(HD) 22A. Daddy-Daddy Pujaan Para Boti




Halo, Kak!

Kalau Kakak bertanya-tanya apakah aku mau pingsan ....

... aku pingsan betulan, Kak.

BRUK!

Begitu Fian menanyakan pertanyaan itu, lututku lemas, jantungku mencelos, jiwaku rasanya diisap oleh malaikat maut ke alam baka.

Aku tersungkur ke atas area rumput samping lapangan.

Dan mungkin karena aku jatuh dengan keras, aku yang harusnya pingsan, langsung siuman lagi.

“Dek?!” Fian menoleh dan langsung membantuku. Bahkan, dia membopongku dan membawa tubuhku ke lorong gedung terdekat yang tidak terpapar sinar matahari.

Aku masih lemas dan pusing tetapi aku langsung ingat apa yang terjadi. “Aku ... aku kesandung.”

“Ada yang sakit?”

Aku menggelengkan kepala.

“Bisa jalan, enggak?”

Penginnya aku jawab enggak, supaya Fian membopongku hingga ke station, kayak pengantin. Namun aku enggak mungkin melakukan itu di depan semua orang, sehingga aku mengangguk meskipun rasanya kesulitan.

Fian membantuku berdiri dan aku bisa berdiri dengan tegak. Agak pusing seperti vertigo. Tapi semuanya aman. Fian menjajariku berjalan masuk ke aula hingga tiba di station-ku. Nadhif mengambilkanku air minum sembari melaporkan bahwa orang berikutnya sudah siap untuk diperiksa.

“Adek yakin bisa periksa?” tanya Fian, berjongkok di depanku dengan raut muka khawatir.

Aku mengangguk. “Bisa, bisa.”

“Muka Adek pucat.”

“Bisa kok, Bang.” Aku mencoba tersenyum lebar. “Entar kalau ada apa-apa, ada Nadhif yang bantuin.”

Fian tampak tak ikhlas. Dia menoleh ke arah Nadhif sesaat, lalu memutuskan untuk menyerah. “Oke.” Fian menarik napas panjang. “Jaga diri baik-baik, ya.”

Dan aku bersyukur ....

... topik soal Deva enggak muncul lagi.

Atau mungkin belum.

Sepanjang sisa hari aku kepikiran soal apa yang Deva katakan kepada Fian. Usai mengambil cairan prostat dan sperma, cukup sering aku mengangkat hape untuk mengetik pesan kepada Fian. Layarku sampai dipenuhi pelumas karena aku belum melepas sarung tangan. Satu kali, di Batch 3, ada sperma calon taruna yang mendarat di layar hape-ku karena aku membawa hape ke atas dipan.

Aku berada dalam dilema, apakah perlu menanyakan kepada Fian detailnya bagaimana, atau jangan. Kalau ditanyakan, kesannya mengiakan. Kalau tidak ditanyakan, mungkin Fian berpikir Deva cuma omong kosong, soalnya aku aja cuek. Masalahnya, aku enggak bisa digantung begini terus.

Tentu saja aku me-WhatsApp Deva sejak makan siang. Namun Deva tidak membalas pesanku hingga sore hari. Padahal, dia sudah read sejak pukul satu siang.

Aku tidak bertemu Fian lagi hingga sesi pemeriksaan hari itu selesai. Aku melakukan evaluasi dengan dr. Sigit pukul setengah empat sore, kemudian memasukkan kontainer kriopreservasiku ke truk pukul lima.

Fian muncul di sana, tetapi tidak membahas soal Deva juga.

“Abang harus ngadep atasan malam ini. Kayaknya enggak bisa pulang bareng Adek. Habis dari klinik, Adek pulang ke kosan?”

“Iya. Kan mau minta sugar waxing ke Ida.”

“Oh, iya. Oke kalau gitu. Hati-hati, ya.”

Sudah. Begitu saja. Dia tidak membahas lagi soal Deva.

