(HD) 26A. Cowoknya Makin Ngaceng, Anjir! (Shorter)




Halo, Kak!

Mendebarkan, ya? Aku berangkat dari lelaki gay jomlo yang scroll aplikasi sebelum berangkat ngantor demi dapat teman ngewe, menjadi lelaki yang dalam dua minggu berhasil dipepet tentara ganteng, ngewe ama calon taruna ganteng, ngewe ama temennya si tentara ganteng, ngewe sama pemilik kosan, dan terakhir cipokan ama tentara berpangkat tinggi yang jadi atasan dari si tentara ganteng.

Seolah-olah Dewi Fortuna baru ngeh kalau aku ini berhak mendapatkan kenikmatan-kenikmatan lelaki straight ini sehingga dia datang dan melimpahkan semua rezeki ini dalam satu waktu, secara bersamaan.

Tapi aku sadar, kok. Bisa jadi ini hanya ilusi. Daddy Ryuji sudah berkeluarga. Bondan mau berkeluarga. Xavier terlalu muda untukku dan manjanya minta ampun.

Fian? Enggak jelas.

Dan misalnya jelas, kurasa aku harus mendengarkan kata-kata Daddy Ryuji. Bahwa suatu hari, aku dan Fian harus berpisah. Karena, Fian akan menikahi perempuan dan menjalankan kehidupan “normal” seperti tentara lainnya.

Karena lelah, semalam, aku langsung tertidur setelah cuci muka. Aku masih belum crot. Jadi subuh, ketika aku terbangun, kontolku ngaceng keras sekali. Gairah seksual itu memuncak ketika aku bangkit dari tempat tidur, lalu Xavier tiba-tiba mengirimku foto kontolnya.

Kapan gue bisa bayar utang lagi, hah? katanya di WhatsApp.

Aku makin sange, lah.

Tapi enggak. Kuputuskan untuk mandi dan mengabaikan semua gairah membara itu. Dalam perjalananku ke klinik, di Gojek, kontolku ngaceng lagi gara-gara mencium aroma parfum driver Gojeknya. Selama duduk di truk menuju lanud, bersama tentara-tentara yang menemaniku, aku menyilangkan kaki agar kontol ngaceng-ku enggak terekspos di balik seragam klinik yang tipis.

Mungkin karena lagi sagapung, sange total enggak ketampung, segala jenis lelaki mendadak ganteng. Nadhif dan Wandi mendadak ganteng juga. Waktu mereka datang ke station kami, aku menghela napas seperti orang yang lagi di-rimming. Untungnya mereka enggak curiga.

Satu-satunya yang kusyukuri adalah hari Jumat ini sesinya lebih pendek. Hanya 25 orang saja yang akan kuperiksa. Kami akan pulang lebih awal.

Kumulai Jumat dengan lancar. Kerjaanku aman pagi itu. Tidak ada durasi yang menyentuh sepuluh menit. Semua cairan prostat dan sperma berhasil kukumpulkan dengan mudah. Seolah-olah, mereka semua sudah persiapan dulu di rumah, kontolnya di-edging sampai hampir crot. Jadi, ketika aku mainkan prostat mereka dari belakang, semua cairan yang kubutuhkan bisa keluar dengan mudah.

Dan, enak.

Hampir semuanya mendesah keenakan seperti sedang ngewe. Nadhif dan Wandi sampai mengintip ke balik tirai, lalu keduanya membelalak bulat melihat apa yang sedang kulakukan.

“Tuh, kan,” bisik Nadhif sambil menyenggol Wandi di sebelahnya, “Enak, Bro. Mau coba enggak?”

Aku belum mendapatkan update apa pun dari Deva. Padahal, aku sudah memberikan nomorku ke orang tuanya Deva.

Bondan sempat mengunjungiku ketika aku memeriksa orang kelima atau keenam gitu. Tapi dia hanya berdiri saja di pintu masuk bilik pemeriksaan. Mengamatiku dari jauh.

“Kenapa enggak masuk?” tanyaku sambil mengobok-obok bool calon taruna dengan satu jariku.

“Enggak, ah, Takut masuk IGD juga.” Bondan terkekeh. Menyindir kejadian semalam.

