Minggu malam, kami masih berada di Jawa Tengah. Setelah urusan dengan Agus selesai, kami check out dan kembali ke Semarang. Namun, kami enggak berhasil membeli tiket pesawat malam untuk kembali ke Jakarta. Karena ini akhir dari weekend, setiap penerbangan sudah penuh terisi. Terpaksa aku dan Edvan menginap semalam lagi.
Yang, sialnya, meski aku
sudah booking kamar untuk twin bed, ternyata yang available
hanyalah double bed. Ukuran king, sih, tapi kan cuma satu kasur
doang. Yang artinya aku harus satu kasur barengan Edvan!
“Gue di sofa aja,” kata
Edvan saat mendengar resepsionis meminta maaf karena semua kamar yang twin
bed diisi oleh tamu-tamu acara dari kementerian.
Kugampar belakang kepalanya.
“Enggak usah lebai! Kita tidur sekasur aja. Udah, gapapa, Mbak. Kita ambil itu
aja. Gue udah capek, pengin tidur!”
“Baik, kami siapkan dulu
kamarnya ya, Pak. Mohon ditunggu.”
Yang lebai sebenarnya aku.
Lebai di dalam hati.
Sumpah, anjir, sampai hari
ini aku enggak bisa lupa sama kejadian dicium Edvan dua hari lalu. Masih kerasa
di bibir gimana cowok ganteng wibu itu memagut bibirku, terus melesakkan
lidahnya ke mulutku. Berasa aku diberikan kasih sayang dan cinta yang melimpah.
Tapi ya udah, lah. Toh ini
cuma tidur sebentar aja. Besok pagi kami check out jam 5, mengejar
pesawat jam 7 ke Jakarta. Enggak akan terjadi apa-apa selama menginap malam
ini. Semoga!
“Oke, lu duluan aja ke
kamar. Gue masih nunggu yang dari rental mobil. Entar kalau udah beres, gue
nyusul ke atas. Kuncinya dua, kan?”
Aku mengangguk sembari
menyerahkan satu kunci kepada Edvan, lalu aku berbalik dan naik ke kamarku
dengan segera. Sesampainya di kamar aku langsung meletakkan semua barang dan
pergi ke kamar mandi. Aku mandi, bersih-bersih, mengenakan sempak untuk tidur, dan
kaus lekbong terakhir yang masih bersih. Aku memanjat ke atas tempat tidur,
masuk ke bawah selimut, lalu menyelimuti diriku sampai ke leher. Sengaja aku
memunggungi sisa bagian tempat tidur, untuk memanifestasikan pemikiran bahwa
aku enggak akan macam-macam dengan Edvan.
Enggak akan!
Aku berhasil tertidur
sebelum Edvan kembali ke kamar. Tapi karena aku tidur terlalu awal, tengah
malam aku terbangun. Aku menggigil. AC-nya dingin sekali. Aku menoleh ke
samping, Edvan sudah berbaring di sebelahku. Dia tidur juga. Entah sih, tidur
atau enggak. Yang pasti matanya merem. Semua lampu di kamar ini sudah
dimatikan. Edvan berada di bawah selimut, tapi dia enggak pake atasan.
Dia telanjang dada.
BAGOOOEEESSS …!!!
SENGAJA LU YEEEEEE …!!!
Udah tahu sebelah lu homo,
udah tahu elu tuh ganteng, sengaja tidur sekasur kagak pake baju!
Next apa, hm?! Elu enggak pake sempak juga?!
Sambil mendengus kesal, aku
mencoba mengangkat selimut di atas tubuh Edvan, untuk memastikan apakah dia
memakai sempak atau tid—
ANJING!
ENGGAK PAKE!
BANGSAT!
ANDA BERHARAP APA SIH,
BUNG?! Tidur sebelahan ama homo enggak pake apa-apa?!
Aku belum lihat sepenuhnya
karena kamar ini gelap. Tapi kan aku tadi tertidur, jadi pupilku sudah adaptasi
dengan kegelapan. Begitu kuangkat selimut itu, aku bisa melihat siluet perut
rata six pack, lalu jembut hitam yang seksi, dan entah jempol entah apa
yang ada setelah jembut itu.
Aku langsung sesak napas
karena sange. Pengin rasanya kugampar ini orang gara-gara tidur
telanjang bulat begini. Tapi kasihan kalau dia kebangun setelah menyetir jauh
banget dari Pati ke Semarang.
