(PPT) Part 10 Bag. B




Apakah berhasil ngejar Agus?

Tenang aja. Edvan berhasil ngejar dia.

Kayaknya Edvan ini semacam James Bond, atau Tom Cruise di Mission Impossible, atau CIA, atau FBI, atau Pemuda Pancasila, atau sejenisnya, lah. Dia berhasil menangkap Agus setelah melewati pengejaran yang intens ke kebun, halaman belakang rumah orang, menerobos kandang ayam, melewati sungai, manjat pagar, berguling-guling di lumpur, terakhir bisa diringkus saat Agus tanpa sengaja masuk ke sumur dan enggak bisa ngapa-ngapain selain Edvan tarik keluar dari dalamnya. Semua Edvan lakukan dalam kondisi luka-luka dia masih ada yang perlu disembuhkan.

Kini kedua tangan Agus terborgol oleh borgol. Ya, oleh borgol betulan. Tahu-tahu Edvan mengeluarkan borgol itu dari dalam saku celananya, entah dia dapatkan dari mana. Aku hampir mengira Edvan beneran polisi, meskipun tadi aku hanya bercanda saja menyebut soal polisi di depan Agus. Aku juga enggak berani menanyakan lebih lanjut soal kenapa Edvan punya borgol, atau apakah dia punya pistol juga, atau mana lencananya sebagai polisi. Mendadak, dalam kepalaku, aku teringat semua kesalahanku pada polisi.

Melanggar lampu merah, tidak menyalakan sen saat berbelok, tidak mengenakan sabuk pengaman, mendudukkan dua boneka manekin di area three in one supaya kelihatan sedang berkendara bertiga, bahkan fakta bahwa SIM-ku semuanya nembak.

Jadi, aku hanya membuntuti Edvan mendorong Agus kembali ke mobil kami. Agak serem juga Bro kalau Edvan beneran polisi. Tapi bakal keren juga, sih. Pantas saja dia bisa mengakses banyak banget informasi tentang Agus. Bisa melacaknya seperti intelijen. Bisa mengobrol dengan sopir Grab yang seorang wibu. Satu-satunya yang enggak singkron buatku adalah Edvan seorang nudis yang hobi mengumpulkan roti.

(Sekarang aku jadi membayangkan dia melakukan nudis di Bogor bersama anggota polisi lain ….)

(Daaammmnnn …! Bakal hot banget itu sekumpulan polisi telanjang bulat dengan kontol berayun ke mana-mana!)

“Kita bawa dia ke hotel,” ujar Edvan tegas, sembari mendorong Agus tanpa kentara. Agus sedang menangis terisak-isak sembari memohon ampun berkali-kali. Bibirnya lebar sekali ke samping saat Agus menangis. Mungkin dua kontol bisa masuk. “Enggak aman kalau kita interogasi di sini. Elo yang nyetir.”

“Oh. Oke.” Kami naik ke mobil dan meninggalkan area tersebut. Aku duduk di depan, sementara Edvan menemani Agus yang menangis tersedu-sedu di jok belakang.

“Ampun, Pak. Ampuuunnn … huhuhu …. Tolong jangan penjarain aku, Pak. Aku mau tobat, kok Pak. Mau, Pak …. Sumpah …. Huhuhu ….”

Aku mengemudikan mobil kembali ke Pati. Sambil jalan, sambil aku cari hotel untuk tempat kami menginap, sekaligus menyekap dan menginterogasi Agus. Mobil kuparkir di basement hotel, Edvan menunggu dengan tersangka di dalamnya. Aku naik ke resepsionis dan memesan satu kamar. Sempat teringat apakah yang kulakukan ini impulsif seperti kejadian di Mercure tempo hari? Namun kuyakinkan diriku, bukan. Ini bukan impulsif. Ini adalah tindakan berencana untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama. Tino pasti bangga dengan sikapku.

Selesai check in, aku menjemput mereka di basement, lalu kami naik langsung ke lantai kamarku. Kami bawa Agus yang masih terisak-isak ketakutan ke dalam kamar. Kami dorong Agus ke atas lantai sampai kepalanya membentur meja.

