Kabar buruk, kalau sudah dihadapi secara nyata, rasanya dua kali lipat lebih mengerikan.
Mungkin tiga kali lipat.
Atau sejuta kali lipat.
Selama beberapa hari sejak prank
dari bencong bernama Lidya itu, aku tahu Tino sudah stres. Dia seperti dihantui
debt collector, yang mungkin muncul kapan pun sambil membawa golok, lalu
membacoknya. Setiap kali pikirannya berkelana ke adegan di-prank itu,
Tino akan melamun dan ketakutan. Pernah satu kali menggigil.
Dia ganteng, gagah, manly,
kekar, dan segala atribut maskulinitas yang ada di dunia ini, tetapi hatinya
rapuh, lugu, dan lembut. Mengetahui dirinya dipermainkan oleh seorang waria
benar-benar menghancurkan hatinya. Berkali-kali dia mempertanyakan, apakah
kejadian ini merupakan karma karena dia sering melakukan seks bebas dengan
cewek-cewek? Apakah ini kutukannya karena seringkali menggauli perempuan, tapi
tak menjadikan mereka pacar?
Hari Minggu kemarin Tino
tetiba pergi ke gereja untuk memohon pengampunan. Namun dia malah masuk ke
sebuah gereja Kristen Karismatik, yang beribadah dengan fun seperti
menyanyi dan menari, sehingga Tino malah makin stres. Niat hati mendapat
ketenangan, tetapi lokasi beribadahnya ingar bingar oleh suara sound system.
Tino hanyalah lelaki normal.
Lelaki baik hati. Yang ingin hidup damai-damai saja, tidak perlu viral, tidak
perlu jadi yang terganteng, tidak perlu jadi pemimpin. Dia menikmati dunia
kecilnya yang terbatas. Tinggal di Kosan Hamid, pulang pergi ke tempat gym,
menjadi klien dari member yang ingin meng-improve kualitas hidup mereka
lewat work out, lalu bersenang-senang dengan perempuan yang juga mau
sama dia. Mungkin suatu hari dia akan menikah, punya anak, direpotkan dengan
cicilan rumah, atau menyekolahkan anak. Sesederhana itu. Enggak neko-neko.
Bayangkan ketika dia melihat
dengan mata kepalanya sendiri, videonya telanjang, ngocok kontolnya, tersebar
bebas di internet. Ketika kami melihat video itu di layar …, retweet-nya
sudah mencapai 2.6 K. Sudah 2.600 akun Twitter mencuit ulang video tersebut.
Videonya hanya satu menit.
Di bagian yang menarik. Kalau mau lebih lengkap, harus gabung jadi member di
grup itu.
Apa yang kulakukan ketika
kami melihat thumbnail itu? Aku langsung merebut ponsel di tangan Tino
dan melompat turun dari tempat tidur. Aku menjauh ke pojokan, bergabung
sesegera mungkin ke grup Telegram itu, supaya aku bisa mengakses nomor pemilik
Telegram. Jariku sampai gemetar karena aku melakukan semuanya dengan cepat.
Kepalaku berisi segala kata-kata yang ingin kutujukan ke bencong sialan itu.
Sambil menunggu aku di-approve
oleh pemilik akun Telegram itu, aku mengirim reply di twit
tersebut.
Ini temanku, orang baik,
kena tipu bencong di video ini. Boleh tolong di-take down?
Tentu aku juga mengirim DM
ke akun Twitter tersebut, menyatakan hal yang sama. Tapi apa yang terjadi?
Aku diblok oleh akun
tersebut.
Seperti dugaanku.
Malah, reply dari tweet-ku
itu, dari para homo-homo lapar di Twitter, enggak ada yang men-support-ku.
Halah ngocok aja lu ga usah
byk bacot! Suka juga kan?
Salah sendiri VCS. Udah tau
org2 bisa ngerekam.
Lah, temen lu yg salah, kok
kita yg rugi?
Jgn sering2 ngancurin
kesenengan org lain mas. Ga baik. Wkwkwk. Ksh tau temennya jgn vcs klo gamau
kayak gini.
Paling jg lu ngmong gtu smbl
coli lihatin video ini.
Aku benar-benar murka dan
nafsu ingin mencincang homo-homo laknat ini. Bukannya support ketika
korban prank-nya minta video di-take down, eh malah mereka balik
menyerang pihak korban
Aku coli-nya pas lagi
syuting video ini, Anjing! Mau apa lu, HAH?!
