(PPT) Part 15 Bag. A




Karena perempuan itu tahu nama depan Tino dan mention soal keluarga saat ngamuk-ngamuk, kuasumsikan dia adalah bagian dari keluarga Tino. Bisa jadi kakak, adik, sepupu, bibi, siapa pun yang merasa tersinggung atas apa yang dilakukan Tino. Sesuatu yang katanya ‘membuat malu keluarga’. Mengingat satu-satunya hal memalukan yang Tino lakukan adalah di-prank sama waria, kuasumsikan keluarga mereka tahu soal video tersebut.

Namun, itu semua baru asumsi.

Aku kepo setengah mati pengin tahu aslinya bagaimana.

Ya sudahlah. That’s for another day. Hari Senin ini, aku akan melanjutkan rencanaku membalas dendam untuk Tino. Di kampusku lumayan terkenal dihuni cewek-cewek bispak (bisa pake). Aku sudah mencoba mencarinya secara pasif dari kemarin-kemarin, tetapi belum ada yang cocok. Terlebih, belum ada yang cocok untuk memerankan tokoh ‘Ulfa’.

Cewek BO yang nyangkut enggak sesuai dengan kriteria favoritnya Randi. Toket terlalu gondal-gandul kayak semangka. Pantat terlalu montok kayak bagasi Honda Civic zaman baheula. Leher hampir enggak ada—ketutup lemak semua. Rambut lurusnya juga penuh highlight pirang yang kelihatan kayak lonte. Kalau aku bawa dia ke Randi, jelas Randi bakal tahu ini cewek memang sering mangkal.

Aku butuh yang berkelas. Yang kalau dipakein jilbab tuh jadi cantik. Yang bisa kulatih biar santun. Dan yang mau nge-gym, tentunya. Sebab kan aku harus mempertemukan mereka di tempat gym. Jadi, secara spesifik, aku harus nyari mahasiswi di kampusku sendiri yang masih muda, body masih oke, bisa kutemui hampir setiap hari di kampus, dan dia BU biaya kuliah. Bukan BU untuk menyambung hidup seperti kupu-kupu malam.

Senin siang, aku udah dapat tiga kandidat yang oke, tapi aku kepincut sama satu cewek dari Fakultas Humaniora, jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Kampusnya di Kemanggisan—sementara aku di dekat Senayan. Dosen pembimbing skripsiku kan muter tuh ke setiap kampus di universitasku yang somehow terbagi ke beberapa tempat. Kadang beliau di Senayan, kadang di Kemanggisan. Nah, pas aku ada bimbingan skripsi pagi-pagi di Kemanggisan, kumanfaatkan untuk bertemu cewek ini.

Namanya Fina. Dari Bandung. Dia satu angkatan di bawahku dan mengaku sedang butuh uang untuk bayar utang ke temen-temennya sehabis mereka liburan ke Yunani. Aku enggak tahu kamu tahu kampusku atau enggak, tapi mahasiswa di kampusku mostly bukan kuliah karena ingin menuntut ilmu. Mereka ada di sini karena gengsi. Karena kampus ini terkenal “elite”. Setiap mahasiswa pamer kekayaan setiap hari, party setiap malam, liburan ke luar negeri setiap bulan, dan berkompetisi untuk menunjukkan siapa yang punya baju, sepatu, atau mobil yang terbaik dan bermerek di seantero kampus.

Sumpah. Jadi, kamu mungkin enggak akan relate dengan seberapa kayanya keluargaku. Tapi kamu pasti paham bahwa Fina, yang kayaknya datang dari keluarga kaya biasa-biasa saja (bukan kaya raya kayak sultan), merasa perlu mengikuti gaya hidup teman-temannya seperti liburan ke Yunani, padahal duit dia enggak cukup. Yang ujung-ujungnya, dia akan berutang ke teman-temannya itu.

Yang menurutku adalah motivasi termantap untuk menjalankan peran sebagai Ulfa.

