Berkali-kali Rama membaca isi grup Cari Saga, dia tak menemukan argumen-argumen dewasa, intelektual, maupun berintensi baik. Setengah dari grup itu tidak peduli pada objektif grup, yaitu mencari Saga agar Saga bertanggung jawab dengan anaknya bersama Hesti. Setengah dari grup itu hanya peduli pada fakta bahwa Saga tukang ngewe, Saga ngehamilin Hesti, Saga punya anak, entah berapa cewek yang sudah dihamili Saga, entah berapa anak yang sudah ditelantarkan Saga, lalu Saga kabur ke Bali untuk ngewe lebih banyak perempuan, lalu Rama gay, Saga akhirnya ngewe Rama saja karena Rama enggak akan hamil.
Rama tidak tahu berapa persen dari kesimpulan sepihak itu yang
sebenarnya tepat. Bagian Rama gay sih tepat. Tapi bagian Saga ngewe
Rama jelas salah total. Apalagi ngewe supaya enggak hamil. Obrolan grup
itu kekanakan dan hanya berupa gunjingan tak berarti saja. Setiap orang
berlomba untuk menjadi lambe turah atau netizen +62 yang tersohor dengan
keahlian menggali info pribadi seseorang lalu men-doxing-nya.
Orang-orang dalam grup itu tak punya harapan. Sedikit dari
mereka tak melanjutkan kuliah karena tak ada biaya. Alih-alih bekerja untuk
menabung agar bisa kuliah tahun depan, mereka memilih menghibur diri
mengolok-olok kehidupan Rama dan Saga. Yang kuliah pun kayaknya enggak punya
integritas yang baik. Argumen-argumen dibuat untuk merasa hebat, bukan karena
isinya yang hebat. Narasi disusun agar mereka terkesan suci, seolah-olah tak
pernah melakukan dosa apa pun.
Semua sama saja. Termasuk member grup yang “netral” tetapi tak
melakukan apa-apa untuk mengonfrontasi semua argumen tak berdasar.
Sebagai orang yang berintelektual tinggi, Rama merasa
energinya tak pantas untuk dihabiskan menjelaskan diri kepada mereka. Pembelaan
apa pun yang Rama katakan, mereka sudah punya kesimpulan sendiri dan tak akan
pernah tertarik pada rumor yang dibantah. Yang bisa Rama lakukan adalah
menyelamatkan dirinya di depan orang yang betulan ada di hidupnya saat ini dan
untuk beberapa waktu ke depan. Rekan-rekan mahasiswanya di sini,
dosen-dosennya, keluarganya, dan tentu kekasihnya.
Indah.
Kepada merekalah Rama perlu melakukan damage control.
Kepada pihak yang terimbas dan tak tahu apa-apa, bukan kepada pihak yang secara
aktif ingin Rama hancur.
Subuh itu Rama menoleh ke arah Saga yang masih berbaring
memunggunginya di sebelah. Rama tak mendengar Saga mendengkur. Mungkin Saga
tidak tidur. Mungkin Saga juga terjaga. Mungkin dia terjaga karena takut diperkosa
Rama. Sebuah pemikiran yang membuat Rama sakit hati kalau benar begitu adanya.
Bahwa Rama disetarakan dengan stereotipe lelaki gay di kalangan
homofobik: tukang merkosa.
Sayangnya Rama tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin memang Rama
tukang merkosa. Malam pertama Saga di sini saja Rama memainkan puting Saga.
Ribuan gay di luar sana akan melakukan hal yang sama tanpa menyadari
bahwa memainkan tubuh seseorang ketika orangnya tidur sama dengan memerkosa.
Dan Rama secara teknis menjadi bagian dari homo-homo bejat ini.
Memalukan.
Rama diam selama setengah jam dalam posisi yang sama. Merasa
hampa dan kosong, tetapi pelan-pelan mengambil kendali atas tubuhnya lagi. Dia
menarik napas panjang, menenangkan diri, menatap kegelapan kamar dengan
pandangan kosong. Kemudian, saat dirinya sudah cukup kuat, Rama membuka pesan
dari Indah.