Jadi aku cuma bisa rebahan
lagi sambil menarik selimutku, dan menghadapi rasa menggigil ini sembari
mengenyahkan pikiran yang bukan-bukan soal Edvan.
….
Enggak bisa. Suhu ruangan
terlalu dingin.
Aku bangkit untuk mengambil remote
AC, lalu kunaikkan suhunya sampai 26 derajat.
Aku kembali tidur.
….
Masih dingin.
Aku masih menggigil.
Kumatikan saja AC-nya.
….
Lima menit kemudian, aku
kepanasan.
Badanku keringatan karena
gerah, aku bahkan menarik turun selimut, sampai-sampai aku hampir menyingkap
perut seksi Edvan.
Buru-buru kunaikkan lagi
selimut sembari menyalakan lagi AC. Lebih baik aku menggigil saja daripada
selimut ini tersingkap.
….
Lima menit kemudian, aku
betulan menggigil lagi.
Enggak bisa.
Ini terlalu dingin.
Bolak-balik aku menyalakan
dan mematikan AC. Yang ujung-ujungnya membuatku enggak bisa tidur. Emang kurang
ajar ini Semarang. Kalau enggak pake AC panasnya minta ampun. Tapi AC-nya
dingin keterlaluan!
Fuck you!
“Nyalain aja AC-nya.”
Tiba-tiba kudengar Edvan berkata seperti itu di tengah rasa frustrasiku. Dia
sudah berbalik menghadapku. Senyumnya lebar dan ganteng banget. Kayak di
anime-anime. “Nanti gue peluk, biar angetnya pas.”
Aku mengerutkan alis.
“Enggak!” Lalu aku mendengus salah tingkah. “Elu bugil soalnya.”
“Justru harus skin to
skin, anjir, biar angetnya pas. Tapi kalau elo enggak setuju, ya udah
terserah. Silakan aja semalaman nyalain sama matiin AC sampe kita check out
entar.”
Aku mendengus lagi. Kesal.
Yang Edvan bilang memang ada
benarnya. Heat transfer antar manusia tuh work best kalau skin
to skin. Makanya para homo seneng banget cuddling. Tapi kan ….
Tapi kan ….
Enggak bisakah Edvan ini
buruk rupa atau gimana? Supaya aku enggak tertarik secara seksual ke dia?
Berasa berkhianat, tahu
enggak?
Entah berkhianat ke siapa.
Mengingat ama Tino pun enggak ada perjanjian hubungan apa-apa. Tapi kan ….
Harusnya kan ….
Harusnya aku memperjuangkan
Tino, menjadi calon istri yang baik, benar, dan berbudi pekerti. Bukan
membiarkan lelaki tampan lain merengkuhku di balik selimut. (Temannya Tino
pula!) Bukan membiarkan bibirku dicium oleh Edvan dengan penuh perasaan. Aku
sudah cukup setia, anjir, enggak pernah main dating apps lagi sejak di-ebrut
sama Tino malam itu. Paling banter kontolku di-sepong Romi, dalam usaha
melihat grup Telegram-nya. Tapi selain itu enggak ada lagi, anjir. Aku enggak
ketemuan sama siapa-siapa, termasuk enggak balasin lagi semua DM di Twitter
yang masuk gara-gara dulu aku pernah posting fotoku di menfess.
Harusnya Edvan ini, sebagai
cowok straight yang tahu bahwa aku homo, dan bahwa aku ….
….
Kata-kataku enggak bisa
selesai, Cuy.
Padahal itu kata-kata dalam
hati doang buat kamu.
Sebab ….
….
Sebab Edvan tiba-tiba
ngerangkulku.
“Lama anjir lu mikirnya!”
semprot Edvan sambil mendekat ke tubuhku, lalu tiba-tiba memelukku. “Balik
sono!”
Aku dipaksa berbalik
menghadap ke tepi tempat tidur di sisiku, lalu satu lengan Edvan yang kurus
berotot itu menyusup di bawah leherku, lalu tubuh telanjang Edvan yang hangat
menempel ke tubuhku, lalu satu lengannya yang lain melingkari tubuhku, dan tungkainya
juga, dan kakinya menindihku, intinya ….
… intinya aku dipeluk dari
belakang.
Napas Edvan menerpa
tengkukku dengan hangat.
Membuatku geli dan keenakan.
Aku enggak berdaya.
