Kesel, ya? Sama.
Tapi untung itu cuma bercanda.
Tepat setelah Fariq mengenalkan
diri sebagai “mantannya Fian”, sang tentara langsung menyenggol Fariq dan
berdecak, “Ck! Apa sih, Lex. Jangan gitu.”
Fariq langsung terkekeh sambil
memegang perutnya. “Bercandaaa ...! Hahaha ...!”
Wajah Fian pucat. Aku melirik ke
arahnya, dan kebetulan Fian sedang melirik ke arahku.
Kami langsung mengalihkan tatapan
ke arah lain.
“Lexa sering bantu kita buat cek
kesehatan seksual,” ungkap Fian menjelaskan, padahal aku enggak menanyakan soal
itu. “Tiga bulan lalu semua taruna dites HIV dan sifilis. Kebetulan
puskesmasnya punya stok alat yang murah, yang dikasih pemerintah, jadi Lexa ke
sini buat ambil darah semuanya.”
“Oke,” kataku pendek.
Fariq menyenggol lenganku. “Harusnya
aku sering-sering main ke station Mas Mat, yaaa .... Kayaknya seru.”
“Station-ku confidential,
ya,” tegasku, entah mengapa merasa perlu defensif.
“Kan aku punya ini ....” Fariq
mengangkat lanyard-nya, yang merupakan kartu pass untuk masuk ke
segala station sebagai petugas medis with authority. “Confidential
kan dari publik, Shay.”
Di depan Fian berani-beraninya dia
bilang Shay?
Enggak akan dirajam, emangnya?
Fian mencoba mengubah topik, “Saya
sama Rohmat mau ke depan dulu. Kamu break di mana?”
“Aku mau makan konsumsi di sini
aja. Sambil buang-buangin limbah medisnya. Eh, masih suka naik gunung enggak?”
“Kemaren main ke gunung di belakang
itu.”
“Camping kayak kita dulu,
enggak?”
Anjing!
Kok, makin bete ya dengerin dia
ngomong?!
“Enggak .... PP doang. Sama
anak-anak.”
“Salamin buat Bang Erick, ya!”
Fariq mengedipkan sebelah matanya. “Bilangin kalau dia udah bisa main Magic
Chess, hubungin aku. Kita lihat dia masih sebelagu apa. Hahaha ....”
“Iya. Nanti, ya.” Fian mulai merasa
canggung.
“Padahal dulu kita klop, Bang. Nama
kita sama-sama dari huruf F.”
HEH!
Nama dia Rafianto, Anjeng! Diawali
huruf R!
Masih lebih sama ama nama gue!
ROHMAT!
Untungnya, Fian mengabaikannnya.
“Kita ke sana dulu, ya. Permisi.”
“See you, Baaang! See you
Maaattt ...!”
Fian juga kayaknya enggak nyaman.
Dia berjalan duluan tanpa mengindahkanku yang tergesa-gesa menyusul langkah
lebarnya. Hal pertama yang Fian katakan kepadaku adalah, “Abang enggak pernah
pacaran sama dia, ya.”
“Iya, aku percaya.”
“Dia laki-laki. Hehe.” Fian
terkekeh salting. “Masak Abang pacaran sama laki-laki?!”
Kalau situ enggak bisa pacaran sama
laki-laki, ngapain situ semalam nyipok gue, anjeng?!
[ ... ]
Lokasi yang Fian tuju cukup jauh.
Kami sudah berjalan kaki sekitar lima menit, melewati beberapa gedung militer,
bahkan melintasi satu lapangan besar yang masih dikerumuni calon taruna
berbaris rapi. Namun, kami belum jua tiba di tujuan. Gedung yang dimaksud Fian
berada lebih dekat ke area lanud. Aku bisa melihat pesawat-pesawat militer
terparkir di salah satu sudut. Ini bukan pesawat yang kutumpangi semalam.
Aku dibawa masuk melewati ruangan
yang isinya orang-orang berseragam militer. Rasanya seperti ini tempat rahasia.
Aku bersyukur mengenakan seragam perawat dan lanyard yang menunjukkan
aku berhak berada di wilayah ini.
