Aku pengin banget ngomongin soal dua personal trainer di ruang loker itu kepada Tino, tetapi aku enggak tahu gimana mulainya. Selesai mandi, Tino juga sudah selesai dengan kliennya dan langsung bersiap pulang tanpa mandi dulu di tempat gym.
Aku udah nawarin sebenarnya.
“Gapapa. Gue tunggu di sini, Abang mandi dulu aja.”
“Kagak usaaahhh … di rumah
aja. Yoh!”
Masalahnya, aroma keringat
Tino tuh enak. Bikin pengin menjilat. Jadi sepanjang duduk di mobil, membiarkan
Tino menyetir mobilku menuju Kosan Hamid, pikiranku terbagi antara menghidu
aroma tubuh Tino yang maskulin atau membicarakan tentang dua personal
trainer yang enggak suka sama dia.
Sayangnya Tino lagi banyak
omong sore itu. Gara-gara aku salah pake mesin, dia jadi menceramahiku soal
keselamatan penggunaan alat-alat fitnes.
“… itu tuh bahaya. Kalau
bingung sih elo mestinya nanya aja ke PT terdekat. Gapapa. Enggak akan dianggap
norak atau kampungan kok. Daripada elu ketindihan beban di posisi yang enggak
seharusnya. Gede lho barusan alat elo itu. Kalau badan lu kelipet, kan berabe,
Bro! Di setiap alat itu pasti ada stiker buat penggunaannya. Sampe kepala elo
tegaknya mesti segimana pun ….”
Bla bla bla bla bla ….
Masih panjang ceramahnya.
Intinya Tino nyebelin banget
sepanjang perjalanan pulang. Nyaris saja aku bergabung dengan dua PT di ruang
ganti tadi untuk membentuk koalisi memindahkan Tino ke cabang Bekasi. Sayangnya
aku jatuh cinta sama Tino, jadi aku berusaha sabar aja.
Sialnya adalah, sampe
mobilku masuk ke gerbang Kosan Hamid, si Tino masih aja ngebahas soal
keselamatan olah raga di tempat gym. Aku hampir enggak bisa nyela dia
sama sekali. Takutnya sih aku digeplak dan diledekin lagi sama Tino. Jadinya
aku diam aja. Bahasan soal itu akhirnya berhenti ketika mobilku parkir di lokasi
biasanya, lalu mesin mobilnya dimatikan.
Tino langsung memutar
tubuhnya ke belakang untuk mengambil sports bag-nya. Dia juga
mengambilkan sports bag punyaku, lalu meletakkannya ke pangkuanku. Ketika
dia mau membuka mulut untuk berbicara, sebuah motor Ninja warna hitam masuk ke
area kosan, mengebut kencang, lalu masuk ke area parkiran mobil. Padahal, area
parkir motor bukan di sini. Parkiran motor ada di sebelah gedungnya Enzo.
“Siapa itu?” tanyaku.
“Si Edvan bukan, sih?” gumam
Tino, sama-sama penasaran juga.
“Edvan yang kamarnya samping
Romi?”
Tino mengangguk sembari
keluar dari mobil. Aku juga turun, tetapi pandanganku tak bisa teralihkan dari
sosok itu.
Dia tampak mencurigakan.
Hampir seperti maling. Well, secara teknis dia kayak maling di game The
Sims, sih. Penampilan dari atas ke bawah serba hitam, dengan tas hitam, dan
motor Ninjanya yang besar itu juga warna hitam. Dia memarkirkan motornya ke
gang kecil dekat tangga menuju kamar kami. Seakan-akan dia menyembunyikan motor
itu dengan sengaja di sana.
Aku dan Tino berjalan menuju
tangga tanpa melepaskan tatapan kami dari aksi mencurigakan itu. Benar dugaan
Tino, itu Edvan. Lelaki twink ganteng yang kamarnya sebelahan sama Romi,
dan setiap hari Romi sering main ke situ.
Karena Edvan parkir di dekat
tangga sebelah kamar Tino, tentu saja kami berpapasan dengannya di bawah
tangga. Edvan tampak panik. Dia juga terkejut ketika akan melompat menuju
tangga, tetapi terhalang oleh aku dan Tino.
“Argh!” erangnya sambil
ngos-ngosan dan berpegangan ke dinding tangga. Padahal tadi Edvan mengendarai
motor Ninja, tetapi dia terengah-engah kayak habis maraton 10 km bareng Pocari
Sweat. “Elo … elo berdua … enggak lihat gue!” tegasnya, masih aja megap-megap.
