Jujur, Bro …. Aku enggak sependapat. Menurutku si Edvan itu lebai. Tino orang yang baik dan akan selalu baik. Dia enggak punya trauma masa lalu yang bikin dia perlu “bunuh orang”, atau logika bahwa “saking baiknya” maka kalau ada yang ganggu maka dia akan bikin pembunuhan berencana.
Tino baik dan akan selalu
baik. Titik.
Orang kalau memang baik, ya
enggak akan bunuh orang, anjir. Analoginya gimana? Sepanjang empat tahun aku
kenal Tino, dia adalah orang yang pure baik, yang enggak pernah punya
intensi jahat sama siapa pun.
COME ON! You read it
yourself! Mau VCS pake gambar HD aja, dia PINJAM
proyektor dan IKHLAS body telanjangnya dilecehkan sama homo, ketika dia
bisa aja berbuat jahat dengan cara nge-bully aku yang jelas-jelas homo,
lalu proyektor itu dia ambil secara paksa. Nope. Tino meminta konsenku.
Tino melakukan nego. Tino sering bercanda ekstrem denganku, tapi intinya dia
bersikap sopan. Dan dia enggak pernah ngerugiin aku sekali pun!
Ya, kecuali aku jadi sering coli
sambil bayangin dia, yang artinya aku buang-buang sperma. Tapi intinya dia
orang baik dengan hati murni seperti teh Sariwangi dan enggak mungkin dia
melakukan pembunuhan pada Lidya si bencong itu.
Lebih masuk akal diriku yang
melakukan pembunuhan ke Lidya. Tentu setelah aku meng-copy hard drive-nya
yang mungkin berisi ratusan video prank ke straight-straight
lokal.
Aku mengabaikan kata-kata Edvan
di rumah sakit karena Tino muncul dengan segera menghampiri kami seakan-akan
khawatir aku sedang di-ebol brutal oleh korban begal yang sebadan-badan
penuh luka ini. Tino melompat menghampiriku, agak ngos-ngosan, lalu mengangguk
dengan canggung saat melihatku masih dalam posisi yang sama.
Dia menelan ludah. “U …
udah.”
“Thanks, Bro!” Edvan
mengangkat tangannya untuk menjabat tangan ala bro ke bro, Tino membalasnya
dengan canggung. “Oke …, now listen to me. Ini lokasi pembegalannya ….”
Malam itu, aku dan Tino
melenggang dari RSUD Tarakan menuju area Mangga Besar, tepatnya ke titik di
mana Edvan dibegal. Edvan memberitahukan detailnya dengan spesifik. Lokasinya
di sebuah kosan, masuk ke dalam gang, dan ada area kecil yang gelap gitu di
pojokan, di mana dia menghajar ketiga begal hingga babak belur.
Aku sudah membuka mulut
untuk bertanya, “Elo lagi mau ke mana anjir, kenapa ended up dibegal di
tempat yang secara spesifik bukan jalur yang dilewati orang-orang?” Tapi
kuputuskan untuk enggak mengatakannya, dan memilih menyelesaikan saja misinya.
Sekarang, aku sudah menyetir
memasuki gang kecil menuju kosan yang dimaksud Edvan. Agak susah masuk, karena
banyak orang berkumpul di dalam gang itu. Jadi aku terpaksa parkir agak jauh
dari lokasi kejadian, tepat di belakang sebuah ATM BCA. Kumatikan mesin mobil.
“Kita harus jalan kaki ke
sana,” gumamku.
Tino hanya memandang ke luar
jendela, ke kerumunan warga sekitar yang entah mengapa berdiri bertebaran di
sana sini bagaikan sperma yang nyembur ke sana kemari setelah ejakulasi. Tangan
Tino bergetar. Dia seperti ketakutan.
“Gue mau jalan ke sana,”
umumku, sambil membuka sabuk pengaman.
