(HD) 27. Bool Dewa (Short Version)



Sebelum part ini, ada part 26CD yang tidak akan ditayangkan secara gratis. Part ini juga tidak bisa “dibeli”. Part ini hanya bisa didapatkan dengan membeli produk Halo, Dek! mana pun senilai 60K, nanti part 26CD-nya bisa didapatkan dengan gratis.

Agar pembaca cerita gratis tidak ketinggalan terlalu banyak, berikut rangkuman Part 26CD:

[ ... ]

BONDAN

Ketika dilakukan fingering ke bool-nya, Bondan langsung crot. Hingga sesinya selesai, Bondan sempat crot sampai dua kali. Sempat memaksa Rohmat nyepong juga, sampai-sampai keluar di dalam mulut Rohmat. Obrolan yang dominan antara Rohmat dan Bondan di bagian ini adalah tentang Fian dan Bondan pada masa pendidikan. Pada masa lalu, Bondan dan Fian “pernah” melakukan sesuatu yang intim. Namun, Bondan tidak menceritakannya kepada Rohmat.


ANDRY

Orangnya tegas, maskulin, dan baik. Biji pelernya gede dan dia mengaku jarang masturbasi. Kemudian, di tengah pemeriksaan, dia mengakui sebuah “penyakit” yang dia pikir diderita selama ini. Ternyata, dia tidak tertarik kepada jenis kelamin atau gender mana pun. Tidak ada yang bisa membuatnya ngaceng dan dia tidak paham kenapa orang-orang begitu terobsesi pada seks. Rohmat menjelaskan bahwa itu ciri-ciri orientasi aseksual, tidak adanya ketertarikan seksual pada siapa pun. Namun, bukan berarti organ seksualnya tidak berfungsi. Ketika Rohmat bereksperimen dengan tubuh Andry, mumpung dalam konteks penelitian seksual, ternyata Andry berhasil crot.

Akibat dari keberhasilan Rohmat, Andry merasakan sensasi enak yang tak pernah dia rasakan seumur hidupnya. Dan Andry pun meminta Rohmat untuk mengenakinya lagi kapan-kapan.


RIGO

Ganteng, kasar, manly, tegas, dan Batak banget. Tubuhnya kekar, kontolnya uncut. Terlihat sangat homofobik. Namun setelah ditelusuri, ternyata kebencian Rigo nomor satu adalah kepada Fian. Rohmat berhasil membuat Rigo crot, hanya dengan membuatnya berfantasi menyiksa Fian. Makin Fian tersiksa, makin Rigo sange. Setelah crot yang intens sambil memfantasikan Fian disiksa dengan sadis, Rigo pun mengajak Rohmat untuk membahas cara menyiksa Fian hingga Fian minta ampun.


ERICK

Awal-awal membahas Ezel, kemudian membahas riwayat seksual Erick yang superaktif. Ketika sedang proses membuat Erick crot, Rohmat menemukan sebuah fakta baru bahwa Erick punya sebuah fetish yang tidak lazim. Yaitu, praise kink. Jika dirinya dipuji, Erick akan merasa sange. Rohmat pun memuja-muji Erick hingga kontolnya ngaceng. Apalagi jika puja-pujinya membandingkan antara Erick dan Fian, lalu Erick dibilang lebih oke dari Fian, Erick makin merinding oleh rasa sange. Pada akhirnya Erick crot handsfree gara-gara pujian.

Setelah sesi usai, Erick mengira Rohmat menyukainya. Erick pun menutupnya dengan pernyataan bahwa dia bersedia bertanggung jawab jika Rohmat jatuh cinta kepada Erick.


FIAN

Diawali dengan anamnesa tentang riwayat seksual Fian. Setelahnya, Fian diminta melepas seluruh pakaiannya. Karena Rohmat sudah berhari-hari belum crot, dia berdebar-debar menyambut ketelanjangan Fian. Lalu, ketika Rohmat benar-benar melihat kontol Fian ....

... Rohmat pingsan.

 

Kelanjutan setelah pingsan dibahas di Part 27 Short Version di bawah ini.

