(HD) 25. Besok Abang Buktiin (Shorter)




Halo, Kak!

“Kalau sehari-hari ..., berminggu-minggu ..., berbulan-bulan ..., kamu cuma ketemu orang-orang yang sama ..., wajar enggak kalau kita develop emotional bond dengan orang-orang ini?”

Ngng ... iya.”

“Wajar enggak, kalau di antara peletonan orang-orang ini, ada orang yang sama yang selalu tidur sebelah kamu ..., yang mandi bareng kamu ..., dikelompokkan satu tim ..., survive sama-sama di hutan ..., di laut ..., gagal bareng-bareng waktu flight simulation ..., lulus bareng-bareng first flight ..., dihukum sama-sama mandiin pesawat, meskipun cuma salah satu di antara kita yang melakukan kesalahan ..., wajar enggak kalau emotional bond-nya lebih kuat sama satu orang ini?”

“Iya.”

“Orang ini yang selalu pakai sikat gigimu seenaknya, tapi dia akan cari kamu duluan buat ngasih kabar gembira. Dia juga yang ngambil potongan ayam paling gede—kalau misalnya ayam cuma satu terus kita harus bagi dua—tapi dia juga yang bakal nraktir kamu pertama kali kalau dapat bonus.” Daddy Ryuji mengambil napas panjang, menunduk menatap jari-jari tangannya. Lalu, Daddy Ryuji menatap langit-langit GOR dengan tatapan kosong. “Kalau kamu penasaran, apakah di militer ada hubungan-hubungan yang ‘kayak gitu’ ...? Saya harus jujur ..., ada. Semuanya dilakuakn secara rahasia dan terjadi bukan karena sama-sama ingin. Tapi karena keadaan. Yang lama-lama ... jadi sama-sama ingin.

“Itu juga yang terjadi sama saya dan Awang.”

Halo, Kak.

Karena kita lagi dengerin kisah rahasia Daddy Ryuji, mari kita awali chapter ini dengan khidmat. Aku lanjut memijat bahu Daddy Ryuji supaya kami kelihatan kayak masih pijat-memijat, bukan sedang heart to heart.

“Saya enggak akan cerita detailnya,” lanjut Daddy Ryuji. “Itu kenangan saya pribadi, yang akan saya simpan dalam hati. Enggak perlu ada yang tahu. Karena apa yang terjadi antara saya dengan Awang, enggak butuh validasi dari orang lain.”

Yaaah ..., aku kecewa. Hampir lho aku dengar kisah romansa dua lelaki kacang ijo ketika menempuh pendidikan militer. Bakal jadi fanfiction yang seksi banget, sih.

“Awang seperti kamu,” mulainya lagi. “Enggak pecicilan. Enggak pendiam. Enggak galak. Normal aja. Prestasi dia juga lumayan, menguasai bidang-bidang yang sebenarnya enggak perlu dia kuasai betul-betul. Saya dengar dari Sigit, kamu nguasain banyak ilmu medis lanjutan, padahal pendidikanmu cuma perawat aja.”

“Enggak sih ...,” gumamku, ingin membantah. Namun kayaknya suaraku enggak kedengaran di tengah ribut-ribut orang main badminton.

Dan, lebih tepatnya, bukan aku nguasain ilmu medis lanjutan. Melainkan, kalau ilmu medisnya berkaitan dengan kontol, aku mempelajarinya secara otodidak. Demi kepentingan pribadi.

“Awang bisa jadi teknisi pesawat. Dari kecil dia belajar bagian-bagian pesawat, tapi masuk AU dia malah jadi pilotnya. Enaknya kalau kita ada masalah di tengah-tengah flight, Awang bisa tahu masalahnya apa tanpa perlu buka manual dulu. Tapi yang disanjung-sanjung bukan dia.”

“Siapa dong?”

“Saya.” Daddy Ryuji menghela napas. “Atasan bilang, prestasi saya selalu bagus. Makanya saya masuk ke divisi-divisi yang sulit. Saya tahan G-Force sampai 9G, bisa dapat tujuh detik. Saya enggak pernah gagal low flight. Semua carrier landing saya sempurna. Kresna, yang jadi instruktur saya, muji-muji sampai beberapa tahun ajaran berikutnya. Nama saya disanjung terus. Tapi enggak ada yang tahu bahwa ada orang lain di balik kesuksesan saya.

“Orang yang lebih excited dari saya buat latihan carrier landing. Orang yang ngasih semua buku referensi. Artikel. Sampe jurnal, semua demi saya test flight dengan sempurna. Dia yang di samping saya waktu saya jatuh, lalu dia juga yang dorong saya buat bangun, sehingga orang-orang enggak tahu kalau saya pernah jatuh.

“Saya kelihatan sempurna di mata orang-orang. Tapi dia enggak peduli kalau dia juga berkontribusi penuh dengan keberhasilan saya.

“Dan orang kayak saya ini enggak banyak. Kemunculannya cuma beberapa tahun sekali. Setelah saya, ada beberapa lagi personel yang prodigy. Yang langsung diambil skadron ini dan itu. Sampai akhirnya kita ketemu Fian.”

Daddy Ryuji mengambil jeda dengan menatap Fian untuk beberapa saat. Lalu, beliau melanjutkan, “Saya pikir ..., mungkin Fian sama seperti saya. Dia hebat. Tapi di belakangnya ada seseorang yang mendorong dia. Awalnya saya pikir pacar Fian yang melakukan itu ..., tapi dia enggak punya hubungan apa pun sepanjang pendidikan. Atau mungkin teman-temannya itu ....” Daddy Ryuji menyempatkan diri menunjuk Erick di lapangan dengan telunjuknya. “Tapi pola hubungan mereka enggak kayak saya dan Awang.

