(PPT) Part 12 Bag. A




Setidaknya, Tino berusaha berdiri di atas kakinya sendiri. Dia enggak jadi cowok toxic yang bisanya cuma minjam duit, tapi enggak ada usaha buat memperbaiki apa yang sudah terjadi. Semua dia lakukan dalam kondisi masih sakit hati. Anjir. Ini belum tiga minggu sejak video itu viral di Twitter (dan masih viral kulihat satu menitannya di-repost homo-homo Indonesia sebelum diarahkan ke grup Telegram yang bukan milik Agus). Tapi, Tino sudah melangkah ke depan untuk menjadikan hidupnya lebih baik lagi.

Padahal menurutku, misal dia masih kacau dan kena mental breakdown, aku bakal paham banget. Aku bakal paham misal dia butuh waktu sebulan dua bulan untuk healing dari trauma, sebelum akhirnya back on track.

Tapi apa daya, Tino bukan Gen Z kayak aku. Dia milenial yang ketika hidupnya hancur, langsung cari cara untuk survive ke depannya. Kalau aku ada di posisi Tino sih, aku bakal cuti dari hidup ini selama satu atau dua tahun. Healing di Maldives hingga kulitku kecokelatan dan orang-orang enggak kenal lagi aku siapa, jadi kalau aku balik ke Indonesia, enggak bakal ada yang bisa menuduhku sebagai lelaki yang coli kena prank itu. “Kulit gue eksotis, ya! Itu bukan gue!” Kira-kira begitu caraku ngeles.

Minggu pagi itu aku enggak punya jadwal nge-gym bareng Randi. In fact, aku belum ketemu Randi. Kami sudah Whatsapp-an untuk menentukan jadwal. Pertemuan pertama kami baru minggu depan karena assignment-nya kepadaku dilakukan mendadak. Jadi, aku rebahan seharian menonton Netflix, belum turun dari kasur sama sekali sejak mataku terbuka dari tadi, belum minum, belum cuci muka, belum sikat gigi atau apalah, cuma leha-leha aja setelah merevisi skripsiku bareng teman sepanjang Jumat dan Sabtu.

Tok! Tok! Tok!

“Bro?”

Tino mengetuk pintu kamarku.

Aku menoleh sambil mem-pause tontonanku. Keningku berkerut karena tumben-tumbenan dia ngetuk pintu kayak mau minta sumbangan. Setelah aku turun dan membuka pintu, aku melihat Tino berdiri canggung di depan kamarku, hanya mengenakan handuk saja. Sisanya telanjang. Jujurly, ini mengingatkan pada “malam itu” ketika Tino meminjam proyektor. Bedanya ini siang hari aja. Tapi handuknya, cara melilit handuknya, muka ganteng dan badan muscle-nya, semua sama.

Tino mendongak kecil, meringis malu, kemudian menyapaku, “Assalamu alaikum, Bro,” katanya, dengan kedua tangan rapat di depan dada. “Salam sejahtera, shalom, om swastiastu, namo buddhaya, salam kebajikan—”

“Apaan sih, anjir?!” Kudorong dada bidangnya yang muscle dan keras-keras empuk itu. “Kenapa harus kayak Jokowi sih mau nyapa doang?”

“Yaaa … biar sopan,” katanya, garuk-garuk kepala. Dan itu bikin ketek seksinya terekspos. “Elu … elu lagi sibuk, enggak?”

“Lagi nonton.” Aku mengamati handuk Tino. “Abang kenapa handukan doang depan kamar gue?”

Tino terkekeh canggung. “Anu … elo … elo gimana kabarnya?”

“Apa sih nanya-nanya kabar? Kayak yang mau minjam duit aja!”

Tino tiba-tiba membelalak panik. Dia celingukan ke koridor kosan seperti takut kata-kataku terdengar, lalu dia menghambur masuk, mendorong ke dalam, dan menutup pintu. “Ssst … jangan keras-keras,” bisiknya panik.

Aku kaget dong. “Kenapa, sih Bang? Mau minjam proyektor lagi?”

“Bukan, anjing!” Tino mengatur napasnya yang memburu, sambil duduk di atas kursiku. Aku kembali ke atas tempat tidur, duduk di tepinya mengarah ke Tino. Dari bukaan paha Tino, kelihatan jelas bijinya menyembul sedikit di bawah sana. Dia enggak pake apa-apa di balik handuk itu. “Gue … gue emang mau pinjam duit, Bro. Lu ada enggak?”

