Dua puluh menit sebelum tonjokan melayang, kamar itu kedatangan tamu.
Namun, tamu-tamu itu datang karena dua jam sebelumnya sebuah
percakapan terjadi.
Hey. Betul ini Indah ceweknya Rama? Sorry
ganggu. Gw Vina, temannya Rama. Can we talk?
Sebuah DM dari Vina ke Indah. DM yang mengubah hidup Rama hari
itu.
Indah membalas dengan defensif, Aku tau kmu siapa. Mau talk
apa? Mau rebut pacarku ya? Masih belum move on ya?
Hah? Ga kali. Gw mau cari saga. I think ur
boyfie know where he is,
balas Vina.
Yes he know. Tp ga usah pura2 nanyain saga
deh demi bisa deket lg sama cowokku.
WTF?!
Obrolan itu terjadi beberapa saat dan berujung pada pertemuan
antara keduanya. Vina tak paham mengapa Indah bersikukuh dirinya masih cinta
dengan Rama dan menghubungi Indah demi menyambung lagi tali cinta yang terputus
saat SMA. Indah yang tak percaya pada niat asli Vina untuk mencari Saga
akhirnya mengajak Vina ketemuan.
Yaudah buktikan klo kmu emg mau cari saga
bukan mau dketin cowokku. Kita ke kosan rama skrg. Kita ktemu rama brg2. Aku
ikut buat mastiin kmu ga gatal. Berani?
Ya berani, lah! jawab Vina, mulai kesal dan geram. Gw
ga butuh rama lo itu. Just take me there, kita tanya si rama saga dmn, then Ill
go!
Dan terjadilah pertemuan itu. Indah mengirim info di mana
kosan Rama, tetapi tidak langsung di kosannya. Takutnya Vina nyampe duluan di
kosan Rama, lalu menemui Rama sebelum Indah tiba di sana. Indah memberi patokan
terdekat, di salah satu resto pinggir Jl. Teuku Umar. Indah sudah mencoba
menghubungi Rama, tetapi tak ada balasan. Pesan WhatsApp-nya tidak terkirim.
Panggilan telepon pun tak berdering. Indah pikir, Rama sedang tidur. Jadi,
Indah melanjutkan pertemuan itu.
Kebetulan Indah tiba duluan di depan resto. Vina datang
beberapa menit kemudian. Vibes di antara keduanya benar-benar tidak
enak. Indah kelihatan bete ketemu cewek cantik, tinggi semampai, badan bagus,
rambut bagus, bajunya bagus, dan terlihat santai karena sedang liburan. Indah
bete karena Vina mengabaikan Saga yang suka kepadanya. Tentu bete juga karena
Vina yang disukai Saga ini masih mencoba mendekati Rama.
Vina bete karena ceweknya Rama ini kok kayak cewek sinting.
Yakin banget Vina bakalan merebut Rama lagi dari dirinya, padahal riwayat Vina
dan Rama betulan sudah usai jauh sebelum keduanya lulus SMA. Tadinya Vina mau
minta maaf karena ngirim foto Rama dan Saga ke grup, hingga membuat kehebohan
itu. Vina mencoba menghubungi Rama, tapi sampai detik itu Rama masih belum
membalas. Bahkan, tidak bisa dihubungi. Vina menyadari diskusi di grup sudah
makin liar. Vina merasa bersalah dan bersedia membantu Rama untuk mengembalikan
nama baiknya. Namun, setelah ketemu ceweknya Rama, jadi malas juga ngurusin
soal Rama. Vina akan fokus ke Saga saja, soalnya jelas-jelas Rama menemui
Saga—di luar dugaan orang-orang bahwa Rama dan Saga pacaran.
Sungguh, Vina enggak peduli jika Rama dan Saga pacaran. Vina
enggak akan peduli jika Rama, ataupun Saga, adalah seorang gay. Vina
hanya akan membantu Hesti mumpung Vina sedang di Bali, yang sekarang liburannya
di-extend demi bantu mencari Saga.
Dari titik temu itu, Indah mengajak Vina berjalan ke sebuah
kosan elite di sebuah jalan kecil. Mereka menaiki tangga, tanpa sadar melewati
kamar kosan yang dulu dihuni oleh Saga, menuju kamar paling ujung. Kamar paling
besar di gedung itu, yang merupakan kamarnya Rama.
“Itu sepatunya Saga,” ungkap Vina tiba-tiba, menunjuk sepasang
sepatu hitam belel, bagian sampingnya bolong kecil, dan alas bawahnya penuh
pasir pantai.
“Dari mana kamu tahu?”
“I always remember the things a person I really dislike
wears.”
Indah hanya bisa menyipitkan matanya karena tak mengerti
barusan Vina ngomong apa. Ucapan bahasa Inggris Vina terlalu cepat, tetapi
Indah tak mau kelihatan enggak bisa bahasa Inggris. Jadi, Indah langsung
mengetuk pintu dan memanggil, “Yaaannnggg ...?!”
Tak butuh waktu lama hingga pintu itu dibuka. Dan yang membuka
adalah Saga.
Saga kaget menemukan pacar Rama dan Vina di depan pintu.
Indah dan Vina kaget menemukan Saga ada di kosan ini, tanpa
ada tanda-tanda kehadiran Rama di belakang Saga. Kamar itu terlihat sepi. Makin
kaget lagi keduanya ketika mendapati Saga telanjang dada. Hanya mengenakan
celana jeans saja.