“Bertahun-tahun saya mencoba menerima fakta bahwa Fian hebat karena dirinya sendiri. Enggak ada siapa pun yang nge-back up dia. Sampai akhirnya ..., saya ketemu kamu kemarin.” Daddy Ryuji menoleh ke arahku sejenak.

Dengan panik aku langsung menjelaskan, “Saya baru ketemu Mas Fian, Pak. Sumpah, saya enggak ada hubungan apa-apa.” Aku bahkan mengangkat tangan seperti menyerah.

“Iya, saya tahu. Tapi sejak Fian ketemu kamu, dia mulai berubah.” Daddy Ryuji menatapku dengan tatapan tajam. “Saya enggak mau keberhasilan Fian menjadi hancur ..., gara-gara kamu.”

Aku menelan ludah.

Kutundukkan kepala dengan perasaan bersalah.

“Saya tahu Fian rajin bertemu perempuan yang tinggal satu kosan sama kamu. Saya belum tahu dia siapa, tapi saya bisa cari tahu siapa dia. Sejauh ini yang saya tahu ..., kamu sering mengobrol bareng perempuan itu sebelum mandi pagi. Kalian juga saling menghampiri kosan satu sama lain. Yang artinya, hubunganmu dengan perempuan itu lumayan dekat.

“Melihat reaksi Fian setiap kamu dekat Bondan ...,” lanjutnya, setelah helaan napas panjang. “Saya cemas kamu akan merusak tatanan harmonis yang dibangun timnya Fian. Kami sedang ada masalah internal yang besar di sini. Fian jadi salah satu bagian untuk menyelesaikan masalah itu. Kalau kinerjanya memburuk ..., safe to say kamu berkontribusi di dalamnya.”

Aku membeku ngeri.

Kenapa urusannya bisa jadi seperti itu, sih?

Aku hanya ingin menikmati para halo dek ini tanpa perlu terlibat terlalu jauh.

“Tolong jaga Fian,” kata Daddy Ryuji kemudian. “Jaga hatinya. Jaga perasaannya. Suatu hari dia harus meninggalkanmu, karena normalnya ..., dia enggak akan pernah bisa sama kamu. Sama seperti saya dan Awang. Tapi sebelum hari itu datang ..., jaga dia baik-baik. Bisa?”

Hatiku agak perih mendengar sebagian kata dari statement barusan. Dengan lemas aku hanya sanggup mengangguk. “Bisa.”

“Tapi dari itu semua, ada satu hal yang membuat saya tertarik ke kamu. Bahkan sejak kamu pindah ke kosan itu. Jauh sebelum pertemuan pertama kita kemarin siang,” kata Daddy Ryuji. Dia merogoh saku celana pendeknya, mengeluarkan iPhone yang serinya cukup usang. Daddy Ryuji menggulir sebuah folder rahasia berkata sandi. Di dalamnya, terdapat galeri foto.

Dia menarik keluar sebuah foto.

Foto yang usang juga. Yang kelihatan jelas tidak diambil dari iPhone ini atau smartphone keluaran sepuluh tahun terakhir.

Foto itu diambil dari generasi awal ponsel berkamera yang resolusinya rendah.

Namun foto itu cukup jelas.

Foto Daddy Ryuji.

Dan seorang lelaki.

Yang kuasumsikan adalah Awang.

Yang ....

... anehnya ....

....

... ini cuma ke-GR-anku aja, sih. Ke-PD-anku.

Awang agak-agak mirip denganku.


[ ... ]


“Halo, Dek!” sapa Fian kali pertama sambil menghempaskan tubuhnya di sampingku. Daddy Ryuji dipanggil kawannya sehingga aku duduk sendiri. Di sinilah Fian memanfaatkan situasi untuk menghampiriku.

“Pengin istirahat,” gumam Fian lemas. Meski badannya terlihat lemah, matanya tetap awas. Mungkin karena dia tentara, sehingga Fian harus selalu “siaga” apa pun kondisinya.

“Dr. Sigit bilang Abang harus tidur,” ingatku.

“Belum bisa.”

“Lah, gimana caranya bisa nyelesaiin masalah kalau Abangnya aja enggak fit?”

“Abang masih bisa tahan enggak tidur sampai seminggu,” katanya, keras kepala. Diam-diam dia meremas sepatuku. Pandangannya masih dilemparkan secara kosong ke lapangan, ke arah Erick yang sedang main badminton.

“Kelihatan banget kortisolnya naik,” komentarku. “Tangan Abang gemetaran. Kedutan tiap tiga puluh detik—“

“Mana ada!” sanggah Fian sambil menatap tangannya sendiri—yang kebetulan bergetar kecil, tetapi Fian menahannya agar tidak goyang. “Tadi aja main badminton lancar. Abang lebih aktif nangkis bola daripada si Erick.”

Itu karena kamu lagi nafsu ngehajar Bondan, woy!

 “Oya? Lalu jelaskan kenapa pupilnya membesar gitu? Kayak anak kucing. Padahal ini GOR terang banget.”

“Lagi ... ngng ... lagi lihat jarak jauh. Mereka jauh.”

“Itu artinya prefrontal cortex-nya kecapean. Pupilnya harus membesar supaya bisa fokus.”

“Ini udah dari sananya begini.”

“Terus muka pucat juga udah dari sananya?” selorohku.

“He-eh.”

“Itu ciri-ciri kortisol naik, Bang. Bau badan Abang aja udah deket ke amonia—“

“Ini karena Abang belum mandi. Hehehe. Maaf,” potong Fian sambil menyikutku pelan.

“Aku notice Abang ngusap-ngusap sternumnya tanpa sadar. Ini udah cukup buat ngasih tahu nervous system-nya hampir kolaps, metabolismenya ngebakar protein terlalu banyak, sampai-sampai enggak ada lagi protein yang bisa dibakar di otot. Belum lagi fungsi cerebellum-nya yang keganggu. Dari napas yang ngos-ngosan gitu aja, artinya detak jantung lagi tinggi. Nyari oksigen ke mana-mana.”

