Enggak. Aku masih enggak paham kenapa ini harus jadi salahku.
Kalau dia ngaceng
lihat si Fina, ya dia minta kocokin si Fina, lah. Kan si Fina lonte! Tapi kalau
Fina minta bayaran buat ngocokin, biaya sendiri aja. Budget-ku cuma buat
misi Prank Personal Trainer. Cuma buat menghancurkan hidup Randi. Bukan
buat ngenakin kontol Edvan.
(Meskipun jauh di lubuk
hati, aku memang pengin ngocokin kontol Edvan.)
Sepanjang kami hang out
untuk membicarakan misi Prank Personal Trainer ini, Edvan tampak salah
tingkah. Dia terlihat kikuk, awkward, sange, dan sering enggak
nyambung kalau diajak ngobrol sama Fina. Kesimpulanku adalah Fina merupakan
tipe ceweknya Edvan. Dan sepanjang malam, Fina menyuguhkan body maupun face
maupun attitude yang bikin cowok straight mana pun tak berdaya.
“Kalau double gini
pake kaus yang ini, toketku masih kelihatan enggak sih?” tanya Fina suatu waktu
ketika kami sedang mencoba-coba baju yang baru dibeli di depan cermin kamarku.
“Yah, masih,” jawabku.
“Mantap,” jawab Edvan tanpa
berkedip.
….
Fina membuka kausnya,
kutangan doang, literally cuma pake beha di kamarku, lalu dia balut pake
daster terawang yang mahal. “Misal pas aku VC ama dia pake begini, aku bakal
masih dianggap religius enggak sih?”
“Bisa, lah …, kan elu
konteksnya di rumah, bukan tempat umum,” jawabku.
“Maknyus,” jawab Edvan,
dengan mulut menganga dikit.
….
“Aku tuh biasanya kalau
kerudungan kayak gini,” kata Fina sembari melilitkan gaya berhijab praktis
ala-ala cewek yang belum 100% kena hidayah tutup aurat, dengan kondisi bawahnya
behaan doang, “tapi biasanya sering dianggap cewek enggak bener kalau pakenya
begini tuh. Menurut kamu gimana, Kak?”
“Coba mungkin masukin pake
layer lagi di atasnya, biar kelihatan ‘niat’, gitu,” jawabku.
“Tobrut,” jawab Edvan, menelan
ludah.
….
“Aku tuh ngerasa legging
yang ini terlalu …, apa ya …, sempit gitu. Jadi pantatku enggak ngebentuk. Iya
enggak, sih?” Fina memutar-mutar pantatnya di depan cermin, memastikan fitting
legging itu tetap membuat bool-nya menggembung.
“Enggak sih kalau kata gue.
Toket lu mengalihkan segalanya kok, Fin!” jawabku.
“Amboooiii …,” desah Edvan,
sambil menarik selimut menutupi area selangkangannya.
Fina melepas legging
itu, literally sempakan doang di depan kami. Sempaknya tipis, paha mulus
Fina terkuak, pantatnya tampak menggiurkan. “Coba gue pake legging yang
itu.”
“Nih!” Kuulurkan legging
satunya lagi.
“Aaaaaahhh …,” jawab Edvan
sembari berguling ke belakang.
Kira-kira seperti itu
sepanjang waktu.
Jadi ceritanya, habis
belanja dan makan di GI, kami bertiga ke Kosan Hamid untuk meeting.
Awalnya mau ke kamar Edvan, tapi takutnya Romi muncul dan mengacaukan
segalanya, atau dia iri ada makhluk secantik Fina di kosan tersebut mengalahkan
kecantikan Romi. Jadi kami bertiga berkumpul di kamarku. Agendanya, selain
membahas lebih teknis rencana kami, atau Fina latihan dengan identitas barunya,
misal membiasakan diri menoleh ketika dipanggil Ulfa, kami juga membuat
konten-konten medsos yang berkaitan dengan Ulfa.
Untungnya, Randi menyukai
cewek yang jilbaban. Yang artinya cewek itu religius. Yang artinya, kalau cewek
itu enggak posting banyak foto di IG-nya, akan sangat bisa dimaklumi.
Kami membuat beberapa konten untuk di-upload di IG Ulfa Taher, yang
isinya foto-foto non-human. Kayak foto tangan Fina, foto secangkir cappuccino,
foto bunga, foto Al-Quran, dan lain-lain.
