Selama beberapa hari berikutnya, Tino sudah bisa menerima fakta bahwa dia kemarin ditipu secara seksual oleh seorang bencong bernama Lidya. Sempat depresi juga, jujur. Aku sampai membatalkan lagi bimbingan skripsiku demi nemenin Tino yang badannya menggigil karena ketakutan. Takut video telanjangnya sambil coli disebar ke sana kemari.
Yang menurutku bakal terjadi
sih suatu hari.
Aku sampai men-download
video-video prank yang cukup penting, misalnya artis-artis ibukota, atau
finalis L-Men, atau Mister Indonesia, yang secara body dan face
kan sebelas dua belas ama Tino, tapi ternyata mereka kena prank juga.
Kuceritakan bahwa video-video ini sempat heboh, tapi enggak sampai
berlarut-larut. Ujung-ujungnya semua orang lupa sama video prank ini.
Apalagi begitu Rifaiju, PunyaHobi, Mas Jancok, Top Hyper, Boti Hunter, Ratu
Entok Ladyboy Medan, Agusman, atau kreator bokep lokal lainnya sudah bikin
video bokep baru, semua video prank para public figure itu
tenggelam dan terlupakan.
Tentu orang-orang yang
menyimpan videonya masih menontonnya sambil coli. Tapi kan enggak
“heboh” lagi. Semua keviralan itu semu. Gandhi Fernando masih tetap aktif di
dunia hiburan, seakan-akan semua orang lupa dia pernah nungging di atas sofa
mamerin bool-nya sambil coli di depan kamera.
Jadi, aku meyakinkan Tino
bahwa, ya Tino bakal viral suatu hari ketika video coli-nya bersama
Lidya itu tersebar, tapi setelah itu orang-orang akan lupa.
Aku berhasil membuat Tino
bangkit kembali. Dia bersedia ke tempat gym lagi. Padahal selama tiga
hari pertama setelah kejadian itu dia membatalkan jadwal bersama seluruh
kliennya. Dia malu. Padahal videonya belum tersebar. Kutemani dia pada hari
pertama kembali ke gym sehingga dia merasa aman.
Aku memang sudah memastikan
video itu belum tersebar. Aku sampai bertanya ke Enzo dan Romi tentang
kemungkinan mereka melihat video “viral” dengan sosok orang yang mereka kenal
di kosan ini. Aku enggak menyebutkan video itu video prank-nya Tino,
tapi sejauh ini mereka enggak melihat video macam itu.
Come on, kalau video Tino beneran tersebar, sudah pasti Enzo dan Romi tahu.
Enggak mungkin mereka enggak ngeh maksudku. Iya, si Tino itu chindo,
mukanya mungkin mirip dengan chindo-chindo lain. Tapi mereka pasti ngeh
lah misal video Tino berlumuran minyak zaitun lalu ngocok kontol dan jilat
ketek itu tersebar. Apalagi dengan latar dinding di kosan Hamid. Bisa heboh
sekosan juga sih dugaanku.
Aku juga sudah mengecek
bolak-balik setiap hari ke Twitter atau ke grup-grup berbayar yang isinya
jualan video prank straight. Memang sejauh ini video tersebut
belum ada di mana-mana.
“Hey, elo entar nemenin gue
ke gym lagi?” tanya Tino sambil melongokkan kepala di pintu kamarku. Ini
sudah hampir satu minggu sejak kejadian prank itu.
Aku menoleh dari laptop.
“Gue mesti ngerevisi skripsi, Bang. Bab tiga gue hancur cur cur cur cuuur ….”
Tino berdecak bete.
Dia masih takut pergi ke gym tanpa aku sampai hari ini. Sebab kalau
enggak ada aku, enggak ada yang ngingetin dia bahwa kliennya yang boti
itu lagi gesek-gesekin badannya ke dia. “Oke,” balasnya agak kecewa.
“Latihan di bawah aja. Entar
kalau gue beres revisi metode penelitian, gue traktir Abang makan di mal. Gue
lapar soalnya.”
Tino garuk-garuk kepala
seperti anak kecil. “Oke,” katanya lagi. “Gue mau pull up ajalah di
bawah.”
“Setengah jam aja, Bang.
Entar makan siang kita cus pake mobil gue.”
“Elo udah nanyain … ntuh
… yang melambai samping si Edvan?”
“Si Romi? Udah. Dia belum
lihat video Abang juga.” Dan aku harus membiarkan kontolku yang berharga di-sepong
sama dia. Iyuh. “Di grup-grup Telegram dia juga belum ada video Abang.