Kami janjian di sebuah kafe area Kemanggisan, yang punya private room yang bisa disewa. Sengaja aku book ruangan ini biar Fina bisa percaya bahwa aku punya uang untuk membayar jasanya. Aku tiba lebih dulu karena bimbinganku selesai pukul sebelas, sementara aku bertemu Fina pukul satu siang. Cewek itu datang tepat waktu.

Dia masuk ke ruangan dengan ramah dan manis. Memiringkan kepalanya sembari tersenyum, “Leo, ya?”

“Yep! Sini, masuk.”

Fina tampak rapi dan sopan. Dia mengenakan celana panjang, sepatu kets biasa, kemeja lengan panjang yang digulung sesiku, dan rambut yang dia ikat rapi di belakang. Di tangannya ada buku-buku paket yang dia peluk sepanjang jalan. Dia mirip guru heroik di pedalaman yang punya misi mencerdaskan anak bangsa. Yang bergerak sebagai aktivis, mungkin feminis, yang rela membela gajah-gajah liar, yang mungkin berkawan dengan Butet Manurung untuk meningkatkan literasi anak-anak pedalaman.

Mukanya juga cantik dan manis. Makeup secukupnya. Tasnya Bottega Veneta palsu, tapi kayaknya KW super. Aroma parfumnya enak.

“Aku telat enggak?”

“Kagak, anjir. Ini masih jam … 12.55. Sini, lihat dulu menunya, mau pesan apa?”

Sebelum bertemu, tentu saja aku sudah memberikan short brief kepada Fina tentang apa yang akan dia lakukan. Dia juga sudah nego honor, dan sudah kusetujui. (Aku juga sudah minta duit ke Papa, pura-puranya ada ujian praktik yang harus bayar ratusan juta, yang tidak bisa di-autodebit seperti uang semesteran, dan Papa langsung transfer tanpa banyak bertanya. Budget-ku aman.) Kami bertemu supaya aku bisa menjelaskan lebih jauh soal misi ini, dan kalau Fina ada pertanyaan, akan kujawab di sini.

“Aku pikir sama kamu mainnya,” ungkap Fina setelah memesan makanan.

“Haha. Enggak. Gue homo.”

But you look handsome lho, Kak.”

I know. But still homo.” Aku mengedipkan sebelah mata. “Oke, besok malam kita ketemu sama temen gue. Dia lebih canggih urusan IT. Bisa nge-phising si target kita ini, supaya kalau dia nge-SS atau ngerekam elo, dia bisa langsung hapusin dari hapenya. You’re gonna be safe.”

“Aku tetep harus ngewe ama cowok ini enggak?”

“Kalau elo enggak keberatan, sih ….”

“Mana fotonya?”

Aku membuka ponsel dan menunjukkan foto Randi. Fina mengangkat satu alisnya, diiringi dengan senyum sebelah.

“Ini sih oke. Ganteng dan muscle ….”

“Iya. Tapi orangnya jahat. Ngancurin karier PT lain. Coba deh, mumpung makanan lo belum datang, ada yang mau ditanyain, enggak?”

“Kalau aku harus ngewe ama dia,” mulai Fina, “ada kosan yang bisa kupake enggak? I mean, aku enggak bisa pake kosanku. Kosannya enggak boleh bawa lawan jenis ke kamar.”

“Pertama, mungkin elo bakal ngewe di kosan dia. Kedua, misal harus di luar, gue bisa sewain kamar hotel. You really don’t need to worry about the cost.”

“Oh. Okay ….” Fina men-zoom wajah Randi dan mengamatinya lagi. “Termasuk membership di gym kamu itu, kan?”

Yes. Itu udah gue bayarin, tapi cuma tiga bulan—so I hope misinya selesai less than 3 months.”

“Kalau selesai lebih cepat?”

“Ya lo pake aja membership-nya sampe abis. Tapi mungkin di cabang lain, jangan di cabangnya dia.”

“Aaahhh … free gym!” Fina membelalak gembira. “It’s getting better aja. Kamu yakin, enggak mau ngewe sama aku juga? Aku jago nyepong, lho!”

