Apakah berhasil ngejar Agus?
Tenang aja. Edvan berhasil
ngejar dia.
Kayaknya Edvan ini semacam
James Bond, atau Tom Cruise di Mission Impossible, atau CIA, atau FBI, atau
Pemuda Pancasila, atau sejenisnya, lah. Dia berhasil menangkap Agus setelah
melewati pengejaran yang intens ke kebun, halaman belakang rumah orang,
menerobos kandang ayam, melewati sungai, manjat pagar, berguling-guling di
lumpur, terakhir bisa diringkus saat Agus tanpa sengaja masuk ke sumur dan
enggak bisa ngapa-ngapain selain Edvan tarik keluar dari dalamnya. Semua Edvan
lakukan dalam kondisi luka-luka dia masih ada yang perlu disembuhkan.
Kini kedua tangan Agus
terborgol oleh borgol. Ya, oleh borgol betulan. Tahu-tahu Edvan mengeluarkan
borgol itu dari dalam saku celananya, entah dia dapatkan dari mana. Aku hampir
mengira Edvan beneran polisi, meskipun tadi aku hanya bercanda saja menyebut
soal polisi di depan Agus. Aku juga enggak berani menanyakan lebih lanjut soal
kenapa Edvan punya borgol, atau apakah dia punya pistol juga, atau mana
lencananya sebagai polisi. Mendadak, dalam kepalaku, aku teringat semua
kesalahanku pada polisi.
Melanggar lampu merah, tidak
menyalakan sen saat berbelok, tidak mengenakan sabuk pengaman, mendudukkan dua
boneka manekin di area three in one supaya kelihatan sedang berkendara
bertiga, bahkan fakta bahwa SIM-ku semuanya nembak.
Jadi, aku hanya membuntuti
Edvan mendorong Agus kembali ke mobil kami. Agak serem juga Bro kalau Edvan
beneran polisi. Tapi bakal keren juga, sih. Pantas saja dia bisa mengakses
banyak banget informasi tentang Agus. Bisa melacaknya seperti intelijen. Bisa
mengobrol dengan sopir Grab yang seorang wibu. Satu-satunya yang enggak
singkron buatku adalah Edvan seorang nudis yang hobi mengumpulkan roti.
(Sekarang aku jadi
membayangkan dia melakukan nudis di Bogor bersama anggota polisi lain ….)
(Daaammmnnn …! Bakal hot
banget itu sekumpulan polisi telanjang bulat dengan kontol berayun ke
mana-mana!)
“Kita bawa dia ke hotel,”
ujar Edvan tegas, sembari mendorong Agus tanpa kentara. Agus sedang menangis terisak-isak
sembari memohon ampun berkali-kali. Bibirnya lebar sekali ke samping saat Agus
menangis. Mungkin dua kontol bisa masuk. “Enggak aman kalau kita interogasi di
sini. Elo yang nyetir.”
“Oh. Oke.” Kami naik ke
mobil dan meninggalkan area tersebut. Aku duduk di depan, sementara Edvan
menemani Agus yang menangis tersedu-sedu di jok belakang.
“Ampun, Pak. Ampuuunnn …
huhuhu …. Tolong jangan penjarain aku, Pak. Aku mau tobat, kok Pak. Mau, Pak ….
Sumpah …. Huhuhu ….”
Aku mengemudikan mobil
kembali ke Pati. Sambil jalan, sambil aku cari hotel untuk tempat kami
menginap, sekaligus menyekap dan menginterogasi Agus. Mobil kuparkir di basement
hotel, Edvan menunggu dengan tersangka di dalamnya. Aku naik ke resepsionis dan
memesan satu kamar. Sempat teringat apakah yang kulakukan ini impulsif seperti
kejadian di Mercure tempo hari? Namun kuyakinkan diriku, bukan. Ini bukan
impulsif. Ini adalah tindakan berencana untuk kebaikan dan kemaslahatan
bersama. Tino pasti bangga dengan sikapku.
Selesai check in, aku
menjemput mereka di basement, lalu kami naik langsung ke lantai kamarku.
Kami bawa Agus yang masih terisak-isak ketakutan ke dalam kamar. Kami dorong Agus
ke atas lantai sampai kepalanya membentur meja.