Aku menyipitkan mata. “Gue
lihat, kok,” kataku. “Tuh, elo di situ. Pake baju item-item, cuaca cerah, di
Jakarta, pake sepatu bot pula …, dan sepatu botnya kotor sama lumpur.”
“Enggak. Elo enggak lihat
gue!” tegas Edvan ngos-ngosan, satu tangannya bertumpu ke dinding tangga, satu
tangannya melambai-lambai seperti iklan sebuah partai berwarna biru yang tagline-nya
‘Katakan: TIDAK!’.
“Lihat!” balasku. “Gue
lihat! Elo kelihatan jelas di depan gue. Nyata. Berwujud. Elo lagi latihan
ngepet atau gimana? Kalau iya, ngepet elo gagal.”
Tino terkekeh kecil. Dia
menepuk bahu Edvan. “Dari mana lu?”
Edvan malah geleng-geleng
kepala. “Please. Kalian bantu gue. HOH. HOH. Kalian enggak
ngelihat gue. Gue enggak dari mana-mana. HOH. HOH.”
“Eh, bentar, kalau ngepet
kan harus jadi babi,” kataku. “Elo ngambil ajian jadi kuyang?”
Tino terkekeh lagi sambil
menyenggolku. “Kalau kuyang berarti kepala ama usus doang, anjir. Udah, ngaku,
elo dari mana!” sahut Tino sambil ngusap-ngusap bahu Edvan dengan penuh
perhatian. “Gampang kok nutupin alibi elo, asal elo bilang dari mana.”
“Dan sepatu bot elo kotor
anjir,” ungkapku, menunjuk sepatu bot hitam Edvan yang bagian sol bawahnya
dipenuhi lumpur. “Ini bisa dimarahin Pak Hamid kalau lantai di atas banyak
jejak lumpur kayak begitu.”
Edvan sepakat. Dia langsung
lempar tasnya ke lantai, lalu dia menggesek-gesekkan sepatu kotornya ke rumput samping
gedung. Dia masih ngos-ngosan. Ranselnya agak kebuka sedikit. Ketika dilempar,
ritsletingnya makin terkuak lebar.
Sebagai makhluk kepo,
aku mengambil tas itu dan menguak isinya. Ada banyak sekali roti di dalamnya.
Masih terbungkus plastik. “Elo … jualan roti sekarang? Enggak main game
lagi, hah?”
Aku tahu persis lagu himne
untuk roti merek dagang ini.
🎵 Sari Boti …, Boti Sari Boti ...! 🎶
“Gue … HOH HOH … gue dari
Bogor,” kata Edvan, akhirnya mengaku.
“Lu ngebut dari Bogor ke
sini pake motor?” tanya Tino.
Edvan mengangguk sambil
tetap menggesek sepatunya di atas rumput, seakan-akan itu adalah keset kaki
bertuliskan Welcome. “Iya. Ada kumpulan nudis di sana.”
“Random banget
anjir!” sahutku setengah ngakak. “Baju item-tem, bawa tas isi roti, sepatu
kotor, dari Bogor, datang ke kumpulan nudis. Elo saltum juga kayaknya, Bro!
Nudis mana ada yang pake baju.”
“Nudis apaan?” bisik Tino
sambil menyikutku.
“Entar aja dijelasinnya.”
“Pokoknya jangan bilang
siapa-siapa!” sahut Edvan tergesa-gesa. Dia merasa sepatunya sudah lebih bersih
dari lumpur, jadi dia melompat lagi ke koridor, lalu mengambil tasnya dari
tanganku. “Sorry, gue buru-buru! Thanks.”
Edvan berlari menaiki tangga,
melompatinya dua-dua, lalu menghilang di atas dengan kilat. Dari bawah kami
bisa mendengar Edvan berlari di koridor, lalu menghambur masuk ke dalam
kamarnya, bahkan membanting pintu. Brak!
Wow. Aku beneran harus get
to know him better, sih. Selain ganteng dan menarik, dia juga punya kink
yang perlu dijelaskan. Nudis, Bogor, roti ….
“Gue mau mandi dulu. Habis
mandi gue mau beres-beres,” kata Tino sambil menaiki tangga menduluiku.
