(PPT) Part 8 Bag. B




Ketika aku ngetuk pintu kamar Tino, lampunya padam. Kupikir dia sedang tidur, tapi kulihat secercah cahaya dari dalam. Seperti cahaya lilin. Api kecil itu berkobar-kobar di atas meja Tino, membuat kamarnya tampak remang-remang dari luar.

Tino membuka pintu kamarnya. Dia telanjang dada, cuma pakai celana pendek. “Kenapa?” sapanya lemas. Mulutnya seperti sedang mengunyah sesuatu.

“Bang, kalau mau ngepet, ajak orang lain juga, Bang. Buat jagain lilinnya.”

Tino menoyor pipiku. “Gue bukan ngepet,” katanya, sambil membuka pintu lebar-lebar untuk mempersilakanku masuk. “Belum aja. Belum tahu caranya.”

“Lo lagi ngapain Bang?”

“Makan.” Dia duduk di depan meja yang ada lilinnya. Lalu menyuap mi kuah ke dalam mulutnya. Dia juga mengangkat mangkuk itu ke arahku. “Mau?”

“Gue anak orang kaya. Gue enggak bisa relate sama anak kosan yang makan mi di akhir bulan.” Kulongokkan kepala ke dalam, karena aku enggak mau buka sepatuku. “Lagian, gue mau ngajak Abang keluar.”

“Ke mana?”

“Mas Edvan masuk rumah sakit. Dia minta gue buat datang ke sana. Gue mau ngajak Abang aja sekalian jenguk. Kalau perlu, kita makan bakmi roxy aja di luar, Bang. Jangan makan mi kuah kayak gitu. Enggak ada ayamnya, enggak ada protein!”

Tino menyelesaikan minya sambil berdiri lalu beranjak menarik kaus yang digantung di belakang pintu. Aroma tubuhnya kayak belum mandi. Enak sih aromanya, tapi jelas dia belum mandi setelah keringatan terjemur di PIK siang tadi.

“Kenapa dia?” tanya Tino, sembari mengenakan kaus itu dan mengambil celana panjang.

Aku mengangkat bahu. “Kecelakaan mungkin. Dia tiba-tiba nelepon gue pake nomor baru, terus bilang minta bantuan gue. Bahunya kayaknya sakit. Kalau angkat tangan dianya aw-aw-aw terus. By the way, ini kenapa lampunya mati, sih?”

Aku mengulurkan tangan untuk menekan saklar di samping pintu. CTREK! Lampu kamar Tino menyala terang. Enggak ada apa-apa di dalam kamar ini yang patut Tino sembunyikan dengan mematikan lampu. Agak panas karena AC-nya enggak menyala. Tapi kamar ini jauuuhhh … lebih rapi dibandingkan kamarnya Edvan.

“Gue … gue mau hemat listrik,” kata Tino, sembari mengancingkan celananya, lalu mematikan lagi lampu itu. CTREK!

What the fuck?!

Listrik di kosan ini memang ditanggung sendiri oleh pemilik kamar. Pake token.

“Gue sekarang nganggur, Bro. Better to save money sejak dini, sebelum tabungan gue yang enggak banyak-banyak amat ini ludes.”

“Enggak gitu juga caranya, ah! Dunia belum berakhir, Bang. Gue bisa bantu elo!” Aku mendengus. “Enggak mau tahu, pokoknya entar malam Abang nginep di kamar gue, pake AC, dan sekarang kita harus makan enak di luar. Ayo!”

“Iya, bentaaarrr ….” Tino menyeruput kuah minya yang masih banyak itu, along with noodle-lah. Aku bisa lihat jakunnya bergerak-gerak naik turun, meneguk kuah mi kayak lagi neguk air putih sehabis lari maraton. Sambil neguk sambil ngunyah minya, anjir. Dia simpan lagi mangkuknya ke atas, lalu menarik jaketnya. “Yuk!”

Beberapa potong mi menempel di bibirnya, enggak berhasil masuk. Aku mengeluarkan tisu dari dalam tas selempangku, lalu kubersihkan mi di bibir itu. Tino terdiam sejenak menungguku membersihkan bibirnya.

