(PPT) Part 14 Bag. B




Boti alim bernama Lanang itu membuat heboh hampir seisi kosan. Kupikir, boti yang berani selingkuh dengan cowok yang jauuuhhh lebih ganteng dari pacarnya sendiri, pasti seorang boti tangguh yang tahan banting. Ternyata, melihat Tino sempakan doang, dia mampus.

“Mas? Mas?” Tino menggoyang-goyang bahu Lanang. Cukup kuat guncangannya, sampai kepala Lanang terayun-ayun depan belakang. “Mati kali, ya?”

Kutoyor kepala Tino. “Ya kagak, lah! Masa langsung mati?! Mas? Mas Lanang?!” Aku mencoba mencubit hidungnya.

Namun, boti itu tetap terkapar pingsan.

“Mas? Bangun, Mas!” Plak! Plak! Tino mencoba menampar pipi Lanang.

“Mas!” Aku menghardik Lanang. “Mas Tino bugil, Mas! Kontolnya ngaceng siap masuk ke bool lu, Mas!”

Tino menoyor kepalaku. “Ngapa lu ngomong gitu, sik?!”

“Siapa tahu dia bangun denger elu bugil!”

“Lah, elu bilang dia pingsan gara-gara gue sempakan! Kalau gue bugil, dia bisa almarhum, anjing?!” Tino mendengus dan kembali mengguncang tubuh Lanang. “Mas? Mas?”

Karena kami cukup berisik, seseorang di ujung lain lorong mendengarnya. Kebetulan, orang itu adalah Edvan dan Romi.

“OMG! Ada pembunuhan!” teriak Romi lebai.

Edvan langsung berlari ke arah kami. Dan, dia hampir telanjang. What the fuck? Dia cuma pakai kolor doang. Sisanya enggak pake apa-apa. Sama aja kayak Tino sekarang yang cuma sempakan doang.

Romi membuntuti Edvan di belakangnya. Jadi, aku buru-buru menyikut Tino sambil membisikinya, “Pake celana! Cepetan!”

Namun, Tino tidak mengindahkanku. Edvan dan Romi keburu tiba di depan kami dan langsung ikut berjongkok untuk melihat situasi. “Kenapa?”

“Enggak tahu, tiba-tiba pingsan,” balasku.

“Sini. Gue cek dulu,” kata Edvan, dengan telaten langsung berlutut di samping Lanang, lalu bersikap seperti petugas medis profesional. Mengecek lubang hidung, nadi di pergelangan tangan, di leher, dan lain sebagainya. Aku beneran curiga, jangan-jangan Edvan memang mata-mata macam James Bond yang sedang menyamar jadi pemuda urakan tukang main game, yang juga jago merayu homo macam aku padahal dia straight tulen.

Edvan membaringkan Lanang di atas lantai, lalu melakukan prosedur CPR. Dia menekan rahang Lanang hingga mulut boti itu menganga, lalu mencoba mengembuskan napas ke dalamnya.

“Eh, eh, eh, apa-apaan itu?!” Romi tiba-tiba berteriak tidak terima. “Kenapa kamu cium sih, Beb! Aku enggak terima! ENGGAK TERIMA!”

Romi mendadak heboh. Suaranya keras sekali, tampaknya bisa membangunkan semua orang di kosan ini. Beberapa burung yang sedang bertengger di pohon samping kosan, tepat di samping tangga ke bawah, beterbangan karena kaget oleh suara Romi.

“Memangnya aku kurang apa, HAH?! AKU KURANG APA?! Lanasia nih selera fashion aja nol! NOL!”

Edvan sampai harus bangkit dan menoyor wajah Romi hingga banci itu tersungkur ke atas lantai dan kepalanya terbentur dinding. “Berisik, lu! Gue lagi CPR, anjir!”

“PCR?! Untuk apa PCR?!” dengus Romi makin heboh. “Dia Covid, HAH?!”

Edvan enggak memedulikan Romi yang berisik. Dia kembali memberikan napas bantuan untuk Lanang, yang tampaknya anteng banget pingsan sambil bibirnya dicipok Edvan terus-menerus.

Keributan itu mengundang penghuni lain, tepatnya Enzo … dan Kevin. Aku tidak tahu kalau Kevin sedang ada di sini. Dan dia telanjang dada, cuma pakai celana boxer. Dadanya ada garis-garis merah, seperti sedang dikerok karena masuk angin. Keduanya berlari panik menghampiri kamar Tino.

