Tenang aja, urusan Deva bisa
kuselesaikan dengan mudah.
(Untuk sementara.)
Begitu muncul di station-ku,
aku langsung menyeret Deva ke tempat tersembunyi. Tepatnya ke sebuah area kecil
tempat para tentara menyimpan inventaris acara seperti kursi, meja, taplak, dan
peralatan olahraga. Tak ada siapa pun yang akan ke sini kecuali bermaksud
mengambil kursi atau meja.
“Ngapain kamu ke sini?!” hardikku
kesal.
“Ya main aja, lah. Emang enggak
boleh?” Deva celingukan ke belakang, ke arah keramaian pemeriksaan kesehatan.
“Gue tadi lihat ada yang ditelanjangin di sana. Elo lihat enggak?”
“Kamu enggak boleh ke sini!”
tegasku. “Ini area tertutup. Bukan buat umum!”
“Kan, gue mau nganterin elo makan,”
jawabnya, masih celingukan ke belakang. Wajahnya menyeringai gembira.
Seolah-olah dia menemukan surganya.
Tentara merupakan salah satu fetish
Deva. Ngewe dengan tentara menjadi impian Deva sepanjang masa. Melihat
tentara seliweran di aula ini, ditambah sebagian calon taruna bertelanjang
dada, membuat napas Deva memburu oleh adrenalin.
“Pergi dari sini sebelum ketahuan
yang punya acara!”
“Eh, bentar dulu!” balas Deva,
membalas doronganku. “Elo kebagian ngecek apa di sini? Tensi, ya?”
“Iya!”
“Elo bisa masuk ke bilik yang yang
ono, enggak? Kayaknya ada tentara yang ditelanjangin, anjir! Tapi gue enggak
sempet lihat. Keburu ditutup tirainya—“
“Enggak bisa!” sergahku tak sabar.
Aku benar-benar gusar, Kak. Aku panik takut ketahuan Fian. Kakak juga tahu,
beberapa hari terakhir, setiap kali muncul adegan-adegan membahayakan kayak
begini, Fian selalu muncul tiba-tiba. “Cepat pergi!” Kudorong lagi badannya
yang besar itu.
“Kira-kira elo bisa masuk sebentar
enggak ke situ?”
“Ngapain?!”
“Gue bawa kamera pengintai gitu.
Elo rekam mereka ngapain di sana—“
PLAK!
Kutampar Deva tanpa pikir panjang.
“Kamu ini apa-apaan, sih?!” Aku mendengus marah.
Bukannya tersinggung, atau merasa
malu atas apa yang dikatakannya, Deva malah berkata, “Enggak akan ketahuan,
kok. Kameranya kecil. Segede pulpen. Gue nemu ini di Tiktok.”
“Itu pelecehan, Dev!” seruku. “Kamu
enggak bisa ngelakuin hal kayak gitu di sini—atau di mana pun! Please,
pergi dari sini! Dan tolong jangan pernah hubungi aku atau Fian lagi—“
“Oh, iya! Si tentara ganteng itu,”
kata Deva, mukanya menyeringai, “dia masih belum balas WhatsApp gue.” Deva
mengecek ponselnya.
“Enggak akan pernah dibalas! Sana,
pergi!” Aku menyambar tangan Deva dan bermaksud menariknya. Namun Deva
berpegangan ke dinding station dengan kuat. “Dev!”
“Bentar dulu! Lima menit! Gue
pengin keliling-keliling sini dulu—“
“Pergi!”
“Elo tahu enggak si Fian itu
rumahnya di mana?”
“Enggak!”
“Anjir kontol dia pasti gede, tuh—“
“Bukan urusanmu!”
“Entar sore kita ajak dia makan
aja, yuk! Gue punya satu restoran, yang—“
“Enggak, enggak, enggak!”
“—view-nya bagus. Entar gue
traktir, deh. Gue tahu gaji tentara tuh enggak gede, kan ya—“
“Devaaa!”
“—sama kayak PNS. Bisa, lah, gue
biayain dia. Gue enggak masalah. Elo lihat enggak tangannya tuh, anjir gede—“
“Deva!”
“—kalau tangannya gede gitu, pasti
kontolnya gede. Ssshhh! Sedap!”
Aku marah bukan main.
Yang kulakukan berikutnya adalah
meninggalkan Deva di situ, lalu menghambur ke Nadhif dan Wandi yang sedang
menyiapkan seorang calon taruna untuk kuperiksa.
“Mas, saya minta tolong!”
“Siap, ada yang bisa dibantu?”
Nadhif langsung berdiri tegak.
“Lihat orang yang tadi datang bawa
makanan, kan?”
“Siap, lihat.”
“Tolong usir dia. Jangan sampai dia
datang ke sini lagi. Dia persona non grata di sini!”
Urusan Deva pun selesai siang itu.
Mudah, bukan? Seharusnya sejak awal aku memerintahkan Nadhif atau Wandi untuk
menyeret Deva keluar. Aku tak melihat lagi Deva sampai sore. Deva kayaknya
diseret keluar lewat pintu belakang. Nadhif dan Wandi kembali sepuluh menit
kemudian ketika aku selesai dengan calon taruna pertama yang kuperiksa pada batch
siang itu. Komentar mereka pendek.
“Orang gila, ya?” Wandi terkekeh.
“Iya,” kataku, diselingi dengan
doa. “Harus dihajar sampai koma, sih.”
“Teriak-teriak di gerbang,” kata
Nadhif sambil geleng-geleng kepala.
Aku melepas sarung tanganku dan
bertanya, “Teriak apa dia?”
“Dia bilang,” kata Wandi, “dia
pacarnya Mas. Dia mau masuk dan nemenin Mas di sini. Hahaha!”