“Kalau gue sampai hamil, gue
kejar lu ke ujung dunia buat tanggung jawab,” bisikku, sok-sok bercanda untuk
menepis suasana hati yang berdebar-debar sange.
“Enggak bakal. Ngaceng
aja kagak. Nih!” DUK! Edvan menghantamkan perut bawahnya ke pantatku
seperti ingin menunjukkan bahwa tidak ada kontol ngaceng di bawah sana.
Memang enggak ada. Kontol
itu enggak ngaceng.
Tapi aku jadi bisa merasakan
jendolan kontol Edvan, ANJING!
Kan akunya yang jadi ngaceng.
“Udah lu jangan banyak
bacot,” bisik Edvan sambil merapikan lagi selimut hingga menutupi bahu kami,
lalu memosisikan tidur kami dengan nyaman.
Sangat-sangat nyaman.
“Gue enggak akan boong ke
elu,” kataku pelan. “Gue sange.”
“Gue enggak,” jawab Edvan,
sambil merengkuh badanku lebih erat.
“Oke.”
“Makanya gue peluk elo dari
belakang, supaya gue enggak kena tembak elu.”
“Enggak mungkin.” Aku
mendengus. “Gue … gue boti.”
“Enggak guna ternyata kontol
lu—”
GEPLAK! Kupukul tangan Edvan yang sedang melingkari tubuhku.
“AW!” Edvan meringis. “Gue
perkosa beneran, lu!”
Aku memutar bola mata. Lalu
gara-gara kata perkosa keluar, aku jadi teringat lagi tentang isu yang sedang
kami selesaikan. “By the way, kita belum bahas next-nya mau
gimana.”
“Soal apa?”
“Soal dia yang nge-prank
Tino.”
“Lu mau bahas sekarang?”
Edvan tiba-tiba mencubit putingku hingga aku melonjak terkejut dan keenakan.
“Argh!” Aku melotot. Tanpa
sengaja pantatku mundur dan mendesak selangkangan Edvan. Lalu aku membeku saat
pantatku menempel dan bisa merasakan kontol itu.
“Kita mesti berangkat jam
setengah enam, anjir. Tidur, ah! Jangan ngajak diskusi!” Edvan pun menggigit
tengkukku dengan gemas.
Bukannya kesakitan, aku
malah ….
….
Aku malah keenakan.
Jadi untuk menepis pemikiran
bukan-bukan itu, aku tetap mendiskusikannya. “Tapi kita bakal balas dendam,
kan?”
“Iyeee …. Entar gue bantuin
elu. Sekarang tidur, gih!”
“Tapi apa rencana lu?”
Edvan berdecak sambil
garuk-garuk kepala. Agak kesal kayaknya karena aku malah ngajak ngobrol tengah
malam begini. “Tahu …! Elu mau balas dendam kayak gimana?”
Aku mengangkat bahu. “Balas
dendam dengan bikin dia ngerasain apa yang Tino rasain?”
“Oke.” Edvan mendekapku lagi
lebih erat. “Udah, ya? Tidur sekarang.”
“Tapi gimana caranya?”
“Gue udah molor! Bye!”
bisik Edvan, kemudian pura-pura mendengkur. “Zzzzzz ….”
“Dia pasti aware sama
video call sex. Kalau kita coba nge-prank dia ….”
“Zzzzzz ….”
“… dia bakalan berhati-hati.
Gue yakin dia enggak akan mau VCS sama cewek yang kepalanya aja enggak
kelihatan kayak videonya si Agus itu ….”
“Zzzzzz ….”
“Satu-satunya jalan adalah
dengan menyusun prank yang lebih nyata ….”
“Zzzzzz ….”
“Kita pakai cewek betulan,
yang suaranya suara cewek—bukan suara bencong kayak si Agus. Si ceweknya ada.
Ketemu langsung sama dia ….”
“Zzzzzz ….”
“… kita bikin dia jatuh hati
sama cewek ini. Bikin hubungan tersebut terasa nyata. Kalau perlu, mereka nge-date
juga. Real date! Ke bioskop, ke restoran, ke taman, bikin dia percaya
kalau cewek itu emang mau sama dia ….”
“Zzzzzz ….”
“… lalu suatu hari, kita
bikin si cewek ini ngajakin VCS ama dia. Lalu kita rekam. Kita bakal ada di
ruangan yang sama ama si cewek ini selama VCS. Kita atur supaya dia ngikutin
perintah-perintah kita lewat si cewek itu ….”
