(HD) 22C. Soalnya K****l Fian Tuh ....




Halo, Kak!

Sebelum aku lanjut, akan kurekap dengan sangat-sangat singkat tentang apa yang terjadi setelah kutemukan Pak Guntur terikat di atas ranjang.

Aku ngewe dengan Pak Guntur.

Aku memainkan tubuhnya, lalu aku ngewe.

Alasannya karena aku frustrasi pada Fian yang tak kunjung memberikan kejelasan, tetapi dia sudah menciumku dengan romantis dua kali dalam 24 jam terakhir. Jadi, aku ngewe dengan Pak Guntur sambil membayangkan Fian untuk melampiaskan frustrasiku. Namun apa yang dikatakan Pak Guntur saat dia crot?

Dia menyebut nama Ezel.

Ternyata, Ezel yang jatuh cinta pada Fian itu ngewe juga dengan pemilik kosannya. Mungkin lebih dari sekali. Aku enggak tahu. Tapi dari cerita Pak Guntur saat aku memainkan tubuhnya, kayaknya Ezel demen banget sama Pak Guntur.

Usai Pak Guntur crot, aku enggak men-crot-kan diri. Aku turun dari tempat tidur dan mandi. Mendengar nama Ezel disebut Pak Guntur membuat perasaanku kacau balau. Aku enggak bisa mencernanya dalam kondisi seperti ini. Aku mengenakan lagi pakaianku dan pergi dari kamar itu sambil me-WhatsApp Ida. Aku pulang ke kosanku naik angkot agar aku bisa duduk melamun menatap ke luar jendela.

Sesampainya di kosan, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku diam di kamarku, melamun, kemudian aku ketiduran.

Pukul 10 malam, Ida menelepon dan membangunkanku.

“Turun, Cong! Gue bawa bebek goreng. Mau kagak?”

Aku masih mengerjapkan mata dan mencerna apa yang sedang terjadi. Namun dengan kilat aku menjawab, “Iya, bentar.”

Aku turun ke bawah mengenakan celana pendek dan kaus kutang yang biasa kupakai tidur. Kurasa aku belum makan. Santapan terakhir yang masuk ke perutku adalah “makanan BDSM” yang kulumat dari kontol Pak Guntur, yang kulumat bersama keringat Pak Guntur.

Ketika aku tiba di lantai dua, pintu kamar Ida terbuka setengah. Kulihat Ida sedang membereskan sesuatu di dalamnya. Aku langsung memberondong masuk dengan asumsi tak ada tamu apa pun di dalam. Dan, memang tidak ada.

“Tutup pintunya, Shay. Gue mau nyalain AC.”

Aku menutup pintu dan langsung duduk di atas karpet samping tempat tidur. Ida menyajikan seporsi bebek goreng favoritku, lengkap dengan nasi, tahu goreng, dan sambal merahnya yang menyengat. Namun hal pertama yang Ida berikan kepadaku adalah sehelai amplop.

“Apa ini?” tanyaku sambil membolak-balik amplop cokelat persegi panjang.

“Janji gue kan 50:50,” kata Ida, masih membuka bungkusan bebek goreng satu lagi. “Berapa pun yang gue dapat dari klien gue tadi, gue bakal ngasih setengahnya buat elo.”

Aku membuka amplop itu. Isinya ....

....

... sepuluh lembar uang 50 ribu rupiah ....

....

Aku membeku sejenak. “Setengah juta banget, nih?”

Ida mengangguk dan bergabung bersamaku di atas karpet. “Dia ngasih gue sejuta. Harusnya enggak segitu, sih. Ini tips-nya gede banget, anjir.”

“Biasanya berapa?”

“Empat ratus, lah. Paling gede lima ratus.”

Aku membelalak. “Jadi ... gue officially jadi lonte, nih?”

“Lah, bukannya elo lonte dari dulu?”

“Anjing!” Aku menyurungkan kepala Ida hingga dia hampir terjengkang menghantam lemari di belakangnya.

Ida terkekeh. “Dia puas banget ama elu, anjing! Lu apain, sih? Sampe kencing ke kasur segala! Hahaha ....”

“Ya biasa ..., kalau gue ngewe ama homo,” kataku. Lalu aku menceritakan dengan singkat highlight dari ngewe-ku bersama Pak Guntur. Ida sempat berkomentar bahwa semua hal yang kulakukan harusnya sama dengan yang Ida lakukan. Namun Ida bilang Pak Guntur merasa servisnya jauh lebih enak dibandingkan biasanya. Ida enggak merasa jealous. Sejak awal, Ida enggak begitu pengin melayani Pak Guntur. Soalnya, kontol Pak Guntur kecil. Ida sukanya yang seperti rudal. Dia juga bilang, kalau kontol gede, Ida bisa jadi ngasih servis terapi gratis.

Kuakhiri obrolan itu dengan berkata, “Gue kenal ama yang tadi.”

Ida yang sedang mengunyah bebeknya sepanjang aku bercerita, mengerutkan alis. “Kenal?”

“Namanya Guntur.”

Ida membelalak. “Dia ngasih tahu elu?”

Aku menggelengkan kepala. “Minggu kemaren gue ketemu dia waktu nemenin Fian nyari kosan buat calon taruna.”

“Terus?”

“Ya ... dia yang punya kosan.”

“Kosan?!” Ida terkekeh takjub tak percaya. “Jadi bisnis propertinya tuh kosan?”

Aku mengangguk sembari menyuap sepotong bebek dan nasi ke mulutku.

