(SKS) Yang Tidak Terpilih Part 4




Apa yang terjadi jika pilihan lain yang menang?

Kebetulan semua pilihan voting tidak terpilih karena ada pembaca yang menggagalkan voting lalu memasukkan plot versi dirinya sendiri untuk Part 5. Tapi kalau salah satu dari voting ini terpilih, apa saja yang kamu lewatkan untuk kelanjutan Part 4?

 

(1) Hanya bahas Hesti, bulu Saga tidak dicukur

Sekilas pilihan ini mirip dengan apa yang akhirnya terjadi di Part 5 sesuai permintaan Penggagal Voting. Namun, perbedaan besarnya ada di sini:

Rama menolak menunjukkan shaver itu dengan alasan dia baru saja bertemu Vina dan menuntut Saga menjelaskan soal Hesti. Jadiii ..., Rama tidak memulainya dengan merayu Saga agar tidak mencukur, melainkan langsung memberondong Saga dengan pertanyaan,

“Daripada elo ngewe sama bule itu, mending elo jelasin soal Hesti. Gue baru ketemu Vina dan dia ngasih tahu gue semuanya. Apa ini alasan elo pindah ke kamar gue?”

Saga agak tersinggung dengan topik itu. Dia mulai defensif. Rama berjanji akan memberi shaver-nya, tapi Rama ingin kejelasan dulu dengan situasi Saga. Terpaksa, Saga menjelaskan soal Hesti. Saga duduk di luar kosan, merokok, pintu kamar dibuka, Rama duduk di ambang pintu, mendengarkan semua penjelasan itu.

Ini adalah pilihan voting yang akan menguak semua rahasia kelam Saga, termasuk soal tak adanya nama Saga di PDDikti. Situasi kuliahnya, situasi keuangannya, situasi dirinya yang jadi buronan. Hubungan Rama dan Saga baik-baik saja setelah deep talk ini. Pun, Saga sepakat untuk tidak mencukur bulu-bulunya karena ngewe bersama bule Ukraina itu batal.

Obrolan itu berujung sama dengan Rama berjanji akan membantu Saga asalkan Saga mau jujur kepada Rama.

Tidak ada obrolan soal kejadian minggu lalu. Soal Saga crot di mulut Rama itu tidak dibahas, sehingga tingkat keintiman Rama-Saga pun belum meningkat seperti di Part 5.

Tidak ada juga adegan supermarket, jalan-jalan di pantai, maupun minum di bar. Namun, Rama bersedia threesome dengan Melinda. Jadi, part dari pilihan voting ini diakhiri dengan Rama, Saga, dan Melinda ngewe bertiga di kamar kosan itu. Kejadiannya hari itu juga, Jumat malam. Rama dan Saga ngewe Melinda bergantian. Kalau tidak sedang me-ngewe, kontol mereka akan di-sepong Melinda.

Adegan paling revolusioner adalah ketika Melinda tiba-tiba menyuruh Rama mengisap puting Saga. Saga hampir crot gara-gara diisap putingnya, jadi Saga tiba-tiba ngeluarin kontolnya dari Melinda, kemudian meminta Rama gantian menggenjot Melinda. Tapi ketika Rama menggenjot pun, Melinda menyuruh Saga mengisap puting Rama, sambil kontol Saga di-sepong Melinda.

Di sini, Saga keenakan dan hampir saja crot. Rama juga hampir crot karena pujaan hatinya mengisap teteknya.

Ketika keduanya sudah di puncaknya, benar-benar hampir crot, tiba-tiba Indah datang dan mengetuk pintu.

Pilihan yang muncul: (1) membuka pintu dan mengenalkan Saga dan Melinda sebagai pasangan, tentunya setelah mereka bertiga mengenakan baju lagi; (2) menyembunyikan Melinda di kamar mandi, membuka pintu dan hanya mengenalkan Saga saja sebagai teman SMA yang sedang berkunjung ke Bali; (3) menyembunyikan Saga dan Melinda di kamar mandi, lalu mengajak Indah main keluar sehingga Indah tak masuk kamar Rama sama sekali, dan (4) tidak menjawab panggilan itu hingga Indah menelepon, lalu Rama menerima telepon itu di kamar mandi sambil bilang bahwa dia sedang ada di luar kosan dan lupa mematikan lampu jadi kesannya Rama ada di kosan.