Aku memutar bola mata. “Gue enggak akan ngaceng lihat elo, anjir! Jangan ngadi-ngadi!”

Boti?”

“Iyeee! Ada pertanyaan lain enggak?”

“Kalau habis misi ini gue pacaran ama dia …, gimana?”

“Serah elu. Tapi kayaknya enggak akan bisa, anjir. Kan kita mau ngejatuhin dia.”

“Oh iya.” Fina tampak kecewa. “Sayang banget lho, Kak. Dia ini ganteng, badannya bagus, aku yakin burungnya juga gede.”

Aku mengangkat bahu. “Gue kagak tahu sih soal kontol dia. That’s the thing we’ll find out on the go. Oh iya, elo nyaman enggak pake hijab? Elo aslinya Islam, kan?”

“Iya, Kak. Islam. Bapakku ustaz terkenal gitu di Sumedang. Ibuku punya pesantren. Dia yang ngurus pesantrennya gitu, sebab dia guru ngaji juga di pesantrennya. Karena aku tinggal di lingkungan yang Islami banget … makanya aku ngelonte.”

“Anjing!” Aku tergelak mendengarnya. “Elo sering ngewe?”

“Kamu enggak?”

“Ya sering, lah. Tapi maksudnya, sebagai anak perempuan dari keluarga yang religinya kuat, how did you find yourself ngewe sana sini?”

“Alah, biasa, remaja. Harus enggak setuju ama orang tua, jadi inilah yang gue enggak setuju ama mereka. Terlalu ngekang gitu di rumah. Capek. Enggak bisa pacaran. Enggak bisa pake baju seksi. Enggak bisa pake rok—”

“Ah, ini penampilan elo juga biasa aja. Enggak seksi-seksi amat,” potongku.

Fina menatapku dengan pandangan mata setengah menyipit. “Kan aku jurusan PGSD anjir. Masa calon guru SD bajunya seksi? Ini juga udah untung aku bisa kuliah di sini. Sekeluarga enggak ada yang setuju, karena kampus ini kan anak-anaknya terlalu seks bebas. Which is itu yang aku cari, kan?”

“HAHAHA …!”

“Mereka akhirnya ngizinin asal aku ambil jurusan yang bermanfaat. Jadinya aku ambil PGSD. But still, mainnya sama anak-anak SBM juga di Senayan, supaya aku bisa ‘gaul’. Sayangnya aku mesti backstreet ama temen-temenku ini, habisnya chindo semua mereka. Keluargaku mana suka sama keturunan Cina.”

Alright. Tapi intinya, elo enggak masalah kan untuk pura-pura Islami, pura-pura syariah, pura-pura halal?

Fina terkekeh. “Gini-gini juga aku udah khatam Al-Quran beberapa kali.”

Nice!

“Dan aku bisa pake hijab juga. Tau cara pakenya. Punya mukena yang biasa dibawa ke mana-mana buat formalitas. Tapi nih Kak …, kayaknya koleksi hijabku enggak ada yang oke. Kalau Kakak pengin aku rada-rada ‘bergengsi’, you have to provide me new clothing, sih. Enggak usah banyak. Dua atau tiga long sleeve dress, sama mungkin aku butuh lima kain buat jilbab yang bahannya bagus. Punyaku kelihatan banget buluknya. Cuma dipake kalau pulang ke Bandung atau Bapak Ibu datang ke sini. Kan mereka tahunya aku pake jilbab di sini ….”

That can be arranged. Toh, kita juga mesti beli baju nge-gym buat cewek berjilbab, supaya kelihatan elo tuh niat nge-gym. Besok malam sambil ketemuan ama temen gue, kita belanja kerudung dan baju-baju panjang buat elo.”

“Besok malam tuh ketemu temen Kakak yang jago komputer itu, ya?”

“Ho-oh. Yang di Whatsapp aku bilang kayak intelijennya Amerika. Hari ini dia enggak bisa ketemu katanya. Jadi dia nyaranin besok. Elo besok malam ada acara?”

