Karena perempuan itu tahu nama depan Tino dan mention soal keluarga saat ngamuk-ngamuk, kuasumsikan dia adalah bagian dari keluarga Tino. Bisa jadi kakak, adik, sepupu, bibi, siapa pun yang merasa tersinggung atas apa yang dilakukan Tino. Sesuatu yang katanya ‘membuat malu keluarga’. Mengingat satu-satunya hal memalukan yang Tino lakukan adalah di-prank sama waria, kuasumsikan keluarga mereka tahu soal video tersebut.
Namun, itu semua baru
asumsi.
Aku kepo setengah mati
pengin tahu aslinya bagaimana.
Ya sudahlah. That’s for
another day. Hari Senin ini, aku akan melanjutkan rencanaku membalas dendam
untuk Tino. Di kampusku lumayan terkenal dihuni cewek-cewek bispak (bisa pake).
Aku sudah mencoba mencarinya secara pasif dari kemarin-kemarin, tetapi belum
ada yang cocok. Terlebih, belum ada yang cocok untuk memerankan tokoh ‘Ulfa’.
Cewek BO yang nyangkut
enggak sesuai dengan kriteria favoritnya Randi. Toket terlalu gondal-gandul
kayak semangka. Pantat terlalu montok kayak bagasi Honda Civic zaman baheula.
Leher hampir enggak ada—ketutup lemak semua. Rambut lurusnya juga penuh highlight
pirang yang kelihatan kayak lonte. Kalau aku bawa dia ke Randi, jelas Randi
bakal tahu ini cewek memang sering mangkal.
Aku butuh yang berkelas.
Yang kalau dipakein jilbab tuh jadi cantik. Yang bisa kulatih biar santun. Dan
yang mau nge-gym, tentunya. Sebab kan aku harus mempertemukan mereka di
tempat gym. Jadi, secara spesifik, aku harus nyari mahasiswi di kampusku
sendiri yang masih muda, body masih oke, bisa kutemui hampir setiap hari
di kampus, dan dia BU biaya kuliah. Bukan BU untuk menyambung hidup seperti
kupu-kupu malam.
Senin siang, aku udah dapat
tiga kandidat yang oke, tapi aku kepincut sama satu cewek dari Fakultas
Humaniora, jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Kampusnya di
Kemanggisan—sementara aku di dekat Senayan. Dosen pembimbing skripsiku kan
muter tuh ke setiap kampus di universitasku yang somehow terbagi ke
beberapa tempat. Kadang beliau di Senayan, kadang di Kemanggisan. Nah, pas aku
ada bimbingan skripsi pagi-pagi di Kemanggisan, kumanfaatkan untuk bertemu
cewek ini.
Namanya Fina. Dari Bandung. Dia
satu angkatan di bawahku dan mengaku sedang butuh uang untuk bayar utang ke
temen-temennya sehabis mereka liburan ke Yunani. Aku enggak tahu kamu tahu
kampusku atau enggak, tapi mahasiswa di kampusku mostly bukan kuliah
karena ingin menuntut ilmu. Mereka ada di sini karena gengsi. Karena kampus ini
terkenal “elite”. Setiap mahasiswa pamer kekayaan setiap hari, party
setiap malam, liburan ke luar negeri setiap bulan, dan berkompetisi untuk
menunjukkan siapa yang punya baju, sepatu, atau mobil yang terbaik dan bermerek
di seantero kampus.
Sumpah. Jadi, kamu mungkin
enggak akan relate dengan seberapa kayanya keluargaku. Tapi kamu pasti
paham bahwa Fina, yang kayaknya datang dari keluarga kaya biasa-biasa saja
(bukan kaya raya kayak sultan), merasa perlu mengikuti gaya hidup
teman-temannya seperti liburan ke Yunani, padahal duit dia enggak cukup. Yang
ujung-ujungnya, dia akan berutang ke teman-temannya itu.
Yang menurutku adalah
motivasi termantap untuk menjalankan peran sebagai Ulfa.
Kami janjian di sebuah kafe
area Kemanggisan, yang punya private room yang bisa disewa. Sengaja aku book
ruangan ini biar Fina bisa percaya bahwa aku punya uang untuk membayar jasanya.