Fian hanya menatapku dengan alis mengerut. “Kayaknya Abang salah hire orang dari klinik. Minta perawat, malah dikasih dokter.”

Ck!” Aku mendengus. “Jangan keras kepala.”

“Enggak ....”

“Istirahat, Bang. Tidur.”

“Iya.”

Start malam ini, ya?”

“Inshaallah.”

Aku menggelengkan kepala. “Inshaallah orang Indonesia enggak bisa dipercaya. Abang harus tidur.”

“Baru juga dua hari Abang enggak tidur—“

“Ya masa mau dirapel terus begadangnya?”

“Sumpah, Dek. Abang pernah enggak tidur lebih lama dari ini—“

“Iya, percaya. Tapi sekarang kan lagi nanganin masalah serius. Kalau mau hasilnya oke, badan harus prima.”

“Tiga hari lagi, lah. Bisa.”

“Batu banget, sih! Kalau ngurus badan aja kagak bisa, gimana ngurus orang yang disayang, nanti?”

Fian sudah membuka mulut untuk mendebatku lagi. Namun kata-kata terakhirku berhasil membuatnya menutup mulut. Dia diam selama beberapa saat.

“Oke,” katanya sambil tersenyum kecil. Kepalanya juga manggut-manggut. “Malam ini Abang tidur.”

“Aku minta buktinya ya besok.”

“Hah? Gimana cara ngasih buktinya?”

Kuangkat kedua bahuku. “Entah. Pokoknya, kalau enggak ada bukti, besok malam aku mau main sama Bondan.”

Mendengar nama itu, Fian langsung bete. Rahangnya mengeras. “Iya. Besok Abang buktiin.”


[ ... ]


Kira-kira lima menit sebelum kami semua pulang, Deva meneleponku lagi.

Dia mencoba meneleponku sedari tadi, tetapi kuabaikan. Namun pada momen itu, ketika para tentara sedang menonton pertandingan antara Daddy Ryuji dan Fian yang sengit, kuputuskan untuk mengangkat telepon dari Deva.

Aku melipir ke pinggir lapangan. “Halo?”

“Anjing! Ditelepon dari tadi kagak diangkat-angkat! Hape elo rusak, hah?! Perlu gue beliin baru, hah?!”

Aku memutar bola mata. “Aku lagi main badminton. Enggak pegang hape.”

“Mana ada. Elo cuma nonton doang.”

Dadaku rasanya seperti ditusuk dengan benda dingin. “Da ... dari mana kamu tahu?”

“Gue ngelihatin elo dari sini.”

Otomatis aku menoleh ke arah pintu GOR yang lebar. Daun pintunya ada dua, tetapi terbuka satu. Di balik salah satu pintu, terlihat Deva sedang mengintip ke dalam, menaruh satu tangannya di telinga.

“Elo cuma nonton doang. Si seksi itu doang yang main badminton.”

Aku menelan ludah. “Sejak kapan kamu di situ?”

“Lumayan, lah. Lima belas menit.”

“Dari mana kamu tahu aku di sini?” Dengan geram aku berjalan ke luar GOR, menghampiri Deva.

“Gue samperin GOR di kota ini satu-satu. Ini GOR keempat yang gue datangin. Dari tadi gue nunggu di sini, neleponin elo, tapi kagak diangkat-angkat. Pamali anjir enggak ngangkat telepon dari orang. Entar kuburannya sempit. Lagian kenapa elo enggak jawab telepon gue dari tadi, sih?!”

“Emang kamu mau ngapain ke sini, sih?” Kebetulan aku sudah mencapai pintu keluar, jadi aku mematikan sambungan telepon dan menghambur keluar sambil menarik Deva menjauh.

Namun Deva enggak mau menjauh. Dia bergeming di depan pintu GOR, berpegangan ke daun pintunya, sambil menarikku agar enggak ke mana-mana. “Elu mau ke mana, sih?! Udah di sini aja!”

Aku bersembunyi dari pandangan orang-orang di dalam. “Mau ngapain kamu ke sini?!”

“Gue kangen elo, anjir. Emang elo enggak kangen ama gue, hah?! Enggak mau ngewe lagi ama gue?!”

“Enggak!”

“Kayak yang bakal laku aja lo di sini. Gue lihat elo masih aktif di aplikasi. Udah jelas-jelas gue punya kontol yang bisa elo isap. Gue juga bisa ngebrut elo sampe elo nagih.” Deva mendengus sementara aku membelalak. Ingin sekali aku berkata bahwa aku baru aja ngewe sama salah satu tentara yang ada di dalam sana, tetapi Deva keburu melanjutkan kata-katanya. “Cakep banget, anjir, temen elo itu. Badannya sekel. Brrrrrr .... Merinding gue, pengin remas-remas badan tebalnya.” Deva mengintip lagi ke balik pintu, menatap Fian yang masih main badminton. Mulut Deva menganga kecil. Matanya sayu, seperti orang yang sange.

Bahkan, satu tangannya diam-diam mengusap selangkangannya.

Satu-satunya yang aneh dari Deva adalah dia tidak masuk ke dalam GOR. Padahal biasanya dia lancang SKSD pada siapa pun yang sedang bersamaku—seperti waktu makan dengan Fian minggu lalu. Seakan-akan, Deva takut masuk ke dalam. Apakah Deva cuma berani ngadepin tentara satu lawan satu, enggak berani kalau tentaranya hampir sepeleton seperti di dalam sana?

“Elo beneran kagak bisa ngajak dia ngewe, hah?!” tanya Deva dengan napas memburu.

“Mereka semua di sana straight! Kamu pikir tentara-tentara manly kayak gitu bakal mau ngewe sama laki-laki?”