Vina bertanya-tanya apakah Rama dan Saga betul-betul pasangan gay?
Apakah mereka sedang ngewe saat ini?
Indah bertanya-tanya, apakah dia bisa memegang puting Saga
yang seksi itu?
“Oh, hey .... Rama ..., lagi enggak di kosan,” sapa Saga
kemudian, mencoba terlihat ganteng di depan Vina.
Ini satu hal yang tak diketahui banyak orang. Pernah di-mention
di depan Rama, tetapi tidak selengkap seharusnya. Saga betulan suka kepada
Vina. Namun, karena ada kode etik antar sesama pria, khususnya pria yang jadi
mantan dari cewek yang disukainya, Saga bersikap biasa saja. Jadi apa yang
difitnahkan Rama ke Indah, soal Saga cinta kepada Vina, sebenarnya tepat.
Itu bukan fitnah. Itu adalah rahasia Saga yang Rama dan
seluruh dunia tak pernah tahu.
Kehadiran Vina di depan pintu kamar itu merupakan kejadian
luar biasa bagi Saga. Ya, dia telanjang dada. Rasanya tidak sopan. Namun
sebagai playboy yang modalnya cuma tubuh dan wajah seksinya, Saga
sengaja tidak mengambil kaus untuk menutupi ketelanjangan itu.
“Rama ke mana?” todong Indah. Dia mencoba masuk ke dalam,
mencari-cari Rama dan benar tak menemukannya.
“Belum pulang,” jawab Saga. “Tadi pagi keluar, sampe sekarang
belum pulang.”
“Harusnya dia pulang jam satuan. Dia pagi tadi ke kosanku. Cuddle.
Pillow talk. Mesra-mesraan.” Tiga kata dan frase terakhir itu Indah
tekankan sambil menatap ke arah Vina.
“I don’t really care,” kata Vina kemudian. “Gue mau
ngobrol sama elo, Ga.”
“Bukannya kamu benci Saga?” sahut Indah kemudian.
“Hah?” Vina mengerutkan alisnya. Bingung.
“Rama bilang kamu benci Saga. Benci semati-matinya. Bahkan,
najis banget ngelihat Saga!”
“Gue enggak pernah ngomong gitu!”
Ya, Vina tak pernah bicara seperti itu. Bahkan, Rama juga
tidak pernah bicara seperti itu. Yang barusan meluncur dari mulut Indah adalah
buah kekesalan Indah saja. Indah masih bete bukan main karena Vina mengejar
Rama dan menolak Saga, jadinya sebuah informasi sederhana dia lebai-lebaikan
biar dramatis.
Indah tak merasa perlu memperbaiki kata-katanya. Malah, Indah
makin bernafsu untuk mengacaukan segalanya. “Kamu enggak suka Saga karena dia
manusia enggak ber-value, kan? Yang otaknya cuma ada di titit aja?!”
“What the fuck?!” sahut Vina heran.
Saga terentak kecil mendengar itu. Sorot matanya terdengar
sedih. Dia melihat Vina sejenak, lalu menatap ke arah Indah untuk meminta
konfirmasi.
“Rama yang bilang gitu ke aku!” ungkap Indah percaya diri. “Dia
pacarku. Jadi dia share semuanya sama aku. Kamu benci Saga karena Saga
ini enggak tanggung jawab, kan? Otaknya dangkal. Mokondo. Lihat cewek lewat, ngacengan!
Terus kalau Saga ngacengan kenapa?”
“Rama bilang apa?” tanya Saga, dengan suara agak bergetar.
“Rama bilang Vina benci kamu karena kamu sange-an. Kamu
sering coli diam-diam pas Vina presentasi di kelas—“
“WHAT?!”
“Hah ...?
“Kamu bilang Saga tuh cuma sebatang kontol. Bukan manusia. Problematic.
Enggak ada masa depan. Enggak bisa ngurus hidupnya sendiri. Enggak bisa nutup
botol sabun!”
Indah menyiram api unggun dengan segalon bensin. Kobaran api
itu meledak dan membara dengan sangat panas. Semua yang pagi tadi Rama
sampaikan soal Saga, yang jelek-jeleknya, Indah sampaikan ke mereka dengan
perspektif seolah-olah Vinalah yang mengatakannya. Bahkan, Indah menambahkan
secara kreatif versinya sendiri—sesuatu yang Rama tidak katakan sama sekali
dalam obrolan pagi tadi.
“Kamu juga kan yang bilang punyanya si Saga ini letoy?!
Padahal punya dia keras, anjir! Itulah kenapa dia bisa buntingin anak orang.
Kamu nganggap si Saga ini ayah yang enggak bertanggung jawab, kan? Yang enggak
pantas jadi laki-laki karena nelantarin anaknya. Kamu bilang, kasihan anaknya
punya bapak yang enggak peduli sama dia. Yang enggak kontribusi sama sekali ama
hidup anaknya. Kamu yang bilang kan kalau masa depan anak-anak Indonesia ini
menyedihkan karena bapaknya enggak hadir, lalu si Saga ini bikin nasib anak
Indonesia makin terpuruk. Terus, barusan kamu ngebilangin sepatu Saga ini
jelek, bolong-bolong, enggak fashionable. Kamu menekankan Saga ini
enggak punya selera yang bagus. Terus—“
PLAK!