DUK!
Ha! Rasakan!
Edvan memastikan pintu
terkunci lalu berdiri di sampingku sambil berkacak pinggang. Kami mengatur
napas yang ngos-ngosan sembari menatap Agus yang kini tergeletak tak berdaya di
atas lantai. Agus masih ketakutan. Dia tak berani menatap kami.
Edvan mengangkat kantung
kresek dari apotek yang tadi dilempar Agus. Sengaja dibawa, siapa tahu bisa
jadi barang bukti. Waktu aku cek, isinya Vigel. Pelumas yang biasa dipakai
homo-homo kampung untuk sodomi.
“Come on, Dude!”
sahutku sok-sok manly sambil mengangkat Vigel itu. “Monogatari sekarang
harganya di bawah 50 ribu. Kenapa masih pake Vigel, sih?!”
Agus hanya menggelengkan
kepalanya. Tak berani menjawab.
“Telanjangin,” kata Edvan
tiba-tiba.
Aku terkesiap. “Langsung?!
Emang elo mau nganuin dia?!”
Edvan mengerutkan kedua
alisnya sambil menggeplak kepalaku dari belakang. “Lu mikirnya apaan, sih?!”
“Terus kenapa
ditelanjangin?”
“Ya buat mastiin dia kagak
bawa sajam atau barang-barang bahaya lainnya. Suka nonton berita penangkapan
kriminal kagak sih lu?”
Oh iya, benar juga. Dulu
sempat aku punya hobi menonton berita TV khusus penangkapan penjahat karena
mereka pasti ditelanjangi dan dipermalukan di depan warga.
“Terus kenapa gue yang
nelanjangin?” tanyaku.
“Anjir! Gue udah lari ngejar
dia, elu perkara nelanjangin doang kagak mau.”
“Itu bukan jawaban, ya! Itu
pembelaan!” Aku mendengus. Tapi benar juga, sih. Tadi Edvan yang berguling ke
sana kemari, berlari dan melompat demi bisa menangkap bencong ini sehingga bisa
kami interogasi. Apa susahnya sih aku nelanjangin orang? Udah ahli juga aku
nelanjangin orang kalau ketemuan ama orang dari aplikasi.
Aku membungkuk untuk
menelanjangi si Agus. Dia menggelengkan kepala dan memohon supaya enggak
ditelanjangi. Tapi aku enggak menyerah.
“Kalau lu enggak mau diem,
gue tembak lu!” ancamku sok-sok bengis.
“Ampun, Pak! Ampuuunnn …!
Aku mau tobat, Paaakkk …!”
“Can you stop calling me
Pak?” dengusku, sambil menarik baju Agus ke atas, mencoba menelanjanginya.
“It’s so annoying! Dari tadi di mobil manggil pak pak mulu. Siapa tahu
gue lebih muda dari lu!”
“Ampun, Paaakkk …!” Agus
memberontak, ketakutan saat bajunya kini sudah sampai ke leher, dan tangan dia
yang terborgol terpaksa diangkat ke atas.
“Ya naikin tangannya! Biar
gue bisa lepas baju lu. Jangan berontak! Jadi template, lu. Enggak ada pembeda
antara lu dan penjahat lain. Paham enggak?”
“Ampuuunnn ….”
Aku berhasil melepaskan
kausnya, hingga dia telanjang dada. Kaus itu nyangkut di pergelangan tangannya
yang masih terkunci borgol. Kemudian, aku menarik celana hot pants-nya
turun. Dia agak berontak, tetapi aku berhasil menarik seluruhnya turun,
sampai-sampai tak sengaja aku menarik sempaknya turun juga. Habisnya Agus
meringkuk mulu. Menekukkan lututnya ke perut, jadinya susah, kan.
Edvan pun membantuku dengan
cara memegangi kedua kaki Agus, lalu aku menarik turun celana hot pants
itu, di mana tanpa sengaja aku narik sempaknya juga, sehingga aku menemukan ….
TUING!
Kontol Agus sedang ngaceng.
….
“Anjing!” Kugeplak kontol
itu hingga memantul-mantul keras di atas perut Agus.
“Aaahhh …,” desah Agus
dengan suara melengking keenakan.
Kontolnya mungil. Pendek.