“Dah,” kataku.

“Elo udah bisa jadi istri gue, ternyata,” bisiknya.

“Enggak akan!” Kudorong dada Tino yang bidang dan keras itu. Tino agak termundur sedikit, padahal dia sedang mengunci pintu kamarnya. “Ngaceng dulu yang bener, baru jadi suami gue. Yuk, cepetan!”

Aku mendului Tino turun ke bawah. Aku berjalan dengan sangat cepat, seolah-olah aku sedang dikejar sesuatu. Padahal harusnya biasa aja. Somehow aku merasa beruntung tangga ini ada di samping kamar Tino, sehingga aku bisa melipir lebih dulu.

Why? Karena aku GR bukan main.

Mukaku merah. Hatiku malu. Aku senang waktu Tino mengatakan itu. Kepalaku langsung berfantasi dipersunting Tino dan hidup selamanya dengan personal trainer ganteng itu. Aw, aw, aw ….

Tapi aku enggak mau mengakuinya!

No baper-baper, yes!


[ … ]


Perjalanan ke RSUD Tarakan dilalui dengan lancar. Hampir enggak ada lalu lintas berarti sepanjang mencapai tempat itu. Kecuali kami mesti memutar dulu ke Jl. Cideng karena rumah sakitnya enggak bisa diakses dari Jl. Tomang kalau kita datang dari arah barat.

Sepanjang perjalanan, aku yang menyetir. Aku lagi enggak mau membiarkan orang yang depresi kayak Tino memegang kemudi. Takutnya dia membelokkan mobilku ke Sungai Ciliwung dari atas Jembatan Tomang. Sesampainya di lokasi, kami langsung bergegas ke UGD. Edvan dapat kami temukan dengan mudah. Dia sedang duduk bersila di atas dipan pasien. Telanjang dada. Dan body-nya, wow, atletis.

Perutnya six pack kayak perut Tino.

Meski sekarang ada banyak bekas memar dan luka.

Dan mungkin bahunya sudah bisa dikondisikan karena waktu kami tiba, Edvan sedang memutar-mutar bahunya seperti sedang mengecek sesuatu.

“Hey! Gimana?” sapaku sambil menarik kursi dan duduk di sampingnya. Tino berdiri di ujung dipan, mengamati tanpa bertanya.

I’m okay. I’m fine.” Edvan menegakkan tubuhnya dan mengernyit nyeri pada beberapa bagian yang mungkin belum sembuh total. “Bawa baju buat gue?”

“Bawa.”

Sewaktu Edvan mencoba meneleponku tadi, waktu ringtone khas Samsung itu berkumandang bagaikan proklamasi kemerdekaan, dia mau minta tolong bawakan baju ganti juga. Aku menerima pesan Whatsapp-nya setelah aku keluar dari kamar Edvan lalu bersiap-siap. Jadi, aku membawakannya baju-baju longgar yang jarang banget kupake selama tinggal di sini, gara-gara setelannya bukan aku banget.

Kugeser sports bag-ku ke dekat nakas. “Ada di situ semua. Gue juga bawain elo minum sama snack.”

Thanks.” Edvan tersenyum kecil. “Terus … itu … udah elo … you know … sembunyiin?”

Aku mengangguk. “Sudah. Sudah aman.”

“Di mana?”

Aku enggak bisa jawab bahwa semua setelan hitam itu masih ada di kamarnya. Padahal petunjuknya jelas: bawa kostum itu keluar kamar. Tapi aku enggak mau dianggap tolol, jadi aku berkilah, “Aman pokoknya. Enggak akan ditemukan siapa pun, bahkan arkeolog proefesional pun enggak pernah nemu baju-baju elo di mana.”

Edvan menyipitkan matanya. “Elo kubur baju-baju gue?”

“Enggaaakkk …. Maksudnya …, maksudnya, jangan dulu mikirin itu. Kita pikirin dulu soal elo. So …, what happened? Kenapa elo bisa kayak begini?”

Aku berdiri dan melihat ke belakang. Ada satu luka panjang di sana, seperti goresan senjata tajam, yang tampaknya enggak ikhlas dilihat oleh Edvan.