Ada tiga missed call dari Indah disertai sembilan belas
pesan WhatsApp.
Yang
Ada yg hub aku katanya temen sma mu
Dia ngedm
Trus WA
Namanya thias
Kamu kenal?
Lalu, terdapat jeda sekitar setengah jam dari pesan tersebut
ke pesan berikutnya. Seluruh pesan ini terjadi pukul 1 dini hari. Ketika Rama
menangis dalam sunyi.
Knp ya si thias ini mendadak gosipin kmu
sama saga pacaran? Wkwkwk
Dia kirim foto kmu naik motor nanyain bener
ga ini kalian. Aku jwb iya karena aku kan ngeliat klian boncengan d batubolong.
Trus apanya yg pacaran? Kmu aja otwnya ke
aku, trus kita pacaran seharian
Trus dia cerita soal saga ini problematic,
hamilin anak org, trus skrg main sama kamu biar ga hamil.
Sumpah aku gapaham maksudnya. Sampe dia SS
in following kmu. Kekeh bgt kmu gei.
Kurang ajar bgt dia smp nyuruh ngecek kmu
ngaceng atau ga pas main sama aku.
Itu kan privacy ya. Klo bener ini temen
kmu, ko bisa punya tmen begini sih?
Ada jeda kira-kira setengah jam lagi. Jam sudah menunjukkan
pukul dua dini hari WITA.
Yang?
Kmu udh tidur ya?
Yang!
Ini ganggu bgt si thias!
[Foto Rama dan Saga di motor, tapi sudah di-generate
dengan AI agar mereka berciuman. Di situ, sambil mengendarai motor, Saga
menoleh ke belakang dan mencium bibir Rama. Rama mengalungkan satu tangannya
melewati pundak Saga, seolah-olah memeluk mesra dari belakang. Tapi dua tangan
yang memeluk pinggang masih ada—jadi tangan Rama ada tiga di foto itu.
Jelas-jelas AI.]
Yang! Ini maksudnya apa sih?
Rama menghela napas panjang setelah membaca semua pesan Indah.
Ternyata tak seburuk yang dipikirkannya. Hal pertama yang Rama gumamkan pelan
di kamar itu, meluncur dari mulutnya sendiri adalah ....
“Dasar boti.”
Yang namanya Thias itu boti. Rama yakin sekali. Jenis boti
munafik yang sok jantan dan straight tapi jalannya masih megal-megol. Sebagai
gay terselubung, Rama tahu persis apa yang akan dilakukan seorang gay
agar dianggap straight. Thias juga melakukannya. Sayangnya, Thias
menjadi boti muna dengan kadar ekstrem, yang untuk menutupi identitasnya
dia bergaul dengan cowok-cowok DKM masjid. Mengenakan celana ngatung,
memelihara jenggot, menghitamkan jidat, dan rajin salat berjamaah. Soalnya tipe
cowok yang begitu, sengondek apa pun, orang-orang enggak akan menganggap gay.
Thias enggak pernah kelihatan pacaran dengan cewek. Tapi
alasan utamanya tentu karena agama. Thias juga enggak pernah kelihatan main
bola di lapangan sekolah. Alasannya tentu karena mau salat dan mengaji di
masjid. Dia bahkan menolak menginap dan begadang bareng teman-teman sekolah
menonton Euro Cup, alasannya mau salat tahajud jadi perlu tidur. Hal-hal macam
itu dilakukan Rama karena Rama setangguh itu berakting sebagai lelaki straight.
Sekarang beban Rama mulai berkurang sedikit. Salah satu
kontributor kekacauan ini ternyata boti muna yang satu kelas dengan Rama
di SMA. Yang Rama yakini menyukai Saga. Soalnya kalau Saga sedang sendirian di
mejanya di kelas, Thias suka tiba-tiba duduk di depannya, mengajak ngobrol.
Seperti orang yang pedekate. Rama tahu itu, karena di seberang ruangan ada Rama
yang sedang naksir Saga dari jauh. Tiap kali Rama melihat Thias mepet-mepet ke
Saga, Rama hanya memutar bola mata.
