Halo, Kak!
Erick dan Andry masuk beberapa saat kemudian, karena mereka
megang kuncinya.
“Eh, udah datang, lu?” sapa Erick sambil meletakkan helm
mahalnya ke atas meja.
“Hey,” sapa Andry.
“Halo.”
“Aman di sana?” tanya Bondan sambil bangkit dari mejanya
dengan santai. Dia memungut tisu-tisu yang tadi kelupaan dimasukkan ke tempat
sampah. Tapi sikapnya sangatlah santuy seolah-olah tisu itu hanya tisu
berserakan biasa saja, tidak ada sisa pejuh di dalamnya.
“Belum, lah,” balas Erick. Dia duduk menghempaskan pantatnya
ke sofa di seberangku untuk membuka sepatu botnya.
Andry melepaskan sepatu sambil berdiri.
“Ada kabar kapan med check dilanjut?” tanya Bondan. Dia
bergabung bersama kami di sofa.
“Entah,” jawab Erick. Dia melepaskan kaus putihnya hingga
bertelanjang dada, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Tubuh
atletisnya yang putih mulus langsung terekspos. Sengaja Erick melipat satu
tangan di belakang kepala, supaya dia bisa flexing bisep—mungkin
menunggu kupuji atau apa.
“Sampai Sabtu entar, semua latihan juga ditunda,” tambah
Andry. “AL ditunjuk buat jadi penengah.”
“Jangan dibeberin semua, anjing. Ada si Rohmat,” kata Bondan
sambil berjalan melewatiku dan mengacak-acak rambutku. “Gue cuma mau tahu apa
gue mesti submit laporan Senen apa bisa ditunda.”
“Laporan lu mah tetep masukin Senen, anjing!” Erick
melemparkan kausnya ke arah Bondan.
Kaus itu tertangkap oleh tangan Bondan, kemudian dengan jail
Bondan gosokkan kaus Erick ke wajahku.
“Argh! HMPH!” Aku memberontak agar lepas dari kaus itu.
Kausnya basah karena keringat.
Dan baunya enak.
Anjing.
Makin sange-lah aku—seperti biasa.
Bondan duduk di sampingku. Satu tangannya dia sandarkan ke
punggung sofa, seolah-olah merangkulku—tapi enggak. Keteknya yang lembap
terekspos di sampingku. Andry mengambil sofa yang lain, merapat ke dinding.
Mereka semua terlihat lelah.
“Jadi ..., elo mau bahas apa?” tanya Erick tiba-tiba.
“Oh. Iya.” Aku teringat bahwa aku memang meminta Erick
berkumpul untuk membahas soal Fian. “Entar aja bahasnya. Kayaknya masalah
kalian lebih berat—“
“Halah ... udah, bahas aja. Mumet gue mikirin urusan kerjaan
mulu. Kita kagak ngapa-ngapain, tapi kita yang repot buat beres-beresin.”
“Semalam kamu enggak kenapa-napa kan, Mat?” tanya Andry.
“Aku aman.” Aku tersenyum lebar. “Aku ditolong sama Pak Gala.”
“Si Fian nyuruh saya jemput kamu di lobi. Tapi semalam saya
masih OTW ke lanud. Pak Gala bilang udah nyampe, jadi dia yang dikasih tahu
posisi elo.”
“Iya. Makasih banyak.”
“Enggak ada luka, kan?” tanya Erick sambil mengamatiku
baik-baik.
“Aman, kok. Aman.”
“Bilangin tuh, Ndry. Aman.”
“Iya.” Andry mengetik sesuatu di ponselnya. Mungkin
me-WhatsApp Fian terkait situasiku.
Huh. Sebel. WhatsApp Andry dibalas, tapi WhatsApp-ku enggak.
Jangan dikira aku enggak mencoba me-WhatsApp Fian, ya. Dari
tadi aku mengiriminya pesan, tapi dia tak membalasku sekali pun.
“Jadi ... elo mau bahas apa?” tanya Erick lagi.
Bondan dan Andry juga menatapku dengan serius. Menungguku.
Aku tak bisa berkelit lagi. Dengan pasrah kusampaikan juga
maksudku. “Ini soal Deva.”
“Bikin ulah apa lagi dia?!” hardik Erick kesal.
“Enggak, enggak. Dia enggak bikin ulah.” Aku menarik napas
panjang karena gugup. Untuk kali pertama aku akan berkata jujur di depan
mereka. Rasanya menakutkan, tetapi kurasa ini perlu kulakukan. “Tapi tolong
jangan marah dulu. Aku kemaren ngelakuin ini supaya masalah enggak makin
runyam. Aku penginnya ... abang-abang di sini kepalanya dingin dulu, supaya
kita nyelesaiin masalah ini dengan lebih baik, gitu.”
“Ngelakuin apa, lo?”
Kuhela lagi napas panjang. Menguat-nguatkan diri. Rasanya
seperti disidang oleh tiga pem-bully, soalnya ketiga orang ini badannya
lebih besar dariku. Lebih tinggi, lebih kekar, lebih gagah, lebih jantan. Nyaliku
hampir menciut karena teringat lagi masa-masa lampau ketika aku dilabrak kakak
tingkat karena aku terlihat lemah.
“Tapi janji dulu, jangan marah.” Kulemparkan senyum lebar
karena ketakutan.
