(PPT) Part 15 Bag. B




Enggak. Aku masih enggak paham kenapa ini harus jadi salahku.

Kalau dia ngaceng lihat si Fina, ya dia minta kocokin si Fina, lah. Kan si Fina lonte! Tapi kalau Fina minta bayaran buat ngocokin, biaya sendiri aja. Budget-ku cuma buat misi Prank Personal Trainer. Cuma buat menghancurkan hidup Randi. Bukan buat ngenakin kontol Edvan.

(Meskipun jauh di lubuk hati, aku memang pengin ngocokin kontol Edvan.)

Sepanjang kami hang out untuk membicarakan misi Prank Personal Trainer ini, Edvan tampak salah tingkah. Dia terlihat kikuk, awkward, sange, dan sering enggak nyambung kalau diajak ngobrol sama Fina. Kesimpulanku adalah Fina merupakan tipe ceweknya Edvan. Dan sepanjang malam, Fina menyuguhkan body maupun face maupun attitude yang bikin cowok straight mana pun tak berdaya.

“Kalau double gini pake kaus yang ini, toketku masih kelihatan enggak sih?” tanya Fina suatu waktu ketika kami sedang mencoba-coba baju yang baru dibeli di depan cermin kamarku.

“Yah, masih,” jawabku.

“Mantap,” jawab Edvan tanpa berkedip.

….

Fina membuka kausnya, kutangan doang, literally cuma pake beha di kamarku, lalu dia balut pake daster terawang yang mahal. “Misal pas aku VC ama dia pake begini, aku bakal masih dianggap religius enggak sih?”

“Bisa, lah …, kan elu konteksnya di rumah, bukan tempat umum,” jawabku.

“Maknyus,” jawab Edvan, dengan mulut menganga dikit.

….

“Aku tuh biasanya kalau kerudungan kayak gini,” kata Fina sembari melilitkan gaya berhijab praktis ala-ala cewek yang belum 100% kena hidayah tutup aurat, dengan kondisi bawahnya behaan doang, “tapi biasanya sering dianggap cewek enggak bener kalau pakenya begini tuh. Menurut kamu gimana, Kak?”

“Coba mungkin masukin pake layer lagi di atasnya, biar kelihatan ‘niat’, gitu,” jawabku.

“Tobrut,” jawab Edvan, menelan ludah.

….

“Aku tuh ngerasa legging yang ini terlalu …, apa ya …, sempit gitu. Jadi pantatku enggak ngebentuk. Iya enggak, sih?” Fina memutar-mutar pantatnya di depan cermin, memastikan fitting legging itu tetap membuat bool-nya menggembung.

“Enggak sih kalau kata gue. Toket lu mengalihkan segalanya kok, Fin!” jawabku.

“Amboooiii …,” desah Edvan, sambil menarik selimut menutupi area selangkangannya.

Fina melepas legging itu, literally sempakan doang di depan kami. Sempaknya tipis, paha mulus Fina terkuak, pantatnya tampak menggiurkan. “Coba gue pake legging yang itu.”

“Nih!” Kuulurkan legging satunya lagi.

“Aaaaaahhh …,” jawab Edvan sembari berguling ke belakang.

Kira-kira seperti itu sepanjang waktu.

Jadi ceritanya, habis belanja dan makan di GI, kami bertiga ke Kosan Hamid untuk meeting. Awalnya mau ke kamar Edvan, tapi takutnya Romi muncul dan mengacaukan segalanya, atau dia iri ada makhluk secantik Fina di kosan tersebut mengalahkan kecantikan Romi. Jadi kami bertiga berkumpul di kamarku. Agendanya, selain membahas lebih teknis rencana kami, atau Fina latihan dengan identitas barunya, misal membiasakan diri menoleh ketika dipanggil Ulfa, kami juga membuat konten-konten medsos yang berkaitan dengan Ulfa.

Untungnya, Randi menyukai cewek yang jilbaban. Yang artinya cewek itu religius. Yang artinya, kalau cewek itu enggak posting banyak foto di IG-nya, akan sangat bisa dimaklumi. Kami membuat beberapa konten untuk di-upload di IG Ulfa Taher, yang isinya foto-foto non-human. Kayak foto tangan Fina, foto secangkir cappuccino, foto bunga, foto Al-Quran, dan lain-lain.