Tino masih belum
meresponsku. Dia juga masih mengenakan sabuk pengamannya. Waktu aku menoleh dan
mengamatinya, Tino beneran ngerasa ngeri. Tumitnya mengentak-entak lantai
mobil. Tangannya sedikit gemetar. Seakan-akan, “begal” memberikan trauma
sendiri kepada Tino.
Sebagai calon suami boti
yang supportif, aku enggak banyak tanya. Aku juga enggak nge-judge dia
lemah atau pecundang. Mungkin memang ada trauma masa lalu yang bikin Tino
ketakutan. Di tengah situasi dia sedang depresi pengin bunuh diri gara-gara di-prank
bencong, sumpah, aku enggak akan mempertanyakan atau menggoda Tino soal itu.
“Oke, gue aja yang ke sana.
Abang tunggu di sini, ya!”
Aku belum mendengar respons
Tino. Aku langsung keluar dari mobil dan berjalan menghampiri kosan yang
dimaksud Edvan. Semakin dekat dengan kosan, semakin ramai orang berkerumun.
Warga sekitar tampak tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi. Di depan pagar
kosan yang tampak kumuh itu, sekitar tiga orang polisi juga berjaga-jaga,
sembari merokok dan mengobrol dengan warga.
Aku melihat anak kecil yang kepo
mencoba melongokkan kepalanya ke dalam kosan. Namun polisi yang berdiri di
dekatnya langsung menegur. “Dek, Dek, jangan masuk! Sana, main ke sana!”
Kusimpulkan area tersebut tertutup untuk masyarakat. Ada seorang petugas medis
yang tampak berkeliaran di halaman bagian dalam. Namun aku tidak melihat
ambulans di sekitar sini.
Akhirnya aku menghampiri
ibu-ibu yang sedang bergibah di dekat warung, sambil menatap ke kosan itu.
Mereka ada tiga orang. Satu orang di antaranya mengenakan jilbab dengan miring.
Mungkin ingin segera lari ke sini untuk melihat kehebohan yang terjadi, sehingga
tidak sempat merapikan penampilannya.
“Bu, ini ada apa, ya?”
tanyaku ke salah seorang ibu.
“Ada yang dibegal, Mas.
Dibacok!” balas ibu itu bersemangat.
Ibu di sebelahnya
melanjutkan. “Hampir putus lehernya. Serem banget, masyaallah, allahuakbar,
alhamdulillah. Hiiiiii … itu darahnya banyak banget!” Dia bergidik ngeri sambil
memeluk ibu jilbab miring.
“Kayaknya ada begal datang
ke sini barusan,” lanjut ibu yang pertama. “Terus dianya dirampok.”
“Tadi ada yang lihat dia ke
ATM soalnya,” sambung ibu sebelah sambil ngangkat-ngangkat bahu dengan ngeri
kayak anak gym sedang melakukan dumbbell shrugs. “Kayaknya sempat
ambil duit dulu. Tiga orang. Balik-balik, udah kegorok. Nauzubillahimindzalik,
ya Allah. Allahuakbar. Yarhamukallah. Yahdikumullah.”
“Berapa orang, Bu?” tanyaku.
“Tiga orang,” sergah ibu
pertama. Terdengar agak kesal karena aku enggak mendengarkan informasi ibu
sebelah tadi baik-baik.
“Maksud saya, yang
kegoroknya.”
“Oh, cuma satu, lah. Si
korban,” sahutnya lagi.
“Hah?”
“Jadi begalnya dua, terus
korbannya disuruh ambil duit ke ATM, terus balik lagi ke kosan, terus digorok.”
Ibu jilbab miring menunjuk
ke arah ATM BCA yang terletak tak jauh dari sini. Which is yang di
sebelahnya ada mobilku sedang parkir. “Entu yang onoh ATM-nye.”
“Wait, jadi yang
ketemu dibacok ini … cuma satu orang?”