“Zzzzzz ….”
“… kita bikin dia mamerin
bool dia, atau jilat ketek dia, mainin tetek, atau nungging di sofa kayak
Gandhi Fernando—lu tahu kan Gandhi Fernando? Kita harus bikin dia kelihatan
kayak boti banget, supaya kalau netizen mau bully, dia
bakal di-bully sebagai boti!”
“Zzzzzz ….”
“Lalu setelah VCS itu,
rekamannya kita sebarkan di medsos, dan kita bikin viral. Lebih viral dari
videonya Tino. Pokoknya saking viralnya, video Tino terlupakan begitu aja! Gue
punya temen di Lambe Turah yang bisa bantu up-up berita kayak begitu.
Jadi video dia enggak cuma viral di kalangan homo juga. Tapi non-homo mesti
tahu telanjangnya dia, dan memalukannya dia coli sambil nungging, sambil
pamer bool, sambil jilat ketek, sampe mangap-mangap kayak ikan juga deh,
simulasi nyepong kontol ….”
“….”
“… dan di titik itu dia
bakal menyesali perbuatannya ke Tino. Dia bakal ngerasa malu, takut, panik,
pengin bunuh diri, dia bakal dipecat dari kerjaannya, dia bakal matiin lampu
buat hemat listrik, dan dia bakal makan mi ditemenin lilin!”
“….”
“Gimana? Bagus enggak ide
gue?”
“….”
Aku tersenyum lebar. “Oke,
kita eksekusi kayak gitu, ya?”
“….”
Jantungku berdebar-debar,
tetapi aku senang. “Thanks,” kataku.
Di dua pertanyaan
terakhirku, Edvan menjawab, “Iya.” Tapi bukan melalui kata-kata.
Melalui apa?
….
Melalui kontolnya.
Pertama, Edvan enggak
benar-benar tidur.
Kedua, setelah Edvan
menghantam pantatku tadi, lalu aku malah diam menempelkan pantatku di area
kontolnya …, kontol itu ngaceng.
Kontol itu menegang keras.
Menempel dengan sangat
mengganjal di antara tubuh kami.
Edvan lalu pura-pura ngorok,
“Zzzzzz …,” padahal dia mendengarkan dengan saksama setiap rencanaku ke
sosok jahat yang ngeorder prank lewat Agus kemarin. Kemudian, saat aku
menanyakan dua pertanyaan itu, kontolnya mengentak sekali. Mencolek pantatku.
Seakan-akan berkata, “Iya.”
Sekarang, aku membeku dalam
gelap. Dipeluk oleh lelaki telanjang yang menarik, yang kontol ngaceng-nya
menempel ke pantatku.
Aku tak tahu apa aku bisa
tidur atau tidak malam ini.
Aku tak tahu apakah akan ada
sesuatu yang terjadi … dini hari ini.
[ … ]
Hingga hari Rabu berikutnya,
di Jakarta, aku belum bertemu Edvan lagi.
Sejak kami tiba di Kosan
Hamid, kami berpisah dan berjanji akan saling mengabari. Namun hingga Rabu
siang, aku masih belum melihat batang hidungnya.
(Padahal batang kontolnya
masih kerasa di pantatku.)
Kebetulan Senin dan Selasa
aku harus ke kampus seharian, sehingga aku belum bisa menangani urusan balas
dendam ini. Rabu siang, aku bermaksud memulai saja eksekusi balas dendamku,
meskipun aku belum membahasnya lebih lanjut bersama Edvan. Gapapa. Curi start
untuk ngumpul-ngumpulin data.
Habis ini, aku akan mencari
perempuan yang ikhlas dibayar untuk menggoda orang ini lalu membuatnya VCS,
supaya nanti videonya bisa kuviralkan.
“Bro?” Tino tiba-tiba
menyapaku di ambang pintu kamar, tepat ketika aku sedang membereskan
peralatanku ke dalam tas. “Lu mau ke mana?”
“Nge-gym,” jawabku,
sambil mondar-mandir mencari botol minum.
Tino mengangkat alisnya.
“Setelah gue enggak di sana lagi, elu malah jadi rajin nge-gym, ya.”
“Biar enggak charity
ke tempat gym lu, Bang. Bayar mulu tiap bulan, tapi kagak gue pake.
