(PPT) Part 9 Bag. B




Karena weekend, kami malas-malasan di kamar hotel hingga akhirnya check out. Tino menyantap banyak sekali makanan saat breakfast sampai perutnya agak buncit sedikit, dengan alasan, “Biar enggak perlu makan lagi sampe tiga hari.” Aku tahu itu hanya candaan, tapi kok kedengarannya miris.

Akhirnya sepanjang akhir pekan aku membantu Tino mencari pekerjaan apa yang cocok untuknya sekaligus menekankan kepadanya, “Selama Abang belum dapat kerjaan, please, please, please, jangan ragu buat minta bantuan gue, meskipun itu soal duit. Enggak perlu nanya kabar dulu, Bang. Langsung aja bilang butuh duit. I really want to help you.”

Tentu, Tino nolak pada awalnya. Tapi karena aku persistent nyebutin soal itu berulang-ulang, akhirnya Tino jengah. “Iyaaa …,” katanya sambil menghela napas.

Sayangnya sampai hari Senin dia masih belum minjam uang kepadaku. Mungkin uangnya masih cukup untuk beberapa hari ke depan.

Hari Selasa, Tino punya wawancara kerja di sebuah maskapai internasional. Ya, aku tahu, Tino enggak ada pengalaman jadi pramugara. Tapi dia punya ‘look’ untuk jadi pramugara. Muka ganteng, badan bagus, senyum bikin meleleh, semua penumpang di dalam pesawat pasti merasa aman kalau Tino yang jadi kru kabinnya.

Tino jelas enggak bisa ngebayangin jadi pramugara, tapi hari Minggu kemarin aku insist buat ambil kesempatan itu. Ada walk-in interview dengan sebuah agensi penyalur kru terbang di kawasan Asia. Requirement-nya enggak mensyaratkan pengalaman kerja sebagai kru kabin untuk bisa mendaftar. Kalau enggak punya experience, nanti akan dilatih dulu selama tiga bulan sebelum akhirnya disalurkan. Dan karena ini walk-in interview, artinya Tino bisa datang langsung tanpa perlu bikin appointment atau menunggu panggilan wawancara.

Sepanjang hari Senin aku membantunya merapikan CV sekaligus latihan wawancara di maskapai. Lebih ke latihan bahasa Inggris, sih. Karena itu pasti dilakukan dalam wawancara bersama maskapai. Aku juga membantunya mencari tahu segala informasi tentang aviasi, dan sama-sama belajar banyak hal.

Tino akhirnya menginap di kamarku Senin malam, membiarkan satu lengannya kutindih dengan kepalaku, agar aku bisa memeluk tubuhnya yang kekar dan wangi itu. Aku enggak tahu posisiku dengan Tino tuh bagaimana. Apakah “pacaran” atau “FWB” atau sekadar dua bestie yang sedang saling membantu, yang kalau nanti Tino sudah bisa berdiri di atas kaki sendiri, dia akan meninggalkanku lagi seperti sebelum-sebelumnya.

Pukul setengah enam pagi, kami berdua terbangun. Tino harus berangkat cukup pagi karena lokasi interview-nya di sekitaran Kelapa Gading. Itu lokasinya ujung ke ujung kalau dari Kosan Hamid. Aku ingin sekali mengantarnya, tetapi aku ada bimbingan skripsi untuk bab 3-ku yang kemarin direvisi. Jadi, Tino akan menaiki KRL saja.

“Abang yakin mau naik KRL?” tanyaku, sembari melihat Tino mengenakan celana training abu-abu dan kaus kutang punyaku. Kedua outfit itu langsung mencetak tubuh kekar Tino dengan ketat.

“Iya. Gapapa. Jam tujuh gue berangkat, jam 9 pasti udah nyampe Kelapa Gading.”

“Transit di Tanah Abang tuh nightmare anjir kalau jam kerja begini. Pake motor aja, sih!”

Tino menggelengkan kepala. “Lebih nightmare pake motor. Badan keringatan. Nyampe sana ketek basah. Kagak bakal keterima interview-nya, Bos!”

Benar juga, sih. “Pake mobil gue?”

Tino terkekeh. “Gue harus ngabisin duit bensin berapa pake mobil ke arah Jaktim?”

“Kelapa Gading itu utara, ya.”

“Tapi lokasinya agak mepet ke Pulo Gadung. Udah mau masuk Jaktim itu.”

Aku mendesah kesal. Agak bete kalau aku enggak bisa bantuin apa-apa. “Terus sekarang mau ngapain dulu? Olahraga?”

Tino mengenakan sepatunya dan mengikat talinya dengan rapi. “Karena gue udah enggak nge-gym, gue mesti maksimalin pull up bar di bawah sono.”

“Jangan pake baju itu, laaahhh … ngetat banget.”

“Semua baju work out gue lagi dicuci, Bro.”

“Ya tapi kontol lu nyetak gitu, Bang! Entar si Romi ngintip Abang dari kamarnya. Dia pasti coli ngelihatin Abang olahraga! Mana kamar dia langsung ngakses ke pull up bar situ!”