Dia menghela napas, lalu mundur agar bisa bersandar ke dinding ruangan. Setelah mengamati kami satu per satu, dia pun mulai bercerita. “Gue berantem ama begal.”

Dope!” sahutku sambil membelalak. “Di mana, anjir?”

“Sekitaran … Mangga Besar.”

Aku noleh ke arah Tino. Somehow, aku lihat rahang Tino mengeras. Seakan-akan berantem ama begal men-trigger sesuatu dalam dirinya. Tino membungkuk dan menumpukan lengan depannya ke pagar dipan lalu mendengarkan cerita Edvan lebih saksama.

“Enggak jauh dari sini,” gumamku.

“Makanya gue milih ke Tarakan,” balas Edvan.

“Sekarang di mana begalnya?”

“Tahu! Mati kali?” jawab Edvan sambil mengangkat bahunya. Dia menarik lagi napas panjang sambil mengingat-ingat apa yang barusan terjadi kepadanya. “Gue tinggalin mereka di lokasi. Gue tadinya mau nyetir pulang, tapi gue pendarahan banyak. Jadi gue ke sini naik Gojek.”

“Terus mobil elo di mana?” tanya Tino.

“Di Mercure Harmoni. Gue titip di sana. Argh.” Edvan mengerang kecil sambil memegang lengannya yang penuh luka. Dia menarik napas panjang untuk mengatur napasnya yang ngos-ngosan.

Aku meringis ngeri melihatnya. Enggak tega, sumpah, lihat Edvan yang ganteng ini babak belur kayak korban pembunuhan. Dihajar begal, pula. Pasti pake sajam sih ini. Aku mengusap-usap paha Edvan yang ditutupi selimut, mencoba menenangkannya.

Edvan melihat ke arah tanganku di situ. “By the way, gue telanjang, Bro. Itu tangan elo ngelus-ngelus lokasinya deket banget ama perkakas gue—”

“Oh, sorry!” Kuangkat tanganku seketika. Bahkan aku mundur selangkah dan mengangkat kedua tanganku. “Sorry, sorry, sorry.

Edvan terkekeh. “Gapapa.”

Yang enggak terkekeh adalah Tino. Mendadak dia mengulurkan tangannya, menarik bahuku, menarik tubuhku hingga menempel ke tubuhnya, lalu dia …, dia memeluk pinggangku dari belakang. Tangannya meremas pinggangku kuat-kuat. Seolah-olah mau bilang ke Edvan, “Si Leo ini punya gue ya, Bro!”

Kan aku jadi berdebar-debar, anjing!

Di depanku ada cowok ganteng hobi nudis yang telanjang bulat di bawah selimut. Lalu tubuhku didekap personal trainer lebih ganteng lagi, yang badannya kekar, kontolnya uncut, dan dia memelukku seakan-akan ….

… seakan-akan aku miliknya dan enggak boleh pegang-pegang paha Edvan.

Baper enggak lu digituin? Hah?

HAH?!

“Berapa orang begalnya?” tanya Tino, dengan suara dalam, yang jarang kudengar. Suara laki kalau lagi “serius”.

“Tiga.”

“Elo ngadepin mereka sendirian?”

Edvan ngangguk. “Gue kalah jumlah.”

“Tapi mereka mampus, kan?” sahut Tino, rahangnya makin mengeras.

Aku agak takut sih melihat Tino versi marah-marah begini. Kenapa jadi dia yang kesal, ya? Yang babak belur kan si Edvan. Apa dia mulai benci sama segala sesuatu yang berhubungan dengan ketidakadilan di dunia ini? Hidup Tino enggak adil karena ditipu bencong. Hidup Edvan enggak adil karena diserang begal.

“Itu yang mau gue cari tahu,” kata Edvan. Dia noleh ke kami satu per satu, lalu melanjutkan sembari menatap ke arahku, “Sekalian gue mau minta tolong juga. Makanya gue minta tolong ke elo.”

“Kenapa elo nelepon si Leo?” tanya Tino, kayak yang enggak terima. “Biasanya elo ngehubungin gue.”

