(PPT) Part 6 Bag. B




Aku pengin banget ngomongin soal dua personal trainer di ruang loker itu kepada Tino, tetapi aku enggak tahu gimana mulainya. Selesai mandi, Tino juga sudah selesai dengan kliennya dan langsung bersiap pulang tanpa mandi dulu di tempat gym.

Aku udah nawarin sebenarnya. “Gapapa. Gue tunggu di sini, Abang mandi dulu aja.”

“Kagak usaaahhh … di rumah aja. Yoh!”

Masalahnya, aroma keringat Tino tuh enak. Bikin pengin menjilat. Jadi sepanjang duduk di mobil, membiarkan Tino menyetir mobilku menuju Kosan Hamid, pikiranku terbagi antara menghidu aroma tubuh Tino yang maskulin atau membicarakan tentang dua personal trainer yang enggak suka sama dia.

Sayangnya Tino lagi banyak omong sore itu. Gara-gara aku salah pake mesin, dia jadi menceramahiku soal keselamatan penggunaan alat-alat fitnes.

“… itu tuh bahaya. Kalau bingung sih elo mestinya nanya aja ke PT terdekat. Gapapa. Enggak akan dianggap norak atau kampungan kok. Daripada elu ketindihan beban di posisi yang enggak seharusnya. Gede lho barusan alat elo itu. Kalau badan lu kelipet, kan berabe, Bro! Di setiap alat itu pasti ada stiker buat penggunaannya. Sampe kepala elo tegaknya mesti segimana pun ….”

Bla bla bla bla bla ….

Masih panjang ceramahnya.

Intinya Tino nyebelin banget sepanjang perjalanan pulang. Nyaris saja aku bergabung dengan dua PT di ruang ganti tadi untuk membentuk koalisi memindahkan Tino ke cabang Bekasi. Sayangnya aku jatuh cinta sama Tino, jadi aku berusaha sabar aja.

Sialnya adalah, sampe mobilku masuk ke gerbang Kosan Hamid, si Tino masih aja ngebahas soal keselamatan olah raga di tempat gym. Aku hampir enggak bisa nyela dia sama sekali. Takutnya sih aku digeplak dan diledekin lagi sama Tino. Jadinya aku diam aja. Bahasan soal itu akhirnya berhenti ketika mobilku parkir di lokasi biasanya, lalu mesin mobilnya dimatikan.

Tino langsung memutar tubuhnya ke belakang untuk mengambil sports bag-nya. Dia juga mengambilkan sports bag punyaku, lalu meletakkannya ke pangkuanku. Ketika dia mau membuka mulut untuk berbicara, sebuah motor Ninja warna hitam masuk ke area kosan, mengebut kencang, lalu masuk ke area parkiran mobil. Padahal, area parkir motor bukan di sini. Parkiran motor ada di sebelah gedungnya Enzo.

“Siapa itu?” tanyaku.

“Si Edvan bukan, sih?” gumam Tino, sama-sama penasaran juga.

“Edvan yang kamarnya samping Romi?”

Tino mengangguk sembari keluar dari mobil. Aku juga turun, tetapi pandanganku tak bisa teralihkan dari sosok itu.

Dia tampak mencurigakan. Hampir seperti maling. Well, secara teknis dia kayak maling di game The Sims, sih. Penampilan dari atas ke bawah serba hitam, dengan tas hitam, dan motor Ninjanya yang besar itu juga warna hitam. Dia memarkirkan motornya ke gang kecil dekat tangga menuju kamar kami. Seakan-akan dia menyembunyikan motor itu dengan sengaja di sana.

Aku dan Tino berjalan menuju tangga tanpa melepaskan tatapan kami dari aksi mencurigakan itu. Benar dugaan Tino, itu Edvan. Lelaki twink ganteng yang kamarnya sebelahan sama Romi, dan setiap hari Romi sering main ke situ.

Karena Edvan parkir di dekat tangga sebelah kamar Tino, tentu saja kami berpapasan dengannya di bawah tangga. Edvan tampak panik. Dia juga terkejut ketika akan melompat menuju tangga, tetapi terhalang oleh aku dan Tino.