Sehingga, kami sibuk membuat “konten” agar identitas Ulfa Taher ini believable.

I told you, aku kalau balas dendam bakalan lebih sadis dari pelaku sebelumnya. Aku enggak mau asal-asalan nge-hire bencong lain untuk nge-prank Randi. Prank dariku bakalan tingkat dewa. Bukan tingkat banci dari Pati.

Fina betulan profesional. Dia juga percaya diri, seksi, cepat paham, dan kayaknya satu tim dengan kami. Setelah kuceritakan soal kejadian yang menimpa Tino, Fina lebih bersemangat nge-prank Randi. Lonte-lonte juga Fina enggak setuju sama prank macam begitu.

Sayangnya, belum juga Fina melakukan aksinya, sudah ada yang tersiksa.

Edvan.

Dia kayaknya sedang berperang dengan dirinya sendiri menahan nafsu syahwat yang membuncah gara-gara ke-amazing-an Fina di dalam kamar. Lama-lama aku bisa sependapat sih sama Edvan, bahwa kecantikan dan keseksian Fina ini keterlaluan. Ada sex appeal yang bikin orang-orang menoleh ke arah Fina secara otomatis. Badannya juga oke. Enggak fit dan tone, tapi pas aja. Belum lagi kulitnya mulus bukan main, mungkin setiap hari selalu dibaluri skincare mahal. Dari jauh udah kayak tahu sutra.

Edvan hanya bisa meringkuk dan curi-curi pandang menatap Fina hanya kalau Fina lagi enggak melihat ke arah Edvan.

Keseksian Fina juga dikonfirmasi oleh Tino yang muncul sekitar pukul sembilan malam, pulang dari interview. Dia mengetuk pintu kamarku, tepat ketika Fina sedang mencoba sports bra—jadi toketnya, atau yang Edvan sebut sebagai tobrut, sedang terekpos ke mana-mana.

“Hei!” sapaku, saat membuka pintu. Sejak didatangi perempuan itu pada Minggu sore, aku masih belum bicara dengan Tino. “Dari mana?”

“Gue dari ….” Tino menyipitkan mata sembari mencoba celingukan ke dalam. “Ada siapa?”

“Oh. Ada Bang Edvan, sama satu teman kampus gue.”

Tino melihat ke sandal dan sepatu yang ada di depan pintu kamar. Ada sepatu perempuan yang tidak dia kenal. Tino mencoba melongokkan lagi kepalanya ke dalam.

“Siapa?” tanya Tino.

Karena aku sedang dalam upaya menjaga misi ini confidential dari Tino, tentu aku enggak biarkan pintunya terbuka lebar-lebar. “Teman kuliah aja. Abang dari mana? Kok enggak dijawab pertanyaan gue?”

Casting,” jawab Tino, masih mencoba melongokkan kepala ke dalam.

Aku mengikuti ke mana pun pergerakan kepalanya, supaya Tino enggak melihat. “Casting? Model?

“Ho-oh. Itu …, si Edvan lagi apa?”

“Enggak lagi apa-apa.” Aku mencoba menutup pintu, tetapi Edvan malah memanggil Tino.

“Eh, Bro! Sini masuk!” Edvan tersenyum canggung sambil duduk dengan rapi di tepi tempat tidur, merapatkan pahanya, menutupi area tungkai dengan selimut dan bantalku. “Masuk, Bro!”

Dan Fina juga ikut-ikutan. “Heeeyyy …, ada siapa, sih? Eh, halo! Mas Tino, ya?” Fina melambaikan tangan dari dalam.

Tino mematung sejenak dengan mata membelalak. Dia kayaknya terpukau juga melihat Fina yang cantik, hanya pake sports bra, kulit mulusnya terekspos ke mana-mana, dan Fina terlihat ramah bersahaja.

Tino menelan ludah. “Itu …, itu asli?” bisik Tino, sembari menaikkan lagi kepalanya, berusaha melihat lebih jelas sosok Fina.

“Asli, anjir! Emangnya semua temen gue bencong?”

“Dapat dari mana?” bisik Tino lagi.

