(PPT) Part 11 Bag. A




Hal paling mudah untuk menghukum Agus adalah melaporkannya ke polisi. Semua buktinya lengkap, baik itu sebelum, sedang, dan akan datang. Laporan soal prank ini juga sempat masuk ke polres, dari satu orang korban di Pasuruan, tetapi kepolisian enggak begitu “gercep” menanganinya. Agus bilang dia memang sempat bayar ke kepolisian agar hal ini enggak diusut.

Which means, sia-sia lapor polisi.

Aku dan Edvan sepakat untuk menanganinya secara langsung. Aku akan memberikan efek jera yang sustainable, sehingga Agus enggak akan melakukannya lagi di masa depan.

“Baaang …, lihatin keteknya dong, Baaang … seksi banget pasti ketek Abang ….”

“Lihatin ketek kamu juga, Dek. Aaahhh …. Abang udah mau keluar ….”

“Abang dulu, aaahhh …. Ayo, Bang. Satu tangannya ke atas aja. Satu lagi tetap ngocok.”

“Aaaaaahhh …. Dek! Maju lagi, Dek! Aaahhh …. Abang pengin lihat memekmu dari dekat, Dek!”

“Abang mainin ketek dulu, aaahhh ….”

Setelah kami menculiknya ke hotel, kami enggak langsung melepaskannya. Kami susah payah mencari cara menghukum Agus agar dia minta ampun, tapi tampaknya segala siksaan yang kami berikan, malah membuat Agus semakin bergairah. Perutnya ditonjok oleh Edvan, dia ngaceng. Nenennya kucubit dan kutarik sampe maju, precum-nya keluar. Mukanya digampar, pantatnya ditendang, dadanya dipukul, lengannya ditonjok, eh kontolnya malah ….

CROT! CROT! CROT! CROT! CROT!

Di situlah kami menyimpulkan bahwa menyiksa Agus secara fisik sia-sia. Dia harus disiksa secara internal. Secara gaslight. Secara gatekeep. Secara red flag. Seperti halnya mantanmu yang toxic itu, yang bikin kamu merasa bersalah padahal dia yang selingkuh. Nah, semacam itu. Agus harus dibikin frustrasi, stres, dan gila, atas apa yang diperbuatnya selama ini. Toh memang itulah yang dirasakan para korbannya. Setiap korban Agus pasti sudah dekat banget sama bunuh diri. Agus juga harus merasakan itu.

“Deeekkk …, coba kamu tusuk-tusuk memekmu pake jari, Dek ….”

“Boleh, Baaang …. Tapi aku pengin Abang tusuk-tusuk bool Abang juga pake jari ….”

“Sakit dong, Dek …?”

“Enggak kok, Bang. Pasti enak. Aku suka muka Abang kalau lagi keenakan. Ayo Bang, nungging ….”

“Enggak, ah! Ada-ada aja, Adek ini …. Memek Adek aja, lah ….”

“Enggak mau! Aku pengin lihat dulu Abang nungging, terus masukin jari Abang ke lubang Abang … huhuhu …. Kalau enggak, Adek enggak mau nyolok-nyolok memek Adek.”

“Yaaahhh …. Dek. Haduuuh … kayak gini?”

“Iya, kayak gitu, Bang! Aaaaahhh …. Lebih dekat lagi ke kamera, Bang. Adek pengin lihat bool Abang yang berbulu itu dari dekat. Uuuhhh …. Seksi banget bool Abang!”

“Adek suka enggak?”

“Suka banget, Baaang …. Enak enggak Bang?”

“Hm … ternyata enak ya Dek …. Aaaaaahhh ….”

“Memang enak, Baaang … ayo, colok lagi! Aaahhh ….”

Hal pertama yang kami lakukan tentunya membawa Agus ke rumahnya. Kami memaksanya masuk ke kamarnya, pura-puranya kawan SMA di depan ibunya Agus, lalu Edvan memindahkan semua data prank yang ada di laptop Agus. Baik itu video korban, maupun video perempuan yang digunakan untuk nge-prank. Edvan bahkan masuk ke cloud-nya Agus untuk menghapus data yang ada di sana juga.

Dini hari, setelah kami selesai melakukan itu semua, kami bawa lagi si Agus ke hotel untuk siksaan lanjutan. Aku mencoba membakar kontolnya pake korek, tapi Edvan langsung mematikannya dengan alasan ini non-smoking room. Kucoba masukkan gagang sikat toilet ke bool-nya, tapi ketahuan lagi oleh Edvan, sehingga sikat WC itu direbutnya. Terakhir aku mencoba menjahit kontol Agus ke biji pelernya, tetapi Edvan lagi-lagi menggagalkan rencanaku. Dia langsung merebut peralatan menjahit itu dan geleng-geleng kepala, “Dari mana sih lu dapatin jarum ama benang ini, anjir?!”

