Begini yang kulihat.
Dan ini beneran enggak nyangka.
Bener, Kak. I know Ezel homo. I know Pak Guntur main sana-sini. I
know Pak Guntur main dengan lelaki, salah satunya Ezel. I know,
pasti mereka juga main di kamar ini. Tapi bukan ini yang kubayangkan akan
kutemukan di kamar Ezel.
Sejak pertama masuk kamar Ezel, aku
notice ada hook yang menggantung tepat di tengah-tengah ruangan,
di bagian langit-langitnya. Kupikir itu hook untuk meletakkan kipas
angin—meskipun sebenarnya di kamar ini ada AC-nya. Jadi, aku enggak pernah
mempermasalahkan itu. Ternyata, hook itu digunakan untuk melakukan ....
... BDSM.
Atau sejenisnya.
Seutas tali tambang diikat
menggantung ke hook, lalu di bawahnya mengikat kedua pergelangan tangan
Pak Guntur. Kedua tangan itu diangkat ke atas sehingga ketek Pak Guntur
terekspos. Ketek yang dua hari lalu kujilati dan kupermainkan di hotel bintang
lima. Lalu, ada kursi di bawah hook itu. Kursinya diduduki oleh Ezel.
Lalu Pak Guntur, duduk ke atas pangkuan Ezel. Tentunya dengan kontol Ezel masuk
ke dalam bool Pak Guntur. Ngentotlah mereka di situ sambil duduk.
Mungkin karena kaki Ezel masih ngilu sehabis jatuh dari lantai dua, sehingga
Ezel hanya bisa terduduk pasrah dan digoyang oleh bool Pak Guntur.
Yang bikin aku enggak nyangka
adalah Ezel kupikir forever boti. Dan Pak Guntur enggak akan setolol ini
ngewe jam segini, dengan istri dan anaknya lagi ada di dapur, beberapa
meter dari sini.
Namun aku langsung mengenyahkan
semua ketidakpercayaanku itu karena aku harus menolong mereka. Tentu saja hal
pertama yang kulakukan adalah tidak bersikap heboh. Takutnya seisi kosan
mendengar dan semuanya mampir ke sini. Tanpa banyak cingcong aku menutup pintu
dan menguncinya. Kuhampiri Pak Guntur dan Ezel yang sedang menderita dan merasa
malu bukan main.
Gancet
tidak pernah terjadi pada seks anal. Tidak ada riwayat medis di dunia ini yang
melaporkan peristiwa semacam itu. Gancet hanya terjadi pada seks vaginal
karena memek perempuan punya involuntary muscle contractions. Kontraksi
ototnya enggak bisa dikontrol—beda kayak otot bool. (Ya kali otot bool
diciptakan involuntary juga. Entar semua orang pupnya ke mana-mana.)
Karena bisa bekerja tanpa kontrol, kadang otot memek itu menjepit kontol lelaki
secara tiba-tiba dan sang perempuan enggak bisa ngapa-ngapain. Makanya kontol
bisa beneran stuck di dalam memek.
Namun untuk kasus Ezel versus Pak
Guntur ini gancet beneran terjadi. Bagaimana bisa terjadi?
Penjelasannya simpel dan sudah
digaungkan oleh Pak Guntur sebelum aku masuk.
Otot bool Pak Guntur keram.
Otot itu menjepit kontol Ezel
kuat-kuat, sehingga Ezel tidak bisa mengeluarkannya.
Mengapa bisa sampai keram? Gara-gara
mereka panik mendengarku mengetuk pintu. Pak Guntur kesakitan karena otot bool-nya
melilit tanpa sengaja, Ezel belingsatan mencoba mengeluarkan kontolnya, tetapi
tak berhasil. Makanya mereka berteriak-teriak.
Tubuh Pak Guntur berkeringat
sebadan-badan. Aroma maskulin yang pernah kucium di hotel menguar lagi di
ruangan. Seksi banget, sih. Mana aku lagi sange, kan? Jadi aku agak
nafsu juga waktu menyelamatkan mereka.
Aku membuka dulu tali ikatan Pak
Guntur tanpa banyak bicara.
“Tolong! Tolong! Argh! Tolong! Saya
keram!” Pak Guntur melipat wajahnya ke dalam. Dia memelas kepadaku, setengah
menangis.
“Rileks, Pak. Rileks. Jangan
tegang,” kataku, sambil tetap berusaha membuka ikatan tangan itu.
“Tolooong! Aaargh! Sakit! Keram!”
Ketika Pak Guntur mendesah lemah
seperti itu, kurasakan gairah seksku memuncak. Rasanya pengin banget kutarik
Ezel lepas dari situ, lalu kumasukkan kontolku ke bool Pak Guntur.