Sehingga, kami sibuk membuat
“konten” agar identitas Ulfa Taher ini believable.
I told you, aku kalau balas dendam bakalan lebih sadis dari pelaku sebelumnya. Aku
enggak mau asal-asalan nge-hire bencong lain untuk nge-prank
Randi. Prank dariku bakalan tingkat dewa. Bukan tingkat banci dari Pati.
Fina betulan profesional.
Dia juga percaya diri, seksi, cepat paham, dan kayaknya satu tim dengan kami. Setelah
kuceritakan soal kejadian yang menimpa Tino, Fina lebih bersemangat nge-prank
Randi. Lonte-lonte juga Fina enggak setuju sama prank macam begitu.
Sayangnya, belum juga Fina
melakukan aksinya, sudah ada yang tersiksa.
Edvan.
Dia kayaknya sedang
berperang dengan dirinya sendiri menahan nafsu syahwat yang membuncah gara-gara
ke-amazing-an Fina di dalam kamar. Lama-lama aku bisa sependapat sih
sama Edvan, bahwa kecantikan dan keseksian Fina ini keterlaluan. Ada sex
appeal yang bikin orang-orang menoleh ke arah Fina secara otomatis.
Badannya juga oke. Enggak fit dan tone, tapi pas aja. Belum lagi
kulitnya mulus bukan main, mungkin setiap hari selalu dibaluri skincare
mahal. Dari jauh udah kayak tahu sutra.
Edvan hanya bisa meringkuk
dan curi-curi pandang menatap Fina hanya kalau Fina lagi enggak melihat ke arah
Edvan.
Keseksian Fina juga
dikonfirmasi oleh Tino yang muncul sekitar pukul sembilan malam, pulang dari interview.
Dia mengetuk pintu kamarku, tepat ketika Fina sedang mencoba sports bra—jadi
toketnya, atau yang Edvan sebut sebagai tobrut, sedang terekpos ke mana-mana.
“Hei!” sapaku, saat membuka
pintu. Sejak didatangi perempuan itu pada Minggu sore, aku masih belum bicara
dengan Tino. “Dari mana?”
“Gue dari ….” Tino
menyipitkan mata sembari mencoba celingukan ke dalam. “Ada siapa?”
“Oh. Ada Bang Edvan, sama
satu teman kampus gue.”
Tino melihat ke sandal dan
sepatu yang ada di depan pintu kamar. Ada sepatu perempuan yang tidak dia
kenal. Tino mencoba melongokkan lagi kepalanya ke dalam.
“Siapa?” tanya Tino.
Karena aku sedang dalam
upaya menjaga misi ini confidential dari Tino, tentu aku enggak biarkan
pintunya terbuka lebar-lebar. “Teman kuliah aja. Abang dari mana? Kok enggak
dijawab pertanyaan gue?”
“Casting,” jawab
Tino, masih mencoba melongokkan kepala ke dalam.
Aku mengikuti ke mana pun
pergerakan kepalanya, supaya Tino enggak melihat. “Casting? Model?”
“Ho-oh. Itu …, si Edvan lagi
apa?”
“Enggak lagi apa-apa.” Aku
mencoba menutup pintu, tetapi Edvan malah memanggil Tino.
“Eh, Bro! Sini masuk!” Edvan
tersenyum canggung sambil duduk dengan rapi di tepi tempat tidur, merapatkan
pahanya, menutupi area tungkai dengan selimut dan bantalku. “Masuk, Bro!”
Dan Fina juga ikut-ikutan.
“Heeeyyy …, ada siapa, sih? Eh, halo! Mas Tino, ya?” Fina melambaikan tangan
dari dalam.
Tino mematung sejenak dengan
mata membelalak. Dia kayaknya terpukau juga melihat Fina yang cantik, hanya
pake sports bra, kulit mulusnya terekspos ke mana-mana, dan Fina
terlihat ramah bersahaja.
Tino menelan ludah. “Itu …,
itu asli?” bisik Tino, sembari menaikkan lagi kepalanya, berusaha melihat lebih
jelas sosok Fina.
“Asli, anjir! Emangnya semua
temen gue bencong?”
“Dapat dari mana?” bisik
Tino lagi.
