Enggak. Aku enggak langsung datangin “Lidya” lalu kuhantam mukanya pake gedebok pisang. Aku pengin banget ngelakuin itu, tapi situasinya enggak seinstan film-film laga.
Lidya, atau Agus Aprilianto
Junaedi—YES si pemilik telegram berisi prank straight itu adalah
‘Lidya’—berada di Pati, Jawa Tengah. Sama sepertiku, Edvan menelusuri akun
Telegram berbayar itu, mengetahui nama pemilik rekening, mengecek nomor ponsel
yang digunakan, dan bla-bla-bla kayak Badan Intelijen Negara, tahu-tahu dia
menemukan lokasi tepatnya Agus Aprilianto Junaedi.
Kemarin aku sempat meriset
juga, sih. Tapi risetku terpotong oleh Edvan yang meminta bantuan dan sejak
saat itu aku belum balik lagi ke pencarianku.
Kita sebut saja namanya
Agus, yang mungkin lahir pada bulan April maupun Juni. Data-data media sosial
Agus sudah didapatkan oleh Edvan, termasuk sejarah Facebook-nya seperti apa.
Analisa data Edvan sangat canggih sampai-sampai dia bisa nge-track
pergerakan Agus selama beberapa hari terakhir. Misalnya pergi ke pasar, pergi
ke warung, pergi ke luar kota, dan lain sebagainya. Termasuk aktivitas apa pun
yang terjadi lewat hape-nya, seperti menonton bokep di Twitter, me-manage
Telegramnya, mengedit video hasil prank, dan juga cowok straight
yang saat ini sedang dia prank.
Edvan melakukan phishing
ke Agus. Meski Agus “pintar” nge-prank cowok straight, Agus
enggak terlalu pintar menghadapi teknologi. Dengan mudah Edvan memberikan bukti
transfer palsu yang ketika Agus klik, sebenarnya meng-install aplikasi
ringan di hape Agus, di mana Edvan setelahnya bisa melakukan: remote observation
and control.
Yaitu mengamati penggunaan hape
Agus, di mana seluruh yang tampil di layar hape Agus, akan bisa dilihat
oleh Edvan. Dan best part-nya adalah dia juga bisa mengontrol ponsel itu
dari jarak jauh.
“Sekarang dia lagi nge-prank
cowok dari Lubuk Linggau,” kata Edvan, sambil menunjukkan layar laptopnya pagi
itu. “Si cowoknya lagi libur, istrinya lagi pergi, si Agus ngajakin VCS. Di
sini Agus pake nama Jihan.”
Di layar, seorang cowok
kurus sedang ngocok di kamar mandi, VCS dengan seorang perempuan yang kepalanya
enggak kelihatan. Perempuan yang diajak VCS itu sama persis dengan perempuan
dalam VCS “Lidya” yang nge-prank Tino tempo hari.
Kasihan banget ngelihat
cowok itu sedang ditipu bencong bernama Agus dari Pati. Aku ingin sekali
berempati, tapi cowok Lubuk Linggau itu memang cakep dan seksi. Setengah hatiku
rasanya ingin coli.
Intinya, aku dan Edvan
sepakat untuk mendatangi Agus dan meminta pertanggungjawabannya. Sekaligus
bertanya apakah ada dalang di balik prank-nya Tino.
“Biasanya yang kayak gini
tuh pesanan,” ungkap Edvan. “Seseorang minta orang kayak Agus buat nge-prank
cowok straight yang ditunjuk, lalu mereka bayar Agus—sometimes
enggak dibayar kalau objeknya cakep—lalu Agus ngeksekusi korbannya. Pelakunya
yang bakal provide informasi pribadi, nomor telepon, foto, dan lain
sebagainya. Udah kayak nyantet aja gimana, tapi instead of ngasih rambut
buat dikasih aji-aji, yang dikasih malah nomor telepon supaya korbannya bisa
diajak coli. Dari kebanyakan kasus, user-nya tuh homo-homo yang
suka ama cowok straight, terus rela ngeluarin duit banyak buat nge-prank
si cowok straight kesenengan dia. Tapi bisa juga dipake buat ngejatuhin
seseorang. Makanya kita perlu tanyain ke dia nih, motif dia apa.”
