Halo, Kak!
Aku hampir kencing di celana waktu Daddy Ryuji mendesakku
mengaku. Tapi aku enggak beneran kencing, sih. Soalnya mobil ini kelihatan
mahal banget. Pasti joknya dilapisi kulit buaya asli.
Aku membeku selama beberapa detik. Aku sudah di tahap menyerah
dan mengaku bahwa iya aku melakukan skandal bersama Bondan tapi please
jangan rajam kami di tengah lapangan disaksikan oleh seluruh tentara. Bibirku
sudah bergetar saat akan melakukannya. Namun, seseorang menyelamatkanku.
Deva.
Iya. Dia yang menyelamatkanku.
Tiba-tiba, Deva menelepon. Untuk kali pertama seumur hidupku,
aku memilih untuk mengangkat telepon itu.
Drrrttt ...! Drrrttt ...!
Nama Deva memanggil-manggil di layar. Ada logo WhatsApp juga
di bagian atas. Mungkin itu notifikasi pesan dari Deva yang sudah mencoba
menghubungiku jutaan kali sepanjang hari.
Aku mengangkat kepala pelan-pelan ke arah Daddy Ryuji, sambil
menunjukkan layar ponsel. “Aku ... aku ....”
“Angkat aja.”
Dengan sigap aku mengangkat panggilan telepon itu. Dalam
situasi normal, aku enggak akan mengangkatnya. Tapi dibandingkan menjawab
pertanyaan Daddy Ryuji, tampaknya Deva lebih menenangkan hati.
“Halo?”
“Woy! Kok kagak dibalas sih WA gue?”
Aku menelan ludah. “Aku ... aku baru selesai.”
“Lo di mana sekarang?”
“Kenapa?”
“Kan gue udah bilang di WhatsApp, gue mau
jemput elo. Gue mau traktir elo makan. Ya anggap aja ini permintaan maaf gue
lah yang udah lancang datang ke tempat elo. Makanya baca WA gue! Jangan
dianggurin gitu, anjir. Gue tuh lagi pengin makan burger gitu. Makanan western. Daging sapi gitu, di-grill.
Terus dia ngasih saus kejunya banyak banget. Anjir. Elo pasti belum pernah
coba. Mahal soalnya. Satu burger bisa 80 sampe 90, lah. Ini gue bermaksud baik
mau ngajak elo makan ....”
Dan Deva pun mencerocos selama beberapa menit soal burger yang
sedang diinginkannya.
Tipikal Deva. Namun dalam situasi ini, aku bersyukur Deva
memberiku jeda waktu beberapa saat sebelum aku harus kembali ke Daddy Ryuji di
sebelah. Selama Deva flexing soal hobinya makan makanan western
dan menjelaskan berapa derajat celsius seiris daging dalam burger itu harus
dimasak, kepalaku berputar keras mencari cara menjawab terbaik atas pertanyaan
Daddy Ryuji yang tadi.
Aku mengepal-ngepalkan tanganku dengan gugup. Kepalaku menoleh
ke kiri, ke luar jendela mobil, mencoba mencari inspirasi. Namun aku tak
menemukan inspirasi apa pun. Mobil Daddy Ryuji melaju cepat sekali membuntuti
mobil Pak Kresna di depan yang juga rada-rada ngebut. Mungkin ini efek mereka
semua pilot pesawat jet tempur kali, ya. Jadinya kalau nyetir rada-rada
beringas kayak peluru.
“... nah, kalau kentang gorengnya tuh pake
saus jalafeno
yang diimpor langsung dari Meksiko. Gue yakin elo enggak akan sanggup makannya.
Hahaha. Pedes banget, gila. Itu tuh satu paket ama burgernya gitu. Orang-orang
biasanya enggak ambil paket ini. Soalnya kebanyakan. Jadinya mahal juga. Kalau
gue sih enggak. Gue mah sanggup ngabisin. Sanggup bayar juga. Jadi si
saus jalafeno ini ....”
Jalapeño-nya Deva pake J dan F, ya Kak.
Aku enggak tahu harus menjawab bagaimana. Aku enggak tahu
jawabanku akan berbuntut ke mana. Apakah pemecatanku dari tugas di akmil ini?
Atau pemecatanku dari klinik? Lalu, Fian tahu soal skandal itu, sehingga Fian
pun meninggalkanku? Kemudian, yang tersisa untukku hanyalah Deva? Yang mungkin
enggak akan tertarik lagi kepadaku karena aku sudah putus silaturahmi dari
tentara-tentara ini. Yang Deva pedulikan adalah ngewe dengan tentara. That’s
it. Dia senang banget diperkosa sama cowok yang manly.
Ya. Deva menggunakan kata “perkosa”.
Yang menurutku kontradiktif karena perkosa artinya kita enggak
mau ngewe ama orang yang nge-fuck kita. Kalau kita menyerahkan
diri dengan ikhlas dan bahkan merespons dan nyepong brutal atau
menduduki kontol si pemerkosa dan menggerakkan pantat sambil membentuk kata
COCONUT, kurasa itu namanya ngewe biasa. Bukan perkosa.
Kalau Deva saja meninggalkanku, apakah aku masih pantas untuk
hidup?
Jadi, haruskah aku menjawab pertanyaan Daddy Ryuji?
Memangnya aku bisa menghindari seorang tentara dari divisi
pengintai?
“... daripada makanan elo gitu-gitu aja,
kayak angkringan, atau warteg, atau nasi goreng pinggir jalan, udahlah elo
makan bareng gue aja. Gue bayarin makanan elo—tapi parkir mobil gue, elo yang
bayar, ya. Biar imbang. Gimana? Elo di mana?”