“Ngomong dia kayak yang tinggi, anjir!” sahut Ida. Satu nasi melompat keluar karena dia bicara sambil mengunyah. “Gue pikir Agung Podolmoro atau Agung Kemayu Group atau apa gitu.”

Aku mengangkat bahu. “Ya mungkin dia punya bisnis properti lain. Yang pasti dia punya kosan gitu. Dekat sini, kok. Di simpang sana.”

“Hmmm ... pantesan dia ngajak ketemu di hotel yang jauh. Nolak terus gue ajak ke kosan gue. Biar kagak ketahuan bininya kali, ya?”

Maybe.” Aku menyobek lagi daging bebek dan mencoleknya ke sambal merah. “Gue juga kenal salah satu ‘klien’ yang sering ngewe ama dia.”

“Cowok apa cewek?”

“Cowok.”

“Tuh, kan.” Ida menelan dulu kunyahan di mulutnya. “Gue rada curiga ama cerita dia. Soalnya dia kagak pernah nyebut nama, tapi dari cara dia ngedeskripsiin si klien-klien ini ... kok kayak ngewe ama boti, anjir. Hampir enggak pernah dia bahas soal toket. Kan rada-rada mustahil, ya. Kalau dia ngewe ama cewek, persoalan toket pasti jadi topik utama selain memek!”

Aku mengangkat bahu, tak mau berkomentar. Selama beberapa saat, kami terdiam untuk menandaskan bebek goreng itu. Begitu habis, Ida mengajakku bicara lagi.

Sorry kalau gue maksa elo kayak barusan,” ungkap Ida tulus. Dia bangkit untuk mencuci tangan. “Kerjaan gue emang kayak lonte. Sebagian besar beneran ngewe ama klien dengan kedok terapi seks. Tapi beneran, Cong, gue sebenarnya sex therapist. Gue lulusan S1 Psikologi.”

“Enggak percaya gue.”

“Ya gapapa.” Ida benar-benar tak peduli. “Gue kebetulan punya ilmu-ilmu nipu orang dengan kedok terapi—karena gue kuliahnya psikologi. Terus gue emang suka ama kontol. Jadi gue bikin jasa terapi. Supaya kagak digerebek juga. Supaya legal.”

“Terus kenapa elo masih ngekos di sini? Cari kosan yang kamar mandi dalam, kek?”

“Gue lagi ngumpulin duit, Cong!” Ida duduk lagi di sampingku sambil membereskan sisa makan kami. “Gue males ngabisin duit di kosan bagus. Ini aja, udah cukup. Perkara mandi doang mah kagak apa-apa. Selain bayarin utang-utang keluarga, gue juga pengin bikin rumah.”

“Biar bisa buka praktik sekalian, di rumah?”

“Hahaha ... di kosan ini juga gue udah buka praktik, anjir! Hahaha!” Ida melemparkan gulungan tisu ke wajahku lalu menyodorkan air minum. “Gue kan kagak punya kerjaan tetap, Bencong. Gue kagak bisa kredit KPR. Jadi kalau mau beli rumah, duitnya harus udah ada kontan. Cash.”

Aku menyesap minumanku sampai habis. Sedari tadi aku tak tahan untuk tidak menanyakan ini ke Ida.

“Jadi ... si Fian itu ..., klien elu juga?”

Ida menyandarkan kepalanya ke tepian ranjang, lalu membuka ponsel. “Ho-oh.”

“Dia ... konsultasi ama elu?”

“Dia jualan ayam geprek ama gue.”

“Anjing!”

“Ya apa lagi, Bencong?!” Ida menyorongkan dahiku. “Semua urusan gue ama cowok pasti urusan terapi. Kalau cowoknya modal gede, mereka biasanya buka Oyo. Kalau yang pas-pasan kayak si Fian, mereka datang ke sini.”

Aku menghela napas. Inginnya aku tersenyum, tetapi kutahan-tahan. Agak lega setelah tahu bahwa Fian bukan “pacaran” dengan Ida. Soalnya selama ini kupikir dia dekat karena jatuh cinta atau apa gitu.

Agak hati-hati aku menanyakan pertanyaan berikut, tanpa terdengar kepo banget. “Terus ... si Fian itu ... terapi apa ama elo?”

“Lu suka ya ama dia?” tembak Ida.

“Enggaaakkk ..., ih!” kelitku.

Detik itu, rasanya jantungku copot dan nyawaku melayang. Membagi info tentang siapa yang kusuka biasanya bukan style-ku bareng lonte satu ini. Aku hanya cerita soal kehidupanku sebagai homo. Siapa yang kutemui di aplikasi, bagaimana kencanku, bagaimana ngewe-ku, dan bagaimana drama perhomoan di kota ini. Belum pernah aku membahas siapa yang “kusuka”. Ketika Ida menembakku begitu, kok rasanya deg-degan, ya.

“Terus ngapain nanya-nanya?”

“Ya kepo aja, anjing! Kan gue kenal dia. Gue kerja ama dia sekarang, di medical check up akmil. Kalau dia ada masalah seks sampe harus konsul ama elo, ya gue penasaran!” Kudorong kepala Ida hingga dahinya membentur tepi ranjang.

Duk!

“AAAWWW ...!!!”

“Sori, sori, sori!” Buru-buru aku menarik Ida agar bangkit dan mengusap-usap dahinya. Kalau Ida sampai meninggoy, nanti aku enggak bisa dapat info lebih akurat soal Fian.

“Pelan-pelan aja anjing! Lu makin sini ngedorong gue kayak mau bunuh gue. Kalau GR ya GR aja.”

