Halo, Kak!
Kayaknya aku mau nyamperin Ida untuk konsultasi. Begitu aku
bangun pagi keesokan hari, aku mulai overthinking, kok bisa aku pingsan
terus setiap lihat Fian telanjang? Seenggak sanggup apa sih diriku lihat kontol
Fian? Aku melihat ratusan kontol selama satu minggu terakhir, tetapi hanya satu
kontol yang membuatku lemas tak berdaya, sampai-sampai aku tak sadarkan diri.
Aku mandi pagi sekali dan langsung turun ke bawah untuk
menemui Ida.
Untungnya, Ida lagi enggak ke mana-mana. Dia juga lagi enggak menangani
klien. Ketika kubuka pintu, Ida sedang mengisap vape sambil mendengarkan
musik dari boyband Korea yang belum pernah kudengar.
“Masuk, Cong! Gue lagi dengerin album barunya BoyNextDoor.
Enak banget, gila. Berondong-berondong.”
“Elo bahas musiknya atau bahas personelnya?”
“Orangnya, lah! Kagak ngerti gue lagunya! Hahaha ...!” Ida
tergelak dalam tawa. “Gue lihatin video mereka, ya Tuhan lucu-lucu banget ini
berondong. Mulus-mulus mukanya. Putih. Pasti kontolnya juga putih. Pada belum
disunat.”
Aku menghempaskan pantatku di tepi tempat tidur Ida.
Kukumpulkan keberanian untuk berkata kepada Ida bahwa aku ingin terapi. “Eh, Da
..., konsul ama elo tuh bayar berapa?”
“Buat siapa?”
“Buat gue.” Lalu aku tersenyum lebar sambil berharap Ida
berkata, “Gratis.”
“Double price sih kalau elu.”
“ANJING!” Kulempar cangcut Ida yang disusun rapi di atas
tempat tidur. Kayaknya Ida baru selesai ngeluarin laundry, lalu
menyimpan dulu pakaian bersihnya di situ.
Ida balas melempar cangcut itu balik ke mukaku.
“Ini baru gue keluarin, woy!”
“Kenapa jadi double price, anjing?!”
“Karena elo homo, dan gue kagak mau ngewe ama elo!”
“Gue juga kagak mau ngewe ama elo, anjing!” Kulempar
bantal Ida ke mukanya, hingga Ida hampir terjengkang ke belakang.
“Aduh!” Ida bangkit untuk menjambak rambutku.
Aku balas menjambak rambutnya dan kami saling mengumpat satu
sama lain.
“Gue jadi lurus juga gue milih-milih, anjing!”
“Kalau gue harus ngewe ama homo, kagak mau gue ngewe
ama boti!”
“Heh! Gue vers, anjing! Kayak yang memek elo lebih enak dari bool
gue aja, anjing!”
“Halah! Palingan bool elo udah melar disodok-sodok
pagar depan!”
“Goblok! Gimana caranya, anjing!”
“Ya lu manjat, lah! Lu ngangkang di pagarnya, masukin batang
paling ujung ke bool, elo!”
“Kagak mungkin, anjing! Itu batangnya segede selongsong
mahasiswa teknik!”
“Makanya!”
Kami melakukan itu sambil jambak-jambakan.
Ujung-ujungnya kami capek dan hanya bisa terkapar kelelahan di
atas tempat tidur Ida. Laundry bersih Ida yang tadi ditumpuk rapi, kini
berceceran ke mana-mana. Kami telentang dengan kepala beradu satu sama lain. Napas
kami memburu.
Setelah beberapa saat, dia berkata, “Ya udah ... hoh ...
hoh ... kalau kagak ada ngewe-nya ... kita ketemu di ... Starbucks
.... Yang deket alun-alun ....”
“Hoke ....”
“Hoke ....”
[ ... ]
Pukul dua belas siang, aku dan Ida bertemu di Starbucks dekat
alun-alun kota.
“Jadi ini soal apa?”
Kami duduk di pojokan Starbucks. Agak jauh dari kebanyakan
orang yang laptopan di meja besar di tengah-tengah ruangan. Tak ada siapa pun
di meja-meja sebelah kami. Jadi dengan suara normal aku menjawab, “Soal Fian.”
“Kenapa? Elo udah ngewe ama Fian?”
“Belum. Tapi mungkin enggak akan pernah ngewe kalau gue
masih punya problem ini.”
“Apa masalahnya?”
Kuceritakan apa yang kualami setiap kali melihat Fian
telanjang. Kuceritakan bahwa aku sudah melihat kontol itu, tapi aku enggak bisa
bertahan lama. Aku selalu lemas tak berdaya kalau Fian benar-benar telanjang di
depanku.
Setelah aku selesai bercerita, Ida berkata, “Itu ada namanya,
Shay. Bagian dari penyakit kejiwaan itu. Bentar ... gue cek dulu.” Setelah
meng-Google sekian lama, Ida akhirnya berkata, “Oh! Oh! Ini, gue nemu ...
mungkin elo kena vasovagal syncope. Sebuah kejadian, di mana—“
“Gue udah tahu soal itu. Bisa applied ke kejadian gue di
penelitian kemaren, tapi gue rasa ..., bukan itu, Da.”
“Bukan, ya?”
