(HD) 30A. Lihat Burung Abang (Shorter Version)




Halo, Kak!

Kayaknya aku mau nyamperin Ida untuk konsultasi. Begitu aku bangun pagi keesokan hari, aku mulai overthinking, kok bisa aku pingsan terus setiap lihat Fian telanjang? Seenggak sanggup apa sih diriku lihat kontol Fian? Aku melihat ratusan kontol selama satu minggu terakhir, tetapi hanya satu kontol yang membuatku lemas tak berdaya, sampai-sampai aku tak sadarkan diri.

Aku mandi pagi sekali dan langsung turun ke bawah untuk menemui Ida.

Untungnya, Ida lagi enggak ke mana-mana. Dia juga lagi enggak menangani klien. Ketika kubuka pintu, Ida sedang mengisap vape sambil mendengarkan musik dari boyband Korea yang belum pernah kudengar.

“Masuk, Cong! Gue lagi dengerin album barunya BoyNextDoor. Enak banget, gila. Berondong-berondong.”

“Elo bahas musiknya atau bahas personelnya?”

“Orangnya, lah! Kagak ngerti gue lagunya! Hahaha ...!” Ida tergelak dalam tawa. “Gue lihatin video mereka, ya Tuhan lucu-lucu banget ini berondong. Mulus-mulus mukanya. Putih. Pasti kontolnya juga putih. Pada belum disunat.”

Aku menghempaskan pantatku di tepi tempat tidur Ida. Kukumpulkan keberanian untuk berkata kepada Ida bahwa aku ingin terapi. “Eh, Da ..., konsul ama elo tuh bayar berapa?”

“Buat siapa?”

“Buat gue.” Lalu aku tersenyum lebar sambil berharap Ida berkata, “Gratis.”

Double price sih kalau elu.”

“ANJING!” Kulempar cangcut Ida yang disusun rapi di atas tempat tidur. Kayaknya Ida baru selesai ngeluarin laundry, lalu menyimpan dulu pakaian bersihnya di situ.

Ida balas melempar cangcut itu balik ke mukaku.

“Ini baru gue keluarin, woy!”

“Kenapa jadi double price, anjing?!”

“Karena elo homo, dan gue kagak mau ngewe ama elo!”

“Gue juga kagak mau ngewe ama elo, anjing!” Kulempar bantal Ida ke mukanya, hingga Ida hampir terjengkang ke belakang.

“Aduh!” Ida bangkit untuk menjambak rambutku.

Aku balas menjambak rambutnya dan kami saling mengumpat satu sama lain.

“Gue jadi lurus juga gue milih-milih, anjing!”

“Kalau gue harus ngewe ama homo, kagak mau gue ngewe ama boti!”

“Heh! Gue vers, anjing! Kayak yang memek elo lebih enak dari bool gue aja, anjing!”

“Halah! Palingan bool elo udah melar disodok-sodok pagar depan!”

“Goblok! Gimana caranya, anjing!”

“Ya lu manjat, lah! Lu ngangkang di pagarnya, masukin batang paling ujung ke bool, elo!”

“Kagak mungkin, anjing! Itu batangnya segede selongsong mahasiswa teknik!”

“Makanya!”

Kami melakukan itu sambil jambak-jambakan.

Ujung-ujungnya kami capek dan hanya bisa terkapar kelelahan di atas tempat tidur Ida. Laundry bersih Ida yang tadi ditumpuk rapi, kini berceceran ke mana-mana. Kami telentang dengan kepala beradu satu sama lain. Napas kami memburu.

Setelah beberapa saat, dia berkata, “Ya udah ... hoh ... hoh ... kalau kagak ada ngewe-nya ... kita ketemu di ... Starbucks .... Yang deket alun-alun ....”

Hoke ....

Hoke ....


[ ... ]


Pukul dua belas siang, aku dan Ida bertemu di Starbucks dekat alun-alun kota.

“Jadi ini soal apa?”

Kami duduk di pojokan Starbucks. Agak jauh dari kebanyakan orang yang laptopan di meja besar di tengah-tengah ruangan. Tak ada siapa pun di meja-meja sebelah kami. Jadi dengan suara normal aku menjawab, “Soal Fian.”

“Kenapa? Elo udah ngewe ama Fian?”

“Belum. Tapi mungkin enggak akan pernah ngewe kalau gue masih punya problem ini.”

“Apa masalahnya?”

Kuceritakan apa yang kualami setiap kali melihat Fian telanjang. Kuceritakan bahwa aku sudah melihat kontol itu, tapi aku enggak bisa bertahan lama. Aku selalu lemas tak berdaya kalau Fian benar-benar telanjang di depanku.

Setelah aku selesai bercerita, Ida berkata, “Itu ada namanya, Shay. Bagian dari penyakit kejiwaan itu. Bentar ... gue cek dulu.” Setelah meng-Google sekian lama, Ida akhirnya berkata, “Oh! Oh! Ini, gue nemu ... mungkin elo kena vasovagal syncope. Sebuah kejadian, di mana—“

“Gue udah tahu soal itu. Bisa applied ke kejadian gue di penelitian kemaren, tapi gue rasa ..., bukan itu, Da.”

