(HD) 24. Giliran Ditantang, Kayak Ayam Sayur! (Extended Version)




Halo, Kak!

Aku hampir kencing di celana waktu Daddy Ryuji mendesakku mengaku. Tapi aku enggak beneran kencing, sih. Soalnya mobil ini kelihatan mahal banget. Pasti joknya dilapisi kulit buaya asli.

Aku membeku selama beberapa detik. Aku sudah di tahap menyerah dan mengaku bahwa iya aku melakukan skandal bersama Bondan tapi please jangan rajam kami di tengah lapangan disaksikan oleh seluruh tentara. Bibirku sudah bergetar saat akan melakukannya. Namun, seseorang menyelamatkanku.

Deva.

Iya. Dia yang menyelamatkanku.

Tiba-tiba, Deva menelepon. Untuk kali pertama seumur hidupku, aku memilih untuk mengangkat telepon itu.

Drrrttt ...! Drrrttt ...!

Nama Deva memanggil-manggil di layar. Ada logo WhatsApp juga di bagian atas. Mungkin itu notifikasi pesan dari Deva yang sudah mencoba menghubungiku jutaan kali sepanjang hari.

Aku mengangkat kepala pelan-pelan ke arah Daddy Ryuji, sambil menunjukkan layar ponsel. “Aku ... aku ....”

“Angkat aja.”

Dengan sigap aku mengangkat panggilan telepon itu. Dalam situasi normal, aku enggak akan mengangkatnya. Tapi dibandingkan menjawab pertanyaan Daddy Ryuji, tampaknya Deva lebih menenangkan hati.

“Halo?”

“Woy! Kok kagak dibalas sih WA gue?”

Aku menelan ludah. “Aku ... aku baru selesai.”

“Lo di mana sekarang?”

“Kenapa?”

“Kan gue udah bilang di WhatsApp, gue mau jemput elo. Gue mau traktir elo makan. Ya anggap aja ini permintaan maaf gue lah yang udah lancang datang ke tempat elo. Makanya baca WA gue! Jangan dianggurin gitu, anjir. Gue tuh lagi pengin makan burger gitu. Makanan western. Daging sapi gitu, di-grill. Terus dia ngasih saus kejunya banyak banget. Anjir. Elo pasti belum pernah coba. Mahal soalnya. Satu burger bisa 80 sampe 90, lah. Ini gue bermaksud baik mau ngajak elo makan ....”

Dan Deva pun mencerocos selama beberapa menit soal burger yang sedang diinginkannya.

Tipikal Deva. Namun dalam situasi ini, aku bersyukur Deva memberiku jeda waktu beberapa saat sebelum aku harus kembali ke Daddy Ryuji di sebelah. Selama Deva flexing soal hobinya makan makanan western dan menjelaskan berapa derajat celsius seiris daging dalam burger itu harus dimasak, kepalaku berputar keras mencari cara menjawab terbaik atas pertanyaan Daddy Ryuji yang tadi.

Aku mengepal-ngepalkan tanganku dengan gugup. Kepalaku menoleh ke kiri, ke luar jendela mobil, mencoba mencari inspirasi. Namun aku tak menemukan inspirasi apa pun. Mobil Daddy Ryuji melaju cepat sekali membuntuti mobil Pak Kresna di depan yang juga rada-rada ngebut. Mungkin ini efek mereka semua pilot pesawat jet tempur kali, ya. Jadinya kalau nyetir rada-rada beringas kayak peluru.

“... nah, kalau kentang gorengnya tuh pake saus jalafeno yang diimpor langsung dari Meksiko. Gue yakin elo enggak akan sanggup makannya. Hahaha. Pedes banget, gila. Itu tuh satu paket ama burgernya gitu. Orang-orang biasanya enggak ambil paket ini. Soalnya kebanyakan. Jadinya mahal juga. Kalau gue sih enggak. Gue mah sanggup ngabisin. Sanggup bayar juga. Jadi si saus jalafeno ini ....”

Jalapeño-nya Deva pake J dan F, ya Kak.

Aku enggak tahu harus menjawab bagaimana. Aku enggak tahu jawabanku akan berbuntut ke mana. Apakah pemecatanku dari tugas di akmil ini? Atau pemecatanku dari klinik? Lalu, Fian tahu soal skandal itu, sehingga Fian pun meninggalkanku? Kemudian, yang tersisa untukku hanyalah Deva? Yang mungkin enggak akan tertarik lagi kepadaku karena aku sudah putus silaturahmi dari tentara-tentara ini. Yang Deva pedulikan adalah ngewe dengan tentara. That’s it. Dia senang banget diperkosa sama cowok yang manly.

Ya. Deva menggunakan kata “perkosa”.

Yang menurutku kontradiktif karena perkosa artinya kita enggak mau ngewe ama orang yang nge-fuck kita. Kalau kita menyerahkan diri dengan ikhlas dan bahkan merespons dan nyepong brutal atau menduduki kontol si pemerkosa dan menggerakkan pantat sambil membentuk kata COCONUT, kurasa itu namanya ngewe biasa. Bukan perkosa.

Kalau Deva saja meninggalkanku, apakah aku masih pantas untuk hidup?

Jadi, haruskah aku menjawab pertanyaan Daddy Ryuji?

Memangnya aku bisa menghindari seorang tentara dari divisi pengintai?

