(PPT) Part 7 Bag. B




Enggak. Enggak mati, kok.

Semoga enggak mati dulu ya Tuhan, jangan dulu, lah. Masih ganteng orangnya. Masih belum kunikmati dengan sempurna secara lahir batin!

Kami berdua pergi ke PIK, ke pantai yang pasirnya putih. Pantai yang lagi heboh akhir-akhir ini sejak pulau reklamasi resmi beroperasi. Sebelum mampir ke sini, Tino memaksa untuk berhenti di sebuah hotel berbintang di dekat situ, karena dia mau beli minuman keras di restonya. Kan resto hotel berbintang pasti punya lisensi jualan alkohol. Jadi dia beli dua botol, lalu membawanya ke dalam mobil.

Aku enggak minum. Karena aku nyetir, Bro. Kalau aku mabok juga, entar kami berdua nyampenya ke akhirat, bukan ke pantai. Kalau Tino mau mabok mah silakan. I think he deserved the drink.

Jadi, aku sama Tino mampir ke pantai yang bagus itu. Kebetulan sepi, karena ini hari kerja, dan ini masih jam sepuluh pagi. Kami berjalan ke tengah pantai. Ke bawah terik matahari Jakarta, dengan kondisi aku pake kaus lekbong Tino yang memamerkan lengan telanjangku, yang tidak diolesi sunblock, jadi … bye-bye kulit mulus putihku. Selamat datang kulit kemerahan terbakar matahari yang dalam beberapa hari akan mengelupas dengan mengerikan.

Tapi sumpah, dalam situasi ini, aku enggak komplain. Saat itu aku lebih kepikiran soal jiwa Tino dibandingkan lenganku belang karena terjemur di bawah matahari.

Tino duduk di atas pasir sambil memeluk lututnya. Dia membuka botol minuman keras dan menenggaknya langsung dari mulut botol. Pandanganmya dia lemparkan ke lautan lepas di depannya. Alisnya mengerut karena silau. Rambutnya berkibar-kibar oleh angin laut. Bajunya juga.

Aku duduk menempel kepadanya, sibuk dengan lamunanku juga. Tapi aku enggak tahu harus melamunkan apa. Jadi aku hanya berdoa dalam hati semoga semua baik-baik saja.

….

Setelah habis satu botol, Tino melempar botol kosong itu sembarangan ke depan, lalu membuka botol kedua. Baru di situ dia mau berbicara.

“Gue dipecat,” katanya. Dengan suara normal, tapi karena angin cukup kencang, jadi terdengarnya kecil sekali. “Gue masih bakal ke sana buat selesaiin training sama klien. Tapi gue enggak akan dapat klien baru.”

Dengan wajah sedih aku mengusap-usap lengan Tino yang berotot. Mencoba bersimpati, tapi aku malah terpukau dengan keras dan kenyalnya otot lengan itu.

“Video gue kesebar di grup PT gym gue se-Indonesia. Tadi yang manggil gue tuh atasan gue. Dia baik sih …, dia kasih kesempatan ke gue buat jelasin kenapa bisa begitu.” Tino menenggak dulu minumannya. Mendesah panjang menikmati cairan yang mengalir di kerongkongannya. Dia mengatur napasnya yang berat sebelum melanjutkan. “Dia paham posisi gue. Dia tahu bukan gue yang sengaja nyebarin video bokep itu. Dia juga tahu gue ditipu ama orang.”

Di titik itu aku mulai menempelkan kepalaku ke bahu Tino yang lebar, kekar, dan bulat di bagian ujungnya. Nyaman sekali. Tino juga enggak protes aku melakukan itu.

“Sayangnya perusahaan enggak mau namanya dikait-kaitkan sama PT yang video pornonya tersebar luas,” lanjut Tino. “Katanya … katanya jadi berkesan …, semua PT di gym ini bisa dipake. Bisa diajak VCS sama siapa pun. Malah … malah ada yang nuduh gue dibayar buat ngelakuin itu semua.”

Tino menenggak lagi minumannya. Aku menoleh ke arahnya, tetapi level mataku hanya sampai ke lehernya. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik turun seraya meneguk minuman itu.

“Demi kebaikan perusahaan …, gue harus berhenti,” kata Tino kemudian. “Gue dibikinin surat rekomendasi sama atasan …. Nanti isinya bakalan bagus, enggak akan nyinggung-nyinggung soal video itu. Jadi …, jadi gue bisa apply ke tempat lain …, atau ke kerjaan lain.”

