Apa yang terjadi jika pilihan lain yang menang?
Kita to the point aja, ya. Apa saja yang kamu lewatkan
kalau pilihan-pilihan inilah yang menang untuk kelanjutan Part 4.
(1) Kocok sambil tetek dimainin
Sayang sekali ini tidak terpilih, padahal ini pilihan yang
paling dekat ke seks! Wkwkwk.
Lampu tidak dimatikan. Lokasi di tempat tidur. Rama berbaring
penuh, menurunkan celananya sampai full, tapi kausnya enggak. Namun,
kaus itu diangkat dan dijepit dagu untuk mengekspos puting Rama. Saga duduk
bersila di samping Rama. Saga mengocok kontol Rama dengan satu tangan, lalu
satu tangan lain memilin-milin puting Rama.
Setelah melakukan adegan itu dalam waktu lama, Rama mengaku, “Gue
ngerasa aneh, Ga. Enggak biasanya gue cuma diam aja. Biasanya gue mainin cewek gue
juga pas dia lagi ngocokin gue.”
“Mainin apa?” tanya Saga.
“Ya mainin teteknya, lah. Memeknya, lah. Emang elo bakal diem
aja?”
Saga garuk-garuk kepalanya sambil berpikir—pun sambil
meregangkan otot tangan yang pegal karena mengocok kontol Rama tanpa henti. “Ya
sama, Ram. Elo mau mainin gue?”
“Elo ikhlas enggak dimainin?”
Saga mengangguk dan Rama pun mulai memainkan nenen Saga.
Bagian pentingnya dimulai dari sini. Sejak Rama mainin nenen Saga, Rama mulai
nakal dengan mainin bulu ketek Saga. Kemudian, tangan Rama menggerayangi perut Saga.
Lama-lama, tangan itu turun ke celana Saga dan menemukan kontol Saga ngaceng
juga.
Awkward moment dimulai dari sini. Rama
masukin tangannya ke celana itu, lalu ngeluarin kontol Saga dari bagian bawah
celana. Untuk kali pertama Rama lihat kontol Saga. Ngaceng pula. Rama
kocokin kontol itu selama Saga ngocokin kontol Rama. Tapi lama-lama, Saga berhenti
ngocokin Rama karena Saga keenakan dikocokin Rama. Tiba-tiba saja Saga memegang
tangan Rama agar berhenti mengocok. Dengan malu Saga jawab, “Malah gue yang mau
keluar.”
Rama dan Saga bertatap-tatapan. Lalu, Rama bertanya, “Elo mau
gimana dikeluarinnya?”
Saga jawab, “Gue pengin keluarin sambil genjot.”
Intinya, mereka jadi saling gosokin kontol ke pantat satu sama
lain. Pake pelumas. Yang pertama, Rama berbaring telungkup. Saga
mengangkanginya dari belakang, menyelipkan kontolnya di antara belahan pantat
Rama, lalu menggenjotnya. Saga crot ke punggung Rama. Lalu, gantian Saga
yang telungkup, Rama yang ngangkangin dari belakang. Awalnya Rama juga
menggesekkan kontolnya ke belahan pantat Saga, tetapi lama-lama Rama minta izin
untuk diselipkan di antara paha saja, supaya lebih menjepit.
Saga menjawab, “Oke, Bro. Asal jangan masuk lubang aja.
Hehehe.”
“Anjing! Enggak lah, Ga. Gue kan bukan homo!” kata Rama. Dia
pun menyelipkan kontolnya ke antara paha Saga, tepat di bawah lubang bool
Saga, lalu menggenjotnya hingga crot. Genjotan itu enak sekali dan
terasa menjepit. Setelah crot, Rama menarik keluar kontolnya dari
jepitan paha, dan Rama baru menyadari bahwa ....
... kontolnya sempat masuk ke bool Saga. Soalnya ada “kotoran”
di situ.
Saga menyadari bahwa Rama menyadari kontol Rama masuk ke bool
Saga. Masuknya di akhir-akhir, ketika Rama menggenjot sangat cepat karena mau crot,
tanpa sengaja kontol itu masuk ke bool Saga. Awalnya Saga mau protes,
tetapi Saga tahan saja karena yakin Rama sudah mau crot. Saga tidak
bilang apa-apa, tapi kini keduanya tahu bahwa tanpa sengaja Rama menyodomi
Saga.
Saga mandi duluan, Rama mandi belakangan. Itu adalah kali terakhir
mereka berinteraksi. Momen awkward-nya lebih parah dibandingkan Part 4
yang setidaknya masih mengobrol kecil-kecil. Selama satu minggu, Rama tidak
menemukan Saga sama sekali, termasuk saat bangun tidur. Seolah-olah Saga sengaja
tidur saat siang saja ketika Rama ke kampus, sehingga Saga bisa keluyuran sampai
pagi demi enggak satu kasur dengan Rama. Saga benar-benar malu pada kejadian
itu.