Aku membeku seketika.
“Katanya nanti sore mau ke sini
lagi. Mau jemput,” tambah Nadhif, sambil tergelak kecil. “Bener ya, Mas?
Pacar?”
“Enggak, lah!” jawabku tak terima.
Namun aku mulai tak berani menatap wajah kedua taruna itu. Aku tak tahu apa
lagi yang Deva mungkin katakan ke Wandi dan Nadhif tanpa sepengetahuanku. Kalau
Deva bisa dengan mudahnya me-WhatsApp Fian, yang pangkatnya lebih tinggi dari
kedua taruna ini, apa kabar kata-kata Deva ke Nadhif dan Wandi?
Aku lemas, Kak.
“Kita lihat aja entar,” kata
Nadhif, sambil berlalu untuk mengantar calon taruna tadi dan menjemput calon
taruna berikutnya.
[ ... ]
Tidak ada gangguan apa pun lagi
dari Deva hingga sesi pemeriksaan hari itu berakhir.
Atau lebih tepatnya, aku enggak
berani ngecek hape. Takutnya Deva me-WhatsApp-ku macam-macam. Aku lega
karena kedua taruna ini enggak teringat soal Deva. Kami mengobrolkan banyak
hal, tetapi tak sekali pun Nadhif dan Wandi mengungkit soal Deva.
Ketika kami sedang membereskan
peralatan, dr. Sigit masuk ke station dan menyapa, “Sore! Gimana hari ini?”
“Aman,” balasku, melompat dari
kursi dan mengambil semua dokumen yang sudah kuisi sepanjang pemeriksaan.
Kuserahkan dokumen-dokumen itu.
“Ada kasus khusus?”
“Enggak ada, Dok. Saya sempat nemu
yang hemoroid, tapi masih ringan.”
Dr. Sigit tidak menanggapi lebih
lanjut. Dia membolak-balik kertas untuk mencari catatanku yang mungkin berbeda
dari yang lain. Sebelum beliau duduk dan menandatangani semua hasil laporan
itu, dia mengibaskan tangannya ke Nadhif dan Wandi. “Itu masukin kontainernya
ke truk. Bawa langsung ke kliniknya Mas Rohmat. Tapi enggak usah nungguin.
Kalian bisa langsung bubar setelah itu. Mau badminton dulu kan, entar?” Dr.
Sigit menyenggolku.
“Oh, i ... iya.”
“Siap!” Nadhif dan Wandi pun
menjalankan perintah itu.
Selama beberapa menit, aku dan dr.
Sigit mengobrolkan banyak hal soal pemeriksaanku hari ini, termasuk beberapa
calon taruna yang akan kuperiksa besok yang mungkin perlu perhatian khusus.
Sambil mengobrol, sambil dr. Sigit menandatangani laporanku dan menanyakan ini
itu. Tepat di lembar dokumen terakhir, Bondan masuk ke station-ku.
“Sore, Komandan!” sapanya dengan
gagah, suara menggelegar, sembari melemparkan hormat di pelipis, lalu berjalan
menghampiri meja kami.
“Ya, sore,” jawab dr. Sigit. Dia
meletakkan bolpoinnya ke atas meja lalu merapikan kertas. “Kamu sudah cek yang
lain?”
“Siap, sudah. Aman semua. Mantap!
Tinggal badminton, kita.”
“Si Harja mau di ... apa?” Dr.
Sigit menyenggolku. “Banting?”
“Waxing,” ralatku.
“Hahaha!” Bondan tertawa keras.
“Waduuuhhh ... jangan dibanting dong, Capt! Sakit nanti ....”
“Ini sama si Rohmat. Mau di-waxing,
keteknya. Abis itu kita ke GOR barengan, kan?”
“Iya. Udah di-book tiga
lapangan sampe Isya. Erick lagi nyari mobil, biar bisa berangkat bareng. Motor
mau pada ditinggal di sini.”
Dr. Sigit pun bangkit sambil
manggut-manggut. Dia mengumpulkan semua dokumen dariku dan menjinjingnya. “Saya
mau ke ops dulu. Laporan juga.” Beliau menepuk bahu Bondan, kemudian
meninggalkan kami berdua di station.
Kondisi aula sudah setengah sepi. Station-ku
merupakan salah satu station yang paling terakhir menyelesaikan
urusannya. Artinya, aku hanya berdua saja dengan Bondan di tempat ini.
“Hey,” sapa Bondan sambil
cengar-cengir lebar dan cengengesan.
Aku mulai merasa awkward dan
deg-degan. “Apa?” tanyaku pendek. Kubereskan peralatan di atas mejaku, yang
sebenarnya tadi sudah rapi. Tapi daripada aku ngobrol bertatap muka dengan
tentara gagah satu ini, mendingan menyibukkan diri.
“Jangan sombong, lah.”
“Siapa yang sombong, ih?” Aku makin
memalingkan muka.
Mendadak suara Bondan terdengar
seksi. Kakak tahu lah ya, suara yang dalam, berat, kayak cowok maskulin di
film-film romance yang aktor cowoknya dari mediterania, berjambang,
ganteng, dan perlente. Kebetulan aja yang ini cuma pakai celana loreng-loreng
dan kaus PDL yang mungkin terasa panas. Soalnya ada basah keringat di bagian
ketek dan leher Bondan. Aroma “cowok”-nya yang khas, mulai tercium ke hidungku.
Dan aku rada sange.
Seperti biasa, setelah memeriksa
puluhan lelaki manly, menelanjangi mereka, mengobok-obok bool
mereka, memainkan kontolnya juga kalau susah crot, homo mana sih yang
enggak sange? Profesi apa pun, mau dokter, perawat, tentara, kalau
memang homo dan harus meriksa puluhan lelaki straight manly di
bagian bool, sudah pasti gairah menggelora.