Dasar setan semua!
Saking marahnya, aku
menonjok dinding kamar Tino dengan kesal. Aku mendengkus. Aku menggeram.
Napasku memburu. Aku bernafsu ingin mencekik siapa pun yang lewat. Akan
kusodomi semua homo yang me-retweet video ini sampai bool mereka
semua robek dan enggak bisa dipake lagi buat berak maupun seks anal.
FUCK YOOOUUU …!
“Leo?” panggil Tino
tiba-tiba.
Aku langsung menoleh sambil
mengatur napasku. “Ya, Bang?”
Tino masih dalam posisi yang
sama seperti tadi. Duduk bersila, menatap kosong entah apa di depannya, dengan
kontol yang sudah mengerut layu, kulupnya kembali menyembunyikan kepala kontol
mungil itu. Mata Tino berkaca-kaca. Suaranya bergetar. “Gue … gue mau tidur.”
“Gue temenin ya Bang?”
Tino tak menjawab. Dia hanya
berbaring dan menyamankan dirinya di atas tempat tidur. Tino berguling
menghadap tembok, memunggungiku.
Aku langsung mematikan lampu
dan menyalakan lampu tidur. Kusimpan ponsel di atas meja seraya memanjat naik
dan menyingkap selimut yang terlipat. Kuselimuti tubuh Tino yang telanjang.
Tino meringkuk. Memeluk dirinya sendiri.
Dia menggigil.
Bahunya berguncang.
Aku tak tega melihatnya.
Jadi aku menyelimutinya
hingga ke bahu, lalu aku memeluknya dari belakang.
Aku tidak tahu apakah Tino
menangis di sana.
Kemungkinan besar menangis.
Membayangkan kemungkinan
itu, membuatku menangis.
Aku benar-benar marah.
Sungguh.
Aku menutup malam itu tanpa crot.
Cairan yang keluar dari
tubuhku adalah air mata.
Mengalir ke pipiku karena
rasa sakit yang dialami Tino menular juga ke hatiku.
[ … ]
Aku enggak pernah punya
teman yang bunuh diri atas alasan apa pun. Namun pagi itu, aku yakin banget,
orang yang ada di depanku ini sudah dekaaat … banget sama kematian.
….
Aku terbangun telanjang
bulat, kamar Tino sudah terang benderang oleh cahaya matahari. Namun yang punya
kamar sudah tidak ada di sampingku lagi. Suara kucuran shower dari kamar
mandi Tino baru saja dimatikan. Mungkin sekarang Tino sedang handukan. Aku
terduduk di atas tempat tidur, tak menghabiskan waktu “mengumpulkan nyawa”
karena aku tahu sedang ada kejadian penting saat ini. Aku mengambil ponselku di
atas meja ….
… sudah pukul 7.38 pagi.
Tino keluar dari kamar mandi
tak lama setelahnya. Dia sudah melilitkan handuk ke panggulnya lalu berjalan
langsung ke lemari untuk mengambil pakaian.
“Mau ke mana?” tanyaku.
Jawabannya pendek. “Gym.”
“Ada klien yang workout
pagi-pagi?”
Tino menggeleng kecil. Tanpa
kata-kata.
Di situlah aku melihat
tatapan mata itu sudah tak bernyawa. Tino mengambil pakaian, atau sempak, atau
celana, hanya karena tubuhnya bisa bergerak. Bukan karena ada nyawa di
dalamnya. Seolah-olah, jiwa Tino sudah tidak di sini. Kalau Tino menyeberang
jalan, lalu ada tronton lewat, Tino tak akan repot-repot menyelamatkan diri.
Aku sampai merinding. Aku
merasa …, malaikat pencabut nyawa sudah menunggu dengan anteng di salah satu
sudut kamar ini.
Tino benar-benar depresi.
Aku melompat dan langsung
memeluk tubuhnya yang masih lembap. Aku ingin menangis, tapi kutahan-tahan.
Takutnya tangisanku bikin Tino terganggu atau justru ikutan menangis. Saat
kupeluk, Tino tetap dengan kegiatannya. Mengenakan kaus. Dia tidak memedulikan
aku yang ada di belakangnya, mendekap dengan erat. Dia mengoles deodoran dengan
lemas ke keteknya. Lalu dia mengenakan seragam PT-nya begitu saja. Bahkan
kepalaku sampai masuk ke dalam baju itu karena aku memeluk Tino terlalu erat.