“Beberapa kali gue hampir lihat dia telanjang, tapi everything
was fine. Kalau pingsan kemaren mungkin karena gue syok aja gue akhirnya
ngelihat kontolnya Fian. Gue yakin ada penjelasan yang lebih tepat untuk itu
....”
“Hmmm ....” Ida menggulir lagi ponselnya. “Atau mungkin elo
mengidap Gymnophobia?”
“Apa itu?”
“Ketakutan atau kecemasan berlebihan terhadap ketelanjangan.”
Aku menyipitkan mata tak percaya kepada Ida. “Mana mungkin gue
takut ama ketelanjangan. Cita-cita hidup gue pas pensiun adalah punya rumah
yang isinya cowok-cowok kekar telanjang semua seliweran. I love naked men!
Gue menikmati semua proses penelitian di lanud itu waktu gue ngecekin bool
calon-calon taruna.”
“Enggak harus ke semuanya, Cong,” balas Ida, mencoba membaca
lagi ponselnya. “Bisa ke particular person aja. Ke satu orang. Cuma ke
dia elo takut lihat orangnya telanjang.”
“Enggak. Enggak mungkin,” bantahku. “Sejak gue ketemu Fian di
kosan, yang gue pengin di hidup ini cuma lihat Fian telanjang. Enggak ada lagi.
Anehnya, sewaktu Fian bener-bener telanjang, gue malah enggak bisa ngadepin
itu.”
Ida menurunkan ponselnya. Dia seperti teringat sesuatu. “Gue
punya satu kesimpulan yang mungkin belum tentu benar, tapi siapa tahu bisa
bantu elo.”
“Apa?”
Ida menghela napas panjang. “Elo cinta ama si Fian.”
Aku menyeruput dulu minumanku sambil mencerna kata-kata itu.
“Well ... at this point ..., gue enggak akan bisa bantah itu, sih. Gue emang
pengin sama Fian. Tapi gue pernah pacaran sebelumnya. Gue cinta ama pacar gue.
Tapi gue enggak segininya, Da. Enggak sampai lebai pake pingsan segala.”
“Mungkin karena Fian ini perfect, dan Fian ini ‘memungkinkan’
untuk jadi pacar elo.”
“Emang mungkin, ya?”
“Tapi maksud gue gini,” lanjut Ida, “elo akui aja ... orang
kayak Fian itu, enggak bakal ada di komunitas elo.”
“Hah?”
“Di Indo maksud gue. Mungkin homo-homo di Amrik atau Eropa sih
kayak Fian semua bentukannya. Tapi di sini, yang mukanya kayak dia, badannya
kayak dia, personality-nya kayak dia, kontolnya kayak dia ..., bagai
menemukan bulu jembut di antara jerami, enggak sih?”
Aku memikirkan perkataan itu. “Maybe?”
“Fian itu ultimate husband enggak, sih? Mr. Right. Dan
karena dia available juga di pasar homo-homo, jadinya berasa impossible.”
“Maksud elo gimana, sih? Gue enggak paham.”
Ida menyeruput dulu minumannya, lalu menarik napas panjang.
“Maksud gue ..., elo terdoktrin ilusi yang elo bikin sendiri. Elo menganggap
Fian lelaki alpha yang impossible elo dapatin. Tapi kenyataannya,
jalan menuju bulu Roma terbuka lebar-lebar. Fian enggak nunjukin tanda-tanda impossible.
Alhasil, reaksi badan elo kacau. Elo pikir melihat kontol Fian adalah sebuah
ketidakmungkinan ..., eh ternyata elo beneran lihat dengan nyata, dengan mata
kepala kontol elo sendiri. Di situ elo kolaps!”
Aku terpana mendengar penjelasan itu. Mungkin itu hanya
cocoklogi Ida saja, tetapi aku mendengarkannya dengan saksama. Soalnya, sedikit
banyak, aku setuju pada pemahaman tersebut. Hingga aku bertemu Fian kali
pertama tempo hari, aku selalu menganggap orang kayak Fian itu enggak akan
pernah ada dalam perjalanan hidupku.
Pertama, Fian muncul dengan seragam tentara. Itu sudah bye-bye
pertama.
Kedua, badan Fian kekar. Itu menjadi bye-bye kedua,
karena aku percaya lelaki dengan badan kekar hasil nge-gym
bertahun-tahun enggak akan mau sama lelaki yang badannya biasa-biasa saja.
Ketiga, muka Fian ganteng. Literally ganteng. Manly.
Enggak ada feminin-femininnya. Alisnya tebal. Rahangnya tegas. Sorot matanya
tajam. Rambutnya cepak. Ini bye-bye ketiga karena enggak mungkin lelaki
ganteng, misal gay, mau dengan muka kampung berkulit lembut karena
kebanyakan skincare.
Keempat, Fian straight. Atau saat ini kupikir straight.
Karena dia kan ada di kosan itu untuk ketemu Ida. Dan Ida ngasih intronya
seakan-akan mereka mau ngewe. Ya sudah, itu bye-bye terakhir
untukku menyimpulkan bahwa Fian itu hanya mimpi di siang bolong.
Namun sejak aku menjalin silaturahmi dengan Fian, justru Fian
menggelitik sukmaku karena dia seperti menunjukkan tanda-tanda mau, tapi enggak
benar-benar mau. Jadinya tubuhku bingung.