Akhirnya aku dapat kesempatan bicara. Setelah mungkin ...,
entahlah ..., lebih dari sepuluh menit?
“Enggak bisa,” jawabku pendek.
“Hah?! Enggak bisa?! Emang elo mau ke mana
malam ini, hah?!”
“Aku ... aku ada acara.”
“Sama tentara-tentara temen elo itu?”
Dalam situasi normal, aku akan menjawab, “Enggak,” lalu aku
akan berbohong dengan lihai agar bisa terhindar dari Deva. Namun di sebelahku
adalah tentara senior dari divisi pengintai yang kemungkinan besar mendengarkan
suara Deva di telepon meskipun aku tidak me-loudspeak-nya. Dan, misal
Daddy Ryuji tidak bisa mendengar percakapan Deva di telepon, lalu aku ketahuan
membohongi seseorang di telepon, bilang, “Oh maaf enggak bisa, aku mau ke rumah
nenekku malam ini. Mau meninggal kayaknya, jadi aku harus pulang. Maaf aku
enggak bisa ikut, ya.” Nanti Daddy Ryuji tidak akan percaya lagi kata-kataku
karena aku kepergok berbohong.
Dengan terpaksa aku menjawab, “Iya.”
“Mau pada ke mana kalian?”
“Mau ... badminton.”
“Di mana?”
“Enggak tahu.”
“Lah? Masa enggak tahu? Elo ini gila atau
gimana?! Masa mau badminton enggak tahu badmintonnya di mana?”
Aku beneran enggak tahu, Goblok!
“Aku enggak tahu,” tegasku.
“Ya udah entar share loc, ya.”
Aku enggak akan share location, tapi demi ketenangan
jiwa, aku berkata, “Iya.”
Deva sebenarnya mulai mengajakku bicara lagi. Namun aku
langsung memutus panggilannya. Aku menarik napas panjang, lega karena berhasil
terbebas dari Deva. Namun aku langsung teringat bahwa aku belum terbebas dari
Daddy Ryuji di sampingku.
Seketika, auranya yang intimidatif seperti dementor
langsung menyergap leherku dan mencekikku. Aku tak bisa bernapas. Alih-alih
mengatakan sesuatu yang masuk akal, aku malah berkata, “Aung ... aung ... aung
....” Seperti suara anjing laut.
“Bondan salah satu prajurit terbaik,” kata Daddy Ryuji
tiba-tiba. Dia menatap ke depan, tak menoleh ke arahku sama sekali. Pun,
tampaknya, kami harus berbelok ke sebuah area GOR yang besar di pinggiran kota.
Mobil Pak Kresna sudah parkir di salah satu titik, entah sejak kapan. Para
tentara sedang menghambur keluar dari dalam mobil. Fian sudah berdiri di
samping mobil, menatap kedatanganku dan Daddy Ryuji dengan pandangan nelangsa,
sembari pura-pura mendengar dr. Sigit berbicara sesuatu kepadanya.
“Saya enggak mau urusan pribadi Bondan mengganggu kinerjanya,”
lanjut Daddy Ryuji. “Kalau sampai ada apa-apa dengan Bondan, lalu pertahanan
negara kita goyah karena Bondan enggak maksimal ..., is it safe to say that
you’re everything behind this chaos?”
Aku membelalak kecil. Aku membeku diam.
Daddy Ryuji memarkir mobilnya berseberangan dengan mobil Pak
Kresna. Dia mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arahku.
“Santai .... Saya bilang gitu supaya kamu hati-hati. Bukan
supaya kamu takut,” katanya. Terdengar lebih ramah dan bijak. “Ingat kata-kata
saya kemarin ....
“Jaga Fian baik-baik.”
[ ... ]
Oke, Kak. Seperti dugaan seluruh umat manusia, aku enggak main
badminton.
Aku enggak akan main badminton, kecuali pemainnya semua belok.
Kalau pemainnya tentara-tentara kekar kayak begini, pilot-pilot angkatan udara,
dengan bisep trisep mengembang penuh, yang kalau nye-mash bagaikan
menembakkan rudal dari pesawat tempur sih, aku nyerah.
Jadi, aku beralasan, “Kayaknya saya nonton aja, ya. Maaf,
maaf. Tangan agak pegal meriksain calon taruna tadi.” Lalu, aku memainkan
tanganku dengan gerakan seperti fingering, yang entah kenapa harus
kupraktikkan di depan cowok-cowok ini.
Erick menyeringai ngeri melihat jariku ngulet-ngulet di udara,
karena Erick pasti membayangkan jariku ngulet-nguletnya di dalam bool
calon taruna.
“Oh, iya. Bener,” kata dr. Sigit mengonfirmasi. “Gapapa nih
kamu cuma nonton aja?’
“Ya gapapa, lah Pak. Sekalian rekreasi.” Kemudian aku
bercanda, sok-sok manly dan straight, “Eneg banget seharian cuma
lihat pantat. Mendingan nonton orang main bulu tangkis.”
“Hahaha ....” Para tentara itu tertawa terbahak-bahak. Mereka
menyetujui keluhanku.
Padahal aku enggak mengeluh, sih. Sekali pun aku enggak ngeluh
melihat pantat-pantat cowok manly dan straight ini. Kalau bisa,
aku ingin seumur hidupku diisi dengan melihat pantat-pantat cowok yang bisa
kumainkan lubang bool-nya.
“Ya udah, sambil jagain tas aja,” kata Harjasa seraya bersiap
mengambil raketnya.