“Enggak, ih!” Aku mendengus dan langsung mengangkat hape-ku untuk mengalihkan perhatian.

Setelah Ida mengusap-usap keningnya, dia menjawab pertanyaanku. “Gue enggak bisa jawab.”

Yang ternyata tidak menjawab pertanyaanku.

“Kenapa?”

“Kan gue udah bilang, confederation.”

Confidential, goblok!” Tanganku sudah gemas ingin menjambak rambut Ida lalu membenturkan kepalanya ke tepian ranjang sampai berdarah-darah.

“Itu rahasia klien. Gue enggak bisa sebar begitu aja.”

“Tadi rahasia si Guntur lu kasih ke gue seenaknya.”

“Ya kan lu lagi mau bantu gue, Bencong!” Ida mendorong kepalaku dengan gemas. “Kalau gue bilang gue ini terapis, kayak terapinya psikolog, itu gue serius. Semua masalah klien gue itu rahasia. Kagak boleh gue sebar ke mana-mana.”

“Ya kan bisa nyebutin garis besarnya. Kenapa orang kayak Fian yang segar bugar, fit, kekar, ganteng, punya masalah seks ...?”

“Emang yang segar bugar dan ganteng enggak bisa punya masalah seks?”

“Yaaa ... bisa. Tapi, kan—“

“Udah!” Ida menyurungkan kepalaku lagi. “Elo enggak perlu tahu. Itu rahasia gue ama dia.”

Aku mendengus kesal. Aku enggak puas dengan jawaban Ida. Jadi aku memancingnya, “Dia ... impoten, ya?”

“Bukan urusan elu.” Ida menyilangkan tangan di depan dada. Dia bahkan memunggungiku sambil membuka ponsel dan membalas Whatsapp dari Mas Rudal.

“Perkakasnya cilik, ya?”

No comment.

Aku menelan ludah. “Kontolnya dua?”

“Anjing!” Ida menoleh lalu terkekeh. “Terus kenapa kalau dua? Biar kita kebagian masing-masing buat nyepong dia?! Hahaha!”

“Ya apa, dong?” Aku mendengus lagi. “Sering banget kalian ketemuan. Sampe nginep-nginep segala! Emang enggak sembuh-sembuh masalah dia setelah terapi ama elo?”

“Ya biarin aja, anjing. Yang penting gue masih bisa mainin rudal dia.”

“Ya berarti lo enggak kredibel buat bantu orang! Elo bukan solusi!”

“Ya biarin!” Ida menjulurkan lidahnya keluar. “Yang penting dia nyaman. Dia bayar. Dia berprogres. Udah, bencong, enggak usah maksa-maksa.”

“Ya kan kalau gue tahu dia ada masalah apa ..., siapa tahu gue bisa bantu.”

“Enggak bisa. Enggak akan bisa,” sergah Ida dengan tegas. “Dan gue enggak akan bilang sampai kapan pun. Lonte juga gue pandai menjaga rahasia.”

“Anjing! Padahal semua kontol yang elo sepong, elo foto, terus elo tunjukin ke gue!”

“Ya tapi kan gue enggak nunjukin mukanya.”

“Jangan-jangan elo punya foto kontolnya si Fian.”

“Ya ada, dong! Gue bikin folder sendiri khusus kontol Fian! Dari lemes, setengah bangun, berdiri tegak, sikap sempurna, sampai lepas landas! Gue foto semua momen indahnya. Gue abadikan. Soalnya kontol Fian tuh ....” Tiba-tiba Ida berhenti ngomong. Seakan-akan dia teringat bahwa enggak seharusnya dia membahas itu.

“Apa?”

“Enggak.”

“Kenapa kontol si Fian?”

“Elo mau lihat fotonya?”

Aku sudah membuka mulut untuk menjawab iya, tetapi aku menutupnya lagi.

Memangnya aku siap?

Enggak. Aku enggak siap.

Kalau aku siap melihat kontol Fian, aku akan melihatnya sejak tempo hari—sewaktu Fian menginap di kamarku. Kalau aku siap melihat kontol Fian, aku akan melihatnya kemarin, saat dia berganti baju di depanku, di kamar Fian. Kalau aku betulan siap melihatnya, aku akan melihatnya pagi tadi sewaktu dia menantang Davin bahwa dia bisa ngaceng kalau aku kocokin.

Aku belum siap.

Jadi, aku menggelengkan kepala.

“Yakin?” Ida menyipitkan matanya.

Dengan berat hati aku mengangguk. Rasanya lemas karena aku masih belum mampu melihat kontol Fian.

“Gue juga enggak bakal ngasih, sih.”

“Sialan!”

“Gue tahu elo demen ama dia. Kalian hang out ke mana-mana berdua. Kemaren aja kan dia ke kamar elo dulu sebelum ke kamar gue. Tapi gue bukan cepu. Rahasia dia yang disimpan di gue, ya tetep jadi rahasia.” Ida menjulurkan lidahnya, lalu beranjak menuju lemari. Dia mengeluarkan sekantung plastik besar sugar waxing. “Betewe, nih, tiga lusin sugar waxing—“

“Tiga kotak aja, anjir!”

“Gapapa. Elo simpan dulu aja di kamar. Kayaknya jualan di elo lebih cepet laku daripada gue jualan sendiri.”

Itu karena Xavier memborongnya.