“Bukan, ya?”

“Beberapa kali gue hampir lihat dia telanjang, tapi everything was fine. Kalau pingsan kemaren mungkin karena gue syok aja gue akhirnya ngelihat kontolnya Fian. Gue yakin ada penjelasan yang lebih tepat untuk itu ....”

“Hmmm ....” Ida menggulir lagi ponselnya. “Atau mungkin elo mengidap Gymnophobia?”

“Apa itu?”

“Ketakutan atau kecemasan berlebihan terhadap ketelanjangan.”

Aku menyipitkan mata tak percaya kepada Ida. “Mana mungkin gue takut ama ketelanjangan. Cita-cita hidup gue pas pensiun adalah punya rumah yang isinya cowok-cowok kekar telanjang semua seliweran. I love naked men! Gue menikmati semua proses penelitian di lanud itu waktu gue ngecekin bool calon-calon taruna.”

“Enggak harus ke semuanya, Cong,” balas Ida, mencoba membaca lagi ponselnya. “Bisa ke particular person aja. Ke satu orang. Cuma ke dia elo takut lihat orangnya telanjang.”

“Enggak. Enggak mungkin,” bantahku. “Sejak gue ketemu Fian di kosan, yang gue pengin di hidup ini cuma lihat Fian telanjang. Enggak ada lagi. Anehnya, sewaktu Fian bener-bener telanjang, gue malah enggak bisa ngadepin itu.”

Ida menurunkan ponselnya. Dia seperti teringat sesuatu. “Gue punya satu kesimpulan yang mungkin belum tentu benar, tapi siapa tahu bisa bantu elo.”

“Apa?”

Ida menghela napas panjang. “Elo cinta ama si Fian.”

Aku menyeruput dulu minumanku sambil mencerna kata-kata itu. “Well ... at this point ..., gue enggak akan bisa bantah itu, sih. Gue emang pengin sama Fian. Tapi gue pernah pacaran sebelumnya. Gue cinta ama pacar gue. Tapi gue enggak segininya, Da. Enggak sampai lebai pake pingsan segala.”

“Mungkin karena Fian ini perfect, dan Fian ini ‘memungkinkan’ untuk jadi pacar elo.”

“Emang mungkin, ya?”

“Tapi maksud gue gini,” lanjut Ida, “elo akui aja ... orang kayak Fian itu, enggak bakal ada di komunitas elo.”

“Hah?”

“Di Indo maksud gue. Mungkin homo-homo di Amrik atau Eropa sih kayak Fian semua bentukannya. Tapi di sini, yang mukanya kayak dia, badannya kayak dia, personality-nya kayak dia, kontolnya kayak dia ..., bagai menemukan bulu jembut di antara jerami, enggak sih?”

Aku memikirkan perkataan itu. “Maybe?”

“Fian itu ultimate husband enggak, sih? Mr. Right. Dan karena dia available juga di pasar homo-homo, jadinya berasa impossible.”

“Maksud elo gimana, sih? Gue enggak paham.”

Ida menyeruput dulu minumannya, lalu menarik napas panjang. “Maksud gue ..., elo terdoktrin ilusi yang elo bikin sendiri. Elo menganggap Fian lelaki alpha yang impossible elo dapatin. Tapi kenyataannya, jalan menuju bulu Roma terbuka lebar-lebar. Fian enggak nunjukin tanda-tanda impossible. Alhasil, reaksi badan elo kacau. Elo pikir melihat kontol Fian adalah sebuah ketidakmungkinan ..., eh ternyata elo beneran lihat dengan nyata, dengan mata kepala kontol elo sendiri. Di situ elo kolaps!”

Aku terpana mendengar penjelasan itu. Mungkin itu hanya cocoklogi Ida saja, tetapi aku mendengarkannya dengan saksama. Soalnya, sedikit banyak, aku setuju pada pemahaman tersebut. Hingga aku bertemu Fian kali pertama tempo hari, aku selalu menganggap orang kayak Fian itu enggak akan pernah ada dalam perjalanan hidupku.

Pertama, Fian muncul dengan seragam tentara. Itu sudah bye-bye pertama.

Kedua, badan Fian kekar. Itu menjadi bye-bye kedua, karena aku percaya lelaki dengan badan kekar hasil nge-gym bertahun-tahun enggak akan mau sama lelaki yang badannya biasa-biasa saja.

Ketiga, muka Fian ganteng. Literally ganteng. Manly. Enggak ada feminin-femininnya. Alisnya tebal. Rahangnya tegas. Sorot matanya tajam. Rambutnya cepak. Ini bye-bye ketiga karena enggak mungkin lelaki ganteng, misal gay, mau dengan muka kampung berkulit lembut karena kebanyakan skincare.

Keempat, Fian straight. Atau saat ini kupikir straight. Karena dia kan ada di kosan itu untuk ketemu Ida. Dan Ida ngasih intronya seakan-akan mereka mau ngewe. Ya sudah, itu bye-bye terakhir untukku menyimpulkan bahwa Fian itu hanya mimpi di siang bolong.