Jadilah aku duduk di antara dua lapangan. Seluruh tas dan
barang-barang pribadi seperti ponsel dikumpulkan di satu titik. Aku duduk tak
jauh dari situ. GOR besar ini memiliki empat lapangan bulu tangkis. Para
tentara hanya menyewa tiga di antaranya. Satu lapangan lagi disewa orang lain.
Selain semua orang yang ada di mobil Pak Kresna tadi, ada lagi
rombongan lain yang datang belakangan kira-kira 20 menit setelah kami mulai.
Aku tidak mengenal satu pun rombongan tentara itu, tetapi aku pernah melihat
beberapa wajah mereka selama beraktivitas di aula. Mereka merupakan
rekan-rekannya dr. Sigit, senior Fian semua. Tapi satu di antara mereka ada si
Puting Hitam yang tempo hari kutemui di kosan Fian (yang kayaknya, kasurnya,
kupakai untuk ngewe bersama Bondan). Kelihatannya Puting Hitam menyetir
mobil untuk rombongan kedua ini.
Tak ayal, tiga lapangan yang disewa penuh semua. Masing-masing
lapangan diisi empat orang bermain berlawanan. Sisa dua orang saja yang duduk
di dekatku. Namun aku tidak mengenal mereka.
Fian langsung terjun ke lapangan, berpasangan dengan Erick,
melawan Bondan dan seorang senior mereka yang aku enggak tahu namanya. Aku
menonton dengan tenang di pinggir lapangan, menarik napas barang sejenak dari
segala roller coaster yang kualami sepanjang hari. Roller coaster
yang membawaku naik turun lewat sange, panik, deg-degan, gembira, takut,
dan lain sebagainya. Kebanyakan aku menatap pertandingan di depanku dengan
tatapan kosong karena kepalaku melayang ke mana-mana.
Sampai detik ini aku masih belum bisa memecahkan perintah
Daddy Ryuji soal Fian. Seolah-olah aku ini majikan Fian yang harus memelihara Fian
bagaikan kucing sehingga Daddy Ryuji berkata, “Jaga Fian baik-baik.”
Aku tak berhasil menemukan jawabannya setelah berpikir cukup
keras. Jadi lama-lama aku menonton pertandingan badminton saja. Khususnya
pertandingan Fian melawan Bondan.
Agak brutal, soalnya.
Khususnya Fian.
Dalam kondisi lemas lesu karena menangani “masalah internal”
itu, Fian masih tetap berenergi untuk menghajar Bondan dengan smash
keras atau berguling ke sana kemari supaya enggak kehilangan poin. Aku enggak
tahu apakah Fian sedang pamer kemampuan bulu tangkisnya atau dia segedek itu
sama Bondan sehingga berusaha mengalahkannya.
“Itu bagian gue anjing!” Erick menyurungkan kepala Fian, yang
baru saja masuk ke lahan Erick, hanya untuk menangkis bola dari Bondan.
“Sorry,” jawab Fian pendek, tetapi ekspresinya tetap tak
peduli. Dia kembali lagi ke posisinya, menunggu bola, dan lagi-lagi menangkis
semua bola di lahan Erick dengan egois.
Kayaknya dia sengaja sih, Kak. Kelihatan banget dia kesal sama
Bondan, jadi dia mengarah ke Bondan mulu tiap membalas bola.
Set pertama, aku enggak bisa lihat ekspresi wajah Fian karena
dia membelakangiku. Yang bisa kulihat adalah Bondan, di seberang sana. Dia rada-rada
bete karena Fian menyasarnya terus-menerus, tetapi Bondan memberikan
perlawanan.
Erick kelihatannya kesal karena Fian mendominasi tim mereka.
Pada satu momen, Erick bermaksud menangkis bola yang masuk ke lahannya
Fian—mungkin untuk menunjukkan kalau dia juga jago badminton. Namun pada saat
yang sama, Fian mengincar kok yang melayang ke arah mereka. Apalagi koknya
mengarah ke lahan Fian. Alhasil ....
CTRAAANNNGGG!
BRUK!
“Aaargh!”
Raket Erick menghantam raket Fian.
Tubuh mereka juga saling menghantam dengan keras, seperti dua
mobil yang bertabrakan adu banteng dalam kecepatan tinggi.
Keduanya jatuh terguling. Terpental ke arah berlawanan karena
sama-sama berbadan besar dan kekar.
Fian jatuh terduduk ke luar lapangan. Erick terguling hingga
terkapar telentang di atas lapangan.
“YES!” Bondan mendengus bangga dan gembira, karena itu
tambahan poin untuknya.
“ANJING!” umpat Erick. Perutnya naik turun karena mengambil
napas. “Nafsu banget lo, Bro! Gilaaa looo! Anjing! Ya?”
Erick dan Fian sama-sama bangkit. Namun Erick malah mengambil
raketnya, melayangkan raket itu ke pantat Fian ...
PUUUKKK!
... men-spanking Fian di depan semua orang.
“Gue udahan!” sungut Erick kesal. “Mas Petra! Masuk, gih!”
Salah satu dari dua cowok yang duduk di dekatku berdiri dan
masuk ke lapangan, menggantikan posisi Erick.
Lalu, Erick, dengan ganteng dan gagahnya, melepas kausnya yang
basah oleh keringat. Meskipun sedari tadi gaji buta karena hampir semua
tangkisan dilakukan Fian di tim mereka, tetap saja Erick keringatan
sebadan-badan. Kausnya yang basah dia banting ke atas duffel bag
terdekat. Lalu dengan tubuh hangat dan basah itu, dia duduk di depanku.
