Setidaknya, Tino berusaha berdiri di atas kakinya sendiri. Dia enggak jadi cowok toxic yang bisanya cuma minjam duit, tapi enggak ada usaha buat memperbaiki apa yang sudah terjadi. Semua dia lakukan dalam kondisi masih sakit hati. Anjir. Ini belum tiga minggu sejak video itu viral di Twitter (dan masih viral kulihat satu menitannya di-repost homo-homo Indonesia sebelum diarahkan ke grup Telegram yang bukan milik Agus). Tapi, Tino sudah melangkah ke depan untuk menjadikan hidupnya lebih baik lagi.
Padahal menurutku, misal dia
masih kacau dan kena mental breakdown, aku bakal paham banget. Aku bakal
paham misal dia butuh waktu sebulan dua bulan untuk healing dari trauma,
sebelum akhirnya back on track.
Tapi apa daya, Tino bukan
Gen Z kayak aku. Dia milenial yang ketika hidupnya hancur, langsung cari cara
untuk survive ke depannya. Kalau aku ada di posisi Tino sih, aku bakal
cuti dari hidup ini selama satu atau dua tahun. Healing di Maldives
hingga kulitku kecokelatan dan orang-orang enggak kenal lagi aku siapa, jadi
kalau aku balik ke Indonesia, enggak bakal ada yang bisa menuduhku sebagai
lelaki yang coli kena prank itu. “Kulit gue eksotis, ya! Itu
bukan gue!” Kira-kira begitu caraku ngeles.
Minggu pagi itu aku enggak
punya jadwal nge-gym bareng Randi. In fact, aku belum ketemu
Randi. Kami sudah Whatsapp-an untuk menentukan jadwal. Pertemuan pertama kami
baru minggu depan karena assignment-nya kepadaku dilakukan mendadak.
Jadi, aku rebahan seharian menonton Netflix, belum turun dari kasur sama sekali
sejak mataku terbuka dari tadi, belum minum, belum cuci muka, belum sikat gigi
atau apalah, cuma leha-leha aja setelah merevisi skripsiku bareng teman
sepanjang Jumat dan Sabtu.
Tok! Tok! Tok!
“Bro?”
Tino mengetuk pintu kamarku.
Aku menoleh sambil mem-pause
tontonanku. Keningku berkerut karena tumben-tumbenan dia ngetuk pintu kayak mau
minta sumbangan. Setelah aku turun dan membuka pintu, aku melihat Tino berdiri
canggung di depan kamarku, hanya mengenakan handuk saja. Sisanya telanjang. Jujurly,
ini mengingatkan pada “malam itu” ketika Tino meminjam proyektor. Bedanya ini
siang hari aja. Tapi handuknya, cara melilit handuknya, muka ganteng dan badan muscle-nya,
semua sama.
Tino mendongak kecil,
meringis malu, kemudian menyapaku, “Assalamu alaikum, Bro,” katanya, dengan
kedua tangan rapat di depan dada. “Salam sejahtera, shalom, om
swastiastu, namo buddhaya, salam kebajikan—”
“Apaan sih, anjir?!”
Kudorong dada bidangnya yang muscle dan keras-keras empuk itu. “Kenapa
harus kayak Jokowi sih mau nyapa doang?”
“Yaaa … biar sopan,”
katanya, garuk-garuk kepala. Dan itu bikin ketek seksinya terekspos. “Elu … elu
lagi sibuk, enggak?”
“Lagi nonton.” Aku mengamati
handuk Tino. “Abang kenapa handukan doang depan kamar gue?”
Tino terkekeh canggung. “Anu
… elo … elo gimana kabarnya?”
“Apa sih nanya-nanya kabar?
Kayak yang mau minjam duit aja!”
Tino tiba-tiba membelalak
panik. Dia celingukan ke koridor kosan seperti takut kata-kataku terdengar,
lalu dia menghambur masuk, mendorong ke dalam, dan menutup pintu. “Ssst
… jangan keras-keras,” bisiknya panik.
Aku kaget dong. “Kenapa, sih
Bang? Mau minjam proyektor lagi?”
“Bukan, anjing!” Tino
mengatur napasnya yang memburu, sambil duduk di atas kursiku. Aku kembali ke
atas tempat tidur, duduk di tepinya mengarah ke Tino. Dari bukaan paha Tino,
kelihatan jelas bijinya menyembul sedikit di bawah sana. Dia enggak pake
apa-apa di balik handuk itu. “Gue … gue emang mau pinjam duit, Bro. Lu ada
enggak?”
