(HD) 31A. I've Seen Enough for Today (Shorter Version)




Halo, Kak!

Udah enggak sabar menantikan adegan panas tersebut?

Sama.

Adegan itu sudah merasukiku sejak dua minggu lalu, menjadi fantasi-fantasi terliar yang kupikir enggak akan mungkin terjadi. Namun malam itu, adegan panas itu mungkin terjadi.

....

Tapi sayangnya, enggak terjadi.

HAHAHA.

Iya. Gagal maning, gagal maning, Kak.

Sewaktu Fian bertanya, “Boleh enggak Abang yang nikmatin Adek malam ini?” belum juga aku menjawab, “Boleh banget, Baaannnggg ....” Ponsel Fian bergetar.

Fian langsung menoleh ke belakang dan berdiri.

Terpaksa tanganku lepas dari menggenggam batang kontol tebal itu.

Kulihat Fian berlari menghampiri ponselnya, dengan celana membentuk tenda ...

... atau lebih tepatnya, membentuk stadion.

Mancung banget soalnya. Kayak ada anakonda ingin menyeruak keluar dari dalamnya.

Fian mengangkat telepon, cuma berkata satu kata aja, “Halo?” Lalu, terdapat lima detik jeda. Tahu-tahu telepon ditutup, Fian menarik celananya dari gantungan, kemudian mengenakannya ke tungkai. “Abang harus pergi. Darurat.”

Bye bye adegan panas yang sudah kita nanti-nantikan itu, Kak.

“Darurat?”

Aku enggak punya waktu untuk kesal karena wajah Fian terlihat serius. Suaranya juga terdengar gusar. Kontol segede anakonda itu menyelip masuk ke balik celananya yang berbahan tebal. Tersembunyi penuh di dalamnya.

“Adek bisa tunggu di sini?”

Haha. Bercandakah?

Kugelengkan kepala dengan mantap sambil kusambar ponsel. “Aku ikut.”

“Adek enggak bisa ikut.”

“Ya udah, aku pokoknya ngungsi dulu dari sini. Ke depan, kek. Ke depan jalan. Makan nasi goreng atau apa. Aku enggak mau di sini.”

Enak saja aku menunggu di sini bareng hantu-hantu yang ada di barak. Mendingan aku pulang.

Fian tidak menjawabku selama beberapa saat. Dia sedang sibuk mengenakan sepatu botnya yang bersol besar. Kepalanya terlihat berpikir. “Oke,” lanjutnya, lalu menyambar kaus PDL yang disampirkan ke kursi. Agak terburu-buru dia menarikku berjalan keluar menyusuri koridor bunk bed yang berpasangan itu. “Adek tunggu di lobi depan. Gapapa?”

“Rame kan di sana?”

“Ya.”

Malam itu aku menemukan diriku menunggu di gedung utama depan, di lobinya. Di sebuah area yang sangat maskulin—karena terdapat banyak sekali tentara gagah. Aura macho intimidatif mereka mengingatkanku pada suasana sekolah ketika aku masih pura-pura straight di depan teman-teman cowok sekelas, lalu aku dikelilingi oleh testosteron yang kental ini.

Enggak nyaman.

Lebih enggak nyaman ketika kuketahui terjadi perselisihan internal di antara tentara-tentara ini. Dari lobi, aku mendengar suara ribut-ribut dari luar. Seperti orang yang berantem pukul-pukulan diiringi teriakan-teriakan keras. Sewaktu aku berdiri untuk mengintip, tentara yang sedang berjaga di lobi langsung menegurku. “Duduk, Mas. Tadi instruksinya tunggu di sofa.”

Suaranya begitu menggelegar padahal mungkin pangkatnya tidak setinggi Fian.

Aku tetap keder mendengarnya sehingga aku duduk di sofa.

PRAAANNNGGG!

Tak lama dari situ satu orang tentara—aku enggak kenal—terlempar masuk ke dalam lobi. Tubuhnya melayang melewati jendela kaca yang besar, terhempas hingga ke meja lobi di bagian tengah. Seorang tentara lain—bercelana loreng hijau—berlari masuk dan lanjut menghajarnya. Lelaki itu diikuti tentara loreng biru yang sepertinya ingin melerainya.