Adegan Vina ada, sama seperti Part 4, tetapi isu Saga yang
dibawa Vina bukan soal Hesti, melainkan soal Saga banyak utang dengan
teman-teman di kelas. Utangnya sangat besar. Setelah dihitung-hitung, sudah
lebih dari 1 miliar. Vina bilang, Saga jadi buronan. Satu teman mereka
benar-benar marah sama Saga dan berani bayar siapa pun yang tahu keberadaan
Saga sebanyak 5% dari utangnya Saga ke dia. Vina bilang teman mereka itu siap
menghajar Saga pake tukang pukul bayaran.
Sama seperti Part 4, ketika pulang ke kosan setelah bertemu
Vina, Saga ada di kosan. Namun, Saga sedang membereskan kopernya, karena dia
akan kabur dari kosan Rama.
Pilihan yang muncul: (1) segera beri tahu Vina bahwa Rama tahu
Saga di mana, dan sekarang sedang akan kabur; (2) menahan Saga dan mengajak
diskusi soal masalah keuangan yang baru dikasih tahu oleh Vina; (3) tidak
membahas masalah keuangan, tetapi membahas kejadian minggu kemarin, bahwa Rama minta
maaf kontolnya masuk ke bool tanpa sengaja, sambil mengaku bahwa rasanya
enak banget pas masukin kontol ke bool Saga, jadi Rama pengin bayar Saga
sejumlah uang untuk melakukan adegan itu lagi, dengan harapan Saga tertarik
karena Saga sedang butuh uang; dan (4) membiarkan Saga pergi, tanpa mengatakan
apa pun soal masalah keuangannya, dan juga tidak memberi tahu Vina
Kesimpulan: opsi ini membuat Rama melihat kontol Saga secara
jelas bahkan secara teknis sudah menyodomi Saga meski tanpa disadari oleh Rama,
hubungan keduanya memburuk, dan isu Saga terhitung besar (karena berkaitan
dengan uang).
(2) Kocok sambil dipeluk dari belakang
Pencahayaan terang. Lokasi di tengah-tengah kasur. Saga tetap
telanjang dada pake celana belel itu. Rama hanya buka celananya ke lutut, jadi
enggak telanjang juga (kausnya masih dipake). Saga peluk Rama dari belakang. Kepala
Saga ada di atas bahu Rama. Kepala mereka sebelahan. Kedua kaki mereka diselonjorkan,
tapi agak menekuk. Tentunya tungkai Saga memeluk tungkai Rama.
Saga ngocok kontol Rama pake tangan kiri, sementara tangan
kanannya meraup-raup biji peler Rama. Kocokannya kurang begitu enak, tetapi
karena yang ngocok Saga, Rama tetap merasa keenakan. Lama-lama, Rama bilang dia
biasanya dikocokin sambil cipokan ama ceweknya. Dengan canggung, Saga tiba-tiba
nyipok mulut Rama. Dalam perspektif Saga, dia cuma pengin Rama cepetan crot.
Akhirnya Rama crot, dikocokin sambil dipeluk dari belakang, dan sambil
mulutnya bercumbu bersama Saga cukup lama.
Momen awkward-nya: ketika Rama turun dari kasur untuk
bersih-bersih, Saga ketahuan ngaceng. Kontol Saga membentuk tenda di
dalam celana belel itu. Rama tawarin untuk balas kocokin, tapi Saga nolak dan
langsung tidur.
Pukul 3 dini hari, masih di malam yang sama, Rama terbangun
dari tidurnya. Dia merasa kasurnya goyang. Dia kira gempa, ternyata Saga lagi coli
di sampingnya. Ada momen awkward lagi karena Saga ketahuan coli
pas Rama tidur, tapi Rama langsung masukin tangannya ke celana Saga, dan
ngocokin kontol itu. “Giliran gue, Bro. Elo baring aja. Temen bantu temen.”
Kocokan itu cukup lama, sampe-sampe tangan Rama pegal. Sampe
akhirnya Rama nanya, “Elo perlu dicipok juga enggak kalau ngocok?” Saga sebenarnya
bilang, “Enggak usah, Bro. Malah enggak keluar.” Tapi Rama bersikukuh mencipok
mulut Saga, yang anehnya cipokan itu dibalas Saga dengan intim (padahal tadi
ditolak), dan lucunya kontol Saga crot tak lama setelah itu. Itu adalah momen
awkward dan malunya Saga ke Rama karena dia juga crot sambil
dicipok lelaki.