“Itu …, karena ….” Edvan mulai salah tingkah. Dia garuk-garuk kepalanya seperti menghindari pertanyaan itu. Kemudian akhirnya dia berkelit, “Nama Leo lebih duluan muncul di kontak gue. Hehe. Sesuai alfabet. Nama elo kan dari huruf T, Bro. Agak-agak … di bawah.”

Aku dan Tino sama-sama menyipitkan mata dengan ekspresi bingung.

Goblok banget sih mau nyari alasan doang! Emangnya kalau mau nelepon orang harus nge-scroll nama kontaknya dari huruf A, HAH?!

“Gue sore tadi Whatsapp-an ama Mas Edvan,” kataku langsung nimbrung. “Mungkin Mas Edvan ini lagi panik, lagi darurat, jadi anak kosan yang kontaknya paling atas dia telepon buat minta bantuan.”

“Nah, iya, begitu!” sahut Edvan sambil mengangkat tangan ke arahku, untuk melakukan high five! Tos!

ENGGAK PERLU, ANJING! Ngapain tos, sih?!

Of course aku enggak membalas high five tersebut. Dasar ganteng-ganteng seringgila!

Dengan salah tingkah, Edvan menurunkan lagi tangannya, lalu pura-pura menggaruk kepala. Tapi kayaknya bahu Edvan masih belum sembuh total sehingga dia mengaduh lagi. “Aw! Aw! Aw! AAAWWW!” Edvan meringis sambil menyilangkan tangan untuk memijat bahu.

“Jadi elo mau minta bantuan apa?” tanya Tino.

“Oh … iya …, pertama, tolong bawa mobil gue ke sini,” katanya. “Ada duit dalam amplop, yang tadinya mau diambil ama mereka, gue simpan di jok depan. Gue pengin duit itu aman.”

“Berapa duit, Mas?” tanyaku.

“Kagak tahu. Enam juta? Tujuh juta? Cash semua.”

Aku geleng-geleng kepala. “Damn. Zaman udah canggih pake Kyu-RIS, Mas masih pegang uang cash berjuta-juta?”

“Duit di dalam rekening bisa dibobol begal juga, anjir. Mereka bawa sajam, nodong elo ke ATM, terus duitnya ditarik semua di ATM!”

“Masa sih?”

Edvan sudah membuka mulutnya untuk merespons, tapi dia memikirkannya baik-baik, kemudian dia menggelengkan kepala. “Enggak, barusan cuma kemungkinan aja.” Dia menelan ludah. “Iya, harusnya gue enggak bawa cash.”

Ada yang Edvan sembunyikan dari kami. Dari tadi banyak hal yang dia “enggak jadi” katakan atas alasan enggak mau ribet.

“Oke, kuncinya di mana?” tanya Tino, tanpa basa-basi.

“Noh, di situ.” Edvan menunjuk nakas di samping dipannya dengan dagu.

Tino melepas rangkulannya untuk mengambil kunci. Aku enggak dibiarkannya mendekati Edvan lagi. Setelah mengambil kunci, dia menyakuinya ke jaket, “Ada lagi?”

“Ada. Gue … gue pengin kalian ngecek si begalnya. Masih hidup, atau jadi mayat, atau gimana. Terlebih soal CCTV sekitar situ, sih. Takutnya gue kerekam lagi mau bunuh orang.”

“Misal kerekam pun, kan pasti kelihatan mereka mau begal elo,” kata Tino. Dia kembali ke sisiku, dan kembali merangkul pinggangku. “Elo bakal dianggap membela diri. Posisi elo kuat. Mereka mati pun, mereka tetap penjahatnya. Sans. Kalau ada apa-apa, entar kita telepon si Kevin buat bantu elo meski dia udah pindah ke Surabaya. Si Kevin kan pengacara.”

Kevin itu cowok yang ditaksir sama sobatku di kosan ini. Sobatku namanya Enzo, dia tinggal di gedung bagian depan, di lantai satu. Dia tetanggaan sama cowok bernama Kevin, profesi pengacara, yang sekarang sudah pindah ke Surabaya, menikahi kakaknya Enzo. Jadi secara teknis Enzo enggak ditinggalin cinta matinya, sih. Tapi posisi Enzo berubah dari secret admirer menjadi adik ipar.