Aku menerima tiga lusin sugar waxing Ida. Aku tidak punya energi lagi untuk mendebatnya karena tujuan utamaku saat ini hanyalah mencari tahu apa isu Fian sampai harus konsultasi dengan Ida. Aku senang sih mengetahui dia bukanlah pacar Ida. Aku tahu, Ida sudah menikmati kontolnya. Gapapa. Tapi seenggaknya, Ida bukanlah hambatan utamaku mendapatkan Fian.

Hambatan utamaku ya ....

... Fian itu sendiri.

Dia yang mencipokku. Dia juga yang meninggalkanku dalam tanda tanya!


[ ... ]


Hingga batch kedua keesokan harinya, aku belum bertemu Fian sama sekali.

Aku datang seperti biasa ke aula dan disambut Nadhif untuk persiapan. Aku sempat bertemu dr. Sigit untuk membahas siapa saja yang akan kuperiksa hari ini. Katanya, dari pemeriksaan kemarin, ada 47 calon taruna yang lolos. Sehingga, akan ada 47 bool yang kumainkan untuk diambil cairan prostatnya. Dr. Sigit juga memberiku kisi-kisi soal 47 calon taruna ini dan meminta mengecek lebih dalam pada beberapa nama.

Ketika calon taruna pertama muncul untuk kuperiksa, aku masih belum bertemu Fian.

Pada istirahat pertama, Fian juga tidak muncul. Aku malah bertemu Fariq di kamar mandi aula, sewaktu aku mencuci tangan.

“Hey! Aman hari ini?” sapanya ramah. Dia sudah mengambil kotak konsumsinya dan dengan sengaja membawanya ke kamar mandi sambil cuci tangan.

“Iya,” jawabku sekenanya.

“Hari ini aku nemu tiga orang reaktif, dong. HIV. Terus satu ada yang sifilis juga.”

“Itu kan informasi rahasia,” kataku.

“Aku kan enggak nyebut nama.” Fariq mengedipkan matanya.

Anjing, lah. Kenapa sih aku harus ketemu dia?

“Gimana station-mu? Pada crot semua?”

“Bukan urusanmu.” Aku tersenyum lebar dengan vibes sinis. Kupercepat cuci tanganku agar segera pergi dari situ.

“Kasihan Fian harus lembur semalaman,” kata Fariq tiba-tiba.

Aku berhenti menggosok tanganku.

“Ada problem di management. Dia harus handle masalah gitu. Chaos, katanya.”

“Tahu dari mana?”

Fariq menoleh dan membelalak. “Emang dia enggak ngasih tahu kamu?”

“Nga ... ngasih!”

Aku menelan ludah. Fian enggak ngasih info apa pun. Sejak sore kemarin, Fian hanya me-WhatsApp-ku untuk hal-hal umum. Misal, Sudah sampai kosan? Sudah makan? Sudah tidur? Sudah bangun? Sudah OTW ke akmil? Namun tak ada tanggapan berarti dari Fian. Kuasumsikan dia memang sedang sibuk. Jadi aku enggak boong-boong banget. Aku yakin Fian sedang handle sebuah masalah, makanya dia enggak nelepon dan enggak WhatsApp lebih lanjut.

“Gila, emang. Ternyata di TNI pun ada orang-orang kayak gitu!”

Aku hanya tersenyum kecil. “I ... iya.” Aku sama sekali enggak tahu konteksnya.

“Aku pikir kalau instansi kayak TNI, enggak akan lah ada oknumnya. Kalau polisi mungkin ..., yah ..., se-Indonesia juga tahu reputasinya gimana. Kalau TNI kan, paling, you know lah .... Paling halo dek halo deknya doang yang ganggu.”

Aku merasa bete karena aku enggak tahu apa yang dibicarakan Fariq. Aku makin bete ketika menyadari Fian memberi tahu Fariq. Tapi lebih bete lagi karena Fariq menjelek-jelekkan halo dek. Aku tuh baper banget setiap Fian menyapaku, “Halo, Dek!” berasa sedang dipanggil malaikat penjaga pintu surga.

“Iya,” jawabku lagi. Pendek.

“Kamu ikutan badminton hari ini?”

Fuck. Si Fariq pun tahu soal badminton!

“Ikut!” sergahku segera. Untuk menunjukkan aku dilibatkan Fian dalam hal ini.

“Aku enggak bisa ikut,” kata Fariq sambil mendesah kecewa. Dia menarik tisu di sebelah cermin lalu mengelap tangannya. “Aku hari ini ada janji nonton ama teman-temen SMA-ku. Tolong bilangin Fian ama yang lain ya, aku enggak bisa gabung.”

“Hmmm ....”

Lalu Fariq mulai membahas tentang film yang akan dia tonton, tetapi aku sudah tidak mendengarkan. Kami berjalan lagi ke aula. Untungnya kami berpisah di pintu depan karena aku harus mengambil kotak konsumsiku sementara Fariq harus kembali ke station-nya. 

Istirahat kedua, aku masih belum bertemu Fian. Aku sempat me-WhatsApp-nya. Di mana? Namun belum ada balasan. Aku mengambil kotak makan siangku bersama Nadhif. Dia langsung bergabung bersama teman-teman tentaranya, sementara aku berencana kembali ke station-ku.

Di situ pun, aku masih belum bertemu Fian. Jangankan bertemu, melihat batang kontolnya saja tidak.

Batang hidung, maksudku.

