“Enggak.”
Itu adalah kata-kata sialan
yang justru meluncur keluar dari mulutku.
Tino menjauhkan kepalanya
dengan alis berkerut. Dia memandangku tak percaya, seolah-olah memastikan aku
ini Leo yang selama ini dia kenal, ataukah ini gedebok pisang yang dibuang
orang di depan kosan?
“Tumben lu bilang enggak …,”
gumam Tino heran.
“Enggak sekarang,” kataku
memperjelas, sembari aku memaksa berbalik ke belakang, sehingga kami berpelukan
depan-depanan. “Enak aja gue biarin personal trainer ganteng kayak lu
yang body-nya udah aduhai gini—”
“Lah terus kenapa enggak
sekarang?”
“Karena … karena ….” Aku
enggak tahu jawabannya. Aku cuma bisa gelengin kepala. Kami berdua
tatap-tatapan kayak di film BL dan aku udah berharap dia nyipok aku dengan
romantis atau apa gitu, tapi kami malah saling lihat-lihatan.
“Karena …?” ulang Tino
memancing.
Aku menghela napas dan
menggelengkan kepala lagi. “Enggak tahu …,” kataku, setengah merengek sambil
tiba-tiba mendekap Tino dengan erat, lalu ndusel-ndusel di
lehernya yang beraroma manly.
Aku udah ngaceng,
Bro.
Aku pengin di-ewe
Tino.
Tapi ada sebagian diriku
yang bilang …, “Enggak.”
“Gue serius, anjing,” bisik
Tino ke telingaku. Satu tangannya mengusap-usap punggungku. “Gue semingguan
terakhir marah sama kejadian kemaren. Gue penginnya membumihanguskan LGBT
seluruh dunia, gue musnahin sampe punah, tapi … tapi ….”
“Tapi apa?”
Tino menggosok-gosok dagunya
di puncak kepalaku. “Tapi nanti elo ikut musnah juga dan gue enggak mau itu kejadian,”
bisiknya.
Sumpah, anjir, aku membeku
mendengar itu.
Jantungku tuh kayak ditarik
keluar, dibikin berdebar-debar, terus perutku mulas.
Untaian kalimat yang
dibisikkan Tino barusan membuatku terbang ke awang-awang. Literally.
Nyawaku udah enggak ada di body twink yang seksi ini, karena udah
terbang ke surga. Udah ikhlas meninggalkan dunia.
Saking nge-fly-nya …,
aku enggak tahu mesti ngerespons apa. Aku cuma diam aja di sana. Terbujur kaku
dalam pelukan Tino. Mengendus aroma lehernya yang maskulin, yang bikin kontolku
ngaceng dengan romantis.
“Gue benci homo,” lanjut
Tino, masih dengan suara bass-nya yang romantis. “Tapi gue sayang elo.”
Aku menelan ludah. Semakin
membenamkan wajahku di leher Tino. “Elo … elo … elo cinta gue?”
“Kagak, anjing!” Tino
menggeplak kepalaku. “Gue sayang elo sebagai temen.”
SETAN!
Udah romantis banget padahal
barusan!
“Gue sayang elo karena elo
orangnya jujur depan gue,” terang Tino, sambil kembali memelukku penuh sayang.
“Yang lu lakuin tuh jijay, muja-muja badan gue, tapi seenggaknya elo
jujur soal itu. Lu kagak nge-prank gue demi dapatin body gue. Lu
jujur soal lu homo. Lu jujur lu suka ama gue. Lu jujur lu pengin ngentotin gue.
Tapi lu juga tetep jadi temen gue yang supportif, yang baik, yang nolong gue
pas gue butuh, yang ikhlas minjemin mobilnya ke gue, semuanya cuma dibayar pake
candaan soal kontol doang. Di mana lagi gue bisa dapat orang kayak gitu, hm?”
“Ngapain juga boong,”
kataku. “Hidup ini singkat. Kalau gue pengin nyepong kontol Abang, gue
enggak perlu fake pura-pura enggak mau. Ya gue bakal bilang—meskipun
Abang enggak akan ngasih kontolnya buat gue.”
“Lah tadi udah ditawarin
kenapa elu bilang kagak, anjing?!” Aku digeplak lagi oleh Tino.
“Ya … jujur ….” Aku menelan
ludah. “It doesn’t feel right.”
“Apanya yang doesn’t feel
right?”
“Enggak tahu ….”
“Jadi elo enggak akan nyepong
gue selamanya?”
