(PPT) Part 12 Bag. B




“Anjing! Kenapa pintu lu kagak dikunci, sih?!” sahutku sambil melompat lagi keluar dan menutup pintu. Aku berdiri di depan kamar Enzo, dengan satu tangan masih memegang handle-nya, lalu mematung menatap ke taman sambil membelalakkan mata.

What the fuck?!

Visual macam apa barusan?!

Kenapa bisa available di kosan hamid?!

Di dalam sana, ketika aku masuk barusan, Enzo sedang telanjang bulat, nungging, pantatnya menempel ke tembok, karena di tembok ….

… ada dildo yang menempel!

Dan dildo itu sedang masuk ke bool-nya Enzo!

Enzo nungging maju mundur mengenaki bool-nya dengan dildo itu, setengah tubuhnya tegak. Satu tangan Enzo di nenennya, satu tangan lain di kontolnya.

Di seberang Enzo, hape-nya sedang berdiri di sebuah tripod, yang layarnya menampilkan seseorang yang kayaknya lagi bugil juga. But I didn’t see who!

Aku cukup syok melihat visual Enzo di depanku, karena bertepatan dengan aku masuk ke dalam, Enzo sedang mau ejakulasi.

CROOOT …! CROOOT …! CROOOT …!

Aku lihat banget, anjing, itu sperma berlompatan keluar dari kontol Enzo yang digenggam penuh sama tangannya sendiri.

“AAAAAARGH …!” Di titik itulah aku dan Enzo teriak barengan. Aku langsung keluar dari kamar itu, menutup pintu, dan enggak tahu lagi apa yang terjadi di dalamnya.

Yang pasti, aku menunggu di luar. Aku bisa mendengar suara gaduh di dalam sana. DUG! Buk! Entah Enzo kelabakan atau kalang kabut mencari bajunya atau apa. Tapi kedengaran banget dia panik gara-gara kepergok VCS, coli, sambil genjot bool-nya sendiri pake dildo. Aku sampai memejamkan mata. Merasa malu dan bersalah udah masuk dengan kurang ajar ke area privasi seseorang, di mana sekarang orangnya malu karena kepergok begituan.

Ya ampuuunnn … goblok banget elu, Leo!

Selama lima menit, aku berdiri di luar dengan perasaan bersalah. Aku enggak bisa pergi begitu aja. Aku harus ketemu Enzo dan mengatakan bahwa rahasianya aman denganku dan aku paham kalau dia mau VCS sambil di-fuck dildo kayak begitu. Aku menatap pintu dengan cemas dan ragu. Aku memain-mainkan jemari tanganku. Apa kuketuk saja?

Ya, kuketuk saja.

Tok! Tok! Tok!

“Zo?” panggilku pelan.

“I … iya …,” jawab Enzo dari dalam kamarnya.

Aku menelan ludah. “Sorry …,” kataku sambil meringis canggung. “Bo … boleh gue … masuk?”

Ada jeda sebentar sebelum akhirnya Enzo membalas. “Tunggu.”

Aku menunggunya beberapa saat. Ketika akhirnya pintu itu dibuka, ckrek! Enzo sudah mengenakan pakaian lengkap. Celana panjang, kaus polo, bahkan sudah sisiran dengan rapi, meskipun di pelipisnya ada peluh mengalir, dan aku bisa mendengar jantungnya bertalu-talu.

“A … ada apa, Leo?” sapanya, mencoba bersikap biasa-biasa saja, seolah-olah yang barusan tidak pernah terjadi. Enzo juga menunduk malu.

“Gue bisa masuk?”

Enzo mengangguk kecil. Agak ragu, tapi dia buka pintu kamarnya. Aku masuk ke dalam dan duduk di kursi belajar Enzo. Lelaki itu langsung menutup pintu, menyambar buku, lalu duduk di tepi tempat tidurnya.

“Tadi … tadi aku lagi baca buku,” katanya berkelit.

Aku menyipitkan mata enggak percaya. Jelas-jelas dia lagi di-fuck dildo, lalu VCS, lalu crot pas aku masuk barusan. Tapi emang semuanya udah dirapiin, sih. Udah enggak ada dildo di tembok. Enggak ada tripod. Atau VCS. Atau sperma-sperma yang kuyakin mendarat di atas lantai, semuanya sudah enggak ada. Sudah diberesin.

Tapi enggak pura-pura lagi baca buku juga, anjing!

“Elo VCS sama siapa?” todongku, to the point.