Aku enggak merasakan kehadiran Fian sama sekali. Seolah-olah Fian enggak ada di sini. Aku mengedarkan pandanganku ke lapangan, sampai hampir menabrak seorang tentara yang berjalan di koridor. Aku juga tak fokus pada tugasku, kebanyakan menengok ke luar, berharap Fian muncul. Eh, aku malah membuat seorang calon taruna crot dua kali karena keenakan. Aku lebih banyak pergi ke toilet hari ini dengan harapan bisa melihat suasana di aula, siapa tahu ada Fian sedang mondar-mandir di sana. Soalnya station-ku kan agak-agak 3T, ya. Tersembunyi, Terbelakang, dan Terluar. Pokoknya terisolasi dari mana-mana. Station terdekat ya station-ku selumbari, waktu mengecek kontol para calon taruna.

Namun setelah aku bolak-balik koridor aula pun, aku masih belum bertemu Fian.

Yang kutemukan siapa, coba?

....

Xavier.

Setelah aku menghabiskan makan siangku, aku berjalan ke luar aula untuk membuang sampah. Rencananya aku mau cuci tangan juga sembari mengedarkan lagi pandangan mencari sosok Fian. Di koridor, seorang calon taruna menyambar tanganku dan menarikku ke belakang aula. Sosok itu mengenakan jaket dan topi. Aku diseret hingga cukup jauh, tepatnya ke sebuah gedung sepi di dekat gedung asrama yang sedang dibangun.

Dari jaketnya aku tahu itu Xavier. Karena ini adalah jaket yang ditemukan Fian di kamarku dua malam lalu.

“Woi! Jangan sombong, lu!” hardik Xavier begitu kami tersembunyi dari semua orang.

Lokasi itu benar-benar sepi. Semua kegiatan tentara ada di bagian lain area ini. Sementara di sisi lain hanya ada aktivitas para kuli macho menyelesaikan gedung asrama.

“Ngapain bawa aku ke sini?!” hardikku sambil menghalau tangan Xavier yang mencengkeram lenganku terus-menerus.

“Gimana tes si Davin kemaren?” Xavier terdengar panik.

“Mana kutahu. Kan yang meriksa bukan aku.”

“Lah! Bukannya elo yang meriksa di sini, kemaren?!”

“Aku cuma ngambil sampel. Yang meriksa ya orang lab di klinikku.”

Xavier mendengus kesal. “Davin bilang elo ngasih tahu dia kalau dia punya hepatitis.”

“Mana ada!” Aku mendorong dada Xavier dengan jantan. “Aku cuma nyuruh dia periksa lebih lanjut. Soalnya aku bukan dokter. Diagnosaku bisa salah.”

“Terus, hasil tesnya gimana? Bisa lo tuker?”

“Enggak, lah! Hasil tesnya udah di klinik. Aku enggak bisa ngapa-ngapain lagi sama hasil tesnya.”

“Udah dicek ama petugas labnya?”

“Mana kutahu!”

Xavier berdecak seraya berkacak pinggang. Dia cemberut bete. Mukanya gemesin kalau cemberut gitu—kayak anak kecil. Tapi dia seriusan bad mood.

“Gue kagak bisa masuk sini kalau dia enggak masuk juga,” gumam Xavier sedih.

“Ya udah enggak usah masuk sini.”

“Anjing!” Xavier menjitakku. “Si Davin brother gue!”

“Ya kalian kok brother malah penyakitan!” Aku mendengus. “Kamu juga harusnya cek lebih lanjut. Punya varikokel atau enggak? Kalau punya, kamu harus operasi—“

“Iyaaa ...!” Xavier tiba-tiba membekap mulutku. Dia mendorongku juga. Memperlakukanku seolah-olah aku seorang lelaki “normal”. Lelaki yang sesama boti enggak akan bersikap kasar kayak begini.

“Gue kayaknya lulus.” Xavier menarik napas panjang. “Gue lanjut tahap berikutnya. Tinggal si Davin yang belum. Dan semua tergantung elo.”

“Enggak, lah. Semua tergantung dia sendiri. Kalau dia sakit, ya dia sakit.”

“Besok sore gue ama Davin mau nyamperin lo. Oke?”

“Enggak.”

“Ke kosan.”

“Enggak usah.”

“Kita threesome. Yang penting lo bantu si Davin lolos tes kesehatan.”

“Enggak perluuu!” Aku mendorong dada Xavier, mencoba bersikap kasar seperti apa yang Xavier lakukan kepadaku. Namun, alih-alih tubuhnya terdorong, Xavier malah tetap berdiri tegak, sementara aku terdorong mundur ke belakang. Bahkan, punggungku menabrak dinding di belakang. “Aw!”

“Lu pasti suka si Davin.”

“Enggak,” jawabku keukeuh.

“Kontolnya panjang.”

“Udah lihat.”

“Dia kalau main ..., hardcore. Lu bisa nagih minta ditusuk semalaman.”

“Enggak mungkin.” Aku memutar bola mata.

“Karena gue juga ada di situ, kita bisa double-in elo.”

“Enggak mau!”

“Jadi double tuh, lubang elo diisi sama dua bur—“

“Aku tahuuu!” Kucubit bibir Xavier agar diam.

Hmmmph!

“Aku tetep enggak mau.”

Xavier mengusap-usap bibirnya. “Ngapain megang-megang bibir gue? Mau cium, ya?”

“Enggak, lah!”

Namun Xavier tetap pada kesimpulannya bahwa aku ingin menciumnya. Soalnya, Xavier tiba-tiba nyosor ke arahku, mencoba mencumbuku.

Tentu saja aku menghindar dan mendorong.

Dan, seperti kejadian kemarin-kemarin, seseorang muncul di depan kami.

Suara langkah kakinya terdengar jelas ketika sosok itu berada dekat dengan tempat kami bersembunyi.

