(HD) 30B. Mas Kacang Biru (Shorter Version)




Halo, Kak!

Aku enggak tahu apakah berita viral Fian memukuli Deva ini sudah tenggelam atau belum. Hingga Senin sore, komentar di berita itu masih naik. Dalam perjalanan dari klinik ke lanud, di truk, para tentara membahas juga soal itu. Mereka tahu persis bahwa “oknum tentaranya” berasal dari TNI AU di lanud sini. Ketika aku melakukan pemeriksaan, Nadhif dan Wandi juga sempat menyebutkannya. Lalu saat makan siang, Lexa membahasnya.

Ya. Aku makan siang sama Lexa. Soalnya dia tiba-tiba muncul di station-ku dan mengajak makan siang.

Bedanya, dia langsung tahu orang-orang di video itu siapa.

“Yang di depan mobil itu kamu, kan?” katanya, dengan nada sangat tenang, ceria, tapi aku tahu dia sedang menginterogasiku.

Aku tak bisa lagi berkelit, soalnya Lexa langsung menambahkan. “Aku tahu yang ngehajar itu Fian. Kelihatan jelas. I know him.”

Aku menoleh ke arah Lexa. Agak iri karena Lexa bisa tahu lebih banyak soal Fian dibandingkan aku.

“Tolong jangan sampai ini ketahuan orang-orang, ya!” kata Lexa lagi—entah apa urusannya. Kemudian, dia mulai membahas hal lain. Bahkan dia mengajakku melakukan satu challenge TikTok yang sedang viral.

Di klinik, Geca sempat menanyakan soal aksi penghajaran itu. Namun, aku hanya menjawab seadanya dan mengganti topik. “Eh, minggu ini urologi yang enggak ada dr. Yudisnya hari apa?”

“Spesifik amat lu nanya yang enggak ada dr. Yudisnya?”

“Temen gue mau biopsi di sini, tapi enggak mau ama dr. Yudis. Kemaren sore dia periksa ke sini, ketemu dr. Yudis. Pengin ganti katanya.”

“Lah, kagak bisa anjir.” Geca tertawa sambil menyurungkan keningku. “Kalau dokter pertamanya dr. Yudis, ya ke sananya dr. Yudis, anjir. Paling ganti dokter kalau dirujuk ke RS pas operasi. Gimana siiihhh ...?”

Benar juga.

Dengan lemas aku berkata kepada Geca, “Ya udah, Rabu pagi gue nitip temen gue, ya. Biopsi. Orangnya rada-rada introver. Keluarganya enggak ada yang datang. Cuma gue yang bisa nemenin, tapi jam delapan gue kan mesti ke lanud. Nitip, ya?”

“Iyeee ....” Geca manyun-manyun sambil terkekeh. “Eh! Temen lo yang ganteng itu gimana kabarnya?”

Hari Selasa kulalui dengan normal. Berita soal pemukulan warga sipil oleh tentara mulai memudar. Tak ada yang mendiskusikannya secara langsung. Namun setiap kupantau, komentar di berita itu tetap naik. Bahkan, TikTok dan Twitter sudah mulai mendiskusikannya. Twitter lebih parah, sih. Ini alasan aku menggunakan Twitter hanya untuk bokep saja. Soalnya orang-orang di Twitter kalau berkomentar tuh lebih ganas. Bener enggak bener, komentar aja dulu. Pun orang-orang di Twitter merasa merekalah social media user paling pintar dibandingkan medsos lain.

Pukul enam pagi esoknya, kami sudah berada di klinik. Prosedur yang harus dijalani Ezel akan dilangsungkan pukul 6.30 pagi. Prosesnya mungkin 20–30 menit, tetapi recovery-nya butuh waktu sampai dua jam. Soalnya Ezel akan diberikan anestesi lokal. Pada saat itu, aku pasti sudah ada di lanud untuk melanjutkan EPS-ku ke calon taruna.

