“Anjing! Kenapa pintu lu kagak dikunci, sih?!” sahutku sambil melompat lagi keluar dan menutup pintu. Aku berdiri di depan kamar Enzo, dengan satu tangan masih memegang handle-nya, lalu mematung menatap ke taman sambil membelalakkan mata.
What the fuck?!
Visual macam apa barusan?!
Kenapa bisa available
di kosan hamid?!
Di dalam sana, ketika aku
masuk barusan, Enzo sedang telanjang bulat, nungging, pantatnya menempel ke
tembok, karena di tembok ….
… ada dildo yang menempel!
Dan dildo itu sedang masuk
ke bool-nya Enzo!
Enzo nungging maju mundur
mengenaki bool-nya dengan dildo itu, setengah tubuhnya tegak. Satu
tangan Enzo di nenennya, satu tangan lain di kontolnya.
Di seberang Enzo, hape-nya
sedang berdiri di sebuah tripod, yang layarnya menampilkan seseorang yang
kayaknya lagi bugil juga. But I didn’t see who!
Aku cukup syok melihat visual
Enzo di depanku, karena bertepatan dengan aku masuk ke dalam, Enzo sedang mau ejakulasi.
CROOOT …! CROOOT …! CROOOT
…!
Aku lihat banget, anjing,
itu sperma berlompatan keluar dari kontol Enzo yang digenggam penuh sama
tangannya sendiri.
“AAAAAARGH …!” Di titik
itulah aku dan Enzo teriak barengan. Aku langsung keluar dari kamar itu,
menutup pintu, dan enggak tahu lagi apa yang terjadi di dalamnya.
Yang pasti, aku menunggu di
luar. Aku bisa mendengar suara gaduh di dalam sana. DUG! Buk! Entah Enzo
kelabakan atau kalang kabut mencari bajunya atau apa. Tapi kedengaran banget
dia panik gara-gara kepergok VCS, coli, sambil genjot bool-nya
sendiri pake dildo. Aku sampai memejamkan mata. Merasa malu dan bersalah udah
masuk dengan kurang ajar ke area privasi seseorang, di mana sekarang orangnya
malu karena kepergok begituan.
Ya ampuuunnn … goblok banget
elu, Leo!
Selama lima menit, aku
berdiri di luar dengan perasaan bersalah. Aku enggak bisa pergi begitu aja. Aku
harus ketemu Enzo dan mengatakan bahwa rahasianya aman denganku dan aku paham
kalau dia mau VCS sambil di-fuck dildo kayak begitu. Aku menatap pintu
dengan cemas dan ragu. Aku memain-mainkan jemari tanganku. Apa kuketuk saja?
Ya, kuketuk saja.
Tok! Tok! Tok!
“Zo?” panggilku pelan.
“I … iya …,” jawab Enzo dari dalam kamarnya.
Aku menelan ludah. “Sorry
…,” kataku sambil meringis canggung. “Bo … boleh gue … masuk?”
Ada jeda sebentar sebelum
akhirnya Enzo membalas. “Tunggu.”
Aku menunggunya beberapa
saat. Ketika akhirnya pintu itu dibuka, ckrek! Enzo sudah mengenakan
pakaian lengkap. Celana panjang, kaus polo, bahkan sudah sisiran dengan rapi,
meskipun di pelipisnya ada peluh mengalir, dan aku bisa mendengar jantungnya
bertalu-talu.
“A … ada apa, Leo?” sapanya,
mencoba bersikap biasa-biasa saja, seolah-olah yang barusan tidak pernah
terjadi. Enzo juga menunduk malu.
“Gue bisa masuk?”
Enzo mengangguk kecil. Agak
ragu, tapi dia buka pintu kamarnya. Aku masuk ke dalam dan duduk di kursi
belajar Enzo. Lelaki itu langsung menutup pintu, menyambar buku, lalu duduk di
tepi tempat tidurnya.
“Tadi … tadi aku lagi baca
buku,” katanya berkelit.
Aku menyipitkan mata enggak
percaya. Jelas-jelas dia lagi di-fuck dildo, lalu VCS, lalu crot
pas aku masuk barusan. Tapi emang semuanya udah dirapiin, sih. Udah enggak ada
dildo di tembok. Enggak ada tripod. Atau VCS. Atau sperma-sperma yang kuyakin
mendarat di atas lantai, semuanya sudah enggak ada. Sudah diberesin.
Tapi enggak pura-pura lagi
baca buku juga, anjing!
“Elo VCS sama siapa?”
todongku, to the point.
“V … VCS?” tanya Enzo,
pura-pura enggak paham.
