“Kalau sehari-hari ...,
berminggu-minggu ..., berbulan-bulan ..., kamu cuma ketemu orang-orang yang
sama ..., wajar enggak kalau kita develop emotional bond dengan
orang-orang ini?”
“Ngng ... iya.”
“Wajar enggak, kalau di antara
peletonan orang-orang ini, ada orang yang sama yang selalu tidur sebelah kamu
..., yang mandi bareng kamu ..., dikelompokkan satu tim ..., survive
sama-sama di hutan ..., di laut ..., gagal bareng-bareng waktu flight
simulation ..., lulus bareng-bareng first flight ..., dihukum
sama-sama mandiin pesawat, meskipun cuma salah satu di antara kita yang
melakukan kesalahan ..., wajar enggak kalau emotional bond-nya lebih
kuat sama satu orang ini?”
“Iya.”
“Orang ini yang selalu pakai sikat
gigimu seenaknya, tapi dia akan cari kamu duluan buat ngasih kabar gembira. Dia
juga yang ngambil potongan ayam paling gede—kalau misalnya ayam cuma satu terus
kita harus bagi dua—tapi dia juga yang bakal nraktir kamu pertama kali kalau
dapat bonus.” Daddy Ryuji mengambil napas panjang, menunduk menatap jari-jari
tangannya. Lalu, Daddy Ryuji menatap langit-langit GOR dengan tatapan kosong.
“Kalau kamu penasaran, apakah di militer ada hubungan-hubungan yang ‘kayak
gitu’ ...? Saya harus jujur ..., ada. Semuanya dilakuakn secara rahasia dan
terjadi bukan karena sama-sama ingin. Tapi karena keadaan. Yang lama-lama ...
jadi sama-sama ingin.
“Itu juga yang terjadi sama saya
dan Awang.”
Halo, Kak.
Karena kita lagi dengerin kisah
rahasia Daddy Ryuji, mari kita awali chapter ini dengan khidmat. Aku
lanjut memijat bahu Daddy Ryuji supaya kami kelihatan kayak masih
pijat-memijat, bukan sedang heart to heart.
“Saya enggak akan cerita
detailnya,” lanjut Daddy Ryuji. “Itu kenangan saya pribadi, yang akan saya
simpan dalam hati. Enggak perlu ada yang tahu. Karena apa yang terjadi antara
saya dengan Awang, enggak butuh validasi dari orang lain.”
Yaaah ..., aku kecewa. Hampir lho
aku dengar kisah romansa dua lelaki kacang ijo ketika menempuh pendidikan
militer. Bakal jadi fanfiction yang seksi banget, sih.
“Awang seperti kamu,” mulainya
lagi. “Enggak pecicilan. Enggak pendiam. Enggak galak. Normal aja. Prestasi dia
juga lumayan, menguasai bidang-bidang yang sebenarnya enggak perlu dia kuasai
betul-betul. Saya dengar dari Sigit, kamu nguasain banyak ilmu medis lanjutan,
padahal pendidikanmu cuma perawat aja.”
“Enggak sih ...,” gumamku, ingin
membantah. Namun kayaknya suaraku enggak kedengaran di tengah ribut-ribut orang
main badminton.
Dan, lebih tepatnya, bukan aku
nguasain ilmu medis lanjutan. Melainkan, kalau ilmu medisnya berkaitan dengan
kontol, aku mempelajarinya secara otodidak. Demi kepentingan pribadi.
“Awang bisa jadi teknisi pesawat.
Dari kecil dia belajar bagian-bagian pesawat, tapi masuk AU dia malah jadi
pilotnya. Enaknya kalau kita ada masalah di tengah-tengah flight, Awang
bisa tahu masalahnya apa tanpa perlu buka manual dulu. Tapi yang
disanjung-sanjung bukan dia.”
“Siapa dong?”
“Saya.” Daddy Ryuji menghela napas.
“Atasan bilang, prestasi saya selalu bagus. Makanya saya masuk ke divisi-divisi
yang sulit. Saya tahan G-Force sampai 9G, bisa dapat tujuh detik. Saya enggak
pernah gagal low flight. Semua carrier landing saya sempurna. Kresna, yang jadi
instruktur saya, muji-muji sampai beberapa tahun ajaran berikutnya. Nama saya
disanjung terus. Tapi enggak ada yang tahu bahwa ada orang lain di balik
kesuksesan saya.
“Orang yang lebih excited
dari saya buat latihan carrier landing. Orang yang ngasih semua buku
referensi. Artikel. Sampe jurnal, semua demi saya test flight dengan
sempurna. Dia yang di samping saya waktu saya jatuh, lalu dia juga yang dorong
saya buat bangun, sehingga orang-orang enggak tahu kalau saya pernah jatuh.
“Saya kelihatan sempurna di mata
orang-orang. Tapi dia enggak peduli kalau dia juga berkontribusi penuh dengan
keberhasilan saya.
“Dan orang kayak saya ini enggak
banyak. Kemunculannya cuma beberapa tahun sekali. Setelah saya, ada beberapa
lagi personel yang prodigy. Yang langsung diambil skadron ini dan itu.
Sampai akhirnya kita ketemu Fian.”
Daddy Ryuji mengambil jeda dengan
menatap Fian untuk beberapa saat. Lalu, beliau melanjutkan, “Saya pikir ...,
mungkin Fian sama seperti saya. Dia hebat. Tapi di belakangnya ada seseorang
yang mendorong dia. Awalnya saya pikir pacar Fian yang melakukan itu ..., tapi
dia enggak punya hubungan apa pun sepanjang pendidikan. Atau mungkin
teman-temannya itu ....” Daddy Ryuji menyempatkan diri menunjuk Erick di
lapangan dengan telunjuknya. “Tapi pola hubungan mereka enggak kayak saya dan
Awang.
“Bertahun-tahun saya mencoba
menerima fakta bahwa Fian hebat karena dirinya sendiri. Enggak ada siapa pun
yang nge-back up dia. Sampai akhirnya ..., saya ketemu kamu kemarin.”