“Itu teman kuliah! Sekampus sama gue, Bang! Udah ah sono! Gue lagi sibuk. Lagi ngerjain tugas.”

“Gue pengin masuk.” Tino mencoba mendorong badanku, tetapi aku bertahan.

“Enggak boleh!”

“Lah itu si ontohod boleh masuk. Kenapa gue kagak?”

“Sini, Bro! Masuk!” sahut Edvan dengan suara bergetar. Seperti ingin menangis.

Menangis karena enggak sanggup lagi menahan hasrat nge-crot melihat Fina.

“Iya sini masuuukkk …!” tambah Fina, memperparah.

“Tuh, Bro! Gue disuruh masuk!” sahut Tino sambil mendorongku ke dalam. Dia langsung duduk di samping Edvan, di tepi tempat tidur. Matanya langsung cengo menatap Fina yang kini sedang mengenakan hot pants pendek, yang rencananya mau dipakai pas VCS bareng Randi.

“Gimana? Ini bagus enggak?” tanya Fina, sambil memutar-mutar tubuhnya.

Baik Tino maupun Edvan, hanya bisa melongo dengan mulut mangap melihat panggul Fina.

Pelan-pelan Tino menarik selimut yang diremas Edvan, lalu Tino merapatkan pahanya, dan keduanya selimutan berdua menutupi area selangkangan, sambil duduk berhimpitan.

Kan! Si Fina ini emang goblok pesonanya. Semua cowok straight langsung tersihir pengin ngewe ama si Fina.

Kalau si Randi sampai enggak tertarik sama Fina, berarti si Randi bencong.

Tino nongkrong di kamarku sampai Fina pulang. Bahkan, Tino menawarkan diri untuk mengantar Fina pulang. (Pake mobilku.) Aku harus mengingatkan Fina lagi bahwa Tino tidak tahu soal misi kami ini. Jadi jangan sampai bocor ke dia. Bisa-bisa nanti misinya di-cancel, si Fina enggak jadi dapat bayaran. Fina paham.

Pukul sebelas malam, setelah Fina tebar pesona di depan dua straight yang lagi sange, akhirnya cewek itu pergi. Tino dengan ganjennya memaksa untuk mengantar, seakan-akan dia tak punya masalah lain yang lebih penting. Minggu sore dia sedang ada “masalah”, Selasa malam masalahnya hilang karena ada cewek cakep di kamarku.

Dasar kontol!

Semua cowok sama aja.

Lihat cewek bening dikit, langsung lupa segalanya.

Setelah Tino dan Fina pergi, aku menemukan Edvan masih ada di kamarku. Bahkan dia berbaring di atas tempat tidurku, menutup tubuhnya dengan selimutku.

“Lu yakin dia kagak bisa dicicip dulu?” tanya Edvan kepo. Mukanya masih sange.

“Ya tanya dia sendiri, lah. Gue cuma booking buat nge-prank si Randi doang.”

“Bonus, kek,” pelas Edvan, setengah bangun.

“Ya tanya aja sendiri.”

“Semacam sampel, gitu. Test drive.”

Kulempar bantal ke arah Edvan, hingga lelaki itu terdorong jatuh ke ranjang lagi. “Udah sepuluh kali gue bilangin, tanya sendiri!”

“Aaahhh ….” Edvan malah mendesah. Dia mengatur napasnya sembari menatap langit-langit. “Enggak sanggup gue. Enggak sanggup ngobrol ama yang cantiknya melampaui batas.”

“Tapi elo selama ini sukses tuh ngobrol sama si Romi. Dia cantiknya melampaui batas juga, kan?”

BUUUKKK!

Edvan melempar bantal yang tadi ke arahku. Dan aku hampir tersungkur ke atas lantai. Ketika aku bangkit lagi, kulihat Edvan sudah memasukkan satu tangan ke dalam celananya, mengocok kontolnya sendiri. Matanya menatap ke arahku, seakan-akan akulah sumber inspirasi coli-nya.

Aku agak tersanjung. Ini mengingatkanku pada setiap sesi ngewe-ku dengan orang-orang dari aplikasi kalau top-nya pengin crot dan dia ngelihatin mukaku untuk menaikkan berahi.