“Argh!” erangnya sambil ngos-ngosan dan berpegangan ke dinding tangga. Padahal tadi Edvan mengendarai motor Ninja, tetapi dia terengah-engah kayak habis maraton 10 km bareng Pocari Sweat. “Elo … elo berdua … enggak lihat gue!” tegasnya, masih aja megap-megap.

Aku menyipitkan mata. “Gue lihat, kok,” kataku. “Tuh, elo di situ. Pake baju item-item, cuaca cerah, di Jakarta, pake sepatu bot pula …, dan sepatu botnya kotor sama lumpur.”

“Enggak. Elo enggak lihat gue!” tegas Edvan ngos-ngosan, satu tangannya bertumpu ke dinding tangga, satu tangannya melambai-lambai seperti iklan sebuah partai berwarna biru yang tagline-nya ‘Katakan: TIDAK!’.

“Lihat!” balasku. “Gue lihat! Elo kelihatan jelas di depan gue. Nyata. Berwujud. Elo lagi latihan ngepet atau gimana? Kalau iya, ngepet elo gagal.”

Tino terkekeh kecil. Dia menepuk bahu Edvan. “Dari mana lu?”

Edvan malah geleng-geleng kepala. “Please. Kalian bantu gue. HOH. HOH. Kalian enggak ngelihat gue. Gue enggak dari mana-mana. HOH. HOH.

“Eh, bentar, kalau ngepet kan harus jadi babi,” kataku. “Elo ngambil ajian jadi kuyang?”

Tino terkekeh lagi sambil menyenggolku. “Kalau kuyang berarti kepala ama usus doang, anjir. Udah, ngaku, elo dari mana!” sahut Tino sambil ngusap-ngusap bahu Edvan dengan penuh perhatian. “Gampang kok nutupin alibi elo, asal elo bilang dari mana.”

“Dan sepatu bot elo kotor anjir,” ungkapku, menunjuk sepatu bot hitam Edvan yang bagian sol bawahnya dipenuhi lumpur. “Ini bisa dimarahin Pak Hamid kalau lantai di atas banyak jejak lumpur kayak begitu.”

Edvan sepakat. Dia langsung lempar tasnya ke lantai, lalu dia menggesek-gesekkan sepatu kotornya ke rumput samping gedung. Dia masih ngos-ngosan. Ranselnya agak kebuka sedikit. Ketika dilempar, ritsletingnya makin terkuak lebar.

Sebagai makhluk kepo, aku mengambil tas itu dan menguak isinya. Ada banyak sekali roti di dalamnya. Masih terbungkus plastik. “Elo … jualan roti sekarang? Enggak main game lagi, hah?”

Aku tahu persis lagu himne untuk roti merek dagang ini.

🎵 Sari Boti …, Boti Sari Boti ...! 🎶

“Gue … HOH HOH … gue dari Bogor,” kata Edvan, akhirnya mengaku.

“Lu ngebut dari Bogor ke sini pake motor?” tanya Tino.

Edvan mengangguk sambil tetap menggesek sepatunya di atas rumput, seakan-akan itu adalah keset kaki bertuliskan Welcome. “Iya. Ada kumpulan nudis di sana.”

Random banget anjir!” sahutku setengah ngakak. “Baju item-tem, bawa tas isi roti, sepatu kotor, dari Bogor, datang ke kumpulan nudis. Elo saltum juga kayaknya, Bro! Nudis mana ada yang pake baju.”

“Nudis apaan?” bisik Tino sambil menyikutku.

“Entar aja dijelasinnya.”

“Pokoknya jangan bilang siapa-siapa!” sahut Edvan tergesa-gesa. Dia merasa sepatunya sudah lebih bersih dari lumpur, jadi dia melompat lagi ke koridor, lalu mengambil tasnya dari tanganku. “Sorry, gue buru-buru! Thanks.”

Edvan berlari menaiki tangga, melompatinya dua-dua, lalu menghilang di atas dengan kilat. Dari bawah kami bisa mendengar Edvan berlari di koridor, lalu menghambur masuk ke dalam kamarnya, bahkan membanting pintu. Brak!

Wow. Aku beneran harus get to know him better, sih. Selain ganteng dan menarik, dia juga punya kink yang perlu dijelaskan. Nudis, Bogor, roti ….

“Gue mau mandi dulu. Habis mandi gue mau beres-beres,” kata Tino sambil menaiki tangga menduluiku.