Aku manggut-manggut paham mendengarkan
penjelasan Edvan yang panjang kali lebar kali tinggi kali cisadane itu. Tapi
kemudian aku menyipitkan mata menatap Edvan dengan pandangan curiga. “Untuk
ukuran cowok straight, elo tahu banyak ya soal ini?”
“Gue riset anjir! Soal
selidik-menyelidik mah gue emang jago!”
“Tapi kamu straight,
kan?”
“Straight, lah!”
Edvan menelan ludah. Dia mulai tak berani menatap mataku.
“Yakin …?”
“Iya! Gue straight!
Sumpah. Straight banget. Lurus enggak ada belokan, enggak ada
cabangnya!” sahut Edvan, yang menurutku terlalu bersemangat. “Enggak pernah gue
ngewe ama cowok. No, no, no!” Kepalanya juga geleng-geleng
berlebihan.
Aku malah makin curiga. Tapi
aku lebih excited buat tahu si prankster ini, jadi aku
mengabaikan soal orientasi seksual Edvan. Yang kalau misal homo pun, atau
biseks misalnya, ya gapapa juga. Harapanku sih dia top, jangan boti.
Jangan nambah-nambah saingan. Itu aja, sih.
Selain sepakat untuk
mendatangi Agus, kami juga sepakat untuk merahasiakannya dari Tino dan Romi.
Aku paham sih merahasiakannya dari Tino. Tapi aku enggak paham kenapa nama Romi
perlu disebutkan juga. Dua hari setelah Edvan memberi tahu soal Agus, kami
membeli tiket pesawat ke Semarang dan mungkin akan berada di sana selama weekend.
Pesawat kami berangkat
malam. Pukul lima sore kami baru akan OTW dari kosan. Aku menghampiri Tino di
kamarnya, memastikan dia baik-baik saja.
“Gapapa ya gue tinggalin?”
kataku, sambil mencolek lengan kekarnya.
“Iye. Lu hati-hati di jalan
ya, Bro.” Tino mengusap kepalaku. “Yakin kagak mau diantar ke bandara?”
“Enggak usah. Rush hour
ini tuh. Pasti macet. Udah Abang di kosan aja.”
“Kabari kalau udah nyampe—”
“Ini kunci kamar gue. Ingat!
Kalau lapar, makan apa pun yang ada di kulkas gue. Jangan makan mi mulu!”
“Iyaaa …!” Tino mencubit
hidungku, lalu menggoyang kepalaku.
Aku memeluk personal
trainer itu beberapa saat, lalu berlari meninggalkannya menuju kamar Edvan.
Kami akan berangkat sama-sama ke bandara. Grab sudah dipesan olehku. Namun
ketika aku tiba di kamar Edvan, Romi sedang ada di dalamnya. Dia lagi nyeritain
apa gitu yang heboh, karena suaranya menggema di sepanjang koridor. Pas aku
masuk ke dalam pun, dia langsung ngulang lagi ceritanya.
“Sist! Kamu tahu enggak yang
barusan aku lihat siapa?!” sahutnya sambil menarik tanganku masuk.
“Enggak. Dan gue enggak
mau—”
“Lanashiiiaaa!”
“Hah?”
“Itu yang kamarnya di ujung
itu!”
“Lanang, goblok!” Kutoyor
kepala Romi sampai dia hampir terjungkal. Kulihat Edvan sudah siap dengan
tasnya. Dia sedang mengikat tali sepatu. “Mobilnya udah dekat, ya Van—”
“Si Lanang ternyata playgirl,
ya ampuuunnn …! Dia punya selingkuhan!”
Aku sudah tahu soal ini,
tapi aku beneran lagi enggak mau bahas soal Lanang. Kepalaku isinya hanyalah
Agus Aprilianto Junaedi. Aku lagi enggak mau bahas apa pun yang enggak ada
kaitannya dengan penghancur hidup Tino. “Ya udah biarin aja, sih. Entar aja
kita bahasnya. Mobil kita udah mau—”
“Jadi tadi tuh, yaaa … waktu
aku lagi beli sukro di warung depan, aku lihat si Lanang dianterin cowok gitu
anjir, pake motor bagus, udah gitu ganteeeng …, udah gitu mereka pelukaaannn
….”
