Karena weekend, kami malas-malasan di kamar hotel hingga akhirnya check out. Tino menyantap banyak sekali makanan saat breakfast sampai perutnya agak buncit sedikit, dengan alasan, “Biar enggak perlu makan lagi sampe tiga hari.” Aku tahu itu hanya candaan, tapi kok kedengarannya miris.
Akhirnya sepanjang akhir
pekan aku membantu Tino mencari pekerjaan apa yang cocok untuknya sekaligus
menekankan kepadanya, “Selama Abang belum dapat kerjaan, please, please,
please, jangan ragu buat minta bantuan gue, meskipun itu soal duit.
Enggak perlu nanya kabar dulu, Bang. Langsung aja bilang butuh duit. I
really want to help you.”
Tentu, Tino nolak pada
awalnya. Tapi karena aku persistent nyebutin soal itu berulang-ulang,
akhirnya Tino jengah. “Iyaaa …,” katanya sambil menghela napas.
Sayangnya sampai hari Senin
dia masih belum minjam uang kepadaku. Mungkin uangnya masih cukup untuk
beberapa hari ke depan.
Hari Selasa, Tino punya
wawancara kerja di sebuah maskapai internasional. Ya, aku tahu, Tino enggak ada
pengalaman jadi pramugara. Tapi dia punya ‘look’ untuk jadi pramugara.
Muka ganteng, badan bagus, senyum bikin meleleh, semua penumpang di dalam
pesawat pasti merasa aman kalau Tino yang jadi kru kabinnya.
Tino jelas enggak bisa
ngebayangin jadi pramugara, tapi hari Minggu kemarin aku insist buat
ambil kesempatan itu. Ada walk-in interview dengan sebuah agensi
penyalur kru terbang di kawasan Asia. Requirement-nya enggak
mensyaratkan pengalaman kerja sebagai kru kabin untuk bisa mendaftar. Kalau
enggak punya experience, nanti akan dilatih dulu selama tiga bulan
sebelum akhirnya disalurkan. Dan karena ini walk-in interview, artinya Tino
bisa datang langsung tanpa perlu bikin appointment atau menunggu
panggilan wawancara.
Sepanjang hari Senin aku
membantunya merapikan CV sekaligus latihan wawancara di maskapai. Lebih ke
latihan bahasa Inggris, sih. Karena itu pasti dilakukan dalam wawancara bersama
maskapai. Aku juga membantunya mencari tahu segala informasi tentang aviasi,
dan sama-sama belajar banyak hal.
Tino akhirnya menginap di
kamarku Senin malam, membiarkan satu lengannya kutindih dengan kepalaku, agar
aku bisa memeluk tubuhnya yang kekar dan wangi itu. Aku enggak tahu posisiku
dengan Tino tuh bagaimana. Apakah “pacaran” atau “FWB” atau sekadar dua bestie
yang sedang saling membantu, yang kalau nanti Tino sudah bisa berdiri di atas
kaki sendiri, dia akan meninggalkanku lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Pukul setengah enam pagi,
kami berdua terbangun. Tino harus berangkat cukup pagi karena lokasi interview-nya
di sekitaran Kelapa Gading. Itu lokasinya ujung ke ujung kalau dari Kosan
Hamid. Aku ingin sekali mengantarnya, tetapi aku ada bimbingan skripsi untuk
bab 3-ku yang kemarin direvisi. Jadi, Tino akan menaiki KRL saja.
“Abang yakin mau naik KRL?”
tanyaku, sembari melihat Tino mengenakan celana training abu-abu dan
kaus kutang punyaku. Kedua outfit itu langsung mencetak tubuh kekar Tino
dengan ketat.
“Iya. Gapapa. Jam tujuh gue
berangkat, jam 9 pasti udah nyampe Kelapa Gading.”
“Transit di Tanah Abang tuh nightmare
anjir kalau jam kerja begini. Pake motor aja, sih!”