Sumpah, seksi banget. Daddy kekar, kulit kecokelatan, ganteng ala-ala
lelaki kelahiran 80-an, keteknya berbulu, kontolnya yang mungil bikin rindu,
lalu aroma macho-nya ini ... hmmmph ... bikin aku meleleh ingin
melesakkan wajahku lagi di ketek seksi itu.
Namun aku menahan diri dan tetap
serius membuka ikatan yang sulit dibuka itu hingga jariku agak kesakitan.
“Sabar, Pak. Rileks dulu. Jangan tegang. Saya enggak akan bilang siapa-siapa.”
Di depan Pak Guntur, Ezel merintih
kesakitan. Dia masih mencoba mengeluarkan kontolnya, tetapi tak kunjung keluar
juga. Ezel malu bukan main. Dia tak berani menatapku. Dia menutup wajahnya
dengan kedua tangan. Lalu memalingkan mukanya ke arah lain.
Ezel juga menangis di tengah
erangan kesakitannya.
“Tolong! Tolong!”
“Panik bikin parah, Pak,” kataku
setelah berhasil melepaskan ikatan tali itu.
Pak Guntur langsung mendorong tubuh
Ezel, tetapi kontolnya masih belum mau keluar juga.
“Tenang, Pak. Tarik napas panjang,”
kataku. Kutahan tubuh Pak Guntur agar tidak bergerak lagi. Kubuat dia duduk di
atas pangkuan Ezel, lalu kubimbing agar bernapas lebih teratur.
Seperti yang sudah kubilang, aku
tidak tahu bagaimana mengatasi gancet. Mana ini gancet-nya ke bool,
pula. Bukan ke memek. Namun aku terlatih untuk bertindak cepat. Jadi yang
kulakukan pertama kali adalah ... setelah celingukan menatap seisi kamar Ezel
untuk mencari apa pun yang bisa menyelamatkan ....
“Oh!” Aku teringat sesuatu. Kurogoh
saku celana dan kukeluarkan Valium yang kuambil dari apartemen Davin. Aku
berlari mengambil air minum dari dispenser, lalu kuberikan obat itu ke Pak
Guntur. “Minum ini. Ini bisa bantu otot lebih rileks.”
Dengan patuh Pak Guntur meminumnya.
Ezel masih memalingkan muka dariku.
Aku berlari lagi menyeberangi
ruangan untuk mengambil handuk yang digantung di dekat lemari. Kubasahi handuk
itu dengan air panas dari dispenser, lalu kukompres ke perineum Pak Guntur.
Area antara biji peler dan bool-nya. Kujejalkan handuk hangat itu di
bawah biji peler Pak Guntur hingga akhirnya perlahan-lahan ....
... napas Pak Guntur lebih tenang.
Dan ototnya pun mulai rileks.
....
Jaraknya hanya lima menit sejak aku
mendobrak masuk ke dalam. Kontol Ezel akhirnya bisa dikeluarkan dari bool
Pak Guntur. Keduanya langsung menjauh. Ezel berjalan tertatih-tatih ke atas
tempat tidur. Dia tarik selimut menutupi tubuh telanjangnya. Pak Guntur
merangkak di lantai, memungut sarung dan langsung mengenakannya.
Wajah keduanya memerah malu.
Keduanya tak berani menatap wajahku.
“Gapapa kok, Pak. Saya perawat.
Saya juga temannya Ezel, jadi saya enggak akan nge-judge apa yang Bapak
lakukan barusan. Bapak tenang aja.”
Pak Guntur tetap tak tenang. Dia
duduk di tepi tempat tidur, menundukkan kepala, sesekali mengernyitkan
hidung—mungkin masih membiasakan diri dengan keram di otot bool yang
perlahan-lahan mereda. Dia seperti maling yang baru saja tertangkap basah
melakukan pencurian.
Aku tak tahu harus melakukan apa,
jadi aku mengembalikan kursi itu ke depan meja, membereskan handuk hangat, dan
menyimpan lagi gelas berisi air minum ke bar panjang dekat kulkas. Tali dari hook
itu hampir jatuh, jadi aku menariknya lepas, lalu menggulungnya.
Mereka masih belum bicara apa pun.
Masih malu dan canggung.
Ya sudah, aku duduk di kursi sambil
menunggu keduanya bicara.
“Tolong jangan bilang siapa-siapa,”
kata Pak Guntur, sekali lagi, tanpa berani melihat ke arahku.
“Iya, Pak. Saya enggak akan bilang
siapa-siapa.”
Pak Guntur menelan ludah.
“Masih keram enggak otot anusnya,
Pak?”
“Sedikit.”
“Bapak butuh ditemani turun ke
bawah? Atau masih mau stay di sini?”
