Hal paling mudah untuk menghukum Agus adalah melaporkannya ke polisi. Semua buktinya lengkap, baik itu sebelum, sedang, dan akan datang. Laporan soal prank ini juga sempat masuk ke polres, dari satu orang korban di Pasuruan, tetapi kepolisian enggak begitu “gercep” menanganinya. Agus bilang dia memang sempat bayar ke kepolisian agar hal ini enggak diusut.
Which means, sia-sia lapor polisi.
Aku dan Edvan sepakat untuk
menanganinya secara langsung. Aku akan memberikan efek jera yang sustainable,
sehingga Agus enggak akan melakukannya lagi di masa depan.
“Baaang …, lihatin keteknya
dong, Baaang … seksi banget pasti ketek Abang ….”
“Lihatin ketek kamu juga,
Dek. Aaahhh …. Abang udah mau keluar ….”
“Abang dulu, aaahhh …. Ayo,
Bang. Satu tangannya ke atas aja. Satu lagi tetap ngocok.”
“Aaaaaahhh …. Dek! Maju
lagi, Dek! Aaahhh …. Abang pengin lihat memekmu dari dekat, Dek!”
“Abang mainin ketek dulu,
aaahhh ….”
Setelah kami menculiknya ke
hotel, kami enggak langsung melepaskannya. Kami susah payah mencari cara
menghukum Agus agar dia minta ampun, tapi tampaknya segala siksaan yang kami
berikan, malah membuat Agus semakin bergairah. Perutnya ditonjok oleh Edvan,
dia ngaceng. Nenennya kucubit dan kutarik sampe maju, precum-nya
keluar. Mukanya digampar, pantatnya ditendang, dadanya dipukul, lengannya
ditonjok, eh kontolnya malah ….
CROT! CROT! CROT! CROT!
CROT!
Di situlah kami menyimpulkan
bahwa menyiksa Agus secara fisik sia-sia. Dia harus disiksa secara internal.
Secara gaslight. Secara gatekeep. Secara red flag. Seperti
halnya mantanmu yang toxic itu, yang bikin kamu merasa bersalah padahal
dia yang selingkuh. Nah, semacam itu. Agus harus dibikin frustrasi, stres, dan
gila, atas apa yang diperbuatnya selama ini. Toh memang itulah yang dirasakan
para korbannya. Setiap korban Agus pasti sudah dekat banget sama bunuh diri.
Agus juga harus merasakan itu.
“Deeekkk …, coba kamu
tusuk-tusuk memekmu pake jari, Dek ….”
“Boleh, Baaang …. Tapi aku
pengin Abang tusuk-tusuk bool Abang juga pake jari ….”
“Sakit dong, Dek …?”
“Enggak kok, Bang. Pasti
enak. Aku suka muka Abang kalau lagi keenakan. Ayo Bang, nungging ….”
“Enggak, ah! Ada-ada aja,
Adek ini …. Memek Adek aja, lah ….”
“Enggak mau! Aku pengin
lihat dulu Abang nungging, terus masukin jari Abang ke lubang Abang … huhuhu ….
Kalau enggak, Adek enggak mau nyolok-nyolok memek Adek.”
“Yaaahhh …. Dek. Haduuuh …
kayak gini?”
“Iya, kayak gitu, Bang!
Aaaaahhh …. Lebih dekat lagi ke kamera, Bang. Adek pengin lihat bool
Abang yang berbulu itu dari dekat. Uuuhhh …. Seksi banget bool Abang!”
“Adek suka enggak?”
“Suka banget, Baaang …. Enak
enggak Bang?”
“Hm … ternyata enak ya Dek
…. Aaaaaahhh ….”
“Memang enak, Baaang … ayo,
colok lagi! Aaahhh ….”
Hal pertama yang kami
lakukan tentunya membawa Agus ke rumahnya. Kami memaksanya masuk ke kamarnya,
pura-puranya kawan SMA di depan ibunya Agus, lalu Edvan memindahkan semua data prank
yang ada di laptop Agus. Baik itu video korban, maupun video perempuan yang
digunakan untuk nge-prank. Edvan bahkan masuk ke cloud-nya Agus
untuk menghapus data yang ada di sana juga.
Dini hari, setelah kami
selesai melakukan itu semua, kami bawa lagi si Agus ke hotel untuk siksaan
lanjutan. Aku mencoba membakar kontolnya pake korek, tapi Edvan langsung
mematikannya dengan alasan ini non-smoking room. Kucoba masukkan gagang
sikat toilet ke bool-nya, tapi ketahuan lagi oleh Edvan, sehingga sikat
WC itu direbutnya. Terakhir aku mencoba menjahit kontol Agus ke biji pelernya,
tetapi Edvan lagi-lagi menggagalkan rencanaku. Dia langsung merebut peralatan
menjahit itu dan geleng-geleng kepala, “Dari mana sih lu dapatin jarum ama
benang ini, anjir?!”