Thias ini licik. Dia ada di grup Cari Saga, tetapi tidak aktif
bergunjing. Dia hanya muncul sekali dua kali, berkata, “Masa sih Rama gay?
Subhanallah ...,” lalu setelah itu menghilang.
Mungkin dia menghilang karena sedang kepo mengulik siapa
ceweknya Rama, lalu men-DM ceweknya Rama untuk dapatin info secara langsung.
Saking liciknya, dia tidak men-share DM-nya dengan
Indah ke grup. Dia share ke member grup lain, yang langsung mem-forward-nya
ke grup. Rama enggak ngeh bahwa semua SS obrolan seseorang dengan Indah itu forwarded—dirinya
terlanjur panik dengan gambar SS itu.
“Ini cuma ulah si bothias,” gumam Rama sambil menghela napas
panjang. Rama menoleh ke arah Saga yang masih memunggunginya. Dia tak tahu
apakah Saga mendengar gumaman itu atau tidak. Namun, Rama tahu apa yang akan
dilakukannya saat ini.
Melakukan damage control ke orang-orang terdekatnya
terlebih dahulu.
Saat itu juga, Rama turun dari tempat tidur, mencuci mukanya,
mengganti pakaian, lalu melaju dengan mobilnya sebelum matahari terbit, menuju
kosan Indah.
[ ... ]
“Sorry ganggu,” sapa Rama ketika Indah membuka pintu.
Indah sedang mengenakan piama satin favoritnya, kemeja dan
celana panjang merah marun yang terlihat mengilap. Rambutnya berantakan. Dia
menempelkan kepalanya ke kusen dengan mata setengah tertutup. “Aku baru bisa
tiduuurrr ....”
“Maaf, Sayang,” bisik Rama sambil mendekap Indah dan mengecup
keningnya. “Aku tahu kamu keganggu sama si Thias. Aku juga. Aku langsung tidur
habis dari kamu, jadi aku baru baca semuanya barusan. Sorry for the chaos.”
“Ganggu banget si Thiaaasss ....” Indah menyandarkan tubuhnya
ke Rama. Kepalanya direbahkan di dada Rama, lalu menutup matanya lagi karena
lelah.
Rama menutup pintu kamar Indah, lalu membawa Indah kembali ke
tempat tidurnya. Rama menyeret Indah seperti berdansa. Sesampainya di tepi
tempat tidur, dia memosisikan Indah agar berbaring nyaman sementara Rama duduk
bersandar ke dinding. Tangannya menggenggam tangan Indah, meremasnya erat.
Alih-alih lanjut tidur, Indah malah menarik napas panjang dan
membuka matanya. Dia menatap Rama selama beberapa menit dalam kesunyian kamar,
mengamati cowoknya itu terlihat lelah padahal katanya langsung tidur sejak
pulang dari kosan Indah. Makin lama menatap Rama, makin hilang kantuk Indah.
“Jadi sebenarnya gimana?” tanya Indah. Dia menggeser tubuhnya
agar bisa memeluk tungkai Rama.
Mahasiswa kedokteran itu hanya tersenyum lemas sambil menoleh
ke arah Indah. Satu tangan Rama mengusap-usap kepala Indah. “Aku bohong soal
Saga minta bantuan ngerjain tugas.”
“I know,” sergah Indah tiba-tiba. Namun, Indah
tersenyum kecil. “Jelas-jelas dia bukan anak FK, dan dia aktif tanding basket.
Pasti ada hal lain.”
“Ada.” Rama manggut-manggut kecil. “Dia mau curhat, jadi dia
jemput aku ke kosannya.”
“Itu lebih masuk akal.”
“Sorry aku enggak jujur soal itu. Soalnya ini kan
rahasia. Meskipun kamu cewekku, bukan berarti aku harus ceritain semua yang
Saga ceritain ke aku.”
“Soal dia ngehamilin Lesti?”
“Hesti,” ralat Rama. “Iya. Soal itu. Soal dia dicari-cari
anak-anak SMA juga benar. Makanya dia reach out ke aku—satu-satunya
teman SMA dia yang juga ada di Bali—buat minta bantuan. Tapi maaf aku enggak
bisa ngebeberin semuanya ke kamu. It’s a promise I made with him.”