“Kalau enggak macam-macam sih enggak akan masuk rumah sakit.”

“Gue sih penginnya macam-macam. Hehehe.” Bondan tersenyum lebar sambil menontonku mengekstrak sperma dari kontol sang calon taruna.

“Aaahhh ...! Aaahhh ...! Aaahhh ...!” Calon taruna itu meremas bantal dengan kedua tangannya. Hidungnya mengernyit hebat. Kakinya menekuk tegang. Pahanya juga. Lalu kontolnya memuntahkan sperma-sperma putih. Yang langsung kutampung ke dalam wadah steril.

CROT! CROT! CROT! CROT! CROT!

Sssssshhh ....” Bondan mendesis sambil menonton itu. “Enak kayaknya itu.”

“Mau?” tantangku.

“Mau.”

“Jadi calon taruna dulu. Biar bisa diperiksa kayak begini.”

Bondan lalu terkekeh. Dia tersenyum lebar sambil mengamatiku beberapa saat, lalu dia pamit pergi.

Aku belum melihat Daddy Ryuji selama berada di aula. Tapi sejatinya memang sosok itu enggak berada di sini. Jujur, aku masih teringat akan cumbuan itu. Aku tahu, aku tidak melakukannya karena aku menyukai Daddy Ryuji. Ngewe dengan beliau sih masuk ke bucket list-ku, tapi aku enggak menciumnya dengan perasaan.

Aku hanya ingin memberikannya sesuatu yang sudah dia rindukan sejak lama.

Semoga Daddy Ryuji bisa lebih tenang menghadapi cintanya yang sudah pergi.

Pada break pertama, akhirnya aku bertemu Fian. Dia muncul tepat ketika orang kesepuluh di batch pertama meninggalkan station bersama Nadhif. Fian muncul dengan seragam birunya yang gagah, mungkin sedang persiapan untuk apel atau apa gitu.

Dia tampak lebih segar dan fit. Tidak ada kantung mata, wajah pucat, dan badan lemas seperti hari kemarin. Rambutnya disisir rapi, agak berkilau—mungkin pakai gel.

“Halo, Dek!” sapanya, sambil masuk ke dalam bilik pemeriksaan.

Karena aku sedang membereskan wadah-wadah steril, aku hanya mengangkat kepala dan tersenyum kecil. “Hey,” balasku.

Dia menghampiriku dan tiba-tiba mengulurkan ponselnya ke atas meja. Layar ponsel itu menayangkan video yang sedang di-pause. Fian mengklik play.

Itu adalah video Fian tidur di barak—bukan di rumah kontrakannya. Baraknya sepi, hanya ada Fian saja. Ada jejeran ranjang-ranjang tipis dua tingkat dengan seprai berwarna “mungkin” biru. Jumlahnya selusin. Lampu tidur yang remang hanya menerangi satu-satunya tempat tidur yang ada Fiannya.

Fian mengklik video sehingga muncul bar yang menunjukkan linimasa video. Durasi video itu lima jam lebih beberapa menit saja. Fian menggulir bar linimasa kanan dan kiri. Ada preview yang menunjukkan bahwa seisi video ....

... hanyalah video Fian sedang tidur.

“Ini video semalam. Cuma lima jam, karena Abang baru tidur jam 12-an, tapi jam lima udah harus bangun buat persiapan apel lagi.” Dia menarik napas panjang. “Abang diskors, enggak boleh pulang ke rumah. Selama seminggu harus tinggal di sini. Kebetulan semalam ada barak kosong yang bisa dipake.”

“Oh ....”

“Cukup ya buktinya?”

Dengan hati tergelitik kecil, aku tersenyum. “Iya, cukup.”

Fian menatapku dengan serius, seolah-olah ingin mengirimkan telepati supaya aku enggak main sama Bondan karena dia sudah menepati janjinya untuk tidur semalam.

“Maaf soal semalam,” kata Fian akhirnya. Dia menunduk dan mengambil lagi ponselnya. Suaranya lebih pelan—hampir berbisik. “Abang kelepasan.”