“Iya! Mas ini berharap
berapa memangnya?!” sembur ibu pertama.
Aku terdiam kebingungan
mendengar itu. Informasi mereka enggak sepadan dengan informasi yang dikasih
Edvan. Antara Edvan berbohong, atau rame-rame di depanku ini enggak ada
hubungannya sama begal yang dimaksud Edvan. Tentu aja aku menanyakan lagi ke
orang lain untuk memastikan. Semua orang memiliki jawaban yang sama, korban
yang ditemukan bersimbah darah di kosan ini hanya satu orang. Tidak ada orang
lain. Saksi mata yang bilang ada tiga orang yang ke ATM sebelum kejadian enggak
bisa membuktikan apakah itu orang yang sama, atau enggak ada kaitannya sama
sekali. CCTV ATM tentu sedang ditangani kepolisian sebagai bagian dari
penyelidikan.
Ketika aku kembali ke mobil,
seorang polisi dan petugas teknis juga sedang ada di ATM, mendiskusikan sesuatu
entah apa. Aku sudah punya cukup informasi mengenai apa yang terjadi di sini,
meskipun aku malah jadi punya pertanyaan baru.
Tapi ya sudah, gapapa.
Sejauh ini tidak ada kabar korban jiwa, kok. Hanya kabar satu orang digorok
hingga lehernya hampir putus, tapi sekarang sudah di rumah sakit juga orangnya.
Jika dia adalah komplotan yang juga membegal Edvan, mungkin yang dua sudah
terlanjur pergi sebelum kawannya ditemukan hampir mampus. Tetap saja, aku masih
bingung kenapa Edvan ada di sini, kenapa korban di kosan itu cuma satu, atau
ngapain dia sempat ke ATM BCA segala?
Omong-omong soal ATM BCA,
aku teringat uang yang harus diambil dari mobil Edvan. Jadi aku kembali ke
mobil dan membuka pintu. “Yang jadi korban cuma satu, dan ternyata … Tino …?
Tino …?!”
Tino tidak ada di dalam
mobil.
Aku melongokkan kepala ke jok
belakang, tak ada siapa-siapa di sana. Kutegakkan kepala ke sekitarku. Ada
banyak orang di sini, tetapi tak ada yang penampilannya seperti Tino. Bukan
bermaksud rasis, tetapi semua warga lokal yang sedang berkerumun di jalanan
ini, enggak ada satu pun yang Chinese.
Aku menutup lagi pintu
mobil. Kali ini menguncinya. Toh, Tino juga enggak ada di dalam mobil. Lalu dia
meninggalkan mobilku tak terkunci, di area di mana begal bebas berkeliaran,
lalu teman kosan kami literally ada di rumah sakit dengan berbagai macam
luka, kemudian beberapa ratus meter di sana ada yang lehernya hampir putus.
Kalau bukan karena personal trainer itu sedang punya masalah besar juga,
sudah kugampar mukanya gara-gara ninggalin mobilku sembarangan. Dan bakal
kuentot bool-nya sekalian sebagai hukuman! Enggak apa-apa kalau aku
harus jadi top untuk sesaat. Habisnya aku lumayan kesal Tino mendadak
hilang tanpa mengunci mobil.
Kunci mobilku masih
menggantung, anjir.
Aku menghampiri lagi
kerumunan di depan kosan kumuh itu, berasumsi mungkin Tino menghampiriku ke
sini untuk melihat. Namun, sepuluh menit mencari, aku tak menemukannya. Tentu
aku menelepon Tino berkali-kali, tetapi dia tak pernah mengangkat teleponku.
Jujur, aku mulai panik. Aku
panik dia dibegal juga oleh dua orang yang tidak ada di lokasi ketika si begal
di kosan itu ditemukan. Rasa panikku sampai membuat tanganku gemetar, tetapi
aku tetap bersikap tenang dan waras, membombardir Tino dengan pesan di
Whatsapp, meneleponnya, bahkan bertanya ke beberapa orang tentang lelaki
Chinese yang mungkin lewat sini atau gimana.