Sambil menunggu Ezel masuk ruangan, dia duduk dengan tenang di sebelahku. Aku menggenggam tangannya dengan erat dan memberitahunya untuk tetap tenang. Semua akan baik-baik saja.

“Tolong pegang janji Mas ke aku,” kata Ezel sebelum masuk ruangan.

“Pasti.”

Janjiku kepadanya adalah tidak memberitahukan soal ini ke siapa pun, termasuk ke Erick maupun Fian.

“Dan kalau umurku pendek—“

“Jangan bilang gitu!”

Ezel mengabaikanku. “—tolong bilang ke Mas Raf, aku senang bisa ketemu Mas Raf sebelum aku benar-benar pergi.”

“Enggak mau,” tegasku sambil geleng-geleng kepala. “Kamu yang harus bilang itu sendiri ke Bang Fian. Masuk ke sana, tetap optimis, tetap positif, tetap semangat, apa pun hasilnya kamu bakal jalani treatment dengan disiplin, lalu kamu akan sembuh. Dan kamu akan ngasih tahu yang barusan langsung ke Bang Fian, pas kamu sehat.”

Ezel hanya tersenyum tanpa jiwa. “Aku tahu aku enggak akan pernah ditakdirkan buat bisa bareng sama orang kayak Mas Raf. Makanya umurku dikasih pendek—“

Ck! Enggak, Zeeelll .... Kamu masih punya harapan hidup!” Aku sampai menghardiknya karena Ezel ini benar-benar bebal. Semalaman aku menguliahinya tentang kanker prostat.

Kanker prostat ini enggak fatal, goblok!

Apalagi kalau penanganannya dini. Bisa disembuhkan!

“—tapi aku tetap bersyukur,” kata Ezel, benar-benar tak mendengarkanku, “sebelum aku pergi ninggalin dunia ini, Mas Raf yang ngisi hatiku. Rasanya damai banget, Mas Roh.”

Ezel pun masuk ke ruangan, ditemani Geca yang akan menemani dr. Yudis sepanjang proses biopsi.

Aku berjalan dengan lutut agak lemas menuju truk tentara yang sudah datang di depan klinik untuk menjemputku dan membawa kriopreservasi ke lanud. Aku benar-benar kesal pada Ezel yang belum apa-apa sudah pesimis. Bahkan setelah kusajikan puluhan jurnal tentang kanker prostat yang tidak semengerikan kanker lain, Ezel seakan-akan tak mendengarkanku. Bayangan soal Davin bunuh diri dengan mengonsumsi Valium (diazepam) langsung menghantuiku. Aku mulai cemas Ezel berada dalam status yang sama seperti Davin.

Dalam sepuluh meter koridor menuju tangga, aku merasakan pipiku basah.

Oleh air mataku sendiri.


[ ... ]


“Deva nge-WhatsApp-ku.” Itu adalah sapaanku kepada Fian ketika dia muncul di station-ku untuk berkeliling.

Kejadiannya terjadi saat makan siang. Fian mendapat sedikit waktu untuk melipir dari tugasnya, lalu menghampiriku sendirian. Kebetulan aku sudah selesai dengan orang terakhir di batch kedua siang itu.

“Sama,” kata Fian. “Makanya Abang ke sini.” Fian celingukan unuk memastikan Nadhif dan Wandi sudah pergi dari mejanya. “Dia minta Abang ketemu sama dia. Tapi Abang bilang enggak bisa. Makanya dia WA Adek.”

“Iya.” Aku mengangguk untuk mengonfirmasi.

“Adek mau ke sana?”

Aku mengangguk.

“Entar Abang suruh si Erick buat buntutin—“

“Syaratnya enggak boleh ada yang ngawal.”

“Enggak akan ketahuan. Erick jago mengintai.”

“Enggak sekalian Capt. Gala?” Aku menggelengkan kepala. “Gapapa, aku sendiri aja. Aku udah sering ketemu Deva sebelum ini. Tempat ketemuannya juga tempat umum. Aku akan baik-baik aja.”