Intinya Edvan lemah. Edvan keren kayak James Bond, bisa berantem, bisa nge-hack, bisa tampil kece dengan baju hitam-hitam, tapi pas tawanan sudah tertangkap dia enggak punya keberanian buat nyiksa tawanannya. Hatinya terlalu Cinderella. Harusnya tetek si Agus kita garuk-garuk pake garpu sampai lepas.

Yang Edvan lakukan malah memaksa Agus membuat video permintaan maaf ke semua korbannya. Agus ditelanjangi, hanya pakai sempak saja. Kemudian wajahnya ditutupi masker. Dua lapis. Atas bawah. Jadi seluruh wajahnya tertutup masker buat Corona, yang ijo-ijo itu, cuma bagian mata ama mulut digunting. Di atas sofa, dia membacakan permintaan maaf yang sudah dibuatkan Edvan, yang intinya mengaku salah telah mem-prank para korbannya dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, atau menyebarkan videonya ke siapa pun lewat grup Telegram.

Video permintaan maaf itu dikirim ke semua korban Agus menggunakan nomor baru. Karena, nomor Agus diblok oleh setiap korban. Salah satu penerimanya adalah Tino. Yang langsung meneleponku untuk bilang, “Si bencong Lidya ngirim gue video, anjing!”

Aku hanya pura-pura enggak tahu, “Oh reallyyy …? Wow. Sangat random, ya. By the way, gue lagi penelitian ya, Bang. Entar gue telepon lagi. Gue lagi enggak di Pati atau kota mana pun di Jateng, ya. Gue di Semarang. Bye!

Aku senang karena Tino menerima video permintaan maaf itu, meski itu enggak cukup.

“Bang, coba sekarang sambil duduk Bang mainin bool-nya ….”

“Iya, Dek. Bentar. Aaahhh …. Kayak gini?”

“Iya, Bang. Ngangkang lagi, Baaang …. Aaahhh … Aduh, Abang ini bool-nya seksi banget, siiihhh …. Adek beneran pengin ke situ buat nikmatin bool Abang ….”

“Nanti Abang jemput ya, Dek. Sekarang Abang pengin crot dulu sama Adek. Aaahhh ….”

“Abang lihatin dooong lubangnya. Huhuhu …. Adek pengin lihat.”

“Kelihatan enggak, Dek?”

“Iya, kelihatan Baaang … Uuunch …. Seksi banget bool Abang. Colok terus, Bang ….”

“Iya, Dek. Ini Abang colok terus—”

“Enak enggak, Bang?”

“Enak banget, Dek …. Sekarang Adek colok memek Adek ….”

“Bentar iiihhh …. Adek pengin lihat Abang jilat ketek juga. Ayo, Baaang …. Sambil Abang tusuk bool, sambil jilat ketek Baaang ….”

“Adek juga tusuk memeknya dong ….”

“Iya nanti, kalau Abang udah jilat ketek juga. Aaaaaahhh ….”

“Aaaaaahhh ….”

“Enak enggak bau ketek Abang?”

“Enak, Dek …. Bau laki …. Aaahhh …. Nanti kalau ketemu, Adek jilatin ketek Abang, ya?”

Selain semua korbannya, video permintaan maaf juga dikirimkan di grup Telegram. Beserta pengumuman bahwa dia tidak akan membuat video semacam itu lagi, atau memberikan asupan sejenis. Reaksinya tentu beragam, tetapi kebanyakan soal refund. Khususnya mereka yang baru bergabung.

Terakhir, video permintaan maaf dikirimkan ke homo-homo biadab yang menggunakan jasa Agus untuk nge-prank cowok-cowok straight. Sebagian besar dari mereka langsung memblok nomor Agus. Mereka ketakutan nama mereka dibawa-bawa andai Agus terlibat masalah dengan kepolisian.

Untungnya Edvan sempat mencatat kontak semua homo itu. Dia akan mengawasi orang-orang ini, takutnya mereka macam-macam lagi.

Setelah video permintaan maaf itu dikirimkan, Edvan melakukan satu manuver terakhir. Yaitu memaksa Agus nge-prank satu orang cowok yang memang sejak kemarin belum kami kirimi video permintaan maaf Agus. Banci Pati itu Edvan suruh untuk melakukan aksinya menipu lelaki dari Lubuk Linggau, dari awal sampai akhir, tetapi bedanya ….

… Edvan merekamnya dari berbagai sisi.