BUK! BUK!

Hajar-hajaran. Celana loreng hijau masuk lagi.

Lalu ada celana loreng biru.

Tahu-tahu seisi lobi itu dipenuhi orang yang saling baku hantam ala laki-laki jantan.

Tonjok muka sampai berdarah.

Sikut perut sampai mengerang kesakitan, “AAARGH!”

Tonjok perut sampai semua ludah di mulutnya muncrat keluar.

BUUUKKK!!!

Tendang lawan sampai terhempas ke tembok.

....

Aku membeku ketakutan melihat kerusuhan itu. Aku memeluk lututku sambil membelalak mengamati setiap kekacauan yang ada di lobi. Bulu kudukku rasanya merinding. Jantungku berdegup kencang. Sudah jelas di ruangan ini aku yang paling tidak punya kemampuan bela diri. Kalau mendadak aku harus terlibat dalam kerusuhan itu, aku akan K.O. seketika.

Tidak ada Fian di antara kerusuhan itu. Namun, semua orang ini laki-laki cepak berbadan gagah, berkulit gelap, kekar berotot, dan semuanya saling menghantam. Sempat ada satu tentara yang terlempar ke sofa yang kududuki.

“Argh!” Aku menjerit kaget dan langsung merangkak ke pinggiran sofa, bersembunyi di sana. Aku belum lahir ketika tragedi tahun 1998 terjadi, tetapi di sekolah aku pernah menonton videonya seperti apa. Nah, seperti itu. Perseteruan antara mahasiswa dan tentara. Tapi mahasiswanya diganti jadi tentara.

Suara baku hantam yang silih berganti.

Jendela kaca satunya lagi pecah.

Si tentara yang jaga di lobi tadi kena lempar tentara yang ditendang.

Dua kursi patah karena membanting tubuh lelaki yang besar.

Umpatan kasar dan penghinaan muncul dari—

DOR!

“Argh!”

Suara tembakan melesat entah dari mana.

Aku langsung menunduk dan membenamkan wajahku di pelukan lututku sendiri. Aku ketakutan dan hampir menangis. Tubuhku bergetar, aku tak sanggup lagi melihat kerusuhan itu. Punggungku merapat ke dinding, sementara tubuhku menempel sedekat mungkin ke sofa—sambil berharap sofanya tidak hancur karena digunakan untuk membanting seorang korban.

DOR!

Ada tembakan kedua.

Aku menundukkan kepala lebih dalam ke atas pahaku.

Aku ketakutan. Sungguh.

Malam yang seharusnya diisi dengan ngewe brutal, kini diisi dengan kerusuhan brutal.

Tak lama dari kerusuhan yang menakutkan itu, tiba-tiba aku merasakan tanganku ditarik naik. Aku mendongak dan menemukan Daddy Ryuji ada di depanku. Dia tak mengatakan apa-apa. Dia tarik tubuhku melewati kerusuhan itu.

Berlari.

Menaiki tangga melewati kerusuhan lain.

Lalu aku dilempar masuk ke dalam sebuah ruangan gelap.

Cklek!

Aku dikunci Daddy Ryuji di sana.

Kata-kata terakhirnya adalah, “Jangan ke mana-mana. Tunggu di sini!”

Aku menunggu di ruangan itu sepanjang malam.

Hingga pagi menjelang.


[ ... ]


Benar, Kak. Aku gagal ngewe sama Fian. Semesta belum ikhlas membiarkanku menikmati tubuh Fian meskipun Fian sudah memberikan kesempatan itu untukku.

Aku terbangun keesokan paginya di ruangan itu.

Ruangan apa?

Ruangannya Daddy Ryuji.