“Oke. Gue mau istirahat
juga,” balasku, membuntutinya dari belakang. Di titik itu aku sudah lupa bahwa
sedari tadi aku ingin membahas soal dua PT yang enggak suka sama Tino. Tapi
kupikir …, nanti lagi saja, lah dibahasnya.
Sesampainya di depan kamar
Tino, sebelum kami berpisah karena kamarku ada di sebelahnya, Tino sempat
bertanya, “Jadi nudis tuh apa?”
“Sekumpulan orang yang
melakukan aktivitas sehari-hari enggak pake baju. Telanjang bulat aja gitu.
Kontol ke mana-mana.”
Tino membelalak terkejut.
“Oh … wow ….” Dia juga menoleh sejenak ke arah kamar Edvan di ujung sana. Tak
percaya di kosan ini ada orang yang hobi melakukan kegiatan itu. Tapi kemudian
dia menoleh ke arahku. “Berarti sama dong?”
“Apanya yang sama?” tanyaku,
sudah berjalan ke kamarku dan hendak membuka kunci pintu.
“Nanti malam kita nudis
juga, kan?”
“Enggak!” Aku memutar bola
mata sambil nyelonong masuk ke kamarku.
[ … ]
Pukul delapan, sehabis makan
malam, kuputuskan untuk main ke kamar Tino. Aku lagi sange. Dan aku lagi
pengin coli-ku bayangin Tino. Tapi aku baru sadar, aku kan sudah bisa
mengakses tubuh telanjang Tino. Ngapain aku ‘bayangin’ kalau aku bisa langsung
‘nikmatin’?
Jujur, ke-sange-anku
ini gara-gara Edvan. Sejak pertemuan kami di tangga itu, aku terus-menerus
membayangkan dia telanjang bulat di depan banyak orang yang telanjang bulat
juga, most likely di Bogor yang dingin, sambil mengunyah roti. Lalu
semua orang bisa melihat ketelanjangan cowok cute nan twink itu.
Termasuk kontolnya. Yang mungkin panjang, ya. Sebab dia lebih kurus dari Tino
meski aku bisa melihat otot bisepnya menjendol seperti telor kalau dia
mengangkat lengannya.
Di situlah aku sange
berfantasi jalan-jalan di Bogor bersama Edvan yang telanjang. Namun karena
enggak mungkin aku nyelonong masuk kamar Edvan buat coli sambil lihatin
dia telanjang, yang paling mungkin ya nyamperin kamar PT yang sudah merebut
hatiku sejak empat tahun lalu.
Tok, tok, tok! “Bang?!” panggilku sambil meletakkan satu tangan ke kusen dan bersandar
di situ.
Ada jeda sejenak sebelum
akhirnya suara kunci, cekrek, cekrek, dua kali, dibuka. Pintu terkuak
sedikit dan setelahnya Tino melongokkan kepala dari balik pintu.
“Kok tumben dikunci? Baru
jam delapan, anjir!” sahutku, berkacak pinggang.
Tino celingukan dulu ke
luar, khususnya ke lorong kosan, seakan-akan memastikan tak ada yang melihat
kedatanganku ke sini. Persis tempo hari saat dia mau meminjam proyektor untuk
VCS sama Lidya. Karena setengah badannya bisa kelihatan, aku melihat Tino
enggak pakai baju. “Masuk!” bisiknya hati-hati.
Bukannya masuk, aku malah berdiri
diam di depan pintu. “Kok aku kesannya kayak lonte? Masuk kamar Abang mesti
diam-diam gini ….”
Tino mengulurkan tangan
untuk menoyor pipiku. “Mau masuk kagak?”
Aku mendengus dan menghambur
masuk ke kamar Tino. Ketika aku masuk dan berbalik, kutemukan Tino telanjang
bulat, hanya menutup area selangkangannya dengan handuk—tetapi tidak
melilitkannya ke panggul. Tino menutup pintu dan menguncinya lagi dua kali. Dia
mengintip lewat tirai jendela yang tertutup, lalu merasa lega karena tak ada
orang yang melihatku masuk.
Padahal kamar Tino paling
ujung, anjir. Selain ujung, kamar ini juga ada di ujungnya gedung—jauh dari
gerbang utama. Enggak mungkin ada orang yang bakal lewat sini kecuali orangnya
habis nudisan dari Bogor dan parkir motornya di area sekitar sini.
“Abang ngapain bugil?”
tanyaku.
