Halo, Kak!
Kalau Kakak bertanya-tanya apakah aku mau pingsan ....
... aku pingsan betulan, Kak.
BRUK!
Begitu Fian menanyakan pertanyaan itu, lututku lemas,
jantungku mencelos, jiwaku rasanya diisap oleh malaikat maut ke alam baka.
Aku tersungkur ke atas area rumput samping lapangan.
Dan mungkin karena aku jatuh dengan keras, aku yang harusnya
pingsan, langsung siuman lagi.
“Dek?!” Fian menoleh dan langsung membantuku. Bahkan, dia
membopongku dan membawa tubuhku ke lorong gedung terdekat yang tidak terpapar
sinar matahari.
Aku masih lemas dan pusing tetapi aku langsung ingat apa yang
terjadi. “Aku ... aku kesandung.”
“Ada yang sakit?”
Aku menggelengkan kepala.
“Bisa jalan, enggak?”
Penginnya aku jawab enggak, supaya Fian membopongku hingga ke station,
kayak pengantin. Namun aku enggak mungkin melakukan itu di depan semua orang,
sehingga aku mengangguk meskipun rasanya kesulitan.
Fian membantuku berdiri dan aku bisa berdiri dengan tegak.
Agak pusing seperti vertigo. Tapi semuanya aman. Fian menjajariku berjalan
masuk ke aula hingga tiba di station-ku. Nadhif mengambilkanku air minum
sembari melaporkan bahwa orang berikutnya sudah siap untuk diperiksa.
“Adek yakin bisa periksa?” tanya Fian, berjongkok di depanku
dengan raut muka khawatir.
Aku mengangguk. “Bisa, bisa.”
“Muka Adek pucat.”
“Bisa kok, Bang.” Aku mencoba tersenyum lebar. “Entar kalau
ada apa-apa, ada Nadhif yang bantuin.”
Fian tampak tak ikhlas. Dia menoleh ke arah Nadhif sesaat,
lalu memutuskan untuk menyerah. “Oke.” Fian menarik napas panjang. “Jaga diri
baik-baik, ya.”
Dan aku bersyukur ....
... topik soal Deva enggak muncul lagi.
Atau mungkin belum.
Sepanjang sisa hari aku kepikiran soal apa yang Deva katakan
kepada Fian. Usai mengambil cairan prostat dan sperma, cukup sering aku
mengangkat hape untuk mengetik pesan kepada Fian. Layarku sampai
dipenuhi pelumas karena aku belum melepas sarung tangan. Satu kali, di Batch 3,
ada sperma calon taruna yang mendarat di layar hape-ku karena aku
membawa hape ke atas dipan.
Aku berada dalam dilema, apakah perlu menanyakan kepada Fian
detailnya bagaimana, atau jangan. Kalau ditanyakan, kesannya mengiakan. Kalau
tidak ditanyakan, mungkin Fian berpikir Deva cuma omong kosong, soalnya aku aja
cuek. Masalahnya, aku enggak bisa digantung begini terus.
Tentu saja aku me-WhatsApp Deva sejak makan siang. Namun Deva
tidak membalas pesanku hingga sore hari. Padahal, dia sudah read sejak
pukul satu siang.
Aku tidak bertemu Fian lagi hingga sesi pemeriksaan hari itu
selesai. Aku melakukan evaluasi dengan dr. Sigit pukul setengah empat sore,
kemudian memasukkan kontainer kriopreservasiku ke truk pukul lima.
Fian muncul di sana, tetapi tidak membahas soal Deva juga.
“Abang harus ngadep atasan malam ini. Kayaknya enggak bisa
pulang bareng Adek. Habis dari klinik, Adek pulang ke kosan?”
“Iya. Kan mau minta sugar waxing ke Ida.”
“Oh, iya. Oke kalau gitu. Hati-hati, ya.”
Sudah. Begitu saja. Dia tidak membahas lagi soal Deva.