Sehingga, ketika Bondan yang gagah
ini, yang tentara, yang straight, dan mau kawin ama perempuan bulan
depan, tapi kemaren bisa ngewe denganku, tiba-tiba senyum menggoda
ketika kami berduaan begini ....
... wajar dong kalau aku salah
tingkah?
Kontolku sih udah ngaceng di
balik celana. Makanya aku balik badan supaya Bondan enggak perlu lihat jendolan
di area selangkangan sana.
“Gue mungkin paham sih ..., kenapa
si Fian nempel terus ama elo,” kata Bondan tiba-tiba.
“Hah?” Aku berhenti pura-pura
membereskan meja. Kini, aku pura-pura merapikan tirai yang menjadi sekat bilik
pemeriksaan.
“Ya dia enggak salah juga, waktu
dia tiba-tiba ngehantam gue di kosan.” Bondan terkekeh kecil sambil memijat
area pelipisnya yang luka. “Yang dia tuduhin bener, kok. Gue gangguin elo.”
Aku menelan ludah. Aku malah
membantahnya, “Enggak, kok ....” Padahal iya. Dia menggangguku. Tapi kalau
ngobrol sama Bondan ini, kok rasanya pengin mengambil pendapat yang
kontradiktif mulu, ya. Meskipun yang Bondan katakan itu benar.
“Gue juga paham kenapa dia kayak
gitu.” Bondan duduk ke atas meja. Kedua tangannya bertumpu ke tepi meja, tampak
gagah dan menjulang di sampingku. “Makanya gue kagak ngelawan. Gue cuma defense
doang waktu dia tiba-tiba ngamuk.”
“Oya?”
“Dia nyium bau gue di muka lo.”
Aku membelalak.
Fuck.
Bener juga.
Habis ngewe sama Bondan, aku
cipokan dengan Fian untuk kali pertama. Padahal beberapa saat sebelumnya aku
menggosokkan wajah di ketek Bondan yang berbulu.
Fuck.
Tolol banget lu, Rohmat!
“Da ... dari mana dia tahu—“
“Tebakan gue aja.” Bondan terkekeh.
“Kagak mungkin dia enggak nyium bau gue di elo. Hot banget anjir lu
kalau ngewe kayak gitu.”
Aku menelan ludah lagi.
“Makanya gue yakin ..., pasti
gara-gara elo pro banget mainin cowok, Mat. Gue yang kagak suka cowok aja,
malam kemaren masih kepikiran ama permainan elo. Pantesan Capt. Sigit nyuruh
elo mainin bool anak-anak sampe crot. Ya emang elu lihai, anjing!
Emang elu ahlinya.”
“Enggak,” bantahku. “Aku cuma
belajar aja soal—“
“Elo ngapain, sih?!” sela Bondan.
Tanpa kusadari aku melipit-lipit
kain tirai hingga hampir terlipit setengahnya dan area bilik pemeriksaan
terkuak jelas. “Oh! Enggak ....” Kulepaskan tirai itu dan mulai pindah ke meja
yang tadi lagi, membelakangi Bondan.
“Elo GR ngelihat gue?”
Aku menggelengkan kepala. Kali ini,
dengan jujur aku berkata, “Aku takut,” kataku. “Bukan sombong, ya. Aku takut
sama Abang.”
“Tenang aja. Enggak akan gue ajak ngewe
sekarang, anjir.” Bondan terkekeh sebentar. “Entar aja, maleman. Yak?”
Aku menggelengkan kepala.
“Sumpah, Mat. Gue perlu latihan.”
Bondan menghela napas panjang. “Capek gue sange mulu kalau nge-date
ama si Lela. Sampe gue pernah crot di motor gara-gara dia mainin tetek
gue. Lu bisa kebayang, kan? Gimana rasanya kontol lo crot
terus-terusan?”
Aku menganggukkan kepala.
“Gue sayang banget ama si Lela,
Mat. Gue kagak mau selingkuh dari dia. Tapi godaan buat gue tuh banyak.
Kesenggol dikit, di area-area sensitif, gue ngaceng. Kecolek dikit, kena
ke bahu, gue sange. Nerima kembalian dari mbak-mbak KFC yang cakep, gue
hampir crot. Anjing, lah!” Bondan turun dari meja dan perlahan
menghampiriku. Sosoknya terasa sangat besar dan mengayomi di belakang
punggungku. Suara Bondan mengecil. Berbicara lebih tenang dan teduh. “Gue
enggak punya waktu lagi buat benerin penyakit ini, Mat. Cuma elo yang bisa
bantu gue.”
Aku menggelengkan kepala sekali
lagi. Kali ini sambil berbalik menghadap Bondan yang tinggi besar, lalu menatap
wajahnya. “Udah kubilang, Bang. Aku bukan dokter. Abang harus datang ke
psikiater langsung. Ikutan terapi. Siapa tahu ada obat untuk ngurangin stimulus
seksual berlebihan kayak begitu. Atau rehab sekalian.”
“Enggak bisa,” tegas Bondan.
Rahangnya mengeras. “Pilihannya antara elo yang nolongin gue, tiap gue kambuh.
Atau—“
“Pelipisnya berdarah,” kataku
tiba-tiba.
Bekas luka tonjokan Fian di pelipis
Bondan mengeluarkan darah segar.
Kata-kata Bondan terputus. Dia
langsung menyentuhnya dengan jari, lalu melihatnya lebih dekat.
Kutampol tangan itu. “Ck!
Jangan pake tangan gitu, dong. Kan tangannya kotor.”
“Bersih, anjing!”