Intinya Edvan lemah. Edvan
keren kayak James Bond, bisa berantem, bisa nge-hack, bisa tampil kece dengan
baju hitam-hitam, tapi pas tawanan sudah tertangkap dia enggak punya keberanian
buat nyiksa tawanannya. Hatinya terlalu Cinderella. Harusnya tetek si Agus kita
garuk-garuk pake garpu sampai lepas.
Yang Edvan lakukan malah
memaksa Agus membuat video permintaan maaf ke semua korbannya. Agus
ditelanjangi, hanya pakai sempak saja. Kemudian wajahnya ditutupi masker. Dua
lapis. Atas bawah. Jadi seluruh wajahnya tertutup masker buat Corona, yang
ijo-ijo itu, cuma bagian mata ama mulut digunting. Di atas sofa, dia membacakan
permintaan maaf yang sudah dibuatkan Edvan, yang intinya mengaku salah telah
mem-prank para korbannya dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, atau
menyebarkan videonya ke siapa pun lewat grup Telegram.
Video permintaan maaf itu
dikirim ke semua korban Agus menggunakan nomor baru. Karena, nomor Agus diblok
oleh setiap korban. Salah satu penerimanya adalah Tino. Yang langsung
meneleponku untuk bilang, “Si bencong Lidya ngirim gue video, anjing!”
Aku hanya pura-pura enggak
tahu, “Oh reallyyy …? Wow. Sangat random, ya. By the way,
gue lagi penelitian ya, Bang. Entar gue telepon lagi. Gue lagi enggak di Pati
atau kota mana pun di Jateng, ya. Gue di Semarang. Bye!”
Aku senang karena Tino
menerima video permintaan maaf itu, meski itu enggak cukup.
“Bang, coba sekarang sambil
duduk Bang mainin bool-nya ….”
“Iya, Dek. Bentar. Aaahhh ….
Kayak gini?”
“Iya, Bang. Ngangkang lagi,
Baaang …. Aaahhh … Aduh, Abang ini bool-nya seksi banget, siiihhh ….
Adek beneran pengin ke situ buat nikmatin bool Abang ….”
“Nanti Abang jemput ya, Dek.
Sekarang Abang pengin crot dulu sama Adek.
Aaahhh ….”
“Abang lihatin dooong
lubangnya. Huhuhu …. Adek pengin lihat.”
“Kelihatan enggak, Dek?”
“Iya, kelihatan Baaang … Uuunch
…. Seksi banget bool Abang. Colok terus, Bang ….”
“Iya, Dek. Ini Abang colok
terus—”
“Enak enggak, Bang?”
“Enak banget, Dek ….
Sekarang Adek colok memek Adek ….”
“Bentar iiihhh …. Adek
pengin lihat Abang jilat ketek juga. Ayo, Baaang …. Sambil Abang tusuk bool,
sambil jilat ketek Baaang ….”
“Adek juga tusuk memeknya
dong ….”
“Iya nanti, kalau Abang udah
jilat ketek juga. Aaaaaahhh ….”
“Aaaaaahhh ….”
“Enak enggak bau ketek
Abang?”
“Enak, Dek …. Bau laki ….
Aaahhh …. Nanti kalau ketemu, Adek jilatin ketek Abang, ya?”
Selain semua korbannya,
video permintaan maaf juga dikirimkan di grup Telegram. Beserta pengumuman
bahwa dia tidak akan membuat video semacam itu lagi, atau memberikan asupan
sejenis. Reaksinya tentu beragam, tetapi kebanyakan soal refund.
Khususnya mereka yang baru bergabung.
Terakhir, video permintaan
maaf dikirimkan ke homo-homo biadab yang menggunakan jasa Agus untuk nge-prank
cowok-cowok straight. Sebagian besar dari mereka langsung memblok nomor
Agus. Mereka ketakutan nama mereka dibawa-bawa andai Agus terlibat masalah
dengan kepolisian.
Untungnya Edvan sempat
mencatat kontak semua homo itu. Dia akan mengawasi orang-orang ini, takutnya
mereka macam-macam lagi.
Setelah video permintaan
maaf itu dikirimkan, Edvan melakukan satu manuver terakhir. Yaitu memaksa Agus
nge-prank satu orang cowok yang memang sejak kemarin belum kami kirimi
video permintaan maaf Agus. Banci Pati itu Edvan suruh untuk melakukan aksinya
menipu lelaki dari Lubuk Linggau, dari awal sampai akhir, tetapi bedanya ….
… Edvan merekamnya dari
berbagai sisi.