Tino menggelengkan kepala. “Lebih
nightmare pake motor. Badan keringatan. Nyampe sana ketek basah. Kagak
bakal keterima interview-nya, Bos!”
Benar juga, sih. “Pake mobil
gue?”
Tino terkekeh. “Gue harus
ngabisin duit bensin berapa pake mobil ke arah Jaktim?”
“Kelapa Gading itu utara,
ya.”
“Tapi lokasinya agak mepet
ke Pulo Gadung. Udah mau masuk Jaktim itu.”
Aku mendesah kesal. Agak bete
kalau aku enggak bisa bantuin apa-apa. “Terus sekarang mau ngapain dulu?
Olahraga?”
Tino mengenakan sepatunya
dan mengikat talinya dengan rapi. “Karena gue udah enggak nge-gym, gue
mesti maksimalin pull up bar di bawah sono.”
“Jangan pake baju itu,
laaahhh … ngetat banget.”
“Semua baju work out
gue lagi dicuci, Bro.”
“Ya tapi kontol lu nyetak
gitu, Bang! Entar si Romi ngintip Abang dari kamarnya. Dia pasti coli
ngelihatin Abang olahraga! Mana kamar dia langsung ngakses ke pull up bar
situ!”
Tino terkekeh sembari
bangkit dan mengusap kepalaku. “Ya biarin aja. Rezeki buat dia. Paling juga Mas
Romi masih molor jam segini.”
“Enggak ikhlas, gue!” Aku
melipat tangan di depan dada.
“Udah. Gue mau turun dulu!”
“Aku bikinin sarapan buat
Abang, ya! Entar aku panggil Abang kalau udah siap.”
“Oke, thanks!” Tino
pun keluar kamarku dan turun untuk berolahraga.
Karena ini kosan eksklusif,
setiap kamar punya satu dapur kecil gitu untuk menyimpan kompor dan gas, bahkan
ada ruang untuk meletakkan kulkas. Sebagai gay ibukota dan punya
pengaruh Jakarta Selatan, tentu kamarku lebih eksklusif dibandingkan semua
kamar kosan di Kosan Hamid ini. Sepraiku warna hitam kotak-kotak putih ala
seprai gay ibukota. Ada diffuser Young Living dengan aroma yang
menenangkan. Ada pencahayaan neon warna ungu yang suatu hari bisa kugunakan
untuk live Tiktok (tapi sampai sekarang aku enggak pernah
menggunakannya). Dan tentu lemari es warna pink yang di dalamnya
terdapat bahan makanan lengkap ala-ala boti yang patuh mengabdi ke suami.
Saking lengkapnya, aku punya
chicken fillet katsu yang siap goreng. Jadi pagi itu aku, lagi-lagi
impulsif, memasak bento untuk sarapan Tino.
Nasi pulen ala Hokben, dua
potong chicken katsu agar Tino dapat cukup protein, salad dengan saus mentai,
egg chicken roll, shrimp roll, lalu egg mayo. Minumnya ocha
yang hangat. Kusajikan semuanya di atas meja kecil, di atas lantai, sehingga
Tino bisa menyantapnya sambil duduk bersila ala-ala orang Jepang. Bahkan,
kuputar instrumen alat musik Jepang untuk menambah suasana restoran sushi,
plus Young Living-ku menguarkan aroma campuran cedarwood, peppermint,
dan lemongrass.
Damn! Aku sudah bisa jadi istri yang baik!
Aku menghela napas lega,
berbangga hati karena bisa melayani Tino seperti ini, meskipun dia belum
menjadi siapa-siapaku. Lalu, aku keluar kamar untuk memanggilnya. Aku
menggunakan koridor depan, yang berujung ke kamarnya Lanang dan Mas Akbar. Alasannya,
karena tangga di samping kamar mereka paling dekat dengan lokasi pull up bar
yang digunakan Tino. Ketika aku berjalan di koridor itu, aku melihat Lanang dan
Mas Akbar juga tampak bersiap pergi bekerja. Mereka menghampiri Tino yang masih
berolahraga dengan badan keringatan.