“Terus kenapa harus handukan doang?” Aku berkacak pinggang.

“Ya biar elo ngasih, lah. Kalau gue bugil, elo biasanya terdistraksi. Siapa tahu habis elo minjemin, elo lupa pernah minjemin.”

“ANJING!” Kulempar satu bantalku ke arah Tino. Bantal itu mendarat di perutnya dan membuat lilitan handuknya lepas. Tino langsung menyambar kain handuk itu dan melilitnya lagi sebelum semua yang ada di dalam itu terekspos.

Kayak yang gue belum pernah lihat aja, anjing!

“Gue … gue mesti bayar kosan,” ungkapnya, dengan suara pelan. “Gue ada sih duitnya. Tapi kalau gue bayarin, langsung abis, hehe.”

“Ya udah, gapapa. Entar aku yang transfer ke Pak Hamidnya—”

“Tapi gue belum tahu bisa bayar kapan,” sela Tino jujur, sambil menggosok tengkuknya dan menundukkan kepala.

Aku enggak suka pemandangan ini, sumpah. Ini bukan Tino yang aku kenal empat tahun terakhir. Tino yang kutahu orangnya positif, ceria, canda mulu, gokil mulu, nge-bully aku mulu, energinya tumpah-tumpah. Enggak pernah aku lihat dia seinferior ini. Duduk kayak tetangga yang beneran butuh duit, lalu minjem duit ke tetangganya yang kaya, dan bertingkah sangat sopan demi pinjamannya cair. Enggak. Aku enggak suka pemandangan ini. Kalau mau pinjam pun, tinggal ngomong aja. Aku percaya sama dia.

He trusted me with his dick. Aku bakal percayakan uangku ke dia, kok.

“Gue enggak suka suasana kayak gini, Bang,” ungkapku jujur. “Udah, ih, biasa aja. Kayak biasa aja Abang dulu gimana. Kalau mau pinjam, ngomong biasa aja. Jangan sok-sok ngerendah gini.”

“Yaaa … lumayan juga, Bro, yang mau gue pinjam kan—”

“Iya, tahu, kosan kita mahal. Tapi ya gapapa. Gue paham kok kondisi Abang. Enggak perlu jadi awkward gini, Bang.”

“Gue kagak enak aja ama elu, Bro.” Tino menghela napas. “Gue beneran belum tahu bisa ganti kapan. Kemaren gue ada panggilan interview, tapi kayaknya gagal lagi gue.”

“Kok yakin gagal, Bang?”

“Mereka nanya cara bikin baklava gimana, terus mereka ketawa,” ungkap Tino sambil melorotkan bahunya dengan pasrah.

Dari hadirnya pertanyaan soal baklava aja aku udah curiga yang enggak bener, nih. Tapi aku tertarik apa yang bikin interviewer-nya ketawa. “Abang jawab apa?”

“Yaaa … gue jawab … rebus minya pake kuah kaldu, terus tambahin lada sama pala belakangan, pas minya udah ditiriskan.”

Aku sampai mematung beberapa saat, mencoba memproses jawaban itu. “Emang Abang pikir baklava itu apa?”

“Bakmi lada dan pala, bukan?”

Duk! Aku menepuk jidatku. Tepukannya sangat keras sampai-sampai menimbulkan suara dan aku terjatuh ke atas tempat tidur. Aku tertawa juga. Ngakak banget. Perutku sampai sakit.

“HAHAHAHA …!”

“Anjing, elu juga ketawa!” Tino melemparkan bantal yang tadi ke arahku. “Apa sih yang salah?”

“Elu ngelamar di mana, sih Baaang …? Hahaha …!”

“Di pastry shop yang di Panglima Polim. Gue niatnya ngelamar buat pastry chef.”

“ANJING! Hahaha …! Lu masak aja jarang, sok-sokan jadi pastry chef! HAHAHA …!” Aku masih berguling-guling di atas tempat tidur sambil memegang perutku sendiri. “Bakmi aja … HAHAHA …! Bakmi aja bukan termasuk pastry, anjing! HAHAHA …!”