Fian sudah membuka mulutnya, tetapi aku langsung meletakkan telunjukku di situ. Lalu, aku menggelengkan kepala.

Dengan pasrah Fian mengizinkan. “Tapi please hati-hati,” katanya. Fian menarik tanganku. Menggenggamnya dengan lembut. Dan menatapnya dengan penuh perhatian.

Deva sudah keluar dari rumah sakit. Dia sudah menjalani rawat jalan di rumahnya. Sehingga, dia mengajak Fian untuk bertemu dan mendiskusikan tentang apa yang Deva inginkan dari Fian, supaya Deva tidak membocorkan kepada publik bahwa Fianlah yang ada di video viral itu—mumpung videonya masih hangat dibicarakan.

Sayangnya, Fian masih diskors. Baru bisa keluar hari Jumat. Fian menawarkan hari Jumat, tetapi Deva enggak mau. Akhirnya Deva mengusulkan untuk ketemu denganku, sebagai pemberi pesan ke Fian. Tapi akunya enggak boleh dikawal siapa pun.

Sore itu, ketika aku tiba di restoran, Deva sudah ada di sana. Duduk sendirian memesan nasi telor ceplok dengan kecap.

Begitu aku muncul, sapaan dia kali pertama adalah, “You know what, elo pasti lupa, tapi ini adalah pesenan gue waktu gue first time ketemu si Rafianto di sini.” Senyumnya begitu lebar padahal wajahnya setengah bonyok.

Deva mengenakan kemeja longgar dan celana pendek. Masih ada perban melilit beberapa bagian tubuhnya. Memar-memar di wajah sudah hampir sembuh, tetapi masih terlihat biru-birunya. Matanya juga masih setengah bengkak. Tapi mata kirinya sudah tidak merah seperti hari Sabtu kemaren.

Aku enggak mau berbasa-basi, jadi aku langsung menodong Deva dengan pertanyaan utamaku, “Apa yang mau kamu bahas?”

“Elo enggak mau mesen dulu, Rohmat? Kan kamu pasti lapar. Di sini makanannya enak-enak, Rohmat. Enggak setiap hari kamu bisa makan di sini. Coba buka dulu menunya. Nih, nih, nih. Pilih mau makan apa?”

“Aku udah makan,” kataku berbohong. “Dikasih konsumsi dari lanud sebelum pulang. Ayo, Dev. Aku enggak punya waktu banyak. Aku harus ngerjain laporan dan besok harus med-check lagi ke lanud.”

“Widiiihhh ... jadi elo yang kurang sabaran. Hihihi ... sabar dong. Gue pesenin ini, ya? Enak, nih. Indomie rebus, pake kornet.”

What the fuck?

Oke, Kak. Mengingat ngobrol satu jam sama Deva bisa menghabiskan kira-kira 50 ribu kata atau setara 400 halaman novel, kupersingkat saja, ya. Aku hanya akan menyebutkan bagian-bagian penting dari yang Deva minta. Jadi, maaf-maaf kata nih kalau aku enggak menceritakan dengan detail. Kalau Kakak kangen ngobrol sama Deva, entar kukasih saja nomor WhatsApp Kakak ke Deva dan silakan ngobrol sendiri.

“Gue pengin si Mas Kacang Ijo jemput gue jam delapan pagi.”

Mas Kacang Ijo adalah Fian. Kata Deva, itu adalah panggilan sayangnya. Berlaku sejak Sabtu kemarin hingga selamanya, kecuali Fian ingin menggantinya dengan sesuatu yang baru, seperti misal capap camih. (Cayang papap cayang mamih.)

Untuk sementara Fian bisa memanggil Deva dengan panggilan sayang: Mas Incredible.

“Jemputnya pake motor dia yang gede, ya. Biar gue dibonceng di belakang. Gue bisa peluk dia. Oh, dia harus pake baju tentaranya yang ijo itu. Yang loreng-loreng.”

“Dia TNI AU, Dev. Seragam lorengnya warna biru.”

“Bukan ijo? Gue pernah lihat mereka pake seragam ijo, kok.”

