(SKS) Part 8.1




Berkali-kali Rama membaca isi grup Cari Saga, dia tak menemukan argumen-argumen dewasa, intelektual, maupun berintensi baik. Setengah dari grup itu tidak peduli pada objektif grup, yaitu mencari Saga agar Saga bertanggung jawab dengan anaknya bersama Hesti. Setengah dari grup itu hanya peduli pada fakta bahwa Saga tukang ngewe, Saga ngehamilin Hesti, Saga punya anak, entah berapa cewek yang sudah dihamili Saga, entah berapa anak yang sudah ditelantarkan Saga, lalu Saga kabur ke Bali untuk ngewe lebih banyak perempuan, lalu Rama gay, Saga akhirnya ngewe Rama saja karena Rama enggak akan hamil.

Rama tidak tahu berapa persen dari kesimpulan sepihak itu yang sebenarnya tepat. Bagian Rama gay sih tepat. Tapi bagian Saga ngewe Rama jelas salah total. Apalagi ngewe supaya enggak hamil. Obrolan grup itu kekanakan dan hanya berupa gunjingan tak berarti saja. Setiap orang berlomba untuk menjadi lambe turah atau netizen +62 yang tersohor dengan keahlian menggali info pribadi seseorang lalu men-doxing-nya.

Orang-orang dalam grup itu tak punya harapan. Sedikit dari mereka tak melanjutkan kuliah karena tak ada biaya. Alih-alih bekerja untuk menabung agar bisa kuliah tahun depan, mereka memilih menghibur diri mengolok-olok kehidupan Rama dan Saga. Yang kuliah pun kayaknya enggak punya integritas yang baik. Argumen-argumen dibuat untuk merasa hebat, bukan karena isinya yang hebat. Narasi disusun agar mereka terkesan suci, seolah-olah tak pernah melakukan dosa apa pun.

Semua sama saja. Termasuk member grup yang “netral” tetapi tak melakukan apa-apa untuk mengonfrontasi semua argumen tak berdasar.

Sebagai orang yang berintelektual tinggi, Rama merasa energinya tak pantas untuk dihabiskan menjelaskan diri kepada mereka. Pembelaan apa pun yang Rama katakan, mereka sudah punya kesimpulan sendiri dan tak akan pernah tertarik pada rumor yang dibantah. Yang bisa Rama lakukan adalah menyelamatkan dirinya di depan orang yang betulan ada di hidupnya saat ini dan untuk beberapa waktu ke depan. Rekan-rekan mahasiswanya di sini, dosen-dosennya, keluarganya, dan tentu kekasihnya.

Indah.

Kepada merekalah Rama perlu melakukan damage control. Kepada pihak yang terimbas dan tak tahu apa-apa, bukan kepada pihak yang secara aktif ingin Rama hancur.

Subuh itu Rama menoleh ke arah Saga yang masih berbaring memunggunginya di sebelah. Rama tak mendengar Saga mendengkur. Mungkin Saga tidak tidur. Mungkin Saga juga terjaga. Mungkin dia terjaga karena takut diperkosa Rama. Sebuah pemikiran yang membuat Rama sakit hati kalau benar begitu adanya. Bahwa Rama disetarakan dengan stereotipe lelaki gay di kalangan homofobik: tukang merkosa.

Sayangnya Rama tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin memang Rama tukang merkosa. Malam pertama Saga di sini saja Rama memainkan puting Saga. Ribuan gay di luar sana akan melakukan hal yang sama tanpa menyadari bahwa memainkan tubuh seseorang ketika orangnya tidur sama dengan memerkosa. Dan Rama secara teknis menjadi bagian dari homo-homo bejat ini.

Memalukan.

Rama diam selama setengah jam dalam posisi yang sama. Merasa hampa dan kosong, tetapi pelan-pelan mengambil kendali atas tubuhnya lagi. Dia menarik napas panjang, menenangkan diri, menatap kegelapan kamar dengan pandangan kosong. Kemudian, saat dirinya sudah cukup kuat, Rama membuka pesan dari Indah.