Ini adalah pilihan voting yang: SAFE.

 

(2) Tidak bahas Hesti, semua bulu Saga dicukur

Ini adalah voting yang kelihatannya akan menang. Ketika voting digagalkan, pilihan ini mencapai 43%, sementara urutan keduanya hanya berhasil mengumpulkan 26% saja. Yang bisa mengalahkan pilihan voting ini hanyalah Prabowo-Gibran dengan 58%-nya.

Rama mengeluarkan shaver dan membantu mencukur bulu-bulu di tubuh Saga. Pintu ditutup, Saga berdiri di atas plastik bekas laundry yang dibentang lebar-lebar di lantai. Saga bisa mencukur ketek kirinya sendiri, tetapi agak kesulitan dengan ketek kanan karena dia harus menggunakan tangan kiri. Jadi, Rama membantu mencukurkan bagian ini. Untuk jembut, Saga mengguntingnya dulu hingga pendek, setelahnya shaver memuluskan cukuran tersebut.

Rama gelisah bukan main. Sange dan penasaran. Untuk kali pertama, dia bisa melihat Saga telanjang bulat dalam pencahayaan terang. Kontol Saga memang lemas sepanjang pencukurannya tetapi setidaknya kontol itu jelas. Rama membantu Saga untuk mencukur area biji peler, perineum, dan bool Saga. Untuk jembut, seluruhnya di-shave oleh Saga sendiri.

Seluruh bulu jembut dan ketek itu jatuh ke atas plastik agar tidak mengotori lantai. Seharusnya plastik itu dibuang ke tempat sampah setelahnya. Namun, tanpa Saga ketahui, ketika Saga mandi, Rama menyembunyikannya agar dia bisa menikmati bulu-bulu Saga sambil coli.

Sepanjang sesi itu, tak ada pembicaraan soal Hesti sama sekali. Rama tidak mendapatkan informasi baru apa pun dari Saga. Setelah sesi cukur-cukuran pun, Saga kembali seperti sebelumnya. Jarang bertemu Rama di kosan, seakan-akan menghindar, dan kalau mengobrol mulai canggung lagi.

Satu minggu kemudian, (dan selama satu minggu ini Rama jarang bertemu Saga) Rama dihubungi oleh Hesti. Anehnya, Hesti tidak menanyakan soal Saga. Hesti malah bertanya di DM Instagram, “Ram, kamu tuh kuliah di Bali kan, ya?”

Rama yang sebenarnya enggak dekat-dekat amat dengan Hesti, membalas seadanya, “Iya.” Rama tak pernah sekelas dengan Hesti. Dia melihat Hesti kelas XII saja ketika Hesti pacaran dengan Saga, dan Hesti sering mampir ke kelas mereka.

“Aku tuh mau ngobrol sama kamu. Kamu lagi sibuk enggak? Kamu di mana?”

Rama sedang di Living World bersama Indah. Rama tak nyaman untuk mengobrol bersama Hesti. Jadi, Rama mencoba berkelit, “Aku lagi di Living World, sama cewekku. Lagi mau nonton. Mau ngobrolin apa? Lewat DM aja gimana? Filmku tiga jam soalnya.” Rama berani menyebutkan Living World karena dia pikir Hesti akan ada di Jakarta, sedang mengurus anak Saga. Rama juga yakin Hesti enggak akan tahu Living World tuh apa atau di mana.

Ternyata, begitu Rama keluar dari bioskop bersama Indah, Hesti sudah menyambutnya. Hesti benar-benar ada di Bali. Di depan Rama. Tampak seperti cewek dari kampung di Jawa, dengan baju seadanya, kucal, mungkin ke Bali ngeteng naik kereta, bukan naik pesawat. Dengan bayi yang menangis dalam gendongan. Hesti berdiri sambil menatap Rama dengan pandangan memelas.

“Ram, aku mau minta tanggung jawab dari bapaknya anak ini.”

Yang langsung membuat Indah terkejut dan salah paham. Indah mengira Hesti dihamili oleh Rama sampai kebablasan punya anak. Rama bingung bagaimana menjelaskannya, karena kalau menceritakan soal Saga di depan Indah, Rama juga harus menjelaskan siapa Saga dan kenapa ada di kosannya.