“Mungkin elo benar,” kataku akhirnya setelah melamun cukup
lama.
“Bener?” Ida membelalak kecil. “Ya udah kalau gitu elo pulang
sekarang naek Gojek, ya!”
“Anjing! Gue langsung diusir gitu aja?”
“Iyalah! Gue mau ketemu klien gue, Cong. Klien yang bayar ini mah.
Makanya gue ngajak elo ke Starbucks. Dia mau ketemuan di sini biar berasa business
meeting. Habis ini kita mau jalan ke hotel di sebelah sono, tuh, di depan
alun-alun.”
“Lonte biadab!” Aku mengumpat. Tapi aku maklum. Kuambil
ponselku yang ada di atas meja, lalu bersiap untuk pergi. Namun sebelum
benar-benar pergi, aku duduk diam dan menatap Ida dengan serius. “Gue tahu elo
enggak bisa bocorin terapinya Fian ke gue. Tapi boleh enggak elo jawab satu
pertanyaan gue yang ini.”
Ida memutar bola mata. “Enggak kok, dia enggak ada disfungsi
ereksi. Dia bisa ngaceng.”
“Itu bukan pertanyaan gue, anjing!” Tapi aku jadi
berdebar-debar juga. Jika benar Fian bisa ngaceng, bakal segede apa,
bangsat?!
Disodomi dari bool, tembus ke tenggorokan atau gimana?!
“Elo mau nanya apa?”
“Dari hasil obrolan kalian, tanpa elo ngasih tahu apa yang
perlu kalian obrolkan ..., kira-kira ada enggak kemungkinan gue sama Fian.”
“Kemungkinan pacaran?”
“Iya.”
Ida malah menyeruput minumannya sambil mengibaskan rambut
dengan manja. Senyumannya begitu lebar. Lalu, Ida mengedipkan mata. “Kalian
berdua lagi berjalan ke arah sana, Cong. Sama-sama. Jadi ... jangan berhenti
melangkah.”
[ ... ]
Munafik kalau aku enggak kegirangan mendengar itu.
Saking gembiranya, aku naik angkot ke arah kosan, tapi aku
enggak turun depan kosan.
Aku malah turun depan gang menuju kosan Ezel.
Lalu, aku jalan menyusuri gang itu. Menuju kosan Ezel. Bahkan
aku masuk ke kosannya. Menyapa Pak Guntur yang sedang akan mengantar istrinya
entah ke mana.
“Sore, Pak!” sapaku ramah.
Dengan salah tingkah dan gugup, Pak Guntur hanya menunduk. “So
... sore.”
Tahu-tahu aku masuk ke area kosan dan naik ke lantai dua.
Bukan. Aku ke Ezel bukan untuk pamer bahwa aku dan Fian
mungkin akan bersama pada akhir kisah novelku ini.
Tapi karena waktu di Starbucks tadi, Ezel me-WhatsApp-ku.
Mas Roh, boleh temani aku?
Aku mengetuk pintu kamarnya dan disambut dengan sangat cepat.
Ketika pintu terbuka kutemukan Ezel sudah berdandan rapi. Dia mengenakan
kemeja, celana panjang, jaket, bahkan sudah mengenakan bedak. Aku bisa tahu
karena ada bagian-bagian putih bedak yang belum rapi di pinggiran wajahnya.
“Kita mau ke mana?” tanyaku, sambil mengambil tisu dan
mengelap bedak-bedak itu.
“Rumah sakit,” jawabnya. Ezel mengambil sepatu dan membawanya
ke dalam.
“Rumah sakit? Kamu sakit?”
“Aku mau periksa yang Mas Roh bilang kemarin.”
“Oh.”
Aku terpaksa masuk ke dalam dan duduk menunggu di sana. Kamar
Ezel lumayan berantakan. Ada banyak bekas tisu di atas tempat tidurnya. Jadi
dengan iseng aku bertanya, “Habis coli?”
“Iya,” jawabnya jujur. “Abang baru pulang dari sini barusan.”
“Bang Erick?”
Ezel mengangguk. “Abang nginep di sini semalaman. Aku keluar
sampai tiga kali.”
What the fuck?! Ezel benar-benar bisa kumasukkan ke grup
Facebook Fantasi Sedarah yang pernah kulihat kapan hari.
“Habisnya dia enggak pake baju tidurnya,” kata Ezel membela
diri sambil memasang kaus kaki perlahan-lahan. “Aku dibolehin pegang nenennya
lagi.”
“Sambil kamu ngocok itu tuh?”
“Enggak.” Ezel menggelengkan kepala. “Keluar sendiri pas aku
mainin nenen Abang.”
Ezel lalu berbalik dan mengambil satu tisu. “Tapi ....” Dia
memberikanku tisu bekasnya mengelap pejuh.
Aku berjengit jijik, tetapi aku tetap melihat tisu yang dia
sodorkan.
Tisu itu agak-agak berwarna pink.
Pejuh bercampur darah.
“Warnanya enggak putih?” tanyaku.
Ezel mengangguk. “Tadi Abang mandi enggak tutup pintu. Aku
jadi terangsang.”
“Kamu ngintip?”