Vina menampar pipi Indah hingga tersungkur. Indah mendarat di
meja belajar Rama. Punggungnya menghantam tepian meja hingga terdengar bunyi “kretek!”
lalu Indah mengerang keras, “AAAAAARGH!” Setengah tubuh Indah di atas
meja, kepalanya tertekuk karena tertekan buku-buku tebal Rama, lalu kakinya
mengais-ngais lantai mencoba mencari pijakan.
“Itu mulut apa knalpot, ANJING?!” sergah Vina bernafsu. “Mulut
elo polusi doang isinya! HEH! Kalau mau fitnah orang at least lakuin pas
orangnya enggak ada!”
“AAAW! Aw-aw-aaawww! AAAAAARGH!” Indah sama sekali tidak
merespons makian Vina. Dia masih mencoba berdiri, tetapi sulit. Setengah
tubuhnya masih menggantung di tepian meja, dengan satu tangan memegang
pinggangnya. “Aduh, sakit!”
Vina yang sebenarnya emosi mendengar mulut Indah, memutuskan
untuk merangkul Indah dan mendudukkannya ke kursi. “Apa sih yang Rama lihat
dari elo?”
“Aw-aw-aw ....” Indah masih meringis kesakitan. Sudah
didudukkan di kursi pun, dia masih melengkungkan punggungnya ke depan karena
rasa nyeri. “Aduh, sakit, sakit!”
Vina marah sekali. Seharusnya ini momen dia untuk menampol dan
menghajar Indah. Namun momen itu direbut oleh Indah yang sekarang kesakitan
entah gara-gara apa. Sambil bersungut-sungut, “Gue enggak pernah ya ngomongin
orang serendah itu,” sambil Vina memesan GrabCar. “Gue enggak pernah nganggap
Saga kayak begitu. Dia teman SMA gue. Dia bikin temen gue menderita, ngegedein
anaknya tanpa bapak, tapi gue ENGGAK AKAN PERNAH ngomong sampah kayak yang lo
sebutin tadi. Knalpot racing aja masih lebih merdu dibandingin mulut
elo!”
“Adududuuuuhhh ... Aw! Aaawww ...! Sakiiittt ...!” Indah
menangis. Meringis.
“Mampus!” sahut Vina, tetapi tetap mengecek GrabCar-nya.
Meski dia nafsu bukan main, Vina tetap memesan taksol menuju
rumah sakit terdekat, dengan maksud membawa Indah ke UGD. Bagaimana pun,
Vinalah yang membuat Indah kesakitan begini, jadi Vina akan bertanggung jawab.
Dua menit kemudian GrabCar-nya tiba di depan kosan. Indah
dibopong Saga menuju mobil sesuai perintah Vina. Tentu saja Indah menyempatkan
diri mengalungkan tangannya ke leher Saga. Sambil meringis dan menangis, dia
menatap wajah Saga lekat-lekat.
Begitu Indah didudukkan di dalam mobil, lalu Saga mencoba
duduk di jok depan, Vina menarik Saga mundur.
“Elo enggak usah ikut!”
“Tapi—“
“Selesaiin dulu urusan elo ama si Hesti!” tegas Vina sambil
mendorong dada Saga hingga lelaki itu mundur cukup jauh dari mobil.
Tampak terkalahkan.
“Gue enggak pernah ngomongin apa yang cewek ini bilang
barusan, tapi bukan berarti gue enggak setuju,” ujar Vina sebelum masuk ke
mobil. “Gue abaikan semua DM elo, semua WA elo, karena gue mau lihat kualitas elo
sebagai laki tuh lebih dari ngaceng-nya kontol elo atau enggak. Ternyata
bener ....
“You’re so pathetic and irresponsible, you ran away from
your own problem, you abandon your child, you’re fuckingly deaf to even hear
your child crying, you don’t even emphatized sama orang yang lagi celaka
barusan. Elo cuma bengong ngelihatin ceweknya si Rama jatoh. Gue makin yakin
mendingan anak elo enggak pernah ketemu elo deh seumur hidup kalau kualitas
bapaknya kayak begini!
“Mungkin otak elo emang di kontol, Ga. Kalau kontol elo
disunat, gue sih bakal pasang lagi kulupnya. Gue bakal malu kalau jadi elo!”
GBRAK!
Vina pun membanting pintu mobil dan melaju pergi ke rumah
sakit.
Saga terdiam lesu di depan pagar kosan. Rasanya jiwa Saga
sedang dicabut malaikat menyisakan seonggok daging tak berguna, berdiri tanpa
rasa. Tatapan Saga kosong. Hatinya syok mendengar semua kata-kata itu. Dia tak
menyangka Rama mengatakan omong kosong itu ke Indah. Dan Saga tak menyangka
Vina juga punya pandangan yang sama.
Duk.
Lutut Saga jatuh ke atas aspal. Dia mengatur napasnya yang
memburu. Dirinya terlihat seperti orang yang hilang di hutan. Celingukan tanpa
petunjuk arah. Saga mencoba menjambak rambutnya sendiri, tetapi tak ada dampak
apa pun. Dadanya berdebar-debar. Perutnya mulas. Dia merasa malu.
Marah. Sedih. Kecewa. Benci. Bernafsu. Emosi.
Dan semua itu ditujukan kepada dirinya sendiri. Bukan ke Vina,
Indah, atau siapa pun.