“Terus kenapa harus handukan
doang?” Aku berkacak pinggang.
“Ya biar elo ngasih, lah.
Kalau gue bugil, elo biasanya terdistraksi. Siapa tahu habis elo minjemin, elo
lupa pernah minjemin.”
“ANJING!” Kulempar satu
bantalku ke arah Tino. Bantal itu mendarat di perutnya dan membuat lilitan
handuknya lepas. Tino langsung menyambar kain handuk itu dan melilitnya lagi
sebelum semua yang ada di dalam itu terekspos.
Kayak yang gue belum pernah
lihat aja, anjing!
“Gue … gue mesti bayar
kosan,” ungkapnya, dengan suara pelan. “Gue ada sih duitnya. Tapi kalau gue
bayarin, langsung abis, hehe.”
“Ya udah, gapapa. Entar aku
yang transfer ke Pak Hamidnya—”
“Tapi gue belum tahu bisa
bayar kapan,” sela Tino jujur, sambil menggosok tengkuknya dan menundukkan
kepala.
Aku enggak suka pemandangan
ini, sumpah. Ini bukan Tino yang aku kenal empat tahun terakhir. Tino yang
kutahu orangnya positif, ceria, canda mulu, gokil mulu, nge-bully aku
mulu, energinya tumpah-tumpah. Enggak pernah aku lihat dia seinferior ini.
Duduk kayak tetangga yang beneran butuh duit, lalu minjem duit ke tetangganya
yang kaya, dan bertingkah sangat sopan demi pinjamannya cair. Enggak. Aku
enggak suka pemandangan ini. Kalau mau pinjam pun, tinggal ngomong aja. Aku
percaya sama dia.
He trusted me with his dick. Aku bakal percayakan uangku ke dia, kok.
“Gue enggak suka suasana
kayak gini, Bang,” ungkapku jujur. “Udah, ih, biasa aja. Kayak biasa aja Abang
dulu gimana. Kalau mau pinjam, ngomong biasa aja. Jangan sok-sok ngerendah
gini.”
“Yaaa … lumayan juga, Bro,
yang mau gue pinjam kan—”
“Iya, tahu, kosan kita
mahal. Tapi ya gapapa. Gue paham kok kondisi Abang. Enggak perlu jadi awkward
gini, Bang.”
“Gue kagak enak aja ama elu,
Bro.” Tino menghela napas. “Gue beneran belum tahu bisa ganti kapan. Kemaren
gue ada panggilan interview, tapi kayaknya gagal lagi gue.”
“Kok yakin gagal, Bang?”
“Mereka nanya cara bikin
baklava gimana, terus mereka ketawa,” ungkap Tino sambil melorotkan bahunya
dengan pasrah.
Dari hadirnya pertanyaan
soal baklava aja aku udah curiga yang enggak bener, nih. Tapi aku tertarik apa
yang bikin interviewer-nya ketawa. “Abang jawab apa?”
“Yaaa … gue jawab … rebus
minya pake kuah kaldu, terus tambahin lada sama pala belakangan, pas minya udah
ditiriskan.”
Aku sampai mematung beberapa
saat, mencoba memproses jawaban itu. “Emang Abang pikir baklava itu apa?”
“Bakmi lada dan pala,
bukan?”
Duk! Aku menepuk jidatku. Tepukannya sangat keras sampai-sampai menimbulkan
suara dan aku terjatuh ke atas tempat tidur. Aku tertawa juga. Ngakak banget. Perutku
sampai sakit.
“HAHAHAHA …!”
“Anjing, elu juga ketawa!”
Tino melemparkan bantal yang tadi ke arahku. “Apa sih yang salah?”
“Elu ngelamar di mana, sih
Baaang …? Hahaha …!”
“Di pastry shop yang
di Panglima Polim. Gue niatnya ngelamar buat pastry chef.”
“ANJING! Hahaha …! Lu masak
aja jarang, sok-sokan jadi pastry chef! HAHAHA …!” Aku masih
berguling-guling di atas tempat tidur sambil memegang perutku sendiri. “Bakmi
aja … HAHAHA …! Bakmi aja bukan termasuk pastry, anjing! HAHAHA …!”
“Yaaa … namanya juga usaha,
Bro.” Tino mendengus kesal sambil menggaruk lagi kepalanya. “Udah anjing jangan
ketawa terus!”