(Dan ciuman di loteng.)
(Dan ciuman kemarin malam.)
Aku diantar hingga ke truk. Fian menungguku hingga duduk di
dalam jok bersama taruna-taruna lain. Lalu Fian menepuk truk dan berkata,
“Hati-hati di jalan. Jaga jangan sampai sampelnya rusak.”
“Siap, laksanakan!” balas para taruna kompak.
That’s it. Semua pertanyaan itu menggantung tanpa
jawaban. Apa cowok straight memang begitu? Apa ini alasannya cewek-cewek
sering mengeluh, “Cowok tuh enggak peka!”
Memang enggak peka, sih. Habis nyipok lalu lupa gitu aja.
Aku mencoba menenangkan diriku sepanjang perjalanan ke klinik.
Setidaknya, Fian masih ngobrol denganku. Masih menyapa dengan ramah, masih
bersikap biasa saja meskipun Deva hari ini mengganggunya. Mungkin Tuhan
memberiku kesempatan untuk menyusun respons atas apa yang Deva lakukan ke Fian.
Mungkin malam ini aku harus memikirkan baik-baik apa yang perlu dikatakan, apa
yang tidak perlu. Dengan begitu, aku harus berhenti mencemaskan Deva.
Kebetulan Deva pun membalas WhatsApp-ku.
Sorry br bls bro td gw lg kerja dulu ,
meeting2 biasa lah kalo org kerja , kdg suka ada yg prlu dbhas gtu ama klien .
ama vendor . ada proyek 10 miliar yg harus pake rapat rapat kordinasi . lu ga
akan paham lah . tapi intinya gtu bro. Ada apa kenapa ? oh .. si Rafianto? Iya
gw WA dia .. tapi blom dibalas . lg sibuk kali . jd gmn? Dia bisa diajak 3s
atau engak?
WhatsApp panjang itu kubalas pendek saja. Tapi kapital semua. ANJING!
Lalu aku memasukkan ponselku ke dalam tas dan menarik napas
panjang.
Taruna di seberangku bertanya, “Kenapa, Bang?”
“Gapapa, Mas.”
Dia manggut-manggut dan kembali menatap kontainer
kriopreservasiku. “Jadi ini isinya apa nih, Bang?”
Aku menjawab dengan jujur. “Air mani.”
Empat tentara yang ada di truk itu membelalak, lalu tersenyum
iseng.
“Serius?” tanya salah satu di antara mereka.
Aku mengangguk serius. “Hari ini saya meras air mani calon
taruna, Mas.”
“Meras?!” Lalu mereka tertawa sambil sikut-sikutan. “Anjir!
Seriusan!”
“Lah ... ngapain saya enggak serius? Air mani kan dipake untuk
ngecek kesehatan seksual.”
“Terus pakenya gimana?” tanya yang lain, sambil memiringkan
kepala mengamati kriopreservasi. Dia juga celingukan menatap setiap detailnya.
“Dimasukin ke sini? Itunya? Terus entar di dalam ada alat buat merasnya?” Dia
menunjuk tutup kontainer.
Ingin sekali aku berkata, Iya, masukin kontol ke situ,
entar di dalamnya ada alat buat memerah kontol sampai keluar air mani.
Tapi aku enggak tega menipu mereka, jadi aku menggelengkan
kepala. “Enggak, sih. Pasiennya merangkak di atas kasur, terus saya peras
penisnya dari bawah pake tangan—kayak meras sabun cuci tangan sampai keluar
busa. Atau, mirip memerah susu sapi.”
“ANJING! HAHAHA ...!” Mereka tertawa riang sekali. Saling
sikut dan tertarik membayangkan bagaimana rasanya kontol diperah sampai keluar
air mani. Mereka yang sebenarnya kelelahan dengan persiapan acara, masih
menemukan cara untuk bersantai dan tertawa.
