(SKS) Part 8.2




Dua puluh menit sebelum tonjokan melayang, kamar itu kedatangan tamu.

Namun, tamu-tamu itu datang karena dua jam sebelumnya sebuah percakapan terjadi.

Hey. Betul ini Indah ceweknya Rama? Sorry ganggu. Gw Vina, temannya Rama. Can we talk?

Sebuah DM dari Vina ke Indah. DM yang mengubah hidup Rama hari itu.

Indah membalas dengan defensif, Aku tau kmu siapa. Mau talk apa? Mau rebut pacarku ya? Masih belum move on ya?

Hah? Ga kali. Gw mau cari saga. I think ur boyfie know where he is, balas Vina.

Yes he know. Tp ga usah pura2 nanyain saga deh demi bisa deket lg sama cowokku.

WTF?!

Obrolan itu terjadi beberapa saat dan berujung pada pertemuan antara keduanya. Vina tak paham mengapa Indah bersikukuh dirinya masih cinta dengan Rama dan menghubungi Indah demi menyambung lagi tali cinta yang terputus saat SMA. Indah yang tak percaya pada niat asli Vina untuk mencari Saga akhirnya mengajak Vina ketemuan.

Yaudah buktikan klo kmu emg mau cari saga bukan mau dketin cowokku. Kita ke kosan rama skrg. Kita ktemu rama brg2. Aku ikut buat mastiin kmu ga gatal. Berani?

Ya berani, lah! jawab Vina, mulai kesal dan geram. Gw ga butuh rama lo itu. Just take me there, kita tanya si rama saga dmn, then Ill go!

Dan terjadilah pertemuan itu. Indah mengirim info di mana kosan Rama, tetapi tidak langsung di kosannya. Takutnya Vina nyampe duluan di kosan Rama, lalu menemui Rama sebelum Indah tiba di sana. Indah memberi patokan terdekat, di salah satu resto pinggir Jl. Teuku Umar. Indah sudah mencoba menghubungi Rama, tetapi tak ada balasan. Pesan WhatsApp-nya tidak terkirim. Panggilan telepon pun tak berdering. Indah pikir, Rama sedang tidur. Jadi, Indah melanjutkan pertemuan itu.

Kebetulan Indah tiba duluan di depan resto. Vina datang beberapa menit kemudian. Vibes di antara keduanya benar-benar tidak enak. Indah kelihatan bete ketemu cewek cantik, tinggi semampai, badan bagus, rambut bagus, bajunya bagus, dan terlihat santai karena sedang liburan. Indah bete karena Vina mengabaikan Saga yang suka kepadanya. Tentu bete juga karena Vina yang disukai Saga ini masih mencoba mendekati Rama.

Vina bete karena ceweknya Rama ini kok kayak cewek sinting. Yakin banget Vina bakalan merebut Rama lagi dari dirinya, padahal riwayat Vina dan Rama betulan sudah usai jauh sebelum keduanya lulus SMA. Tadinya Vina mau minta maaf karena ngirim foto Rama dan Saga ke grup, hingga membuat kehebohan itu. Vina mencoba menghubungi Rama, tapi sampai detik itu Rama masih belum membalas. Bahkan, tidak bisa dihubungi. Vina menyadari diskusi di grup sudah makin liar. Vina merasa bersalah dan bersedia membantu Rama untuk mengembalikan nama baiknya. Namun, setelah ketemu ceweknya Rama, jadi malas juga ngurusin soal Rama. Vina akan fokus ke Saga saja, soalnya jelas-jelas Rama menemui Saga—di luar dugaan orang-orang bahwa Rama dan Saga pacaran.

Sungguh, Vina enggak peduli jika Rama dan Saga pacaran. Vina enggak akan peduli jika Rama, ataupun Saga, adalah seorang gay. Vina hanya akan membantu Hesti mumpung Vina sedang di Bali, yang sekarang liburannya di-extend demi bantu mencari Saga.

Dari titik temu itu, Indah mengajak Vina berjalan ke sebuah kosan elite di sebuah jalan kecil. Mereka menaiki tangga, tanpa sadar melewati kamar kosan yang dulu dihuni oleh Saga, menuju kamar paling ujung. Kamar paling besar di gedung itu, yang merupakan kamarnya Rama.

“Itu sepatunya Saga,” ungkap Vina tiba-tiba, menunjuk sepasang sepatu hitam belel, bagian sampingnya bolong kecil, dan alas bawahnya penuh pasir pantai.

“Dari mana kamu tahu?”

I always remember the things a person I really dislike wears.