Silakan dapatkan Part 26CD untuk membaca dengan lebih detail seluruh adegan pemeriksaan dengan lima orang tentara ini.

Selamat membaca!

[ ... ]



Halo, Kak!

Maaf kalau memalukan. Aku enggak berlebihan waktu aku pingsan barusan. Begitu melihat kontol Fian, tiba-tiba tubuhku serasa melayang. Jantungku seperti berhenti memompa darah ke seluruh tubuh. Badanku lemas. Pandanganku berubah gelap. Dan aku pun tak sadarkan diri.

Aku terbangun beberapa menit kemudian di atas dipan yang sedari tadi digunakan para tentara untuk untuk EPS dan crot. Aku terbangun oleh panggilan merdu, “Dek ...? Dek ...?”

Lalu, aku merasakan dadaku berdebar-debar. Napasku berat. Dan kesadaranku pulih.

Aku membuka mata dan menemukan langit-langit ruang penelitian balas menatapku. Aku diam selama sekitar lima detik untuk memulihkan diri. Ketika aku menoleh, Fian sudah berdiri di sampingku dengan segelas air putih.

“Minum dulu,” katanya, menyodorkan gelas itu.

Fian sudah mengenakan celananya. Hanya celana saja. Bagian atasnya tetap telanjang. Aku bisa melihat dada dan lengan berotot itu menggodaku lagi. Membuatku ser-seran tak terkontrol.

Aku bangkit dan duduk di tepi dipan. Kutarik napas panjang sebelum meneguk air yang disodorkan Fian. Aku tak berani menatap wajah Fian. Aku merasa malu.

“Adek kecapean, ya?” bisiknya lembut. “Mau istirahat dulu?”

“Ngng ... iya. Lima menit aja.”

“Satu jam juga gapapa. Abang bisa nunggu.” Fian menarik kursi ke dekat dipan, lalu duduk di atasnya. Duduk dengan ganteng dan gagah, dengan bahu lebar yang sangat menggiurkan itu. “Abang paham, Adek harus ngecek banyak orang dari kemaren. Hari ini masih harus ngecek kita-kita. Orang kayak si Erick itu pasti ngabisin energi. Mungkin penelitian sama Abang ..., ditunda dulu?”

“Enggak usah. Kita selesaikan aja,” kataku.

“Adek yakin?”

“Ya.”

Aku harus yakin. Aku enggak bisa begini selamanya. Kalau menghadapi kontol Fian saja aku lemah, aku enggak layak menjadi pacarnya. Apalagi ini konteksnya profesional, bukan sensual. Seharusnya aku bisa lebih menguasai diri.

Tapi, Kak ....

Haduh ....

Kontol Fian ....

....

Ingat kejadian Fian menginap di kamarku, lalu aku melihat “tenda” yang dibentuk kancut Fian? Yang aku hampir menciumnya tapi Fian keburu bangun? Itu, kan kontolnya lumayan gede, ya, jendolannya. Kupikir itu morning wood-nya. Itu fase ngaceng-nya. Kenyataannya?

Belum, Kak.

Itu masih lemas, kontolnya.

....

What the fuck.

Takut banget ....

Kontol yang menggantung beberapa menit lalu itu bikin ngeri. Yang membuatku pingsan adalah fakta bahwa kontol yang menggantung itu belum ereksi. Kontol itu masih flaccid. Masih “menggantung”. Bergoyang kanan kiri seperti balon berisi air setiap Fian bergerak.

Dan ukurannya ....

... sebesar kontol yang kukira ngaceng tempo hari.

Kontol Fian sempurna. Kemungkinan besar lebih dari 22 cm. Gemuk dan tebal. Kepalanya besar, berwarna pink. Kontolnya sudah disunat, tetapi kulupnya masih tersisa sedikit—di sinilah aku tahu kontol itu belum ereksi. Kontol flaccid itu menggantung lebih panjang dari dua biji pelernya sendiri. Jembutnya lumayan rimbun, membentuk pola segi tiga besar, hampir memenuhi area celana dalam segi tiga.