Aku tidak berani menyalakan lampu ruangan ketika aku dikurung di dalamnya. Aku meraba-raba seisi tempat, kutemukan sebuah sofa panjang dengan permukaan kulit sintetis yang dingin. Awalnya aku duduk di sofa itu sambil menunggu kerusuhan di bawah usai. Entah berapa puluh menit aku menunggu, rasanya kerusuhan itu tak kunjung usai. Lama-lama aku berbaring sejenak di atas sofa. Ingin sekali aku nge-tweet soal kejadian ini, tapi aku tahu itu bukan tindakan yang tepat.

Aku hanya bisa melihat jam bolak-balik. Menggulir Instagram sembari meng-explore apakah ada orang lain yang mengunggah konten soal kerusuhan di lanud.

Tidak ada.

Bahkan orang-orang Twitter yang biasanya berlagak punya pengetahuan setara Tuhan pun enggak membicarakan apa pun soal kerusuhan ini. Aku merasa sendiri dan ketakutan di ruangan yang gelap. Mungkin ruangan itu ada hantunya, tapi pada momen kerusuhan itu, kayaknya hantu bukanlah hal yang paling menakutkan di dunia. Ujung-ujungnya, aku ketiduran. Ketika terbangun, aku masih berada di atas sofa.

Cahaya subuh yang kebiruan mulai masuk ke dalam ruangan. Kutarik turun blinds yang menggantung di depan jendela. Cahaya subuh mulai masuk perlahan-lahan, di sanalah aku menemukan nama Daddy Ryuji terpasang di atas meja.

Ruang kerja itu sederhana. Seperti kantor-kantor untuk orang dengan jabatan manager. Ada kabinet berisi file. Foto-foto. Lencana. Ada senjata juga. Ada meja besar di tengah ruangan. Ada aroma minyak rambut yang biasa dipakai orang-orang tua. Bahkan, ada sepatu kulit yang mengilat di bawah meja. Ruangan ini terasa seperti lelaki dewasa yang bijak dan kebapakan.

Aku belum sempat mengeksplor lebih jauh, Daddy Ryuji tiba-tiba masuk ke dalam ruangan bersama dr. Sigit. Namun, dr. Sigit membopong seorang tentara yang tak kukenal, yang tampaknya babak belur. Darah memenuhi wajahnya.

“Sudah bangun?” sapa Daddy Ryuji.

Aku belum sempat menjawab karena dr. Sigit langsung berkata kepadaku, “Mat! Sini, bantu!”

Pagi itu aku menjadi tenaga medis dadakan untuk membantu beberapa tentara yang babak belur karena kerusuhan semalam. Dan hingga aku pulang dari lanud ....

... aku masih belum bertemu Fian.


[ ... ]


Tentu saja medical check up hari itu diliburkan. Semua tenaga medis mendapatkan pesan WhatsApp dari Bondan sebagai koordinator medical check up bahwa pemeriksaan hari Kamis ditiadakan dan akan dilanjutkan esok Jumat dengan jadwal penuh.

Aku baru pulang pukul sepuluh pagi dari lanud setelah membersihkan banyak luka, membebat tentara dengan perban, membantu seorang dokter tentara meluruskan bahu yang dislokasi, menjahit paha seorang tentara yang kena bacok (tentaranya ditelanjangi, kontolnya terkulai lemas di atas jembut lebat, dan berguling ke sana kemari saat aku menjahit luka di dekat selangkangannya itu karena tentaranya teriak-teriak kesakitan), termasuk membantu operasi torakotomi pada sebuah tentara (di ruang penelitian Sabtu lalu) karena tentaranya mengalami tusukan di dada hingga iganya remuk dan paru-parunya tertusuk.

Tentaranya meninggal.

Kami bertujuh sudah berusaha sekuat tenaga di ruangan yang sebenarnya tak cocok dijadikan tempat tindakan bedah. Aku menjadi satu-satunya perawat di ruangan itu, perawat dadakan karena seharusnya aku tak berada di sana. Salah satu dokter militer di situ terlihat risau, sehingga menghambat kerja dokter bedah utama. Empat dari dokter militer itu rupanya belum betulan jadi dokter—masih pendidikan—sehingga mereka kadang clueless harus ngapain atau harus mengambil apa. Alhasil aku yang berlari ke sana kemari membantu dokter bedah utama. Memompa darah. Membuka tulang rusuk. Menahan retraktor. Membantu memegang satu organ dalam yang rusak karena ....