Indah hanya bisa menyipitkan matanya karena tak mengerti barusan Vina ngomong apa. Ucapan bahasa Inggris Vina terlalu cepat, tetapi Indah tak mau kelihatan enggak bisa bahasa Inggris. Jadi, Indah langsung mengetuk pintu dan memanggil, “Yaaannnggg ...?!”

Tak butuh waktu lama hingga pintu itu dibuka. Dan yang membuka adalah Saga.

Saga kaget menemukan pacar Rama dan Vina di depan pintu.

Indah dan Vina kaget menemukan Saga ada di kosan ini, tanpa ada tanda-tanda kehadiran Rama di belakang Saga. Kamar itu terlihat sepi. Makin kaget lagi keduanya ketika mendapati Saga telanjang dada. Hanya mengenakan celana jeans saja.

Vina bertanya-tanya apakah Rama dan Saga betul-betul pasangan gay? Apakah mereka sedang ngewe saat ini?

Indah bertanya-tanya, apakah dia bisa memegang puting Saga yang seksi itu?

“Oh, hey .... Rama ..., lagi enggak di kosan,” sapa Saga kemudian, mencoba terlihat ganteng di depan Vina.

Ini satu hal yang tak diketahui banyak orang. Pernah di-mention di depan Rama, tetapi tidak selengkap seharusnya. Saga betulan suka kepada Vina. Namun, karena ada kode etik antar sesama pria, khususnya pria yang jadi mantan dari cewek yang disukainya, Saga bersikap biasa saja. Jadi apa yang difitnahkan Rama ke Indah, soal Saga cinta kepada Vina, sebenarnya tepat.

Itu bukan fitnah. Itu adalah rahasia Saga yang Rama dan seluruh dunia tak pernah tahu.

Kehadiran Vina di depan pintu kamar itu merupakan kejadian luar biasa bagi Saga. Ya, dia telanjang dada. Rasanya tidak sopan. Namun sebagai playboy yang modalnya cuma tubuh dan wajah seksinya, Saga sengaja tidak mengambil kaus untuk menutupi ketelanjangan itu.

“Rama ke mana?” todong Indah. Dia mencoba masuk ke dalam, mencari-cari Rama dan benar tak menemukannya.

“Belum pulang,” jawab Saga. “Tadi pagi keluar, sampe sekarang belum pulang.”

“Harusnya dia pulang jam satuan. Dia pagi tadi ke kosanku. Cuddle. Pillow talk. Mesra-mesraan.” Tiga kata dan frase terakhir itu Indah tekankan sambil menatap ke arah Vina.

I don’t really care,” kata Vina kemudian. “Gue mau ngobrol sama elo, Ga.”

“Bukannya kamu benci Saga?” sahut Indah kemudian.

“Hah?” Vina mengerutkan alisnya. Bingung.

“Rama bilang kamu benci Saga. Benci semati-matinya. Bahkan, najis banget ngelihat Saga!”

“Gue enggak pernah ngomong gitu!”

Ya, Vina tak pernah bicara seperti itu. Bahkan, Rama juga tidak pernah bicara seperti itu. Yang barusan meluncur dari mulut Indah adalah buah kekesalan Indah saja. Indah masih bete bukan main karena Vina mengejar Rama dan menolak Saga, jadinya sebuah informasi sederhana dia lebai-lebaikan biar dramatis.

Indah tak merasa perlu memperbaiki kata-katanya. Malah, Indah makin bernafsu untuk mengacaukan segalanya. “Kamu enggak suka Saga karena dia manusia enggak ber-value, kan? Yang otaknya cuma ada di titit aja?!”

What the fuck?!” sahut Vina heran.

Saga terentak kecil mendengar itu. Sorot matanya terdengar sedih. Dia melihat Vina sejenak, lalu menatap ke arah Indah untuk meminta konfirmasi.

“Rama yang bilang gitu ke aku!” ungkap Indah percaya diri. “Dia pacarku. Jadi dia share semuanya sama aku. Kamu benci Saga karena Saga ini enggak tanggung jawab, kan? Otaknya dangkal. Mokondo. Lihat cewek lewat, ngacengan! Terus kalau Saga ngacengan kenapa?”

“Rama bilang apa?” tanya Saga, dengan suara agak bergetar.

“Rama bilang Vina benci kamu karena kamu sange-an. Kamu sering coli diam-diam pas Vina presentasi di kelas—“

WHAT?!

“Hah ...?

“Kamu bilang Saga tuh cuma sebatang kontol. Bukan manusia. Problematic. Enggak ada masa depan. Enggak bisa ngurus hidupnya sendiri. Enggak bisa nutup botol sabun!”