“Elo kagak usah
nutup-nutupin dari gue, anjir. Gapapa! Hak elu buat VCS ama orang. Tapi elu VCS
ama siapa?”
Awalnya Enzo enggak mau
mengakui. Dia kayak mencoba mencari pembelaan, tapi dia enggak berhasil nemuin
pembelaan. Akhirnya bahu Enzo melorot lega. Dia menghela napas.
“Aku VCS sama Mas Kevin.
Tapi please jangan bilang siapa-siapa,” pelasnya.
“Ya enggak akan, lah. Enggak
ada untungnya gue bilang ke orang lain soal ini!” sahutku.
Mungkin aku akan bilang ke
Tino, sih.
Dengan sangat detail.
Dan beberapa temanku di
kampus, yang enggak kenal sama Enzo.
Dan di Twitter. Anonim aja.
“Aku enggak bisa ngelupain
Mas Kevin.” Enzo geleng-geleng kepala. “Dia … dia ternyata … enggak bisa lepas
dari aku juga.”
Aku menyipitkan mata lagi.
“Bukannya dia udah nikah ama kakak lu?”
Enzo mengangguk. Lalu Enzo
menunduk makin dalam. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia enggak
berani dengan konsekuensinya kalau harus menguak soal ini. Aku pun enggak dalam
kondisi kepo banget sih soal hubungannya dengan Kevin. Toh sejak awal, Enzo
memberikan seluruh hidupnya ke Kevin. Wajar kalau Kevin merasa pengin membalas
budi dengan VCS sama Enzo untuk memenuhi kebutuhan seksualnya.
Yang sekarang membuatku
bertanya-tanya ….
… sebenarnya para cowok di
Kosan Hamid ini yang selama ini kukira lelaki tulen tuh, beneran tulen enggak,
sih?
Tino bisa nge-fuck
aku. Edvan ngaceng melukin aku. Kevin VCS sama Enzo. Apa semua lelaki straight
di sini bisa ngewe ala-ala homo, hm?
“At least elo VCS
sama orang yang elo kenal, bukan bencong random yang namanya Lidya,”
kataku, memecah kesunyian.
“Hah?” Enzo bingung.
“Ya jangan sampai kejadian
kayak si Tino, anjir ….”
Enzo mengerutkan alisnya.
“Mas Tino kenapa emang?”
Untuk keberapa kalinya aku
menyipitkan mata. “Elu emang enggak tahu?”
Enzo masih tampak
kebingungan. “Ada kejadian apa sama Mas Tino?”
Damn! Enzo enggak tahu soal video coli Tino!
How come?!
What kind of gay are you yang belum nemu video viral Tino coli sambil dibalurin minyak
sambil nungging sambil jilat ketek?! Tino, anjing! TINO! Personal trainer
ganteng yang di-ain-in sama personal trainer lain karena terlalu
ganteng dan semua klien maunya ama Tino doang. Yang si PT-PT jealous ini
sampai nge-prank Tino lewat Agus Aprilianto Junaedi. Dan elu sebagai gay
enggak tahu soal video viral Tino itu?!
Cabut statusmu sebagai boti!
Memalukan!
Tapi bagus, deh. Artinya
Tino enggak tersohor banget videonya. Harusnya aku bersyukur.
Dengan begitu, aku langsung
mengganti topik saja. Supaya bahasan soal Tino enggak berlanjut. “By the way,
kamu masih ada kan kemeja yang kegedean waktu itu?”
[ … ]
Jujurly, aku masih penasaran dengan kisah antara Enzo dan Kevin. Tapi kalau
kubuka topik itu, takutnya aku harus membuka juga topik tentang Tino. Enzo yang
belum tahu soal video Tino, bisa jadi mencari video Tino lewat Twitter. Mungkin
setelahnya Enzo akan cerita ke Kevin, yang notabene kenal baik dengan Tino.
Mungkin Kevin akan menghubungi Tino dan menanyakan soal itu. Bisa-bisa nanti
Tino ter-trigger lagi.
Jadi kuputuskan untuk enggak
bahas soal itu sama sekali.
Setelah aku mendapatkan
kemeja itu, aku langsung bertanya ke Enzo, “Kamu tadi lagi baca buku apa pas
aku masuk?”