(Dan ciuman di loteng.)

(Dan ciuman kemarin malam.)

Aku diantar hingga ke truk. Fian menungguku hingga duduk di dalam jok bersama taruna-taruna lain. Lalu Fian menepuk truk dan berkata, “Hati-hati di jalan. Jaga jangan sampai sampelnya rusak.”

“Siap, laksanakan!” balas para taruna kompak.

That’s it. Semua pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban. Apa cowok straight memang begitu? Apa ini alasannya cewek-cewek sering mengeluh, “Cowok tuh enggak peka!”

Memang enggak peka, sih. Habis nyipok lalu lupa gitu aja.

Aku mencoba menenangkan diriku sepanjang perjalanan ke klinik. Setidaknya, Fian masih ngobrol denganku. Masih menyapa dengan ramah, masih bersikap biasa saja meskipun Deva hari ini mengganggunya. Mungkin Tuhan memberiku kesempatan untuk menyusun respons atas apa yang Deva lakukan ke Fian. Mungkin malam ini aku harus memikirkan baik-baik apa yang perlu dikatakan, apa yang tidak perlu. Dengan begitu, aku harus berhenti mencemaskan Deva.

Kebetulan Deva pun membalas WhatsApp-ku.

 

Sorry br bls bro td gw lg kerja dulu , meeting2 biasa lah kalo org kerja , kdg suka ada yg prlu dbhas gtu ama klien . ama vendor . ada proyek 10 miliar yg harus pake rapat rapat kordinasi . lu ga akan paham lah . tapi intinya gtu bro. Ada apa kenapa ? oh .. si Rafianto? Iya gw WA dia .. tapi blom dibalas . lg sibuk kali . jd gmn? Dia bisa diajak 3s atau engak?

 

WhatsApp panjang itu kubalas pendek saja. Tapi kapital semua. ANJING!

Lalu aku memasukkan ponselku ke dalam tas dan menarik napas panjang.

Taruna di seberangku bertanya, “Kenapa, Bang?”

“Gapapa, Mas.”

Dia manggut-manggut dan kembali menatap kontainer kriopreservasiku. “Jadi ini isinya apa nih, Bang?”

Aku menjawab dengan jujur. “Air mani.”

Empat tentara yang ada di truk itu membelalak, lalu tersenyum iseng.

“Serius?” tanya salah satu di antara mereka.

Aku mengangguk serius. “Hari ini saya meras air mani calon taruna, Mas.”

“Meras?!” Lalu mereka tertawa sambil sikut-sikutan. “Anjir! Seriusan!”

“Lah ... ngapain saya enggak serius? Air mani kan dipake untuk ngecek kesehatan seksual.”

“Terus pakenya gimana?” tanya yang lain, sambil memiringkan kepala mengamati kriopreservasi. Dia juga celingukan menatap setiap detailnya. “Dimasukin ke sini? Itunya? Terus entar di dalam ada alat buat merasnya?” Dia menunjuk tutup kontainer.

Ingin sekali aku berkata, Iya, masukin kontol ke situ, entar di dalamnya ada alat buat memerah kontol sampai keluar air mani.

Tapi aku enggak tega menipu mereka, jadi aku menggelengkan kepala. “Enggak, sih. Pasiennya merangkak di atas kasur, terus saya peras penisnya dari bawah pake tangan—kayak meras sabun cuci tangan sampai keluar busa. Atau, mirip memerah susu sapi.”

“ANJING! HAHAHA ...!” Mereka tertawa riang sekali. Saling sikut dan tertarik membayangkan bagaimana rasanya kontol diperah sampai keluar air mani. Mereka yang sebenarnya kelelahan dengan persiapan acara, masih menemukan cara untuk bersantai dan tertawa.

“Ya udah, Bang. Ini si Bryan katanya pengin diperah—“

Pantek! Lancang sekali mulut kau!” Bryan menampol taruna yang iseng tadi.