“Saya mau ... saya mau ke bawah.”
Pak Guntur bangkit dengan salah tingkah. Dia menoleh ke arah Ezel sejenak,
tetapi tak mengatakan apa pun. Tak lama, Pak Guntur keluar dari kamar dan
kembali ke rumahnya.
Aku duduk dengan canggung di kamar
itu. Ezel masih menyembunyikan tubuh telanjangnya di balik selimut. Dia duduk
bersandar ke kepala ranjang. Kepalanya menunduk, sambil matanya menatap
jemarinya sendiri yang dimainkan.
“Aku ke sini karena diminta Bang
Erick buat ngecek kamu, Zel. Soalnya kamu enggak jawab telepon sama WA-nya Bang
Erick.”
“Oh,” balas Ezel pelan.
“Aku periksa ya penisnya. Mau?”
Ezel menggelengkan kepalanya.
“Takutnya kenapa-napa.”
Ezel masih menggelengkan kepalanya.
“Aku lihat aja, enggak aku pegang. Takutnya
ada luka robekan.”
“Jangan bilang sama abangku, please.”
Tiba-tiba Ezel menangis.
“Enggak, aku enggak akan bilang
sama siapa-siapa.”
“Jangan bilang sama Mas Fian.”
Tangisannya makin keras.
Lah, kenapa dia lebih takut
ketahuan Fian dibandingkan Erick?
“Iya, enggak akan,” kataku. Aku
bangkit dari kursi dan menyambar sepotong celana yang tercecer di dekat tempat
tidur. Aku memanjat naik ke atas tempat tidur, lalu mendekati Ezel. “Sini, aku
periksain dulu sebentar. Habis ini pakai celana lagi.”
“Aku maluuu ....”
“Enggak usah malu. Cuma aku yang
tahu.”
Ezel menggelengkan kepalanya. “Emangnya
Mas Roh bisa ngecek kayak dokter?”
“Aku tenaga medis. Aku enggak punya
kualifikasi buat ngasih diagnosis, tapi seenggaknya aku bisa ngecek dan ngasih
peringatan. Kalau ada luka atau memar di penis kamu, nanti aku ajak kamu ke IGD
atau klinik, supaya kamu dapat penanganan dari dokter. Gimana, mau?”
“Emang Mas bakal ngerti?”
Elah, ini tuyul pake nanya-nanya
dulu, sih! Kan dia tahu aku perawat, anjeng!
“Aku bakal ngerti,” kataku percaya
diri dan bangga. “Hari ini aja kan aku ngecekin penisnya calon-calon tentara.
Besok malah aku ngecekin penisnya kakakmu, Bang Erick ... untuk penelitian
disertasi.”
Ezel membelalak bulat dan untuk
kali pertama menoleh ke arahku. “Mas ... Mas ngecek ... burungnya Abang?”
Aku mengangguk santai. Kukeluarkan
ponsel dan kutunjukkan WhatsApp dari dr. Sigit. Yang kutunjukkan adalah manual
pemeriksaan penis yang akan kulakukan besok. Ada bagan-bagan anatomi tubuh
lelaki, dengan nama-nama ilmiah biologi yang rumit, lalu ada pesan dari dr.
Sigit soal pengecekan uretra, prostat, dan cairan sperma, dan lain sebagainya.
Dan kebetulan ada nama Erick ter-mention di situ.
Ntar Erick yg lead. Kmu ambil sampel
5 aja. Erick sm teman2nya. Sy utk rank dibwh mereka krn jumlahnya lbh banyak.
“See? Jadi aku punya
seenggaknya sedikiiittt ... pengetahuan soal penis. Seenggaknya buat initial
judgment, lah.”
Ezel menelan ludah.
Ragu-ragu, dia menurunkan
selimutnya. Dia perlihatkan area selangkangannya yang masih sangat mulus. Masih
twink. Bulu jembutnya enggak banyak, tapi lumayan lebat dan berwarna
hitam, tampak kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Malah, kurasa kulit
Ezel ini hampir sama dengan kulit bayi.
Lalu, terkuaklah kontol ngaceng
Ezel di situ.
Yep. Masih ngaceng.
Kontol itu berukuran dua kali lipat
kontol Pak Guntur—of course! Sudah disunat. Ramping. Kepalanya agak gede
dibandingkan batangnya. Bagian pangkalnya agak kemerahan. Kemungkinan besar
kontol itu masih ngaceng karena tadi terjepit kuat oleh bool Pak
Guntur—efek yang sama persis dengan menggunakan cock ring.
“Boleh aku pegang?”
Ezel mengangguk kecil.
Aku memegang kepala kontol Ezel,
lalu memutar-mutar batangnya untuk mencari tanda-tanda luka.