Ada tiga missed call dari Indah disertai sembilan belas pesan WhatsApp.

Yang

Ada yg hub aku katanya temen sma mu

Dia ngedm

Trus WA

Namanya thias

Kamu kenal?

Lalu, terdapat jeda sekitar setengah jam dari pesan tersebut ke pesan berikutnya. Seluruh pesan ini terjadi pukul 1 dini hari. Ketika Rama menangis dalam sunyi.

Knp ya si thias ini mendadak gosipin kmu sama saga pacaran? Wkwkwk

Dia kirim foto kmu naik motor nanyain bener ga ini kalian. Aku jwb iya karena aku kan ngeliat klian boncengan d batubolong.

Trus apanya yg pacaran? Kmu aja otwnya ke aku, trus kita pacaran seharian

Trus dia cerita soal saga ini problematic, hamilin anak org, trus skrg main sama kamu biar ga hamil.

Sumpah aku gapaham maksudnya. Sampe dia SS in following kmu. Kekeh bgt kmu gei.

Kurang ajar bgt dia smp nyuruh ngecek kmu ngaceng atau ga pas main sama aku.

Itu kan privacy ya. Klo bener ini temen kmu, ko bisa punya tmen begini sih?

Ada jeda kira-kira setengah jam lagi. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari WITA.

Yang?

Kmu udh tidur ya?

Yang!

Ini ganggu bgt si thias!

[Foto Rama dan Saga di motor, tapi sudah di-generate dengan AI agar mereka berciuman. Di situ, sambil mengendarai motor, Saga menoleh ke belakang dan mencium bibir Rama. Rama mengalungkan satu tangannya melewati pundak Saga, seolah-olah memeluk mesra dari belakang. Tapi dua tangan yang memeluk pinggang masih ada—jadi tangan Rama ada tiga di foto itu. Jelas-jelas AI.]

Yang! Ini maksudnya apa sih?

Rama menghela napas panjang setelah membaca semua pesan Indah. Ternyata tak seburuk yang dipikirkannya. Hal pertama yang Rama gumamkan pelan di kamar itu, meluncur dari mulutnya sendiri adalah ....

“Dasar boti.”

Yang namanya Thias itu boti. Rama yakin sekali. Jenis boti munafik yang sok jantan dan straight tapi jalannya masih megal-megol. Sebagai gay terselubung, Rama tahu persis apa yang akan dilakukan seorang gay agar dianggap straight. Thias juga melakukannya. Sayangnya, Thias menjadi boti muna dengan kadar ekstrem, yang untuk menutupi identitasnya dia bergaul dengan cowok-cowok DKM masjid. Mengenakan celana ngatung, memelihara jenggot, menghitamkan jidat, dan rajin salat berjamaah. Soalnya tipe cowok yang begitu, sengondek apa pun, orang-orang enggak akan menganggap gay.

Thias enggak pernah kelihatan pacaran dengan cewek. Tapi alasan utamanya tentu karena agama. Thias juga enggak pernah kelihatan main bola di lapangan sekolah. Alasannya tentu karena mau salat dan mengaji di masjid. Dia bahkan menolak menginap dan begadang bareng teman-teman sekolah menonton Euro Cup, alasannya mau salat tahajud jadi perlu tidur. Hal-hal macam itu dilakukan Rama karena Rama setangguh itu berakting sebagai lelaki straight.

Sekarang beban Rama mulai berkurang sedikit. Salah satu kontributor kekacauan ini ternyata boti muna yang satu kelas dengan Rama di SMA. Yang Rama yakini menyukai Saga. Soalnya kalau Saga sedang sendirian di mejanya di kelas, Thias suka tiba-tiba duduk di depannya, mengajak ngobrol. Seperti orang yang pedekate. Rama tahu itu, karena di seberang ruangan ada Rama yang sedang naksir Saga dari jauh. Tiap kali Rama melihat Thias mepet-mepet ke Saga, Rama hanya memutar bola mata.