Enggak ada orang yang
melihat Tino lewat sini.
Aku mulai diisi oleh pikiran
negatif bahwa Tino mungkin dibegal. Atau lebih parah lagi, bunuh diri. Kali
terakhir aku meninggalkannya di mobil, Tino lagi enggak baik-baik aja.
Tangannya gemetar. Tumitnya juga mengentak-entak tanpa henti. Dia lagi cemas. Sekarang
aku merasa bodoh meninggalkannya begitu saja barusan.
Aku mencari lagi Tino ke
arah lain, yaitu ke arah jalan raya utama yang ramai dipenuhi pedagang-pedagang
gerobak. Aku berjalan selama beberapa ratus meter ke dua arah, mengamati setiap
wajah yang kutemui. Khususnya sosok lelaki tinggi dengan postur badan kekar dan
kulit putih mulus.
Apa aku menemukannya?
Ya.
Setelah setengah jam
pencarian yang membuatku ngos-ngosan, badanku basah oleh keringat, kakiku pegal
karena dipakai setengah berlari ke sana kemari.
Tino sedang berdiri di depan
sebuah ruko yang sudah tutup. Dia menengadah menatap ke lantai atas ruko
tersebut. Pandangannya kosong. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Tino diam
di sana dengan kaku. Tak bergerak sama sekali.
Aku menarik napas panjang
dan sudah mengepalkan tanganku untuk menonjoknya. Aku menghampiri Tino setengah
berlari, siap menghantam wajah ganteng itu karena telah membuatku cemas
setengah mati.
“Kontol, anjing! Kenapa sih
elo pergi enggak bilang-bilang, Bang?!” sahutku marah sambil menghambur ke
arahnya, mengangkat tanganku yang terkepal, lalu aku ….
… memeluk tubuhnya.
Kudekap erat-erat tubuh
kekar itu. Sangat erat sampai aku ingin sekali meremasnya hingga hancur.
Lalu aku membenamkan wajahku
di dadanya.
Sambil aku menangis.
Bahuku berguncang. Dekapanku
semakin erat.
Buk! Buk! Buk!
Kupukul punggungnya, tapi
enggak terlalu keras sampai perlu dibawa ke rumah sakit seperti Edvan.
Tapi aku kesal.
Anjing!
….
Tino mengusap-usap kepalaku.
Dia berbisik, “Sorry.” Kemudian membiarkanku menangis selama beberapa
saat, menumpahkan semua rasa takutku akan kehilangan Tino.
Sumpah, I’d rather him
kawin ama pewong mana pun di dunia ini, dan hidup bahagia sama istrinya
sambil ninggalin aku dalam kesendirian, daripada dia pergi dari dunia ini
dengan cara-cara yang … you know … aku enggak mau bahas!
Buk! Buk!
Kupukul lagi punggungnya
dengan kesal.
Semakin kesal, semakin aku
membenamkan wajahku di dada berotot itu.
Tangisanku makin kencang.
Tino pun mengecup
ubun-ubunku. Mengusapnya lagi. Lalu berbisik, “Ayo kita pulang.”
[ … ]
Enggak pernah seumur hidupku
mengalami breakdown sedrama Indosiar itu. Biasanya aku agresif, berani,
tangguh, dan lain sebagainya yang cowok straight banget, meskipun aku boti.
Aku jarang menangis, aku jarang menye-menye, aku jarang baper macam boti
yang top-nya enggak pernah peka ama perasaannya. (Baca: Enzo.)
Kejadian Jumat malam itu
benar-benar menakutkan. Aku belum siap kehilangan Tino begitu saja. Tiga puluh
menit aku berlari ke sana kemari di area Mangga Besar membuatku panik dan
lemas. Aku takut sekali Tino betulan digorok begal dan Tinonya diam saja karena
dia pun setengah ingin mati, kan, gara-gara kejadian prank itu. Kamu
paham kan kekhawatiranku?