Daddy Ryuji menoleh ke arahku sejenak.
Dengan panik aku langsung
menjelaskan, “Saya baru ketemu Mas Fian, Pak. Sumpah, saya enggak ada hubungan
apa-apa.” Aku bahkan mengangkat tangan seperti menyerah.
“Iya, saya tahu. Tapi sejak Fian
ketemu kamu, dia mulai berubah.” Daddy Ryuji menatapku dengan tatapan tajam.
“Saya enggak mau keberhasilan Fian menjadi hancur ..., gara-gara kamu.”
Aku menelan ludah.
Kutundukkan kepala dengan perasaan
bersalah.
“Saya tahu Fian rajin bertemu
perempuan yang tinggal satu kosan sama kamu. Saya belum tahu dia siapa, tapi
saya bisa cari tahu siapa dia. Sejauh ini yang saya tahu ..., kamu sering
mengobrol bareng perempuan itu sebelum mandi pagi. Kalian juga saling menghampiri
kosan satu sama lain. Yang artinya, hubunganmu dengan perempuan itu lumayan
dekat.
“Melihat reaksi Fian setiap kamu
dekat Bondan ...,” lanjutnya, setelah helaan napas panjang. “Saya cemas kamu
akan merusak tatanan harmonis yang dibangun timnya Fian. Kami sedang ada
masalah internal yang besar di sini. Fian jadi salah satu bagian untuk menyelesaikan
masalah itu. Kalau kinerjanya memburuk ..., safe to say kamu
berkontribusi di dalamnya.”
Aku membeku ngeri.
Kenapa urusannya bisa jadi seperti
itu, sih?
Aku hanya ingin menikmati para halo
dek ini tanpa perlu terlibat terlalu jauh.
“Tolong jaga Fian,” kata Daddy
Ryuji kemudian. “Jaga hatinya. Jaga perasaannya. Suatu hari dia harus
meninggalkanmu, karena normalnya ..., dia enggak akan pernah bisa sama kamu.
Sama seperti saya dan Awang. Tapi sebelum hari itu datang ..., jaga dia baik-baik.
Bisa?”
Hatiku agak perih mendengar
sebagian kata dari statement barusan. Dengan lemas aku hanya sanggup
mengangguk. “Bisa.”
“Tapi dari itu semua, ada satu hal
yang membuat saya tertarik ke kamu. Bahkan sejak kamu pindah ke kosan itu. Jauh
sebelum pertemuan pertama kita kemarin siang,” kata Daddy Ryuji. Dia merogoh
saku celana pendeknya, mengeluarkan iPhone yang serinya cukup usang. Daddy
Ryuji menggulir sebuah folder rahasia berkata sandi. Di dalamnya, terdapat
galeri foto.
Dia menarik keluar sebuah foto.
Foto yang usang juga. Yang
kelihatan jelas tidak diambil dari iPhone ini atau smartphone keluaran
sepuluh tahun terakhir.
Foto itu diambil dari generasi awal
ponsel berkamera yang resolusinya rendah.
Namun foto itu cukup jelas.
Foto Daddy Ryuji.
Dan seorang lelaki.
Yang kuasumsikan adalah Awang.
Yang ....
... anehnya ....
....
... ini cuma ke-GR-anku aja, sih.
Ke-PD-anku.
Awang agak-agak mirip denganku.
[ ... ]
“Halo, Dek!” sapa Fian kali pertama
sambil menghempaskan tubuhnya di sampingku. Daddy Ryuji dipanggil kawannya
sehingga aku duduk sendiri. Di sinilah Fian memanfaatkan situasi untuk
menghampiriku.
“Pengin istirahat,” gumam Fian
lemas. Meski badannya terlihat lemah, matanya tetap awas. Mungkin karena dia
tentara, sehingga Fian harus selalu “siaga” apa pun kondisinya.
“Dr. Sigit bilang Abang harus
tidur,” ingatku.
“Belum bisa.”
“Lah, gimana caranya bisa
nyelesaiin masalah kalau Abangnya aja enggak fit?”
“Abang masih bisa tahan enggak
tidur sampai seminggu,” katanya, keras kepala. Diam-diam dia meremas sepatuku.
Pandangannya masih dilemparkan secara kosong ke lapangan, ke arah Erick yang
sedang main badminton.
“Kelihatan banget kortisolnya
naik,” komentarku. “Tangan Abang gemetaran. Kedutan tiap tiga puluh detik—“
“Mana ada!” sanggah Fian sambil
menatap tangannya sendiri—yang kebetulan bergetar kecil, tetapi Fian menahannya
agar tidak goyang. “Tadi aja main badminton lancar. Abang lebih aktif nangkis
bola daripada si Erick.”
Itu karena kamu lagi nafsu ngehajar
Bondan, woy!
“Oya? Lalu jelaskan kenapa pupilnya membesar
gitu? Kayak anak kucing. Padahal ini GOR terang banget.”
“Lagi ... ngng ... lagi
lihat jarak jauh. Mereka jauh.”
“Itu artinya prefrontal cortex-nya
kecapean. Pupilnya harus membesar supaya bisa fokus.”
“Ini udah dari sananya begini.”
“Terus muka pucat juga udah dari
sananya?” selorohku.
“He-eh.”
“Itu ciri-ciri kortisol naik, Bang.
Bau badan Abang aja udah deket ke amonia—“
“Ini karena Abang belum mandi.
Hehehe. Maaf,” potong Fian sambil menyikutku pelan.
“Aku notice Abang
ngusap-ngusap sternumnya tanpa sadar. Ini udah cukup buat ngasih tahu nervous
system-nya hampir kolaps, metabolismenya ngebakar protein terlalu banyak,
sampai-sampai enggak ada lagi protein yang bisa dibakar di otot. Belum lagi
fungsi cerebellum-nya yang keganggu. Dari napas yang ngos-ngosan gitu
aja, artinya detak jantung lagi tinggi. Nyari oksigen ke mana-mana.”
Fian hanya menatapku dengan alis
mengerut. “Kayaknya Abang salah hire orang dari klinik. Minta perawat,
malah dikasih dokter.”
