Halo, Kak!
Tunggu bentar, ya. Aku lagi cium
keteknya Fian.
....
....
....
....
....
....
....
Hmmm ....
Bentar. Belum selesai.
....
....
....
....
....
....
....
Hmmmmmm ....
....
....
....
....
....
....
....
Jujur, aromanya kayak bahan kimiawi.
Mungkin karena ketek ini baru aja diolesi sama sugar waxing, yang
tentunya mengandung bahan kimiawi terukur, sehingga ketek Fian tercium
higienis. Beda banget dengan ketek yang pernah kucium sebelumnya.
Ada manis-manisnya.
“Mulus?”
“Iya, mulus.”
“Adek bisa lepas bibir Adek dari situ,
sih.”
“Oh! So-sorry.”
Fian masih syok. Tapi dia syok dengan
tenang, menatapku dengan tatapan terkejut, kemudian terkekeh kecil. “Padahal
Abang cuma bercanda barusan. Hehe. Enggak nyangka Adek beneran nyium ketek
Abang.”
Kan bangsat emang tentara yang satu ini.
Mancing-mancing ke arah situ, tapi cuma bercanda!
Jadi, setelah Fian kehilangan bulu
keteknya barusan, dia memintaku untuk menguji kemulusan keteknya. Ya aku
turuti, dong! Masa iya aku skip?! Kedua lengan Fian masih dilipat di
belakang kepala, belum berani diturunkan, mungkin karena masih perih atau
panas. Aku tanpa pikir panjang langsung membungkuk dan mencium ketek Fian.
Ketika bibirku menyentuh ketek itu,
rasanya lembut banget. Semua bulu ketek Fian tercabut sampai ke akar-akarnya. Seakan-akan
enggak pernah ada bulu ketek yang tumbuh di situ. Keteknya juga masih terasa
hangat sisa dicabut breeettt ... dengan brutal barusan.
Begonya aku adalah ..., aku terbuai oleh
ketek itu. Setelah bibirku mencium ketek Fian, giliran hidungku yang
menciumnya. Lama-lama aku hampir menggosokkan wajahku di situ, baru deh Fian
menyadarkanku bahwa sesi cium ketek ini sudah lebih dari sewajarnya.
Dan bahwa dia sebenarnya cuma bercanda.
Tapi sudah tahu bercanda, dia biarin aja
bibirku di keteknya itu.
Bangsat!
Mukaku langsung memerah dan merasa malu
atas ketololan barusan. Aku langsung cemas Fian berpikir macam-macam soal aku. Dalam
hati aku berdoa, semoga cium ketek sesama lelaki adalah hal yang sangat lumrah
dan wajar dan sering dipraktikkan di instansi militer seperti TNI AU.
Amin.
Fian terkekeh sembari bangkit dan
menurunkan lengannya. Dia mengernyit kecil, menghadapi sensasi aneh di keteknya
yang masih tersisa. Kemudian dia merapatkan lengannya, lalu
menggerak-gerakkannya untuk mengecek tekstur sang ketek.
“Mulus sangat, Dek,” katanya, sambil
menoleh ke arahku.
“Produknya berarti bagus,” jawabku, masih
belum berani menatap wajah Fian.
Entah perasaanku aja, atau memang
kenyataannya seperti ini. Aku merasa wajah kami sangat dekat sekarang. Aku
sudah memalingkan muka pun, aku merasa wajah Fian benar-benar dekat dengan
wajahku. Kalau dalam film BL sih, bakal muncul lagu balad romantis di ruangan,
lalu kamera men-zoom in masing-masing wajah kami, lalu kepala Fian
condong ke arahku, lalu aku menyambutnya dengan bibirku, lalu kami—
“Berarti Abang ke Adek lagi entar kalau
mau cabut bulu ketek,” kata Fian, membuyarkan lamunanku, menyadarkanku bahwa
ini bukan film BL Thailand yang sering kutonton, sembari dia menekan-nekan
keteknya sendiri dengan tangan. “Kayak ketek bayi.”
Fian mengangkat lagi lengannya. Menatap
masing-masing keteknya.
Glowing banget sih emang. Bisa langsung endorse
produk deodoran di Tiktok.
“Entar ada kawan Abang yang perlu
dicabutin kayak gini bulu keteknya, Abang bawa ke sini aja ya Dek?”
Aku enggak bisa respons gimana lagi,
Kak. Aku cuma bisa terkekeh. “Hehehe.” Aku lagi ngaceng soalnya.
Bayangin aja, belasan tentara ganteng, gagah, kekar, berjejer, angkat
tangannya, lalu keteknya ku-waxing satu per satu.
Fian pun menghela napas dan menurunkan
kedua lengannya. Dia menoleh ke arahku sambil melemparkan senyum lebar yang
manis. “Makasih ya, Dek,” katanya, lebih intim dan lembut.