Thias ini licik. Dia ada di grup Cari Saga, tetapi tidak aktif bergunjing. Dia hanya muncul sekali dua kali, berkata, “Masa sih Rama gay? Subhanallah ...,” lalu setelah itu menghilang.

Mungkin dia menghilang karena sedang kepo mengulik siapa ceweknya Rama, lalu men-DM ceweknya Rama untuk dapatin info secara langsung.

Saking liciknya, dia tidak men-share DM-nya dengan Indah ke grup. Dia share ke member grup lain, yang langsung mem-forward-nya ke grup. Rama enggak ngeh bahwa semua SS obrolan seseorang dengan Indah itu forwarded—dirinya terlanjur panik dengan gambar SS itu.

“Ini cuma ulah si bothias,” gumam Rama sambil menghela napas panjang. Rama menoleh ke arah Saga yang masih memunggunginya. Dia tak tahu apakah Saga mendengar gumaman itu atau tidak. Namun, Rama tahu apa yang akan dilakukannya saat ini.

Melakukan damage control ke orang-orang terdekatnya terlebih dahulu.

Saat itu juga, Rama turun dari tempat tidur, mencuci mukanya, mengganti pakaian, lalu melaju dengan mobilnya sebelum matahari terbit, menuju kosan Indah.


[ ... ]


Sorry ganggu,” sapa Rama ketika Indah membuka pintu.

Indah sedang mengenakan piama satin favoritnya, kemeja dan celana panjang merah marun yang terlihat mengilap. Rambutnya berantakan. Dia menempelkan kepalanya ke kusen dengan mata setengah tertutup. “Aku baru bisa tiduuurrr ....”

“Maaf, Sayang,” bisik Rama sambil mendekap Indah dan mengecup keningnya. “Aku tahu kamu keganggu sama si Thias. Aku juga. Aku langsung tidur habis dari kamu, jadi aku baru baca semuanya barusan. Sorry for the chaos.”

“Ganggu banget si Thiaaasss ....” Indah menyandarkan tubuhnya ke Rama. Kepalanya direbahkan di dada Rama, lalu menutup matanya lagi karena lelah.

Rama menutup pintu kamar Indah, lalu membawa Indah kembali ke tempat tidurnya. Rama menyeret Indah seperti berdansa. Sesampainya di tepi tempat tidur, dia memosisikan Indah agar berbaring nyaman sementara Rama duduk bersandar ke dinding. Tangannya menggenggam tangan Indah, meremasnya erat.

Alih-alih lanjut tidur, Indah malah menarik napas panjang dan membuka matanya. Dia menatap Rama selama beberapa menit dalam kesunyian kamar, mengamati cowoknya itu terlihat lelah padahal katanya langsung tidur sejak pulang dari kosan Indah. Makin lama menatap Rama, makin hilang kantuk Indah.

“Jadi sebenarnya gimana?” tanya Indah. Dia menggeser tubuhnya agar bisa memeluk tungkai Rama.

Mahasiswa kedokteran itu hanya tersenyum lemas sambil menoleh ke arah Indah. Satu tangan Rama mengusap-usap kepala Indah. “Aku bohong soal Saga minta bantuan ngerjain tugas.”

I know,” sergah Indah tiba-tiba. Namun, Indah tersenyum kecil. “Jelas-jelas dia bukan anak FK, dan dia aktif tanding basket. Pasti ada hal lain.”

“Ada.” Rama manggut-manggut kecil. “Dia mau curhat, jadi dia jemput aku ke kosannya.”

“Itu lebih masuk akal.”

Sorry aku enggak jujur soal itu. Soalnya ini kan rahasia. Meskipun kamu cewekku, bukan berarti aku harus ceritain semua yang Saga ceritain ke aku.”

“Soal dia ngehamilin Lesti?”

“Hesti,” ralat Rama. “Iya. Soal itu. Soal dia dicari-cari anak-anak SMA juga benar. Makanya dia reach out ke aku—satu-satunya teman SMA dia yang juga ada di Bali—buat minta bantuan. Tapi maaf aku enggak bisa ngebeberin semuanya ke kamu. It’s a promise I made with him.”