Tak ada luka apa pun di situ.
Kecuali darahnya yang masih berkumpul di area batang karena tadi sempat tak
punya jalur keluar untuk beredar ke seluruh tubuh. Batangnya masih basah oleh
Monogatari. Aroma kontol berpelumas yang baru ngebrut bool tercium jelas
ke hidungku.
“Oke, aman.” Kulepaskan kontol itu,
tetapi Ezel malah memegang pergelangan tanganku.
“Jangan lepas dulu!” sahutnya.
“Periksa lagi.”
“Aku udah selesai meriksanya.”
“Periksa lagi!”
Sambil mengerutkan alis, aku
memegang lagi kontol Ezel dan memeriksanya. “Darahnya belum ngalir sempurna.
Tapi lama-lama juga bakal normal, kok. Ini kayak pake cock ring aja.”
Kuputar ke arah lain. “Semua bagian kulitnya enggak ada yang lecet. Kamu pake
pelumas dengan bener.” Kuangkat ke atas untuk mengecek biji pelernya. “Bagian
bawah juga ... hmmm ... aman.” Kutarik ke bawah. Batangnya agak keras, jadi aku
menekannya cukup kuat agar bisa melihat pangkal di bagian atas batang. “Ini
juga aman. Tapi kalau sampai dua jam ke depan masih kayak gini, jangan takut
buat periksain ke dokter ya. Kalau malu, entar aku bisa nemenin ke ....”
Kata-kataku tak selesai karena ....
CROT!
CROT! CROT! CROT! CROT!
....
Ezel ejakulasi.
Ke tanganku.
“Aaaaaahhh ....”
Ezel malah merem melek sambil
menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya meremas selimut kuat-kuat.
Hingga akhirnya dia orgasme
beneran.
Hmmm ... baiklah. Aku baru aja di-crot-in
seorang boti.
Dengan cara melakukan pengecekan
visual ke penis.
Aku hanya diam saja selama beberapa
saat sambil menunggu sperma-sperma itu mengalir keluar. Setelahnya, tanpa
banyak bicara, aku bangkit untuk mencuci tanganku di kamar mandi.
Ketika aku kembali, Ezel sudah
mengenakan celananya lagi. Dia melirik ke arahku, tersenyum kecil, tetapi
menunduk lagi.
“Maaf,” bisiknya. Tapi sambil
mesem-mesem kayak orang kasmaran.
Jangan baper ke aku, anjeng! Kita
ini lagi saingan buat dapatin Fian, woy!
“Oke,” jawabku pendek. Aku memilih
untuk duduk di kursi. “Kamu ada ngerasain ngilu atau apa gitu di area
selangkangan?”
Ezel menggelengkan kepala. “Besok
ngecek burungnya Abang tuh buat penelitian apa?”
“Oh. Itu buat kesehatan prostat
tentara. Aku cuma bantu ngambil sampel aja, ngambil data. Ada kerasa panas
enggak di area pangkal atau bagian batang penis kamu?”
Ezel menggelengkan kepala lagi. “Terus
kamu harus pegang-pegang burungnya Abang?”
Aku mengangguk. “Semuanya, lah.
Sambil ngambil sampel sperma juga. Aku yang ngeluarin spermanya dari testis.”
Ezel terkesiap.
Untuk sesaat aku bangga pada diriku
sendiri karena bisa melakukan itu. Tidak semua gay bisa melakukannya.
Legal pula.
“Aku ... aku boleh lihat?” tanya
Ezel dengan suara sangat pelan.
“Enggak bisa, dong. Itu confidential.”
Ada sorot kekecewaan di wajah Ezel,
tetapi dia masih excited untuk bertanya. “Lima orang tuh ... siapa aja?”
Aku sudah membuka mulut untuk
menjawab dua nama yang Ezel kenal, yaitu Fian dan Bondan, tetapi aku menutupnya
lagi. Dengan berat hati kukatakan, “Nama-namanya confidential. Aku
enggak bisa nyebut siapa aja. Aku kasih tahu soal Bang Erick ya karena kamu ...
ya ... adiknya.” Lalu kulemparkan senyum lebar yang sangat diplomatis.
Untuk sesaat Ezel diam sejenak
membayangkan apa yang kumaksud dengan riset itu. Wajahnya agak melamun. Matanya
menatap kosong selimut yang menggunduk di depannya. Ada senyum dan rasa sedih
yang melukis wajahnya pada saat bersamaan.
“Mas beruntung, ya,” gumam Ezel,
tanpa menoleh ke arahku. “Aku tahu Mas enggak suka sama laki-laki, tapi Mas
ngedapatin apa yang selalu kuinginkan sejak kecil.”