“Sama-sama, Bang.” Dengan canggung aku
membereskan kertas-kertas yang dipenuhi bulu ketek Fian, lalu turun dari tempat
tidur menuju tempat sampah.
Di belakangku, aku bisa mendengar Fian
berkata, “Kalau ketek aja mulus, berarti bulu yang lain bisa dibikin mulus
kayak gini juga, dong?”
“Bulu yang mana, Bang?”
Fian berdiri, aku menoleh, Fian membuka
kancing celananya, lalu menurunkan ..., “Bulu jembut Abang. Adek bisa cukurin
juga kan sampai bersih?” Lalu celana itu perlahan turun, dan—
TOK! TOK! TOK! TOK! TOK!
“BENCOOONG ...! Si Fian ada di
dalam enggak?!”
Ida datang.
Aku sampai melompat terkejut dan
berbalik ke pintu.
WUAAANNNJJJIIIIIINNNGGG ...!!!
KENAPA ELU DATANG, LONTEEEEEE ...???!!!
TOK! TOK! TOK!
“COOONNNGGG ...?”
Fuck!
Sumpah, ya. Akan kubuka pintu ini, lalu
kudorong Ida ke belakang, supaya dia jatuh lewat pagar lorongku, ke atas
lapangan di samping kosan, kemudian dia modar! Aku lagi mau cukur jembut Fian,
LONTE!!!
Sembari menggeram kesal, aku memutar
kunci pintu, membuka pintunya, lalu kutemukan Ida sudah ada di depan pintu
mengenakan jeans dan atasan ketat yang membuatnya mirip banget sama lonte.
“Si Fian di sini, kan?” sapa Ida, yang
setara dengan assalamu ‘alaikum.
Aku menoleh untuk memperlihatkan Fian di
dalam kamar. Ternyata lelaki itu sudah berdiri dengan celana yang terkancing
sempurna. Bahkan dia sudah mengenakan lagi kausnya.
Secepat itu?!
Belum juga sepuluh detik dari Ida
mengetuk pintu lalu aku membukanya, mendadak dia sudah lengkap berbusana?!
“Udah selesai?” tanya Fian, setengah
salah tingkah, sembari menghampiri Ida dan mengecup keningnya.
Aku menurunkan pandangan saat melihat
adegan itu.
Aku enggak mau melihatnya. Aku enggak
mau melihatnya. Aku enggak mau melihatnya.
“Belum, Maaasss .... Aku pulang dulu
buat ganti baju. Penginnya aku diantarin lagi sama Mas ke rumah sakit.
Ayooooooo ....” Ida terdengar manja sekali.
Bikin aku berhasrat untuk menyumpalkan sugar
waxing ini ke mulutnya, sehingga rahangnya tertutup rapat, dan dia enggak
bisa ngomong lagi.
“Oh, oke. Ayo kita ke rumah sakit,”
balas Fian dengan suara mengayomi. Dia merangkul bahu Ida, lalu menepuk
lenganku. “Makasih, ya!”
“Iya, Bang.”
“Makasih yaaa ..., udah jagain
tentalanya akuuu ...,” kata Ida, sembari gelendotan di lengan Fian yang besar. “Sari
Pohatji-nya dapat kagak, nih?”
“Dapat.” Tapi sebelum kuberikan ke Ida,
mau kuganti dulu isinya dengan tepung tapioka.
Supaya muka Ida berubah menjadi cireng.
“Oke, Beb. Entar kapan-kapan gue ambil
yaaa .... Byeeeeee ...!”
Fian dan Ida pun pergi dari kosanku.
Fian menoleh untuk terakhir kali, memberikan senyuman manis dan kedikan kepala,
kayak cowok straight yang pamitan sama cowok straight lain. Aku
hanya bisa membalas senyuman itu meski hatiku dongkol. Terlebih melihat lonte
yang kini bermanja-manjaan di lengan Fian.
Begitu keduanya hilang di belokan, lalu
turun ke lantai dua, aku menutup pintu agak membanting. BRAK!
“LONTE!” sahutku kesal.
Tak kusangka momen intimku bersama Fian
akan berlalu secepat itu. Seharusnya aku masih bisa menyentuh tubuh Fian yang
indah. Membantunya membersihkan bulu-bulu jembut yang ....
Oh! Ada bulu ketek Fian di sini, Kak!
Ya sudah, malam ini, akan kukumpulkan
bulu-bulu ketek Fian yang menempel di kertas waxing, untuk kemudian
kugunakan memelet Fian, agar dia bersamaku dan meninggalkan Ida selama-lamanya.
HA! RASAKAN!
[ ... ]
Aku seriusan soal melet itu, Kak. Buat
opsi terakhir aja. Kalau memang Ida selancang itu mengganggu waktuku bersama
Fian, aku mempertimbangkan untuk mengambil jalur dukun. Saking niatnya, setelah
mengumpulkan bulu-bulu ketek Fian seperti barang bukti, aku meng-googling
dukun mana yang sakti di sekitar sini.