Buru-buru kusenggol Tino. “Cepet pake celana, anjir! Yang lain seenggaknya pake kolor!”

Tino pun masuk ke kamarnya untuk mengenakan celana pendek terdekat yang bisa dia temukan.

“Ada apa?” tanya Kevin.

Anjing.

Ganteng banget, ya Tuhan. Seksi pula. Gemoy. Badan kekarnya itu berisi, dan tampak empuk, tampak enak diajak cuddle semalaman. Waktu Kevin berlari menghampiri kami, dadanya itu naik turun. Ngegemesin. Dia tipe-tipe lelaki yang bikin kita otomatis pengin ngomong, “Peluk aku, Mas. Peluk aku hingga malaikat maut menjemput.”

Edvan menjelaskan yang sedang dia lakukan, dan semua informasi yang dia tahu dariku.

“Tadi juga dia tiba-tiba lari pas ketemu saya di bawah,” kata Kevin.

“Lah, sama!” Edvan menghela napas. “Kepalanya kejedot, terus dia baca mantra, terus dia lari lagi. Tahu-tahu ada di sini, lagi pingsan.”

“Mungkin dia lagi sakit?”

“Dia lagi Covid! BAHAYA! Awas kalian semua! Minggir!” jerit Romi dengan dramatis. “Lempar dia ke bawah. Dia bawa penyakit!”

Tidak ada yang mendengarkannya.

“Mungkin di kamarnya ada obat-obatan?” kata Kevin. “Kita bawa Mas Lanang ke sana aja. Takutnya sakit jantung, atau paru-paru.”

“Ya, bener,” ungkap Edvan. Dia langsung menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Lanang, bersiap untuk membopongnya.

“EH! EH! EH! NGAPAIN?! MAU APA KAMU GENDONG-GENDONG DIA?!” Of course, Romi jadi ribut lagi.

“Berisik, anjir!” hardik Edvan, mulai kesal.

“Aku enggak ikhlas kamu gendong dia sendirian ke sana!”

Supaya tidak drama berkelanjutan, Kevin tiba-tiba memutar ke depan Edvan dan menyusupkan lengannya juga ke bawah tubuh Lanang. “Ya udah, sama saya aja. Kita gendong barengan.”

Aku langsung melirik ke arah Enzo. Wajahnya tampak enggak ikhlas melihat Kevinnya yang ganteng, memesona, gemoy, dan idaman setiap boti seluruh dunia itu, menggendong Lanang, sang boti alim tukang selingkuh.

Kebetulan saat Edvan dan Kevin akan mengangkat tubuh Lanang, Tino keluar dari kamar dengan kondisi sudah koloran, tapi masih telanjang dada. Jadi, aku langsung menariknya, “Bang! Elo gendong juga!”

Tino mengerutkan alisnya. “Hah?! Ngapain? Itu udah ada dua orang!”

“Udah, ih! Biar adil! Semua cowok gendong si Lanang!”

Pan elu juga cow—”

Kudorong Tino supaya langsung menghampiri Edvan dan Kevin. Terpaksa, dia juga membopong tubuh Lanang. Tubuh yang sebenarnya enggak perlu-perlu amat digendong sama tiga orang kayak begini. Tapi daripada Romi ribut terus, atau batin Enzo tersiksa melihat Kevin gendong boti lain, ya sudah semua lelaki straight ganteng di sini gotong-royong menggendong Lanang. Biar adil.

Ketiga cowok itu membopong Lanang menyusuri lorong menuju kamarnya di ujung sana. Romi tetap tak terima, tetapi seenggaknya Enzo sudah jauh lebih waras. Enzo menghampiri Romi untuk menepuk bahunya.

“Kamu enggak apa-apa kan, Rom?”

Iyuh, iyuh, iyuh! What are you doing, Bitch?!

Tepat ketika ketiga lelaki itu berbelok menuju lorongnya Lanang, sang boti yang sedari tadi pingsan pun bangun. Aku yang berada di belakang Tino untuk ikut mengawasi, melihat Lanang membuka matanya lebar-lebar. Lalu, dia celingukan menatap tiga lelaki tampan, telanjang dada, sedang menggotongnya.

Lanang pingsan lagi.

Kali ini sambil mimisan.

What the fuck?!