Literally.
Di antara dua bukaan pahaku.
Telanjang dada. Basah.
Aromanya manly. Hampir kayak satu pastry yang
enak banget dari toko roti dekat klinikku, yang ada lelehan kejunya, dicampur
dengan aroma kayu dan kopi yang menenangkan.
“Mat! Pijit!” Dia menepuk-nepuk bahunya. “Pegel, gue.”
Sesaat, aku terpaku. Aku sempat melirik ke arah Fian, tetapi
tentara itu kayaknya enggak ada masalah dengan Erick. Jadi, aku langsung
meremas bahu kekar yang basah oleh keringat itu.
Subhanallah, Kak. Bahunya liat, padat, dan keras. Isinya
daging ama otot, enggak ada lemaknya kayaknya. Bahuku sih kalau dipegang
langsung kerasa tulang selangkanya. Tulang-tulang Erick dibalut otot yang kokoh
hingga ke tulang belikatnya di belakang.
“Aaahhh ...! Gilaaa .... Enak banget lu pijetannya,” ungkap
Erick sambil mendesah keenakan.
Erick melemaskan badan sembari merasakan pijatan tanganku di
bahunya. Aku sih tidak merasa pijatanku spesial. Kurasa reaksi Erick berlebihan
ketika dia tersenyum lebar dan geleng-geleng kepala.
“Belajar dari mana lo?” tanyanya.
“Diajarin Bapak,” jawabku.
“Bokap lo tukang pjat?”
“Enggak, sih. Tapi aku sering disuruh mijitin sama Bapak,
terus diarahin ke mana-mananya.”
“Hahaha ... anjing! Mantap juga tuh triknya. Sebelah sini
....” Erick menepuk bahu bagian samping. Kupijat bahu di area itu.
Pertandingan di depan kembali berlangsung dan aku mulai sibuk
memijat bahu cowok straight ini. Erick tampaknya keenakan dengan
pijatanku, karena ketika aku mulai memijat tengkuknya, dia malah mengalungkan
kedua lengannya ke atas pahaku. Setengah bersender ke arahku. Keteknya yang
berbulu tipis itu menjepit pahaku.
Fuck.
Jangan mundur lagi, ya! Awas!
Kontolku lagi ngaceng soalnya.
Tapi Erick memang sekurang ajar itu. Kepala dia tiba-tiba
ditengadahkan ke atas, lalu di menitahku dengan tegas, “Kepala gue, tuh.
Pusing.” Badan Erick pun mundur.
Aku mati-matian memundurkan area selangkangan supaya kepala
Erick enggak bersandar ke perutku.
Fuck. Fuck. Fuck. Fuck. Fuck.
Akhirnya kudorong bahu itu agar maju ke depan, mumpung
tanganku sedang memijat bahunya. Tapi makin aku meremas bahu telanjang itu,
makin keraslah kontolku. Mana Erick, di jarak sedekat ini, gantengnya bukan
main. Kulitnya mulus dan bersih, seolah-olah dia skincare-an tiap malam.
Padahal tentara yang lain kelihatan banget item dan kumalnya—termasuk Fian.
Dari posisiku sekarang, aku bisa melihat nenen Erick di bawah
sana. Tampak begitu mancung dan mengundang. Ingin sekali aku meremas dada kekar
itu.
“Mat!” panggil Erick. Dia memejamkan matanya, masih menikmati
pijatanku.
“Hm?”
“Berapa umur?”
“Tahun ini mau 25.”
“Deketan lah ama umur si Ezel. Dia masih 20-an.”
“Iya. Lumayan, dekat.”
“Temenin lah, dia. Kagak punya temen, anjing. Di kosan mulu.”
“Iya. Kan udah ketemu beberapa kali.”
“Bukaaan .... Maksud gue ..., datengin ke kosannya. Ajak main
ke luar. Ke mal. Ke tempat-tempat orang seumuran kalian sering datangin.”
“Mungkin nanti kalau aku udah selesai sama med check—“
“Iyaaa ... entar,” sela Erick. “Dia juga sibuk kuliah sekarang
mah. Maksudnya, kalau weekend, kalau malam-malam, ajak nongkrong
lah. Kalian kan sama-sama cowok. Bisa tuh main ke bekas lanud, yang sering ada
balap motor gitu. Ajakin dia nonton yang begituan.”
Enggak, sih. Enggak mungkin.
Aku dan Ezel enggak akan mau menonton balap motor warga lokal
yang dihadiri cowok-cowok berpenampilan preman dengan hormon testosteron dan
patriarki kental.
Namun aku tetap menjawab, “Iya, nanti aku ajak main kalau udah
enggak sibuk.”
“Sabtu entar, habis dari risetnya si Kapten, kita ajak si Ezel
main. Elo rido kagak?”
“Iya, rido. Hehehe ....”
“Si Ezel ..., kalau ngobrol ama gue tuh ..., suka nge-hang.
Blah bloh. Kayak orang bloon. Padahal dia anaknya pinter, anjing. Nilai
di sekolahnya bagus-bagus, tapi planga-plongo. Tiap hari di rumah cuma
ngamar doang. Pas kuliah, sok-sok pengin hidup mandiri, petantang-petenteng
minta ngekos sendiri, giliran ditantang, kayak ayam sayur. Lewat!”
Ayam sayur?
“Dari dulu kayak gitukah?” tanyaku.
“Enggak.” Erick mendengus. “Sebelum gue akmil, baik-baik aja
tuh bocah. Mepet terus ke gue tiap hari. Kagak ada masalah. Di luar dia hobi
mainin nenen gue, dia normal aja kayak bocah lainnya.”