Rata-rata dukun yang kutemukan fungsinya
untuk cek khodam. Jadi aku skip. Paling ada satu dukun pesugihan, yang
katanya sakti banget, tapi aku enggak tahu apa aku bisa datang ke dia atau
enggak. Lokasinya di Jakarta soalnya. Namanya Mbah Dimas. Kliennya harus
laki-laki berpenampilan menarik. (Aku masuk lah ya di kategori ini.)
See? Nama dukun aja sekarang sudah Dimas.
Sudah enggak mengandung huruf O lagi. Orang tua dukun seenggaknya memberikan
nama yang enak didengar.
Sepanjang hari berikutnya, aku setengah
bete. Kepalaku terus-menerus membayangkan universe lain di mana Ida
tidak datang ke kamarku ketika Fian membuka celana. Pasti Rohmat di Earth 10005
semalam melihat kontol Fian, lalu memainkan jembut Fian, lalu menggunting
jembut Fian, lalu mengoles sugar waxing ke jembut itu, lalu memasang
kertasnya, lalu menarik kertasnya, lalu semua jembut Fian tercabut.
Damn.
Mikirin nasib si Rohmat di universe
lain saja aku sange.
Bayangkan wajah kesakitan Fian saat
jembutnya digunduli dengan cara seperti itu.
Bukan, bukan.
Bayangkan memegang kontol Fian yang layu
sembari mengoles-ngoles waxing ke jembut di area pangkal kontolnya.
Damn.
Atau bayangkan, ada universe di
mana Rohmatnya enggak sengaja memijat-mijat batang kontol Fian, lalu kontol itu
ngaceng, lalu Rohmat menciumnya untuk mengecek apakah batang itu mulus
atau enggak, lalu—
“Heh! Jangan ngelamun!” Geca menggeplak
kepalaku, membuyarkan semua lamunanku tentang Rohmat-Rohmat di universe
lain. Dia meletakkan setumpuk dokumen ke atas mejaku. “Dokter lu nyuruh gue
buat ngasih ini ke elo.”
Aku melirik ke dokumen paling atas. Itu
adalah data rekam medis pasien yang harus kuinput ke data BPJS. Yang bertugas
memasukkan itu seharusnya DPJP-nya (Dokter Penanggung Jawab Pasien). Namun
tentu, DPJP-nya akan sibuk haha-hihi dengan dokter lain sambil membahas mau
liburan ke mana, sehingga tugas input data itu diserahkan ke perawat.
Enggak, aku enggak komplain.
Kalau kebanyakan komplain, takutnya
Tuhan mengambil lagi kesempatan-kesempatan emas yang hampir saja terjadi seperti
malam kemarin.
“Oke.” Aku menarik tumpukan dokumen itu
ke tengah meja dan mulai menggoyang mouse agar layar komputer
menghilangkan screensaver yang sedang muncul. (Screensaver semua
komputer di klinik ini adalah tampilan salindia produk-produk kesehatan dari
klinik. Supaya setiap pegawai teredukasi dan hafal di luar kepala apa saja yang
kami tawarkan, atau berapa harganya, atau bagaimana prosedur cuci darah yang
dilakukan di klinik ini.)
“Gue mau makan di luar. Elu mau ikut?”
tanya Geca sembari menyenggol bahuku. Dia sedang mengulum lolipop di mulutnya.
“Makan di mana?”
“Di seberang aja. Mau makan mi ayam. Lu
istirahat sekarang apa entar?”
“Nanti gue jam dua.”
“Oh iya, lu masuk jam sepuluh. Mau nitip
kagak?”
Aku menggelengkan kepala sembari membuka
dokumen pertama dan memelotot kesal melihat tulisan dokter di depanku. Memang
para perawat punya kelas khusus membaca tulisan dokter. Tapi tak bisakah para
dokter nyantai aja kalau mau nulis diagnosa dan tindakan para pasien? Gunakan alfabet
latin/roman yang normal, alih-alih tulisan tanda tangan kayak begini? Ini kan
bukan nulis resep yang harus buru-buru.
“Lu kenapa, sih? Kayaknya bete banget
hari ini.” Geca menyenggol lagi.
“Gapapa.” Aku mengernyitkan hidung
seraya memulai input dataku. “Entar gue makan GoFood sendiri aja.”
“Di klinik ini bakalan kosong, anjir.”
“Jam segini kan emang sepi, enggak ada
yang praktik.”
“Maksud gue, dokter-dokter lagi pada
keluar, mau pada makan bareng. Kita-kita juga mau makan mi ayam. Elu cuma sama
si Beni yang di obat.”
“Di UGD juga ada orang, kan?”
“Ya ada. Tapi kan enggak akan nemenin lu
di sini juga. Cuma ada si Marita sama si Neni di sana.”
