“Halo?”
“Udah nyampe kosan?”
“Udah. Ini baru nyampe.” Ckrek. “Nih, baru buka kunci.”
“Oh. Ya udah. Kamu beneran mau langsung
tidur?”
“Iya, Yang. Sorry banget enggak bisa teleponan malam
ini. Besok pagi jam 6 mesti latihan OSCE dulu sama anak-anak. Jadi aku harus
tidur cepat.”
“Iya aku paham. Tapi VC dulu dong,
bentaaarrr .... Lima detik, aja.”
Klik.
“Lima detik, ya!”
“Hihihi .... Iyaaa, iyaaa .... Ya udah.
Bobo sana. Jangan lupa gosok gigi.”
“Iya. Aku mau mandi dulu. See you tomorrow. Mungkin
sorean aku ke tempatmu.”
“Oke Sayaaannnggg .... Muach.”
“Muach.”
Klik.
“Fiuh ....” Lelaki itu menutup pintu dan menguncinya.
Dia berdiri di balik pintu sambil menghela napas lega. Satu kali kepalanya
melongok ke luar tirai, mengintip kamar di seberang, kemudian merapatkan lagi
tirainya.
Senyumnya terukir kecil. Dadanya berdebar penuh gairah.
Akhirnya lepas juga, batinnya. Akhirnya gue bisa
coli.
Tanpa mencuci kaki, dia langsung mematikan lampu kamar
menyisakan lampu tidur yang memendar keunguan. Celana dia pelorotkan sembarang
di atas lantai, kemudian tubuhnya melompat ke atas tempat tidur, menghempas
selimut dan bantal seperti smack down. Kontolnya sudah ngaceng.
Sudah ber-precum sejak tadi, tetapi dibiarkan kering di balik sempak.
Dengan sigap, dia menaikkan kausnya ke atas dada, lalu
menjepitnya dengan dagu. Tangan kanannya membuka Instagram, tangan kirinya
mengocok kontol. Dengan lihai dia membuka akun IG favoritnya, menggulir
foto-foto yang ada di sana, sambil mengocok kontolnya dengan cepat.
Sebelum lanjut, mari kita berkenalan dengan Rama. Mahasiswa
kedokteran sebuah kampus di Bali yang tak pernah membeberkan identitas
seksualnya kepada siapa pun. Meskipun Rama punya cewek, dan cewek yang
teleponan tadi bukanlah cewek pertamanya, tidak ada yang bisa menampik fakta
bahwa Rama seorang gay. Dan, fakta itu Rama sembunyikan dengan rapi
sejak kecil.
Karena disembunyikan, Rama belum pernah berhubungan seks
dengan cowok. Uniknya, dengan cewek pernah. Dia tak menikmatinya, tetapi
kontolnya sudah mencicipi memek lebih dari sepuluh kali sejak SMA. Hal tersebut
tak menjadikannya straight tiba-tiba. Rama tetaplah gay cerdas
yang tahu bahwa ada obat yang bisa me-ngaceng-kan kontol kalau mau
ngentot cewek, dan jika dipadu dengan akting yang yahud, tak akan ada yang tahu
Rama seorang gay. Mana penampilan Rama ganteng, maskulin, superior, dan
suaranya berat. Virus ngondek seolah-olah tak pernah berhasil
menjangkiti Rama. Jika Rama hari ini mengaku dirinya gay, mayoritas
orang tak akan ada yang percaya.
Sayangnya, Rama tetaplah seorang gay. Dan sebagai gay,
dia memiliki pujaan hati seorang laki-laki. Seseorang yang diam-diam Rama
cintai dalam sunyi, Rama amati penuh sayang dari jauh, Rama doakan dalam setiap
ibadahnya, bahkan Rama bantu bayarkan token listriknya sembunyi-sembunyi.
Siapa?
Namanya Saga.
Lelaki playboy yang dulu satu SMA dengan Rama.
Bahkan, Rama pernah dua tahun satu kelas dengannya, kelas XI
dan XII. Tak pernah jadi sahabat dekat, tetapi mereka mengobrol cukup sering.