Singkat cerita, kami berhasil membawa Lanang ke kamarnya. Akbar menyambut kami dengan alis berkerut, seperti agak “terganggu”. Tapi dia tetap membiarkan ketiga cowok yang hampir telanjang itu membaringkan Lanang ke atas tempat tidur. Setelahnya, Romi membawa Edvan pulang. Enzo juga menarik Kevin kembali ke kamarnya. Sementara aku menendang Tino agar balik ke kamarnya juga.

“Cari lagi celana sana!” kataku, sambil mendorongnya keluar.

“Terus, elo—”

“Gue tungguin si Lanang. Udah, elo siap-siap, gih. Kan mau interview!”

Tino pun kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Sementara aku, dengan manis duduk di kamar Lanang, menunggu Lanang siuman. Tentu aku punya agenda lain. Aku kepo habis sama kedua orang ini. Jadi aku menawarkan diri untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada Akbar, sambil aku duduk di kursi mereka dan melihat ke sekeliling.

“Jadi gitu, Mas. Tiba-tiba pingsan. Kita juga enggak tahu gara-gara apa,” kataku, mengakhiri cerita.

“Terus ini berdarah gini kenapa?”

“Nah itu juga enggak tahu. Tiba-tiba aja mimisan.”

Akbar kembali mengelap wajah Lanang yang masih menyisakan sedikit darah. Sembari menunggu Lanang siuman, aku pun mengedarkan pandangan ke seisi kosan.

Layout-nya sangat berbeda dari kosanku. Malah kayaknya kosan ini lebih besar dari kosanku. Ada sekat yang memisahkan ruang untuk “umum” dan kamar tidur. Ada dapur yang perabotannya cukup lengkap. Ada juga area khusus untuk salat. Setiap dekorasinya bernuansa Islami. Ada lukisan bergambar Ka’bah, makan Nabi Ibrahim, dan Masjidil Haram. Kaligrafi Islami juga ditempel di mana-mana. Bahkan hampir tidak ada foto Akbar atau Lanang di tembok ini. Jam dindingnya menggunakan angka dengan penulisan bahasa Arab.

Aroma “orang Arab” cukup kental menguar di dalam kamar ini. Bahkan menurutku ini terasa menyengat. Bunga mawar tampak berada di mana-mana. Bahkan ada kelopak bunga mawar kering yang dikumpulkan di dalam toples, entah untuk apa.

“Kalau Mas Leo mau ninggalin kamar saya, enggak apa-apa, Mas,” kata Akbar kemudian. “Biar saya saja yang menunggu Lanang.”

“Oh, gapapa. Saya tunggu saja sampai Mas Lanang siuman. Takutnya dia kaget. Tadi pingsannya depan saya, bangun-bangun malah ketemu Mas. Sekalian saya mau jelasin apa yang terjadi.”

Akbar tampak enggak setuju. Dia enggak nyaman dengan keberadaanku di sini. Tapi sorry, ya, aku bakal tetap ada di sini. Aku masih kepo atas lenyapnya dirimu di tangga belakang kosan itu, Mas!

“Omong-omong, tempo hari saya sempat lihat Mas jalan ngelewati depan kamar saya,” kataku, tanpa basa-basi lagi. “Mas parkir di belakang sekarang?”

Akbar tampak terkejut. Hanya sedikit saja, tetapi kedua alisnya itu tak bisa berbohong. Dia memberi jeda beberapa saat, seperti mempertimbangkan sesuatu. Sebelum akhirnya Akbar menjawab, “Iya.”

“Oh, gitu, ya? Tadinya aku mau nyapa Mas. Tapi Masnya keburu hilang. Hehe. Cepet banget.”

Akbar hanya menjawabku dengan senyuman kecil saja.

Orang ini benar-benar enggak bisa diajak ngobrol.

Atau … dia menyembunyikan sesuatu.

“Mas sudah tahu soal videonya Tino?” tanyaku lagi, benar-benar kepo. Habisnya tadi si Lanang enggak tahu-menahu soal itu.

Akbar tampak cemas. Dia tak berani menatapku. Pandangannya berpaling ke arah lain sembari tangannya menggosok tengkuk dengan canggung. “Video apa?”

Kuasumsikan dia enggak tahu. “Oh, video … ngng … video Youtube.”

“Saya enggak pernah pake aplikasi-aplikasi macam begitu. Bidah. Zaman Nabi, enggak ada yang kayak begitu.”