“Pagi Mas Tino!” sapa Mas
Akbar, kelewat ramah.
“Wassalamu ‘alaikum!” balas
Tino. Aku menepuk jidat seketika mendengar respons itu.
“Wa ‘alaikum salam harusnya,
Mas,” balas Mas Akbar seraya terkekeh.
Tino dan Mas Akbar mengobrol
sedikit dua dikit, tetapi fokusku jatuh ke sosok Lanang yang berdiri malu-malu
di belakang Akbar. Kepalanya menunduk dan semakin menunduk setiap kali Tino
mencoba menyapanya.
Kok aku merasa Lanang itu
munafik, ya? Sok-sok suci dan alim, tapi sebenarnya dia punya affair
sama cowok yang lebih ganteng dan seksi. Aku bisa paham kenapa dia milih buat
selingkuh ama cowok itu. But why? Why bersikap sok suci? Santuy
aja. Kayak Romi. Segala jenis orang dia sepong, yang penting bentuknya
kontol. Dan dia enggak perlu menutup-nutupi itu.
Ketika aku tiba di bawah,
rombongan Lanang dan Mas Akbar itu sudah meninggalkan area pull up bar.
Mereka masuk ke dalam mobil yang diparkir cukup dekat dengan gerbang keluar. Mas
Akbar duduk di kursi pengemudi. Lalu Lanang duduk di mana? Di jok belakang!
Anjing! Lu pikir lu princess
mesti duduk di belakang segala, hah?!
“Ke mana mereka?” sapaku
sambil menghampiri Tino dan mencoba menurunkan kausnya ke bawah, untuk menutupi
area kontol yang makin sini makin menjendol.
“Ke Bogor,” balas Tino
sambil turun dari bar dan mengatur napasnya.
“Dua-duanya?”
“Enggak. Si Akbar aja.
Ketemu nasabah. Kalau si Lanang ngajar di sekolah.”
Aku ingin sekali tahu,
apakah mereka sudah menonton video Tino, atau belum. Maksudku, orang kayak
mereka tuh buka Twitter atau enggak? Apakah menyapa Tino barusan merupakan
imbas dari buka Twitter, lalu mencoba berinteraksi dengan Tino sambil
membayangkan personal trainer itu ngocok dengan badan berminyak, atau
jilat ketek, atau pamer bool.
Aku ingin tahu, apakah
orang-orang di kosan ini, selain Edvan, sudah tahu soal video Tino?
Tapi aku enggak berani
membahasnya di depan Tino. Aku enggak mau Tino jadi depresi lagi gara-gara
topik itu mencuat.
“Aku udah masak buat kamu
sarapan,” kataku. “Yuk makan dulu, sebelum mandi.”
“Enggak mandi dulu? Biar
badan gue kagak bau pas makan?”
Kucubit nenen Tino sampai
dia menjerit, “Aw, aw, aaawww …!” lalu dia menepis tanganku dengan kesal. “At
this point, Bang …,” kataku dengan tegas, “gue ikhlas jilatin semua
keringat elu! Jangan ngadi-ngadi pake bahas bau segala pas makan. Body
kayak elu mah, bau busuk juga orang tetep ikhlas nge-worship.
Udah! Ayo makan.”
“Jangan cubit-cubit tetek
mulu, anjir. Kalau gue sange gimana—”
“Haaayyy … Siiisssttt …!”
Tiba-tiba seseorang memanggil kami dari gerbang.
Aku dan Tino menoleh, lalu
menemukan ririwa Kosan Hamid ternyata sudah tampil cantik paripurna di atas
motor matic warna pink.
Itu Romi. Mengenakan jaket
warna pink, blink-blink, celana jeans ketat, dan kacamata
aviator seakan-akan dia mau menerbangi pesawat baling-baling lintas Atlantik. Dia
melambaikan tangan di atas motor matic pink-nya. Tersenyum sangat lebar.
“Oh, hei!” balasku.