Saga terlalu bandel sebagai siswa. Bolos, merokok, minum-minum, main cewek,
melabrak adik kelas, mengerjai guru, dan lain-lain. Sementara Rama pujaan
banyak guru dengan meraih banyak prestasi akademik, seperti olimpiade Biologi,
kompetisi debat, juara menulis jurnal ilmiah, bahkan menjadi ketua OSIS di
sekolahnya selama satu tahun.
Relasi Rama dan Saga hanya sebatas: halo, kita saling
mengenal, tapi enggak perlu nongkrong bareng ya, soalnya kita beda jauh, dan
aku enggak gitu cocok sama gaya hidupmu.
Lulus SMA, Rama diterima di Fakultas Kedokteran sebuah kampus
di Bali. Dia meninggalkan Jakarta demi bisa “merantau”, jauh dari orang tua,
dan menyelesaikan studinya tanpa perlu berpura-pura. Rama ingin “bebas” selama kuliah.
Bukan berarti menjadi nakal, tetapi setidaknya kalau mau berlama-lama coli
di kamarnya, dia bebas melakukannya tanpa diganggu oleh orang tua.
Masalahnya adalah ..., dari 300 siswa angkatan SMA-nya, ada
satu siswa juga yang keterima di sebuah kampus di Bali. Siswa ini mengambil
studi di jurusan pendidikan olah raga di kampus yang berbeda dari Rama, tetapi
lokasi kampusnya tidak begitu jauh. Sehingga, tidak heran jika mereka akhirnya
tinggal di satu kosan yang sama.
Dan, orang ini adalah Saga.
Seorang laki-laki yang sudah Rama cintai sejak kelas XI.
Secara harfiah sejak beberapa minggu awal masuk ke XI MIPA 4, Rama terpesona
pada Saga. Namun, Rama menekan perasaan itu sejak hari pertama hingga hari ini.
Sosok Saga di kelasnya membuat Rama semangat belajar, meskipun Saga kelihatan
sangat cuek dengan pencapaian akademiknya sendiri. Mengobrol bersama Saga
membutuhkan energi yang besar karena perut Rama biasanya mulas, jantungnya
berdebar kencang, dan punggungnya berkeringat dingin.
Rasanya seperti bencana ketika secara kebetulan Saga juga
ngekos di kosan yang sama dengan Rama. Lokasinya berseberangan, dari ujung ke
ujung. Kebetulan kamar Saga lebih dekat ke pintu keluar, sehingga setiap kali
Rama lewat kamar kosan itu—lalu pintu kamarnya terbuka—Rama selalu menghirup
udara dalam-dalam, mencium aroma kamar Saga.
Aroma itu bisa bikin Rama sange. Kalau sudah sange,
dia akan coli di kamarnya sambil menggulir akun Instagram Saga.
Seperti halnya malam ini. Rama sengaja pulang cepat setelah
kencannya karena dia ingin coli sambil memfantasikan Saga. Kenapa bisa
begitu?
Beberapa jam lalu, Rama dan Indah, kekasihnya menonton
pertandingan bola basket antarkampus. Pertandingan antara kampusnya Indah
melawan kampusnya Saga. Indah ingin mendukung tim basketnya sehingga Rama yang
bukan dari dua kampus itu terpaksa ikut untuk menemani Indah. Hitung-hitung personal
branding sebagai lelaki straight macho, Rama menuruti permintaan
Indah menontan pertandingan itu.
Yang tidak Rama ketahui, ternyata Saga menjadi bagian dari tim
bola basket kampusnya. Saga tampil malam tadi. Mengenakan kaus kutang, celana
pendek jersey, dan menjadi power forward. Yang artinya, sepanjang
pertandingan Saga akan mencoba menembakkan bola di dekat ring. Yang
artinya lengan kekar itu akan sering terangkat, memamerkan bulu keteknya yang
lebat.
Paling parah adalah Rama dan Indah duduk di dekat ring tim
kampus Indah, yang artinya Saga berada dekat sekali dengan tempat duduk Rama.
Saking dekatnya, Saga bisa melihat peluh basah di seluruh tubuh Saga, atau
puting susunya ketika tak sengaja kaus lekbong basket itu ditarik lawan.