“Ya mungkin itu seragam loreng pesiar. Aku juga enggak paham. Yang pasti umumnya mereka pake loreng biru.”

“Hmmm ... masa nama sayang gue jadi Mas Kacang Biru?”

Oke. Selama dua puluh menit kami berdebat dulu soal seragam TNI AU. Tapi kita lanjut ke rencana berikutnya, ya. Yang pasti, Fian harus pakai seragam loreng hijau saat menjemputnya. Pakai sepatu bot. Biar kelihatan kayak tentara.

“Destinasi pertama kita adalah ... Telaga Putih! Danau yang ada di belakang gunung sana. Yang lagi viral. Yang ada dermaganya, yang kita bisa foto-foto di tujuh love gitu, yang pelangi. Elo tahu kan Rohmat?”

Tahu. Dan bagus, lah. Biar Fian bisa mendorong Deva ke danau hingga Deva meninggal dunia.

“Habis dari itu, gue pengin makan di sini ama dia. Dan dia harus pesen makanan yang sama ama gue. Yaitu ini ... nasi telor ceplok pake kecap. Makanan memento kita berdua.”

Yang makan ini cuma elu, anjing!

ARGH!

After lunch, gue pengin belanja ke mal.”

Deva menyebutkan rentetan sehari pacaran dengan Fiannya secara detail. Kami menghabiskan waktu hampir dua jam untuk mendiskusikan ini. Selain mal, ada wisata ke taman kupu-kupu, mandi bareng di sungai, nge-gym bareng, ngopi di Starbucks, makan malam romantis candle light dinner di sebuah restoran fancy pinggiran kota, menginap di sebuah vila dekat situ juga, lalu ngewe tiga kali. Ngewe ketika nyampe vila, ngewe sebelum tidur, dan ngewe keesokan paginya pas bangun tidur. 

Adegan di vila jauh lebih detail dibandingkan itinerary jalan-jalannya.

Mandi bareng begitu sampai di vila. Bikin pancake bareng sambil telanjang. Nonton Netflix sambil mainin kontol masing-masing. Berenang telanjang di vila. Menyiram tubuh telanjang Fian dengan susu dan Deva minum dari situ. Cuddle sambil melihat bintang di langit.

Dan itu belum seberapa. Terkait ngewe-nya, detail juga.

Hampir semuanya BDSM.

Fian akan menjadi top.

Namun Fian budaknya.

“Gue pengin jadi boti yang dominan,” kata Deva dengan bangga. Dia menutup rencana kegiatannya yang diocehkan selama dua jam terakhir.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku bahkan tak sudi mengingat-ingat apa saja yang tadi sudah Deva sampaikan. Yang bisa kutanyakan adalah, “Di mana vilanya?”

“Oh. Rahasia, lah. Gue baru ngasih tahu entar di hari H. Gue bisikin ke telinga Mas Kacang Ijo lokasinya di mana, terus gue ke sana.” Deva meneguk minumannya untuk kali terakhir, sambil melemparkan senyum kemenangan. “Tapi ada satu twist.”

Twist?”

“Elo bakal ada di sana, waktu gue ngewe pertama kali ama Mas Kacang Ijo.”

“Apa?!”

“Elo bakal nontonin gue ngewe ama dia. Dan elo ... bakal nonton semuanya dari awal sampai akhir.” Deva memberi jeda untuk mendramatisasi.

“Buat apa, Dev? Kamu bisa dapatin Fian seharian, tapi kamu masih mau bawa aku—“

“Soalnya elu resek, anjing! Cuma ngajak si Fian ngewe aja susahnya minta ampun. Sampe gue dihajar segala, sampe masuk rumah sakit. Jadi gue pengin elo menderita karena elo ngelihat gue ngewe ama dia. Elonya gue ikat, elo enggak bisa gerak, tapi mata elo kebuka. Elo bakal nontonin semuanya sambil dibakar api cemburu. Paham, lo?!”


