Halo, Kak!
Sebelum aku lanjut, akan kurekap dengan sangat-sangat singkat
tentang apa yang terjadi setelah kutemukan Pak Guntur terikat di atas ranjang.
Aku ngewe dengan Pak Guntur.
Aku memainkan tubuhnya, lalu aku ngewe.
Alasannya karena aku frustrasi pada Fian yang tak kunjung
memberikan kejelasan, tetapi dia sudah menciumku dengan romantis dua kali dalam
24 jam terakhir. Jadi, aku ngewe dengan Pak Guntur sambil membayangkan
Fian untuk melampiaskan frustrasiku. Namun apa yang dikatakan Pak Guntur saat
dia crot?
Dia menyebut nama Ezel.
Ternyata, Ezel yang jatuh cinta pada Fian itu ngewe
juga dengan pemilik kosannya. Mungkin lebih dari sekali. Aku enggak tahu. Tapi
dari cerita Pak Guntur saat aku memainkan tubuhnya, kayaknya Ezel demen banget
sama Pak Guntur.
Usai Pak Guntur crot, aku enggak men-crot-kan
diri. Aku turun dari tempat tidur dan mandi. Mendengar nama Ezel disebut Pak
Guntur membuat perasaanku kacau balau. Aku enggak bisa mencernanya dalam
kondisi seperti ini. Aku mengenakan lagi pakaianku dan pergi dari kamar itu
sambil me-WhatsApp Ida. Aku pulang ke kosanku naik angkot agar aku bisa duduk
melamun menatap ke luar jendela.
Sesampainya di kosan, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Aku diam di kamarku, melamun, kemudian aku ketiduran.
Pukul 10 malam, Ida menelepon dan membangunkanku.
“Turun, Cong! Gue bawa bebek goreng. Mau
kagak?”
Aku masih mengerjapkan mata dan mencerna apa yang sedang
terjadi. Namun dengan kilat aku menjawab, “Iya, bentar.”
Aku turun ke bawah mengenakan celana pendek dan kaus kutang
yang biasa kupakai tidur. Kurasa aku belum makan. Santapan terakhir yang masuk
ke perutku adalah “makanan BDSM” yang kulumat dari kontol Pak Guntur, yang
kulumat bersama keringat Pak Guntur.
Ketika aku tiba di lantai dua, pintu kamar Ida terbuka
setengah. Kulihat Ida sedang membereskan sesuatu di dalamnya. Aku langsung
memberondong masuk dengan asumsi tak ada tamu apa pun di dalam. Dan, memang
tidak ada.
“Tutup pintunya, Shay. Gue mau nyalain AC.”
Aku menutup pintu dan langsung duduk di atas karpet samping
tempat tidur. Ida menyajikan seporsi bebek goreng favoritku, lengkap dengan
nasi, tahu goreng, dan sambal merahnya yang menyengat. Namun hal pertama yang
Ida berikan kepadaku adalah sehelai amplop.
“Apa ini?” tanyaku sambil membolak-balik amplop cokelat
persegi panjang.
“Janji gue kan 50:50,” kata Ida, masih membuka bungkusan bebek
goreng satu lagi. “Berapa pun yang gue dapat dari klien gue tadi, gue bakal
ngasih setengahnya buat elo.”
Aku membuka amplop itu. Isinya ....
....
... sepuluh lembar uang 50 ribu rupiah ....
....
Aku membeku sejenak. “Setengah juta banget, nih?”
Ida mengangguk dan bergabung bersamaku di atas karpet. “Dia
ngasih gue sejuta. Harusnya enggak segitu, sih. Ini tips-nya gede banget,
anjir.”
“Biasanya berapa?”
“Empat ratus, lah. Paling gede lima ratus.”
Aku membelalak. “Jadi ... gue officially jadi lonte,
nih?”
“Lah, bukannya elo lonte dari dulu?”
“Anjing!” Aku menyurungkan kepala Ida hingga dia hampir
terjengkang menghantam lemari di belakangnya.
Ida terkekeh. “Dia puas banget ama elu, anjing! Lu apain, sih?
Sampe kencing ke kasur segala! Hahaha ....”
“Ya biasa ..., kalau gue ngewe ama homo,” kataku. Lalu
aku menceritakan dengan singkat highlight dari ngewe-ku bersama
Pak Guntur. Ida sempat berkomentar bahwa semua hal yang kulakukan harusnya sama
dengan yang Ida lakukan. Namun Ida bilang Pak Guntur merasa servisnya jauh
lebih enak dibandingkan biasanya. Ida enggak merasa jealous. Sejak awal,
Ida enggak begitu pengin melayani Pak Guntur. Soalnya, kontol Pak Guntur kecil.
Ida sukanya yang seperti rudal. Dia juga bilang, kalau kontol gede, Ida bisa
jadi ngasih servis terapi gratis.
Kuakhiri obrolan itu dengan berkata, “Gue kenal ama yang
tadi.”
Ida yang sedang mengunyah bebeknya sepanjang aku bercerita,
mengerutkan alis. “Kenal?”
“Namanya Guntur.”
Ida membelalak. “Dia ngasih tahu elu?”
Aku menggelengkan kepala. “Minggu kemaren gue ketemu dia waktu
nemenin Fian nyari kosan buat calon taruna.”
“Terus?”
“Ya ... dia yang punya kosan.”
“Kosan?!” Ida terkekeh takjub tak percaya. “Jadi bisnis
propertinya tuh kosan?”
Aku mengangguk sembari menyuap sepotong bebek dan nasi ke
mulutku.
