“Pertama,” kata Edvan, “gue minta tolong elo cek … si Romi … ada di kamarnya, atau enggak.”
“Why?”
Edvan mengangkat bahu. Tapi
kemudian mengaduh, “Aduh, aduh, aduh, aw, aw, aw!” Kayaknya bahu Edvan
dislokasi. Dia meringis kesakitan selama beberapa saat, matanya terpejam kuat,
napasnya ngos-ngosan, kemudian dia kembali ke telepon. “Sorry.”
“Buat apa gue ngecek Romi
ada di kamarnya apa enggak?”
“Please … just … just do
it,” katanya, terengah-engah. “Pastikan dia selamat. Enggak … enggak dalam
bahaya.”
Bukannya kalau Romi dalam
bahaya lebih bagus, ya? Dunia lebih aman sejahtera?
Aku bangkit dan keluar dari
kamar. Kusambar earphone di atas meja sambil berjalan, lalu kuganti
suara video call itu supaya lebih private. Kukenakan sandal, kemudian
aku berjalan lurus di lorong lantai dua yang sepi. Pintu kamar Romi tertutup.
Jadi kuketuk, tok-tok-tok! “Rooommm …?”
“Jangan dipanggil!” sahut Edvan tiba-tiba. Dengan panik dia menghindar dari kamera telepon.
“Kenapa?”
“Kan udah gue bilang, jangan
sampai dia tahu!” bisik Edvan. “Cek aja
kamarnya diam-diam.”
Oh iya. Aku lupa ada satu quest
soal merahasiakan semua ini dari Romi.
Aku berdiri membeku di depan
kamar itu, tak mendapatkan jawaban apa pun dari dalam. Kutempelkan telingaku ke
daun pintu, mencoba mendengar suara apa pun dari dalamnya. Suara Tiktok, suara
Romi mandi, makan, bernyanyi, coli, nonton bokep, atau apa pun. Tapi aku
enggak dengar apa-apa.
Aku buka pintu kamarnya,
enggak terkunci.
Damn.
Dia sengaja enggak ngunci kamar
biar gampang diperkosa orang, ya?
“Ada?” tanya Edvan, agak berbisik.
“Enggak tahu. Lampu kamarnya
sih nyala.” Aku melongokkan kepala ke dalam kamar. Pelan-pelan kupanggil,
“Rom?”
Enggak ada jawaban.
Kulongokkan kepala lebih dalam, sampai-sampai setengah badanku masuk. Enggak
ada tanda-tanda Romi di dalam kamar itu. Bahkan pintu kamar mandi juga terbuka
lebar, lampunya padam, tak ada aktivitas apa pun di sana.
Akhirnya aku memberanikan
diri masuk ke dalam kamar Romi. Aku memeriksa setiap sudut kamar mencari
keberadaan banci desperate itu. Aku menyebut dia desperate karena
Romi betulan bisa ngewe dengan siapa pun, tanpa terkecuali. Aku aja
pernah di-sepong sama dia di sini, padahal kami sama-sama boti.
Gila enggak, tuh?
“Enggak ada,” kataku,
setelah memastikan tak ada manusia apa pun di kamar ini selain aku.
“Coba kamar gue,” kata Edvan. “Mungkin dia ada di sana.”
“Agak mencurigakan ya dia
masuk kamar elo. Ngapain emangnya dia di sana?”
“Nyiumin sempak gue
biasanya.”
“Oh.”
Kok enggak mengejutkan ya
kalau alasannya itu? Aku bisa membayangkan Romi masuk kamar orang-orang dan
mengendus-endus sempak yang sudah dipakai para penghuni kosan di sini.
Aku berjalan lagi keluar
kamar Romi, pindah ke kamar Edvan. “Dikunci enggak?”
“Enggak,” jawab Edvan.
Kubuka pintu kamar Edvan
pelan-pelan, lalu kulongokkan kepala ke dalamnya. Lampu kamar menyala. AC juga
menyala. Dan di atas kasur ….