DUK!

Ha! Rasakan!

Edvan memastikan pintu terkunci lalu berdiri di sampingku sambil berkacak pinggang. Kami mengatur napas yang ngos-ngosan sembari menatap Agus yang kini tergeletak tak berdaya di atas lantai. Agus masih ketakutan. Dia tak berani menatap kami.

Edvan mengangkat kantung kresek dari apotek yang tadi dilempar Agus. Sengaja dibawa, siapa tahu bisa jadi barang bukti. Waktu aku cek, isinya Vigel. Pelumas yang biasa dipakai homo-homo kampung untuk sodomi.

Come on, Dude!” sahutku sok-sok manly sambil mengangkat Vigel itu. “Monogatari sekarang harganya di bawah 50 ribu. Kenapa masih pake Vigel, sih?!”

Agus hanya menggelengkan kepalanya. Tak berani menjawab.

“Telanjangin,” kata Edvan tiba-tiba.

Aku terkesiap. “Langsung?! Emang elo mau nganuin dia?!”

Edvan mengerutkan kedua alisnya sambil menggeplak kepalaku dari belakang. “Lu mikirnya apaan, sih?!”

“Terus kenapa ditelanjangin?”

“Ya buat mastiin dia kagak bawa sajam atau barang-barang bahaya lainnya. Suka nonton berita penangkapan kriminal kagak sih lu?”

Oh iya, benar juga. Dulu sempat aku punya hobi menonton berita TV khusus penangkapan penjahat karena mereka pasti ditelanjangi dan dipermalukan di depan warga.

“Terus kenapa gue yang nelanjangin?” tanyaku.

“Anjir! Gue udah lari ngejar dia, elu perkara nelanjangin doang kagak mau.”

“Itu bukan jawaban, ya! Itu pembelaan!” Aku mendengus. Tapi benar juga, sih. Tadi Edvan yang berguling ke sana kemari, berlari dan melompat demi bisa menangkap bencong ini sehingga bisa kami interogasi. Apa susahnya sih aku nelanjangin orang? Udah ahli juga aku nelanjangin orang kalau ketemuan ama orang dari aplikasi.

Aku membungkuk untuk menelanjangi si Agus. Dia menggelengkan kepala dan memohon supaya enggak ditelanjangi. Tapi aku enggak menyerah.

“Kalau lu enggak mau diem, gue tembak lu!” ancamku sok-sok bengis.

“Ampun, Pak! Ampuuunnn …! Aku mau tobat, Paaakkk …!”

Can you stop calling me Pak?” dengusku, sambil menarik baju Agus ke atas, mencoba menelanjanginya. “It’s so annoying! Dari tadi di mobil manggil pak pak mulu. Siapa tahu gue lebih muda dari lu!”

“Ampun, Paaakkk …!” Agus memberontak, ketakutan saat bajunya kini sudah sampai ke leher, dan tangan dia yang terborgol terpaksa diangkat ke atas.

“Ya naikin tangannya! Biar gue bisa lepas baju lu. Jangan berontak! Jadi template, lu. Enggak ada pembeda antara lu dan penjahat lain. Paham enggak?”

“Ampuuunnn ….”

Aku berhasil melepaskan kausnya, hingga dia telanjang dada. Kaus itu nyangkut di pergelangan tangannya yang masih terkunci borgol. Kemudian, aku menarik celana hot pants-nya turun. Dia agak berontak, tetapi aku berhasil menarik seluruhnya turun, sampai-sampai tak sengaja aku menarik sempaknya turun juga. Habisnya Agus meringkuk mulu. Menekukkan lututnya ke perut, jadinya susah, kan.

Edvan pun membantuku dengan cara memegangi kedua kaki Agus, lalu aku menarik turun celana hot pants itu, di mana tanpa sengaja aku narik sempaknya juga, sehingga aku menemukan ….

TUING!

Kontol Agus sedang ngaceng.

….

“Anjing!” Kugeplak kontol itu hingga memantul-mantul keras di atas perut Agus.

“Aaahhh …,” desah Agus dengan suara melengking keenakan.