“Enggak mau! Gue belum
selesai! HAHAHAHAHAHA …!”
Tino memalingkan mukanya
dengan bete ke arah lain. Tapi sampe dua menit kemudian, aku masih belum
selesai ketawa. Kesal kayaknya Tino. Dia langsung berdiri dan melompat ke atas
kasur, mendekapku erat dari belakang, sambil satu tangannya membekapku.
“Udah! Udah! Berhenti
ngakaknya, anjing!” katanya.
“HMMMPPPHHH …! HMMMPPPHHH
…!” Itu suaraku ketawa, ya Cuy. Itu bukan suaraku tahan napas gara-gara
keenakan ditusuk kontol. Habisnya mulutku bener-bener dibekap kuat sama
tangannya Tino yang gede, jadinya ketawaku enggak bisa keluar. Tapi sumpah,
bahuku masih berguncang, perutku masih bergetar, gara-gara ketawa.
Aku menendang-nendang,
mencoba membebaskan diri. Tapi dekapan Tino lebih erat. Satu tungkai Tino juga
menindih pahaku. Alhasil, aku malah menendang handuknya, ngebikin handuk itu
lepas, dan kini Tino mendekapku dalam kondisi telanjang bulat.
“UDAAAHHH …!” jerit Tino di
telingaku. Deket banget. “Gue perkosa juga lu kalau masih ngetawain gue!”
YEEE …! Yang bener aja kalau
ngasih ancaman! Diperkosa ama elu mah doorprize, anjing!
Bukan ancaman! Semua boti pasti ngantre diperkosa ama elu, BANG!
Pada akhirnya aku berhenti
ngakak, sih. Capek juga ngakak terus. Tino enggak mau melepaskan dekapannya
sampai aku berhenti berontak dan ludahku kayaknya udah merembes keluar dari
tangan Tino yang membekap mulutku. Kupukul pantat Tino berkali-kali.
Plak! Plak! Plak! Anggap aja lagi spanking, yes.
“Iyaaa …, iya …!” kataku di
tengah bekapan itu. Tino melepaskan bekapannya dan aku terbatuk-batuk. “Uhhuk
…! Uhhuuukkk …!”
Kami terdiam selama beberapa
saat. Tino melepaskan dekapannya. Namun satu lengannya masih tertindih leherku.
Jadi secara teknis, aku masih setengah di-cuddle sama Tino. Aku enggak
berani menoleh ke belakang karena aku tahu Tino lagi telanjang di sana. Enggak
lucu kalau barusan aku ngakak ngetawain Tino yang enggak tahu baklava, lalu
setelahnya aku sange lihat kontol dia. Kayak enggak etis, gitu.
Setelah terdiam dalam sunyi
selama sekitar tiga menit, Tino akhirnya bicara lagi. “Gue enggak tahu lagi
harus nyari kerja gimana. Yang gue tahu … gue cuma pengin berusaha. Gue kagak
mau berhenti.”
“I know, Bang,”
bisikku. Mundur-mundur dikit agar punggungku nempel ke badan kekar Tino.
Ujung-ujungnya Tino memelukku lagi dengan hangat. “Sorry gue ngakak.
Abisnya Abang lucu banget sih soal itu.”
“Ya maaf …. Gue emang bukan
orang pintar kayak elo.”
“Abang pintar, kok. Cuma
enggak pintar bikin pastry aja.” Aku terkekeh lagi dalam pelukan itu.
Tino menggeplak kepalaku. “Ya udah, sih. Yang sabar aja,” kataku kemudian.
“Tetap berjuang dan berusaha.”
“Iya, Bro …. Gue enggak akan
berhenti berusaha sampe dapat kerja. Senin Selasa Rebo, sebenernya gue ada
panggilan interview.”
“Hah? Berurutan?” Aku
menoleh ke belakang, setengah melihat siluet telanjang itu.
Tino mengangguk. “Tapi gue
mulai keabisan baju buat interview. Semua kemeja ama celana gue mesti
dicuci.”
“Mau pakai baju gue?”
“Emang bakal ada yang muat?”
“Enggak, sih. Pantat elo
gede, Bang. Enggak tepos kayak gue.”
“Gue ada celana katun
cokelat, yang jarang gue pake. Warna krem, lah. Bukan cokelat. Tapi celananya
gede. Gombrang. Dikasih orang. Gue kagak ada sabuk yang bagus buat dipakein ama
celana itu.”
