Enggak. Enggak mati, kok.
Semoga enggak mati dulu ya
Tuhan, jangan dulu, lah. Masih ganteng orangnya. Masih belum kunikmati dengan
sempurna secara lahir batin!
Kami berdua pergi ke PIK, ke
pantai yang pasirnya putih. Pantai yang lagi heboh akhir-akhir ini sejak pulau
reklamasi resmi beroperasi. Sebelum mampir ke sini, Tino memaksa untuk berhenti
di sebuah hotel berbintang di dekat situ, karena dia mau beli minuman keras di
restonya. Kan resto hotel berbintang pasti punya lisensi jualan alkohol. Jadi
dia beli dua botol, lalu membawanya ke dalam mobil.
Aku enggak minum. Karena aku
nyetir, Bro. Kalau aku mabok juga, entar kami berdua nyampenya ke akhirat,
bukan ke pantai. Kalau Tino mau mabok mah silakan. I think he
deserved the drink.
Jadi, aku sama Tino mampir
ke pantai yang bagus itu. Kebetulan sepi, karena ini hari kerja, dan ini masih
jam sepuluh pagi. Kami berjalan ke tengah pantai. Ke bawah terik matahari
Jakarta, dengan kondisi aku pake kaus lekbong Tino yang memamerkan
lengan telanjangku, yang tidak diolesi sunblock, jadi … bye-bye
kulit mulus putihku. Selamat datang kulit kemerahan terbakar matahari yang
dalam beberapa hari akan mengelupas dengan mengerikan.
Tapi sumpah, dalam situasi
ini, aku enggak komplain. Saat itu aku lebih kepikiran soal jiwa Tino
dibandingkan lenganku belang karena terjemur di bawah matahari.
Tino duduk di atas pasir
sambil memeluk lututnya. Dia membuka botol minuman keras dan menenggaknya
langsung dari mulut botol. Pandanganmya dia lemparkan ke lautan lepas di
depannya. Alisnya mengerut karena silau. Rambutnya berkibar-kibar oleh angin
laut. Bajunya juga.
Aku duduk menempel
kepadanya, sibuk dengan lamunanku juga. Tapi aku enggak tahu harus melamunkan
apa. Jadi aku hanya berdoa dalam hati semoga semua baik-baik saja.
….
Setelah habis satu botol,
Tino melempar botol kosong itu sembarangan ke depan, lalu membuka botol kedua.
Baru di situ dia mau berbicara.
“Gue dipecat,” katanya.
Dengan suara normal, tapi karena angin cukup kencang, jadi terdengarnya kecil
sekali. “Gue masih bakal ke sana buat selesaiin training sama klien.
Tapi gue enggak akan dapat klien baru.”
Dengan wajah sedih aku
mengusap-usap lengan Tino yang berotot. Mencoba bersimpati, tapi aku malah
terpukau dengan keras dan kenyalnya otot lengan itu.
“Video gue kesebar di grup
PT gym gue se-Indonesia. Tadi yang manggil gue tuh atasan gue. Dia baik
sih …, dia kasih kesempatan ke gue buat jelasin kenapa bisa begitu.” Tino
menenggak dulu minumannya. Mendesah panjang menikmati cairan yang mengalir di
kerongkongannya. Dia mengatur napasnya yang berat sebelum melanjutkan. “Dia
paham posisi gue. Dia tahu bukan gue yang sengaja nyebarin video bokep itu. Dia
juga tahu gue ditipu ama orang.”
Di titik itu aku mulai
menempelkan kepalaku ke bahu Tino yang lebar, kekar, dan bulat di bagian
ujungnya. Nyaman sekali. Tino juga enggak protes aku melakukan itu.
“Sayangnya perusahaan enggak
mau namanya dikait-kaitkan sama PT yang video pornonya tersebar luas,” lanjut
Tino. “Katanya … katanya jadi berkesan …, semua PT di gym ini bisa
dipake. Bisa diajak VCS sama siapa pun. Malah … malah ada yang nuduh gue
dibayar buat ngelakuin itu semua.”
Tino menenggak lagi
minumannya. Aku menoleh ke arahnya, tetapi level mataku hanya sampai ke
lehernya. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik turun seraya meneguk minuman
itu.
“Demi kebaikan perusahaan …,
gue harus berhenti,” kata Tino kemudian. “Gue dibikinin surat rekomendasi sama
atasan …. Nanti isinya bakalan bagus, enggak akan nyinggung-nyinggung soal
video itu. Jadi …, jadi gue bisa apply ke tempat lain …, atau ke kerjaan
lain.”