Fina mengangkat bahunya. “Besok kosong. Enggak ada kuliah juga. Dari siang aku udah bisa ketemuan, kok. BTW, kita bakal ada kontrak, kan?”

“Oh, pasti ada! Don’t worry. Semua image telanjang elo, atau ngewe, atau apa pun yang harus tersorot kamera demi dia, bakal kita usahakan buat dihapus dengan segera. Atau …, temen gue bakal langsung edit supaya bagian elonya hilang, tapi bagian dianya masih jelas dan HD. Kan nanti kalian bakal VCS, kan.”

“VCS-nya tuh bareng kalian?”

“Kalau bisa bareng sih, cuy. Kan mau direkam VCS-nya. Kita mau nge-prank si Randi ini. Pun, supaya temen gue itu bisa langsung nge-track hape-nya si Randi, supaya kalau dia ada nge-SS atau nge-screen record, temen gue bisa langsung hapus dari hape si Randi.”

Fina tersenyum lebar. Merasa lebih aman. “Oh, pertanyaan terakhir ….”

“Apa?”

“Kapan kita mulai misi ini?”

Aku tersenyum sebelah. Senyum orang jahat kayak di film-film. “Well, kalau kamu udah siap, sih,” ungkapku. “Mulai sekarang namamu adalah ….

“… Ulfa Taher.”


[ … ]


Harusnya, aku dan Fina menemui Edvan di Kosan Hamid Selasa malam. Edvan yang bilang dia punya acara selama Senin dan Selasa, tapi Selasa malam bisa ketemuan dengan Fina. Jadi aku mengajak Fina untuk belanja dulu kostum hijab pukul empat sore, malamnya kami akan ke Kosan Hamid untuk bertemu Edvan.

Pukul lima sore, Edvan me-Whatsapp-ku. Di mana Cuy?

Kubalas, GI. Mau blnja sm Fina beli kerudung sama gamis.

Ywd. Gw ksitu skrg, balas Edvan.

Aku membelalak terkejut sembari mengetik balasan, Heee?? Pan jam 7 jam 8 lu bisanya.

Udah selesai. Gw ksitu skrg aja. Kabarin kalian lg dmn nya.

Edvan beneran datang ke GI untuk menemuiku dan Fina. Lima belas menit setelah Whatsapp-an itu, tiba-tiba di me-Whatsapp lagi, Gw dah di parkiran, klian dmn?

Aku dan Fina sedang melihat-lihat celana training di salah satu toko olahraga. Kami sudah membeli beberapa kerudung, dan masih akan mencari setelan-setelan modis untuk cewek berhijab masa kini. Kuberi tahu Edvan agar datang ke toko yang sedang disambangi. Dia muncul ketika Fina sedang ada di fitting room untuk mencoba salah satu legging.

“Bro!” sapa Edvan sembari tiba-tiba duduk di sampingku dengan cara menghantamkan pantatnya keras-keras. Punggungnya langsung disandarkan ke dinding, satu tangannya mengusap rambutnya dari depan ke belakang. Dia mengambil napas yang panjang. Edvan tampak lelah.

“Habis ospek, lu?”

Edvan terkekeh. “Habis gembalain domba.”

Aku menyipitkan mata. “Elu barusan jadi Yesus?”

“Bercanda, anjir!” Edvan menyikutku. Dia mengusap lagi rambutnya yang agak gondrong dari depan ke belakang, kemudian menghela napas panjang. “Dari kemaren gue ngejagain anak orang. Ini anak, kalau enggak dijagain, bisa diamuk massa. Tingkahnya sering melanggar UUD 45.”

Aku terkekeh. “Siapa, sih?” Dan aku baru ngeh Edvan mengenakan kostum itu lagi. Kostum serbahitam dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Kostum yang dipakai sepulang Edvan dari Bogor untuk ikutan grup nudis—yang tempo hari sempat heboh di Lambe Turah. Kostum maling yang dipakai sekali-sekali, specially kalau dia keluar kosan. Biasanya Edvan mojok terus di dalam kosannya. Enggak ke mana-mana.

Edvan enggak menjawab pertanyaanku. Dia malah mengalihkan topik. “Mana si Finanya?”

