(HD) 21. Masa Pacaran sama Laki-Laki?! (Short Version)




Halo, Kak!

Kesel, ya? Sama.

Tapi untung itu cuma bercanda.

Tepat setelah Fariq mengenalkan diri sebagai “mantannya Fian”, sang tentara langsung menyenggol Fariq dan berdecak, “Ck! Apa sih, Lex. Jangan gitu.”

Fariq langsung terkekeh sambil memegang perutnya. “Bercandaaa ...! Hahaha ...!”

Wajah Fian pucat. Aku melirik ke arahnya, dan kebetulan Fian sedang melirik ke arahku.

Kami langsung mengalihkan tatapan ke arah lain.

“Lexa sering bantu kita buat cek kesehatan seksual,” ungkap Fian menjelaskan, padahal aku enggak menanyakan soal itu. “Tiga bulan lalu semua taruna dites HIV dan sifilis. Kebetulan puskesmasnya punya stok alat yang murah, yang dikasih pemerintah, jadi Lexa ke sini buat ambil darah semuanya.”

“Oke,” kataku pendek.

Fariq menyenggol lenganku. “Harusnya aku sering-sering main ke station Mas Mat, yaaa .... Kayaknya seru.”

Station-ku confidential, ya,” tegasku, entah mengapa merasa perlu defensif.

“Kan aku punya ini ....” Fariq mengangkat lanyard-nya, yang merupakan kartu pass untuk masuk ke segala station sebagai petugas medis with authority. “Confidential kan dari publik, Shay.”

Di depan Fian berani-beraninya dia bilang Shay?

Enggak akan dirajam, emangnya?

Fian mencoba mengubah topik, “Saya sama Rohmat mau ke depan dulu. Kamu break di mana?”

“Aku mau makan konsumsi di sini aja. Sambil buang-buangin limbah medisnya. Eh, masih suka naik gunung enggak?”

“Kemaren main ke gunung di belakang itu.”

Camping kayak kita dulu, enggak?”

Anjing!

Kok, makin bete ya dengerin dia ngomong?!

“Enggak .... PP doang. Sama anak-anak.”

“Salamin buat Bang Erick, ya!” Fariq mengedipkan sebelah matanya. “Bilangin kalau dia udah bisa main Magic Chess, hubungin aku. Kita lihat dia masih sebelagu apa. Hahaha ....”

“Iya. Nanti, ya.” Fian mulai merasa canggung.

“Padahal dulu kita klop, Bang. Nama kita sama-sama dari huruf F.”

HEH!

Nama dia Rafianto, Anjeng! Diawali huruf R!

Masih lebih sama ama nama gue! ROHMAT!

Untungnya, Fian mengabaikannnya. “Kita ke sana dulu, ya. Permisi.”

See you, Baaang! See you Maaattt ...!”

Fian juga kayaknya enggak nyaman. Dia berjalan duluan tanpa mengindahkanku yang tergesa-gesa menyusul langkah lebarnya. Hal pertama yang Fian katakan kepadaku adalah, “Abang enggak pernah pacaran sama dia, ya.”

“Iya, aku percaya.”

“Dia laki-laki. Hehe.” Fian terkekeh salting. “Masak Abang pacaran sama laki-laki?!”

Kalau situ enggak bisa pacaran sama laki-laki, ngapain situ semalam nyipok gue, anjeng?!


[ ... ]


Lokasi yang Fian tuju cukup jauh. Kami sudah berjalan kaki sekitar lima menit, melewati beberapa gedung militer, bahkan melintasi satu lapangan besar yang masih dikerumuni calon taruna berbaris rapi. Namun, kami belum jua tiba di tujuan. Gedung yang dimaksud Fian berada lebih dekat ke area lanud. Aku bisa melihat pesawat-pesawat militer terparkir di salah satu sudut. Ini bukan pesawat yang kutumpangi semalam.

Aku dibawa masuk melewati ruangan yang isinya orang-orang berseragam militer. Rasanya seperti ini tempat rahasia. Aku bersyukur mengenakan seragam perawat dan lanyard yang menunjukkan aku berhak berada di wilayah ini.