Enzo tuh orangnya agak … lebai. Dia cinta Kevin kayak gue cinta sama Tino. Tapi Enzo tuh gimana, ya …? Agak drama gitu. Bisa nangis berjam-jam cuma gara-gara Kevin belum pulang ke kosan, atau Kevin belum balas Whatsapp-nya dia.

Dan by the way, Kevin tuh ganteng. Tipe lelaki yang mengayomi. Enak dipeluk semalaman. Badannya sama kekar, tapi basah. Jenis orang yang paling cocok dijadikan suami sehidup semati. Sampai akhirat pun, dibandingkan dihadiahi 72 bidadara, aku yakin kamu bakal lebih milih dikasih satu Kevin aja untuk hidup di surga selamanya. Saking adem dan damainya berinteraksi sama Kevin. Jadi sometimes aku paham kenapa Enzo bisa hiperbola dalam urusan naksir pengacara ganteng itu.

Edvan memberi jeda sejenak pada kata-kata Tino. Lagi-lagi, dia seperti ingin membantah sesuatu, mulutnya udah kebuka nih, tapi dia tutup rapat lagi. Ujung-ujungnya dia balas, “Ya, elo bener, Bro.”

“Kita doain aja mereka mati,” kata Tino. Satu tangannya memegang pagar ranjang dengan keras. Kerasa sampai ke remasan tangan dia di pinggangku. “Kita doain semua penjahat di dunia ini mati. Orang-orang yang nipu, yang ngancurin hidup orang lain, mereka busuk di dunia dan busuk di neraka!”

Damn, Bro.

You are fucking wounded, Bro.

Kerasa bangat energi-energi pengin nyekik bencong bernama Lidya sampai lehernya putus. Wow. Aku berempati banget sama apa yang dialami Tino. Rasanya pengin meluk dia sekarang juga buat nenangin hatinya.

“O … oke ….” Edvan menelan ludah. Mulai ngeri dengan perubahan sikap Tino yang terlalu agresif. “Nanti … nanti kalau kalian udah pegang mobilnya, tolong cuci mobilnya, tapi jangan di carwash. Please ….”

“Kenapa?”

“Banyak darahnya, anjir. Darah gue di joknya. Kalau ke carwash, entar carwash-nya malah nelepon pulisi!”

Tino menatapku sejenak lalu melihat lagi Edvan. Dia mengangguk sepakat. “Oke. Gue coba cuci entar malam.”

“Gue bayar,” kata Edvan kemudian.

Tino menggeleng. “Enggak usah. Elo lagi kena musibah gini, kagak usah mikirin duit lagi.”

No! I insist!” sahut Edvan bersikukuh. “Gue lagi mau ngerepotin kalian berdua nih. Seenggaknya gue bisa bayar elo buat effort elo nolongin gue. Please. Entar gue tambahin roti, deh. Gue punya banyak roti.”

“Dih! Sari Boti yang kemarin? Enggak mau!” Aku mendengus.

But please accept the money,” kata Edvan, menoleh ke arahku dan memohon.

Lalu tiba-tiba, aku teringat bahwa Tino pengangguran sekarang. Barusan saja dia makan mi kuah sambil mematikan AC dan lampu, lalu duduk ditemani lilin untuk pemadaman bergilir. Jadi aku menyenggol Tino. “Bang, terima aja.”

“Tapi—”

Kucubit perut Tino. “Terima aja!”

“Aw! AAAWWW …!” Tino membungkuk untuk melepaskan tanganku di perutnya. “Iya, iya, iya. Gue terima duitnya.”

“Anggap aja biaya cuci mobil,” kataku. Aku mendengus bangga dan bertanya, “Ada lagi?”

“Ada.” Edvan mengulurkan tangan untuk mengambil beberapa lembar kertas yang tergeletak sedari tadi di sana. Bentuknya seperti formulir. “Ini udah gue isi. Gue mau minta tolong sama elo, Tin, buat ke depan, ke bagian administrasi, buat ngasihin ini. Bilang gue biaya mandiri. Enggak pake BPJS atau asuransi.”