“... daripada makanan elo gitu-gitu aja, kayak angkringan, atau warteg, atau nasi goreng pinggir jalan, udahlah elo makan bareng gue aja. Gue bayarin makanan elo—tapi parkir mobil gue, elo yang bayar, ya. Biar imbang. Gimana? Elo di mana?”

Akhirnya aku dapat kesempatan bicara. Setelah mungkin ..., entahlah ..., lebih dari sepuluh menit?

“Enggak bisa,” jawabku pendek.

“Hah?! Enggak bisa?! Emang elo mau ke mana malam ini, hah?!”

“Aku ... aku ada acara.”

“Sama tentara-tentara temen elo itu?”

Dalam situasi normal, aku akan menjawab, “Enggak,” lalu aku akan berbohong dengan lihai agar bisa terhindar dari Deva. Namun di sebelahku adalah tentara senior dari divisi pengintai yang kemungkinan besar mendengarkan suara Deva di telepon meskipun aku tidak me-loudspeak-nya. Dan, misal Daddy Ryuji tidak bisa mendengar percakapan Deva di telepon, lalu aku ketahuan membohongi seseorang di telepon, bilang, “Oh maaf enggak bisa, aku mau ke rumah nenekku malam ini. Mau meninggal kayaknya, jadi aku harus pulang. Maaf aku enggak bisa ikut, ya.” Nanti Daddy Ryuji tidak akan percaya lagi kata-kataku karena aku kepergok berbohong.

Dengan terpaksa aku menjawab, “Iya.”

“Mau pada ke mana kalian?”

“Mau ... badminton.”

“Di mana?”

“Enggak tahu.”

“Lah? Masa enggak tahu? Elo ini gila atau gimana?! Masa mau badminton enggak tahu badmintonnya di mana?”

Aku beneran enggak tahu, Goblok!

“Aku enggak tahu,” tegasku.

“Ya udah entar share loc, ya.”

Aku enggak akan share location, tapi demi ketenangan jiwa, aku berkata, “Iya.”

Deva sebenarnya mulai mengajakku bicara lagi. Namun aku langsung memutus panggilannya. Aku menarik napas panjang, lega karena berhasil terbebas dari Deva. Namun aku langsung teringat bahwa aku belum terbebas dari Daddy Ryuji di sampingku.

Seketika, auranya yang intimidatif seperti dementor langsung menyergap leherku dan mencekikku. Aku tak bisa bernapas. Alih-alih mengatakan sesuatu yang masuk akal, aku malah berkata, “Aung ... aung ... aung ....” Seperti suara anjing laut.

“Bondan salah satu prajurit terbaik,” kata Daddy Ryuji tiba-tiba. Dia menatap ke depan, tak menoleh ke arahku sama sekali. Pun, tampaknya, kami harus berbelok ke sebuah area GOR yang besar di pinggiran kota. Mobil Pak Kresna sudah parkir di salah satu titik, entah sejak kapan. Para tentara sedang menghambur keluar dari dalam mobil. Fian sudah berdiri di samping mobil, menatap kedatanganku dan Daddy Ryuji dengan pandangan nelangsa, sembari pura-pura mendengar dr. Sigit berbicara sesuatu kepadanya.

“Saya enggak mau urusan pribadi Bondan mengganggu kinerjanya,” lanjut Daddy Ryuji. “Kalau sampai ada apa-apa dengan Bondan, lalu pertahanan negara kita goyah karena Bondan enggak maksimal ..., is it safe to say that you’re everything behind this chaos?

Aku membelalak kecil. Aku membeku diam.

Daddy Ryuji memarkir mobilnya berseberangan dengan mobil Pak Kresna. Dia mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arahku.

“Santai .... Saya bilang gitu supaya kamu hati-hati. Bukan supaya kamu takut,” katanya. Terdengar lebih ramah dan bijak. “Ingat kata-kata saya kemarin ....

“Jaga Fian baik-baik.”


[ ... ]


Oke, Kak. Seperti dugaan seluruh umat manusia, aku enggak main badminton.

Aku enggak akan main badminton, kecuali pemainnya semua belok. Kalau pemainnya tentara-tentara kekar kayak begini, pilot-pilot angkatan udara, dengan bisep trisep mengembang penuh, yang kalau nye-mash bagaikan menembakkan rudal dari pesawat tempur sih, aku nyerah.

Jadi, aku beralasan, “Kayaknya saya nonton aja, ya. Maaf, maaf. Tangan agak pegal meriksain calon taruna tadi.” Lalu, aku memainkan tanganku dengan gerakan seperti fingering, yang entah kenapa harus kupraktikkan di depan cowok-cowok ini.

Erick menyeringai ngeri melihat jariku ngulet-ngulet di udara, karena Erick pasti membayangkan jariku ngulet-nguletnya di dalam bool calon taruna.

“Oh, iya. Bener,” kata dr. Sigit mengonfirmasi. “Gapapa nih kamu cuma nonton aja?’

“Ya gapapa, lah Pak. Sekalian rekreasi.” Kemudian aku bercanda, sok-sok manly dan straight, “Eneg banget seharian cuma lihat pantat. Mendingan nonton orang main bulu tangkis.”

“Hahaha ....” Para tentara itu tertawa terbahak-bahak. Mereka menyetujui keluhanku.

Padahal aku enggak mengeluh, sih. Sekali pun aku enggak ngeluh melihat pantat-pantat cowok manly dan straight ini. Kalau bisa, aku ingin seumur hidupku diisi dengan melihat pantat-pantat cowok yang bisa kumainkan lubang bool-nya.