“Ngomong dia kayak yang tinggi, anjir!” sahut Ida. Satu nasi
melompat keluar karena dia bicara sambil mengunyah. “Gue pikir Agung Podolmoro
atau Agung Kemayu Group atau apa gitu.”
Aku mengangkat bahu. “Ya mungkin dia punya bisnis properti
lain. Yang pasti dia punya kosan gitu. Dekat sini, kok. Di simpang sana.”
“Hmmm ... pantesan dia ngajak ketemu di hotel yang jauh. Nolak
terus gue ajak ke kosan gue. Biar kagak ketahuan bininya kali, ya?”
“Maybe.” Aku menyobek lagi daging bebek dan mencoleknya
ke sambal merah. “Gue juga kenal salah satu ‘klien’ yang sering ngewe
ama dia.”
“Cowok apa cewek?”
“Cowok.”
“Tuh, kan.” Ida menelan dulu kunyahan di mulutnya. “Gue rada
curiga ama cerita dia. Soalnya dia kagak pernah nyebut nama, tapi dari cara dia
ngedeskripsiin si klien-klien ini ... kok kayak ngewe ama boti,
anjir. Hampir enggak pernah dia bahas soal toket. Kan rada-rada mustahil, ya.
Kalau dia ngewe ama cewek, persoalan toket pasti jadi topik utama selain
memek!”
Aku mengangkat bahu, tak mau berkomentar. Selama beberapa
saat, kami terdiam untuk menandaskan bebek goreng itu. Begitu habis, Ida
mengajakku bicara lagi.
“Sorry kalau gue maksa elo kayak barusan,” ungkap Ida
tulus. Dia bangkit untuk mencuci tangan. “Kerjaan gue emang kayak lonte.
Sebagian besar beneran ngewe ama klien dengan kedok terapi seks. Tapi
beneran, Cong, gue sebenarnya sex therapist. Gue lulusan S1 Psikologi.”
“Enggak percaya gue.”
“Ya gapapa.” Ida benar-benar tak peduli. “Gue kebetulan punya
ilmu-ilmu nipu orang dengan kedok terapi—karena gue kuliahnya psikologi. Terus
gue emang suka ama kontol. Jadi gue bikin jasa terapi. Supaya kagak digerebek
juga. Supaya legal.”
“Terus kenapa elo masih ngekos di sini? Cari kosan yang kamar
mandi dalam, kek?”
“Gue lagi ngumpulin duit, Cong!” Ida duduk lagi di sampingku
sambil membereskan sisa makan kami. “Gue males ngabisin duit di kosan bagus.
Ini aja, udah cukup. Perkara mandi doang mah kagak apa-apa. Selain bayarin
utang-utang keluarga, gue juga pengin bikin rumah.”
“Biar bisa buka praktik sekalian, di rumah?”
“Hahaha ... di kosan ini juga gue udah buka praktik, anjir!
Hahaha!” Ida melemparkan gulungan tisu ke wajahku lalu menyodorkan air minum.
“Gue kan kagak punya kerjaan tetap, Bencong. Gue kagak bisa kredit KPR. Jadi
kalau mau beli rumah, duitnya harus udah ada kontan. Cash.”
Aku menyesap minumanku sampai habis. Sedari tadi aku tak tahan
untuk tidak menanyakan ini ke Ida.
“Jadi ... si Fian itu ..., klien elu juga?”
Ida menyandarkan kepalanya ke tepian ranjang, lalu membuka
ponsel. “Ho-oh.”
“Dia ... konsultasi ama elu?”
“Dia jualan ayam geprek ama gue.”
“Anjing!”
“Ya apa lagi, Bencong?!” Ida menyorongkan dahiku. “Semua
urusan gue ama cowok pasti urusan terapi. Kalau cowoknya modal gede, mereka
biasanya buka Oyo. Kalau yang pas-pasan kayak si Fian, mereka datang ke sini.”
Aku menghela napas. Inginnya aku tersenyum, tetapi
kutahan-tahan. Agak lega setelah tahu bahwa Fian bukan “pacaran” dengan Ida.
Soalnya selama ini kupikir dia dekat karena jatuh cinta atau apa gitu.
Agak hati-hati aku menanyakan pertanyaan berikut, tanpa
terdengar kepo banget. “Terus ... si Fian itu ... terapi apa ama elo?”
“Lu suka ya ama dia?” tembak Ida.
“Enggaaakkk ..., ih!” kelitku.
Detik itu, rasanya jantungku copot dan nyawaku melayang.
Membagi info tentang siapa yang kusuka biasanya bukan style-ku bareng
lonte satu ini. Aku hanya cerita soal kehidupanku sebagai homo. Siapa yang
kutemui di aplikasi, bagaimana kencanku, bagaimana ngewe-ku, dan
bagaimana drama perhomoan di kota ini. Belum pernah aku membahas siapa yang
“kusuka”. Ketika Ida menembakku begitu, kok rasanya deg-degan, ya.
“Terus ngapain nanya-nanya?”
“Ya kepo aja, anjing! Kan gue kenal dia. Gue kerja ama dia
sekarang, di medical check up akmil. Kalau dia ada masalah seks sampe
harus konsul ama elo, ya gue penasaran!” Kudorong kepala Ida hingga dahinya
membentur tepi ranjang.
Duk!
“AAAWWW ...!!!”
“Sori, sori, sori!” Buru-buru aku menarik Ida agar bangkit dan
mengusap-usap dahinya. Kalau Ida sampai meninggoy, nanti aku enggak bisa dapat
info lebih akurat soal Fian.
“Pelan-pelan aja anjing! Lu makin sini ngedorong gue kayak mau
bunuh gue. Kalau GR ya GR aja.”