“Ya udah, Bang. Ini si Bryan katanya pengin diperah—“
“Pantek! Lancang sekali mulut kau!” Bryan menampol
taruna yang iseng tadi.
“Tapi Bryan pengin burungnya dimasukin sini aja—“
“Pantek! Woy!” Bryan mendorong kepala kawannya.
“Enggak, enggak, enggak, Bang! Si Mahdi sebetulnya yang berhasrat!”
“Lah! Elu yang nyuruh nanya tadi! Anjing! Hahaha ...!”
“Jujur aja hari ini cuma dikit yang saya perah,” akuku
kemudian. “Saya pake cara lain buat ngambil spermanya. Kalau gagal, baru
diperah kayak susu sapi.”
“Serius, Bang?! Emang ada cara lain?”
“Ditusuk pake jari dari belakang—“
“ANJING! AAARGH!” Mereka semua melompat dari kursinya,
meringis ngeri mendengar jawabanku.
Aku tertawa melihat mereka tertawa. Meski enggak terbayang
bagaimana rasanya ditusuk pake jari hingga keluar sperma, dengan santai mereka
tetap memberondongku dengan sejuta pertanyaan. Alhasil aku menjelaskan apa itu
EPS dalam perjalanan kami menuju klinik.
Obrolan santai dengan para tentara ini menenangkan hatiku.
Untuk sementara, aku bisa melupakan soal Fian. Aku sudah tidak memikirkan Deva
lagi, maupun perihal cumbuan dari bibir Fian. Serasa semua masalahku di dunia
bisa kulupakan untuk sementara.
Selesai menangani tugasku di klinik dan melakukan clock out,
aku menelepon Ida di lobi.
Dia mengangkat teleponnya dengan segera. “Heeey, Beeebbb
...! Kenapaaa?”
“Gue mau minta stok waxing lo. Buat besok.”
“Berapa lusin?”
“Tiga aja. Enggak nyampe lusinan.”
“Tiga lusin?! Boleeehhh ....”
“Tiga aja, woy! Itu kuping jangan kebanyakan dimasukin kontol,
jadi budek makanya!”
“Lu lagi di manaaa?”
“Masih di klinik. Lu udah di kosan?”
“Belooom. Gue lagi di hotel, nih. Ama
klieeennn. Lu ke sini dong, please!”
“Enggak, ah. Gue mau pulang, nunggu di kosan aja.”
“Ke sini ajaaa .... Bantuin gueee! Huhuhu
....” Ida
tiba-tiba menangis. Entah beneran entah air mata palsu.
“Enggak mau.”
“Elu bantuin gue, entar gue kasih sugar waxing-nya tiga lusin
gratis.”
“Gue cuma butuh tiga kotak doang, anjing!”
“Ya udah sih, siniii .... Gue kasih 50:50
deh dari fee
gue sama si klien ini.”
“Enggak, enggak.”
“Pleeeaaaase ...! Bantuin gueee ....”
Aku sudah menarik napas panjang untuk menjawab enggak. Tapi
entah kenapa, aku mulai luluh.
Aku enggak ada kegiatan apa pun malam ini. Aku belum tahu
apakah Fian akan ke kosanku atau enggak. Atau Xavier. Atau siapa pun. Dan sudah
sejak lama aku penasaran, sebenarnya apa pekerjaan Ida? Sejauh ini dugaanku sih
dia lonte. Barusan saja dia bilang lagi di hotel sama klien. Apa lagi kalau
bukan lonte?
Selain itu, kalau aku ketemu Ida, aku bisa tanya-tanya
langsung soal hubungannya dengan Fian. Lalu, apakah yang dia maksud pagi tadi
sebelum mandi adalah Fian? Kalau iya Fian, kenapa Fian bilang dia enggak nginep
di kamar Ida?
“Oke.” Kudengar diriku menjawab seperti itu.
“Sekarang, ya. Gue lagi urgent!”