“Tapi Bryan pengin burungnya dimasukin sini aja—“

Pantek! Woy!” Bryan mendorong kepala kawannya. “Enggak, enggak, enggak, Bang! Si Mahdi sebetulnya yang berhasrat!”

“Lah! Elu yang nyuruh nanya tadi! Anjing! Hahaha ...!”

“Jujur aja hari ini cuma dikit yang saya perah,” akuku kemudian. “Saya pake cara lain buat ngambil spermanya. Kalau gagal, baru diperah kayak susu sapi.”

“Serius, Bang?! Emang ada cara lain?”

“Ditusuk pake jari dari belakang—“

“ANJING! AAARGH!” Mereka semua melompat dari kursinya, meringis ngeri mendengar jawabanku.

Aku tertawa melihat mereka tertawa. Meski enggak terbayang bagaimana rasanya ditusuk pake jari hingga keluar sperma, dengan santai mereka tetap memberondongku dengan sejuta pertanyaan. Alhasil aku menjelaskan apa itu EPS dalam perjalanan kami menuju klinik.

Obrolan santai dengan para tentara ini menenangkan hatiku. Untuk sementara, aku bisa melupakan soal Fian. Aku sudah tidak memikirkan Deva lagi, maupun perihal cumbuan dari bibir Fian. Serasa semua masalahku di dunia bisa kulupakan untuk sementara.

Selesai menangani tugasku di klinik dan melakukan clock out, aku menelepon Ida di lobi.

Dia mengangkat teleponnya dengan segera. “Heeey, Beeebbb ...! Kenapaaa?”

“Gue mau minta stok waxing lo. Buat besok.”

“Berapa lusin?”

“Tiga aja. Enggak nyampe lusinan.”

“Tiga lusin?! Boleeehhh ....”

“Tiga aja, woy! Itu kuping jangan kebanyakan dimasukin kontol, jadi budek makanya!”

“Lu lagi di manaaa?”

“Masih di klinik. Lu udah di kosan?”

“Belooom. Gue lagi di hotel, nih. Ama klieeennn. Lu ke sini dong, please!”

“Enggak, ah. Gue mau pulang, nunggu di kosan aja.”

“Ke sini ajaaa .... Bantuin gueee! Huhuhu ....” Ida tiba-tiba menangis. Entah beneran entah air mata palsu.

“Enggak mau.”

“Elu bantuin gue, entar gue kasih sugar waxing-nya tiga lusin gratis.”

“Gue cuma butuh tiga kotak doang, anjing!”

“Ya udah sih, siniii .... Gue kasih 50:50 deh dari fee gue sama si klien ini.”

“Enggak, enggak.”

Pleeeaaaase ...! Bantuin gueee ....”

Aku sudah menarik napas panjang untuk menjawab enggak. Tapi entah kenapa, aku mulai luluh.

Aku enggak ada kegiatan apa pun malam ini. Aku belum tahu apakah Fian akan ke kosanku atau enggak. Atau Xavier. Atau siapa pun. Dan sudah sejak lama aku penasaran, sebenarnya apa pekerjaan Ida? Sejauh ini dugaanku sih dia lonte. Barusan saja dia bilang lagi di hotel sama klien. Apa lagi kalau bukan lonte?

Selain itu, kalau aku ketemu Ida, aku bisa tanya-tanya langsung soal hubungannya dengan Fian. Lalu, apakah yang dia maksud pagi tadi sebelum mandi adalah Fian? Kalau iya Fian, kenapa Fian bilang dia enggak nginep di kamar Ida?

“Oke.” Kudengar diriku menjawab seperti itu.

“Sekarang, ya. Gue lagi urgent!

“Iya. Share loc aja hotelnya. Gue naik GoJek ke situ.”