“V … VCS?” tanya Enzo, pura-pura enggak paham.

“Elo kagak usah nutup-nutupin dari gue, anjir. Gapapa! Hak elu buat VCS ama orang. Tapi elu VCS ama siapa?”

Awalnya Enzo enggak mau mengakui. Dia kayak mencoba mencari pembelaan, tapi dia enggak berhasil nemuin pembelaan. Akhirnya bahu Enzo melorot lega. Dia menghela napas.

“Aku VCS sama Mas Kevin. Tapi please jangan bilang siapa-siapa,” pelasnya.

“Ya enggak akan, lah. Enggak ada untungnya gue bilang ke orang lain soal ini!” sahutku.

Mungkin aku akan bilang ke Tino, sih.

Dengan sangat detail.

Dan beberapa temanku di kampus, yang enggak kenal sama Enzo.

Dan di Twitter. Anonim aja.

“Aku enggak bisa ngelupain Mas Kevin.” Enzo geleng-geleng kepala. “Dia … dia ternyata … enggak bisa lepas dari aku juga.”

Aku menyipitkan mata lagi. “Bukannya dia udah nikah ama kakak lu?”

Enzo mengangguk. Lalu Enzo menunduk makin dalam. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia enggak berani dengan konsekuensinya kalau harus menguak soal ini. Aku pun enggak dalam kondisi kepo banget sih soal hubungannya dengan Kevin. Toh sejak awal, Enzo memberikan seluruh hidupnya ke Kevin. Wajar kalau Kevin merasa pengin membalas budi dengan VCS sama Enzo untuk memenuhi kebutuhan seksualnya.

Yang sekarang membuatku bertanya-tanya ….

… sebenarnya para cowok di Kosan Hamid ini yang selama ini kukira lelaki tulen tuh, beneran tulen enggak, sih?

Tino bisa nge-fuck aku. Edvan ngaceng melukin aku. Kevin VCS sama Enzo. Apa semua lelaki straight di sini bisa ngewe ala-ala homo, hm?

At least elo VCS sama orang yang elo kenal, bukan bencong random yang namanya Lidya,” kataku, memecah kesunyian.

“Hah?” Enzo bingung.

“Ya jangan sampai kejadian kayak si Tino, anjir ….”

Enzo mengerutkan alisnya. “Mas Tino kenapa emang?”

Untuk keberapa kalinya aku menyipitkan mata. “Elu emang enggak tahu?”

Enzo masih tampak kebingungan. “Ada kejadian apa sama Mas Tino?”

Damn! Enzo enggak tahu soal video coli Tino!

How come?!

What kind of gay are you yang belum nemu video viral Tino coli sambil dibalurin minyak sambil nungging sambil jilat ketek?! Tino, anjing! TINO! Personal trainer ganteng yang di-ain-in sama personal trainer lain karena terlalu ganteng dan semua klien maunya ama Tino doang. Yang si PT-PT jealous ini sampai nge-prank Tino lewat Agus Aprilianto Junaedi. Dan elu sebagai gay enggak tahu soal video viral Tino itu?!

Cabut statusmu sebagai boti!

Memalukan!

Tapi bagus, deh. Artinya Tino enggak tersohor banget videonya. Harusnya aku bersyukur.

Dengan begitu, aku langsung mengganti topik saja. Supaya bahasan soal Tino enggak berlanjut. “By the way, kamu masih ada kan kemeja yang kegedean waktu itu?”


[ … ]


Jujurly, aku masih penasaran dengan kisah antara Enzo dan Kevin. Tapi kalau kubuka topik itu, takutnya aku harus membuka juga topik tentang Tino. Enzo yang belum tahu soal video Tino, bisa jadi mencari video Tino lewat Twitter. Mungkin setelahnya Enzo akan cerita ke Kevin, yang notabene kenal baik dengan Tino. Mungkin Kevin akan menghubungi Tino dan menanyakan soal itu. Bisa-bisa nanti Tino ter-trigger lagi.

Jadi kuputuskan untuk enggak bahas soal itu sama sekali.

Setelah aku mendapatkan kemeja itu, aku langsung bertanya ke Enzo, “Kamu tadi lagi baca buku apa pas aku masuk?”