Tepat ketika Xavier nyosor, sosok itu sudah berada di belokan.

Sosok itu adalah ....

... Fian.

“Dek?”

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

Tenang aja. Itu bukan akhir episode ini. Wkwkwk.

Udah bosan juga kita ganti part pas Xavier atau Davin lagi mau menjamahku. Ku-WhatsApp jutaan kali, kucari ke sana kemari, Fian enggak kelihatan batang hidungnya. Tapi kalau aku mau beradegan intim dengan para calon taruna, Fian bisa muncul tiba-tiba. Sudah hampir seperti hujan. Begitu kita cuci motor, hujan datang.

Untungnya memang aku mendorong Xavier hingga dia mundur dan ber-social distancing denganku. Untungnya tenagaku cukup kuat untuk membuat Xavier berjarak dua meter saja. Soalnya, Fian muncul bersama tiga orang tentara lain dari arah pembangunan asrama. Keempat orang itu menoleh saat melewati lorong tempat kami bersembunyi, tetapi Fian otomatis berhenti.

“Dek?” Dia menoleh ke arahku, lalu ke arah Xavier yang sedang menyeimbangkan diri agar tidak tersungkur.

Mendapati ada empat tentara lewat di depan kami, Xavier langsung berdiri tegak seperti seorang tentara. Kedua tangannya rapat di samping tubuhnya. Dada membusung. Pandangan lurus ke depan.

Keempat tentara itu berhenti sebentar, tetapi Fian langsung menginstruksikan agar tiga yang lain melanjutkan perjalanan. “Duluan aja. Entar saya nyusul.” Fian menghampiri kami berdua. “Lagi apa kalian di sini?”

Aku membelalak kecil. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

Xavier sama paniknya. Tiba-tiba saja aku bisa melihat pelipisnya lembap, seperti akan merembeskan keringat. Jakun Xavier bergerak. Dia menelan ludah. Mulutnya sudah membuka kecil untuk menjawab.

Kulihat Fian menatap jaket bomber yang dikenakan Xavier.

Sebelum Fian bertanya macam-macam, aku langsung menyerobot pikirannya dengan berkata, “Lagi ngembaliin jaket!” sahutku, terlalu antusias.

Fian mengamati lagi jaket bomber itu baik-baik, lalu menoleh ke arahku. “Enggak jadi dibuang?”

“Di ... dia .... Dia kemarin nanyain ke aku soal jaket, jadi hari ini aku ..., aku bawa buat dia.”

Fian menoleh lagi ke arah Xavier. Dengan rahang mengeras, Fian bertanya ke Xavier, “Benar begitu?”

“Siap, benar!” jawab Xavier lantang.

Fian menatap lagi Xavier atas-bawah, kemudian mengangguk kecil. “Kembali ke posmu. Sebentar lagi apel.”

“Siap, laksanakan!” Xavier pun pergi dari situ dengan jalan baris-berbaris yang awkward.

Begitu Xavier lenyap, Fian menarik napas panjang dan melorotkan bahunya. Dia kelihatan kayak depresi. Wajahnya pucat, matanya berkantung, dan aromanya ... Fian seperti belum mandi.

Sorry Abang enggak bisa ngabarin Adek,” katanya. Dia celingukan ke sana kemari, memastikan tak ada yang melihat kami mengobrol berdua dengan santai. “Semalam ada masalah besar. Abang harus selesaiin secepatnya. Sampe sekarang belum ketemu solusinya.”

“Iya. Enggak apa-apa.”

Toh, aku sudah tahu kisi-kisinya dari Fariq, Bang, lanjutku dalam hati.

Fian menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu memijat pelipisnya sejenak. Setelah merasa baikan, Fian menarik napas panjang dan mencoba tersenyum tegar. Kayaknya masalah ini besar banget dan dia belum ketemu solusinya. Aku bisa maklum misal dia belum menjawab WhatsApp-ku. Atau dia enggak kelihatan di mana-mana. (Atau dia enggak menjelaskan status kami ini apa setelah dua ciuman itu.)

“Abang juga harus ngasih tahu satu hal sama Adek ...,” lanjut Fian, menolehku dengan wajah cemas.

Bahwa kita gagal menikah, Bang?

“A ... apa?”

“Abang dialihtugaskan.”

Aku terpana.

Fian menarik napas panjang lagi sebelum menjelaskan. “Ada masalah besar di internal dan Abang ditarik sama atasan buat bantu nyelesaiin masalah ini. Abang enggak bisa cerita masalahnnya apa. Maaf. Tapi posisi koordinator medical check up jadi lowong dan atasan udah nentuin siapa yang bakal nempatin posisi itu sampai med check selesai.”

“Oh .... Oke.”

“Tolong Adek hati-hati sama orang ini, ya.”

Aku mengerutkan alisnya. “I ... iya.” Dalam kepalaku langsung terbayang seorang tentara bengis setara Nazi yang siap membumihanguskan perawat mana pun yang tidak patuh kepadanya.

“Kalau Adek enggak nyaman sama dia, WhatsApp Abang aja.”

“Iya.”

“Kalau dia menekan Adek, bikin Adek merasa terintimidasi, lapor sama Abang.”

Aku menelan ludah. Belum apa-apa aku sudah keder menghadapi pengganti Fian nanti.

“Iya ...,” kataku lemas.

“Abang belum tidur ..., belum istirahat ..., belum mandi,” gumam Fian lemas. Dia mengendus keteknya sendiri. Yang, to be fair, semua homo sedunia bakal sepakat aromanya enak.