Ezel menggelengkan kepala. “Dibuka lebar-lebar. Jadi aku
otomatis lihat.” Ezel menghela napas panjang. “Udah lama aku enggak lihat
burungnya Abang. Sambil dia mandi sambil ngobrol. Aku enggak kuat. Waktu dia
pipis ke toilet, aku ‘keluar’. Aku suka banget lihat burung Abang ngeluarin air
pipis.”
“IYUH!” seruku jijik. “Itu kakakmu sendiri!”
“Iya ... tapi rasa itu enggak bisa aku tahan.”
Menjijikkan.
Ezel selesai dengan sepatunya. Dia berdiri dan mengambil tas
mungilnya. Tas Zara yang mungkin hanya bisa diisi satu ponsel dan uang recehan.
Mungil sekali. “Ayo Mas Roh!”
“Bentar dulu. Kita mau ke mana?”
“Rumah sakit. Untuk periksa yang Mas Roh bilang itu.”
“Pipismu sering enggak?”
Ezel mengangguk kecil. “Semalam aku bolak-balik pipis. Aku
pikir karena aku terangsang lihat Abang. Tapi pipisku agak-agak ngilu di bagian
selangkangan.”
“Kamu punya BPJS?”
“Aku enggak mau pakai BPJS.”
“Kenapa?”
“Takut ketahuan keluarga aku. Katanya bisa kelihatan ya
riwayatnya?”
Aku mengangguk mengiakan. “Iya, sih. Semua orang yang
terintegrasi sama BPJS-mu bisa lihat riwayatnya di mobile-JKN. Tapi kalau
enggak pake BPJS, bisa mahal banget, lho. At least kamu harus datang ke
urologis langsung.”
“Aku pakai uang sendiri aja.” Ezel membuka ponselnya dan
menunjukkan saldo bank BNI-nya. “Segini cukup enggak?”
Mataku membelalak bulat. Ada uang sekitar 37 juta rupiah di
situ.
Wow. Anak orkay memang.
“Aku enggak suka jalan-jalan. Enggak suka jajan. Semua uang
saku aku simpan. Paling cuma bayar kosan sama makan di warteg. Jadi ... uang
aku kekumpul segini. Nabung dari SMA.”
“Buat apa kamu ngumpulin uang sebanyak itu?”
Ezel menunduk malu-malu. Mukanya memerah, tetapi dia tersenyum
kecil. “Tadinya ... tadinya aku pengin bayar Yusuf Hendratno, supaya aku bisa
pegang burungnya. Ada orang di internet bilang, harganya sepuluh juta buat
pegang burung Yusuf Hendratno.”
“Ucup yang selebgram itu?! Mana mungkin!” Aku ngakak sambil
geleng-geleng kepala. “Mana mau dia dibayar segitu. Mana mau dia melakukan itu.
Lagian orang di internet kamu percaya!”
“Ya maaf.” Ezel memasukkan ponselnya ke dalam tas Zara mungil
itu. “Tapi kayaknya uangku harus kupakai buat berobat juga. Ya udah, gapapa.
Toh, aku sudah lihat burungnya Abang. Udah cukup.”
“Bang Erick juga sama gantengnya sama si Ucup selebgram itu.
Kurasa malah lebih ganteng kakakmu dibandingkan si Ucup. Badannya memang enggak
sebagus si Ucup, tapi kan kakakmu tentara. Bisa nerbangin pesawat jet.”
“Tapi masih lebih ganteng Mas Raf.”
“Iyaaa ... kalau itu enggak usah didebat. Ya udah. Yuk!” Aku
bangkit berdiri dan mendului Ezel keluar. “Kita ke klinikku aja. Jadi kalau
hasilnya aneh-aneh, aku bisa bantu simpan riwayatnya supaya enggak ketahuan
siapa pun.”
[ ... ]
Di klinikku ada tiga dokter urologi yang praktik. Aku jarang
bertemu ketiga dokter urologi itu. Perawat untuk praktik spesialis ada di
lantai dua, sementara aku aktifnya di lantai satu gedung. Tapi aku kenal mereka
semua. Di acara-acara klinik seperti outbond atau makan malam bersama
karena yang punya klinik berulang tahun, aku bertemu mereka semua. Dari
ketiganya, aku paling benci dengan dr. Yudis.
Dia ngondek. Dan dia pernah nemu aku di aplikasi. Di Grindr,
Bumble, Tinder, Growl, termasuk Hornet. Aku kaget waktu dia tiba-tiba kirim chat
dengan profil kosong. Biasanya homo lain akan bilang hi diikuti dengan t/b
atau host? Dia mengirimku pesan di Grindr, Kamu si Rohmat yang jaga
di klinik lantai 1 kan? Yang suka hang out ama cewek-cewek haha-hihi pas makan
siang di lapangan depan?
Jantungan lah aku karena si profil kosong ini tahu detail soal
aku. Setelah kutanya dia siapa, dia mengaku sih kalau dia Yudis. Dokter urologi
kami. Tapi setelah kutanya kabarnya di situ, dia enggak menjawabku lagi. Baru
setelahnya aku menemukan dia di Bumble dan Tinder, lalu ada foto yang sama di
Growl dan Hornet yang menunjukkan foto setengah badan, dari dada ke paha, yang
menunjukkan jas dokter dan kemeja kotak-kotak yang sangat kukenal. Itu bajunya
dr. Yudis.