Jembutnya dicukur rapi, sengaja dibentuk seperti huruf V, mungkin supaya
kelihatan kayak vagina. Kontol itu benar-benar sekeras beton dan baja. Tampak
kemerahan, seakan-akan sudah ngaceng sedari tadi. Dari lubang kontolnya
juga keluar precum.
“Lu sange, ya?!”
semburku tak terima.
Edvan geleng-geleng kepala,
sementara Agus buru-buru meringkukkan lagi kedua tungkainya, menyembunyikan
kontolnya yang ngaceng itu.
“Ampuuun …,” isak Agus.
Aku berdiri dengan kesal.
Kembali berkacak pinggang sambil menatap bencong sialan di depanku.
Bisa-bisanya, anjing, sange pas lagi ditangkap ama polisi begini! Dia
pikir aku sama Edvan bawa dia ke sini mau merkosa dia?!
“Udah, udah,” kata Edvan,
sambil kemudian mengambil ponselnya untuk menunjukkan sesuatu.
Aku enggak terima
diobjektifikasi oleh bencong macam dia. Jadi aku menendang pantatnya. BUUUKKK!
“Aaawww …!” jerit Agus
sambil berguling-guling ke sana kemari.
Kutendang beberapa kali. BUUUKKK!
BUUUKKK! BUUUKKK!
“AAAAAAWWW …!”
Anehnya nih, ya. Makin
kutendang, makin banyak precum keluar. Hampir kukira ngompol, sebab
perutnya ama pahanya mendadak mengilat-ngilat basah. Ternyata dia malah
keenakan ditendangin kayak barusan.
Fuck. Dia kayaknya masokis!
“Stop it!” senggol
Edvan sambil geleng-geleng kepala. “Enggak akan pernah ngomong entar dia.”
“Dia sange disiksa
ama kita, Cuy!”
“Ya makanya, elu jangan
bikin dia keenakan mulu.” Edvan pun menggulingkan posisi Agus dari telungkup
jadi telentang. Kontolnya kembali mencuat ke atas. TUING! Benar-benar
kontol yang enggak tahu diri! Edvan berjongkok dan menunjukkan video Tino coli.
“Siapa yang order elu buat nge-prank orang ini?”
Sambil mengatur napasnya
yang memburu, Agus menatap ke layar video. Kepalanya mengingat-ingat pihak mana
yang setega ini menjaili Tino. Tapi kemudian dia menggelengkan kepala.
“Siapa?” desak Edvan sekali
lagi.
“Mas ganteng banget,” bisik
Agus sambil memandang Edvan.
“ANJING!” Aku menendang lagi
pantat Agus sampai dia menjerit kesakitan.
“Aaawww …!” Dan dia masih
belum mau mengutarakan pelakunya.
“Ayo, Mas, bilang. Siapa
yang ngeorder buat nge-prank orang ini?” ulang Edvan.
Agus malah jawab, “Siksa aku
aja, Mas,” sembari menatap sange ke wajah Edvan.
Eh, anjing! BUUUKKK!
Karena kesal, aku
benar-benar menyiksa banci itu tanpa ampun. Kutendang berkali-kali badannya
hingga dia merintih, mengaduh, dan menjerit kesakitan. “Aaawww! Aaawww …!
AAAAAAWWW …!” Badannya sudah agak kemerahan.
Namun, berapa kali pun
kusiksa, dia masih belum mau memberikan jawabannya.
Yang ada malah dia makin sange.
Precum-nya meleleh banyak sekali. Hampir mirip seperti crot.
Kutendang bijinya juga, meski dia kesakitan, dia malah membelalak keenakan.
“Ampun, Pak …. Aaaaaahhh … terus, Pak!”
Karena kesel banget, anjing,
akhirnya aku menjejak kontol ngaceng-nya dengan kakiku. Kuinjak kontol
itu kuat-kuat. Kutekan sampai dia setengah terduduk karena kesakitan. Edvan
hampir mencoba mendorong kakiku dari kontol itu, tetapi lama-lama dia sepakat
juga bahwa banci macam begini mah enggak perlu punya kontol. Harusnya
kita injak-injak aja kontolnya sampai kempes dan putus!
“Ayo, bilang!” seruku enggak
sabar.