Hingga aku keluar dari kamar
Enzo, obrolan soal Enzo-Kevin dan Tino enggak pernah mencuat lagi. Kemungkinan
besar Enzo pun enggak mau topik soal dirinya diangkat, jadi dia nurut aja
ketika aku mengajaknya mengobrol ngalor-ngidul. Aku keluar dari kamar Enzo
kira-kira satu jam kemudian karena aku lapar. Ketika aku kembali ke kamar,
tidak ada Tino di sana. Tidak ada Tino pula di kamarnya. Kucari ke mana-mana,
tak kutemukan. Sandalnya di depan kamar Akbar juga enggak ada. Saking paniknya,
laparku sampai hilang.
Aku enggak menemukan Tino
hingga satu jam setelahnya. Tapi seenggaknya, aku berhasil mengingatkan diriku
sendiri bahwa Tino enggak mungkin diculik atau apa gitu. Toh, tiba-tiba Tino muncul
di kamarku sambil mengacungkan ikat pinggang berwarna cokelat.
“Udah dapat, Bro,” katanya,
menghambur masuk ke kamarku lewat pintu kamar yang terbuka.
Kebetulan aku sedang
melanjutkan tontonanku yang tadi. Aku bangkit dan langsung berjalan ke kursi,
di mana aku menyampirkan kemeja Enzo. “Nih, aku juga udah dapat dari Enzo.
Abang cobain dulu. Muat enggak?”
Tino mengenakan celana
pendek dan kaus tanpa lengan yang kusut. Dia juga keringatan, seakan-akan baru
berjalan kaki jauh sekali di bawah panasnya Jakarta. Kausnya yang kusut itu
juga agak basah di beberapa titik. Seperti bercak. Tino masuk ke dalam kamarku,
meletakkan ikat pinggang di atas tempat tidurku, lalu melepas kausnya itu.
“Abang dari mana, sih?”
tanyaku. “Dari luar, ya?”
“Dari … Mas Akbar,” katanya
pendek.
“Kayak yang baru pulang dari
Tanah Abang aja, lu Bang!”
Tino terkekeh. “Panas anjir
di luar.”
Iya, sih. Tapi kok aku
curiga kayak ada yang disembunyikan dari Tino, ya?
Tino mengambil kemeja itu
dan mengenakannya dengan segera. Kemaja itu kayaknya memang diciptakan untuk
Tino. Begitu dipasang di badannya, kemeja Enzo membungkus tubuh Tino dengan
sempurna. Bagian lengannya ketat, mencetak otot bisep-trisep Tino. Bagian dada
juga ketat, sampai-sampai dia kesulitan mengancingkannya. Sementara bagian
perutnya longgar, karena perut Tino kan rata dan kotak-kotak. Kerahnya pun
jatuh dengan sempurna di bawah lehernya.
“Oke, nih,” kataku. “Enggak
usah dibalikin aja kemejanya.”
Tino terkekeh. “Jangan gitu,
anjir. Kan punya si Enzo.”
“Enggak pernah dipake juga
ama dia. Abang besok ngelamarnya ke mana? Ke toko roti lagi?”
“Enggaaakkk …!” Tino
tersenyum lebar sembari meletakkan satu telapak tangannya ke wajahku, lalu
mendorongku mundur. “Gue coba ke perusahaan konsultan gitu. Kagak paham gue.
Tapi gue cobain dulu aja.”
“Besoknya ke mana?”
“Besoknya ke pabrik. Tapi
gue mau pake baju ini juga. Gimana? Bagus enggak?” Tino memutar-mutar tubuhnya,
memamerkan bagaimana kemeja itu membungkus tubuh kekarnya.
“Bagusan dilepas, sih.”
“Hah?”
“Habis dilepas, terus kita ngewe,
Bang.”
“Anjing!” Tino menyorongkan
wajahku lagi hingga aku jatuh terduduk ke atas tempat tidur. “Kontol mulu yang
dipikirin. Gimana, nih? Bagus enggak?”
“Iye, bagus.” Aku memanjat
naik ke atas tempat tidur, menyamankan posisi untuk menonton lagi serial
Netflix-ku.
Tino mematut dirinya
sebentar di depan cermin, sambil melihat kemeja di badannya. Beberapa saat
kemudian, dia melepas kemeja itu lalu menyampirkannya ke lengan. Dia menarik
napas panjang sembari berdiri diam selama beberapa saat. Lalu, dia mengambil
kaus kusutnya. “Gue balik dulu ke kamar ya, Bro.”
“Gue mau makan keluar. Abang
mau ikut enggak?”
Untuk sesaat Tino mencerna
pertanyaan itu. Tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya, mengecek sesuatu di
ponselnya, entah jadwal, entah jam, entah Whatsapp. Raut mukanya seperti
berubah ceria saat melihat sesuatu dia layar tersebut. Dia pun mengangguk.