Indah menyiram api unggun dengan segalon bensin. Kobaran api itu meledak dan membara dengan sangat panas. Semua yang pagi tadi Rama sampaikan soal Saga, yang jelek-jeleknya, Indah sampaikan ke mereka dengan perspektif seolah-olah Vinalah yang mengatakannya. Bahkan, Indah menambahkan secara kreatif versinya sendiri—sesuatu yang Rama tidak katakan sama sekali dalam obrolan pagi tadi.

“Kamu juga kan yang bilang punyanya si Saga ini letoy?! Padahal punya dia keras, anjir! Itulah kenapa dia bisa buntingin anak orang. Kamu nganggap si Saga ini ayah yang enggak bertanggung jawab, kan? Yang enggak pantas jadi laki-laki karena nelantarin anaknya. Kamu bilang, kasihan anaknya punya bapak yang enggak peduli sama dia. Yang enggak kontribusi sama sekali ama hidup anaknya. Kamu yang bilang kan kalau masa depan anak-anak Indonesia ini menyedihkan karena bapaknya enggak hadir, lalu si Saga ini bikin nasib anak Indonesia makin terpuruk. Terus, barusan kamu ngebilangin sepatu Saga ini jelek, bolong-bolong, enggak fashionable. Kamu menekankan Saga ini enggak punya selera yang bagus. Terus—“

PLAK!

Vina menampar pipi Indah hingga tersungkur. Indah mendarat di meja belajar Rama. Punggungnya menghantam tepian meja hingga terdengar bunyi “kretek!” lalu Indah mengerang keras, “AAAAAARGH!” Setengah tubuh Indah di atas meja, kepalanya tertekuk karena tertekan buku-buku tebal Rama, lalu kakinya mengais-ngais lantai mencoba mencari pijakan.

“Itu mulut apa knalpot, ANJING?!” sergah Vina bernafsu. “Mulut elo polusi doang isinya! HEH! Kalau mau fitnah orang at least lakuin pas orangnya enggak ada!”

“AAAW! Aw-aw-aaawww! AAAAAARGH!” Indah sama sekali tidak merespons makian Vina. Dia masih mencoba berdiri, tetapi sulit. Setengah tubuhnya masih menggantung di tepian meja, dengan satu tangan memegang pinggangnya. “Aduh, sakit!”

Vina yang sebenarnya emosi mendengar mulut Indah, memutuskan untuk merangkul Indah dan mendudukkannya ke kursi. “Apa sih yang Rama lihat dari elo?”

“Aw-aw-aw ....” Indah masih meringis kesakitan. Sudah didudukkan di kursi pun, dia masih melengkungkan punggungnya ke depan karena rasa nyeri. “Aduh, sakit, sakit!”

Vina marah sekali. Seharusnya ini momen dia untuk menampol dan menghajar Indah. Namun momen itu direbut oleh Indah yang sekarang kesakitan entah gara-gara apa. Sambil bersungut-sungut, “Gue enggak pernah ya ngomongin orang serendah itu,” sambil Vina memesan GrabCar. “Gue enggak pernah nganggap Saga kayak begitu. Dia teman SMA gue. Dia bikin temen gue menderita, ngegedein anaknya tanpa bapak, tapi gue ENGGAK AKAN PERNAH ngomong sampah kayak yang lo sebutin tadi. Knalpot racing aja masih lebih merdu dibandingin mulut elo!”

“Adududuuuuhhh ... Aw! Aaawww ...! Sakiiittt ...!” Indah menangis. Meringis.

“Mampus!” sahut Vina, tetapi tetap mengecek GrabCar-nya.

Meski dia nafsu bukan main, Vina tetap memesan taksol menuju rumah sakit terdekat, dengan maksud membawa Indah ke UGD. Bagaimana pun, Vinalah yang membuat Indah kesakitan begini, jadi Vina akan bertanggung jawab.

Dua menit kemudian GrabCar-nya tiba di depan kosan. Indah dibopong Saga menuju mobil sesuai perintah Vina. Tentu saja Indah menyempatkan diri mengalungkan tangannya ke leher Saga. Sambil meringis dan menangis, dia menatap wajah Saga lekat-lekat.

Begitu Indah didudukkan di dalam mobil, lalu Saga mencoba duduk di jok depan, Vina menarik Saga mundur.

“Elo enggak usah ikut!”

“Tapi—“

“Selesaiin dulu urusan elo ama si Hesti!” tegas Vina sambil mendorong dada Saga hingga lelaki itu mundur cukup jauh dari mobil.