Tino sudah tak malu lagi
telanjang di depanku. Jadi dia melempar handuknya ke kursi, membiarkan kontol uncut-nya
yang imut menggemaskan itu terekspos di depanku, lalu dia melompat ke atas
kasur. “Gue lagi coli.”
“Anjir. Gue kira Abang lagi
pesta narkoba, sampe-sampe takut kedengaran tetangga.” Aku ikut melompat ke
atas kasur. “Ya udah gue ikutan. Gue lagi sange juga, terus pengin coli
sambil merkosa Abang.”
“Gue lagi nyoba coli
lihatin video homo,” kata Tino sambil menunjukkan layar ponselnya, yang
menampilkan timeline Twitter, tentang sebuah grup video porno berbayar,
yang sebenarnya video-video mereka cuma satu menitan, karena kalau mau nonton
versi lengkapnya harus gabung ke Telegram, bayar 50 ribu, member selamanya.
“Ngapain?” tanyaku. Aku
mengambil ponsel itu dan melihat apa saja yang sedang ditonton Tino.
Sembari memainkan kontolnya
yang enggak ngaceng sama sekali, Tino menjawab, “Yah … kan gue udah
bilang. Gue pengin tahu sudut pandang kalian. Kenapa kalian suka amat ama sesama
jenis.”
Aku geleng-geleng kepala. “Udah
sih, kalau Abang straight, ya straight aja. Enggak usah maksain
jadi homo. Emang setelah ini, Abang mau open BO buat boti-boti?”
Tino membelalak kecil.
Seperti tercerahkan. “Kalau open BO emang gajinya berapa?”
Kutoyor kening Tino. “Lu
kata open BO kayak PNS?! Ada gajinya?!” Geleng-geleng kepala aku
membantu mencarikan Tino video homo Twitter yang lebih hot. “Enggak
sekalian tunjangan juga, Bang? Sama uang perjalanan dinas?”
“Ya siapa tahu gue dipecat
dari gym gara-gara video gue tersebar.”
“Enggak akan. Yang ada malah
tempat gym-nya makin rame kalau ada video prank PT.”
Tino bersandar lagi ke
kepala ranjang, mengamatiku yang masih mencarikannya video Twitter yang oke.
Dia memainkan kontolnya yang layu. Dia buka kulupnya maju mundur, menguak
kepala kontolnya, lalu mengerudunginya lagi. Begitu saja terus tanpa ada
tanda-tanda itu kontol membesar maupun menegang.
“Elo … elo udah nemu … video
gue?” tanya Tino, pelan-pelan.
Aku menggelengkan kepala.
“Belum,” jawabku. “Tiap hari gue buka Twitter, gue selidiki setiap akun prank,
belum ada video Abang. Berdoa aja Bang videonya enggak pernah muncul. Ini suka
enggak?” Kutunjukkan salah satu video Rifaiju yang bottom-nya manly,
kekar, dan lumayan ganteng.
Tino mendekat untuk melihat
video itu. Lalu dia menggeleng. “Enggak.”
“Ini hot, lho!”
“Enggak. Itu isinya
laki-laki—”
Kucubit juga putingnya,
anjir.
“Aw! Aw! Aw!” Tino mengerang
sambil memukul-mukul tanganku yang sedang menarik teteknya. Sambil meringis dia
menyikutku. “Kenapa dicubit, sih?!”
“Ya katanya mau lihat video
homo! Ya pasti isinya laki-laki, Baaang!”
“Ya cari yang bagus, anjing!
Masa yang begitu!”
Dasar selera rendahan!
Jelas-jelas boti-nya Rifaiju yang ini oke banget!
“Cari yang muka cowoknya tuh
…, nyebelin kayak elu, gitu Bro,” lanjut Tino. “Yang bikin gue pengin nyiksa
elo pake ngewe. Kayak kemaren.”
“Bacot!” balasku, seraya
mencoba mengingat-ingat apa nama akun Milky Boba. “Kalau yang sama bencong,
sama waria yang masih berkontol, bakal suka enggak—”
“ENGGAAAKKK …!” sahut Tino
seketika. “No bencong-bencongan.”
“Bencongan tuh nama tempat
di Karawaci,” sergahku sambil memutar bola mata.