Enggak perlu lah ya
kuceritakan dengan detail. Bisa ngabisin waktu kalian yang berharga di dunia
ini. Life is short. You only live once. Jadi kupersingkat aja bahwa Romi
mendadak cerita soal pertemuannya dengan Lanang dan selingkuhannya yang so
hot from another level, lalu Edvan menyorongkan kepalanya sampai Romi
terguling ke atas tempat tidur Edvan, “Bacot, lu! Mobil gue udah datang! Keluar
dari kamar gue!” Kemudian akhirnya aku dan Edvan naik ke mobil menuju bandara.
Tapi inti ceritanya, si
Lanang pulangnya diantar sama cowok ganteng itu sampai ke warung depan jalan
keluar kosan. Pake motor yang bagus, lalu peluk-pelukan, lalu sayang-sayangan,
habis nonton di bioskop katanya, dan lain sebagainya. Bitch, I heard he
moaned waktu cowok ganteng itu nge-fuck si Lanang. So shut up! My
story is better!
Begitu aku dan Edvan duduk
di Grab, kami sama-sama menghela napas lega.
“Hampir aja telat, anjir!”
keluh Edvan seraya mengatur napasnya.
“Gue jadi pengin nge-prank
si Romi. Biar dia enggak banyak bacot,” balasku.
“Nge-prank video coli-nya,
terus disebar ke Twitter?” Edvan ketawa. “Enggak usah di-prank. Suruh
aja langsung. Kemungkinan dia jadi volunteer.”
Benar juga.
“So …, elo bilang apa ke
Romi?” tanyaku, ketika mobil akhirnya masuk ke jalan utama, menuju jalan tol.
“Diajak temen ke Karimun
Jawa. Supaya dia kagak punya alasan buat ngikut. Elo?”
“Penelitian skripsi ke
Semarang. Tino percaya.” Aku menghela napas lagi. “Pengin banget anjir gue bawa
Tino ke sana, buat ngehajar si Agus itu.”
“Enggak worthy,”
ungkap Edvan, sambil tiba-tiba mengusap-usap punggung tanganku. “Kalau dia
sampai viral, ditangkap polisi, terus perkara prank straight ini
menyebar se-Indonesia, kalian bakal lebih dicaci maki sama mayoritas warga.
Makin dibenci. Malah mungkin UU anti lagibete disahkan, tahu-tahu semua yang
lagibete masuk penjara.”
Lagibete itu artinya LGBT
ya, Cong. Kami berdua masih duduk di Grab, soalnya. Belum tahu juga bapak
sopirnya bisa nerima topik soal LGBT atau enggak.
“Kita prank dia balik
aja,” usul Edvan. “Bikin dia kapok. Ekspos dia ke korban-korbannya. Suruh minta
maaf. Suruh tanggung jawab. Kan duit dia pasti banyak tuh hasil buka grup
Telegram.”
“Baik amat si lu!” Aku
menyikut Edvan sambil mencibirnya. “Gue sih bakal gorok lehernya.”
Sopir Grab melirik sejenak
ke belakang. Aku bisa melihatnya dari kaca spion di tengah kabin. Edvan
langsung menyenggolku juga.
“Jangan jadi orang yang
lebih rendah dari orang yang nyakitin elo,” gumam Edvan sambil menoleh ke
arahku dengan pandangan serius. “Karma tuh ngekor elo ke mana-mana. Apa yang
elo investasiin, bakal elo terima dividennya suatu hari.”
Sempat enggak paham maksud
Edvan, karena dia pake istilah investasi dan dividen. Tapi aku tahu tujuannya
ke mana. Untuk sesaat, aku cuma diam aja di mobil. Sesekali menoleh ke Edvan
yang kini melempar pandangannya ke luar jendela mobil, menatap pepohonan di
sepanjang jalan tol Soedyatmo. Ada banyak hal yang ingin sekali kutanyakan
tentangnya.