Namun sejak aku menjalin silaturahmi dengan Fian, justru Fian menggelitik sukmaku karena dia seperti menunjukkan tanda-tanda mau, tapi enggak benar-benar mau. Jadinya tubuhku bingung.

“Mungkin elo benar,” kataku akhirnya setelah melamun cukup lama.

“Bener?” Ida membelalak kecil. “Ya udah kalau gitu elo pulang sekarang naek Gojek, ya!”

“Anjing! Gue langsung diusir gitu aja?”

“Iyalah! Gue mau ketemu klien gue, Cong. Klien yang bayar ini mah. Makanya gue ngajak elo ke Starbucks. Dia mau ketemuan di sini biar berasa business meeting. Habis ini kita mau jalan ke hotel di sebelah sono, tuh, di depan alun-alun.”

“Lonte biadab!” Aku mengumpat. Tapi aku maklum. Kuambil ponselku yang ada di atas meja, lalu bersiap untuk pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, aku duduk diam dan menatap Ida dengan serius. “Gue tahu elo enggak bisa bocorin terapinya Fian ke gue. Tapi boleh enggak elo jawab satu pertanyaan gue yang ini.”

Ida memutar bola mata. “Enggak kok, dia enggak ada disfungsi ereksi. Dia bisa ngaceng.”

“Itu bukan pertanyaan gue, anjing!” Tapi aku jadi berdebar-debar juga. Jika benar Fian bisa ngaceng, bakal segede apa, bangsat?!

Disodomi dari bool, tembus ke tenggorokan atau gimana?!

“Elo mau nanya apa?”

“Dari hasil obrolan kalian, tanpa elo ngasih tahu apa yang perlu kalian obrolkan ..., kira-kira ada enggak kemungkinan gue sama Fian.”

“Kemungkinan pacaran?”

“Iya.”

Ida malah menyeruput minumannya sambil mengibaskan rambut dengan manja. Senyumannya begitu lebar. Lalu, Ida mengedipkan mata. “Kalian berdua lagi berjalan ke arah sana, Cong. Sama-sama. Jadi ... jangan berhenti melangkah.”


[ ... ]


Munafik kalau aku enggak kegirangan mendengar itu.

Saking gembiranya, aku naik angkot ke arah kosan, tapi aku enggak turun depan kosan.

Aku malah turun depan gang menuju kosan Ezel.

Lalu, aku jalan menyusuri gang itu. Menuju kosan Ezel. Bahkan aku masuk ke kosannya. Menyapa Pak Guntur yang sedang akan mengantar istrinya entah ke mana.

“Sore, Pak!” sapaku ramah.

Dengan salah tingkah dan gugup, Pak Guntur hanya menunduk. “So ... sore.”

Tahu-tahu aku masuk ke area kosan dan naik ke lantai dua.

Bukan. Aku ke Ezel bukan untuk pamer bahwa aku dan Fian mungkin akan bersama pada akhir kisah novelku ini.

Tapi karena waktu di Starbucks tadi, Ezel me-WhatsApp-ku.

Mas Roh, boleh temani aku?

Aku mengetuk pintu kamarnya dan disambut dengan sangat cepat. Ketika pintu terbuka kutemukan Ezel sudah berdandan rapi. Dia mengenakan kemeja, celana panjang, jaket, bahkan sudah mengenakan bedak. Aku bisa tahu karena ada bagian-bagian putih bedak yang belum rapi di pinggiran wajahnya.

“Kita mau ke mana?” tanyaku, sambil mengambil tisu dan mengelap bedak-bedak itu.

“Rumah sakit,” jawabnya. Ezel mengambil sepatu dan membawanya ke dalam.

“Rumah sakit? Kamu sakit?”

“Aku mau periksa yang Mas Roh bilang kemarin.”

“Oh.”

Aku terpaksa masuk ke dalam dan duduk menunggu di sana. Kamar Ezel lumayan berantakan. Ada banyak bekas tisu di atas tempat tidurnya. Jadi dengan iseng aku bertanya, “Habis coli?”

“Iya,” jawabnya jujur. “Abang baru pulang dari sini barusan.”

“Bang Erick?”

Ezel mengangguk. “Abang nginep di sini semalaman. Aku keluar sampai tiga kali.”

What the fuck?! Ezel benar-benar bisa kumasukkan ke grup Facebook Fantasi Sedarah yang pernah kulihat kapan hari.

“Habisnya dia enggak pake baju tidurnya,” kata Ezel membela diri sambil memasang kaus kaki perlahan-lahan. “Aku dibolehin pegang nenennya lagi.”

“Sambil kamu ngocok itu tuh?”

“Enggak.” Ezel menggelengkan kepala. “Keluar sendiri pas aku mainin nenen Abang.”

Ezel lalu berbalik dan mengambil satu tisu. “Tapi ....” Dia memberikanku tisu bekasnya mengelap pejuh.

Aku berjengit jijik, tetapi aku tetap melihat tisu yang dia sodorkan.

Tisu itu agak-agak berwarna pink.

Pejuh bercampur darah.

“Warnanya enggak putih?” tanyaku.

Ezel mengangguk. “Tadi Abang mandi enggak tutup pintu. Aku jadi terangsang.”