Setelah menyapa orang di lobi, Fian membawaku melewati lorong panjang yang kanan kirinya berisi tentara-tentara dewasa dengan seragam latihan mereka. Mungkin umur 30-an ke atas dengan kulit gelap karena terlalu banyak terkena sinar matahari. Cara duduk mereka ngangkang dan terlihat macho. Energi maskulin menguar kental di sepanjang lorong. Seorang boti akan meleleh keok di ujung lorong melihat betapa “laki”-nya ruangan ini.

“Kenapa?” tanya Fian, menoleh sekilas ke belakang.

“Gapapa.”

Fian membawaku ke sebuah ruangan yang dihuni tentara-tentara berpangkat tinggi. Mereka bercengkerama santai dengan satu sama lain seraya memegang segelas minuman. Banyak dari mereka berkumis. Mungkin umurnya 40 ke atas. Ada juga tentara perempuan, yang tampaknya sudah berumur juga.

Ruangan itu lumayan luas. Sebuah meja panjang bertaplak putih ditata memanjang dan menyajikan makanan parasmanan. Seolah-olah ada pesta tersendiri di sini. Karena banyak tentara yang berumur, aroma ruangan ini seperti kayumanis dicampur gel rambut yang biasa dipakai kakek-kakek. Wangi parfum lelaki dewasa yang musky dan cukup menyengat juga menguar. Aku seperti masuk ke kamar kakekku di kampung halaman.

Fian mengajakku mengambil kotak konsumsi yang ada di atas meja, yang sebenarnya sama dengan yang ada di aula.

“Fian!” Seseorang memanggil Fian.

Dua orang tentara yang lebih dewasa berjalan mendekat. Keduanya bertubuh tegap dengan lengan yang terlihat kekar dan berisi. Satu di antara mereka lebih tinggi. Bahkan, lebih tinggi dari Fian. Badannya berisi, wajahnya tegas, maskulin, rambut cepak, dan tentu kekar. Aku langsung teringat satu pemain bokep asal Jepang waktu melihat sosok tentara yang tinggi itu. Ryuji Suzuki. (Silakan Google sendiri, aku jamin Kakak bakal bilang, “Oooh, yang ini?”)

Mirip soalnya. Aura daddy gantengnya juga memancar lebih kuat. Berasa pengin dinikahi dan dinafkasi setiap malam.

Yang memanggil Fian adalah kawan dari si “Ryuji” ini.

“Siang, Kapten!” Fian membungkuk hormat seraya menyalami keduanya. Terlihat jelas pangkat Fian ada di bawah mereka, tetapi keduanya menghormati Fian sebagai junior. “Saya lagi ngajak asistennya Capt. Sigit untuk keliling area. Weekend nanti mau penelitian.”

Aku menyipitkan mata tak percaya. Perasaan aku dibawa ke sini buat coffee break, deh.

“Oooh, iya, iya. Kamu ya yang jadi objeknya?” Yang disebut ‘kapten’ itu kebetulan mengenakan seragam loreng yang ada bordiran namanya. Harjasa. Sama gantengnya dengan si Ryuji tetapi wajahnya lebih manis dan ada bekas cukuran jambang di rahangnya. Alisnya tebal, hampir seperti orang Timur Tengah. Bulu matanya juga lentik.

“Betul, Kapten. Bersama Erick dan lain-lain.”

“Iya tuh, bantuin si Sigit. Dari tahun kemaren ngomongin itu mulu. Malah minta kita-kita buat diteliti. Halah, kita udah tua begini masih diteliti! Hahaha ...!” Tawa Harjasa begitu lepas dan kebapakan.

Aku hampir enggak memerhatikan beliau karena si Ryuji berdiri dengan tegap sambil mengamatiku dari atas ke bawah. Seharusnya dia intimidatif, tetapi dia tersenyum kecil. Lebih terasa kebapakan dibandingkan Harjasa. Mungkin Ryuji tidak banyak bicara.

“Kenalkan, Capt, namanya Rohmat.” Fian mempersilakanku untuk berkenalan. Aku menyalami kedua tentara senior itu sembari menganggukkan kepala. “Sekarang Rohmat sedang bantu Capt. Sigit juga untuk cek prostat calon taruna.”