“Lagi fitting. Mau beli outfit nge-gym buat ketemu si Randi entar.”

Pada saat bersamaan, Fina muncul dari fitting room dan menghampiri kami. Dia mengenakan kaus tanktop ketat yang menonjolkan dadanya—which is dari tadi juga begitu. Lalu bawahannya adalah legging hitam yang ngepas tungkai, yang membalut tungkai jenjangnya dengan seksi dan sempurna. Sebenarnya Fina udah enggak punya alasan lagi untuk nge-gym. Dia sudah bisa ikut Puteri Indonesia.

“Gimana yang ini?” sapa Fina sembari berdiri dua meter di depanku, memutar-mutar panggulnya, memamerkan pantat, lalu tungkai jenjangnya, lalu panggul lagi, pantat lagi.

“Yang ini oke, kok.”

“Aku juga suka yang ini.” Fina mematut dirinya sendiri di depan cermin vertikal di samping rak duffel bag.

Aku berdiri dan menghampiri Fina, lalu mengenalkan Edvan. “Eh, Fin. Ini Edvan. Yang mau kita temuin entar malam.”

“Oh, hai!” Fina melambaikan tangan, tersenyum, lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Aku menoleh dan menemukan ….

… Edvan masih duduk bersandar di atas kursi.

Membeku. Mematung. Dan, terpana.

Dasar lelaki mata ke ranjang!

“Hey! Ini Fina! Yang bakalan jadi Ulfa! Kenapa lu malah bengong?!”

“Hah?” kata Edvan dengan muka bego, sembari terus memandangi Fina seakan-akan cewek ini bidadari kayangan yang sedang mandi di kali.

“Aku Fina!” Akhirnya Fina yang nyamperin Edvan, sembari tetap mengulurkan tangan.

Edvan bangkit perlahan-lahan. Matanya hampir enggak ngedip menatap mata Fina. Baik mata di atas, maupun mata yang ada di dada. Yang memang setelah disidik-sidik, puting Fina agak menonjol di balik tanktop sporty yang ketat itu. Fina enggak pake beha. Anjing.

Sambil menelan ludah, Edvan mengangguk kecil dan membalas uluran tangan itu. “Edvan.” Dia tampak kikuk.

Cute banget, sih,” puji Fina sambil menoleh ke arahku. “Kita enggak akan nge-prank yang ini juga?”

“Enggak!” sahutku tegas sambil melipat tangan di depan dada. “Lagian ototnya gedean si Randi daripada dia.”

“Ya gapapa. Kan segalanya enggak mesti tentang otot. Halo, Mas Edvan. Gimana kabarnya?” tanya Fina dengan genit. Fina kembali lagi ke depan kaca sembari mematut-matut dirinya.

“Baik. Hehe.”

“Menurut Mas Edvan, celana ini seksi enggak?”

“Seksi,” jawabku.

“Aku enggak nanya kamu,” kekeh Fina. “Kita butuh pendapat cowok straight. Dia straight, kan?”

Aku memutar bola mata. “Tulen.”

“Gimana, Mas?” Fina berputar-putar di depan Edvan.

Lelaki itu duduk lagi sambil membungkuk dan merapatkan pahanya. “Bagus, kok. Bagus ….”

“Nanti aku bakal pake manset sih atasnya, terus ditutup lagi pake kaus longgar. Biar enggak aurat.” Fina mengibaskan tangannya dengan centil. “Tapi aku harus tetap tampil menarik.”

“Ya udah nih pake manset sama kerudungnya,” usulku, sambil mengangkat tas belanjaan yang sedari tadi kupegang.

“Oh, iya. Sini.” Fina mengeluarkan manset dan kerudung dari kantung belanjaan. Di tempat, dia langsung mengenakan mansetnya, lalu memasang kerudung dengan cepat. Asal saja, dililit-lilit ke kepala dan ke leher.

Yang paling “menonjol” memang putingnya. Karena setelah dipasangi manset pun, itu pentil masih aja nyolot.