“Yaaa … namanya juga usaha, Bro.” Tino mendengus kesal sambil menggaruk lagi kepalanya. “Udah anjing jangan ketawa terus!”

“Enggak mau! Gue belum selesai! HAHAHAHAHAHA …!”

Tino memalingkan mukanya dengan bete ke arah lain. Tapi sampe dua menit kemudian, aku masih belum selesai ketawa. Kesal kayaknya Tino. Dia langsung berdiri dan melompat ke atas kasur, mendekapku erat dari belakang, sambil satu tangannya membekapku.

“Udah! Udah! Berhenti ngakaknya, anjing!” katanya.

HMMMPPPHHH …! HMMMPPPHHH …!” Itu suaraku ketawa, ya Cuy. Itu bukan suaraku tahan napas gara-gara keenakan ditusuk kontol. Habisnya mulutku bener-bener dibekap kuat sama tangannya Tino yang gede, jadinya ketawaku enggak bisa keluar. Tapi sumpah, bahuku masih berguncang, perutku masih bergetar, gara-gara ketawa.

Aku menendang-nendang, mencoba membebaskan diri. Tapi dekapan Tino lebih erat. Satu tungkai Tino juga menindih pahaku. Alhasil, aku malah menendang handuknya, ngebikin handuk itu lepas, dan kini Tino mendekapku dalam kondisi telanjang bulat.

“UDAAAHHH …!” jerit Tino di telingaku. Deket banget. “Gue perkosa juga lu kalau masih ngetawain gue!”

YEEE …! Yang bener aja kalau ngasih ancaman! Diperkosa ama elu mah doorprize, anjing! Bukan ancaman! Semua boti pasti ngantre diperkosa ama elu, BANG!

Pada akhirnya aku berhenti ngakak, sih. Capek juga ngakak terus. Tino enggak mau melepaskan dekapannya sampai aku berhenti berontak dan ludahku kayaknya udah merembes keluar dari tangan Tino yang membekap mulutku. Kupukul pantat Tino berkali-kali.

Plak! Plak! Plak! Anggap aja lagi spanking, yes.

“Iyaaa …, iya …!” kataku di tengah bekapan itu. Tino melepaskan bekapannya dan aku terbatuk-batuk. “Uhhuk …! Uhhuuukkk …!

Kami terdiam selama beberapa saat. Tino melepaskan dekapannya. Namun satu lengannya masih tertindih leherku. Jadi secara teknis, aku masih setengah di-cuddle sama Tino. Aku enggak berani menoleh ke belakang karena aku tahu Tino lagi telanjang di sana. Enggak lucu kalau barusan aku ngakak ngetawain Tino yang enggak tahu baklava, lalu setelahnya aku sange lihat kontol dia. Kayak enggak etis, gitu.

Setelah terdiam dalam sunyi selama sekitar tiga menit, Tino akhirnya bicara lagi. “Gue enggak tahu lagi harus nyari kerja gimana. Yang gue tahu … gue cuma pengin berusaha. Gue kagak mau berhenti.”

I know, Bang,” bisikku. Mundur-mundur dikit agar punggungku nempel ke badan kekar Tino. Ujung-ujungnya Tino memelukku lagi dengan hangat. “Sorry gue ngakak. Abisnya Abang lucu banget sih soal itu.”

“Ya maaf …. Gue emang bukan orang pintar kayak elo.”

“Abang pintar, kok. Cuma enggak pintar bikin pastry aja.” Aku terkekeh lagi dalam pelukan itu. Tino menggeplak kepalaku. “Ya udah, sih. Yang sabar aja,” kataku kemudian. “Tetap berjuang dan berusaha.”

“Iya, Bro …. Gue enggak akan berhenti berusaha sampe dapat kerja. Senin Selasa Rebo, sebenernya gue ada panggilan interview.”

“Hah? Berurutan?” Aku menoleh ke belakang, setengah melihat siluet telanjang itu.

Tino mengangguk. “Tapi gue mulai keabisan baju buat interview. Semua kemeja ama celana gue mesti dicuci.”

“Mau pakai baju gue?”

“Emang bakal ada yang muat?”

“Enggak, sih. Pantat elo gede, Bang. Enggak tepos kayak gue.”

“Gue ada celana katun cokelat, yang jarang gue pake. Warna krem, lah. Bukan cokelat. Tapi celananya gede. Gombrang. Dikasih orang. Gue kagak ada sabuk yang bagus buat dipakein ama celana itu.”