Reus, batin Rama. Aktingnya meyakinkan sekali, bahkan dengan rapi Rama membangun skenario tersebut.

Indah terkelabui. Indah manggut-manggut paham, meskipun dirinya kepo. “Dengan track record-nya main sana sini—main sama si Tita juga—enggak heran kalau dia pernah ngehamilin anak orang. Kata si Thias itu, anaknya ada, tapi ditinggalin si Saga. Itu benar?”

“Itu aku enggak bisa bahas, Yang. Maaf.”

Wajah Indah terlihat kecewa.

“Tapi kalau kamu kepo, yaaa .... Kamu sendiri kan yang bilang si Saga itu mokondo? Dia enggak modal. Dia cuma mau mainin cewek. Dia cuma jual gantengnya. Cuma jual ‘keras’-nya.”

For the record aku enggak pernah lho yaaa main sama Saga!” sergah Indah tiba-tiba sambil mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Rama. “Iya menurutku dia seksi, dia ganteng, dia bikin dag dig dug saking gantengnya, tapi aku enggak pernah lhooo yaaa main sama dia! Aku tahu dia ‘keras’ pun dari si Tita! Bukan aku megang tititnya pake tanganku.”

I know, Yang.”

Malah aku yang udah megang titit keras itu, Yang, lanjut Rama dalam hati. Aku udah nyepong titit itu sampe crot di mulutku. Aku udah nge-rimming bool Saga. Ngisap tetek Saga. Ndusel di ketek Saga. Mainin titit keras Saga di motor sampai crot dalam celana.

Bahkan, di titik ini, kalau Indah memang pernah mainin kontol Saga, Rama enggak akan cemburu. Sungguh. Rama malah bangga karena lelaki yang dicintainya selama ini bisa bikin Indah kesengsem dengan kekerasan kontol itu.

“Terus kenapa orang-orang nuduh kamu gay?”

“Itu cuma cara mereka narik perhatian kamu,” jawab Rama, lagi-lagi berakting sesuai skenario seorang patological liar. “Soalnya aku dianggap melindungi Saga. Aku enggak ngasih info Saga ada di mana, kosannya di mana. Aku enggak bantu mereka ketemuin Saga sama Hesti.”

“Yang namanya Thias itu, keukeuh banget bahas soal kamu gay. Itu sih yang aku enggak paham. Maksudnya, mau nyari Saga atau mau bikin pacarku gay, hm?”

“Si Thias itu boti,” ungkap Rama segera. “Dia suka Saga.”

“Hm, masuk akal. Soalnya ... bentar ....” Indah mengambil dulu ponselnya dan membuka Instagram, membacakan chat Indah dengan Thias beberapa jam lalu. “Nih ..., dia bilang, dia yakin kamu gay, dan kamu suka Saga dari SMA ....”

“Hahaha ....” Rama mencoba tertawa ringan, meski hatinya deg-degan.

“Dia bilang, kamu sering ngelihatin Saga, sering beda perlakuannya ke Saga, kalimatnya juga beda ke Saga. Kadang kamu sering bela Saga. Kalau Saga enggak ngerjain PR, kamu bolehin Saga nyontek jawabanmu, padahal ke anak yang lain kamu pelit.”

“Itu semua kelakuannya Thias ke Saga, Yang! Hahaha .... Sepanjang SMA aku enggak dekat sama Saga. Duduknya aja jauh. Kalau Thias sih cuma beda dua meja dari Saga. Jadi kalau Saga enggak ngerjain PR, atau kita lagi ujian, Thias bantuin Saga terus sampe lulus.”

Semua yang dikatakan Thias benar, sih. Tapi Indah tak perlu tahu kebenarannya.

“Kamu ke Bali karena mau ngejar Saga,” lanjut Indah, membaca statement Thias yang lain.