“Iya. Ya udah.” Aku menghela napas. “Benar atau salah tindakan Abang, Abang tetap udah nyelamatin aku dari dia.”

“Kenapa masih kontakan sama dia?”

“Enggak. Aku enggak kontakan sama dia, ya,” sergahku membela diri. “Dia yang ngontak aku terus. Dibalas enggak dibalas, dia mah enggak bakal menyerah.”

“Tapi semalam ..., Adek ..., enggak kenapa-napa, kan? Ada yang luka? Memar? Sakit?”

Aku menggelengkan kepala. “Aku aman. Abang gimana?”

“Enggak aman.” Dia tersenyum kecil. “Abang lagi nahan diri buat enggak bunuh orang—khususnya dia.”

Please, jangan dibunuh. Enggak worthy masuk neraka gara-gara bunuh dia. Dan enggak ada tantangannya juga.”

“Orang kayak dia pantas mati.”

“Iya, setuju. Tapi bukan kita yang harus eksekusi.”

Fian terlihat menarik napas untuk membalas, tetapi dia mengurungkannya. Dia memilih duduk di atas dipan. Mengambil waktu sejenak bersamaku.

“Jadi, Abang diskors gara-gara yang semalam?”

Fian mengangguk. “Pasal 351 KUHP Militer, soal penganiayaan berat. Kalau dia ada tulang yang patah satu aja, atau koma, langsung masuk kategori kriminal. Masuk peradilan militer dan lain sebagainya. Tentunya, penjara. Dan ... dicopot dari jabatan.”

Aku membelalak sambil menutup mulutku dengan tangan.

Fian menggelengkan kepala. “Karena Abang lagi nanganin masalah internal yang besar, senior-senior sepakat buat nutupin soal ini. Termasuk internal di TNI. Harapannya, Adek juga mau nutupin soal ini dari siapa pun. Bisa, Dek?”

Aku mengangguk yakin, tanpa pikir panjang.

“Capt. Gala bakal ngurusin soal rumah sakit dan negosiasi sama keluarga si kunyuk.” Fian menghela napas lagi. “Masalahnya adalah dianya ... si kunyuknya ..., gimana caranya nutup mulut dia.”

Dalam hati aku tahu jawabannya. Tapi aku enggak mau mengatakannya ke Fian.

Untuk menutup mulut Deva tuh gampang:

Sumbat bool-nya dengan kontol. Pasti suara yang keluar dari mulut dia cuma ,“Ah, ah, ah!” Enggak akan ada cepu soal apa pun.

“Nanti kita lihat perkembangannya. Aku bisa coba bujuk dia supaya damai.”

“Abang enggak mau Adek dekat-dekat dia,” kata Fian tiba-tiba. Tegas. Dengan rahang mengeras seolah-olah dia benci banget ide tersebut.

“Ya nanti kita pikirkan lagi jalan keluarnya, Bang. Semoga masalahnya enggak sebesar yang kita bayangin barusan.”

“Maaf Abang enggak bisa ngontrol emosi, Dek. Enggak biasanya Abang kayak begini. Enggak pernah malah.”

“Itu karena belum tidur.” Aku mendengus bangga, karena aku ada benarnya. “Emosi gampang naek kalau seluruh hormon dipaksa kerja keras tanpa istirahat.”

“Kan semalam udah tidur.”

“Ya kan tidurnya setelah kejadian. Bukan sebelum kejadian. So please, jangan remehkan istirahat. Kita enggak lagi perang, kok. Enggak make sense aja sok-sokan begadang enggak tidur, enggak mandi, terus bangga soal itu, padahal secara medis itu bahaya.”

“Iya, iya, Bu Dokter.”

What the fuck?! Aku disebut bu dokter?!

Memangnya penampilanku kayak ibu-ibu?!

Belum sempat aku ngamuk soal itu, Fian langsung turun dari dipan dan bersiap pergi. “Hari ini Abang ada banyak kegiatan. Kita mungkin baru ketemu lagi besok. Di risetnya Capt. Sigit.”

“Gapapa. See you tomorrow.”

Fian diam sejenak di depanku. Dia mengamati wajahku. Seperti ingin memagut bibirku, tetapi dia hanya diam saja.