Di klinik, kalau berpapasan, aku akan tersenyum sopan
kepadanya, atau menyapanya selamat pagi selamat sore, tetapi enggak pernah
duduk bareng untuk ngobrolin apa pun. Soalnya, dia salah satu dokter yang judes
dan nyebelin di klinik.
Berasa cantik banget setara Puteri Indonesia mungkin, ya.
Nah, aku enggak hafal siapa yang sedang praktik Minggu sore
ini. Harapanku sih bukan dr. Yudis. Sepanjang perjalanan, di angkot, aku berdoa
agar dr. Stella atau dr. Handoko yang praktik saat ini. Begitu turun angkot aku
agak berlari masuk ke lobi, meninggalkan Ezel di belakangku, hanya untuk
menyapa perawat di meja resepsionis dan bertanya siapa dokter urologi yang
sedang berjaga.
“Dr. Yudis yang ada di atas, Mat. Udah dari pagi,” kata Marisa,
perawat yang spesialisasinya memang weekend. Tapi aku kenal dia karena
kadang-kadang dia meng-cover perawat-perawat weekday.
Bahuku melorot lemas.
Sial.
Dengan pasrah, kubantu Ezel melakukan registrasi. Bahkan, aku
melakukannya sendiri. Kuambil alih komputer Marisa dan kumasukkan data Ezel
dengan cepat sembari mencari penanganan termurah yang bisa Ezel bayar.
“Ayo Zel!” kataku sambil mengajaknya naik ke lantai dua. Nomor
antrean sudah kubuat. Biaya pemeriksaan pun kukurangi 35% menggunakan diskon
pegawaiku. Sesampainya di atas, nama Ezel langsung dipanggil lewat speaker.
Ada beberapa manula dan pasien lain menunggu di area tunggu pasien dokter
spesialis.
Kuajak Ezel melakukan pengecekan tekanan darah dan suhu tubuh,
lalu kubawa dia masuk ke ruangan dr. Yudis.
Dokter ngondek itu sedang menelepon ketika kami masuk. “Iya,
Nek. Gue juga kagak kebagian. Gila-gilanya mereka. Hahaha. Udah dulu, ya. Gue
ada pasien. Cuuusss ....”
“Duduk di sini,” titahku ke Ezel.
Ketika aku hendak pergi, Ezel tiba-tiba menyambar lenganku.
Dia menoleh dengan alis berkerut, memintaku tidak pergi.
“Gapapa, Zel. Aku tunggu di luar, ya.”
“Loh! Lagi masuk, Mat?” sapa dr. Yudis dengan nada suara
ketus.
Ingin sekali kujawab, “Anda buta, ya? Pake kaus dan celana jeans
begini dianggap lagi jaga?” Namun tentu aku tak mengatakan itu. Dengan senyum
palsu aku menjawab, “Ngantar teman aja, Dok.”
“Ooohhh .... Gimana di lanuuuddd ...?” tanyanya dengan nada
menyindir. Dia tidak melihatku saat mengatakan itu. Dia sibuk membuka laci dan
mencari sesuatu. Mungkin berkas untuk pasien. “Enak ya meriksa calon-calon
tentaraaa ...?”
“Lumayan capek, Dok.” Aku tersenyum lebar hingga pipiku terasa
lelah.
“Capek apa sukaaa ...?” Dr. Yudis menyunggingkan senyum
sebelah. Namun dia tak menunggu reaksiku. Dia langsung menatap Ezel. “Selamat
sore, Bapak. Namanya ... Ezelio?”
“Iya.”
“Si Rohmatnya sudah bisa dilepas, Pak. Enggak perlu nunggu di
sini dia.”
Ezel menggelengkan kepalanya. “Saya pengin Mas Roh di sini.”
“Mas Roh?” Dr. Yudis cekikikan kecil. Dia mendelik ke arahku,
melihatku dari bawah, ke atas, lalu ke bawah lagi. “Ya udah. Terserah. Ada
keluhan apa, nih?”
“Mas Roh yang akan jelaskan,” kata Ezel.
Sialan, lu.
“Nanti Ezel yang melengkapi ya, Zel?” kataku ke Ezel. “Kemaren
Ezelio ini sempat mengeluh banyak pipis. Terus sewaktu masturbasi, spermanya
agak pink. Saya sempat lakukan DRE ke Ezel, terus saya nemuin—“
“Kamu ngelakuin DRE?” sela dr. Yudis sambil mengerutkan alis
tak percaya ke arahku. Dia bahkan menurunkan kacamatanya setengah supaya bisa
melihatku seolah-olah aku ini virus raksasa, dan perlu dia lihat dengan mata
telanjang. “Emang kamu punya kualifikasinya? Kamu kan cuma perawat.”
Aku menarik napas untuk menenangkan diri. “Enggak punya, Dok.
Tapi aku pernah belajar—“
“Ya berarti kamu enggak qualified!” Dr. Yudis
geleng-geleng kepala sambil terkekeh merendahkan. “Perawat baru boleh DRE kalau
ada dokter yang delegasiin tugasnya ke perawatnya. Itu pun harus di bawah
pengawasan dokter. Kamu enggak bisa sembarangan DRE, Rohmat. Kalau ada apa-apa
pas kamu meriksa, sakitnya jadi lebih parah, mau kamu tanggung jawab?”