“Ck!” Aku mendengus. “Jangan
keras kepala.”
“Enggak ....”
“Istirahat, Bang. Tidur.”
“Iya.”
“Start malam ini, ya?”
“Inshaallah.”
Aku menggelengkan kepala.
“Inshaallah orang Indonesia enggak bisa dipercaya. Abang harus tidur.”
“Baru juga dua hari Abang enggak
tidur—“
“Ya masa mau dirapel terus
begadangnya?”
“Sumpah, Dek. Abang pernah enggak
tidur lebih lama dari ini—“
“Iya, percaya. Tapi sekarang kan
lagi nanganin masalah serius. Kalau mau hasilnya oke, badan harus prima.”
“Tiga hari lagi, lah. Bisa.”
“Batu banget, sih! Kalau ngurus
badan aja kagak bisa, gimana ngurus orang yang disayang, nanti?”
Fian sudah membuka mulut untuk
mendebatku lagi. Namun kata-kata terakhirku berhasil membuatnya menutup mulut.
Dia diam selama beberapa saat.
“Oke,” katanya sambil tersenyum
kecil. Kepalanya juga manggut-manggut. “Malam ini Abang tidur.”
“Aku minta buktinya ya besok.”
“Hah? Gimana cara ngasih buktinya?”
Kuangkat kedua bahuku. “Entah.
Pokoknya, kalau enggak ada bukti, besok malam aku mau main sama Bondan.”
Mendengar nama itu, Fian langsung
bete. Rahangnya mengeras. “Iya. Besok Abang buktiin.”
[ ... ]
Kira-kira lima menit sebelum kami
semua pulang, Deva meneleponku lagi.
Dia mencoba meneleponku sedari
tadi, tetapi kuabaikan. Namun pada momen itu, ketika para tentara sedang
menonton pertandingan antara Daddy Ryuji dan Fian yang sengit, kuputuskan untuk
mengangkat telepon dari Deva.
Aku melipir ke pinggir lapangan.
“Halo?”
“Anjing! Ditelepon dari tadi kagak
diangkat-angkat! Hape elo rusak, hah?! Perlu gue
beliin baru, hah?!”
Aku memutar bola mata. “Aku lagi
main badminton. Enggak pegang hape.”
“Mana ada. Elo cuma nonton doang.”
Dadaku rasanya seperti ditusuk
dengan benda dingin. “Da ... dari mana kamu tahu?”
“Gue ngelihatin elo dari sini.”
Otomatis aku menoleh ke arah pintu
GOR yang lebar. Daun pintunya ada dua, tetapi terbuka satu. Di balik salah satu
pintu, terlihat Deva sedang mengintip ke dalam, menaruh satu tangannya di
telinga.
“Elo cuma nonton doang. Si seksi
itu doang yang main badminton.”
Aku menelan ludah. “Sejak kapan
kamu di situ?”
“Lumayan, lah. Lima belas menit.”
“Dari mana kamu tahu aku di sini?”
Dengan geram aku berjalan ke luar GOR, menghampiri Deva.
“Gue samperin GOR di kota ini
satu-satu. Ini GOR keempat yang gue datangin. Dari tadi gue nunggu di sini,
neleponin elo, tapi kagak diangkat-angkat. Pamali anjir enggak ngangkat telepon
dari orang. Entar kuburannya sempit. Lagian kenapa elo enggak jawab telepon gue
dari tadi, sih?!”
“Emang kamu mau ngapain ke sini,
sih?” Kebetulan aku sudah mencapai pintu keluar, jadi aku mematikan sambungan
telepon dan menghambur keluar sambil menarik Deva menjauh.
Namun Deva enggak mau menjauh. Dia
bergeming di depan pintu GOR, berpegangan ke daun pintunya, sambil menarikku
agar enggak ke mana-mana. “Elu mau ke mana, sih?! Udah di sini aja!”
Aku bersembunyi dari pandangan
orang-orang di dalam. “Mau ngapain kamu ke sini?!”
“Gue kangen elo, anjir. Emang elo
enggak kangen ama gue, hah?! Enggak mau ngewe lagi ama gue?!”
“Enggak!”
“Kayak yang bakal laku aja lo di
sini. Gue lihat elo masih aktif di aplikasi. Udah jelas-jelas gue punya kontol
yang bisa elo isap. Gue juga bisa ngebrut elo sampe elo nagih.” Deva
mendengus sementara aku membelalak. Ingin sekali aku berkata bahwa aku baru aja
ngewe sama salah satu tentara yang ada di dalam sana, tetapi Deva keburu
melanjutkan kata-katanya. “Cakep banget, anjir, temen elo itu. Badannya sekel. Brrrrrr
.... Merinding gue, pengin remas-remas badan tebalnya.” Deva mengintip lagi ke
balik pintu, menatap Fian yang masih main badminton. Mulut Deva menganga kecil.
Matanya sayu, seperti orang yang sange.
Bahkan, satu tangannya diam-diam
mengusap selangkangannya.
Satu-satunya yang aneh dari Deva
adalah dia tidak masuk ke dalam GOR. Padahal biasanya dia lancang SKSD pada
siapa pun yang sedang bersamaku—seperti waktu makan dengan Fian minggu lalu.
Seakan-akan, Deva takut masuk ke dalam. Apakah Deva cuma berani ngadepin
tentara satu lawan satu, enggak berani kalau tentaranya hampir sepeleton
seperti di dalam sana?
“Elo beneran kagak bisa ngajak dia ngewe,
hah?!” tanya Deva dengan napas memburu.
“Mereka semua di sana straight!
Kamu pikir tentara-tentara manly kayak gitu bakal mau ngewe sama
laki-laki?”
“Lah, siapa tahu! Enggak mungkin
pas lagi pendidikan mereka enggak saling ngocokin. Pasti ada di antara mereka
yang ena-ena, anjir. Tiap hari ketemu laki-laki. Kalau sange,
gimana?!” Deva makin mengusap kontolnya dengan cepat, dari balik celana.