Dia betulan tak peduli.
“Bang …?” panggilku.
Tino tak menjawab. Tino
melepas handuknya, membiarkan tubuh telanjangnya terekspos. Aku keluar dari balik
kaus Tino seraya melepas pelukan itu. Bukan untuk melihat kontolnya, tapi untuk
melihat wajahnya. Benar-benar tak ada kehidupan di sana. Tino mengambil sempak
dan mengenakannya ke panggul, tak memedulikan aku yang mulai mengguncang
bahunya.
“Bang?!”
Tino masih tak menjawab.
“Gue ikut, ya?” tanyaku,
langsung menodongnya.
Ada sedikit reaksi akhirnya.
Dia menunduk sambil melihat sempaknya naik, lalu berkata, “Enggak usah.”
“Enggak bisa. Gue ikut!” Aku
langsung mengambil handuk Tino yang basah itu dan pergi ke kamar mandi Tino.
Aku mandi dengan kilat, nyalain shower, lalu langsung mengusap sabun dan
lain sebagainya. Aku yakin ini less than 2 minutes, sih. Tapi begitu aku
keluar, Tino sudah selesai mengenakan sepatu. Dia masih kayak mayat hidup. Jadi
aku buru-buru membuka lemari Tino untuk mencari baju punya dia saja.
“Bentaaarrr …!”
Tino enggak mendengarkan.
Begitu dia selesai memasang sepatu, dia berdiri dan keluar kamarnya tanpa
menutup pintu. Sementara aku masih susah payah mengenakan pakaian Tino. Yang
sebagian besar adalah kaus tanpa lengan.
Gapapa. Pada saat-saat seperti
ini, gaya berbusana bukanlah masalah utama.
Aku menutup pintu kamar
Tino, menguncinya, masuk ke kamarku, mengenakan sepatu olahragaku dan mengambil
kunci mobil, lalu berlari ke mobil. Dari lantai dua bisa kulihat Tino sudah tak
ada di area kosan. Jadi aku menyalakan mobil tanpa memanaskannya. Aku langsung
bergegas ke luar. Kutemui Tino sedang berjalan di pertigaan yang dilewati
Jaklingko.
“NAIK!” sahutku sambil
menurunkan kaca jendela.
Awalnya Tino tak
menggubrisku. Dia berjalan lemas dengan tatapan kosong, seolah-olah telinganya
tuli.
“AYO NAIK! ENTAR KAMU TELAT!
GUE YANG ANTAR!”
Masih tak mengacuhkanku.
“KALAU ENGGAK NAIK, GUE
CIPOK DEPAN ORANG-ORANG!” Area pertigaan itu ramai oleh orang-orang yang sedang
dalam perjalanan menuju kantornya. Apalagi dekat pertigaan ada halte Jaklingko
yang aktif digunakan orang-orang sekitar.
Tino berhenti. Mempertimbangkan
ancamanku. Dia akhirnya menghampiri mobilku, membuka pintu mobil, lalu duduk di
dalamnya.
Tapi tak memasang sabuk
pengaman, jadi aku yang memasangkannya.
Aku melajukan mobil menuju gym
premium di mana Tino ditempatkan. Tak ada pembicaraan apa pun sepanjang
perjalanan. Aku fokus menghadapi kemacetan pagi di Jakarta, sebisa mungkin tak
mengeluh pada ketololan pengendara motor yang selip sana selip sini bikin mobil
susah bergerak, ujung-ujungnya lalu lintas enggak maju-maju.
Tino duduk dalam sunyi
sepanjang perjalanan. Kedua tangannya ada di atas paha, terkulai lemas.
Pandangan matanya ke arah dasbor, tapi tak ada kehidupan di situ. Tino tak
terganggu ketika aku tanpa sengaja menyalakan klakson karena ada satu motor
menyerempet bagian depan mobilku. Dia juga tak menoleh saat aku menunjuk ke
sebelahnya, “Bubur ayam yang di situ tuh sekarang udah buka lagi, ya? Kemaren
sempet tutup kan dua bulan!”