Reus, batin Rama. Aktingnya meyakinkan sekali,
bahkan dengan rapi Rama membangun skenario tersebut.
Indah terkelabui. Indah manggut-manggut paham, meskipun
dirinya kepo. “Dengan track record-nya main sana sini—main sama si Tita
juga—enggak heran kalau dia pernah ngehamilin anak orang. Kata si Thias itu,
anaknya ada, tapi ditinggalin si Saga. Itu benar?”
“Itu aku enggak bisa bahas, Yang. Maaf.”
Wajah Indah terlihat kecewa.
“Tapi kalau kamu kepo, yaaa .... Kamu sendiri kan yang bilang
si Saga itu mokondo? Dia enggak modal. Dia cuma mau mainin cewek. Dia cuma jual
gantengnya. Cuma jual ‘keras’-nya.”
“For the record aku enggak pernah lho yaaa main sama
Saga!” sergah Indah tiba-tiba sambil mengacungkan jari telunjuknya ke depan
wajah Rama. “Iya menurutku dia seksi, dia ganteng, dia bikin dag dig dug
saking gantengnya, tapi aku enggak pernah lhooo yaaa main sama dia! Aku tahu
dia ‘keras’ pun dari si Tita! Bukan aku megang tititnya pake tanganku.”
“I know, Yang.”
Malah aku yang udah megang titit keras itu,
Yang, lanjut Rama
dalam hati. Aku udah nyepong titit itu sampe crot di mulutku.
Aku udah nge-rimming bool Saga. Ngisap tetek Saga. Ndusel di ketek Saga.
Mainin titit keras Saga di motor sampai crot dalam celana.
Bahkan, di titik ini, kalau Indah memang pernah mainin kontol
Saga, Rama enggak akan cemburu. Sungguh. Rama malah bangga karena lelaki yang
dicintainya selama ini bisa bikin Indah kesengsem dengan kekerasan kontol itu.
“Terus kenapa orang-orang nuduh kamu gay?”
“Itu cuma cara mereka narik perhatian kamu,” jawab Rama,
lagi-lagi berakting sesuai skenario seorang patological liar. “Soalnya
aku dianggap melindungi Saga. Aku enggak ngasih info Saga ada di mana, kosannya
di mana. Aku enggak bantu mereka ketemuin Saga sama Hesti.”
“Yang namanya Thias itu, keukeuh banget bahas soal kamu
gay. Itu sih yang aku enggak paham. Maksudnya, mau nyari Saga atau mau
bikin pacarku gay, hm?”
“Si Thias itu boti,” ungkap Rama segera. “Dia suka
Saga.”
“Hm, masuk akal. Soalnya ... bentar ....” Indah mengambil dulu
ponselnya dan membuka Instagram, membacakan chat Indah dengan Thias
beberapa jam lalu. “Nih ..., dia bilang, dia yakin kamu gay, dan kamu
suka Saga dari SMA ....”
“Hahaha ....” Rama mencoba tertawa ringan, meski hatinya
deg-degan.
“Dia bilang, kamu sering ngelihatin Saga, sering beda
perlakuannya ke Saga, kalimatnya juga beda ke Saga. Kadang kamu sering bela
Saga. Kalau Saga enggak ngerjain PR, kamu bolehin Saga nyontek jawabanmu,
padahal ke anak yang lain kamu pelit.”
“Itu semua kelakuannya Thias ke Saga, Yang! Hahaha ....
Sepanjang SMA aku enggak dekat sama Saga. Duduknya aja jauh. Kalau Thias sih cuma
beda dua meja dari Saga. Jadi kalau Saga enggak ngerjain PR, atau kita lagi
ujian, Thias bantuin Saga terus sampe lulus.”
Semua yang dikatakan Thias benar, sih. Tapi Indah tak perlu
tahu kebenarannya.
“Kamu ke Bali karena mau ngejar Saga,” lanjut Indah, membaca statement
Thias yang lain.