“Gue kagak bisa kayak si Tino,” ungkap Edvan, masih sambil ngocok. “Malu gue ama cewek. Susah gue ngomong ama mereka. Lu pikir gue ngendon di kamar tiap hari, kagak pernah keluar, cuma keluar buat penting-penting aja tuh, apa? Lockdown?

“Tapi lu udah terlatih ngomong ama Romi. Harusnya bisa ngomong ama cewek.”

“Beda kasusnya dia mah. Dia sejenis kuyang.”

Aku terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Aku enggak tahu pasti hubungan Edvan dan Romi tuh apa. Apakah teman kuliah? Teman masa kecil? Manusia dan khodamnya? I don’t know. Mereka tetanggaan dengan damai cukup lama. Romi sering ganjen sama Edvan. Sering main ke kosan Edvan. Sering tidur di sana juga. Dan untuk ukuran banci yang tetap nafsu nyepong sesama boti, we don’t know apa yang udah Romi lakukan ke Edvan selama ini. Kayaknya merkosa Edvan tuh udah level terendah, gitu. Kayaknya pasti ada yang lebih brutal dibandingkan merkosa Edvan. Dan Edvan anehnya biasa-biasa aja atas kehadiran sosok Romi.

Palingan dia menjadikan Romi sebagai bercandaan aja kalau sedang bersamaku. Kebetulan aku juga hobi nge-bully si Romi. Kami berdua cocok kalau mau ngebom satu sama lain, ya tinggal bawa nama Romi. Seperti barusan.

Aku akhirnya memanjat ke atas tempat tidur, duduk bersila tepat di samping tubuh Edvan yang telentang, dengan satu tangan masih asyik ngocok di balik celana. “Tino emang beda,” kataku. “Dia emang nafsu mulu ama cewek. Hampir tiap minggu, dulu, sebelum kejadian di-prank kemaren, dia bawa cewek mulu ke kamarnya. Lihat cewek bening dikit pinggir jalan, bisa dia samperin. Ya enggak heran, ada cewek cakep dikit bernama Lidya, mau VCS ama dia, langsung dia embat. Kayak ngembat si Vina, tuh.”

“Iye, gue nge-fans ama si Tino urusan itu. Apa dia pede karena body-nya oke, ya?”

Body lu juga oke kok.”

Edvan berhenti ngocok untuk mengangkat kepala dan melihat body-nya sendiri. “Gue mah kurus.” Dan dia dengan kurang ajarnya melepas kausnya yang tipis melewati kepala. Sekarang dia telanjang dada di depanku. Tubuhnya yang hangat menyentuh kulitku, membuatku nyaman.

Aku menelan ludah.

Bangsat. Anjing!

Seksi banget ini body si Edvan.

Ya emang, kurus, dibandingkan Tino. Tapi dibandingkan aku, dia lebih berotot. Lihat nih bisepnya, kayak telor dijejalin di dalam lengan. Perutnya juga rata, kotak-kotak, sampe ke dadanya juga kotak. Bahunya lebar, kayak bahu cowok anime. Punggungnya tuh bentuk V gitu ke bawah. Ini mah perfect, bangsat! Udah bisa ikutan L-Men of the Year.

“Apanya yang bagus?” Edvan kembali mengocok kontolnya di balik celana, tetapi masih mengamati badannya sendiri. Satu tangannya yang bebas langsung naik, mencoba flexing otot. “Otot gue masih mungil.”

Kan aku jadi bisa lihat keteknya, ya.

Goblok.

Aku jadi sange.

Dan aku lebih goblok lagi mengakui bahwa aku lagi sange.

“Mungil juga gapapa. Homo kayak gue tetep sange.” Lalu aku melempar senyum lebar yang awkward.

Sejak awal, manusia bernama Edvan ini memang ajaib, sih. Dia sejenis makhluk yang belum terpetakan secara sains, tentang identitas atau karakternya seperti apa. Kita enggak tahu pekerjaannya apa. Uangnya dari mana. Ngapain pake baju item-item. Kenapa ngendon di kamar seharian. Kenapa bisa kayak mata-mata, punya alat canggih dan tahu segalanya. Kenapa dia malu ngomong sama cewek, tapi sama begal aja dia berani baku hantam sampe luka-luka.