Begitu aku bertemu Tino, aku
hampir tak mau melepaskannya. Kami akhirnya kembali ke mobil. Suasana di
sekitar kosan kumuh itu masih ramai ketika aku memundurkan mobil keluar dari
gang yang ramai. Kami pun pergi ke Mercure untuk mengambil mobil Panpan, tapi
aku terlalu syok malam itu, jadi dengan impulsif aku memesan satu kamar untuk
bermalam di hotel tersebut.
“Elo mau ngapain, Bro?”
bisik Tino, heran saat aku mendadak masuk ke lobi.
“Enggak sanggup gue pisah
mobil dari Abang. Pokoknya kita nginap dulu malam ini, baru pulang besok!”
sahutku sambil menarik tangan Tino masuk.
“Enggak usah, lah. Toh kosan
kita enggak jauh-jauh banget dari sini—”
“ENGGAK!” Aku bersikukuh.
Di depan Tino, aku berbicara
dengan resepsionis untuk memesan satu kamar superior queen dan membayar
langsung pakai debitku. Harganya berapa? Karena ini Jumat malam dan aku memesan
secara mendadak, harganya hampir dua juta rupiah. Tino mengamati itu semua.
Kedua alisnya terangkat karena terkejut mendengar harganya. Namun saat aku
membayar, aku tak peduli. Toh aku punya uangnya. (Uang orang tuaku, sih. Tapi
aku berhak menggunakannya bagaimana pun aku mau.)
Ya, aku seimpulsif itu!
Banyak keputusanku diambil tanpa pikir panjang dulu. Aku come out ke
Tino? Impulsif. Aku bercanda mesum ke Tino tanpa tahu apakah Tino bakalan suka
atau enggak? Impulsif. Aku memaksa nonton Tino VCS sama Lidya in exchange of
proyektorku? Impulsif. Itu bukan “berpikir cerdas” ya Cong. Itu impulsif!
Otakku bekerja dengan cepat seperti api yang membara. Apa pun yang menurutku
oke, I’ll take it! Gue bakar tanpa pikir panjang!
Kalau kamu enggak suka sama
orang impulsif kayak aku, you can move out of here! Masih ada boti
lain yang bisa kamu ketahui kehidupannya, dan probably lebih menarik
untuk didengarkan ceritanya. Ada Enzo yang lebih lembut dan santun, ada Romi
yang lebih open minded dan open bool ke mana-mana, ada … ngng
… siapa lagi? Oh, ada Lanang yang alim, muslimah, dan halal—meski dia kayaknya
tukang selingkuh juga. Kisah mereka pasti lebih menarik dari kisahku!
Ini aku cerita barusan juga
sambil marah-marah, anjir! Kesal banget dah sama kejadian Tino ngilang
tanpa juntrungan itu. Dadaku berdebar-debar takut. Jadi, jangan banyak protes
kalau aku ngegelontorin duit hampir dua juta buat menginap di Mercure satu
malam!
Setelah aku mendapatkan
kunci kamar, aku merasa lebih tenang. Aku daftarkan mobilku dan mobil Edvan
sebagai mobil yang parkir di basement hotel. Kemudian aku menarik Tino
ke lift dan naik ke kamar.
Kupikir semuanya akan
membuatku lebih baik. Kupikir impulsivitasku membuatku lebih “tenang”. Namun di
dalam lift, Tino tiba-tiba berkata, “Elo enggak perlu kayak gini, Bro. Sorry
kalau gue bikin elo panik.”
“Gapapa! Gue juga emang
perlu staycation!” Aku mendengus. “Pokoknya gue enggak mau lepas dari
Abang malam ini! Abang enggak boleh wandering around kayak barusan,
bikin gue khawatir!”
Aku sudah seperti Dinda.