“Hah? Mainin nenen?!” Aku sampai berhenti memijat.
“Yaaa ... namanya juga anak-anak. Kalau gue molor kagak pake
baju, dia sering kepergok mainin tetek gue.”
“Pake tangan?”
“Iya. Kadang pake mulut. Pas gue lagi molor.”
“Hah?!” Aku beneran pause dulu bentar karena enggak
paham. Kok bisa sih seorang Erick, seorang kakak laki-laki tukang bully
yang superalpha ini biasa aja sama adiknya yang mainin nenen.
“Emang anak manja, dia. Kagak apa-apa gue mah,” kata Erick.
Dia membungkuk dan menunjuk satu bagian di punggungnya agar aku lanjut memijat
di situ. “Dia suka sama tetek gue. Dari kecil. Pengin punya tetek kayak gue.
Tapi disuruh nge-gym, kagak mau.”
“Waktu kecil, Ezel enggak dapat ASI dari ibu kalian?”
“Nyokap gue masih ada, anjing! Gilaaa looo!” Erick
sempat-sempatnya berbalik untuk menjitakku dengan lembut. “Dapet, lah! Disusuin
terus ama nyokap gue sampe mau masuk TK. Tapi karena enggak dikasih lagi, ya
gue yang susuin kadang-kadang. Meskipun gue kagak ada susunya.”
“Hah?!”
“Nenen-nenenan doang ...!” Erick mendengus. “Daripada dia
narkoba, gue biarin aja kalau dia mainin tetek gue sampe ngisep-ngisep.”
“Hah?!”
“Sampe kelas lima SD, lah. Sampe gue lulus SMA.”
“Hah?!”
“Hah-hoh! Hah-hoh!” Erick berbalik untuk menjitakku lagi.
“Jadi elo kagak mau temenan ama si Ezel?”
“Ya, mau. Aku cuma kaget aja dulunya Ezel begitu.”
“Emang kenapa kalau dia kayak gitu, hah?”
“Ya gapapa.”
Aku iri sih sebenarnya. Sejak kecil Ezel udah bisa nenen ke
tetek Erick yang seksi itu. Dan Ericknya enggak menganggap itu hal yang
abnormal. Bagi Erick yang enggak abnormal adalah hobi Ezel mendekam di kamar.
“Ambil kanan, Pet! Si Bondan kagak bisa ke kanan!” Tiba-tiba
Erick berseru seperti itu ke lapangan.
Sejak saat itu, obrolan tentang Ezel tak muncul lagi. Aku pun
kembali fokus memijat punggung Erick hingga sang tentara merem melek keenakan. Celana
panjangku yang berbahan katun, basah oleh keringat dari ketek Erick.
Selama kira-kira sepuluh menit, kondisinya seperti itu terus
hingga akhirnya Bondan tiba-tiba keluar dari lapangan dan menghampiri kami. Satu
tentara yang dari tadi menunggu akhirnya masuk ke lapangan menggantikan Bondan.
Namun, karena Bondan menghampiriku dan berkata, “Gue juga, lah! Pijitin! Hehehe
...,” Paduka Raja enggak terima. Beliau ikutan keluar lapangan.
Siapa itu Paduka Raja?
Tentu saja, Fian.
Dengan gesit Fian berlari ke arah kami dan bertanya dengan
ketus, “Pada ngapain di sini?”
“Minta pijat doang ...,” kata Bondan, sambil mencoba menarik
Erick keluar dari kangkanganku.
“Bentaaar! Gue belum selesai, anjing!” Erick menolak.
Fian tiba-tiba menyambar Bondan dan menariknya agak menjauh.
“Saya aja yang mijitin.”
“Enggak usaaah .... Si Rohmat aja. Enak tuh kayaknya si
Erick—“
“Saya aja.”
Erick juga mendukung. “Iye. Sama si Fian aja, sono! Kan enakan
si Fian kalau mijit.”
“Kan elo masih main, Bro!” Dengan canggung dan setengah panik
Bondan memelas.
Fian mendorong Bondan hingga terduduk di atas lantai, kemudian
Fian memijat bahu Bondan dengan remasan yang sangat kuat.
“Argh! Argh! AAARGH!” Bondan menjerit sampai membelalakkan
mata. “Pelan-pelan aja, anjing!”
“Kamu tentara. Yang kayak gini harusnya enggak ada apa-apa.”
Fian menekan sesuatu dengan sangat kuat di area bahu belakang Bondan hingga
lelaki itu melompat.
“AAARGH! Bangsat!” Bondan mencoba melepaskan diri, tetapi Fian
tetap menariknya mendekat. “Gue sama si Rohmat aja, Bro. Lebih manusiawi.”
“Sama saya aja, Bon. Aman—“
“AAAAAARGH!”
“Hahaha ...!” Erick ngakak lepas. “Woy, Bon! Si Fian kan
sering jadi tukang urut di tim kita. Dia aja. Sekalian pijat sampe semua
urat-urat lu lurus lagi. Siapa tahu jalan hidup lu jadi lurus juga!”
“Anjing! Enggak gitu juga ya caranya—ARGH! Pelan-pelan,
bangsat!”
Fian tidak mendengarkan. Dia meremas dan memijat tubuh Bondan
dengan sangat brutal. Dari posisiku duduk kulihat pijatan itu seperti orang
yang sedang mengulek cabe dari bentuk buah sampai jadi cair. Sampe enggak
kelihatan lagi potongan-potongan cabenya. Tubuh Bondan membusung ke depan,
mencoba menghindari Fian, tetapi Bondan tak bisa ke mana-mana.