“Itu teman kuliah! Sekampus
sama gue, Bang! Udah ah sono! Gue lagi sibuk. Lagi ngerjain tugas.”
“Gue pengin masuk.” Tino
mencoba mendorong badanku, tetapi aku bertahan.
“Enggak boleh!”
“Lah itu si ontohod boleh
masuk. Kenapa gue kagak?”
“Sini, Bro! Masuk!” sahut
Edvan dengan suara bergetar. Seperti ingin menangis.
Menangis karena enggak
sanggup lagi menahan hasrat nge-crot melihat Fina.
“Iya sini masuuukkk …!”
tambah Fina, memperparah.
“Tuh, Bro! Gue disuruh
masuk!” sahut Tino sambil mendorongku ke dalam. Dia langsung duduk di samping
Edvan, di tepi tempat tidur. Matanya langsung cengo menatap Fina yang
kini sedang mengenakan hot pants pendek, yang rencananya mau dipakai pas
VCS bareng Randi.
“Gimana? Ini bagus enggak?”
tanya Fina, sambil memutar-mutar tubuhnya.
Baik Tino maupun Edvan,
hanya bisa melongo dengan mulut mangap melihat panggul Fina.
Pelan-pelan Tino menarik
selimut yang diremas Edvan, lalu Tino merapatkan pahanya, dan keduanya
selimutan berdua menutupi area selangkangan, sambil duduk berhimpitan.
Kan! Si Fina ini emang
goblok pesonanya. Semua cowok straight langsung tersihir pengin ngewe
ama si Fina.
Kalau si Randi sampai enggak
tertarik sama Fina, berarti si Randi bencong.
Tino nongkrong di kamarku
sampai Fina pulang. Bahkan, Tino menawarkan diri untuk mengantar Fina pulang.
(Pake mobilku.) Aku harus mengingatkan Fina lagi bahwa Tino tidak tahu soal
misi kami ini. Jadi jangan sampai bocor ke dia. Bisa-bisa nanti misinya di-cancel,
si Fina enggak jadi dapat bayaran. Fina paham.
Pukul sebelas malam, setelah
Fina tebar pesona di depan dua straight yang lagi sange, akhirnya
cewek itu pergi. Tino dengan ganjennya memaksa untuk mengantar, seakan-akan dia
tak punya masalah lain yang lebih penting. Minggu sore dia sedang ada
“masalah”, Selasa malam masalahnya hilang karena ada cewek cakep di kamarku.
Dasar kontol!
Semua cowok sama aja.
Lihat cewek bening dikit, langsung
lupa segalanya.
Setelah Tino dan Fina pergi,
aku menemukan Edvan masih ada di kamarku. Bahkan dia berbaring di atas tempat
tidurku, menutup tubuhnya dengan selimutku.
“Lu yakin dia kagak bisa
dicicip dulu?” tanya Edvan kepo. Mukanya masih sange.
“Ya tanya dia sendiri, lah.
Gue cuma booking buat nge-prank si Randi doang.”
“Bonus, kek,” pelas Edvan,
setengah bangun.
“Ya tanya aja sendiri.”
“Semacam sampel, gitu. Test
drive.”
Kulempar bantal ke arah
Edvan, hingga lelaki itu terdorong jatuh ke ranjang lagi. “Udah sepuluh kali
gue bilangin, tanya sendiri!”
“Aaahhh ….” Edvan malah
mendesah. Dia mengatur napasnya sembari menatap langit-langit. “Enggak sanggup
gue. Enggak sanggup ngobrol ama yang cantiknya melampaui batas.”
“Tapi elo selama ini sukses
tuh ngobrol sama si Romi. Dia cantiknya melampaui batas juga, kan?”
BUUUKKK!
Edvan melempar bantal yang
tadi ke arahku. Dan aku hampir tersungkur ke atas lantai. Ketika aku bangkit
lagi, kulihat Edvan sudah memasukkan satu tangan ke dalam celananya, mengocok
kontolnya sendiri. Matanya menatap ke arahku, seakan-akan akulah sumber
inspirasi coli-nya.
Aku agak tersanjung. Ini
mengingatkanku pada setiap sesi ngewe-ku dengan orang-orang dari
aplikasi kalau top-nya pengin crot dan dia ngelihatin mukaku
untuk menaikkan berahi.