Ketika aku meneguk air putih, aku teringat lagi pada visual kontol itu.

Ya Tuhan ..., kalau aku harus menyepong kontol Fian, apakah kerongkonganku yang kupakai meneguk air ini harus dihancurkan? Enggak mungkin aku mengulum kontol itu sampai ke pangkal. Bisa mati tercekik!

Lalu bagaimana kalau aku jadi bottom-nya? Apa aku perlu latihan di-fisting sebelum ngewe ama Fian?

Apa Fian berkonsultasi dengan Ida gara-gara kontolnya terlalu besar sehingga Fian melakukan terapi untuk mengecilkan kontol itu? Supaya dia bisa ngewe ama perempuan? Aku berani bertaruh, perempuan pun enggak akan sanggup menerima kontol itu di memeknya.

Kontolnya keterlaluan, sih.

“Dek?” Fian mengibaskan tangan di depan wajahku.

“Oh!” Aku terkesiap kaget, lamunanku buyar. Dengan salah tingkah aku melompat turun dari dipan, tetapi harus berpegangan ke tepian meja. Pusing soalnya. Setelah pingan, lalu tiba-tiba bangkit, rasanya seperti orang dengan penyakit darah rendah disuruh berlari tiba-tiba setelah rebahan seharian.

“Tunggu ... tunggu sebentar.” Aku berbalik memunggungi Fian sambil mengatur napas.

Namun, Fian malah menarik bahuku dan mendudukkanku kembali ke atas dipan. Dengan tangan dan sosok besar itu, aku tak bisa berkutik. Aku duduk sambil mengatur napasku yang ngos-ngosan. Sepanjang menunggu Fian berkata sesuatu aku hanya bisa memainkan jariku.

“Sebelum lanjut,” kata Fian, “Cerita dulu kenapa Adek bisa sampai kolaps begitu.”

Aku menggelengkan kepala karena tidak tahu jawabannya.

“Enggak mau jawab?” desaknya.

Aku menggelengkan kepala lagi.

Fian menatapku selama beberapa saat sebelum akhirnya dia mundur dan melorotkan bahunya. Seakan-akan ada raut kecewa di wajahnya. Fian menunduk dan menggosok-gosok tengkuknya dengan salah tingkah.

Sorry,” katanya tiba-tiba. Suaranya begitu pelan.

So ... sorry kenapa?”

Fian mengangkat bahunya. “Karena enggak bisa ... berdiri?”

“Pe ... penisnya?”

“Ya.” Fian manggut-manggut kecil. “Nanti enggak bisa diteliti kalau enggak ereksi, kan?”

“Kita belum masuk bagian itu.”

“Tapi nanti harus ereksi, kan?”

“Dalam beberapa kasus ... enggak perlu. Prostatic liquid enggak perlu ereksi.”

Fian mengangkat kedua alisnya. “Ejakulasi?”

“Beberapa orang bisa ejakulasi tanpa ereksi.”

“Aaah ... oke.” Fian manggut-manggut lagi.

Aku tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Apa itu alasannya Abang datangin Ida? Disfungsi ereksi?”

Fian sudah membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi dia memberi jeda selama beberapa detik, sebelum akhirnya menjawab dengan tidak yakin, “Abang enggak tahu ini berkaitan sama itu ... atau enggak.”

“Tapi berkaitan dengan seks?”

“Sudah pasti, Dek.”

“Hal ini mengganggu performa seksual Abang sama pasangan?”

“Abang enggak punya pasangan.”

“Ya misalnya, kalau punya pasangan dan mau berhubungan seks ..., anomali ini mengganggu performa Abang?”

Fian membuka lagi mulutnya selama beberapa saat. Matanya menyipit, seakan-akan mencari jawaban yang paling tepat. “Boleh ... dibilang begitu.”

“Tapi bukan itu?”

“Mungkin itu.” Fian mengangkat bahu.

“Kenapa perlu datang ke Ida segala? Kenapa enggak ke dokter langsung? Ditangani secara medis?”