“Aku sudah keterima SNBP di FK ini dari bulan Maret, Yang,” sergah Rama segera, menyebutkan fakta yang tampaknya banyak orang lupa. “Aku sudah tahu aku bakal kuliah di Bali sebelum aku lulus SMA. Aku sudah diterima di sini sebelum Saga lulus dan ikutan tes SNBT di kampusnya dia. Masa iya aku ngejar Saga ke Bali tapi Saganya aja belum tahu bakal ke Bali atau enggak?”

“Aku cuma bacain aja, ih! Kok, kamu defensif dan sewot?!” Indah memukul paha Rama. “Aku juga enggak bego, kali. Masa iya mau ngejar Saga ke Bali tapi kamu beda kampus? Beda kampusnya masuk ke FK pula. Niat banget. Gimana mau ngejar Saga kalau kamunya aja sibuk sama kuliahmu itu. Pacaran aja enggak bisa tiap hari.”

See?” Rama hanya mengangkat kedua alisnya.

“Kalau aku mau ngejar Saga, ya ..., aku bakal satu kampus sama dia, kalau bisa satu fakultas. Atau satu jurusan sekalian, biar bisa sekelas. Terus aku bakal satu kosan sama dia, supaya bisa berangkat ke kampus bareng. Terus aku—HMMMPH!

Kata-kata Indah terputus karena Rama langsung mencubit bibir Indah dan menggoyang kepala ceweknya itu. “We’re not talking about your fantasy. Apa lagi yang si Thias bilang di situ?”

Indah menggulir lagi pembicaraannya bersama Thias. Kemudian, Indah mengangkat bahu. “Enggak penting semua, sih. Enggak masuk akal juga. Aku rasa dia cuma pengin jatuhin kamu aja.”

“Memang iya.”

“Tapi kenapa bisa begitu?” tanya Indah. Dia meletakkan ponsel, lalu melipat tangan menatap kekasihnya. “Kenapa tiba-tiba banyak orang pengin jatuhin kamu? Sampe-sampe ngefoto kamu lagi boncengan sama Saga, terus dibahas di grup, terus semua orang di grup itu kayaknya senang dengar kamu gay—aku di-SS-in juga grup Cari Saga itu.”

Rama belum kepikiran kelitan apa yang bisa dia sampaikan untuk mengubah narasi. Yang pertama muncul dalam kepalanya adalah Vina. Soalnya Vina yang memotret Rama dan Saga, lalu membuat narasi ke sana kemari di dalam grup hingga masalahnya melebar begini.

“Mantanku lagi di sini. Dia yang motret aku sama Saga,” ungkap Rama.

Indah memelotot. “Mantan yang mana?”

“Si Vina. Satu kelas sama aku sama Saga pas kelas XII.”

“Dari mana kamu tahu dia di sini?”

“Ya karena dia ngajakin ketemu, lah. Tapi aku tolak. Terus enggak sengaja dia ngelihat aku sama Saga, dia potret, dia bikin narasi macam-macam.”

“But why?”

“Karena dia ....” Rama menelan ludah, mencari karangan cerita, “dia masih sayang sama aku. Dia enggak suka aku pindah ke Bali. Terus dia benci Saga, padahal Saga suka sama dia. Pas tahu Saga ngehamilin Hesti, dia puas banget. Di lain sisi, aku sama Saga enggak dekat tuh karena Saga sebel aku pacaran sama Vina—padahal cuma enam bulan, lah. Kita tuh jarang nyapa. Sama-sama tahu ada di Bali tapi enggak kontakan. Makanya pas nonton basket tuh aku biasa aja, Yang. Ngapain juga heboh?

“Nah, pas curhat kemarin, Saga ngaku cinta mati sama Vina. Sampe jorok lah obrolannya. Coli ngebayangin si Vina. Terus nanya-nanya ke aku, pas aku ‘main’ sama Vina, itu gimana ....”

“Terus kamu cerita?!” todong Indah bete.

“Ya iyalah. Sesama cowok pasti terbuka.”

“Jadi kamu ngebahas soal mantanmu sama sobatmu, hah? Ngebahas bagian-bagian intimnya?!”

“Karena topiknya itu, Yang! Ya masa aku tiba-tiba bahas ‘main’ sama kamu?!”