“Iyeee ...! Apa?”
Kuhela lagi napas panjang. Lalu kusampaikan yang sebenarnya.
“Aku bohong soal Deva. Dia enggak ngajak Fian sparring. Dia minta something
yang lebih parah dari itu.” Kuhela napas panjang lagi, lalu kukatakan, “Deva
pengin melecehkan Bang Fian. Secara seksual.”
Kemudian, kuceritakanlah dengan jujur apa yang sebenarnya
diinginkan Deva. Termasuk ke itinerary yang sudah Deva susun. Tidak
secara detail, hanya garis besarnya saja. Lalu kusampaikan juga bahwa Fian
sudah tahu soal itu. Kesan terakhir yang kulihat adalah Fian tidak menolak ide
itu.
Ketiga tentara itu hanya diam saja mendengar ceritaku. Andry
mengamatiku seakan-akan ingin menggali lebih dalam. Bondan menunduk sambil
memainkan sarungnya. Erick merebahkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap
langit-langit. Ada jeda hampir semenit setelah kata-kataku terakhir diucapkan.
Andry akhirnya memecah keheningan. “Terus ... kamu minta
bantuan apa?”
Aku mengangkat bahu. “Bantuan untuk ... cari cara ... gimana
ngadepin masalah itu. Masa iya kita penuhin permintaan Deva? Sama aja kayak
kita mengglorifikasi pelecehan dong? Kita semua tahu Deva yang predator.
Kesalahan Bang Fian adalah main hakim sendiri. Aku lebih prefer Deva
balas nonjok Bang Fian sampai bonyok, at least itu lebih adil. An eye
for an eye. Utang nyawa dibalas nyawa. Utang nonjok dibalas nonjok. Bukan
malah memenuhi keinginan si penjahat yang tukang merkosa itu.”
Andry manggut-manggut. Dengan suara pelan dia berkata, “Saya
setuju.”
“Lo bisa kenal dari mana sih orang kayak gitu?” tanya Bondan
sambil terkekeh kecil.
“Cuma ..., teman aja. Teman, ngng ..., komunitas.” Aku
garuk-garuk kepala karena masih belum yakin apakah perlu sekalian come out
juga ke Erick maupun Andry bahwa aku ini LGBT?
“Gue sih kagak kaget lagi,” kata Erick tanpa menegakkan
kepalanya. “Kalau dia aja hidupnya cuma demi nyembah kontol, enggak mungkin dia
minta sparring. Enggak se-macho itu si Deva. Di rumah sakit
kemaren dia ngondek, anjing. Kayak bencong.”
What the fuck.
Kalau Deva ngondek kayak bencong, lalu aku ini apa?!
....
Oh iya. Aku kan vers.
Bukan bottom pura-pura manly kayak Deva.
“Lenyapin aja dia,” kata Bondan dengan santai. “Ajak ke
gunung, tinggalin di sana sampai dia dimakan ular yang kemaren. Hahaha.”
“Enggak boleh gitu ....”
“Iya. Harusnya dari awal si Fian hajar sampai mampus. Mayatnya
kita buang ke laut,” tambah Erick.
“Jangan dooong ....”
“Benar kata Rohmat, kita enggak boleh gitu,” ungkap Andry
kemudian. “Kita harus lebih cerdik lagi. Misalnya masukin gas beracun di
mobilnya pas dia nyetir, jadi kalau dia kecelakaan, kita enggak disalahin.”
“Eeehhh ...! Kok jadi bunuh orang, sih?!” Aku mendengus kesal.
“Jangan sampai ngilangin nyawa orang, ah.”
“Candaaa ...!” Bondan mengusap lagi wajahku dengan tangannya.
Dia duduk lebih dekat karena aku merasa ketek seksi berbulu lebat itu makin
dekat dengan bahuku.
“Ya udah, lempar dia ke AL aja. Mumpung lagi pada di sini,”
usul Erick.
“Hahaha.”
Mereka bertiga tertawa lepas selama beberapa saat. Tapi aku
enggak paham kenapa mereka tertawa.
“Emang AL kenapa?” tanyaku.
“Homo semua isinya.”
“Hah?! Masa?!” Aku membelalak terkejut.
Apa selama ini aku hang out dengan angkatan TNI yang
salah?!
“Internal jokes aja,” jawab Andry, setelah reda dari
tawanya. “Karena mereka keseringan di laut, enggak ketemu perempuan, jadinya
menggauli satu sama lain kalau lagi ‘pengin’.”
“Persaudaraan mereka juga edan, lah,” tambah Bondan. “Udah
kayak frat-house di film-film. Ke mana-mana jalannya bareng. Berkoloni.
Saling jagain satu sama lain. Mau orgy, lu?!”
“Hahaha ....”
Masuk akal juga, sih.
Diam-diam aku berdoa klinikku didatangi Fiannya Angkatan Laut
untuk memintaku memeriksa kontol dan bool calon taruna mereka. Kalau
benar mereka semua homo, aku enggak akan berkonflik urusan kontol kayak
bangsat-bangsat AU di depanku ini.
“Tapi tadi Rohmat bilang, si Deva pengin sama yang lorengnya
ijo?” tanya Andry memastikan.
Aku mengangguk. “Iya.”
Entah kenapa, Bondan dan Erick terkekeh lagi. Seperti
meremehkan.