Aku ingin juga mencumbu bibir itu, meski aku harus berjinjit karena Fian lumayan tinggi badannya. Namun aku juga malah diam. Ada sedikit perasaan bersalah dalam diri, karena semalam aku ciuman dengan atasan Fian. Jadi aku merasa enggak pantas nyosor duluan.

Aku hanya akan mencium Fian jika dia yang mendaratkan bibirnya ke bibirku kali pertama.

“Oke.” Lalu, Fian pun pergi dari bilik pemeriksaan.


[ ... ]


Pukul dua siang aku sudah berada di klinik dan menyelesaikan pekerjaanku hari itu. Mendekati sore, aku menyelesaikan makan siangku—nasi boks dari lanud—sambil ditemani Geca yang sedang bekerja. Kami bergosip sana-sini soal para pegawai di klinik.

“Pasien enggak ada yang oke story-nya?” tanyaku, menutup sesi gosip sambil melahap suapan terakhir makan siangku.

Geca mengangkat bahu. Namun kemudian meralatnya, “Oh! Dua hari lalu ada yang gancet.”

Aku langsung ngakak. “Di mana?”

“Suami istri, sih. Jadi ya di rumahnya. Malam pertama mereka. Malam-malam, pas klinik mau tutup. Tiba-tiba mertuanya datang, minta tolong. Baru kawin weekend kemaren, tapi baru selesai mensnya Rabu. Jadi baru bisa di-ebrut si istrinya.” Geca ngakak juga. “Dr. Nining dibawa langsung ke rumah mereka. Eh, gara-gara dokternya cewek, si cowoknya makin ngaceng, anjir. Hahaha .... Makin susah dikeluarin! Jadinya Mas Narto yang disuruh bantuin.”

Masyaallah .... Aku rindu banget cerita-cerita jenaka pasien kayak begini.

Kakak tahu gancet, kan? Kontol stuck di memek. Itu case yang jarang terjadi, tapi klinik kami pernah nanganin kasus itu sampai tiga kali, lah. Aku enggak pernah nanganin secara langsung, cuma dengar ceritanya aja. Berhubung aku cowok belok yang enggak suka memek, aku bersyukur enggak harus menghadapi kasus-kasus kayak begitu. Pada masa-masa awal kerja di sini, para perawat pernah dapat pelatihan menghadapi gancet. Cuma sekali aja.

Geca melanjutkan cerita soal gancet itu dengan detail. Aku mendengarkannya sambil membereskan nasi boks-ku untuk dibuang. Yang pasti, setelah makan siang, aku langsung pergi ke loker dan mengganti baju. Begitu aku keluar, Geca langsung menghadangku dengan wajah semringah.

“Anjir! Si ganteng muncul lagi! Aaargh!” Geca bahkan lompat-lompat kegirangan sambil meremas kedua tanganku. “Gila ganteng banget, ya Allah. Cakep banget! Dia selebgram, ya? Mukanya mulus, pasti skincare-an. Apa sih Tiktoknya?”

“Hah? Elu ngomong apa, sih?!”

“Itu temen elo, anjing! Yang kemaren!”

“Hah?!”

Aku berjalan keluar loker. Kuintip ke lobi.

Fuck.

Ada Xavier di sana.

Tampil ganteng dengan jaket kulit yang ngepas badan, celana jeans yang membungkus tungkainya dengan sempurna, sepatu mahal, dan kemeja polo yang warnanya somehow pas banget ama seluruh setelan dia hari itu. Dia juga pakai kacamata hitam.

Di dalam ruangan.

“Bro!” sahutnya saat dia menemukan aku di ujung lorong.

Sialan.

“Ayo!” katanya tiba-tiba.

“Ayo apaan, anjir?” Aku berkacak pinggang. Enggak mau mendekat. Geca mesem-mesem dengan wajah kasmaran di sampingku.

“Ayo berangkat!”

“Enggak!”

“Elo mau gue cekik?”

“Mauuu ...,” gumam Geca ikhlas.

“Apa, sih?!” rutukku kesal. Ke Xavier.