Aku langsung menuang hand
sanitizer ke tanganku, menggosoknya sampai bersih, lalu mengambil kotak P3K
yang ada di setiap station. Ada kapas di sana, dilengkapi dengan plester
dan obat antiseptik. Kubersihkan luka itu sambil ngomel-ngomel kecil. “Meja
tempat Abang duduk tadi tuh kotor. Jangan sampai bakterinya masuk lewat sini.
Minggir tangannya!”
Kutangkis tangan Bondan yang
mencoba menyentuh lagi luka kering yang terbuka itu.
Mata Bondan melirik ke area luka
yang akhirnya kurapikan dengan plester agar tidak terinfeksi. Senyumnya
terlukis pelan-pelan. Begitu aku selesai, Bondan malah menggodaku, “Berasa
punya pacar baru.”
Kusikut perutnya.
Duk!
“Argh!” Bondan meringis kecil
sambil memegang perut, lalu tertawa. “Haduuuhhh ... belum diresmiin jadi pacar,
udah KDRT—“
Untungnya, flirting-an
Bondan yang bikin darahku ser-seran itu berakhir. Harjasa dan Daddy Ryuji
menghambur masuk ke dalam station.
“Tuh, kan, bener yang ini!” sahut
Harjasa percaya diri. “Yang sebelah tuh yang si Sigit.”
Daddy Ryuji (atau nama aslinya
Gala, andai Kakak sudah lupa) hanya mengangguk-angguk. “Iya.”
“Yuk? Siap?” sahut Harjasa tak
sabaran. “Di mana kita waxing-nya? Sambil duduk?”
Baiklah. Untuk sesaat, aku bisa
terbebas dari gempuraan godaan manly seorang tentara gagah bernama
Bondan.
Aku mengarahkan Harjasa ke dipan
yang sepanjang hari digunakan untuk men-crot-kan sperma puluhan calon
taruna. Senior Fian itu melepaskan kemeja lorengnya, lalu melepas kaus dalam
yang dia kenakan di baliknya. Setelah bertelanjang dada, dia berbaring di atas
dipan sesuai perintahku. Kukeluarkan sugar waxing-nya Ida dan kulakukan
prosedur waxing seperti biasanya.
Enggak perlu kuceritakan dengan
detail bagian waxing-nya, ya..
Intinya, Bondan dan Daddy Ryuji ada
di ruangan yang sama, menontonku mengaplikasikan adonan ke ketek Harjasa yang
enggak banyak-banyak amat bulunya. Lalu, ketika aku menariknya hingga bulu-bulu
ketek itu tercabut, keduanya terhibur oleh jeritan kesakitan Harjasa.
“AAAAAARGH! ENGGAK ADA OTAK!
UUUAAAAAARGH ...!!!”
Harjasa menggelepar di atas dipan.
Ketek, dada, dan mukanya kemerahan. Matanya membelalak bulat—kesakitan. Kedua
tumitnya menghantam dipan dengan keras hingga Daddy Ryuji harus mundur ke
belakang supaya tidak kena tendang. Bondan ngakak puas di kepala ranjang,
melihat seniornya menderita.
Setelah kedua ketek itu mulus
dicabut bulu-bulunya, Harjasa kubiarkan berbaring di atas dipan sambil melipat
tangan di bawah kepala, mengekspos keteknya yang kini mulus tanpa bulu.
Kuoleskan ketek care seperti axillary cream dan lain-lain.
“Heh! Bondan!” kata Harjasa
kemudian, mengajak ngobrol sambil menunggu keteknya kering. “Kamu tuh persiapan
kawin gimana?”
“Aman, Pak. Aman.”
“Udah ngajuin cuti?’
“Udah, Pak. Ditambahin sama cuti
tahunan. Biar agak lamaan dikit.”
“Jangan lama-lama!” sergah Harjasa.
“Kita kan mau ada acara gede di sini.”
“Iya, Paaakkk .... Langsung tugas
lagi di sini, kok. Enggak ke mana-mana juga.”
“Terus, gimana rasanya mau kawin?”
Harjasa mendongak. “Banyak godaan, enggak?”
“Wah, Pak .... Banyak!”
Aku tahu Bondan menjawab pertanyaan
itu ke Harjasa, tetapi aku merasa dia melirik ke arahku saat mengatakannya.
“Godaan apa? Cewek lain?”
“Iya, Pak. Sejenis itulah.”
Ya. Bondan melirik ke arahku lagi.
Sekilas.
Tapi aku melihatnya.
“Kan. Bener.” Harjasa bangkit dan
menyenggol Daddy Ryuji dengan kakinya. “Orang kalau mau kawin, mendadak ada
godaannya.”
“Perasaan kamu saja, Ja,” balas
Daddy Ryuji dengan tenang.
“Eeehhh ..., si Nanto sampai gagal
kawin, satu minggu sebelum ijab kabul. Digodain ama anak tetangganya.
Ujung-ujungnya malah kawin sama si anak tetangga.”
Daddy Ryuji hanya merespons dengan
menggelengkan kepala.
“Dengerin nih, Bon,” kata Harjasa,
menarik Bondan agar duduk di sampingnya, di atas dipan. “Mendekati hari besar
kayak kawin tuh, ujian bakal datang bertubi-tubi.”
“Udah, Pak,” jawab Bondan
menyepakati.
Lagi-lagi aku melihat Bondan
melirik ke arahku.
“Soalnya kan nikah tuh keputusan
besar. Kita enggak bisa seenaknya udahan gitu aja. Apalagi kamu perwira. Jadi
kalau ada yang bikin keyakinan kamu goyah ... itu wajar.”
“Tuh, wajar, Mat,” kata Bondan ke
aku.
Goblok!
Sekarang bukan melirik lagi. Dia
langsung menyebut namaku!