Pilihan yang muncul: (1) pura-pura tidak kenal Hesti, mengajak Indah pergi dari situ sesegera mungkin, membiarkan teman SMA-nya itu luntang-lantung berdua dengan anaknya tanpa informasi apa pun soal Saga; (2) mengajak Hesti ke tempat makan dan akhirnya menjelaskan dengan jujur semuanya di depan Indah maupun Hesti, soal Saga ada di Bali, kuliah di Bali, dan kini satu kosan dengan Rama, tetapi Rama pun sulit bertemu Saga meskipun setiap malam mereka tidur seranjang; (3) menjelaskan dulu kepada Indah bahwa anak ini bukan anak Rama, lalu mengajak Hesti ngobrol berdua soal Saga, dengan risiko setelahnya Indah marah besar karena ada banyak hal disembunyikan Rama dari Indah; dan (4) memfoto Hesti dan anaknya, lalu mengirim fotonya langsung ke WhatsApp Saga, sambil menunggu reaksi apa yang akan diberikan Saga.

Ini adalah pilihan voting yang: DANGEROUS.

 

(3) Tanya soal Hesti, cukurkan jembut saja

Rama berhasil meyakinkan Saga bahwa bulu ketek itu penting untuk ke-macho-an seorang laki-laki. Rama sarankan untuk cukur jembut saja. Toh shaver Rama untuk jembut juga, bukan buat ketek. Jadi Rama (beralasan) agak enggan shaver itu digunakan mencukur ketek Saga. Pun, Rama tak mau meminjamkan shaver kalau bukan Rama yang mencukurkannya. Untuk memastkan shaver itu tidak disalahgunakan.

Saga sepakat dan bersedia dicukurkan jembutnya oleh Rama. Dia melorotkan celananya dan membiarkan kontol lemasnya ditarik ke bawah oleh Rama sembari jembut di sekitarnya digunduli.

Sambil mencukur jembut itu, Rama tanya-tanya soal Hesti. Konteks pertanyaannya muncul karena Rama mendapat “kabar burung” bahwa Hesti drop out karena hamil. Rama bertanya karena Rama tahu, Hesti adalah pacar terakhir Saga waktu SMA.

“Siapa tahu elo tahu kabarnya, Ga.”

Jawaban Saga malah, “Gue udah enggak kontakan ama dia habis lulus SMA. Kan kita berdua langsung di Bali, Ram.”

“Tapi itu bukan anak elo, kan?” tanya Rama bercanda.

Saga masih terkekeh canggung. “Bukan, lah.”

Rama tak bisa memaksa Saga untuk mengaku, jadi Rama pun sabar dengan informasi yang diterimanya ini. Soalnya, gosip dari Vina pun baru gosip dari satu sisi, meskipun sudah ada foto-foto Saga menggendong bayinya sendiri di Instagram Hesti. Rama akhirnya fokus pada pencukuran jembut itu, mulai terdistraksi oleh dekatnya wajah Rama ke kontol Saga.

Ketika sedang mencukur area biji peler, kontol Saga tiba-tiba ngaceng. Entah karena getaran dari shaver ini menggelitik kulit biji peler yang sensitif, atau entah ada alasan lain, Rama yang sedang menarik kontol itu ke atas menemukan batang kontol Saga mulai membesar. Mereka berdua tak mengatakan apa-apa setelah obrolan soal Hesti itu. Hanya suara shaver saja yang mengisi keheningan kamar.

Dengan nekat, tiba-tiba Rama mengocok kontol itu dengan satu tangan, sambil satu tangannya sibuk membabat habis bulu-bulu di biji peler. Anehnya, kontol itu makin keras dan ngaceng. Ketika Rama mendongak ke atas, Saga sedang menutup matanya dengan malu, wajahnya menengadah ke atas. Kelihatan jelas Saga tak menduga kontolnya akan ngaceng seperti ini, tetapi Saga tak bisa berbuat apa-apa.

Rama makin nekat lagi. Setelah kontol itu ngaceng makin keras, Rama menyepong-nya tanpa izin.

“Hmmmph.” Saga menahan napas saat merasakan kontolnya keenakan, tetapi Saga tidak menyetop perlakuan itu. Malah, Saga menggerakkan panggulnya maju mundur.

Alhasil, Rama betulan menyepong kontol Saga. Tak ada pembicaraan apa pun. Semuanya dilakukan dengan awkward, seperti dua orang lelaki straight yang menemukan bahwa kontolnya sedang dibikin enak, dan tanpa banyak bacot dilanjutkan saja sampai akhirnya crot.

