(PPT) Part 11 Bag. B




Minggu malam, kami masih berada di Jawa Tengah. Setelah urusan dengan Agus selesai, kami check out dan kembali ke Semarang. Namun, kami enggak berhasil membeli tiket pesawat malam untuk kembali ke Jakarta. Karena ini akhir dari weekend, setiap penerbangan sudah penuh terisi. Terpaksa aku dan Edvan menginap semalam lagi.

Yang, sialnya, meski aku sudah booking kamar untuk twin bed, ternyata yang available hanyalah double bed. Ukuran king, sih, tapi kan cuma satu kasur doang. Yang artinya aku harus satu kasur barengan Edvan!

“Gue di sofa aja,” kata Edvan saat mendengar resepsionis meminta maaf karena semua kamar yang twin bed diisi oleh tamu-tamu acara dari kementerian.

Kugampar belakang kepalanya. “Enggak usah lebai! Kita tidur sekasur aja. Udah, gapapa, Mbak. Kita ambil itu aja. Gue udah capek, pengin tidur!”

“Baik, kami siapkan dulu kamarnya ya, Pak. Mohon ditunggu.”

Yang lebai sebenarnya aku.

Lebai di dalam hati.

Sumpah, anjir, sampai hari ini aku enggak bisa lupa sama kejadian dicium Edvan dua hari lalu. Masih kerasa di bibir gimana cowok ganteng wibu itu memagut bibirku, terus melesakkan lidahnya ke mulutku. Berasa aku diberikan kasih sayang dan cinta yang melimpah.

Tapi ya udah, lah. Toh ini cuma tidur sebentar aja. Besok pagi kami check out jam 5, mengejar pesawat jam 7 ke Jakarta. Enggak akan terjadi apa-apa selama menginap malam ini. Semoga!

“Oke, lu duluan aja ke kamar. Gue masih nunggu yang dari rental mobil. Entar kalau udah beres, gue nyusul ke atas. Kuncinya dua, kan?”

Aku mengangguk sembari menyerahkan satu kunci kepada Edvan, lalu aku berbalik dan naik ke kamarku dengan segera. Sesampainya di kamar aku langsung meletakkan semua barang dan pergi ke kamar mandi. Aku mandi, bersih-bersih, mengenakan sempak untuk tidur, dan kaus lekbong terakhir yang masih bersih. Aku memanjat ke atas tempat tidur, masuk ke bawah selimut, lalu menyelimuti diriku sampai ke leher. Sengaja aku memunggungi sisa bagian tempat tidur, untuk memanifestasikan pemikiran bahwa aku enggak akan macam-macam dengan Edvan.

Enggak akan!

Aku berhasil tertidur sebelum Edvan kembali ke kamar. Tapi karena aku tidur terlalu awal, tengah malam aku terbangun. Aku menggigil. AC-nya dingin sekali. Aku menoleh ke samping, Edvan sudah berbaring di sebelahku. Dia tidur juga. Entah sih, tidur atau enggak. Yang pasti matanya merem. Semua lampu di kamar ini sudah dimatikan. Edvan berada di bawah selimut, tapi dia enggak pake atasan.

Dia telanjang dada.

BAGOOOEEESSS …!!!

SENGAJA LU YEEEEEE …!!!

Udah tahu sebelah lu homo, udah tahu elu tuh ganteng, sengaja tidur sekasur kagak pake baju!

Next apa, hm?! Elu enggak pake sempak juga?!

Sambil mendengus kesal, aku mencoba mengangkat selimut di atas tubuh Edvan, untuk memastikan apakah dia memakai sempak atau tid—

ANJING!

ENGGAK PAKE!

BANGSAT!

ANDA BERHARAP APA SIH, BUNG?! Tidur sebelahan ama homo enggak pake apa-apa?!

Aku belum lihat sepenuhnya karena kamar ini gelap. Tapi kan aku tadi tertidur, jadi pupilku sudah adaptasi dengan kegelapan. Begitu kuangkat selimut itu, aku bisa melihat siluet perut rata six pack, lalu jembut hitam yang seksi, dan entah jempol entah apa yang ada setelah jembut itu.

Aku langsung sesak napas karena sange. Pengin rasanya kugampar ini orang gara-gara tidur telanjang bulat begini. Tapi kasihan kalau dia kebangun setelah menyetir jauh banget dari Pati ke Semarang.