Agus diminta nge-prank
Bang Husin, cowok straight Lubuk Linggau petani kelapa sawit yang
videonya sempat kulihat di kosan saat Edvan pertama kali menunjukkanku soal
Agus. Dia dibiarkan menggunakan segala macam peralatannya untuk mengeksekusi
Bang Husin. Bedanya, ada tiga kamera yang menyorot Agus melakukan penipuan itu.
Dari atas, dari depan, dari belakang dengan lensa kamera menangkap layar ponsel
yang menampilkan Bang Husin telanjang di perkebunan kelapa sawit. Lalu aku dan
Edvan duduk di sofa, menontonnya melakukan semua itu hingga usai.
Ini sudah masuk menit keempat
puluh sejak mereka video call sex. Yang namanya Bang Husin ini begonya
enggak ada ampun. Bisa-bisanya dia tertipu dengan suara bencong si Agus dan
video cewek coli yang gerakannya berulang-ulang (loop). Kok
enggak ada gitu dia curiga, setiap dia minta si cewek ini ngapain, ceweknya
malah merengek dan request Bang Husin ngelakuin hal lain, lalu Bang
Husinnya lupa bahwa dia sebelumnya request cewek itu untuk ngapain.
Orang kalau udah sange
emang bego sih, ya.
“Baaang … itu kelapa
sawitnya ada lubangnya enggak, Baaang?”
“Yang mana Dek?”
“Itu yang di belakang Abang
….”
Bang Husin menoleh dan
mengintip sedikit bongkahan berisi buah-buah kelapa sawit itu. “Enggak ada
lah, Dek …. Ada-ada aja kamu ini ….”
“Adek pengin ngelihat Abang
nganuin kelapa sawitnya ….”
“Apa?”
“Masukin Bang, titit Abang
ke kelapa sawitnya, terus genjot …. Aaaaaahhh ….”
“Enggak bisa Dek ….”
“Ya lubangin dulu, Baaang ….
Terus masukin titit Abaaang ….”
Aku bisa melihat Edvan
bergidik ngeri di sampingku. Dia meringis melihat ke arah Agus. Kedua tangannya
mencengkeram sandaran tangan sofa kuat-kuat. Seakan-akan dia sedang melihat
hantu.
“Kenapa?” tanyaku, berbisik.
Edvan menoleh ngeri. “Se …
serius … dia … dia nyuruh si Husin … nge-fuck ….”
“Kayak gini, Dek?” Bang
Husin betulan nge-fuck bongkahan kelapa sawit yang isinya adalah
biji-biji buah kecil itu, entah gimana caranya.
“AJIG!” umpat Edvan setengah
tertahan. Dia menutup mulutnya dengan tangan, seperti ingin muntah, lalu
memelotot. “Enggak waras, anjing!”
Aku hanya memutar bola mata
melihat reaksi Edvan.
Aku sih malah ngaceng
lihat Bang Husin nge-fuck kelapa sawit.
Enggak tahu, ya, makin sini
aku makin sependapat sama fantasi seksual Agus. Meski apa yang Agus lakukan
enggak bisa dibenarkan, tapi kamu akui aja, deh … melihat cowok straight
nge-fuck kelapa sawit tuh seksi, tahu!
Bang Husin kulitnya eksotis.
Badannya atletis. Orang pedalaman, literally straight, udah pasti manly,
udah pasti bukan boti. Sedari tadi dia disuruh ngocok outdoor, di
perkebunan kelapa sawit, di antara pepohonan yang bentukannya kayak buah nanas
busuk. Kontolnya kurus, hitam, jembutnya lebat, dan terus-menerus dia kocokin
sepanjang VCS. Mukanya? Wuih, ganteng-ganteng cowok kampung. Seksi mantul!
Kalau ada Romi di sini, pasti Romi sudah merangkak ke layar hape, biar
bisa langsung ada di lokasi perkebunan sawit itu, lalu ngewe dengan Bang
Husin.
Aku sedari tadi diam bukan
cuma ngawasin Agus beraksi. Tapi juga karena sange dan enggak mau
ketahuan kontolku ngaceng di balik celana. Masa iya dari kemarin aku kayak
SJW, sok-sok heroik ngebikin Agus minta maaf ke semua korban prankster-nya,
tapi hari ini aku menikmati prank tersebut?! Aku bukan orang munafique.
Aku bukan si Lanang yang
sok-sok religi tapi selingkuh juga ama yang gantengan dikit.