“PT yang tadi duduk di deketku, Bang, yang cowok, kayaknya dia enggak suka Abang,” kataku, mumpung masih bahas soal tempat gym itu.

Tino menoleh sejenak. Seperti mengingat-ingat. Setelah ingat, dia melempar lagi pandangannya ke laut lepas sembari menenggak kembali minumannya. “Randi,” katanya. “Bukan dia aja.”

“Iya. PT Baru Datang juga enggak suka.”

“Baru Datang?” Tino mengerutkan alis bingung.

“Oh, sorry. Itu cuma penamaan gue aja. Hehehe. Gue kagak tahu nama dia siapa. Tapi dia baru datang kemaren pas gue di loker. Jadi gue namanin itu buat ngebedain. Dia pengin Abang ditransfer ke Bekasi. Kayaknya dia ijid banget ke Abang.”

Tino mengangkat bahunya, tak tahu-menahu. “Gosipnya memang banyak yang enggak suka gue …. Gue kagak tahu siapa aja, tapi …, tapi gue bisa paham, lah.”

“Kenapa Abang enggak disukain?”

“Karena banyak klien yang milih gue, padahal yang lain belum dapat klien. Enggak tahu kenapa ….”

Karena situ ganteng, kaleeeeee …!

Aku juga bakal pilih Tino buat PT-ku kalau aku punya budget buat hire PT. Sayangnya sejak nge-gym di sana, which is semasa kuliah, aku sudah punya PT. Yaitu Tino. Dia kan tinggal sebelahan ama aku, Bro. Jelas dia promoin tempat kerjanya, sehingga aku gabung, dengan janji bahwa aku enggak perlu sewa PT. Dia ikhlas bantu aku nge-gym.

Tapi kalau aku enggak kenal Tino, terus aku daftar di situ, ya aku juga pilih Tino, anjeeeng. Yang bener aja mesti milih yang lain!

“Jadi Abang enggak temenan ama mereka?” tanyaku.

Tino menggelengkan kepala. “Enggak ada yang suka gue.”

“Masa, sih? Satu pun enggak ada yang bestie ama Abang di situ?”

Tino menoleh ke arahku, menatap wajahku dengan pandangan kosong, meneguk minumannya sejenak lalu berkata, “Elo pikir … kira-kira kenapa gue maksa elo buat nemenin nge-gym kemaren, hm?”

“Karena Abang suka ama gue?” kataku dengan mata berbinar-binar.

Tino langsung menoyor kepalaku hingga aku terguling ke atas pasir. “Karena enggak ada yang bisa gue percaya selain elo!” Dia menenggak lagi minumannya, kembali memandang lautan lepas di depannya.

Aku pengin banget balas mendorong Tino, seperti yang normalnya bakal kulakukan, tapi pagi itu aku enggak mau macam-macam. Takut mental health-nya kesambet dikit, tahu-tahu orangnya bunuh diri. Kan bahaya, Cuy! Jadi aku cuma menjulurkan lidah, membersihkan pasir-pasir di lenganku yang menempel dan susah lepas karena lenganku berkeringat oleh panas Jakarta.

Botol kedua Tino habis juga. Tino mengangkatnya tinggi-tinggi, melihat air di dalamnya melalui kaca botol yang terawang, lalu melempar juga botol itu ke depan. Membuangnya sembarangan. Akhirnya dia menyelonjorkan kaki dan duduk bertumpu pada tangannya. Dia menengadahkan kepala ke atas, menatap langit yang terik dan silau.

Bibirnya masih belum tersenyum.

“Gue pengin banget mati, Bro …,” gumam Tino lemas. “Gue malu …. Gue ngerasa …, ngerasa enggak ada guna lagi gue hidup di dunia ini ….”

“Jangan mati, lah please …. Abang belum ngawinin gue …,” rengek gue. Yang konteksnya bercanda, tapi aku sih serius.

“Mikirin kontol mulu lu Bro ….”

“Sebab kalau mikirin memek, takut di-prank sama bencong, Bang.”

“ANJING!” Tino meraup segenggam pasir lalu melemparkannya ke arahku.

Aku terkekeh sambil menutup wajahku dengan lengan, menghindari pasir-pasir itu.