“Oke. Gue mau istirahat juga,” balasku, membuntutinya dari belakang. Di titik itu aku sudah lupa bahwa sedari tadi aku ingin membahas soal dua PT yang enggak suka sama Tino. Tapi kupikir …, nanti lagi saja, lah dibahasnya.

Sesampainya di depan kamar Tino, sebelum kami berpisah karena kamarku ada di sebelahnya, Tino sempat bertanya, “Jadi nudis tuh apa?”

“Sekumpulan orang yang melakukan aktivitas sehari-hari enggak pake baju. Telanjang bulat aja gitu. Kontol ke mana-mana.”

Tino membelalak terkejut. “Oh … wow ….” Dia juga menoleh sejenak ke arah kamar Edvan di ujung sana. Tak percaya di kosan ini ada orang yang hobi melakukan kegiatan itu. Tapi kemudian dia menoleh ke arahku. “Berarti sama dong?”

“Apanya yang sama?” tanyaku, sudah berjalan ke kamarku dan hendak membuka kunci pintu.

“Nanti malam kita nudis juga, kan?”

“Enggak!” Aku memutar bola mata sambil nyelonong masuk ke kamarku.


[ … ]


Pukul delapan, sehabis makan malam, kuputuskan untuk main ke kamar Tino. Aku lagi sange. Dan aku lagi pengin coli-ku bayangin Tino. Tapi aku baru sadar, aku kan sudah bisa mengakses tubuh telanjang Tino. Ngapain aku ‘bayangin’ kalau aku bisa langsung ‘nikmatin’?

Jujur, ke-sange-anku ini gara-gara Edvan. Sejak pertemuan kami di tangga itu, aku terus-menerus membayangkan dia telanjang bulat di depan banyak orang yang telanjang bulat juga, most likely di Bogor yang dingin, sambil mengunyah roti. Lalu semua orang bisa melihat ketelanjangan cowok cute nan twink itu. Termasuk kontolnya. Yang mungkin panjang, ya. Sebab dia lebih kurus dari Tino meski aku bisa melihat otot bisepnya menjendol seperti telor kalau dia mengangkat lengannya.

Di situlah aku sange berfantasi jalan-jalan di Bogor bersama Edvan yang telanjang. Namun karena enggak mungkin aku nyelonong masuk kamar Edvan buat coli sambil lihatin dia telanjang, yang paling mungkin ya nyamperin kamar PT yang sudah merebut hatiku sejak empat tahun lalu.

Tok, tok, tok! “Bang?!” panggilku sambil meletakkan satu tangan ke kusen dan bersandar di situ.

Ada jeda sejenak sebelum akhirnya suara kunci, cekrek, cekrek, dua kali, dibuka. Pintu terkuak sedikit dan setelahnya Tino melongokkan kepala dari balik pintu.

“Kok tumben dikunci? Baru jam delapan, anjir!” sahutku, berkacak pinggang.

Tino celingukan dulu ke luar, khususnya ke lorong kosan, seakan-akan memastikan tak ada yang melihat kedatanganku ke sini. Persis tempo hari saat dia mau meminjam proyektor untuk VCS sama Lidya. Karena setengah badannya bisa kelihatan, aku melihat Tino enggak pakai baju. “Masuk!” bisiknya hati-hati.

Bukannya masuk, aku malah berdiri diam di depan pintu. “Kok aku kesannya kayak lonte? Masuk kamar Abang mesti diam-diam gini ….”

Tino mengulurkan tangan untuk menoyor pipiku. “Mau masuk kagak?”

Aku mendengus dan menghambur masuk ke kamar Tino. Ketika aku masuk dan berbalik, kutemukan Tino telanjang bulat, hanya menutup area selangkangannya dengan handuk—tetapi tidak melilitkannya ke panggul. Tino menutup pintu dan menguncinya lagi dua kali. Dia mengintip lewat tirai jendela yang tertutup, lalu merasa lega karena tak ada orang yang melihatku masuk.

Padahal kamar Tino paling ujung, anjir. Selain ujung, kamar ini juga ada di ujungnya gedung—jauh dari gerbang utama. Enggak mungkin ada orang yang bakal lewat sini kecuali orangnya habis nudisan dari Bogor dan parkir motornya di area sekitar sini.