“Ya udah, sambil jagain tas aja,” kata Harjasa seraya bersiap mengambil raketnya.

Jadilah aku duduk di antara dua lapangan. Seluruh tas dan barang-barang pribadi seperti ponsel dikumpulkan di satu titik. Aku duduk tak jauh dari situ. GOR besar ini memiliki empat lapangan bulu tangkis. Para tentara hanya menyewa tiga di antaranya. Satu lapangan lagi disewa orang lain.

Selain semua orang yang ada di mobil Pak Kresna tadi, ada lagi rombongan lain yang datang belakangan kira-kira 20 menit setelah kami mulai. Aku tidak mengenal satu pun rombongan tentara itu, tetapi aku pernah melihat beberapa wajah mereka selama beraktivitas di aula. Mereka merupakan rekan-rekannya dr. Sigit, senior Fian semua. Tapi satu di antara mereka ada si Puting Hitam yang tempo hari kutemui di kosan Fian (yang kayaknya, kasurnya, kupakai untuk ngewe bersama Bondan). Kelihatannya Puting Hitam menyetir mobil untuk rombongan kedua ini.

Tak ayal, tiga lapangan yang disewa penuh semua. Masing-masing lapangan diisi empat orang bermain berlawanan. Sisa dua orang saja yang duduk di dekatku. Namun aku tidak mengenal mereka.

Fian langsung terjun ke lapangan, berpasangan dengan Erick, melawan Bondan dan seorang senior mereka yang aku enggak tahu namanya. Aku menonton dengan tenang di pinggir lapangan, menarik napas barang sejenak dari segala roller coaster yang kualami sepanjang hari. Roller coaster yang membawaku naik turun lewat sange, panik, deg-degan, gembira, takut, dan lain sebagainya. Kebanyakan aku menatap pertandingan di depanku dengan tatapan kosong karena kepalaku melayang ke mana-mana.

Sampai detik ini aku masih belum bisa memecahkan perintah Daddy Ryuji soal Fian. Seolah-olah aku ini majikan Fian yang harus memelihara Fian bagaikan kucing sehingga Daddy Ryuji berkata, “Jaga Fian baik-baik.”

Aku tak berhasil menemukan jawabannya setelah berpikir cukup keras. Jadi lama-lama aku menonton pertandingan badminton saja. Khususnya pertandingan Fian melawan Bondan.

Agak brutal, soalnya.

Khususnya Fian.

Dalam kondisi lemas lesu karena menangani “masalah internal” itu, Fian masih tetap berenergi untuk menghajar Bondan dengan smash keras atau berguling ke sana kemari supaya enggak kehilangan poin. Aku enggak tahu apakah Fian sedang pamer kemampuan bulu tangkisnya atau dia segedek itu sama Bondan sehingga berusaha mengalahkannya.

“Itu bagian gue anjing!” Erick menyurungkan kepala Fian, yang baru saja masuk ke lahan Erick, hanya untuk menangkis bola dari Bondan.

Sorry,” jawab Fian pendek, tetapi ekspresinya tetap tak peduli. Dia kembali lagi ke posisinya, menunggu bola, dan lagi-lagi menangkis semua bola di lahan Erick dengan egois.

Kayaknya dia sengaja sih, Kak. Kelihatan banget dia kesal sama Bondan, jadi dia mengarah ke Bondan mulu tiap membalas bola.

Set pertama, aku enggak bisa lihat ekspresi wajah Fian karena dia membelakangiku. Yang bisa kulihat adalah Bondan, di seberang sana. Dia rada-rada bete karena Fian menyasarnya terus-menerus, tetapi Bondan memberikan perlawanan.

Erick kelihatannya kesal karena Fian mendominasi tim mereka. Pada satu momen, Erick bermaksud menangkis bola yang masuk ke lahannya Fian—mungkin untuk menunjukkan kalau dia juga jago badminton. Namun pada saat yang sama, Fian mengincar kok yang melayang ke arah mereka. Apalagi koknya mengarah ke lahan Fian. Alhasil ....

CTRAAANNNGGG!

BRUK!

“Aaargh!”

Raket Erick menghantam raket Fian.

Tubuh mereka juga saling menghantam dengan keras, seperti dua mobil yang bertabrakan adu banteng dalam kecepatan tinggi.

Keduanya jatuh terguling. Terpental ke arah berlawanan karena sama-sama berbadan besar dan kekar.

Fian jatuh terduduk ke luar lapangan. Erick terguling hingga terkapar telentang di atas lapangan.

YES!” Bondan mendengus bangga dan gembira, karena itu tambahan poin untuknya.

“ANJING!” umpat Erick. Perutnya naik turun karena mengambil napas. “Nafsu banget lo, Bro! Gilaaa looo! Anjing! Ya?”

Erick dan Fian sama-sama bangkit. Namun Erick malah mengambil raketnya, melayangkan raket itu ke pantat Fian ...

PUUUKKK!

... men-spanking Fian di depan semua orang.

“Gue udahan!” sungut Erick kesal. “Mas Petra! Masuk, gih!”

Salah satu dari dua cowok yang duduk di dekatku berdiri dan masuk ke lapangan, menggantikan posisi Erick.

Lalu, Erick, dengan ganteng dan gagahnya, melepas kausnya yang basah oleh keringat. Meskipun sedari tadi gaji buta karena hampir semua tangkisan dilakukan Fian di tim mereka, tetap saja Erick keringatan sebadan-badan. Kausnya yang basah dia banting ke atas duffel bag terdekat. Lalu dengan tubuh hangat dan basah itu, dia duduk di depanku.