Meskipun begitu, interaksi mereka keeseokan harinya tetap
normal dan tidak awkward. Saga TIDAK menghindar seperti apa yang ada di
Part 4. Malah, Rama dan Saga minum bareng ke kafe suatu malam, saling membuka
diri, dan Saga pun memberi tahu masalah finansialnya ke Rama. Masalah finansial
ini normal saja, keluarganya ditipu kerabat, uang mereka minus, Saga hampir
drop out karena enggak bisa bayar kuliah, makanya Saga pindah ke kamar Rama.
Tidak ada adegan Vina di sini.
Cerita diakhiri dengan Saga menemukan seorang cewek bule asal
Ukraina di bar tersebut, lalu ngajak Rama buat threesome sama si bule.
Si bule lagi pengin nyepong dua kontol lokal sekaligus. Rama nanya, “Terus
kalau kita lagi di-sepong barengan, kita berdua ngapain entar? Kita
bakal berdiri sebelahan, Bro.”
Saga menjawab, “Yaaa .... We can kiss lah, Bro. Minggu
kemaren aja kita udah cipokan dua kali. Elo juga bisa mainin tetek gue kalau
kagak mau cipokan.”
Pilihan yang muncul: (1) terima tawaran threesome tapi
enggak perlu cipokan, jaga jarak saja; (2) terima tawaran threesome dan bikin
kesepakatan apa aja yang boleh dilakukan, misal cipokan, mainin tetek, atau saling
ngocokin; (3) tolak tawaran threesome, tapi biarkan Saga dan si bule ngewe
di kamar Rama; (4) tolak tawaran threesome, biarkan Saga ngewe di
hotelnya si bule, tapi sepulang dari ngewe kalau Rama sange Rama
pengin dikocokin kayak kemaren.
Kesimpulan: opsi ini membuat Rama dan Saga berciuman, hubungan
keduanya makin dekat, tetapi Rama belum lihat kontol Saga dalam penerangan yang
cukup (sama seperti Part 4). Yang pasti, isu Saga ringan, hanya soal kesulitan
keuangan keluarganya saja.
(4) Tolak tawaran dan tidur
Tawaran itu ditolak Rama dan keduanya pun tidur. Rama belum sanggup
berinteraksi secara seksual dengan Saga. Namun, Saga malah merasa terlalu nyaman
dengan Rama. Malam besoknya, dia mengundang perempuan lain untuk ngewe
di depan Rama. Kali ini sambil Saga berkata, “Bro, kalau mau pegang, pegang
aja.”
“Pegang elo?” tanya Rama.
“Kalau emang elo segan buat pegang ceweknya, ya udah pegang
gue aja.”
Pilihan ini akan menampilkan tiga adegan Saga ngewe
dengan perempuan di hadapan Rama. Dengan cewek pertama, kejadian seperti
Melinda terjadi lagi. Saga sengaja ngewe berdiri di samping tempat
tidur, lalu pantatnya dihadapkan ke Rama. Ketika Rama mainkan biji peler itu,
Saga biarkan. Bahkan, Saga agak mundur agar tangan Rama bisa menyentuh ke
depan. Dalam hati Rama, dia ingin memegang kontol Saga yang sedang menggenjot
memek. Dalam pikiran Saga, Rama mau megang memek yang lagi dia entot, jadi Saga
agak mundur supaya tangan Rama bisa terjulur dari belakang. (Di momen ini, untuk
kali pertama Rama melihat kontol Saga.)
Dengan cewek kedua, Rama membaca bukunya di atas kasur, di
samping Saga yang sedang ngewe seorang cewek berbeda lagi. Sambil Rama
buka buku dan (pura-pura) membaca, tangan Rama mainin tetek si cewek. Tapi si
ceweknya malah nyimpenin tangan Rama ke nenen Saga, dan Rama pun mainin nenen
Saga sampai Saga crot.
Pada ngewe ketiga, Saga ngewe dengan cewek kedua
barusan. Cewek itu secara spesifik pengin Rama mainin nenennya Saga. Rama pun
sepakat. Jadi, Rama berlutut di belakang Saga yang telanjang. Satu tangan Rama
terulur ke depan, memilin nenen Saga. Satu tangan lain turun ke bawah, mainin bool
Saga.
Saga terkejut dan menghindar, “Eits, eits, eits, Bro! Hehehe
... salah lubang, Bro!”
“Oh, sorry. Enggak kelihatan soalnya.”
“Salah lubang apa?” tanya si cewek.
“Si Rama mainin pantatku, Beb,” jawab Saga.
“Ya udah lanjutin. Aku pengin kamu dimainin sama Mas Rama. Please.
Aku suka banget lihat kamu ada yang mainin juga.”