Aku mengenal Edvan sudah
cukup lama. Kurasa dia muncul tak lama setelah Romi juga pindah ke sini. Sosok
Romi kan outstanding balance ya di kosan ini. The only one yang
lebai, enggak tahu diri, dan seperti Rayuan Pulau Kelapa. Melambai-lambai,
nyiur di pantai, berbisik-bisik, raja kelana. Aku tahu dia boti sejak
hari pertama dia membawa semua barangnya ke kamar itu. Nah, tak lama dari situ,
aku juga ngeh kamar sebelah Romi diisi orang baru juga, yaitu Edvan.
Apa aku naksir? Naksir
banget. Orangnya cute, lugu, seperti anak manja yang gemesin, yang bikin
kita pengin “ngasuh dan merawat”, yang kulitnya mulus karena jarang main di
luar, hobinya main game dan bikin kesal, dan senyumnya bikin seneng yang
ngelihat. Badannya lebih kurus dari Tino, so he’s not my type. Cuma
kalau dia mau ngewe aku sih, bakal goblok kalau akunya nolak. Sayangnya,
posisiku saat itu sudah dekat sama Tino, jadi aku enggak macam-macam ngedeketin
Edvan atau gimana-gimana. Malah, Tino sama Edvan jadi bestie di situ.
Mereka main game yang sama dan sering kumpul bareng buat mabar.
Dari situ, aku jadi dekat
dengan Edvan. Tapi enggak dekat-dekat amat. Sekali dua kali lah menyapa di
koridor, atau dia nanyain si Tino ada enggak, atau dia nitip makanan di
kulkasku karena dia enggak punya kulkas pribadi, atau kalau dia lagi mabar di
kamarnya Tino aku juga ada di sana buat ngeramein, semacam itulah.
Sempat kucoba buka Grindr
buat ngecek apakah Edvan homo juga. Eh aku malah nemu si Romi di sana.
Ujung-ujungnya aku lebih dekat sama si Rominya, meskipun pertemanan kami backstreet.
Romi hobi banget bahas soal Edvan, sementara aku hobinya bahas Tino, keduanya
sama-sama penghuni kosan sebelah kami. Makanya kami nyambung.
Nah, satu hal yang ingin
kutanyakan dari dia, dan aku langsung tanyakan di dalam Grab OTW bandara,
“Sebenarnya elo siapa?”
“Hah?” Edvan menoleh sambil
ngerutin alis.
“Sebenarnya elo siapa?
Kenapa mendadak tahu persoalan Tino, sampe-sampe jago nemuin penjahat yang mau
kita temuin ini?”
Edvan menelan ludah. Dia
melempar pandangannya ke luar jendela. Enggak nyaman ditanya seperti itu. “Gue
… ngng … gue … wibu.”
Aku langsung mendekat dan
mengendus tubuhnya. “Tapi kok wangi?”
“Emang kalau wibu mesti bau
bawang?” sergah Edvan tak terima. “Lagian itu mitos banget, anjir! Cuma karena
segelintir wibu bau bawang, terus semuanya harus bau bawang, gitu?!”
Aku baru hendak menghentikan
topik, dan kembali ke topik asal, tapi sopir Grab kami langsung nimbrung, “Iya!
Saya juga wibu, tapi saya wangi!”
“Tuh! Bapak sopirnya aja wangi!
Enggak bau bawang. Ini sampai mobilnya pun enggak dia kasih Stella rasa jeruk.
Ini aromanya apa, Pak?”
“Ini bubuk matcha,”
balasnya, sambil menunjukkan pewangi ruangan yang ditempel ke AC sentral
dasbor. “Asli dari Jepang. Aromanya pure matcha, biar bikin penumpang
duduk dengan tenang.”
“Nah, kan! Dia pake parfum
yang bikin penumpang tenang!” seloroh Edvan, tampak tidak tenang sama sekali. “Bapak
waifu-nya siapa?”
“Waifu saya Saki
Saki, hehe. Dari Kanojo Mo Kanojo. Kalau Saki udah pake bikini merah
tuh, waduuuh … enggak kuat saya. Hehehe.” Sopir Grabnya merinding gemas
membayangkan waifu tersebut. Kemudinya hampir goyang kanan kiri karena
dia kesengsem.
“Wah, suka yang rambut merah
ya, Pak? Saya sukanya Tsumugi, Pak. Yang dari Idolish.”