“Jangan ke si Rohmat. Dia masih
lama kawinnya. Kau nih yang harus hati-hati!” Harjasa menyurungkan kepala
Bondan.
Bondan hanya terkekeh bercanda.
“Iya, Pak. Iya.”
“Siapa yang lagi godain kamu, hah?”
Harjasa merangkulkan lengannya ke bahu Bondan, menariknya lebih dekat.
“Ada, Pak. Pacarnya teman.”
Bondan menoleh ke arahku.
Jadinya, Harjasa menoleh ke arahku.
“Kamu tahu Mat siapa ceweknya?”
Dengan panik aku menggelengkan
kepala. “Enggak, Pak. Aku enggak tahu.” Kubereskan peralatan waxing
dengan salah tingkah.
“Ngapain dia?” desak Harjasa lagi.
“Dia godain kamu?”
“Ya enggak, sih, Pak. Dia mah
enggak salah apa-apa.” Bondan masih menatapku. “Kemaren saya minta bantuan dia.
Sekali. Tapi ....” Bondan garuk-garuk kepalanya sambil cengar-cengir
cengengesan.
“Tapi apa?”
Agak lama Bondan memberi jeda.
Dengan malu dia menjawab, “... tapi enak. Hehehe.”
“Enggak ada otak, kau! Bangsat!”
Harjasa langsung menjitak Bondan tanpa ampun. Bahkan dia dorong tentara
berbadan besar itu, jauh lebih besar dari badan Harjasa, hingga Bondan hampir
terjengkang dari atas dipan.
“Canda, Pak. Canda.” Bondan
terkekeh sambil merapatkan tangannya seperti memohon.
“Canda apa beneran?”
“Yaaa ....” Bondan malah menoleh ke
arahku lagi. “Menurut lo gimana, Mat? Yang kemaren canda atau enak?”
Aku membelalak panik.
Sumpah!
“Kau tahu kejadiannya, Mat?” tanya
Harjasa.
“Enggak Pak, enggak tahu.” Napasku
memburu. Jantungku berdebar seperti bertepuk tangan. Keringat dingin mengucur
di punggungku.
“Hahaha ... bercanda, Pak. Rohmat
enggak tahu apa-apa.” Bondan menggaruk lagi kepalanya. “Tapi iya. Ada
godaannya, Pak. Sayanya sih yang cari gara-gara. Ini sampe bonyok gini—“ Bondan
menunjukkan luka di pelipisnya yang kini terbalut plester “—dihajar ama
cowoknya, Pak.”
“Lah, kok malah kau yang babak
belur?! Kan kau ini tentara, bodoh! Harusnya kau yang menang!”
“Tapi kan saya yang salah, Pak.”
Bondan melirik lagi ke arahku. Sekilas.
“Terus kalau tahu salah, masih
bakal kaukejar itu perempuan?”
“Yaaa ... bingung saya juga, Pak.”
Bondan menggaruk-garuk kepala cepaknya.
“Tinggalkan, Bon,” kata Daddy Ryuji
tiba-tiba. Orang ini, sekalinya ngomong, berasa mendengar letusan gunung
berapi. Menggelegar dan menusuk hati.
“Saya usahakan, Pak.”
Lalu, Daddy Ryuji menyenggolku.
“Kamu lihat kelakuan si Bondan. Kalau masih nakal, waxing Bondan
sebadan-badan, ya. Sampai gundul.”
“Waduuuhhh ...!” Bondan langsung
menyahut panik. Wajahnya terlihat ngeri. “Entar enggak seksi lagi Pak saya di
mata istri—“
“Itu perintah,” tegas Daddy Ryuji
tanpa basa-basi.
Topik akhirnya berganti ke
persiapan pernikahan yang kayaknya enggak perlu kuceritakan detail ke Kakak.
Aku hanya berdiri diam di sudut ruangan, merasa lega karena sudah keluar dari
radar ketiga tentara gagah ini. Obrolan akhirnya terpenggal karena dr. Sigit
masuk ke ruangan. Beliau sudah mengenakan celana pendek dan kemeja polo untuk
olah raga.
“Eeehhh ... belom pada ganti baju?”
sapanya sambil geleng-geleng kepala.
“Ini baru selesai!” sergah Harjasa
sambil mencoba menampol dr. Sigit dengan bercanda. “Udah beres kan, Mat?”
“Udah.” Aku mengangguk ramah sambil
tersenyum kecil.
“Lagi bahas apa?” Dr. Sigit
menghempaskan pantatnya ke atas dipan, duduk di sebelah Harjasa yang kini
mengenakan lagi kaus singletnya.
“Tips-tips buat yang mau kawin,”
jawab Harjasa sambil menunjuk Bondan dengan dagunya.
“Eeehhh ... dibahas lagi.” Bondan
terkekeh sambil mengusap wajahnya.
“Udah cek prostat belum?” tanya dr.
Sigit tiba-tiba. “Nih, mumpung si Rohmat masih di sini, suruh dia cek
prostatmu.”
“Kan Sabtu mau diriset sama Bapak.
Gimana sih?” Bondan merengut.
“Oh, iye.” Dr. Sigit terkekeh. Dia
tampak sangat santai dan akrab. Bukan dr. Sigit yang kukenal beberapa hari
terakhir, yang kuanggap sebagai dokter penuh wibawa dan pintar. “Entar saya
kasih si Rohmat aja yang ngecek. Jago dia ngambil sampel sperma lewat
belakang.” Dr. Sigit menyenggol Harjasa di sebelahnya. Harjasa dan Daddy Ryuji
otomatis menoleh ke arahku.
Aku membelalak kecil.
Astagfirullah.
Aku jadi pusat perhatian lagi.