… ada Romi sedang tertidur
lelap.
Dia tidur telentang
mengenakan hot pants dan kaus tipis yang pendek, yang sekarang
tersingkap ke atas karena dia barusan garuk-garuk perutnya. Satu kaki lurus,
satu kaki dilipat, satu tangan di perut, satu tangan memeluk guling, mulutnya
mangap.
“Buronan sudah ditemukan,”
bisikku ke ponsel. Kuganti tampilan layar menjadi kamera belakang, lalu kusorot
Romi di atas tempat tidur Edvan.
Edvan menghela napas lega.
Dia menyugar rambut di kepalanya, tetapi itu melibatkan pergerakan bahu,
sehingga dia mengaduh lagi. “Aw! Aw! Aw! Aw!” Bahunya yang dislokasi
pasti terasa ngilu pas dia mengangkat tangan barusan.
“Oke, gue udah di dalam,”
kataku, pelan-pelan menutup pintu kamar. “Gue bekap dia pake bantal, atau gue
siram pake air mendidih aja?”
Edvan terkekeh geli di
seberang sana. “Jangan, dong,” katanya, masih tergelak. “Entar dia
mati.”
Memang itu tujuannya, kan?
Untuk apa lagi aku mengendap-endap masuk ke sini mencari Romi kalau bukan untuk
membumihanguskannya?
“Jadi gue mesti ngapain?”
bisikku, hampir tanpa suara. Aku berjalan mendekat, merapat ke dinding, nyaris
saja menendang panci bekas memasak mi yang enggak tahu kenapa ada di dekat
pintu.
Setelah tawanya reda, Edvan
menarik napas panjang. “Elo masih ingat baju yang gue pake kemarin, kan?”
katanya. “Baju item, celana item, sepatu item, jaket item, semua yang
item-item.”
“Ya! Baju nudis elo, kan?”
Edvan sudah membuka mulutnya
untuk merespons, diam sebentar menimang-nimang, lalu memilih untuk enggak
mendebatnya. “Iya. Yang itu. Oke, gue butuh elo nyembunyiin itu semua.”
“Sembunyiin ke mana?”
bisikku.
“Ke mana pun. Asal jangan
ada di kamar gue.”
“Why?”
“Please, jangan banyak tanya dulu. Tolong sembunyiin aja, jangan sampai
Romi nemuin semua baju gue itu!”
“Oh, oh! Elo takut baju-baju
elo itu diendus-endus Romi, ya? Dia punya fetish ngendus-ngendus baju
orang, ya?”
Lagi-lagi Edvan seperti akan
mengatakan sesuatu, tetapi dia pikir-pikir dulu, akhirnya dia mengikuti saja
kata-kataku. “Ya …. Dia punya … itu,” katanya pasrah. Dia enggak suka
basa-basi kayaknya. “Oke, baju gue ada di antara tumpukan di situ.”
Aku menatap seisi kamar
Edvan. Kamar ini boleh dibilang cocok sebagai simulasi kapal pecah. Seakan-akan
sebuah gempa terjadi di Tasikmalaya sana, getarannya terasa sampai ke sini,
tapi hanya di kamar ini saja. Bukan di kamarku, bukan kamar Tino, bukan kamar
Romi, spesifik di kamar Edvan. Karena tampaknya semua barang enggak ada di
lokasi seharusnya. Baju-baju di lantai, di kursi, di rak sepatu, piring kotor
di atas CPU, di atas lampu, botol-botol minuman kosong di bawah kasur …,
satu-satunya yang menyelamatkan kamar ini adalah penghuninya ganteng. Jadi
kalau Edvan ngajak aku ngewe di sini, aku masih mau melakukannya.
“Elo enggak perlu beresin
itu semua,” kata Edvan tiba-tiba. Mungkin dia melihat
reaksi mukaku yang berjengit melihat situasi kamar ini. “Coba cek di bawah
meja komputer. Biasanya gue nyimpen kostum gue di situ.”