Aku sudah membuka mulut untuk
membantah, tetapi kuputuskan untuk membiarkan Ezel melanjutkan. Aku harus
mengingatkan diriku sendiri bahwa Ezel ini belum paham aku ini sama kayak dia.
Sama-sama belok.
“Sebagai gay, aku tuh pengin
banget nyentuh laki-laki telanjang. Kadang enggak perlu ngapa-ngapain. Aku cuma
pengin lihat. Pengin pegang. Dari kecil dadaku deg-degan lihat orang dewasa
yang telanjang dada. Laki-laki yang telanjang tuh bikin darahku ... ser-seran.
Sampe sekarang. Dulu masih ada Abang di rumah. Abang sering lepas baju. Aku
sering dibolehin mainin nenennya Abang. Kadang sambil dimarahin. Tapi gapapa.
Yang penting aku bisa pegang badan Abang. Aku sayang banget sama Abang. Itulah
kenapa, meskipun Abang sering bully aku, sering marahin aku ... aku
enggak masalah. Dalam kepalaku tuh ..., terbayang semua kenangan waktu Abang
biarin aku pegang-pegang badannya.”
That’s fucking incest, batinku
dalam hati.
“Mas mungkin enggak ngerti apa yang
kurasain ini ...,” lanjut Ezel.
Ooohhh ... ngerti banget, Sis!
“Mas mungkin enggak tertarik buat
pegang burungnya Abang di riset itu. Tapi kalau aku di posisi itu sih ... aku
bersyukur banget. Aku iri sama Mas.”
“Enggak perlu iri. Hidupku enggak
sehebat itu.”
“Mas juga punya banyak temen.
Orangnya humble. Outgoing. Tenang, enggak panikan. Enggak
jijikan. Barusan aja Mas langsung tanganin masalahku sama bapak kosan dengan
tenang.”
“Itu karena aku perawat.”
“Perawat tuh cuma profesi, Mas.
Karakter manusia enggak ada kaitannya sama profesi,” sanggah Ezel. “Perawat
yang kurang ajar juga banyak. Tapi Mas orangnya baik. Berani. Pantas sih kalau
orang-orang suka sama Mas. Andai aja Mas badannya berotot kayak Bang Erick atau
... Mas Fian ..., atau gemoy berisi kayak bapak kosku barusan ..., aku
pasti suka juga sama Mas. Sayangnya Mas agak kerempeng.”
Ini muji apa ngehina, sih?
“Aku enggak punya banyak teman.
Kebanyakan temanku cewek. Aku hampir enggak punya teman cowok. Mas kayaknya bestie
cowok pertama aku.”
Heh! Sejak kapan kita jadi bestie?!
“Di kampus pun, aku susah membaur
sama cowok. Aku udah usaha buat gabung, tapi aku enggak sefrekuensi ama mereka.
Mati-matian aku coba singkron, malah akunya yang stres. Ujung-ujungnya ya aku
di kamar lagi, di kamar lagi. Makanya Bang Erick marah-marah terus karena aku
enggak gaul.”
“Iya. Dia juga minta aku buat
ngajak kamu main sih, Zel,” komentarku.
“Kalau mainnya sama Mas Fian sih
aku mau, Mas.”
Ngelunjak ya ini anak?! Katanya bestie!
Kok harus ada Fiannya?!
Kami terdiam lagi selama beberapa
saat. Mungkin topik soal ini sudah mulai terasa canggung dan membosankan. Aku
sih enggak punya apa pun untuk disampaikan. Penginnya aku pulang ke kosan, tapi
aku penasaran siapa tahu masih ada cerita menarik lain yang akan disampaikan “bestie”-ku
ini.
“Ya sudah. Nanti aku WA Bang Erick.
Mas udah boleh pulang,” kata Ezel kemudian.
Eh, aku malah diusir.
“Oke. Kalau gitu aku pulang, ya.”
“Makasih banyak ya, Mas. Tolong
jangan bilang siapa-siapa soal tadi.”
“Iya, enggak akan,” balasku sembari
mengambil tas dan memasukkan ponsel ke saku. Aku juga berdiri dari kursi dan
bersiap untuk pergi.
“Nanti tolong tutup lagi pintunya
ya, Mas.”
“Iya.”
“Aku mau coli.”
Aku membeku sejenak. “Kenapa harus
dibilangin, sih?”
“Hehe .... Soalnya aku sekarang
jadi ngebayangin burungnya Abang diteliti sama Mas. Aku horny lagi.”
Aku memutar bola mata dan langsung
pergi meninggalkan boti gila itu.
[ ... ]
Oke, Kak. Inilah saatnya. Momen
yang kita tunggu-tunggu.