“Maaf, Dok. Saya cuma bantu aja.”
“Kalau etos kerja kamu kayak gini, jangan-jangan semua pasien
yang ke sini kamu periksain inisiatif tanpa pengawasan dokter, nih?”
“Enggak, Dok. Saya enggak pernah begitu.”
Dr. Yudis mendelik ke arahku, menatap mataku, dengan tatapan
sinis, kemudian dia mendengus kecil dan menggelengkan kepala seperti tak suka. “Terus
apa yang kamu temukan?”
“Prostatnya kayaknya lebih besar dari normal. Terus kayaknya, lobe-nya
asimetris.”
Dr. Yudis terkekeh kecil lagi. Seperti merendahkan. “Emang
kamu tahu di mana prostatnya?” gumam dr. Yudis sambil geleng-geleng kepala. Dia
bangkit dan meraih kotak sarung tangan medisnya. “Ayo ke sana, Pak. Buka
celananya, lalu nungging di pinggir kasurnya, ya. Saya periksa anusnya enggak
apa-apa, ya?”
Dr. Yudis melakukan DRE ke anus Ezel. Aku menunggu di bagian
lain ruangan. Dr. Yudis menarik tirai sehingga aku tak bisa melihat. Mereka
selesai kurang dari satu menit. Dr. Yudis berjalan ke mejanya sambil melepas
sarung tangan dan membuangnya ke tempat sampah. Dia duduk dan mulai mengetik
sesuatu di komputernya. Biasanya ini rujukan untuk obat atau tes lanjutan.
“Ketemu di mana, Mat?” tanya dr. Yudis, tanpa mengangkat
wajahnya dari layar komputer. “Aplikasi, ya?”
“Adiknya teman saya, Dok.”
“Ooohhh .... Kirain kopi darat.”
Aku tak merespons pernyataan itu. Aku hanya tersenyum kecil
dan menunggu.
Setelah beberapa saat, dia menekan enter dan apa pun yang dia
ketik tadi akan masuk ke komputer perawat. Namun karena dia tahu aku perawat di
sini juga, meskipun off-duty, dia langsung berkata kepadaku, “Coba cek
PSA ke atas. Mumpung lagi ada anak-anak lab di sini, coba minta mereka dahuluin
PSA-nya. Kalau hasilnya keluar cepet, sebelum jam 5, bawa ke sini lagi. Bisa,
ya?”
“Terima kasih, Dok.” Kutepuk bahu Ezel dan kuajak dia ke lab.
Kupersingkat saja cerita berikutnya. Aku membawa Ezel
melakukan tes PSA. Yaitu, Prostate-Specific Antigen. Tes untuk menguji
protein yang ada di prostat. Dua setengah jam kemudian, hampir banget menyentuh
jam lima sore, hasilnya masuk ke database. Begitu hasilnya muncul, aku
menarik Ezel lagi ke ruangan dr. Yudis di lantai dua.
Dr. Yudis sudah melepas jas dokternya. Dia sudah bersiap-siap
pulang meskipun ini masih pukul 16.52. Tas Balenciaga yang sering dia bawa ke
klinik sudah tersampir ke bahunya.
Dengan wajah bete, dia duduk lagi di kursinya. “Udah ada
hasilnya?”
“Sudah, Dok.”
“Okeee .... Saya periksa, ya.”
Sejujurnya, aku sudah tahu angkanya. Waktu hasil PSA itu
masuk, aku dengan lancang melihat kiriman hasil dari lab.
Aku menelan ludah di depan komputer, kemudian aku mengajak
Ezel naik ke atas.
Dr. Yudis menatap angka itu untuk beberapa saat.
Nilai PSA-nya 36 ng/mL.
Angka normal berapa?
0 – 4 ng/mL.
Dr. Yudis menatapku terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia
menatap Ezel. “Pak Ezelio ..., hasilnya sudah keluar. PSA-nya agak tinggi, Pak.
Normalnya di bawah empat, tapi ini sudah jauh di atas 10 nanogram/mililiter.”
Dr. Yudis menolehkan layar komputernya agar Ezel bisa melihat.
Ezel menolehnya tetapi kurasa Ezel tak mengerti.
“Saya jadwalkan ultrasound sama biopsi ya, Pak.”
Ezel hanya menoleh ke arahku sebentar. Dia masih enggak paham
apa yang dikatakan dr. Yudis.
Aku paham, tapi aku enggak mau dianggap lancang lagi oleh dr.
Yudis. Jadi, di bawah meja, aku hanya menggenggam tangan Ezel, mencoba
menenangkannya.
“Bapak ada BPJS, enggak?” tanya dr. Yudis lagi.
Ezel mengangguk.
“Mungkin bisa minta bantuan Rohmat di sini, ajukan BPJS aja.
Soalnya TRUS sama biopsi prostat lumayan mahal, Pak. Bisa sampai 2 juta. Di
kita juga ada, bisa di-cover BPJS. Saya lihat di sini Bapak daftar
sebagai pasien umum. Khawatir biayanya terlalu berat—“
“Umum saja,” kata Ezel kemudian. Ezel meremas tanganku lebih
kuat. “Enggak apa-apa, Dok.”