Hingga aku keluar dari kamar Enzo, obrolan soal Enzo-Kevin dan Tino enggak pernah mencuat lagi. Kemungkinan besar Enzo pun enggak mau topik soal dirinya diangkat, jadi dia nurut aja ketika aku mengajaknya mengobrol ngalor-ngidul. Aku keluar dari kamar Enzo kira-kira satu jam kemudian karena aku lapar. Ketika aku kembali ke kamar, tidak ada Tino di sana. Tidak ada Tino pula di kamarnya. Kucari ke mana-mana, tak kutemukan. Sandalnya di depan kamar Akbar juga enggak ada. Saking paniknya, laparku sampai hilang.

Aku enggak menemukan Tino hingga satu jam setelahnya. Tapi seenggaknya, aku berhasil mengingatkan diriku sendiri bahwa Tino enggak mungkin diculik atau apa gitu. Toh, tiba-tiba Tino muncul di kamarku sambil mengacungkan ikat pinggang berwarna cokelat.

“Udah dapat, Bro,” katanya, menghambur masuk ke kamarku lewat pintu kamar yang terbuka.

Kebetulan aku sedang melanjutkan tontonanku yang tadi. Aku bangkit dan langsung berjalan ke kursi, di mana aku menyampirkan kemeja Enzo. “Nih, aku juga udah dapat dari Enzo. Abang cobain dulu. Muat enggak?”

Tino mengenakan celana pendek dan kaus tanpa lengan yang kusut. Dia juga keringatan, seakan-akan baru berjalan kaki jauh sekali di bawah panasnya Jakarta. Kausnya yang kusut itu juga agak basah di beberapa titik. Seperti bercak. Tino masuk ke dalam kamarku, meletakkan ikat pinggang di atas tempat tidurku, lalu melepas kausnya itu.

“Abang dari mana, sih?” tanyaku. “Dari luar, ya?”

“Dari … Mas Akbar,” katanya pendek.

“Kayak yang baru pulang dari Tanah Abang aja, lu Bang!”

Tino terkekeh. “Panas anjir di luar.”

Iya, sih. Tapi kok aku curiga kayak ada yang disembunyikan dari Tino, ya?

Tino mengambil kemeja itu dan mengenakannya dengan segera. Kemaja itu kayaknya memang diciptakan untuk Tino. Begitu dipasang di badannya, kemeja Enzo membungkus tubuh Tino dengan sempurna. Bagian lengannya ketat, mencetak otot bisep-trisep Tino. Bagian dada juga ketat, sampai-sampai dia kesulitan mengancingkannya. Sementara bagian perutnya longgar, karena perut Tino kan rata dan kotak-kotak. Kerahnya pun jatuh dengan sempurna di bawah lehernya.

“Oke, nih,” kataku. “Enggak usah dibalikin aja kemejanya.”

Tino terkekeh. “Jangan gitu, anjir. Kan punya si Enzo.”

“Enggak pernah dipake juga ama dia. Abang besok ngelamarnya ke mana? Ke toko roti lagi?”

“Enggaaakkk …!” Tino tersenyum lebar sembari meletakkan satu telapak tangannya ke wajahku, lalu mendorongku mundur. “Gue coba ke perusahaan konsultan gitu. Kagak paham gue. Tapi gue cobain dulu aja.”

“Besoknya ke mana?”

“Besoknya ke pabrik. Tapi gue mau pake baju ini juga. Gimana? Bagus enggak?” Tino memutar-mutar tubuhnya, memamerkan bagaimana kemeja itu membungkus tubuh kekarnya.

“Bagusan dilepas, sih.”

“Hah?”

“Habis dilepas, terus kita ngewe, Bang.”

“Anjing!” Tino menyorongkan wajahku lagi hingga aku jatuh terduduk ke atas tempat tidur. “Kontol mulu yang dipikirin. Gimana, nih? Bagus enggak?”

“Iye, bagus.” Aku memanjat naik ke atas tempat tidur, menyamankan posisi untuk menonton lagi serial Netflix-ku.

Tino mematut dirinya sebentar di depan cermin, sambil melihat kemeja di badannya. Beberapa saat kemudian, dia melepas kemeja itu lalu menyampirkannya ke lengan. Dia menarik napas panjang sembari berdiri diam selama beberapa saat. Lalu, dia mengambil kaus kusutnya. “Gue balik dulu ke kamar ya, Bro.”

“Gue mau makan keluar. Abang mau ikut enggak?”

Untuk sesaat Tino mencerna pertanyaan itu. Tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya, mengecek sesuatu di ponselnya, entah jadwal, entah jam, entah Whatsapp. Raut mukanya seperti berubah ceria saat melihat sesuatu dia layar tersebut. Dia pun mengangguk. “Oke. Gue ikut.”