“Seleranya yang ijo,” gumam Bondan.
“Emang kenapa sama Angkatan Darat?” tanyaku.
“Yang paling berengsek mereka tuh ...,” sahut Erick.
“Songong-songong. Sok ganteng. Padahal bully.”
Aku menyipitkan mata menatap Erick. Dia baru saja
mendeskripsikan Angkatan Darat, tetapi deskripsinya mirip banget sama diri
Erick sendiri.
“Jadi rahasia umum kalau AD tuh paling ‘berkuasa’,” ungkap
Andry, menjelaskan lagi. “Paling dekat ke lapisan masyarakat, enggak kayak AU
yang di langit terus, atau AL yang di laut terus. Kalau lagi keliaran di jalan,
orang-orang takut sama mereka. Ya, kan?”
Aku mengangguk mengiakan. “Aku sering dapat kesan itu, sih.”
“Berasa raja, mereka tuh,” tambah Bondan. “Bawa senjata ke
mana-mana. Kayak kecamatan kita lagi perang aja.”
“Loreng ijo lebih sering dikaitin sama tentara, sih,” kataku.
“Buktinya Deva lebih pengin Bang Fian pake loreng ijo. Lebih berasa melecehkan
tentara kali, ya.”
“Ya udah, kita cari anggota darat yang mirip si Fian. Kita
umpanin aja ke si Deva,” kata Bondan.
“Terus kita tembak si Devanya pas dia lagi nungging dientot.
Ya, enggak?”
“Ck! Bunuh orang mulu!” dengusku kesal. “Pantas aja
masyarakat enggak percaya sama tentara.”
“Canda, anjing! Candaaa!” Dengan gemas Bondan mencengkeram
wajahku dengan tangannya yang besar, lalu mendorong wajahku ke belakang.
“Terus kamu maunya gimana, Rohmat?” tanya Andry, setelah tawa
reda beberapa saat.
Aku mengangkat bahu. “Apa mungkin abang-abang di sini bisa
bantu nego sama Deva? Jelas, aku penginnya minta Bang Fian nego sendiri. Tapi
malam tadi aja Bang Fian berangkat ke Jakarta. Padahal deadline-nya Rabu
depan.”
“Nego apa?”
Aku mengangkat bahu lagi. “Apa pun yang bisa dinegokan.”
“Menurut gue sih, orang kayak dia bakal terus nge-blackmail
kita semua,” kata Erick, akhirnya menegakkan kepala dan membungkuk ke depan.
Erick berbicara serius. “Gue ngelihat cara dia ngancam kita di rumah sakit. Menurut
gue, dia enggak akan berhenti sampai di Fian. Mau si Fian ngewe
berkali-kali ama si Deva, dia bakal tetap pake ancaman yang sama buat dapatin
apa yang dia pengin.”
“Saya setuju sama itu.”
“Gue bukan pembunuh—meski kita di-train buat bunuh
musuh. Tapi gue merasa, satu-satunya cara supaya masalah ini selesai ya ...,
kita lenyapin sumber masalahnya .... Si Deva.”
“Ya udah lo aja yang ngewe ama si Deva, Rick!” sahut
Bondan sambil terkekeh. “Pas elo lagi ngebrut dia, jangan masukin kontol lo.
Masukin pestol. Dor!”
“Bangsat lu, Bon!” Erick mengambil sepatu bot yang ada di
dekat kakinya, lalu melemparnya ke arah Bondan.
Namun sepatu bot itu melayang ke arahku, sehingga Bondan
langsung mengangkat tangannya agar aku tidak terkena timpukan sepatu bersol
tebal itu. Bondan terkekeh menangkap sepatu itu dan melemparkannya balik ke
Erick. (Yang ditangkap Erick dengan sempurna.)
“Kalau dia mengancam kita dengan video itu, kita harus
mengancam dia dengan hal yang sama,” ungkap Andry beberapa saat kemudian.
“Seperti yang Rohmat bilang, an eye for an eye. Enggak mungkin dia
enggak punya rahasia yang bisa bikin dia tutup mulut.”
“Ya bilang aja ke lamtur, si Deva itu homo.”
Aku menggelengkan kepala. “Aku merasa dia udah siap buat
ngakuin soal itu. Posisi dia menurutku lebih kuat. Backing-annya enggak
main-main.”
“Terus kita harus gimana? Pacaran sama si Deva buat ngulur
waktu sampe isu ini udah enggak dianggap penting lagi, jadi waktu Deva ngaku
pun, orang-orang udah enggak peduli?”
Aku mengangkat bahu. “I don’t know.”
Ketiganya terdiam lagi. Selama beberapa waktu, ruangan itu
hening tanpa suara.
“Ini tuh bukan masalah gede kayak yang lagi kita hadapi,” kata
Erick. “Ini masalah sepele, tapi ngabisin energi kita semua.” Erick bangkit
berdiri. Menjulang ganteng dan gagah, setengah telanjang. Dia merentangkan
tangan untuk meregang otot sambil menguap. “Ya udah kita, tunggu si Fian balik
aja. Kita dengar keputusan dia gimana. Oke? Oke?”
Bondan dan Andry mengangguk sepakat.
Aku sih enggak oke karena harapanku kami semua bisa ketemu
jawabannya untuk segera dieksekusi.