[ ... ]


“Gimana ketemuannya?” Fian menyambutku di gerbang lanud dan menjejeriku berjalan menuju barak yang dia tinggali. Suasana lanud masih cukup ramai. Beberapa taruna baru saja selesai latihan. Fian bilang, perwakilan dari AD dan AL juga sudah datang untuk gladiresik di sini. Sehingga seragam tentara yang seliweran bakal rada warna-warni.

“Lancar,” kataku, sambil menghela napas pasrah. “Nanti aku cerita di barak aja, ya.”

“Dia enggak ngapa-ngapain Adek, kan?”

Aku menggelengkan kepala. “Aku aman.”

“Kapan dia pengin ngelakuin itu sama Abang?”

Aku menarik napas panjang. Agak enggak tega untuk mengatakan ini. “Satu minggu dari sekarang.”

“Rabu?”

Aku mengangguk.

Fian berhenti berjalan untuk beberapa saat. “Itu hari pembukaan peserta didik.”

Aku mengangguk kecil. “Dia tahu dan dia sengaja pilih hari itu.”

“Abang enggak akan bisa izin di hari itu, Dek.”

Aku hanya mengangkat bahu. “Aku udah lobi dia untuk ganti ke hari lain, tapi dia pengin di hari itu. Kalau enggak dikabulkan, dia mau viralkan soal pemukulan itu sambil ngelaporin Abang ke polisi.”

Fian pun mengumpat keras, terlihat marah.

Kami tak membicarakan apa-apa hingga tiba di barak. Dari aroma Fian yang segar seperti sabun, kuasumsikan dia sudah mandi. Fian langsung melepas seragamnya begitu memasuk barak dan menyalakan lampu. Sepanjang menyusuri koridor di antara pasangan-pasangan bunk bed yang berhadapan (yang di ujungnya berdiri lemari-lemari kayu), Fian menelanjangi dirinya. Hanya mengenakan celana pendek putih seperti biasa.

Kupikir kami akan langsung tidur. Namun Fian menarik dua kursi menghadap dinding paling ujung, yang terdapat jendela-jendela besar menghadap lapangan rumput dan kebun di sekitar ujung landasan. Jendela besarnya dibuka lebar-lebar sehingga angin malam yang berembus cukup kuat masuk ke dalam barak.

Aku dan Fian duduk di kursi itu. Pantat kami ke bantalan kursi, tetapi kedua kaki kami menggantung keluar kusen jendela. Kami bersandar agak miring ke belakang, menatap langit malam yang indah di luar sana. Dibatasi garis horison berupa pepohonan-pepohonan gelap yang bagian atasnya membias lampu-lampu keemasan kota. Lalu dedaunannya sesekali tersorot lampu kerlap-kerlip dari ujung landasan.

Tentu saja, Fian memelukku ke dalam rangkulannya. Kami duduk berdampingan, saling menempelkan tubuh. Lengan Fian melingkari bahuku, menarikku ke dekapannya. Aku menyandarkan kepala ke lengan besar dan bahu lebar itu, sehingga aku bisa melihat langit di depanku.

Indah sekali.

“Waktu dan tempat ...,” bisik Fian ke telingaku, “... dipersilakan.”

Kuceritakan semua yang Deva ceritakan kepadaku di restoran. Tentu saja tidak semua. Mungkin tidak detail juga. Aku sudah lupa sebagian besar rencana yang Deva inginkan, tetapi aku mampu menjelaskan garis besarnya.

Pilot jet tempur berbadan kekar itu mendengarkan dengan saksama tanpa protes, tanpa marah-marah, tanpa menyelaku. Dia bernapas dengan damai di sampingku. Kadang kalau aku bosan melihat langit di atas, aku menoleh dan menemukan gundukan dada kekar nan bidang yang di bagian ujungnya terdapat puting gelap yang sensitif. Lalu di bawah dada itu ada perut kotak-kotak yang bergerak naik turun.

Bernapas. Dengan tenang.

Aku merasakan tubuhnya hangat.