Rama gelisah bukan main. Kontolnya ngaceng sepanjang
pertandingan. Gairahnya memuncak tiap kali Saga mendekat untuk memasukkan bola
ke dalam keranjang. Diam-diam dia berdoa tim Saga yang menang. (Dan, ya, tim
Saga yang menang.) Namun, karena sudah tak tahan lagi, Rama memohon izin kepada
Indah untuk pulang duluan dengan alasan harus tidur cepat.
Di sinilah Rama menemukan dirinya coli lagi sambil
menggulir Instagram Saga yang isinya enggak ada foto-foto seksi. Mungkin hanya
foto-foto sok nyeni seperti black and white sebuah kafe, atau instrumen
musik, atau secangkir kopi, atau foto bersama teman-temannya yang di-tag
dari orang lain. Di antara foto-foto itu terdapat pula foto Saga berpose
sendirian, ganteng, mengenakan kemeja, kaus, celana panjang, pendek, di atas
gunung, di tepi pantai, dan lain sebagainya. Tidak ada foto thirst trap
satu pun, termasuk foto Saga bermain basket.
Namun, karena malam ini Rama sudah melihat jauh lebih banyak
kulit Saga, dia memutuskan untuk berfantasi dengan kepalanya saja. Dia
mengingat-ingat lagi sosok Saga dengan kaus basket tim kampusnya, kaus tanpa
lengan, longgar, kalau mengangkat tangan keteknya langsung kelihatan. Kalau
dilihat dari samping, pentil dan perut rata Saga juga bisa kelihatan—rata dan
lembap-lembap basah. Rama membayangkan lagi basah keringat di seluruh tubuh
Saga, mengimajinasikan dirinya menjilat dan menyesap seluruh keringat itu.
“Hmmmmmmppphhh ....” Rama mendesah.
Untuk menikmati setiap momen, Rama akhirnya meletakkan hape
ke atas tempat tidur, lalu membelai kontol ngaceng-nya pelan-pelan. Dia
susurkan satu jarinya dari pangkal kontol hingga ke frenulum, merasakan belaian
lembut yang menggelitik.
“Aaaaaargh ....” Rama mengerang sambil tersenyum kecil.
Rasanya nikmat sekali. Apalagi Rama membayangkan belaian itu datang dari jemari
Saga.
Satu tangan Rama yang tidak memegang hape mulai
memilin-milin puting.
“Hmmmmmmppphhh ....”
Tubuh Rama mengentak-entak kecil, keenakan. Matanya terpejam,
mulutnya menganga kecil dengan senyuman. “Aaaaaahhh ....” Desahan meluncur
berulang-ulang, pelan-pelan, dan makin sini makin panas. Jemarinya mencubit
lembut puting sendiri sambil menarik-nariknya.
Coli itu berlangsung cukup lama. Hampir satu
jam. Tiap kali Rama yakin dirinya sudah akan ejakulasi, dia akan berhenti dan
menjauhkan tangannya. Lalu, setelah gelegak orgasme itu reda, dia akan mulai
menyentuh tubuhnya lagi. Alhasil, meski ejakulasi belum terjadi, Rama sudah
orgasme berkali-kali. Kepala kontolnya sudah basah total oleh precum
bening.
Bagaimana sosok Saga? Dalam perspektif Rama, tentu saja Saga
ganteng. Namun secara umum, Saga menarik karena sex appeal-nya tinggi.
Wajahnya membuat orang-orang ingin ngewe dengan Saga, dibandingkan
menjalin hubungan. Matanya bulat besar, alisnya tebal, senyumnya maskulin, tak
ada facial hair, rambutya pendek, wajahnya pipih langsing seperti tubuh
Saga yang memang atletis ramping. Kekar, tapi jenjang. Lehernya jenjang,
lengannya kelihatan panjang, tungkainya sudah pasti kelihatan panjang juga. Bisepnya
bulat, bahunya bulat, dadanya tidak menggembung, tetapi ada lekukan dada yang kekar
seperti umumnya para pemain basket. Padahal, tinggi Saga mungkin hanya 175 cm,
tidak begitu menjulang.