Aku tiba lebih dulu karena bimbinganku selesai pukul sebelas, sementara aku
bertemu Fina pukul satu siang. Cewek itu datang tepat waktu.
Dia masuk ke ruangan dengan
ramah dan manis. Memiringkan kepalanya sembari tersenyum, “Leo, ya?”
“Yep! Sini, masuk.”
Fina tampak rapi dan sopan.
Dia mengenakan celana panjang, sepatu kets biasa, kemeja lengan panjang yang
digulung sesiku, dan rambut yang dia ikat rapi di belakang. Di tangannya ada
buku-buku paket yang dia peluk sepanjang jalan. Dia mirip guru heroik di
pedalaman yang punya misi mencerdaskan anak bangsa. Yang bergerak sebagai
aktivis, mungkin feminis, yang rela membela gajah-gajah liar, yang mungkin
berkawan dengan Butet Manurung untuk meningkatkan literasi anak-anak pedalaman.
Mukanya juga cantik dan
manis. Makeup secukupnya. Tasnya Bottega Veneta palsu, tapi kayaknya KW
super. Aroma parfumnya enak.
“Aku telat enggak?”
“Kagak, anjir. Ini masih jam
… 12.55. Sini, lihat dulu menunya, mau pesan apa?”
Sebelum bertemu, tentu saja
aku sudah memberikan short brief kepada Fina tentang apa yang akan dia
lakukan. Dia juga sudah nego honor, dan sudah kusetujui. (Aku juga sudah minta
duit ke Papa, pura-puranya ada ujian praktik yang harus bayar ratusan juta, yang
tidak bisa di-autodebit seperti uang semesteran, dan Papa langsung
transfer tanpa banyak bertanya. Budget-ku aman.) Kami bertemu supaya aku
bisa menjelaskan lebih jauh soal misi ini, dan kalau Fina ada pertanyaan, akan
kujawab di sini.
“Aku pikir sama kamu
mainnya,” ungkap Fina setelah memesan makanan.
“Haha. Enggak. Gue homo.”
“But you look handsome lho,
Kak.”
“I know. But still homo.”
Aku mengedipkan sebelah mata. “Oke, besok malam kita ketemu sama temen gue. Dia
lebih canggih urusan IT. Bisa nge-phising si target kita ini, supaya
kalau dia nge-SS atau ngerekam elo, dia bisa langsung hapusin dari hapenya. You’re
gonna be safe.”
“Aku tetep harus ngewe
ama cowok ini enggak?”
“Kalau elo enggak keberatan,
sih ….”
“Mana fotonya?”
Aku membuka ponsel dan
menunjukkan foto Randi. Fina mengangkat satu alisnya, diiringi dengan senyum
sebelah.
“Ini sih oke. Ganteng dan muscle
….”
“Iya. Tapi orangnya jahat.
Ngancurin karier PT lain. Coba deh, mumpung makanan lo belum datang, ada yang
mau ditanyain, enggak?”
“Kalau aku harus ngewe
ama dia,” mulai Fina, “ada kosan yang bisa kupake enggak? I mean, aku
enggak bisa pake kosanku. Kosannya enggak boleh bawa lawan jenis ke kamar.”
“Pertama, mungkin elo bakal ngewe
di kosan dia. Kedua, misal harus di luar, gue bisa sewain kamar hotel. You
really don’t need to worry about the cost.”
“Oh. Okay ….” Fina
men-zoom wajah Randi dan mengamatinya lagi. “Termasuk membership
di gym kamu itu, kan?”
“Yes. Itu udah gue
bayarin, tapi cuma tiga bulan—so I hope misinya selesai less than 3
months.”
“Kalau selesai lebih cepat?”
“Ya lo pake aja membership-nya
sampe abis. Tapi mungkin di cabang lain, jangan di cabangnya dia.”
“Aaahhh … free gym!”
Fina membelalak gembira. “It’s getting better aja. Kamu yakin, enggak
mau ngewe sama aku juga? Aku jago nyepong, lho!”
Aku memutar bola mata. “Gue
enggak akan ngaceng lihat elo, anjir! Jangan ngadi-ngadi!”