Saga crot di dalam mulut Rama, seperti di Part 5. Setelah crot, Saga langsung ke kamar mandi dan mengenakan lagi celananya. Benar-benar tak ada obrolan apa pun lagi selain, “Gue cabut dulu, ya,” sambil Saga berjalan keluar.

Ketika sedang sendirian di kamarnya, Rama coli lagi, seperti biasa. Kali ini sambil mengendus-endus jembut Saga yang Rama kumpulkan saat pencukuran tadi, sambil merasakan lagi kontol Saga di mulutnya, atau rasa sperma yang ditelannya ke dalam perut. Coli itu benar-benar lama. Saking lamanya, Saga tiba-tiba sudah pulang saat Rama belum juga crot.

Karena Saga langsung memberondong masuk, Saga memergoki Rama sedang coli sambil mengendusi jembut Saga. Namun, alih-alih jijik atau marah seperti lelaki straight normal lainnya, Saga malah menutup pintu dan memaklumi. Namun, Saga tidak menutup pintu dengan rapat. Dia langsung berjalan dengan lemas menghampiri Rama.

Rama sudah hampir mampus. Dia menarik selimut menutupi tubuh telanjangnya, duduk meringkuk ketakutan, panik karena ketahuan. Saga ikutan duduk di tempat tidur dengan tenang, sama-sama kebingungan dengan dirinya sendiri.

“Gapapa, Ram. Gue juga lagi konslet kayak elo,” katanya. “Gue tadi ketemu bule itu, tapi gue enggak bisa main sama dia.”

Rama tak bisa menjawab apa-apa. Rama menunduk malu sambil melempar pandangannya ke arah lain. Benar-benar tak berani menatap Saga.

“Gue kepikiran elo,” lanjut Saga. “Akhir-akhir ini gue ngehindarin elo bukan karena gue marah ama elo. Kejadian minggu kemaren, waktu kita sixty nine di sini ..., gue tahu kita berdua jadi awkward begini, tapi itu bukan karena gue jijik, atau enggak suka, atau gimana ....

“... tapi karena gue keenakan di-sepong elo kemaren, Ram.” Saga mendesah. “Dan gue benci diri gue sendiri waktu tadi gue ... gue nikmatin lagi sepong-an dari elo. Sampe-sampe gue kagak peduli ama bule Ukraina itu. Dalam pikiran gue malah elo, Ram.”

Saga memegang tangan Rama pelan-pelan. Tangan itu digenggam beberapa saat sebelum akhirnya Saga menarik Rama mendekat, membuat Rama menoleh ke arahnya, dan mereka pun berciuman.

Cumbuan itu terjadi cukup lama. Romantis, intim, keduanya saling menginginkan.

Namun, di tengah cumbuan itu, tiba-tiba pintu terbuka lebar. Indah muncul di ambang pintu. “AYANG?!” Dia memergoki Rama berciuman dengan laki-laki.

Pilihan voting yang muncul: (1) mengakui di depan Saga dan Indah bahwa Rama sebenarnya gay, dan selama ini Rama menyukai Saga; (2) membohongi Indah dengan bilang bahwa Saga sedang latihan ciuman dengan Rama, karena Saga belum pernah ciuman, dan Saga minta bantuan Rama, di mana Saga pun mendukung alasan ini; (3) menuduh Saga akan memperkosa Rama, sehingga Indah marah dan mengusir Saga dari kosan itu; dan (4) menutup pintu, mencegah Indah masuk, tanpa penjelasan apa-apa sambil bilang, “Leave me alone.”

Ini adalah pilihan voting yang: BETTER.

 

(4) Pancing soal Hesti, cukurkan ketek saja

Rama keberatan jika shaver-nya digunakan untuk mencukur jembut, jadi dia hanya akan meminjamkan jika Saga mencukur keteknya saja. Itu pun jika dan hanya jika Rama yang mencukurkannya, untuk memastikan penggunaan shaver-nya benar.

Saga sepakat dan membiarkan Rama mencukur kedua bagian keteknya. Sambil mencukur, Rama membuka obrolan soal Hesti. Metodenya memancing, bukan bertanya langsung.

“Elo tuh terakhir pacaran di SMA sama Hesti, kan?”

Saga memberi jeda sebelum menjawab, “Yoi.”

“Gimana kabarnya?”