Sembari membayangkan fisik seksi itu, Rama juga membayangkan
aroma Saga. Campuran parfum cowok yang musky, gel rambut, dan mungkin
sisa-sisa asap rokok yang biasa menempel ke bajunya. Rama tak menyukai rokok.
Dia tak pernah merokok dan rajin mengutuk semua orang yang merokok—kecuali
Saga. Rama menyukai aroma fresh campur mint yang dikuarkan kamar
Saga. Tercium mahal, mewah, ganteng, dan jantan.
Melalui fantasi itu, Rama pada akhirnya memutuskan untuk
ejakulasi. Dia sudah mengocok lagi kontolnya dengan intens sambil tetap
membayangkan tubuh seksi berkostum jersey basket itu, yang
putingnya—ceritanya—sedang dipilin-pilin oleh Rama.
“Hmmmmmmppphhh .... Sagaaa .... Sagaaa .... Let me
pinch your nipple harder .... Hmmmmmmppphhh ....”
Dalam imajinasi itu, Rama juga mengangkat tepian bawah kaus
Saga untuk melihat perut rata sang idaman. Rama membelai perut itu, merasakan
setiap lekukan abdominalnya, lalu menggelitik pusar Saga hingga Saga tertawa.
“Aaaaahhh ... Geli, Ga ...? Hmmmmmmppphhh .... These abs
are mine ya, Gaaa .... Aaaaaahhh ....”
Tentunya, karena untuk kali pertama terekspos pada bulu ketek
Saga seintens itu di pertandingan tadi, Rama juga mengangkat kedua lengan Saga,
membiarkan bulu-bulu ketek lebat yang basah itu terkuak. Rama menyusurkan
jemarinya di antara bulu-bulu itu, membiarkan setiap helai bulunya berada di
sela-sela jari. Setelahnya, Rama merapatkan jari dan menarik bulu-bulu ketek
itu ke depan. Dalam bayangannya, Saga akan meringis geli sambil mendesah.
“Yeeeaaahhh .... Aku gundulin bulunya ya, Gaaa ...?
Anjeeennnggg .... Baunya enak, Gaaa .... I can’t help myself.”
Rama mulai merasakan gelombang rasa nikmat di area pangkal
kontolnya. Sensasi puncak yang membuat selangkangannya seperti akan meledak
dalam rasa enak.
“Aaargh! Aaargh! AAAAAARGH ...!”
Dan tepat ketika ejakulasi itu nyaris terjadi ....
TOK! TOK! TOK!
... seseorang mengetuk pintu kamar Rama.
“Argh!” Rama melonjak terkejut sampai terguling dari tempat
tidurnya sendiri.
GEBRUK!
“Woy! Elo di dalam?” sapa seseorang dari luar.
Kalang kabut, Rama buru-buru bangkit dan menyambar sarung yang
terlipat rapi di atas sajadah. Rama sempat tersungkur dan kepalanya membentur
lemari saat meraih kain sarung itu. “Argh!” Namun, dengan sigap Rama buka
lipatannya dan langsung masuk ke dalamnya. Dia gulung kuat-kuat, sambil
menjepitkan kontol ngaceng-nya ke perut lewat gulungan sarung itu.
Kemudian, Rama menarik tepian kausnya ke bawah agar kepala kontolnya yang
menyembul keluar dari gulungan sarung bisa tertutup. Sambil berlari menghampiri
pintu, rama meraup celana dan sempaknya di atas lantai, lalu melemparnya buru-buru
ke keranjang pakaian kotor. (Tidak masuk. Celana itu jatuh ke atas lantai.)
Ckrek!
Dengan buru-buru Rama memutar kunci dan membuka pintu
seperempat saja, hingga kepalanya bisa melongok keluar. Ketika Rama melihat
siapa yang mengetuk pintu kamarnya, dia langsung membeku.
Seluruh tubuh Rama menegang.
“HMPH!” Rama menahan napas.
Tangannya menarik tepian kaus hingga ke bawah, sampai kerahnya
melar.
Soalnya ....
CROT! CROT! CROT!
... kontol Rama ejakulasi.
“FFFFFF! HMMMPH!”