“Kamu ngintip?”

Ezel menggelengkan kepala. “Dibuka lebar-lebar. Jadi aku otomatis lihat.” Ezel menghela napas panjang. “Udah lama aku enggak lihat burungnya Abang. Sambil dia mandi sambil ngobrol. Aku enggak kuat. Waktu dia pipis ke toilet, aku ‘keluar’. Aku suka banget lihat burung Abang ngeluarin air pipis.”

“IYUH!” seruku jijik. “Itu kakakmu sendiri!”

“Iya ... tapi rasa itu enggak bisa aku tahan.”

Menjijikkan.

Ezel selesai dengan sepatunya. Dia berdiri dan mengambil tas mungilnya. Tas Zara yang mungkin hanya bisa diisi satu ponsel dan uang recehan. Mungil sekali. “Ayo Mas Roh!”

“Bentar dulu. Kita mau ke mana?”

“Rumah sakit. Untuk periksa yang Mas Roh bilang itu.”

“Pipismu sering enggak?”

Ezel mengangguk kecil. “Semalam aku bolak-balik pipis. Aku pikir karena aku terangsang lihat Abang. Tapi pipisku agak-agak ngilu di bagian selangkangan.”

“Kamu punya BPJS?”

“Aku enggak mau pakai BPJS.”

“Kenapa?”

“Takut ketahuan keluarga aku. Katanya bisa kelihatan ya riwayatnya?”

Aku mengangguk mengiakan. “Iya, sih. Semua orang yang terintegrasi sama BPJS-mu bisa lihat riwayatnya di mobile-JKN. Tapi kalau enggak pake BPJS, bisa mahal banget, lho. At least kamu harus datang ke urologis langsung.”

“Aku pakai uang sendiri aja.” Ezel membuka ponselnya dan menunjukkan saldo bank BNI-nya. “Segini cukup enggak?”

Mataku membelalak bulat. Ada uang sekitar 37 juta rupiah di situ.

Wow. Anak orkay memang.

“Aku enggak suka jalan-jalan. Enggak suka jajan. Semua uang saku aku simpan. Paling cuma bayar kosan sama makan di warteg. Jadi ... uang aku kekumpul segini. Nabung dari SMA.”

“Buat apa kamu ngumpulin uang sebanyak itu?”

Ezel menunduk malu-malu. Mukanya memerah, tetapi dia tersenyum kecil. “Tadinya ... tadinya aku pengin bayar Yusuf Hendratno, supaya aku bisa pegang burungnya. Ada orang di internet bilang, harganya sepuluh juta buat pegang burung Yusuf Hendratno.”

“Ucup yang selebgram itu?! Mana mungkin!” Aku ngakak sambil geleng-geleng kepala. “Mana mau dia dibayar segitu. Mana mau dia melakukan itu. Lagian orang di internet kamu percaya!”

“Ya maaf.” Ezel memasukkan ponselnya ke dalam tas Zara mungil itu. “Tapi kayaknya uangku harus kupakai buat berobat juga. Ya udah, gapapa. Toh, aku sudah lihat burungnya Abang. Udah cukup.”

“Bang Erick juga sama gantengnya sama si Ucup selebgram itu. Kurasa malah lebih ganteng kakakmu dibandingkan si Ucup. Badannya memang enggak sebagus si Ucup, tapi kan kakakmu tentara. Bisa nerbangin pesawat jet.”

“Tapi masih lebih ganteng Mas Raf.”

“Iyaaa ... kalau itu enggak usah didebat. Ya udah. Yuk!” Aku bangkit berdiri dan mendului Ezel keluar. “Kita ke klinikku aja. Jadi kalau hasilnya aneh-aneh, aku bisa bantu simpan riwayatnya supaya enggak ketahuan siapa pun.”


[ ... ]


Di klinikku ada tiga dokter urologi yang praktik. Aku jarang bertemu ketiga dokter urologi itu. Perawat untuk praktik spesialis ada di lantai dua, sementara aku aktifnya di lantai satu gedung. Tapi aku kenal mereka semua. Di acara-acara klinik seperti outbond atau makan malam bersama karena yang punya klinik berulang tahun, aku bertemu mereka semua. Dari ketiganya, aku paling benci dengan dr. Yudis.

Dia ngondek. Dan dia pernah nemu aku di aplikasi. Di Grindr, Bumble, Tinder, Growl, termasuk Hornet. Aku kaget waktu dia tiba-tiba kirim chat dengan profil kosong. Biasanya homo lain akan bilang hi diikuti dengan t/b atau host? Dia mengirimku pesan di Grindr, Kamu si Rohmat yang jaga di klinik lantai 1 kan? Yang suka hang out ama cewek-cewek haha-hihi pas makan siang di lapangan depan?

Jantungan lah aku karena si profil kosong ini tahu detail soal aku. Setelah kutanya dia siapa, dia mengaku sih kalau dia Yudis. Dokter urologi kami. Tapi setelah kutanya kabarnya di situ, dia enggak menjawabku lagi. Baru setelahnya aku menemukan dia di Bumble dan Tinder, lalu ada foto yang sama di Growl dan Hornet yang menunjukkan foto setengah badan, dari dada ke paha, yang menunjukkan jas dokter dan kemeja kotak-kotak yang sangat kukenal. Itu bajunya dr. Yudis.