“Abang ngapain bugil?” tanyaku.

Tino sudah tak malu lagi telanjang di depanku. Jadi dia melempar handuknya ke kursi, membiarkan kontol uncut-nya yang imut menggemaskan itu terekspos di depanku, lalu dia melompat ke atas kasur. “Gue lagi coli.”

“Anjir. Gue kira Abang lagi pesta narkoba, sampe-sampe takut kedengaran tetangga.” Aku ikut melompat ke atas kasur. “Ya udah gue ikutan. Gue lagi sange juga, terus pengin coli sambil merkosa Abang.”

“Gue lagi nyoba coli lihatin video homo,” kata Tino sambil menunjukkan layar ponselnya, yang menampilkan timeline Twitter, tentang sebuah grup video porno berbayar, yang sebenarnya video-video mereka cuma satu menitan, karena kalau mau nonton versi lengkapnya harus gabung ke Telegram, bayar 50 ribu, member selamanya.

“Ngapain?” tanyaku. Aku mengambil ponsel itu dan melihat apa saja yang sedang ditonton Tino.

Sembari memainkan kontolnya yang enggak ngaceng sama sekali, Tino menjawab, “Yah … kan gue udah bilang. Gue pengin tahu sudut pandang kalian. Kenapa kalian suka amat ama sesama jenis.”

Aku geleng-geleng kepala. “Udah sih, kalau Abang straight, ya straight aja. Enggak usah maksain jadi homo. Emang setelah ini, Abang mau open BO buat boti-boti?”

Tino membelalak kecil. Seperti tercerahkan. “Kalau open BO emang gajinya berapa?”

Kutoyor kening Tino. “Lu kata open BO kayak PNS?! Ada gajinya?!” Geleng-geleng kepala aku membantu mencarikan Tino video homo Twitter yang lebih hot. “Enggak sekalian tunjangan juga, Bang? Sama uang perjalanan dinas?”

“Ya siapa tahu gue dipecat dari gym gara-gara video gue tersebar.”

“Enggak akan. Yang ada malah tempat gym-nya makin rame kalau ada video prank PT.”

Tino bersandar lagi ke kepala ranjang, mengamatiku yang masih mencarikannya video Twitter yang oke. Dia memainkan kontolnya yang layu. Dia buka kulupnya maju mundur, menguak kepala kontolnya, lalu mengerudunginya lagi. Begitu saja terus tanpa ada tanda-tanda itu kontol membesar maupun menegang.

“Elo … elo udah nemu … video gue?” tanya Tino, pelan-pelan.

Aku menggelengkan kepala. “Belum,” jawabku. “Tiap hari gue buka Twitter, gue selidiki setiap akun prank, belum ada video Abang. Berdoa aja Bang videonya enggak pernah muncul. Ini suka enggak?” Kutunjukkan salah satu video Rifaiju yang bottom-nya manly, kekar, dan lumayan ganteng.

Tino mendekat untuk melihat video itu. Lalu dia menggeleng. “Enggak.”

“Ini hot, lho!”

“Enggak. Itu isinya laki-laki—”

Kucubit juga putingnya, anjir.

“Aw! Aw! Aw!” Tino mengerang sambil memukul-mukul tanganku yang sedang menarik teteknya. Sambil meringis dia menyikutku. “Kenapa dicubit, sih?!”

“Ya katanya mau lihat video homo! Ya pasti isinya laki-laki, Baaang!”

“Ya cari yang bagus, anjing! Masa yang begitu!”

Dasar selera rendahan! Jelas-jelas boti-nya Rifaiju yang ini oke banget!

“Cari yang muka cowoknya tuh …, nyebelin kayak elu, gitu Bro,” lanjut Tino. “Yang bikin gue pengin nyiksa elo pake ngewe. Kayak kemaren.”

“Bacot!” balasku, seraya mencoba mengingat-ingat apa nama akun Milky Boba. “Kalau yang sama bencong, sama waria yang masih berkontol, bakal suka enggak—”

“ENGGAAAKKK …!” sahut Tino seketika. “No bencong-bencongan.”

“Bencongan tuh nama tempat di Karawaci,” sergahku sambil memutar bola mata.