Zaman Nabi juga homoseksual enggak boleh eksis. Elu ngapain masih maksiat ama si Lanang, anjeng?!

“Oke,” kataku pendek, sambil tersenyum lebar dan berusaha menjaga suasana tetap aman terkendali, tanpa perlu ada yang merong-merong atau gimana.

“Mas sudah boleh meninggalkan kamar saya, Mas. Tidak apa-apa,” kata Akbar sekali lagi. Kali ini lebih tegas.

Dan aku keras kepala. Seperti zodiakku, Leo, aku tetap duduk di sana dan tersenyum lebar. “Enggak. Saya bakal tunggu Mas Lanang siuman, mastiin dia baik-baik saja, baru saya akan pergi. Saya yang ada di lokasi waktu dia pingsan, Mas. Etikanya, saya nemenin dia sampai siuman. Jadi semua orang yang tadi terlibat bantuin Mas Lanang bisa tahu dari saya …, bahwa Lanang baik-baik aja.”

Akbar tampak enggak suka ide itu.

But I don’t care.

Aku akan tetap duduk di sini dan menunggu, siapa tahu aku bisa tahu rahasia yang kamu sembunyikan selama ini … Mas Akbar.


[ … ]


Enggak, Cuy. Enggak berhasil dapat apa-apa.

Sehabis Lanang siuman, aku belum dapat informasi apa pun dari Akbar. Padahal aku sudah menekan Akbar dengan berbagai cara. Lelaki alim itu tahu caranya menghindari pertanyaan. Kata-katanya diplomatis dan meyakinkan. Hampir seperti preacher.

Jadi, setelah Lanang bangun, aku hanya bisa melaporkan kepada Lanang seluruh hal yang terjadi semenjak dia pingsan. Setelah itu aku pamit pergi dan belum berkomunikasi lagi dengan kedua orang tersebut. Ketika aku kembali ke kamar pun, Tino sudah berangkat. Sudah tidak ada di kamarnya.

Aku tidak bertemu lagi dengan Tino hingga Minggu siang. Sumpah. Kupikir aku akan bertemu Tino malam hari, sepulang dia interview. Namun aku tak menemukannya di kamar hingga pukul 11 malam. Ketika aku terbangun keesokan paginya, aku masih belum bisa menemukan Tino.

Kurasa Tino tidak pulang ke kosan semalam.

Pukul sembilan pagi, seorang perempuan datang ke Kosan Hamid. Dia tampak mahal. Gaunnya bermerek. Warnanya mencolok. Sebuah tas berwarna kontras menggantung dari bahunya. Makeup-nya lumayan berat, padahal aku yakin dia bisa tampil cantik tanpa perlu makeup setebal itu.

Perempuan itu keturunan Tionghoa. Badannya tinggi, ramping, dengan rambut bergelombang yang terlihat dirawat mahal di salon kecantikan. Dia bisa ikutan Miss Indonesia kapan pun dia mau. Mungkin memenangkan kompetisinya juga.

Aku melihatnya melewati depan kamarku saat aku sedang membereskan kamar dan sengaja membuka pintu lebar-lebar demi menunggu Tino. Aku tahu Tino mengendarai motornya untuk pergi interview kemarin, sehingga dia akan parkir motornya di bagian lain gedung, lalu dia akan menggunakan lorong ini menuju kamarnya. Dia tidak akan menggunakan tangga di samping kamarnya, kecuali dia menggunakan mobilku dan parkir di area belakang. Nah, saat kulihat perempuan itu berjalan percaya diri di lorong, seakan-akan tahu mau ke mana, aku langsung berhenti menyapu.

Aku tak pernah melihat perempuan itu sebelumnya.

Aku meluncur ke pintu dan melihat perempuan itu berhenti di depan kamar Tino.

Dia mengetuknya dengan tidak sabar. “CHRIS?!” TOK! TOK! TOK! “Chris?! BUKA!” Dia juga mencoba membuka kenopnya, tetapi pintu tak dapat terbuka.

Chris?

Perempuan itu tahu nama kecil Tino.

Personal trainer itu tak pernah bercerita secara detail kepadaku, tetapi aku tahu nama depannya, secara lengkap, adalah Christiano. Ada nama Chinese, kalau tidak salah Chen, di bagian tengahnya. Lalu ada nama keluarganya yang tak pernah di-reveal kepadaku. Namun, sejak awal, kalau aku memanggil Chris, Tino terlihat marah.