“PT yang tadi duduk di
deketku, Bang, yang cowok, kayaknya dia enggak suka Abang,” kataku, mumpung
masih bahas soal tempat gym itu.
Tino menoleh sejenak.
Seperti mengingat-ingat. Setelah ingat, dia melempar lagi pandangannya ke laut
lepas sembari menenggak kembali minumannya. “Randi,” katanya. “Bukan dia aja.”
“Iya. PT Baru Datang juga
enggak suka.”
“Baru Datang?” Tino
mengerutkan alis bingung.
“Oh, sorry. Itu cuma
penamaan gue aja. Hehehe. Gue kagak tahu nama dia siapa. Tapi dia baru datang
kemaren pas gue di loker. Jadi gue namanin itu buat ngebedain. Dia pengin Abang
ditransfer ke Bekasi. Kayaknya dia ijid banget ke Abang.”
Tino mengangkat bahunya, tak
tahu-menahu. “Gosipnya memang banyak yang enggak suka gue …. Gue kagak tahu
siapa aja, tapi …, tapi gue bisa paham, lah.”
“Kenapa Abang enggak
disukain?”
“Karena banyak klien yang
milih gue, padahal yang lain belum dapat klien. Enggak tahu kenapa ….”
Karena situ ganteng,
kaleeeeee …!
Aku juga bakal pilih Tino
buat PT-ku kalau aku punya budget buat hire PT. Sayangnya sejak
nge-gym di sana, which is semasa kuliah, aku sudah punya PT.
Yaitu Tino. Dia kan tinggal sebelahan ama aku, Bro. Jelas dia promoin tempat
kerjanya, sehingga aku gabung, dengan janji bahwa aku enggak perlu sewa PT. Dia
ikhlas bantu aku nge-gym.
Tapi kalau aku enggak kenal
Tino, terus aku daftar di situ, ya aku juga pilih Tino, anjeeeng. Yang
bener aja mesti milih yang lain!
“Jadi Abang enggak temenan
ama mereka?” tanyaku.
Tino menggelengkan kepala. “Enggak
ada yang suka gue.”
“Masa, sih? Satu pun enggak
ada yang bestie ama Abang di situ?”
Tino menoleh ke arahku,
menatap wajahku dengan pandangan kosong, meneguk minumannya sejenak lalu
berkata, “Elo pikir … kira-kira kenapa gue maksa elo buat nemenin nge-gym
kemaren, hm?”
“Karena Abang suka ama gue?”
kataku dengan mata berbinar-binar.
Tino langsung menoyor
kepalaku hingga aku terguling ke atas pasir. “Karena enggak ada yang bisa gue
percaya selain elo!” Dia menenggak lagi minumannya, kembali memandang lautan
lepas di depannya.
Aku pengin banget balas
mendorong Tino, seperti yang normalnya bakal kulakukan, tapi pagi itu aku
enggak mau macam-macam. Takut mental health-nya kesambet dikit,
tahu-tahu orangnya bunuh diri. Kan bahaya, Cuy! Jadi aku cuma menjulurkan
lidah, membersihkan pasir-pasir di lenganku yang menempel dan susah lepas
karena lenganku berkeringat oleh panas Jakarta.
Botol kedua Tino habis juga.
Tino mengangkatnya tinggi-tinggi, melihat air di dalamnya melalui kaca botol
yang terawang, lalu melempar juga botol itu ke depan. Membuangnya sembarangan. Akhirnya
dia menyelonjorkan kaki dan duduk bertumpu pada tangannya. Dia menengadahkan
kepala ke atas, menatap langit yang terik dan silau.
Bibirnya masih belum
tersenyum.
“Gue pengin banget mati, Bro
…,” gumam Tino lemas. “Gue malu …. Gue ngerasa …, ngerasa enggak ada guna lagi
gue hidup di dunia ini ….”
“Jangan mati, lah please
…. Abang belum ngawinin gue …,” rengek gue. Yang konteksnya bercanda, tapi aku
sih serius.
“Mikirin kontol mulu lu Bro
….”
“Sebab kalau mikirin memek,
takut di-prank sama bencong, Bang.”
“ANJING!” Tino meraup
segenggam pasir lalu melemparkannya ke arahku.
Aku terkekeh sambil menutup
wajahku dengan lengan, menghindari pasir-pasir itu.