Di klinik, kalau berpapasan, aku akan tersenyum sopan kepadanya, atau menyapanya selamat pagi selamat sore, tetapi enggak pernah duduk bareng untuk ngobrolin apa pun. Soalnya, dia salah satu dokter yang judes dan nyebelin di klinik.

Berasa cantik banget setara Puteri Indonesia mungkin, ya.

Nah, aku enggak hafal siapa yang sedang praktik Minggu sore ini. Harapanku sih bukan dr. Yudis. Sepanjang perjalanan, di angkot, aku berdoa agar dr. Stella atau dr. Handoko yang praktik saat ini. Begitu turun angkot aku agak berlari masuk ke lobi, meninggalkan Ezel di belakangku, hanya untuk menyapa perawat di meja resepsionis dan bertanya siapa dokter urologi yang sedang berjaga.

“Dr. Yudis yang ada di atas, Mat. Udah dari pagi,” kata Marisa, perawat yang spesialisasinya memang weekend. Tapi aku kenal dia karena kadang-kadang dia meng-cover perawat-perawat weekday.

Bahuku melorot lemas.

Sial.

Dengan pasrah, kubantu Ezel melakukan registrasi. Bahkan, aku melakukannya sendiri. Kuambil alih komputer Marisa dan kumasukkan data Ezel dengan cepat sembari mencari penanganan termurah yang bisa Ezel bayar.

“Ayo Zel!” kataku sambil mengajaknya naik ke lantai dua. Nomor antrean sudah kubuat. Biaya pemeriksaan pun kukurangi 35% menggunakan diskon pegawaiku. Sesampainya di atas, nama Ezel langsung dipanggil lewat speaker. Ada beberapa manula dan pasien lain menunggu di area tunggu pasien dokter spesialis.

Kuajak Ezel melakukan pengecekan tekanan darah dan suhu tubuh, lalu kubawa dia masuk ke ruangan dr. Yudis.

Dokter ngondek itu sedang menelepon ketika kami masuk. “Iya, Nek. Gue juga kagak kebagian. Gila-gilanya mereka. Hahaha. Udah dulu, ya. Gue ada pasien. Cuuusss ....”

“Duduk di sini,” titahku ke Ezel.

Ketika aku hendak pergi, Ezel tiba-tiba menyambar lenganku. Dia menoleh dengan alis berkerut, memintaku tidak pergi.

“Gapapa, Zel. Aku tunggu di luar, ya.”

“Loh! Lagi masuk, Mat?” sapa dr. Yudis dengan nada suara ketus.

Ingin sekali kujawab, “Anda buta, ya? Pake kaus dan celana jeans begini dianggap lagi jaga?” Namun tentu aku tak mengatakan itu. Dengan senyum palsu aku menjawab, “Ngantar teman aja, Dok.”

“Ooohhh .... Gimana di lanuuuddd ...?” tanyanya dengan nada menyindir. Dia tidak melihatku saat mengatakan itu. Dia sibuk membuka laci dan mencari sesuatu. Mungkin berkas untuk pasien. “Enak ya meriksa calon-calon tentaraaa ...?”

“Lumayan capek, Dok.” Aku tersenyum lebar hingga pipiku terasa lelah.

“Capek apa sukaaa ...?” Dr. Yudis menyunggingkan senyum sebelah. Namun dia tak menunggu reaksiku. Dia langsung menatap Ezel. “Selamat sore, Bapak. Namanya ... Ezelio?”

“Iya.”

“Si Rohmatnya sudah bisa dilepas, Pak. Enggak perlu nunggu di sini dia.”

Ezel menggelengkan kepalanya. “Saya pengin Mas Roh di sini.”

“Mas Roh?” Dr. Yudis cekikikan kecil. Dia mendelik ke arahku, melihatku dari bawah, ke atas, lalu ke bawah lagi. “Ya udah. Terserah. Ada keluhan apa, nih?”

“Mas Roh yang akan jelaskan,” kata Ezel.

Sialan, lu.

“Nanti Ezel yang melengkapi ya, Zel?” kataku ke Ezel. “Kemaren Ezelio ini sempat mengeluh banyak pipis. Terus sewaktu masturbasi, spermanya agak pink. Saya sempat lakukan DRE ke Ezel, terus saya nemuin—“

“Kamu ngelakuin DRE?” sela dr. Yudis sambil mengerutkan alis tak percaya ke arahku. Dia bahkan menurunkan kacamatanya setengah supaya bisa melihatku seolah-olah aku ini virus raksasa, dan perlu dia lihat dengan mata telanjang. “Emang kamu punya kualifikasinya? Kamu kan cuma perawat.”

Aku menarik napas untuk menenangkan diri. “Enggak punya, Dok. Tapi aku pernah belajar—“

“Ya berarti kamu enggak qualified!” Dr. Yudis geleng-geleng kepala sambil terkekeh merendahkan. “Perawat baru boleh DRE kalau ada dokter yang delegasiin tugasnya ke perawatnya. Itu pun harus di bawah pengawasan dokter. Kamu enggak bisa sembarangan DRE, Rohmat. Kalau ada apa-apa pas kamu meriksa, sakitnya jadi lebih parah, mau kamu tanggung jawab?”