[ ... ]


Enggak main-main, Ida ketemu kliennya di sebuah hotel bintang 5. Hanya ada dua hotel bintang 5 di kota ini, dan aku main ke salah satunya. Hotel ini berlokasi cukup jauh dari klinik. Ongkos Gojekku mencapai 32 ribu. Kalau kamu baca kisahku ini tahun 2050, 32 ribu sama dengan dua dolar AS. Dikira-kira aja sejauh apa jarak klinik ke hotel kalau ongkosnya segitu.

Aku duduk di lobi hotel yang besar dan megah. Bellboy-nya mengira aku akan menginap, sehingga aku disuguhi segelas jus jeruk. Aku merasa salah kostum di sini. Orang-orang mengenakan jas, kemeja batik, perempuannya bergaun dengan perhiasan di leher atau telinga. Sementara aku mengenakan seragam klinik yang dibalut dengan jaket tipis. Aku seperti kurir paket yang disuruh menunggu dulu di lobi sampai tamunya turun ke bawah.

Ida untungnya turun tak lama kemudian. Dia mengenakan pakaian seksi, tetapi sopan. Sejenis gaun merah yang ketat, tetapi menutupi hampir seluruh tubuhnya kecuali dada dan area lutut ke bawah. Atasannya lengan panjang, potongan lehernya cukup turun hingga belahan dadanya mencuat keluar, pantat bahenolnya dibalut dengan sempit oleh gaun merah itu hingga terdapat lipitan-lipitan mengganggu di area pinggang dan paha.

“Untung elo datang, anjing!” kata Ida sembari menghempaskan pantatnya ke atas sofa di sampingku. Makeup Ida begitu tebal seperti lonte. Bibirnya merah dengan bulu mata lentik. “Gue double book ternyata.”

“Anjing!” umpatku. Lonte macam Ida bisa double book. Aku merasa tersinggung.

“Si Mas Rudal bentar lagi nyampe!” kata Ida, sembari membalas sesuatu di WhatsApp-nya.

“Siapa ini Mas Rudal?”

“Yang tadi pagi gue cerita, Cong!”

Aku menyipitkan mata. “Mas Fian?”

“Hah?”

“Fian? Yang tentara itu?”

Ida berhenti mengetik pesan. “Kok Fian, sih?”

“Karena gue tahunya Mas Fian nginep di elo semalam, jadi gue pikir yang pagi tadi tuh—“

“Bukaaannn ...!” sela Ida seraya mengibaskan tangannya di depan wajahku.

Iya, aku juga tahu, Bitch. Aku cuma memastikan aja.

“Ini Mas Rudal! Yang bikin memek gue dower!”

Aku menyurungkan kepala Ida hingga dia hampir terpental ke atas lantai. “Kan elu kagak nyebut nama, anjing! Lagian volume lu kenapa harus segede itu, sih? Udah fancy ini hotel tapi tamunya malah ngomong memek dower!”

“Mas Rudal ini datang habis si Fian pulang. Dia tamu gue juga. Lagian si Fian tiba-tiba pergi aja, anjeng. Kan kesel, ya. Untung Mas Rudal mau datang ke kosan gue dan nginap sampai pagi. Semalaman gue tidur ... kontol dia masuk ke memek gue, anjing! Berasa lagi difermentasi.”

Aku tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Namun aku berusaha menutupinya dengan baik, pura-pura jahat lagi ke Ida seperti biasa.

“Dia tamu lo juga?”

“Ho-oh. Dia kagak ada jadwal ama gue. Tapi tadi, pas gue lagi ama klien nih ..., dia nge-WhatsApp. Ngajak ketemu. Gue bilang gue lagi di sini, dia langsung book kamar di sini. Dia pengin bercocok tanam lagi, Cooong .... Tapi gue masih ada setengah jam lagi ama klien yang ini.”

“Kerjaan lo sebenarnya apa?”

“Gue enggak bisa ngasih tahu.”