“Enggak, ih!” Aku mendengus dan langsung mengangkat hape-ku
untuk mengalihkan perhatian.
Setelah Ida mengusap-usap keningnya, dia menjawab
pertanyaanku. “Gue enggak bisa jawab.”
Yang ternyata tidak menjawab pertanyaanku.
“Kenapa?”
“Kan gue udah bilang, confederation.”
“Confidential, goblok!” Tanganku sudah gemas ingin
menjambak rambut Ida lalu membenturkan kepalanya ke tepian ranjang sampai
berdarah-darah.
“Itu rahasia klien. Gue enggak bisa sebar begitu aja.”
“Tadi rahasia si Guntur lu kasih ke gue seenaknya.”
“Ya kan lu lagi mau bantu gue, Bencong!” Ida mendorong
kepalaku dengan gemas. “Kalau gue bilang gue ini terapis, kayak terapinya
psikolog, itu gue serius. Semua masalah klien gue itu rahasia. Kagak boleh gue
sebar ke mana-mana.”
“Ya kan bisa nyebutin garis besarnya. Kenapa orang kayak Fian
yang segar bugar, fit, kekar, ganteng, punya masalah seks ...?”
“Emang yang segar bugar dan ganteng enggak bisa punya masalah
seks?”
“Yaaa ... bisa. Tapi, kan—“
“Udah!” Ida menyurungkan kepalaku lagi. “Elo enggak perlu
tahu. Itu rahasia gue ama dia.”
Aku mendengus kesal. Aku enggak puas dengan jawaban Ida. Jadi
aku memancingnya, “Dia ... impoten, ya?”
“Bukan urusan elu.” Ida menyilangkan tangan di depan dada. Dia
bahkan memunggungiku sambil membuka ponsel dan membalas Whatsapp dari Mas
Rudal.
“Perkakasnya cilik, ya?”
“No comment.”
Aku menelan ludah. “Kontolnya dua?”
“Anjing!” Ida menoleh lalu terkekeh. “Terus kenapa kalau dua?
Biar kita kebagian masing-masing buat nyepong dia?! Hahaha!”
“Ya apa, dong?” Aku mendengus lagi. “Sering banget kalian
ketemuan. Sampe nginep-nginep segala! Emang enggak sembuh-sembuh masalah dia setelah
terapi ama elo?”
“Ya biarin aja, anjing. Yang penting gue masih bisa mainin
rudal dia.”
“Ya berarti lo enggak kredibel buat bantu orang! Elo bukan
solusi!”
“Ya biarin!” Ida menjulurkan lidahnya keluar. “Yang penting
dia nyaman. Dia bayar. Dia berprogres. Udah, bencong, enggak usah maksa-maksa.”
“Ya kan kalau gue tahu dia ada masalah apa ..., siapa tahu gue
bisa bantu.”
“Enggak bisa. Enggak akan bisa,” sergah Ida dengan tegas. “Dan
gue enggak akan bilang sampai kapan pun. Lonte juga gue pandai menjaga
rahasia.”
“Anjing! Padahal semua kontol yang elo sepong, elo foto,
terus elo tunjukin ke gue!”
“Ya tapi kan gue enggak nunjukin mukanya.”
“Jangan-jangan elo punya foto kontolnya si Fian.”
“Ya ada, dong! Gue bikin folder sendiri khusus kontol Fian!
Dari lemes, setengah bangun, berdiri tegak, sikap sempurna, sampai lepas
landas! Gue foto semua momen indahnya. Gue abadikan. Soalnya kontol Fian tuh
....” Tiba-tiba Ida berhenti ngomong. Seakan-akan dia teringat bahwa enggak
seharusnya dia membahas itu.
“Apa?”
“Enggak.”
“Kenapa kontol si Fian?”
“Elo mau lihat fotonya?”
Aku sudah membuka mulut untuk menjawab iya, tetapi aku
menutupnya lagi.
Memangnya aku siap?
Enggak. Aku enggak siap.
Kalau aku siap melihat kontol Fian, aku akan melihatnya sejak
tempo hari—sewaktu Fian menginap di kamarku. Kalau aku siap melihat kontol
Fian, aku akan melihatnya kemarin, saat dia berganti baju di depanku, di kamar
Fian. Kalau aku betulan siap melihatnya, aku akan melihatnya pagi tadi sewaktu
dia menantang Davin bahwa dia bisa ngaceng kalau aku kocokin.
Aku belum siap.
Jadi, aku menggelengkan kepala.
“Yakin?” Ida menyipitkan matanya.
Dengan berat hati aku mengangguk. Rasanya lemas karena aku
masih belum mampu melihat kontol Fian.
“Gue juga enggak bakal ngasih, sih.”
“Sialan!”
“Gue tahu elo demen ama dia. Kalian hang out ke
mana-mana berdua. Kemaren aja kan dia ke kamar elo dulu sebelum ke kamar gue.
Tapi gue bukan cepu. Rahasia dia yang disimpan di gue, ya tetep jadi rahasia.”
Ida menjulurkan lidahnya, lalu beranjak menuju lemari. Dia mengeluarkan
sekantung plastik besar sugar waxing. “Betewe, nih, tiga lusin sugar
waxing—“
“Tiga kotak aja, anjir!”
“Gapapa. Elo simpan dulu aja di kamar. Kayaknya jualan di elo
lebih cepet laku daripada gue jualan sendiri.”
Itu karena Xavier memborongnya.
Aku menerima tiga lusin sugar waxing Ida. Aku tidak
punya energi lagi untuk mendebatnya karena tujuan utamaku saat ini hanyalah mencari
tahu apa isu Fian sampai harus konsultasi dengan Ida. Aku senang sih mengetahui
dia bukanlah pacar Ida. Aku tahu, Ida sudah menikmati kontolnya. Gapapa. Tapi
seenggaknya, Ida bukanlah hambatan utamaku mendapatkan Fian.