“Maaf, Dok. Saya cuma bantu aja.”

“Kalau etos kerja kamu kayak gini, jangan-jangan semua pasien yang ke sini kamu periksain inisiatif tanpa pengawasan dokter, nih?”

“Enggak, Dok. Saya enggak pernah begitu.”

Dr. Yudis mendelik ke arahku, menatap mataku, dengan tatapan sinis, kemudian dia mendengus kecil dan menggelengkan kepala seperti tak suka. “Terus apa yang kamu temukan?”

“Prostatnya kayaknya lebih besar dari normal. Terus kayaknya, lobe-nya asimetris.”

Dr. Yudis terkekeh kecil lagi. Seperti merendahkan. “Emang kamu tahu di mana prostatnya?” gumam dr. Yudis sambil geleng-geleng kepala. Dia bangkit dan meraih kotak sarung tangan medisnya. “Ayo ke sana, Pak. Buka celananya, lalu nungging di pinggir kasurnya, ya. Saya periksa anusnya enggak apa-apa, ya?”

Dr. Yudis melakukan DRE ke anus Ezel. Aku menunggu di bagian lain ruangan. Dr. Yudis menarik tirai sehingga aku tak bisa melihat. Mereka selesai kurang dari satu menit. Dr. Yudis berjalan ke mejanya sambil melepas sarung tangan dan membuangnya ke tempat sampah. Dia duduk dan mulai mengetik sesuatu di komputernya. Biasanya ini rujukan untuk obat atau tes lanjutan.

“Ketemu di mana, Mat?” tanya dr. Yudis, tanpa mengangkat wajahnya dari layar komputer. “Aplikasi, ya?”

“Adiknya teman saya, Dok.”

“Ooohhh .... Kirain kopi darat.”

Aku tak merespons pernyataan itu. Aku hanya tersenyum kecil dan menunggu.

Setelah beberapa saat, dia menekan enter dan apa pun yang dia ketik tadi akan masuk ke komputer perawat. Namun karena dia tahu aku perawat di sini juga, meskipun off-duty, dia langsung berkata kepadaku, “Coba cek PSA ke atas. Mumpung lagi ada anak-anak lab di sini, coba minta mereka dahuluin PSA-nya. Kalau hasilnya keluar cepet, sebelum jam 5, bawa ke sini lagi. Bisa, ya?”

“Terima kasih, Dok.” Kutepuk bahu Ezel dan kuajak dia ke lab.

Kupersingkat saja cerita berikutnya. Aku membawa Ezel melakukan tes PSA. Yaitu, Prostate-Specific Antigen. Tes untuk menguji protein yang ada di prostat. Dua setengah jam kemudian, hampir banget menyentuh jam lima sore, hasilnya masuk ke database. Begitu hasilnya muncul, aku menarik Ezel lagi ke ruangan dr. Yudis di lantai dua.

Dr. Yudis sudah melepas jas dokternya. Dia sudah bersiap-siap pulang meskipun ini masih pukul 16.52. Tas Balenciaga yang sering dia bawa ke klinik sudah tersampir ke bahunya.

Dengan wajah bete, dia duduk lagi di kursinya. “Udah ada hasilnya?”

“Sudah, Dok.”

“Okeee .... Saya periksa, ya.”

Sejujurnya, aku sudah tahu angkanya. Waktu hasil PSA itu masuk, aku dengan lancang melihat kiriman hasil dari lab.

Aku menelan ludah di depan komputer, kemudian aku mengajak Ezel naik ke atas.

Dr. Yudis menatap angka itu untuk beberapa saat.

Nilai PSA-nya 36 ng/mL.

Angka normal berapa?

0 – 4 ng/mL.

Dr. Yudis menatapku terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia menatap Ezel. “Pak Ezelio ..., hasilnya sudah keluar. PSA-nya agak tinggi, Pak. Normalnya di bawah empat, tapi ini sudah jauh di atas 10 nanogram/mililiter.” Dr. Yudis menolehkan layar komputernya agar Ezel bisa melihat.

Ezel menolehnya tetapi kurasa Ezel tak mengerti.

“Saya jadwalkan ultrasound sama biopsi ya, Pak.”

Ezel hanya menoleh ke arahku sebentar. Dia masih enggak paham apa yang dikatakan dr. Yudis.

Aku paham, tapi aku enggak mau dianggap lancang lagi oleh dr. Yudis. Jadi, di bawah meja, aku hanya menggenggam tangan Ezel, mencoba menenangkannya.

“Bapak ada BPJS, enggak?” tanya dr. Yudis lagi.

Ezel mengangguk.

“Mungkin bisa minta bantuan Rohmat di sini, ajukan BPJS aja. Soalnya TRUS sama biopsi prostat lumayan mahal, Pak. Bisa sampai 2 juta. Di kita juga ada, bisa di-cover BPJS. Saya lihat di sini Bapak daftar sebagai pasien umum. Khawatir biayanya terlalu berat—“

“Umum saja,” kata Ezel kemudian. Ezel meremas tanganku lebih kuat. “Enggak apa-apa, Dok.”