Tampak terkalahkan.

“Gue enggak pernah ngomongin apa yang cewek ini bilang barusan, tapi bukan berarti gue enggak setuju,” ujar Vina sebelum masuk ke mobil. “Gue abaikan semua DM elo, semua WA elo, karena gue mau lihat kualitas elo sebagai laki tuh lebih dari ngaceng-nya kontol elo atau enggak. Ternyata bener ....

You’re so pathetic and irresponsible, you ran away from your own problem, you abandon your child, you’re fuckingly deaf to even hear your child crying, you don’t even emphatized sama orang yang lagi celaka barusan. Elo cuma bengong ngelihatin ceweknya si Rama jatoh. Gue makin yakin mendingan anak elo enggak pernah ketemu elo deh seumur hidup kalau kualitas bapaknya kayak begini!

“Mungkin otak elo emang di kontol, Ga. Kalau kontol elo disunat, gue sih bakal pasang lagi kulupnya. Gue bakal malu kalau jadi elo!”

GBRAK!

Vina pun membanting pintu mobil dan melaju pergi ke rumah sakit.

Saga terdiam lesu di depan pagar kosan. Rasanya jiwa Saga sedang dicabut malaikat menyisakan seonggok daging tak berguna, berdiri tanpa rasa. Tatapan Saga kosong. Hatinya syok mendengar semua kata-kata itu. Dia tak menyangka Rama mengatakan omong kosong itu ke Indah. Dan Saga tak menyangka Vina juga punya pandangan yang sama.

Duk.

Lutut Saga jatuh ke atas aspal. Dia mengatur napasnya yang memburu. Dirinya terlihat seperti orang yang hilang di hutan. Celingukan tanpa petunjuk arah. Saga mencoba menjambak rambutnya sendiri, tetapi tak ada dampak apa pun. Dadanya berdebar-debar. Perutnya mulas. Dia merasa malu.

Marah. Sedih. Kecewa. Benci. Bernafsu. Emosi.

Dan semua itu ditujukan kepada dirinya sendiri. Bukan ke Vina, Indah, atau siapa pun.

Sememalukan itukah menjadi Saga?

Hoh ... hoh ... hoh ....

Dada saga sesak.

Saga mengerjapkan matanya berkali-kali, mengguncang kepala, mendengus kuat-kuat.

“Gapapa elo, Mas?” Cewek chindo yang mengisi kamar Saga kebetulan lewat di depan pagar dan mau masuk ke gedung kosan.

Saga mengangguk kecil. Dia tenangkan lagi napasnya, lalu mencoba berdiri. “Iya .... Iya .... Gapapa ....” Lalu, terhuyung-huyung Saga berlari masuk ke kamar Rama dan menyenggol beberapa benda sampai berjatuhan. Rak sepatu kamar sebelah kamarnya dulu. Jemuran handuk di dua kamar setelahnya. Sebuah kursi di tiga kamar berikutnya.

Begitu berhasil masuk ke dalam kamar, Saga langsung duduk di atas kursi belajar. Dia biarkan pintu tak menutup rapat. Dia mencoba menenangkan dirinya lagi. Pandangannya mulai mengabur, Saga lap air mata itu agar tak pernah jatuh ke pipi, tetapi rasanya sulit. Tenggorokannya tercekat. Dadanya sesak.

Mendengar kata-kata kejam itu dari orang yang Saga cintai rasanya menyakitkan.

Ya. Saga mencintai Vina sejak SMA. Persis Rama yang mencintai Saga, di mana keduanya sepengecut itu menyembunyikan perasaan ini di dalam diri mereka sendiri. Tak ada yang mengetahui ini karena Saga tak pernah merasa pantas berada di samping Vina—tak peduli hasratnya untuk memiliki Vina begitu besar. Mendengar kata-kata Vina barusan seolah-olah mengonfirmasi bahwa Saga tak akan pernah pantas bersama Vina.

Sejak kelahiran anak itu, seluruh masa depan Saga hancur.

Yang barusan hanyalah salah satu proses dari kehancuran Saga yang terasa bagai kiamat.

Dengan tangan bergetar, tarikan napas panjang untuk melonggarkan tenggorokan yang sesak, Saga meraih sebuah speaker bluetooth yang dulu sering menemaninya dalam tekanan. Pada awal-awal Hesti hamil, Saga membeli speaker ini secara random agar dia bisa menyetel musik rock di kamarnya dengan suara lantang—bukan lewat headphone. Speaker-nya murahan, jadi beberapa bulan lalu sempat error tiap mau dipakai. Kali ini pun, setiap kali Saga mencoba mengoneksikan speaker-nya ke ponsel, bluetooth tak pernah tersambung.