Jadi aku cuma bisa rebahan lagi sambil menarik selimutku, dan menghadapi rasa menggigil ini sembari mengenyahkan pikiran yang bukan-bukan soal Edvan.

….

Enggak bisa. Suhu ruangan terlalu dingin.

Aku bangkit untuk mengambil remote AC, lalu kunaikkan suhunya sampai 26 derajat.

Aku kembali tidur.

….

Masih dingin.

Aku masih menggigil.

Kumatikan saja AC-nya.

….

Lima menit kemudian, aku kepanasan.

Badanku keringatan karena gerah, aku bahkan menarik turun selimut, sampai-sampai aku hampir menyingkap perut seksi Edvan.

Buru-buru kunaikkan lagi selimut sembari menyalakan lagi AC. Lebih baik aku menggigil saja daripada selimut ini tersingkap.

….

Lima menit kemudian, aku betulan menggigil lagi.

Enggak bisa.

Ini terlalu dingin.

Bolak-balik aku menyalakan dan mematikan AC. Yang ujung-ujungnya membuatku enggak bisa tidur. Emang kurang ajar ini Semarang. Kalau enggak pake AC panasnya minta ampun. Tapi AC-nya dingin keterlaluan!

Fuck you!

“Nyalain aja AC-nya.” Tiba-tiba kudengar Edvan berkata seperti itu di tengah rasa frustrasiku. Dia sudah berbalik menghadapku. Senyumnya lebar dan ganteng banget. Kayak di anime-anime. “Nanti gue peluk, biar angetnya pas.”

Aku mengerutkan alis. “Enggak!” Lalu aku mendengus salah tingkah. “Elu bugil soalnya.”

“Justru harus skin to skin, anjir, biar angetnya pas. Tapi kalau elo enggak setuju, ya udah terserah. Silakan aja semalaman nyalain sama matiin AC sampe kita check out entar.”

Aku mendengus lagi. Kesal.

Yang Edvan bilang memang ada benarnya. Heat transfer antar manusia tuh work best kalau skin to skin. Makanya para homo seneng banget cuddling. Tapi kan ….

Tapi kan ….

Enggak bisakah Edvan ini buruk rupa atau gimana? Supaya aku enggak tertarik secara seksual ke dia?

Berasa berkhianat, tahu enggak?

Entah berkhianat ke siapa. Mengingat ama Tino pun enggak ada perjanjian hubungan apa-apa. Tapi kan ….

Harusnya kan ….

Harusnya aku memperjuangkan Tino, menjadi calon istri yang baik, benar, dan berbudi pekerti. Bukan membiarkan lelaki tampan lain merengkuhku di balik selimut. (Temannya Tino pula!) Bukan membiarkan bibirku dicium oleh Edvan dengan penuh perasaan. Aku sudah cukup setia, anjir, enggak pernah main dating apps lagi sejak di-ebrut sama Tino malam itu. Paling banter kontolku di-sepong Romi, dalam usaha melihat grup Telegram-nya. Tapi selain itu enggak ada lagi, anjir. Aku enggak ketemuan sama siapa-siapa, termasuk enggak balasin lagi semua DM di Twitter yang masuk gara-gara dulu aku pernah posting fotoku di menfess.

Harusnya Edvan ini, sebagai cowok straight yang tahu bahwa aku homo, dan bahwa aku ….

….

Kata-kataku enggak bisa selesai, Cuy.

Padahal itu kata-kata dalam hati doang buat kamu.

Sebab ….

….

Sebab Edvan tiba-tiba ngerangkulku.

“Lama anjir lu mikirnya!” semprot Edvan sambil mendekat ke tubuhku, lalu tiba-tiba memelukku. “Balik sono!”

Aku dipaksa berbalik menghadap ke tepi tempat tidur di sisiku, lalu satu lengan Edvan yang kurus berotot itu menyusup di bawah leherku, lalu tubuh telanjang Edvan yang hangat menempel ke tubuhku, lalu satu lengannya yang lain melingkari tubuhku, dan tungkainya juga, dan kakinya menindihku, intinya ….

… intinya aku dipeluk dari belakang.

Napas Edvan menerpa tengkukku dengan hangat.