... oke, enggak usah kudetailkan ya, Kak.

Semua itu terjadi dengan sangat cepat. Aku sudah tidak memedulikan ini jam berapa atau penampilanku bagaimana. Aku berlari ke sana kemari membantu ini itu. Aku bergerak seolah-olah aku ini enggak punya nyawa. Situasinya seperti perawat-perawat di zaman perang, di mana banyak sekali SOP operasi bedah yang harus di-skip karena ini semua darurat. Membawa pasien ke rumah sakit terdekat dirasa tak memungkinkan.

Ketika hasilnya di luar harapan, lalu aku membantu membungkus jasadnya ke dalam kantung mayat, aku melihat teman-teman satu batch-nya yang menunggu di luar merosot ke atas lantai, menangis meraung-raung. Mereka juga dalam kondisi babak belur. Aku tidak tahu yang meninggal ini siapa, atau siapa mereka. Namun pilu tangisan itu membuatku terenyuh dan sakit hati.

“Ayo pulang.” Daddy Ryuji tiba-tiba menepuk bahuku ketika aku melepas scrub dan mencuci beberapa bagian tubuhku yang terciprat darah.

Aku tak mengatakan apa-apa. Aku hanya mengangguk patuh.

Dr. Sigit menghambur masuk membawa pasien lain, lalu bertanya dengan tergesa ke Daddy Ryuji. “Berhasil?”

Daddy Ryuji menggelengkan kepala. “Lewat.”

“GOBLOK!” umpat dr. Sigit marah. Dia memukul tembok bangunan yang tebal itu dengan kepalan tangannya, lalu menyugar rambut ke belakang. Dr. Sigit berkacak pinggang sambil mengatur napasnya dengan tenang. Lalu, dia melihatku yang terlihat ketakutan.

“Maaf, Mas Rohmat,” katanya kemudian. “Makasih banyak sudah bantu kami pagi ini.”

Aku hanya mengangguk dengan senyum kecil.

“Saya antar Rohmat pulang. Nanti saya ke sini lagi.”

“Hati-hati di jalan.”

Area depan lanud dipenuhi calon taruna yang kebingungan karena mereka harus pulang lagi setelah datang ke sini untuk pemeriksaan kesehatan atau latihan gladiresik lain. Area lobi benar-benar hancur. Sebagian tentara sedang membersihkannya dengan segera. Ada Andry di pintu depan, sedang mengarahkan tarunanya untuk membuang beberapa hal. Aku tak sempat menyapanya karena aku berjalan cepat sekali menuju mobilnya Daddy Ryuji.

Begitu masuk mobil, tanpa menungguku memasang sabuk pengaman, Daddy Ryuji langsung menancapkan gas dan melaju pergi dari area lanud. Ada kekacauan lain yang terjadi di luar. Pintu aula tempat melakukan med check rusak—satu daun pintunya oleng keluar. Cipratan darah kutemukan di beberapa tempat di sepanjang jalan aspal menuju gerbang keluar. Kutemukan beberapa pohon tampak seperti tumbang dari tempatnya berdiri, seolah-olah semalam ada tornado lewat sini. Para kuli bangunan yang sedang mengerjakan asrama diungsikan sementara menggunakan truk.

Namun, ketika kami keluar melewati gerbang utama, kehidupan terlihat normal dan biasa-biasa saja. Orang-orang yang berkendara di jalanan ini tidak tahu bahwa semalam, para abdi negara yang seharusnya melindungi kita sebagai warga negara, ternyata mengalami konflik internal yang sampai mengambil nyawa. Setidaknya aku tahu ada satu nyawa yang pergi pagi ini. Aku tidak tahu jumlah sebenarnya berapa.