“Boti?”
“Iyeee! Ada pertanyaan lain
enggak?”
“Kalau habis misi ini gue
pacaran ama dia …, gimana?”
“Serah elu. Tapi kayaknya
enggak akan bisa, anjir. Kan kita mau ngejatuhin dia.”
“Oh iya.” Fina tampak
kecewa. “Sayang banget lho, Kak. Dia ini ganteng, badannya bagus, aku yakin
burungnya juga gede.”
Aku mengangkat bahu. “Gue
kagak tahu sih soal kontol dia. That’s the thing we’ll find out on the go.
Oh iya, elo nyaman enggak pake hijab? Elo aslinya Islam, kan?”
“Iya, Kak. Islam. Bapakku
ustaz terkenal gitu di Sumedang. Ibuku punya pesantren. Dia yang ngurus
pesantrennya gitu, sebab dia guru ngaji juga di pesantrennya. Karena aku
tinggal di lingkungan yang Islami banget … makanya aku ngelonte.”
“Anjing!” Aku tergelak
mendengarnya. “Elo sering ngewe?”
“Kamu enggak?”
“Ya sering, lah. Tapi
maksudnya, sebagai anak perempuan dari keluarga yang religinya kuat, how did
you find yourself ngewe sana sini?”
“Alah, biasa, remaja. Harus
enggak setuju ama orang tua, jadi inilah yang gue enggak setuju ama mereka.
Terlalu ngekang gitu di rumah. Capek. Enggak bisa pacaran. Enggak bisa pake
baju seksi. Enggak bisa pake rok—”
“Ah, ini penampilan elo juga
biasa aja. Enggak seksi-seksi amat,” potongku.
Fina menatapku dengan
pandangan mata setengah menyipit. “Kan aku jurusan PGSD anjir. Masa calon guru
SD bajunya seksi? Ini juga udah untung aku bisa kuliah di sini. Sekeluarga
enggak ada yang setuju, karena kampus ini kan anak-anaknya terlalu seks bebas. Which
is itu yang aku cari, kan?”
“HAHAHA …!”
“Mereka akhirnya ngizinin
asal aku ambil jurusan yang bermanfaat. Jadinya aku ambil PGSD. But still,
mainnya sama anak-anak SBM juga di Senayan, supaya aku bisa ‘gaul’. Sayangnya
aku mesti backstreet ama temen-temenku ini, habisnya chindo semua
mereka. Keluargaku mana suka sama keturunan Cina.”
“Alright. Tapi
intinya, elo enggak masalah kan untuk pura-pura Islami, pura-pura syariah,
pura-pura halal?
Fina terkekeh. “Gini-gini
juga aku udah khatam Al-Quran beberapa kali.”
“Nice!”
“Dan aku bisa pake hijab
juga. Tau cara pakenya. Punya mukena yang biasa dibawa ke mana-mana buat
formalitas. Tapi nih Kak …, kayaknya koleksi hijabku enggak ada yang oke. Kalau
Kakak pengin aku rada-rada ‘bergengsi’, you have to provide me new clothing,
sih. Enggak usah banyak. Dua atau tiga long sleeve dress, sama mungkin
aku butuh lima kain buat jilbab yang bahannya bagus. Punyaku kelihatan banget
buluknya. Cuma dipake kalau pulang ke Bandung atau Bapak Ibu datang ke sini.
Kan mereka tahunya aku pake jilbab di sini ….”
“That can be arranged.
Toh, kita juga mesti beli baju nge-gym buat cewek berjilbab, supaya
kelihatan elo tuh niat nge-gym. Besok malam sambil ketemuan ama temen
gue, kita belanja kerudung dan baju-baju panjang buat elo.”
“Besok malam tuh ketemu
temen Kakak yang jago komputer itu, ya?”
“Ho-oh. Yang di Whatsapp aku
bilang kayak intelijennya Amerika. Hari ini dia enggak bisa ketemu katanya.
Jadi dia nyaranin besok. Elo besok malam ada acara?”
Fina mengangkat bahunya. “Besok
kosong. Enggak ada kuliah juga. Dari siang aku udah bisa ketemuan, kok. BTW,
kita bakal ada kontrak, kan?”