“Iya gapapa. Gue di sini aja. Enggak
akan ada pasien rawat jalan yang datang jam segini juga, kan?” Salah satu
keuntungan bekerja di klinik ini adalah, pada waktu siang, jarang sekali ada
dokter yang praktik. Sehingga kami punya waktu luang untuk makan siang. Jadwal
praktik berikutnya ada di pukul 3.
“Ya udah gue pergi dulu.”
Begitu Geca dan beberapa rekanku pergi
keluar berombongan untuk makan mi ayam, suasana lobi depan langsung sepi.
Otomatis aku pindah ke meja resepsionis, kalau-kalau ada orang yang datang ke
sini untuk sebuah urusan. Semuanya begitu damai siang itu. Aku bisa meresapi
dan merenungi kegagalanku mencukur jembut Fian dengan tenang, sembari
memasukkan data rekam medis itu ke komputer.
Tapi baru seperempatnya kumasukkan, aku
mulai kesepian. Jadi, aku membuka Youtube dan memutar video apa pun untuk
mengisi kesendirianku.
“Halo, keluarga Firdaus Fam!
Tahu enggak nih, Akang sekarang lagi ada di mana? Ini Akang lagi ada di sebuah
kafe di Kemang, yang katanya nih, kopinya murni dari petani lokal, dan
keuntungan dari pembelian kopi di sini, beberapa persennya disumbangkan untuk
membantu teman-teman kita di Palestina ....”
Aku enggak begitu sering nonton Firdaus
Fam. Aku enggak begitu suka konten keluarga-keluarga islami yang bersikap
sangat religius dalam kehidupan sehari-hari, tetapi mereka rekam dan sebarkan kehidupan
religius mereka di media sosial. Kan itu riya ya jatuhnya. Tapi sekalinya aku
kepincut sama Kang Taufik—yang jadi suaminya Teh Mita di channel ini—terus
suatu waktu aku nonton satu video mereka dari awal sampe akhir waktu mereka
berenang di Dubai, dan si Kang Taufik ini telanjang dada, akhirnya FYP
Youtube-ku isinya mereka terus.
Ya gapapa juga, sih. Kan cuma buat white
noise aja.
Kubiarkan ponselku tergeletak di atas
meja, menampilkan salah satu konten terbaru Firdaus Fam, sembari aku anteng
memasukkan data rekam medis.
Enggak begitu lama dari situ, seseorang
masuk ke klinik. Aku mengangkat kepala dan melihat seorang lelaki yang lumayan
ganteng, masih muda, pakai kemeja putih dan celana hitam katun—kayak orang lagi
ngelamar kerja—berjalan masuk dengan wajah cemas. Kedua alisnya mengerut ke
tengah, hampir seperti ketakutan. Dari potongan rambutnya yang cepak, aku punya
feeling anak ini ada hubungannya dengan penerimaan peserta didik baru di
lanud. Semalam aku melihat gaya rambut yang sama bertebaran di supermarket.
“Ini ... ini buka?” sapanya, sembari
menghampiri meja resepsionis dengan ragu-ragu.
Aku berdiri dan menyambutnya. “Selamat
siang, Bapak. Buka kok, Pak. Tapi lagi enggak ada dokter yang jaga. Bapak mau
periksa?”
Dia menggaruk kepalanya yang hampir
gundul, celingukan ke belakang seakan-akan memastikan tak ada yang melihatnya, lalu
menempelkan tubuhnya ke meja resepsionis. Membungkuk condong ke arahku, dia
berbisik, “Aku ... aku mau tes.” Dia menelan ludah.
“Tes?”
Dia mengeluarkan secarik kertas dari
saku celananya. Itu adalah surat rujukan dari instansi militer di lanud untuk
melakukan tes varikokel di sini. Ada tanda tangan atas nama Rafianto di bagian
bawahnya. Aku langsung teringat perkataan Fian tempo hari, soal merujuk calon
taruna yang dicurigai varikokel untuk melakukan tes USG di sini.
“Oh, ya, ya!” kataku setelah membacanya.
“Saya cek dulu ya, Pak, ya.”
Aku duduk lagi di komputerku untuk
mengecek administrasi tentang tes varikokel ini. Karena pihak klinik akan
mengadakan kerja sama dengan instansi militer itu, aku ingin memastikan apakah
tes varikokel ini di-cover oleh mereka, atau si calon taruna ini harus membayar
sendiri biaya tesnya.
Tidak ada keterangan soal pembiayaan tes
USG testis. Berarti ini pasien umum.
Aku berdiri lagi dan menjelaskan, “Klinik
memang sedang kerja sama dengan TNI AU, Pak terkait pemeriksaan medis. Tapi
saya enggak nemu keterangan soal pembiayaan tes USG testis—“
“Ssst! Jangan keras-keras!” penggal
lelaki itu tiba-tiba.
Aku sempat terkejut melihat reaksinya.