Ini nyebelin, sih. Sekarang
badanku beneran penuh pasir. Seluruh tubuhku ini keringatan karena Jakarta
panas, jadi kalau ada pasir yang mampir, itu pasir enggak pernah melipir. Mana
aku lekbongan pula sekarang. Lenganku beneran dipenuhi pasir.
Tapi meski begitu, aku happy
karena Tino mulai kembali seperti biasanya. Dia masih sedih, masih depresi,
masih hancur, tapi dia sudah berani melemparku dengan pasir. Kuanggap itu
kemajuan pesat.
“Gimana caranya buat mati
ya, Bro?” tanya Tino.
“Kawinin gue aja, Bang.
Entar pas tua bakalan mati juga pada akhirnya.”
Tino menyikutku sambil
geleng-geleng kepala. Dia akhirnya mengalihkan pandangan ke arahku lagi.
Menatapku dengan tatapan serius. Sedikit jiwanya sudah ada di dalam sana. Tapi
belum sepenuhnya kembali.
“Gue nganggur sekarang,
Brooo …. Masa iya lu kawin ama yang jobless?” Tino terkekeh kecil. “Udah
nganggur …, gue juga bakal susah cari kerja. Semua perusahaan pasti enggak mau
nerima orang yang video coli-nya kesebar se-Indonesia. Mana lu juga
skripsi belum kelar.”
“Udah hampir beres, ya!” Aku
mendengus tak terima. “Udah ku-submit revisinya!”
“Terus kalau gue ngawinin
elo …, makan apa kita?”
“Bonyok gue kaya raya.
Tenang aja, sih!”
Tino malah menggelengkan
kepala. Dia mengusap wajahku supaya aku enggak halu melulu soal ngawinin dia,
kemudian kembali memeluk lututnya sambil menatap lautan lepas di depan.
“Apa gue open BO aja,
ya?” gumam Tino monolog.
“Dih! Ngapa jadi open BO,
dah?!” Mukaku cemberut.
Tino mengangkat bahunya.
“Pasti laku kan kalau open BO?”
“Enggak enggak enggak!”
sahutku. “Keenakan di calon kliennya, bisa ngerasain body Abang. Enggak
terima, aku!”
“Tapi duitnya banyak—”
“Tapi Abang ngaceng
aja enggak bisa, anjir!” Aku menyenggol lengan Tino. “Gimana caranya Abang open
BO kalau ngaceng aja gagal. Mau jadi boti, hm?”
Tino mengerutkan alisnya
sambil menatapku. “Lu pikir gue mau open BO buat homo?”
“Oh …. Bukan, ya?”
“Yaaa … lihat sikon, lah.”
Tino menelan ludah. “Banyakan mana duitnya, antara tante-tante sama om-om?”
“Ya om-om dooong ….
Jelas-jelas om-om nyari duit sendiri buat nyewa lonte. Kalau tante-tante
kebanyakan duitnya dari suaminya. Mendingan open BO buat homo, anjir!”
“Ya udah, entar gue belajar ngaceng
dari elo aja kayak kemaren.”
“ENGGAK! ABANG ENGGAK BOLEH OPEN
BO!” Aku mendengkus sambil melipat tangan di depan dada.
“Terus gue nyari kerja ke
mana, hm?”
“Entar gue bantuin! Tapi
Abang jangan open BO! Mau om-om, mau tante-tante, enggak boleh!”
“Elo siapanya gue, anjir,
larang-larang gue?”
“Gue orang yang Abang
percaya!” tegasku, mengulang kata-kata dia sendiri soal aku tadi. “Jadi Abang
harus percaya sama gue!”
[ … ]
Jujur aku enggak tahu gimana
mental state Tino setelah kejadian itu terjadi. Sepulang dari pantai,
Tino ingin menyendiri. Aku bersikeras untuk menemani, tapi Tino pengin sendiri.
Akhirnya kuizinkan untuk dia menyendiri, asal pintunya enggak dikunci. Dia
sepakat.
Jadi sekarang aku ada di
kamarku, cemas-cemas khawatir akan situasi Tino di kamar sebelah. Sesekali aku
me-Whatsapp-nya untuk bertanya, Masih hidup, kan?
Masih.
Baru aku bisa mengurut dada
lega. Biasanya kucandai dengan membalas, PAP kontol kalau gitu, sebagai
tanda masih hidup.
Eh, dia beneran kirim foto
kontolnya.