“Privacy,” katanya
setengah merintih. “Itu … aaahhh … itu privacy … pelangganku … aaahhh
….”
“Kalau elu percaya privacy,
kenapa video coli orang elu sebar, anjeng?! Otak lu goblok, ya?!” BUUUKKK!
Kuinjak lagi kontol ngaceng itu kuat-kuat.
“AAAAAARGH!”
Aku masih berulang kali
mencoba menjejak kontol Agus seraya mendesaknya untuk mengaku. Kuinjak kontol
itu di bagian kepala, batang, dan bijinya bergantian. Tapi karena ukurannya
enggak gede-gede amat, jadi menginjak di mana pun, setiap bagian ya kena.
Edvan mendadak bangkit untuk
menghampiri tasnya. Ketika kembali, dia membawa sebuah gunting. Saat itu,
kakiku sedang menginjak biji peler Agus kuat-kuat. Sehingga kontol ngaceng
Agus tertarik ke atas, mengacung seperti Monas. Edvan berjongkok di samping
kontol itu, lalu membuka pisau gunting, dan mengarahkannya ke batang kontol
Agus. Seakan-akan ingin mengguntingnya.
“Tolong bilang siapa yang
nge-prank orang itu, kalau enggak, gue gunting kontol lu,” kata Edvan,
cukup tenang.
Kugeplak kepala Edvan. “Dih!
Bencong kayak dia mah seneng-seneng aja kontolnya putus! Yang dia
idam-idamkan tuh punya memek, anjir!”
“Tolong jangan digunting ….”
Agus memohon-mohon sambil menangis.
“YA BILANG!” dengusku.
Lama-lama pengin rampas itu gunting terus tancapin ke dada si Agus. Mukanya
tuh, udah mah kampungan, makin jelek pula pas dia mewek. Kalau teringat
semua yang udah dia lakukan ke Tino atau cowok-cowok straight yang
enggak berdosa, rasanya pantas gitu buat bunuh Agus lalu mutilasi dia.
“Oke … oke … aku bilang …,”
katanya, seraya menenangkan napasnya. “Tapi … tapi aku mau minta satu hal ….”
“Elu tuh ya—”
“Minta apa?” tanya Edvan,
masih sangat sabar.
Sekarang aku pengin geplak
si Edvan karena bisa sesabar itu. Dia zodiaknya apa, sih? Kok kagak nafsu
pengin nyekik ini orang, hm?! Aku jadi mempertanyakan, benarkah dia membacok
begal-begal itu di Mangga Besar?
Dengan napas terengah-engah,
Agus menjawab, “Aku jawab … aku kasih tahu yang order … asalkan … asalkan
kalian … ciuman depanku—”
“WHAT?!” semburku
“Please … kalian
berdua ganteng banget, yawla …! Badannya juga bagus. Kurus-kurus seksi. Please,
cipokan buat aku—”
“NOOO!” sahutku
tegas. “Jangan macam-macam, anjing! Gue bisa bunuh elu sekarang juga, gue
mutilasi elu, gue rebus semua badan elu, gue kasih semuanya ke ayam—”
“Please! Aku horny
banget lihat kalian berdua nyiksa aku begini. Aku pengin kalian ciuman—”
“Sinting lu, ya! Setelah elu
dengan sengaja nge-prank cowok-cowok buat coli depan elu,
sekarang elu masih berani-beraninya bikin gue sama—”
Cup.
….
Edvan memagut bibirku.
Membuatku tak bisa
melanjutkan kata-kataku.
….
Edvan mencumbu bibirku,
melesakkan lidahnya ke dalam mulutku.
Dia bahkan memegang
kepalaku.
Menarikku lebih dekat ke
wajahnya.
….
Mataku membelalak.
Aku bisa melihat wajah
tampan itu berada tepat di depan mataku.
….
Bibirnya kenyal.
Napasnya hangat.
Lembut.
….
Jujur.
Waktu serasa berhenti.
Pagutan dan cumbuan dari
Edvan terasa seperti …
….
… seperti penuh kasih
sayang.
….
Jantungku berdebar-debar.
Bibir itu terasa enak.
Lidah yang menyeruak masuk
ke dalam mulutku itu …
… menggelitikku dengan
nikmat.