Hambatan utamaku ya ....
... Fian itu sendiri.
Dia yang mencipokku. Dia juga yang meninggalkanku dalam tanda
tanya!
[ ... ]
Hingga batch kedua keesokan harinya, aku belum bertemu
Fian sama sekali.
Aku datang seperti biasa ke aula dan disambut Nadhif untuk
persiapan. Aku sempat bertemu dr. Sigit untuk membahas siapa saja yang akan
kuperiksa hari ini. Katanya, dari pemeriksaan kemarin, ada 47 calon taruna yang
lolos. Sehingga, akan ada 47 bool yang kumainkan untuk diambil cairan
prostatnya. Dr. Sigit juga memberiku kisi-kisi soal 47 calon taruna ini dan
meminta mengecek lebih dalam pada beberapa nama.
Ketika calon taruna pertama muncul untuk kuperiksa, aku masih
belum bertemu Fian.
Pada istirahat pertama, Fian juga tidak muncul. Aku malah
bertemu Fariq di kamar mandi aula, sewaktu aku mencuci tangan.
“Hey! Aman hari ini?” sapanya ramah. Dia sudah mengambil kotak
konsumsinya dan dengan sengaja membawanya ke kamar mandi sambil cuci tangan.
“Iya,” jawabku sekenanya.
“Hari ini aku nemu tiga orang reaktif, dong. HIV. Terus satu
ada yang sifilis juga.”
“Itu kan informasi rahasia,” kataku.
“Aku kan enggak nyebut nama.” Fariq mengedipkan matanya.
Anjing, lah. Kenapa sih aku harus ketemu dia?
“Gimana station-mu? Pada crot semua?”
“Bukan urusanmu.” Aku tersenyum lebar dengan vibes
sinis. Kupercepat cuci tanganku agar segera pergi dari situ.
“Kasihan Fian harus lembur semalaman,” kata Fariq tiba-tiba.
Aku berhenti menggosok tanganku.
“Ada problem di management. Dia harus handle
masalah gitu. Chaos, katanya.”
“Tahu dari mana?”
Fariq menoleh dan membelalak. “Emang dia enggak ngasih tahu
kamu?”
“Nga ... ngasih!”
Aku menelan ludah. Fian enggak ngasih info apa pun. Sejak sore
kemarin, Fian hanya me-WhatsApp-ku untuk hal-hal umum. Misal, Sudah sampai kosan? Sudah makan? Sudah tidur? Sudah bangun? Sudah OTW ke
akmil? Namun tak ada
tanggapan berarti dari Fian. Kuasumsikan dia memang sedang sibuk. Jadi aku
enggak boong-boong banget. Aku yakin Fian sedang handle sebuah masalah,
makanya dia enggak nelepon dan enggak WhatsApp lebih lanjut.
“Gila, emang. Ternyata di TNI pun ada orang-orang kayak gitu!”
Aku hanya tersenyum kecil. “I ... iya.” Aku sama sekali enggak
tahu konteksnya.
“Aku pikir kalau instansi kayak TNI, enggak akan lah ada
oknumnya. Kalau polisi mungkin ..., yah ..., se-Indonesia juga tahu reputasinya
gimana. Kalau TNI kan, paling, you know lah .... Paling halo dek halo
deknya doang yang ganggu.”
Aku merasa bete karena aku enggak tahu apa yang dibicarakan
Fariq. Aku makin bete ketika menyadari Fian memberi tahu Fariq. Tapi lebih bete
lagi karena Fariq menjelek-jelekkan halo dek. Aku tuh baper banget setiap Fian
menyapaku, “Halo, Dek!” berasa sedang dipanggil malaikat penjaga pintu surga.
“Iya,” jawabku lagi. Pendek.
“Kamu ikutan badminton hari ini?”
Fuck. Si Fariq pun tahu soal badminton!
“Ikut!” sergahku segera. Untuk menunjukkan aku dilibatkan Fian
dalam hal ini.
“Aku enggak bisa ikut,” kata Fariq sambil mendesah kecewa. Dia
menarik tisu di sebelah cermin lalu mengelap tangannya. “Aku hari ini ada janji
nonton ama teman-temen SMA-ku. Tolong bilangin Fian ama yang lain ya, aku
enggak bisa gabung.”
“Hmmm ....”
Lalu Fariq mulai membahas tentang film yang akan dia tonton,
tetapi aku sudah tidak mendengarkan. Kami berjalan lagi ke aula. Untungnya kami
berpisah di pintu depan karena aku harus mengambil kotak konsumsiku sementara
Fariq harus kembali ke station-nya.
Istirahat kedua, aku masih belum bertemu Fian. Aku sempat
me-WhatsApp-nya. Di mana? Namun belum ada balasan. Aku mengambil
kotak makan siangku bersama Nadhif. Dia langsung bergabung bersama teman-teman
tentaranya, sementara aku berencana kembali ke station-ku.
Di situ pun, aku masih belum bertemu Fian. Jangankan bertemu,
melihat batang kontolnya saja tidak.
Batang hidung, maksudku.