“Oh, pasti ada! Don’t
worry. Semua image telanjang elo, atau ngewe, atau apa pun
yang harus tersorot kamera demi dia, bakal kita usahakan buat dihapus dengan
segera. Atau …, temen gue bakal langsung edit supaya bagian elonya hilang, tapi
bagian dianya masih jelas dan HD. Kan nanti kalian bakal VCS, kan.”
“VCS-nya tuh bareng kalian?”
“Kalau bisa bareng sih, cuy.
Kan mau direkam VCS-nya. Kita mau nge-prank si Randi ini. Pun, supaya
temen gue itu bisa langsung nge-track hape-nya si Randi, supaya kalau
dia ada nge-SS atau nge-screen record, temen gue bisa langsung hapus
dari hape si Randi.”
Fina tersenyum lebar. Merasa
lebih aman. “Oh, pertanyaan terakhir ….”
“Apa?”
“Kapan kita mulai misi ini?”
Aku tersenyum sebelah.
Senyum orang jahat kayak di film-film. “Well, kalau kamu udah siap,
sih,” ungkapku. “Mulai sekarang namamu adalah ….
“… Ulfa Taher.”
[ … ]
Harusnya, aku dan Fina
menemui Edvan di Kosan Hamid Selasa malam. Edvan yang bilang dia punya acara
selama Senin dan Selasa, tapi Selasa malam bisa ketemuan dengan Fina. Jadi aku
mengajak Fina untuk belanja dulu kostum hijab pukul empat sore, malamnya kami
akan ke Kosan Hamid untuk bertemu Edvan.
Pukul lima sore, Edvan
me-Whatsapp-ku. Di mana Cuy?
Kubalas, GI. Mau blnja sm Fina beli kerudung sama gamis.
Ywd.
Gw ksitu skrg, balas Edvan.
Aku membelalak terkejut
sembari mengetik balasan, Heee?? Pan jam 7
jam 8 lu bisanya.
Udah
selesai. Gw ksitu skrg aja. Kabarin kalian lg dmn nya.
Edvan beneran datang ke GI
untuk menemuiku dan Fina. Lima belas menit setelah Whatsapp-an itu, tiba-tiba
di me-Whatsapp lagi, Gw dah di parkiran,
klian dmn?
Aku dan Fina sedang
melihat-lihat celana training di salah satu toko olahraga. Kami sudah
membeli beberapa kerudung, dan masih akan mencari setelan-setelan modis untuk
cewek berhijab masa kini. Kuberi tahu Edvan agar datang ke toko yang sedang
disambangi. Dia muncul ketika Fina sedang ada di fitting room untuk
mencoba salah satu legging.
“Bro!” sapa Edvan sembari
tiba-tiba duduk di sampingku dengan cara menghantamkan pantatnya keras-keras.
Punggungnya langsung disandarkan ke dinding, satu tangannya mengusap rambutnya
dari depan ke belakang. Dia mengambil napas yang panjang. Edvan tampak lelah.
“Habis ospek, lu?”
Edvan terkekeh. “Habis gembalain
domba.”
Aku menyipitkan mata. “Elu
barusan jadi Yesus?”
“Bercanda, anjir!” Edvan
menyikutku. Dia mengusap lagi rambutnya yang agak gondrong dari depan ke
belakang, kemudian menghela napas panjang. “Dari kemaren gue ngejagain anak
orang. Ini anak, kalau enggak dijagain, bisa diamuk massa. Tingkahnya sering
melanggar UUD 45.”
Aku terkekeh. “Siapa, sih?”
Dan aku baru ngeh Edvan mengenakan kostum itu lagi. Kostum serbahitam dari
ujung kepala sampai ke ujung kaki. Kostum yang dipakai sepulang Edvan dari
Bogor untuk ikutan grup nudis—yang tempo hari sempat heboh di Lambe Turah. Kostum
maling yang dipakai sekali-sekali, specially kalau dia keluar kosan.
Biasanya Edvan mojok terus di dalam kosannya. Enggak ke mana-mana.
Edvan enggak menjawab
pertanyaanku. Dia malah mengalihkan topik. “Mana si Finanya?”