Mungkin memalukan bagi dia kalau ada di dalam klinik dan dirinya berurusan
dengan testis. Wajar banget ini, Kak. Semua lelaki yang jadi pasiennya dokter
Kulit dan Kelamin selalu berbisik-bisik karena malu.
Tapi kan di lobi ini cuma ada kita
berdua, Bangsat! Enggak ada orang lain lagi! Lu mau ngomong kontol atau bool
juga silakan!
Aku menarik napas untuk menenangkan diri. Dengan suara pelan, aku menjelaskan,
“Saya enggak nemu keterangan soal pembiayaan tes USG testis ini, Pak. Jadi
mungkin Bapak harus menggunakan biaya sendiri—“
“Ya, ya, ya, memang duit sendiri, kok!”
sergah dia, benar-benar tak tenang. Dia juga menggigiti kukunya dengan cemas.
Selama sesaat, dia mengamati wajahku.
Kemudian dia membelalak, seperti teringat sesuatu. Setelahnya, napas lelaki ini
memburu. Malah semakin tegang dan khawatir.
Aku melihat ke belakang bahunya. “Bapak
... sedang ditunggu keluarga, di luar?”
Dia menggeleng cepat-cepat. “Enggak,
enggak, enggak. Cepetan tesnya! Bisa tes sekarang enggak?”
Sebagai perawat yang baik, tentu saja
aku harus menjelaskan dulu, “Bapak ada BPJS?”
“Hah? BPJS? Enggak tahu!”
“Kalau Bapak ada BPJS, misal ternyata
ditemukan varikokel, atau gangguan lain kayak orchitis, atau epididimitis,
nanti saya bisa bantu merujuk ke dokter di sini, terus kita masukkan ke BPJS,
Pak.”
Dia semakin gelisah. Dia menatap wajahku
dengan amat teliti, bahkan geleng-geleng kepala sebentar. “M-maksudnya ...?”
“Maksudnya kalau Bapak terdiagnosa punya
gangguan di testis, maka Bapak—“
“Jangan bilang testis! Jorok, anjing!”
selanya agak marah.
YA MASA AKU BILANG BIJI?! Perawat macam
apa yang menjelaskan ke pasien istilah medis untuk testis dengan istilah biji?!
Memangnya ini cerita homo Wattpad?!
Dengan napas yang tenang, aku mengganti
bahasaku agar lebih dipahami dan tidak jorok. “Jadi, kalau Bapak terdiagnosa
punya gangguan di biji, maka Bapak bisa kita masukkan sebagai pasien BPJS. Jadi
nanti Bapak enggak perlu bayar—“
“Memang berapa kalau bayar?” penggalnya
lagi.
Aku mengotak-atik sesuatu di komputerku,
biar keren. Mengecek harga USG testis berapa. Padahal di dalam hati aku sudah
hafal semua biaya USG. Di screensaver komputer pun sering muncul semua
harga USG. Tapi kan biar lebih keren, aku kutak-ketik dulu di keyboard
komputer. “Di klinik kami harganya lima ratus lima puluh ribu, Pak. Tapi kalau
pakai BPJS—“
“Aku bayar sendiri aja!” sahutnya.
“Sekarang tapi, ya! Aku buru-buru.”
Aku teringat bahwa semua dokter sedang
pergi makan di luar. Sementara USG testis hanya bisa dilakukan oleh dokter
spesialis radiologi saja. Aku memang bisa melakukannya, tapi aku enggak berhak
melakukannya, enggak punya izin melakukannya.
“Tunggu sebentar ya, Pak. Saya hubungi
dulu dokternya.”
Kucoba hubungi dr. Nining melalui
telepon resepsionis. Dia adalah dokter spesialis radiologi di sini. Dr. Nining aktif
melakukan USG untuk ibu hamil. Tapi biasanya beliau praktik pagi atau sore
hari, karena ibu hamil datangnya sekitaran jam segitu.
“Halo?” sapa dr. Nining. Terdengar sayup-sayup keramaian
lalu lintas di belakangnya.
“Selamat siang, Bu. Ini Rohmat, dari
klinik. Izin tanya posisi. Ada yang mau USG sekarang. Ibu bisa ke sini?”
“Hah? USG? Ibu hamil?”
“Bukan, Bu. USG Biji.”
“Hah?!”
“Eh, maksud saya, testis.” Sembari
membelakangi lelaki itu. “Ada USG testis. Dicurigai varikokel.”
“Kamu enggak baca memo, Rohmat?!
Saya kan lagi di Surabaya.”
“Oh?”
“Saya kosongin jadwal buat tiga
hari ini. Semua ibu hamil yang punya jadwal USG ama saya juga digeser ke hari
Senin. Suruh ke klinik lain aja. Atau ke RSUD.”
“Ini yang dari lanud, Bu. Rujukannya
khusus ke sini. Ada suratnya.”
“Ck!” dr. Nining menghela napas. “Ya
udah, sama kamu aja, Rohmat. Kamu bisa, kan?”