“Ampun! Ampun! AAARGH!”
Pada saat yang sama, tiba-tiba terdengar juga teriakan dari
arah lain.
“AAARGH!”
Hampir semua orang menoleh ke sumber suara. Soalnya suara
teriakan itu diikuti dengan suara gebruk yang cukup keras.
Dr. Sigit terjatuh. Kakinya terkilir.
Hal pertama yang kudengar setelahnya adalah “Yan, Yan, Yan!
Sini!”
Dengan sigap Fian berlari menghampiri kehebohan di lapangan
sebelah untuk melihat apa yang terjadi. Aku yang jelas-jelas perawat dan
mendapat pendidikan untuk menangani kaki terkilir, juga langsung menghampiri.
Erick juga tidak protes ketika badan seksinya kutinggalkan. Erick membuntutiku
dari belakang.
Dr. Sigit masih terkekeh-kekeh meskipun dia mengaduh
kesakitan. “Dasar nafsu, ngambil bola di situ. Hehehe ... jadinya kepeleset.”
“Sini, Pak.”
Sama seperti yang Fian lakukan kepadaku di gunung, waktu
kakiku terkilir, kaki dr. Sigit langsung dia pangku ke atas pahanya agar
elevasinya lebih tinggi.
“Nah, nah, ya, gitu,” kata dr. Sigit sambil meringis. “Cari
es.”
“Saya lihat ada vending machine di depan,” kata Fian.
“Rick, coba beli minum di situ, cari yang kalengnya paling dingin. Saya coba
cari es ke tukang teh botol di depan.”
“Oke siap.” Erick pun berlalu keluar bersama Fian. Sementara
dr. Sigit dipapah ke pinggir lapangan agar bisa beristirahat.
Aku, Rohmat si Perawat, mendadak tak berguna di tempat itu,
tak merawat korban mana pun. Hanya planga-plongo mengamati situasi seperti ...
seperti apa tadi ...? Seperti ayam sayur.
Aku beneran bingung harus ngapain karena dr. Sigit pun sudah
ditangani oleh teman-temannya. Mereka mengerubungi, mengajak ngobrol,
bercanda-canda, dan lain sebagainya. Dengan canggung aku kembali ke tempatku.
Ke Bondan yang masih mengatur napasnya setelah pijatan brutal dari Fian
barusan.
Ketika aku duduk di lokasiku yang tadi, Bondan langsung
menghampiri. Mungkin mumpung enggak ada Fian juga, kayaknya. Dengan
cengar-cengir jail anak nakal, dia langsung duduk di antara kedua
pahaku—seperti Erick tadi. Dan dia juga menepuk bahunya dua kali. “Di sini.
Pijat.”
“Aku bukan tukang pijat, ya.”
“Ya masa si Erick elo pijitin, gue kagak, sih?”
“Lah! Apa hubungannya?”
Bondan berbalik dan tiba-tiba mencubit tetekku.
“Argh!”
“Ayolah ...!”
“Enggak, ah!” Aku menyilangkan tangan di depan dada. “Entar
malah keenakan, pula.”
“Emang itu tujuannya!”
“Enggak!”
“Ck!” Dengan kesal Bondan melepas kausnya, sehingga dia
bertelanjang dada di depanku. “Harus aja gue bugil dulu ....”
“Eh, enggak ya! Bugil enggak bugil, aku enggak mau mijitin!”
Tapi dadaku berdebar juga, anjing. Gimana pun, Bondan ini
tetap tentara manly straight yang kekar. Yang kalau seharian aku sange
ngelihat puluhan bool dan kontol, otomatis aku sange juga melihat
Bondan lepas baju. Mana ototnya sama-sama kenyal juga kayak Erick barusan.
Bahunya lebar. Aroma badannya mengingatkan pada malam penuh gairah bersama
Bondan.
Membuatku merasakan kontol memory akan kenikmatan seks
bersama Bondan.
“Yuk!” Bondan menepuk lagi bahunya dua kali.
“Enggak boleh. Daddy Ryuji bilang aku enggak boleh
menghancurkan hubungan Abang sama Lela.”
“Daddy Ryuji?” Bondan menoleh ke belakang dengan kedua alis
bertaut. “Siapa itu?”
Ck! Lupa aku kalau nama itu hanya ada dalam
kepalaku saja. “Bukan siapa-siapa.”
“Ayo, pijit! Entar kalau elo cuma mijit si Erick tapi gue
kagak, orang-orang malah curiga, anjir.”
Aku sudah membuka mulut untuk membantah statement itu,
tetapi aku enggak bisa berkutik. Dengan terpaksa aku meremas bahu lebar itu dan
memijatnya.
Tubuh Bondan sama basahnya dengan tubuh Erick. Aroma macho-nya
membuatku makin merindukan kejantanan tubuh pria. Makin aku memijat bahu lebar
itu, makin aku ingin ngewe. Mohon diingat bahwa sejak ngewe
dengan Pak Guntur kemarin, aku belum crot.
Gairah ini memuncak ketika Bondan dengan sengaja
mendesah-desah secara sensual. “Aaahhh .... Remas lagi, Sayang .... Aaaaaahhh
....”
PLAK! Kutampar punggungnya. “Jangan lebai!”
Bondan hanya terkekeh.
Setelah beberapa saat memijat, dia bikin ulah lagi. “Mat,
tetek gue juga pegal. Pijat juga dong.”
“Enggak!”
“Hahaha ....”