Berjumpa kali pertama dengan kontol
Fian.
(Dan kontol Erick yang klaimnya
berukuran 22 cm. Kita lihat nanti kebenarannya gimana, ya!)
Sengaja aku enggak coli lagi
sore itu. Padahal, aku sange banget pas melihat Pak Guntur terikat
pasrah dan bool-nya di-fuck Ezel. Tapi begitu aku tiba di kosan,
aku malah membuka laptop dan menonton drama korea. Tengah malam aku hampir
enggak bisa tidur karena sange total. Kontolku keras sepanjang malam
sampai-sampai rasanya ngilu. Akhirnya aku membaca PDF-PDF yang dikirimkan dr.
Sigit untuk penelitian besok, kemudian aku tertidur dengan pulas karena semua
kalimatnya membosankan.
Seenggaknya, aku enggak perlu
bangun sepagi biasanya. Acara penelitian itu dilaksanakan pukul 10 pagi. Pukul
8, aku masih bisa leyeh-leyeh di atas kasur sambil memikirkan mau pakai baju
apa nanti ke sana. Seperti biasa, ketika aku mandi, aku bertemu Ida yang sedang
mengantre.
“Si Fian lagi keluar kota ya,
Cong?” sapa Ida sambil menggulir ponselnya. “Dia batalin janji tadi malam.
Padahal gue lagi butuh.”
“Butuh apa?” Aku menyipitkan mata
dan menatap Ida curiga. “Butuh duit apa kontolnya?”
“Dua-duanya, anjing. Emang elo
belum lihat kontolnya?”
“Entar siang,” kataku bangga,
sambil mengangkat dagu.
“Oh. Congrats, deh.” Ida
terkekeh. “Entar elo bisa tahu kenapa si Fian sampai pake jasa gue.”
Jujur, kalimat itu membuatku
kepikiran sepanjang pagi. Aku dan Ida enggak membahasnya lagi karena Ida
langsung ganti topik tentang sugar waxing buat keteknya ternyata bisa
dipakai buat waxing jembut. Sudah dapat sertifikasi BPOM dan halalnya
(aku enggak tahu apa kaitannya dengan ini, tapi itu yang tadi disebutkan oleh
Ida). Jadi kalau aku mau gundulin jembut pun, aku aman melakukannya.
“Jembut Fian, misalnya. Hihihi
...,” kata Ida, sebelum dia masuk kamar mandi. “Gemas gue lihat jembutnya.”
Kan aku makin kepikiran, ya!
Tapi paling bikin kepikiran adalah
statement Ida soal alasan Fian menyewa jasa terapis seks. Kalau itu berkaitan
dengan kontolnya, apakah ada gangguan dengan kontol Fian? Apakah kontolnya
terbelah dua? Apakah kontolnya mikro? Lebih mikro dari Pak Guntur? Apakah
kontolnya memiliki anomali? Kenapa sampai harus ketemu Ida?
Sepanjang jalan aku
menguat-nguatkan diri untuk menerima kontol Fian apa adanya dengan lapang dada.
Aku tiba di lanud pukul 9.45,
tepatnya di gedung dekat landasan udara tempat aku bertemu Daddy Ryuji kali
pertama. Ketika aku masuk, aku langsung diarahkan oleh seorang taruna ke lantai
dua, ke ruangan yang memang ditunjuk Fian tempo hari. Sudah ada beberapa
responden yang berkumpul di ruangan, rata-rata enggak aku kenal. Tapi semuanya
cepak, berkulit gelap karena dijemur di bawah matahari, dan mengenakan kaus
PDL. Fian dan teman-temannya juga ada di sana, berkumpul di satu sudut
membicarakan sesuatu.
Fian duduk di samping Bondan.
Ketika Fian mendapatiku masuk ke ruangan, tiba-tiba dia menggeser duduknya
menghalangi Bondan, sehingga Bondan tidak bisa melihatku. Lalu, dia tersenyum
lebar.
Aku belum bisa menghampiri mereka
karena dr. Sigit langsung membawaku ke mejanya dan menjelaskan prosedur yang
harus dilakukan. Aku juga diberikan berlembar-lembar instrumen penelitian
dengan kolom-kolom yang harus kuisi. Aku difasilitasi juga dengan stopwatch,
pelumas, sarung tangan medis, hingga fleshlight yang lubangnya berbentuk
memek.
“Kalau masih susah keluar, coba
pakai ini. Yang penting bikin mereka nyaman dan rileks. Oke?”
Objek penelitianku ada lima orang.
Fian, Erick, Bondan, Puting Hitam, dan satu lagi yang belum pernah kutemui
sebelumnya. Namun dari instrumen yang kupegang, Puting Hitam bernama Andry, dan
satu orang baru itu bernama Rigo.