Nih, luka-luka di badan bekas begal itu masih ada sisanya, lho. Sudah hampir satu bulan sejak pembegalan itu, sebagian besar lukanya sudah hilang, tapi masih ada codet-codet garis bekas dibacok.

Dan itu enggak bikin aku ilfeel.

Ditambah dengan kemisteriusan Edvan, aku malah semakin sange.

“Ya udah kalau sange bantuin,” kata Edvan tiba-tiba.

Dan dia juga mendadak menarik celananya turun, menguak kontol ngaceng-nya keluar.

Babi.

….

Kontolnya bagus.

Sehat.

Agak tebal, dengan palkon berwarna pink.

Panjangnya lumayan.

Jembutnya rapi.

Kontol itu kelihatan keras banget. Edvan mendorongnya berlawanan, terlihat di bagian pangkal kontolnya, kulit area tersebut tertarik ke atas. Berarti keras banget, kan?

Di bagian kepala kontolnya basah oleh precum, mengalir ke batangnya.

Aku menelan ludah.

“Boleh diapa-apain. Sumpah,” kata Edvan tiba-tiba. Dia berhenti mengocok kontolnya. Dia langsung melipat tangan ke belakang kepala, memamerkan keteknya yang mulus, yang bulu-bulunya dicukur rapi.

“Elo sengaja ya pengin bikin gue khilaf?” Aku mendengus, tanpa mengalihkan pandanganku dari kontol Edvan.

Mataku enggak berkedip.

Literally mirip kayak waktu Edvan ngelihatin Fina sepanjang hari ini. Mukaku mupeng dan sange.

“Khilaf apaan, sih? Elu kan homo. Natural dong kalau elo suka ama kontol gue?”

“Tapi gue kan harusnya ama Tino.”

“Elu pacaran ama Tino?”

Aku sudah membuka mulut untuk menjawab, tetapi aku menutupnya lagi. “Enggak,” kataku lemas.

“Terus? Khilaf kenapa?”

Aku menggelengkan kepala, tetap menatap kontol Edvan yang keras itu.

“Gue tahu elu suka dia. Gue tahu kalian juga udah lebih dari seharusnya—”

“Dari mana elo tahu?!” Aku membelalak ngeri sambil menatap wajah Edvan. Di mana kemudian perhatianku teralihkan ke ketek mulusnya yang seksi.

“Elo masih belum kenal gue? Setelah gue nunjukin kalau gue bisa nemu informasi serahasia apa pun di dunia ini?” Edvan geleng-geleng kepala.

Aku mendengus kesal.

Pengin banget nampol ini cowok straight, tapi dia terlalu ganteng buat ditampol. Udah gitu pose dia masih pamer ketek. Dan keteknya seksi. Dadanya juga. Perutnya juga. Kontolnya ngaceng. Ini dilema terbesar dalam hidupku sekarang.

“Gue tahu elu suka sama dia,” ulang Edvan. “Tapi barusan aja …, yang dianterin ke rumah …, si Fina apa elu?”

Aku memutar bola mata. “Ya kan gue tinggal di sini—”

“Maksud gue, si Fina kan bisa dipesenin Grab. Tapi si Tino ngebela-belain pinjem mobil elu, demi bisa nganterin tuh cewek pulang. Elu enggak ngasih pinjem pun, gue yakin dia bakal pinjam mobil gue. Gue kagak ngasih pun, dia bisa nekat minjem mobil ke penghuni kos yang lain. Ke si Akbar misalnya. Dia senekat itu demi cewek yang dia suka. Elu empat tahun naksir dia masa kagak tahu fakta dia yang ini, sih?”

“Dari mana elo tahu gue udah naksir dia empat tahun—”

Edvan menoyor kepalaku. “Udah gue bilang, gue bisa tahu banyak hal!”

Aku mendengus kesal.

“Dia enggak akan jadi milik elo,” kata Edvan, menamparku dengan kenyataan. “Dia bisa ngewe ama elo, tapi enggak akan pernah jadi pasangan elo. Naturalnya dia ngaceng ngelihatin si Fina. Kalau dia ngaceng ama elu, itu karena keadaan aja.”

Kata-kata itu menohok hatiku. Sungguh.