“Hmmm ... Abang enggak bisa jawab, karena nanti Adek jadi tahu semuanya.”

“Kenapa aku enggak boleh tahu semuanya?”

“Karena itu urusan pribadi Abang, Dek. Enggak semua hal Adek perlu tahu, kan?”

Aku rada kesal di titik itu. Aku bersikap seolah-olah aku ini sudah pacaran sama Fian selama ini, sehingga aku merasa seharusnya kami saling terbuka satu sama lain. Seharusnya kami tidak punya rahasia yang disembunyikan. Kami tahu PIN untuk buka hape. Saling nyimpan akun Instagram di hape masing-masing. Dan kalau Fian enggak mau memberitahuku sesuatu, aku berhak untuk menganggap dia sedang berselingkuh.

Oke. Itu lebai banget. Tapi itu terjadi di diriku. Aku berani bertaruh, kalau Kakak ada di posisiku, Kakak juga bakal berpikir hal yang sama.

Cuma nih, bloon-nya aku, saking kesalnya Fian menutupi urusan ke Ida itu dariku, aku nekat menyebutkan satu-satunya hal yang harus kurahasiakan sampai mati di depan Fian. Yang mungkin dalam titik ini juga enggak memberikan pengaruh apa-apa. Tapi aku tertantang untuk berhenti berpura-pura. Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa aku adalah buku yang terbuka. (Sehingga Fian harus mau membuka diri juga kepadaku.)

“Aku gay,” kataku dengan tegas. Tanpa sedikit pun rasa takut bahwa di depanku ini seorang tentara yang mungkin akan mengeksekusiku sampai mati karena aku LGBT. Namun sejak bertemu Bondan dan Daddy Ryuji, aku kayaknya sudah kebal pada ancaman itu. “Aku penyuka sesama jenis. Sejak kecil aku suka laki-laki. Berapa kali pun aku coba untuk jadi ‘normal’, aku enggak akan bisa ‘normal’. Aku gay.”

Napasku agak memburu karena bernafsu ingin menekankan informasi itu kepada Fian.

Rasanya plong bukan main. Menakutkan banget, tetapi aku merasa ringan. Perutku sempat mulas, tetapi dalam sekejap leganya luar biasa seperti kebelet berjam-jam di dalam bus, lalu berhasil masuk ke kamar mandi tanpa terjadi “tragedi”.

Aku ingin menangis. Suaraku bergetar saat aku menjelaskan bahwa aku penyuka sesama jenis. Namun adrenalinku terus mendorongku mengeluarkan kata-kata berikutnya hingga aku mengulang kalimat yang sama, “Aku gay.”

Aku takut.

Takut pada reaksi Fian.

Aku sudah menyiapkan diri untuk dipecat gara-gara memberitahukan soal ini dan say goodbye pada semua bool dan kontol para calon taruna ini.

Aku juga menyiapkan diri ditinggalkan Fian karena ternyata selama ini aku bukan bromance biasa melainkan aku tertarik secara romansa dan seksual kepada Fian.

Tapi akhirnya aku benar-benar menangis.

Hanya tiga detik setelah aku mengatakan, “aku gay,” yang kedua, aku tak bisa menahan lagi guncangan di bahuku. Aku langsung menutup wajah dengan tangan dan mengelap air mata yang berusaha keluar.

Aku mendongakkan kepala ke atas, agar air mata itu masuk lagi.

Namun tidak bisa. Air mataku tetap mengalir sehingga aku harus mengelapnya dengan tangan.

Kutarik napas panjang supaya aku bisa tegar menghadapi Fian di hadapanku. Coming out ke Fian ini rasanya seperti coming out ke orang tua—padahal aku belum pernah coming out ke orang tuaku. Telapak tanganku terasa dingin. Kakiku yang menggantung di bawah dipan kugoyang-goyangkan dengan gugup.

Aku enggak tahu apa yang harus kulakukan berikutnya karena Fian hanya menatapku dengan raut wajah yang sama. Tak ada perubahan seperti terkejut, terkesiap, terkekeh, dan lain sebagainya.