“Hah?”
“Kan kamu pernah beberapa kali
USG testis. Ada yang assist
saya, ada yang kamu sendiri.”
“Tapi kan tetap ada Ibu di sini buat
konfirmasi. Nanti hasilnya juga harus—“
“Ya hasilnya tetap saya yang
nentuin. Entar kamu kirim aja hasil USG-nya lewat email. Saya yang bikin diagnosanya.
Bisa, ya? Cuma buat varikokel aja, kan?”
“Dicurigainya sih begitu—“
“Ya udah kamu aja. Bisa, ya? Datanya
nanti langsung saya upload
ke sistem dari sini. Paling suruh dia tunggu hasilnya keluar sore aja. Oke?
Dah, ya!”
Aku belum bisa memberikan reaksi
apa-apa, tetapi dr. Nining sudah menutup telepon.
Ketika aku meletakkan lagi gagang
telepon, si calon taruna itu langsung berkata, “Ibu-ibu, ya? Aku enggak mau
kalau perempuan! Aku penginnya laki-laki yang meriksa!”
Belum juga aku ngomong apa-apa, anjing!
Karena agak kesal, akhirnya aku berkata,
“Dokternya lagi di Surabaya, Pak. Kayaknya hari ini belum bisa tes varikokel di
sini. Baru bisa lagi hari Senin nanti. Atau kalau Bapak mau, saya bisa rujuk ke
klinik atau rumah sakit lain—“
“Enggak bisa, harus di sini!” sergah
lelaki itu ngotot. “Disuruhnya ke sini! Sekarang!”
Aku menelan ludah. Aku melihat ke
kerjaanku di atas meja, lalu ke kosongnya klinik ini, lalu ke wajah lumayan
ganteng si taruna itu. Tiba-tiba saja perkataan Fian tentang merekomendasikan
klinik ini untuk tes varikokel gara-gara aku kerja di sini, terbayang-bayang
dalam kepalaku. Ya sudah. Mungkin memang aku perlu melakukannya.
Dan dia lumayan ganteng juga.
Jam segini aku sudah bisa mainin biji
lelaki calon tentara.
Anggap saja ini bayaran karena semalam
aku gagal mainin bijinya Fian.
“Tapi hasilnya tetap harus diserahkan ke
dokternya ya, Pak. Enggak bisa instan. Mungkin sore ini, paling lambat besok.”
“Gapapa. Yang penting tesnya sekarang!”
Aku enggak tahu kenapa dia terlihat
tergesa-gesa. Sejak masuk ke sini, lelaki ini tampak seperti dikejar-kejar
sesuatu.
“Ya sudah, Pak. Boleh pinjam KTP-nya?”
Giliran dia yang menelan ludah. “Bu ...
buat apa KTP?”
Buat ngajuin pinjol.
Ya buat pendataan, anjing!
“Saya perlu memasukkan data Bapak. Hasil
diagnosanya enggak bisa anonim di sini.”
Dia mendengus, setengah kesal. Atau
gelisah. Sembari merogoh saku belakangnya, mengeluarkan dompet dan KTP, dia
berkata, “Jangan panggil Bapak mulu. Aku masih 18 tahun!”
Terus mau dipanggil Adek, gitu?!
Aku enggak merespons bagian terakhir
itu. Aku menerima KTP-nya, dan melakukan pendataan ke komputer.
Anjing. Nama dia Verdian Arshaka Xavier.
Ada huruf X-nya, Cuk!
Enggak mau tahu, mulai detik ini aku
akan manggil dia Xavier.
“Siapa yang periksa?” tanya Xavier
sambil mencondongkan kepala melewati meja resepsionis, berbicara dekat sekali
ke wajahku. Suaranya juga agak berbisik.
“Entar saya yang ngecek, Pak.”
“Jangan panggil, Pak!” desisnya.
Aku hanya tersenyum dan lanjut
memasukkan data. “Bapak boleh tunggu di sana ya Pak, nanti saya panggil.”
Sembari mengatakan itu, sembari aku mengeluarkan satu formulir konsen bahwa Xavier
ini bersedia menunjukkan testisnya kepadaku, lalu aku raba-raba, lalu aku
lakukan prosedur pemeriksaan USG ke testisnya. “Mohon isi ini juga ya, Pak. Ini
formulir konsen untuk prosedur USG biji.”
“Oh. Oke.” Dia pun duduk di salah satu
kursi tunggu. Paling pojok, dekat pot bunga, seolah-olah takut ada orang yang
mengintip formulirnya.
Sekali lagi kutegaskan, hanya ada kami
berdua saja di lobi itu. IGD dan loket pengambilan obat ada di bagian lain
ruangan ini. Harus masuk melewati lorong.