“Kagak, anjir! Kalau bisa
kontol Abang jadi milik gue doang selamanya! Tapi ya …, enggak bener aja gitu,
Bang.” Aku menegakkan kepalaku. Kutatap wajah tampan itu dari dekat. Wajah yang
kepo, penasaran, pengin segera keluar dari masalahnya, tapi dia enggak
tahu caranya gimana. “Lagi pula dari mana sih Abang ada pikiran kayak gitu,
hm?”
Tino mengangkat bahunya
dengan lemas. “Tahu …,” katanya, sambil mengusap rambut di kepalaku yang jatuh
ke kening. “Gue cuma pikir … gue … kalau gue enggak bisa musnahin semua homo di
muka bumi … gue perlu tahu sudut pandang mereka, supaya seenggaknya gue paham …
kenapa ada homo yang jahat kayak si bencong itu …, tapi kenapa ada homo yang
baik juga … kayak elo.”
“Baik buruknya seseorang
enggak ditentukan dari homo atau enggaknya itu orang,” kataku bijak. Aku
memegang dagu Tino seakan-akan ingin menciumnya.
Tino langsung menatap
bibirku, seolah-olah nafsu mau nyosor juga. “Iya gue tahu …,” bisiknya, masih
menatap bibirku.
“Jadi Abang enggak perlu
tahu soal ‘sudut pandang’ homo segala. Just be you aja, Abang Ganteng.
Pahami bahwa manusia mah ada yang jahat ada yang baik. Abangnya aja yang
perlu hati-hati sama segala jenis orang. Enggak semua yang tampak cantik tuh di
dalamnya cantik juga.”
“Iya …,” balas Tino sambil
mengangguk kecil. Matanya masih ngelihatin bibirku. Masih seperti bernafsu. “Tapi
kalau gue pengin tahu sudut pandang itu … demi alasan lain … elo bakal tetep
bantuin gue, enggak?”
“Apa pun yang Abang pengin,
gue ikhlas bantuin, Bang,” balasku. “Apalagi ini perkara ngenakin Abang dan
kontol Abang dan body Abang, haduuuh … goblok kalau gue sia-siain
kesempatan ini.”
“Dan ketek gue ….”
“Iya. Dan ketek Abang …,”
sahutku sambil terkekeh. Tino juga tergelak dalam tawa.
Tapi setelahnya bergidik.
“Ada-ada aja anjing, lu pake suka ketek gue segala.”
“Lagi ngetren sih homo-homo
suka ketek. Tapi gue juga suka kulup Abang. Suka bool Abang. Suka pentil
Abang. Suka semua-muanya lah, anjing, enggak bakal gue pilih-pilih lagi!”
“Iyeee …! Entar gue sewain
deh body gue buat penghasilan tambahan!”
“Sewa? Jadi gue harus
bayar?! Dih! Enggak!” Aku menjulurkan lidah ke arah Tino.
Tino tiba-tiba nyosor,
seperti ingin mencengap lidahku, lalu menggigitnya, seperti ikan yang mencoba
menangkap makannya. Tapi enggak kena, kok. Kami malah tertawa terkekeh-kekeh.
Sambil Tino tiba-tiba menarik kepalaku hingga kening kami beradu.
Kami masih tergelak beberapa
saat, saling mengembuskan napas ke wajah satu sama lain. Lalu dengan suara
lebih tenang dan dewasa, Tino bertanya untuk kali terakhir, “Jadi boleh, kan?
Elo bantuin gue … buat kenal dunia elo?”
“Iya, boleh,” jawabku.
“Asalkan alasannya baik. Bukan karena mau musnahin kaum homo.”
Tino terkekeh lagi. Napas
dari kekehannya berembus ke wajahku dengan hangat. Aroma mint. “Iya, kagak.
Alasan gue bukan buat musnahin kalian.”
“Apa dong alasannya?”
Tino tiba-tiba maju dan
mengecupku. Hanya tiga detik saja. Dia memagut bibirku, mengusapnya dengan
lidah sesaat, lalu mencumbunya dengan lembut. Setelahnya dia menjawab,
“Alasannya adalah elo …, Leo. Gue lakuin buat elo.”
[ … ]
“Alasannya adalah Abang
belum bisa kehilangan gue, supaya Abang masih bisa manfaatin gue.”
Aku memutar bola mata di
depan pintu masuk gym premium tempat Tino bekerja. Siang ini aku diseret
Tino ke sini, diminta nemenin dia sepanjang dua sesi sama kliennya di sini. Aku
diminta latihan juga sendirian. Terus kalau ada hal-hal emergency
seperti misalnya Tino di-prank lagi oleh homo-homo di sini, aku harus
mengintervensi dan menyelamatkannya.