Erick menghampiriku. “Lu tenang aja, Mat. Percaya kata-kata
gue, he’s nothing. Kayak debu yang tinggal disapu. Enggak akan mungkin
seorang Deva ngancurin instansi segede TNI AU. Sekarang mending elo ambil hape
lo, buka ShopeeFood, pesen ayam geprek. Gue lapar. Buru!”
[ ... ]
Ketiga pilot jet fighter itu betulan terlihat santai
saja sepanjang malam. Mereka tidak cemas bahwa Fian harus pacaran dan ngewe
BDSM dengan Deva atau nama baik TNI AU tercoreng seketika. Mereka makan dengan
lahap ayam geprek yang kupesankan dan lanjut main Uno tanpa sedikit pun
membahas masalah Fian. Jangankan masalah Fian, mereka juga tidak membahas
masalah internal di TNI.
Masuk akal sih kalau yang kedua, soalnya mereka enggak bisa
mendiskusikannya di depanku.
Hanya saja aku tumbuh sebagai orang yang menjaga sekali image-ku.
Untuk menjadi Rohmat, pandangan orang lain soal si Rohmat ini tuh penting. Aku
menjaga keamanan diriku dengan berpura-pura menjadi lelaki macho. Aku
menghafal siapa saja pemain Persija supaya aku belong in the group of lelaki
straight di sekolahku. Aku melatih diriku untuk duduk ngangkang, paha
terbuka, karena begitulah laki-laki kalau duduk—bukan paha dirapatkan, lalu
satu paha ditumpuk di atas paha lain. Aku juga ikutan melecehkan Christina,
teman SD kami, bersama teman-teman cowok. Melecehkannya dengan merobek seragam
SD Christina hingga hampir telanjang, lalu mengencinginya. Kami melakukannya
karena Christina kristen dan bau.
Semua kulakukan demi menunjukkan image bahwa aku ini
laki-laki sama kayak kalian lho, Bro. Saking “laki”-nya, aku yang mungkin
ditakdirkan untuk jadi boti akhirnya menjadi vers dan bisa menikmati ngewe
bool lelaki.
Tentu saja aku sudah meninggalkan masa lalu yang biadab itu. Aku
menyesali semua perbuatan yang kulakukan dan aku tidak bisa menarik lagi
semuanya. Kehausan akan validasi ini karena aku tinggal di keluarga yang sudah
“tua”. Aku sendirian, tanpa kakak yang umurnya dekat, dan dengan orang tua yang
benar-benar tua. Orang tuaku jelas baby boomers parah yang patriarki
brutal dan seksis. Ayahku mengajarkanku gimana caranya menyuruh perempuan
memasak di dapur gara-gara aku mencoba memasak sendirian di dapur.
“Itu kerjaan perempuan, Rohmat! Jangan dekat-dekat dapur!
Nanti kamu jadi bencong!”
Semua itu termasuk mengepel, menyapu, membereskan kamar,
mencuci piring, dan segala jenis pekerjaan domestik yang orang-orang patriarkis
anggap sebagai pekerjaan perempuan.
“Suruh aja istri kamu yang nyapu, nanti. Kamu tuh fokus cari
uang aja. Kalau kamu punya uang, beli istri yang patuh sama kamu. Yang cantik,
yang perawan, yang bisa ngasih banyak anak, tapi yang penting, yang jago
beres-beres. Kayak ibu kamu! Kalau kamu punya banyak uang, kamu punya mahar
gede buat dapatin perempuan mana pun yang kamu mau! Enggak perlu kamu
nyapu-nyapu kayak barusan.”
Itulah nasihat bijak penuh moral dari ayahku.
Ibuku mengiakan.
Intinya, image adalah hal paling krusial dalam hidupku.
Orang harus berpikir aku adalah laki-laki straight yang akan menikahi
perempuan suatu hari dan punya dua anak yang akan kudidik secara patriarki
juga. Itu juga alasannya aku selebai itu melindungi “image”-ku di depan
tentara-tentara ini, padahal kemungkinan mereka sudah tahu aku belok
dari hari pertama.
Sehingga, aku enggak paham ketika mereka biasa-biasa saja
dengan ancaman Deva. Sebagai orang yang cukup tahu Deva orangnya kayak gimana,
aku merasa ancaman Deva itu valid. Backing-an Deva itu enggak main-main.
Dia memang bacot dan bacotannya dipenuhi omong kosong, tetapi dia punya power
di kota ini. Aku pernah kencan dengan Deva dua tahun lalu dan dia membahas
agendanya keliling sana sini bersama Herman Zaki, walikota sini. Aku belum tahu
siapa yang akan menjadi walikota lagi di sini, pilkada baru dilangsungkan November
nanti, tapi kalau Herman Zaki terpilih lagi, posisi Deva bakal makin kuat.
(KTP-ku enggak bisa dipake nyoblos walikota sini, tapi kalau boleh pilih, aku prefer
cawalkot 01 sih, Muhammad Fajar, soalnya ganteng kayak daddy.)
Back to my story, aku masih merasa cemas dengan ancaman
Deva. Meski aku dikelilingi tiga tentara gagah yang dua di antaranya telanjang
dada sepanjang malam, menguarkan aroma keringat cowok yang manly, aku
masih kepikiran soal Fian. Okelah TNI AU-nya bisa tetap harum namanya, masalah
Deva selesai dengan mudah. Namun siapa tahu jabatan Fian di TNI terancam.