Setelah menyapa orang di lobi, Fian
membawaku melewati lorong panjang yang kanan kirinya berisi tentara-tentara
dewasa dengan seragam latihan mereka. Mungkin umur 30-an ke atas dengan kulit
gelap karena terlalu banyak terkena sinar matahari. Cara duduk mereka ngangkang
dan terlihat macho. Energi maskulin menguar kental di sepanjang lorong.
Seorang boti akan meleleh keok di ujung lorong melihat betapa “laki”-nya
ruangan ini.
“Kenapa?” tanya Fian, menoleh sekilas
ke belakang.
“Gapapa.”
Fian membawaku ke sebuah ruangan
yang dihuni tentara-tentara berpangkat tinggi. Mereka bercengkerama santai
dengan satu sama lain seraya memegang segelas minuman. Banyak dari mereka
berkumis. Mungkin umurnya 40 ke atas. Ada juga tentara perempuan, yang
tampaknya sudah berumur juga.
Ruangan itu lumayan luas. Sebuah
meja panjang bertaplak putih ditata memanjang dan menyajikan makanan
parasmanan. Seolah-olah ada pesta tersendiri di sini. Karena banyak tentara
yang berumur, aroma ruangan ini seperti kayumanis dicampur gel rambut yang biasa
dipakai kakek-kakek. Wangi parfum lelaki dewasa yang musky dan cukup
menyengat juga menguar. Aku seperti masuk ke kamar kakekku di kampung halaman.
Fian mengajakku mengambil kotak
konsumsi yang ada di atas meja, yang sebenarnya sama dengan yang ada di aula.
“Fian!” Seseorang memanggil Fian.
Dua orang tentara yang lebih dewasa
berjalan mendekat. Keduanya bertubuh tegap dengan lengan yang terlihat kekar
dan berisi. Satu di antara mereka lebih tinggi. Bahkan, lebih tinggi dari Fian.
Badannya berisi, wajahnya tegas, maskulin, rambut cepak, dan tentu kekar. Aku
langsung teringat satu pemain bokep asal Jepang waktu melihat sosok tentara
yang tinggi itu. Ryuji Suzuki. (Silakan Google sendiri, aku jamin Kakak bakal
bilang, “Oooh, yang ini?”)
Mirip soalnya. Aura daddy
gantengnya juga memancar lebih kuat. Berasa pengin dinikahi dan dinafkasi
setiap malam.
Yang memanggil Fian adalah kawan
dari si “Ryuji” ini.
“Siang, Kapten!” Fian membungkuk
hormat seraya menyalami keduanya. Terlihat jelas pangkat Fian ada di bawah
mereka, tetapi keduanya menghormati Fian sebagai junior. “Saya lagi ngajak
asistennya Capt. Sigit untuk keliling area. Weekend nanti mau
penelitian.”
Aku menyipitkan mata tak percaya.
Perasaan aku dibawa ke sini buat coffee break, deh.
“Oooh, iya, iya. Kamu ya yang jadi
objeknya?” Yang disebut ‘kapten’ itu kebetulan mengenakan seragam loreng yang
ada bordiran namanya. Harjasa. Sama gantengnya dengan si Ryuji tetapi wajahnya
lebih manis dan ada bekas cukuran jambang di rahangnya. Alisnya tebal, hampir
seperti orang Timur Tengah. Bulu matanya juga lentik.
“Betul, Kapten. Bersama Erick dan
lain-lain.”
“Iya tuh, bantuin si Sigit. Dari
tahun kemaren ngomongin itu mulu. Malah minta kita-kita buat diteliti. Halah,
kita udah tua begini masih diteliti! Hahaha ...!” Tawa Harjasa begitu lepas dan
kebapakan.
Aku hampir enggak memerhatikan
beliau karena si Ryuji berdiri dengan tegap sambil mengamatiku dari atas ke bawah.
Seharusnya dia intimidatif, tetapi dia tersenyum kecil. Lebih terasa kebapakan
dibandingkan Harjasa. Mungkin Ryuji tidak banyak bicara.
“Kenalkan, Capt, namanya Rohmat.”
Fian mempersilakanku untuk berkenalan. Aku menyalami kedua tentara senior itu
sembari menganggukkan kepala. “Sekarang Rohmat sedang bantu Capt. Sigit juga
untuk cek prostat calon taruna.”