Aku enggak merasakan kehadiran Fian sama sekali. Seolah-olah
Fian enggak ada di sini. Aku mengedarkan pandanganku ke lapangan, sampai hampir
menabrak seorang tentara yang berjalan di koridor. Aku juga tak fokus pada
tugasku, kebanyakan menengok ke luar, berharap Fian muncul. Eh, aku malah
membuat seorang calon taruna crot dua kali karena keenakan. Aku lebih
banyak pergi ke toilet hari ini dengan harapan bisa melihat suasana di aula,
siapa tahu ada Fian sedang mondar-mandir di sana. Soalnya station-ku kan
agak-agak 3T, ya. Tersembunyi, Terbelakang, dan Terluar. Pokoknya terisolasi
dari mana-mana. Station terdekat ya station-ku selumbari, waktu
mengecek kontol para calon taruna.
Namun setelah aku bolak-balik koridor aula pun, aku masih
belum bertemu Fian.
Yang kutemukan siapa, coba?
....
Xavier.
Setelah aku menghabiskan makan siangku, aku berjalan ke luar
aula untuk membuang sampah. Rencananya aku mau cuci tangan juga sembari
mengedarkan lagi pandangan mencari sosok Fian. Di koridor, seorang calon taruna
menyambar tanganku dan menarikku ke belakang aula. Sosok itu mengenakan jaket
dan topi. Aku diseret hingga cukup jauh, tepatnya ke sebuah gedung sepi di
dekat gedung asrama yang sedang dibangun.
Dari jaketnya aku tahu itu Xavier. Karena ini adalah jaket
yang ditemukan Fian di kamarku dua malam lalu.
“Woi! Jangan sombong, lu!” hardik Xavier begitu kami tersembunyi
dari semua orang.
Lokasi itu benar-benar sepi. Semua kegiatan tentara ada di
bagian lain area ini. Sementara di sisi lain hanya ada aktivitas para kuli macho
menyelesaikan gedung asrama.
“Ngapain bawa aku ke sini?!” hardikku sambil menghalau tangan
Xavier yang mencengkeram lenganku terus-menerus.
“Gimana tes si Davin kemaren?” Xavier terdengar panik.
“Mana kutahu. Kan yang meriksa bukan aku.”
“Lah! Bukannya elo yang meriksa di sini, kemaren?!”
“Aku cuma ngambil sampel. Yang meriksa ya orang lab di
klinikku.”
Xavier mendengus kesal. “Davin bilang elo ngasih tahu dia
kalau dia punya hepatitis.”
“Mana ada!” Aku mendorong dada Xavier dengan jantan. “Aku cuma
nyuruh dia periksa lebih lanjut. Soalnya aku bukan dokter. Diagnosaku bisa
salah.”
“Terus, hasil tesnya gimana? Bisa lo tuker?”
“Enggak, lah! Hasil tesnya udah di klinik. Aku enggak bisa
ngapa-ngapain lagi sama hasil tesnya.”
“Udah dicek ama petugas labnya?”
“Mana kutahu!”
Xavier berdecak seraya berkacak pinggang. Dia cemberut bete.
Mukanya gemesin kalau cemberut gitu—kayak anak kecil. Tapi dia seriusan bad
mood.
“Gue kagak bisa masuk sini kalau dia enggak masuk juga,” gumam
Xavier sedih.
“Ya udah enggak usah masuk sini.”
“Anjing!” Xavier menjitakku. “Si Davin brother gue!”
“Ya kalian kok brother malah penyakitan!” Aku mendengus. “Kamu
juga harusnya cek lebih lanjut. Punya varikokel atau enggak? Kalau punya, kamu
harus operasi—“
“Iyaaa ...!” Xavier tiba-tiba membekap mulutku. Dia
mendorongku juga. Memperlakukanku seolah-olah aku seorang lelaki “normal”.
Lelaki yang sesama boti enggak akan bersikap kasar kayak begini.
“Gue kayaknya lulus.” Xavier menarik napas panjang. “Gue
lanjut tahap berikutnya. Tinggal si Davin yang belum. Dan semua tergantung
elo.”
“Enggak, lah. Semua tergantung dia sendiri. Kalau dia sakit,
ya dia sakit.”
“Besok sore gue ama Davin mau nyamperin lo. Oke?”
“Enggak.”
“Ke kosan.”
“Enggak usah.”
“Kita threesome. Yang penting lo bantu si Davin lolos
tes kesehatan.”
“Enggak perluuu!” Aku mendorong dada Xavier, mencoba bersikap
kasar seperti apa yang Xavier lakukan kepadaku. Namun, alih-alih tubuhnya
terdorong, Xavier malah tetap berdiri tegak, sementara aku terdorong mundur ke
belakang. Bahkan, punggungku menabrak dinding di belakang. “Aw!”
“Lu pasti suka si Davin.”
“Enggak,” jawabku keukeuh.
“Kontolnya panjang.”
“Udah lihat.”
“Dia kalau main ..., hardcore. Lu bisa nagih minta
ditusuk semalaman.”
“Enggak mungkin.” Aku memutar bola mata.
“Karena gue juga ada di situ, kita bisa double-in elo.”
“Enggak mau!”
“Jadi double tuh, lubang elo diisi sama dua bur—“
“Aku tahuuu!” Kucubit bibir Xavier agar diam.
“Hmmmph!”
“Aku tetep enggak mau.”
Xavier mengusap-usap bibirnya.
“Ngapain megang-megang bibir gue? Mau cium, ya?”
“Enggak, lah!”
Namun Xavier tetap pada
kesimpulannya bahwa aku ingin menciumnya. Soalnya, Xavier tiba-tiba nyosor ke
arahku, mencoba mencumbuku.
Tentu saja aku menghindar dan
mendorong.
Dan, seperti kejadian
kemarin-kemarin, seseorang muncul di depan kami.
Suara langkah kakinya terdengar
jelas ketika sosok itu berada dekat dengan tempat kami bersembunyi.
Tepat ketika Xavier nyosor, sosok
itu sudah berada di belokan.