Sebuah profesi yang dilakoni Fian dengan sangat baik, bahkan menuai pujian,
harus Fian lepaskan karena dipecat.
Mau jadi apa Fian nanti? Personal trainer? Kolab sama
Fourdickus?
Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa melewati
malam itu untuk bersenang-senang. Setelah makan, aku membereskan piring-piring
dan mencucinya. Bahkan, aku mencuci piring-piring mereka yang belum dicuci.
Setelah itu Bondan masuk ke dapur dan mengajakku main Uno. Kalau aku enggak
main, aku akan dientot Bondan di atas wastafel. Aku pengin sih dientot di atas
wastafel, tetapi aku masih cemas memikirkan urusan Fian. Jadinya aku membuntuti
Bondan ke ruang tengah dan kami main Uno di depan meja makan.
Kami main sampai kira-kira pukul dua belas malam. Proses
mainnya berulang-ulang. Begitu ada yang uno game, maka permainan selesai
dan permainan baru akan dimulai lagi. Yang menarik adalah kami harus menentukan
siapa yang kalah. Tiga orang yang tidak menang akan menghitung poin dari setiap
kartu yang tersisa. Dua pemain dengan poin paling besar harus panco untuk
menentukan siapa yang betulan kalah. Yang menang akan menentukan hukuman untuk
yang kalah. Hukumannya beragam. Mulai dari work out macam push up,
squat jump, pull up, hingga muka diolesi bedak, oli, atau cabe
dari ayam geprek (Andry yang kebagian cabe).
Uniknya, aku hampir selalu juara dua. (Mungkin karena aku
rajin mengeluarkan kartu-kartu bernilai besar, sehingga ketika terjadi uno
game, aku hanya memegang kartu bernomor kecil.) Aku sempat menang tiga kali
dan kalah satu kali (aku dihukum mengenyot nenennya Bondan). Andry yang menang
ketika aku kalah. Dan aku harus panco dengan Erick. Di mana tentu saja Erick
yang menang. (Enggak mungkin aku menang panco dengan siapa pun dari ketiga
tentara ini.)
Hukumanku terhitung mudah karena di lubuk hati paling dalam,
aku lagi pengin ngenyot nenen siapa pun yang ada di ruangan ini. Yang membuat
permainan ini menarik dan enggak selesai-selesai adalah hukuman dari Bondan.
Uniknya lagi nih, Kak, Bondan hampir selalu menang. Enggak
sekali pun dia kalah sepanjang permainan dilangsungkan. Di lain sisi, Erick
hampir selalu kalah. Panco dengan Andry dan Bondan pun, Erick tetap kalah.
Mukanya sampai memerah setiap kali Erick kalah. Dia marah-marah.
“Anjing, lah! Elo tadi nekuk tangan kan pas panco?! Curang,
anjing!”
“Kagak, woy!”
“Gue kagak siap barusan. Ulang!”
“Enggak-enggak-enggak! Ndry, hukumannya apa buat si Erick?!”
Nah, kalau Bondan yang menang, hukuman yang kalah lumayan
nyeleneh. Ketika pemenang lain mengoles bedak ke yang kalah, Bondan menyuruh
yang kalah untuk mengoles deodoran Fian ke wajahnya. Selain mengoles deodoran,
Bondan juga minta ....
Cium ketek Bondan yang basah.
Tari ubur-ubur di depan rumah.
Pipis pake celana.
Gelantungan di bar pull up pintu kamarnya Fian dan
Erick sambil digelitikin pake kemoceng.
Cabut bulu ketek dan jembut masing-masing 10 helai.
Ini yang membuatnya makin unik: selalu saja Erick yang kalah
ketika Bondan yang menang. Jadi kesemua hukuman nyeleneh itu wajib dijalani
Erick. Termasuk pada game terakhir ketika Bondan uno game lagi
untuk kesekian kali, aku peringkat dua karena poinku hanya 7 saja (2 hijau, 2
merah, dan 3 merah), lalu Andry dan Erick panco untuk kesekian kali.
“Ndry, Ndry, Ndry ... please lah, lu nyerah,” pelas
Erick pasrah dan memelas. “Capek Ndry sama si Bondan.”
“No way!” Andry mendengus. Otot-otot Andry yang kering
langsung di-flexing biar bisa menang lawan Erick.
“Sekaliii ... aja, Ndry. Dari tadi gue kena si Bondan mulu.”
“Enggak!”
Mereka pun panco.
Siapa yang menang?
Tentu saja Andry yang menang.
Secara teknis juga otot Andry kayaknya lebih jadi dibandingkan
Erick. Tadi sempat di-mention, Andry merupakan salah satu tentara dengan
otot terkuat karena pernah menjuarai turnamen menarik pesawat jet F-16 melewati
batas 25 meter di tarmac menggunakan tali tambang, sendirian. Ini turnamen
internal di TNI AU untuk melihat siapa yang terkuat di antara mereka. Hanya 5
orang yang berhasil menarik pesawat seberat 10.000 kg itu melewati batas 25
meter, Andry merupakan salah satu di antaranya. (Fian juga ya, Kak.)
Bondan dan Erick tak berhasil menarik pesawat itu hingga
melaju. Erick bersikukuh berhasil menariknya hingga tiga meter, tetapi
kelelahan dan waktunya keburu habis.