“Anjir, yang lagi duduk itu badannya oke juga. Tapi mukanya biasa-biasa aja.”
Aku ingin sekali membantah statement
Deva, tetapi beberapa saat lalu, secara harfiah Daddy Ryuji menceritakan kisah
ketentaraannya yang sesuai dengan deskripsi Deva. Bahkan Daddy Ryuji mengiakan
bahwa di dalam militer, pasti ada aja yang melakukan “itu”.
Yang bisa kukatakan ke Deva
akhirnya, “Tapi yang ada di situ enggak ada yang suka laki-laki, Dev. Aku hang
out sama mereka karena aku lagi kerja aja. Dan mereka baik-baik semua,
ngajakin aku nongkrong habis kerja. That’s it.”
Deva enggak mendengarkan. “Gue
punya obat tidur yang ampuh. Plus pil biru. Kalau kita kasih ke si Rafianto
itu, kita bisa gerepe-gerepe dia anjir. Nelanjangin dia, tapi kontolnya ngaceng.
Gimana?”
Plak!
Kutampar pipi Deva.
“Aw!”
“Kurang ajar ya kamu! Itu pelecehan
namanya!”
“Ya gapapa .... Kan bukan kita mau
hamilin atau gimana—“
“Tetep aja pelecehan. Kalau dia
bangun di tengah-tengah, gimana? Mau, kamu, masuk penjara?!”
“Oh!” Deva teringat sesuatu. “Elo
kan punya akses ke bius-biusan. Elo bisa pura-pura ngasih obat suntik ke dia,
tapi yang elo kasih ... apa kemaren tuh yang lagi viral ...? Midodareni ...?
Yang kayak obat bius itu? Yang dokter anestesi merkosa pasiennya? Entar elo
bius dia, habis itu kita bisa mainin kontolnya!”
Aku ke-trigger, sih. Untuk
ukuran orang yang sudah menjaga diri supaya enggak melecehkan para calon taruna
padahal aku punya akses tak terbatas untuk melakukannya, aku merasa sakit hati.
Profesiku dijadikan alat untuk melecehkan orang.
Dadaku berdebar-debar karena
amarah.
Aku enggak bisa menjalin
silaturahmi lagi dengan orang kayak Deva. Dia sudah kelewat batas. Sedari
kemarin dia kelewat batas. Kalau Deva menganggap Fian sebagai sosok untuk
memuaskan nafsunya saja, kurasa ini waktunya untuk blok Deva selama-lamanya dan
tak pernah terkoneksi lagi dengannya.
“Pergi dari sini,” tegasku, dengan
suara dingin.
“Bentar, anjir. Kita susun dulu
rencana kita.”
“Pergi dari sini!”
“Gue pesen hotel, entar elo bawa
dia ke hotel, terus kita ngobrol-ngobrol bentar kayak di resto kemaren, terus
kita—“
PLAK!
Kutampar lagi lelaki kurang ajar
ini.
“Aku enggak mau ketemu kamu lagi.”
“Apa?!” Deva mendengus marah.
“Maksud elo apa KDRT ke gue di depan orang-orang?!”
“Pergi dari sini!” tegasku lagi.
Muka Deva memerah. Selain karena
pipinya panas kutampar dengan keras, dia juga malu karena kini beberapa orang
menatap ke arah kami.
Tiba-tiba, dia pergi dari depan
pintu.
Tapi dia membawaku serta.
Aku ditarik Deva ke tempat lain
yang lebih tersembunyi. Tepatnya ke dekat Avanzanya yang terparkir di paling
ujung dekat pohon flamboyan besar. Aku mencoba memberontak, tetapi aku tetap
diseret seperti anak kecil yang enggak mau pulang untuk mandi.
“Deva! DEVA! Lepasin!”
Deva mencengkeramku dengan kuat.
Kupukul-pukul tangannya, tetapi dia berhasil membawaku ke balik mobil. Aku
bahkan didorong hingga hampir menabrak Avanzanya, persis seperti adegan anak
tiri di sinetron yang diseret oleh ibu tirinya, lalu dibanting begitu saja
hingga kepalanya membentur sesuatu.
BRUK!
“ARGH!” Aku mengerang kesakitan
karena bahuku menghantam tanah dengan keras.
“Jangan macam-macam!” ancam Deva
setengah menghardik. Matanya memelotot. “Jangan sok-sok ninggalin gue! Emangnya
kalau bukan karena gue, elo bakal punya teman di sini, hah?! Kalau bukan karena
gue, elo bakal ngewe ama siapa?! Elo bilang sendiri, di sini elo pertama
kali ngewe ama gue. Gue ini spesial buat elo!”
Aku siap banget untuk melawan,
tetapi aku masih fokus pada rasa pegal dan nyeri di bahuku. Jadi aku hanya
merintih kesakitan saja. Kucengkeram area yang nyeri sembari aku mengatur napas
dan memandang Deva dengan tatapan menusuk.
“Gue enggak suka kalau elo kayak
begitu, anjing. Enggak tahu terima kasih! Yang nebengin elo ke mana-mana, pas
pertama pindah ke sini, siapa?! Yang ngasih elo makan, pas elo belum gajian,
siapa?! Yang nyariin partner supaya kita bisa threesome, siapa?! Itu
semua gue!” Deva mendengkus seperti kerbau. Dadanya membusung, membuat
putingnya yang mancung mencuat ke depan, seperti sepasang tumpeng mini.
“Mentang-mentang elo udah temenan ama tentara, terus gue ditinggalin gitu aja,
hah?! Elo kayak kacang lupa kedelainya!”
“Hah?!”
BUUUKKK!
Deva meninju mobilnya sendiri
hingga bergoyang. Meninju seperti lelaki maskulin yang marah besar, pengin
nonjok, tapi enggak bisa nonjok orang di depannya, jadi menonjok ke objek lain.
Avanza itu bergoyang sebentar. Bahkan, alarm-nya langsung bunyi.
TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT!
TUIT! TUIT!