Sememalukan itukah menjadi Saga?
“Hoh ... hoh ... hoh ....”
Dada saga sesak.
Saga mengerjapkan matanya berkali-kali, mengguncang kepala,
mendengus kuat-kuat.
“Gapapa elo, Mas?” Cewek chindo yang mengisi kamar Saga
kebetulan lewat di depan pagar dan mau masuk ke gedung kosan.
Saga mengangguk kecil. Dia tenangkan lagi napasnya, lalu
mencoba berdiri. “Iya .... Iya .... Gapapa ....” Lalu, terhuyung-huyung Saga
berlari masuk ke kamar Rama dan menyenggol beberapa benda sampai berjatuhan.
Rak sepatu kamar sebelah kamarnya dulu. Jemuran handuk di dua kamar setelahnya.
Sebuah kursi di tiga kamar berikutnya.
Begitu berhasil masuk ke dalam kamar, Saga langsung duduk di
atas kursi belajar. Dia biarkan pintu tak menutup rapat. Dia mencoba
menenangkan dirinya lagi. Pandangannya mulai mengabur, Saga lap air mata itu
agar tak pernah jatuh ke pipi, tetapi rasanya sulit. Tenggorokannya tercekat.
Dadanya sesak.
Mendengar kata-kata kejam itu dari orang yang Saga cintai
rasanya menyakitkan.
Ya. Saga mencintai Vina sejak SMA. Persis Rama yang mencintai
Saga, di mana keduanya sepengecut itu menyembunyikan perasaan ini di dalam diri
mereka sendiri. Tak ada yang mengetahui ini karena Saga tak pernah merasa
pantas berada di samping Vina—tak peduli hasratnya untuk memiliki Vina begitu
besar. Mendengar kata-kata Vina barusan seolah-olah mengonfirmasi bahwa Saga
tak akan pernah pantas bersama Vina.
Sejak kelahiran anak itu, seluruh masa depan Saga hancur.
Yang barusan hanyalah salah satu proses dari kehancuran Saga
yang terasa bagai kiamat.
Dengan tangan bergetar, tarikan napas panjang untuk
melonggarkan tenggorokan yang sesak, Saga meraih sebuah speaker bluetooth
yang dulu sering menemaninya dalam tekanan. Pada awal-awal Hesti hamil, Saga
membeli speaker ini secara random agar dia bisa menyetel musik rock
di kamarnya dengan suara lantang—bukan lewat headphone. Speaker-nya
murahan, jadi beberapa bulan lalu sempat error tiap mau dipakai. Kali
ini pun, setiap kali Saga mencoba mengoneksikan speaker-nya ke ponsel, bluetooth
tak pernah tersambung.
“ANJING!” BRAK!
Dengan suara sangat bergetar, Saga membanting speaker
itu ke atas meja belajar Rama. Dia meremasnya dengan kuat, seperti ingin
meremukkan sang speaker.
Saga menarik napas panjang dan memutuskan untuk menyetel lagu rock
dari hape-nya saja, menggunakan speaker hape, berharap suaranya
bisa menggema di dalam kamar dan menelan amarah, malu, sedih, dan kecewa yang
kini menggerogoti tubuhnya dari dalam.
Namun, sebelum lagu pertama diputar ....
“Hey ....” Rama muncul di ambang pintu kamar.
Saga mendongak dan langsung merasakan amarah merayap di dalam
hatinya. Menyebar di dadanya hingga terasa panas sekali, membuat napas Saga
berembus pendek-pendek. Semua kata-kata Indah di ruangan ini beberapa saat
lalu, tentang apa yang Rama bilang ke Indah soal Saga, berkelebatan dalam tempo
sangat cepat di kepala Saga.
Satu detik berikutnya, Saga mendapati dirinya bangkit hanya
untuk menghajar Rama.
BUUUKKK!
“BANGSAAATTT ...!!!”
[ ... ]
“Aaargh!” Rama mengerang dalam rasa syok. Dia merasakan
hantaman keras ke punggungnya, seperti terjatuh telentang secara tiba-tiba.
Rasa nyeri muncul dua detik kemudian, meremang seperti diperas. Khususnya di
pipi kiri Rama yang langsung kesemutan.
“TAI, LO!” umpat Saga lagi, sambil mencoba menghantam wajah
Rama untuk kali kedua, tetapi Rama sempat menggeser wajahnya sehingga tinjuan
Saga menghantam dinding di bawah jendela.
BUK!
Rama mendorong Saga sekuat tenaga. Dia berhasil membuat Saga
mundur dua langkah, tetapi Saga langsung mengayunkan kakinya dan menendang
perut Rama.
BUK!
“AAARGH!” Rama melolong sambil langsung memegang perutnya.
“KONTOL!” Saga mendengus sambil mengayunkan lagi tendangan
kedua, tetapi kali ini Rama berhasil menahan kaki Saga dengan kedua tangannya,
lalu mendorong Saga mundur.
Dalam masa Saga termundur lagi karena didorong, Rama mencoba
bangkit dengan menekan satu siku lengannya ke lantai. Dia melihat Saga hendak
mengayunkan lagi kakinya seperti instep kick dalam sepak bola. Bahkan,
kaki itu mengambil ancang-ancang jauh dari belakang, seolah-olah kepala Rama
adalah bola yang harus ditendang hingga ke gawang.