Jadi, kalau Andry menang panco lagi melawan Erick, sudah bukan
mengejutkan lagi.
Faktanya, dalam permainan uno ini, hanya Andry yang belum
pernah dihukum.
BUK!
“BANGSAAATTT ...!!!” Itu teriakan Erick ketika tangannya
menghantam meja karena dihempas oleh Andry. “BANGSAT LU, NDRY! AAARGH!”
Andry yang ngos-ngosan dengan urat bermunculan di pelipis
hanya bisa menyandarkan punggung ke kursinya sambil bersyukur, “Sampai kapan
pun, saya enggak mau dihukum si Bondan. Hoh ... hoh ....”
Erick yang sudah lelah dan pasrah hanya bisa berkata, “Tapi
udah ini udahan, ya! Gue mau ngantar si Rohmat.”
“Iyeee ...!” sahut Bondan sambil berdiri tegak dan menarik
napas panjang. “Hukuman terakhirnya adalah ... muka elo ....” Lalu Bondan
terdiam beberapa saat sambil berpikir.
“Apa?!” sergah Erick kesal. “Dioles deodoran lagi?! Digosok ke
ketek lo?!”
“Enggak, enggak. Kebagusan itu.” Bondan menghela napas
panjang. “Muka elo ... gue dudukin.”
“ANJING! KAGAK!” Erick melempar kartu-kartu yang berserakan di
depannya ke arah Bondan. “Yang bener aja, lu?!”
“Kayak yang enggak pernah aja, anjing!”
“Ya tapi enak di elu, entar! Kagak!”
“Jangan lah Bon ...,” kata Andry sambil mengusap-usap lengan
Bondan. “Trauma dia, nanti. Pantat kamu kan bagai mimpi buruk.”
“Anjing!” Bondan mendamprat bahu Andry. “Bool gue enak,
anjing! Si Lela suka!”
Aku juga suka. Hehehe.
Tapi aku hanya bisa senyum-senyum dalam hati.
Bool Bondan tuh pulen, Kak.
Bondan berjalan ke tengah ruangan sambil mendengus. “Sini! Lu
baring di lantai!”
“Ngapain?!” ragu-ragu Erick bangkit dari kursinya. Belum
apa-apa wajahnya terlihat bete.
“Lu baring, terus gue ngangkang di atas muka elo, terus gue
setengah bungkuk, kepala elo masuk semuanya ke dalam sarung. Elo harus lihat
apa yang ada di balik sarung gue satu menit! Kagak boleh keluar!”
“Parah, anjing!”
“Udah, ikutin aja! Daripada enggak selesai-selesai,” colek
Andry.
Setengah kesal, Erick menjalani hukuman itu. Erick berbaring
di lantai. Kepalanya berada di antara dua kaki Bondan. Lalu Bondan mengangkat
sarung yang dikenakannya dan menutupi wajah Erick dengan itu. Tentu saja Erick
terpaksa melihat selangkangan Bondan dari bawah. Selama satu menit Bondan
berdiri dalam posisi tersebut.
Namun belum juga satu menitnya selesai, Erick langsung
menghambur keluar dari balik sarung.
Bondan kentut di dalam sarung.
Mereka lalu kejar-kejaran dan baku hantam di dalam rumah.
Andry tertawa lepas melihat kekonyolan dua tentara itu. Aku hanya terkekeh
kecil sambil membereskan kartu-kartu yang berserakan di meja maupun lantai. Aku
sudah tak sanggup lagi tertawa lepas. Selain karena aku masih mencemaskan soal
Fian, aku juga sange berat. Sedari tadi berhadapan dengan Bondan dan
Erick yang setengah telanjang. Kemudian hukuman dari Bondan ke Erick membuatku sange
bukan main.
Wajahku mungkin terlihat murung. Makanya Andry langsung
menggenggam lenganku dan menarikku mendekat. “Relaks dulu, Mas,” katanya dengan
senyum kecil. “Jangan dipikirin terus. Kita pasti cari cara nyelesaiin masalah
Fian dengan Deva.”
Aku membalas senyum itu. “Iya. Makasih ya, Mas.”
[ ... ]
Aku diantar Erick malam itu. Aku tidak bisa menginap di rumah
kontrakan itu meski Fian sedang di Jakarta. Parman pulang ke rumah ketika aku
mau berangkat, Bondan memutuskan menginap untuk menyelesaikan laporannya.
Bondan akan tidur di ranjangnya Fian. Enggak mungkin aku tidur bareng Bondan.
Bisa hamil besok pagi. Sehingga, Erick langsung melemparkan helm ke arahku dan
mengajakku ke depan.
Sepanjang perjalanan motor, Erick agak bacot soal permainan Uno
yang kami mainkan. Dia membela dirinya sendiri bahwa Andry sama Bondan tuh
curang, atau Erick lagi kecapean gara-gara kerusuhan di lanud, sehingga Erick
kalah terus. Dari caranya Erick bercerita, seakan-akan kejantanan Erick
ternodai karena dia kalah terus saat main Uno. Bahkan kalah dari seorang
perawat klinik yang enggak bisa panco.
Aku tak merespons apa pun. Hanya tertawa sekali dua kali
merespons bacotan itu.
Sesampainya di kosan, Erick mengarahkan motor ke gerbang
kosan. Biasanya dia akan berhenti di trotoar pinggir jalan, lalu membiarkanku
masuk.