Kenapa ejakulasi?
Karena Saga berdiri di hadapannya.
Telanjang dada.
Hanya mengenakan celana basket yang tadi dia pakai di
pertandingan. Lalu, kausnya dia sampirkan ke bahu, membuat dada, perut six
pack, dan lengan kekar itu terekspos bebas di depan Rama. Jaraknya, literally,
hanya setengah meter saja. Rama bisa menghidu aroma khas Saga yang sangat
nikmat.
Dan yang membuat crot adalah satu tangan Saga
disandarkan ke kusen pintu. Di atasnya. Sehingga ketek berbulu lebat itu, yang
basah, yang bahkan ada titik air peluh di salah satu ujung bulu keteknya,
terekspos bebas.
“Hey!” sapa Saga, agak ngos-ngosan.
Dengan leher tegang, urat-urat bermunculan, rahang mengeras,
karena Rama sedang mengalami ejakulasinya, Rama membalas, “H-HEY!” Suaranya
agak tertahan.
Saga tak langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Dia masih
mengatur napasnya yang memburu, memejamkan mata kuat-kuat, lalu menatap Rama
dari atas ke bawah. “Lagi ... hoh ... hoh ..., lagi salat, Bro?”
CROT! CROT!
“I ... iya.”
CROT!
Kontol Rama masih saja ejakulasi.
Rama menempelkan tubuhnya ke daun pintu. Menarik tepian
bawahnya lebih bawah lagi. Menahan napasnya agar tidak melantunkan ekspresi
sensual yang mencurigakan. Kedua kakinya menekuk ke dalam, menahan sensasi
tegang dan menggelinjang di seluruh tubuh. Urat-urat di pelipisnya hampir saja
bermunculan.
Rama bisa merasakan cairan hangat mendarat di perutnya
berulang-ulang.
Dengan begitu, Rama menekan kausnya agar menempel ke tubuh,
supaya sperma-sperma itu tidak jatuh ke atas lantai.
“Hmph.”
Saga sebenarnya melihat keanehan Rama menarik baju sampai ke
bawah banget. Namun, dia memutuskan untuk tak mempermasalahkannya. “Sorry,
ganggu ... hoh ... hoh .... Gue boleh ... hoh ... hoh ..., gue
boleh ngekos di sini?”
Rama yang kebetulan sudah selesai dengan ejakulasinya, dan
sudah mendapatkan lagi napasnya, mulai bersikap normal. “Elo ... hoh ... hoh
..., elo, kan udah ngekos di sini, Ga.”
“Maksud gue ....” Saga menelan ludah dan mengatur lagi
napasnya. “Sorry gue ngos-ngosan. Gue tadi lari ke sini. Gue mesti cepet
soalnya.”
“Oke ..., oke ..., calm down,” ungkap Rama, soalnya
Rama juga ingin menenangkan napasnya yang sama-sama memburu.
Saga akhirnya menurunkan tangan itu. Dia bersandar ke pagar di
depan kamar Rama. Dia mengerjapkan matanya sebentar, mengguncang kepala,
kemudian menarik napas panjang. “Maksud gue ...,” lanjutnya, “... di kamar
elo.”
“Kamar elo emang kenapa?” Rama mengintip ke kamar Saga di
seberangnya.
“Udah jadi punya orang.”
Rama mengerutkan alis tak paham.
“Entar lah gue cerita. Hoh ... hoh .... Intinya ..., gue
udah kagak ngekos di kamar itu lagi .... Dari seminggu kemarin. Hoh ... hoh
.... Gue dikasih waktu seminggu buat cari kosan ..., tapi kagak dapat-dapat
.... Di Bali susah banget anjing nyari kosan!” Saga mengelap wajahnya yang juga
basah oleh keringat. “Barusan yang mau nempatin kamar gue itu datang.
Barang-barang gue mau dia keluarin malam ini .... Gue belum beres-beres
padahal. Hoh ... hoh .... Jadi barusan gue ketemu ama dia. Gue minta
waktu sejam buat beres-beres. Tapi gue kagak punya kamar buat malam ini. Hoh
... hoh .... Boleh gue nginep di kamar elo ...?”