Sosok itu adalah ....
... Fian.
“Dek?”
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
Tenang aja. Itu bukan akhir episode ini. Wkwkwk.
Udah bosan juga kita ganti part pas Xavier atau Davin
lagi mau menjamahku. Ku-WhatsApp jutaan kali, kucari ke sana kemari, Fian
enggak kelihatan batang hidungnya. Tapi kalau aku mau beradegan intim dengan
para calon taruna, Fian bisa muncul tiba-tiba. Sudah hampir seperti hujan.
Begitu kita cuci motor, hujan datang.
Untungnya memang aku mendorong Xavier hingga dia mundur dan
ber-social distancing denganku. Untungnya tenagaku cukup kuat untuk
membuat Xavier berjarak dua meter saja. Soalnya, Fian muncul bersama tiga orang
tentara lain dari arah pembangunan asrama. Keempat orang itu menoleh saat
melewati lorong tempat kami bersembunyi, tetapi Fian otomatis berhenti.
“Dek?” Dia menoleh ke arahku, lalu ke arah Xavier yang sedang
menyeimbangkan diri agar tidak tersungkur.
Mendapati ada empat tentara lewat di depan kami, Xavier
langsung berdiri tegak seperti seorang tentara. Kedua tangannya rapat di
samping tubuhnya. Dada membusung. Pandangan lurus ke depan.
Keempat tentara itu berhenti sebentar, tetapi Fian langsung
menginstruksikan agar tiga yang lain melanjutkan perjalanan. “Duluan aja. Entar
saya nyusul.” Fian menghampiri kami berdua. “Lagi apa kalian di sini?”
Aku membelalak kecil. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab
pertanyaan itu.
Xavier sama paniknya. Tiba-tiba saja aku bisa melihat
pelipisnya lembap, seperti akan merembeskan keringat. Jakun Xavier bergerak.
Dia menelan ludah. Mulutnya sudah membuka kecil untuk menjawab.
Kulihat Fian menatap jaket bomber yang dikenakan Xavier.
Sebelum Fian bertanya macam-macam, aku langsung menyerobot
pikirannya dengan berkata, “Lagi ngembaliin jaket!” sahutku, terlalu antusias.
Fian mengamati lagi jaket bomber itu baik-baik, lalu menoleh
ke arahku. “Enggak jadi dibuang?”
“Di ... dia .... Dia kemarin nanyain ke aku soal jaket, jadi
hari ini aku ..., aku bawa buat dia.”
Fian menoleh lagi ke arah Xavier. Dengan rahang mengeras, Fian
bertanya ke Xavier, “Benar begitu?”
“Siap, benar!” jawab Xavier lantang.
Fian menatap lagi Xavier atas-bawah, kemudian mengangguk
kecil. “Kembali ke posmu. Sebentar lagi apel.”
“Siap, laksanakan!” Xavier pun pergi dari situ dengan jalan
baris-berbaris yang awkward.
Begitu Xavier lenyap, Fian menarik napas panjang dan
melorotkan bahunya. Dia kelihatan kayak depresi. Wajahnya pucat, matanya
berkantung, dan aromanya ... Fian seperti belum mandi.
“Sorry Abang enggak bisa ngabarin Adek,” katanya. Dia
celingukan ke sana kemari, memastikan tak ada yang melihat kami mengobrol
berdua dengan santai. “Semalam ada masalah besar. Abang harus selesaiin
secepatnya. Sampe sekarang belum ketemu solusinya.”
“Iya. Enggak apa-apa.”
Toh, aku sudah tahu kisi-kisinya dari
Fariq, Bang,
lanjutku dalam hati.
Fian menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu memijat
pelipisnya sejenak. Setelah merasa baikan, Fian menarik napas panjang dan
mencoba tersenyum tegar. Kayaknya masalah ini besar banget dan dia belum ketemu
solusinya. Aku bisa maklum misal dia belum menjawab WhatsApp-ku. Atau dia
enggak kelihatan di mana-mana. (Atau dia enggak menjelaskan status kami ini apa
setelah dua ciuman itu.)
“Abang juga harus ngasih tahu satu hal sama Adek ...,” lanjut
Fian, menolehku dengan wajah cemas.
Bahwa kita gagal menikah, Bang?
“A ... apa?”
“Abang dialihtugaskan.”
Aku terpana.
Fian menarik napas panjang lagi sebelum menjelaskan. “Ada
masalah besar di internal dan Abang ditarik sama atasan buat bantu nyelesaiin
masalah ini. Abang enggak bisa cerita masalahnnya apa. Maaf. Tapi posisi
koordinator medical check up jadi lowong dan atasan udah nentuin siapa
yang bakal nempatin posisi itu sampai med check selesai.”
“Oh .... Oke.”
“Tolong Adek hati-hati sama orang ini, ya.”
Aku mengerutkan alisnya. “I ... iya.” Dalam kepalaku langsung
terbayang seorang tentara bengis setara Nazi yang siap membumihanguskan perawat
mana pun yang tidak patuh kepadanya.
“Kalau Adek enggak nyaman sama dia, WhatsApp Abang aja.”
“Iya.”
“Kalau dia menekan Adek, bikin Adek merasa terintimidasi,
lapor sama Abang.”
Aku menelan ludah. Belum apa-apa aku sudah keder menghadapi
pengganti Fian nanti.
“Iya ...,” kataku lemas.
“Abang belum tidur ..., belum istirahat ..., belum mandi,”
gumam Fian lemas. Dia mengendus keteknya sendiri. Yang, to be fair,
semua homo sedunia bakal sepakat aromanya enak.
“Jangan lupa makan,” kataku.