Entar gue update lagi ke dia.”
“Oke.” Tino manggut-manggut.
“Kalau si … itu … Akbar? Lanang?”
“Nah, itu gue belum nanya.
Belum sempat. Gue bimbingan mulu dari kemarin.”
“Kalau gue ketemu, gue
tanya, deh.” Tino pun menutup pintu.
Aku kembali sibuk dengan
revisi skripsiku. Beneran enggak mikirin dulu persoalan Tino karena aku mesti
fokus sama skripsi ini atau aku jadi mahasiswa abadi di sini. Enggak masalah
sih jadi mahasiswa abadi kalau bisa ketemu Tino terus. Tapi masalahnya, bokap
nyokapku kan udah nekan-nekan aku biar cepat lulus. Sekolahku ini muahal
bangsat. Per semesternya belasan juta. Kalau kumaksimalin sampe tujuh tahun
kuliah di situ, bisa-bisa aku dikeluarin dari KK sebelum wisuda.
Enggak lama revisi pertamaku
selesai, Tino membuka lagi pintu kamarku dan melongokkan kepala. “Gue udah
selesai work out.”
Aku noleh dan melihat lelaki
tampan nan kekar itu telanjang dada. Ototnya yang muscle kering dan
berlekuk-lekuk tampak mengilat oleh keringat. “Bisa enggak sih pake baju? Gue
jadi pengin ngentot elo, Bang.”
“Enggak bisa!” sahut Tino
sambil menjulurkan lidah. “Gue yang ngentot elo.”
“Enggak masalah gue mah.
Yang penting Abang paham body Abang tuh bikin homo-homo menggelora. Jadi
lain kali Abang pake baju tuh harus yang rada berhijab dikit, supaya enggak
mengundang birahi.”
Tino terkekeh. “Gue ketemu
si Lanang, sebelum dia pergi ke pasar barusan. Gue tanya soal Twitter.”
“Terus?”
“Enggak punya Twitter dia.”
“Hawar-hawarnya sih orang
kayak dia enggak bakal punya Twitter,” balasku. “Palingan isi hapenya aplikasi
buat ngaji atau murotal doang.”
Tino mengangkat bahu. “Oke
gue mandi dulu, habis ini kita jalan. Elo udah selesai, kan?”
“Udah, Bang! Gue juga mandi
dulu.”
Tino menghilang ke kamarnya
dan aku menutup laptop. Aku mandi, lalu kami bertemu beberapa saat kemudian di
depan kamarku.
Aku tuh ya, menyambut makan
siang di mal tuh, pake baju yang pantas gitu. Pake celana panjang, sepatu
bagus, kaus, dibalut kemeja, hampir semuanya Zara (toko baju paling gay
sedunia). Memang cuma makan siang doang, tapi kan mau ke mal. Jadi harus enak
dilihat gitu.
Eeehhh … si kunyuk bernama
Tino pake celana pendek, kaus olahraga, dan sandal jepit. Mentang-mentang chindo,
anjir!
“Ganti jadi yang mantas!”
sahutku di depan kamar saat melihat penampilannya.
“Ngapa, sih? Cuma ke mal
doang!” sahut Tino tak terima. “Masih mending anjir, gue kagak pake baju
ketekan. Chindo yang lain kalau ke mal keteknya kelihatan semua.”
“Ya enggak kaus olahraga
juga, Bang! Gue berasa asisten pemain bola.” Aku berkacak pinggang. Pada saat
tersebut, aku sempat melihat Lanang berjalan kaki masuk ke arah kosan, membawa
sekantung kresek bahan-bahan makanan. Namun aku langsung mengabaikannya. “Gue
mau nraktir Abang makanan enak. Di resto yang harus proper bajunya.
Sini!”
Kutarik Tino masuk ke
kamarku dan kubuka lemari.
“Udahlah, Bro. Ginian aja.
Mumpung gue chindo,” kata Tino. “Orang-orang paham kok kalau chindo
bajunya kagak proper.”
“Enggak mau!” Aku mendengus.
“Nih, coba baju gue yang ini!”
“Kagak bakal muat, anjir!”
Tino mengangkat kaus yang kuserahkan itu tinggi-tinggi. “Terus ini belahannya
V! Kayak baju gay.”