“Belum lagi, kemarin gue lihat dia ….” Namun, kata-kata Edvan tidak selesai. Dia tiba-tiba teringat sesuatu, yang mungkin tak seharusnya dia katakan di depanku. “Intinya, mending ama yang pasti-pasti aja. Ini ada yang ngaceng di sini, coba elu mainin sampe keenakan,” kata Edvan, suaranya lebih lembut dan persuasif sekarang. Satu tangannya memegang punggungku, mengusap-usapnya dengan nyaman.

Aku menatap lagi kontol yang ngaceng itu. Kontol Edvan mengentak-entak seperti makhluk hidup. Memanggilku agar bermain bersamanya.

“Kenapa elo lebih milih dikocokin ama gue dibandingin elo modusin si Fina buat ngocokin elo?” Pertanyaan itu muncul tiba-tiba dari mulutku.

Edvan menghela napas, masih mengusap-usap punggungku. “Gue udah bilang tadi. Kelemahan gue tuh cewek. Gue kagak jago ngomong ama mereka. Lebih gampang gue rayu homo buat main ama gue dibandingin gue usaha dapetin cewek.” Tangan Edvan yang asalnya ada di punggungku, tiba-tiba pindah ke depan dan memainkan putingku.

Aku mengentak kecil karena kaget.

Karena enak juga, sih.

Edvan memilin-milin putingku sampai aku menyerah dengan semua kekeraskepalaanku.

Sedari tadi aku sange, tetapi aku menolak perasaan ini hanya karena aku merasa “tak mau selingkuh” dari Tino. Yang sebenarnya konyol karena aku dan Tino pun enggak punya hubungan istimewa.

Setelah menatap kontol Edvan selama beberapa saat, akhirnya aku kalah. Aku mendengarkan tubuhku yang sudah meraung-raung ingin menikmati tubuh Edvan. Aku membungkuk dan mulai mengulum kontol Edvan.

Kumasukkan kontol hangat itu ke dalam mulutku. Aromanya aroma kontol laki-laki. Kayak kontol Tino. Permukaan kontol Edvan lembut dan licin—mungkin karena sedari sore dilelehi precum. Kontol itu berkedut-kedut setiap kali kumasukkan seluruhnya ke dalam mulut. Aku menjilati lubang kontolnya dengan ujung lidahku. Hal itu membuat Edvan mendesah.

“Aaaaaahhh ….” Edvan mengangkat kepala untuk melihat wajahku. Kedua alisnya berkerut. Satu tangannya masih asyik memilin-milin putingku, membuatku keenakan.

Aku menyepong kontol Edvan selama beberapa saat, membasahinya dengan ludahku, lalu menggelitikinya dengan lidah. Sesekali kukeluarkan dan kutatap dengan kagum kontol cowok straight yang misterius ini. Kemudian kulahap lagi, dan kurasakan kekenyalan kulitnya, ketebalan dagingnya, kehangatan batangnya …. Aku tergoda untuk menelan seluruhnya sampai mentok, sampai kerongkonganku tersedak. Kupaksa untuk membenamkan seluruh batangnya, tetapi aku tersedak. Aku begitu puas saat hidungku menyentuh perut Edvan, tergelitik oleh jembutnya yang dicukur rapi.

“Aaaaaahhh …,” desahku, sembari mengeluarkan kontol Edvan. Mataku sampai berkaca-kaca.

“Enak?” bisik Edvan sambil tersenyum ganteng.

“He-em.” Aku mengulum lagi kontol itu ke dalam mulut, hingga kontol itu benar-benar basah oleh air liurku, kemudian aku terbatuk-batuk. Aku sudah tak bisa melihat wajah ganteng itu karena air mataku bercucuran keluar. “Uhhukk! Uhhuk! Aaaaaahhh ….” Akhirnya kukocok aja kontol itu dengan tangan sembari aku menenangkan diriku.

“Suka enggak?” tanya Edvan lagi.

“BACOT!” Aku melahap biji peler Edvan dan menggigitnya dengan lembut.

Edvan terkejut. “ARGH! AAAAAARGH!” Edvan mendorong kepalaku. “Jangan dikunyah, anjir! Kejantanan gue juga itu!”