Tino terkekeh sembari bangkit dan mengusap kepalaku. “Ya biarin aja. Rezeki buat dia. Paling juga Mas Romi masih molor jam segini.”

“Enggak ikhlas, gue!” Aku melipat tangan di depan dada.

“Udah. Gue mau turun dulu!”

“Aku bikinin sarapan buat Abang, ya! Entar aku panggil Abang kalau udah siap.”

“Oke, thanks!” Tino pun keluar kamarku dan turun untuk berolahraga.

Karena ini kosan eksklusif, setiap kamar punya satu dapur kecil gitu untuk menyimpan kompor dan gas, bahkan ada ruang untuk meletakkan kulkas. Sebagai gay ibukota dan punya pengaruh Jakarta Selatan, tentu kamarku lebih eksklusif dibandingkan semua kamar kosan di Kosan Hamid ini. Sepraiku warna hitam kotak-kotak putih ala seprai gay ibukota. Ada diffuser Young Living dengan aroma yang menenangkan. Ada pencahayaan neon warna ungu yang suatu hari bisa kugunakan untuk live Tiktok (tapi sampai sekarang aku enggak pernah menggunakannya). Dan tentu lemari es warna pink yang di dalamnya terdapat bahan makanan lengkap ala-ala boti yang patuh mengabdi ke suami.

Saking lengkapnya, aku punya chicken fillet katsu yang siap goreng. Jadi pagi itu aku, lagi-lagi impulsif, memasak bento untuk sarapan Tino.

Nasi pulen ala Hokben, dua potong chicken katsu agar Tino dapat cukup protein, salad dengan saus mentai, egg chicken roll, shrimp roll, lalu egg mayo. Minumnya ocha yang hangat. Kusajikan semuanya di atas meja kecil, di atas lantai, sehingga Tino bisa menyantapnya sambil duduk bersila ala-ala orang Jepang. Bahkan, kuputar instrumen alat musik Jepang untuk menambah suasana restoran sushi, plus Young Living-ku menguarkan aroma campuran cedarwood, peppermint, dan lemongrass.

Damn! Aku sudah bisa jadi istri yang baik!

Aku menghela napas lega, berbangga hati karena bisa melayani Tino seperti ini, meskipun dia belum menjadi siapa-siapaku. Lalu, aku keluar kamar untuk memanggilnya. Aku menggunakan koridor depan, yang berujung ke kamarnya Lanang dan Mas Akbar. Alasannya, karena tangga di samping kamar mereka paling dekat dengan lokasi pull up bar yang digunakan Tino. Ketika aku berjalan di koridor itu, aku melihat Lanang dan Mas Akbar juga tampak bersiap pergi bekerja. Mereka menghampiri Tino yang masih berolahraga dengan badan keringatan.

“Pagi Mas Tino!” sapa Mas Akbar, kelewat ramah.

“Wassalamu ‘alaikum!” balas Tino. Aku menepuk jidat seketika mendengar respons itu.

“Wa ‘alaikum salam harusnya, Mas,” balas Mas Akbar seraya terkekeh.

Tino dan Mas Akbar mengobrol sedikit dua dikit, tetapi fokusku jatuh ke sosok Lanang yang berdiri malu-malu di belakang Akbar. Kepalanya menunduk dan semakin menunduk setiap kali Tino mencoba menyapanya.

Kok aku merasa Lanang itu munafik, ya? Sok-sok suci dan alim, tapi sebenarnya dia punya affair sama cowok yang lebih ganteng dan seksi. Aku bisa paham kenapa dia milih buat selingkuh ama cowok itu. But why? Why bersikap sok suci? Santuy aja. Kayak Romi. Segala jenis orang dia sepong, yang penting bentuknya kontol. Dan dia enggak perlu menutup-nutupi itu.

Ketika aku tiba di bawah, rombongan Lanang dan Mas Akbar itu sudah meninggalkan area pull up bar. Mereka masuk ke dalam mobil yang diparkir cukup dekat dengan gerbang keluar. Mas Akbar duduk di kursi pengemudi. Lalu Lanang duduk di mana? Di jok belakang!

Anjing! Lu pikir lu princess mesti duduk di belakang segala, hah?!

“Ke mana mereka?” sapaku sambil menghampiri Tino dan mencoba menurunkan kausnya ke bawah, untuk menutupi area kontol yang makin sini makin menjendol.

“Ke Bogor,” balas Tino sambil turun dari bar dan mengatur napasnya.

“Dua-duanya?”

“Enggak. Si Akbar aja. Ketemu nasabah. Kalau si Lanang ngajar di sekolah.”

Aku ingin sekali tahu, apakah mereka sudah menonton video Tino, atau belum. Maksudku, orang kayak mereka tuh buka Twitter atau enggak? Apakah menyapa Tino barusan merupakan imbas dari buka Twitter, lalu mencoba berinteraksi dengan Tino sambil membayangkan personal trainer itu ngocok dengan badan berminyak, atau jilat ketek, atau pamer bool.

Aku ingin tahu, apakah orang-orang di kosan ini, selain Edvan, sudah tahu soal video Tino?

Tapi aku enggak berani membahasnya di depan Tino. Aku enggak mau Tino jadi depresi lagi gara-gara topik itu mencuat.