Tak bisakah boti wannabe ini
mojok sendirian saja tanpa menjadi topik pembicaraan? Enggak sanggup soalnya
ngadepin empat tentara manly yang badannya gede-gede, jago nembak, dan straight.
“Saya aja kagak bisa,” kata dr.
Sigit.
“Ngapain emang? Yang dicolok dari
belakang itu?”
“Itu ... kayak kolonoskopi?” tanya
Daddy Ryuji.
“Bukan. Itu kan buat usus. Ini buat
prostat,” ralat dr. Sigit. “Tapi iya lewat belakang.”
Harjasa merinding ngeri. “Zaman
kita ndak ada yang begitu-begitu. Paling tarik-tarik kontol—“
“Hahaha ....” Dr. Sigit
memenggalnya dengan tawa, lalu menyenggol Harjasa. “Kamu ingat enggak, Gal? Si
Harja burungnya dikerubungin semut! Hahaha.”
Daddy Ryuji terkekeh kecil.
“Sialan, kau!” Harjasa menampol dr.
Sigit. “Daripada kontol kau! Dililit ular!”
Keduanya tertawa. Bondan juga
pengin nimbrung, “Itu training apa, Pak?”
“Itu ... yang survival di
hutan. Yang kita ditelanjangin. Kau udah pernah, kan?”
“Tiga kali, Pak.”
Lalu ketiganya membahas secara
serampangan pengalaman mereka menempuh pelatihan militer di mana mereka
ditelanjangi bulat-bulat, lalu survive di hutan. Dengan sangat eksplisit
mereka membahas bagaimana kontol mereka ikutan “survive” di alam bebas.
Innalillahi.
Sekarang aku jadi membayangkan
tentara-tentara manly ini berkeliaran telanjang bulat di kebun, meminta
pertolongan warga lokal untuk survive.
Kontolku ngaceng.
Kira-kira gimana kisah Fian saat
melakukan training itu, ya?
“... ya makanya, tahun ini kita cek
sampe ke prostat sekalian, Ja. Biar kalau ada apa-apa, udah ketahuan dari
awal,” kata dr. Sigit, menutup jawaban dari pertanyaan paling awal soal mengapa
di penerimaan sekarang sampai dilakukan EPS ke calon taruna. “Tuh kalau mau,
minta si Rohmat buat ngecek.”
Gue lagi, gue lagi, anjing.
Semua orang menoleh kepadaku.
Bondan menoleh sambil tersenyum kecil dan kedua alis terangkat jail. Aku hanya
bisa tersenyum canggung karena merasa tersudutkan.
Daddy Ryuji menatapku dengan
saksama, lalu tiba-tiba mengajukan pertanyaan setelah sepanjang obrolan memilih
untuk bisu. “Memang di keperawatan ada spesialisasi itu, ya?”
Aku menggelengkan kepala.
“Harusnya enggak,” sahut dr. Sigit,
membantuku menjawab. “Tapi pasti diajarin. Kebetulan si Rohmat ini anaknya
belajar tekun. Mau jadi dokter, dia.”
Enggak gitu juga sih, Dok.
Tapi aku enggak bisa bantah juga.
Aku beneran terpojok.
“Mau jadi dokter kelamin?” tanya
Daddy Ryuji lagi. Masih menatapku dengan tatapan yang enggak bisa
kudeskripsikan. Seakan-akan dia tahu sesuatu tentangku dan masih mengecek ombak
apakah dugaannya benar atau salah.
“Enggak juga, sih,” jawabku
terintimidasi.
“Coba kamu cek si Rohmat” usul dr.
Sigit. “Kita-kita di umur segini, kalau udah enggak aktif lagi sama istri,
harus dicek. Tahu-tahu kanker, bisa berabe! Kalau malas ditusuk ama saya, ama
si Rohmat aja.”
“Terus kalau muncrat, gagal enggak
nih?” canda Harjasa sambil terkekeh.
“Ya tergantung. Muncratnya keenakan
atau penyakitan?” Dr. Sigit membalas dengan tawa juga.
Daddy Ryuji masih menatapku
seakan-akan bertelepati. Tak lama setelah tawa-tawa itu reda, akhirnya Daddy
Ryuji berkata, “Oke.”
Dan, pada saat yang sama, Fian
masuk ke dalam bilik pemeriksaan. “Oh, pada ngumpul di sini,” sapanya, sambil
mengatur napas.
Fian tersenyum gembira melihatku.
Namun senyumnya pudar ketika di bagian lain ruangan ada Bondan yang sedang
berdiri di samping dipan.
“Udah ada, mobilnya?” Dr. Sigit
melompat turun dari dipan dan mengecek jam tangan.
“Erick lagi minjam mobilnya Pak
Kresna.”
“Lho, si Kresna masih di sini?”
“Siap, masih, Capt. Lagi ngobrol
sama Aksa.”
“Si Kresna, sejak crash
kemaren, jadi protektif sama si Aksa. Jadi terlalu sentimental,” komen Harjasa
sambil geleng-geleng kepala.
Dr. Sigit menyikutnya. “Ya biarin,
lah. Namanya juga anak didiknya. Yang lain pada buntung semua, masih mending
yang ini utuh.”
Nama itu disebut lagi. Kali ini aku
dapat konteks yang lebih luas. Namun aku masih enggak tahu cerita aslinya
gimana, atau seheboh apa sampai-sampai perjalanan naik gunung kemarin harus
diungkit-ungkit sepanjang mendaki.
Aku melihat Fian yang tampak
kelelahan. Wajahnya kusut, kusam, kelihatan jelas belum mandi dari kemaren. Bau
badannya pun bikin kontolku makin keras bagai beton—saking enaknya. Fian
menghampiriku dan berdiri di sampingku. Kedua tangannya dilipat di depan dada,
bersikap defensif. Matanya melirik ke arah Bondan sesekali.