Ketika diperkenalkan, aku
menyebutkan namaku, dan mereka menyebutkan namanya. Aku bisa mendengar Harjasa
mengatakan, “Harja,” sementara Ryuji berkata, “Gala.” Suaranya begitu dalam dan
dewasa. Fiks dia bisa menjadi daddy of the year.
“Nama lengkapnya Manggala Utama.
Salah satu jet fighter terbaik kita,” kata Fian menambahkan.
Beliau tersenyum kecil, seolah-olah
ingin mengatakan, “Ah enggak segitunya, kok.”
Aku terpesona, sih. Aku sekarang
bingung ingin memanggilnya apa di cerita ini. Apakah Gala, Ryuji, atau Daddy?
“Oh, Fian, kamu ingat siapa aja
yang on duty pas rescue si Aksa?” Harja tiba-tiba mengajak Fian
membicarakan topik berbeda. Dan topik tersebut memaksa Fian membawa Harja ke
tempat lain.
“Capt. Prakoso?” Fian menyipitkan
mata.
“Dia, ya?”
Yang disebut Capt. Prakoso ada di
ruangan ini juga, lalu Fian memanggilnya, sembari menghampirinya, dan Harja
membuntutinya.
Itu artinya apa ...?
....
Yep. Aku ditinggalkan berdua
bersama Ryuji Suzuki.
....
Awkward
banget, anjay. Mana daddy ganteng ini masih mengamatiku atas-bawah,
kayak dia mengenaliku. Kayak dia mau bilang, “Dulu kita pernah ketemu di
Grindr, ya?”
Tapi enggak, kok. Ya kali dia
nanyain soal begitu. Daddy Ryuji tersenyum kecil sambil menyesap minuman di
tangannya, lalu bertanya, “Sudah kenal Fian lama?”
“Oh ... enggak, Pak. Baru beberapa
hari. Untuk urusan medis ini aja.” Aku manggut-manggut segan. Sumpah, rasanya
terintimidasi berada di ruangan penuh testosteron seperti ini, lalu diajak
ngobrol tentara bertubuh menjulang yang referensinya selalu ke pemain bokep
Jepang.
“Kayak yang udah lama, dekatnya,”
tuduh Daddy Ryuji.
“Ma ... masa?” Aku menelan ludah.
“Mungkin karena ..., Pak Fian menjadi koordinator cek kesehatan di aula,
jadinya banyak koordinasi dengan saya—“
Daddy Ryuji memotong pembicaraanku
dengan menggelengkan kepala. “Rumah saya di Gatot Subroto. Bisa tembus lewat
jalan kecil ke Kalimas. Di situ ada angkringan yang sering saya datangin sama
istri dan anak saya.”
Aku membeku.
Kalimas itu toko baju yang berada
di seberang kosanku. Enggak seberang banget, tapi dari situ memang ada
angkringan yang sering penuh pada malam hari.
“Jadi saya tahu di mana kamu
tinggal,” lanjut Daddy Ryuji dengan santai, seolah-olah mengobrol kasual,
tetapi auranya kayak penjahat yang mau bunuh kita. “Saya sering lihat Fian main
ke kosanmu.”
“Oh ... iya.”
“Misalnya semalam.”
Aku menelan ludah.
Aku mulai tegang.
Aku khawatir aku melakukan sebuah
kesalahan yang pantas membuatku ditembak sepeleton tentara.
Setelah beberapa detik yang
mengerikan, Manggala Utama sialan ini akhirnya terkekeh. “Santai ....” Dia
menyenggol lenganku dengan punggung tangannya. “Kebetulan aja saya tahu kamu
tinggal di mana. Sudah sering lihat kamu masuk ke kosan kalau saya lagi nongkrong
di angkringan. Akhir-akhir ini saya sering lihat Fian masuk juga ke sana.
Kadang sendirian, kadang berdua. Sama kamu.”
“I ... iya.”
“Maaf.” Dia mencoba tersenyum
lebar. Namun aku malah merasa seperti sedang diomeli kepala sekolah. “Saya
kebiasaan mengintai orang. Gara-gara sering jadi agen rahasia, jadinya semua
informasi saya rekam dengan mudah. Ingatan saya fotografis. Kebanyakan enggak
penting. Enggak clear. Tapi kadang jadi clear kalau saya butuhkan.”