“Hehe,” jawab Tino singkat
sambil berjalan menduluiku ke dalam.
Aku mendengus sebal sambil
mengutuk dari belakang. Kutukannya adalah, semoga kontol Tino makin gede dan
makin enak dipake nusuk! Kujejeri dia sepanjang kami berjalan menuju ruang
ganti. “You’re gonna be fine!” sahutku untuk kesekiankalinya. “Kalau ada
yang kurang ajar, tendang aja homonya. Gue ikhlas kok, Bang, meski mereka
bagian dari ordo gue.”
“Udah, jangan banyak bacot!
Malam ini gue kasih kontol.”
“Enggak mau. Udah pernah
nyobain!” Aku mendengus.
“Halah! Gue perosotin celana
gue, elu ngaceng juga, anjing!” Tino menoyor kepalaku hingga aku hampir
tersungkur dan menabrak sebuah alat untuk latihan dada di dekat pintu masuk
loker.
Susah payah aku kembali
berdiri tegak sambil berkacak pinggang.
Untung aku cinta kamu,
anjing! Aku sumpahin jadi boti, tahu rasa kamu,
Tino!
Jadi, Congs, aku belum ngewe
lagi sama Tino, kok. Kamu tenang aja. Enggak terlewat satu kisah erotis mana
pun soal Tino. Malam itu kami mengobrol panjang sampai ketiduran. Seharian
berikutnya aku ke kampus buat ngurusin skripsiku. Dan keesokan harinya, yaitu
hari ini, Tino maksa aku buat nemenin dia nge-gym.
Dia ada jadwal latihan sama
dua klien. Jadi mungkin Tino ngabisin 3 – 4 jam di sini. Dan aku diminta ada di
sini the whole time dia di sini. Meski tampak tegar, gagah, kekar, dan
ganteng, tetap saja Tino adalah manusia yang punya insecurity ketika
tubuh telanjangnya direkam oleh seorang banci, dan entah menunggu kapan video
itu bakal tersebar untuk merusak nama baiknya.
Tino sempat nangis, lho.
Enggak sesenggukan kayak banci, tapi aku lihat air mata itu mengalir dari sudut
matanya tempo malam. Dalam gelap kamar Tino, sambil dia peluk aku. Dia nanya ke
langit-langit, “Kalau gue entar punya anak …, apa ya perasaan anak gue pas
lihat bapaknya ditipu lewat VCS … ngocok depan kamera … badan diminyakin …
pamer ketek … pamer bool … pamer kontol …?”
Suaranya getir. Bukan
bercanda.
Tapi aku enggak suka kalau
Tino terdengar sedih. Bikin aku jadi pengin ngacak-ngacak muka si Lidya bencong
itu. Masalahnya, aku bukan orang yang ahli buat menghibur orang yang sedih. Aku
bukan Enzo yang jago berempati. Atau Romi yang jago bertingkah konyol sehingga
orang mudah tertawa. Aku juga bukan Lanang yang … apa ya …? Dia jago apa, ya …?
Selingkuh …? Aku hanyalah Leo, mahasiswa tingkat akhir yang naksir penghuni
kamar sebelah dan sehari-hari gaya hidupnya bebas, lepas, zen, hilang-healing
staycation, dan cuma ngurusin mental health problem sendiri aja
kayak semua Gen Z. Bukan mental health orang lain.
Jadi menanggapi itu, aku
malah bilang, “Semoga aja anaknya Abang homo. Jadi lihat video itu, dia malah coli.”
Aku langsung digeplak sama
Tino. Pantatku sih yang digeplak. Tapi aku tahu kata-kataku enggak tahu diri
banget. Dia lagi sedih soal musibah yang menimpa dia, aku malah bercanda soal
masturbasi.
Makanya ketika dia maksa aku
buat nge-gym sampe empat jam, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah
mengiakan. Apalagi Tino terlanjur tahu bahwa aku lagi santai sepanjang hari
karena revisi skripsiku sudah di-submit kemarin, tinggal menunggu feedback
dari dosbingku.
Ya sudah, terpaksa aku
luntang lantung nge-gym enggak jelas di sana, dalam radius yang cukup
dekat dengan Tino. Fungsiku kan menolong Tino agar tidak dilecehkan kliennya.
Jadi kalau kliennya mulai tidak senonoh, aku bisa ngasih kode.