Aku menghela napas dan
mencoba mencari video-video lain. Beberapa video bokep gay yang lumayan
viral akhir-akhir ini enggak ada yang disukai Tino. Semuanya bikin dia
menyeringai jijik dan marah-marah. Bahkan mengumpat bahwa orang-orang di video
itu homo laknat. Ya memang homo laknat. Tapi kalau niatnya buat jadi homo, ya
video-video begini yang mestinya dia lihat!
“Abang pake akun Twitter gue
yang isinya bokep aja, deh,” kataku akhirnya, log in akunku yang khusus
nge-retweet bokep-bokep yang kusuka.
Tino mengangguk setuju. Dia
menunduk dan menatap lagi kontolnya yang masih saja layu. Dia buka tutup
kulupnya, seakan-akan mencari kunci jawaban. Lalu, sembari menunggu aku
mengatur aplikasi Twitter di ponselnya, dia mendongak dan menatapku dengan
tatapan memelas. Kayak dia mau ngewe aku, gitu. Bahkan dia nyolek-nyolek
lenganku.
“Coba elo buka baju juga,”
bisiknya.
“Kita mau ngewe nih?”
Tino menggeleng. “Coba elo
bantuin gue bikin enak, Bro. Gue scroll Twitter-nya sendiri, tapi elo
yang gerayangin gue. Siapa tahu … siapa tahu gue ngaceng.”
Aku terdiam sejenak sambil
menatap wajah Tino.
Lalu pandanganku turun ke body
seksinya yang kekar.
Dan turun lagi ke kontol
Tino yang masih lemas saja.
Kontol terindah yang pernah
kulihat sepanjang masa.
“Oke,” jawabku. “Toh gue
juga ke sini mau coli sambil ngelecehin elo, Bang.”
Tino merentangkan tangannya
lebar-lebar. “As you desired, Tuan Putri. Apa pun yang Tuan Putri pengin
lakuin …, lakuin aja.”
“Bentar.” Aku turun dari
tempat tidur dan melepaskan semua yang menempel ke tubuhku. Aku telanjang bulat
juga seperti Tino. Bedanya, kontolku ngaceng keras. Dan sudah ada precum
keluar dari lubang kontolnya.
“Nah, gue pengin kayak
gitu,” gumam Tino, menunjuk kontolku, bahkan dia menariknya turun, lalu
melepaskannya ke atas. TUIIINGNGNG …! Kontolku memental naik turun.
“Tenang! Gue bikin kontol
Abang lebih keras dari sini. Majuan dikit!”
Posisinya simpel aja. Tino
duduk di depanku. Badanku menempel ke punggungnya. Kami duduk sambil
menyelonjorkan kaki. Namun tungkaiku memeluk paha Tino dengan hangat. Badan dia
lebih gede dariku, tapi enggak apa-apa. Lalu, aku menyelinap ke bawah lengan kanan
Tino, ke bawah keteknya yang berbulu seksi itu. Kepalaku muncul seraya menyosor
puting kanan Tino. Tangan kiriku menyusup di bawah lengan kiri Tino, mencubit
puting sebelah sana. Lalu tangan kananku di mana? Di kontol Tino. Meraba,
mengelus, dan memainkannya biar enak.
Tino memegang ponsel dengan
tangan kanan dan menggulir timeline akun khusus bokepku.
“Gue bikin Abang enak,”
kataku. “Tapi Abang fokus ke hape. Fokus merhatiin video-video homo di
situ, sambil berpikir bahwa … ini tuh indah, gitu Bang. Ini tuh … bikin sange.”
Tino manggut-manggut paham
dan mulai menggulir. Badannya bersandar ke badanku, lengan kanannya mengepit
kepalaku di bawah keteknya. Ketika aku melumat puting Tino, dia mendesah
lumayan keras, “Aaaaaahhh ….”
“Enak?”
Tino mengangguk. Matanya
masih fokus ke layar hape, menggulir dan menonton setiap video 2 menit
yang muncul di sana. Aku terus melumat puting itu. Berkali-kali berhasil
membuat tubuh Tino mengentak karena sensasi nikmat yang membuatnya terkejut.
“Aaaaaahhh ….” Tino mendesah lagi. Lumayan sering. Kontolnya yang kuusap-usap
pun mulai mengeras perlahan-lahan.
Adegan ini mulai persis
bokep Jepang yang ada watermark HUNK-CN, di mana si model dibikin enak
oleh seseorang dengan cara duduk, lalu kontolnya dimainin, tahu-tahu crot.