Aku bahkan memperparah coming out-ku dengan berkata, “Semua yang kulakukan di sini bikin aku ... terangsang. Tapi aku tetap profesional,” sergahku sesegera mungkin. “Aku bisa membedakan yang mana pekerjaan, yang mana hal pribadi. Enggak sekali pun aku memanfaatkan semua pasienku untuk kepuasan seksual pribadi. Termasuk barusan pun, meskipun keempat tentara yang masuk sebelum Abang bikin gairahku naik ..., aku tetap bekerja dengan profesional—silakan tanya ke masing-masing dari mereka, kalau enggak percaya. Tapi aku suka semua itu. Aku suka menyentuh kemaluan mereka.”

Aku ingin menangis lagi. Tenggorokanku tercekat, seolah-olah lubang napasku menutup tiba-tiba kecuali aku bersedia meneteskan air mata. Kutarik napas lebih panjang lagi dari sebelumnya sembari menguatkan diri. Kali ini sambil aku mengepal-ngepalkan tangan dan memainkannya di atas pangkuanku.

“Aku gay,” ulangku. “Dan aku suka Abang.” Bagian ini bagian tersulit dan terbodoh dari semua yang kukatakan. “Dan aku berusaha untuk profesional, menjaga kode etik dan lain sebagainya ... sampai hari ini aku enggak pernah crossed the line ... aku enggak mau macam-macam ke Abang—aku bukan Deva yang di tengah hajaran pun masih sempat-sempatnya nyosor! Aku berusaha untuk ... sopan. Tapi mungkin aku ... aku enggak tahan lagi .... Jadi waktu aku lihat Abang telanjang pertama kali barusan ... aku ... aku pingsan.”

Aku menelan ludah. Sekali lagi menahan diriku untuk tidak menangis di depan Fian meskipun suaraku sudah sangat bergetar seperti perempuan yang sedang curhat ke teman perempuannya bahwa suaminya selingkuh dengan pelakor dari kantor.

Aku sudah tak berani menatap wajah Fian. Aku menunduk dan tak tahu kenapa aku bisa sampai coming out begini. Bahkan sebelum aku menyelesaikan pemeriksaanku kepada Fian.

Yang kutahu, setelah jeda beberapa saat, aku menutup lagi konferensi persku dengan kalimat yang sama.

“Aku ... aku gay.”

Fian yang sedari tadi hanya diam mengamatiku mempermalukan diri sendiri, akhirnya menarik napas panjang. Dia masih menunjukkan raut muka yang sama.

Akan lebih baik kalau dia mengerutkan alisnya lalu marah atau gimana. Jadi kalau aku dirajam di sini pun, dirajam gara-gara LGBT, aku bisa mati dengan tenang karena aku mati untuk alasan yang bermoral.

Atau seenggaknya tertawa, deh. Menertawakanku dan menganggapku bercanda supaya aku bisa ikutan tertawa dan bilang, “Candyaaa ... bercandyaaa ....

Tapi enggak. Dia masih diam di sana. Kira-kira sepuluh detik (yang terasa lama) setelah kalimat aku gay-ku yang terakhir.

Akhirnya Fian bangkit dan menarik kursinya lebih dekat ke dipan. Kursi itu dekat banget sampai hampir masuk ke kolong dipan, sehingga ketika Fian duduk lagi di atasnya, kedua lutut Fian masuk ke kolong dopan. Fian mengulurkan tangannya dan menarik tanganku.

Dia menggenggamnya.

Dan dengan kurang ajar dia malah berkata, “Abang udah tahu, kok.”

Anjing.

“Tahu dari mana?”

“Dari Dek Ida.”

ANJING!!!

LONTE BANGSAT!

LONTE BIADAB!

AKAN KUBANTAI KAU SAMPAI KE NERAKA!

“Dari hari pertama. Waktu kita ketemu di kosan,” lanjut Fian. “Dek Ida lihat kita ketemu di bawah. Terus setelah Abang masuk kamarnya dia bilang, ‘Yang barusan itu boti, Mas.’ Awalnya Abang enggak tahu apa itu boti, tapi setelahya Dek Ida jelaskan.”