“Lha itu tahu belahan V
bajunya gay! Kenapa kalau ada boti nempelin bool-nya ke kenti
Abang kagak ngeh boti-nya gay?!” Aku memutar bola mata.
Selama kira-kira tiga puluh
menit aku mencoba mendandani Tino dengan pakaian yang kupunya. Kenapa harus
pakaianku? Karena isi lemari Tino enggak sebagus lemariku. Pakaian Tino tuh
pakaian … cowok straight.
Paham?
Straight chindo, pula.
Kaus longgar. Gambarnya
enggak jelas. Kadang ketekan. Kebanyakan baju nge-gym yang ketat dan
mamerin puting susu. Dan desain kaus olahraganya pun enggak bagus-bagus amat.
Kalau Tino homo, penampilan
dia tuh kayak Top Jaksel yang enggak bisa nyetir mobil, tapi berasa kontol gede
sampai-sampai susah ngewe, padahal sehari-hari mokondo ke boti-boti
Jaksel yang somehow financially stable dan punya mobil. Fashion
Top Jaksel tuh … questionable. Dan itu adalah gaya berpakaian Tino
sehari-hari.
Di mana aku enggak masalah
tapi hari ini aku mau nraktir dia di tempat bagus, jadinya aku mau dia dress
up.
Akhirnya, Tino mengenakan
kemeja hitam yang ngepas badan, yang menonjolkan otot lengan sama dadanya yang
bidang itu, yang kubuka dua kancing teratasnya, sehingga semua orang bisa
melihat belahan dadanya, dipadu dengan Jeans hitam dan ikat pinggang metalik
yang oke. Sepatunya juga bagus, bersol tinggi, kayak sepatu bot. Kemudian ada
blazer yang dia sampirkan ke bahu. Pokoknya dia ganteng banget, lah. Bikin aku
pengin ngewe dia di toilet mal.
Kulempar kunci mobilku ke
Tino. “Abang yang nyetir! Aku mau matiin AC dulu.”
Tino menerima kunciku lalu pergi
duluan ke parkiran kosan. Setelah mematikan AC, aku menutup pintu dan
menguncinya. Sengaja aku berjalan di lorong yang akan melewati kamar Mas Akbar
dan Lanang—padahal biasanya aku turun di tangga samping kamar Tino, lalu
menyusuri lapangan parkir. Aku lewat lorong ini karena kulihat seorang lelaki
sedang menunggu di depan kamar itu.
Kukira itu Mas Akbar. Tadi
kan Tino bilang dia sudah bertanya ke Lanang soal video Twitter dan Lanang
enggak tahu-menahu soal itu. Yang belum ditanya kan Mas Akbar. Ya sudah, niatku
adalah menanyakannya ke Mas Akbar sembari aku jalan menuju mobil.
Namun semakin dekat aku
dengan sosok di depan kamar itu, kayaknya itu bukan Mas Akbar.
Itu lelaki ganteng, tinggi,
badan kekar kayak Tino, yang kadang kulihat masuk ke kamar mereka sekali dua
kali. Aku agak naksir, tapi kayaknya dia bukan homo. Mungkin dia saudaranya Mas
Akbar, atau Lanang, atau hanya teman sejawat aja. Lelaki itu berdiri di depan
kamar Mas Akbar dan Lanang sambil memainkan hape. Ada tas besar di
sampingnya, seakan-akan dia baru mendarat dari sebuah penerbangan.
“Ketuk aja, Mas!” sapaku,
sok-sok akrab. “Mas Lanang kayaknya ada di dalam. Tadi aku lihat dia masuk.”
Lelaki itu menoleh dan
tersenyum ramah. “Oh, lagi enggak ada. Udah gue ketuk-ketuk enggak ada jawaban.
Mungkin lagi salat ke masjid.”
“Oh, okay. Mas
temannya Mas Lanang?” Aku memang beneran enggak tahu diri orangnya. Sok-sok
akrab dan sok-sok ganteng. Jadi kamu harus terbiasa akan hal itu, yes!
“Gue temennya Akbar. Baru landing
dari Padang, mau mampir dulu ke sini.” Dia beneran ganteng dari dekat, bikin
aku benar-benar tergoda pengin ngewe sama dia.
“Mas Akbar baru landing
juga?”
“Enggak dia mah. Lagi
ngantor. Baru balik entar sore.”
Aku manggut-manggut. “Oke
kalau gitu. Permisi ya, Mas. Mari!”
“Oke ….”
Aku pun pergi dari situ
menuju mobilku di depan gerbang, karena Tino sudah membawanya ke sana.