“Jangan lupa makan,” kataku.

“Iya, Dek.” Fian menatap jam di pergelangan tangannya. Dia menghela napas dan langsung merangkulkan lengannya yang kekar ke bahuku. “Abang harus balik lagi ke pos.”

Wajahku berada dekat dengan ketek Fian. Dari balik seragam tentaranya yang tebal itu, aku mencium aroma yang jauh lebih memikat dibandingkan keteknya Pak Guntur kemarin sore.

Ketek Fian adalah poppers alami nomor satu yang pernah kuhidu.

Lututku langsung lemas ketika berjalan berjejer bersama Fian kembali ke aula. Kalau aku menikah dengan Fian (berandai-andai saja), akan kupastikan Fian mandi setiap jam supaya aku enggak terlena dengan aroma badannya yang merasuk sukma ini. Jalanku jadi ngangkang, berasa siap diperkosa Fian.

“Orangnya udah di-inform buat datang ke aula. Mungkin Adek bakal nemu dia keliling setiap station buat mantau,” ungkap Fian.

“Iya, Bang.”

“Nanti badminton Adek ikut, kan?”

“Abang ikut enggak?”

“Disuruh ikut,” jawab Fian. “Disuruh istirahat juga malam ini.”

“Oke. Kalau gitu aku ikut. Aku udah bawa baju ganti.”

“Kalau entar sore ..., sama Capt. Harja?”

“Aku udah bawa waxing-nya.”

Fian mengangguk. Dia mengusap-usap bahuku, sebelum akhirnya melepaskan rangkulan itu mendekati aula. Kami berjalan bersisian dengan canggung. “Nanti Abang jemput kalau Adek sudah selesai sama mereka, ya.”

“Iya.”

Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Fian, yang tak bisa diungkap bebas kepadaku karena menyangkut pertahanan negara. Aku paham soal itu. Namun pertemuan kami yang singkat ini terasa awkward. Aku enggak bisa bebas mengungkapkan apa yang ingin kuungkapkan. Salah satunya soal WhatsApp dari Deva kemarin siang. Harusnya aku membahas itu dengan Fian. Harusnya Fian melanjutkan diskusi itu denganku. Tapi enggak.

Kami berdua hanya berjalan menyusuri jalur setapak dari gedung ke gedung, tanpa ada pembicaraan apa pun.

Aku tidak tahu apakah Fian tidak menganggap Deva sebagai ancaman, atau dia sedang menundanya karena harus menangani masalah besar yang lain dulu. Aku tidak tahu apakah dia memercayai kata-kata Deva atau menganggap itu omong kosong belaka. Kuharap Fian tidak menanggapi Deva dengan serius.

Membayangkan kata-kata Deva ke Fian kemarin membuat perutku mulas.

“Oh iya, omong-omong ....” Fian menoleh ke belakang, beberapa saat sebelum kami tiba di aula. “Ngapain kalian berduaan di sana tadi? Mau mesum, ya?”

Jantungku berhenti berdetak. Aku membelalak dan tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

“Coba jujur,” kata Fian, berhenti melangkah dan memegang kedua bahuku, menatapku dengan pandangan serius nan intimidatif, lalu bertanya, “untuk apa kalian berdua pergi ke sana?”

Aku menelan ludah.

Lututku gemetar.

Jantungku berdegup kencang.

Kurasa aku ....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

... sabar, Kak. Sabar. Yang barusan bukan akhir episode ini.

Memang aku panik saat mendengar pertanyaan itu, tetapi aku sudah lebih lihai dalam berkelit. “Aku ngejar kucing sampe ke asrama. Yang punya jaket nanya di mana, ya udah ketemuan di sana. Di tengah-tengah.”

“Oh.”

Aku beruntung Fian tidak menanyakan soal itu lebih lanjut. Kayaknya masalah internal ini jauh lebih krusial dibandingkan mengapa aku berduaan dengan Xavier di tempat tersembunyi.

Aku dan Fian berpisah di aula. Aku kembali ke station-ku untuk memulai batch berikutnya.

Nadhif menyapaku di pintu masuk station. “Koordinator baru ada di dalam, Mas.”

Aku membelalak. “Nga ... ngapain?”

“Siap, menunggu Mas Rohmat di dalam. Mau nanya progres.”

Aku menelan ludah. “O ... oke.” Aku merapikan rambut dan mengenakan jas perawatku yang kusampirkan di sandaran kursi. Ketika aku berjalan masuk, seseorang sedang duduk di atas dipan. Dia memunggungiku.

Sosok itu mengenakan seragam loreng seperti Fian. Bahunya lebar. Badannya bongsor. Rambut cepak. Hampir seperti Fian, tetapi dia lebih berisi.

Dengan hati-hati aku menyapanya. “Siang, Pak.”

Sosok itu pun menoleh.

Dan dia adalah ....

... Bondan.

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

Belum. Belum selesai episodenya.

“Hey,” sapanya, dengan suara berat, tetapi pelan. Bondan mengintip ke belakangku, memastikan Nadhif atau siapa pun tidak ada yang mendengarkan kami. “Gue disuruh gantiin si Fian.”

Aku mengangguk lemas dan menghampirinya. “Iya. Bang Fian juga udah ngasih tahu.” Aku mengambil kursi dekat kontainer kriopreservasi, lalu menyeretnya agak jauh dari Bondan. Aku duduk di atasnya dengan posisi punggung kursi di depanku—seolah-olah menunjukkan sikap defensif.