“Tempatnya rada pricey. Jadi gue mau nraktir Abang. Dan Abang jangan protes.”

Tino tersenyum kecil. “Enggak. Gue mau bayar sendiri.”

Aku mengerutkan alis. “Anjir. Kosan aja elu pinjam ke gue, Bang. Udah, lah. Gue aja yang bayarin.”

Tino menggelengkan kepalanya. “Gue mau bayar sendiri.”

“Enggak diterima!” tegasku. “Kalau bayar sendiri, Abang enggak boleh ikut.”

Tino sudah membuka mulutnya untuk membantah, tapi kayaknya dia tahu enggak ada gunanya debat sama homo keras kepala kayak aku. Jadi dia pun menyerah, “Oke, gue mau dibayarin. Asal gue minta satu hal ….”

“Apa?”

“Gue pengin tidur ama elo malam ini.”

“Ya udah sih, tinggal tidur sini aja. Siapin kondom kalau lu enggak mau hamil, Bang. Gue enggak janji bisa nahan diri buat enggak nyepong elo diam-diam soalnya.”

Tino terkekeh mendengar itu. “Oke. Jam berapa makannya?”

“Setengah jam lagi. Tanggung nih, satu episode.”

“Oke. Gue mandi dulu, ya.”

“Oke, Bang!”


[ … ]


Malam itu, kupikir tidurnya Tino di kamarku hanya persoal dia berhemat biaya listrik. Ini bukan kejadian pertama soalnya. Beberapa hari lalu Tino juga sempat tidur di kamarku, membawa kasur lipat sendiri, supaya dia bisa tidur dengan nyaman di bawah AC di tengah-tengah udara Jakarta yang hangat.

Malam itu, dia muncul bertelanjang dada, hanya mengenakan sempak saja. Berjalan kaki pukul sepuluh malam, membawa bantal dari kamarnya, masuk ke kamarku, lalu menutup pintu.

“Enggak dibawa kasur lu, Bang?” tanyaku, yang baru saja selesai dengan rutinitas skincare-ku.

“Enggak. Gue tidur di kasur lu aja.”

Aku yang sedang meletakkan moisturizer ke atas meja, langsung membeku. Tanganku mengapung diam di udara. “Hah?”

“Hah?” balas Tino.

“Tidur bareng gue?”

Ho-oh.” Tino pun duduk di tepi tempat tidur, lalu sibuk main hape.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kenapa enggak?”

“Gue jadi curiga.”

Tino melirikku sejenak. Lalu melemparkan hape-nya ke atas meja. “Gue perlu bangun pagi besok. Kalau tidur bareng elu, biasanya gue ketonjok pagi-pagi pas elo balik badan. Atau gue ketendang kaki lo. So ….

“Oh.”

Aku enggak percaya tidurku seberantakan itu. Tapi at this point, aku enggak mau protes. Akan kuterima dengan senang hati untuk tidur seranjang bareng Tino.

“Lo mau sebelah mana?” tanya Tino.

“Terserah lu, Bang.”

“Lo dekat tembok aja, ya.”

“Iya.”

Aku memanjat naik ke atas tempat tidur dan membiarkan Tino yang mematikan lampu kamar. Lampu lahar berwarna ungu langsung menyala dan membuat kamarku kelihatan seperti kamarnya Youtuber terkenal. Youtuber mana saja. Karena biasanya mereka punya kamar dengan background bernuansa ungu kayak begini.

Aku mepet ke tembok sambil memasukkan kedua kakiku ke dalam selimut. Tentu aku langsung berbalik menghadap tembok, ya. Biar tidurku tidak diawali dengan visual lelaki chindo ganteng berbadan kekar yang cuma sempakan doang dan kontolnya menjendol di balik sempak itu. Bisa-bisa entar aku mimpi basah tengah malam.

“Gue tidur, ya! Good night, Bang!” kataku sambil menutup mata.

Aku udah enggak melihat apa-apa lagi. Tapi aku bisa merasakan Tino naik juga ke tempat tidurku. Dia memasukkan kedua kakinya ke bawah selimut, rebahan dengan nyaman di sampingku, dan meski kasurku ukuran queen yang harusnya bisa agak legaan dikit, tetap saja aku merasakan bahu Tino menyenggol punggungku.

Lima menit pertama, enggak ada interaksi apa-apa. Tiba-tiba, Tino berguling ke arahku dan memelukku dari belakang.