Aku hanya mengangguk kecil.
“Jaga Fian baik-baik, ya,” katanya
tiba-tiba.
Aku terpaksa mendongak dan menatap
wajahnya.
Daddy Ryuji terlihat tulus.
Senyumnya tidak lebar. Namun, dia berkata jujur. Dia tidak sedang ingin
mengulitiku atau apa. “Prajurit hebat, dia ....” Beliau menoleh ke arah Fian
yang sedang mengajak Harjasa mengobrol dengan Prakoso. “High value personnel.
Hampir semua orang pengin sama dia. Yang putri pengin nikahi dia, yang putra
pengin jadi partnernya di lapangan. Instruktur di sini rebutan ngangkat dia
jadi asisten. Kamu tahu alasannya dia jadi koordinator tes kesehatan?”
Tentu saja aku menggelengkan kepala
karena tak tahu.
“Supaya pimpinan-pimpinan di sini
enggak berantem dapatin dia.” Daddy Ryuji menyesap lagi minumannya. “Termasuk
saya, dari divisi pengintai. Saya pengin ajak dia masuk buat bantu acara
pembukaan nanti. Saya ngurusin salah satu materinya. Tapi atasan kami, Capt.
Kresna, ngunci dia supaya enggak ke mana-mana. Akhirnya si Sigit yang
beruntung. Fian dikirim ke tes kesehatan supaya lebih netral.”
Aku enggak nyangka Fian se-high
value itu.
Aku enggak menyangka aku dicipok
prajurit TNI AU yang diperebutkan para komandannya.
Aku harus segera syukuran di
bibirku karena bibir ini pernah didarati bibirnya Rafianto.
Daddy Ryuji menoleh lagi ke arahku.
Senyumnya lebih lebar. “Kalau bisa lebih sih saya penginnya ....”
Kata-kata Daddy terputus karena
Fian dan Harja sudah kembali. Bahkan, dr. Sigit bergabung bersama kami secara
tiba-tiba. Dia muncul di lorong membawa kertas.
“Eh, lagi di sini?” sapanya
kepadaku.
“Diculik Pak Fian, Pak,” kataku
bercanda.
“Enggak, Capt. Saya mau ngajak
Rohmat lihat ruang penelitian buat weekend nanti.”
“Ooohhh ....” Dr. Sigit tak begitu
memedulikan soal itu karena dia langsung mengambil air minum dan menenggaknya.
Dan aku beneran enggak ingat tujuan
Fian membawaku ke sini untuk melihat ruang penelitian. Sumpah, dia tadi
bilangnya mau ngajak coffee break bareng.
Selama sekitar dua menit, ketiga
tentara senior plus Fian ini mengobrolkan sesuatu yang berkaitan dengan acara
pembukaan pendidikan militer. Aku hanya berdiri di sana dengan canggung. Dalam
diam. Tak mengerti apa-apa. Aku fokus melirik ke Daddy Ryuji yang sesekali
melirik ke arahku juga, lalu tersenyum kecil.
Aku masih belum bisa memproses apa
yang dimaksud Daddy tadi. Mengapa dia menyuruhku menjaga Fian?
Yang jelas-jelas badannya lebih
gede tuh Fian. Yang punya kemampuan bela diri dan menggunakan senjata, Fian.
Yang bisa menerbangkan jet tempur, Fian. Yang punya pangkat militer, Fian. Yang
bisa mengonfrontasi orang tanpa rasa takut—seperti tadi ke Davin—adalah Fian.
Kenapa aku yang kebagian tugas menjaga Fian?
Aku terlalu lama melamun
sampai-sampai tak mengikuti pembicaraan itu. Namun anehnya, pembicaraan mereka
malah nyambung ke ketek.
Lenganku ditepuk Fian seraya dia
berkata, “Nah, ini sama Rohmat aja, Capt! Dia bisa gundulin ketek sampai
mulus!”
“Wah, masa?!” Harjasa membelalak.
“Sakit enggak?”
“Halah, enggaaakkk .... Aman,
Capt!” Fian mengangkat tangannya, seperti ingin menunjukkan keteknya, tetapi
seragam loreng Fian cukup ketat, jadi tak ada ketek yang terekspos. “Saya
minggu kemarin di-wax Rohmat, sampe sekarang masih mulus.”