Membuatku geli dan keenakan.

Aku enggak berdaya.

“Kalau gue sampai hamil, gue kejar lu ke ujung dunia buat tanggung jawab,” bisikku, sok-sok bercanda untuk menepis suasana hati yang berdebar-debar sange.

“Enggak bakal. Ngaceng aja kagak. Nih!” DUK! Edvan menghantamkan perut bawahnya ke pantatku seperti ingin menunjukkan bahwa tidak ada kontol ngaceng di bawah sana.

Memang enggak ada. Kontol itu enggak ngaceng.

Tapi aku jadi bisa merasakan jendolan kontol Edvan, ANJING!

Kan akunya yang jadi ngaceng.

“Udah lu jangan banyak bacot,” bisik Edvan sambil merapikan lagi selimut hingga menutupi bahu kami, lalu memosisikan tidur kami dengan nyaman.

Sangat-sangat nyaman.

“Gue enggak akan boong ke elu,” kataku pelan. “Gue sange.”

“Gue enggak,” jawab Edvan, sambil merengkuh badanku lebih erat.

“Oke.”

“Makanya gue peluk elo dari belakang, supaya gue enggak kena tembak elu.”

“Enggak mungkin.” Aku mendengus. “Gue … gue boti.”

“Enggak guna ternyata kontol lu—”

GEPLAK! Kupukul tangan Edvan yang sedang melingkari tubuhku.

“AW!” Edvan meringis. “Gue perkosa beneran, lu!”

Aku memutar bola mata. Lalu gara-gara kata perkosa keluar, aku jadi teringat lagi tentang isu yang sedang kami selesaikan. “By the way, kita belum bahas next-nya mau gimana.”

“Soal apa?”

“Soal dia yang nge-prank Tino.”

“Lu mau bahas sekarang?” Edvan tiba-tiba mencubit putingku hingga aku melonjak terkejut dan keenakan.

“Argh!” Aku melotot. Tanpa sengaja pantatku mundur dan mendesak selangkangan Edvan. Lalu aku membeku saat pantatku menempel dan bisa merasakan kontol itu.

“Kita mesti berangkat jam setengah enam, anjir. Tidur, ah! Jangan ngajak diskusi!” Edvan pun menggigit tengkukku dengan gemas.

Bukannya kesakitan, aku malah ….

….

Aku malah keenakan.

Jadi untuk menepis pemikiran bukan-bukan itu, aku tetap mendiskusikannya. “Tapi kita bakal balas dendam, kan?”

“Iyeee …. Entar gue bantuin elu. Sekarang tidur, gih!”

“Tapi apa rencana lu?”

Edvan berdecak sambil garuk-garuk kepala. Agak kesal kayaknya karena aku malah ngajak ngobrol tengah malam begini. “Tahu …! Elu mau balas dendam kayak gimana?”

Aku mengangkat bahu. “Balas dendam dengan bikin dia ngerasain apa yang Tino rasain?”

“Oke.” Edvan mendekapku lagi lebih erat. “Udah, ya? Tidur sekarang.”

“Tapi gimana caranya?”

“Gue udah molor! Bye!” bisik Edvan, kemudian pura-pura mendengkur. “Zzzzzz ….

“Dia pasti aware sama video call sex. Kalau kita coba nge-prank dia ….”

Zzzzzz ….

“… dia bakalan berhati-hati. Gue yakin dia enggak akan mau VCS sama cewek yang kepalanya aja enggak kelihatan kayak videonya si Agus itu ….”

Zzzzzz ….

“Satu-satunya jalan adalah dengan menyusun prank yang lebih nyata ….”

Zzzzzz ….

“Kita pakai cewek betulan, yang suaranya suara cewek—bukan suara bencong kayak si Agus. Si ceweknya ada. Ketemu langsung sama dia ….”

Zzzzzz ….

“… kita bikin dia jatuh hati sama cewek ini. Bikin hubungan tersebut terasa nyata. Kalau perlu, mereka nge-date juga. Real date! Ke bioskop, ke restoran, ke taman, bikin dia percaya kalau cewek itu emang mau sama dia ….”

Zzzzzz ….

“… lalu suatu hari, kita bikin si cewek ini ngajakin VCS ama dia. Lalu kita rekam. Kita bakal ada di ruangan yang sama ama si cewek ini selama VCS. Kita atur supaya dia ngikutin perintah-perintah kita lewat si cewek itu ….”