Sejak momen itu, Deva mengamuk
seperti orang yang kerasukan maung.
Deva mengataiku. Mengomeliku.
Menonjol lagi mobilnya hingga penyok—supaya kelihatan macho banget
mungkin.
BUUUKKK!
Dan juga dia mulai menendangku.
“Aaargh!”
Sayangnya, tendangan itu kena
betisku. Enggak sakit, sih. Tapi kena. Jadi aku sempat limbung sebentar.
Suara alarm mobil Deva berseru
berisik sekali, membuat semua orang yang melintas di jalan depan parkiran
menoleh kepo. Deva berkali-kali mematikan suara alarm, tetapi dia menonjok lagi
mobilnya sehingga bunyi alarm itu muncul lagi.
TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT! TUIT!
TUIT! TUIT!
Di tengah amarahnya, Deva
mengancamku, “Kalau elo berani ninggalin gue ..., gue bakal sebarin ke
teman-teman tentara elo itu ... kalau elo itu homo!”
Aku terkesiap panik. Satu dua orang
di antara tentara itu jelas sudah tahu aku homo. Tapi tetap saja, diancam untuk
dibuka identitasnya ke orang-orang yang secara umum benci LGBT, sukses membuat
dadaku berdebar-debar. Aku ketakutan.
“Mau kamu apa, sih?!” hardikku.
“Gue mau elo ama gue terus! Gue mau
elo ngikut gue! Turutin perintah gue, kayak pasangan yang saleh!”
“What the fuck?! Kita bahkan
enggak kawin, Deva!”
“Tapi gue sayang ama elo—“
“Enggak!” Kuputuskan untuk pergi
dari situ. Aku melangkahkan kaki meninggalkan Deva.
Namun Deva langsung menarikku lagi.
Bahkan, membantingku untuk ke atas tanah.
BUUUKKK ...!
“Aaargh!”
“Jangan pergi!” sergah Deva
setengah menangis. “Ayo pulang sama gue!”
“Enggak!”
“Ayo ikut gue! Kalau enggak, gue
bocorin soal elo ke semua orang! Gue bikin elo malu!” Deva mencengkeram
tanganku, lalu memaksaku masuk ke mobilnya.
“Enggak!” Aku mencoba menarik
tanganku lebih kuat. Kujejakkan kaki ke atas tanah, menarik tubuh Deva yang
lebih besar dari tubuhku. “Aaargh!”
“Ayo, nurut!”
Plak!
Wajahku ditampol Deva. Rasanya
pipiku kesemutan untuk beberapa saat.
Karena aku terdiam, Deva berhasil mendorong
tubuhku ke body mobil. Aku didesak seperti sedang dipalak preman.
Dan Deva, dengan penuh nafsu,
tiba-tiba menyambar kontolku.
Kontolku diremasnya.
“ARGH!”
Deva tersenyum sebelah. “Elo suka,
kan? Suka, kan?!”
“Lepas!”
Deva meremas selangkanganku lebih
kuat. Satu tanganku sudah mencengkeram pergelangan tangan Deva yang meremas
itu, tetapi aku masih belum berhasil untuk menariknya.
“Aaargh!”
“Ayo ikut gue! Atau elo ....”
Tiba-tiba Deva mundur ke belakang,
seperti ditarik sesuatu. Dengan terkejut, Deva melepaskan semua cengkeramannya.
Dia terlempar menabrak pohon flamboyan berbatang besar.
BRUK!
Seseorang menarik tubuhnya hingga
melayang.
Fian.
Sosok tentara berbadan besar itu
ada di antara kami sekarang.
BUUUKKK!
Fian meninju wajah Deva.
Dan sejak momen itu, Fian menghajar
Deva seakan-akan ingin membunuhnya.
“AAAAAARGH!” Deva tersungkur lagi
ke atas tanah.
Apakah Deva menyerah? Enggak.
Ketika Fian mengangkat lagi kerah bajunya agar dia berdiri, sebelum Fian
meninjunya lagi, apa yang Deva lakukan? Dia tiba-tiba menyambar selangkangan
Fian.
Dan Deva meremas kontol Fian.
BUUUUUUKKKKKK ...!!!
Tinjuan berikutnya dari Fian itu
lebih keras.
Deva tersungkur ke atas tanah.
Darah sudah mengucur dari wajahnya.
Aku merosot di depan mobil Deva.
“Bang! Jangan!”
Fian tidak mendengarkanku.
BUUUKKK ...!!!
Suara tinjuan itu menggemar di
parkiran, dari seorang tentara prodigy berbadan kekar ke seorang homo lemah
yang manja.
BUUUKKK ...!!!
BUUUKKK ...!!!
BUUUKKK ...!!!
Aku yakin, satu tinjuan terakhir
sudah akan mengambil nyawanya, kalau saja bukan karena Daddy Ryuji memisahkan
mereka.
“BERHENTI!” Daddy Ryuji mendorong
Fian menjauh. Tenaganya besar sekali, seperti seorang atlet judo membanting
tubuh atlet lain yang lebih besar. “Kamu mau bunuh orang, HAH?!”
Fian tampak menakutkan. Wajahnya
penuh nafsu. Napasnya memburu. Tatapan matanya
“Hanya karena badanmu besar, bukan
berarti kamu seenaknya menghajar warga sipil kayak begitu,” ungkap Daddy Ryuji
dengan suara lebih tegas dan galak. “Kamu ini prajurit atau monster? Prajurit
macam apa menghajar satu-satunya alasan kamu jadi prajurit, hah?! Dia ini orang
yang harus kaulindungi! Dia ini warga negara yang keselamatannya ada di
tanganmu! Kenapa malah kaubikin babak belur, hah?!”
Fian mendengus.
Aku ingin sekali menjelaskan ke
Daddy Ryuji bahwa Deva memang pantas dihajar seperti itu. Namun aku juga paham
bahwa Fian enggak seharusnya bersikap seperti itu. Yang bisa kulakukan di situ,
dengan profesiku sebagai tenaga medis, meskipun aku benci sekali pada Deva dan
ingin sekali Deva mati saat ini juga, adalah berteriak ke orang terdekatku
untuk membawa Deva ke rumah sakit.