Dengan terpaksa aku berjalan mendekatinya. Pasti ini gara-gara faktor sange. Soalnya mendadak Xavier kelihatan ganteng banget. Ya memang sejak awal dia ganteng. Muda, berondong, mulus, cakep, cute, follower medsos pasti belakangnya K, charming, dan gemesin. Tapi karena orangnya nyebelin, biasanya kegantengan itu luntur di mataku. Cuma karena aku belum crot beberapa hari terakhir dalam kondisi aku lagi sange-sange-nya, kegantengannya memadat lagi.

Plus pagi tadi dia nge-PAP kontolnya. Makin laparlah aku sama kontol itu.

“Ayo! Ada pasien,” katanya sambil mengedikkan kepala ke arah luar.

“Oh, mau registrasi dulu?” tanya Geca dengan senyum lebar dan mata berbinar-binar.

“Hah?!” Xavier terkejut sambil menoleh ke arah Geca. “Enggak.”

“Di sini bisa pake BPJS.”

“Kagak mau. Gue mau si Rohayati ini yang periksa.”

What the fuck?!” Aku mendengus. “Aku bukan dokter. Dan, namaku, Rohmat!”

Don’t care.” Xavier mendengus. Tiba-tiba dia berbalik dan berjalan pergi. “Gue tunggu di luar. Kalau enggak muncul juga, gue cekik elo.”

“Ih ... mauuu .... Dicekik ...,” desah Geca sambil memegang dadanya sendiri. “Ya ampun, wangi pula. Elo dapat temen kayak gitu dari mana?”

“Dari neraka!” sahutku kesal.

Aku berjalan keluar klinik dan menghampiri Xavier yang sudah siap di atas motor gedenya. Dia bahkan sudah naik. Sudah menyalakan mesin. Sudah pakai helm full face yang keren. Karena motornya lumayan tinggi, kakinya sampai berjinjit untuk menapak tanah.

“Buru!”

“Ke mana, sih?” Aku tidak serta-merta naik ke atas jok motornya. Aku berdiri di samping Xavier sembari berkacak pinggang.

“Ada pasien,” ulangnya. “Butuh bantuan elo.”

“Cari dokter, dong. Bukan cari perawat.”

“Pasiennya gara-gara elo.”

“Kok? Emang aku ngapain?”

“Buru!”

“Enggak, ah.”

“Kalau dia sampai mati, berarti elo yang disalahin, ya! Awas kalau keluarganya nuntut. Enggak bakal gue bantuin di pengadilan.”

“Kamu ngomong apa, sih?!”

“Buru naik!” Xavier mendengus. “Kalau enggak ..., entar si Davin mati. Dia lagi mau bunuh diri sekarang!”


[ ... ]


Pada akhirnya, aku naik ke jok motor itu dan melaju bersama Xavier ke sebuah apartemen tinggi di pinggiran kota. Setelah memarkir motor, aku membuntuti Xavier menuju lobi. Kami naik lift ke lantai 9. Aku dibawa ke sebuah unit apartemen tipe studio yang berada paling ujung. Ini bukan apartemen mewah, jadi jangan membayangkan interior berkelas seperti yang ada di TV. Ruangannya hampir mirip kosan. Versi lebih modern. Dengan dapur yang proper (tidak seperti dapur ala-ala yang ada di dalam kamar kosanku) dan kamar mandi dalam. Lalu, ada sofa. Ada balkon. Dan ada lemari es.

Ketika aku masuk ke dalam, aroma apak bujang langsung menyerbu hidungku. Aroma lelaki yang belum mandi. Pakaian kotor berceceran di atas lantai. Kaleng-kaleng soda kosong juga menggelinding ke bawah meja.

“Bukan kamar gue,” kata Xavier mengumumkan, khawatir aku mengira gaya hidupnya sekotor ini.

Setelah aku masuk ke bagian dalam kamar, kutemukan Davin sedang terbaring di atas tempat tidur. Setengah punggungnya bersandar ke dinding, dan posisinya agak miring. Davin menatap kosong jendela di depannya. Seluruh tubuh Davin mengilat oleh keringat, padahal AC di kamar menyala. Di atas seprai di dekat Davin ada bekas muntah yang tampaknya sudah dilap, tetapi belum benar-benar bersih. Aroma asam lambung menguar ketika aku mendekatinya.