Agus diminta nge-prank Bang Husin, cowok straight Lubuk Linggau petani kelapa sawit yang videonya sempat kulihat di kosan saat Edvan pertama kali menunjukkanku soal Agus. Dia dibiarkan menggunakan segala macam peralatannya untuk mengeksekusi Bang Husin. Bedanya, ada tiga kamera yang menyorot Agus melakukan penipuan itu. Dari atas, dari depan, dari belakang dengan lensa kamera menangkap layar ponsel yang menampilkan Bang Husin telanjang di perkebunan kelapa sawit. Lalu aku dan Edvan duduk di sofa, menontonnya melakukan semua itu hingga usai.

Ini sudah masuk menit keempat puluh sejak mereka video call sex. Yang namanya Bang Husin ini begonya enggak ada ampun. Bisa-bisanya dia tertipu dengan suara bencong si Agus dan video cewek coli yang gerakannya berulang-ulang (loop). Kok enggak ada gitu dia curiga, setiap dia minta si cewek ini ngapain, ceweknya malah merengek dan request Bang Husin ngelakuin hal lain, lalu Bang Husinnya lupa bahwa dia sebelumnya request cewek itu untuk ngapain.

Orang kalau udah sange emang bego sih, ya.

“Baaang … itu kelapa sawitnya ada lubangnya enggak, Baaang?”

“Yang mana Dek?”

“Itu yang di belakang Abang ….”

Bang Husin menoleh dan mengintip sedikit bongkahan berisi buah-buah kelapa sawit itu. “Enggak ada lah, Dek …. Ada-ada aja kamu ini ….”

“Adek pengin ngelihat Abang nganuin kelapa sawitnya ….”

“Apa?”

“Masukin Bang, titit Abang ke kelapa sawitnya, terus genjot …. Aaaaaahhh ….”

“Enggak bisa Dek ….”

“Ya lubangin dulu, Baaang …. Terus masukin titit Abaaang ….”

Aku bisa melihat Edvan bergidik ngeri di sampingku. Dia meringis melihat ke arah Agus. Kedua tangannya mencengkeram sandaran tangan sofa kuat-kuat. Seakan-akan dia sedang melihat hantu.

“Kenapa?” tanyaku, berbisik.

Edvan menoleh ngeri. “Se … serius … dia … dia nyuruh si Husin … nge-fuck ….”

“Kayak gini, Dek?” Bang Husin betulan nge-fuck bongkahan kelapa sawit yang isinya adalah biji-biji buah kecil itu, entah gimana caranya.

“AJIG!” umpat Edvan setengah tertahan. Dia menutup mulutnya dengan tangan, seperti ingin muntah, lalu memelotot. “Enggak waras, anjing!”

Aku hanya memutar bola mata melihat reaksi Edvan.

Aku sih malah ngaceng lihat Bang Husin nge-fuck kelapa sawit.

Enggak tahu, ya, makin sini aku makin sependapat sama fantasi seksual Agus. Meski apa yang Agus lakukan enggak bisa dibenarkan, tapi kamu akui aja, deh … melihat cowok straight nge-fuck kelapa sawit tuh seksi, tahu!

Bang Husin kulitnya eksotis. Badannya atletis. Orang pedalaman, literally straight, udah pasti manly, udah pasti bukan boti. Sedari tadi dia disuruh ngocok outdoor, di perkebunan kelapa sawit, di antara pepohonan yang bentukannya kayak buah nanas busuk. Kontolnya kurus, hitam, jembutnya lebat, dan terus-menerus dia kocokin sepanjang VCS. Mukanya? Wuih, ganteng-ganteng cowok kampung. Seksi mantul! Kalau ada Romi di sini, pasti Romi sudah merangkak ke layar hape, biar bisa langsung ada di lokasi perkebunan sawit itu, lalu ngewe dengan Bang Husin.

Aku sedari tadi diam bukan cuma ngawasin Agus beraksi. Tapi juga karena sange dan enggak mau ketahuan kontolku ngaceng di balik celana. Masa iya dari kemarin aku kayak SJW, sok-sok heroik ngebikin Agus minta maaf ke semua korban prankster-nya, tapi hari ini aku menikmati prank tersebut?! Aku bukan orang munafique.

Aku bukan si Lanang yang sok-sok religi tapi selingkuh juga ama yang gantengan dikit.