“Dih! Tumben-tumbenan mikirin matching-matching outfit!” Aku menepuk pantat Tino lagi. Plak!

“Ya gara-gara elu juga, mesti bagus penampilan kita, biar di-notice ama perusahaannya.”

“Ya emang iya, sih ….” Aku membelai-belai lengan Tino. “Aku enggak punya sabuk cokelat atau krem …. Oh! Ada, sih. Tapi jangan, deh. Sabuknya ada blink-blink-nya. Sabuk homo.”

“Gue WhatsApp si Edvan, sabuk dia item semua.”

Mendengar nama itu, jantungku berdegup sekali. Mendadak aja aku panik, kayak aku punya sebuah skandal rahasia besar yang mengancam nyawaku. Jadi aku enggak komen soal itu.

Malah, saking salting-nya, dan enggak mau komen soal Edvan, aku langsung mengalihkan pembicaraan. “Kalau kemeja … enggak ada sama sekali?”

“Yang putih abis. Kotor semua, dipake wawancara kemaren.”

“Punyaku rata-rata slimfit, anjir,” kataku sambil mengingat-ingat. “Kalau dipake di badan elu, Bang …, belahan dada elu, sama six pack elu, langsung keekspos ke mana-mana.”

“Enggak sekalian bagian keteknya bolong, biar bulu ketek gue keekspos juga?”

PLAK! Ku-spanking lagi itu pantat dengan sebal. “Anjing, lu!”

“Yeee … kan elu suka ketek!” Tino terkekeh.

“ENGGAK!” sergahku enggak mau ngaku.

Malu soalnya kalau ketahuan suka ketek.

Meski secara teknis Tino tahu betul aku suka ketek.

“Oh!” Aku tiba-tiba teringat. “Kayaknya si Enzo punya kemeja yang gede banget, deh.”

“Kok, bisa?”

First, dia enggak punya sense of fashion yang mumpuni. Jadi dia kadang beli baju tuh di Shopee dan enggak mikirin banget soal fitting ke badannya. Second, dia pernah beli baju gitu lewat Tiktok, dia pikir ukuran dia L karena dia ngerasa agak gendutan. Pas bajunya datang eh kegedean di badan dia. Enggak pernah dipake. Pernah ditawarin ke gue, sih. Gratis. Tapi ngapain juga? Gue enggak akan pake juga.”

“Bisa gue pinjam enggak, tuh?”

Aku membayangkan dulu kemeja putih itu membungkus tubuh Tino. “Kayaknya bakal ngepas di elu, Bang. But better than my shirt, sih.”

“Oke gue ke sana.” Tino pun bangkit dan mengambil lagi handuknya yang terjatuh ke atas lantai. Aku menoleh ke arahnya dan masih sempat melihat pantat seksi yang glutes-nya di-train itu nungging ketika Tino mengambil handuk. Lalu visual yang teramat indah nan surgawi itu tertutup oleh lilitan handuk. “Semoga dia lagi di kamarnya, ya!”

Wait! Elu mau handukan gini datang ke si Enzo?!”

Tino membeku sejenak, menatap penampilannya. “I … ya?”

“Kan gue udah bilang dia homo! Ngelihat elu tampil begini ngetok pintu kamarnya sih dia bisa baper juga ama elu! Pake baju!”

Ck! Iyaaa ….” Tino menghela napas sambil berjalan ke pintu. “Gue ganti baju. Entar gue langsung turun ke dia dan—”

“Enggak, enggak, enggak!” sergahku tiba-tiba. “Gue aja yang ke si Enzo. Gue lebih tahu soal kemeja itu daripada elo. Kalau elo tiba-tiba datang dan nanyain kemeja itu, bisa pingsan dia.”

“Ya udah …. Gapapa lu gue mintain tolong buat minjem ke si Enzo?”

“Gapapa!” Aku turun dari tempat tidurku dan berjalan juga ke pintu. “Mending Abang ke kamarnya Mas Akbar, deh. Kayaknya beberapa kali dia pake celana cokelat gitu kalau berangkat kerja. Siapa tahu dia punya sabuk warna cokelat juga.”