“Mau umum saja? Boleeehhh .... Nanti saya buatkan surat
rujukannya, ya.” Dr. Yudis pun mengetikkan sesuatu di komputernya. Sambil
mengetik, sambil di mengoceh dengan dagu sedikit terangkat, persis boti
congkak. “Yang pasti, kalau ngelihat hasilnya kayak begini, sih ... PSA tinggi,
ada pembengkakan di prostat ..., ini mah kanker, Pak.”
“Tunggu biopsi dulu aja, Dok,” sergahku seketika.
“Tapi saya sih yakin ini kanker,” balas dr. Yudis tanpa
menoleh ke arahku. Nadanya terdengar tak suka.
Soalnya, hasil PSA itu bukan menandakan adanya kanker. Itu
hanya menandakan ada sesuatu di prostatnya. That’s it. Untuk tahu kanker
atau bukan, nanti setelah biopsi.
Aku sudah akan membuka mulut untuk membantah kata-kata dr.
Yudis, tetapi aku merasa tidak punya kuasa melakukan itu. Soalnya, informasi
yang kutahu hanya berdasarkan risetku ke jurnal-jurnal saja. Bagaimana pun, dr.
Yudis lebih berhak dan berkapasitas untuk menentukan apakah itu kanker atau
bukan.
“Yaaa ... tapi kita lihat aja nanti, yaaa ..., kalau patologi
udah ngasih konfirmasi. Cuma, untuk jaga-jaga ..., siap-siap aja, ya.”
Ezel tak mengatakan apa pun lagi setelah itu. Ketika melakukan
pembayaran di kasir, aku mencoba menghiburnya. “Diskon 35%, lho! Hehehe ...
pake diskon pegawaiku. Jadi, aku sama keluargaku bisa dapat diskon kalau
berobat di sini. Aku tadi masukin kamu sebagai adikku.”
Ezel hanya mengangguk sambil memainkan hape-nya. Lalu,
dia men-scan QRIS dan membayar.
Selama duduk di angkot, dia mengambil kursi paling belakang,
dekat jendela besar. Pandangannya keluar. Tanpa ekspresi. Menatap apa pun yang
terjadi di belakang angkot kami.
Tatapannya tidak kosong. Tatapannya berkeliaran ke sana
kemari. Melihat burung-burung, melihat motor-motor yang menyusul angkot,
melihat aktivitas pasar yang kami lewati, melihat langit biru, melihat pesawat
militer yang tampaknya sedang latihan untuk persiapan pembukaan peserta didik
baru, dan lain sebagainya.
“Kamu mau makan dulu?”
Ezel menggelengkan kepala.
“Aku traktir.”
Ezel menggelengkan kepala lagi.
Kami turun di depan gang kosan Ezel dan aku menemaninya sampai
ke depan kamar. Aku masih belum mendengar suara Ezel hingga di titik itu.
Kata-kata pertama dari Ezel adalah, “Aku sebentar lagi mati,
ya?”
“Enggaaakkk ...! Kamu masih bisa hidup panjang, Zel.”
“Katanya aku kena kanker.”
“Ck! Belum juga dicek! Ah, palingan juga BPH itu mah.
Atau prostatitis. Bisa diobatin. Bisa sembuh. Semangat, ya.”
Ezel mengangkat tangan untuk memasukkan kunci ke lubangnya.
Namun tangannya bergetar.
Alih-alih masuk ke lubangnya ....
CRIIING!
Kunci itu jatuh ke lantai, bergemerincing.
Diikuti dengan Ezel jatuh terlutut di depan pintu kamarnya.
Bahu Ezel berguncang.
Isak tangis tersengar sendu, keluar dari mulutnya.
....
Kuhabiskan Minggu malam itu menginap di kosan Ezel.
Menemaninya melewati berita buruk yang baru saja diterimanya
beberapa saat lalu.
[ ... ]
29. Hilih, Kintil! (Short Version) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 30B. Mas Kacang Biru (Shorter Version)
Halo, Kak!
Seperti biasa,
kalau aku menerbitkan something free, maka akan ada something berbayar yang
terbit, ya! Kali ini, yang terbitnya adalah Spinoff Pembaca Halo, Dek! Silakan
cek speknya di bawah. Kalau Kakak suka dengan idenya, silakan hubungi aku untuk
melakukan pembelian, ya!
Spinoff
05
Judul: Now You See Me
Isi: 11.500 kata dan 97 halaman
Harga: Rp25.000,-
Tokoh: Fian, Rohmat, dan Andry
Adegan
intim: Cuckold,
worship, oral, anal
Top: Andry
Bottom: Rohmat
Timeline: Satu tahun setelah kepergian Fian
ke Morotai, pada akhir perjanjian antara Andry dan Rohmat.
Universe: Ending Part 41-42 Side Sensory
Blurb:
Fian
tak pernah paham mengapa hukuman lima tahunnya di Morotai dihentikan. Dalam
enam bulan, tahu-tahu Fian dipindahkan ke Bali. Enam bulan berikutnya, Fian
dikembalikan ke Jakarta. Tepat satu hari sebelum keberangkatan Fian ke Halim,
tiba-tiba Rohmat ada di Bali bersama Andry.