Ketika diperkenalkan, aku menyebutkan namaku, dan mereka menyebutkan namanya. Aku bisa mendengar Harjasa mengatakan, “Harja,” sementara Ryuji berkata, “Gala.” Suaranya begitu dalam dan dewasa. Fiks dia bisa menjadi daddy of the year.

“Nama lengkapnya Manggala Utama. Salah satu jet fighter terbaik kita,” kata Fian menambahkan.

Beliau tersenyum kecil, seolah-olah ingin mengatakan, “Ah enggak segitunya, kok.”

Aku terpesona, sih. Aku sekarang bingung ingin memanggilnya apa di cerita ini. Apakah Gala, Ryuji, atau Daddy?

“Oh, Fian, kamu ingat siapa aja yang on duty pas rescue si Aksa?” Harja tiba-tiba mengajak Fian membicarakan topik berbeda. Dan topik tersebut memaksa Fian membawa Harja ke tempat lain.

“Capt. Prakoso?” Fian menyipitkan mata.

“Dia, ya?”

Yang disebut Capt. Prakoso ada di ruangan ini juga, lalu Fian memanggilnya, sembari menghampirinya, dan Harja membuntutinya.

Itu artinya apa ...?

....

Yep. Aku ditinggalkan berdua bersama Ryuji Suzuki.

....

Awkward banget, anjay. Mana daddy ganteng ini masih mengamatiku atas-bawah, kayak dia mengenaliku. Kayak dia mau bilang, “Dulu kita pernah ketemu di Grindr, ya?”

Tapi enggak, kok. Ya kali dia nanyain soal begitu. Daddy Ryuji tersenyum kecil sambil menyesap minuman di tangannya, lalu bertanya, “Sudah kenal Fian lama?”

“Oh ... enggak, Pak. Baru beberapa hari. Untuk urusan medis ini aja.” Aku manggut-manggut segan. Sumpah, rasanya terintimidasi berada di ruangan penuh testosteron seperti ini, lalu diajak ngobrol tentara bertubuh menjulang yang referensinya selalu ke pemain bokep Jepang.

“Kayak yang udah lama, dekatnya,” tuduh Daddy Ryuji.

“Ma ... masa?” Aku menelan ludah. “Mungkin karena ..., Pak Fian menjadi koordinator cek kesehatan di aula, jadinya banyak koordinasi dengan saya—“

Daddy Ryuji memotong pembicaraanku dengan menggelengkan kepala. “Rumah saya di Gatot Subroto. Bisa tembus lewat jalan kecil ke Kalimas. Di situ ada angkringan yang sering saya datangin sama istri dan anak saya.”

Aku membeku.

Kalimas itu toko baju yang berada di seberang kosanku. Enggak seberang banget, tapi dari situ memang ada angkringan yang sering penuh pada malam hari.

“Jadi saya tahu di mana kamu tinggal,” lanjut Daddy Ryuji dengan santai, seolah-olah mengobrol kasual, tetapi auranya kayak penjahat yang mau bunuh kita. “Saya sering lihat Fian main ke kosanmu.”

“Oh ... iya.”

“Misalnya semalam.”

Aku menelan ludah.

Aku mulai tegang.

Aku khawatir aku melakukan sebuah kesalahan yang pantas membuatku ditembak sepeleton tentara.

Setelah beberapa detik yang mengerikan, Manggala Utama sialan ini akhirnya terkekeh. “Santai ....” Dia menyenggol lenganku dengan punggung tangannya. “Kebetulan aja saya tahu kamu tinggal di mana. Sudah sering lihat kamu masuk ke kosan kalau saya lagi nongkrong di angkringan. Akhir-akhir ini saya sering lihat Fian masuk juga ke sana. Kadang sendirian, kadang berdua. Sama kamu.”

“I ... iya.”

“Maaf.” Dia mencoba tersenyum lebar. Namun aku malah merasa seperti sedang diomeli kepala sekolah. “Saya kebiasaan mengintai orang. Gara-gara sering jadi agen rahasia, jadinya semua informasi saya rekam dengan mudah. Ingatan saya fotografis. Kebanyakan enggak penting. Enggak clear. Tapi kadang jadi clear kalau saya butuhkan.”