Aku berjalan jinjit-jinjit
ke tengah kamar, sengaja tidak menginjak apa pun agar tidak menimbulkan suara.
Jantungku berdegup kencang seolah-olah yang tidur di atas kasur sana adalah
seekor singa, sehingga aku tak boleh membangunkannya tiba-tiba. Di bawah meja
komputer, memang ada kaus, celana panjang, jaket, sepatu, topi, kacamata,
bahkan helm warna hitam. Semuanya dijejalkan bersamaan sehingga tampak
berantakan.
“Ketemu,” kataku. Kuarahkan
kamera ke semua pakaian serbahitam itu. “Gue bawa keluar, ya?”
“Thank you so much!” Edvan
merapatkan kedua tangannya, lalu meletakkan rapatan tangan itu di dahinya, tapi
dengan begitu bahunya terangkat lagi, sehingga dia, “Aw! Aw! AAAWW!”
sambil memegang bahunya yang sakit.
“Jangan banyak gaya dulu!
Udah tunggu aja gue ke situ!” kataku, sambil mengumpulkan semua baju hitam itu
pelan-pelan. “Gue off dulu, ya! Susah bawanya.”
“Ya, ya, ya …. Aw, aw, AW!”
Panggilan telepon pun dimatikan.
Kusakui ponsel, lalu kukumpulkan segala perlengkapan hitam-hitam itu. Aku masih
belum tahu mau nyembunyiin ini semua di mana. Pikiranku cuma bawa ini keluar
dulu aja, mungkin simpan di kamarku, terus aku cabut ke RSUD. Aku lagi mikirin,
mau ajak Tino atau enggak buat ke rumah sakit. Tahu-tahu kepalaku kejeduk meja
komputer—
DUG!
Dan itu bikin Romi
merespons.
“Eeeeeergh …!” Romi
menggeliat dan berbalik ke arahku. “Sayaaannnggg …?”
Aku membelalak panik.
Buru-buru membungkuk dan tiarap di bawah kursi sambil menutupi kepalaku dengan
semua baju dan celana hitam Edvan. Yang setelah dipikir-pikir, aromanya enak.
Aroma keringat Edvan dicampur parfumnya.
Damn. Cowok banget ini wanginya!
Aku mengangkat kepala
sedikit. Mencoba mengintip Romi. Kulihat dia masih tertidur nyenyak. Hanya saja
sekarang kepalanya menatap ke tengah ruangan, tepat ke arahku. Kalau dia buka
mata sedikit saja, aku langsung ketahuan.
“Nyam …, nyam …, aaahhh …,”
desah Romi. Dia menggaruk-garuk pipinya. “Sayaaannnggg …. Entot aku pleeeaaasseee
….”
What the fuck?!
Aku bergerak perlahan-lahan,
keluar dari persembunyianku. Erat-erat kupeluk semua setelan serba hitam itu,
lalu aku berdiri tegak tanpa suara. Romi masih dalam posisi yang sama. Kutarik
napas panjang, kutenangkan diri. Aku baru akan membawa semua ini keluar, melaju
satu langkah ke depan, lalu kakiku hampir menginjak sepotong sempak milik Edvan
yang berwarna hitam.
Sempaknya kelihatan bersih.
Tapi ada di lantai.
Harusnya kuabaikan sih
sempak itu. Tapi aku orangnya enggak bisa kalau enggak jail. Kuambil sempak itu
dengan jempol kakiku. Kucapit. Lalu kuseret mendekati tempat tidur. Lalu
kuangkat kakiku. Kuletakkan sempak itu di atas wajah Romi.
Ha! Rasakan!
Sempak hitam itu mendarat
tepat di wajah Romi. Romi mengendusnya, lalu tiba-tiba memeluknya.
“Kontoool … bau kontooolll
…! Aaaaaahhh …!” Mendadak dia mendesah kegirangan dan guling-guling.