“Ooohhh … sukanya yang
pirang, ya? Kalau pirang saya sukanya Erina Nakiri.”
“Shokugeki?”
“Iya! Saya sukanya cewek-cewek
yang tsundere kayak gitu. Hihihi.”
WHAT THE FUCK?!
Kenapa jadi bahas anime?!
Sebagai orang yang enggak
paham anime, aku enggak bisa mengintervensi sama sekali obrolan dua wibu sialan
ini. Mulutku sudah terbuka berkali-kali, “Tapi …, tapi …,” dan mereka enggak
mendengarkanku sedikit pun. Hingga akhirnya kami tiba di airport, Edvan
sudah punya nomor Whatsapp sopir Grab itu, sudah membukukan janji untuk bertemu
di Jakofest di mana mereka akan melakukan cosplay, membahas dengan
detail beberapa episode pertama dari bagian kedua season keempat Attack
on Titan, dan sepakat bahwa Tohru Honda lebih manis dibandingkan Miku
Nakano.
Nyampe di airport aku
melongo dengan pertanyaan soal Edvan yang tidak pernah terjawab.
[ … ]
Sampai di Pati pun, aku
masih belum tahu sosok sebenarnya Edvan tuh bagaimana.
Setibanya di Semarang, kami
menginap di sebuah hotel bintang tiga di dekat Simpang Lima. Enggak ada hal-hal
mesum terjadi selama kami tidur bareng sekamar. Selain karena ranjangnya twin
bed, aku pun enggak tega melecehkan cowok yang badannya masih penuh luka.
Belum semua luka Edvan sembuh dari kejadian begal itu. Dia pun masih harus
mengonsumsi obat pada waktu-waktu tertentu.
Dia tampak seksi, sih.
Tampak macho dengan luka-luka sabetan senjata tajam itu. Aku enggak ilfeel
sama sekali. Aku cuma enggak tega untuk berbuat tak senonoh ke Edvan selama dia
tidur. Jadi aku langsung ngorok setelah mengobrol dengan Edvan beberapa saat,
kemudian kami terbangun esok paginya karena mobil yang kami sewa sudah
diantarkan.
Di titik itu aku sudah
enggak ingat lagi pernah penasaran pada sosok Edvan. Fokusku sudah kembali
sepenuhnya ke Agus Aprilianto Junaedi. Dengan lihai, meskipun baru keluar dari
rumah sakit beberapa hari lalu, Edvan menyetir mobil dari Semarang ke Pati. Menurut
Google Maps, kami akan tiba sekitar tiga jam. Tapi entah dapat pelatihan
menyetir dari mana, Edvan berhasil membawaku ke Pati kurang dari dua jam.
Tahu-tahu, aku terbangun di
sebuah desa di pinggiran Pati, di kaki Gunung Muria. Mobil berhenti di pinggir
jalan yang sempit, yang hanya bisa dilewati dua kendaraan pribadi berpapasan.
Kanan-kirinya kebun dan sawah. Pepohonan berdiri rapi berjejer di setiap batas
antar petak sawah dan kebun sayur. Gunung Muria tampak mengintip di ujung
jalan, tertutupi pepohonan hijau yang berdiri tinggi. Kalau kamu waktu SD
sering menggambar gunung dengan sawah, kira-kira semacam itulah pemandangannya.
“Kalau titiknya bener, rumah
dia yang itu,” kata Edvan, sambil menunjuk sebuah rumah sederhana dengan
dagunya. Dia mengecek lagi ponselnya, memastikan bahwa itulah kediaman Agus
yang kami cari. Edvan juga membuka media sosial Agus untuk memastikan fitur-fitur
rumah sesuai dengan titik pencariannya. “Lihat, nih. Warna pintu dan kusennya
sesuai. Cat temboknya juga hijau, kayak di postingan dia yang ini.”
“Harusnya dia udah kaya raya
hasil nge-prank cowok-cowok straight. Kenapa masih pake warna
tembok rumah orang miskin?” komentarku sambil menegakkan kepala menatap rumah
itu.