Seperti yang selalu Rama rasakan sejak kelas XI SMA, perutnya
mulas, dadanya berdebar, punggungnya berkeringat dingin setiap berbicara dengan
Saga.
Tidur satu kamar kosan merupakan salah satu skenario yang
selalu Rama fantasikan kalau coli membayangkan Saga. Dia tak menyangka
skenario ini betulan bisa terjadi.
“Berapa ..., berapa lama?” tanya Rama hati-hati.
“Yaaahhh ... semalem? Dua malam ...?” Saga menggosok kepalanya
yang tak gatal, memamerkan lagi ketek berbulu lebat itu. “Atau seminggu? Atau
sampai gue dapat kosan ...? Maksimal sebulan, lah.”
Rama menelan ludah.
Maukah dia membiarkan Saga tinggal di kamarnya selama satu
bulan?
Merenggut kebebasan Rama untuk coli membayangkan Saga
tiap malam?
“Sebulan?” ulang Rama, memastikan.
“Iya. Sebulan.” Saga mengangguk yakin. “Atau dua bulan. Atau
tiga. Atau sampe akhir semester, lah. Sumpah.” Saga mengangkat tangan,
memberikan gestur V dengan jarinya. “Atau kalau elo rido sampai gue lulus juga
oke.”
Rama mulai tak berani menatap tubuh seksi yang basah dan
ngos-ngosan di hadapannya. Dengan wajah ganteng yang memelas, menatap Rama
dengan pandangan memelas yang melelehkan hati.
“Entar gue chime in buat bayar kosannya. Tapi ... entar.” Saga
menelan ludah lagi. Garuk-garuk kepala lagi dengan salah tingkah. “Kira-kira
bulan ke ... ngng ..., dua. Atau tujuh.”
Rama sudah tidak mendengarkan lagi kalimat itu. Dalam
kepalanya hanya ada jutaan skenario dirinya tidur bareng Saga dalam kamar ini
selama berminggu-minggu.
Tentu saja Rama tak punya pilihan lain. Dengan malu-malu, dia mengangguk
setuju. “Perlu gue bantu ... packing-nya?”
“Anjiiirrr ....” Saga sampai berlutut di atas lantai. “You’re
my man banget, Raaammm .... My Brooo .... Iya please ....
Bantuin packing juga.”
“Oke. Bentar. Aku pake celana dulu.”
[ ... ]
Secara resmi, Saga menjadi roommate Rama. Setelah
pertemuan itu, Rama membantu Saga membereskan barang-barangnya, lalu
mengalihkan sebagiannya ke kamar Rama. Tidak begitu banyak, hanya dua koper
besar, beberapa tas kecil, sedikit buku, dan banyak kerat bir. Semuanya dibungkus
asal-asalan, yang penting bisa dimigrasikan untuk sementara.
Menjelang tengah malam, keduanya memindahkan semua barang itu
dari ujung kosan ke ujung lainnya. Penghuni berikutnya sudah menunggu dengan
bete di luar kamar Saga, bahkan merecoki mereka dalam proses mutasi itu.
“Itu sepatunya jangan ketinggalan ya, Mas,” katanya dengan
nada sinis. Penghuninya cewek. Chindo. Overweight. Dan sepanjang
menunggu Rama dan Saga pindahan, tangannya di depan dada sambil menunjukkan
wajah tak suka. Seolah-olah dia anti banget sama dua cowok ganteng malam-malam
masih berinteraksi dengannya.
Setelah semua barang itu masuk ke kamar Rama, Saga langsung
duduk di atas tempat tidur sambil bersandar ke dinding. Seluruh tubuh Saga
basah oleh keringat. Dia tampak kelelahan.
Rama menurunkan suhu AC di kamar sambil menutup pintu. Dia
merapikan barang-barang Saga ke satu sisi agar mereka masih bisa bergerak bebas
di dalam kamar. Lalu, Rama mengambil handuk dan berkata, “Tapi, Ga, gue ada
syarat yang harus elo ikutin, kalau mau stay di sini.”
“Apa, Bro?”
“Gue tahu elo ngerokok, tapi bisa enggak selama elo di sini,
elo enggak ngerokok di kamar?”