Aku hanya mengangguk kecil.

“Jaga Fian baik-baik, ya,” katanya tiba-tiba.

Aku terpaksa mendongak dan menatap wajahnya.

Daddy Ryuji terlihat tulus. Senyumnya tidak lebar. Namun, dia berkata jujur. Dia tidak sedang ingin mengulitiku atau apa. “Prajurit hebat, dia ....” Beliau menoleh ke arah Fian yang sedang mengajak Harjasa mengobrol dengan Prakoso. “High value personnel. Hampir semua orang pengin sama dia. Yang putri pengin nikahi dia, yang putra pengin jadi partnernya di lapangan. Instruktur di sini rebutan ngangkat dia jadi asisten. Kamu tahu alasannya dia jadi koordinator tes kesehatan?”

Tentu saja aku menggelengkan kepala karena tak tahu.

“Supaya pimpinan-pimpinan di sini enggak berantem dapatin dia.” Daddy Ryuji menyesap lagi minumannya. “Termasuk saya, dari divisi pengintai. Saya pengin ajak dia masuk buat bantu acara pembukaan nanti. Saya ngurusin salah satu materinya. Tapi atasan kami, Capt. Kresna, ngunci dia supaya enggak ke mana-mana. Akhirnya si Sigit yang beruntung. Fian dikirim ke tes kesehatan supaya lebih netral.”

Aku enggak nyangka Fian se-high value itu.

Aku enggak menyangka aku dicipok prajurit TNI AU yang diperebutkan para komandannya.

Aku harus segera syukuran di bibirku karena bibir ini pernah didarati bibirnya Rafianto.

Daddy Ryuji menoleh lagi ke arahku. Senyumnya lebih lebar. “Kalau bisa lebih sih saya penginnya ....”

Kata-kata Daddy terputus karena Fian dan Harja sudah kembali. Bahkan, dr. Sigit bergabung bersama kami secara tiba-tiba. Dia muncul di lorong membawa kertas.

“Eh, lagi di sini?” sapanya kepadaku.

“Diculik Pak Fian, Pak,” kataku bercanda.

“Enggak, Capt. Saya mau ngajak Rohmat lihat ruang penelitian buat weekend nanti.”

“Ooohhh ....” Dr. Sigit tak begitu memedulikan soal itu karena dia langsung mengambil air minum dan menenggaknya.

Dan aku beneran enggak ingat tujuan Fian membawaku ke sini untuk melihat ruang penelitian. Sumpah, dia tadi bilangnya mau ngajak coffee break bareng.

Selama sekitar dua menit, ketiga tentara senior plus Fian ini mengobrolkan sesuatu yang berkaitan dengan acara pembukaan pendidikan militer. Aku hanya berdiri di sana dengan canggung. Dalam diam. Tak mengerti apa-apa. Aku fokus melirik ke Daddy Ryuji yang sesekali melirik ke arahku juga, lalu tersenyum kecil.

Aku masih belum bisa memproses apa yang dimaksud Daddy tadi. Mengapa dia menyuruhku menjaga Fian?

Yang jelas-jelas badannya lebih gede tuh Fian. Yang punya kemampuan bela diri dan menggunakan senjata, Fian. Yang bisa menerbangkan jet tempur, Fian. Yang punya pangkat militer, Fian. Yang bisa mengonfrontasi orang tanpa rasa takut—seperti tadi ke Davin—adalah Fian. Kenapa aku yang kebagian tugas menjaga Fian?

Aku terlalu lama melamun sampai-sampai tak mengikuti pembicaraan itu. Namun anehnya, pembicaraan mereka malah nyambung ke ketek.

Lenganku ditepuk Fian seraya dia berkata, “Nah, ini sama Rohmat aja, Capt! Dia bisa gundulin ketek sampai mulus!”

“Wah, masa?!” Harjasa membelalak. “Sakit enggak?”

“Halah, enggaaakkk .... Aman, Capt!” Fian mengangkat tangannya, seperti ingin menunjukkan keteknya, tetapi seragam loreng Fian cukup ketat, jadi tak ada ketek yang terekspos. “Saya minggu kemarin di-wax Rohmat, sampe sekarang masih mulus.”