“Aku sudah keterima SNBP di FK ini dari bulan Maret, Yang,”
sergah Rama segera, menyebutkan fakta yang tampaknya banyak orang lupa. “Aku
sudah tahu aku bakal kuliah di Bali sebelum aku lulus SMA. Aku sudah diterima
di sini sebelum Saga lulus dan ikutan tes SNBT di kampusnya dia. Masa iya aku ngejar
Saga ke Bali tapi Saganya aja belum tahu bakal ke Bali atau enggak?”
“Aku cuma bacain aja, ih! Kok, kamu defensif dan sewot?!”
Indah memukul paha Rama. “Aku juga enggak bego, kali. Masa iya mau ngejar Saga
ke Bali tapi kamu beda kampus? Beda kampusnya masuk ke FK pula. Niat banget.
Gimana mau ngejar Saga kalau kamunya aja sibuk sama kuliahmu itu. Pacaran aja
enggak bisa tiap hari.”
“See?” Rama hanya mengangkat kedua alisnya.
“Kalau aku mau ngejar Saga, ya ..., aku bakal satu kampus sama
dia, kalau bisa satu fakultas. Atau satu jurusan sekalian, biar bisa sekelas.
Terus aku bakal satu kosan sama dia, supaya bisa berangkat ke kampus bareng.
Terus aku—HMMMPH!”
Kata-kata Indah terputus karena Rama langsung mencubit bibir
Indah dan menggoyang kepala ceweknya itu. “We’re not talking about your
fantasy. Apa lagi yang si Thias bilang di situ?”
Indah menggulir lagi pembicaraannya bersama Thias. Kemudian,
Indah mengangkat bahu. “Enggak penting semua, sih. Enggak masuk akal juga. Aku
rasa dia cuma pengin jatuhin kamu aja.”
“Memang iya.”
“Tapi kenapa bisa begitu?” tanya Indah. Dia meletakkan ponsel,
lalu melipat tangan menatap kekasihnya. “Kenapa tiba-tiba banyak orang pengin
jatuhin kamu? Sampe-sampe ngefoto kamu lagi boncengan sama Saga, terus dibahas
di grup, terus semua orang di grup itu kayaknya senang dengar kamu gay—aku
di-SS-in juga grup Cari Saga itu.”
Rama belum kepikiran kelitan apa yang bisa dia sampaikan untuk
mengubah narasi. Yang pertama muncul dalam kepalanya adalah Vina. Soalnya Vina
yang memotret Rama dan Saga, lalu membuat narasi ke sana kemari di dalam grup
hingga masalahnya melebar begini.
“Mantanku lagi di sini. Dia yang motret aku sama Saga,” ungkap
Rama.
Indah memelotot. “Mantan yang mana?”
“Si Vina. Satu kelas sama aku sama Saga pas kelas XII.”
“Dari mana kamu tahu dia di sini?”
“Ya karena dia ngajakin ketemu, lah. Tapi aku tolak. Terus
enggak sengaja dia ngelihat aku sama Saga, dia potret, dia bikin narasi
macam-macam.”
“But why?”
“Karena dia ....” Rama menelan ludah, mencari karangan cerita,
“dia masih sayang sama aku. Dia enggak suka aku pindah ke Bali. Terus dia benci
Saga, padahal Saga suka sama dia. Pas tahu Saga ngehamilin Hesti, dia puas
banget. Di lain sisi, aku sama Saga enggak dekat tuh karena Saga sebel aku
pacaran sama Vina—padahal cuma enam bulan, lah. Kita tuh jarang nyapa.
Sama-sama tahu ada di Bali tapi enggak kontakan. Makanya pas nonton basket tuh
aku biasa aja, Yang. Ngapain juga heboh?
“Nah, pas curhat kemarin, Saga ngaku cinta mati sama Vina. Sampe
jorok lah obrolannya. Coli ngebayangin si Vina. Terus nanya-nanya ke
aku, pas aku ‘main’ sama Vina, itu gimana ....”
“Terus kamu cerita?!” todong Indah bete.
“Ya iyalah. Sesama cowok pasti terbuka.”
“Jadi kamu ngebahas soal mantanmu sama sobatmu, hah? Ngebahas
bagian-bagian intimnya?!”
“Karena topiknya itu, Yang! Ya masa aku tiba-tiba bahas ‘main’
sama kamu?!”