Sayangnya aku yakin berita soal ini tidak akan bocor ke luar. Tidak akan ada siapa pun di kota ini, atau siapa pun yang berpapasan denganku di jalan ini, yang tahu bahwa konflik internal maut itu terjadi. Kemungkinan besar keluarga dari tentara yang nyawanya melayang akan diberi tahu berita “lain” saat mengantarkan jenazah. Gugur saat bertugas di perbatasan, lah. Gugur ketika membela negara, lah. Atau apa pun itu rumornya soal taruna-taruna yang mati.

Dugaanku itu dikonfirmasi oleh Daddy Ryuji. Kami tidak mengobrolkan apa pun sepanjang perjalanan. Beberapa bagian bajuku diciprati darah, sehingga aku memegangnya baik-baik agar darahnya tidak menetes ke mobil Daddy. Sebelum belokan terakhir menuju kosan, Daddy Ryuji berkata, “Saya tahu kamu orang pintar dan paham apa maksud saya berikutnya.”

Aku menoleh menatap Daddy Ryuji.

“Tolong rahasiakan apa pun yang terjadi dari mulai malam tadi sampai nanti kamu tiba di kosan.” Daddy Ryuji menoleh dengan tatapan gagah dan intimidatif, yang bagiku terlihat menakutkan. Seperti bicara dengan orang dari posisi tertinggi di kemiliteran. “Bisa?”

Aku mengangguk seketika. “Iya. Bisa.”

“Kalau bisa, lupakan apa yang terjadi semalam. Lupakan yang kamu lihat, lupakan yang kamu lakukan pagi ini. Semua itu adalah informasi yang tak pernah tercatat di sejarah mana pun. Bisa?”

“Bisa.”

Mau cepu pun, aku tak punya bukti empirik. Aku hanya punya setelan berdarahku, yang tak membuktikan apa pun.

“Maaf karena kamu terlibat. Terima kasih karena kamu mau melibatkan diri. Semua aksimu saya anggap sebagai tindakan heroik untuk membela negara.”

Aku enggak butuh itu sih, Daddy. Aku cuma mau tahu Fian ke mana.

Begitu mobil tiba di depan kosanku, aku benar-benar menanyakannya. “Kalau boleh tahu, Bang Fian baik-baik aja?”

Daddy Ryuji menghela napas panjang tanpa menoleh ke arahku. Dia mengangguk kecil. “Dia enggak ada di lokasi sewaktu terjadi kerusuhan.”

“Enggak ada?”

“Dia langsung terbang ke Halim untuk ketemu jenderal. Fian sedang di Jakarta.”

“Oh. Oke.”

“Dia baik-baik aja.”

Aku merasa lega mendengar itu semua. Setelah melihat satu tentara mati di depan mataku, satu-satunya ketakutanku adalah Fian mengalami hal yang sama. Mendengar perkataan Daddy Ryuji, bahuku bisa melorot dan perutku terasa lebih nyaman. Aku tidak gugup lagi. Aku keluar dari mobil sambil berpamitan dengan Daddy Ryuji. Beliau tak berani melihat ke arahku. Mungkin dia bingung apakah harus menciumku seperti tempo hari, atau memang dalam kepalanya sedang berkecamuk berbagai hal.

Daddy Ryuji pergi tak lama kemudian. Aku masuk kosan dan langsung membersihkan diri. Selesai mandi, aku tertidur pulas sekali hingga sore hari. Ketika aku terbangun, masih belum ada berita apa pun di mana-mana soal kerusuhan di lanud.

Seluruh dunia tak ada yang tahu konflik maut itu.

Hanya aku dan semua orang di lanud yang tahu.


[ ... ]


Rasanya aneh berada di kosan pada hari kerja.

Seharusnya aku kerja hari ini. Bukan rebahan di atas tempat tidur menatap langit-langit seperti ini. Seharusnya, kalau aku tidak kerja di lanud, aku kerja di klinik. Namun Daddy Ryuji secara khusus memintaku pulang dan beristirahat.

“Antar aku ke klinik aja, Pak. Biar aku clock in di sana aja,” kataku ketika kami berjalan menuju mobil Daddy Ryuji di lanud tadi.