“Gimana?” tanya Fina. Dia berputar-putar dengan cantik di depan Edvan, berkacak pinggang, mengangkat tangan ke atas seperti model, lalu menggerakkan tungkainya ke sana kemari.

Edvan hanya mengangkat jempolnya sambil mengangguk kecil. “Mantap!” katanya.

Fina mematut lagi di depan cermin. “Iya sih, aku setuju. Randi pasti kepincut juga sama penampilan begini. Cewek-cewek hijab modis yang kesannya baik-baik, tapi bisa di-ewe. Ya enggak, sih?”

“Gue ngikut aja, anjir,” kataku sembari mendengus. “Jadi elo mau beli yang ini?”

“Kayaknya iya. Ngepas pula ukurannya.” Memutar lagi badannya, melihat bagaimana bentukan pantatnya di depan cermin. “Oke. Gue ambil yang ini, ya. Bentar, gue lepas dulu.”

“Ya udah. Entar masukin sini aja, gue bayarin ke kasir.”

Ketika Fina balik lagi ke fitting room, aku duduk lagi di samping Edvan, yang kini menatap ke fitting room.

“Lu kenapa, sih?!” sikutku.

“Lu kenapa enggak bilang sih orangnya cakep?”

“Ya kan kita mau narik perhatian si Randi. Harus cakep dong! Kalau jelek udah cukup mah, gue ngumpanin si Romi dari awal!”

“Enggak secakep itu juga, anjing!”

“Emang kenapa kalau cakep kayak gitu?”

“Gue jadi ngaceng,” bisik Edvan, dengan muka merona.

“Hah?!”

Edvan semakin merapatkan pahanya. Bahkan, dengan salah tingkah dia langsung menyilangkan kakinya, seakan-akan ingin melindungi area selangkangannya yang sedang “diserang”. Edvan juga jadi malu-malu.

“Kenapa elu ngaceng, sih?!” bisikku tak percaya.

“Teteknya itu, anjir! Si Randi juga pasti ngaceng kalau ngelihat kostumnya kayak begitu.”

“Ya memang itu tujuannya!” Aku menoyor kepala Edvan. “Tujuannya adalah tampil sebagai ‘tipe cewek Randi’. Tapi sekalian jadi cewek yang bisa dipake. Supaya si Randi mau ngewe atau VCS sama si Fina. Terus, kita bisa rekam VCS-nya. Kan judul misi kita Prank Personal Trainer. Kalau si Fina terlalu solehah, entar misinya jadi Kupinang Kamu Dengan Bismillah. Gimana sih ….”

Edvan masih saja celingukan menatap fitting room. Masih deg-degan dan terpesona dengan makhluk secakep Fina. “Elu harus tanggung jawab,” bisik Edvan, sembari menyikutku.

“Tanggung jawab apaan?!”

Tiba-tiba Edvan menarikku ke rangkulannya. “Tanggung jawab karena bikin kontol gue ngaceng! Malam ini, elu harus ngocokin kontol gue sampai crot! Enggak mau tahu! Ini salah elu!”


[ … ]


Part 14 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 15 (Bag. B)




Halo, Kak!

Seperti biasa, kalau aku menerbitkan something free, maka akan ada something berbayar yang terbit, ya! Kali ini, yang terbitnya adalah Extra Kosan Hamid nomor 6! Silakan cek speknya di bawah. Kalau Kakak tertarik, silakan hubungi aku untuk melakukan pembelian, ya!

 

Extra Hamid 06

Judul: Ketek Tino

Isi: 14.200 kata dan 125 halaman

Harga: Rp30.000,-

Tokoh: Tino, Kevin (Malam Terakhir), dan Nagara (seorang mafia)

Adegan intim: Armpit worship, oral, anal

Top: Tino dan Kevin

Bottom: Nagara dan Tino

Universe: Malam Terakhir, Mamoru, Mencari Budak Setia

 

Blurb:

Tino tak menyangka Kevin menemukan akun RentMen-nya. Namun, alih-alih menghakimi, Kevin justru meminta bantuan Tino. Kevin ingin menyewa jasa Tino sebagai gigolo, tapi bukan untuk Kevin, melainkan untuk klien Kevin. Klien ini terobsesi pada ketek. Tino menyetujuinya.