Indah terdiam sebentar. Ekspresi wajahnya seakan-akan ingin
berkata, “Kalau dibahas sama Saga sih gapapa,” tetapi Indah pada akhirnya tak
mengatakan apa-apa. Dia hanya berkata, “Terus?”
“Ya udah, intinya begitu. Vina sebel aku main sama Saga. Diajak
ketemuan ditolak, tapi sama Saga malah boncengan—kayak yang pelukan pula.
Padahal itu karena dia ngebut aja. Jadi aku pegangan ke badannya. Si Vina
orangnya kompor. Masalah Saga jadi gede juga gara-gara si Vina. Harusnya urusan
Hesti ini rahasia, sekarang sealmamater tahu.”
Biarlah Rama mengarang fitnahan ini. Toh Rama yakin Indah tak
mengenal Vina. Tak ada cewek yang sudi mengontak mantan dari cowoknya. Misal
Indah betulan ngontak pun, palingan buat ngasih tahu Vina supaya enggak
hubungin Rama lagi. Enggak akan sedetail karangan indah yang dibuat Rama
barusan.
“Tapi kenapa Vina enggak mau sama Saga?” tanya Indah
tiba-tiba, dengan nada yang menunjukkan seolah-olah cewek yang enggak mau sama
Saga sama dengan tolol.
Rama paham betul kalau Indah juga terjerat dalam pesona
Saga—toh Rama sudah terjerat oleh pesona Saga bertahun-tahun. Rama tidak
tersinggung dengan pertanyaan itu. Yang ada malah Rama mencoba
menjelek-jelekkan Saga, supaya Rama tidak punya saingan.
“Lah, orang kayak Saga mana ada tanggung jawabnya, Yang,”
balas Rama, kembali kreatif memfitnah orang. “Otak dia ada di tititnya. Lihat
cewek lewat, ngaceng. Begitu masuk ke ceweknya, tokcer bikin ceweknya
hamil, dianya kabur. Wajar kalau Vina enggak suka sama Saga.”
Indah sudah membuka mulut untuk merespons, tetapi mengatupkan
lagi bibirnya.
Rama menambah-nambah kejelekan soal Saga, yang tujuannya untuk
bikin Indah ilfeel. “Dia enggak pernah peduli sama orang lain. Temenmu
aja si Tita disuruh bayarin makan, itu karena dia enggak peduli. Dia seenaknya.
Dia cuma mau dibantu, tapi enggak mau bantuin. Dia suka sama Vina palingan
karena sange aja. Kalau dia coli diam-diam di kelas, sambil
lihatin Vina presentasi, that’s a possibility. Dia bukan cuma mokondo,
Yang. Dia memang sebatang kontol. Enggak ada value. Enggak ada masa
depan. Hidupnya problematic. Enggak bisa ngurus nafsunya sendiri. Suka
pake sabun orang dan seringkali tutupnya enggak ditutupin lagi ....”
“Hah? Sabun?”
“Intinya, enggak ada alasan seorang Vina, atau cewek mana pun,
merasa perlu nerima Saga di hidupnya. Saking hidup Saga itu enggak ada nilainya.”
Pagi itu, Rama berhasil meyakinkan Indah bahwa dirinya bukan gay—soalnya
ini bagian paling penting. Ya, Rama juga berhasil menjelek-jelekkan Saga supaya
Indah enggak sengebet itu membahas cinta sejati Rama sejak SMA. Tapi yang
penting, Indah berhasil dimanipulasi untuk tidak memercayai ucapan Thias maupun
SS dari grup WhatsApp Cari Saga itu. Tak ada bukti empirik bahwa Rama gay.
Indah pun sudah berkali-kali ngewe dengan Rama. Kontol Rama selalu ngaceng
saat masuk ke tubuh Indah. Rama tidak mengikuti Kpop, Rama aktif main bola,
rutinitas skincare Rama juga normal tidak berlebihan seperti layaknya
boti.
Rama dan Indah akhirnya tidur bersama, berpelukan, hingga
pukul 10 pagi. Begitu keduanya terbangun, mereka mencari sarapan di sekitar
Teuku Umar dan Rama pun pamit pulang. Tidak ada rencana pacaran hari itu,
soalnya Indah ada janji hang out sama teman kampusnya.