Ini nyebelin, sih. Sekarang badanku beneran penuh pasir. Seluruh tubuhku ini keringatan karena Jakarta panas, jadi kalau ada pasir yang mampir, itu pasir enggak pernah melipir. Mana aku lekbongan pula sekarang. Lenganku beneran dipenuhi pasir.

Tapi meski begitu, aku happy karena Tino mulai kembali seperti biasanya. Dia masih sedih, masih depresi, masih hancur, tapi dia sudah berani melemparku dengan pasir. Kuanggap itu kemajuan pesat.

“Gimana caranya buat mati ya, Bro?” tanya Tino.

“Kawinin gue aja, Bang. Entar pas tua bakalan mati juga pada akhirnya.”

Tino menyikutku sambil geleng-geleng kepala. Dia akhirnya mengalihkan pandangan ke arahku lagi. Menatapku dengan tatapan serius. Sedikit jiwanya sudah ada di dalam sana. Tapi belum sepenuhnya kembali.

“Gue nganggur sekarang, Brooo …. Masa iya lu kawin ama yang jobless?” Tino terkekeh kecil. “Udah nganggur …, gue juga bakal susah cari kerja. Semua perusahaan pasti enggak mau nerima orang yang video coli-nya kesebar se-Indonesia. Mana lu juga skripsi belum kelar.”

“Udah hampir beres, ya!” Aku mendengus tak terima. “Udah ku-submit revisinya!”

“Terus kalau gue ngawinin elo …, makan apa kita?”

“Bonyok gue kaya raya. Tenang aja, sih!”

Tino malah menggelengkan kepala. Dia mengusap wajahku supaya aku enggak halu melulu soal ngawinin dia, kemudian kembali memeluk lututnya sambil menatap lautan lepas di depan.

“Apa gue open BO aja, ya?” gumam Tino monolog.

“Dih! Ngapa jadi open BO, dah?!” Mukaku cemberut.

Tino mengangkat bahunya. “Pasti laku kan kalau open BO?”

“Enggak enggak enggak!” sahutku. “Keenakan di calon kliennya, bisa ngerasain body Abang. Enggak terima, aku!”

“Tapi duitnya banyak—”

“Tapi Abang ngaceng aja enggak bisa, anjir!” Aku menyenggol lengan Tino. “Gimana caranya Abang open BO kalau ngaceng aja gagal. Mau jadi boti, hm?”

Tino mengerutkan alisnya sambil menatapku. “Lu pikir gue mau open BO buat homo?”

“Oh …. Bukan, ya?”

“Yaaa … lihat sikon, lah.” Tino menelan ludah. “Banyakan mana duitnya, antara tante-tante sama om-om?”

“Ya om-om dooong …. Jelas-jelas om-om nyari duit sendiri buat nyewa lonte. Kalau tante-tante kebanyakan duitnya dari suaminya. Mendingan open BO buat homo, anjir!”

“Ya udah, entar gue belajar ngaceng dari elo aja kayak kemaren.”

“ENGGAK! ABANG ENGGAK BOLEH OPEN BO!” Aku mendengkus sambil melipat tangan di depan dada.

“Terus gue nyari kerja ke mana, hm?”

“Entar gue bantuin! Tapi Abang jangan open BO! Mau om-om, mau tante-tante, enggak boleh!”

“Elo siapanya gue, anjir, larang-larang gue?”

“Gue orang yang Abang percaya!” tegasku, mengulang kata-kata dia sendiri soal aku tadi. “Jadi Abang harus percaya sama gue!”


[ … ]


Jujur aku enggak tahu gimana mental state Tino setelah kejadian itu terjadi. Sepulang dari pantai, Tino ingin menyendiri. Aku bersikeras untuk menemani, tapi Tino pengin sendiri. Akhirnya kuizinkan untuk dia menyendiri, asal pintunya enggak dikunci. Dia sepakat.

Jadi sekarang aku ada di kamarku, cemas-cemas khawatir akan situasi Tino di kamar sebelah. Sesekali aku me-Whatsapp-nya untuk bertanya, Masih hidup, kan?

Masih.

Baru aku bisa mengurut dada lega. Biasanya kucandai dengan membalas, PAP kontol kalau gitu, sebagai tanda masih hidup.

Eh, dia beneran kirim foto kontolnya.