Indah terdiam sebentar. Ekspresi wajahnya seakan-akan ingin berkata, “Kalau dibahas sama Saga sih gapapa,” tetapi Indah pada akhirnya tak mengatakan apa-apa. Dia hanya berkata, “Terus?”

“Ya udah, intinya begitu. Vina sebel aku main sama Saga. Diajak ketemuan ditolak, tapi sama Saga malah boncengan—kayak yang pelukan pula. Padahal itu karena dia ngebut aja. Jadi aku pegangan ke badannya. Si Vina orangnya kompor. Masalah Saga jadi gede juga gara-gara si Vina. Harusnya urusan Hesti ini rahasia, sekarang sealmamater tahu.”

Biarlah Rama mengarang fitnahan ini. Toh Rama yakin Indah tak mengenal Vina. Tak ada cewek yang sudi mengontak mantan dari cowoknya. Misal Indah betulan ngontak pun, palingan buat ngasih tahu Vina supaya enggak hubungin Rama lagi. Enggak akan sedetail karangan indah yang dibuat Rama barusan.

“Tapi kenapa Vina enggak mau sama Saga?” tanya Indah tiba-tiba, dengan nada yang menunjukkan seolah-olah cewek yang enggak mau sama Saga sama dengan tolol.

Rama paham betul kalau Indah juga terjerat dalam pesona Saga—toh Rama sudah terjerat oleh pesona Saga bertahun-tahun. Rama tidak tersinggung dengan pertanyaan itu. Yang ada malah Rama mencoba menjelek-jelekkan Saga, supaya Rama tidak punya saingan.

“Lah, orang kayak Saga mana ada tanggung jawabnya, Yang,” balas Rama, kembali kreatif memfitnah orang. “Otak dia ada di tititnya. Lihat cewek lewat, ngaceng. Begitu masuk ke ceweknya, tokcer bikin ceweknya hamil, dianya kabur. Wajar kalau Vina enggak suka sama Saga.”

Indah sudah membuka mulut untuk merespons, tetapi mengatupkan lagi bibirnya.

Rama menambah-nambah kejelekan soal Saga, yang tujuannya untuk bikin Indah ilfeel. “Dia enggak pernah peduli sama orang lain. Temenmu aja si Tita disuruh bayarin makan, itu karena dia enggak peduli. Dia seenaknya. Dia cuma mau dibantu, tapi enggak mau bantuin. Dia suka sama Vina palingan karena sange aja. Kalau dia coli diam-diam di kelas, sambil lihatin Vina presentasi, that’s a possibility. Dia bukan cuma mokondo, Yang. Dia memang sebatang kontol. Enggak ada value. Enggak ada masa depan. Hidupnya problematic. Enggak bisa ngurus nafsunya sendiri. Suka pake sabun orang dan seringkali tutupnya enggak ditutupin lagi ....”

“Hah? Sabun?”

“Intinya, enggak ada alasan seorang Vina, atau cewek mana pun, merasa perlu nerima Saga di hidupnya. Saking hidup Saga itu enggak ada nilainya.”

Pagi itu, Rama berhasil meyakinkan Indah bahwa dirinya bukan gay—soalnya ini bagian paling penting. Ya, Rama juga berhasil menjelek-jelekkan Saga supaya Indah enggak sengebet itu membahas cinta sejati Rama sejak SMA. Tapi yang penting, Indah berhasil dimanipulasi untuk tidak memercayai ucapan Thias maupun SS dari grup WhatsApp Cari Saga itu. Tak ada bukti empirik bahwa Rama gay. Indah pun sudah berkali-kali ngewe dengan Rama. Kontol Rama selalu ngaceng saat masuk ke tubuh Indah. Rama tidak mengikuti Kpop, Rama aktif main bola, rutinitas skincare Rama juga normal tidak berlebihan seperti layaknya boti.

Rama dan Indah akhirnya tidur bersama, berpelukan, hingga pukul 10 pagi. Begitu keduanya terbangun, mereka mencari sarapan di sekitar Teuku Umar dan Rama pun pamit pulang. Tidak ada rencana pacaran hari itu, soalnya Indah ada janji hang out sama teman kampusnya.