“Kamu masih tanggung jawab AAU. Kamu sudah melaksanakan tugas di sini hari ini. Tugasmu berikutnya adalah istirahat. Paham?”

Aku paham, tapi aku enggak pengin begitu. Kalau aku ke klinik kan aku bisa menggibahkan apa yang kualami kepada Geca dan lain-lain, sama seperti yang selalu kami lakukan di klinik.

Namun setelah dipikir-pikir, mungkin sebaiknya aku istirahat saja. Apa yang kualami sejak berpisah dari Fian semalam cukup traumatis. Aku seperti berada di tengah-tengah kerusuhan supporter bola yang saling lempar dan baku hantam, lalu aku dikurung dalam ruangan gelap sebuah gedung peninggalan Belanda yang dindingnya tebal, bangun-bangun aku harus menangani banyak sekali pasien—termasuk melakukan operasi bedah hingga pasiennya meninggal.

I’ve seen enough for today.

Aku juga masih merindukan Fian. Rasanya aneh ketika semua kehebohan itu terjadi tepat ketika aku mau ngewe sama Fian. Tanganku sudah ada di dalam celana itu. Telapak tanganku menyentuh kulit kontol yang lembut dan kenyal. Yang ketika kugenggam, tebalnya hampir seperti pergelangan tangan manusia dewasa. Libidoku memuncak hingga meletus keluar ubun-ubun, lalu tiba-tiba aku dibanting oleh takdir dan diajak melihat kerusuhan berujung maut.

Hmmm ....

Enggak bisa.

Kortisolku terlalu tinggi. Kalau aku memulai hari dengan kejadian heboh, energiku tersimpan cukup banyak untuk kugunakan melakukan aktivitas berat. Aku belum mau tidur. Guling-guling ke sana kemari pun aku masih terjaga dengan bugar.

Kuputuskan untuk pergi dari kosan.

Ke mana?

Ke kosan Fian.


[ ... ]


Iya, ini tolol, sih. Fiannya saja tidak ada di sana.

Tapi aku enggak ujug-ujug ada di sana, Kak. Prosesnya cukup panjang hingga akhirnya aku ada di depan rumah kontrakan itu.

Pertama, aku menghabiskan satu jam menentukan mau ke mana sambil mandi, bersiap diri, sambil menanyakan beberapa orang yang kukenal, “Hey ... lagi di mana nih?”

Kedua, salah satu yang ku-Whatsapp adalah Bondan. Dan dia menjawab, Di kosan si Fian. Sini.

Tentu saja jawaban pertamaku, Enggak.

Bondan menjawab, Aman, anjing. Ada si Erick juga entar. Gue lagi sibuk ngerjain laporan med check. Lo enggak akan gue perkosa.

Aku enggak nolak ide diperkosa, sih. Aku lagi sange berat karena semalam hampir ngewe dengan Fian, lalu hormonku diombang-ambing sejak semalam, jadi kalau Bondan mau merkosa pun, aku akan menikmati perkosaannya. Paling entar aku akan diam aja, enggak gerak sedikit pun. Supaya kalau Fian mempertanyakannya, aku bisa mengaku betulan diperkosa, karena aku enggak goyang.

Dalam kondisi gairah memuncak begini, Bondan tuh mendadak ganteng dan gagah banget, Kak. Sumpah. Dadaku berdebar-debar excited melihat WhatsApp Bondan waktu dia menulis kata perkosa, karena yang ada dalam kepalaku malah kami melakukan adegan seksnya.

Aku membayangkan tubuhku dikunci di atas kasur, kedua tanganku ditekan oleh tangan Bondan, lalu Bondan telanjang bulat di atasku dan memerkosaku. Gapapa aku jadi bottom juga. At this point, siapa pun yang ngajak aku ena-ena, aku enggak akan pilih-pilih.

Akhirnya kuiakan ajakan itu dan aku pun naik Gojek dari kosanku ke kosan Fian. Sepanjang jalan kontolku ngaceng membayangkan di-ewe Bondan yang badannya semok-semok-kekar ala tentara bongsor. Bulu-bulunya menguarkan aroma jantan yang khas. Dan tubuh Bondan berkeringat. Lalu Bondan crot sampai tiga kali di dalam bool-ku.