“Lah, terus gimana gue bisa bantu kalau elo enggak ngasih tahu?!”

Ida menghela napas dan mulai celingukan ke seluruh penjuru lobi. Ida memastikan tidak ada yang mendengar. Kebetulan di sekitar kami memang enggak ada tamu lain. “Gue sex therapist.”

“Elah, pake bahasa Inggris segala!” Kusurungkan lagi kepala Ida. “Lonte, kan?”

“Bukan, anjing!” Ida balas menyurungkan kepala. “Gue terapis.”

“Iya, lonte! Di dunia homo aja, semua yang terapis artinya lonte. NFF. Plus-plus.”

“Bukan!” Ida mendengus. Dia celingukan lagi. “Gue enggak harus ngewe ama klien gue. Gue cuma bantu mereka mengatasi masalah-masalah ranjang. Kebetulan klien gue cowok semua. Jadi pas terapi ama gue, ya kontol mereka masuk ke memek gue.”

“Ya itu lonte!” Kudorong lagi dahi Ida hingga dia terjungkal ke sandaran sofa.

“Bukan, Bencong!” Ida mendengus sembari merapikan rambutnya yang kini berantakan. “Enggak semuanya ngewe. Kadang cuma butuh sentuhan. Butuh latihan. Kadang bawa istrinya, terus senam kegel bareng. Kadang pijat vitalitas sampe mau crot, tapi habis itu dia crot-nya di memek istrinya. Kadang cuma ngobrol doang, curhat. Tapi curhatnya sambil mainin tetek gue. Kadang cuma butuh pelukan. Enggak melulu ngewe, anjing!” Ida menampol pipiku. Plak!

Aku terdiam sejenak. “Tetep aja kayak kerjaan lonte.”

“Bukan!”

“Tapi yang ngewe doang juga ada, kan?”

“Ya banyak!” Ida mendengus bangga. “Ada yang butuh ngewe doang ama gue, padahal udah punya istri, punya anak, punya cucu, lalu dia bayar jasa konsultasinya ..., tapi pas datang langsung buka celana, tepok tepok tepok, crot, pulang deh. Ada yang gitu juga. Ngewe berkedok konsultasi. Tapi gawean utama gue ya terapis, Bencong!”

Aku membeku sejenak mendengar itu.

Apa itu artinya?

Apa mungkin Fian dengan Ida hanyalah ....

“Elo serius?” tanyaku, dengan suara lebih pelan.

“Iya!” Ida membalas dulu pesan dari Mas Rudal. “Bentar lagi Mas Rudal nyampe.”

Dan aku enggak bisa menahan diriku untuk enggak bertanya, “Terus Mas Fian ngapain ama lo?”

“Ya sama. Konsultasi soal kehidupan seks dia.”

Aku membelalak. “Emang problem dia apa?”

Ida menyipitkan mata. “Enggak akan gue bilang ama lo, lah! Confederation!”

Confidential, goblok!” Kusurungkan lagi dahi lebar itu hingga Ida terjungkal untuk kesekian kalinya.

“Ya udah sih, lu mau bantu gue kagak?!”

Aku sudah membuka mulut untuk bernegosiasi bahwa aku akan membantunya asalkan dia memberitahuku soal Fian. Namun aku sudah berjanji untuk membantunya demi tiga lusin sugar waxing dan bayaran 50:50 dari kliennya ini. Aku kepo bukan main. Kalau aku ingin menguras informasi soal Fian dari Ida, aku harus bermain cantik. Aku harus trustworthy dulu.

“Oke,” kataku sambil manggut-manggut. “Gue harus ngapain?”

“Klien gue yang ini punya masalah ama hasrat seksualnya,” mulai Ida. “Dia enggak nafsu lagi ama istrinya. Tapi dia nafsu ama klien-kliennya. Dia bilang dia kerja di bisnis properti, sih. Cuma gue kagak nanya lebih lanjut kayak gimana bisnisnya. Kan, enggak boleh juga gue maksa kalau dia enggak mau cerita. Terus, dia kan udah lama enggak nafsu ama istrinya—wajar lah ya, udah berapa puluh tahun pernikahan—tapi dia nafsu banget sama klien di bisnis propertinya.”