Rama, dalam kondisi baterai hampir habis, memutuskan untuk tidak pulang ke kosan. Dia masih belum mau ketemu Saga. Jadi, Rama melaju ke selatan Bali, ke area Pecatu (Uluwatu) untuk menenangkan diri. Dia duduk di sebuah tebing tinggi, menghadap samudra lepas, memeluk lutut di atas pasir pantai, membiarkan turis berlalu lalang, membiarkan panas matahari mencubit kulitnya tanpa sunscreen. Rama hanya melamun saja. Tak melakukan apa-apa.

Dari pukul 1 siang hingga pukul 5 sore.

Dirinya merasa lebih tenang setelah duduk melamun berjam-jam. Rama pun pulang ke kosannya di area Teuku Umar Denpasar dengan perasaan lebih terjaga. Dia tak tahu apa yang akan dikatakan ke Saga di kosan nanti. (Entah Saga ada di kosan atau enggak—mungkin Saga sedang ngewe saat ini.) Misal ada Saga, Rama merasa tak perlu lagi menuntutnya mendiskusikan soal kehebohan grup itu.

Tidak ada solusi apa pun dari masalah ini selain move on saja, jaga image dengan orang terdekat, biarkan tuduhan-tuduhan itu menguap begitu saja ke udara. Rama tak perlu khawatir image lelaki straight-nya hancur. Di grup itu ada Vina, silakan tanya ke Vina apakah Rama gay atau enggak. Apakah kontol Rama ngaceng atau loyo waktu ngewe sama Vina pas SMA. Kalau enggak salah di grup itu juga ada Emi, cewek pintar yang pernah dipacari Rama selama tiga bulan. Rama pernah ngewe juga dengan Emi—bahkan Ramalah yang mencicipi “keperawanan” Emi. Silakan tanya Emi apakah Rama seorang gay atau bukan.

Let the history speak for itself.

Bukan melalui pembelaan mati-matian di grup sampah itu.

Rama juga sudah berencana untuk membalas satu per satu teman SMA-nya yang menuntut penjelasan lebih lanjut. Rama sudah menyusun kata-kata apa untuk disampaikan ke mereka. Sebuah jawaban yang tetap menolong image Rama sebagai lelaki straight, tapi tidak kelihatan terlalu defensif atau desperate. Sayangnya ponsel Rama mati total. Tidak di-charge semalaman karena terlalu stres urusan grup itu.

Rama tiba di kosannya sebelum matahari tenggelam. Langit sudah mulai gelap. Ketika dia tiba di dalam kosan, pintu sedikit terbuka. Keset dan sandal Rama bergeser jauh, seolah-olah seseorang berada di depan pintu kosannya beberapa waktu sebelumnya.

Rama masuk ke dalam kamar. Dia menemukan Saga sedang duduk di kursi memainkan ponselnya. Satu tangan Saga di atas meja, meremas kuat-kuat sebuah speaker Cina murahan yang pernah Rama lihat di koper Saga pada awal-awal lelaki itu tinggal di sini.

“Hey ...,” sapanya hati-hati.

Saga langsung mendongak menatap Rama. Dia hanya mengenakan celana jeans saja, atasnya telanjang dada. Dia duduk dengan gusar, matanya berkaca-kaca. Ketika Saga mendongak melihat kedatangan Rama, sorot mata Saga terlihat tajam.

Rama agak terkejut melihat ekspresi itu.

Karena Saga masih saja menatapnya, Rama pun mencoba menghampiri Saga—siapa tahu Saga sudah bisa diajak bicara.

Saga bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menghampiri Rama.

Lalu ....

BUUUKKK!

....

Dia menonjok wajah Rama hingga Rama terjungkal ke belakang, menghantam jendela kamarnya.

“BANGSAAATTT ...!”


[ ... ]

Bersambung ...

Tidak ada voting di part ini.


Part 7 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 8.2

Komentar