Wait!
Kenapa jadi ...?”
“Bisa dong besok saya minta
dicukurin?” goda Harjasa. Dia menepuk-nepuk keteknya sendiri, “Istri komplain
mulu, tapi saya malas cukur-cukuran—“
“Wax makanya,” saran Fian
sambil terkekeh.
“Di aula aja. Di station-nya
Rohmat,” kata dr. Sigit menambahkan. “Ada dipannya. Bisa dipakai berbaring.”
“Wah, mantap! Jam berapa besok
kalian selesai?”
Dr. Sigit mengangkat bahu. “Jam
empat kayaknya.”
“Ya udah jam empat saya ke sana!
Nanti Mas Rohmat gundulin ketek saya, ya!”
Eh ...? Eh ...? Apa ini?!
“Jam tujuh kita badminton,” kata Daddy
Ryuji.
“Ya habis dari aula aja. Enggak
jauh kan GOR-nya?”
“Lumayan,” balas dr. Sigit.
“Ini, si Rohmat, bisa gundulin yang
lain juga?” canda Harjasa sambil tertawa.
Fian memperparahnya dengan berkata,
“Bisa, Capt. Alatnya sama.”
“Wah, bahaya.” Dr. Sigit terkekeh.
“Si Rohmat ini jagonya ejakulasi, Har. Kemaren ada yang sampe ‘keluar’ pas dia
periksa.”
“Wah?! Mantaaap!”
“Kalau kamu digundulin itunya,
keluar juga jangan-jangan. Hahaha ...!”
Sumpah aku membeku kaku di
tengah-tengah obrolan itu.
Fian tak hentinya mempromokan
“kemampuan”-ku me-waxing rambut-rambut tubuh.
Dr. Sigit terus-menerus
mengagungkan kehebatanku mainin selangkangan lelaki.
Harjasa makin sini makin yakin ingin
di-waxing olehku.
Kami sudah membukukan janji untuk
me-waxing ketek Harjasa besok sore sehabis tes kesehatan.
“Kamu juga, Ga!” Harjasa menyenggol
Daddy Ryuji.
Ryuji hanya tersenyum kecil. “Iya.
Lihat besok.” Senyumnya terlihat bijak.
Dan beliau masih menatapku
seolah-olah ingin mengatakan “sesuatu”.
Obrolan itu akhirnya selesai karena
kami semua bubaran. Aku membuntuti Fian ke lorong lain yang lebih sepi, lalu
menaiki tangga ke lantai atas. Di lorong lantai dua, Fian terlihat happy.
Senyumnya lebar. Mungkin karena berhasil menggodaku soal perketekan itu.
“Besok serius, ya,” katanya
tiba-tiba. Kami sedang berjalan di lorong yang sepi, yang agak remang, yang
kalau dijadikan tempat syuting film horor, sudah tidak perlu menambahkan efek
apa pun. “Habis EPS, langsung waxing.”
“Kok malah Abang yang happy?”
Fian langsung memudarkan senyum
lebarnya. “Enggak.” Dan berdeham. Pandangannya tegap ke depan. “Nah, weekend
kita di sini.”
Fian menunjuk sebuah pintu yang
tertutup. Aku enggak bisa melihat isinya jadi aku enggak tahu poinnya apa
menunjukkan ruangan itu. Kukira dia akan membukanya lalu mengajakku
melihat-lihat. Namun Fian malah melaju hingga ke ujung lorong.
“Masih ada sugar waxing-nya
Dek Ida?”
“Habis.”
“Ambil aja lagi ke Dek Ida.
Kayaknya masih banyak di lemarinya.”
Aku menghela napas. “Iya. Nanti
malam aku ke Ida buat ngambil lagi.”
Di ujung lorong, Fian masih
mengajakku naik lagi ke atas. Namun, Fian menarik turun satu tangga loteng dari
langit-langit, kemudian memanjatnya dengan hati-hati. “Ayo!” katanya.
“Jadi kita bukan mau lihat ruang
penelitian?” sindirku.
Fian tak menjawabnya. Dia sudah
tiba di atas, lalu mengulurkan tangannya agar aku naik. Aku memanjat agak susah
payah karena aku juga memegang dua kotak konsumsi. Ketika aku tiba di loteng,
aku menemukan sebuah area rahasia yang sepertinya digunakan para tentara untuk hang
out dan bersembunyi.