Kebetulan aku belum tidur. Jadi aku bilang, “Jangan mancing-mancing. Gue udah sange lihat lu sempakan doang.”

Tubuh Tino berguncang kecil. Mungkin dia terkekeh geli. “Kalau gitu ajakin gue.”

“Ajakin apa?”

“Ajakin sange juga. Gue pengin sange lihat lu sempakan, Bro.”

“Jangan ngadi-ngadi, Bang! Ini udah malam! Besok mesti interview pagi! Lain kali aja kalau mau maksiat.”

Tino terkekeh lagi. Dia mendekapku sangat erat sekarang. Satu lengannya sengaja menyusup ke bawah leherku, supaya dia bisa spooning aku dengan mesra. Tubuhnya menempal hangat ke punggungku.

“Nah, kan …. Nah, kan …,” sindirku.

“Hehehe. Masa kagak boleh sih gue meluk elu, Bro?”

“Ya boleh. Tapi kan lu tahu gue homo, Bang. Gue jadi pengin ngentot ama elu, tau?” Aku mendengus kesal.

Tino malah mengulurkan satu tangannya ke bawah perutku. Dia menyentuh kontolku yang sudah ngaceng. Lalu membelainya. “Oh, iya,” katanya.

“EMANG IYA!” jeritku kesal. “Kapan sih ini straight bego bisa ngarti?! Kalau ada homo lihat elu bugil, itu homo langsung jadi slave elu, Bang! HUH!”

Tino hanya terkekeh kecil. Dan masih aja membelai-belai kontolku dari luar celana.

“Awas aja ya kalau gue sampe crot,” ancamku.

“Apa emangnya kalau elu crot?”

“Gue perkosa juga lu, Bang!” Kutepuk tangan jail itu agar berhenti membelai kontolku. PLAK! “Inget, gue ini punya kemampuan buat merkosa elu! Kontol gue pasti ngaceng kalau mau nyodomi lu, anjir!”

Tino lagi-lagi terkekeh. Dia berhenti memainkan kontolku, tetapi dia tetap memeluk tubuhku dengan erat. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa tengkukku.

Sama seperti ….

… aku menelan ludah ….

… sama seperti yang kurasakan dari Edvan tempo hari.

“Sejak video itu muncul,” bisik Tino kemudian, di tengah sunyinya malam, “gue udah enggak pernah lagi nganuin cewek. Mau itu TTM gue, kenalan gue, temen gue ….”

So?

“Yang available cuma elu—”

“Enggak!” sergahku, pura-pura enggak mau. “Gue belum bersih-bersih. Belum douching.”

“Tapi kalau gue lagi pengin ama elo, Bro …. Elo sebenarnya mau enggak ama gue?”

Aku mendesah dan menghela napas panjang. Kayaknya ini personal trainer ganteng enggak paham-paham bahwa homo mana pun pasti mau di-ewe sama dia. Bahkan seorang top pun aku yakin rela jadi bottom, kalau ketemu Tino. Seseksi dan sesensual itu lho Tino, tuh!

Dia juga kayaknya enggak peka, bahwa dari 8 miliar manusia di dunia, akulah yang paling mencintai Tino. Dan paling akan melakukan apa pun untuk Tino.

“Hmmm …,” jawabku, kayak malas-malasan.

“Gue lagi pengin soalnya sekarang,” bisiknya.

“Hmmm ….”

“Gue udah capek, stres, mikirin musibah gue sendiri. Sampe gue lupa buat seneng-seneng ama diri sendiri.”

“Hmmm ….”

“Terus elo udah jadi sobat gue yang paling baik. Paling paham gue. Paling nerima gue apa adanya.”

Aku memutar bola mata. Orang kayak Tino mah bukan apa adanya. Tapi pesonanya tumpah ruah!

“Gue kepikiran … kalau gue mesti dienakin … gue pengin mastiin orangnya pantes buat ngenakin gue.”

Tiba-tiba, Tino menarik lengannya dari bawah leherku. Dia bangkit. Kukira dia turun dari tempat tidur, tapi dia justru berlutut di belakangku. Tepatnya di belakang kepalaku. Pelan-pelan Tino membalikkan kepalaku ke belakang, sehingga aku berguling dan wajahku kini berada tepat di depan ….

… selangkangan Tino.

Tepat di depan wajahku, ada kontol Tino balas menatapku.

“Mau ngemut enggak, Bro?”

Dan kontol itu … ngaceng keras.


[ … ]


Komentar