“Pagi-pagi udah pacaran,
nih?”
Aku dan Tino membeku
mendengar itu. Kami membelalak menatap Romi dengan salah tingkah. Tak berani
merespons apa pun selain, “Gue … gue baru beres … olahraga.”
Romi mengibaskan tangannya
sambil cekikikan seakan-akan tak percaya. “Aku mau facial hari ini. Mau creambath
juga. Mau self care seharian atas hadiah tak terduga hari Sabtu
kemarin.”
ENGGAK ADA YANG NANYA!
“Byeeeeee …!” Romi
melemparkan kiss bye ke arah kami, lalu melajukan motornya keluar
gerbang, tepat sebelum mobil Mas Akbar dan Lanang keluar gerbang juga.
Selama beberapa saat, kami
terdiam bingung di area pull up bar itu. Sampai mobil Mas Akbar
benar-benar hilang dari kosan, akhirnya kami bisa bernapas lega.
Tak kusangka Tinolah yang
akhirnya menanyakan pertanyaan itu. “Menurut elo, Bro … si Romi tahu enggak
soal video itu?”
Aku agak deg-degan mendengar
pertanyaan itu. Kupikir pertanyaan itu akan sangat sensitif bagi Tino. Aku
berjaga-jaga, takutnya Tino kena mental ketika topik itu dibahas.
Jadi yang kulakukan adalah
mengangkat bahu. “Gue kagak tahu dia tahu apa enggak,” kataku. “Gue bisa
nanyain ke dia sih kalau perlu.”
“Enggak perlu. Gue cuma …
penasaran aja.”
“Tapi dari gelagatnya, sih
…, kayaknya dia belum nonton.”
Tino menoleh ke arahku dan
mengerutkan alis. “Belum?”
Aku manggut-manggut. “Kalau
udah nonton, dia enggak akan diam di gerbang kayak barusan. Dia pasti nyamperin
ke sini pake matic dia yang pink itu, terus dia jongkok depan
elu, terus dia bilang, ‘Aku mau sepong kontolmu ya Baaang …. Aku suka
banget bentuk kontolmu. Mau kuminyakin juga?’”
Tino terkekeh sambil
geleng-geleng kepala. Aku lega karena jokes-ku enggak bikin dia baper
lagi, bahkan Tino berbalik sembari mengalungkan lengannya ke bahuku. “Kayaknya
iya, sih. Kayaknya dia bakal begitu. Yuk, ah. Gue pengin makan.”
Tino akhirnya pergi dari
kosan sekitar pukul tujuh pagi. Aku mengantarnya ke stasiun KRL terdekat dengan
motor, lalu aku kembali ke kosan untuk membereskan sisa sarapan, sembari aku
mau mandi juga karena aku mau pergi ke kampus.
Sekitar pukul delapan pagi,
ketika aku sudah selesai bersiap-siap, pintu kamarku diketuk.
Aku membukanya dengan santai
dan menemukan Edvan sudah ada di sana. Masih ada sedikit luka di tubuhnya, tapi
rata-rata dia tampak baik-baik saja.
“Lu mau ke mana?” sapanya
sambil tiba-tiba masuk ke kamarku membawa laptopnya yang canggih itu.
“Kampus, lah. Gue ada
bimbingan. Kenapa?”
Edvan duduk di atas tempat
tidurku, mengotak-atik sesuatu di laptopnya, lalu memutar laptop itu ke arahku.
Ada semacam program pengodean yang aku sama sekali enggak paham, kayak di
film-film action, tapi di salah satu tab yang terbuka di Windows
tersebut ada video coli Tino sedang ditonton lewat media player.
“Gue … gue enggak paham.”
“Gue udah nemu,” kata Edvan
sambil tersenyum sebelah. “Gue udah nemu …, siapa orang yang nge-prank
Tino, lalu nyebarin video itu di Twitter.”
[ … ]
Part 9 (Bag. A) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 10 (Bag. A)
Komentar
Posting Komentar