Saga syok. Rama syok. Cewek itu makin sange. Tapi Saga
pun akhirnya menurut. Saga biarkan Rama memainkan puting dan bool-nya
dari belakang. Saga crot cepat sekali saat jemari Rama memainkan bool
itu. Ini titik kelahiran momen awkward di pilihan voting ini.
Namun, awkward moment-nya enggak berlangsung lama. Keesokan
harinya mereka heart to heart soal kejadian semalam. Rama minta maaf
karena mainin bool Saga. Saga minta maaf karena ngewe terus depan
Rama, sehingga Saga maklum kalau Rama lagi pengin mainin lubang. Namun, obrolan
itu berujung pada Saga mengakui bahwa dia baru saja drop out dari
kampusnya. Pertandingan basket kemarin adalah pertandingan terakhirnya bersama
kampus. Alasannya drop out adalah Saga mabuk dan merkosa salah satu
dosen di kampus. Selain itu Saga kebanyakan bolos dari kuliah, sehingga nilai
dua semester pertamanya anjlok. Keluarganya di rumah stop ngirim duit
dan mengusir Saga dari kartu keluarga.
Obrolan itu berlanjut pada pertanyaan, “Elo sebenarnya belok
enggak Ram?”
Rama, yang merasa tersanjung karena Saga sudah mau curhat sedalam
itu soal situasinya, akhirnya mengaku, “I don’t know. Kadang tiap gue
lihat elo, gue juga sange, Ga. Sorry, ya.”
“That’s okay. Gue udah curiga elo masih curious
ama orientasi elo. Soalnya elo pas SMA pacaran sama si Vina, tapi cuma enam
bulan. Kalau gue sih enggak bakal pernah putusin dia, Ram. Perfect si
Vina tuh. Gue entot tiap hari kalau bisa. Menurut gue, cowok yang enggak pertahanin
si Vina adalah cowok gay.”
“Hahaha. Gimana kalau gue emang gay, Ga?”
“Aman, Bro. Gue juga bukan manusia paling sempurna.”
“Elo jijik ama gue?”
Saga mikir-mikir sebentar dan menjawab. “Enggak,” katanya. “Tapi
sekarang gue punya pilihan buat elo. Untuk bayar rasa enggak enak gue karena
udah numpang di tempat elo, hampir sebulan, malah dengan kurang ajar gue
numpang ngewe, gue pake sabun-sabun elo ..., gimana kalau gue ....”
Pilihan yang muncul: (1) Saga bersedia ngewe full
dengan Rama sebulan sekali sebagai pengganti bayar kosan Rama; (2) Rama boleh
mainin body Saga kapan pun, tapi enggak ada ngewe sama sekali; dan
(3) Saga akan mengajak Rama threesome dengan semua cewek yang mau diajak
threesome dan Rama boleh menikmati tubuh Saga selama threesome.
Pilihan keempat adalah Rama menolak tawaran itu dan berkata
bahwa dia menyukai Saga as a person bukan sekadar seksual saja. Rama
ikhlas menampung Saga. Jadi, move on seperti biasanya saja, tidak perlu
ada “transaksi”.
Adegan Vina tidak ada di sini, tetapi Vina di-mention
dalam obrolan Rama dan Saga.
Kesimpulan: opsi ini membuat Rama coming out, hubungan
keduanya makin dekat, Rama bisa melihat kontol dan bool Saga dari dekat
(dalam pencahayaan terang), bahkan bisa memainkannya, bisa threesome, dan
isu Saga cukup berat, tetapi masih bearable.
Sekali lagi, bisa dilihat dengan jelas betapa bergesernya
jalan cerita jika pemenang voting-nya berbeda. Voting tak sekadar
menentukan adegan mana yang akan diambil, tetapi juga jalan cerita ke depannya,
termasuk pilihan yang muncul setelahnya.
KHUSUS UNTUK PART 5 NANTI:
Please, voting dengan hati-hati. Aku sudah menulis
jalan cerita dari masing-masing pilihan Hesti dan perbuluan Saga itu. Ada yang
hasil votingnya berlanjut baik, ada yang buruk! Silakan gunakan logikamu, bukan
hanya nafsumu. Gara-gara 74 orang sange pengin sepong-sepongan
antara Rama dan Saga, alhasil hubungan Rama dan Saga agak-agak awkward,
bahkan Saga menghindari Rama setelahnya. Untungnya isu yang muncul cuma
Saga ternyata udah punya anak. Which is lumayan berat juga.
Maka dari itu, ayo pertimbangkan baik-baik setiap voting
yang muncul. Soalnya, nasib Rama terhadap Saga benar-benar ada di tanganmu,
Wahai Pembaca!
Salam,
Komentar
Posting Komentar