“CEWEK LO TAI, ANJING!”
BUK!
Rama sempat berguling untuk menghindar.
Kaki Saga menghantam dinding. Saga merasakan nyeri benturan
hebat yang menjalar di punggung kakinya secara tiba-tiba.
“ELO KENAPA, ANJING?!” balas Rama, mulai panik.
“AAARGH!” Saga mengerang karena hantaman menyakitkan di
punggung kakinya. Dia menoleh ke arah Rama dan membalas dengan napas
terengah-engah. “Cewek elo SETAN! Mulut cewek elo kotor! Kayak TAI!”
Saga mengayunkan lagi kakinya mumpung Rama masih terduduk di
atas lantai. Namun Rama lebih gesit menangkap kaki itu dengan kedua tangannya,
lalu mendorong Saga mundur. Saga terhuyung ke belakang, tetapi tidak jatuh. Dia
berpegangan ke kusen jendela.
“ELO NGOMONG APA ANJING?!” sergah Rama, mulai membara. Dia
bangkit dengan cepat. Napasnya mulai ngos-ngosan karena adrenalin menyebar di
tubuhnya dengan cepat. “NGAPAIN LO NGATA-NGATAIN CEWEK GUE?!”
“CEWEK LO KONTOL!!!” balas Saga, dengan wajah sangat marah.
Satu tangan masih berpegangan ke kusen, satu tangan ke rak di atas meja
belajar. Satu buku tersenggol dan jatuh ke bawah.
Rama yang tidak terima langsung mendorong Saga. “MAKSUD LO
APA, ANJING?!”
Saga terjatuh ke atas meja belajar Rama. Punggungnya
menghantam tepian meja belajar—persis seperti Indah tadi. BRUK! Namun,
tidak sampai membuat Saga sakit pinggang. Saga menggapai-gapai apa pun di
sekitar meja, agar dia bisa tetap berdiri. Buku-buku tebal tentang medis
berjatuhan dari atas rak. Menimpa meja, kepala Saga, maupun menggelinding
hingga ke atas lantai.
“Elo gila, ya?!” sahut Rama dengan napas ngos-ngosan. “Elo
kesambet apa anjing tiba-tiba nonjok?!” Rama memegang pipinya yang mulai terasa
panas.
Alih-alih menjawab pertanyaan Rama, Saga hanya menatap teman
sekamarnya itu dengan alis mengerut hebat ke tengah, napas mendengkus, dan
sorot mata penuh amarah. Satu tangan Saga meraba-raba bagian atas meja dan
kebetulan menemukan MacBook Pro M5 yang tertindih satu buku. Dia ambil laptop
Apple itu dengan satu tangan, lalu melemparkannya ke arah Rama.
“ANJING!” Rama membelalak terkejut melihat laptop
30-an juta itu dilempar ke arahnya. Tepat mengarah ke wajah Rama. Sebagai
pemain basket kampus, tentu saja lemparan Saga akurat menyasar muka Rama.
Tak ada yang bisa Rama lakukan selain menghadang wajahnya
dengan satu lengan, sambil satu tangannya mencoba menangkap MacBook-nya. Ada
sedikit hantaman ke lengan, lalu MacBook itu merosot jatuh ke bawah, sempat
ditahan oleh paha Rama, sempat pula disambar satu tangan Rama di bagian
ujungnya, tetapi karena casing semua MacBook itu licin dan sulit
dipegang, MacBook itu pun menggelosor jatuh ke atas lantai.
DUK!
Tepat di bagian sudutnya.
“WHAT THE FUCK?!” teriak Rama sembari buru-buru
mengambil MacBook-nya dengan kedua tangan.
Rama murka. Pertama, dia tak tahu mengapa Saga tiba-tiba
menyerangnya secara membabi buta. Kedua, melemparkan MacBook terbarunya ke muka
adalah pelanggaran luar biasa. Ini melampaui batas. Tak ada alasan lagi bagi
Rama untuk bertanya-tanya. Baginya, Saga kerasukan iblis.
Sambil meletakkan laptopnya dengan satu tangan ke atas credenza
pemisah ruang, Rama mengangkat kaki untuk menghantam wajah Saga yang masih ada
di atas meja. “GOBLOK LO, YA?!”
DUG!
Namun, Saga sempat menggeser wajahnya, sehingga kaki Rama
menghantam jejeran bukunya sendiri di atas meja. Karena kaki Rama sedang ada di
atas meja, Saga menggunakan kesempatan itu untuk mendorong Rama ke belakang.
Kedua tangan Saga ditekan ke perut Rama, lalu Rama dibuat tersungkur ke
seberang ruangan, tepatnya ke meja makan lipat, lemari serbaguna, dan jejeran
koper Saga.
BRRRUUUKKK ...!
“AAARGH!” Rama mengerang kesakitan sembari berguling untuk
keluar dari benda-benda yang berjatuhan menimpa dirinya. Rama mengguncang
kepala karena mulai merasa pusing.
Saga berdiri tertatih-tatih di depan meja. Bahunya naik turun,
tersengal-sengal mencari napas. “Cewek lo sama si Vina ke sini,” ungkap Saga,
dengan nada tajam dan murka. Saga tetap melayangkan sorot mata predator,
seolah-olah ingin menghabisi Rama. “Mulut cewek lo kagak disekolahin!”