Rugi. Kalau udah abis masa aktifnya, enggak akan gue perpanjang juga, kok.” Aku
mencari-cari botol minumku di rak tumbler Starbucks-ku.
“Tapi setelah selesai di
situ, lanjutin di gym lainnya ya, Bro. Harus tetap bergaya hidup sehat,”
kata Tino.
“Kalau enggak ada elunya di
tempat gym itu, enggak mau gue.” Aku berjongkok mencari di kumpulan
sepatuku.
“Mau diantar ke sana?”
“Enggak usah. Abang makan
siang aja. Gue tadi bikin toppoki, tapi belum abis. Ada di belakang,
Bang.”
“Oh, oke.” Tino
manggut-manggut paham. “By the way, gue kagak lolos yang pramugara itu.”
Aku berhenti mencari botol
minumku. Kutoleh ke arah pintu, kulihat raut sedih menghiasi wajah Tino. Karena
iba, aku langsung berdiri dan menghambur ke pelukannya. Kudekap dia erat-erat.
“Ngapain lu, Bro?” Tino
berusaha agak menjauh. Kaget juga.
“Yang sabar ya, Bang! Entar
dapat kerjaan, kok. Gue jamin!”
“I … iya. Gue … juga sabar.”
Aku mendongak. “Terus kenapa
mukanya sedih gini, anjir?! Kan gue jadi ikutan sedih.”
“Gue … gue ….” Tino terkekeh
malu. “Gue lapar. Barangkali elo punya sisa Indomie yang belum elo—”
PLAK! Gue tampol juga itu personal trainer.
“Lu kayak ke siapa aja, sih
Bang!” Aku mendengus bete. “Kan udah gue bilang, itu ada toppoki di
sana. Abisin aja!”
“Iya …. Nanti gue abisin.
Nunggu elo pergi dulu.”
“Kenapa nunggu gue pergi
dulu?”
“Supaya gue … supaya gue
bisa masak nasi juga di sini.” Tino cengar-cengir lebar dengan malu. “Pake
beras elo.”
“Ish! Udahlah, enggak
usah sungkan-sungkan gitu! Kalau mau makan, makan aja. Lagian isi kulkas gue
penuh gitu, enggak mungkin gue ngabisin sendiri.” Aku kembali lagi ke rak-rak
di mana aku seharusnya menyimpan botol minumku.
“Itu ada di atas kasur,
Bro,” kata Tino tiba-tiba.
“Hah?”
“Lu nyari botol minum, kan?”
Aku menoleh ke atas tempat
tidurku.
ANJING! Botolku sedari tadi
ada di situ.
Dan aku baru ingat, memang
aku sebelumnya sudah menyiapkan botol minumku sebelum mandi. Kusimpan di atas
kasur supaya enggak lupa. Jadi ngapain aku mondar-mandir ke sana kemari nyari
botol ini, anjeng!
“Enggak kok,” kataku,
berkelit. Karena aku sedang ada di depan kaus kaki dan pakaian dalam, kutarik
satu benda keluar dan mengaku itu saja yang sedang kucari. “Gue justru lagi
nyari ini!”
Yang kutarik keluar adalah thong-ku.
Sejenis celana dalam berbentu G-string yang hanya berbentuk tali dan
kain tipis menutupi area kontol. Ini hadiah dari teman-temanku waktu aku ulang
tahun. Ceritanya sebagai candaan. Dan aku juga enggak pernah pakai benda ini.
“Gue … gue mau pake ini
sambil nge-gym!” kataku sambil menjejalkannya ke duffel bag.
Setelahnya aku juga menjejalkan botol minum itu. Rasanya malu banget, sih.
Kenapa aku enggak ngaku aja bahwa aku memang mencari botol minum itu!
“Oke.” Tino mengangkat bahu.
“Ya udah … gue … gue
berangkat dulu. Entar elo kunci aja kamar gue, ya! Bye!” Dengan panik
dan malu aku berlari kabur dari kamarku sendiri. Tentunya aku meninju lengan
Tino dengan lembut, seperti cowok straight kalau pamitan kayak gimana.
(Kalau sama Enzo atau Romi sih aku pasti cipika-cipiki.)
Aku berlari ke mobil dan
melaju pergi ke tempat gym.
Di tempat gym, hal
pertama yang kulakukan adalah menghampiri meja marketing.
“Halo! Aku dapat email,
katanya aku udah enggak di-assign lagi sama PT yang namanya Tino, ya?”
sapaku.