“Lah, siapa tahu! Enggak mungkin pas lagi pendidikan mereka enggak saling ngocokin. Pasti ada di antara mereka yang ena-ena, anjir. Tiap hari ketemu laki-laki. Kalau sange, gimana?!” Deva makin mengusap kontolnya dengan cepat, dari balik celana. “Anjir, yang lagi duduk itu badannya oke juga. Tapi mukanya biasa-biasa aja.”

Aku ingin sekali membantah statement Deva, tetapi beberapa saat lalu, secara harfiah Daddy Ryuji menceritakan kisah ketentaraannya yang sesuai dengan deskripsi Deva. Bahkan Daddy Ryuji mengiakan bahwa di dalam militer, pasti ada aja yang melakukan “itu”.

Yang bisa kukatakan ke Deva akhirnya, “Tapi yang ada di situ enggak ada yang suka laki-laki, Dev. Aku hang out sama mereka karena aku lagi kerja aja. Dan mereka baik-baik semua, ngajakin aku nongkrong habis kerja. That’s it.

Deva enggak mendengarkan. “Gue punya obat tidur yang ampuh. Plus pil biru. Kalau kita kasih ke si Rafianto itu, kita bisa gerepe-gerepe dia anjir. Nelanjangin dia, tapi kontolnya ngaceng. Gimana?”

Plak!

Kutampar pipi Deva.

“Aw!”

“Kurang ajar ya kamu! Itu pelecehan namanya!”

“Ya gapapa .... Kan bukan kita mau hamilin atau gimana—“

“Tetep aja pelecehan. Kalau dia bangun di tengah-tengah, gimana? Mau, kamu, masuk penjara?!”

“Oh!” Deva teringat sesuatu. “Elo kan punya akses ke bius-biusan. Elo bisa pura-pura ngasih obat suntik ke dia, tapi yang elo kasih ... apa kemaren tuh yang lagi viral ...? Midodareni ...? Yang kayak obat bius itu? Yang dokter anestesi merkosa pasiennya? Entar elo bius dia, habis itu kita bisa mainin kontolnya!”

Aku ke-trigger, sih. Untuk ukuran orang yang sudah menjaga diri supaya enggak melecehkan para calon taruna padahal aku punya akses tak terbatas untuk melakukannya, aku merasa sakit hati. Profesiku dijadikan alat untuk melecehkan orang.

Dadaku berdebar-debar karena amarah.

Aku enggak bisa menjalin silaturahmi lagi dengan orang kayak Deva. Dia sudah kelewat batas. Sedari kemarin dia kelewat batas. Kalau Deva menganggap Fian sebagai sosok untuk memuaskan nafsunya saja, kurasa ini waktunya untuk blok Deva selama-lamanya dan tak pernah terkoneksi lagi dengannya.

“Pergi dari sini,” tegasku, dengan suara dingin.

“Bentar, anjir. Kita susun dulu rencana kita.”

“Pergi dari sini!”

“Gue pesen hotel, entar elo bawa dia ke hotel, terus kita ngobrol-ngobrol bentar kayak di resto kemaren, terus kita—“

PLAK!

Kutampar lagi lelaki kurang ajar ini.

“Aku enggak mau ketemu kamu lagi.”

“Apa?!” Deva mendengus marah. “Maksud elo apa KDRT ke gue di depan orang-orang?!”

“Pergi dari sini!” tegasku lagi.

Muka Deva memerah. Selain karena pipinya panas kutampar dengan keras, dia juga malu karena kini beberapa orang menatap ke arah kami.

Tiba-tiba, dia pergi dari depan pintu.

Tapi dia membawaku serta.

Aku ditarik Deva ke tempat lain yang lebih tersembunyi. Tepatnya ke dekat Avanzanya yang terparkir di paling ujung dekat pohon flamboyan besar. Aku mencoba memberontak, tetapi aku tetap diseret seperti anak kecil yang enggak mau pulang untuk mandi.

“Deva! DEVA! Lepasin!”

Deva mencengkeramku dengan kuat. Kupukul-pukul tangannya, tetapi dia berhasil membawaku ke balik mobil. Aku bahkan didorong hingga hampir menabrak Avanzanya, persis seperti adegan anak tiri di sinetron yang diseret oleh ibu tirinya, lalu dibanting begitu saja hingga kepalanya membentur sesuatu.

BRUK!

“ARGH!” Aku mengerang kesakitan karena bahuku menghantam tanah dengan keras.

“Jangan macam-macam!” ancam Deva setengah menghardik. Matanya memelotot. “Jangan sok-sok ninggalin gue! Emangnya kalau bukan karena gue, elo bakal punya teman di sini, hah?! Kalau bukan karena gue, elo bakal ngewe ama siapa?! Elo bilang sendiri, di sini elo pertama kali ngewe ama gue. Gue ini spesial buat elo!”

Aku siap banget untuk melawan, tetapi aku masih fokus pada rasa pegal dan nyeri di bahuku. Jadi aku hanya merintih kesakitan saja. Kucengkeram area yang nyeri sembari aku mengatur napas dan memandang Deva dengan tatapan menusuk.

“Gue enggak suka kalau elo kayak begitu, anjing. Enggak tahu terima kasih! Yang nebengin elo ke mana-mana, pas pertama pindah ke sini, siapa?! Yang ngasih elo makan, pas elo belum gajian, siapa?! Yang nyariin partner supaya kita bisa threesome, siapa?! Itu semua gue!” Deva mendengkus seperti kerbau. Dadanya membusung, membuat putingnya yang mancung mencuat ke depan, seperti sepasang tumpeng mini. “Mentang-mentang elo udah temenan ama tentara, terus gue ditinggalin gitu aja, hah?! Elo kayak kacang lupa kedelainya!”

“Hah?!”

BUUUKKK!

Deva meninju mobilnya sendiri hingga bergoyang. Meninju seperti lelaki maskulin yang marah besar, pengin nonjok, tapi enggak bisa nonjok orang di depannya, jadi menonjok ke objek lain. Avanza itu bergoyang sebentar. Bahkan, alarm-nya langsung bunyi.

TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT!

Sejak momen itu, Deva mengamuk seperti orang yang kerasukan maung.

Deva mengataiku. Mengomeliku. Menonjol lagi mobilnya hingga penyok—supaya kelihatan macho banget mungkin.

BUUUKKK!

Dan juga dia mulai menendangku.

“Aaargh!”

Sayangnya, tendangan itu kena betisku. Enggak sakit, sih. Tapi kena. Jadi aku sempat limbung sebentar.

Suara alarm mobil Deva berseru berisik sekali, membuat semua orang yang melintas di jalan depan parkiran menoleh kepo. Deva berkali-kali mematikan suara alarm, tetapi dia menonjok lagi mobilnya sehingga bunyi alarm itu muncul lagi.

TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT!

Di tengah amarahnya, Deva mengancamku, “Kalau elo berani ninggalin gue ..., gue bakal sebarin ke teman-teman tentara elo itu ... kalau elo itu homo!”

Aku terkesiap panik. Satu dua orang di antara tentara itu jelas sudah tahu aku homo. Tapi tetap saja, diancam untuk dibuka identitasnya ke orang-orang yang secara umum benci LGBT, sukses membuat dadaku berdebar-debar. Aku ketakutan.

“Mau kamu apa, sih?!” hardikku.

“Gue mau elo ama gue terus! Gue mau elo ngikut gue! Turutin perintah gue, kayak pasangan yang saleh!”

What the fuck?! Kita bahkan enggak kawin, Deva!”

“Tapi gue sayang ama elo—“

“Enggak!” Kuputuskan untuk pergi dari situ. Aku melangkahkan kaki meninggalkan Deva.

Namun Deva langsung menarikku lagi. Bahkan, membantingku untuk ke atas tanah.

BUUUKKK ...!

“Aaargh!”

“Jangan pergi!” sergah Deva setengah menangis. “Ayo pulang sama gue!”

“Enggak!”

“Ayo ikut gue! Kalau enggak, gue bocorin soal elo ke semua orang! Gue bikin elo malu!” Deva mencengkeram tanganku, lalu memaksaku masuk ke mobilnya.

“Enggak!” Aku mencoba menarik tanganku lebih kuat. Kujejakkan kaki ke atas tanah, menarik tubuh Deva yang lebih besar dari tubuhku. “Aaargh!”

“Ayo, nurut!”

Plak!

Wajahku ditampol Deva. Rasanya pipiku kesemutan untuk beberapa saat.

Karena aku terdiam, Deva berhasil mendorong tubuhku ke body mobil. Aku didesak seperti sedang dipalak preman.

Dan Deva, dengan penuh nafsu, tiba-tiba menyambar kontolku.

Kontolku diremasnya.

“ARGH!”

Deva tersenyum sebelah. “Elo suka, kan? Suka, kan?!”

“Lepas!”

Deva meremas selangkanganku lebih kuat. Satu tanganku sudah mencengkeram pergelangan tangan Deva yang meremas itu, tetapi aku masih belum berhasil untuk menariknya.

“Aaargh!”

“Ayo ikut gue! Atau elo ....”

Tiba-tiba Deva mundur ke belakang, seperti ditarik sesuatu. Dengan terkejut, Deva melepaskan semua cengkeramannya. Dia terlempar menabrak pohon flamboyan berbatang besar.

BRUK!

Seseorang menarik tubuhnya hingga melayang.

Fian.

Sosok tentara berbadan besar itu ada di antara kami sekarang.

BUUUKKK!

Fian meninju wajah Deva.

Dan sejak momen itu, Fian menghajar Deva seakan-akan ingin membunuhnya.

“AAAAAARGH!” Deva tersungkur lagi ke atas tanah.

Apakah Deva menyerah? Enggak. Ketika Fian mengangkat lagi kerah bajunya agar dia berdiri, sebelum Fian meninjunya lagi, apa yang Deva lakukan? Dia tiba-tiba menyambar selangkangan Fian.

Dan Deva meremas kontol Fian.

BUUUUUUKKKKKK ...!!!

Tinjuan berikutnya dari Fian itu lebih keras.

Deva tersungkur ke atas tanah. Darah sudah mengucur dari wajahnya.

Aku merosot di depan mobil Deva. “Bang! Jangan!”

Fian tidak mendengarkanku.

BUUUKKK ...!!!

Suara tinjuan itu menggemar di parkiran, dari seorang tentara prodigy berbadan kekar ke seorang homo lemah yang manja.

BUUUKKK ...!!!

BUUUKKK ...!!!

BUUUKKK ...!!!

Aku yakin, satu tinjuan terakhir sudah akan mengambil nyawanya, kalau saja bukan karena Daddy Ryuji memisahkan mereka.

“BERHENTI!” Daddy Ryuji mendorong Fian menjauh. Tenaganya besar sekali, seperti seorang atlet judo membanting tubuh atlet lain yang lebih besar. “Kamu mau bunuh orang, HAH?!”

Fian tampak menakutkan. Wajahnya penuh nafsu. Napasnya memburu. Tatapan matanya

“Hanya karena badanmu besar, bukan berarti kamu seenaknya menghajar warga sipil kayak begitu,” ungkap Daddy Ryuji dengan suara lebih tegas dan galak. “Kamu ini prajurit atau monster? Prajurit macam apa menghajar satu-satunya alasan kamu jadi prajurit, hah?! Dia ini orang yang harus kaulindungi! Dia ini warga negara yang keselamatannya ada di tanganmu! Kenapa malah kaubikin babak belur, hah?!”

Fian mendengus.

Aku ingin sekali menjelaskan ke Daddy Ryuji bahwa Deva memang pantas dihajar seperti itu. Namun aku juga paham bahwa Fian enggak seharusnya bersikap seperti itu. Yang bisa kulakukan di situ, dengan profesiku sebagai tenaga medis, meskipun aku benci sekali pada Deva dan ingin sekali Deva mati saat ini juga, adalah berteriak ke orang terdekatku untuk membawa Deva ke rumah sakit.