“Hey,” sapaku, mencoba bersimpati.

Davin tak membalasku. Dia masih menatap kosong ke depan.

“Dia lagi depresi,” ungkap Xavier sambil melepas jaket kulitnya, melemparnya sembarangan ke atas sofa, lalu berdiri di sampingku sambil merangkul bahuku. Bahkan dia bersandar ke tubuhku.

“Halo, Mas Davin,” panggilku.

Tak ada jawaban.

“Barusan muntah,” ungkap Xavier.

“Iya, aku tahu.”

“Gue yang bersihin.”

“Iya, makasih.” Aku mencoba menggoyang bahu Davin. “Mas?”

“Terus gue buang bekas muntahnya ke toilet.”

“Iya. Makasih, ya.”

“Tapi toiletnya mampet.” Xavier masih belum mau berhenti bacot.

“Hah? Kenapa mampet?”

“Gue ngelap muntahnya pake baju dia.”

“Terus kamu masukin bajunya ke lubang toilet?”

“Ya iyalah, anjing! Masa ke lubang idung elo?!” Xavier mendengus seraya mencoba menggeplak kepalaku, tetapi aku sempat menghindar.

Aku menghela napas panjang lalu masuk ke dalam kamar mandi yang jorok itu. Aku jelas enggak dibayar untuk ini, tapi aku mencoba berempati pada Davin. Kubersihkan kamar mandi itu sebisanya, termasuk menarik keluar baju bekas mengelap muntah yang kini mampet di lubang toilet karena sudah di-flush berkali-kali.

Ketika aku mencuci tangan, aku menemukan kotak Valium kosong berada di tong sampah. Valium adalah salah satu merek dari obat diazepam. Obat untuk mengatasi kejang-kejang. Dapat merilekskan otot dan mengurangi kecemasan.

Kubawa kotak itu ke kamar. “Kenapa kamu minum obat ini? Pake resep dokter enggak?”

Xavier mengamatinya. “Oh, itu gue yang beliin.”

“Gimana cara belinya? Ini kan butuh resep dokter.”

“Yang jaga apoteknya boti. Gue bolehin dia nyepong. Jadi gue dibolehin beli sekotak. Dikasih bonus satu kotak lagi, malah.” Xavier menoleh ke belakang. “Tuh, masih ada satu kotak lagi. Belum diabisin.”

Aku memutar bola mata sambil menyambar sekotak Valium yang belum dibuka. Langsung kusakui obat itu ke kantongku. “Ini bukan antibiotik, ya. Enggak ada istilah ‘belum diabisin’. Kamu tahu enggak apa efek samping obat ini kalau penggunaannya berlebihan, hah?”

Xavier hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai. “Di ChatGPT katanya ini untuk menghilangkan kecemasan. Gue cemas si Davin kenapa-napa. Jadi gue beli itu.”

“Kamu yang cemas, tapi yang dicekokin ini malah Davin?”

“Karena dia lebih mencemaskan!” seloroh Xavier sambil memutar bola mata, seolah-olah akulah di sini yang tolol. “Jangan diambil. Gue enggak ada lagi. Gue kagak mau di-sepong lagi ama tuh boti. Dia kalau nyepong kena gigi!” Xavier mencoba merebut Valium dari sakuku, tetapi aku menghindar dan menangkis tangannya.

“Enggak!” sahutku. “Enggak boleh. Benda ini aku sita.”

Ck!” Xavier terlihat kesal. Seperti ingin memukulku, tetapi dia hanya memelotot gemas saja. “Untung elo. Kalau bukan elo ....” Dia menggeram.

“Mas, mau kuantar ke klinik?” tawarku, sambil duduk di tepi tempat tidur.

Untuk kali pertama, Davin akhirnya menjawab, “Enggak usah, lah. Mati aja gue.”

Aku menghela napas dengan sabar. “Keputusannya sudah keluar?”

“Pasti enggak keterima juga, kan?”

“Sampe sekarang dia masih lanjut,” sambung Xavier dari sofa. “Kagak tahu kenapa, si Davin masih ikut acara hari Selasa entar.”