“Mau ... masuk dulu?” tanyaku bingung.
“Iya,” jawab Erick pendek.
“Oh.” Aku agak kaget mendengar jawaban itu. “Mau ... mampir ke
kosanku dulu?”
“Iya. Kalau langsung balik takutnya gue pengin mampusin si
Bondan. Gilaaa looo .... Masih gedek gue.”
“Oke.” Aku membuka gerbang kosan meski agak bingung kenapa dia
memilih mampir di sini. Kan dia bisa ke kosan Ezel. Which is beberapa
ratus meter saja dari sini.
Erick membawa motornya masuk ke dalam, parkir di antara
motor-motor penghuni kosan yang sudah lebih dulu parkir.
Aku agak awkward ketika melihat Erick benar-benar
parkir lalu menghampiriku di ujung tangga. Ini pemandangan yang tak pernah
kubayangkan sebelumnya. Termasuk ketika aku menaiki tangga duluan ke lantai
tiga hingga tiba di depan kamarku sendiri. Ketika aku menoleh, Erick benar-benar
ada di belakangku, tidak berhenti di lantai dua dan belok ke kamar Ida.
Wajah Erick risau. Sempat kulihat dia celingukan ke sana
kemari seperti memastikan tak ada yang melihatnya membuntutiku ke sini. Risaunya
understandable. Kurasa dia benar-benar marah karena selalu kalah dari
Bondan yang punya hukuman-hukuman nyeleneh. Namun aku punya feeling,
wajah risaunya ini bukan soal itu.
Wajah ini berbeda dari wajah kesal yang kulihat di rumah
kontrakan tadi. Ini wajah orang yang cemas. Seperti sedang menunggu kabar
buruk.
“Abang baik-baik aja?” tanyaku sambil membuka kunci.
“Ya,” jawab Erick singkat sambil membuka sepatunya. “Muka gue
bau deodoran.”
“Deodoran wangi, kok.”
“Ya tapi ini deo ngejilatin ketek si Fian tiap hari. Berasa
muka gue digosok ke ketek si Fian.”
Aku sih pengin setiap hari menggosok mukaku di situ.
Kami masuk ke dalam kamar. Kunyalakan lampu dan kusimpan tas
ke atas meja.
Cklek!
Erick mengunci pintu kamarku tanpa izin. Dia sempat mengintip
ke luar jendela kamar, sebelum akhirnya menarik tirai agar menutupnya dengan
rapat. Tanpa menunggu kupersilakan, Erick melepas jaket bombernya dan
menghempaskan pantat ke atas tempat tidur. Dia duduk di tepian ranjang sambil
menghela napas dan mengusap kepalanya yang cepak.
“Elo ilfeel enggak ama gue?” tanyanya tiba-tiba.
Aku masih merasa aneh pada sikap itu. Jadi, aku duduk di
kursiku dan mencoba menjawab dengan serius. “Enggak ada alasan untuk ilfeel.”
Soalnya aku enggak punya “feeling”. Sesuatu yang enggak ada tuh enggak
mungkin hilang, karena sejak awal memang enggak ada.
“Karena gue kalah mulu di Uno?”
“Hah?!” Aku terkekeh kecil. “Enggak, lah. Itu cuma permainan
doang, Bang.”
“Tapi gue kalah terus.”
“Kan ada menangnya juga.” Waktu Erick menang, yang kalah
adalah Bondan. Tapi itu terjadi di awal-awal, ketika hukumannya masih mainstream,
seperti menyuruh push up dan lain sebagainya (sebelum Bondan mulai kreatif
dengan hukuman).
“Muka gue digosok deonya si Fian enggak bikin harga diri gue
jatuh, kan?”
Aku terkekeh lagi sambil melepaskan jaketku sendiri. “Enggak,
lah. It’s just for fun. Harga diri Abang enggak ditentukan dari yang
begitu.”
“Gue pipis di celana, elo enggak ilfeel?”
“Enggak, Bang.”
Yang ada malah aku sange, sih. Sumpah, Kak. Tadi Erick
disuruh mengganti celananya dengan celana kotor yang mau dicuci, lalu disuruh
pipis di kamar mandi, tapi sambil pake celana itu. Bondan dan Andry menontonnya
dari luar kamar mandi. Bondan ngakak paling keras melihat Erick ngompol di
celana. (Erick tentu saja mengumpat dan ngomel-ngomel, “Awas lo, Bon! Next
time gue menang, gue suruh elo berak di celana!”) Aku hanya menatap adegan
itu dari jauh, soalnya aku sange berat.
“Gue tari ubur-ubur tadi ... elo enggak ilfeel?”
“Enggak, lah. Hahaha. Lucu malah!” Aku mengerutkan alis.
“Kenapa sih Bang, nanya aku ilfeel atau enggak?”
Erick menghela napas dan menggosok tengkuknya. Dia seperti
ingin mengatakan sesuatu yang sangat rahasia, tetapi sedang mencari cara
mengatakannya. Namun karena Erick terbiasa sat-set sebagai tentara AU, dia
langsung mengutarakannya dengan tegas.
“Gue bakal bantu elo sama Fian,” katanya tiba-tiba.
“Bantu?”