Aku senang, sih. Tapi jadi
sedih juga. Saking hancurnya hidup Tino, dia enggak masalah lagi ngirim foto
kontol lewat Whatsapp. Mungkin merasa dirinya sudah enggak berharga, sehingga
foto kontol dia pun baginya enggak berharga. Toh sudah kelihatan telanjang juga
senusantara. Enggak ada nilainya lagi untuk pakai baju.
Lalu, apa yang kulakukan
sepanjang hari?
Aku mencoba mencari pemilik
rekening untuk gabung ke grup Telegram itu. Namanya rada berkonflik. Agus
Aprilianto Junaedi.
Coba kamu tebak, kira-kira
dia lahir bulan Agustus, April, atau Juni?
Nama itu juga ketika
di-Google tidak kutemukan di mana-mana. Maksudnya yang tiga kata tersebut
berupa satu kesatuan. Yang kutemukan palingan Agus Aprilianto, atau Agus
Junaedi, atau Aprilianto Junaedi.
Pencarianku berakhir di
jalan buntu. Namun aku enggak mau nyerah. Akhirnya kuikhlaskan beberapa ratus
ribu demi bisa bergabung dengan grup Telegram itu. Hitung-hitung “membangun
kepercayaan”. Karena setelahnya, aku langsung mengirim pesan pribadi kepada pemilik
grup Telegram.
Bang, keren bgt bisa prank
PT yg ganteng itu. Ksh tau caranya Bang! Abang tinggal dmn? yuk ketemuan!
Tapi pesanku tak kunjung
dibalasnya hingga pukul sepuluh malam.
Sudah cukup lama aku tak
berkomunikasi dengan Tino. Sedari tadi aku sibuk meriset soal Agus Aprilianto
Junaedi. Aku bermaksud mengirim Tino sebuah pesan, untuk mengecek, atau
mengajaknya makan malam karena kayaknya Tino juga belum makan. Namun ponselku
tiba-tiba dihubungi oleh sebuah nomor tak dikenal.
Nomor Whatsapp. Tidak ada profile
picture-nya.
Dan itu video call.
Anehnya, jantungku mendadak
berdegup kencang.
Seakan-akan aku akan di-prank
oleh seseorang di luar sana.
Jadi, aku mematikan
panggilan video itu.
Nomor tersebut menelepon
lagi, dan aku menolaknya lagi.
Akhirnya dia mengirim
Whatsapp. Please angkat ini gue Edvan, tetangga lo.
Edvan?
Edvan yang nudis itu dan
tinggal sebelahan dengan Romi?
Aku punya nomor Whatsapp
dia, kenapa dia menggunakan nomor lain?
Ketika nomor itu menelepon
lagi, aku tak ragu untuk mengangkatnya. Wajah Edvan langsung memenuhi layar.
Dan aku membelalak terkejut melihatnya.
Edvan sedang di rumah sakit.
Wajahnya kotor oleh tanah
dan keringat. Dia tak mengenakan atasan. Ada noda sayat di bahunya.
“Leo?” sapanya, dengan napas terengah-engah. “Can you help me?”
“Mas Edvan?!” teriakku
sambil melompat turun. “Elo … elo di mana?”
“Gue di UGD … Tarakan ….
Tapi …, tapi jangan bilang siapa-siapa.” Napasnya
ngos-ngosan. “Khususnya Romi.”
“O … oke.”
Aku paham, sih. Romi kan
tergila-gila pada laki-laki. Mau ganteng, mau buruk rupa, mau bau silit, semua
Romi embat. Jadi kalau ada penghuni kosan sini yang ingin meminta bantuan,
sudah pasti hal pertama yang dilakukan adalah tidak meminta bantuan Romi.
“Elo … elo bisa ke sini? Ke
Tarakan?”
“Tarakan rumah sakit, kan?
Bukan yang di Kalimantan Utara?”
“Ya ….” Edvan mengatur lagi napasnya. “Gue butuh bantuan elo …. Tapi …, tapi
ini rahasia. Please.”
“Oke, oke, gue siap-siap
dulu kalau gitu.”
“Elo tenang aja,” kata Edvan kemudian.
Aku bingung. “Kok gue yang
tenang aja? Elo kali Mas yang tenang aja. Gue bakal ke situ kok sekarang.
Bener.”
“Bukan. Bukan itu.” Edvan mengatur dulu napasnya. “Gue pasti bantuin kalian ….”
“Hah?”
Edvan menarik napas panjang
sebelum mengatakan. “Gue bakal bantu … cari tahu … siapa yang nyebarin video
coli-nya Tino.”
Komentar
Posting Komentar