Aku menghela napas dan mencoba mencari video-video lain. Beberapa video bokep gay yang lumayan viral akhir-akhir ini enggak ada yang disukai Tino. Semuanya bikin dia menyeringai jijik dan marah-marah. Bahkan mengumpat bahwa orang-orang di video itu homo laknat. Ya memang homo laknat. Tapi kalau niatnya buat jadi homo, ya video-video begini yang mestinya dia lihat!

“Abang pake akun Twitter gue yang isinya bokep aja, deh,” kataku akhirnya, log in akunku yang khusus nge-retweet bokep-bokep yang kusuka.

Tino mengangguk setuju. Dia menunduk dan menatap lagi kontolnya yang masih saja layu. Dia buka tutup kulupnya, seakan-akan mencari kunci jawaban. Lalu, sembari menunggu aku mengatur aplikasi Twitter di ponselnya, dia mendongak dan menatapku dengan tatapan memelas. Kayak dia mau ngewe aku, gitu. Bahkan dia nyolek-nyolek lenganku.

“Coba elo buka baju juga,” bisiknya.

“Kita mau ngewe nih?”

Tino menggeleng. “Coba elo bantuin gue bikin enak, Bro. Gue scroll Twitter-nya sendiri, tapi elo yang gerayangin gue. Siapa tahu … siapa tahu gue ngaceng.”

Aku terdiam sejenak sambil menatap wajah Tino.

Lalu pandanganku turun ke body seksinya yang kekar.

Dan turun lagi ke kontol Tino yang masih lemas saja.

Kontol terindah yang pernah kulihat sepanjang masa.

“Oke,” jawabku. “Toh gue juga ke sini mau coli sambil ngelecehin elo, Bang.”

Tino merentangkan tangannya lebar-lebar. “As you desired, Tuan Putri. Apa pun yang Tuan Putri pengin lakuin …, lakuin aja.”

“Bentar.” Aku turun dari tempat tidur dan melepaskan semua yang menempel ke tubuhku. Aku telanjang bulat juga seperti Tino. Bedanya, kontolku ngaceng keras. Dan sudah ada precum keluar dari lubang kontolnya.

“Nah, gue pengin kayak gitu,” gumam Tino, menunjuk kontolku, bahkan dia menariknya turun, lalu melepaskannya ke atas. TUIIINGNGNG …! Kontolku memental naik turun.

“Tenang! Gue bikin kontol Abang lebih keras dari sini. Majuan dikit!”

Posisinya simpel aja. Tino duduk di depanku. Badanku menempel ke punggungnya. Kami duduk sambil menyelonjorkan kaki. Namun tungkaiku memeluk paha Tino dengan hangat. Badan dia lebih gede dariku, tapi enggak apa-apa. Lalu, aku menyelinap ke bawah lengan kanan Tino, ke bawah keteknya yang berbulu seksi itu. Kepalaku muncul seraya menyosor puting kanan Tino. Tangan kiriku menyusup di bawah lengan kiri Tino, mencubit puting sebelah sana. Lalu tangan kananku di mana? Di kontol Tino. Meraba, mengelus, dan memainkannya biar enak.

Tino memegang ponsel dengan tangan kanan dan menggulir timeline akun khusus bokepku.

“Gue bikin Abang enak,” kataku. “Tapi Abang fokus ke hape. Fokus merhatiin video-video homo di situ, sambil berpikir bahwa … ini tuh indah, gitu Bang. Ini tuh … bikin sange.”

Tino manggut-manggut paham dan mulai menggulir. Badannya bersandar ke badanku, lengan kanannya mengepit kepalaku di bawah keteknya. Ketika aku melumat puting Tino, dia mendesah lumayan keras, “Aaaaaahhh ….”

“Enak?”

Tino mengangguk. Matanya masih fokus ke layar hape, menggulir dan menonton setiap video 2 menit yang muncul di sana. Aku terus melumat puting itu. Berkali-kali berhasil membuat tubuh Tino mengentak karena sensasi nikmat yang membuatnya terkejut. “Aaaaaahhh ….” Tino mendesah lagi. Lumayan sering. Kontolnya yang kuusap-usap pun mulai mengeras perlahan-lahan.

Adegan ini mulai persis bokep Jepang yang ada watermark HUNK-CN, di mana si model dibikin enak oleh seseorang dengan cara duduk, lalu kontolnya dimainin, tahu-tahu crot.