Mereka
menjelaskan bahwa selama Fian pergi, Rohmat dan Andry pacaran. Hari itu mereka
akan putus. Namun, sebelum mereka putus, mereka akan bercinta untuk kali
terakhir. Dan Fian harus menonton seluruh adegan itu.
Cuplikan:
....
“Oke, kalau gitu kita mulai sekarang,” ujar Andry sambil
berjalan menghampiri Rohmat. Andry menarik Rohmat ke dalam dekapannya,
menempelkan tubuh telanjang Rohmat ke tubuh telanjangnya. Rohmat sampai harus
mendongak menatap wajah Andry di atasnya. “Karena ereksi saya harus dirangsang,
Rohmat akan menstimulasi saya sampai saya ‘berdiri’ kayak kalian berdua.”
Lalu, Andry menundukkan wajahnya dan memagut bibir Rohmat.
Cup.
Fian memejamkan matanya. Fian tak mau melihatnya. Hati Fian
kembali bergemuruh melihat pemandangan itu.
“Buka matanya, Fian,” tegur Andry untuk kesekian kali.
Butuh waktu bagi Fian untuk membuka matanya. Ketika dia
benar-benar membukanya, kedua pasang bibir itu masih beradu dan melumat satu
sama lain.
Andry melirik ke arah Fian, merasa puas bisa melumat bibir
kekasih Fian, di depan Fian.
Rohmat hanya bisa pasrah melesakkan lidahnya ke dalam mulut
Andry, fokus membuat Andry keenakan. Kedua tangan Rohmat dikalungkan ke leher
Andry. Rohmat berjinjit kecil agar bisa mencapai bibir seksi itu.
Andry meremas pantat Rohmat dengan kedua tangannya. Bahkan,
menguak pantat itu ke arah berlawanan agar bool Rohmat terekspos.
Setiap bool itu tersentuh semilir angin, Rohmat akan mendesah,
“Hmmmmmmppphhh ....”
Fian cemburu bukan main. Hatinya benar-benar dongkol.
“Aaaaahhh ....”
“Hmmmmmmppphhh ....”
Rohmat mendesah atas rasa nikmat didekap di bawah udara hangat
Bali. Keenakan karena tubuhnya dirangkul tubuh tentara kekar yang sangat
maskulin. Belum lagi permainan bibir dan lidah Andry makin mantap, tidak
seperti kali pertama mereka berciuman di atas pesawat jet pribadi itu. Andry
mulai tahu bagaimana mengenaki mulut lawannya.
Andry juga mendesah. Lantang. “Aaaaaahhh .... Hmmmmmmppphhh
....” Seolah-olah sengaja agar Fian bisa mendengar betapa nikmatnya berciuman
dengan Rohmat.
Fian mencoba menatap kedua lelaki di depannya dengan tatapan
kosong.
Andry melebarkan pantat Rohmat dengan kedua tangannya, meremas
hingga Rohmat melenguh.
Dengan pasrah, Rohmat melesakkan lidahnya lebih dalam ke mulut
Andry, membiarkan bibirnya dikatup lembut oleh bibir Andry yang kenyal. Kedua
puting Rohmat menggesek tubuh telanjang Andry yang kulitnya licin.
Ketiga orang itu mulai mengilap oleh peluh di bawah matahari
Bali yang hangat.
“Hmmmmmmppphhh ....”
Mata Rohmat memutar ke atas. Dia tak bisa membohongi dirinya
sendiri bahwa kecupan Andry benar-benar nikmat. Rangkulannya ke leher Andry
makin mengerat.
Andry mencaplok bibir Rohmat seperti memagut apel. Dia pagut
berkali-kali hingga bibir Rohmat basah.
“Aaaaaahhh ....”
Tubuh Rohmat mulai lemas. Dia menyandarkan tubuhnya ke tubuh
kekar jantan itu karena tak sanggup lagi berjingkat dan berdiri. Kulitnya
menempel ke kulit kenyal yang lembap oleh peluh. Dadanya bisa merasakan puting
hitam Andry mengeras dan menggesek ke kulitnya.
Setelah cumbuan bermenit-menit di bawah matahari, Andry pun
melepaskan bibir Rohmat. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengangkat satu
lengannya ke atas, memamerkan ketek berbulu tipis yang mulai basah oleh
hangatnya udara.
Rohmat memandang takjub bulu ketek yang menjulur di ketek
lebar dan kekar itu.
Andry menoleh ke arah Fian.
Fian hanya bisa menelan ludahnya. Matanya berkaca-kaca. Fian
ingin juga Rohmat menikmati keteknya, seperti dulu. Sewaktu Fian melihat Rohmat
membenamkan wajahnya di ketek Andry, dia mendengar dirinya sendiri menggeram,
“Fffuuuuuuccckkk ....”
....
[ ... ] Seperti
biasa, lakukan pembelian melalui WhatsApp, email, atau Telegram. Masuk ke lynk.id/bocahtitipan
untuk mendapatkan kontaknya. Terima kasih banyak sudah membeli! Semoga suka
dengan spinoff-nya!
.png)
Komentar
Posting Komentar