Wait! Kenapa jadi ...?”

“Bisa dong besok saya minta dicukurin?” goda Harjasa. Dia menepuk-nepuk keteknya sendiri, “Istri komplain mulu, tapi saya malas cukur-cukuran—“

Wax makanya,” saran Fian sambil terkekeh.

“Di aula aja. Di station-nya Rohmat,” kata dr. Sigit menambahkan. “Ada dipannya. Bisa dipakai berbaring.”

“Wah, mantap! Jam berapa besok kalian selesai?”

Dr. Sigit mengangkat bahu. “Jam empat kayaknya.”

“Ya udah jam empat saya ke sana! Nanti Mas Rohmat gundulin ketek saya, ya!”

Eh ...? Eh ...? Apa ini?!

“Jam tujuh kita badminton,” kata Daddy Ryuji.

“Ya habis dari aula aja. Enggak jauh kan GOR-nya?”

“Lumayan,” balas dr. Sigit.

“Ini, si Rohmat, bisa gundulin yang lain juga?” canda Harjasa sambil tertawa.

Fian memperparahnya dengan berkata, “Bisa, Capt. Alatnya sama.”

“Wah, bahaya.” Dr. Sigit terkekeh. “Si Rohmat ini jagonya ejakulasi, Har. Kemaren ada yang sampe ‘keluar’ pas dia periksa.”

“Wah?! Mantaaap!”

“Kalau kamu digundulin itunya, keluar juga jangan-jangan. Hahaha ...!”

Sumpah aku membeku kaku di tengah-tengah obrolan itu.

Fian tak hentinya mempromokan “kemampuan”-ku me-waxing rambut-rambut tubuh.

Dr. Sigit terus-menerus mengagungkan kehebatanku mainin selangkangan lelaki.

Harjasa makin sini makin yakin ingin di-waxing olehku.

Kami sudah membukukan janji untuk me-waxing ketek Harjasa besok sore sehabis tes kesehatan.

“Kamu juga, Ga!” Harjasa menyenggol Daddy Ryuji.

Ryuji hanya tersenyum kecil. “Iya. Lihat besok.” Senyumnya terlihat bijak.

Dan beliau masih menatapku seolah-olah ingin mengatakan “sesuatu”.

Obrolan itu akhirnya selesai karena kami semua bubaran. Aku membuntuti Fian ke lorong lain yang lebih sepi, lalu menaiki tangga ke lantai atas. Di lorong lantai dua, Fian terlihat happy. Senyumnya lebar. Mungkin karena berhasil menggodaku soal perketekan itu.

“Besok serius, ya,” katanya tiba-tiba. Kami sedang berjalan di lorong yang sepi, yang agak remang, yang kalau dijadikan tempat syuting film horor, sudah tidak perlu menambahkan efek apa pun. “Habis EPS, langsung waxing.”

“Kok malah Abang yang happy?”

Fian langsung memudarkan senyum lebarnya. “Enggak.” Dan berdeham. Pandangannya tegap ke depan. “Nah, weekend kita di sini.”

Fian menunjuk sebuah pintu yang tertutup. Aku enggak bisa melihat isinya jadi aku enggak tahu poinnya apa menunjukkan ruangan itu. Kukira dia akan membukanya lalu mengajakku melihat-lihat. Namun Fian malah melaju hingga ke ujung lorong.

“Masih ada sugar waxing-nya Dek Ida?”

“Habis.”

“Ambil aja lagi ke Dek Ida. Kayaknya masih banyak di lemarinya.”

Aku menghela napas. “Iya. Nanti malam aku ke Ida buat ngambil lagi.”

Di ujung lorong, Fian masih mengajakku naik lagi ke atas. Namun, Fian menarik turun satu tangga loteng dari langit-langit, kemudian memanjatnya dengan hati-hati. “Ayo!” katanya.

“Jadi kita bukan mau lihat ruang penelitian?” sindirku.

Fian tak menjawabnya. Dia sudah tiba di atas, lalu mengulurkan tangannya agar aku naik. Aku memanjat agak susah payah karena aku juga memegang dua kotak konsumsi. Ketika aku tiba di loteng, aku menemukan sebuah area rahasia yang sepertinya digunakan para tentara untuk hang out dan bersembunyi.