Dengan nafsu, Saga melompat dan menendang Rama yang masih
terkapar di atas lantai, tak memberi kesempatan kawannya itu untuk bangkit.
BUK! Setelahnya, Saga menindih tubuh Rama, menduduki perutnya, lalu
menghajar wajah Rama dengan kepalan tangannya.
“Cewek lo bilang otak gue di kontol!”
BUK!
Bibir Rama tergigit sehingga darah mengalir sedikit dari
mulutnya.
“Gue enggak punya value!”
BUK!
Tonjokan itu setengah meleset. Alih-alih kena wajah Rama,
kepalan tangan Saga menghantam bahu Rama.
“Gue enggak punya masa depan!”
BUK!
Tonjokan itu meleset lagi. Kali ini kena ke koper-koper Saga
sendiri, yang kebetulan ada di samping wajah Rama. Buku-buku jari Saga langsung
lecet dan memerah.
“Gue ....”
Yang berikutnya tak selesai karena Rama langsung menangkisnya.
Pun, suara Saga mulai bergetar. Seakan-akan ada emosi yang meluap dari dada
Saga, yang tak bisa keluar kecuali mengalir bersama air mata.
Sebelum Saga melanjutkan hantamannya, satu tangan Rama
menggapai-gapai area di sekitar dan menemukan piring melamin yang kini tercecer
karena rak piring jatuh berantakan ke atas lantai saat Rama menghantam meja
lipat. Rama ambil piring itu dan hantamkan ke kepala Saga.
DUK!
Saga tahu Rama akan menghantamnya, tetapi Saga tidak tahu akan
dihantam dengan apa. Saga mencoba menghindar lalu merasakan kepalanya dipukul
oleh benda keras di area pinggir kepala. Tidak sampai gegar otak, tetapi Saga
otomatis berguling turun karena takut benda itu barang pecah belah yang akan
melukainya.
Saga langsung meringkuk dan menutup kepalanya. Tampak
ketakutan.
Rama yang tampaknya paham situasinya, langsung bangkit dan
berkata, “Sorry ....” Rama cukup pintar untuk mengerti bahwa mungkin Indah ke
sini dan membeberkan semua kejelekan Saga yang Rama karang-karang ke Indah pagi
tadi. “Maksud gue sebenarnya—“
“DASAR BENCONG LO!”
Deg.
Rama membeku mendengar makian itu.
“TUKANG NYEPONG KONTOL!”
Sungguh, rasanya seperti sebilah pisau yang dingin ditusukkan
ke dada Rama, lalu mengoyak-ngoyak bagian dalamnya. Seluruh tubuh Rama
merinding dalam rasa beku yang menyakitkan.
Rama tersinggung.
Rama sakit hati.
“HOMO TAI!”
Rama kecewa.
Mendengar kekasih hatinya sendiri mengejeknya dengan makian
yang belasan tahun Rama coba tutupi mati-matian rasanya sangat menyakitkan.
Dada Rama otomatis panas dan sesak. Tubuhnya seakan-akan membeku seperti batu.
Tak bernyawa.
Pandangan mata Rama mulai mengabur.
Di antara 8 miliar orang di dunia ini, please jangan kamu Ga yang
menghina aku dengan kata-kata itu.
Tenggorokan Rama tercekat. Bahunya naik turun. Emosi Rama
meluap.
Ya, Rama mencintai Saga. Tapi Rama tidak sudi mendengar
kata-kata hinaan itu meluncur dari mulut cinta sejatinya. Dengan tangis
meledak, Rama bangkit dan menendang Saga di atas lantai.
BUUUKKK!
“FUCK YOOOUUU!”
Rama menendang Saga sekali lagi.
BUUUKKK!
Saga berguling melewati batas common area dan ruang
tidur. Tendangan Rama yang kedua cukup kuat untuk membuat kepala Saga terbentur
ke kaki lemari di depan tempat tidur. Benturannya menyobek kecil area di
sekitar alis, lalu mengalirkan darah ke pelipis Saga.
“Aaaaaargh ....” Saga membelalak sambil mengerang dan
merintih.
Seraya menangis, mengelap mulutnya yang berdarah, dan
terisak-isak, Rama berseru, “IYA! GUE GAY! ELO ENGGAK SUKA?!”
Saga tak menjawab. Saga terkapar lemas di atas lantai sambil
memegang kepalanya yang pusing sedikit.
Rama melompat menduduki perut Saga, gantian menghajar kawannya
itu. Kepalan tangannya meninju pipi kiri Saga.
BUK!
“GUE EMANG HOMO, BANGSAT!”
Meninju sekali lagi pipi kiri Saga. Air mata Rama menetes ke
atas dada Saga yang telanjang
BUK!
“GUE SUKA KONTOL!”
Meninju sekali lagi, tetapi kali ini tinjuannya diarahkan ke
lemari di samping kepala Saga.
BUK!
“GUE SANGE LIHAT COWOK!”
Emosi dan isak tangis menguasai tubuh Rama. Meski membabi buta
dengan pandangan mata mengabur dipenuhi air mata, Rama tetap meninjukan
tangannya dengan kuat, seakan-akan ingin menghajar wajah Saga hingga mampus.
Namun, Rama hanya meninju lemari di samping wajah Saga.
BUK!
“GUE SANGE LIHAT ELO!”
Meninju lemari sekali lagi.
BUK!