“Kasih ke si Leo,” kata Tino.

Aku enggak masalah sih melakukan itu. Tapi Edvan yang tiba-tiba menolak. “Enggak. Gue pengin elo aja yang ke sana. Please.”

“Kenapa harus gue?”

“Karena … karena ….” Edvan enggak tahu mau berkelit gimana lagi. “Ada informasi penting yang gue enggak pengin si Leo tahu.”

Bangsat emang cowok ganteng satu ini! Beberapa saat lalu aku mainin sempak kamu, anjeng! Informasi macam apa yang mesti disembunyikan lagi dariku, hah?! Bahwa kamu enggak tahu caranya melipat baju?!

Aku agak kesal, tapi aku paham Edvan enggak begitu lihai dalam ngibulin orang. Jadi aku support dia saja. “Udah sih, Abang aja yang ke sana. Aku enggak apa-apa di sini.”

Tino menatapku dan Edvan secara bergantian. Ada rasa-rasa enggak ikhlas dalam hatinya ninggalin aku berduaan aja sama Edvan. Tapi akhirnya dia menyerah. Dia terima berkas itu, lalu pergi ninggalin UGD.

Setelah Tino enggak ada di situ, Edvan langsung menyerbuku. Dia membungkuk lebih dekat ke arahku. “Aman kan baju-baju gue yang item?”

“Iya, aman. Kan tadi gue udah jawab—”

“Si Romi aman, kan?”

“Banget.” Aku memutar bola mata. “Dia lagi mimpi di-ebol Mamoru. Entah siapa itu Mamoru.”

“Oh.” Edvan manggut-manggut. Tapi dia enggak menghabiskan waktu banyak untuk mengutarakan tujuannya. “Gue udah lihat video Tino. Gue sering lihat video kayak gitu—”

“Elo sering lihat video kayak gitu?!” potongku tak percaya. “Elo … elo gay?”

“Bukan anjir!” Edvan mencoba menggeplak kepalaku. Tapi itu melibatkan bahunya terangkat, sehingga dia pun mengaduh, “Aw, aw, aaawww!”

But how do you know soal video Tino?!” tanyaku. “Paling yang tahu, harusnya, komunitas homo-homo Twitter aja. Misal boti-boti yang enggak bisa dapat top, jadi mereka coli setiap malam sambil nge-scroll video straight di-prank!”

“Kan kamar sebelah gue penghuninya boti,” balas Edvan. “Dia berlangganan video macam gitu setiap bulan. Gue sering dikasih lihat.”

Oh iya, benar. Romi kan penyuka video-video macam begitu. Dan mereka berdua kayaknya sering berinteraksi di luar dugaanku.

“Gue bisa bantuin elo,” kata Edvan kemudian. “Gue bisa track siapa yang bikin, lalu kita temuin siapa yang nge-prank Tino. Kalau elo mau balas dendam, gue bisa bantu. Tapi kita enggak bisa libatin Tino di sini.”

Why?

Why?” ulang Edvan sambil ngerutin alisnya. “Elo masih nanyain why?”

“Iya. Why? Tino berhak tahu siapa yang udah ngancurin hidupnya!”

Edvan geleng-geleng kepala. “You don’t know Tino, then,” katanya sambil menarik napas panjang, lalu melongokkan kepala ke balik bahuku, memastikan Tino belum kembali dari bagian administrasi. “Tino orang baik. Orang paling baiiikkk … yang pernah gue temuin di hidup gue. Seantero kosan kagak ada yang bisa ngalahin kebaikan Tino. Disuruh apa pun mau. Dimintain bantuan ini itu kagak bakal banyak protes. Orang yang paling ikhlas dan sabar ngadepin segala masalah.

“Orang yang baik macam Tino, kalau kita macam-macam sama dia … can kill somebody,” lanjut Edvan, dengan wajah serius. Benar-benar serius. “Dan gue enggak mau sobat gue itu masuk penjara atas pembunuhan berencana, cuma gara-gara balas dendam ke bencong mana pun yang kemaren ngejahatin dia.”


[ … ]


Part 8 (Bag. A) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 9 (Bag. A)

Komentar