Kami sampai di mal di mana gym
premiumnya Tino berada. Malnya masih sepi, parkiran juga masih sepi. Yang bisa
akses parkiran ini pun hanya pengguna gym saja, karena gym-nya
kan sudah buka sejak pukul 6 pagi, sementara mal baru buka jam 10. Setelah
parkir, Tino langsung keluar dan berjalan ke arah tangga. Tanpa menungguku atau
apa. Aku berlari menyusulnya dan menjejerinya. Sengaja aku tak marah-marah
seperti normalnya, kayak, “Kok enggak nungguin, sih?!” Aku paham Tino sedang
tertekan, jadi aku hanya diam saja, berjalan di sampingnya, berharap bisa
memegang tangannya, sembari berdoa tak ada sesuatu yang krusial di tempat gym-nya
pagi ini.
Kenapa aku memaksakan diri
ikut Tino ke sini?
Karena setahuku …, Tino tak
punya jadwal training dengan kliennya pukul 8 atau 9 pagi. Semua
kliennya mengambil jadwal after office, atau setidaknya after lunch.
Ini pasti bukan untuk latihan.
Sebelum masuk ke tempat gym,
tali sepatuku lepas, jadi aku berjongkok untuk mengikatnya. Ketika aku bangun,
Tino sudah berada di lobi gym dan berbicara dengan managernya. Keduanya
masuk ke ruang manajemen, di belakang resepsionis.
Benar dugaanku. Ini bukan
latihan bersama klien.
Ya sudah, karena aku sudah
sampai di sini, aku masuk, check in, tapi malah duduk di kursi tunggu
sambil main hape. Aku akan menunggu Tino di sini dengan setia. Seperti
janjiku, aku akan membantu Tino menghadapi musibah ini, supaya dia tidak perlu
menghadapinya sendirian.
Sambil menunggu, sambil aku
melanjutkan proses pendaftaranku ke grup Telegram itu. Semalam dia belum balas,
mungkin sudah terlalu malam. Sekarang, aku sudah diberikan nomor rekening
dengan NAMA JELAS, sehingga aku bisa langsung investigasi ke nomor rekening itu
saja. Aku enggak akan daftar ke grup Telegram itu. Sorry aja, yeee …. Kalau
aku daftar, berarti aku support pelecehan seksual kepada Tino
tersayangku.
Biarin si Romi aja yang
daftar. Entar aku copy video-video yang dia download.
Sembari mengusut si pemilik
rekening, aku melihat personal trainer yang kemarin kutemui di ruang
ganti, baru saja tiba. Dia datang dengan badannya yang kekar, tampak happy,
seragam PT-nya memeluk ketat tubuh muscle-nya, sports bag-nya
digantung di salah satu bahu saja. Dia adalah PT Baru Selesai Mandi.
Seorang PT perempuan
menghampirinya. Kebetulan banget pertemuan mereka terjadi tepat di hadapanku.
“Mas udah lihat video yang
viral semalam?” tanya PT Cewek.
“Si Tino? Hahaha ….” PT Baru
Selesai Mandi terkekeh menghampiri salah satu meja di kursi tunggu, lalu
meletakkan tasnya di atas meja. PT Cewek membuntutinya. Mereka duduk di
dekatku, terpisah oleh satu meja. Aku masih pura-pura sibuk main hape
supaya aku tidak terkesan menguping. “Burungnya cilik.”
KONTOLNYA TINO LUMAYAN,
ANJING! teriakku dalam hati. Uncut, pula! Wangi!
ARGH! Dasar PT sialan!
Enggak tahu mana kontol berkualitas mana yang enggak!
Kudoain kontolmu busuk!
Si PT Cewek terkekeh sambil
memukul lengan PT Baru Selesai Mandi. “Yah namanya juga chindo,” katanya
sambil masih tertawa meremehkan. Si PT Cewek ini juga kebetulan chindo.
“Memang biasanya chindo segede gitu, Mas.”
“Ya makanya dia bagusin
badan, kan? Karena kontol dia kecil,” sahut PT Baru Selesai Mandi sambil
mengeluarkan ponselnya. Malah, dia kayaknya memutar video Tino, dan
menunjukkannya ke PT Cewek. “Nungging-nungging pula! Lihat tuh …, anjing.”
PT Cewek menggeser duduknya
supaya bisa melihat lebih jelas. “Mas punya yang full-nya?”
“Punya. Udah kesebar juga
yang full-nya.”