“Bantu aku bawa ke IGD terdekat,”
kataku. Puting Hitam berada paling dekat denganku. Bondan juga. Kutunjuk mobil
Avanza-nya Deva. “Itu mobil orang ini. Kita pakai aja.”
Mobil Deva melaju pergi ke IGD
terdekat. Aku enggak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Yang kulihat
terakhir kali adalah Fian masih menatap ke arah Deva dengan tatapan membunuh.
Kemudian para tentara mengelilinginya.
[ ... ]
Deva aman, Kak.
Barangkali Kakak cemas dengan
kondisi Deva, dia langsung dapat penanganan di rumah sakit terdekat. Aku bantu
mengisi formulir, menyiapkan BPJS-nya, termasuk menghubungi keluarganya agar
datang. Deva langsung mendapatkan tindakan yang dibutuhkan. Hanya ada beberapa
luka jahitan. Dan satu giginya lepas. Tidak ada retak atau patah tulang. Darah
juga tidak masuk ke paru-parunya. Semua aman. Bahkan, Deva sudah siuman
beberapa saat sebelum keluarganya datang.
Sambil menunggu mereka datang,
Puting Hitam dan Bondan sempat menginterogasiku.
“Siapa dia?” tanya Puting Hitam,
tegas, seperti Fian. Seolah-olah, apa pun alasan Fian menghajar Deva, dia akan
setuju dengan aksi itu.
Aku tak tahu apakah aku harus
melindungi Deva atau tidak. Kalau aku katakan dengan jujur, takutnya Deva
beneran dibikin mampus oleh tentara-tentara ini—dan aku enggak mau itu terjadi.
Aku bukan pembunuh. Tapi kalau aku bohong, pada akhirnya Fian akan berkata
jujur juga soal alasannya menghajar Deva. Sama saja.
Jadi kuputuskan untuk mengatakan
apa adanya, tetapi diplomatis—tidak mengatakan seluruhnya. “Dia ngelecehin aku,
Bang.”
“Anjing!” Bondan mengumpat kesal.
“Serius?! Dia tuh yang siang tadi diusir dari aula, bukan?”
Aku mengangguk. “Aku ... aku enggak
bisa cerita dengan detail. Aku rasa itu urusan pribadiku sama dia. Tapi dia
marah, terus waktu aku mau pergi, aku ditarik. Aku ... aku dilecehkan sama
dia.”
“Pantas sih kalau si Fian marah,”
kata Puting Hitam.
“Tapi kita juga enggak bisa bilang
apa adanya ke keluarga dia,” ungkap Bondan. “Gue udah googling siapa
dia.”
“Siapa?”
“Keluarga dia ada yang anggota DPR,
anjing. Bisa gawat kalau ketahuan netizen ada tentara ngehajar dia sampe babak
belur gitu.”
“Orang-orang di GOR juga udah lihat
langsung si Fian ngehajar dia,” balas Puting Hitam. Kedua tangannya dilipat di
depan dada.
Ketika kejadian terjadi, sebagian
orang memang sudah menonton kami. Tukang teh botol, tukang parkir, beberapa
orang yang lewat di trotoar depan GOR, bahkan tukang ojek yang sedang menepi.
Ketika kami meninggalkan lokasi, beberapa orang sudah berkerumun di sekitar.
Termasuk orang-orang yang menyewa lapangan badminton paling ujung.
Sebagian dari para tentara ini
mengenakan jaket bomber dan kaus loreng-loreng tentara. Sudah pasti warga
sekitar menganggap Fian sebagai tentara.
“Nama kita bisa makin buruk,” gumam
Bondan sambil geleng-geleng kepala. “Makin susah dapatin kepercayaan
masyarakat. Gara-gara Pemilu kemaren aja, pas Prabowo kepilih, nama baik
militer malah makin buruk di internet. Kita harus bikin skenario, supaya kejadian
ini enggak ada kaitannya ama militer sama sekali. Bisa bahaya kalau warga tahu
si Fian ini tentara.”
Puting Hitam dan Bondan mem-briefing-ku
agar bercerita ke keluarga Deva secukupnya. Pastikan tidak ada kata kunci
tentara sedikit pun dalam ceritaku. Aku yang masih syok hanya bisa mengangguk
dan menyetujui.
Maafkan aku kalau Kakak enggak
setuju dengan hal ini. Aku tahu kita semua anti sama dwifungsi TNI, tapi dalam
situasi ini aku juga enggak bisa membiarkan nama tentara jadi jelek gara-gara
apa yang Fian lakukan ke Deva. Soalnya, ini enggak ada hubungannya sama militer
sama sekali. Ini masalah pribadi saja yang bisa terjadi apa pun profesi Fian.
Tapi netizen negara Konoha kan paling senang menyudutkan pihak mana pun yang
dibenci, ya, meskipun enggak ada kaitannya dengan masalah utama. Aku sudah bisa
membayangkan orang-orang akan menuduh Fian main hakim sendiri ke warga sipil,
menggunakan privilege-nya sebagai abdi negara untuk bersikap
semena-mena, atau bully, dan lain sebagainya—padahal Deva pantas
mendapatkan tinjuan-tinjuan itu.
Jadi, ketika keluarga Deva datang,
aku hanya menceritakan seadanya saja.
“Mas Deva melakukan pelecehan, Bu.
Orang-orang marah, jadinya ngeroyok dia.”
“Pelecehan ke siapa?”
“Ke ... orang yang ada di situ.”
Untungnya, keluarga Deva masih syok
melihat Deva kondisinya babak belur, jadi mereka belum kepikiran untuk bertanya
lebih detail. Puting Hitam dan Bondan menguatkan ceritaku dengan meyakinkan
mereka bahwa Deva memang melakukan pelecehan, sehingga keluarga Deva tak punya
kesempatan untuk membela diri.