Something like that.

Sampai akhirnya kusadari aku ke sana bukan untuk ngewe dengan Bondan. Kalau benar Erick akan ada di sana, sebaiknya aku mengajak mereka mengobrolkan sesuatu yang penting saja.

Sesuatu yang sudah kupikirkan sepanjang hari ini sambil guling-guling di kasur.

Aku tidak tahu bagaimana mewujudkannya, tetapi ketika Bondan mengundangku datang, mendadak aku punya ide untuk mengatakannya kepada mereka.

Aku akan bilang ke Bondan dan Erick permintaan Deva yang sebenarnya.

“Assalamu ‘alaikum!” sapaku sambil mengetuk pintu.

Dari dalam kudengar suara Bondan menyahut. “Bentaaar ...!”

Aku akan bilang ke Erick dan Bondan bahwa Deva ingin jadi pacar Fian. Lalu, aku akan meminta bantuan mereka agar menggantikan Fian. Toh pada akhirnya sama saja, Deva itu terobsesi pada tentara. Yang mana pun tentaranya, asal berkontol, Deva bakal terima dengan suka hati. Aku ingin sekali membujuk mereka agar take over permintaan itu sehingga Fian bisa fokus dengan masalah internalnya.

Cklek!

Bondan membuka pintu dan berdiri menjulang di ambangnya. Tingginya hampir sama dengan Fian. Hanya saja badannya lebih tebal dan daddy-like. Favorit semua boti.

Masalahnya, Bondan setengah telanjang. Dia hanya sarungan saja.

“Hehe,” kata Bondan sambil terkekeh. Kedua alisnya naik turun dengan iseng.

“Kita enggak akan ngapa-ngapain, ya!” tegasku sambil masuk ke dalam.

Hmmm ....

Anjing.

Aroma ruangan ini laki banget.

Aroma keringat Bondan yang telanjang dada, kegerahan, lalu aromanya yang cheesy ini menyebar ke seluruh ruangan. Aroma bujang.

Aku makin sange.

“Iyaaa ....” Bondan menutup pintu lalu kembali ke meja tempat dia duduk sepanjang hari.

Sebuah meja kerja di ruang tengah, menghadap ke TV. Ada laptop terbuka di depannya, menampilkan Excel dan satu aplikasi entah apa yang belum pernah kulihat sebelumnya. Lalu, di samping laptop itu terdapat banyak sekali kertas dari berbagai klinik. Di atas meja, ada satu tumpukan berkas yang logo kliniknya sangat kukenal—karena itu adalah klinikku.

“Gue harus nyelesaiin laporannya Senen. Jadi gue mau nyicil dari sekarang nginput ke sistemnya,” kata Bondan sambil menarik kursi ke sampingnya. “Sini.”

“Enggak. Sini aja.” Aku menggelengkan kepala sambil duduk di sofa. Jaraknya kira-kira lima meter dari Bondan.

“Ya udah gue pindah ke situ kalau elo enggak mau ke sini.”

Ck!” Aku berdecak kesal.

Ya sudah, sih. Toh aku sudah sange juga. Aku tidak mungkin menampung libido ini terus-menerus.

Akhirnya, aku menghampiri Bondan dan menemani dia menyelesaikan laporan, sambil tentu memainkan kontol Bondan. Ada detail soal apa saja yang kulakukan bersama Bondan. Tapi aku enggak akan cerita di sini.

Intinya, begitu Erick datang nanti, aku akan membeberkan keinginan Deva yang sebenarnya. Akan kubuat mereka membantuku menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan Fian.

[ ... ]

Bersambung ....

 

(Detail tentang apa yang Rohmat lakukan bersama Bondan ada di PDF)




Halo, Kak!

Seperti biasa, kalau aku menerbitkan something free, maka akan ada something berbayar yang terbit, ya! Kali ini, yang terbitnya adalah Spinoff Pembaca Halo, Dek! Silakan cek speknya di bawah. Kalau Kakak suka dengan idenya, silakan hubungi aku untuk melakukan pembelian, ya!

