ototnya
menegang, tetapi karena dia terlatih untuk menahan rasa sakit, jadi Fian hanya
mendesis kecil, kemudian mengatur napasnya dengan tenang.
Pengin banget aku request ke dia,
kalau kesakitan begitu, dia teriaknya, “Komando Batalion Tiga!” Biar kayak di
film bokep itu.
Walakin, aku lagi enggak mau ngomong
sama dia. Jadi aku fokus ke ketek satunya lagi. Aku langsung mengulurkan
tanganku untuk menarik ....
BRRREEETTTTTT ...!
“HMPH!” Fian menahan napasnya
dengan kilat, lalu menarik napas panjang. Dia recover dari rasa sakit waxing
itu dengan cepat. Bahunya naik turun, tapi dia tetap memamerkan keteknya yang
kini mulus dari bulu ketek.
Waxing dari Ida benar-benar tokcer. Sekali
cabut, semua bulu ketek terangkat tanpa sisa.
Fian menoleh ke arahku. Masih mengatur
napasnya yang memburu karena rasa sakit. Biasanya orang-orang akan langsung
menurunkan lengannya karena kesakitan. Fian malah tetap memamerkan keteknya
itu, seolah-olah menunjukkan bahwa dia I’m okay I’m fine gwenchana teng teng
teng teng teng. Sambil menatapku dengan serius, Fian pun mengulang
pertanyaan itu. “Adek ..., mau ikut hiking bareng Abang, enggak?”
Dan karena aku merasa bersalah sudah
mencabut bulu ketek itu secara tiba-tiba, terpaksa aku bilang, “I ... iya,
Bang.”
Fian merasa lega. Dia menatap kedua bulu
keteknya dengan bangga. Senyumnya makin lebar ketika melihat tak satu bulu
ketek pun hadir di ketek itu. Yang ada hanyalah permukaan mulus, kemerahan, ada
titik-titik yang merah karena berdarah, tetapi aku langsung melompat dan
mengusapnya dengan handuk hangat. Aku juga mengoleskan after waxing care
supaya ketek Fian tetap sehat, mulus, dan kinclong. Bahkan kutambahkan pelembap
dengan segera.
Pokoknya ini untuk membayar kesalahanku
karena mencabut kertasnya tanpa aba-aba.
Fian hanya berbaring di sana dengan
kedua tangan terlipat di bawah kepala, mengamatiku melalukan segala waxing
care yang kutahu. Tampak sorotan mata bangga dan gembira atas apa yang
kulakukan kepada keteknya.
“Mantap mulusnya,” kata Fian. “Kayaknya
jadi nih, Abang tawarin jasa cabut bulu ketek ke temen-temen tentara Abang yang
lain.”
Jangan ngasih harapan, please.
“Coba kamu cium. Mulus enggak?” kata
Fian tiba-tiba.
“Hah?”
“Buktikan hasil waxing ini enggak
seperti kelihatannya aja. Tapi terasa lembut juga. Ayo sini, Dek. Cium ketek
Abang, pake bibir Adek. Mulus enggak?”
Reaksi normal lelaki normal
adalah menolaknya. Tapi aku, yang
bukanlah lelaki normal, tentu memberikan reaksi tidak normal. Yaitu,
pelan-pelan aku membungkuk ke arah ketek Fian, menuruti perintah militernya
untuk mencium ketek itu.
Jantungku berdegup-degup kencang ....
Wajahku semakin dekat dengan ketek Fian,
lalu aku ....
Komentar
Posting Komentar