Rama, dalam kondisi baterai hampir habis, memutuskan untuk
tidak pulang ke kosan. Dia masih belum mau ketemu Saga. Jadi, Rama melaju ke
selatan Bali, ke area Pecatu (Uluwatu) untuk menenangkan diri. Dia duduk di
sebuah tebing tinggi, menghadap samudra lepas, memeluk lutut di atas pasir
pantai, membiarkan turis berlalu lalang, membiarkan panas matahari mencubit
kulitnya tanpa sunscreen. Rama hanya melamun saja. Tak melakukan
apa-apa.
Dari pukul 1 siang hingga pukul 5 sore.
Dirinya merasa lebih tenang setelah duduk melamun berjam-jam. Rama
pun pulang ke kosannya di area Teuku Umar Denpasar dengan perasaan lebih
terjaga. Dia tak tahu apa yang akan dikatakan ke Saga di kosan nanti. (Entah
Saga ada di kosan atau enggak—mungkin Saga sedang ngewe saat ini.) Misal
ada Saga, Rama merasa tak perlu lagi menuntutnya mendiskusikan soal kehebohan
grup itu.
Tidak ada solusi apa pun dari masalah ini selain move on
saja, jaga image dengan orang terdekat, biarkan tuduhan-tuduhan itu
menguap begitu saja ke udara. Rama tak perlu khawatir image lelaki straight-nya
hancur. Di grup itu ada Vina, silakan tanya ke Vina apakah Rama gay atau
enggak. Apakah kontol Rama ngaceng atau loyo waktu ngewe sama
Vina pas SMA. Kalau enggak salah di grup itu juga ada Emi, cewek pintar yang
pernah dipacari Rama selama tiga bulan. Rama pernah ngewe juga dengan
Emi—bahkan Ramalah yang mencicipi “keperawanan” Emi. Silakan tanya Emi apakah
Rama seorang gay atau bukan.
Let the history speak for itself.
Bukan melalui pembelaan mati-matian di grup sampah itu.
Rama juga sudah berencana untuk membalas satu per satu teman
SMA-nya yang menuntut penjelasan lebih lanjut. Rama sudah menyusun kata-kata
apa untuk disampaikan ke mereka. Sebuah jawaban yang tetap menolong image
Rama sebagai lelaki straight, tapi tidak kelihatan terlalu defensif atau
desperate. Sayangnya ponsel Rama mati total. Tidak di-charge
semalaman karena terlalu stres urusan grup itu.
Rama tiba di kosannya sebelum matahari tenggelam. Langit sudah
mulai gelap. Ketika dia tiba di dalam kosan, pintu sedikit terbuka. Keset dan
sandal Rama bergeser jauh, seolah-olah seseorang berada di depan pintu kosannya
beberapa waktu sebelumnya.
Rama masuk ke dalam kamar. Dia menemukan Saga sedang duduk di
kursi memainkan ponselnya. Satu tangan Saga di atas meja, meremas kuat-kuat
sebuah speaker Cina murahan yang pernah Rama lihat di koper Saga pada
awal-awal lelaki itu tinggal di sini.
“Hey ...,” sapanya hati-hati.
Saga langsung mendongak menatap Rama. Dia hanya mengenakan
celana jeans saja, atasnya telanjang dada. Dia duduk dengan gusar,
matanya berkaca-kaca. Ketika Saga mendongak melihat kedatangan Rama, sorot mata
Saga terlihat tajam.
Rama agak terkejut melihat ekspresi itu.
Karena Saga masih saja menatapnya, Rama pun mencoba
menghampiri Saga—siapa tahu Saga sudah bisa diajak bicara.
Saga bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menghampiri
Rama.
Lalu ....
BUUUKKK!
....
Dia menonjok wajah Rama hingga Rama terjungkal ke belakang,
menghantam jendela kamarnya.
“BANGSAAATTT ...!”
[ ... ]
Bersambung ...
Tidak ada voting di part ini.
Part 7 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 8.2
Komentar
Posting Komentar