“Lagi fitting. Mau
beli outfit nge-gym buat ketemu si Randi entar.”
Pada saat bersamaan, Fina
muncul dari fitting room dan menghampiri kami. Dia mengenakan kaus tanktop
ketat yang menonjolkan dadanya—which is dari tadi juga begitu. Lalu
bawahannya adalah legging hitam yang ngepas tungkai, yang membalut
tungkai jenjangnya dengan seksi dan sempurna. Sebenarnya Fina udah enggak punya
alasan lagi untuk nge-gym. Dia sudah bisa ikut Puteri Indonesia.
“Gimana yang ini?” sapa Fina
sembari berdiri dua meter di depanku, memutar-mutar panggulnya, memamerkan
pantat, lalu tungkai jenjangnya, lalu panggul lagi, pantat lagi.
“Yang ini oke, kok.”
“Aku juga suka yang ini.”
Fina mematut dirinya sendiri di depan cermin vertikal di samping rak duffel
bag.
Aku berdiri dan menghampiri
Fina, lalu mengenalkan Edvan. “Eh, Fin. Ini Edvan. Yang mau kita temuin entar
malam.”
“Oh, hai!” Fina melambaikan
tangan, tersenyum, lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Aku menoleh dan menemukan ….
… Edvan masih duduk
bersandar di atas kursi.
Membeku. Mematung. Dan,
terpana.
Dasar lelaki mata ke ranjang!
“Hey! Ini Fina! Yang bakalan
jadi Ulfa! Kenapa lu malah bengong?!”
“Hah?” kata Edvan dengan
muka bego, sembari terus memandangi Fina seakan-akan cewek ini bidadari
kayangan yang sedang mandi di kali.
“Aku Fina!” Akhirnya Fina
yang nyamperin Edvan, sembari tetap mengulurkan tangan.
Edvan bangkit
perlahan-lahan. Matanya hampir enggak ngedip menatap mata Fina. Baik mata di
atas, maupun mata yang ada di dada. Yang memang setelah disidik-sidik, puting
Fina agak menonjol di balik tanktop sporty yang ketat itu. Fina enggak
pake beha. Anjing.
Sambil menelan ludah, Edvan
mengangguk kecil dan membalas uluran tangan itu. “Edvan.” Dia tampak kikuk.
“Cute banget, sih,”
puji Fina sambil menoleh ke arahku. “Kita enggak akan nge-prank yang ini
juga?”
“Enggak!” sahutku tegas
sambil melipat tangan di depan dada. “Lagian ototnya gedean si Randi daripada
dia.”
“Ya gapapa. Kan segalanya
enggak mesti tentang otot. Halo, Mas Edvan. Gimana kabarnya?” tanya Fina dengan
genit. Fina kembali lagi ke depan kaca sembari mematut-matut dirinya.
“Baik. Hehe.”
“Menurut Mas Edvan, celana
ini seksi enggak?”
“Seksi,” jawabku.
“Aku enggak nanya kamu,”
kekeh Fina. “Kita butuh pendapat cowok straight. Dia straight,
kan?”
Aku memutar bola mata.
“Tulen.”
“Gimana, Mas?” Fina
berputar-putar di depan Edvan.
Lelaki itu duduk lagi sambil
membungkuk dan merapatkan pahanya. “Bagus, kok. Bagus ….”
“Nanti aku bakal pake manset
sih atasnya, terus ditutup lagi pake kaus longgar. Biar enggak aurat.” Fina
mengibaskan tangannya dengan centil. “Tapi aku harus tetap tampil menarik.”
“Ya udah nih pake manset
sama kerudungnya,” usulku, sambil mengangkat tas belanjaan yang sedari tadi
kupegang.
“Oh, iya. Sini.” Fina
mengeluarkan manset dan kerudung dari kantung belanjaan. Di tempat, dia
langsung mengenakan mansetnya, lalu memasang kerudung dengan cepat. Asal saja,
dililit-lilit ke kepala dan ke leher.
Yang paling “menonjol”
memang putingnya. Karena setelah dipasangi manset pun, itu pentil masih aja
nyolot.