“Mau umum saja? Boleeehhh .... Nanti saya buatkan surat rujukannya, ya.” Dr. Yudis pun mengetikkan sesuatu di komputernya. Sambil mengetik, sambil di mengoceh dengan dagu sedikit terangkat, persis boti congkak. “Yang pasti, kalau ngelihat hasilnya kayak begini, sih ... PSA tinggi, ada pembengkakan di prostat ..., ini mah kanker, Pak.”

“Tunggu biopsi dulu aja, Dok,” sergahku seketika.

“Tapi saya sih yakin ini kanker,” balas dr. Yudis tanpa menoleh ke arahku. Nadanya terdengar tak suka.

Soalnya, hasil PSA itu bukan menandakan adanya kanker. Itu hanya menandakan ada sesuatu di prostatnya. That’s it. Untuk tahu kanker atau bukan, nanti setelah biopsi.

Aku sudah akan membuka mulut untuk membantah kata-kata dr. Yudis, tetapi aku merasa tidak punya kuasa melakukan itu. Soalnya, informasi yang kutahu hanya berdasarkan risetku ke jurnal-jurnal saja. Bagaimana pun, dr. Yudis lebih berhak dan berkapasitas untuk menentukan apakah itu kanker atau bukan.

“Yaaa ... tapi kita lihat aja nanti, yaaa ..., kalau patologi udah ngasih konfirmasi. Cuma, untuk jaga-jaga ..., siap-siap aja, ya.”

Ezel tak mengatakan apa pun lagi setelah itu. Ketika melakukan pembayaran di kasir, aku mencoba menghiburnya. “Diskon 35%, lho! Hehehe ... pake diskon pegawaiku. Jadi, aku sama keluargaku bisa dapat diskon kalau berobat di sini. Aku tadi masukin kamu sebagai adikku.”

Ezel hanya mengangguk sambil memainkan hape-nya. Lalu, dia men-scan QRIS dan membayar.

Selama duduk di angkot, dia mengambil kursi paling belakang, dekat jendela besar. Pandangannya keluar. Tanpa ekspresi. Menatap apa pun yang terjadi di belakang angkot kami.

Tatapannya tidak kosong. Tatapannya berkeliaran ke sana kemari. Melihat burung-burung, melihat motor-motor yang menyusul angkot, melihat aktivitas pasar yang kami lewati, melihat langit biru, melihat pesawat militer yang tampaknya sedang latihan untuk persiapan pembukaan peserta didik baru, dan lain sebagainya.

“Kamu mau makan dulu?”

Ezel menggelengkan kepala.

“Aku traktir.”

Ezel menggelengkan kepala lagi.

Kami turun di depan gang kosan Ezel dan aku menemaninya sampai ke depan kamar. Aku masih belum mendengar suara Ezel hingga di titik itu.

Kata-kata pertama dari Ezel adalah, “Aku sebentar lagi mati, ya?”

“Enggaaakkk ...! Kamu masih bisa hidup panjang, Zel.”

“Katanya aku kena kanker.”

Ck! Belum juga dicek! Ah, palingan juga BPH itu mah. Atau prostatitis. Bisa diobatin. Bisa sembuh. Semangat, ya.”

Ezel mengangkat tangan untuk memasukkan kunci ke lubangnya. Namun tangannya bergetar.

Alih-alih masuk ke lubangnya ....

CRIIING!

Kunci itu jatuh ke lantai, bergemerincing.

Diikuti dengan Ezel jatuh terlutut di depan pintu kamarnya.

Bahu Ezel berguncang.

Isak tangis tersengar sendu, keluar dari mulutnya.

....

Kuhabiskan Minggu malam itu menginap di kosan Ezel.

Menemaninya melewati berita buruk yang baru saja diterimanya beberapa saat lalu.


[ ... ]


29. Hilih, Kintil! (Short Version) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 30B. Mas Kacang Biru (Shorter Version)





Halo, Kak!

Seperti biasa, kalau aku menerbitkan something free, maka akan ada something berbayar yang terbit, ya! Kali ini, yang terbitnya adalah Spinoff Pembaca Halo, Dek! Silakan cek speknya di bawah. Kalau Kakak suka dengan idenya, silakan hubungi aku untuk melakukan pembelian, ya!

 

Spinoff 05

Judul: Now You See Me

Isi: 11.500 kata dan 97 halaman

Harga: Rp25.000,-

Tokoh: Fian, Rohmat, dan Andry

Adegan intim: Cuckold, worship, oral, anal

Top: Andry

Bottom: Rohmat

Timeline: Satu tahun setelah kepergian Fian ke Morotai, pada akhir perjanjian antara Andry dan Rohmat.

Universe: Ending Part 41-42 Side Sensory

 

Blurb:

Fian tak pernah paham mengapa hukuman lima tahunnya di Morotai dihentikan. Dalam enam bulan, tahu-tahu Fian dipindahkan ke Bali. Enam bulan berikutnya, Fian dikembalikan ke Jakarta. Tepat satu hari sebelum keberangkatan Fian ke Halim, tiba-tiba Rohmat ada di Bali bersama Andry.