Lelaki ini memang bangsat, ya. Tahu aku seneng sama tubuh
pria, bukannya merajamku karena aku LGBT, malah dia sengaja-sengajain ngegoda.
“Tuh, Mat, udah bangun,” kata Bondan tak lama kemudian.
Diam-diam dia menarik tepian celananya ke depan, menguak apa yang ada di
baliknya.
Aku yang sedang ada di belakangnya otomatis melihat pusaka di
balik celana itu.
Kontol Bondan.
Aku melihat lagi kontol Bondan yang imut-imut itu.
Kontol yang tampaknya sudah ngaceng.
“Tuh, kan. Kalau elo yang megang ... gue naik mulu, anjing!”
“Abangnya aja yang mesum ini mah.”
“Hahaha ....”
Adegan itu, sialnya, dilihat oleh Fian. Dia masuk tepat ketika
Bondan selesai memamerkan kontol ngaceng-nya kepadaku. Aku tidak tahu
Fian melihatnya atau tidak. Namun ketika Fian melewati kami, dia melirik ke
arah Bondan dengan tatapan tak suka.
“Bon,” panggilnya dingin.
“Ini gue yang minta. Gue!” sahut Bondan, melindungiku. “Pijat
bentar doang.”
Fian pun berlalu ke arah dr. Sigit untuk mengantarkan es.
Ketika Fian kembali, Bondan langsung melompat berdiri. Dia terkekeh ketakutan,
“Hehehe .... Bentar doang, Yan. Kagak ngapa-ngapain. Cuma pijat.”
Fian menarik Bondan untuk duduk agar dia bisa memijat Bondan
lagi. Agak memaksa, tapi Fian beneran bete banget mukanya. Bondan lagi-lagi
dipijat dengan brutal penuh dendam kesumat.
“AAAAAARGH!” Bondan melolong, mencoba kabur, tetapi Fian
menahan tubuh Bondan dengan kakinya. “Ampun! Ampun!”
Aku hanya bisa duduk di sebelah Fian dengan salah tingkah. Aku
pengin terkekeh melihat Bondan tersiksa oleh pijatan itu. Tapi aku lagi
kesengsem juga melihat Fian yang secemburu itu sama Bondan. Sesekali Fian
menoleh ke arahku sambil menyiksa Bondan, matanya agak menyipit. Kayak bocah
lagi ngambek. Sesuatu yang enggak kusangka bakal dilakukan tentara segagah
Fian. Tapi ekspresinya itu imut banget.
Saking gemasnya, aku cuma bisa menunduk dan mengulum senyum.
Fian pun lanjut menyiksa Bondan.
Tak lama dari situ, Daddy Ryuji menghampiri kami.
“Fian. Pada minta dipijat, tuh,” katanya, menunjuk
teman-temannya dengan dagu.
Fian menarik napas panjang. Dia agak ragu. “Saya sebentar lagi
ke sana, Pak. Nanti kalau si Bondan udah mampus.”
“Bangsat!” Bondan menyikut Fian.
Daddy Ryuji terkekeh kecil. “Udah sehat, dia. Enggak usah
dipiijat lagi.”
“Sono, lu!” Bondan melompat kabur dari Fian dan langsung
berguling ke arahku. “Gue sama si Rohmat aja.”
“Saya yang dipijat Rohmat sekarang,” kata Daddy Ryuji
tiba-tiba.
“Yaaahhh ....”
Fian tersenyum puas. Dengan tenang dia pun meninggalkan kami
menuju para seniornya yang minta dipijat.
“Ayo!” kata Daddy Ryuji tiba-tiba, mengajakku menjauh dari
area tentara itu. Pada saat yang sama, Bondan berdiri lagi untuk main badminton
bersama pemain yang masih di lapangan. Erick juga bergabung tak lama kemudian.
“Ke mana, Pak?” tanyaku, membuntutinya.
“Sebelah sana.”
Yang Daddy Ryuji tunjuk adalah area dekat pintu keluar. Agak
jauh dari lokasi tas-tas kami.
Dadaku berdebar-debar lagi. Kayaknya ini bukan soal pijat
memijat. Kayaknya dia mau lanjut membahas apa yang belum selesai kami bahas di
mobil tadi. Apalagi barusan aku “main-main” sama Bondan. Seketika tubuhku
merespons dengan perasaan gugup. Punggungku berkeringat dingin. Kubuntuti sosok
tinggi menjulang itu seolah-olah aku akan dieksekusi mati.
“Aku ... aku enggak jago pijat.” Aku mulai beralasan.
“Enggak apa-apa. Saya mau ngobrol aja sama kamu.”
Tuh, kan ....
Aku menelan ludah.
Kami tiba di lokasi yang dia inginkan. Tidak seperti Erick dan
Bondan, Daddy Ryuji tidak melepas kausnya sebelum kupijat. Aku duduk di
belakangnya sembari mulai meremas bahunya yang lebih kenyal dibandingkan
tentara-tentara juniornya.
Daddy Ryuji ini orangnya straight to the point. Baru
juga dua remasan, dia langsung membuka pertanyaan.
“Kamu lihat reaksi Fian barusan?”
Dengan salah tingkah aku menjawab, “I ... iya.”
“Itu akibatnya kalau kamu enggak hati-hati.”
Entah mengapa, tiba-tiba saja aku menunduk dan berkata,
“Maaf.”
“Waktu saya bilang saya sering makan di angkringan depan
kosanmu,” lanjut Daddy Ryuji, “saya melakukannya jauh sebelum kamu datang ke
sini. Sejak lanud ini akan diaktifkan kembali sebagai Kodiklat sekaligus
Koopsud, saya sudah ditugaskan ke sini. Saya sudah tinggal di Gatot Subroto
sebelum pembangunan lanud dilakukan. Artinya ....