FUUUCCCKKK ...!!!

AKU INI VERS, GOBLOK!

AKU BISA JADI TOP!

Tapi aku malu banget mendengarnya sehingga aku langsung menutup wajahku dengan kedua tangan. (Which is merupakan gerak-gerik boti—makin mengonfirmasi tuduhan Ida.) Tapi aku malu banget, anjir. Mukaku merah.

Rasanya seperti ingin meleleh dan lenyap dari muka bumi ini. Sumpah.

Mati sekarang pun aku sudah ikhlas. Masuk neraka enggak apa-apa asal aku enggak ketemu Fian lagi.

Ini titik termaluku sepanjang hidup!

Aku enggak bisa menghadapi Fian lagi setelah ini.

“Gapapa, Dek,” kata Fian kemudian. “Itu enggak ngubah apa pun di antara kita.”

Itu ngubah segalanya, goblok! Sekarang kamu tahu bahwa aku suka kamu! Kamu tahu aku sukanya disodomi! Yang berarti aku tak berdaya di depan kontol! Padahal aku bisa strong di depan semua kontol! Aku malu bukan main! Mana kamu enggak bilang I love you too, pula!

“Emang ada apa di antara kita?” tanyaku kemudian sembari melepaskan tangan dari wajah, lalu melipatnya di depan dada. Aku memalingkan muka ke arah lain. Aku kesal, sih. Sungguh. Straight ini tahu aku homo dari hari pertama, yang dia lakukan bukannya merajamku atau mengatakan it’s okay, dia malah menciumku.

Dua kali.

Romantis pula.

“Kita ... partner,” jawab Fian.

“Partner?”

“Partner kerja. Adek nanganin medical check up di event Abang.”

Oh. Kupikir partner yang ... “itu”.

Melihat kegelisahanku, Fian akhirnya berdiri dan menghela napas panjang. “Oke. Sorry. Ini too much buat Adek. Abang paham. Abang juga enggak seterbuka ini sama semua orang—termasuk sama Adek. Apa yang Abang lakukan ke Adek selama ini ada penjelasannya, tapi Abang belum bisa jelasin sekarang. Abang cuma bisa minta Adek untuk bersabar. Begitu urusan Abang selesai ..., Abang janji bakal nyeritain semuanya.”

Aku enggak terima, sih. Penginnya aku memukul-mukul dua buah dada bidang yang telanjang, kekar, dan kotak persegi itu, yang putingnya menantangku dengan areola nyolot yang ditumbuhi bulu-bulu halus, sambil bilang, “Sebel! Sebel! Sebel!” (Anjing. Kok bisa sih dada Fian bagus begitu? Padat dan kenyal.) Namun, aku enggak boleh tampil lebih boti lagi dari titik ini. Aku harus memperbaiki reputasiku.

Boti normal pasti akan memalingkan muka lalu melakukan silent treatment dan berharap Fian merayunya seperti seorang suami mencoba membujuk istri agar enggak marah lagi. Sebagai vers, aku bersikap bijak dengan menarik napas panjang dan bertanya, “Kapan?”

“Kapan?” balas Fian.

“Kapan bakal ngasih tahu aku?”

Fian menarik napas juga. “Abang belum tahu. Abang sedang selesaikan masalah ini. Kalau sudah selesai, Abang janji akan cerita apa yang terjadi sama kita beberapa hari terakhir.”

“Masalah internal TNI AU?”

“Bukan. Bukan masalah itu. Ini soal Abang.” Fian menelan ludah. “Soal kenapa Abang terapi ke Dek Ida.”

“Abang bingung sama orientasi seksual Abang? Abang sebenarnya kayak aku? Belok?”

“Belok?” Fian menyipitkan matanya.

Gay.”

“Iya, Abang tahu.” Dia menarik lagi napasnya. “Kalau itu masalahnya, Abang rasa masalahnya udah bakal selesai dari kapan hari. Masalah ini akan lebih mudah selesai kalau Abang ternyata ... ‘belok’. Tapi bukan, Dek. Ini lebih kompleks dari itu.”