“Hahaha …! Ini ngapain sih
dia nunjukin pantat gini? Ya ampuuunnn …!” PT Cewek geleng-geleng kepala.
“Biar bisa disodomi ama
homo. Hahaha ….”
Aku merasa murka mendengar
itu. Ada selembar tisu tergeletak di atas meja dan aku meremasnya kuat-kuat.
Ingin sekali aku membantah itu semua, lalu melempar meja, atau menghantam
mereka berdua dengan kursi yang kududuki. Tapi aku mesti sabar. Tino lebih
membutuhkanku yang waras dan enggak kena mental, supaya kami bisa menghadapi
ini sama-sama.
Jadi aku cuma duduk diam
saja sambil membuat story yang isinya tulisan berulang-ulang. ANJING
ANJING ANJING ANJING ANJING ANJING ANJING dan seterusnya.
Satu orang pegawai gym
bergabung dengan keduanya. “Ngelihatin apa sih kalian?” Dia langsung berdiri di
belakang PT Baru Selesai Mandi dan membelalak melihat apa yang tampil di layar.
“Iya, gue juga lihat semalam. Heboh banget di grup.”
“Eh, di grup tuh si Tino-nya
di-kick enggak?” tanya PT Cewek.
“Enggak. Dia masih ada,
anjir. Dia udah read juga. Tapi emang dia read-nya pagi-pagi.”
“Semalaman dibahas di grup,
kan? Gue udah molor, sih. Pas bangun langsung lihat 700 pesan belum terbaca,
dari grup kita doang.”
“Iya, tapi si Tinonya kagak
nimbrung.”
“Malu kali dia? Hahaha ….”
“Malu kontolnya kesebar
se-Indonesia,” ungkap PT Baru Selesai Mandi, tampak sangat puas. “Baguslah,
biar dia kagak kegantengan lagi. Kagak rebut semua klien di sini. Jadi semua
orang kabur, kagak mau training ama dia. HAHAHA ….”
“Dia udah datang, kan?”
“Udah. Lagi dipanggil ke
ruangannya Pak Sidik.”
Ketiga orang itu masih
lanjut ngegibah soal Tino. Enggak ada gibahan yang oke. Mereka juga
ngulang-ngulang video prank itu sambil ngetawain setiap detail yang ada.
Soal minyak, lah. Soal ketek, lah. Soal bool. Soal mainin tetek. Pada
saat bersamaan aku juga memfoto mereka diam-diam sambil bikin review di
Google soal gym premium ini, lalu aku bikin ulasan bahwa PT di gym
ini malah nonton bokep di jam kerja. HUH! TAHU RASA KALIAN!
Tino keluar dari ruang
manajemen tak lama kemudian. Ekspresinya masih kosong seperti sebelum masuk
tadi. Dia tampak lemas dan tak bernyawa. Ketiga rekannya di meja itu langsung
pura-pura mengobrolkan hal lain ketika Tino muncul. PT Baru Selesai Mandi
langsung menyembunyikan ponselnya yang menampilkan video Tino ke bawah meja. Padahal,
Tino juga enggak nyamperin mereka. Malah, Tino nyamperin aku dan mengedikkan
kepalanya.
“Yuk,” katanya. Lalu
berjalan pergi meninggalkan tempat gym.
Buru-buru aku bangkit
membuntutinya. Tiga orang itu membelalak setelah menyadari, gym member
yang duduk dua meja dari mereka ternyata sedang menunggu Tino. MAMPUS! Pasti
mereka overthinking, bahwa aku bakal ember ke Tino soal apa yang
mereka gibahin barusan.
YA BAKAL, LAH! ANJEEENG …!
Setan semua kalian emang!
Aku menjejeri Tino dengan
bangga. Kami berjalan kembali ke parkiran. Lalu naik ke mobilku, dan aku di jok
mengemudi. Aku enggak tahu kami mau ke mana. Mungkin kembali ke kosan. Jadi aku
keluar dari mal dan berbelok ke arah Kosan Hamid.
Namun di tengah jalan, Tino
berkata, “Gue belum mau pulang.” Suaranya lemas.
“Oh, okay. Mau ke
mana?”
Tino, dengan tatapan
kosongnya, menoleh ke arahku. Lalu dia menjawab, “Gue mau … mati.”
[ … ]
Part 6 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 7 (Bag. B)
Komentar
Posting Komentar