“Gue kagak bisa kayak si
Tino,” ungkap Edvan, masih sambil ngocok. “Malu gue ama cewek. Susah gue
ngomong ama mereka. Lu pikir gue ngendon di kamar tiap hari, kagak pernah
keluar, cuma keluar buat penting-penting aja tuh, apa? Lockdown?”
“Tapi lu udah terlatih
ngomong ama Romi. Harusnya bisa ngomong ama cewek.”
“Beda kasusnya dia mah.
Dia sejenis kuyang.”
Aku terkekeh sambil
geleng-geleng kepala. Aku enggak tahu pasti hubungan Edvan dan Romi tuh apa.
Apakah teman kuliah? Teman masa kecil? Manusia dan khodamnya? I don’t know.
Mereka tetanggaan dengan damai cukup lama. Romi sering ganjen sama Edvan.
Sering main ke kosan Edvan. Sering tidur di sana juga. Dan untuk ukuran banci
yang tetap nafsu nyepong sesama boti, we don’t know apa
yang udah Romi lakukan ke Edvan selama ini. Kayaknya merkosa Edvan tuh udah
level terendah, gitu. Kayaknya pasti ada yang lebih brutal dibandingkan merkosa
Edvan. Dan Edvan anehnya biasa-biasa aja atas kehadiran sosok Romi.
Palingan dia menjadikan Romi
sebagai bercandaan aja kalau sedang bersamaku. Kebetulan aku juga hobi nge-bully
si Romi. Kami berdua cocok kalau mau ngebom satu sama lain, ya tinggal bawa
nama Romi. Seperti barusan.
Aku akhirnya memanjat ke
atas tempat tidur, duduk bersila tepat di samping tubuh Edvan yang telentang,
dengan satu tangan masih asyik ngocok di balik celana. “Tino emang beda,”
kataku. “Dia emang nafsu mulu ama cewek. Hampir tiap minggu, dulu, sebelum
kejadian di-prank kemaren, dia bawa cewek mulu ke kamarnya. Lihat cewek
bening dikit pinggir jalan, bisa dia samperin. Ya enggak heran, ada cewek cakep
dikit bernama Lidya, mau VCS ama dia, langsung dia embat. Kayak ngembat si
Vina, tuh.”
“Iye, gue nge-fans
ama si Tino urusan itu. Apa dia pede karena body-nya oke, ya?”
“Body lu juga oke
kok.”
Edvan berhenti ngocok untuk
mengangkat kepala dan melihat body-nya sendiri. “Gue mah kurus.”
Dan dia dengan kurang ajarnya melepas kausnya yang tipis melewati kepala.
Sekarang dia telanjang dada di depanku. Tubuhnya yang hangat menyentuh kulitku,
membuatku nyaman.
Aku menelan ludah.
Bangsat. Anjing!
Seksi banget ini body
si Edvan.
Ya emang, kurus,
dibandingkan Tino. Tapi dibandingkan aku, dia lebih berotot. Lihat nih
bisepnya, kayak telor dijejalin di dalam lengan. Perutnya juga rata,
kotak-kotak, sampe ke dadanya juga kotak. Bahunya lebar, kayak bahu cowok
anime. Punggungnya tuh bentuk V gitu ke bawah. Ini mah perfect, bangsat!
Udah bisa ikutan L-Men of the Year.
“Apanya yang bagus?” Edvan
kembali mengocok kontolnya di balik celana, tetapi masih mengamati badannya
sendiri. Satu tangannya yang bebas langsung naik, mencoba flexing otot.
“Otot gue masih mungil.”
Kan aku jadi bisa lihat
keteknya, ya.
Goblok.
Aku jadi sange.
Dan aku lebih goblok lagi
mengakui bahwa aku lagi sange.
“Mungil juga gapapa. Homo
kayak gue tetep sange.” Lalu aku melempar senyum lebar yang awkward.
Sejak awal, manusia bernama
Edvan ini memang ajaib, sih. Dia sejenis makhluk yang belum terpetakan secara
sains, tentang identitas atau karakternya seperti apa. Kita enggak tahu
pekerjaannya apa. Uangnya dari mana. Ngapain pake baju item-item. Kenapa ngendon
di kamar seharian. Kenapa bisa kayak mata-mata, punya alat canggih dan tahu
segalanya. Kenapa dia malu ngomong sama cewek, tapi sama begal aja dia berani
baku hantam sampe luka-luka.