Literally.

Di antara dua bukaan pahaku.

Telanjang dada. Basah.

Aromanya manly. Hampir kayak satu pastry yang enak banget dari toko roti dekat klinikku, yang ada lelehan kejunya, dicampur dengan aroma kayu dan kopi yang menenangkan.

“Mat! Pijit!” Dia menepuk-nepuk bahunya. “Pegel, gue.”

Sesaat, aku terpaku. Aku sempat melirik ke arah Fian, tetapi tentara itu kayaknya enggak ada masalah dengan Erick. Jadi, aku langsung meremas bahu kekar yang basah oleh keringat itu.

Subhanallah, Kak. Bahunya liat, padat, dan keras. Isinya daging ama otot, enggak ada lemaknya kayaknya. Bahuku sih kalau dipegang langsung kerasa tulang selangkanya. Tulang-tulang Erick dibalut otot yang kokoh hingga ke tulang belikatnya di belakang.

“Aaahhh ...! Gilaaa .... Enak banget lu pijetannya,” ungkap Erick sambil mendesah keenakan.

Erick melemaskan badan sembari merasakan pijatan tanganku di bahunya. Aku sih tidak merasa pijatanku spesial. Kurasa reaksi Erick berlebihan ketika dia tersenyum lebar dan geleng-geleng kepala.

“Belajar dari mana lo?” tanyanya.

“Diajarin Bapak,” jawabku.

“Bokap lo tukang pjat?”

“Enggak, sih. Tapi aku sering disuruh mijitin sama Bapak, terus diarahin ke mana-mananya.”

“Hahaha ... anjing! Mantap juga tuh triknya. Sebelah sini ....” Erick menepuk bahu bagian samping. Kupijat bahu di area itu.

Pertandingan di depan kembali berlangsung dan aku mulai sibuk memijat bahu cowok straight ini. Erick tampaknya keenakan dengan pijatanku, karena ketika aku mulai memijat tengkuknya, dia malah mengalungkan kedua lengannya ke atas pahaku. Setengah bersender ke arahku. Keteknya yang berbulu tipis itu menjepit pahaku.

Fuck.

Jangan mundur lagi, ya! Awas!

Kontolku lagi ngaceng soalnya.

Tapi Erick memang sekurang ajar itu. Kepala dia tiba-tiba ditengadahkan ke atas, lalu di menitahku dengan tegas, “Kepala gue, tuh. Pusing.” Badan Erick pun mundur.

Aku mati-matian memundurkan area selangkangan supaya kepala Erick enggak bersandar ke perutku.

Fuck. Fuck. Fuck. Fuck. Fuck.

Akhirnya kudorong bahu itu agar maju ke depan, mumpung tanganku sedang memijat bahunya. Tapi makin aku meremas bahu telanjang itu, makin keraslah kontolku. Mana Erick, di jarak sedekat ini, gantengnya bukan main. Kulitnya mulus dan bersih, seolah-olah dia skincare-an tiap malam. Padahal tentara yang lain kelihatan banget item dan kumalnya—termasuk Fian.

Dari posisiku sekarang, aku bisa melihat nenen Erick di bawah sana. Tampak begitu mancung dan mengundang. Ingin sekali aku meremas dada kekar itu.

“Mat!” panggil Erick. Dia memejamkan matanya, masih menikmati pijatanku.

“Hm?”

“Berapa umur?”

“Tahun ini mau 25.”

“Deketan lah ama umur si Ezel. Dia masih 20-an.”

“Iya. Lumayan, dekat.”

“Temenin lah, dia. Kagak punya temen, anjing. Di kosan mulu.”

“Iya. Kan udah ketemu beberapa kali.”

“Bukaaan .... Maksud gue ..., datengin ke kosannya. Ajak main ke luar. Ke mal. Ke tempat-tempat orang seumuran kalian sering datangin.”

“Mungkin nanti kalau aku udah selesai sama med check—“

“Iyaaa ... entar,” sela Erick. “Dia juga sibuk kuliah sekarang mah. Maksudnya, kalau weekend, kalau malam-malam, ajak nongkrong lah. Kalian kan sama-sama cowok. Bisa tuh main ke bekas lanud, yang sering ada balap motor gitu. Ajakin dia nonton yang begituan.”

Enggak, sih. Enggak mungkin.

Aku dan Ezel enggak akan mau menonton balap motor warga lokal yang dihadiri cowok-cowok berpenampilan preman dengan hormon testosteron dan patriarki kental.

Namun aku tetap menjawab, “Iya, nanti aku ajak main kalau udah enggak sibuk.”

“Sabtu entar, habis dari risetnya si Kapten, kita ajak si Ezel main. Elo rido kagak?”

“Iya, rido. Hehehe ....”

“Si Ezel ..., kalau ngobrol ama gue tuh ..., suka nge-hang. Blah bloh. Kayak orang bloon. Padahal dia anaknya pinter, anjing. Nilai di sekolahnya bagus-bagus, tapi planga-plongo. Tiap hari di rumah cuma ngamar doang. Pas kuliah, sok-sok pengin hidup mandiri, petantang-petenteng minta ngekos sendiri, giliran ditantang, kayak ayam sayur. Lewat!”

Ayam sayur?

“Dari dulu kayak gitukah?” tanyaku.

“Enggak.” Erick mendengus. “Sebelum gue akmil, baik-baik aja tuh bocah. Mepet terus ke gue tiap hari. Kagak ada masalah. Di luar dia hobi mainin nenen gue, dia normal aja kayak bocah lainnya.”