“Bantu aku bawa ke IGD terdekat,” kataku. Puting Hitam berada paling dekat denganku. Bondan juga. Kutunjuk mobil Avanza-nya Deva. “Itu mobil orang ini. Kita pakai aja.”

Mobil Deva melaju pergi ke IGD terdekat. Aku enggak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Yang kulihat terakhir kali adalah Fian masih menatap ke arah Deva dengan tatapan membunuh. Kemudian para tentara mengelilinginya.


[ ... ]


Deva aman, Kak.

Barangkali Kakak cemas dengan kondisi Deva, dia langsung dapat penanganan di rumah sakit terdekat. Aku bantu mengisi formulir, menyiapkan BPJS-nya, termasuk menghubungi keluarganya agar datang. Deva langsung mendapatkan tindakan yang dibutuhkan. Hanya ada beberapa luka jahitan. Dan satu giginya lepas. Tidak ada retak atau patah tulang. Darah juga tidak masuk ke paru-parunya. Semua aman. Bahkan, Deva sudah siuman beberapa saat sebelum keluarganya datang.

Sambil menunggu mereka datang, Puting Hitam dan Bondan sempat menginterogasiku.

“Siapa dia?” tanya Puting Hitam, tegas, seperti Fian. Seolah-olah, apa pun alasan Fian menghajar Deva, dia akan setuju dengan aksi itu.

Aku tak tahu apakah aku harus melindungi Deva atau tidak. Kalau aku katakan dengan jujur, takutnya Deva beneran dibikin mampus oleh tentara-tentara ini—dan aku enggak mau itu terjadi. Aku bukan pembunuh. Tapi kalau aku bohong, pada akhirnya Fian akan berkata jujur juga soal alasannya menghajar Deva. Sama saja. 

Jadi kuputuskan untuk mengatakan apa adanya, tetapi diplomatis—tidak mengatakan seluruhnya. “Dia ngelecehin aku, Bang.”

“Anjing!” Bondan mengumpat kesal. “Serius?! Dia tuh yang siang tadi diusir dari aula, bukan?”

Aku mengangguk. “Aku ... aku enggak bisa cerita dengan detail. Aku rasa itu urusan pribadiku sama dia. Tapi dia marah, terus waktu aku mau pergi, aku ditarik. Aku ... aku dilecehkan sama dia.”

“Pantas sih kalau si Fian marah,” kata Puting Hitam.

“Tapi kita juga enggak bisa bilang apa adanya ke keluarga dia,” ungkap Bondan. “Gue udah googling siapa dia.”

“Siapa?”

“Keluarga dia ada yang anggota DPR, anjing. Bisa gawat kalau ketahuan netizen ada tentara ngehajar dia sampe babak belur gitu.”

“Orang-orang di GOR juga udah lihat langsung si Fian ngehajar dia,” balas Puting Hitam. Kedua tangannya dilipat di depan dada.

Ketika kejadian terjadi, sebagian orang memang sudah menonton kami. Tukang teh botol, tukang parkir, beberapa orang yang lewat di trotoar depan GOR, bahkan tukang ojek yang sedang menepi. Ketika kami meninggalkan lokasi, beberapa orang sudah berkerumun di sekitar. Termasuk orang-orang yang menyewa lapangan badminton paling ujung.

Sebagian dari para tentara ini mengenakan jaket bomber dan kaus loreng-loreng tentara. Sudah pasti warga sekitar menganggap Fian sebagai tentara.

“Nama kita bisa makin buruk,” gumam Bondan sambil geleng-geleng kepala. “Makin susah dapatin kepercayaan masyarakat. Gara-gara Pemilu kemaren aja, pas Prabowo kepilih, nama baik militer malah makin buruk di internet. Kita harus bikin skenario, supaya kejadian ini enggak ada kaitannya ama militer sama sekali. Bisa bahaya kalau warga tahu si Fian ini tentara.”

Puting Hitam dan Bondan mem-briefing-ku agar bercerita ke keluarga Deva secukupnya. Pastikan tidak ada kata kunci tentara sedikit pun dalam ceritaku. Aku yang masih syok hanya bisa mengangguk dan menyetujui.

Maafkan aku kalau Kakak enggak setuju dengan hal ini. Aku tahu kita semua anti sama dwifungsi TNI, tapi dalam situasi ini aku juga enggak bisa membiarkan nama tentara jadi jelek gara-gara apa yang Fian lakukan ke Deva. Soalnya, ini enggak ada hubungannya sama militer sama sekali. Ini masalah pribadi saja yang bisa terjadi apa pun profesi Fian. Tapi netizen negara Konoha kan paling senang menyudutkan pihak mana pun yang dibenci, ya, meskipun enggak ada kaitannya dengan masalah utama. Aku sudah bisa membayangkan orang-orang akan menuduh Fian main hakim sendiri ke warga sipil, menggunakan privilege-nya sebagai abdi negara untuk bersikap semena-mena, atau bully, dan lain sebagainya—padahal Deva pantas mendapatkan tinjuan-tinjuan itu.

Jadi, ketika keluarga Deva datang, aku hanya menceritakan seadanya saja.

“Mas Deva melakukan pelecehan, Bu. Orang-orang marah, jadinya ngeroyok dia.”

“Pelecehan ke siapa?”

“Ke ... orang yang ada di situ.”

Untungnya, keluarga Deva masih syok melihat Deva kondisinya babak belur, jadi mereka belum kepikiran untuk bertanya lebih detail. Puting Hitam dan Bondan menguatkan ceritaku dengan meyakinkan mereka bahwa Deva memang melakukan pelecehan, sehingga keluarga Deva tak punya kesempatan untuk membela diri.