“Halo, Kak! Atas nama siapa?
Aku cek dulu, ya.”
“Leo,” jawabku, sambil
menyerahkan kartu membership-ku sehingga dia bisa mengeceknya.
“Iya, Kak. Kak Tino sudah
enggak station di sini lagi,” kata si marketing sok ramah.
Senyumnya juga dibuat-buat. “Tapi enggak usah khawatir, kita udah assign
Kakak ke PT yang lain kok, Kak. Namanya Mansur—”
“Enggak-enggak-enggak, aku
enggak mau Mansur,” kataku tegas. “Aku mau yang lain.”
“Oh? Yang lain? Kita enggak
bisa assign based on request, Kak. Semuanya udah ada di sistem—”
“Halah, PT-ku yang kemarin,
si Tino itu cerita klien-kliennya pada milih dia. Kok aku enggak bisa?”
“Iya, sekarang udah enggak
bisa, Kak. Semuanya sudah by system.”
“Ya udah aku mau ganti
tempat gym aja, deh. Berhenti berlangganan di sini gimana caranya, Kak?”
Marketing itu mulai panik.
“Kakak …, Kakak mau berhenti berlangganan?”
“Iya. Gapapa deh kena
penalti. Yang penting CC-ku enggak di-charge lagi buat di tempat gym
ini. Habisnya mengecewakan, sih. Yang lain bisa pilih PT, tapi kok aku enggak?”
Si marketing mulai
kutak-ketik di laptopnya, kayak mencoba mencari info atau apa gitu. Atau
mungkin biar kelihatan pintar aja ngetik-ngetik di situ. Kepalanya kayaknya
lagi cari cara supaya aku tetap bertahan di sini.
“Kak Mansur ini sering
menang body contest,” katanya kemudian.
“Tapi kan aku enggak mau
dia.” Aku memutar bola mata. “Ya udah, Kak, kasih tahu aja cara stop
membership gimana?”
Karena terancam, dia pun
akhirnya menyerah. “Kakak emangnya mau ama siapa?”
Aku mengedarkan pandanganku
ke tempat gym itu. Kebetulan orang yang kuinginkan ada di sana. “Itu,”
kataku, menunjuk seorang lelaki tinggi besar, ganteng, badan muscle,
wajah manly yang sanggup bikin setiap boti meleleh. Di permukaan
kulit dia yang kekar itu kelihatan urat-uratnya—saking kerennya.
“Oh, baik, bisa, Kak,” kata marketing
itu dengan mudahnya. “Tapi Kakak lanjut membership, ya?”
“Iya. Asal aku sama dia,
ya!”
Marketing itu kutak-ketik lagi dan akhirnya mengatakan, “Oke. Udah aku bantu assign
ke Kak Randi, ya. Tapi belum bisa efektif sekarang, karena Kak Randi harus
lihat dan pelajari dulu program workout-nya Kakak sama Kak Tino kemarin.
Palingan besok atau lusa Kak Randi ngehubungin Kakak buat arrange
jadwal.”
“Enggak masalah.” Aku
tersenyum lebar. “Tapi sudah ganti ke dia, kan?”
“Sudah.”
“Oke kalau gitu. Makasih ya,
Kak.”
“Sama-sama ….”
Aku pun berdiri dan berjalan
ke area gym, tepatnya menuju ruang loker. Sambil berjalan, sambil aku
menatap Randi yang sedang membantu seorang perempuan latihan squat.
Halo Randi, sapaku dalam hati. Mimpi burukmu sudah hadir.
Aku mengubah PT-ku dari
Mansur ke kamu, bukan karena kamu badannya paling oke, mukamu paling manly, dan auramu paling kuli di sini.
Tapi karena kamu sudah
menghancurkan hidup lelaki tersayangku.
Jadi sekarang aku akan balas
menghancurkan hidupmu.
Aku tahu, kamulah yang
menghubungi Agus untuk nge-prank Tino, lalu
disebarkan ke semua homo.
Aku tahu, kamulah yang ingin
Tino hengkang dari sini, atau seenggaknya dimutasi ke Bekasi.
Kamu sebenci itu sama Tino.
Dan aku enggak akan
mengampunimu mulai hari ini.
Dengan ini, kunyatakan,
operasi PRANK PERSONAL TRAINER …, dimulai!
Komentar
Posting Komentar