Zzzzzz ….

“… kita bikin dia mamerin bool dia, atau jilat ketek dia, mainin tetek, atau nungging di sofa kayak Gandhi Fernando—lu tahu kan Gandhi Fernando? Kita harus bikin dia kelihatan kayak boti banget, supaya kalau netizen mau bully, dia bakal di-bully sebagai boti!

Zzzzzz ….

“Lalu setelah VCS itu, rekamannya kita sebarkan di medsos, dan kita bikin viral. Lebih viral dari videonya Tino. Pokoknya saking viralnya, video Tino terlupakan begitu aja! Gue punya temen di Lambe Turah yang bisa bantu up-up berita kayak begitu. Jadi video dia enggak cuma viral di kalangan homo juga. Tapi non-homo mesti tahu telanjangnya dia, dan memalukannya dia coli sambil nungging, sambil pamer bool, sambil jilat ketek, sampe mangap-mangap kayak ikan juga deh, simulasi nyepong kontol ….”

“….”

“… dan di titik itu dia bakal menyesali perbuatannya ke Tino. Dia bakal ngerasa malu, takut, panik, pengin bunuh diri, dia bakal dipecat dari kerjaannya, dia bakal matiin lampu buat hemat listrik, dan dia bakal makan mi ditemenin lilin!”

“….”

“Gimana? Bagus enggak ide gue?”

“….”

Aku tersenyum lebar. “Oke, kita eksekusi kayak gitu, ya?”

“….”

Jantungku berdebar-debar, tetapi aku senang. “Thanks,” kataku.

Di dua pertanyaan terakhirku, Edvan menjawab, “Iya.” Tapi bukan melalui kata-kata.

Melalui apa?

….

Melalui kontolnya.

Pertama, Edvan enggak benar-benar tidur.

Kedua, setelah Edvan menghantam pantatku tadi, lalu aku malah diam menempelkan pantatku di area kontolnya …, kontol itu ngaceng.

Kontol itu menegang keras.

Menempel dengan sangat mengganjal di antara tubuh kami.

Edvan lalu pura-pura ngorok, “Zzzzzz …,” padahal dia mendengarkan dengan saksama setiap rencanaku ke sosok jahat yang ngeorder prank lewat Agus kemarin. Kemudian, saat aku menanyakan dua pertanyaan itu, kontolnya mengentak sekali. Mencolek pantatku. Seakan-akan berkata, “Iya.

Sekarang, aku membeku dalam gelap. Dipeluk oleh lelaki telanjang yang menarik, yang kontol ngaceng-nya menempel ke pantatku.

Aku tak tahu apa aku bisa tidur atau tidak malam ini.

Aku tak tahu apakah akan ada sesuatu yang terjadi … dini hari ini.


[ … ]


Hingga hari Rabu berikutnya, di Jakarta, aku belum bertemu Edvan lagi.

Sejak kami tiba di Kosan Hamid, kami berpisah dan berjanji akan saling mengabari. Namun hingga Rabu siang, aku masih belum melihat batang hidungnya.

(Padahal batang kontolnya masih kerasa di pantatku.)

Kebetulan Senin dan Selasa aku harus ke kampus seharian, sehingga aku belum bisa menangani urusan balas dendam ini. Rabu siang, aku bermaksud memulai saja eksekusi balas dendamku, meskipun aku belum membahasnya lebih lanjut bersama Edvan. Gapapa. Curi start untuk ngumpul-ngumpulin data.

Habis ini, aku akan mencari perempuan yang ikhlas dibayar untuk menggoda orang ini lalu membuatnya VCS, supaya nanti videonya bisa kuviralkan.

“Bro?” Tino tiba-tiba menyapaku di ambang pintu kamar, tepat ketika aku sedang membereskan peralatanku ke dalam tas. “Lu mau ke mana?”

“Nge-gym,” jawabku, sambil mondar-mandir mencari botol minum.

Tino mengangkat alisnya. “Setelah gue enggak di sana lagi, elu malah jadi rajin nge-gym, ya.”