Tino mengingat-ingat. “Iya, kayaknya dia pernah pake celana cokelat. Jadi …? Gue yang ke Akbar, elu yang ke Enzo?”

“Iya!” tegasku. “Sebab kalau Abang ke Enzo, bisa runyam hati dia, Bang. Kegoda dia sama keseksian elu.”

“Tapi elu bilang si Akbar homo juga. Bisa jadi dia kan—”

“Enggak. Enggak akan dia mah,” kataku yakin, sambil menggelengkan kepala. “Dia mah top. Sukanya boti-boti kurus nan lemah kayak si Lanang. Elu bukan tipenya. Tapi tetep, pake baju dulu!”

“Iyaaa ….”

Ketika Tino ke kamarnya untuk memakai baju, aku langsung keluar menuju kosan Enzo. Tapi dasar aku kepo, sengaja aku lewat kamarnya Lanang untuk ngecek apakah Akbar ada di sana, atau Lanang doang yang di situ? Kan bahaya juga cuy kalau si Tino ke kamar mereka, lalu hanya ada Lanang yang demen kontol ketemu sama Tino yang perfect. Di depan taman aja itu boti malu-malu kucing ngelihatin Tino olahraga.

Beberapa meter sebelum aku mencapai kamar Lanang, tiba-tiba Lanang keluar dari kamarnya. Setengah berlari seperti terburu-buru. Satu tangannya di telinga, memegang handphone, karena dia baru saja menerima telepon dari seseorang. Satu tangannya lagi sibuk memasukkan tangan ke lengan jaket.

“Assalamu ‘alaikum, Fa?” katanya, tergesa-gesa. “Iya, aku mau OTW, nih …. He-eh …. Kamu udah nyampe Manggarai …?”

Aku langsung berbalik arah. Dengan salah tingkah kembali lagi menyusuri koridor menuju kamarku.

“Iya aku bawa motor, kok …. Kamu turun di Stasiun Kota aja, aku langsung ke sana, ya …. He-eh … stasiun terakhir …. Entar aku nyusul ke situ. Oke …. Assalamu’ alaikum!”

Aku masih belum berbelok di ujung koridor, jadi aku masih mendengar percakapan Lanang di ujung sana.

“Abi, Adek berangkat dulu, ya. Assalamu ‘alaikum!”

“Wa ‘alaikum salam,” balas Akbar, yang akhirnya muncul di ambang pintu. “Ulfanya udah mau nyampe?”

“Udah di Manggarai. Adek ketemuannya di Kota aja ….”

Di titik itu, aku enggak mendengar lagi obrolan mereka karena aku terlanjur berbelok ke koridor di depan kamarnya Romi dan Edvan. Terpaksa aku menuruni tangga di bagian ujung lain kosan ini. Ketika aku tiba di koridor yang ada kamarnya Enzo, kulihat Lanang sedang berlari tergesa-gesa menuju motornya yang diparkir di halaman belakang kamarnya Enzo.

Aku enggak tahu apakah Lanang benar-benar ketemu dengan seseorang bernama Ulfa, ataukah dia cuma pura-pura saja? Ternyata dia bertemu lelaki tampan yang mengebrutnya tempo hari?

Yang penting aku merasa agak lega. Seenggaknya, nanti Tino enggak ketemu Lanang di sana.

Sesampainya di depan kamar Enzo, aku melihat sandal dan sepatu Enzo berjejer lengkap di depan kamarnya. Artinya dia ada di dalam. Bahkan, aku bisa mendengar Enzo sedang menelepon seseorang di dalam.

“… aku enggak sabar banget ketemu kamu minggu depan, Mas … aaahhh ….”

Ada desahannya. Tapi aku enggak mikir macam-macam. Aku terlalu excited buat ketemu Enzo dan membahas, “Kira-kira menurut elo si Lanang itu ketemu orang yang namanya Ulfa, atau itu kedok aja?”

“ZO!” sahutku sambil membuka pintu kamarnya, dan menghambur masuk ke dalam dengan tidak tahu diri. “Lu mau dengar cerita gue enggak—”

“Aku mau keluar, Mas! Aaahhh—AAAAAARGH!” Enzo menjerit.

“AAAAAARGH!” Aku juga menjerit.

Enzo lagi coli!

Dan dia lagi … ejakulasi!

CROT!


[ … ]


Part 11 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 12 (Bag. B)

Komentar