“Gimana?” tanya Fina. Dia
berputar-putar dengan cantik di depan Edvan, berkacak pinggang, mengangkat
tangan ke atas seperti model, lalu menggerakkan tungkainya ke sana kemari.
Edvan hanya mengangkat
jempolnya sambil mengangguk kecil. “Mantap!” katanya.
Fina mematut lagi di depan
cermin. “Iya sih, aku setuju. Randi pasti kepincut juga sama penampilan begini.
Cewek-cewek hijab modis yang kesannya baik-baik, tapi bisa di-ewe. Ya
enggak, sih?”
“Gue ngikut aja, anjir,”
kataku sembari mendengus. “Jadi elo mau beli yang ini?”
“Kayaknya iya. Ngepas pula
ukurannya.” Memutar lagi badannya, melihat bagaimana bentukan pantatnya di
depan cermin. “Oke. Gue ambil yang ini, ya. Bentar, gue lepas dulu.”
“Ya udah. Entar masukin sini
aja, gue bayarin ke kasir.”
Ketika Fina balik lagi ke fitting
room, aku duduk lagi di samping Edvan, yang kini menatap ke fitting room.
“Lu kenapa, sih?!” sikutku.
“Lu kenapa enggak bilang sih
orangnya cakep?”
“Ya kan kita mau narik
perhatian si Randi. Harus cakep dong! Kalau jelek udah cukup mah, gue
ngumpanin si Romi dari awal!”
“Enggak secakep itu juga,
anjing!”
“Emang kenapa kalau cakep
kayak gitu?”
“Gue jadi ngaceng,”
bisik Edvan, dengan muka merona.
“Hah?!”
Edvan semakin merapatkan
pahanya. Bahkan, dengan salah tingkah dia langsung menyilangkan kakinya,
seakan-akan ingin melindungi area selangkangannya yang sedang “diserang”. Edvan
juga jadi malu-malu.
“Kenapa elu ngaceng,
sih?!” bisikku tak percaya.
“Teteknya itu, anjir! Si
Randi juga pasti ngaceng kalau ngelihat kostumnya kayak begitu.”
“Ya memang itu tujuannya!”
Aku menoyor kepala Edvan. “Tujuannya adalah tampil sebagai ‘tipe cewek Randi’.
Tapi sekalian jadi cewek yang bisa dipake. Supaya si Randi mau ngewe
atau VCS sama si Fina. Terus, kita bisa rekam VCS-nya. Kan judul misi kita Prank
Personal Trainer. Kalau si Fina terlalu solehah, entar misinya jadi Kupinang
Kamu Dengan Bismillah. Gimana sih ….”
Edvan masih saja celingukan
menatap fitting room. Masih deg-degan dan terpesona dengan makhluk
secakep Fina. “Elu harus tanggung jawab,” bisik Edvan, sembari menyikutku.
“Tanggung jawab apaan?!”
Tiba-tiba Edvan menarikku ke
rangkulannya. “Tanggung jawab karena bikin kontol gue ngaceng! Malam
ini, elu harus ngocokin kontol gue sampai crot! Enggak mau tahu! Ini
salah elu!”
[ … ]
Part 14 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 15 (Bag. B)
Halo, Kak!
Seperti biasa, kalau aku menerbitkan something free, maka akan ada something berbayar yang terbit, ya! Kali ini, yang terbitnya adalah Extra Kosan Hamid nomor 6! Silakan cek speknya di bawah. Kalau Kakak tertarik, silakan hubungi aku untuk melakukan pembelian, ya!
Extra Hamid 06
Judul: Ketek Tino
Isi: 14.200 kata dan 125 halaman
Harga: Rp30.000,-
Tokoh: Tino, Kevin (Malam Terakhir), dan Nagara (seorang mafia)
Adegan intim: Armpit worship, oral, anal
Top: Tino dan Kevin
Bottom: Nagara dan Tino
Universe: Malam Terakhir, Mamoru, Mencari Budak Setia
Blurb:
Tino
tak menyangka Kevin menemukan akun RentMen-nya. Namun, alih-alih menghakimi,
Kevin justru meminta bantuan Tino. Kevin ingin menyewa jasa Tino sebagai gigolo,
tapi bukan untuk Kevin, melainkan untuk klien Kevin. Klien ini terobsesi pada
ketek. Tino menyetujuinya.