Loteng itu cukup besar. Memanjang
melewati lorong, dari satu sisi gedung ke sisi lainnya. Mungkin 10 – 15 meter,
dengan lebar kira-kira lima meter. Langit-langitnya miring, karena ini adalah
bagian atap gedung. Aku bisa melihat kuda-kuda kayu dan genting tanah liat
secara langsung. Aromanya apak, seperti kamar cowok. Malah, aku merasa ada
aroma sperma di sekitar sini. Satu bagian ruangan berantakan, dengan sampah
plastik, gelas-gelas kopi, dan asbak yang dipenuhi puntung rokok. Ada TV tua
yang tersambung ke PS4. Dan ada kontainer kasur lipat tentara yang di atasnya
ditumpuk baju-baju kotor.
Satu bagian lain berisi sofa-sofa
butut yang posisinya berserakan. Namun satu bagian lagi, terlihat sangat nyaman
dan tenang. Fian mengajakku ke bagian tersebut. Dindingnya kaca dan menampilkan
panorama yang sangat indah, yaitu landasan udara yang luas dengan gunung-gunung
hijau di latar belakangnya. Salah satu dari gunung itu adalah gunung yang
kudaki minggu lalu.
“Wow ...,” gumamku kagum. Aku
terpana di depan jendela besar itu sambil mengamati horison yang sangat luas.
Sebuah landasan panjang membentang
di depanku dengan satu pesawat mungil sedang bergerak entah ke mana. Padang
rumput luas yang hijau tampak mengilau di bawah sinar matahari. Hampir tak ada
pohon apa pun di depanku, kecuali setelah batas pagar lanud di seberang sana.
Aku seperti melihat pemandangan indah di film anime. Yang tampak damai, asri,
tenang, dan nyaman.
Di depan dinding kaca itu ada satu
sofa butut lain yang lebarnya untuk dua orang.
“Duduk situ aja,” kata Fian, seraya
menyambar kotak konsumsi di tanganku, lalu meletakkannya ke meja kecil samping
sofa.
Aku duduk dengan patuh tanpa
mengalihkan pandanganku dari panorama di depan. Area di sini lumayan hangat
karena sinar matahari masuk dengan mudah. Aku tidak menyadari bahwa Fian sedang
melepas kancing kemeja seragamnya di sampingku, lalu melucuti seragam itu dari
badannya.
Aku terkesiap. “Ngapain dibuka?!”
“Panas,” jawabnya, sembari
menggantung seragam itu ke atas punggung sofa. Fian mengenakan kaus singlet
putih di dalamnya, tetapi kaus singlet itu juga dilepasnya. Dia menarik satu
kursi plastik ke depan jendela dan menjemur kaus singlet di sandarannya. Kaus
singlet itu memang basah oleh keringat Fian.
Bahkan, setelah Fian melepas kaus
itu, badannya masih menampilkan titik-titik peluh di atas kulitnya yang mulus.
“Kalau Adek kepanasan, lepas aja,”
usulnya.
“Enggak, ah.”
Takutnya kalau aku buka baju, pantatku
otomatis nungging dan minta dimasukin.
Fian yang kini telanjang dada dan
bikin dadaku berdebar-debar oleh keseksiannya, menghempaskan pantat di
sampingku. Sofa itu sempit, beneran cuma buat dua orang berdempetan. Aku yang
sudah duduk di atasnya agak melambung naik turun saat Fian duduk. Dengan
santai, Fian mengangkat tangannya, lalu melingkarkan lengannya ke bahuku.
Mendaratkan lengan kekar itu ke sandaran sofa.
Membiarkan ketek seksinya yang
mulus itu mendarat di ujung bahuku. Ketek lembap, dipenuhi titik-titik bulu
yang mau tumbuh, beraroma maskulin, dan hangat.
Fuck.
Kontolku, of course, ngaceng.
Aku langsung mengambil kotak
konsumsi dan meletakkannya ke atas selangkangan, supaya jendolan kontolku
enggak kelihatan.