Daddy Ryuji dan Erick datang tak
lama setelah keluarga Deva mengambil alih. Erick menjemput Puting Hitam dan
Bondan. Daddy Ryuji, anehnya, datang untuk menjemputku. Bondan yang sudah
ngasih kode-kode supaya pulang bareng akhirnya hanya bisa bungkam ketika Daddy
Ryuji muncul dan berkata, “Nanti Rohmat pulang dengan saya. Kosan dia lokasinya
dekat rumah saya.”
Kami pun berpisah. Aku membuntuti
Daddy Ryuji ke mobilnya, duduk di jok yang sama seperti sore tadi. Waktu sudah
menunjukkan pukul sepuluh malam ketika aku duduk dengan lesu di kursi
penumpang. Namun setidaknya aku sudah tidak sedeg-degan tadi duduk di samping
tentara berpangkat tinggi ini.
“Pacarmu?” tanya Daddy Ryuji kali
pertama.
“Bukan,” jawabku tanpa pikir
panjang. Kemudian, aku memutuskan untuk jujur. Toh Daddy Ryuji sudah mau jujur
tentang kisahnya bersama Awang di GOR tadi. “Tapi aku sempat dekat sama dia.
Tapi dia bukan pacarku.”
“Iya, saya tahu.” Daddy Ryuji
menoleh ke belakang karena mobil akan mundur. Setelah mobil keluar ke jalan
raya, berpisah dengan mobil Kresna yang dikendarai Erick, dia bertanya lagi.
“Saya sering lihat Avanza itu jemput kamu ke kosan.”
Aku mengangguk.
“Fian bilang dia melecehkan kamu?”
Aku mengangguk lagi. “Aku udah
nolak dia, tapi dia maksa. Aku hampir disekap.”
“Dia takut sama saya.”
Aku langsung menoleh. “Takut?”
“Siang tadi saya ‘ngobrol’ sama
dia.” Daddy Ryuji menghela napas. “Sewaktu taruna-taruna itu nyeret dia keluar,
saya nyamperin dia. Jadi ..., saya tahu motifnya apa.”
Pantas saja Deva tak mau masuk ke
dalam GOR, cuma berani mengintip dari balik pintu saja.
“Dia juga yang nelepon kamu sore
tadi, kan?”
Aku mengangguk lemas. “Maaf.”
“Ini alasannya orang kayak kamu
sebaiknya jangan macam-macam,” lanjut Daddy Ryuji dengan intonasi suara seperti
seorang ayah menasihati anaknya. “Kalian enggak punya perlindungan hukum.
Pacaran sesama lelaki, terus terjadi pelecehan kayak gitu, mau minta bantuan ke
siapa, hm?”
“UU TPKS kan sudah berlaku,”
sergahku tak sependapat.
“Tapi siapa yang mau bersimpati
sama kalian?” Daddy Ryuji menoleh sebentar. “Orang-orang akan jijik sama siapa
pun pelaku hubungan sesama jenis. Enggak peduli kamu ada di posisi yang benar.
Perempuan saja yang jadi korban pelecehan masih jadi pihak yang disalahkan,
apalagi kalian yang ngelakuinnya sesama jenis.”
Aku sudah membuka mulutku untuk
membantah, tapi kurasa Daddy Ryuji ada benarnya.
“Kamu masih muda. Masih punya
energi untuk bertobat,” lanjut Daddy Ryuji.
“Aku enggak pernah ganggu siapa
pun. Aku enggak pernah melecehkan siapa pun. Calon taruna yang kucek telanjang
bulat pun kuperlakukan profesional, enggak ada yang kumanfaatkan situasinya
untuk kepuasan seksualku. Aku berhak untuk menjalani hidup yang memang didesain
untukku,” balasku tak terima.
“Iya saya paham.”
“Bapak enggak paham—“
“Saya paham,” tegas Daddy Ryuji.
Rahangnya mengeras. “Saya bukan sedang men-judge gaya hidupmu. Saya cuma
mau kamu berhati-hati. Kita bukan di negara yang bebas. Negara ini belum
merdeka dari segi hak asasi manusia.”
Aku terpana mendengar itu. Kurasa
itu bukan prinsip hidup yang akan keluar dari mulut seorang tentara. Kurasa
semua tentara akan sepakat bahwa apa pun yang ‘belok’ adalah salah. Bahwa LGBT
sejatinya menjijikkan, bukan hak asasi manusia.
“Awang membuka mata saya,” kata
Daddy Ryuji kemudian, dengan suara lebih pelan. “Dan ..., mata saya terbuka.
Tapi untuk keamanan banyak pihak ..., saya tidak bisa menyetujui prinsip itu.
Jadi ..., saya paham.”
Aku mengangguk kecil.
“Saya enggak kayak kamu,” lanjut
Daddy Ryuji. “Saya tidak tertarik sama laki-laki. Tapi saya beruntung
dikenalkan dengan Awang. Sehingga ..., saya paham ..., ketertarikan kalian
dengan laki-laki ada di luar kuasa kalian. Apalagi setelah saya merasakan ....”
Kata-kata itu terputus dan
menggantung di udara selama beberapa ratus meter. Daddy Ryuji tampaknya ingin
menceritakan dengan detail, tapi dia tak sanggup melakukannya.
“... setelah saya merasakan ...,
yang kalian sering lakukan ...,” lanjut Daddy Ryuji, berhati-hati, “saya bisa
paham kenapa kalian suka sama itu. It’s a beautiful thing, at the end of the
day. Beautiful when you love the person you’re with.”
Aku mengangguk setuju.
Kami terdiam dulu untuk beberapa
saat.
Kosanku sudah hampir sampai. Jalan
Gatot Subroto yang menjadi alamat Daddy Ryuji baru saja kami lewati, tetapi
beliau mengantarku dulu ke kosan. Tepat beberapa ratus meter sebelum kami tiba
di kosanku, Daddy Ryuji sempat bergumam.
“Saya rindu Awang.”
Aku tak tahu apakah itu ditujukan
padaku atau beliau sedang monolog dengan dirinya sendiri. Namun aku tetap
meresponsnya. “Pasti.”