“Siapa kliennya ini?”

Ida mengangkat bahu. “Orang yang butuh apartemen mungkin? Dia beneran enggak ngasih info detail. Cuma ngomong properti doang. Terus orang-orang yang jadi klien ini, sering dia ajak ngewe.”

“Ya mesum aja itu orangnya.”

“Ya emang. Makanya dia konsultasi ama gue, siapa tahu bisa gue bantu mengalihkan hasrat itu ke hal lain. Alias, ke gue aja. Enggak perlu ke klien dia.”

“Kliennya pada protes?”

“Kayaknya pernah ada yang protes. Tapi kebanyakan kliennya manut-manut aja. Kayak yang ... aduh, gue enggak begitu paham ceritanya. Soalnya dia discreet banget. Tapi kayak ada kontrak gitu-gitu, lah. Kalau enggak ngewe ama dia, nanti kontrak propertinya cancel.”

“Anjing. Manipulatif banget.”

“Klien favorit dia katanya lagi cedera. Jatoh gitu dari tangga. Padahal hari ini dia sange banget pengin ngewe ama klien dia yang ini. Tapi karena enggak bisa, ya dia booking gue ngedadak pagi tadi.”

“Nyewa lonte biasa kan bisa harusnya? Ngapain nyewa elu?”

“Dia sukanya BDSM. Enggak semua lonte suka BDSM.”

“Terus elo bisa?”

“Bisa, lah. Setiap hari gue udah di-BDSM-in sama takdir. Dikasih hidup melarat, harus bayar utang keluarga gue, bayar pinjol—makanya gue masih di kosan kita yang bapuk itu. Halah. Disiksa ama kontol mah enggak ada apa-apanya.”

Fuck!” Aku melongo tak percaya.

Ida hanya manggut-manggut. “Tapi beneran, dia suka BDSM. Dia sange banget ama konsep penderitaan. Cuma sekarang, dia lagi gue ikat di kasur. Gue tinggalin di kamar sendirian. Gue puterin lagu-lagu horor.”

“BDSM macam apa anjing, pake lagu-lagu horor!”

“Dia suka, kok.”

Aku mendengus sambil menggelengkan kepala. “Terus gue mesti ngapain ama dia?”

“Bebas. Elo boleh ngapa-ngapain dia. Kan dia udah gue iket.”

“Bebas?”

“Iya, terserah lu aja. Sisa waktunya setengah jaman lagi. Pokoknya bikin dia crot. Kalau lu mau crot, terserah elu.”

“Kan gue cowok, anjing. Gimana caranya dia—“

“Udah gue tutup matanya.” Ida mulai celingukan ke arah pintu lobi. “Dia enggak akan bisa lihat elo. Jadi, sepanjang elo nyervis dia, elo jangan bersuara sedikit pun. Seeedikit pun!”

“Hah?!”

“Entar pas udah beres, udah crot dianya, elo tinggalin aja. Elo Whatsapp gue, entar elo bisa pulang. Gue yang bukain iketan dia nanti. Oke?”

Aku masih ingin bertanya beberapa hal, misalnya, apakah dia bisa kutusuk bool-nya, atau haruskah kumasukkan kontolnya ke bool-ku, tetapi Ida tiba-tiba melompat berdiri dan mengangkat telepon.

“Maaasss ...,” desah Ida manja. “Tunggu bentar, yaaa .... Aku mau ke klienku bentaaarrr .... Mas tunggu di lobi aja.”