Aku senang, sih. Tapi jadi sedih juga. Saking hancurnya hidup Tino, dia enggak masalah lagi ngirim foto kontol lewat Whatsapp. Mungkin merasa dirinya sudah enggak berharga, sehingga foto kontol dia pun baginya enggak berharga. Toh sudah kelihatan telanjang juga senusantara. Enggak ada nilainya lagi untuk pakai baju.

Lalu, apa yang kulakukan sepanjang hari?

Aku mencoba mencari pemilik rekening untuk gabung ke grup Telegram itu. Namanya rada berkonflik. Agus Aprilianto Junaedi.

Coba kamu tebak, kira-kira dia lahir bulan Agustus, April, atau Juni?

Nama itu juga ketika di-Google tidak kutemukan di mana-mana. Maksudnya yang tiga kata tersebut berupa satu kesatuan. Yang kutemukan palingan Agus Aprilianto, atau Agus Junaedi, atau Aprilianto Junaedi.

Pencarianku berakhir di jalan buntu. Namun aku enggak mau nyerah. Akhirnya kuikhlaskan beberapa ratus ribu demi bisa bergabung dengan grup Telegram itu. Hitung-hitung “membangun kepercayaan”. Karena setelahnya, aku langsung mengirim pesan pribadi kepada pemilik grup Telegram.

Bang, keren bgt bisa prank PT yg ganteng itu. Ksh tau caranya Bang! Abang tinggal dmn? yuk ketemuan!

Tapi pesanku tak kunjung dibalasnya hingga pukul sepuluh malam.

Sudah cukup lama aku tak berkomunikasi dengan Tino. Sedari tadi aku sibuk meriset soal Agus Aprilianto Junaedi. Aku bermaksud mengirim Tino sebuah pesan, untuk mengecek, atau mengajaknya makan malam karena kayaknya Tino juga belum makan. Namun ponselku tiba-tiba dihubungi oleh sebuah nomor tak dikenal.

Nomor Whatsapp. Tidak ada profile picture-nya.

Dan itu video call.

Anehnya, jantungku mendadak berdegup kencang.

Seakan-akan aku akan di-prank oleh seseorang di luar sana.

Jadi, aku mematikan panggilan video itu.

Nomor tersebut menelepon lagi, dan aku menolaknya lagi.

Akhirnya dia mengirim Whatsapp. Please angkat ini gue Edvan, tetangga lo.

Edvan?

Edvan yang nudis itu dan tinggal sebelahan dengan Romi?

Aku punya nomor Whatsapp dia, kenapa dia menggunakan nomor lain?

Ketika nomor itu menelepon lagi, aku tak ragu untuk mengangkatnya. Wajah Edvan langsung memenuhi layar. Dan aku membelalak terkejut melihatnya.

Edvan sedang di rumah sakit.

Wajahnya kotor oleh tanah dan keringat. Dia tak mengenakan atasan. Ada noda sayat di bahunya.

“Leo?” sapanya, dengan napas terengah-engah. Can you help me?

“Mas Edvan?!” teriakku sambil melompat turun. “Elo … elo di mana?”

“Gue di UGD … Tarakan …. Tapi …, tapi jangan bilang siapa-siapa.” Napasnya ngos-ngosan. “Khususnya Romi.”

“O … oke.”

Aku paham, sih. Romi kan tergila-gila pada laki-laki. Mau ganteng, mau buruk rupa, mau bau silit, semua Romi embat. Jadi kalau ada penghuni kosan sini yang ingin meminta bantuan, sudah pasti hal pertama yang dilakukan adalah tidak meminta bantuan Romi.

“Elo … elo bisa ke sini? Ke Tarakan?”

“Tarakan rumah sakit, kan? Bukan yang di Kalimantan Utara?”

“Ya ….” Edvan mengatur lagi napasnya. “Gue butuh bantuan elo …. Tapi …, tapi ini rahasia. Please.”

“Oke, oke, gue siap-siap dulu kalau gitu.”

“Elo tenang aja,” kata Edvan kemudian.

Aku bingung. “Kok gue yang tenang aja? Elo kali Mas yang tenang aja. Gue bakal ke situ kok sekarang. Bener.”

“Bukan. Bukan itu.” Edvan mengatur dulu napasnya. “Gue pasti bantuin kalian ….”

“Hah?”

Edvan menarik napas panjang sebelum mengatakan. “Gue bakal bantu … cari tahu … siapa yang nyebarin video coli-nya Tino.”


[ … ]


Komentar