“Biar enggak charity ke tempat gym lu, Bang. Bayar mulu tiap bulan, tapi kagak gue pake. Rugi. Kalau udah abis masa aktifnya, enggak akan gue perpanjang juga, kok.” Aku mencari-cari botol minumku di rak tumbler Starbucks-ku.

“Tapi setelah selesai di situ, lanjutin di gym lainnya ya, Bro. Harus tetap bergaya hidup sehat,” kata Tino.

“Kalau enggak ada elunya di tempat gym itu, enggak mau gue.” Aku berjongkok mencari di kumpulan sepatuku.

“Mau diantar ke sana?”

“Enggak usah. Abang makan siang aja. Gue tadi bikin toppoki, tapi belum abis. Ada di belakang, Bang.”

“Oh, oke.” Tino manggut-manggut paham. “By the way, gue kagak lolos yang pramugara itu.”

Aku berhenti mencari botol minumku. Kutoleh ke arah pintu, kulihat raut sedih menghiasi wajah Tino. Karena iba, aku langsung berdiri dan menghambur ke pelukannya. Kudekap dia erat-erat.

“Ngapain lu, Bro?” Tino berusaha agak menjauh. Kaget juga.

“Yang sabar ya, Bang! Entar dapat kerjaan, kok. Gue jamin!”

“I … iya. Gue … juga sabar.”

Aku mendongak. “Terus kenapa mukanya sedih gini, anjir?! Kan gue jadi ikutan sedih.”

“Gue … gue ….” Tino terkekeh malu. “Gue lapar. Barangkali elo punya sisa Indomie yang belum elo—”

PLAK! Gue tampol juga itu personal trainer.

“Lu kayak ke siapa aja, sih Bang!” Aku mendengus bete. “Kan udah gue bilang, itu ada toppoki di sana. Abisin aja!”

“Iya …. Nanti gue abisin. Nunggu elo pergi dulu.”

“Kenapa nunggu gue pergi dulu?”

“Supaya gue … supaya gue bisa masak nasi juga di sini.” Tino cengar-cengir lebar dengan malu. “Pake beras elo.”

Ish! Udahlah, enggak usah sungkan-sungkan gitu! Kalau mau makan, makan aja. Lagian isi kulkas gue penuh gitu, enggak mungkin gue ngabisin sendiri.” Aku kembali lagi ke rak-rak di mana aku seharusnya menyimpan botol minumku.

“Itu ada di atas kasur, Bro,” kata Tino tiba-tiba.

“Hah?”

“Lu nyari botol minum, kan?”

Aku menoleh ke atas tempat tidurku.

ANJING! Botolku sedari tadi ada di situ.

Dan aku baru ingat, memang aku sebelumnya sudah menyiapkan botol minumku sebelum mandi. Kusimpan di atas kasur supaya enggak lupa. Jadi ngapain aku mondar-mandir ke sana kemari nyari botol ini, anjeng!

“Enggak kok,” kataku, berkelit. Karena aku sedang ada di depan kaus kaki dan pakaian dalam, kutarik satu benda keluar dan mengaku itu saja yang sedang kucari. “Gue justru lagi nyari ini!”

Yang kutarik keluar adalah thong-ku. Sejenis celana dalam berbentu G-string yang hanya berbentuk tali dan kain tipis menutupi area kontol. Ini hadiah dari teman-temanku waktu aku ulang tahun. Ceritanya sebagai candaan. Dan aku juga enggak pernah pakai benda ini.

“Gue … gue mau pake ini sambil nge-gym!” kataku sambil menjejalkannya ke duffel bag. Setelahnya aku juga menjejalkan botol minum itu. Rasanya malu banget, sih. Kenapa aku enggak ngaku aja bahwa aku memang mencari botol minum itu!

“Oke.” Tino mengangkat bahu.

“Ya udah … gue … gue berangkat dulu. Entar elo kunci aja kamar gue, ya! Bye!” Dengan panik dan malu aku berlari kabur dari kamarku sendiri. Tentunya aku meninju lengan Tino dengan lembut, seperti cowok straight kalau pamitan kayak gimana. (Kalau sama Enzo atau Romi sih aku pasti cipika-cipiki.)

Aku berlari ke mobil dan melaju pergi ke tempat gym.

Di tempat gym, hal pertama yang kulakukan adalah menghampiri meja marketing.

“Halo! Aku dapat email, katanya aku udah enggak di-assign lagi sama PT yang namanya Tino, ya?” sapaku.