Ida menarik tanganku dan membawaku ke lorong hotel yang berlangit-langit tinggi. Kami berlari menuju lift yang tampak mewah dengan ukiran-ukiran emas. Ida membawaku ke lantai lima, yang lorongnya dilapisi karpet merah mahal dan dinding-dindingnya ber-wallpaper putih gading.

Sebelum masuk ke pintu kamar, Ida berbisik ke telingaku, “Mulai dari titik ini, elo enggak boleh ngomong sedikit pun. Paham?”

“Iye!”

Ida pun membuka pintu dan membawaku masuk ke dalam. Dia nyelonong masuk ke bagian dalam kamar, sementara aku melepas sepatu dan kaus kakiku.

“Gimana, Paaak ...? Masih kuat?”

Aku mendengar jawaban, “Sudah! Sudah! Saya enggak tahan lagi! Saya kangen sama kamu!”

“Sebentar, yaaa ....”

Memang ada lagu horor di dalam kamar. Mengalun pelan seperti berasal dari gramofon. Ida mematikannya dengan segera.

Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan kakiku. Aku mengelap wajah yang kotor karena tadi gojekan. Lalu aku masuk ke dalam kamar.

Ida terlihat sedang berbincang-bincang dengan kliennya itu. “Jadi, Pak .... Habis ini, saya enggak akan bersuara. Saya akan menyentuh Bapak, dan Bapak harus menggunakan imajinasi Bapak sendiri, ya. Perkuat fantasi Bapak atas sentuhan-sentuhan dari saya. Supaya Bapak terbiasa untuk enggak ketergantungan sama klien-klien Bapak di bisnis properti itu ....”

“Baik, Dek Ida ....”

Oh, ternyata dari sini asalnya istilah Dek Ida itu.

“Selama dua puluh menit, saya pengin Bapak ‘keluar’, tanpa saya ngomong apa-apa. Saya akan menyentuh badan Bapak secara acak, dan Bapak harus membayangkan sendiri apa yang sedang saya lakukan di situ, ya. Bisa ya Pak ya?”

“Bisa, Dek Ida ....”

Aku berdiri di tepi ranjang mewah itu. Seorang lelaki dewasa sedang terikat di atasnya. Tepat di tengah-tengah. Kedua tangannya terikat ke ujung-ujung kepala ranjang. Sementara kakinya bebas lepas. Badannya normal. Agak kekar sedikit, mungkin waktu mudanya pernah nge-gym dan membentuk badan. Lengannya berisi, tetapi tidak seperti otot. Perutnya agak buncit, tapi enggak parah banget. Keteknya lebat, hitam, dan aroma lakinya menguar ke mana-mana. Aku bisa melihat dadanya menggembung bidang, dengan belahan dada yang seksi.

Klien ini literally daddy-daddy pujaan para boti.

Namun, ketika aku mencoba mengamati wajahnya dengan lebih jelas, aku membeku di tempat. Sumpah. Aku memelotot terkejut. Aku kenal banget orang ini siapa.

“Kita mulai dari sekarang ya Paaak .... Saya akan sentuh Bapak, dan Bapak harus memfantasikan semua sentuhan saya. Satu ... dua ... tiga ....”

Dia adalah Pak Guntur!

Pak Guntur pemilik kosannya Ezel! Yang kemaren sempat foto bareng Fian! Aku masih ingat dengan jelas! Belum juga seminggu sejak kali terakhir aku ketemu Pak Guntur di kosan Ezel!

Dan kalau Pak Guntur yang kerja di bisnis “properti” ini enggak bisa nge-fuck kliennya karena sang klien lagi cedera jatuh dari tangga, apa itu artinya ....


[ ... ]


21. Masa Pacaran sama Laki-Laki?! (Short Version) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 22C. Soalnya K****l Fian Tuh ....


Catatan:

Part 22B tidak tersedia gratis. Hanya bisa dibaca melalui PDF.

Dapatkan PDF-nya di sini, untuk:

Muscle Bottom

Muscle Top

Kedua versi

Komentar