Enggak perlu lah kuceritain
soal makan siangku di mal. Aku sama Tino makan di tempat yang enak, kutraktir
dia biar lebih happy, dan kami having a great time together.
Habis makan kami pulang lagi ke kosan. Enggak ada acara apa-apa lagi karena aku
mau lanjutin revisiku.
Entah, ya …, nyampe lagi di
kosan, kok aku pengin banget lewat kamar si Lanang itu.
Tino langsung parkir di
parkiran kosan, yang sebenarnya langsung mengakses tangga di samping kamar
Tino. Tapi aku rela memutar area parkir itu biar bisa naik tangga yang ada di
samping kamar Lanang.
“Mau ke mana lu?” tanya Tino
sambil menutup pintu.
“Ke depan dulu. Abang duluan
aja.”
Aku menaiki tangga di bagian
depan gedung kosan, yang ketika sampai di lantai duanya, langsung ketemu
kamarnya Mas Akbar sama Lanang. Aku berhenti di depan pintu kamar itu, berniat
mengetuknya. Sumpah, anjir, ada perasaan yang bikin aku harus ada di situ saat
itu juga. Tapi enggak tahu buat apa. Kan si Mas Akbar juga baru pulang entar
sore. Yang ada di dalam kamar ini palingan Lanang sama temennya Mas Akbar yang
ganteng itu.
Nah, pas aku berdiri di
depan kamar itu, tahu apa yang kudengar …?
….
“Aaahhh …, aaahhh …, aaahhh
….” Suara desahan Lanang.
“Mau gue keluarin di dalam
apa di luar?” Suara lelaki ganteng tadi.
Aku membelalak sambil
menutup mulutku dengan dua tangan.
“Di dalam aja, Mas.” Suara Lanang.
Lalu ada erangan dan desahan
lain dari kedua lelaki itu.
….
Dan tak ada suara Mas Akbar.
….
Apakah ini …?
Apakah ini artinya ….
….
Ada skandal di kosan ini?!
[ … ]
Malamnya, aku menghambur
masuk ke kamar Tino. Lelaki itu sedang main game di hape ketika
aku datang. Dia telanjang dada. Cuma koloran aja. Tino setengah berbaring di
atas tempat tidurnya, sebagian punggungnya bersandar ke dinding.
Aku langsung melompat dan
berbaring di sampingnya. Aku peluk perutnya yang rata. “Gue mau cerita.”
“Gue lagi nge-rank.”
“Gapapa. Abang dengerin aja.
Mau dilupain juga silakan.”
“Hmmm ….”
“Kayaknya si Lanang
selingkuh.”
Tino enggak ngasih respons.
“Sama orang yang jauuuhhh …
lebih ganteng dari Mas Akbar.”
“Hm.”
“Gue sih prefer sama
yang ini, ya. Sebab dia ganteng, body-nya bagus kayak Abang, senyumnya
manis … menggoda …. Badannya tinggi, tegap, suaranya enak didengar ….”
“Elo naksir ama orang ini?”
“Enggak,” jawabku. “Gue kan
naksirnya ama Abang.”
“Hm ….”
“Tapi udah waktunya sih si
Lanang ninggalin Mas Akbar. Aku enggak paham kenapa jidat Mas Akbar tuh item,
gitu. Kayak ada titik dua item gitu, kayak kebakar.”
“Tanda lahir, kali?”
“Bukaaan ….”
“Tompel?”
“Enggak, anjir!”
“Tompi?”
Aku ngakak dengarnya.
Langsung kucubit puting Tino dengan gemas. Tino langsung kelabakan panik.
“Anjing! Anjing! WOY!
Jangan! AW!” Dengan rusuh dia mencoba menghindari tanganku, sampai-sampai dia
berguling ke atas lantai dan lanjut game-nya sambil berbaring di atas
lantai. “Gue entot elu sampe nangis, anjing, kalau ganggu gue lagi!”
“Please do!”
kataku benar-benar berharap. Aku sudah akan menerkamnya, tetapi Tino langsung
menghindar tanpa melepaskan pandangannya dari ponsel.
“EIT! EIT! EIT! LEO! Jangan
ganggu gue! Bangsat!”
“Hahaha ….”
Ya sudah. Kubiarkan Tino
menyelesaikan game-nya.