Daddy Ryuji dan Erick datang tak lama setelah keluarga Deva mengambil alih. Erick menjemput Puting Hitam dan Bondan. Daddy Ryuji, anehnya, datang untuk menjemputku. Bondan yang sudah ngasih kode-kode supaya pulang bareng akhirnya hanya bisa bungkam ketika Daddy Ryuji muncul dan berkata, “Nanti Rohmat pulang dengan saya. Kosan dia lokasinya dekat rumah saya.”

Kami pun berpisah. Aku membuntuti Daddy Ryuji ke mobilnya, duduk di jok yang sama seperti sore tadi. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika aku duduk dengan lesu di kursi penumpang. Namun setidaknya aku sudah tidak sedeg-degan tadi duduk di samping tentara berpangkat tinggi ini.

“Pacarmu?” tanya Daddy Ryuji kali pertama.

“Bukan,” jawabku tanpa pikir panjang. Kemudian, aku memutuskan untuk jujur. Toh Daddy Ryuji sudah mau jujur tentang kisahnya bersama Awang di GOR tadi. “Tapi aku sempat dekat sama dia. Tapi dia bukan pacarku.”

“Iya, saya tahu.” Daddy Ryuji menoleh ke belakang karena mobil akan mundur. Setelah mobil keluar ke jalan raya, berpisah dengan mobil Kresna yang dikendarai Erick, dia bertanya lagi. “Saya sering lihat Avanza itu jemput kamu ke kosan.”

Aku mengangguk.

“Fian bilang dia melecehkan kamu?”

Aku mengangguk lagi. “Aku udah nolak dia, tapi dia maksa. Aku hampir disekap.”

“Dia takut sama saya.”

Aku langsung menoleh. “Takut?”

“Siang tadi saya ‘ngobrol’ sama dia.” Daddy Ryuji menghela napas. “Sewaktu taruna-taruna itu nyeret dia keluar, saya nyamperin dia. Jadi ..., saya tahu motifnya apa.”

Pantas saja Deva tak mau masuk ke dalam GOR, cuma berani mengintip dari balik pintu saja.

“Dia juga yang nelepon kamu sore tadi, kan?”

Aku mengangguk lemas. “Maaf.”

“Ini alasannya orang kayak kamu sebaiknya jangan macam-macam,” lanjut Daddy Ryuji dengan intonasi suara seperti seorang ayah menasihati anaknya. “Kalian enggak punya perlindungan hukum. Pacaran sesama lelaki, terus terjadi pelecehan kayak gitu, mau minta bantuan ke siapa, hm?”

“UU TPKS kan sudah berlaku,” sergahku tak sependapat.

“Tapi siapa yang mau bersimpati sama kalian?” Daddy Ryuji menoleh sebentar. “Orang-orang akan jijik sama siapa pun pelaku hubungan sesama jenis. Enggak peduli kamu ada di posisi yang benar. Perempuan saja yang jadi korban pelecehan masih jadi pihak yang disalahkan, apalagi kalian yang ngelakuinnya sesama jenis.”

Aku sudah membuka mulutku untuk membantah, tapi kurasa Daddy Ryuji ada benarnya.

“Kamu masih muda. Masih punya energi untuk bertobat,” lanjut Daddy Ryuji.

“Aku enggak pernah ganggu siapa pun. Aku enggak pernah melecehkan siapa pun. Calon taruna yang kucek telanjang bulat pun kuperlakukan profesional, enggak ada yang kumanfaatkan situasinya untuk kepuasan seksualku. Aku berhak untuk menjalani hidup yang memang didesain untukku,” balasku tak terima.

“Iya saya paham.”

“Bapak enggak paham—“

“Saya paham,” tegas Daddy Ryuji. Rahangnya mengeras. “Saya bukan sedang men-judge gaya hidupmu. Saya cuma mau kamu berhati-hati. Kita bukan di negara yang bebas. Negara ini belum merdeka dari segi hak asasi manusia.”

Aku terpana mendengar itu. Kurasa itu bukan prinsip hidup yang akan keluar dari mulut seorang tentara. Kurasa semua tentara akan sepakat bahwa apa pun yang ‘belok’ adalah salah. Bahwa LGBT sejatinya menjijikkan, bukan hak asasi manusia.

“Awang membuka mata saya,” kata Daddy Ryuji kemudian, dengan suara lebih pelan. “Dan ..., mata saya terbuka. Tapi untuk keamanan banyak pihak ..., saya tidak bisa menyetujui prinsip itu. Jadi ..., saya paham.”

Aku mengangguk kecil.

“Saya enggak kayak kamu,” lanjut Daddy Ryuji. “Saya tidak tertarik sama laki-laki. Tapi saya beruntung dikenalkan dengan Awang. Sehingga ..., saya paham ..., ketertarikan kalian dengan laki-laki ada di luar kuasa kalian. Apalagi setelah saya merasakan ....”

Kata-kata itu terputus dan menggantung di udara selama beberapa ratus meter. Daddy Ryuji tampaknya ingin menceritakan dengan detail, tapi dia tak sanggup melakukannya.

“... setelah saya merasakan ..., yang kalian sering lakukan ...,” lanjut Daddy Ryuji, berhati-hati, “saya bisa paham kenapa kalian suka sama itu. It’s a beautiful thing, at the end of the day. Beautiful when you love the person you’re with.

Aku mengangguk setuju.

Kami terdiam dulu untuk beberapa saat.

Kosanku sudah hampir sampai. Jalan Gatot Subroto yang menjadi alamat Daddy Ryuji baru saja kami lewati, tetapi beliau mengantarku dulu ke kosan. Tepat beberapa ratus meter sebelum kami tiba di kosanku, Daddy Ryuji sempat bergumam.

“Saya rindu Awang.”

Aku tak tahu apakah itu ditujukan padaku atau beliau sedang monolog dengan dirinya sendiri. Namun aku tetap meresponsnya. “Pasti.”