“Aman.” Saga mengacungkan jempolnya. “Gue boleh ngerokok di
depan?”
“Boleh. Tapi please abunya elo beresin juga, ya. Jangan
berantakan di luar.”
“Aman.” Saga mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
“Ada lagi?”
Rama mengingat-ingat. Dia tak menemukan syarat apa pun yang
bisa disampaikan. Atau belum. Soalnya, Rama juga sedang tegang, berdebar-debar,
dan kasmaran. Di lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya Rama grogi bicara
dengan Saga. “Enggak ada.”
“Kalau gue ngebir di sini? Boleh?”
“That’s okay.”
“Kalau bawa cewek gimana?”
Rama menelan ludah. “Mau ngapain aja bawa ceweknya?”
“Yaaa ... pacaran.”
“Elo punya pacar?” Seingat Rama, perempuan yang mampir ke
kamar Saga berbeda-beda. Mungkin hanya bertahan dua atau tiga hari, selanjutnya
ganti lagi.
“Yaaa ... kadang-kadang.”
“Elo mau ngewe?” tembak Rama langsung.
“Anjiiirrr, Bro! Sumpah .... Elo emang paling pengertian!”
Saga mengacungkan jempolnya ke arah Rama sambil geleng-geleng kepala. Senyumnya
begitu lebar. Semringah. “Iya, Bro. Kalau elo mau nonton boleh, mau keluar dulu
silakan. Yang pasti gue enggak bakal ganggu elo misal elo mau pacaran ama cewek
elo itu. Kabarin gue aja, supaya jadwal kita kagak bentrok.”
Dada Rama berdebar-debar mendengar statement, ‘Kalau
elo mau nonton boleh.’ Lututnya sampai gemetar karena tak sanggup membayangkan
dirinya melihat Saga telanjang bulat lalu mengentot ceweknya.
Alhasil, Rama hanya bisa menjawab, “Kalau pakai kondom, boleh.
Gue enggak mau elo bawa penyakit ke kasur gue.”
“MANTAP!” Saga mengacungkan kedua jempolnya. “AMAN! Gue pasti
pake kondom.”
“Tapi ceweknya jangan nginap di sini, oke? Jangan sampai cewek
gue mikirnya gimana-gimana—“
“Siaaap, siaaap, pahaaammm ...!” Saga melambaikan kedua
tangannya dari atas ke bawah, seperti menyembah Rama. “Aman, Bro! Gue short
time doang, kok. Gue janji enggak bakal bawa cewek nginep di sini.”
Rama manggut-manggut. Dia mulai tak berani menatap wajah Saga
yang tampan, seksi, dan entah bagaimana caranya, punya daya tarik seksual yang
tinggi. Aroma badan Saga yang bercampur keringat itu bukannya bikin ilfeel,
malah bikin Rama ngaceng lagi.
“Gue ... gue mau mandi dulu,” kata Rama kemudian.
“Gue mau rebahan dulu,” sahut Saga, sambil tiba-tiba mengambil
satu sisi tempat tidur Rama, merebahkan kepalanya di atas bantal favorit Rama,
lalu melipat satu tangannya di belakang dada. “Entar gue mandi habis elo. Tapi
kalau gue ketiduran, please jangan dibangunin. Gue capek banget, anjing.
Habis match langsung lari ke sini, terus packing. Oke, Bro?”
Rama baru saja akan protes agar Saga mandi, soalnya nanti
keringat Saga itu menempel ke seprai Rama. Mana Saga masih telanjang dada,
pula. Tubuhnya masih mengilat basah oleh peluh. Namun, Rama baru sadar bahwa
ini keringat Saga. Jenis cairan yang Rama rela jilat tak peduli kotor ataupun
bersih.
Jadi, yang Rama lakukan adalah, “Oke.”
Rama pun pergi ke kamar mandi.