“Dih! Tumben-tumbenan
mikirin matching-matching outfit!” Aku menepuk pantat Tino lagi. Plak!
“Ya gara-gara elu juga,
mesti bagus penampilan kita, biar di-notice ama perusahaannya.”
“Ya emang iya, sih ….” Aku
membelai-belai lengan Tino. “Aku enggak punya sabuk cokelat atau krem …. Oh!
Ada, sih. Tapi jangan, deh. Sabuknya ada blink-blink-nya. Sabuk homo.”
“Gue WhatsApp si Edvan,
sabuk dia item semua.”
Mendengar nama itu,
jantungku berdegup sekali. Mendadak aja aku panik, kayak aku punya sebuah
skandal rahasia besar yang mengancam nyawaku. Jadi aku enggak komen soal itu.
Malah, saking salting-nya,
dan enggak mau komen soal Edvan, aku langsung mengalihkan pembicaraan. “Kalau
kemeja … enggak ada sama sekali?”
“Yang putih abis. Kotor
semua, dipake wawancara kemaren.”
“Punyaku rata-rata slimfit,
anjir,” kataku sambil mengingat-ingat. “Kalau dipake di badan elu, Bang …,
belahan dada elu, sama six pack elu, langsung keekspos ke mana-mana.”
“Enggak sekalian bagian
keteknya bolong, biar bulu ketek gue keekspos juga?”
PLAK! Ku-spanking lagi itu pantat dengan sebal. “Anjing, lu!”
“Yeee … kan elu suka ketek!”
Tino terkekeh.
“ENGGAK!” sergahku enggak
mau ngaku.
Malu soalnya kalau ketahuan
suka ketek.
Meski secara teknis Tino
tahu betul aku suka ketek.
“Oh!” Aku tiba-tiba
teringat. “Kayaknya si Enzo punya kemeja yang gede banget, deh.”
“Kok, bisa?”
“First, dia enggak
punya sense of fashion yang mumpuni. Jadi dia kadang beli baju tuh di
Shopee dan enggak mikirin banget soal fitting ke badannya. Second,
dia pernah beli baju gitu lewat Tiktok, dia pikir ukuran dia L karena dia ngerasa
agak gendutan. Pas bajunya datang eh kegedean di badan dia. Enggak pernah
dipake. Pernah ditawarin ke gue, sih. Gratis. Tapi ngapain juga? Gue enggak
akan pake juga.”
“Bisa gue pinjam enggak,
tuh?”
Aku membayangkan dulu kemeja
putih itu membungkus tubuh Tino. “Kayaknya bakal ngepas di elu, Bang. But
better than my shirt, sih.”
“Oke gue ke sana.” Tino pun
bangkit dan mengambil lagi handuknya yang terjatuh ke atas lantai. Aku menoleh
ke arahnya dan masih sempat melihat pantat seksi yang glutes-nya di-train
itu nungging ketika Tino mengambil handuk. Lalu visual yang teramat indah
nan surgawi itu tertutup oleh lilitan handuk. “Semoga dia lagi di kamarnya,
ya!”
“Wait! Elu mau
handukan gini datang ke si Enzo?!”
Tino membeku sejenak,
menatap penampilannya. “I … ya?”
“Kan gue udah bilang dia
homo! Ngelihat elu tampil begini ngetok pintu kamarnya sih dia bisa baper juga
ama elu! Pake baju!”
“Ck! Iyaaa ….” Tino
menghela napas sambil berjalan ke pintu. “Gue ganti baju. Entar gue langsung
turun ke dia dan—”
“Enggak, enggak, enggak!”
sergahku tiba-tiba. “Gue aja yang ke si Enzo. Gue lebih tahu soal kemeja itu
daripada elo. Kalau elo tiba-tiba datang dan nanyain kemeja itu, bisa pingsan
dia.”
“Ya udah …. Gapapa lu gue
mintain tolong buat minjem ke si Enzo?”
“Gapapa!” Aku turun dari
tempat tidurku dan berjalan juga ke pintu. “Mending Abang ke kamarnya Mas
Akbar, deh. Kayaknya beberapa kali dia pake celana cokelat gitu kalau berangkat
kerja. Siapa tahu dia punya sabuk warna cokelat juga.”
Tino mengingat-ingat. “Iya,
kayaknya dia pernah pake celana cokelat. Jadi …? Gue yang ke Akbar, elu yang ke
Enzo?”