Aku geleng-geleng kepala sembari lanjut
mengisi data. Setelah data Xavier tercatat, aku berjalan menyusuri lorong
menuju ruang radiologi, tempat pelaksanaan USG. Kusiapkan mesin doppler
ultrasound yang memiliki wide dynamic range dengan color and
spectral. Artinya, nanti hasil tes USG-nya memiliki warna (merah dan biru).
Setelah menyiapkan handuk hangat dan gel
di atas meja, aku keluar lagi ke lobi dan memanggilnya. “Sudah siap, Pak?”
Dia mengangguk sambil menyerahkan form
konsennya. Kuletakkan formulir itu di atas meja, lalu menduluinya menuju ruang
USG. Sesampainya di sana, di sebuah ruangan mungil dengan satu kursi yang bisa
diselonjorkan berbagai derajat seperti kursi kelas bisnis di pesawat, aku
menutup pintu.
Xavier menurunkan ranselnya dan
meletakkannya di atas meja. Aku menarik mesin doppler ke dekat kursi
selonjor itu. “Dibuka aja, Pak.”
“Semua?” tanya Xavier.
Dengan bercanda kujawab, “Iya.” Lalu aku
sibuk mengotak-atik komputer di samping mesin doppler sembari menunggu Xavier
melepas celana.
Ketika aku berbalik ....
... Xavier telanjang bulat.
Aku sudah membuka mulut untuk menyatakan
bahwa barusan aku hanya bercanda, dia bisa kembali mengenakan kemejanya. Tapi
....
... gapapa, deh.
Sekalian cuci mata.
Lelaki tegap, 18 tahun, ganteng, cepak,
calon taruna, badannya enggak kekar banget kayak Fian, tapi badannya atletis,
yang artinya dia jago pull up. Bahunya lebar. Kulitnya eksotis
kecokelatan, mungkin beberapa hari terakhir dijemur di lanud. Dan dia ...
telanjang.
Masa iya kulewatkan?
Hitung-hitung membayar semua sikap
menyebalkannya barusan.
“Silakan baring di sini, Pak.”
Xavier naik ke atas kursi, lalu baring
telentang. Dengan canggung dan bingung dia bertanya, “Tanganku ... tanganku di
mana?”
Aku bercanda lagi sebenarnya, “Disimpan
di belakang kepala, Pak.”
Tapi dia menurutinya dengan patuh.
Padahal enggak perlu nyimpan tangan di
situ. Tapi lumayan, lah. Aku jadi bisa melihat keteknya yang berbulu.
Apa sekalian aku tawarkan ke Xavier sugar
waxing-nya Ida?
Kuatur Xavier agar berada dalam posisi
supinasi. Yaitu posisi telentang dengan dua kaki lurus. Jadi, enggak ngangkang
ke atas kayak ibu hamil lagi periksa memek, atau kayak boti lagi mau di-ebrut.
Kedua pahanya harus rapat, dengan testis yang terkulai lemas di atas lipatan
paha. Kontol Xavier sudah disunat. Agak mungil dengan jembut yang belum
dicukur, sehingga tampak lebat. Tapi karena Xavier baru berumur 18 tahun,
seluruh tubuhnya tampak mulus.
Mulus-mulus berondong.
Biji pelernya juga tampak sehat. Agak
besar sebelah, tetapi itu wajar sih.
“Jangan dilihatin!” kata Xavier galak. Sedari
tadi, sumpah, Xavier ini melihat terus ke wajahku. Enggak tahu apa yang ada di
mukaku. Sempat kukira apa dalam semalam tumbuh tahi lalat atau apa gitu di keningku?
Habisnya dia melihatku kayak yang ... aneh.
“Kalau enggak saya lihat, gimana saya
ngeceknya, Pak?” balasku sembari melakukan pemeriksaan visual.
Yaitu, mainin kontol.
Wkwkwk.
Itu bahasa kita-kita aja ya Kak, mainin
kontol. Aslinya ya aku mengecek gangguan-gangguan yang mungkin muncul di area
testis itu. Aku menarik kontolnya ke atas, hingga kulit biji pelernya tertarik.
Lalu aku memijat-mijat testisnya.
“Argh!” Xavier agak mengerang kecil.
“Sakit?”
“Enggak,” jawabnya, malu-malu.
Jujur, enggak ada benjolan yang
mencurigakan. Setelah mainin kontol itu beberapa saat, kutarik, kupelintir,
kuraba, kucubit, kutekan, dan lain sebagainya ..., memang ada satu hal yang
agak mencurigakan dari kontol Xavier, yaitu ....
....
... kontolnya setengah ngaceng.
....
Tapi aku enggak bahas itu. Aku langsung lanjut
ke prosedur berikutnya, yaitu meletakkan handuk di bawah biji peler, kemudian
mengoleskan gel hangat ke area yang akan di-USG untuk mengurangi refleks
kremaster.