Nih, luka-luka di badan
bekas begal itu masih ada sisanya, lho. Sudah hampir satu bulan sejak
pembegalan itu, sebagian besar lukanya sudah hilang, tapi masih ada codet-codet
garis bekas dibacok.
Dan itu enggak bikin aku ilfeel.
Ditambah dengan
kemisteriusan Edvan, aku malah semakin sange.
“Ya udah kalau sange
bantuin,” kata Edvan tiba-tiba.
Dan dia juga mendadak
menarik celananya turun, menguak kontol ngaceng-nya keluar.
Babi.
….
Kontolnya bagus.
Sehat.
Agak tebal, dengan palkon
berwarna pink.
Panjangnya lumayan.
Jembutnya rapi.
Kontol itu kelihatan keras
banget. Edvan mendorongnya berlawanan, terlihat di bagian pangkal kontolnya,
kulit area tersebut tertarik ke atas. Berarti keras banget, kan?
Di bagian kepala kontolnya
basah oleh precum, mengalir ke batangnya.
Aku menelan ludah.
“Boleh diapa-apain. Sumpah,”
kata Edvan tiba-tiba. Dia berhenti mengocok kontolnya. Dia langsung melipat
tangan ke belakang kepala, memamerkan keteknya yang mulus, yang bulu-bulunya
dicukur rapi.
“Elo sengaja ya pengin bikin
gue khilaf?” Aku mendengus, tanpa mengalihkan pandanganku dari kontol Edvan.
Mataku enggak berkedip.
Literally mirip kayak waktu Edvan ngelihatin Fina sepanjang hari ini. Mukaku
mupeng dan sange.
“Khilaf apaan, sih? Elu kan
homo. Natural dong kalau elo suka ama kontol gue?”
“Tapi gue kan harusnya ama
Tino.”
“Elu pacaran ama Tino?”
Aku sudah membuka mulut
untuk menjawab, tetapi aku menutupnya lagi. “Enggak,” kataku lemas.
“Terus? Khilaf kenapa?”
Aku menggelengkan kepala,
tetap menatap kontol Edvan yang keras itu.
“Gue tahu elu suka dia. Gue
tahu kalian juga udah lebih dari seharusnya—”
“Dari mana elo tahu?!” Aku
membelalak ngeri sambil menatap wajah Edvan. Di mana kemudian perhatianku
teralihkan ke ketek mulusnya yang seksi.
“Elo masih belum kenal gue?
Setelah gue nunjukin kalau gue bisa nemu informasi serahasia apa pun di dunia
ini?” Edvan geleng-geleng kepala.
Aku mendengus kesal.
Pengin banget nampol ini
cowok straight, tapi dia terlalu ganteng buat ditampol. Udah gitu pose
dia masih pamer ketek. Dan keteknya seksi. Dadanya juga. Perutnya juga.
Kontolnya ngaceng. Ini dilema terbesar dalam hidupku sekarang.
“Gue tahu elu suka sama
dia,” ulang Edvan. “Tapi barusan aja …, yang dianterin ke rumah …, si Fina apa
elu?”
Aku memutar bola mata. “Ya
kan gue tinggal di sini—”
“Maksud gue, si Fina kan
bisa dipesenin Grab. Tapi si Tino ngebela-belain pinjem mobil elu, demi bisa
nganterin tuh cewek pulang. Elu enggak ngasih pinjem pun, gue yakin dia bakal
pinjam mobil gue. Gue kagak ngasih pun, dia bisa nekat minjem mobil ke penghuni
kos yang lain. Ke si Akbar misalnya. Dia senekat itu demi cewek yang dia suka.
Elu empat tahun naksir dia masa kagak tahu fakta dia yang ini, sih?”
“Dari mana elo tahu gue udah
naksir dia empat tahun—”
Edvan menoyor kepalaku. “Udah
gue bilang, gue bisa tahu banyak hal!”
Aku mendengus kesal.
“Dia enggak akan jadi milik
elo,” kata Edvan, menamparku dengan kenyataan. “Dia bisa ngewe ama elo,
tapi enggak akan pernah jadi pasangan elo. Naturalnya dia ngaceng
ngelihatin si Fina. Kalau dia ngaceng ama elu, itu karena keadaan aja.”
Kata-kata itu menohok
hatiku. Sungguh.