“Tau. Sebelum lulus juga udah putus. Kan kita berdua langsung pindah ke Bali.”

Semua pertanyaan pancingan soal Hesti dijawab Saga seadanya. Beberapa hal bahkan terdengar menghindar. Hingga akhir sesi pencukuran ketek itu, Rama belum mendapatkan informasi apa pun soal Hesti. Saga juga langsung pergi keluar menemui bule Ukraina tanpa ada pembicaraan lebih lanjut.

Rama hanya bisa coli sambil mengendus berjumput-jumput bulu ketek yang berhasil dia kumpulkan dari pencukuran ketek Saga. Setelah puas coli dengan bulu ketek Saga, Rama mulai kepikiran untuk mencari tahu soal Hesti.

Rama menghubungi lewat Instagram, mengobrol, bahkan sampai menelepon langsung. Tanpa sengaja, Rama menyebutkan dirinya tahu Saga di mana, meskipun dia tak menyebutkan di mana. Tak disangka, Hesti mencoba reach out ke Saga dan memberi tahu bahwa Rama tahu soal keberadaan dirinya. (Hesti selama ini hanya bisa me-WA Saga, tetapi tak pernah mendapat balasan.)

Saga marah saat mendapat WA dari Hesti. Pulang ke kosan, Saga mengonfrontasi Rama.

Pilihan voting ini akan menunjukkan puncak konflik antara Rama dan Saga. Mereka berdebat di kosan hingga semua unek-unek keluar.

Unek-unek Saga: ya dia sedang stres urusan Hesti, financial situation yang dibahas Saga adalah tentang anaknya bersama Hesti, dan ternyata Saga tuh marah ketika Rama menelan pejuhnya minggu lalu.

Unek-unek Rama: dia ingin Saga jujur dan bertanggung jawab, Rama bahkan siap membantu kalau diperlukan, dan tanpa Rama bisa tahan lagi, Rama coming out ke Saga, “Gue gay dan gue suka elo! Paham?!”

Lalu, perdebatan itu berubah menjadi tumpahan perasaan Rama kepada Saga selama ini. Saga terlihat tak suka mendengar cerita itu. Makin Rama cerita, makin Saga benci kepada Rama. Padahal, Saga mengira Rama bisa diandalkan untuk membantu Saga keluar dari masalah ini.

Di tengah obrolan itu, Indah tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Indah tidak mendengar coming out-nya Rama, karena Indah betulan baru datang. Namun, ketika Indah muncul, Saga yang sedang emosi langsung berkata ke Indah, “Atur nih cowok elo! Dia gay! Dan dia suka ama gue! Elo cuma ditipu doang!”

Pilihan yang muncul: (1) Rama menjelaskan dengan panik kepada Indah bahwa yang dikatakan Saga adalah bohong, dan Saga hanyalah orang problematic yang hidup menumpang di kamar Rama; (2) Rama mengusir Saga dari kamar itu dan berbicara dengan Indah lebih private, sambil berbohong bahwa yang dikatakan Saga hanyalah ucapan marah saja, bahwa Rama dan Saga sedang berseteru, sehingga Saga menuduh Rama homo, padahal Rama bukan homo; (3) di depan keduanya, Rama mengiakan tuduhan Saga, lalu Rama mengusir keduanya dari kamar itu, Rama menangis sendirian setelahnya; dan (4) Rama mengusir Saga dari kamar itu dan berbicara dengan Indah lebih private, tetapi dia mengakui dengan jujur bahwa apa yang dikatakan Saga itu benar, bahwa Rama adalah gay dan selama ini menyukai Saga.

Ini adalah pilihan voting yang: WORSE.

 

Sekali lagi, bisa dilihat dengan jelas betapa bergesernya jalan cerita jika pemenang voting-nya berbeda. Apalagi jika voting-nya digagalkan lewat jalur eksklusif. Jika kamu ingin ceritanya bergerak sesuai keinginanmu, silakan gunakan jalur eksklusif untuk menggagalkannya!

Maka dari itu, ayo pertimbangkan baik-baik setiap voting yang muncul. Soalnya, nasib Rama terhadap Saga benar-benar ada di tanganmu, Wahai Pembaca!

 

Salam,

Matheus Axilla.


Terlampir bukti hadirnya penggagal voting:






Part 3 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Voting yang Tidak Terpilih | Part 5

Komentar