“Oke. Gue ikut.”
“Tempatnya rada pricey.
Jadi gue mau nraktir Abang. Dan Abang jangan protes.”
Tino tersenyum kecil.
“Enggak. Gue mau bayar sendiri.”
Aku mengerutkan alis.
“Anjir. Kosan aja elu pinjam ke gue, Bang. Udah, lah. Gue aja yang bayarin.”
Tino menggelengkan
kepalanya. “Gue mau bayar sendiri.”
“Enggak diterima!” tegasku.
“Kalau bayar sendiri, Abang enggak boleh ikut.”
Tino sudah membuka mulutnya
untuk membantah, tapi kayaknya dia tahu enggak ada gunanya debat sama homo
keras kepala kayak aku. Jadi dia pun menyerah, “Oke, gue mau dibayarin. Asal
gue minta satu hal ….”
“Apa?”
“Gue pengin tidur ama elo
malam ini.”
“Ya udah sih, tinggal tidur
sini aja. Siapin kondom kalau lu enggak mau hamil, Bang. Gue enggak janji bisa
nahan diri buat enggak nyepong elo diam-diam soalnya.”
Tino terkekeh mendengar itu.
“Oke. Jam berapa makannya?”
“Setengah jam lagi. Tanggung
nih, satu episode.”
“Oke. Gue mandi dulu, ya.”
“Oke, Bang!”
[ … ]
Malam itu, kupikir tidurnya
Tino di kamarku hanya persoal dia berhemat biaya listrik. Ini bukan kejadian
pertama soalnya. Beberapa hari lalu Tino juga sempat tidur di kamarku, membawa
kasur lipat sendiri, supaya dia bisa tidur dengan nyaman di bawah AC di
tengah-tengah udara Jakarta yang hangat.
Malam itu, dia muncul
bertelanjang dada, hanya mengenakan sempak saja. Berjalan kaki pukul sepuluh
malam, membawa bantal dari kamarnya, masuk ke kamarku, lalu menutup pintu.
“Enggak dibawa kasur lu,
Bang?” tanyaku, yang baru saja selesai dengan rutinitas skincare-ku.
“Enggak. Gue tidur di kasur
lu aja.”
Aku yang sedang meletakkan moisturizer
ke atas meja, langsung membeku. Tanganku mengapung diam di udara. “Hah?”
“Hah?” balas Tino.
“Tidur bareng gue?”
“Ho-oh.” Tino pun
duduk di tepi tempat tidur, lalu sibuk main hape.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kenapa enggak?”
“Gue jadi curiga.”
Tino melirikku sejenak. Lalu
melemparkan hape-nya ke atas meja. “Gue perlu bangun pagi besok. Kalau
tidur bareng elu, biasanya gue ketonjok pagi-pagi pas elo balik badan. Atau gue
ketendang kaki lo. So ….”
“Oh.”
Aku enggak percaya tidurku
seberantakan itu. Tapi at this point, aku enggak mau protes. Akan
kuterima dengan senang hati untuk tidur seranjang bareng Tino.
“Lo mau sebelah mana?” tanya
Tino.
“Terserah lu, Bang.”
“Lo dekat tembok aja, ya.”
“Iya.”
Aku memanjat naik ke atas
tempat tidur dan membiarkan Tino yang mematikan lampu kamar. Lampu lahar
berwarna ungu langsung menyala dan membuat kamarku kelihatan seperti kamarnya
Youtuber terkenal. Youtuber mana saja. Karena biasanya mereka punya kamar dengan
background bernuansa ungu kayak begini.
Aku mepet ke tembok sambil
memasukkan kedua kakiku ke dalam selimut. Tentu aku langsung berbalik menghadap
tembok, ya. Biar tidurku tidak diawali dengan visual lelaki chindo
ganteng berbadan kekar yang cuma sempakan doang dan kontolnya menjendol di
balik sempak itu. Bisa-bisa entar aku mimpi basah tengah malam.
“Gue tidur, ya! Good
night, Bang!” kataku sambil menutup mata.
Aku udah enggak melihat
apa-apa lagi. Tapi aku bisa merasakan Tino naik juga ke tempat tidurku. Dia
memasukkan kedua kakinya ke bawah selimut, rebahan dengan nyaman di sampingku,
dan meski kasurku ukuran queen yang harusnya bisa agak legaan dikit,
tetap saja aku merasakan bahu Tino menyenggol punggungku.
Lima menit pertama, enggak
ada interaksi apa-apa. Tiba-tiba, Tino berguling ke arahku dan memelukku dari
belakang.
Kebetulan aku belum tidur.