“Iya. Share loc aja hotelnya. Gue naik GoJek ke situ.”
[ ... ]
Enggak main-main, Ida ketemu kliennya di sebuah hotel bintang
5. Hanya ada dua hotel bintang 5 di kota ini, dan aku main ke salah satunya.
Hotel ini berlokasi cukup jauh dari klinik. Ongkos Gojekku mencapai 32 ribu.
Kalau kamu baca kisahku ini tahun 2050, 32 ribu sama dengan dua dolar AS.
Dikira-kira aja sejauh apa jarak klinik ke hotel kalau ongkosnya segitu.
Aku duduk di lobi hotel yang besar dan megah. Bellboy-nya
mengira aku akan menginap, sehingga aku disuguhi segelas jus jeruk. Aku merasa
salah kostum di sini. Orang-orang mengenakan jas, kemeja batik, perempuannya
bergaun dengan perhiasan di leher atau telinga. Sementara aku mengenakan
seragam klinik yang dibalut dengan jaket tipis. Aku seperti kurir paket yang
disuruh menunggu dulu di lobi sampai tamunya turun ke bawah.
Ida untungnya turun tak lama kemudian. Dia mengenakan pakaian
seksi, tetapi sopan. Sejenis gaun merah yang ketat, tetapi menutupi hampir
seluruh tubuhnya kecuali dada dan area lutut ke bawah. Atasannya lengan
panjang, potongan lehernya cukup turun hingga belahan dadanya mencuat keluar,
pantat bahenolnya dibalut dengan sempit oleh gaun merah itu hingga terdapat
lipitan-lipitan mengganggu di area pinggang dan paha.
“Untung elo datang, anjing!” kata Ida sembari menghempaskan
pantatnya ke atas sofa di sampingku. Makeup Ida begitu tebal seperti
lonte. Bibirnya merah dengan bulu mata lentik. “Gue double book
ternyata.”
“Anjing!” umpatku. Lonte macam Ida bisa double book.
Aku merasa tersinggung.
“Si Mas Rudal bentar lagi nyampe!” kata Ida, sembari membalas
sesuatu di WhatsApp-nya.
“Siapa ini Mas Rudal?”
“Yang tadi pagi gue cerita, Cong!”
Aku menyipitkan mata. “Mas Fian?”
“Hah?”
“Fian? Yang tentara itu?”
Ida berhenti mengetik pesan. “Kok Fian, sih?”
“Karena gue tahunya Mas Fian nginep di elo semalam, jadi gue
pikir yang pagi tadi tuh—“
“Bukaaannn ...!” sela Ida seraya mengibaskan tangannya di
depan wajahku.
Iya, aku juga tahu, Bitch. Aku cuma memastikan aja.
“Ini Mas Rudal! Yang bikin memek gue dower!”
Aku menyurungkan kepala Ida hingga dia hampir terpental ke
atas lantai. “Kan elu kagak nyebut nama, anjing! Lagian volume lu kenapa harus
segede itu, sih? Udah fancy ini hotel tapi tamunya malah ngomong memek
dower!”
Aku tersenyum kecil mendengar
jawaban itu. Namun aku berusaha menutupinya dengan baik, pura-pura jahat lagi
ke Ida seperti biasa.
“Dia tamu lo juga?”
“Ho-oh. Dia kagak ada jadwal ama
gue. Tapi tadi, pas gue lagi ama klien nih ..., dia nge-WhatsApp. Ngajak
ketemu. Gue bilang gue lagi di sini, dia langsung book kamar di sini.
Dia pengin bercocok tanam lagi, Cooong .... Tapi gue masih ada setengah jam
lagi ama klien yang ini.”
“Kerjaan lo sebenarnya apa?”
“Gue enggak bisa ngasih tahu.”
“Lah, terus gimana gue bisa bantu
kalau elo enggak ngasih tahu?!”
Ida menghela napas dan mulai
celingukan ke seluruh penjuru lobi. Ida memastikan tidak ada yang mendengar.