“Gue pacarin si Deva tiga hari, ngewe ama dia, bikin
dia puas sekaligus bungkam mulut dia soal Fian.”
“O ... oke.” Aku bingung harus merespons apa. “Makasih, Bang.”
“Tapi gue ngelakuin itu buat Fian. Ada satu yang gue pengin
elo lakuin buat gue.”
“A ... apa?”
“In return, gue juga bakal ngasih something dari gue
buat elo.”
Aku yang masih clueless dan enggak tahu maksud Erick
apa, karena semuanya terjadi secara tiba-tiba, hanya bisa mengangguk kecil.
“Abang ... Abang mau ngelakuin apa?”
“Desak si Ezel buat ngaku dia kenapa.”
“Ezel?”
“Akhir-akhir ini dia enggak mau ngomong ama gue, makin
pendiem, mukanya pucat, kemaren gue nemu potongan kertas yang dia robek-robek
dan buang, tapi gue masih nemu satu robekan yang nyempil di lantai.”
Aku menelan ludah.
“Ada yang dia sembunyiin tapi dia enggak mau ngomong ama gue.”
Oh. Fuck. Ini pasti soal kesehatan Ezel.
“Dan serpihan yang dirobek itu ..., gue lihat ada logonya. Gue
kenal logonya.”
Shit.
“Logo klinik elo.” Erick menghela napas dan menatap wajahku
dengan serius. Tatapan itu begitu intimidatif, tetapi masih jinak. “Gue enggak
tahu apa, tapi dia pergi ke klinik elo dan langsung ngerobek surat yang ada
logo klinik elo. Bener enggak?”
Ya ampun, ya ampun, ya ampun, aku harus ngomong apa?
Aku mulai keringat dingin.
“Aku ... misal aku tahu, aku enggak punya kapasitas untuk
ngebocorin riwayat medis pasien—“
“Elo tahu. Gue tahu elo tahu,” penggal Erick tegas. “Dan gue
tahu gue enggak bisa maksa elo gitu aja buat ngebocorin rahasia si Ezel.”
Tiba-tiba Erick berdiri dan melepas bajunya hingga telanjang
dada lagi seperti di rumah kontrakan tadi. Dia berjalan mendekat ke arahku,
membungkuk sangat dekat, meletakkan kedua tangannya ke meja di belakangku.
Posisiku terkunci. Wajahku berada dekat dengan dadanya yang telanjang. Aroma
deodoran Fian menguar dari wajahnya. Kulit mulus dan kekar itu begitu dekat
dengan hidungku.
“Gue mau tahu si Ezel kenapa.”
Aku menggelengkan kepala. “Aku ... aku enggak bisa bilang—“
“Paham,” sela Erick. “Tapi ada salah sama dia, hm? Can you
confirm this? Supaya gue tenang. Supaya gue enggak marah-marah terus karena
gue enggak tahu.”
Aku menarik napas panjang dan mengakhirinya dengan anggukan
kecil.
Erick mengedipkan matanya perlahan, mencoba mencerna informasi
yang pahit itu pelan-pelan. Dia sempat menunduk sebentar, hampir membuat kening
kami beradu, kemudian dia mengangkat kepalanya lagi.
“Tapi elo bakal nemenin dia, kan? Sampai dia baik-baik aja?”
Dengan kilat aku menjawab, “Pasti. Itu bagian dari janjiku ke
Ezel.”
Erick menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Oke.”
Dia menghela napas lagi, membiarkanku terpojok selama beberapa detik. “Oke,”
ulangnya, “gue cuma butuh itu. Butuh janji elo.”
“Janji apa?”
“Janji buat jaga dia. Bantu dia. Sembuhin dia. Cari cara
terbaik buat bantu dia. Kalau butuh duit, bilang ama gue. Gue juga punya
tabungan. Jangan sampai dia kenapa-napa. Janji?”
“Janji.”
“Thanks.” Lalu Erick tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan
mulai membuka ikat pinggangnya. Celana jeans yang dia kenakan dia buka
kaitan celananya, lalu dia turunkan juga ritsletingnya. “Gue tahu elo lagi
pengin. Sewaktu maen tadi, elo ngelihatin tetek gue terus. Tetek si Bondan
juga. Elo ngenyot tetek dia aja elo nikmatin. Gue bisa lihat elo ngaceng
enggak berhenti-berhenti.”
Erick pun melorotkan celananya, menyisakan celana dalam putih
yang membungkus kontol “22 cm”-nya.
“Gue tahu elo siapa. Elo sama kayak si Ezel. Sama kayak si
Deva. Gue tahu hubungan elo ama si Fian gimana. Gue enggak masalah ama itu.
Yang gue masalahin sekarang kenapa si Ezel jadi kayak begitu.” Dan Erick pun
melorotkan celana dalamnya. Kontol yang Erick banggakan langsung terkuak di
depan wajahku. “Gue tahu elo pengin ama gue. Dari waktu penelitian, dari cara
elo muji-muji gue, gue tahu elo pengin banget. Jadi malam ini ....
“... gue bakal ngewe ama elo, asal elo penuhin janji
elo soal si Ezel. Deal?”
Dan dalam waktu singkat aku menjawab, “Deal.”
Kami pun ngewe malam itu.
[ ... ]
Bersambung ....
31A. I've Seen Enough for Today | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 32. Gue Sayang Elo Soalnya
Komentar
Posting Komentar