Dan tunas bulu keteknya tumbuh makin panjang.

Begitu ceritaku selesai, dalam kira-kira 10 menit saja, Fian tidak memberikan respons banyak. Dia membiarkan keheningan malam yang damai menemani kami di jendela barak yang terkuak lebar ini.

“Capt. Gala lagi coba lihat situasi,” katanya, dengan suara maskulin yang dalam, yang berat dan nge-bass, bikin merinding karena terlalu manly. “Tadi Abang bahas soal video ini sama beliau. Habis Isya.”

“Gimana reaksinya?”

“Dia akan selidiki Deva.” Fian menghela napas panjang. “Mungkin kita bisa lepas dari masalah ini dengan bantuan Capt. Gala. Tapi Abang tetap dapat konsekuensinya.”

“Konsekuensinya apa?”

Fian menggelengkan kepala, enggan menjawab.

Alih-alih menjawab, Fian malah bertanya, “Kenapa Adek jadi perawat?”

Aku menjawabnya dengan serius dan jujur. “Aku mau jadi dokter,” kataku. “Tapi keluargaku enggak kaya. Enggak mampu biayain kuliah kedokteran. Tadinya aku jadi perawat ..., supaya bisa siaga ..., kalau-kalau orang tuaku mulai sakit-sakitan. Kenapa Abang jadi tentara?”

“Karena Abang pengin pergi dari dunia ini,” jawab Fian, dengan datar dan berat. “Terbang ke langit jadi jalan satu-satunya .... Tapi sekolah pilot mahal. Satu-satunya jalan ..., kalau mau pakai beasiswa ..., lewat AU.”

“Ada yang bilang, jadi tentara pun biayanya banyak.”

“Kalau nyogok iya. Kalau jalur orang bener ..., enggak ngeluarin duit.” Fian menghela napas kecil. “Syaratnya cuma satu. Jadi yang terbaik di setiap ujian.”

Pantas Daddy Ryuji bilang Fian salah satu penerbang terbaik yang kita punya di Angkatan Udara.

“Kenapa Adek kurus?”

Aku hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. “Karena aku ... enggak banyak makan. Kenapa Abang berotot?”

“Supaya bisa ngehajar Bapak.”

“Bapak siapa?”

“Bapak sendiri.”

Aku terkejut mendengar jawaban itu. Aku tidak berani menanyakan lebih lanjut, tetapi aku kepo bukan main kenapa Fian ingin menghajar bapaknya.

“Kenapa Adek belum punya pacar?” tanya Fian lagi, tak melanjutkan kata-katanya sendiri yang menggantung di udara barusan.

“Karena ... belum nemu yang mau pacaran sama aku.”

Fian menoleh sejenak ke arahku, menatapku selama sekitar tiga detik, sebelum akhirnya mendongak lagi menatap langit di atas kami. “Itu si Deva pengin jadi pacar Adek.”

“Dia bukan manusia. Aku enggak sudi pacaran sama dia.”

“Dia ngakunya pacar Adek.”

“Namanya juga Deva.”

“Apa Adek kurang percaya diri?”

“Sebelum ketemu Abang enggak. Sebelum kita tabrakan di kosanku ..., aku ngerasa aku ganteng. Tapi setelah tabrakan, aku mulai insecure. Ngelihat kalian di sini jadi merasa aku ini seonggok remahan rengginang di dasar toples yang enggak berharga.”

“Kenapa pandangannya berubah?”

Aku mengangkat bahu. “Karena ternyata ..., ternyata aku enggak tahu apa-apa. Banyak yang kupikir apa ..., ternyata apa.”

“Misal?”

“Misal ... kukira lanud ini baru. Orang-orang bilang ini lanud baru. Tapi setelah beneran masuk ke sini, ternyata ini bangunan lama yang baru difungsikan. Kukira tentara-tentara ini baru bermunculan di kota ini ..., tapi ada Daddy Ryuji yang udah punya rumah di sini dan tinggal sama keluarganya.”

“Siapa Daddy Ryuji?”