Jadi aku bilang, “Jangan mancing-mancing. Gue udah sange lihat lu
sempakan doang.”
Tubuh Tino berguncang kecil.
Mungkin dia terkekeh geli. “Kalau gitu ajakin gue.”
“Ajakin apa?”
“Ajakin sange juga.
Gue pengin sange lihat lu sempakan, Bro.”
“Jangan ngadi-ngadi,
Bang! Ini udah malam! Besok mesti interview pagi! Lain kali aja kalau
mau maksiat.”
Tino terkekeh lagi. Dia
mendekapku sangat erat sekarang. Satu lengannya sengaja menyusup ke bawah
leherku, supaya dia bisa spooning aku dengan mesra. Tubuhnya menempal
hangat ke punggungku.
“Nah, kan …. Nah, kan …,”
sindirku.
“Hehehe. Masa kagak boleh
sih gue meluk elu, Bro?”
“Ya boleh. Tapi kan lu tahu
gue homo, Bang. Gue jadi pengin ngentot ama elu, tau?” Aku mendengus kesal.
Tino malah mengulurkan satu
tangannya ke bawah perutku. Dia menyentuh kontolku yang sudah ngaceng.
Lalu membelainya. “Oh, iya,” katanya.
“EMANG IYA!” jeritku kesal.
“Kapan sih ini straight bego bisa ngarti?! Kalau ada homo lihat elu
bugil, itu homo langsung jadi slave elu, Bang! HUH!”
Tino hanya terkekeh kecil.
Dan masih aja membelai-belai kontolku dari luar celana.
“Awas aja ya kalau gue sampe
crot,” ancamku.
“Apa emangnya kalau elu
crot?”
“Gue perkosa juga lu, Bang!”
Kutepuk tangan jail itu agar berhenti membelai kontolku. PLAK! “Inget,
gue ini punya kemampuan buat merkosa elu! Kontol gue pasti ngaceng kalau
mau nyodomi lu, anjir!”
Tino lagi-lagi terkekeh. Dia
berhenti memainkan kontolku, tetapi dia tetap memeluk tubuhku dengan erat. Aku
bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa tengkukku.
Sama seperti ….
… aku menelan ludah ….
… sama seperti yang
kurasakan dari Edvan tempo hari.
“Sejak video itu muncul,”
bisik Tino kemudian, di tengah sunyinya malam, “gue udah enggak pernah lagi
nganuin cewek. Mau itu TTM gue, kenalan gue, temen gue ….”
“So?”
“Yang available cuma
elu—”
“Enggak!” sergahku,
pura-pura enggak mau. “Gue belum bersih-bersih. Belum douching.”
“Tapi kalau gue lagi pengin
ama elo, Bro …. Elo sebenarnya mau enggak ama gue?”
Aku mendesah dan menghela
napas panjang. Kayaknya ini personal trainer ganteng enggak paham-paham
bahwa homo mana pun pasti mau di-ewe sama dia. Bahkan seorang top
pun aku yakin rela jadi bottom, kalau ketemu Tino. Seseksi dan sesensual
itu lho Tino, tuh!
Dia juga kayaknya enggak
peka, bahwa dari 8 miliar manusia di dunia, akulah yang paling mencintai Tino.
Dan paling akan melakukan apa pun untuk Tino.
“Hmmm …,” jawabku, kayak
malas-malasan.
“Gue lagi pengin soalnya
sekarang,” bisiknya.
“Hmmm ….”
“Gue udah capek, stres,
mikirin musibah gue sendiri. Sampe gue lupa buat seneng-seneng ama diri
sendiri.”
“Hmmm ….”
“Terus elo udah jadi sobat
gue yang paling baik. Paling paham gue. Paling nerima gue apa adanya.”
Aku memutar bola mata. Orang
kayak Tino mah bukan apa adanya. Tapi pesonanya tumpah ruah!
“Gue kepikiran … kalau gue
mesti dienakin … gue pengin mastiin orangnya pantes buat ngenakin gue.”
Tiba-tiba, Tino menarik
lengannya dari bawah leherku. Dia bangkit. Kukira dia turun dari tempat tidur,
tapi dia justru berlutut di belakangku. Tepatnya di belakang kepalaku.
Pelan-pelan Tino membalikkan kepalaku ke belakang, sehingga aku berguling dan
wajahku kini berada tepat di depan ….
… selangkangan Tino.
Tepat di depan wajahku, ada
kontol Tino balas menatapku.
“Mau ngemut enggak, Bro?”
Dan kontol itu … ngaceng
keras.
Komentar
Posting Komentar