“Iya!” tegasku. “Sebab kalau
Abang ke Enzo, bisa runyam hati dia, Bang. Kegoda dia sama keseksian elu.”
“Tapi elu bilang si Akbar
homo juga. Bisa jadi dia kan—”
“Enggak. Enggak akan dia mah,”
kataku yakin, sambil menggelengkan kepala. “Dia mah top. Sukanya boti-boti
kurus nan lemah kayak si Lanang. Elu bukan tipenya. Tapi tetep, pake baju
dulu!”
“Iyaaa ….”
Ketika Tino ke kamarnya
untuk memakai baju, aku langsung keluar menuju kosan Enzo. Tapi dasar aku kepo,
sengaja aku lewat kamarnya Lanang untuk ngecek apakah Akbar ada di sana, atau
Lanang doang yang di situ? Kan bahaya juga cuy kalau si Tino ke kamar mereka,
lalu hanya ada Lanang yang demen kontol ketemu sama Tino yang perfect.
Di depan taman aja itu boti malu-malu kucing ngelihatin Tino olahraga.
Beberapa meter sebelum aku
mencapai kamar Lanang, tiba-tiba Lanang keluar dari kamarnya. Setengah berlari
seperti terburu-buru. Satu tangannya di telinga, memegang handphone,
karena dia baru saja menerima telepon dari seseorang. Satu tangannya lagi sibuk
memasukkan tangan ke lengan jaket.
“Assalamu ‘alaikum, Fa?”
katanya, tergesa-gesa. “Iya, aku mau OTW, nih …. He-eh …. Kamu udah nyampe
Manggarai …?”
Aku langsung berbalik arah.
Dengan salah tingkah kembali lagi menyusuri koridor menuju kamarku.
“Iya aku bawa motor, kok ….
Kamu turun di Stasiun Kota aja, aku langsung ke sana, ya …. He-eh … stasiun
terakhir …. Entar aku nyusul ke situ. Oke …. Assalamu’ alaikum!”
Aku masih belum berbelok di
ujung koridor, jadi aku masih mendengar percakapan Lanang di ujung sana.
“Abi, Adek berangkat dulu,
ya. Assalamu ‘alaikum!”
“Wa ‘alaikum salam,” balas
Akbar, yang akhirnya muncul di ambang pintu. “Ulfanya udah mau nyampe?”
“Udah di Manggarai. Adek
ketemuannya di Kota aja ….”
Di titik itu, aku enggak
mendengar lagi obrolan mereka karena aku terlanjur berbelok ke koridor di depan
kamarnya Romi dan Edvan. Terpaksa aku menuruni tangga di bagian ujung lain
kosan ini. Ketika aku tiba di koridor yang ada kamarnya Enzo, kulihat Lanang
sedang berlari tergesa-gesa menuju motornya yang diparkir di halaman belakang
kamarnya Enzo.
Aku enggak tahu apakah
Lanang benar-benar ketemu dengan seseorang bernama Ulfa, ataukah dia cuma
pura-pura saja? Ternyata dia bertemu lelaki tampan yang mengebrutnya tempo
hari?
Yang penting aku merasa agak
lega. Seenggaknya, nanti Tino enggak ketemu Lanang di sana.
Sesampainya di depan kamar
Enzo, aku melihat sandal dan sepatu Enzo berjejer lengkap di depan kamarnya.
Artinya dia ada di dalam. Bahkan, aku bisa mendengar Enzo sedang menelepon
seseorang di dalam.
“… aku enggak sabar banget
ketemu kamu minggu depan, Mas … aaahhh ….”
Ada desahannya. Tapi aku
enggak mikir macam-macam. Aku terlalu excited buat ketemu Enzo dan
membahas, “Kira-kira menurut elo si Lanang itu ketemu orang yang namanya Ulfa,
atau itu kedok aja?”
“ZO!” sahutku sambil membuka
pintu kamarnya, dan menghambur masuk ke dalam dengan tidak tahu diri. “Lu mau
dengar cerita gue enggak—”
“Aku mau keluar, Mas!
Aaahhh—AAAAAARGH!” Enzo menjerit.
“AAAAAARGH!” Aku juga
menjerit.
Enzo lagi coli!
Dan dia lagi … ejakulasi!
CROT!
[ … ]
Part 11 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 12 (Bag. B)
Komentar
Posting Komentar