Melihat raut mukanya yang serius, aku beneran luluh. Aku senang mengetahui kisah-kisah skandal atau rahasia orang lain, aku juga lumayan kepo sama kehidupan orang-orang, tapi aku harus bersikap bijak bahwa semua ada waktunya sendiri. Aku enggak mau jadi orang yang memaksa dan menuntut seseorang terbuka ketika orangnya enggak siap. Apalagi orangnya enggak ignorant. Orangnya tahu ada masalah di dirinya dan dia lagi berusaha menyelesaikan. Best thing to do adalah membiarkan dia menyelesaikannya dan menghormati keputusan dia untuk cerita entar.

“Oke.” Aku mengangguk dan memberikan senyum kecil. “Maaf.”

“Enggak usah minta maaf.”

“Ya maaf kalau aku lebai.”

“Sama sekali enggak.” Fian balas tersenyum. “Abang janji begitu waktunya tiba ..., Abang bakal cerita semua.”

“Aku tunggu momen itu.”

Bahu Fian melorot lebih santai. Dia celingukan menatap ruangan dan mulai bertanya, “Jadi ..., gimana? Kita lanjut pemeriksaannya?”

Aku membeku untuk beberapa detik. “Ya ... kayaknya ... harus, sih. Itu udah jadi ... tugasku.”

“Abang buka celana sekarang?”

Aku memejamkan mata. “Wait!” sergahku. Kutarik napas panjang. “Jujurly, aku takut.”

“Takut sama apa?”

“Sama rudal Abang.”

“Oke.” Fian terdengar kebingungan. “Apa yang bisa Abang bantu?”

Aku menggelengkan kepala. “Enggak ada. Ini ... ini problem di aku.” Kubuka mata perlahan-lahan. Kutemukan Fian masih telanjang dada saja. Celananya masih membungkus tungkainya yang kekar itu. “Aku yang harus nyelesaiin masalah ini. Jadi ..., jadi kasih aku waktu sebentaaar aja.” Kutarik napas panjang. “Oke. Aku bisa.”

Fian terkekeh melihat tingkahku.

Aku melompat turun dan mondar-mandir selama beberapa saat di tengah ruangan. Kugoyang-goyang tanganku supaya aku rileks. Kuatur napas panjang-panjang, supaya oksigen bisa masuk banyak-banyak ke dalam darahku. Aku bergumam kecil tanpa suara, “Bisa, bisa, bisa bisa, bisa, bisa.” Dan akhirnya aku berhenti melangkah, lalu berbalik menghadap Fian yang sudah menungguku di depan dipan.

Kepada sosok ganteng, menjulang, kekar, telanjang dada, straight, dan manly itu (enggak tahu harus berapa kali kuingatkan Kakak soal sifat-sifat Fian yang alpha ini), aku pun berkata, “Oke. Buka celananya.”

Dengan senyum lebar Fian membuka kaitan celananya, dan menurunkan celana itu hingga ke lantai.

Dia tak mengenakan celana dalam.

Sehingga ... kontol keterlaluan itu langsung terkuak di depan wajahku.

Dan aku pun ....

... pingsan lagi.

Fuck.

Kutemukan tubuhku lemas. Pandanganku menggelap.

Tahu-tahu aku terbangun di atas dipan untuk kali kedua. Kali ini Fian kulihat sudah mengenakan seluruh pakaiannya. Dan dia sedang sibuk mengotak-atik kontainer nitrogen untuk menyimpan sperma dan prostatic liquid.

“Karena Adek pingsan terus,” kata Fian menjelaskan, “Abang keluarin sendiri spermanya, terus Abang masukin ke kotak ini. Coba Adek cek dulu. Bener enggak?”

Memang PAYAH kamu, ROHMAT!

NGADEPIN KONTOL FIAN AJA PINGSAN MULU!

MATI AJALAH JADI HOMO!

AAAAAARGH!


[ ... ]


26B. Keram di Otot Bool | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 28. Dalemin, Mas!

Komentar