“Gue enggak tahu dia ada di
sana atau enggak. Info terakhir dia kerja di konter hape, sesuai
postingan dia tiga bulan lalu. Bisa jadi dia sekarang lagi kerja, atau dia—”
“Gue mau ngecek,” sahutku
sambil melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Again, orang
impulsif macam aku mana mau nunggu Edvan jelasin berbagai data dan informasi
yang udah ditemukan. Udahlah, itu rumahnya ada di depan mata. Langsung samperin
aja.
Aku berjalan menghampiri
rumah itu. Edvan membuntutiku di belakang. Seorang perempuan tua, mengenakan
jilbab, sedang mencari kutu di antara tumpukan beras di atas nyiru. Dia
mengobrol bersama ibu yang lain juga. Yang duduk bersandar sambil menggosipkan
entah apa dalam bahasa Jawa.
“Assalamu ‘alaikum, Bu …,”
sapaku sopan sambil membungkukkan badan. Edvan juga membungkukkan badannya di
belakangku.
“Wa ‘alaikum salam … kenapa toh
Mas?”
“Saya mau cari Mas Agus, Bu.
Ada?”
“Mas debt collector?”
“Oh … bukan, Bu. Bukan. Saya
temannya Mas Agus.”
Ibu yang membersihkan beras
langsung mengurut dadanya lega. “Tak kira sampeyan ini dari
pinjol.” Dia mengibaskan tangan ke ibu sebelahnya sembari menghela napas. Sempat
dia mengatakan sesuatu dalam bahasa Jawa ke ibu sebelahnya, yang enggak
kumengerti sama sekali, tapi dengan sabar aku menunggu. “Agus lagi ke apotek,
Mas. Masnya ini dari mana?”
“Dari Jakarta, Bu. Saya
teman online-nya Mas Agus.”
“Ooohhh … teman online.
Yang sering ngasih kerjaan-kerjaan itu, ya?”
Hah? Tapi aku mengangguk
saja. “Iya.”
“Anakku tuh yooo … habis
dipecat dari konter hape, setiap hari di kamar terus. Duitnya ada, tapi ndak
pernah keluar rumah. Katanya dikasih kerjaan online. Itu toh Mas?”
“Ya, ya, ya!” sahutku
mengangguk lagi. Kerjaan nge-prank cowok straight, kan?
Dia meletakkan nyirunya ke
atas lantai lalu berdiri dan berjalan ke depan rumah. “Tuh! Mas! Ada apotek di
ujung jalan sana. Agus ke sana, tapi sebentar lagi juga pulang kok Mas. Mas
tunggu sini aja.”
Aku enggak mau nunggu.
Apoteknya kelihatan dari sini. Agak jauh, tapi aku rela berjalan kaki ke sana
untuk menemuinya. Jadi aku malah meninggalkan rumah itu sambil pamit, “Ndak
apa-apa, Bu. Saya nyusul ke sana aja. Permisi!”
Aku enggak tahu lagi
kelanjutannya gimana. Edvan kayak sempat ngobrol sedikit dua dikit sama ibu
itu, sementara aku berjalan cepat ke arah apotek. Edvan bergabung denganku
beberapa saat kemudian. Jarak apoteknya mungkin hanya dua ratus meter, tetapi
aku semembara itu untuk segera bertemu penghancur hidup Tino, sehingga aku
berjalan cepat dengan penuh nafsu.
Agusnya ada? Ada. Kebetulan
dia udah selesai dari apoteknya. Dari jauh jalannya kelihatan ngondek.
Cowok kurus, muka kampung, pake hot pants, berjalan lenggak-lenggok
kayak bebek. Enggak akan survive dia di Kosan Hamid dengan penampilan
macam itu. Romi pasti nyembur dia pakai air raksa.
“Itu, kan?” tanya Edvan,
sembari menjejeriku yang berjalan cepat.
“Iya,” jawabku. Makin
bersemangat untuk melabraknya di tempat.
“Lu jangan cepet-cepet
jalannya. Entar dikira mau ngebegal dia—”
“Emang mau ngebegal dia!”
sahutku sambil mendengus.
“Entar dia malah kabur,
anjir! Santai aja!” Edvan memegang pergelangan tanganku, lalu menarikku agar
berjalan biasa saja.