Kesannya kayak si Tino lemah
banget, enggak bisa bela diri ketika dilecehkan. But listen to me Gays,
ketika seseorang punya trauma spesifik sama kekerasan seksual, segala hal yang
berkaitan dengan itu di masa depan bisa trigger dia, bikin dia justru
enggak punya kontrol atas dirinya lagi.
Tino ini orang baik, anjing.
Orangnya positif. Open minded. Generous. Enggak pernah berpikiran yang
jelek-jelek soal orang. Menghormati keputusan, jalan hidup, atau pilihan orang
lain. Enggak pernah nge-judge. Enggak pernah rasis. Enggak pernah
menganggap remeh, atau rendah, atau apa pun. Semua kliennya mau segede truk
kontainer, mau segede sapu lidi, enggak pernah dia omongin yang jelek-jelek
soal mereka, malah dia berusaha keras bikin program yang pas buat klien-klien
ini untuk mencapai body goals.
He’s fucking supportive when
I came out as gay to him. Aduh, harus gue bold
dan kapital ini mah.
HE’S FUCKING SUPPORTIVE WHEN
I CAME OUT AS GAY, MAHO, HOMO, BELOK, DAN LAIN SEBAGAINYA. HE’S FUCKING OKAY
WITH THAT, AND HE NEVER JUDGED ME AS WHO I AM!
Sekarang bayangin orang baek
kayak gitu dilecehkan secara seksual sama bencong!
Hancur enggak hatinya?
Hancur enggak hidupnya?
Hm?
Wajar kan kalau dia enggak
begitu jago ngadepin potensi pelecehan seksual di masa depan? Wajar kan kalau
dia masih insecure apa dia lagi dilecehin atau enggak sama homo-homo
ini? Wajar kan kalau dia minta bantuanku untuk ngasih kode-kode setiap ada yang
enggak beres?
That’s whyyy …, aku bakal berada di garda terdepan buat ngelindungin Tino dari
homo-homo yang enggak bertanggung jawab.
HUH!
Ya sudah, balik lagi ke sesi
gym empat jam ini. Aku enggak tahu mau ngapain karena aku enggak pernah
nge-gym sampai empat jam segala. Aku juga punya membership di gym
ini supaya bisa ikutan kelas body combat sama pilates. Alat-alat
pembentuk otot sih aku jarang sentuh. Aku bisa, tapi aku udah enggak ingat aku
harusnya ngapain aja. Jadi sepanjang hari, aku pake aja apa pun alat yang
terdekat antara Tino dan kliennya. Most likely aku ngelatih seluruh
badanku dari dada, bahu, punggung, perut, lengan, sampe kaki, sih. Kayak pemula
yang clueless mesti ngapain di tempat kayak begini.
Saking ngaconya gerakanku,
Tino sampai melipir sebentar ke tempatku buat benerin gerakanku. Dia biarin si
kliennya istirahat, lalu dia jalan ke arahku buat bilang. “Bahu lu salah.”
“Biarin!” balasku.
“Kalau kayak gitu, entar
yang kena bukan dada lu, tapi malah tangan lu. Gini.” Dia mencontohkan
gerakannya, supaya bisa kuikuti.
Aku menjulurkan lidah dengan
sebal, lalu aku melakukan gerakan itu sesuai ajaran Tino. Setelah gerakanku
benar, Tino balik lagi ke kliennya.
Tapi itu bukan satu-satunya.
Dia bolak-balik berkali-kali ke tempatku cuma buat bilang ….
“Kaki lu salah. Entar lu
jatuh kalau begitu.”
“Kalau punggung lu enggak
melengkung, nanti malah core elo yang narik. Bukan otot elo.”
“Tangannya jangan lurus,
tekuk aja sikunya 90 derajat. Gapapa. Biar bahunya kena.”
“Ini beban lu kanan kiri
beda, anjir! Pelat yang elu pasang di kanan lebih ringan 5 kilo!”
“Elo ngelakuin gerakan apa,
sih? Harusnya bagian ini tuh buat kaki lo, bukan kepala lo.”
“Oh? Iya, ya?” Aku langsung
melompat turun. Pantesan mesinnya enggak gerak-gerak.
Tino terkekeh melihat
tingkah tololku. Dia mengusap mukanya sambil geleng-geleng kepala. “Harusnya
gue rekam dulu sebelum ngasih tahu elo. Pengin tahu gue …, bisa enggak elo
gerakin leg press pake kepala. Hahaha.”