“Hah? Mainin nenen?!” Aku sampai berhenti memijat.

“Yaaa ... namanya juga anak-anak. Kalau gue molor kagak pake baju, dia sering kepergok mainin tetek gue.”

“Pake tangan?”

“Iya. Kadang pake mulut. Pas gue lagi molor.”

“Hah?!” Aku beneran pause dulu bentar karena enggak paham. Kok bisa sih seorang Erick, seorang kakak laki-laki tukang bully yang superalpha ini biasa aja sama adiknya yang mainin nenen.

“Emang anak manja, dia. Kagak apa-apa gue mah,” kata Erick. Dia membungkuk dan menunjuk satu bagian di punggungnya agar aku lanjut memijat di situ. “Dia suka sama tetek gue. Dari kecil. Pengin punya tetek kayak gue. Tapi disuruh nge-gym, kagak mau.”

“Waktu kecil, Ezel enggak dapat ASI dari ibu kalian?”

“Nyokap gue masih ada, anjing! Gilaaa looo!” Erick sempat-sempatnya berbalik untuk menjitakku dengan lembut. “Dapet, lah! Disusuin terus ama nyokap gue sampe mau masuk TK. Tapi karena enggak dikasih lagi, ya gue yang susuin kadang-kadang. Meskipun gue kagak ada susunya.”

“Hah?!”

“Nenen-nenenan doang ...!” Erick mendengus. “Daripada dia narkoba, gue biarin aja kalau dia mainin tetek gue sampe ngisep-ngisep.”

“Hah?!”

“Sampe kelas lima SD, lah. Sampe gue lulus SMA.”

“Hah?!”

“Hah-hoh! Hah-hoh!” Erick berbalik untuk menjitakku lagi. “Jadi elo kagak mau temenan ama si Ezel?”

“Ya, mau. Aku cuma kaget aja dulunya Ezel begitu.”

“Emang kenapa kalau dia kayak gitu, hah?”

“Ya gapapa.”

Aku iri sih sebenarnya. Sejak kecil Ezel udah bisa nenen ke tetek Erick yang seksi itu. Dan Ericknya enggak menganggap itu hal yang abnormal. Bagi Erick yang enggak abnormal adalah hobi Ezel mendekam di kamar.

“Ambil kanan, Pet! Si Bondan kagak bisa ke kanan!” Tiba-tiba Erick berseru seperti itu ke lapangan.

Sejak saat itu, obrolan tentang Ezel tak muncul lagi. Aku pun kembali fokus memijat punggung Erick hingga sang tentara merem melek keenakan. Celana panjangku yang berbahan katun, basah oleh keringat dari ketek Erick.

Selama kira-kira sepuluh menit, kondisinya seperti itu terus hingga akhirnya Bondan tiba-tiba keluar dari lapangan dan menghampiri kami. Satu tentara yang dari tadi menunggu akhirnya masuk ke lapangan menggantikan Bondan. Namun, karena Bondan menghampiriku dan berkata, “Gue juga, lah! Pijitin! Hehehe ...,” Paduka Raja enggak terima. Beliau ikutan keluar lapangan.

Siapa itu Paduka Raja?

Tentu saja, Fian.

Dengan gesit Fian berlari ke arah kami dan bertanya dengan ketus, “Pada ngapain di sini?”

“Minta pijat doang ...,” kata Bondan, sambil mencoba menarik Erick keluar dari kangkanganku.

“Bentaaar! Gue belum selesai, anjing!” Erick menolak.

Fian tiba-tiba menyambar Bondan dan menariknya agak menjauh. “Saya aja yang mijitin.”

“Enggak usaaah .... Si Rohmat aja. Enak tuh kayaknya si Erick—“

“Saya aja.”

Erick juga mendukung. “Iye. Sama si Fian aja, sono! Kan enakan si Fian kalau mijit.”

“Kan elo masih main, Bro!” Dengan canggung dan setengah panik Bondan memelas.

Fian mendorong Bondan hingga terduduk di atas lantai, kemudian Fian memijat bahu Bondan dengan remasan yang sangat kuat.

“Argh! Argh! AAARGH!” Bondan menjerit sampai membelalakkan mata. “Pelan-pelan aja, anjing!”

“Kamu tentara. Yang kayak gini harusnya enggak ada apa-apa.” Fian menekan sesuatu dengan sangat kuat di area bahu belakang Bondan hingga lelaki itu melompat.

“AAARGH! Bangsat!” Bondan mencoba melepaskan diri, tetapi Fian tetap menariknya mendekat. “Gue sama si Rohmat aja, Bro. Lebih manusiawi.”

“Sama saya aja, Bon. Aman—“

“AAAAAARGH!”

“Hahaha ...!” Erick ngakak lepas. “Woy, Bon! Si Fian kan sering jadi tukang urut di tim kita. Dia aja. Sekalian pijat sampe semua urat-urat lu lurus lagi. Siapa tahu jalan hidup lu jadi lurus juga!”

“Anjing! Enggak gitu juga ya caranya—ARGH! Pelan-pelan, bangsat!”

Fian tidak mendengarkan. Dia meremas dan memijat tubuh Bondan dengan sangat brutal. Dari posisiku duduk kulihat pijatan itu seperti orang yang sedang mengulek cabe dari bentuk buah sampai jadi cair. Sampe enggak kelihatan lagi potongan-potongan cabenya. Tubuh Bondan membusung ke depan, mencoba menghindari Fian, tetapi Bondan tak bisa ke mana-mana.