Total ada satu jam Agus nge-prank
Bang Husin. Akhirnya Bang Husin crot juga setelah disuruh
menggesek-gesekkan kontolnya ke batang pohon gaharu yang kebetulan ada di dekat
perkebunan kelapa sawit itu. (Jadi si Bang Husin disuruh jalan kaki telanjang
bulat ke area vegetasi non-kelapa sawit terdekat, lalu dia disuruh nge-fuck
pohon gaharu di sekitar, karena enggak mungkin dia nge-fuck pohon kelapa
sawit.) Bang Husin memeluk pohon gaharunya sambil menekan kontolnya ke batang
pohon, menjepitnya dengan tubuhnya, lalu dia menggoyang-goyang panggulnya,
tahu-tahu ….
CROOOT …! CROOOT …! CROOOT
…! CROOOT …!
Tubuhnya menggelinjang seraya
tetap memeluk pohon gaharu erat-erat. Matanya merem melek. Pantatnya bergetar
dan bervibrasi. Kakinya jinjit ke atas. Konyol banget, tapi somehow aku
sange total melihat adegan itu.
Setelah prank itu
selesai, semua kamera dimatikan dan data perekaman Bang Husin langsung
ditransfer ke cloud Edvan. Video prank itu dihapus dari perangkat
Agus. Tak ada jejak sama sekali.
Agus benar-benar sedih. Dia
melakukan sesi nge-prank satu jam, tetapi dia enggak akan pernah
memiliki video itu. Enggak bisa dia jual, enggak bisa dia monetisasi, enggak
bisa dia pake coli. Agus langsung duduk di sofa dan menunduk murung.
Wajahnya tampak nelangsa. Seperti seorang anak yang tak punya apa-apa, lalu
satu-satunya roti yang dia punya harus diambil oleh orang lain.
Aku terenyuh melihat wajah
sendu itu. Wajah orang yang tak berdaya … yang tak punya harapan ….
….
Ah, biarin aja, BITCH!
ENGGAK PEDULI GUE!
Dia aja kagak berempati sama
semua korbannya. Ngapain aku berempati ke dia, anjing?!
Aku mendengus dan mendesah
lega. Kami berhasil merusak Agus dari dari dalam. Aku melipat tangan di depan
dada, tapi masih belum berani beranjak dari sofa.
Kenapa? Karena kontolku
masih ngaceng, cuy!
Masih terbayang-bayang Bang
Husin nge-fuck pohon gaharu sampai crot!
Anjing! Kalau kusuruh Tino
nge-fuck pohon kayak gitu, mau enggak, ya?
“Dah,” bisik Edvan sambil
membereskan semua peralatannya. Edvan bergidik lagi sekali sebelum akhirnya
berdiri di sampingku. Sedari tadi, selama satu jam terakhir, dia merinding terus-menerus.
Edvan benar-benar enggak paham the beauty of pranking straight guy.
Mungkin karena dia straight
kali, ya. Di mana dia berpotensi menjadi korban.
Yang membuatku amaze
adalah fakta bahwa sampai hari ini, Romi tidak melakukan daya dan upaya untuk
nge-prank Edvan. Bisa aja padahal Romi menghubungi Agus lalu memintanya
nge-prank Edvan supaya coli dan lain sebagainya. Tapi setelah
dipikir-pikir, dengan segala kecanggihan teknologi yang Edvan miliki, kayaknya
nge-prank Edvan hanyalah mimpi.
“Oke, habis ini kita antar
kamu pulang,” ungkap Edvan sambil geleng-geleng kepala menatap Agus. “Barusan
kami rekam aksi kamu nge-prank orang. Video tersebut bakal saya simpan,
dan saya gunakan saat darurat. Maksudnya, kalau suatu hari kami nemuin kamu
masih ngelakuin perbuatan ini ….
“… saya bakal viralin video
nge-prank kamu, supaya kamu bisa diadili langsung secara sosial. Saya
kirim ke ibumu. Saya kirim ke tetangga-tetanggamu. Saya kirim ke Bupati Pati
supaya kamu enggak cuma dicoret dari KK, tapi dicoret di Dukcapil sana. Paham?”
ANJAY! Ngeri banget ancaman
Edvan!
Aku sampai membelalak pas
dengar itu. Jujur dari tadi aku belum begitu ngeh tujuan dia ngerekam aksi si
Agus ini apa. Aku kira dia pengin lihat Bang Husin tuh seseksi apa. (Enggak
mungkin juga, sih. Mengingat sepanjang sesi si Edvan cuma merinding geli sambil
bilang, “Anjing! Anjing! Anjing!”)
Agus mengangguk paham.
“Ingat, urusan kita belum
selesai sampai sini,” ungkap Edvan. “Saya bakal menghubungi kamu sekali lagi,
kalau kamu pengin data-data kamu ini aman.”
“Iya, Mas ….”
“Jangan diulang lagi, ya!”
kata Edvan, sembari kemudian melemparkan jaket Agus. “Ayo kita berangkat.”
Komentar
Posting Komentar