Sedikit banyak, aku merasa Fian
seperti sedang “melindungiku” meskipun aku enggak dalam bahaya apa pun.
Bondan masih cengar-cengir dengan
normal, mengabaikan tatapan dingin sobatnya itu.
“Gimana masalah yang itu, Yan?”
tanya dr. Sigit dengan suara pelan, seolah-olah obrolan ini tak boleh bocor
satu desibel pun keluar dari bilik pemeriksaan.
Fian menghela napas panjang. “Masih
diproses, Capt. Masih nunggu perkembangannya.”
“Kamu harus hati-hati,” kata Daddy
Ryuji. Suaranya begitu dewasa dan kebapakan. “Posisi mereka lebih kuat di atas
kamu.”
“Bukan otot, ya,” kata Harjasa,
setengah tergelak, mencoba mencairkan suasana. “Otot sih kamu yang menang.
Hahaha.”
“Kalau kamu enggak pandai ...,”
lanjut Daddy Ryuji, “enggak pake strategi, nanti mereka nyerang kamu.”
“Hah! Mampus!” Harjasa mendengus.
“Paling ringan kamu dimutasi.”
Harjasa menyelanya sejenak. “Paling
juga dikirim ke Morotai. Ke Pitu.”
“Tapi parahnya,” lanjut Daddy
Ryuji, kali ini dengan bahasa Inggris seolah-olah aku enggak boleh tahu
maksudnya apa, “It’s gonna be the end of your story.”
Aku paham arti bahasa Inggris itu,
Daddy.
Pun, ketika melihat reaksi wajah
Fian, aku paham ini ke arah mana. Aku enggak tahu masalah apa yang bikin Fian
kelihatan capek kayak begini. Tapi aku yakin ini masalah serius.
Tentara gagah itu hanya bisa
menyandarkan punggungnya ke dinding, sama-sama menatap kosong lantai di
depannya. Dia sempat menoleh ke arahku, tersenyum kecil. Ingin cerita, tapi
enggak bisa cerita. Lalu dia mencoba tersenyum ke tiga seniornya. Seolah-olah
ingin berkata bahwa dia baik-baik saja.
“Berapa banyak tim kamu?” tanya dr.
Sigit, agak berbisik.
“Kami bertujuh.”
“Kamu yang termuda?”
Fian mengangguk.
“Kamu paham kan kalau kita-kita
...,” Harjasa merujuk ke dirinya sendiri, dr. Sigit, dan Daddy Ryuji, “enggak
bisa bantu kamu karena terikat sama kewajiban lain. Bisa hancur kalau kita
semua turun tangan—“
“Iya saya paham, Capt.” Fian
menghela napas lagi. “Semoga masalahnya bisa cepat selesai.”
“Sabtu besok kamu enggak usah ikut
riset saya,” ungkap dr. Sigit tiba-tiba. “Kamu istirahat aja dulu. Kelihatan,
kamu kurang tidur.”
“Saya berkali-kali training
untuk enggak tidur berhari-hari, Capt. Saya aman,” balas Fian.
“Ini bukan perang sama orang luar,
Fian. Ini perang internal. Kamu butuh otak yang prima untuk berpikir. Untuk
ditekan terus-terusan dari dalam—“
“Saya baik-baik aja.” Fian mencoba
tersenyum.
“Kamu skip dulu aja untuk
riset saya. Toh, udah ada empat orang dari tim kamu. Udah ada Bondan, udah
ada—“
“Saya nanti ikut hari Sabtu,” tegas
Fian sekali lagi.
Jawaban itu terlalu cepat.
Pasti gara-gara nama Bondan
disebut.
“Saya juga dibantu sama Rohmat.
Bondan sama Rohmat udah klop. Pasti risetnya lebih mudah untuk—“
“Saya ikut, Capt,” tegas Fian,
benar-benar tegas. Dia bahkan menegakkan tubuhnya. Dia menoleh ke arah Bondan
dengan rahang mengeras. Seperti waspada.
Bondan hanya bisa tersenyum lebar
tanpa menunjukkan gigi.
“Kamu tidur aja weekend
entar.”
“Pemeriksaannya juga sambil
berbaring, kan?” Fian menyenggolku. Aku hanya manggut-manggut panik. “Sama aja
seperti saya istirahat, Capt. Saya tetap ikut weekend entar.”
Lalu mata Fian melirik lagi ke arah
Bondan dengan tatapan awas, sedetik saja, sebelum menatap ketiga seniornya
lagi.
“Tapi kamu—“
“Ck! Biar, laaah ....”
Harjasa menyenggol dr. Sigit. “Anggap aja itu rekreasi. Kan si Fian bakal
dibikin enak, kan? Sama aja kayak rest, itu.”
Dr. Sigit sudah membuka mulutnya,
tetapi dia tak punya pilihan lain. “Ya udah. Kalau kamu enggak masalah, kamu
boleh ikut. Tapi kamu harus tidur sebelum pemeriksaan, ya?”
“Siap, laksanakan!”
“Nanti habis badminton juga
istirahat. Tinggalin dulu masalah di atas itu semalam. Jangan dipikirin terus.”
“Siap.”
Tak lama setelahnya, Erick masuk ke
bilik pemeriksaan. “Eeehhh ... pada ngumpul di sini, ternyata. Udah ada
mobilnya. Yok!”
“Siapa aja yang di mobilnya
Kresna?” tanya Harjasa.
“Saya mau ngobrol sama Fian,” kata
dr. Sigit, sambil melompat turun dan menyambar raketnya di atas meja. “Fian
semobil sama saya di Kresna, ya?”