“Ampun! Ampun! AAARGH!”

Pada saat yang sama, tiba-tiba terdengar juga teriakan dari arah lain.

“AAARGH!”

Hampir semua orang menoleh ke sumber suara. Soalnya suara teriakan itu diikuti dengan suara gebruk yang cukup keras.

Dr. Sigit terjatuh. Kakinya terkilir.

Hal pertama yang kudengar setelahnya adalah “Yan, Yan, Yan! Sini!”

Dengan sigap Fian berlari menghampiri kehebohan di lapangan sebelah untuk melihat apa yang terjadi. Aku yang jelas-jelas perawat dan mendapat pendidikan untuk menangani kaki terkilir, juga langsung menghampiri. Erick juga tidak protes ketika badan seksinya kutinggalkan. Erick membuntutiku dari belakang.

Dr. Sigit masih terkekeh-kekeh meskipun dia mengaduh kesakitan. “Dasar nafsu, ngambil bola di situ. Hehehe ... jadinya kepeleset.”

“Sini, Pak.”

Sama seperti yang Fian lakukan kepadaku di gunung, waktu kakiku terkilir, kaki dr. Sigit langsung dia pangku ke atas pahanya agar elevasinya lebih tinggi.

“Nah, nah, ya, gitu,” kata dr. Sigit sambil meringis. “Cari es.”

“Saya lihat ada vending machine di depan,” kata Fian. “Rick, coba beli minum di situ, cari yang kalengnya paling dingin. Saya coba cari es ke tukang teh botol di depan.”

“Oke siap.” Erick pun berlalu keluar bersama Fian. Sementara dr. Sigit dipapah ke pinggir lapangan agar bisa beristirahat.

Aku, Rohmat si Perawat, mendadak tak berguna di tempat itu, tak merawat korban mana pun. Hanya planga-plongo mengamati situasi seperti ... seperti apa tadi ...? Seperti ayam sayur.

Aku beneran bingung harus ngapain karena dr. Sigit pun sudah ditangani oleh teman-temannya. Mereka mengerubungi, mengajak ngobrol, bercanda-canda, dan lain sebagainya. Dengan canggung aku kembali ke tempatku. Ke Bondan yang masih mengatur napasnya setelah pijatan brutal dari Fian barusan.

Ketika aku duduk di lokasiku yang tadi, Bondan langsung menghampiri. Mungkin mumpung enggak ada Fian juga, kayaknya. Dengan cengar-cengir jail anak nakal, dia langsung duduk di antara kedua pahaku—seperti Erick tadi. Dan dia juga menepuk bahunya dua kali. “Di sini. Pijat.”

“Aku bukan tukang pijat, ya.”

“Ya masa si Erick elo pijitin, gue kagak, sih?”

“Lah! Apa hubungannya?”

Bondan berbalik dan tiba-tiba mencubit tetekku.

“Argh!”

“Ayolah ...!”

“Enggak, ah!” Aku menyilangkan tangan di depan dada. “Entar malah keenakan, pula.”

“Emang itu tujuannya!”

“Enggak!”

Ck!” Dengan kesal Bondan melepas kausnya, sehingga dia bertelanjang dada di depanku. “Harus aja gue bugil dulu ....”

“Eh, enggak ya! Bugil enggak bugil, aku enggak mau mijitin!”

Tapi dadaku berdebar juga, anjing. Gimana pun, Bondan ini tetap tentara manly straight yang kekar. Yang kalau seharian aku sange ngelihat puluhan bool dan kontol, otomatis aku sange juga melihat Bondan lepas baju. Mana ototnya sama-sama kenyal juga kayak Erick barusan. Bahunya lebar. Aroma badannya mengingatkan pada malam penuh gairah bersama Bondan.

Membuatku merasakan kontol memory akan kenikmatan seks bersama Bondan.

“Yuk!” Bondan menepuk lagi bahunya dua kali.

“Enggak boleh. Daddy Ryuji bilang aku enggak boleh menghancurkan hubungan Abang sama Lela.”

“Daddy Ryuji?” Bondan menoleh ke belakang dengan kedua alis bertaut. “Siapa itu?”

Ck! Lupa aku kalau nama itu hanya ada dalam kepalaku saja. “Bukan siapa-siapa.”

“Ayo, pijit! Entar kalau elo cuma mijit si Erick tapi gue kagak, orang-orang malah curiga, anjir.”

Aku sudah membuka mulut untuk membantah statement itu, tetapi aku enggak bisa berkutik. Dengan terpaksa aku meremas bahu lebar itu dan memijatnya.

Tubuh Bondan sama basahnya dengan tubuh Erick. Aroma macho-nya membuatku makin merindukan kejantanan tubuh pria. Makin aku memijat bahu lebar itu, makin aku ingin ngewe. Mohon diingat bahwa sejak ngewe dengan Pak Guntur kemarin, aku belum crot.

Gairah ini memuncak ketika Bondan dengan sengaja mendesah-desah secara sensual. “Aaahhh .... Remas lagi, Sayang .... Aaaaaahhh ....”

PLAK! Kutampar punggungnya. “Jangan lebai!”

Bondan hanya terkekeh.

Setelah beberapa saat memijat, dia bikin ulah lagi. “Mat, tetek gue juga pegal. Pijat juga dong.”

“Enggak!”

“Hahaha ....”