Kontolnya mungil. Pendek. Jembutnya dicukur rapi, sengaja dibentuk seperti huruf V, mungkin supaya kelihatan kayak vagina. Kontol itu benar-benar sekeras beton dan baja. Tampak kemerahan, seakan-akan sudah ngaceng sedari tadi. Dari lubang kontolnya juga keluar precum.

“Lu sange, ya?!” semburku tak terima.

Edvan geleng-geleng kepala, sementara Agus buru-buru meringkukkan lagi kedua tungkainya, menyembunyikan kontolnya yang ngaceng itu.

“Ampuuun …,” isak Agus.

Aku berdiri dengan kesal. Kembali berkacak pinggang sambil menatap bencong sialan di depanku. Bisa-bisanya, anjing, sange pas lagi ditangkap ama polisi begini! Dia pikir aku sama Edvan bawa dia ke sini mau merkosa dia?!

“Udah, udah,” kata Edvan, sambil kemudian mengambil ponselnya untuk menunjukkan sesuatu.

Aku enggak terima diobjektifikasi oleh bencong macam dia. Jadi aku menendang pantatnya. BUUUKKK!

“Aaawww …!” jerit Agus sambil berguling-guling ke sana kemari.

Kutendang beberapa kali. BUUUKKK! BUUUKKK! BUUUKKK!

“AAAAAAWWW …!”

Anehnya nih, ya. Makin kutendang, makin banyak precum keluar. Hampir kukira ngompol, sebab perutnya ama pahanya mendadak mengilat-ngilat basah. Ternyata dia malah keenakan ditendangin kayak barusan.

Fuck. Dia kayaknya masokis!

Stop it!” senggol Edvan sambil geleng-geleng kepala. “Enggak akan pernah ngomong entar dia.”

“Dia sange disiksa ama kita, Cuy!”

“Ya makanya, elu jangan bikin dia keenakan mulu.” Edvan pun menggulingkan posisi Agus dari telungkup jadi telentang. Kontolnya kembali mencuat ke atas. TUING! Benar-benar kontol yang enggak tahu diri! Edvan berjongkok dan menunjukkan video Tino coli. “Siapa yang order elu buat nge-prank orang ini?”

Sambil mengatur napasnya yang memburu, Agus menatap ke layar video. Kepalanya mengingat-ingat pihak mana yang setega ini menjaili Tino. Tapi kemudian dia menggelengkan kepala.

“Siapa?” desak Edvan sekali lagi.

“Mas ganteng banget,” bisik Agus sambil memandang Edvan.

“ANJING!” Aku menendang lagi pantat Agus sampai dia menjerit kesakitan.

“Aaawww …!” Dan dia masih belum mau mengutarakan pelakunya.

“Ayo, Mas, bilang. Siapa yang ngeorder buat nge-prank orang ini?” ulang Edvan.

Agus malah jawab, “Siksa aku aja, Mas,” sembari menatap sange ke wajah Edvan.

Eh, anjing! BUUUKKK!

Karena kesal, aku benar-benar menyiksa banci itu tanpa ampun. Kutendang berkali-kali badannya hingga dia merintih, mengaduh, dan menjerit kesakitan. “Aaawww! Aaawww …! AAAAAAWWW …!” Badannya sudah agak kemerahan.

Namun, berapa kali pun kusiksa, dia masih belum mau memberikan jawabannya.

Yang ada malah dia makin sange. Precum-nya meleleh banyak sekali. Hampir mirip seperti crot. Kutendang bijinya juga, meski dia kesakitan, dia malah membelalak keenakan. “Ampun, Pak …. Aaaaaahhh … terus, Pak!”

Karena kesel banget, anjing, akhirnya aku menjejak kontol ngaceng-nya dengan kakiku. Kuinjak kontol itu kuat-kuat. Kutekan sampai dia setengah terduduk karena kesakitan. Edvan hampir mencoba mendorong kakiku dari kontol itu, tetapi lama-lama dia sepakat juga bahwa banci macam begini mah enggak perlu punya kontol. Harusnya kita injak-injak aja kontolnya sampai kempes dan putus!

“Ayo, bilang!” seruku enggak sabar.