“Mungkin karena hasil lab belum diterima sama mereka?” tebakku.

“Ya tapi sia-sia ....” Davin mendengus. “Gue udah tahu, gue enggak bakal lolos waktu kemaren tahu ada yang aneh sama pipis gue.”

“Masih bisa ikut tahun depan, kan? Kalian ini baru lulus SMA, lho. Masih punya beberapa kesempatan lagi.”

Ck! Elo enggak paham,” seloroh Xavier kesal. “Kita tuh harus ikut tahun ini. Enggak bisa nunggu tahun depan.”

“Kenapa?”

“Elo enggak perlu tahu kenapa. Yang penting tahun ini!” Xavier mendengus. “Kalau tahun ini gagal, tahun-tahun depan gue sama si Davin kagak bisa daftar lagi. Udah, enggak usah banyak tanya alasannya.”

Aku hanya bisa terdiam tanpa komentar. Aku juga enggak tahu kenapa mereka ngebet harus lolos sekarang, sampai-sampai mengonsumsi diazepam dalam dosis yang tinggi. “Berapa banyak kamu minum ini?” Kuacungkan kotak Valium yang kosong.

Davin hanya mengangkat bahu dengan lemas.

Efek obat terlalu dahsyat sampai-sampai seluruh tubuhnya lemas.

Dan pasti pusing juga, sih.

“Tolong setop minum Valiumnya, ya. Enggak lucu juga kalau kamu gagal masuk TNI, lalu jantungmu ikutan gagal juga. Aku enggak tahu alasannya kenapa harus tahun ini, tapi kalau tahun ini memang belum siap, ya mau gimana lagi?”

“Seumur hidup gue bakal bawa-bawa penyakit ini ...,” gumam Davin.

“Emang udah diperiksa penyakitnya apa?”

“Enggak usah. Paling juga gue mati bentar lagi.”

Ck!” Aku ini Gen Z, tapi Gen Z sejenis Davin ini lumayan lebai juga menanggapi masalah kayak begini. “Dugaan sotoyku untuk sementara adalah prostatitis, Mas. Ini bisa diobati. Coba aja Mas periksa ke dokter, pasti bisa langsung ditangani. Mending sekarang sembuhin dulu. Keterima enggak keterima akmilnya, yang penting Masnya sembuh.”

Getar ponsel membuyarkan obrolan kami. Drrrttt .... Drrrttt .... Aku yang bermaksud melanjutkan diagnosaku, langsung berbalik dan menerima telepon. Dari nomor tak dikenal. Tapi karena ini panggilan WhatsApp, aku bisa melihat foto profilnya.

Dan, itu fotonya Erick.

“Halo?” sapaku seketika.

“Bro! Lagi di mana?”

“Lagi ... di rumah teman. Kenapa, Bang?”

“Lagi sibuk enggak?”

“Enggak ....”

“Lagi sibuk!” teriak Xavier di belakangku.

Untungnya Erick tidak mendengarkan teriakan itu. “Gue kagak bisa ngontak si Ezel. Dari tadi telepon enggak diangkat. WhatsApp kagak dijawab. Acara kita sampai sore ini lanud. Boleh enggak elo cekin ke kosan dia? Lihat aja, masih idup apa kagak.”

“Oh ... oke.”

“Sekarang, ya. Oke? Sip!”

Tut.

Aku belum sempat menjawab apa-apa, Erick sudah memutuskan panggilan. Dalam situasi normal, aku tidak akan bersedia melakukan itu. Namun karena situasi di sini juga hopeless, kurasa mengunjungi Ezel akan terasa lebih menenangkan hati.

“Oke. Aku harus pergi,” kataku.

“Entar dulu! Belum beres ini si Davin!” sergah Xavier sambil berkacak pinggang.

“Harus digimanain lagi? Udah kubilang, mending ke klinik, terus periksa prostatnya kenapa. Sembuhin dulu sakitnya. Siapa tahu sakitnya ilang, Davinnya bisa keterima akmil.”

Ck! Ya elo nongkrong aja dulu anjir di sini—“

“Aku harus pergi! Aku banyak acara hari ini.”