Aku yang masih mengangkat
satu kakiku terkejut.
GUBRAK!
Aku terjatuh ke atas lantai
….
… semua yang kupegang
melayang ke udara ….
… lalu jatuh menimpaku.
….
Termasuk helmnya.
JEDUG!
“FUCK!” umpatku.
“Siapa itu?! Siapa itu?!”
Romi terbangun. Dia duduk di atas tempat tidur, kepalanya celingukan, tetapi
matanya baru terbuka setengah. “Begal, ya?! Begal?! Udah kubilang, aku enggak
punya duit lagi! Kamu sudah mencuri semuanya dariku!”
Ngomong apa, anjing?!
Tapi aku enggak bergerak
maupun merespons. Aku terbaring dengan canggung dalam posisi jatuhku di atas
lantai. Satu kakiku terlipat. Satu tanganku terjulur ke atas. Satu tanganku
sedang meraih helm yang menggelinding. Seluruh tubuhku tertimbun pakaian serba
hitam Edvan.
Aku membelalak dan membeku
dalam panik. Jantungku berdegup-degup kencang. Ini lebih mendebarkan
dibandingkan ujian masuk perguruan tinggi negeri.
(Saking mendebarkannya, aku skip
SNMPTN dan memilih healing ke Bali.)
(That’s why aku
akhirnya kuliah di kampus swasta.)
Wajahku tertutup celana jeans
Edvan, tetapi satu mataku bisa melihat sosok Romi di atas ranjang sana. Banci
itu masih celingukan dan geleng-geleng kepala. Dia mengatur napasnya yang
memburu, melihat ke sekitar, melihat ke tubuhku yang ditumpuk baju-baju hitam,
lalu melihat lagi ke arah lain. Kemungkinan dia berpikir aku adalah bagian dari
berantakannya kamar Edvan, sehingga dia enggak curiga bahwa ada seonggok
manusia di balik celana, jaket, baju, topi, sepatu, dan semua yang serba hitam
ini.
Romi melihat tangannya. Ada
sempak hitam Edvan di situ. Dia menatapnya sambil membelalak, lalu napasnya
jadi memburu. Kayak orang lagi girang. Bahkan, Romi buru-buru menempelkan
sempak itu ke wajahnya, mengendus aromanya, lalu dengan mengharukan
terisak-isak.
“Mamoruuu …,” katanya.
Mamoru?! Itu sempak, goblok!
Romi pun berbaring lagi,
masih mengusapkan sempak hitam itu di wajahnya. Masih nangis juga, Cuy. Dia
gosokkan sempak itu seakan-akan itu air wudu. Dia angkat sebentar untuk
mengamatinya, lalu dia menggosoknya lagi ke wajahnya.
“Mamoru,” katanya lagi ke
sempak itu. “Kenapa tadi kamu enggak datang untuk menyelamatkanku …? Aku
ketakutan, tahuuu …?
Romi pun berbalik ke arah
lain, menghadap tembok. Dia menangis beberapa saat, kemudian berguling-guling
tanpa tujuan. Akhirnya dia ngorok lagi, sih. Dalam kondisi nungging kayak
kodok, siap disodomi dari belakang. Tapi dia molor. Sumpah. Mukanya nemplok ke
bantal. Noleh ke kamar, tapi kedua matanya merem. Mulutnya kebuka dikit. Bibir
atasnya menyon ke atas. Bibir bawahnya menyon ke bawah. Air liurnya sudah
menetes lagi.
Di tengah dengkurannya, Romi
pun mengigau.
“Mamoru … ebol aku please
….”
Pelan-pelan aku bangkit
tanpa mengeluarkan suara, lalu kukumpulkan semua yang harusnya kusembunyikan.
Ini beneran enggak efektif, Bro. Dari tadi aku masih di sini padahal harusnya
aku sudah dalam perjalanan ke rumah sakit. Kenapa urusan bawa ini keluar aja
susah, sih?