Aku tahu, banyak perempuan main ke kosan Tino. Most of the time untuk ngewe bersama Tino. At least sebelum kejadian bersama Lidya itu terjadi. Namun, tak ada satu pun dari perempuan itu yang akan memanggilnya Chris.

Aku menghampiri perempuan itu. “Kayaknya orangnya enggak ada di kamar, Mbak.”

Perempuan itu menoleh dengan dramatis. Napasnya memburu marah. “Ke mana orangnya?”

Aku mengangkat bahu. “Dari semalam enggak pulang,” jawabku.

“Tapi dia masih ngekos di sini, kan?!”

“Christiano?”

“Ya!” Dia menjawabku dengan agak menyentak.

“Masih, Mbak. Masih di situ. Lagi enggak ada aja—”

“Jam berapa dia pulangnya?” sergah perempuan itu sembari membetulkan tas di bahu, diikuti dengan melipat tangan di depan dada. Dia juga berbalik menghadapku dengan galak. Seolah-olah ini semua kesalahanku karena Tino enggak ada di kosannya.

Aku mengangkat bahu lagi. “Kurang … tahu?”

“Coba kamu WhatsApp!” titahnya.

“Sudah. Belum dibalas.”

Dan itu aku jujur ya, Gays. Sudah ku-WhatsApp dari semalam, tapi memang belum dibalas oleh Tino sampai pagi ini. Dan aku enggak mau “berlebihan” mengkhawatirkan Tino. He was fine, kok kemaren sewaktu memilih celana buat interview. Dia juga memutuskan meminjam salah satu celanaku yang stretchy untuk interview. Aku sudah mentransfernya uang yang dipinjam, dan dia sudah membalas, “Thanks,” lewat Whatsapp. Baru setelahnya dia enggak ada kabar lagi.

Perempuan itu mendengus. Dia berpikir keras.

“Oke,” katanya. Lalu, dia berjalan melewatiku dan keluar dari kosan.


[ … ]


Perempuan itu kembali lagi sekitar pukul dua siang. Pada saat itu, Tino juga baru pulang. Bedanya kira-kira lima menit saja. Tino tidak lewat depan kosanku, tapi aku mendengar Tino membuka pintu kamarnya. Jadi, aku melompat dari tempat tidur lalu menghambur keluar kamar.

Benar, Tino sedang membuka kunci kamar. Dia menoleh melihatku yang muncul begitu saja.

“Hey, Bro!” sapanya. Tersenyum lebar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Memang kayaknya dia baik-baik aja. Kayak habis mandi, malah. Dia enggak kelihatan habis dirampok atau gimana.

“Kok baru pulang, sih?” sergahku sembari berjalan menghampirinya.

Tino membuka pintu kamar lebar-lebar, lalu melempar tasnya ke atas meja. Aku berdiri di ambang pintu, mengamatinya melepas kemeja, menguak badan kekar yang seksi, lalu melempar kemejanya sembarangan juga. “Gue ketemu temen lama. Dia ngajak main, kita minum-minum, terus gue mabok … yah … gue nginep kosan dia. Cowok, kok. Straight juga. Lo tenang aja.”

“Terus kenapa Abang enggak ngabarin?!”

Wasted, Bro. Mana kepikiran gue buat WhatsApp elo.” Sepanjang menjelaskan semua itu, Tino enggak berani menatap mataku. Aku mencium adanya kebohongan dengan cerita itu.

Misalnya, Tino tampak segar bugar. Enggak ada tampang hangover atau gimana.

Tapi aku enggak akan mendesaknya terlalu jauh. “Tadi ada perempuan datang ke sini,” laporku. “Dia nyari Abang dan dia ….”

Kata-kataku terhenti karena di lorong kosan terdengar suara kelotak sepatu berhak tinggi yang menggema tergesa-gesa. Aku menoleh dan melihat perempuan itu sudah datang lagi ke tempat ini. Dia berjalan lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Wajahnya tampak marah.

Aku benar-benar enggak bisa melanjutkan kata-kataku karena perempuan itu langsung mengambil alih “scene” Tino. Dia menghambur masuk ke kamar Tino tanpa permisi, lalu berdiri di tengah ruangan, menghadap Tino yang setengah telanjang, hampir membuka celana panjangnya.