Lelaki ini memang bangsat, ya. Tahu aku seneng sama tubuh pria, bukannya merajamku karena aku LGBT, malah dia sengaja-sengajain ngegoda.

“Tuh, Mat, udah bangun,” kata Bondan tak lama kemudian. Diam-diam dia menarik tepian celananya ke depan, menguak apa yang ada di baliknya.

Aku yang sedang ada di belakangnya otomatis melihat pusaka di balik celana itu.

Kontol Bondan.

Aku melihat lagi kontol Bondan yang imut-imut itu.

Kontol yang tampaknya sudah ngaceng.

“Tuh, kan. Kalau elo yang megang ... gue naik mulu, anjing!”

“Abangnya aja yang mesum ini mah.”

“Hahaha ....”

Adegan itu, sialnya, dilihat oleh Fian. Dia masuk tepat ketika Bondan selesai memamerkan kontol ngaceng-nya kepadaku. Aku tidak tahu Fian melihatnya atau tidak. Namun ketika Fian melewati kami, dia melirik ke arah Bondan dengan tatapan tak suka.

“Bon,” panggilnya dingin.

“Ini gue yang minta. Gue!” sahut Bondan, melindungiku. “Pijat bentar doang.”

Fian pun berlalu ke arah dr. Sigit untuk mengantarkan es. Ketika Fian kembali, Bondan langsung melompat berdiri. Dia terkekeh ketakutan, “Hehehe .... Bentar doang, Yan. Kagak ngapa-ngapain. Cuma pijat.”

Fian menarik Bondan untuk duduk agar dia bisa memijat Bondan lagi. Agak memaksa, tapi Fian beneran bete banget mukanya. Bondan lagi-lagi dipijat dengan brutal penuh dendam kesumat.

“AAAAAARGH!” Bondan melolong, mencoba kabur, tetapi Fian menahan tubuh Bondan dengan kakinya. “Ampun! Ampun!”

Aku hanya bisa duduk di sebelah Fian dengan salah tingkah. Aku pengin terkekeh melihat Bondan tersiksa oleh pijatan itu. Tapi aku lagi kesengsem juga melihat Fian yang secemburu itu sama Bondan. Sesekali Fian menoleh ke arahku sambil menyiksa Bondan, matanya agak menyipit. Kayak bocah lagi ngambek. Sesuatu yang enggak kusangka bakal dilakukan tentara segagah Fian. Tapi ekspresinya itu imut banget.

Saking gemasnya, aku cuma bisa menunduk dan mengulum senyum. Fian pun lanjut menyiksa Bondan.

Tak lama dari situ, Daddy Ryuji menghampiri kami.

“Fian. Pada minta dipijat, tuh,” katanya, menunjuk teman-temannya dengan dagu.

Fian menarik napas panjang. Dia agak ragu. “Saya sebentar lagi ke sana, Pak. Nanti kalau si Bondan udah mampus.”

“Bangsat!” Bondan menyikut Fian.

Daddy Ryuji terkekeh kecil. “Udah sehat, dia. Enggak usah dipiijat lagi.”

“Sono, lu!” Bondan melompat kabur dari Fian dan langsung berguling ke arahku. “Gue sama si Rohmat aja.”

“Saya yang dipijat Rohmat sekarang,” kata Daddy Ryuji tiba-tiba.

“Yaaahhh ....”

Fian tersenyum puas. Dengan tenang dia pun meninggalkan kami menuju para seniornya yang minta dipijat.

“Ayo!” kata Daddy Ryuji tiba-tiba, mengajakku menjauh dari area tentara itu. Pada saat yang sama, Bondan berdiri lagi untuk main badminton bersama pemain yang masih di lapangan. Erick juga bergabung tak lama kemudian.

“Ke mana, Pak?” tanyaku, membuntutinya.

“Sebelah sana.”

Yang Daddy Ryuji tunjuk adalah area dekat pintu keluar. Agak jauh dari lokasi tas-tas kami.

Dadaku berdebar-debar lagi. Kayaknya ini bukan soal pijat memijat. Kayaknya dia mau lanjut membahas apa yang belum selesai kami bahas di mobil tadi. Apalagi barusan aku “main-main” sama Bondan. Seketika tubuhku merespons dengan perasaan gugup. Punggungku berkeringat dingin. Kubuntuti sosok tinggi menjulang itu seolah-olah aku akan dieksekusi mati.

“Aku ... aku enggak jago pijat.” Aku mulai beralasan.

“Enggak apa-apa. Saya mau ngobrol aja sama kamu.”

Tuh, kan ....

Aku menelan ludah.

Kami tiba di lokasi yang dia inginkan. Tidak seperti Erick dan Bondan, Daddy Ryuji tidak melepas kausnya sebelum kupijat. Aku duduk di belakangnya sembari mulai meremas bahunya yang lebih kenyal dibandingkan tentara-tentara juniornya.

Daddy Ryuji ini orangnya straight to the point. Baru juga dua remasan, dia langsung membuka pertanyaan.

“Kamu lihat reaksi Fian barusan?”

Dengan salah tingkah aku menjawab, “I ... iya.”

“Itu akibatnya kalau kamu enggak hati-hati.”

Entah mengapa, tiba-tiba saja aku menunduk dan berkata, “Maaf.”

“Waktu saya bilang saya sering makan di angkringan depan kosanmu,” lanjut Daddy Ryuji, “saya melakukannya jauh sebelum kamu datang ke sini. Sejak lanud ini akan diaktifkan kembali sebagai Kodiklat sekaligus Koopsud, saya sudah ditugaskan ke sini. Saya sudah tinggal di Gatot Subroto sebelum pembangunan lanud dilakukan. Artinya ....