Kalau Tino tetiba menyanyikan lagu untuk Dinda, situasinya udah pas banget. Dinda
jangan marah-marah … takut nanti lekas tua … kanda setia orangnya … takkan
pernah mendua ….
Namun Tino enggak nyanyi
lagu itu. Dia malah menarik napas panjang, sambil menatap kosong pintu lift
yang tertutup di depan kami. Kemudian, Tino bergumam, “Uang segitu lumayan
banyak. Hampir dua juta.”
“Ya gapapa!” selorohku.
Tino manggut-manggut. “Gue
sih … segitu … lumayan bisa buat makan, atau bayar listrik kosan, atau …,” Tino
mengangkat bahu, “… survive dulu berapa hari sampai dapat kerjaan.”
Nah, di situ aku menepuk
jidatku sendiri dan merasa bodoh sekali.
Bodoh, bodoh, bodoh,
BODOOOOOOHHHHHH …!
FUCK! FUCK! FUCK! FUCK!
FUUUUUUCCCKKK …!
Impulsivitasku benar-benar
enggak punya empati! Membuang-buang uang dengan mudah, di depan orang yang malam
ini, kuulang MALAM INI, beberapa jam lalu, mematikan listrik di kamar kosannya
untuk hemat token, lalu makan mi kuah di depan lilin yang berkobar-kobar kecil.
Aku sesombong itu menunjukkan pada orang tersebut, betapa mudahnya aku
mendapatkan apa pun yang kumau, hanya karena aku kena mental breakdown.
Orang tersebut literally being sexually abused di internet, video coli-nya
tersebar se-Indonesia dan sudah di-retweet lebih dari 2.000 homo, dan
dia bertahan makan mi kuah sementara aku pesan kamar di Mercure buat “staycation”.
Aku hampir nangis lagi
sumpah di dalam lift.
Dadaku berdebar-debar, kali
ini marah sama diri sendiri karena bersikap impulsif tanpa mikirin perasaan
orang lain.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Tino sudah melangkah keluar,
tetapi aku menahan pintunya.
“Kenapa?” tanya Tino.
Aku menggelengkan kepala.
“Gue … gue mau pulang ke kosan aja.”
“Hah?”
“Elo bener, Bang.” Bahuku
berguncang. Aku sudah setengah jalan mau nangis lagi. Sudah mau nyampe air
mataku di sudut mata. “Gue … gue bego. Ngabis-ngabisin duit gitu aja, sementara
orang lain banyak yang butuh duit itu. Gue … gue mau pulang aja. Mau tidur di
kosan.”
Lalu Tino menggeplak
kepalaku. “Lah, terus?! Dengan elo pulang maka masalah ini selesai?! Lu makin
kelihatan bego, anjir!”
“Tapi—”
“Ya udahlah, Bro. Udah
dipesan juga. Kagak bisa di-refund. Yang elu lakuin emang tolol, tapi
udah terjadi. Enggak perlu ngelakuin ketololan kedua dengan cara enggak jadi
nginep di sini.” Tino menghela napas dengan sabar. Dia menatapku penuh sayang.
Bahkan setelah aku bersikap sombong, belagu, nirempati pada situasi
finansialnya, dia masih bersikap supersabar. “Sini.” Tino mengulurkan tangannya
dan menarikku keluar dari lift. Dia memelukku selama beberapa saat,
membiarkanku menangis lagi dalam pelukannya.
Tanpa mengucapkan sepatah
kata pun, Tino menarikku ke kamar kami.
Malam itu kami langsung
rebahan di atas tempat tidur, tanpa mengganti baju, tanpa mencuci muka, tanpa
ngapa-ngapain dulu, kami langsung berpelukan dengan nyaman di atas selimut, sampai
pagi.
Enggak. Aku yakin dia enggak
akan pernah bunuh orang.
[ … ]
Part 8 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 9 (Bag. B)
Komentar
Posting Komentar