Total ada satu jam Agus nge-prank Bang Husin. Akhirnya Bang Husin crot juga setelah disuruh menggesek-gesekkan kontolnya ke batang pohon gaharu yang kebetulan ada di dekat perkebunan kelapa sawit itu. (Jadi si Bang Husin disuruh jalan kaki telanjang bulat ke area vegetasi non-kelapa sawit terdekat, lalu dia disuruh nge-fuck pohon gaharu di sekitar, karena enggak mungkin dia nge-fuck pohon kelapa sawit.) Bang Husin memeluk pohon gaharunya sambil menekan kontolnya ke batang pohon, menjepitnya dengan tubuhnya, lalu dia menggoyang-goyang panggulnya, tahu-tahu ….

CROOOT …! CROOOT …! CROOOT …! CROOOT …!

Tubuhnya menggelinjang seraya tetap memeluk pohon gaharu erat-erat. Matanya merem melek. Pantatnya bergetar dan bervibrasi. Kakinya jinjit ke atas. Konyol banget, tapi somehow aku sange total melihat adegan itu.

Setelah prank itu selesai, semua kamera dimatikan dan data perekaman Bang Husin langsung ditransfer ke cloud Edvan. Video prank itu dihapus dari perangkat Agus. Tak ada jejak sama sekali.

Agus benar-benar sedih. Dia melakukan sesi nge-prank satu jam, tetapi dia enggak akan pernah memiliki video itu. Enggak bisa dia jual, enggak bisa dia monetisasi, enggak bisa dia pake coli. Agus langsung duduk di sofa dan menunduk murung. Wajahnya tampak nelangsa. Seperti seorang anak yang tak punya apa-apa, lalu satu-satunya roti yang dia punya harus diambil oleh orang lain.

Aku terenyuh melihat wajah sendu itu. Wajah orang yang tak berdaya … yang tak punya harapan ….

….

Ah, biarin aja, BITCH!

ENGGAK PEDULI GUE!

Dia aja kagak berempati sama semua korbannya. Ngapain aku berempati ke dia, anjing?!

Aku mendengus dan mendesah lega. Kami berhasil merusak Agus dari dari dalam. Aku melipat tangan di depan dada, tapi masih belum berani beranjak dari sofa.

Kenapa? Karena kontolku masih ngaceng, cuy!

Masih terbayang-bayang Bang Husin nge-fuck pohon gaharu sampai crot!

Anjing! Kalau kusuruh Tino nge-fuck pohon kayak gitu, mau enggak, ya?

“Dah,” bisik Edvan sambil membereskan semua peralatannya. Edvan bergidik lagi sekali sebelum akhirnya berdiri di sampingku. Sedari tadi, selama satu jam terakhir, dia merinding terus-menerus. Edvan benar-benar enggak paham the beauty of pranking straight guy.

Mungkin karena dia straight kali, ya. Di mana dia berpotensi menjadi korban.

Yang membuatku amaze adalah fakta bahwa sampai hari ini, Romi tidak melakukan daya dan upaya untuk nge-prank Edvan. Bisa aja padahal Romi menghubungi Agus lalu memintanya nge-prank Edvan supaya coli dan lain sebagainya. Tapi setelah dipikir-pikir, dengan segala kecanggihan teknologi yang Edvan miliki, kayaknya nge-prank Edvan hanyalah mimpi.

“Oke, habis ini kita antar kamu pulang,” ungkap Edvan sambil geleng-geleng kepala menatap Agus. “Barusan kami rekam aksi kamu nge-prank orang. Video tersebut bakal saya simpan, dan saya gunakan saat darurat. Maksudnya, kalau suatu hari kami nemuin kamu masih ngelakuin perbuatan ini ….

“… saya bakal viralin video nge-prank kamu, supaya kamu bisa diadili langsung secara sosial. Saya kirim ke ibumu. Saya kirim ke tetangga-tetanggamu. Saya kirim ke Bupati Pati supaya kamu enggak cuma dicoret dari KK, tapi dicoret di Dukcapil sana. Paham?”

ANJAY! Ngeri banget ancaman Edvan!

Aku sampai membelalak pas dengar itu. Jujur dari tadi aku belum begitu ngeh tujuan dia ngerekam aksi si Agus ini apa. Aku kira dia pengin lihat Bang Husin tuh seseksi apa. (Enggak mungkin juga, sih. Mengingat sepanjang sesi si Edvan cuma merinding geli sambil bilang, “Anjing! Anjing! Anjing!”)

Agus mengangguk paham.

“Ingat, urusan kita belum selesai sampai sini,” ungkap Edvan. “Saya bakal menghubungi kamu sekali lagi, kalau kamu pengin data-data kamu ini aman.”

“Iya, Mas ….”

“Jangan diulang lagi, ya!” kata Edvan, sembari kemudian melemparkan jaket Agus. “Ayo kita berangkat.”


[ … ]


Komentar