Bondan menarik napas. “Jangan takut ama gue,” mulainya, setelah sekali lagi memastikan tak ada yang mendengar kami. “Sorry kemaren gue maksa elo kayak gitu.”

“Iya.”

“Gue lagi panik.” Bondan menggaruk kepalanya yang cepak. “Gue baru ngeh, elo kayaknya bisa bantu gue nyari solusi buat masalah gue—“

“Aku enggak bisa, Bang,” tegasku sekali lagi. “Aku cuma perawat. Aku enggak kuliah kedokteran, apalagi sampai spesialisasi ke situ. Kebetulan aja aku rajin baca-baca soal medis karena itu berkaitan sama kerjaanku juga.”

“Iya gue paham. Tapi agak susah buat gue nyari dokter yang paham kondisi gue.” Bondan mengangkat kedua alisnya. “Kayak elo.”

Aku menemukan ada sebuah luka di pelipis kanan Bondan. Lukanya sudah agak mengering, tetapi biru memarnya masih ada di sana. Aku merasa Bondan ini dalam situasi “aman”, tidak akan mendesakku untuk ngewe sama dia lagi kayak dua malam lalu. Jadi aku berdiri dan mendekatinya. “Kenapa pelipisnya?”

Bondan hanya tersenyum kecil. “Ah, biasa. Ditonjok pacar lu.”

Aku membelalak kecil. Jantungku berasa copot, sih. Aku baru akan menjelaskan bahwa aku enggak punya pacar, tetapi Bondan keburu menyelaku.

“Gue tahu lu deket ama si Fian,” katanya. “Gapapa. Gue paham.”

Aku menelan ludah. Agak awkward juga kalau situasinya begini. Soalnya yang ngomong di depanku ini pake seragam abdi negara, wajahnya garang, badannya besar, dan dia jago mengoperasikan berbagai jenis senjata. Entah mengapa kalau identitas LGBT-ku ketahuan di depan orang kayak gini, aku merasa hidupku sudah tamat.

“Gue juga paham kalau si Fian nonjok gue kemaren.”

“Mau kuperiksain?”

“Enggak usah. Udah diobatin sama si Lela. Cuma jadinya gue boong ke si Lela soal ditonjok ini. Sekalian gue boong juga kalau gue ....” Bondan menarik napas panjang, menoleh lagi ke belakang sebelum melanjutkan, “... gituan ama lo.”

Aku tak bisa merespons apa-apa.

Bondan menyenggolku dengan lengannya. “Makasih,” katanya.

“Makasih kenapa?”

“Makasih buat yang kemaren. Makasih juga elo jaga rahasia soal itu.” Bondan sekali lagi menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang mendengarnya. Ketika dia menatapku kembali, dia turun dari dipan dan berdiri secara menjulang di depanku. Suaranya terdengar lebih pelan. “Gue seneng gue ditugasin di sini. Soalnya ... gue bisa lebih dekat sama elo.”

“Kenapa gitu?”

“Supaya lo bisa bantu gue, lah.”

“Aku enggak bisa—“

“Di sini gue bos elo. Gue yang hire elo buat kerja di sini. Ya, kan?”

Aku tak bisa menyanggah itu. Klinikku mengutusku untuk melakukan segala hal yang diminta instansi ini. Secara teknis, iya, koordinator di med check ini bisa memintaku melakukan apa pun. Tentunya yang berkaitan dengan pemeriksaan kesehatan. Namun aku tahu persis, yang Bondan maksud pasti ke arah “sana” ....

Bondan tersenyum puas sebelum pergi meninggalkanku. “Nanti gue inspeksi lagi ke sini. Gue pamit.”

Bondan pun pergi meninggalkanku di area periksa.

Aku hanya bisa berdiri kaku di sana, tak bisa membayangkan apa lagi yang akan Bondan minta dariku. Fian memberikan instruksi jelas agar aku berhati-hati kepada Bondan. Aku juga bersedia melakukan itu. Namun Bondan sekarang “user”-ku dan dia memang berhak melakukan apa pun yang berkaitan dengan “medis”. Memeriksa masalah dia secara teknis termasuk ke dalam pemeriksaan medis. Ada kemungkinan, yang terjadi di kamar itu mungkin akan terjadi lagi di masa depan. Yang paling kubenci dalam masalah ini adalah ....

... aku tidak merasa ingin menolak ide itu.

Sejatinya, kalau Bondan mau ngewe, ya aku pun ....

“Mas? Ada yang nyari.” Nadhif tiba-tiba melongokkan kepala dari balik tirai, beberapa saat setelah Bondan pergi.

Aku terlonjak kecil karena kaget, lalu aku menguasai diriku sendiri. “Siapa?”

Nadhif tidak menjawab. Dia malah mundur untuk mempersilakanku menemuinya secara langsung.

Aku berjalan keluar dari ruang pemeriksaan dan menemukan ....

... Deva, sedang berdiri di depan station-ku.

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

Ini benar-benar akhir episode ini ya, Kak.

Aku berdiri membeku melihat homo sialan itu dengan santainya tersenyum kepadaku. Lalu dia mengangkat sekantung plastik Hoka-Hoka Bento. Dan dia mengatakan, “Aku bawa lunch buat kamu, Beb! Nih!”

Rasanya hidupku hancur seketika.

Deva dengan cengengesan menyenggol Wandi dan berkata, “Tuh, udah gue bilang, gue kenal ama si Rohmat. Gue deket ama dia. Weeek!”

FUCK!


[ ... ]


22A. Daddy-Daddy Pujaan Para Boti | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 23. Capek Gue Sange Mulu (Shorter)

Komentar