Privacy,” katanya setengah merintih. “Itu … aaahhh … itu privacy … pelangganku … aaahhh ….”

“Kalau elu percaya privacy, kenapa video coli orang elu sebar, anjeng?! Otak lu goblok, ya?!” BUUUKKK! Kuinjak lagi kontol ngaceng itu kuat-kuat.

“AAAAAARGH!”

Aku masih berulang kali mencoba menjejak kontol Agus seraya mendesaknya untuk mengaku. Kuinjak kontol itu di bagian kepala, batang, dan bijinya bergantian. Tapi karena ukurannya enggak gede-gede amat, jadi menginjak di mana pun, setiap bagian ya kena.

Edvan mendadak bangkit untuk menghampiri tasnya. Ketika kembali, dia membawa sebuah gunting. Saat itu, kakiku sedang menginjak biji peler Agus kuat-kuat. Sehingga kontol ngaceng Agus tertarik ke atas, mengacung seperti Monas. Edvan berjongkok di samping kontol itu, lalu membuka pisau gunting, dan mengarahkannya ke batang kontol Agus. Seakan-akan ingin mengguntingnya.

“Tolong bilang siapa yang nge-prank orang itu, kalau enggak, gue gunting kontol lu,” kata Edvan, cukup tenang.

Kugeplak kepala Edvan. “Dih! Bencong kayak dia mah seneng-seneng aja kontolnya putus! Yang dia idam-idamkan tuh punya memek, anjir!”

“Tolong jangan digunting ….” Agus memohon-mohon sambil menangis.

“YA BILANG!” dengusku. Lama-lama pengin rampas itu gunting terus tancapin ke dada si Agus. Mukanya tuh, udah mah kampungan, makin jelek pula pas dia mewek. Kalau teringat semua yang udah dia lakukan ke Tino atau cowok-cowok straight yang enggak berdosa, rasanya pantas gitu buat bunuh Agus lalu mutilasi dia.

“Oke … oke … aku bilang …,” katanya, seraya menenangkan napasnya. “Tapi … tapi aku mau minta satu hal ….”

“Elu tuh ya—”

“Minta apa?” tanya Edvan, masih sangat sabar.

Sekarang aku pengin geplak si Edvan karena bisa sesabar itu. Dia zodiaknya apa, sih? Kok kagak nafsu pengin nyekik ini orang, hm?! Aku jadi mempertanyakan, benarkah dia membacok begal-begal itu di Mangga Besar?

Dengan napas terengah-engah, Agus menjawab, “Aku jawab … aku kasih tahu yang order … asalkan … asalkan kalian … ciuman depanku—”

WHAT?!” semburku

Please … kalian berdua ganteng banget, yawla …! Badannya juga bagus. Kurus-kurus seksi. Please, cipokan buat aku—”

NOOO!” sahutku tegas. “Jangan macam-macam, anjing! Gue bisa bunuh elu sekarang juga, gue mutilasi elu, gue rebus semua badan elu, gue kasih semuanya ke ayam—”

Please! Aku horny banget lihat kalian berdua nyiksa aku begini. Aku pengin kalian ciuman—”

“Sinting lu, ya! Setelah elu dengan sengaja nge-prank cowok-cowok buat coli depan elu, sekarang elu masih berani-beraninya bikin gue sama—”

Cup.

….

Edvan memagut bibirku.

Membuatku tak bisa melanjutkan kata-kataku.

….

Edvan mencumbu bibirku, melesakkan lidahnya ke dalam mulutku.

Dia bahkan memegang kepalaku.

Menarikku lebih dekat ke wajahnya.

….

Mataku membelalak.

Aku bisa melihat wajah tampan itu berada tepat di depan mataku.

….

Bibirnya kenyal.

Napasnya hangat.

Lembut.

….

Jujur.

Waktu serasa berhenti.

Pagutan dan cumbuan dari Edvan terasa seperti …

….

… seperti penuh kasih sayang.

….

Jantungku berdebar-debar.

Bibir itu terasa enak.

Lidah yang menyeruak masuk ke dalam mulutku itu …

… menggelitikku dengan nikmat.