“Halo, Kak! Atas nama siapa? Aku cek dulu, ya.”

“Leo,” jawabku, sambil menyerahkan kartu membership-ku sehingga dia bisa mengeceknya.

“Iya, Kak. Kak Tino sudah enggak station di sini lagi,” kata si marketing sok ramah. Senyumnya juga dibuat-buat. “Tapi enggak usah khawatir, kita udah assign Kakak ke PT yang lain kok, Kak. Namanya Mansur—”

“Enggak-enggak-enggak, aku enggak mau Mansur,” kataku tegas. “Aku mau yang lain.”

“Oh? Yang lain? Kita enggak bisa assign based on request, Kak. Semuanya udah ada di sistem—”

“Halah, PT-ku yang kemarin, si Tino itu cerita klien-kliennya pada milih dia. Kok aku enggak bisa?”

“Iya, sekarang udah enggak bisa, Kak. Semuanya sudah by system.”

“Ya udah aku mau ganti tempat gym aja, deh. Berhenti berlangganan di sini gimana caranya, Kak?”

Marketing itu mulai panik. “Kakak …, Kakak mau berhenti berlangganan?”

“Iya. Gapapa deh kena penalti. Yang penting CC-ku enggak di-charge lagi buat di tempat gym ini. Habisnya mengecewakan, sih. Yang lain bisa pilih PT, tapi kok aku enggak?”

Si marketing mulai kutak-ketik di laptopnya, kayak mencoba mencari info atau apa gitu. Atau mungkin biar kelihatan pintar aja ngetik-ngetik di situ. Kepalanya kayaknya lagi cari cara supaya aku tetap bertahan di sini.

“Kak Mansur ini sering menang body contest,” katanya kemudian.

“Tapi kan aku enggak mau dia.” Aku memutar bola mata. “Ya udah, Kak, kasih tahu aja cara stop membership gimana?”

Karena terancam, dia pun akhirnya menyerah. “Kakak emangnya mau ama siapa?”

Aku mengedarkan pandanganku ke tempat gym itu. Kebetulan orang yang kuinginkan ada di sana. “Itu,” kataku, menunjuk seorang lelaki tinggi besar, ganteng, badan muscle, wajah manly yang sanggup bikin setiap boti meleleh. Di permukaan kulit dia yang kekar itu kelihatan urat-uratnya—saking kerennya.

“Oh, baik, bisa, Kak,” kata marketing itu dengan mudahnya. “Tapi Kakak lanjut membership, ya?”

“Iya. Asal aku sama dia, ya!”

Marketing itu kutak-ketik lagi dan akhirnya mengatakan, “Oke. Udah aku bantu assign ke Kak Randi, ya. Tapi belum bisa efektif sekarang, karena Kak Randi harus lihat dan pelajari dulu program workout-nya Kakak sama Kak Tino kemarin. Palingan besok atau lusa Kak Randi ngehubungin Kakak buat arrange jadwal.”

“Enggak masalah.” Aku tersenyum lebar. “Tapi sudah ganti ke dia, kan?”

“Sudah.”

“Oke kalau gitu. Makasih ya, Kak.”

“Sama-sama ….”

Aku pun berdiri dan berjalan ke area gym, tepatnya menuju ruang loker. Sambil berjalan, sambil aku menatap Randi yang sedang membantu seorang perempuan latihan squat.

Halo Randi, sapaku dalam hati. Mimpi burukmu sudah hadir.

Aku mengubah PT-ku dari Mansur ke kamu, bukan karena kamu badannya paling oke, mukamu paling manly, dan auramu paling kuli di sini.

Tapi karena kamu sudah menghancurkan hidup lelaki tersayangku.

Jadi sekarang aku akan balas menghancurkan hidupmu.

Aku tahu, kamulah yang menghubungi Agus untuk nge-prank Tino, lalu disebarkan ke semua homo.

Aku tahu, kamulah yang ingin Tino hengkang dari sini, atau seenggaknya dimutasi ke Bekasi.

Kamu sebenci itu sama Tino.

Dan aku enggak akan mengampunimu mulai hari ini.

Dengan ini, kunyatakan, operasi PRANK PERSONAL TRAINER …, dimulai!


[ … ]


Komentar