 

Judul: Ex Valentino Tuo

Isi: 18.300 kata dan 155 halaman

Harga: Rp35.000,-

Tokoh: Fian, Rohmat, Erick, dan Koko

Adegan intim: medical check up, waxing, romantic, oral, anal

Top: Fian

Bottom: Rohmat

Timeline: Lebih dari satu tahun setelah kepergian Fian ke Morotai.

Universe: alternatif baru

 

Blurb:

Ini adalah spinoff spesial Valentine’s Day! Fian mengirimkan cokelat untuk Rohmat pada hari Valentine. Namun, Rohmat harus mengambilnya sendiri ke lokasi. Ketika Rohmat mengambil cokelat itu, Rohmat baru menyadari bahwa cokelat itu ..., bukan cokelat yang Rohmat selama ini duga.

 

Cuplikan:

....

Rohmat tak tahan lagi. Dia benar-benar ingin menyentuh tubuh telanjang Erick. Merasakan sentuhan kulit ke kulit, bukan layar ke layar seperti yang dilakukannya bersama Fian. Satu-satunya hal yang bisa mendekatkan Rohmat dengan kontol Erick adalah ....

... sempak Erick di dalam duffel bag itu.

Ya. Rohmat akan mengendus-endus sempak Erick saja, membayangkan kontol Erick yang panjang dalam kepalanya, lalu nanti coli.

Sayangnya, ketika Rohmat menyentuh duffel bag itu ....

TOK! TOK! TOK!

... seseorang mengetuk pintu.

Rohmat melonjak kaget. Dia terkejut karena hampir kepergok, dan makin terkejut menyadari pintunya diketok. Kalau yang di luar itu Erick, ngapain Erick mengetuk pintu? Erick kan bisa langsung masuk. Toh tadi pas keluar juga tidak dikunci.

Rohmat menunggu beberapa saat sampai akhirnya ada sapaan dari luar, “Permisi.”

Bukan suara Erick. Itu suara orang lain. Suaranya manly, tetapi Rohmat tak ingat pernah mendengar suara ini sebelumnya.

Drrrttt ...! Drrrttt ...!

Ponsel Rohmat bergetar. Telepon dari Fian.

Sambil berjalan menghampiri pintu, Rohmat menerima telepon itu. “Halo?”

Suara dari lokasi Fian terdengar ribut. Kemungkinan besar itu suara mesin pesawat. “Abang udah landing buat transit tadi, terus sekarang mau boarding lagi buat ke lokasi akhir. Sorry baru ngabarin.”

It’s okay. Aku udah ketemu Bang Erick.”

“Erick-nya langsung pergi, kan? Dia enggak buka celana?” tanya Fian dengan nada cemburu.

“Hampir. Tapi iya, udah pergi. Dia lagi ngambil cokelat dari Abang kayaknya.”

“Oke.” Lalu Fian menarik napas panjang dan berkata. “By the way, cokelatnya udah di depan pintu.”

“Apa?”

“Cokelatnya ada di depan pintu kamar.”

Dada Rohmat berdebar-debar. Untuk sesaat, Rohmat berhalusinasi bahwa yang dimaksud ‘cokelat’ adalah Fian. Soalnya, tubuh Fian kan kecokelatan. Tapi mendengar suara ribut mesin pesawat di telepon, dan cokelatnya ada di depan pintu (which is kamar ini hening banget), Rohmat harus memupus kehaluannya itu. Kemungkinan besar cokelat yang Fian maksud benar-benar cokelat makanan.

“Oke. Bentar.” Rohmat membuka pintu kamar.

Ternyata, dia menemukan ....

....

 

Seperti biasa, lakukan pembelian melalui WhatsApp, email, atau Telegram. Masuk ke lynk . id / bocahtitipan (hilangkan spasinya) untuk mendapatkan kontaknya. Terima kasih banyak sudah membeli! Semoga suka dengan spinoff-nya!

Komentar