“... saya mengamati kapan kamu datang ke kosan itu. Dan siapa
saja yang main ke kosanmu.”
Aku berhenti memijat selama beberapa detik. Mulai cemas.
Perutku mulas, Kak. Sumpah. Ketika aku melanjutkan memijat bahu tentara senior
itu, rasanya tanganku dingin.
“Enggak usah takut,” kata Daddy Ryuji tiba-tiba. Mungkin dia
juga ahli mendeteksi perubahan suasana hati. “Saya bukan mau menjebloskanmu ke
penjara. Kamu enggak berbuat kesalahan apa pun.”
“I ... iya.” Aku menoleh ke arah tentara-tentara lain.
Semuanya sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Termasuk Fian yang kini
memijat pundaknya Harjasa (dengan lembut, tidak brutal seperti ke Bondan
barusan). Aku merasa terisolasi di sini. Tak ada yang melihatku memijat Daddy
Ryuji di sini. Kalau aku dibunuh di sini, tak akan ada yang tahu.
“Melihat siapa saja yang main ke tempatmu ...,” lanjut Daddy
Ryuji, “saya tahu orang macam apa kamu.”
“Maaf,” bisikku, hampir menangis. Aku benar-benar ketakutan.
Tenagaku untuk memijat rasanya sudah lenyap.
“Saya bukan mau menghukummu,” tegas Daddy Ryuji. Suaranya
begitu dalam seperti seorang ayah. “Saya mau memastikan ... kamu enggak
mengacaukan apa yang sudah berjalan dengan aman selama bertahun-tahun di sini.”
Aku menggelengkan kepala. “Demi Allah, aku enggak punya niat
menghancurkan apa pun—“
“Saya tahu,” penggal Daddy Ryuji. “Kamu hanyalah perawat
kesepian yang mencoba survive di kota ini, melanjutkan hidup, sambil
mencoba peruntungan dengan asmaramu. Tapi kamu terlanjur nyemplung ke satu
kubangan berbahaya. Yang bisa menghancurkan orang-orang di tempat saya
bekerja.”
Aku terdiam dengan ngeri. Aku sudah tidak memijat Daddy Ryuji
lagi karena tanganku bergetar.
“Kamu lihat reaksi Fian barusan?” ulang Daddy Ryuji.
“I ... iya.”
“Jelas. Dia suka kamu.”
Aku menelan ludah.
“Saya enggak masalah,” kata Daddy Ryuji. “Ini hanyalah rasa
suka sesaat yang harus dia lampiaskan, sebelum suatu hari dia akan menjalankan
kehidupan normal. Menikah dengan perempuan. Membela negara. Dan lain
sebagainya. Tapi saat ini ..., dia suka kamu. Saya enggak tahu kenapa dia suka
kamu, tapi saya enggak bisa diam aja lihat reaksi dia setiap kamu ada di
sekitar.”
Daddy Ryuji menarik napas panjang, menoleh ke arahku sebentar,
lalu menoleh ke arah Fian. Kami mengamati tentara ganteng itu bersama-sama. Dia
bahkan tidak mempermasalahkan fakta bahwa aku sudah berhenti memijatnya sedari
tadi.
“Selama berada di militer, dia lelaki yang bisa kita petakan.
Gerak-geriknya. Cara berpikirnya. Cara bicaranya. Gesturnya. Pilihannya.
Semuanya terukur. Dia juga enggak cengengesan kayak teman-temannya. Kayak si
Erick atau si Bondan. Betul?”
“Iya, betul.”
“Kamu sempat ketemu Fian yang seperti itu?”
“Sempat. Waktu ... awal-awal.”
“Menurutmu dia masih Fian yang kamu temui awal-awal?” Daddy
Ryuji menoleh ke arahku, menatap mataku dengan tatapan memojokkan.
Aku menggelengkan kepala sambil menunduk.
“Itu karena kamu berhasil menghancurkan pertahanan dia,”
lanjut Daddy Ryuji. “Saya ini observer. Saya tahu siapa saja yang pernah
pacaran sama Fian. Datanya lengkap. Saya bisa desak dia juga untuk mengaku—kan,
saya lebih tinggi pangkatnya dari dia. Tapi saya kaget melihat dia bicara
dengan lepas, dengan spontan, waktu kita ketemu di ruang prasmanan kemaren. Dia
kelihatan ....
“... happy.”
Aku menatap lagi Fian di kejauhan sana. Fian kebetulan menoleh
ke arah kami. Jadi aku buru-buru memijat lagi bahu Daddy Ryuji, supaya kami
kelihatan seperti sedang memijat, bukan sedang membicarakannya diam-diam. Setelah
Fian tersenyum dan kembali ke Harjasa, Daddy Ryuji kembali berbicara.
“Senyum itu adalah senyum saya,” katanya. “Sewaktu saya
bersama satu orang di militer, yang bikin saya happy ngelewatin
pendidikan. Bikin saya termotivasi. Dia ngasih saya satu hal ... yang enggak
akan bisa dikasih semua perempuan di dunia.”
Daddy Ryuji menundukkan kepala. Mengambil jeda sedikit sebelum
melanjutkan, “Sekarang sudah almarhum.”
“Innalillahi ...,” gumamku.
“Namanya ....”
....
“... Awang.”
[ ... ]
23. Capek Gue Sange Mulu (Shorter) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 25. Besok Abang Buktiin (Shorter)
Komentar
Posting Komentar