“Oh. Artis bokep gay. Mukanya mirip banget sama Capt. Gala. Dalam hati aku selalu panggil beliau Daddy Ryuji.” Aku terkekeh malu karena ketahuan menonton bokep dan memanggil senior Fian dengan nama lain. “Makin aku tahu, makin aku enggak tahu apa-apa. Makin aku lihat wajahku, makin aku percaya aku enggak seganteng itu. Kalau aku ganteng, harusnya homo-homo lokal udah ngejar-ngejar aku buat jadi pacar.”

“Itu satu udah ada yang ngejar. Baru keluar dari rumah sakit.”

Buk! Kupukul dada Fian dengan kesal. “Itu mulu yang dibahas. Tapi ya udah, deh. Aku ganteng. Sampe-sampe yang namanya Bondan ngejer aku—“

Whoa, whoa, whoa! Ganti topik!” Fian mencubit hidungku dengan tangannya yang sedang merangkulku, sehingga lengannya yang berotot itu mengepit kepalaku, berasa aku lagi di-headlock.

Kepalaku digoyang-goyang sepuas hati sampai aku enggak bisa bernapas.

Setelah terkekeh beberapa saat, kami kembali berangkulan. Aku tak menyangka topik berikutnya yang Fian angkat justru tentang Bondan.

“Bondan jadi alasan Abang datang ke Dek Ida.”

“Oya?”

“Abang datang ke Dek Ida karena Abang pikir ... mungkin Abang penyuka sesama jenis kayak Adek.”

“Kenapa bisa gitu?”

“Bagian sama Bondan enggak akan Abang ceritakan. Tapi Abang jadi kepikiran dan akhirnya kontak Dek Ida.

“Mungkin memang Abang penyuka sesama jenis. Meskipun seumur hidup, enggak pernah ereksi melihat semua tentara ini telanjang depan Abang.

“Kami mandi bareng. Kami sering jail, nge-prank burung satu sama lain. Kami dilempar ke hutan belantara telanjang bulat. Harus survive.

“Enggak sekali pun kepikiran kalau burungnya laki-laki tuh ... indah.

“Tapi kejadian sama Bondan bikin Abang bingung.

“Dan Erick.”

“Bang Erick juga?!” Aku membelalak.

“Dan mungkin kejadian sama mantan-mantan Abang yang perempuan.”

Aku bangkit dan duduk dengan tegak di atas kursi. Kugeser kursi itu agak mundur, lepas dari rangkulan Fian yang hangat, dan duduk menghadap tentara macho itu sambil bersandar ke kusen jendela. “Di pemeriksaan kemaren, Abang bilang Abang pernah berhubungan seks. Itu benar?”

“Benar.”

“Jadi ada perempuan di dunia ini yang pernah main sama Abang?”

“Ya.” Fian terkekeh kecil sambil menoleh ke arahku. “Kok Adek enggak percaya?”

Gimana kondisi memeknya, ya?

“Lalu, kenapa Abang mempertanyakan orientasi seksual Abang?” tanyaku. “Mungkin sama Bang Bondan atau Bang Erick tuh cuma ... yah, bromance doang. Bukan berarti Abang penyuka sesama jenis. Mungkin Abang sebenarnya memang cowok straight normal aja.”

“Abang enggak berhasil main sama Dek Ida, Dek.”

“Enggak?”

Fian menggelengkan kepala. “Sudah dicoba, tapi Abang enggak berhasil ... ereksi.”

“Muka si Ida kali, kayak kresek. Jadinya Abang enggak nafsu!”

“Hahaha ... enggak, lah.” Tawa Fian terdengar begitu renyah.

“Atau body-nya terlalu bohai. Berasa lagi ngebrut bean bag.”

“Jangan gitu!” Fian mencubit hidungku lagi dan menggoyangkan kepalaku. “Dek Ida tuh sampai hire teman dia. Cantik. Seksi. Favorit tentara-tentara sini. Tapi Abang juga enggak bisa main ama dia.”