Cerita ini akan menguak rahasia gelap Kevin yang selama ini disembunyikan, bahkan dari Enzo.

 

Cuplikan:

....

Pintu kamar ditutup. Hanya ada Tino, Nagara, dan Kevin di ruangan itu. Kevin berdiri di depan pintu, menunggu dan mengamati Tino dinikmati secara sensual oleh sang mafia.

Nagara mengendus ketek Tino hingga teler. Matanya betulan merem melek seperti nge-fly.

Kevin hanya mengangguk kecil dan tersenyum.

Tino duduk bersandar dengan nyaman, telanjang bulat—handuknya sudah ditarik lepas oleh Nagara ketika masuk ke kamar. Namun, kemaluan Tino tidak dimainkan sekali pun. Nagara merangkak seperti anjing di atas tubuh Tino, mengendus-endus ketek Tino seperti anjing pelacak.

“Aromanya manis ...,” ungkap Nagara dengan mata terpejam. Dia mendekatkan lagi hidungnya ke ketek basah itu, membiarkan satu ujung bulu ketek Tino menggelitik hidungnya. “Seperti kue .... Ada asinnya .... Kue yang baru dikeluarkan dari oven ....”

“Hmmmph!” Tino mengentak terkejut ketika Nagara tiba-tiba menyusurkan lidahnya ke ketek Tino.

Sluuurrrppp ....

Hanya satu tarikan lidah dari bawah ke atas, tetapi sanggup membuat Nagara kejang-kejang kecil karena keenakan. Senyumnya begitu lebar. Nagara terjatuh ke samping, berbaring telentang untuk menikmati setiap rasa ketek Tino di lidahnya. Kepalanya geleng-geleng.

“Mamaaa .... Enak sekaliii ....” Suara Nagara terlihat seperti meracau.

Nagara kembali menegakkan kepalanya untuk membenamkan wajah di ketek Tino. “Aaaaaahhh ....” Dia menggosok-gosok wajahnya dengan gemas, seperti seorang ayah menggosok wajah ke perut bayinya. Terpaksa Tino terkekeh karena geli. “Argh! Hahaha ....” Tino meringis, menahan sensasi gelitik itu dengan mulut menganga lebar dan bahu agak naik. Nagara senang melihat Tino merasa geli. Dia menggosok wajahnya makin kuat ke ketek itu.

“AAARGH! Hahaha ...!” Tubuh Tino setengah berguncang. Matanya terpejam kuat.

Setengah mabuk, Nagara mengangkat kepalanya dan berbicara ke Kevin. “Sini, kau!”

Kevin menghampiri dan berdiri di samping tempat tidur. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Bantu berdiriin itu!” Nagara menunjuk kemaluan Tino dengan dagunya. “Siapin kontolnya supaya bisa masuk ke saya.”

Baik Tino maupun Kevin sama-sama lega karena Nagara seorang boti. Artinya, bool Tino aman malam itu.

Kevin mengangguk dengan senyum lebar, “Saya ambilkan pelicin dulu, ya.”

“Pake mulutmu!” hardik Nagara tiba-tiba.

Kevin yang sudah berbalik berhenti melangkah. “Mulut?”

“Pelicin tuh buat sodomi. Kalau negangin kontol ..., pake mulutmu.” Nagara sudah menelanjangi bagian bawah tubuhnya.

Tino dan Kevin saling berpandangan bingung.

Lalu, Nagara menghardik Kevin sambil menunjuk kemaluan Tino, “Sepong dia!”

....

 

Seperti biasa, lakukan pembelian melalui WhatsApp, email, atau Telegram. Masuk ke lynk.id/bocahtitipan untuk mendapatkan kontaknya. Terima kasih banyak sudah membeli! Semoga suka dengan spinoff-nya!

Untuk beli langsung di lynkid, klik di sini.

Komentar