“Saya rindu membela Awang sewaktu dia di-bully orang-orang di komando. Saya pernah ngehajar kawan saya—si Harja pasti ingat soal ini—waktu Awang di-bully gara-gara bawa pelembap muka pas mandi. Habis latihan.” Daddy Ryuji menghela napas panjang. “Saya ngehajar pem-bully-nya persis yang Fian lakukan tadi.”

“Kenapa sampai segitunya?”

“Karena bully-nya adalah ... Awang ditelanjangi ... lalu kemaluannya ....”

Daddy Ryuji tak sanggup melanjutkan.

Aku langsung memegang tangan Daddy Ryuji yang sedang bertengger di atas persneling. “Enggak usah dilanjutin. Aku paham, kok.”

Namun fokus Daddy Ryuji teralihkan sejenak. Sesekali dia melirik tangannya yang kini ditindih tanganku.

Ini salahku, sih. Harusnya aku enggak megang tangan ini.

Soalnya, tiba-tiba, jempol Daddy Ryuji naik dan mengusap-usap jemariku. Gerakannya benar-benar cepat, sehingga aku tak bisa berkutik.

Aku membelalak terkejut atas gestur itu, tetapi aku sudah terlambat.

Tahu-tahu, tangan itu berbalik. Setiap jemarinya menyelusup masuk ke celah-celah jariku. Telapak tangan kami saling beradu. Rasanya hangat. Tangan itu besar, sehingga aku seperti dilindungi.

Aku merasakan perubahan emosi Daddy Ryuji. Beliau menarik napas panjang. Alisnya bertaut sejenak ke tengah. Mungkin dadanya berdebar-debar juga. Dia menatap ke depan, tetapi pandangannya seperti menunjukkan bahwa dia ....

... lega.

....

Lega setelah bertahun-tahun merindukan sesuatu, sekarang yang dia rindukan bisa dia dapatkan lagi.

....

Bahunya melorot dengan tenang. Sudut bibirnya ingin tersenyum, tetapi dia tahan mati-matian agar tidak kelihatan “gembira”. Daddy Ryuji tidak mengatakan apa pun hingga kami tiba di depan kosanku. Dia masih menatap ke depan.

Masih mencengkeram tanganku dengan erat.

Jempolnya mengusap-usap tanganku tanpa henti. Seperti seorang kekasih yang sudah kangen pacarnya setelah bertahun-tahun LDR, lalu dia akhirnya bisa menggenggam tangan kekasihnya lagi.

Aku ingin sekali menarik tanganku dari situ, tapi ....

... tapi aku enggak tega.

Kurasa dia pantas mendapatkan ini.

Dia pantas mendapatkan genggaman tangan dari seorang lelaki.

Mungkin mewakili lelaki yang sudah dia rindukan dalam waktu lama.

....

Kami duduk dalam diam selama kurang lebih ....

... sepuluh menit.

Diam saja. Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Sama-sama menatap ke depan. Ke lalu lintas yang mulai lengang. Tak ada kata apa pun. Tak ada suara apa pun. Hanya genggaman tangan dengan jempol Daddy Ryuji mengusap-usap tanganku dengan lembut.

....

“Terima kasih,” kata Daddy Ryuji tiba-tiba. Dia pun menarik tangannya dan meletakkannya ke atas setir. Dia menoleh ke kanan, memalingkan muka dariku. Mungkin mengerjapkan matanya untuk sesaat. Sebelum akhirnya dia menoleh lagi ke arahku. “Maaf, saya ... saya barusan ....”

“Iya, gapapa. Terima kasih udah mau cerita semuanya ke aku hari ini,” lanjutku sambil menyiapkan tas dan mengumpulkan ponsel yang kuselipkan di pintu mobil. “Terima kasih karena mau paham situasiku kayak gimana. Aku yakin sih, Pak Awang, di mana pun jiwanya berada sekarang, pasti bangga sama Bapak. Ketika Bapak punya alasan kuat untuk benci aku, Bapak memilih untuk bimbing aku.”

“Kalau saya request satu hal ...,” kata Daddy Ryuji kemudian, agak berhati-hati. “Kamu bisa ... kabulkan?”

Request apa?”

“Anggap aja ini caramu bayar balas budi, karena tadi sudah saya bantu. Waktu di GOR.”

“Iya. Apa?”

Daddy Ryuji menarik napas panjang, masih setengah ragu untuk mengatakannya. Namun rasa rindu yang sepertinya sudah menggelegak bertahun-tahun di kerongkongannya mengalahkannya. “Saya rindu cumbuan dari Awang.” Lalu, dia menoleh ke arahku.

Mulut Daddy Ryuji menganga sedikit.

Aku terpana menatap wajah itu.

Sebelum Daddy Ryuji mengatakan apa pun lagi ..., aku mengabulkannya.

Aku memagut bibir itu, lalu mencumbunya.

Tidak lama. Hanya lima detik saja.

Namun dalam lima detik itu aku merasakan tarikan napas kerinduan yang sanggup membuat tentara segagah dan sejantan Daddy Ryuji berserah diri. Aku merasakan bibir kenyal yang kangen akan sapuan lidah yang intens. Aku merasakan permainan lidah yang dipenuhi asa untuk bertemu seseorang yang sudah lama tak ditemui.

Daddy Ryuji yang melepaskan cumbuan itu. Dia ketakutan, tetapi dia menikmatinya dengan amat sangat. Dia tak berani menatapku. Senyuman hampir terukir di bibirnya, tetapi lelaki itu menahannya mati-matian untuk mempertahankan gengsi sebagai laki-laki macho yang “normal”.

“Selamat malam. Sampai jumpa lagi besok. Atau kapan-kapan,” katanya, sembari memalingkan wajah dariku.

Aku tersenyum lebar. “Selamat malam.”

Dan, kami pun berpisah.


[ ... ]


Komentar