“Anjiiirrr …,” gumam Tino, mulai keenakan. Dia mengepit kepalaku lebih erat ke tubuhnya, seakan-akan tak ingin mulutku lepas dari putingnya. Tubuh Tino juga bergidik berkali-kali sembari dia melantunkan, “Argh! Argh! Fuck.”

Aku mendongak dan melihat kedua alis Tino bertaut seperti memelas. Mulutnya juga menganga kecil. Jujur aku belum tahu apakah dia keenakan karena kubikin enak, ataukah sebuah video di ponsel itu berhasil membuatnya enak? Kontol dia sudah tiga per empat ngaceng, kayaknya. Sudah membesar, menggembung, tetapi belum sekeras beton, dan belum mengacung tegak.

“Pake tangan kiri lihatnya, Bang,” pintaku. “Aku pengin jilat ketek Abang.”

Tino enggak meledekku soal ketek. Dia memindahkan ponselnya ke tangan kiri. Setelah itu dia menurut saja ketika tangan kanannya kuangkat dan kusimpan di belakang kepala, supaya aku bisa menjilati keteknya.

“AAAAAAHHH ….” Desahan napasnya mulai kentara. Napasnya juga memburu dan badannya sempat berguncang kecil saat lidahku menyusuri keteknya itu.

Apalagi ketika wajahku terbenam di ketek seksi itu, mencoba mengendus dan menggosoknya dengan sensual. Tubuh Tino langsung bergidik, seraya mulutnya melantunkan, “Anjing! Anjing!” Lalu lengan itu seakan-akan ingin menutup, tetapi terhalang oleh kepalaku.

“Enak enggak, Bang?” bisikku, masih sambil menikmati keteknya.

“Geli anjir.” Tapi Tino sudah tak melihat lagi ponselnya. Kepalanya menoleh ke arahku, menatapku yang sedang menikmati ketek itu. Kedua alisnya bertaut seperti memohon. Mulutnya menganga kecil.

Tino memelas.

“Ampun, Bro …,” bisiknya. “Udah.”

“Kenapa?” tanyaku sambil tetap mengendus dan menggosok hidungku ke ketek berbulu itu.

“Geli.”

“Geli atau enak?”

Tino berdecak. Menelan ludah. Mengatur napas yang memburu. Lalu mencoba menyosor bibirku, tetapi aku menghindar. “Sama aja.”

Aku menunduk dan melihat kontolnya sudah ngaceng penuh sekarang. “Jawabannya enak,” kataku sambil terkekeh.

Tino menurunkan lengannya dan kembali mengepit kepalaku, supaya wajahku bisa dia capai. Dia menyosor bibirku dan mencumbuku. “Kayaknya gue lihat elo aja, Bro.”

Kuterima dulu cumbuan itu beberapa saat, kemudian menjawab, “Jangan. Kalau mau latihan jadi homo, lihat dulu aja Twitter-nya.”

“Enggak mau.”

“Ih! Lihat dulu sana.”

Tino rada kecewa. Mukanya masih memelas. Namun dia berbalik lagi ke tangan kirinya sambil menggulir timeline Twitter. Aku juga masih setia memeluknya dan mengocok kontolnya yang kini keras. Malah, aku enggak mengenaki lagi Tino dengan lidah. Aku ikut menonton video Twitter yang diklik Tino untuk beberapa saat, seraya menempelkan kepalaku ke kepala Tino.

Ceritanya nobar video bokep gay.

Namun dua menit kemudian, ketika Tino menggulir lagi ke bawah …, kami berdua membeku sejenak.

Jempol Tino bergetar kecil.

Napas kami tertahan, seolah-olah tak bisa keluar.

Jantungku berdegup kencang.

Sungguh.

Dan kontol Tino ….

… kontol Tino layu seketika.

….

Di layar ponsel itu, terdapat sebuah video laki-laki telanjang sedang coli. Latarnya adalah jendela kamar kosan yang benar-benar kukenal. Caption dari video itu adalah ….


PRANK PT GYM PREMIUM KONTOL UNCUT TUBUH DIMINYAKIN MAU NUNGGING MAU JILAT KETEK.


Dengan wajah Tino sedang sange, tampak jelas dan HD, di thumbnail-nya.


[ … ]


Komentar