“GUE SUKA KONTOL ELO!
Meninju lemari sekali lagi.
“GUE SUKA ELO!”
BUK!
“GUE ....”
Rama tak sanggup lagi. Dia meninjukan kepalan tangannya ke
lantai, lalu menunduk dan menangis terisak-isak. Bahunya berguncang. Buku-buku
jarinya luka. Bagian lemari yang ditonjoknya cekung ke dalam, seperti akan
hancur, saking kuatnya tinjuan tangan itu.
“BANGSAT LO GA!” umpat Rama di tengah tangisnya. Air mata
menetes ke wajah Saga. “BAJINGAN!”
Meninju lantai. Namun lemas.
Buk.
“Gue butuh elo semalam ....” Rama menarik napas panjang karena
dadanya terasa sangat sesak. “Tapi elo enggak peduli sama masalah ini ....”
Meninju lagi lantai dengan lemas.
Buk.
“Elo enggak pernah peduli ama masalah lo.”
Buk.
“Kapan elo mau jadi dewasa ... hiks hiks ..., dan
nyelesaiin—“
“TAI!”
DUK!
Saga meninju wajah Rama sekali lagi, membuat Rama terpaksa
berguling ke samping. Lalu, Saga menarik kerah Rama hingga tubuh kawannya itu
terangkat, kemudian mendorongnya ke credenza. Tanpa bisa Saga kuasai,
air mata juga mengalir di atas pipinya. Dia berdiri membungkuk menghadap Rama
yang kini mencoba berdiri berpegangan ke credenza. Mulutnya sudah
membuka untuk mengumpat dan menghina Rama lagi ....
... tetapi tak ada kata-kata yang keluar.
Bahu Saga berguncang. Tenggorokan Saga tercekat. Sebagai
laki-laki, dia mencoba melawan isak tangisnya dengan sekali lagi menghina Rama.
“Kaum laknat ....” Saga terisak. “Kaum neraka ....” Terisak
lagi. “Kaum pembawa kiamat ....”
Rama hanya bisa bersandar ke credenza dengan lemas. Dia
menunduk dengan mata terpejam, mencoba menghentikan air mata yang terus-menerus
mengalir. Seluruh tubuhnya memar-memar, nyeri, dan ngilu. Namun yang lebih
sakit adalah hatinya ketika mendengar hinaan-hinaan itu.
“Homo bangsat ....”
Meski menghina, nada suara Saga tak seagresif sebelumnya.
Selain tenggorokannya terasa sesak menahan tangis, pun Saga tak tahan melihat
lelaki yang sudah menolongnya beberapa minggu terakhir berdiri lemah, terpukul
oleh kata-kata Saga sendiri, dan menangis tanpa suara.
Menyadari dia tak sanggup menghina lagi, Saga menarik sekali
lagi kerah baju Rama ke arahnya, lalu melayangkan tinjuan ke wajah Rama.
Rama berhasil menghindar, memiringkan kepalanya. Lalu, Rama
mendorong tubuh Saga hingga mundur menabrak lemari baju yang tadi.
“Otak elo emang di kontol, Ga!” sahut Rama, dengan air mata
mengalir masuk ke dalam mulutnya, membuatnya mencecap asin. “Gue enggak nyesal
udah bilang gitu ke cewek gue ....”
Saga hanya bersandar ke lemari sambil mengatur napasnya.
“You’re irresponsible!
“Elo avoidant!
“Elo seenaknya!
“Elo tukang boong!
“Elo ngacengan!” Rama menarik napas panjang di antara
napasnya yang memburu. “Kontol gue yang homo ini lebih suci dibandingin kontol
lo yang udah keluyuran ke mana-mana!
“Udah otak lo di kontol!” Rama menelan ludah dengan susah
payah. “Kontol lo juga muna!”
“FUCK YOU!” balas Saga, ketika ada kesempatan.
“Ngatain gue homo ....” Rama mengatur napas dulu. “Tapi gue sepong
..., kontol lo NGACENG, ANJING!”
“BACOOOT, ANJIIINNNGGG ...!!!”
Saga melompat ke arah Rama untuk menghajar wajah kawannya itu
sekali lagi.
BUK!
Kena kepala Rama saat Rama mencoba menghindar, tetapi bogem
mentah itu menghantam bagian kiri kepalanya—di dekat telinga.
Rama tersungkur ke atas tempat tidur. Telungkup. Ketika
mencoba telentang, dia menemukan Saga melompat ke atas tubuhnya, merangkak
sambil satu tangan mencekik leher Rama, dan satu tangan teracung di atas kepala
Rama, bersiap menonjoknya.
“PUKUL, GA!” hardik Rama menantang, di tengah lehernya yang
tertekan. Suaranya hampir tak bisa keluar. Air mata menggenang penuh di
matanya. Darah mengalir dari sudut bibir, sudah tersapu ke pipi. Kemerahan di kulit,
cikal bakal memar, sudah mulai muncul di wajah Rama.
“PUKUL!” tantang Rama.
Saga masih tetap diam. Tangan itu mengepal sangat kuat di
udara. Bergetar seakan-akan mengumpulkan seluruh energi yang ada untuk akhirnya
menghantam kepala Rama hingga remuk.
“GUE RELA MATI ....” Rama mencoba mengangkat tangan Saga di
lehernya, agar dia bisa bicara.
Napas Saga memanas, menerpa wajah Rama.