“Belum lagi, kemarin gue
lihat dia ….” Namun, kata-kata Edvan tidak selesai. Dia tiba-tiba teringat
sesuatu, yang mungkin tak seharusnya dia katakan di depanku. “Intinya, mending
ama yang pasti-pasti aja. Ini ada yang ngaceng di sini, coba elu mainin
sampe keenakan,” kata Edvan, suaranya lebih lembut dan persuasif sekarang. Satu
tangannya memegang punggungku, mengusap-usapnya dengan nyaman.
Aku menatap lagi kontol yang
ngaceng itu. Kontol Edvan mengentak-entak seperti makhluk hidup.
Memanggilku agar bermain bersamanya.
“Kenapa elo lebih milih
dikocokin ama gue dibandingin elo modusin si Fina buat ngocokin elo?”
Pertanyaan itu muncul tiba-tiba dari mulutku.
Edvan menghela napas, masih
mengusap-usap punggungku. “Gue udah bilang tadi. Kelemahan gue tuh cewek. Gue
kagak jago ngomong ama mereka. Lebih gampang gue rayu homo buat main ama gue
dibandingin gue usaha dapetin cewek.” Tangan Edvan yang asalnya ada di punggungku,
tiba-tiba pindah ke depan dan memainkan putingku.
Aku mengentak kecil karena
kaget.
Karena enak juga, sih.
Edvan memilin-milin putingku
sampai aku menyerah dengan semua kekeraskepalaanku.
Sedari tadi aku sange,
tetapi aku menolak perasaan ini hanya karena aku merasa “tak mau selingkuh”
dari Tino. Yang sebenarnya konyol karena aku dan Tino pun enggak punya hubungan
istimewa.
Setelah menatap kontol Edvan
selama beberapa saat, akhirnya aku kalah. Aku mendengarkan tubuhku yang sudah
meraung-raung ingin menikmati tubuh Edvan. Aku membungkuk dan mulai mengulum
kontol Edvan.
Kumasukkan kontol hangat itu
ke dalam mulutku. Aromanya aroma kontol laki-laki. Kayak kontol Tino. Permukaan
kontol Edvan lembut dan licin—mungkin karena sedari sore dilelehi precum.
Kontol itu berkedut-kedut setiap kali kumasukkan seluruhnya ke dalam mulut. Aku
menjilati lubang kontolnya dengan ujung lidahku. Hal itu membuat Edvan
mendesah.
“Aaaaaahhh ….” Edvan
mengangkat kepala untuk melihat wajahku. Kedua alisnya berkerut. Satu tangannya
masih asyik memilin-milin putingku, membuatku keenakan.
Aku menyepong kontol
Edvan selama beberapa saat, membasahinya dengan ludahku, lalu menggelitikinya
dengan lidah. Sesekali kukeluarkan dan kutatap dengan kagum kontol cowok straight
yang misterius ini. Kemudian kulahap lagi, dan kurasakan kekenyalan kulitnya,
ketebalan dagingnya, kehangatan batangnya …. Aku tergoda untuk menelan
seluruhnya sampai mentok, sampai kerongkonganku tersedak. Kupaksa untuk
membenamkan seluruh batangnya, tetapi aku tersedak. Aku begitu puas saat
hidungku menyentuh perut Edvan, tergelitik oleh jembutnya yang dicukur rapi.
“Aaaaaahhh …,” desahku,
sembari mengeluarkan kontol Edvan. Mataku sampai berkaca-kaca.
“Enak?” bisik Edvan sambil
tersenyum ganteng.
“He-em.” Aku mengulum lagi
kontol itu ke dalam mulut, hingga kontol itu benar-benar basah oleh air liurku,
kemudian aku terbatuk-batuk. Aku sudah tak bisa melihat wajah ganteng itu
karena air mataku bercucuran keluar. “Uhhukk! Uhhuk! Aaaaaahhh ….”
Akhirnya kukocok aja kontol itu dengan tangan sembari aku menenangkan diriku.
“Suka enggak?” tanya Edvan
lagi.
“BACOT!” Aku melahap biji
peler Edvan dan menggigitnya dengan lembut.
Edvan terkejut. “ARGH!
AAAAAARGH!” Edvan mendorong kepalaku. “Jangan dikunyah, anjir! Kejantanan gue
juga itu!”