Ini adalah momen sendirian pertamanya sejak dihampiri saga
kira-kira sejam lalu. Rama berdiri di balik pintu kamar mandi sambil mengatur
napasnya, menguasai diri, bahkan menarik-narik kontol ngaceng-nya ke
bawah hingga akhirnya mantul lagi ke atas. Rama butuh waktu untuk memproses
semua kejadian ini. Dia sudah membayangkan dirinya harus berakting lebih strict
dan straight lagi di depan Saga supaya enggak ketahuan gay. Apalagi
kalau sampai ketahuan gay dan naksir Saga sejak SMA.
Rama selesai mandi kira-kira setengah jam kemudian. Ketika
keluar kamar mandi, dia sudah mengenakan celana pendek tidurnya. Biasanya dia
akan berjalan telanjang bulat dari kamar mandi ke tempat tdiur, lalu tidur
telanjang juga. Namun malam ini, tampaknya dia harus membiasakan lagi
mengenakan pakaian saat tidur. Rama langsung menghampiri lemari untuk
mengenakan kaus rumahannya.
Setelah siap tidur, Rama berdiri di ujung tempat tidurnya.
Niat Rama adalah mempersilakan Saga untuk mandi. Namun ternyata ....
... Saga sudah molor.
Malah, molornya agak ke tengah, mengambil sedikit sisi tempat
tidur yang seharusnya menjadi hak Rama. Tempat tidur ini ukuran queen,
bisa untuk dua orang, tapi sekarang Saga mengambil alih 75% di antaranya. Kedua
kakinya membentang lebar. Kedua tangan Saga terlipat di belakang kepala,
memamerkan lagi ketek berbulu lebat itu dengan lebih kentara dan ultra high
definition (8K).
Dada Rama berdebar-debar. Puting Saga, abdominal Saga, dan
ketek Saga, semua terekspos dan tersaji secara cuma-cuma di depan Rama. Puting
yang berwarna gelap, perut rata yang kotak-kotaknya samar, dan ketek berbulu
yang sudah kering karena kamar ini mulai terasa dingin. Tentu saja, sebagai
manusia bermoral, laki-laki berpendidikan, dan warga negara yang baik, Rama
harus mengabaikan semua hasratnya dari tiga titik di tubuh Saga itu.
Rama tak boleh mengikuti keinginan hatinya untuk memuja,
menghidu, menjilat, membenamkan wajah, mengisap, atau melakukan apa pun di tiga
titik itu. Rama hanya perlu berbaring di sisinya, rebahan miring memunggungi
Saga, lalu tidur.
Namun, kepalanya benar-benar kreatif malam itu.
Bisa saja dia mengenyot nenen Saga pelan-pelan, mengisapnya
lembut. Kalau Saga terbangun, Rama akan langsung berbalik dan pura-pura sedang
tidur.
Bisa saja dia mengulurkan ujung lidahnya ke pusar seksi itu,
dan menjilatinya. Kalau Saga terbangun, Rama akan pura-pura membangunkan Saga
sambil bilang, “Katanya mau mandi. Hehe. Sorry ya gue bangunin lewat
perut.”
Bisa saja dia membenamkan wajahnya di ketek berbulu lebat itu
dan menghidu aromanya dalam-dalam. Kalau Saga terbangun, dia akan langsung
menutup mata dan pura-pura tidur, pura-pura tak sadar bahwa Rama tak sengaja
nemplok ke ketek Saga dalam tidurnya.
Namun tentunya, Rama bisa juga mengabaikan semua fantasi liar
itu dan memilih tidur.
Kira-kira ..., apa yang perlu Rama lakukan?
[ ... ]
Voting sudah selesai.
Hasil voting terlampir di bawah.
Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 2
Hasil voting:
Jumlah
pemilih: 104 orang
Sebanyak 30%
(31 orang) pilih “mainin ketek”
Sebanyak 48%
(50 orang) pilih “mainin puting”
Sebanyak 9%
(9 orang) pilih “mainin perut”
Sebanyak 13%
(14 orang) pilih “enggak mainin apa-apa”
Belum ada
pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.
Maka dari
itu, Part 2 akan mengikuti suara terbanyak. Klik di sini untuk melihat alternatif cerita yang tidak terpilih.
Dengan
ini, seluruh voting yang terjadi di Part 1 setelah penayangan Part 2 ini sudah
tidak berlaku lagi.

Komentar
Posting Komentar