Enggak cocok curhat sama
Tino. Enggak ada jiwa-jiwa Gossip Girl-nya. Kalau dengan homo sejati,
begitu aku bicarakan soal Lanang dan cowok ganteng itu, pasti reaksinya heboh
dan obrolan bakal panjang. Mungkin berisi asumsi-asumsi, atau prediksi-prediksi
halu, dan mungkin kami akan mengecek Grindr untuk lihat apakah si cowok ganteng
itu pake aplikasi atau enggak.
(Aku sudah cek sih tadi
sore. Enggak ada profil cowok ganteng itu di Grindr.)
Mungkin aku harus bahas ini
barengan Enzo. Atau Romi. Pasti bakal heboh dan berkepanjangan.
Ketika aku sedang melamun
membayangkan diriku bergosip ria barengan homo-homo di kosan ini membahas homo
di kosan ini yang selingkuh sama cowok ganteng, tiba-tiba tubuhku dipeluk dari
belakang.
Ya, kebetulan aku lagi
memunggungi Tino waktu melamun. Tahu-tahu tangan Tino terulur dari belakang,
mendekapku ke pelukannya yang hangat. Ke tubuh muscle-nya yang seksi.
Tino benar-benar merangkul seluruh badanku kayak suami ke istri.
“Apa nih? Apa nih?” kataku
sambil menoleh ke belakang. “Minyak zaitun ada di kamar gue. Enggak gue bawa.”
“Anjing! Pikiran lu ngentot
mulu!” Tino mencubit hidungku dan menggoyangkan kepalaku. “Gue mau ngomong
serius ama elu, Bro.”
“Udah selesai main game-nya,
Bang?”
“Udah.” Tino tiba-tiba
menggosok-gosok hidungnya ke tengkukku. Romantis banget.
“Bang, please, jangan
bikin gue baper. Gue udah ngaceng nih.”
“Gapapa. Ngaceng
aja.” Tino terkekeh kecil di belakangku. “Gue beberapa hari terakhir udah
mikirin soal ini.”
“Soal apa?”
“Soal … gue,” jawabnya.
“Soal bodohnya gue sama dunia ini. Sampe-sampe gue gampang ketipu.”
“Terus?” Aku mencoba
berbalik biar bisa menghadap Tino langsung. Tapi enggak bisa. Pelukan Tino
benar-benar kuat. Aku cuma bisa merasakan seluruh punggung, pantat, dan kakiku
dipeluk hangat oleh tubuh kekar itu.
“Gue pengin elo bantu gue.
Ngajarin gue.”
“Ngajarin … apa nih?”
“Yah … ngajarin gue jadi
kayak … elo, Bro.”
“Why?”
“Supaya gue enggak bisa
ditipu.” Suara Tino benar-benar nikmat didengar. Berbisik syahdu di belakang
kepalaku. “Elo kayaknya ahli banget, sampe bisa bikin gue kelihatan keren pergi
ke resto doang. Kayaknya gue emang butuh elo buat lebih terbuka lagi sama dunia
ini.”
“Oookeee ….” Aku masih ragu
sebenarnya. “Tapi gue bingung sih, Bang …, gue harus ngapain?”
“Ngapain aja gimana elo,
Bro.”
“Hah? Maksudnya?”
“Gimana elo,” bisiknya lagi.
Tiba-tiba bibirnya semakin mendekat ke telingaku untuk berbisik lebih indah
lagi. “Mau elo ngapa-ngapain badan gue, megang-megang, ngentot, nyepong,
apa pun itu …, dalam konteks bantu gue memahami dunia elo …, gue ikhlas.”
Aku membeku mendengarnya.
“Su … sumpah?” tanyaku,
memastikan.
Kurasakan Tino mengangguk di
belakang sana. Hidungnya menggosok tengkukku. “Iyalah, Bro. Gue udah percaya
sama elo. Gue tahu elo bakal manfaatin gue buat kepuasan seksual elo, tapi
sejauh itu elo …, gue ikhlas. Apa pun yang elo mau …, gue bakal ngikutin
kata-kata elo. Boleh, Bro?”
Aku masih membeku terkejut
ya, Gays.
Ini di luar dugaanku.
Ngaceng-ku berkedut-kedut tapi rasanya … lain.
Aku hampir mimisan ketika
Tino menyebutkan kata-kata ultinya malam ini, yaitu ….
“Kita mulai dari mana malam
ini?” bisiknya, sambil ngegesek kontolnya ke pantatku dengan lembut. “Dari
kontol gue, kontol elo, atau … bibir kita?”
Komentar
Posting Komentar