Mereka menjelaskan bahwa selama Fian pergi, Rohmat dan Andry pacaran. Hari itu mereka akan putus. Namun, sebelum mereka putus, mereka akan bercinta untuk kali terakhir. Dan Fian harus menonton seluruh adegan itu.

 

Cuplikan:

....

“Oke, kalau gitu kita mulai sekarang,” ujar Andry sambil berjalan menghampiri Rohmat. Andry menarik Rohmat ke dalam dekapannya, menempelkan tubuh telanjang Rohmat ke tubuh telanjangnya. Rohmat sampai harus mendongak menatap wajah Andry di atasnya. “Karena ereksi saya harus dirangsang, Rohmat akan menstimulasi saya sampai saya ‘berdiri’ kayak kalian berdua.”

Lalu, Andry menundukkan wajahnya dan memagut bibir Rohmat.

Cup.

Fian memejamkan matanya. Fian tak mau melihatnya. Hati Fian kembali bergemuruh melihat pemandangan itu.

“Buka matanya, Fian,” tegur Andry untuk kesekian kali.

Butuh waktu bagi Fian untuk membuka matanya. Ketika dia benar-benar membukanya, kedua pasang bibir itu masih beradu dan melumat satu sama lain.

Andry melirik ke arah Fian, merasa puas bisa melumat bibir kekasih Fian, di depan Fian.

Rohmat hanya bisa pasrah melesakkan lidahnya ke dalam mulut Andry, fokus membuat Andry keenakan. Kedua tangan Rohmat dikalungkan ke leher Andry. Rohmat berjinjit kecil agar bisa mencapai bibir seksi itu.

Andry meremas pantat Rohmat dengan kedua tangannya. Bahkan, menguak pantat itu ke arah berlawanan agar bool Rohmat terekspos.

Setiap bool itu tersentuh semilir angin, Rohmat akan mendesah, “Hmmmmmmppphhh ....”

Fian cemburu bukan main. Hatinya benar-benar dongkol.

“Aaaaahhh ....”

“Hmmmmmmppphhh ....”

Rohmat mendesah atas rasa nikmat didekap di bawah udara hangat Bali. Keenakan karena tubuhnya dirangkul tubuh tentara kekar yang sangat maskulin. Belum lagi permainan bibir dan lidah Andry makin mantap, tidak seperti kali pertama mereka berciuman di atas pesawat jet pribadi itu. Andry mulai tahu bagaimana mengenaki mulut lawannya.

Andry juga mendesah. Lantang. “Aaaaaahhh .... Hmmmmmmppphhh ....” Seolah-olah sengaja agar Fian bisa mendengar betapa nikmatnya berciuman dengan Rohmat.

Fian mencoba menatap kedua lelaki di depannya dengan tatapan kosong.

Andry melebarkan pantat Rohmat dengan kedua tangannya, meremas hingga Rohmat melenguh.

Dengan pasrah, Rohmat melesakkan lidahnya lebih dalam ke mulut Andry, membiarkan bibirnya dikatup lembut oleh bibir Andry yang kenyal. Kedua puting Rohmat menggesek tubuh telanjang Andry yang kulitnya licin.

Ketiga orang itu mulai mengilap oleh peluh di bawah matahari Bali yang hangat.

“Hmmmmmmppphhh ....”

Mata Rohmat memutar ke atas. Dia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa kecupan Andry benar-benar nikmat. Rangkulannya ke leher Andry makin mengerat.

Andry mencaplok bibir Rohmat seperti memagut apel. Dia pagut berkali-kali hingga bibir Rohmat basah.

“Aaaaaahhh ....”

Tubuh Rohmat mulai lemas. Dia menyandarkan tubuhnya ke tubuh kekar jantan itu karena tak sanggup lagi berjingkat dan berdiri. Kulitnya menempel ke kulit kenyal yang lembap oleh peluh. Dadanya bisa merasakan puting hitam Andry mengeras dan menggesek ke kulitnya.

Setelah cumbuan bermenit-menit di bawah matahari, Andry pun melepaskan bibir Rohmat. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengangkat satu lengannya ke atas, memamerkan ketek berbulu tipis yang mulai basah oleh hangatnya udara.

Rohmat memandang takjub bulu ketek yang menjulur di ketek lebar dan kekar itu.

Andry menoleh ke arah Fian.

Fian hanya bisa menelan ludahnya. Matanya berkaca-kaca. Fian ingin juga Rohmat menikmati keteknya, seperti dulu. Sewaktu Fian melihat Rohmat membenamkan wajahnya di ketek Andry, dia mendengar dirinya sendiri menggeram, “Fffuuuuuuccckkk ....”

....

 

[ ... ] Seperti biasa, lakukan pembelian melalui WhatsApp, email, atau Telegram. Masuk ke lynk.id/bocahtitipan untuk mendapatkan kontaknya. Terima kasih banyak sudah membeli! Semoga suka dengan spinoff-nya!

Komentar