“Ah, ini mah alatnya
yang ngaco!” Aku melipat tangan di depan dada dengan kesal. “Enggak ada
petunjuknya pula. Enggak ada gambar cara pakenya. Wajar kalau orang-orang salah
pake—”
“Nih, ada!” Tino berjongkok
dan menunjukkan stiker yang ditempelkan ke mesin itu, yang menunjukkan cara
penggunaannya, di mana bagian yang tadinya kupikir untuk kepala, ternyata itu
untuk kaki.
Punggungku sampai pegal,
anjing. Gara-gara menahan beban keterlaluan itu di pundak. Sudah gitu, aku
enggak bisa bergerak ke mana-mana.
“Terlalu bawah. Enggak
kelihatan. Enggak ramah user,” kelitku, sambil memalingkan muka.
Tino masih ngakak dengan
puas seraya menepuk bahuku dan berkata, “Klien kedua gue udah mau datang.
Kayaknya yang kedua ini rada insecure-an orangnya. Enggak mungkin
nyolek-nyolek gue. Kalau elo mau istirahat sekarang, boleeeh ….”
Aku melorotkan bahu dengan
lega dan mengambil botol minumku. “Aku mau sauna! Bye!”
“Tetep tungguin gue, ya.
Pulang bareng!”
“Enggak!” candaku sambil
menjulurkan lidah ke luar.
Aku berjalan masuk ke dalam
area loker, merasa lega karena akhirnya bisa bersantai tanpa perlu latihan,
atau bermenit-menit memecahkan masalah kenapa mesin ini enggak gerak-gerak
padahal posisi kepala dan kakiku yang salah. Aku akan sauna cukup lama, kalau
bisa sambil cuci mata melihat cowok-cowok kekar ganteng member gym ini
handukan saja dan keringatan. Setelahnya aku akan mandi di bawah kucuran shower
hangat sambil melamun dan merefleksikan diri. Atau mengingat-ingat lagi, apakah
skripsiku ada yang masih harus kurevisi.
Ketika aku membuka loker dan
bermaksud mengeluarkan handuk, aku melihat seorang PT masuk ke ruang ganti. Dia
menghampiri PT yang kebetulan baru selesai mandi tetapi sudah mengenakan
pakaian salin. PT yang baru selesai mandi tuh aku lihat sedari tadi waktu
latihan. Memang dia masuk duluan karena mungkin jam kerjanya sudah selesai.
Sementara PT yang baru masuk itu, sudah mengenakan seragam PT, tapi kayaknya
baru mulai shift kerjanya. Keduanya adalah PT berbadan besar dan kekar,
seperti Tino, dengan kulit lebih gelap, dan wajah manly tapi enggak
seganteng Tino.
Awalnya aku enggak
mengindahkan pertemuan dua PT itu. Tapi ketika mereka mengobrol, aku terpana
menatap isi lokerku gara-gara apa yang mereka bicarakan.
“Masih mau sesi dia,” kata
PT yang baru datang.
“Si Tino? Masih banyak dia
kliennya,” balas PT yang baru selesai mandi. Dia sedang mengenakan sepatu.
Di situlah aku terdiam
sebentar. Wajahku terhalang pintu loker, jadi aku pura-pura ngapain gitu di
loker, sambil menguping obrolan dua PT tersebut. Alasanku menguping adalah
keduanya terkekeh saat menyebutkan nama Tino. Dan kekehan itu seperti ….
… merendahkan.
“Satu akhirnya pindah ke
gue,” ungkap PT Baru Datang. “Kesel dia gara-gara kemaren si Tino banyak
bolosnya.”
“Ya bagus, lah. Biar rata
aja pembagian kliennya. Masa dia mulu?”
“Pindah aja anjir kalau bisa
mah,” balas PT Baru Datang. “Ke Bekasi aja sekalian. Hahaha.”
“Hahaha.”
“Sok-sok alim orangnya.
Pengin kelihatan kayak orang suci.”
“Ciri-ciri orang fake
kayak gitu,” sahut PT Baru Selesai Mandi. Sepatu dia sudah selesai dikenakan,
dan dia sudah bersiap pergi. “Ngedapetin apa pun yang pengin dengan cara
pura-pura baik.”
“Menjilat itu namanya.”
“Sama aja, Bro.” Dia menepuk
PT Baru Datang. “Gue duluan, yak!”
“Yoi!”
Mereka enggak suka Tino.
Mereka juga berprasangka
buruk tentang Tino.
[ … ]
Part 5 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 6 (Bag. B)
Komentar
Posting Komentar