“Saya rindu membela Awang sewaktu
dia di-bully orang-orang di komando. Saya pernah ngehajar kawan saya—si
Harja pasti ingat soal ini—waktu Awang di-bully gara-gara bawa pelembap
muka pas mandi. Habis latihan.” Daddy Ryuji menghela napas panjang. “Saya
ngehajar pem-bully-nya persis yang Fian lakukan tadi.”
“Kenapa sampai segitunya?”
“Karena bully-nya adalah ...
Awang ditelanjangi ... lalu kemaluannya ....”
Daddy Ryuji tak sanggup
melanjutkan.
Aku langsung memegang tangan Daddy
Ryuji yang sedang bertengger di atas persneling. “Enggak usah dilanjutin. Aku
paham, kok.”
Namun fokus Daddy Ryuji teralihkan
sejenak. Sesekali dia melirik tangannya yang kini ditindih tanganku.
Ini salahku, sih. Harusnya aku
enggak megang tangan ini.
Soalnya, tiba-tiba, jempol Daddy
Ryuji naik dan mengusap-usap jemariku. Gerakannya benar-benar cepat, sehingga
aku tak bisa berkutik.
Aku membelalak terkejut atas gestur
itu, tetapi aku sudah terlambat.
Tahu-tahu, tangan itu berbalik.
Setiap jemarinya menyelusup masuk ke celah-celah jariku. Telapak tangan kami
saling beradu. Rasanya hangat. Tangan itu besar, sehingga aku seperti
dilindungi.
Aku merasakan perubahan emosi Daddy
Ryuji. Beliau menarik napas panjang. Alisnya bertaut sejenak ke tengah. Mungkin
dadanya berdebar-debar juga. Dia menatap ke depan, tetapi pandangannya seperti
menunjukkan bahwa dia ....
... lega.
....
Lega setelah bertahun-tahun
merindukan sesuatu, sekarang yang dia rindukan bisa dia dapatkan lagi.
....
Bahunya melorot dengan tenang.
Sudut bibirnya ingin tersenyum, tetapi dia tahan mati-matian agar tidak
kelihatan “gembira”. Daddy Ryuji tidak mengatakan apa pun hingga kami tiba di
depan kosanku. Dia masih menatap ke depan.
Masih mencengkeram tanganku dengan
erat.
Jempolnya mengusap-usap tanganku
tanpa henti. Seperti seorang kekasih yang sudah kangen pacarnya setelah
bertahun-tahun LDR, lalu dia akhirnya bisa menggenggam tangan kekasihnya lagi.
Aku ingin sekali menarik tanganku
dari situ, tapi ....
... tapi aku enggak tega.
Kurasa dia pantas mendapatkan ini.
Dia pantas mendapatkan genggaman
tangan dari seorang lelaki.
Mungkin mewakili lelaki yang sudah
dia rindukan dalam waktu lama.
....
Kami duduk dalam diam selama kurang
lebih ....
... sepuluh menit.
Diam saja. Masing-masing tenggelam
dalam pikiran sendiri. Sama-sama menatap ke depan. Ke lalu lintas yang mulai
lengang. Tak ada kata apa pun. Tak ada suara apa pun. Hanya genggaman tangan
dengan jempol Daddy Ryuji mengusap-usap tanganku dengan lembut.
....
“Terima kasih,” kata Daddy Ryuji
tiba-tiba. Dia pun menarik tangannya dan meletakkannya ke atas setir. Dia
menoleh ke kanan, memalingkan muka dariku. Mungkin mengerjapkan matanya untuk
sesaat. Sebelum akhirnya dia menoleh lagi ke arahku. “Maaf, saya ... saya
barusan ....”
“Iya, gapapa. Terima kasih udah mau
cerita semuanya ke aku hari ini,” lanjutku sambil menyiapkan tas dan
mengumpulkan ponsel yang kuselipkan di pintu mobil. “Terima kasih karena mau
paham situasiku kayak gimana. Aku yakin sih, Pak Awang, di mana pun jiwanya
berada sekarang, pasti bangga sama Bapak. Ketika Bapak punya alasan kuat untuk
benci aku, Bapak memilih untuk bimbing aku.”
“Kalau saya request satu hal
...,” kata Daddy Ryuji kemudian, agak berhati-hati. “Kamu bisa ... kabulkan?”
“Request apa?”
“Anggap aja ini caramu bayar balas
budi, karena tadi sudah saya bantu. Waktu di GOR.”
“Iya. Apa?”
Daddy Ryuji menarik napas panjang,
masih setengah ragu untuk mengatakannya. Namun rasa rindu yang sepertinya sudah
menggelegak bertahun-tahun di kerongkongannya mengalahkannya. “Saya rindu
cumbuan dari Awang.” Lalu, dia menoleh ke arahku.
Mulut Daddy Ryuji menganga sedikit.
Aku terpana menatap wajah itu.
Sebelum Daddy Ryuji mengatakan apa
pun lagi ..., aku mengabulkannya.
Aku memagut bibir itu, lalu
mencumbunya.
Tidak lama. Hanya lima detik saja.
Namun dalam lima detik itu aku
merasakan tarikan napas kerinduan yang sanggup membuat tentara segagah dan
sejantan Daddy Ryuji berserah diri. Aku merasakan bibir kenyal yang kangen akan
sapuan lidah yang intens. Aku merasakan permainan lidah yang dipenuhi asa untuk
bertemu seseorang yang sudah lama tak ditemui.
Daddy Ryuji yang melepaskan cumbuan
itu. Dia ketakutan, tetapi dia menikmatinya dengan amat sangat. Dia tak berani
menatapku. Senyuman hampir terukir di bibirnya, tetapi lelaki itu menahannya
mati-matian untuk mempertahankan gengsi sebagai laki-laki macho yang
“normal”.
“Selamat malam. Sampai jumpa lagi
besok. Atau kapan-kapan,” katanya, sembari memalingkan wajah dariku.
Aku tersenyum lebar. “Selamat
malam.”
Dan, kami pun berpisah.
Komentar
Posting Komentar