“Iya, Dek.” Fian menatap jam di pergelangan tangannya. Dia
menghela napas dan langsung merangkulkan lengannya yang kekar ke bahuku. “Abang
harus balik lagi ke pos.”
Wajahku berada dekat dengan ketek Fian. Dari balik seragam
tentaranya yang tebal itu, aku mencium aroma yang jauh lebih memikat
dibandingkan keteknya Pak Guntur kemarin sore.
Ketek Fian adalah poppers alami nomor satu yang pernah
kuhidu.
Lututku langsung lemas ketika berjalan berjejer bersama Fian
kembali ke aula. Kalau aku menikah dengan Fian (berandai-andai saja), akan
kupastikan Fian mandi setiap jam supaya aku enggak terlena dengan aroma
badannya yang merasuk sukma ini. Jalanku jadi ngangkang, berasa siap diperkosa
Fian.
“Orangnya udah di-inform buat datang ke aula. Mungkin
Adek bakal nemu dia keliling setiap station buat mantau,” ungkap Fian.
“Iya, Bang.”
“Nanti badminton Adek ikut, kan?”
“Abang ikut enggak?”
“Disuruh ikut,” jawab Fian. “Disuruh istirahat juga malam
ini.”
“Oke. Kalau gitu aku ikut. Aku udah bawa baju ganti.”
“Kalau entar sore ..., sama Capt. Harja?”
“Aku udah bawa waxing-nya.”
Fian mengangguk. Dia mengusap-usap bahuku, sebelum akhirnya
melepaskan rangkulan itu mendekati aula. Kami berjalan bersisian dengan
canggung. “Nanti Abang jemput kalau Adek sudah selesai sama mereka, ya.”
“Iya.”
Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Fian, yang tak bisa
diungkap bebas kepadaku karena menyangkut pertahanan negara. Aku paham soal
itu. Namun pertemuan kami yang singkat ini terasa awkward. Aku enggak
bisa bebas mengungkapkan apa yang ingin kuungkapkan. Salah satunya soal
WhatsApp dari Deva kemarin siang. Harusnya aku membahas itu dengan Fian.
Harusnya Fian melanjutkan diskusi itu denganku. Tapi enggak.
Kami berdua hanya berjalan menyusuri jalur setapak dari gedung
ke gedung, tanpa ada pembicaraan apa pun.
Aku tidak tahu apakah Fian tidak menganggap Deva sebagai
ancaman, atau dia sedang menundanya karena harus menangani masalah besar yang
lain dulu. Aku tidak tahu apakah dia memercayai kata-kata Deva atau menganggap
itu omong kosong belaka. Kuharap Fian tidak menanggapi Deva dengan serius.
Membayangkan kata-kata Deva ke Fian kemarin membuat perutku
mulas.
“Oh iya, omong-omong ....” Fian menoleh ke belakang, beberapa
saat sebelum kami tiba di aula. “Ngapain kalian berduaan di sana tadi? Mau
mesum, ya?”
Jantungku berhenti berdetak. Aku membelalak dan tak tahu
bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.
“Coba jujur,” kata Fian, berhenti melangkah dan memegang kedua
bahuku, menatapku dengan pandangan serius nan intimidatif, lalu bertanya,
“untuk apa kalian berdua pergi ke sana?”
Aku menelan ludah.
Lututku gemetar.
Jantungku berdegup kencang.
Kurasa aku ....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
... sabar, Kak. Sabar. Yang barusan bukan akhir episode ini.
Memang aku panik saat mendengar pertanyaan itu, tetapi aku
sudah lebih lihai dalam berkelit. “Aku ngejar kucing sampe ke asrama. Yang
punya jaket nanya di mana, ya udah ketemuan di sana. Di tengah-tengah.”
“Oh.”
Aku beruntung Fian tidak menanyakan soal itu lebih lanjut.
Kayaknya masalah internal ini jauh lebih krusial dibandingkan mengapa aku
berduaan dengan Xavier di tempat tersembunyi.
Aku dan Fian berpisah di aula. Aku kembali ke station-ku
untuk memulai batch berikutnya.
Nadhif menyapaku di pintu masuk station. “Koordinator
baru ada di dalam, Mas.”
Aku membelalak. “Nga ... ngapain?”
“Siap, menunggu Mas Rohmat di dalam. Mau nanya progres.”
Aku menelan ludah. “O ... oke.” Aku merapikan rambut dan
mengenakan jas perawatku yang kusampirkan di sandaran kursi. Ketika aku
berjalan masuk, seseorang sedang duduk di atas dipan. Dia memunggungiku.
Sosok itu mengenakan seragam loreng seperti Fian. Bahunya
lebar. Badannya bongsor. Rambut cepak. Hampir seperti Fian, tetapi dia lebih
berisi.
Dengan hati-hati aku menyapanya. “Siang, Pak.”
Sosok itu pun menoleh.
Dan dia adalah ....
... Bondan.
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
Belum. Belum selesai episodenya.
“Hey,” sapanya, dengan suara berat, tetapi pelan. Bondan
mengintip ke belakangku, memastikan Nadhif atau siapa pun tidak ada yang
mendengarkan kami. “Gue disuruh gantiin si Fian.”
Aku mengangguk lemas dan menghampirinya. “Iya. Bang Fian juga
udah ngasih tahu.” Aku mengambil kursi dekat kontainer kriopreservasi, lalu
menyeretnya agak jauh dari Bondan. Aku duduk di atasnya dengan posisi punggung
kursi di depanku—seolah-olah menunjukkan sikap defensif.
Bondan menarik napas. “Jangan takut ama gue,” mulainya,
setelah sekali lagi memastikan tak ada yang mendengar kami. “Sorry
kemaren gue maksa elo kayak gitu.”