Aku menjulurkan lidah sembari lanjut menyepong kontol Edvan.

Ya tuhan …. Aku bahagia.

Setelah aku tak mendapatkan “asupan” dari Tino akhir-akhir ini, Edvan bisa menjadi pengganti yang sempurna.

Aku menaikkan pandangan dan menemukan Edvan sedang mengamatiku dengan wajah sange. Aku merasa diinginkan. Aku sudah dikuasai oleh gairah seksual yang kuat, sehingga aku melepaskan kontol itu dan mulai merangkak naik untuk mengulum puting Edvan.

“AAAAAAHHH …!” Edvan mendesah—hampir melolong—saat putingnya kuisap. “Brengseeekkk … enak banget lu, Bro! AAAAAAAAAHHHHHH …!”

Mata Edvan sampai memutih semua. Punggungnya melengkung ke atas.

Pada saat bersamaan, aku melepas celanaku hingga telanjang bagian bawah. Kontol ngaceng-ku langsung mencuat keluar. Secara inisiatif, aku duduk di atas perut Edvan, sengaja menempelkan kontol ngaceng Edvan ke bool-ku. Dengan begitu, aku bisa memeluk tubuh Edvan yang atletis, menikmati putingnya, merasakan kontol ngaceng Edvan menggesek-gesek bool sensitifku, dan menghidu aroma tubuhnya yang enak.

Edvan menurunkan tangannya memeluk punggungku. Kedua tangannya masuk ke balik bajuku, menggerayanginya dengan lembut.

“Aaaaaahhh ….” Aku mendesah keenakan. Tubuh ini nikmat sekali.

Gerayangan Edvan membuatku makin sange. Aku melepaskan puting itu, menggosok pipiku di dada bidang Edvan yang keras dan kekar, sembari menggigit bibir bawahku karena enggak tahan dengan rasa enak kontol keras menggesek-gesek selangkangan. Kususupkan kedua tanganku ke bawah ketek Edvan, lalu tanganku meremas bahu lebar itu.

“AAAAAAHHH …,” erangku, lebih keras lagi. Bahkan hampir menangis.

Aku mulai mengecup dada Edvan, melumat lehernya, bahkan aku mencumbu rahangnya yang tegas, kemudian ….

Kemudian aku mengecup bibirnya sekali.

Cup.

Napasku memburu di depan wajahnya. Kedua alisku bertaut. Kini giliran aku yang sagapung di depan Edvan.

“Mau dimasukin?” bisik Edvan, melontarkan pertanyaan yang sangat indah.

Malu-malu aku mengangguk kecil. Tapi aku tetap bertanya, “Emang kamu mau?”

“Ya aku—”

Drrrt …! Drrrt …! Drrrttt …!

Hape-ku bergetar.

Aku dan Edvan menoleh secara bersamaan ke atas meja. Ponselku menyala, layarnya menarik perhatian. Getarannya khas. Getaran khusus yang sudah ku-setting untuk panggilan dari orang ini.

“Whatsapp?” tanya Edvan.

Aku menggelengkan kepala. “Telepon. Dari Tino.”

Aku mengangkat badanku, ragu apakah perlu ke sana mengambil hape, atau mengambil lubricant untuk ngewe.

“Angkat dulu,” saran Edvan. “Takutnya urgent.”

“Mungkin … mungkin bukan apa-apa. Mungkin dia cuma minta isi bensin mobilku atau—”

“Angkat dulu aja,” ulang Edvan. “Minta isi bensin pun urgent.”

Aku menunduk dan menatap tubuh telanjang seksi itu dengan penuh pertimbangan. Kontol Edvan berkedut-kedut di bawah bool-ku, menggelitik titik-titik sensitif di sekitar cincin anusku. Aku malah makin ragu. Aku masih ingin menikmati tubuh Edvan yang seksi ini, tapi aku ….

“Eeehhh … malah bengong! Itu angkat dulu anjir. Entar lanjut lagi ama gue habis ini.”

Aku menghela napas. “Oke.”

Dengan kontol ngaceng yang masih mengeluarkan precum, aku turun dari tempat tidur. Aku berjalan menuju meja untuk menyambar hape-ku.

Perasaanku enggak enak.