Aku menjulurkan lidah
sembari lanjut menyepong kontol Edvan.
Ya tuhan …. Aku bahagia.
Setelah aku tak mendapatkan
“asupan” dari Tino akhir-akhir ini, Edvan bisa menjadi pengganti yang sempurna.
Aku menaikkan pandangan dan
menemukan Edvan sedang mengamatiku dengan wajah sange. Aku merasa
diinginkan. Aku sudah dikuasai oleh gairah seksual yang kuat, sehingga aku
melepaskan kontol itu dan mulai merangkak naik untuk mengulum puting Edvan.
“AAAAAAHHH …!” Edvan
mendesah—hampir melolong—saat putingnya kuisap. “Brengseeekkk … enak banget lu,
Bro! AAAAAAAAAHHHHHH …!”
Mata Edvan sampai memutih
semua. Punggungnya melengkung ke atas.
Pada saat bersamaan, aku
melepas celanaku hingga telanjang bagian bawah. Kontol ngaceng-ku
langsung mencuat keluar. Secara inisiatif, aku duduk di atas perut Edvan,
sengaja menempelkan kontol ngaceng Edvan ke bool-ku. Dengan
begitu, aku bisa memeluk tubuh Edvan yang atletis, menikmati putingnya,
merasakan kontol ngaceng Edvan menggesek-gesek bool sensitifku,
dan menghidu aroma tubuhnya yang enak.
Edvan menurunkan tangannya
memeluk punggungku. Kedua tangannya masuk ke balik bajuku, menggerayanginya
dengan lembut.
“Aaaaaahhh ….” Aku mendesah
keenakan. Tubuh ini nikmat sekali.
Gerayangan Edvan membuatku makin
sange. Aku melepaskan puting itu, menggosok pipiku di dada bidang Edvan
yang keras dan kekar, sembari menggigit bibir bawahku karena enggak tahan
dengan rasa enak kontol keras menggesek-gesek selangkangan. Kususupkan kedua
tanganku ke bawah ketek Edvan, lalu tanganku meremas bahu lebar itu.
“AAAAAAHHH …,” erangku,
lebih keras lagi. Bahkan hampir menangis.
Aku mulai mengecup dada
Edvan, melumat lehernya, bahkan aku mencumbu rahangnya yang tegas, kemudian ….
Kemudian aku mengecup bibirnya
sekali.
Cup.
Napasku memburu di depan
wajahnya. Kedua alisku bertaut. Kini giliran aku yang sagapung di depan
Edvan.
“Mau dimasukin?” bisik
Edvan, melontarkan pertanyaan yang sangat indah.
Malu-malu aku mengangguk
kecil. Tapi aku tetap bertanya, “Emang kamu mau?”
“Ya aku—”
Drrrt …! Drrrt …! Drrrttt …!
Hape-ku bergetar.
Aku dan Edvan menoleh secara
bersamaan ke atas meja. Ponselku menyala, layarnya menarik perhatian.
Getarannya khas. Getaran khusus yang sudah ku-setting untuk panggilan
dari orang ini.
“Whatsapp?” tanya Edvan.
Aku menggelengkan kepala.
“Telepon. Dari Tino.”
Aku mengangkat badanku, ragu
apakah perlu ke sana mengambil hape, atau mengambil lubricant
untuk ngewe.
“Angkat dulu,” saran Edvan.
“Takutnya urgent.”
“Mungkin … mungkin bukan
apa-apa. Mungkin dia cuma minta isi bensin mobilku atau—”
“Angkat dulu aja,” ulang
Edvan. “Minta isi bensin pun urgent.”
Aku menunduk dan menatap
tubuh telanjang seksi itu dengan penuh pertimbangan. Kontol Edvan
berkedut-kedut di bawah bool-ku, menggelitik titik-titik sensitif di
sekitar cincin anusku. Aku malah makin ragu. Aku masih ingin menikmati tubuh
Edvan yang seksi ini, tapi aku ….
“Eeehhh … malah bengong! Itu
angkat dulu anjir. Entar lanjut lagi ama gue habis ini.”
Aku menghela napas. “Oke.”
Dengan kontol ngaceng
yang masih mengeluarkan precum, aku turun dari tempat tidur. Aku
berjalan menuju meja untuk menyambar hape-ku.
Perasaanku enggak enak.