“Iya.”
“Gue lagi panik.” Bondan menggaruk kepalanya yang cepak. “Gue
baru ngeh, elo kayaknya bisa bantu gue nyari solusi buat masalah gue—“
“Aku enggak bisa, Bang,” tegasku sekali lagi. “Aku cuma
perawat. Aku enggak kuliah kedokteran, apalagi sampai spesialisasi ke situ.
Kebetulan aja aku rajin baca-baca soal medis karena itu berkaitan sama
kerjaanku juga.”
“Iya gue paham. Tapi agak susah buat gue nyari dokter yang
paham kondisi gue.” Bondan mengangkat kedua alisnya. “Kayak elo.”
Aku menemukan ada sebuah luka di pelipis kanan Bondan. Lukanya
sudah agak mengering, tetapi biru memarnya masih ada di sana. Aku merasa Bondan
ini dalam situasi “aman”, tidak akan mendesakku untuk ngewe sama dia
lagi kayak dua malam lalu. Jadi aku berdiri dan mendekatinya. “Kenapa
pelipisnya?”
Bondan hanya tersenyum kecil. “Ah, biasa. Ditonjok pacar lu.”
Aku membelalak kecil. Jantungku berasa copot, sih. Aku baru
akan menjelaskan bahwa aku enggak punya pacar, tetapi Bondan keburu menyelaku.
“Gue tahu lu deket ama si Fian,” katanya. “Gapapa. Gue paham.”
Aku menelan ludah. Agak awkward juga kalau situasinya
begini. Soalnya yang ngomong di depanku ini pake seragam abdi negara, wajahnya
garang, badannya besar, dan dia jago mengoperasikan berbagai jenis senjata.
Entah mengapa kalau identitas LGBT-ku ketahuan di depan orang kayak gini, aku
merasa hidupku sudah tamat.
“Gue juga paham kalau si Fian nonjok gue kemaren.”
“Mau kuperiksain?”
“Enggak usah. Udah diobatin sama si Lela. Cuma jadinya gue
boong ke si Lela soal ditonjok ini. Sekalian gue boong juga kalau gue ....”
Bondan menarik napas panjang, menoleh lagi ke belakang sebelum melanjutkan,
“... gituan ama lo.”
Aku tak bisa merespons apa-apa.
Bondan menyenggolku dengan lengannya. “Makasih,” katanya.
“Makasih kenapa?”
“Makasih buat yang kemaren. Makasih juga elo jaga rahasia soal
itu.” Bondan sekali lagi menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang
mendengarnya. Ketika dia menatapku kembali, dia turun dari dipan dan berdiri
secara menjulang di depanku. Suaranya terdengar lebih pelan. “Gue seneng gue
ditugasin di sini. Soalnya ... gue bisa lebih dekat sama elo.”
“Kenapa gitu?”
“Supaya lo bisa bantu gue, lah.”
“Aku enggak bisa—“
“Di sini gue bos elo. Gue yang hire elo buat kerja di
sini. Ya, kan?”
Aku tak bisa menyanggah itu. Klinikku mengutusku untuk
melakukan segala hal yang diminta instansi ini. Secara teknis, iya, koordinator
di med check ini bisa memintaku melakukan apa pun. Tentunya yang
berkaitan dengan pemeriksaan kesehatan. Namun aku tahu persis, yang Bondan
maksud pasti ke arah “sana” ....
Bondan tersenyum puas sebelum pergi meninggalkanku. “Nanti gue
inspeksi lagi ke sini. Gue pamit.”
Bondan pun pergi meninggalkanku di area periksa.
Aku hanya bisa berdiri kaku di sana, tak bisa membayangkan apa
lagi yang akan Bondan minta dariku. Fian memberikan instruksi jelas agar aku
berhati-hati kepada Bondan. Aku juga bersedia melakukan itu. Namun Bondan
sekarang “user”-ku dan dia memang berhak melakukan apa pun yang berkaitan
dengan “medis”. Memeriksa masalah dia secara teknis termasuk ke dalam pemeriksaan
medis. Ada kemungkinan, yang terjadi di kamar itu mungkin akan terjadi lagi di
masa depan. Yang paling kubenci dalam masalah ini adalah ....
... aku tidak merasa ingin menolak ide itu.
Sejatinya, kalau Bondan mau ngewe, ya aku pun ....
“Mas? Ada yang nyari.” Nadhif tiba-tiba melongokkan kepala
dari balik tirai, beberapa saat setelah Bondan pergi.
Aku terlonjak kecil karena kaget, lalu aku menguasai diriku
sendiri. “Siapa?”
Nadhif tidak menjawab. Dia malah mundur untuk mempersilakanku
menemuinya secara langsung.
Aku berjalan keluar dari ruang pemeriksaan dan menemukan ....
... Deva, sedang berdiri di depan station-ku.
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
Ini benar-benar akhir episode ini ya, Kak.
Aku berdiri membeku melihat homo sialan itu dengan santainya
tersenyum kepadaku. Lalu dia mengangkat sekantung plastik Hoka-Hoka Bento. Dan
dia mengatakan, “Aku bawa lunch buat kamu, Beb! Nih!”
Rasanya hidupku hancur seketika.
Deva dengan cengengesan menyenggol Wandi dan berkata, “Tuh,
udah gue bilang, gue kenal ama si Rohmat. Gue deket ama dia. Weeek!”
FUCK!
[ ... ]
22A. Daddy-Daddy Pujaan Para Boti | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 23. Capek Gue Sange Mulu (Shorter)
Komentar
Posting Komentar