Aku menatap Fian dengan bingung. “Jadi hetero bukan? Homo bukan? Aseksual?”

“Enggak. Abang akhirnya bisa ereksi, setelah nemu jawabannya apa.”

“Apa jadinya?”

Fian menarik napas panjang, kemudian melipat kedua tangannya di belakang kepala—pamer ketek seksinya, of course. Lalu Fian menjawab, “Abang cuma bisa ereksi ..., sama orang yang Abang sayang. Enggak bisa sembarangan. Apa pun jenis kelaminnya.”

Demiseksual.

Aku pernah membaca soal itu.

Orientasi seksual yang enggak pernah bisa kupahami cara kerjanya. Soalnya aku, melihat cowok mana pun yang ganteng dan telanjang bulat pasti langsung ngaceng. Enggak perlu aku sayang dulu.

“Oh ... sudah nemu orangnya?” tanyaku hati-hati.

“Mungkin sudah,” jawab Fian, tanpa menatap ke arahku. Pandangannya masih dia tujukan ke langit gelap di depan kami.

Aku teringat lagi momen di pemeriksaan kemarin.

Kontol Fian enggak ngaceng di dekatku.

Aku ....

Aku bukan orang yang Fian sayang.

Apa orangnya Lexa?

Atau sebenarnya ....

Bondan?

Jadi Fian selama ini cemburu Bondan mendekatiku karena Fian enggak suka aku dekat-dekat Bondan? Karena dia ingin memiliki Bondan untuk dirinya sendiri?!

Oh, tidak.

Jangan-jangan selama ini aku salah sangka.

Sebenarnya ....

Sebenarnya Fian mencintai Bondan!

“Kok jadi ngelamun?” Fian melambaikan tangan di depan wajahku.

Aku menunduk dengan sedih. “Enggak.”

“Udah keok duluan, belum apa-apa.”

Aku mencoba tersenyum lebar. “Gapapa.”

“Enggak penasaran, siapa yang Abang sayang?”

Aku menarik napas panjang. Masih menunduk menatap tanganku sendiri.

Aku penasaran. Tapi aku takut mendengar jawabannya.

“Hm?” tanya Fian lagi. Dia menundukkan kepala untuk melihat wajahku.

Aku malah memalingkan muka ke arah lain.

“Kenapa jadi murung, Dek?”

“Gapapa.”

Fian mengamatiku selama beberapa saat. Kemudian, dia menyambar tanganku, dan memasukkannya dengan lancang ke balik celananya.

Ya.

Tanganku dimasukkan ke balik celana pendek putih itu.

Aku dipaksa memegang belalai setan yang ada di dalamnya.

Secara otomatis aku mencengkeram apa pun yang ada di sana.

Darahku rasanya berhenti mengalir ketika telapak tanganku merasakan sebuah benda hangat dan kenyal ....

... besar ....

... yang kupikir pergelangan tangan seseorang ....

... yang jelas-jelas bukan pergelangan tangan manusia, melainkan ....

Fuck.

Fuck.

Fuck.

Keras.

“Enggak mau kenalan, hm?” tanya Fian, merujuk ke apa pun itu batang yang tebalnya seperti pergelangan tangan manusia.

Aku memejamkan mata dengan ketakutan. Jantungku langsung berdegup kencang.

Aku tak berani melihatnya.

“Dari kemarin ... sejak Abang cium Adek di kosan ... dia pengin kenalan sama Adek. Tapi kemaren di pemeriksaan ..., Adeknya malah pingsan. Boleh enggak sekarang dia main sama Adek?”

Fian tiba-tiba menarik turun celana pendeknya. Satu bagian tanganku bisa merasakan frenulum dan leher glands kepala kontol Fian yang kenyal, tetapi keras. Fian mengangkat wajahku. Lalu menciumku.

Dari bibir ke bibir.

Sebentar saja.

Karena berikutnya Fian bertanya, “Boleh enggak Abang yang nikmatin Adek malam ini?”


[ ... ]

Komentar