Kosan Fina enggak begitu
jauh dari sini, harusnya Tino sudah selesai mengantar Fina. Tapi kenapa dia
meneleponku? Apa dia butuh sesuatu yang penting?
“Halo?” sapaku, setelah
mengangkat telepon.
Jawaban dari seberang adalah
sebuah isakan. “Hu … hu … hu ….”
Isak tangis seorang lelaki.
Aku menoleh ke arah Edvan
dengan wajah cemas. Edvan bangkit dari tempat tidur, mengangkat kedua alisnya.
“Bang?” sapaku lagi.
“Bro …,” balas Tino, dengan suara bergetar. Dia yang menangis di seberang sana.
“Elo bisa ….” Isak tangis menjeda kalimatnya. “Elo bisa temenin gue …?
Malam ini …?”
“Ke mana?”
Tino memberi jeda sebelum
menjawab, “Ke rumah gue …. Di Citra Garden.” Tino terisak lagi.
“Kenapa, Bang? Ada masalah
apa?”
Tino masih belum menjawab
pertanyaanku hingga setengah menit ke depan. Dia terisak-isak dengan suara
napas tercekat. Makin lama, tangisannya makin kuat.
“Bang?” panggilku lagi.
“Nenek gue …,” kata Tino, terdengar menyayat hati. “Nenek gue meninggal barusan ….”
Tino terisak-isak lagi. “Dan gue butuh elo … gue butuh elo sekarang.”
[ … ]
Bersambung ....
Part 15 (Bag. A) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 16 (Bag. A)
Halo,
Kak!
Seperti
biasa, kalau aku menerbitkan something free, maka akan ada something berbayar
yang terbit, ya! Kali ini, yang terbitnya adalah Extra Kosan Hamid nomor 7!
Silakan cek speknya di bawah. Kalau Kakak tertarik, silakan hubungi aku untuk
melakukan pembelian, ya!
Extra
07
Judul: Menyunat Mas Angga
Isi: 21.000 kata dan 183
halaman
Harga: Rp40.000,-
Tokoh: Lanang, Angga,
Rohmat
Adegan
intim:
sunat, worship kulup, oral, anal
Top: Angga
Bottom: Lanang
Blurb:
Resolusi 2026 Angga adalah disunat. Tapi, dia hanya ingin Lanang yang menyunatnya. Lanang pun berlatih menyunat ke pamannya yang memang ahli khitan. Setelah dia berhasil mempelajarinya, berhasilkah Lanang menyunat Angga?
Cuplikan:
Oke, inilah saatnya. Kulup
Angga sudah siap untuk dipotong. Aku sudah berhasil mengatur jarak kulup sesuai
garis penanda potongan, sudah mempaskannya dengan klem, sudah mengunci klem
dengan kuat, tinggal aku ambil pisau bedah dan kupotong.
Tanganku gemetar. Sedari tadi
gemetar. Namun, kali ini gemetarku beda. Aku harus mengatur tarikan napasku
panjang-panjang karena aku merasa gugup sekali.
Selamat tinggal, kulup Angga
tersayang. Maaf aku harus memutilasimu. Maaf aku harus melenyapkanmu. Bukan aku
tak menyukaimu, tetapi sesuai syariat Islam, sunat adalah kewajiban dari
laki-laki. Sunat akan membawa Angga pada kesucian yang hakiki. Pada kebersihan
kemaluan yang menyehatkan.
Ya, Angga Hindu. Tapi sunat
adalah prosedur untuk kebaikan Angga sebagai seorang manusia. Dengan sunat,
Angga akan dijauhkan dari berbagai penyakit kemaluan. Maaf bukan aku tak
menginginkanmu di sini, wahai kulup Angga.
Maaf aku harus melakukan ini.
“Bismillahirrahman nirrahim.”
Kutarik napas panjang dan kuletakkan pisau di garis potong.
Ya Allah, bantu aku
menghadapi ini semua.
Kemudian, aku menggerakkan
pisau ....
....
Seperti biasa, lakukan pembelian melalui WhatsApp, email, atau Telegram. Masuk ke lynk.id/bocahtitipan untuk mendapatkan kontaknya. Terima kasih banyak sudah membeli! Semoga suka dengan spinoff-nya!
Untuk beli langsung di lynkid, klik di sini.
Komentar
Posting Komentar