Seperti yang sudah kupelajari, aku
menggerakkan probe transducer di atas testis seperti sedang mencari
sesuatu di bawah jaringan biji peler itu. Atau kalau kamu enggak kebayang,
mungkin kamu pernah melihat ibu hamil yang sedang di-USG, dokternya
menggerakkan sebuah benda kecil ke perut si ibu, benda yang tersambung dengan
kabel ke mesin doppler? Nah, itu probe transducer. Dan benda itu
kugerakkan di sekitaran testis, mencoba mengambil imaji pembuluh darah yang ada
di bijinya Xavier.
Di sebuah monitor kecil mesin doppler-nya,
di samping kanan Xavier, tampil imaji hitam putih kayak USG ibu hamil, tapi
alih-alih jabang bayi yang ada di situ, adanya adalah sumber pencipta jabang
bayi. Yaitu biji peler. Di sekitaran biji peler itu, ada warna merah dan biru
yang ikutan bergerak setiap kali aku menggerakkan probe ke sana kemari.
Itu adalah pembuluh darah yang ada di
skrotumnya Xavier, yang menunjukkan mana yang menjauh, dan mana yang mendekat
ke probe. Dan dari hasil pembacaan singkatku ....
“Kayaknya ada Pak ...,” ungkapku,
setengah yakin, setengah enggak yakin.
“Hah?!”
“Saya enggak bisa memastikan, karena
saya enggak berwenang,” kataku, lalu mengklik sesuatu di mesin doppler untuk
mengambil screenshot hasil USG itu (yang nantinya akan dikirim ke dr.
Nining). “Tapi mungkin ada varikokelnya di sini.”
“A ... ada?”
“’Mungkin’ ada, Pak.”
Napas Xavier memburu. Kedua alisnya
mengerut ke tengah. Xavier panik. Dia menurunkan tangannya, bangkit setengah
untuk melihat layar monitor lebih jelas.
“Jangan bangun, Pak. Rebahan dulu. Saya
belum selesai.”
Pelan-pelan Xavier kembali rebahan (dan
kembali melipat tangan di belakang kepala untuk memamerkan keteknya), tetapi
rasa paniknya belum hilang. Dia menatapku dengan dada kembang kempis. Wajahnya semakin
panik.
Tak lama dari situ, aku masih
menggerakkan probe-ku di skrotumnya, tiba-tiba Xavier menggenggam
pergelangan tanganku.
“Please, bantu aku.”
Aku agak terkejut. “Ba ... bantu?”
“Please bikin hasil periksanya
kalau aku enggak varikokel. Please, please, please!” Dia memohon-mohon,
setengah menangis. Air mata benar-benar keluar dari sudut matanya. Aku jadi
teringat lagi dengan satu calon taruna yang menangis di pintu masuk
supermarket, yang menelepon ibunya dengan suara pilu.
“Saya ... saya enggak bisa bantu, Pak—“
“Please bantu aku ....” Suara
Xavier mulai bergetar dan enggak jelas, karena dia menangis. “Aku pengin banget
masuk TNI. Please! Jangan sampai aku gagal! Please, please, please!”
Dia bahkan bangkit lagi dan mencondongkan tubuhnya ke arahku. Benar-benar
memohon.
Aku membeku. “Saya .... Saya enggak
bisa—“
“Aku bayar berapa pun!”
“Ini bukan soal uang, sih—“
“Aku lakukan apa pun!”
“Tapi, Pak—“
“Aku ngewe sama kamu. Tapi please
bantu aku!”
Di situ aku membeku.
Damn!
Ngewe bisa jadi option?
Wow.
“Enggak bisa, Pak. Saya enggak bisa
bantu Bapak. Antara Bapak enggak ngambil hasilnya, atau Bapak—“
“Aku tahu kamu,” sergah Xavier lagi.
“A ... apa?”
“Aku tahu siapa kamu!” Dengan bahu
berguncang karena masih menangis, Xavier menjelaskan, “Aku harus masuk taruna.
Aku enggak boleh gagal gara-gara ini. Aku udah latihan, hiks hiks ...,
aku udah usaha keras .... Aku enggak boleh gagal gara-gara ini. Please
bantu aku! Aku tahu siapa kamu .... Aku siap ngewe sama kamu. Jadi top
atau bot juga aku enggak peduli. Tapi please, ganti hasil jadi
yang negatif varikokel. PLEASE!”
Tunggu.
Tunggu, tunggu, tunggu. Barusan dia
nyebut soal ... top ...? Dan ..., bot ...?
“Kamu Morning Fun, kan?” todongnya.
Itu adalah nama akunku di dating apps.
“Aku FunNowNPNC19cm. Kita pernah chatting
di aplikasi. Tapi aku belum balas lagi. Aku tahu kamu top. Aku rela jadi
bot. Tapi please, bantu akuuu ....”
Dia ...
Dia FunNowNPNC19cm ...?
Yang meng-ghosting-ku di aplikasi
tempo hari?!
Anjing!
Aku harus gimana, Kak?!
Komentar
Posting Komentar