Dan nyaman.
….
Cumbuan dari Edvan itu
membuatku seperti ….
… melayang.
….
Hingga akhirnya Edvan
tiba-tiba menarik cumbuannya, lalu menoleh ke bawah. “Sudah. Sudah gue cium.
Sekarang bilang, siapa yang—”
“AAAAAAHHH …! AAAAAAHHH …!
AAAAAAAAAHHHHHH …!”
CROOOT …! CROOOT …! CROOOTTT
…! CROOOOOOTTT …!
Kontol Agus ejakulasi.
Spermanya menyembur keluar.
Air mani itu berlompatan ke
sana kemari, cukup jauh melebihi kepala Agus sendiri. Sebagian sisanya mendarat
di leher, dada, dan perut Agus. Banci kurus itu menggelinjang dan
meliuk-liukkan badannya karena keenakan. Mungkin karena kontolnya masih kuinjak
dengan kaki, sensasi orgasme itu benar-benar nikmat dia rasakan.
Aku mundur perlahan-lahan.
Membiarkan Agus bergetar dan berguncang atas orgasmenya dengan bebas. Aku duduk
di atas sofa.
Aku masih syok.
Sumpah, anjir.
Syok karena Edvan
benar-benar menciumku.
Aku enggak bisa bergerak.
Edvan ini alternatif kedua
lelaki yang bakal kugoda, kalau saja Tino enggak pernah bisa kudapatkan. Come
on, dia wibu. Potensi untuk jadi homonya besar enggak, sih? Aku yakin pasti
besar. Gaulnya saja dengan Romi. Dia izinkan Romi yang jelas-jelas titipan dari
neraka untuk mondar-mandir ke kamar kosannya. Yang artinya dia mungkin support
LGBT.
For fuck’s sake! Dia bahkan bisa menemukan video Tino lagi coli yang tersebar di
akun-akun Twitter para homo! He’s definitely … he’s … Edvan mungkin ….
Aku tak tahu lagi apa yang
berikutnya yang terjadi. Yang kutahu adalah aku masih syok atas ciuman mendadak
itu. Apa aku menikmatinya? Ya. Kontolku ngaceng gara-gara dicium Edvan.
Sampai sekarang masih ngaceng—makanya aku memilih duduk di sofa untuk
merapatkan pahaku. Aku bisa melihat Agus mulai reda dari guncangan orgasmenya,
aku bisa melihat Edvan membawa ponsel Agus lalu membiarkannya menggulir
sesuatu, tetapi aku masih belum bisa berpikir jernih. Aku bahkan enggak bisa
mendengar apa pun.
Kepalaku masih
mengulang-ulang cumbuan yang nikmat dari Edvan. Seakan-akan aku berada dalam
satu gelembung, yang isinya adalah diriku … dan cumbuan dari Edvan.
….
“Bro?” Edvan sudah ada di
depanku. Dia melambaikan tangannya di depan wajahku. Edvan berjongkok sambil
memiringkan kepalanya. “Sorry yang barusan. Are you okay?”
Aku mengangguk pelan. “I …
iya.”
“Yang gue lakuin salah, elo
berhak marah, elo berhak ngejauhin gue, elo berhak nonjok gue, tapi gue lakuin
itu supaya dia ngasih nama buat kita. And he did.” Edvan mengacungkan
ponsel Agus. Dia menunjukkan nama kontak orang yang mengorder Agus untuk nge-prank
Tino. “Semua Whatsapp barengan pelaku selalu dia hapus untuk confidentiality.
Makanya gue dari kemarin gagal nemuin dia chatting-an ama siapa buat
nge-prank si Tino. Tapi dia ingat …, nama ini yang ngorder prank
tersebut.”
Aku membaca nama itu. Aku
syok. Tapi masih enggak lebih syok dibandingkan cumbuan dari bibir Edvan itu.
Jadi ekspresiku masih sama aja.
“Elo kenal?” tanya Edvan.
Pelan-pelan aku mengangguk.
“Ya …. Kayaknya …, kayaknya gue tahu,” jawabku, sambil menelan ludah. “Dia
adalah ….”
[ … ]
Part 10 (Bag. A) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 11 (Bag. A)
Komentar
Posting Komentar