Saking sempitnya, sikuku sampai
harus diparkir di atas perut Fian. Kakak paham kan posisinya gimana? Aku pakai
seragam lengan pendek hari ini. Dari siku sampai tangan, itu telanjang. Jadi
kalau sikuku harus parkir di atas perut Fian, kulit lenganku bisa merasakan
hangat tubuh Fian, lembap kulitnya, dan ketelanjangannya ....
Ah, udah!
Dibahas terus aku makin ngaceng!
ANJING KAMU RAFIANTO!
Intinya, kami mengobrol selama beberapa menit di sana. Kami
menyantap camilan dari kotak konsumsi hingga habis, hingga waktu rehat kami pun
habis. Apa saja yang kami lakukan?
Duduk dan berpelukan.
Ya.
Sambil mengobrol.
Kami membahas soal acara pembukaan tahun ajaran baru militer
yang diadakan di sini. Yang katanya mengundang seluruh akmil se-Indonesia,
sehingga acara ini akbar. Makanya persiapannya begitu merepotkan.
Kami juga membahas soal Ezel. Yang katanya dulu enggak pernah
gabung, tapi sejak Ezel ketemu Fian, mendadak rajin gabung—meskipun Ezel di-bully
oleh kakak kandungnya sendiri. Aku tahu alasannya: karena Ezel naksir Fian.
Tapi Fian berpikir Ezel jengah dengan Erick, lalu merasa Fian ini baik hati
sehingga merasa punya harapan.
Jadi, Fian berencana untuk mengajak Ezel camping.
Bertiga denganku.
Wkwkwk.
Aku enggak mau bahas itu dulu. Karena ada yang lebih penting
dari itu.
Fian mendekapku lebih erat dalam pelukan. Aku merebahkan
kepalaku ke bahunya dan Fian enggak marah. Jadi, obrolan kami lebih intim sejak
itu. Aku juga diajak badminton besok malam, selepas me-waxing keteknya
Harjasa. Tapi Fian menegaskan untuk jaga jarak dari Bondan. Which is fine,
sih. Aku masih mau ngewe sama Bondan, tapi kalau enggak pun enggak
masalah. Soalnya aku lagi dipeluk Fian. Yang penting dalam hidupku saat ini
adalah Fian.
Dan tahu apa yang terjadi?
Fian menciumku lagi.
Kami bercumbu selama beberapa detik ..., lumayan lama ...,
lumayan bikin jantungku berdebar-debar kayak mau copot dari tempatnya. Tapi
begitu aku mau pegang tetek Fian ....
... alarm hape Fian berbunyi, menandakan waktu istirahat kami
habis.
Setelah itu, kami melepaskan ciuman dan enggak membahasnya
sama sekali.
Aku setengah mati penasaran, Kita ini apa? Kenapa semalam
dan barusan kita berciuman, tapi kita tidak membahas apa pun soal hubungan
kita?
Sayangnya aku belum bisa membahas soal itu karena Fian serius
ingin segera kembali ke station-nya. Mungkin karena dia terlatih untuk
disiplin. Jadi di mana-mana harus tepat waktu.
Kami berdua turun dari loteng dan kembali menyusuri lorong
yang sepi dengan agak tergesa. Jalan Fian cepat. Tapi karena tungkai Fian
panjang, langkahnya lebar-lebar. Aku setengah berlari menjejeri langkah Fian.
Di tengah-tengah jalan cepat kami, Fian tiba-tiba menoleh dan
membahas satu topik terakhir.
“Temanmu itu, Deva, ngehubungin Abang,” katanya.
Aku membelalak. “Deva?!” Aku ngos-ngosan dulu. “Kapan?!”
“Tadi pagi.”
“Dia dapat nomor Abang dari mana?”
Fian mengangkat bahu. “Dia ngajak ketemuan.”
“Jangan!” kataku tanpa pikir panjang.
“Enggak tertarik juga,” balas Fian.
“Dia bilang apa?”
Fian tidak langsung menjawab pertanyaanku. Kami sedang
melewati lapangan sehingga Fian menunggu area yang lebih sepi sebelum akhirnya
berkata, “Dia bilang .... Dia mantan Adek. Lalu dia ..., dia ngajak kita threesome.”
[ ... ]
20. Kalau Cebok Tuh yang Bener! (Short Version) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 22A. Daddy-Daddy Pujaan Para Boti
Komentar
Posting Komentar