Kebetulan di sekitar kami memang enggak ada tamu lain. “Gue sex therapist.”
“Elah, pake bahasa Inggris segala!” Kusurungkan lagi kepala
Ida. “Lonte, kan?”
“Bukan, anjing!” Ida balas menyurungkan kepala. “Gue terapis.”
“Iya, lonte! Di dunia homo aja, semua yang terapis artinya
lonte. NFF. Plus-plus.”
“Bukan!” Ida mendengus. Dia celingukan lagi. “Gue enggak harus
ngewe ama klien gue. Gue cuma bantu mereka mengatasi masalah-masalah
ranjang. Kebetulan klien gue cowok semua. Jadi pas terapi ama gue, ya kontol
mereka masuk ke memek gue.”
“Ya itu lonte!” Kudorong lagi dahi Ida hingga dia terjungkal
ke sandaran sofa.
“Bukan, Bencong!” Ida mendengus sembari merapikan rambutnya
yang kini berantakan. “Enggak semuanya ngewe. Kadang cuma butuh
sentuhan. Butuh latihan. Kadang bawa istrinya, terus senam kegel bareng. Kadang
pijat vitalitas sampe mau crot, tapi habis itu dia crot-nya di
memek istrinya. Kadang cuma ngobrol doang, curhat. Tapi curhatnya sambil mainin
tetek gue. Kadang cuma butuh pelukan. Enggak melulu ngewe, anjing!” Ida
menampol pipiku. Plak!
Aku terdiam sejenak. “Tetep aja kayak kerjaan lonte.”
“Bukan!”
“Tapi yang ngewe doang juga ada, kan?”
“Ya banyak!” Ida mendengus bangga. “Ada yang butuh ngewe
doang ama gue, padahal udah punya istri, punya anak, punya cucu, lalu dia bayar
jasa konsultasinya ..., tapi pas datang langsung buka celana, tepok tepok
tepok, crot, pulang deh. Ada yang gitu juga. Ngewe berkedok
konsultasi. Tapi gawean utama gue ya terapis, Bencong!”
Aku membeku sejenak mendengar itu.
Apa itu artinya?
Apa mungkin Fian dengan Ida hanyalah ....
“Elo serius?” tanyaku, dengan suara lebih pelan.
“Iya!” Ida membalas dulu pesan dari Mas Rudal. “Bentar lagi
Mas Rudal nyampe.”
Dan aku enggak bisa menahan diriku untuk enggak bertanya,
“Terus Mas Fian ngapain ama lo?”
“Ya sama. Konsultasi soal kehidupan seks dia.”
Aku membelalak. “Emang problem dia apa?”
Ida menyipitkan mata. “Enggak akan gue bilang ama lo, lah! Confederation!”
“Confidential, goblok!” Kusurungkan lagi dahi lebar itu
hingga Ida terjungkal untuk kesekian kalinya.
“Ya udah sih, lu mau bantu gue kagak?!”
Aku sudah membuka mulut untuk bernegosiasi bahwa aku akan
membantunya asalkan dia memberitahuku soal Fian. Namun aku sudah berjanji untuk
membantunya demi tiga lusin sugar waxing dan bayaran 50:50 dari kliennya
ini. Aku kepo bukan main. Kalau aku ingin menguras informasi soal Fian
dari Ida, aku harus bermain cantik. Aku harus trustworthy dulu.
“Oke,” kataku sambil manggut-manggut. “Gue harus ngapain?”
“Klien gue yang ini punya masalah ama hasrat seksualnya,”
mulai Ida. “Dia enggak nafsu lagi ama istrinya. Tapi dia nafsu ama
klien-kliennya. Dia bilang dia kerja di bisnis properti, sih. Cuma gue kagak
nanya lebih lanjut kayak gimana bisnisnya. Kan, enggak boleh juga gue maksa
kalau dia enggak mau cerita. Terus, dia kan udah lama enggak nafsu ama
istrinya—wajar lah ya, udah berapa puluh tahun pernikahan—tapi dia nafsu banget
sama klien di bisnis propertinya.”