Loteng itu cukup besar. Memanjang melewati lorong, dari satu sisi gedung ke sisi lainnya. Mungkin 10 – 15 meter, dengan lebar kira-kira lima meter. Langit-langitnya miring, karena ini adalah bagian atap gedung. Aku bisa melihat kuda-kuda kayu dan genting tanah liat secara langsung. Aromanya apak, seperti kamar cowok. Malah, aku merasa ada aroma sperma di sekitar sini. Satu bagian ruangan berantakan, dengan sampah plastik, gelas-gelas kopi, dan asbak yang dipenuhi puntung rokok. Ada TV tua yang tersambung ke PS4. Dan ada kontainer kasur lipat tentara yang di atasnya ditumpuk baju-baju kotor.

Satu bagian lain berisi sofa-sofa butut yang posisinya berserakan. Namun satu bagian lagi, terlihat sangat nyaman dan tenang. Fian mengajakku ke bagian tersebut. Dindingnya kaca dan menampilkan panorama yang sangat indah, yaitu landasan udara yang luas dengan gunung-gunung hijau di latar belakangnya. Salah satu dari gunung itu adalah gunung yang kudaki minggu lalu.

“Wow ...,” gumamku kagum. Aku terpana di depan jendela besar itu sambil mengamati horison yang sangat luas.

Sebuah landasan panjang membentang di depanku dengan satu pesawat mungil sedang bergerak entah ke mana. Padang rumput luas yang hijau tampak mengilau di bawah sinar matahari. Hampir tak ada pohon apa pun di depanku, kecuali setelah batas pagar lanud di seberang sana. Aku seperti melihat pemandangan indah di film anime. Yang tampak damai, asri, tenang, dan nyaman.

Di depan dinding kaca itu ada satu sofa butut lain yang lebarnya untuk dua orang.

“Duduk situ aja,” kata Fian, seraya menyambar kotak konsumsi di tanganku, lalu meletakkannya ke meja kecil samping sofa.

Aku duduk dengan patuh tanpa mengalihkan pandanganku dari panorama di depan. Area di sini lumayan hangat karena sinar matahari masuk dengan mudah. Aku tidak menyadari bahwa Fian sedang melepas kancing kemeja seragamnya di sampingku, lalu melucuti seragam itu dari badannya.

Aku terkesiap. “Ngapain dibuka?!”

“Panas,” jawabnya, sembari menggantung seragam itu ke atas punggung sofa. Fian mengenakan kaus singlet putih di dalamnya, tetapi kaus singlet itu juga dilepasnya. Dia menarik satu kursi plastik ke depan jendela dan menjemur kaus singlet di sandarannya. Kaus singlet itu memang basah oleh keringat Fian.

Bahkan, setelah Fian melepas kaus itu, badannya masih menampilkan titik-titik peluh di atas kulitnya yang mulus.

“Kalau Adek kepanasan, lepas aja,” usulnya.

“Enggak, ah.”

Takutnya kalau aku buka baju, pantatku otomatis nungging dan minta dimasukin.

Fian yang kini telanjang dada dan bikin dadaku berdebar-debar oleh keseksiannya, menghempaskan pantat di sampingku. Sofa itu sempit, beneran cuma buat dua orang berdempetan. Aku yang sudah duduk di atasnya agak melambung naik turun saat Fian duduk. Dengan santai, Fian mengangkat tangannya, lalu melingkarkan lengannya ke bahuku. Mendaratkan lengan kekar itu ke sandaran sofa.

Membiarkan ketek seksinya yang mulus itu mendarat di ujung bahuku. Ketek lembap, dipenuhi titik-titik bulu yang mau tumbuh, beraroma maskulin, dan hangat.

Fuck.

Kontolku, of course, ngaceng.

Aku langsung mengambil kotak konsumsi dan meletakkannya ke atas selangkangan, supaya jendolan kontolku enggak kelihatan.