“Ya udah gue antar.” Xavier langsung menarik lagi jaket kulitnya.

“Enggak perlu.”

“Gue antar!”

“Aku naik Gojek aja.”

“Naik gue aja!”

“Gojeknya udah OTW.”

“Lah! Emang kapan pesennya?!”

“Pokoknya aku naik Gojek! Bye!

Aku pun kabur dari apartemen itu tanpa pamit ke Davin.

Perjalanan ke tempat Ezel membutuhkan waktu 30 menit. Aku bersedia mampir ke Ezel toh karena kosanku juga dekat banget dari sini. Aku bisa pulang ke kosan berjalan kaki sambil mampir ke beberapa tempat untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

Kosan Ezel tampak sepi ketika aku sampai. Aku masuk melewati pagar dan berjalan menyusuri lorong di samping rumah Pak Guntur yang berada di depan. Dari luar aku bisa melihat istri Pak Guntur sedang memasak di dapur. Anaknya yang sudah SMA kayaknya ada di dapur juga, sedang membuka kulkas.

“Mah, cokelat Kakak yang kemaren di mana?” Kudengar sang anak bertanya seperti itu.

“Itu Mamah simpan di belakang mentega. Kalau enggak, dimakan sama adekmu nanti.”

Apa ya yang mereka rasakan begitu tahu bapaknya pernah ngewe sama aku? Atau mungkin dengan lelaki-lelaki lain—Ezel misalnya. Kalau ngewe dengan Ida sih ya udah lah, ya. Normalnya memang selingkuh dengan perempuan. Tapi kalau sosok daddy yang matang itu, yang sebenarnya lumayan oke juga mukanya—pasti waktu mudanya digandrungi banyak perempuan—ternyata gemar menikmati kontol juga, atau gemar bool-nya ditusuk benda tumpul, pasti bakalan malu banget.

Harapanku, aku enggak perlu bertemu Pak Guntur di tempat ini. Aku tahu Pak Guntur enggak tahu bahwa akulah yang ngewe sama dia selumbari. Tapi aku kan tahu. Jadi aku pasti bakal awkward sendiri. Rencanaku adalah mengecek gimana kabar Ezel. Mungkin memfotonya—hidup ataupun mati, lalu mengirimnya ke Erick. Setelah itu aku akan pamit dan pulang ke kosan.

Aku naik ke lantai dua dan berjalan dengan cepat ke kamar Ezel. Di depan pintu ada sandal jepit berukuran besar yang tergeletak agak berantakan. Ini aneh, sih. Soalnya sandal dan sepatu Ezel biasanya tertata rapi di bawah rak.

Sebelum aku mengetuk pintu, aku mendengar sayup-sayup suara dari dalam kamar. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Bukan semacam obrolan juga, tapi aku yakin ada suara. Mungkin Ezel sedang menonton Netflix?

Tok! Tok! Tok!

“Ezel ...?! Permisiii .... Kamu ada di dalam?”

Tiba-tiba muncul suara gaduh.

Bruk!

Diikuti dengan erangan keras, “UAAAAAAAAARRRGGGHHH ...!!!” Erangan laki-laki. Tapi bukan suara Ezel.

“AAAAAAAAARRRGGGHHH ...!” Nah yang kedua ini suara Ezel.

“KRAM! KRAM! KRAM! AAAAAARGH!”

“SAKIIITTT ...! AAAAAARGH!”

Ada apa ini?

Karena kupikir itu adalah keadaan emergency, tentu saja aku langsung membuka pintu kamar.

Beruntung, pintu kamarnya enggak dikunci.

Tapi sialnya, aku melihat sesuatu yang tidak kusangka akan pernah kulihat seumur hidupku.

....

Ezel sedang ngewe dengan Pak Guntur.

Ezel yang menyodomi Pak Guntur.

“Pak! Lepas, Pak! Pak!”

“Enggak bisa! UAAARGH! Keram! KERAM!”

Dan mereka sedang mengalami ....

... gancet.


[ ... ]


25. Besok Abang Buktiin (Shorter) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 26B. Keram di Otot Bool

Komentar