“Siapa kliennya ini?”
Ida mengangkat bahu. “Orang yang butuh apartemen mungkin? Dia
beneran enggak ngasih info detail. Cuma ngomong properti doang. Terus
orang-orang yang jadi klien ini, sering dia ajak ngewe.”
“Ya mesum aja itu orangnya.”
“Ya emang. Makanya dia konsultasi ama gue, siapa tahu bisa gue
bantu mengalihkan hasrat itu ke hal lain. Alias, ke gue aja. Enggak perlu ke
klien dia.”
“Kliennya pada protes?”
“Kayaknya pernah ada yang protes. Tapi kebanyakan kliennya
manut-manut aja. Kayak yang ... aduh, gue enggak begitu paham ceritanya.
Soalnya dia discreet banget. Tapi kayak ada kontrak gitu-gitu, lah.
Kalau enggak ngewe ama dia, nanti kontrak propertinya cancel.”
“Anjing. Manipulatif banget.”
“Klien favorit dia katanya lagi cedera. Jatoh gitu dari
tangga. Padahal hari ini dia sange banget pengin ngewe ama klien
dia yang ini. Tapi karena enggak bisa, ya dia booking gue ngedadak pagi
tadi.”
“Nyewa lonte biasa kan bisa harusnya? Ngapain nyewa elu?”
“Dia sukanya BDSM. Enggak semua lonte suka BDSM.”
“Terus elo bisa?”
“Bisa, lah. Setiap hari gue udah di-BDSM-in sama takdir.
Dikasih hidup melarat, harus bayar utang keluarga gue, bayar pinjol—makanya gue
masih di kosan kita yang bapuk itu. Halah. Disiksa ama kontol mah enggak
ada apa-apanya.”
“Fuck!” Aku melongo tak percaya.
Ida hanya manggut-manggut. “Tapi beneran, dia suka BDSM. Dia sange
banget ama konsep penderitaan. Cuma sekarang, dia lagi gue ikat di kasur. Gue
tinggalin di kamar sendirian. Gue puterin lagu-lagu horor.”
“BDSM macam apa anjing, pake lagu-lagu horor!”
“Dia suka, kok.”
Aku mendengus sambil menggelengkan kepala. “Terus gue mesti
ngapain ama dia?”
“Bebas. Elo boleh ngapa-ngapain dia. Kan dia udah gue iket.”
“Bebas?”
“Iya, terserah lu aja. Sisa waktunya setengah jaman lagi.
Pokoknya bikin dia crot. Kalau lu mau crot, terserah elu.”
“Kan gue cowok, anjing. Gimana caranya dia—“
“Udah gue tutup matanya.” Ida mulai celingukan ke arah pintu
lobi. “Dia enggak akan bisa lihat elo. Jadi, sepanjang elo nyervis dia, elo
jangan bersuara sedikit pun. Seeedikit pun!”
“Hah?!”
“Entar pas udah beres, udah crot dianya, elo tinggalin
aja. Elo Whatsapp gue, entar elo bisa pulang. Gue yang bukain iketan dia nanti.
Oke?”
Aku masih ingin bertanya beberapa hal, misalnya, apakah dia
bisa kutusuk bool-nya, atau haruskah kumasukkan kontolnya ke bool-ku,
tetapi Ida tiba-tiba melompat berdiri dan mengangkat telepon.
“Maaasss ...,” desah Ida manja. “Tunggu bentar, yaaa .... Aku
mau ke klienku bentaaarrr .... Mas tunggu di lobi aja.”