Pukul 10.05, responden dibagi ke
dua ruangan. Respondennya dr. Sigit dipindahkan ke ruangan lain. Jumlah mereka
ada sepuluh orang. Namun sebelum dr. Sigit memulai dengan objek penelitiannya,
dia memberikan briefing dulu dengan kelompokku.
“Kenalkan, ini namanya Rohmat,
siapa tahu di sini ada yang belum kenal,” mulai dr. Sigit. “Nanti Mas Rohmat
akan bantu saya dengan penelitian ini. Beliau perawat dari klinik, yang
sekarang juga sedang bantu kita untuk tes kesehatan calon-calon taruna.
Spesialisasinya memang di bidang kesehatan seksual, jadi kalian enggak usah
ragu lagi sama kemampuannya. Semua yang diuji sama Mas Rohmat nanti akan
berkaitan dengan kesehatan seksual kalian. Hasilnya memang untuk penelitian
saya. Tapi kalau ada temuan-temuan sepanjang penelitian, itu bisa jadi info yang
bagus buat kalian. Misalnya mau menikah, kita bisa tahu kesehatan seksual kita
kayak gimana.”
Penjelasan pun dilanjutkan dengan
apa yang akan kami lakukan hari itu. Setiap orang punya jatah maksimal 12 menit
(supaya penelitiannya selesai dalam 1 jam). Hasil akhirnya adalah pengambilan
sperma sebagai initial data. Nanti, setelah ini, mereka akan melakukan
serangkaian treatment. Kemudian minggu depan akan dilakukan lagi
pengambilan sperma.
Khusus hari ini, aku diberi
kesempatan untuk mengenal lebih dekat para respondenku. Dua belas menit yang
dialokasikan digunakan untuk membahas riwayat seksual dan titik rangsangan
mereka. Data yang didapatkan, akan digunakan sebagai instrumen di pengambilan
sampel berikutnya.
“Misal kalau kalian bisa
terbantukan dengan dimainkan putingnya,” kata dr. Sigit, “nanti Rohmat akan
bantu mainkan putingnya supaya cepat ‘keluar’.”
Mereka tertawa mendengar penjelasan
itu.
Kecuali Fian. Lelaki itu malah
melirik ke arah Bondan dengan waspada.
Setelah obrolan soal seksualitas
mereka, aku akan melakukan DRE, EPS, dan cek visual kemaluan. Baru setelahnya do
everything untuk membuat spermanya keluar. Everything artinya
tergantung pada preferensi mereka untuk crot. Kalau mereka pengin crot
sambil dikocokin dan diisap putingnya, ya aku akan melakukannya.
“Tidak ada yang pake pil biru, kan?
Obat kuat?” tanya dr. Sigit, sebelum menutup briefing-nya.
Kelima tentara itu menggelengkan
kepala.
“Soalnya saya ingin memastikan
ereksi kalian alami, melalui rangsangan-rangsangan yang nanti dikasih Mas
Rohmat. Misal enggak ereksi, enggak apa-apa. Kan Mas Rohmatnya juga laki-laki.
Mungkin di pertemuan nanti, kita bisa minta bantuan perempuan untuk mendapatkan
ereksi. Untuk hari ini, saya pengin lihat apakah ereksi kalian sehat atau
enggak. Ada pertanyaan?”
“Siap, ada!” Fian mengangkat
tangannya. “Urutannya bagaimana?”
“Oh, iya. Itu kalian tentukan
sendiri, siapa yang mau duluan, siapa yang mau belakangan.”
“Siap, saya terakhir,” sergah Fian
seketika, sebelum diserobot siapa pun. “Yang lain harus meeting untuk
acara opening nanti. Saya masih punya waktu istirahat.”
“Oke. Diterima.” Dr. Sigit
manggut-manggut. “Yang pertama siapa?”
“Yang pertama Bondan,” seru Fian lagi.
“Anjir! Kok gue, Bro?”
“Habis ini kamu harus meeting
buat hasil tes kesehatan seminggu kemaren, kan?”
“Ya kan itu mah entar habis
makan siang, cuy. Masih banyak waktu.”
“Persiapan dulu, lah. Datanya kan
banyak.”
“Ta ... tapi ....” Bondan sudah
membuka mulut untuk membela diri, tetapi tak ada pembelaan apa pun yang bisa
keluar dari mulutnya.
“Lagi pula, Bondan mau menikah
bulan depan,” kata Fian, memanipulasi. “Mendingan yang mau kawin duluan, masuk
duluan.”
“Anjir! Kagak ada hubungannya, lah
....”
Namun, dr. Sigit tampaknya setuju
dengan usul Fian. “Oke, Bondan pertama. Sisanya silakan atur sendiri.”