Dan nyaman.

….

Cumbuan dari Edvan itu membuatku seperti ….

… melayang.

….

Hingga akhirnya Edvan tiba-tiba menarik cumbuannya, lalu menoleh ke bawah. “Sudah. Sudah gue cium. Sekarang bilang, siapa yang—”

“AAAAAAHHH …! AAAAAAHHH …! AAAAAAAAAHHHHHH …!”

CROOOT …! CROOOT …! CROOOTTT …! CROOOOOOTTT …!

Kontol Agus ejakulasi.

Spermanya menyembur keluar.

Air mani itu berlompatan ke sana kemari, cukup jauh melebihi kepala Agus sendiri. Sebagian sisanya mendarat di leher, dada, dan perut Agus. Banci kurus itu menggelinjang dan meliuk-liukkan badannya karena keenakan. Mungkin karena kontolnya masih kuinjak dengan kaki, sensasi orgasme itu benar-benar nikmat dia rasakan.

Aku mundur perlahan-lahan. Membiarkan Agus bergetar dan berguncang atas orgasmenya dengan bebas. Aku duduk di atas sofa.

Aku masih syok.

Sumpah, anjir.

Syok karena Edvan benar-benar menciumku.

Aku enggak bisa bergerak.

Edvan ini alternatif kedua lelaki yang bakal kugoda, kalau saja Tino enggak pernah bisa kudapatkan. Come on, dia wibu. Potensi untuk jadi homonya besar enggak, sih? Aku yakin pasti besar. Gaulnya saja dengan Romi. Dia izinkan Romi yang jelas-jelas titipan dari neraka untuk mondar-mandir ke kamar kosannya. Yang artinya dia mungkin support LGBT.

For fuck’s sake! Dia bahkan bisa menemukan video Tino lagi coli yang tersebar di akun-akun Twitter para homo! He’s definitely … he’s … Edvan mungkin ….

Aku tak tahu lagi apa yang berikutnya yang terjadi. Yang kutahu adalah aku masih syok atas ciuman mendadak itu. Apa aku menikmatinya? Ya. Kontolku ngaceng gara-gara dicium Edvan. Sampai sekarang masih ngaceng—makanya aku memilih duduk di sofa untuk merapatkan pahaku. Aku bisa melihat Agus mulai reda dari guncangan orgasmenya, aku bisa melihat Edvan membawa ponsel Agus lalu membiarkannya menggulir sesuatu, tetapi aku masih belum bisa berpikir jernih. Aku bahkan enggak bisa mendengar apa pun.

Kepalaku masih mengulang-ulang cumbuan yang nikmat dari Edvan. Seakan-akan aku berada dalam satu gelembung, yang isinya adalah diriku … dan cumbuan dari Edvan.

….

“Bro?” Edvan sudah ada di depanku. Dia melambaikan tangannya di depan wajahku. Edvan berjongkok sambil memiringkan kepalanya. “Sorry yang barusan. Are you okay?

Aku mengangguk pelan. “I … iya.”

“Yang gue lakuin salah, elo berhak marah, elo berhak ngejauhin gue, elo berhak nonjok gue, tapi gue lakuin itu supaya dia ngasih nama buat kita. And he did.” Edvan mengacungkan ponsel Agus. Dia menunjukkan nama kontak orang yang mengorder Agus untuk nge-prank Tino. “Semua Whatsapp barengan pelaku selalu dia hapus untuk confidentiality. Makanya gue dari kemarin gagal nemuin dia chatting-an ama siapa buat nge-prank si Tino. Tapi dia ingat …, nama ini yang ngorder prank tersebut.”

Aku membaca nama itu. Aku syok. Tapi masih enggak lebih syok dibandingkan cumbuan dari bibir Edvan itu. Jadi ekspresiku masih sama aja.

“Elo kenal?” tanya Edvan.

Pelan-pelan aku mengangguk. “Ya …. Kayaknya …, kayaknya gue tahu,” jawabku, sambil menelan ludah. “Dia adalah ….”


[ … ]


Part 10 (Bag. A) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 11 (Bag. A)

Komentar