Wajah Saga berada sangat dekat dengan wajah kawannya itu. Saga
dapat melihat bagaimana Rama begitu terpukul, sedih, kecewa, dan marah atas
perbuatan Saga. Bukan hanya urusan adu jotos ini, tapi segala kesalahan yang
Saga lakukan ke semua orang. Saga dapat melihat air mata itu mengalir ke
pelipis Rama, jatuh ke telinganya yang basah oleh keringat.
“Gue ... rela ... mati ...,” ulang Rama mati-matian di tengah
jalan napasnya yang ditutup. Suaranya kecil dan mulai melengking, nyaris tak
bisa bicara. “Di tangan ... orang ... yang gue ... cintai ....”
Lalu, Rama menutup matanya dengan tenang. Sisa air mata masih
mengalir dari masing-masing sudut matanya. Rama mengikhlaskan nyawanya diambil
orang yang dicintainya.
“Pukul aja, Ga ....”
Rama berserah kepada Saga.
Rama yang seharusnya tak terlibat pada urusan Saga, yang
mungkin tak akan mengeluarkan hinaan-hinaan untuk Saga andai saja Saga
bertanggung jawab pada masalahnya sendiri.
Rama yang menampung Saga tanpa banyak bertanya.
Rama yang melindungi Saga dari masalah yang Saga hindari
bertahun-tahun terakhir.
Rama yang kebagian dampak dari perbuatan Saga.
Rama yang masih dengan sopan menunggu momen tepat untuk
menikmati Saga, meskipun Rama punya banyak kesempatan untuk melecehkannya.
Rama yang kini tak berdaya di bawah tubuh Saga.
Yang menutup mata dengan damai.
Saga merasakan adrenalinnya memuncak lagi. Tangannya makin
bergetar di udara, bersiap untuk meluncur ke bawah dan menghantam wajah tampan
di depannya ini. Napasnya memburu.
Dengan sangat intens, Saga menarik napas panjang, lalu
meluncurkan tangannya ke bawah.
BUUUKKK!!!
....
....
....
....
....
....
....
Kepalan tangan itu mendarat ....
....
....
....
... di atas permukaan kasur.
Tepat di samping wajah Rama.
....
....
....
Namun, ada juga yang mendarat di wajah Rama.
....
....
....
Bibir Saga.
Cup.
Saga memagut mulut Rama dan mencumbunya sambil menangis. Kedua
mata Saga terpejam kuat. Air mata mengalir keluar ke pipinya. Mulutnya melumat
mulut Rama yang berdarah, melesakkan lidahnya ke dalam mulut Rama, lalu mencium
kawannya itu di tengah isak tangis yang memilukan. Bibirnya mencumbu, tetapi
bibir itu berguncang dalam rasa sakit.
....
Rama membelalak terkejut. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain
membiarkan lidah Saga menyeruak masuk di dalam mulutnya dan menari-nari,
seolah-olah ingin menguasai Rama sepenuhnya.
Rama merasakan bibir kenyal yang sudah diidamkannya tiga tahun
terakhir itu mengatup bibirnya dengan kuat, seakan-akan tak ingin
melepaskannya.
Rama merasakan guncangan tangis seorang lelaki yang punya
jutaan beban emosional di dalam hatinya, yang sudah cukup lama ditimbun tanpa
bisa diungkapkan, yang sudah melewati banyak denial hingga tak dapat
diekspresikan. Emosi gelap yang Saga sembunyikan. Yang akhirnya tumpah ruah
dalam cumbuan intens penuh air mata.
....
Setelah memagut dan mencumbu Rama sekian lama, Saga pun
melepaskan ciuman itu dan melanjutkan tangis dengan menempelkan keningnya ke
kening Rama.
Hidung mereka beradu.
Bergetar karena guncangan, bahkan Saga sempat membenturkan
keningnya pelan-pelan sebanyak tiga kali ke kening Rama.
Seperti menyesali.
Namun, membutuhkan pertolongan juga.
Tangisan Saga tak ada suaranya.
Air mata Saga menetes lebih berisik dibandingkan isak tangis
Saga.
Rama membiarkan Saga menumpahkan rasa sedih, sakit, frustrasi,
kecewa, malu, dan takut itu keluar lewat air mata.
Rama hanya terdiam hingga Saga membuka mata dan kedua manik
mata mereka saling bertapapan.
Lalu, dalam kamar yang hening itu, sebuah kata-kata muncul
....
....
Kata-katanya adalah ....
[ ... ]
Bersambung
....
Voting sudah selesai.
Hasil voting terlampir di bawah.
Part 8.1 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 9.1
Hasil voting:
Jumlah
pemilih: 253 orang
Sebanyak 59%
(149 orang) pilih “I love you”
Sebanyak 8%
(20 orang) pilih “Harusnya kita enggak pernah sekosan”
Sebanyak 9%
(23 orang) pilih “Fuck you!”
Sebanyak 24%
(61 orang) pilih “The bluetooth device is connected successfully”
Belum ada
pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.
Maka dari itu, Part 9.1 akan mengikuti suara terbanyak. Storyline dari voting yang tidak terpilih akan tayang setelah Part 10 terbit.
Dengan
ini, seluruh voting yang terjadi di Part 8.2 setelah penayangan Part 9.1 sudah
tidak berlaku lagi.
Komentar
Posting Komentar