Kurang dari semenit, mereka sepakat
urutan mainnya adalah Bondan, Andry (Puting Hitam), Rigo, Erick, dan Fian.
Hanya saja sebelum penelitian benar-benar dimulai, Fian mencari masalah lagi.
“Karena Bondan pertama,” katanya,
memotong kata-kata terakhir dr. Sigit, “gimana kalau yang lain melakukan
observing ke sesinya Bondan, Capt? Hitung-hitung lihat prosedurnya gimana.”
“Apa sih, lu!” Bondan mencoba
menyikut Fian, tetapi Fian menghindar.
“Enggak usah. Enggak ada prosedur
yang rumit nanti sama Rohmat. Seperti yang saya bilang, nanti hanya cerita
tentang riwayat seksualitas, soal stimulan, nanti ada EPS juga, habis itu ambil
sampel. Itu aja.”
“Sebagai gambaran saja, Capt. Jadi
kita semua tahu nantinya sama Rohmat harus ngapain—“
“Enggak perlu,” penggal dr. Sigit,
mulai kesal. “Ikuti saja yang Rohmat minta. Dia sudah saya lengkapi dengan
instrumennya. Setiap orang berhak untuk dapat ruang pribadi, tanpa ada yang
menonton atau mengawasi.”
Aku geleng-geleng kepala secara
sembunyi-sembunyi. Kurasa Fian seenggak mau itu membiarkanku satu ruangan
berdua saja dengan Bondan.
“Kita di sini sudah pernah
telanjang di depan satu sama lain, Capt—“ Fian masih mencoba membela diri.
“Iya saya tahu. Tapi kata kunci
dari penelitian ini kan kesehatan intim masing-masing dari kalian. Memangnya
malam pertama sama istri kamu nanti ditonton sama tentara-tentara sepeleton,
hah?! Kan enggak.” Dr. Sigit mendengus. “Semua kebagian ruangan sendiri. Tidak
boleh ada yang mengintip atau mengganggu. Setiap data yang kalian sebutkan
adalah confidential, hanya Tuhan dan Rohmat yang tahu. Nanti saya juga
tahu, tergantung apa saja yang ditulis Rohmat. Seperti yang saya bilang di briefing
tadi, hal-hal minor boleh off the record, kecuali hal-hal major, ya.”
Hal-hal minor, di antaranya adalah fetish.
Misal, mereka suka kaki, dan baru bisa crot enak sambil ngisap jempol
kaki, informasi itu enggak perlu aku tuliskan di lembar enumerasi. Informasi
itu aku simpan saja untuk pengambilan sampel berikutnya ketika, misal, harus
membawa perempuan untuk stimulan, aku yang akan mengarahkan agar jempol kaki si
perempuannya diisap.
Namun, hal-hal major seperti
disfungsi ereksi harus kucatat karena itu bisa mengganggu jalannya penelitian.
“Ada pertanyaan lagi?” tanya dr.
Sigit sebelum berlalu.
“Siap, ada!” Fian mengacungkan
tangannya.
“Kecuali Fian.”
“Eh, Capt?”
Yang lain tertawa.
“Kamu tuh akhir-akhir ini agak
intens. Kalau kamu ada pertanyaan, tanya ke Rohmat aja entar di dalam. Yang
lain gimana? Ada pertanyaan?”
Tidak ada pertanyaan.
“Oke, kalau gitu, saya serahkan
komando ke Erick. Tidak boleh ada yang keluar dari ruangan ini tanpa izin.
Silakan tunggu giliran sambil santai-santai. Dan ingat,” ungkap dr. Sigit
sebelum benar-benar pergi, “kalau mau lancar, sampaikan sejujur-jujurnya soal
seksualitas kalian. Dalam artian, fantasi apa pun, bilang aja. Semuanya akan
dirahasiakan, tidak akan saya tulis gamblang terang-terangan di jurnal saya,
kecuali itu memengaruhi hasil dengan signifikan. Paham?”
“Siap, paham!”
Dr. Sigit pun pergi ke ruangan
sebelah.
Baiklah, mari kita mulai, Kak.
Hitung mundur hingga kita ketemu
kontolnya Fian.
[ ... ]
26A. Cowoknya Makin Ngaceng, Anjir! (Shorter) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 27. Bool Dewa (Short Version)
Catatan:
Part 26C dan 26D TIDAK AKAN TAYANG DI SINI dan TIDAK DAPAT DIBELI. Part ini hanya bisa dibaca melalui PDF. Cara mendapatkannya: Melakukan pembelian produk Halo, Dek! mana pun sejumlah Rp60.000,-.
Komentar
Posting Komentar