Kupeluk lagi semua kostum
serba hitam itu, termasuk helmnya, hingga tanganku penuh. Aku mungkin enggak
akan bisa membuka pintu kalau bawaanku sebanyak ini. Tak apalah …, yang penting
aku bisa segera keluar dari sin—
TEEENNNGGG …! NONG
NEEENNNGGG …! TENG NONG NENG NONG NENG NONG TENG NONG NONG NEEENNNGGG …!!!
FUCK! HAPE SAMSUNG ANDROID-KU MENDADAK NYALA KARENA TELEPON MASUK!
Hape Samsung-ku tuh biasa
ku-setting dengan ringtone khusus per kontaknya. Biasanya nomor
tak dikenal enggak ada ringtone-nya, tetapi setelah kukenal dan kusimpan
kontak, aku akan mengatur ringtone-nya seperti apa. Nomor baru Edvan
tadi sudah kusimpan kontaknya, tapi aku belum mengatur ringtone-nya. Nah,
ini tuh tiba-tiba si Edvan menelpon ke ponsel, bukan lewat Whatsapp kayak tadi!
Otomatis ringtone-nya default Android Samsung yang tersohor itu,
dengan FULL VOLUME!
FUCK!
Aku berlari ke balik lemari
Edvan, membuka pintunya, lalu bersembunyi di sana.
Romi tentu saja bangun
gara-gara suara itu. Kami sama-sama terkejut. Tapi mungkin karena dia terbangun
dari tidur nyenyak bermimpi indah di-ebol seseorang bernama Mamoru, dia
enggak ngeh waktu aku berlari secepat kilat ke balik pintu. Dengan panik aku
menyusupkan semua kostum hitam itu ke lemari Edvan, termasuk helm-helmnya,
sembari aku mengeluarkan ponsel untuk mematikan panggilan masuk itu.
Aku berhasil melakukannya.
Napasku ngos-ngosan. Keringat menbanjiri seluruh tubuhku. Suasana kamar
langsung hening seketika saat kumatikan dering Android sialan itu. Dadaku
kembang kempis. Aku membeku ketakutan seperti sedang dikejar hantu, lalu aku
bersembunyi di balik lemari. Jempolku gemetaran sembari aku mematikan ponsel
secara total, supaya tidak ada telepon-telepon mengejutkan dari Edvan.
“Halo …? Halo?”
Aku mengintip lewat pintu
lemari. Romi sedang meletakkan iPhone Bobanya di telinga, lalu mencoba
berbicara.
“Halo? Kok, enggak ada
suaranya? Halo?” Dia menatap iPhone-nya. “Eh, udah ditutup? Gaje banget.”
Dia pikir bunyi ringtone
tadi adalah panggilan di ponselnya.
Your phone is iPhone, BITCH!
Yang barusan spesial Samsung!
NGELEDEK LU, YA?!
Romi meletakkan lagi
ponselnya ke atas meja. Sempat dia bingung, ke mana gundukan hitam-hitam yang
tadi ada di dekat ranjang. Tapi dia malah mengangkat bahu dan memilih untuk
tidur lagi.
Aku udah enggak sanggup lagi
melewati ini semua. Ujung-ujungnya aku menjejalkan saja semua kostum serba
hitam itu di lemari Edvan, lalu kututupi seluruhnya dengan pakaian-pakaian
Edvan yang lain. Kujejalkan acak saja. Tanpa kulipat atau kurapi-rapi. Toh kamar
ini juga enggak ada rapi-rapinya. Buat apa aku menyusun dengan cantik, hm?!
Yang penting seluruh kostum hitam itu sudah ada di pojokan lemari, tersembunyi
dengan aman, di bawah tumpukan baju-baju yang lain.
Romi enggak bakal pernah
menemukannya.
Kutarik napas panjang. Dan
tanpa banyak drama lagi, aku berhasil keluar dari kamar itu.
Komentar
Posting Komentar