Aku menarik napas panjang,
mencoba mengendalikan diriku, kemudian sepakat bahwa Edvan mungkin ada
benarnya. Kalau aku datang seperti Satpol PP mau merazia pedagang kaki lima,
nanti si Agus lari duluan sambil membereskan dagangan kaki limanya. Jadi aku
berjalan dengan normal. Mataku tetap memandang bencong di seberang jalan itu,
lalu dengan tenang menyeberang agar bisa berpapasan dengannya.
Semakin dekat dengan Agus,
semakin aku bisa melihat wajah kampung bencong itu. Dia lagi ngelihatin ke arah
kami juga. Dan dia senyum-senyum gaje.
Anjing!
Mentang-mentang ada dua
lelaki ibukota yang ganteng mau papasan ama dia, terus dia senyum-senyum enggak
jelas gitu. Mukanya bikin aku pengin nonjok, anjing! Dalam kepalaku sudah
kebayang skenario ketika aku melabraknya dengan ganas di bawah pohon situ.
(“Heh! Jadi bencong jangan
suka nge-prank cowok straight, ya!”)
(Terus dia balas, “Emangnya
kenapa kalau aku suka kontol cowok straight, terus aku—")
(“Aduuuh, ya ampuuun …! Lu
tuh enggak cocok nge-prank orang!”)
(“Astagfirullah aladzim kamu
ini berdosa banget—“)
(“BERDOSA?!” Aku mendengus.
“Gue enggak berdosa, ya! Elu itu yang berdosa!”)
(Dia nampar aku, “Kamu
jangan solimi!”)
(Kubalas nampar dia,
“Solimi, solimi …. SOLEHA!”)
Semacam itulah.
Atau mungkin enggak begitu
banget, tapi aku membayangkan kalau Edvan memvideokan prosesnya, pertengkaran
kami akan viral. Aku paling suka ngajak gelut soalnya. Mau gelut ala cowok,
tonjok-tonjokan. Atau gelut ala bencong, jambak-jambakan. Boleh. Bisa
kuladenin. Sumpah. Aku orangnya versatile persoalan ngajak ribut!
Ketika kami akhirnya
berpapasan, kucoba menyapa dia dengan sopan.
“HEH!!!”
Agus terkejut dan hampir
terlonjak ke belakang.
Edvan juga. Makanya Edvan
langsung memegang bahuku dan menarikku ke belakang. Dia menduluiku ke depan,
tersenyum sangat manis dan ganteng, sampai-sampai dada Agus kelihatan
berdebar-debar girang, bahkan Agus menyimpan satu tangan di depannya, probably
bersyukur bisa melihat makhluk indah ciptaan Tuhan secara langsung di antah
berantah kaki Gunung Muria.
“Halo, Mas! Selamat siang,”
sapa Edvan sambil mengangguk. “Ini Mas Agus, bukan?”
“I … iya …,” katanya dengan
suara lembut, feminin, ngondek, dan sangat-sangat kukenali. Yaitu, suara
si bencong Lidya! Suara yang entah kenapa Tino bilang seksi! Si Tino harus
operasi kuping kalau suara bencong macam begini bisa bikin dia turn on!
“Boleh ngobrol sebentar?”
“Bo … boleh. Mas berdua dari
mana, ya?” tanya Agus sok cantik dan manis.
“Kami dari—”
“POLISI!” sahutku tak sabar.
“Kami dari kepolisian dan kami mau—”
Agus pun kabur.
Literally.
Begitu mendengar aku
menyebut kata polisi, tetiba dia berbalik dan berlari secepat kilat seperti
maling ayam sedang dikejar warga. Kantung kresek berisi barang-barang yang dia
beli dari apotek langsung dia lempar sembarangan, mendarat tepat di wajah Edvan.
Agus melompat ke persawahan, mengambil langkah seribu di antara pematang sawah
dan petak-petak kebun yang sempit. Larinya tunggang langgang. Enggak ada
cantik-cantiknya. Malah dia tampak macho pas lari begitu.
Edvan langsung menggeplak
kepalaku. “Lu kenapa, sih?! Kan kabur jadinya! Huh!” Edvan pun berlari mengejar
Agus, sementara aku mendengus kesal di pinggir jalan.
[ … ]
Part 9 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 10 (Bag. B)
Komentar
Posting Komentar