Cerita ini akan menguak rahasia gelap Kevin yang selama ini disembunyikan, bahkan dari Enzo.
Cuplikan:
....
Pintu kamar ditutup. Hanya ada Tino, Nagara, dan Kevin di
ruangan itu. Kevin berdiri di depan pintu, menunggu dan mengamati Tino
dinikmati secara sensual oleh sang mafia.
Nagara mengendus ketek Tino hingga teler. Matanya betulan
merem melek seperti nge-fly.
Kevin hanya mengangguk kecil dan tersenyum.
Tino duduk bersandar dengan nyaman, telanjang bulat—handuknya
sudah ditarik lepas oleh Nagara ketika masuk ke kamar. Namun, kemaluan Tino
tidak dimainkan sekali pun. Nagara merangkak seperti anjing di atas tubuh Tino,
mengendus-endus ketek Tino seperti anjing pelacak.
“Aromanya manis ...,” ungkap Nagara dengan mata terpejam. Dia
mendekatkan lagi hidungnya ke ketek basah itu, membiarkan satu ujung bulu ketek
Tino menggelitik hidungnya. “Seperti kue .... Ada asinnya .... Kue yang baru
dikeluarkan dari oven ....”
“Hmmmph!” Tino mengentak terkejut ketika Nagara tiba-tiba
menyusurkan lidahnya ke ketek Tino.
Sluuurrrppp ....
Hanya satu tarikan lidah dari bawah ke atas, tetapi sanggup
membuat Nagara kejang-kejang kecil karena keenakan. Senyumnya begitu lebar.
Nagara terjatuh ke samping, berbaring telentang untuk menikmati setiap rasa
ketek Tino di lidahnya. Kepalanya geleng-geleng.
“Mamaaa .... Enak sekaliii ....” Suara Nagara terlihat seperti
meracau.
Nagara kembali menegakkan kepalanya untuk membenamkan wajah di
ketek Tino. “Aaaaaahhh ....” Dia menggosok-gosok wajahnya dengan gemas, seperti
seorang ayah menggosok wajah ke perut bayinya. Terpaksa Tino terkekeh karena
geli. “Argh! Hahaha ....” Tino meringis, menahan sensasi gelitik itu dengan
mulut menganga lebar dan bahu agak naik. Nagara senang melihat Tino merasa
geli. Dia menggosok wajahnya makin kuat ke ketek itu.
“AAARGH! Hahaha ...!” Tubuh Tino setengah berguncang. Matanya
terpejam kuat.
Setengah mabuk, Nagara mengangkat kepalanya dan berbicara ke
Kevin. “Sini, kau!”
Kevin menghampiri dan berdiri di samping tempat tidur. “Ada
yang bisa saya bantu, Pak?”
“Bantu berdiriin itu!” Nagara menunjuk kemaluan Tino dengan
dagunya. “Siapin kontolnya supaya bisa masuk ke saya.”
Baik Tino maupun Kevin sama-sama lega karena Nagara seorang
boti. Artinya, bool Tino aman malam itu.
Kevin mengangguk dengan senyum lebar, “Saya ambilkan pelicin
dulu, ya.”
“Pake mulutmu!” hardik Nagara tiba-tiba.
Kevin yang sudah berbalik berhenti melangkah. “Mulut?”
“Pelicin tuh buat sodomi. Kalau negangin kontol ..., pake
mulutmu.” Nagara sudah menelanjangi bagian bawah tubuhnya.
Tino dan Kevin saling berpandangan bingung.
Lalu, Nagara menghardik Kevin sambil menunjuk kemaluan Tino, “Sepong
dia!”
....
Seperti biasa, lakukan pembelian melalui WhatsApp, email, atau Telegram. Masuk ke lynk.id/bocahtitipan untuk mendapatkan kontaknya. Terima kasih banyak sudah membeli! Semoga suka dengan spinoff-nya!
Untuk beli langsung di lynkid, klik di sini.

Komentar
Posting Komentar