“Aku udah masak buat kamu sarapan,” kataku. “Yuk makan dulu, sebelum mandi.”

“Enggak mandi dulu? Biar badan gue kagak bau pas makan?”

Kucubit nenen Tino sampai dia menjerit, “Aw, aw, aaawww …!” lalu dia menepis tanganku dengan kesal. “At this point, Bang …,” kataku dengan tegas, “gue ikhlas jilatin semua keringat elu! Jangan ngadi-ngadi pake bahas bau segala pas makan. Body kayak elu mah, bau busuk juga orang tetep ikhlas nge-worship. Udah! Ayo makan.”

“Jangan cubit-cubit tetek mulu, anjir. Kalau gue sange gimana—”

“Haaayyy … Siiisssttt …!” Tiba-tiba seseorang memanggil kami dari gerbang.

Aku dan Tino menoleh, lalu menemukan ririwa Kosan Hamid ternyata sudah tampil cantik paripurna di atas motor matic warna pink.

Itu Romi. Mengenakan jaket warna pink, blink-blink, celana jeans ketat, dan kacamata aviator seakan-akan dia mau menerbangi pesawat baling-baling lintas Atlantik. Dia melambaikan tangan di atas motor matic pink-nya. Tersenyum sangat lebar.

“Oh, hei!” balasku.

“Pagi-pagi udah pacaran, nih?”

Aku dan Tino membeku mendengar itu. Kami membelalak menatap Romi dengan salah tingkah. Tak berani merespons apa pun selain, “Gue … gue baru beres … olahraga.”

Romi mengibaskan tangannya sambil cekikikan seakan-akan tak percaya. “Aku mau facial hari ini. Mau creambath juga. Mau self care seharian atas hadiah tak terduga hari Sabtu kemarin.”

ENGGAK ADA YANG NANYA!

Byeeeeee …!” Romi melemparkan kiss bye ke arah kami, lalu melajukan motornya keluar gerbang, tepat sebelum mobil Mas Akbar dan Lanang keluar gerbang juga.

Selama beberapa saat, kami terdiam bingung di area pull up bar itu. Sampai mobil Mas Akbar benar-benar hilang dari kosan, akhirnya kami bisa bernapas lega.

Tak kusangka Tinolah yang akhirnya menanyakan pertanyaan itu. “Menurut elo, Bro … si Romi tahu enggak soal video itu?”

Aku agak deg-degan mendengar pertanyaan itu. Kupikir pertanyaan itu akan sangat sensitif bagi Tino. Aku berjaga-jaga, takutnya Tino kena mental ketika topik itu dibahas.

Jadi yang kulakukan adalah mengangkat bahu. “Gue kagak tahu dia tahu apa enggak,” kataku. “Gue bisa nanyain ke dia sih kalau perlu.”

“Enggak perlu. Gue cuma … penasaran aja.”

“Tapi dari gelagatnya, sih …, kayaknya dia belum nonton.”

Tino menoleh ke arahku dan mengerutkan alis. “Belum?”

Aku manggut-manggut. “Kalau udah nonton, dia enggak akan diam di gerbang kayak barusan. Dia pasti nyamperin ke sini pake matic dia yang pink itu, terus dia jongkok depan elu, terus dia bilang, ‘Aku mau sepong kontolmu ya Baaang …. Aku suka banget bentuk kontolmu. Mau kuminyakin juga?’”

Tino terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Aku lega karena jokes-ku enggak bikin dia baper lagi, bahkan Tino berbalik sembari mengalungkan lengannya ke bahuku. “Kayaknya iya, sih. Kayaknya dia bakal begitu. Yuk, ah. Gue pengin makan.”

Tino akhirnya pergi dari kosan sekitar pukul tujuh pagi. Aku mengantarnya ke stasiun KRL terdekat dengan motor, lalu aku kembali ke kosan untuk membereskan sisa sarapan, sembari aku mau mandi juga karena aku mau pergi ke kampus.

Sekitar pukul delapan pagi, ketika aku sudah selesai bersiap-siap, pintu kamarku diketuk.

Aku membukanya dengan santai dan menemukan Edvan sudah ada di sana. Masih ada sedikit luka di tubuhnya, tapi rata-rata dia tampak baik-baik saja.

“Lu mau ke mana?” sapanya sambil tiba-tiba masuk ke kamarku membawa laptopnya yang canggih itu.

“Kampus, lah. Gue ada bimbingan. Kenapa?”

Edvan duduk di atas tempat tidurku, mengotak-atik sesuatu di laptopnya, lalu memutar laptop itu ke arahku. Ada semacam program pengodean yang aku sama sekali enggak paham, kayak di film-film action, tapi di salah satu tab yang terbuka di Windows tersebut ada video coli Tino sedang ditonton lewat media player.

“Gue … gue enggak paham.”

“Gue udah nemu,” kata Edvan sambil tersenyum sebelah. “Gue udah nemu …, siapa orang yang nge-prank Tino, lalu nyebarin video itu di Twitter.”


[ … ]


Part 9 (Bag. A) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 10 (Bag. A)

Komentar