“Chris?” sapanya, agak menyentak.

Tino menelan ludah. Dia menatap perempuan itu dengan tatapan tajam, seperti ikutan marah, tetapi Tino tak bisa berbuat apa-apa. Tino mengambil napas panjang, kemudian dia menoleh ke arahku. Yang Tino lakukan berikutnya adalah ….

… menghampiri pintu, lalu menutupnya.

Tino mengunci pintu. Di depan wajahku.

Dan setelahnya, aku bisa mendengar perempuan itu marah-marah.

“Jadi ini yang kamu lakukan buat keluargamu, hah?! Bikin malu keluargamu sendiri?!”

Aku membelalak terkejut mendengar itu. Aku membeku di depan pintu, mendengar omelan-omelan menyakitkan hati dari perempuan itu. Kutempelkan telingaku ke pintu, sehingga aku bisa mendengar pertengkaran di dalam kamar dengan lebih jelas.

Aku tak bisa menyampaikan semua yang kudengar kepadamu, karena kadang-kadang suara perempuan itu enggak begitu jelas. Yang pasti dia marah-marah sepanjang berada di dalam. Bahkan, ada suara gaduh seperti sesuatu yang terjatuh, atau mungkin Tino dipukul benda tumpul. Entahlah. Aku enggak bisa mengintip dari jendela karena tirainya masih tertutup.

Perseteruan itu terjadi selama hampir sepuluh menit dan aku menguping di luar pintu dengan perasaan cemas. Kedengarannya, Tino tak diberikan kesempatan untuk bicara sama sekali. Yang kudengar cuma suara perempuan itu saja yang mengoceh.

Tahu-tahu, suara kunci pintu diputar terdengar.

Aku melompat mundur, hampir terjengkang ke bawah dari pagar lorong.

Perempuan itu membuka pintu kamar Tino dengan kasar, lalu membantingnya ke dinding. BRAK!

“Dan ini semua salahmu!” katanya tajam, sambil menunjuk Tino di dalam. “Kalau terjadi apa-apa sama Apoh, ini semua salahmu! PAHAM?!”

Perempuan itu pun menghambur keluar dengan emosi. Dia mengabaikanku yang masih ada di depan pintu. Dia menjejakkan kakinya di lorong seperti model-model di New York Fashion Week. Seperti kuda yang berjalan bangga. Dia berbelok di pertigaan pertama. Lalu menghilang.

Dengan tenang aku mencoba mengintip ke dalam kamar Tino. Kamar itu berantakan. Seakan-akan, perempuan tadi sengaja menjatuhkan setiap barang yang ada di atas meja ke atas lantai. Ada gelas yang pecah. Ada lampu lahar yang pernah kuberikan dulu untuk Tino, pecah juga di atas lantai.

Lalu Tino ada di mana?

Tino duduk di atas tempat tidurnya. Tampak berantakan. Basah, seperti habis disiram. Dan ada bekas luka sayatan di lengannya. Beberapa bagian tubuhnya, seperti pipi atau dadanya, kemerahan. Seolah-olah baru saja ditonjok dengan kuat.

Aku membelalak sambil menutup mukaku. Aku melompat masuk, tetapi Tino langsung mengangkat tangannya. Dia menunduk tanpa menatapku.

Tino berkata, “Gue mau sendiri dulu, Bro,” katanya, dengan suara lirih.

“Tapi—”

Please,” tegas Tino. Napasnya memburu. “Gue butuh waktu sendiri. Jangan ganggu gue dulu.”

“Gue bantu beresin ya? Gimana? Enggak akan gue tanya-tanya soal—”

“Enggak usah. Thanks,” jawab Tino, tetap tanpa mengangkat kepalanya. Tanpa menatap ke wajahku. Tino menunduk, seakan-akan menyembunyikan air mata di wajahnya. “Gue … gue mau sendirian dulu.”

Aku hampir tak bisa menerimanya, tetapi aku ….

… aku enggak bisa seenaknya memaksakan kehendakku.

Aku belum dapat informasi apa-apa soal siapa perempuan tadi dan apa yang sebenarnya terjadi di kamar ini. Dengan langkah berat aku keluar dari kamar Tino, menutupnya ….

… dan tidak bertemu Tino hingga beberapa hari berikutnya.


[ ... ]


Part 14 (Bag. A) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 15 (Bag. A)

Komentar

Posting Komentar