“Saya juga di situ, lah,” kata
Harjasa, mulai mengenakan lagi kemejanya. “Yang nyetir siapa?”
“Saya, Capt,” balas Erick.
“Siapa aja yang ada di sana?”
Erick menyebutkan nama-nama. Yang,
entah mengapa, melupakan namaku—seakan-akan aku tidak terundang.
Yang ngeh namaku tidak disebut
Erick adalah dr. Sigit. “Si Rohmat bukannya ikut juga?’
“Oh, iya!” Erick menyugar
rambutnya, baru tersadarkan. “Ya udah ... ngng ... Bon. Lu sama si
Rohmat aja naik motor.”
“Gas!” jawab Bondan, semangat.
Yang enggak semangat tentunya Fian.
“Saya saja yang naik motor dengan Rohmat.”
“Eeehhh ... kan saya mau ngobrol
sama kamu!” kata dr. Sigit. “Kamu ninggalin koordinasi tes kesehatan tiba-tiba.
Saya mau ngobrol satu dua hal di mobil.”
Fian mulai gusar. Dia menatapku dan
Bondan bergantian.
Kelihatan jelas Fian enggak ikhlas.
“Nanti habis badminton, saya bisa
ngobrol sama Captain—“
“Enggak usah. Di mobil aja. Kita
satu mobil. Biar si Rohmat sama si Bondan.”
“Saya janji setelah badminton—“
“Bondan masuk mobil saja,” kata
Daddy Ryuji tiba-tiba. “Saya yang pisah sama Rohmat. Pake mobil saya.”
“Mobil kau kan penuh barang, Gal!
Buat demo. Makanya kita pinjam mobil si Kresna!” sergah Harjasa.
“Masih bisa satu orang duduk di
sebelah saya. Oke? Kalian di mobil yang lain, Rohmat sama saya saja.”
Tak ada yang mendebat.
Fian ingin mendebat, sebenarnya.
Rahang Fian sudah mengeras, seolah-olah ingin berkata, “I volunteer!”
seperti Katnissa Evitri di film Dolanan Mangan. Namun kayaknya lebih baik aku
barengan Daddy Ryuji dibandingkan Bondan. Jadi Fian hanya mengangguk setuju.
Ya sudah.
Akhirnya aku terpisah dari
rombongan, berjalan jauh ke bagian gedung yang dekat landasan, menaiki mobilnya
Daddy Ryuji yang besar. Sejenis Fortuner yang gitu-gitu, lah. Aku enggak tahu
tipenya apa—seperti biasa, homo-homo enggak ngurusin tipe-tipe mobil. Yang
pasti bannya besar, mobilnya agak tinggi, warnanya hitam vantablack yang
keren dan mahal, yang di bawah pintunya ada pijakan dulu, seolah-olah kaki kita
enggak akan nyampe sekali masuk.
Daddy Ryuji enggak ngobrolin apa
pun sepanjang kami berdua berjalan menuju mobilnya. Dengan dingin dia melangkah
di depanku, lalu berbelok ke mobil besar yang gagah ini. Setelah alarmnya
dibuka, aku masuk ke jok penumpang depan. Dari sini aku bisa melihat semua
kursi di belakangnya sudah dilipat, lalu bagian kabin belakang dipenuhi
kardus-kardus entah isinya apa.
“Buat demo di acara pembukaan,”
kata Daddy Ryuji sambil menyalakan mesin. Dia tak menatap wajahku, tetapi dia
tahu aku penasaran kenapa mobil sebagus ini mendadak disulap jadi mobil angkut.
Mobil menyala dengan canggih. Starter-nya
mulus, enggak kayak mobil-mobil pada umumnya. Tahu-tahu mobil bergetar kecil
karena mesin sudah menyala.
Aku duduk dengan manis. Merasa
bersyukur karena aroma mobil ini bukan Stella rasa jeruk atau bubuk kopi. Mobil
Daddy Ryuji beraroma daun segar, seperti mint, seakan-akan aku sedang
berada di hutan bambu yang nyaman.
Dia masih belum bicara apa-apa
sampai akhirnya kami mendekati mobilnya Pak Kresna di jalur masuk akmil,
kemudian mobil kami membuntuti mobil di depan.
Baru setelah keluar area militer
itu, Daddy Ryuji berbicara.
Dan, inilah kata-kata pertamanya.
“Ada apa antara kamu sama Bondan?”
Fuck.
Belum apa-apa, rasanya dadaku sudah
ditusuk dengan benda tajam.
Aku seketika membeku ketakutan. Aku
panik.
“Eng ... enggak ada apa-apa, Pak.”
“Bondan melirik kamu berkali-kali
tadi. Fian melirik Bondan berkali-kali. Ada sesuatu di antara kalian bertiga.”
Sambil menyetir, Daddy Ryuji menoleh sejenak ke arahku, membuatku merasa sangat
tersudut.
Aku hampir tak bisa menjawab
apa-apa.
“Jangan macam-macam sama saya,”
lanjutnya. Tatapan mata itu investigatif dan intimidatif. Aku hampir lupa bahwa
Daddy Ryuji punya kemampuan observasi dan mengintai yang sangat andal. “Saya
bisa tahu semua informasi yang kamu rahasiakan dalam lima menit ke depan.
Antara kamu ngaku sekarang ..., atau saya buat kamu membocorkan semuanya.
“Jawab saya ....
“Apakah yang Bondan maksud dengan
ujian sebelum menikah itu ....
“... kamu?”
[ ... ]
22C. Soalnya K****l Fian Tuh .... | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 24. Giliran Ditantang Kayak Ayam Sayur! (Extended Version)
Komentar
Posting Komentar