Saking sempitnya, sikuku sampai harus diparkir di atas perut Fian. Kakak paham kan posisinya gimana? Aku pakai seragam lengan pendek hari ini. Dari siku sampai tangan, itu telanjang. Jadi kalau sikuku harus parkir di atas perut Fian, kulit lenganku bisa merasakan hangat tubuh Fian, lembap kulitnya, dan ketelanjangannya ....

Ah, udah!

Dibahas terus aku makin ngaceng!

ANJING KAMU RAFIANTO!

Intinya, kami mengobrol selama beberapa menit di sana. Kami menyantap camilan dari kotak konsumsi hingga habis, hingga waktu rehat kami pun habis. Apa saja yang kami lakukan?

Duduk dan berpelukan.

Ya.

Sambil mengobrol.

Kami membahas soal acara pembukaan tahun ajaran baru militer yang diadakan di sini. Yang katanya mengundang seluruh akmil se-Indonesia, sehingga acara ini akbar. Makanya persiapannya begitu merepotkan.

Kami juga membahas soal Ezel. Yang katanya dulu enggak pernah gabung, tapi sejak Ezel ketemu Fian, mendadak rajin gabung—meskipun Ezel di-bully oleh kakak kandungnya sendiri. Aku tahu alasannya: karena Ezel naksir Fian. Tapi Fian berpikir Ezel jengah dengan Erick, lalu merasa Fian ini baik hati sehingga merasa punya harapan.

Jadi, Fian berencana untuk mengajak Ezel camping.

Bertiga denganku.

Wkwkwk.

Aku enggak mau bahas itu dulu. Karena ada yang lebih penting dari itu.

Fian mendekapku lebih erat dalam pelukan. Aku merebahkan kepalaku ke bahunya dan Fian enggak marah. Jadi, obrolan kami lebih intim sejak itu. Aku juga diajak badminton besok malam, selepas me-waxing keteknya Harjasa. Tapi Fian menegaskan untuk jaga jarak dari Bondan. Which is fine, sih. Aku masih mau ngewe sama Bondan, tapi kalau enggak pun enggak masalah. Soalnya aku lagi dipeluk Fian. Yang penting dalam hidupku saat ini adalah Fian.

Dan tahu apa yang terjadi?

Fian menciumku lagi.

Kami bercumbu selama beberapa detik ..., lumayan lama ..., lumayan bikin jantungku berdebar-debar kayak mau copot dari tempatnya. Tapi begitu aku mau pegang tetek Fian ....

... alarm hape Fian berbunyi, menandakan waktu istirahat kami habis.

Setelah itu, kami melepaskan ciuman dan enggak membahasnya sama sekali.

Aku setengah mati penasaran, Kita ini apa? Kenapa semalam dan barusan kita berciuman, tapi kita tidak membahas apa pun soal hubungan kita?

Sayangnya aku belum bisa membahas soal itu karena Fian serius ingin segera kembali ke station-nya. Mungkin karena dia terlatih untuk disiplin. Jadi di mana-mana harus tepat waktu.

Kami berdua turun dari loteng dan kembali menyusuri lorong yang sepi dengan agak tergesa. Jalan Fian cepat. Tapi karena tungkai Fian panjang, langkahnya lebar-lebar. Aku setengah berlari menjejeri langkah Fian.

Di tengah-tengah jalan cepat kami, Fian tiba-tiba menoleh dan membahas satu topik terakhir.

“Temanmu itu, Deva, ngehubungin Abang,” katanya.

Aku membelalak. “Deva?!” Aku ngos-ngosan dulu. “Kapan?!”

“Tadi pagi.”

“Dia dapat nomor Abang dari mana?”

Fian mengangkat bahu. “Dia ngajak ketemuan.”

“Jangan!” kataku tanpa pikir panjang.

“Enggak tertarik juga,” balas Fian.

“Dia bilang apa?”

Fian tidak langsung menjawab pertanyaanku. Kami sedang melewati lapangan sehingga Fian menunggu area yang lebih sepi sebelum akhirnya berkata, “Dia bilang .... Dia mantan Adek. Lalu dia ..., dia ngajak kita threesome.”


[ ... ]


20. Kalau Cebok Tuh yang Bener! (Short Version) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 22A. Daddy-Daddy Pujaan Para Boti

Komentar