Ida menarik tanganku dan membawaku ke lorong hotel yang
berlangit-langit tinggi. Kami berlari menuju lift yang tampak mewah dengan
ukiran-ukiran emas. Ida membawaku ke lantai lima, yang lorongnya dilapisi
karpet merah mahal dan dinding-dindingnya ber-wallpaper putih gading.
Sebelum masuk ke pintu kamar, Ida berbisik ke telingaku,
“Mulai dari titik ini, elo enggak boleh ngomong sedikit pun. Paham?”
“Iye!”
Ida pun membuka pintu dan membawaku masuk ke dalam. Dia
nyelonong masuk ke bagian dalam kamar, sementara aku melepas sepatu dan kaus
kakiku.
“Gimana, Paaak ...? Masih kuat?”
Aku mendengar jawaban, “Sudah! Sudah! Saya enggak tahan
lagi! Saya kangen sama kamu!”
“Sebentar, yaaa ....”
Memang ada lagu horor di dalam kamar. Mengalun pelan seperti
berasal dari gramofon. Ida mematikannya dengan segera.
Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan
kakiku. Aku mengelap wajah yang kotor karena tadi gojekan. Lalu aku masuk ke
dalam kamar.
Ida terlihat sedang berbincang-bincang dengan kliennya itu.
“Jadi, Pak .... Habis ini, saya enggak akan bersuara. Saya akan menyentuh
Bapak, dan Bapak harus menggunakan imajinasi Bapak sendiri, ya. Perkuat fantasi
Bapak atas sentuhan-sentuhan dari saya. Supaya Bapak terbiasa untuk enggak
ketergantungan sama klien-klien Bapak di bisnis properti itu ....”
“Baik, Dek Ida ....”
Oh, ternyata dari sini asalnya istilah Dek Ida itu.
“Selama dua puluh menit, saya pengin Bapak ‘keluar’, tanpa
saya ngomong apa-apa. Saya akan menyentuh badan Bapak secara acak, dan Bapak
harus membayangkan sendiri apa yang sedang saya lakukan di situ, ya. Bisa ya
Pak ya?”
“Bisa, Dek Ida ....”
Aku berdiri di tepi ranjang mewah itu. Seorang lelaki dewasa
sedang terikat di atasnya. Tepat di tengah-tengah. Kedua tangannya terikat ke
ujung-ujung kepala ranjang. Sementara kakinya bebas lepas. Badannya normal.
Agak kekar sedikit, mungkin waktu mudanya pernah nge-gym dan membentuk
badan. Lengannya berisi, tetapi tidak seperti otot. Perutnya agak buncit, tapi
enggak parah banget. Keteknya lebat, hitam, dan aroma lakinya menguar ke
mana-mana. Aku bisa melihat dadanya menggembung bidang, dengan belahan dada
yang seksi.
Klien ini literally daddy-daddy pujaan para boti.
Namun, ketika aku mencoba mengamati wajahnya dengan lebih
jelas, aku membeku di tempat. Sumpah. Aku memelotot terkejut. Aku kenal banget
orang ini siapa.
“Kita mulai dari sekarang ya Paaak .... Saya akan sentuh
Bapak, dan Bapak harus memfantasikan semua sentuhan saya. Satu ... dua ... tiga
....”
Dia adalah Pak Guntur!
Pak Guntur pemilik kosannya Ezel! Yang kemaren sempat foto
bareng Fian! Aku masih ingat dengan jelas! Belum juga seminggu sejak kali
terakhir aku ketemu Pak Guntur di kosan Ezel!
Dan kalau Pak Guntur yang kerja di bisnis “properti” ini enggak bisa nge-fuck kliennya karena sang klien lagi cedera jatuh dari tangga, apa itu artinya ....
[ ... ]
21. Masa Pacaran sama Laki-Laki?! (Short Version) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 22C. Soalnya K****l Fian Tuh ....
Catatan:
Part 22B tidak tersedia gratis. Hanya bisa dibaca melalui PDF.
Dapatkan PDF-nya di sini, untuk:
Komentar
Posting Komentar