“Anjiiirrr …,” gumam Tino,
mulai keenakan. Dia mengepit kepalaku lebih erat ke tubuhnya, seakan-akan tak
ingin mulutku lepas dari putingnya. Tubuh Tino juga bergidik berkali-kali
sembari dia melantunkan, “Argh! Argh! Fuck.”
Aku mendongak dan melihat
kedua alis Tino bertaut seperti memelas. Mulutnya juga menganga kecil. Jujur
aku belum tahu apakah dia keenakan karena kubikin enak, ataukah sebuah video di
ponsel itu berhasil membuatnya enak? Kontol dia sudah tiga per empat ngaceng,
kayaknya. Sudah membesar, menggembung, tetapi belum sekeras beton, dan belum
mengacung tegak.
“Pake tangan kiri lihatnya,
Bang,” pintaku. “Aku pengin jilat ketek Abang.”
Tino enggak meledekku soal
ketek. Dia memindahkan ponselnya ke tangan kiri. Setelah itu dia menurut saja
ketika tangan kanannya kuangkat dan kusimpan di belakang kepala, supaya aku
bisa menjilati keteknya.
“AAAAAAHHH ….” Desahan
napasnya mulai kentara. Napasnya juga memburu dan badannya sempat berguncang
kecil saat lidahku menyusuri keteknya itu.
Apalagi ketika wajahku
terbenam di ketek seksi itu, mencoba mengendus dan menggosoknya dengan sensual.
Tubuh Tino langsung bergidik, seraya mulutnya melantunkan, “Anjing! Anjing!”
Lalu lengan itu seakan-akan ingin menutup, tetapi terhalang oleh kepalaku.
“Enak enggak, Bang?”
bisikku, masih sambil menikmati keteknya.
“Geli anjir.” Tapi Tino
sudah tak melihat lagi ponselnya. Kepalanya menoleh ke arahku, menatapku yang
sedang menikmati ketek itu. Kedua alisnya bertaut seperti memohon. Mulutnya
menganga kecil.
Tino memelas.
“Ampun, Bro …,” bisiknya.
“Udah.”
“Kenapa?” tanyaku sambil
tetap mengendus dan menggosok hidungku ke ketek berbulu itu.
“Geli.”
“Geli atau enak?”
Tino berdecak. Menelan
ludah. Mengatur napas yang memburu. Lalu mencoba menyosor bibirku, tetapi aku
menghindar. “Sama aja.”
Aku menunduk dan melihat
kontolnya sudah ngaceng penuh sekarang. “Jawabannya enak,” kataku sambil
terkekeh.
Tino menurunkan lengannya
dan kembali mengepit kepalaku, supaya wajahku bisa dia capai. Dia menyosor
bibirku dan mencumbuku. “Kayaknya gue lihat elo aja, Bro.”
Kuterima dulu cumbuan itu
beberapa saat, kemudian menjawab, “Jangan. Kalau mau latihan jadi homo, lihat
dulu aja Twitter-nya.”
“Enggak mau.”
“Ih! Lihat dulu sana.”
Tino rada kecewa. Mukanya
masih memelas. Namun dia berbalik lagi ke tangan kirinya sambil menggulir timeline
Twitter. Aku juga masih setia memeluknya dan mengocok kontolnya yang kini
keras. Malah, aku enggak mengenaki lagi Tino dengan lidah. Aku ikut menonton
video Twitter yang diklik Tino untuk beberapa saat, seraya menempelkan kepalaku
ke kepala Tino.
Ceritanya nobar video bokep gay.
Namun dua menit kemudian,
ketika Tino menggulir lagi ke bawah …, kami berdua membeku sejenak.
Jempol Tino bergetar kecil.
Napas kami tertahan,
seolah-olah tak bisa keluar.
Jantungku berdegup kencang.
Sungguh.
Dan kontol Tino ….
… kontol Tino layu seketika.
….
Di layar ponsel itu, terdapat sebuah video laki-laki telanjang sedang coli. Latarnya adalah jendela kamar kosan yang benar-benar kukenal. Caption dari video itu adalah ….
PRANK PT GYM PREMIUM KONTOL UNCUT TUBUH DIMINYAKIN MAU NUNGGING MAU JILAT KETEK.
Dengan wajah Tino sedang sange,
tampak jelas dan HD, di thumbnail-nya.
Komentar
Posting Komentar