Kosan Fina enggak begitu jauh dari sini, harusnya Tino sudah selesai mengantar Fina. Tapi kenapa dia meneleponku? Apa dia butuh sesuatu yang penting?

“Halo?” sapaku, setelah mengangkat telepon.

Jawaban dari seberang adalah sebuah isakan. “Hu … hu … hu ….”

Isak tangis seorang lelaki.

Aku menoleh ke arah Edvan dengan wajah cemas. Edvan bangkit dari tempat tidur, mengangkat kedua alisnya.

“Bang?” sapaku lagi.

“Bro …,” balas Tino, dengan suara bergetar. Dia yang menangis di seberang sana. “Elo bisa ….” Isak tangis menjeda kalimatnya. “Elo bisa temenin gue …? Malam ini …?”

“Ke mana?”

Tino memberi jeda sebelum menjawab, “Ke rumah gue …. Di Citra Garden.” Tino terisak lagi.

“Kenapa, Bang? Ada masalah apa?”

Tino masih belum menjawab pertanyaanku hingga setengah menit ke depan. Dia terisak-isak dengan suara napas tercekat. Makin lama, tangisannya makin kuat.

“Bang?” panggilku lagi.

“Nenek gue …,” kata Tino, terdengar menyayat hati. “Nenek gue meninggal barusan ….” Tino terisak-isak lagi. “Dan gue butuh elo … gue butuh elo sekarang.”

[ … ]

Bersambung ....


Part 15 (Bag. A) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 16 (Bag. A)


Halo, Kak!

Seperti biasa, kalau aku menerbitkan something free, maka akan ada something berbayar yang terbit, ya! Kali ini, yang terbitnya adalah Extra Kosan Hamid nomor 7! Silakan cek speknya di bawah. Kalau Kakak tertarik, silakan hubungi aku untuk melakukan pembelian, ya!

 

Extra 07

Judul: Menyunat Mas Angga

Isi: 21.000 kata dan 183 halaman

Harga: Rp40.000,-

Tokoh: Lanang, Angga, Rohmat

Adegan intim: sunat, worship kulup, oral, anal

Top: Angga

Bottom: Lanang

 

Blurb:

Resolusi 2026 Angga adalah disunat. Tapi, dia hanya ingin Lanang yang menyunatnya. Lanang pun berlatih menyunat ke pamannya yang memang ahli khitan. Setelah dia berhasil mempelajarinya, berhasilkah Lanang menyunat Angga?


Cuplikan:

Oke, inilah saatnya. Kulup Angga sudah siap untuk dipotong. Aku sudah berhasil mengatur jarak kulup sesuai garis penanda potongan, sudah mempaskannya dengan klem, sudah mengunci klem dengan kuat, tinggal aku ambil pisau bedah dan kupotong.

Tanganku gemetar. Sedari tadi gemetar. Namun, kali ini gemetarku beda. Aku harus mengatur tarikan napasku panjang-panjang karena aku merasa gugup sekali.

Selamat tinggal, kulup Angga tersayang. Maaf aku harus memutilasimu. Maaf aku harus melenyapkanmu. Bukan aku tak menyukaimu, tetapi sesuai syariat Islam, sunat adalah kewajiban dari laki-laki. Sunat akan membawa Angga pada kesucian yang hakiki. Pada kebersihan kemaluan yang menyehatkan.

Ya, Angga Hindu. Tapi sunat adalah prosedur untuk kebaikan Angga sebagai seorang manusia. Dengan sunat, Angga akan dijauhkan dari berbagai penyakit kemaluan. Maaf bukan aku tak menginginkanmu di sini, wahai kulup Angga.

Maaf aku harus melakukan ini.

“Bismillahirrahman nirrahim.” Kutarik napas panjang dan kuletakkan pisau di garis potong.

Ya Allah, bantu aku menghadapi ini semua.

Kemudian, aku menggerakkan pisau ....

....


Seperti biasa, lakukan pembelian melalui WhatsApp, email, atau Telegram. Masuk ke lynk.id/bocahtitipan untuk mendapatkan kontaknya. Terima kasih banyak sudah membeli! Semoga suka dengan spinoff-nya!

Untuk beli langsung di lynkid, klik di sini.

Komentar