“... saya mengamati kapan kamu datang ke kosan itu. Dan siapa saja yang main ke kosanmu.”

Aku berhenti memijat selama beberapa detik. Mulai cemas. Perutku mulas, Kak. Sumpah. Ketika aku melanjutkan memijat bahu tentara senior itu, rasanya tanganku dingin.

“Enggak usah takut,” kata Daddy Ryuji tiba-tiba. Mungkin dia juga ahli mendeteksi perubahan suasana hati. “Saya bukan mau menjebloskanmu ke penjara. Kamu enggak berbuat kesalahan apa pun.”

“I ... iya.” Aku menoleh ke arah tentara-tentara lain. Semuanya sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Termasuk Fian yang kini memijat pundaknya Harjasa (dengan lembut, tidak brutal seperti ke Bondan barusan). Aku merasa terisolasi di sini. Tak ada yang melihatku memijat Daddy Ryuji di sini. Kalau aku dibunuh di sini, tak akan ada yang tahu.

“Melihat siapa saja yang main ke tempatmu ...,” lanjut Daddy Ryuji, “saya tahu orang macam apa kamu.”

“Maaf,” bisikku, hampir menangis. Aku benar-benar ketakutan. Tenagaku untuk memijat rasanya sudah lenyap.

“Saya bukan mau menghukummu,” tegas Daddy Ryuji. Suaranya begitu dalam seperti seorang ayah. “Saya mau memastikan ... kamu enggak mengacaukan apa yang sudah berjalan dengan aman selama bertahun-tahun di sini.”

Aku menggelengkan kepala. “Demi Allah, aku enggak punya niat menghancurkan apa pun—“

“Saya tahu,” penggal Daddy Ryuji. “Kamu hanyalah perawat kesepian yang mencoba survive di kota ini, melanjutkan hidup, sambil mencoba peruntungan dengan asmaramu. Tapi kamu terlanjur nyemplung ke satu kubangan berbahaya. Yang bisa menghancurkan orang-orang di tempat saya bekerja.”

Aku terdiam dengan ngeri. Aku sudah tidak memijat Daddy Ryuji lagi karena tanganku bergetar.

“Kamu lihat reaksi Fian barusan?” ulang Daddy Ryuji.

“I ... iya.”

“Jelas. Dia suka kamu.”

Aku menelan ludah.

“Saya enggak masalah,” kata Daddy Ryuji. “Ini hanyalah rasa suka sesaat yang harus dia lampiaskan, sebelum suatu hari dia akan menjalankan kehidupan normal. Menikah dengan perempuan. Membela negara. Dan lain sebagainya. Tapi saat ini ..., dia suka kamu. Saya enggak tahu kenapa dia suka kamu, tapi saya enggak bisa diam aja lihat reaksi dia setiap kamu ada di sekitar.”

Daddy Ryuji menarik napas panjang, menoleh ke arahku sebentar, lalu menoleh ke arah Fian. Kami mengamati tentara ganteng itu bersama-sama. Dia bahkan tidak mempermasalahkan fakta bahwa aku sudah berhenti memijatnya sedari tadi.

“Selama berada di militer, dia lelaki yang bisa kita petakan. Gerak-geriknya. Cara berpikirnya. Cara bicaranya. Gesturnya. Pilihannya. Semuanya terukur. Dia juga enggak cengengesan kayak teman-temannya. Kayak si Erick atau si Bondan. Betul?”

“Iya, betul.”

“Kamu sempat ketemu Fian yang seperti itu?”

“Sempat. Waktu ... awal-awal.”

“Menurutmu dia masih Fian yang kamu temui awal-awal?” Daddy Ryuji menoleh ke arahku, menatap mataku dengan tatapan memojokkan.

Aku menggelengkan kepala sambil menunduk.

“Itu karena kamu berhasil menghancurkan pertahanan dia,” lanjut Daddy Ryuji. “Saya ini observer. Saya tahu siapa saja yang pernah pacaran sama Fian. Datanya lengkap. Saya bisa desak dia juga untuk mengaku—kan, saya lebih tinggi pangkatnya dari dia. Tapi saya kaget melihat dia bicara dengan lepas, dengan spontan, waktu kita ketemu di ruang prasmanan kemaren. Dia kelihatan ....

“... happy.”

Aku menatap lagi Fian di kejauhan sana. Fian kebetulan menoleh ke arah kami. Jadi aku buru-buru memijat lagi bahu Daddy Ryuji, supaya kami kelihatan seperti sedang memijat, bukan sedang membicarakannya diam-diam. Setelah Fian tersenyum dan kembali ke Harjasa, Daddy Ryuji kembali berbicara.

“Senyum itu adalah senyum saya,” katanya. “Sewaktu saya bersama satu orang di militer, yang bikin saya happy ngelewatin pendidikan. Bikin saya termotivasi. Dia ngasih saya satu hal ... yang enggak akan bisa dikasih semua perempuan di dunia.”

Daddy Ryuji menundukkan kepala. Mengambil jeda sedikit sebelum melanjutkan, “Sekarang sudah almarhum.”

“Innalillahi ...,” gumamku.

“Namanya ....”

....

“... Awang.”


[ ... ]


23. Capek Gue Sange Mulu (Shorter) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 25. Besok Abang Buktiin (Shorter)

Komentar