“ANJING!” BRAK!

Dengan suara sangat bergetar, Saga membanting speaker itu ke atas meja belajar Rama. Dia meremasnya dengan kuat, seperti ingin meremukkan sang speaker.

Saga menarik napas panjang dan memutuskan untuk menyetel lagu rock dari hape-nya saja, menggunakan speaker hape, berharap suaranya bisa menggema di dalam kamar dan menelan amarah, malu, sedih, dan kecewa yang kini menggerogoti tubuhnya dari dalam.

Namun, sebelum lagu pertama diputar ....

“Hey ....” Rama muncul di ambang pintu kamar.

Saga mendongak dan langsung merasakan amarah merayap di dalam hatinya. Menyebar di dadanya hingga terasa panas sekali, membuat napas Saga berembus pendek-pendek. Semua kata-kata Indah di ruangan ini beberapa saat lalu, tentang apa yang Rama bilang ke Indah soal Saga, berkelebatan dalam tempo sangat cepat di kepala Saga.

Satu detik berikutnya, Saga mendapati dirinya bangkit hanya untuk menghajar Rama.

BUUUKKK!

“BANGSAAATTT ...!!!”


[ ... ]


“Aaargh!” Rama mengerang dalam rasa syok. Dia merasakan hantaman keras ke punggungnya, seperti terjatuh telentang secara tiba-tiba. Rasa nyeri muncul dua detik kemudian, meremang seperti diperas. Khususnya di pipi kiri Rama yang langsung kesemutan.

“TAI, LO!” umpat Saga lagi, sambil mencoba menghantam wajah Rama untuk kali kedua, tetapi Rama sempat menggeser wajahnya sehingga tinjuan Saga menghantam dinding di bawah jendela.

BUK!

Rama mendorong Saga sekuat tenaga. Dia berhasil membuat Saga mundur dua langkah, tetapi Saga langsung mengayunkan kakinya dan menendang perut Rama.

BUK!

“AAARGH!” Rama melolong sambil langsung memegang perutnya.

“KONTOL!” Saga mendengus sambil mengayunkan lagi tendangan kedua, tetapi kali ini Rama berhasil menahan kaki Saga dengan kedua tangannya, lalu mendorong Saga mundur.

Dalam masa Saga termundur lagi karena didorong, Rama mencoba bangkit dengan menekan satu siku lengannya ke lantai. Dia melihat Saga hendak mengayunkan lagi kakinya seperti instep kick dalam sepak bola. Bahkan, kaki itu mengambil ancang-ancang jauh dari belakang, seolah-olah kepala Rama adalah bola yang harus ditendang hingga ke gawang.

“CEWEK LO TAI, ANJING!”

BUK!

Rama sempat berguling untuk menghindar.

Kaki Saga menghantam dinding. Saga merasakan nyeri benturan hebat yang menjalar di punggung kakinya secara tiba-tiba.

“ELO KENAPA, ANJING?!” balas Rama, mulai panik.

“AAARGH!” Saga mengerang karena hantaman menyakitkan di punggung kakinya. Dia menoleh ke arah Rama dan membalas dengan napas terengah-engah. “Cewek elo SETAN! Mulut cewek elo kotor! Kayak TAI!”

Saga mengayunkan lagi kakinya mumpung Rama masih terduduk di atas lantai. Namun Rama lebih gesit menangkap kaki itu dengan kedua tangannya, lalu mendorong Saga mundur. Saga terhuyung ke belakang, tetapi tidak jatuh. Dia berpegangan ke kusen jendela.

“ELO NGOMONG APA ANJING?!” sergah Rama, mulai membara. Dia bangkit dengan cepat. Napasnya mulai ngos-ngosan karena adrenalin menyebar di tubuhnya dengan cepat. “NGAPAIN LO NGATA-NGATAIN CEWEK GUE?!”

“CEWEK LO KONTOL!!!” balas Saga, dengan wajah sangat marah. Satu tangan masih berpegangan ke kusen, satu tangan ke rak di atas meja belajar. Satu buku tersenggol dan jatuh ke bawah.

Rama yang tidak terima langsung mendorong Saga. “MAKSUD LO APA, ANJING?!”

Saga terjatuh ke atas meja belajar Rama. Punggungnya menghantam tepian meja belajar—persis seperti Indah tadi. BRUK! Namun, tidak sampai membuat Saga sakit pinggang. Saga menggapai-gapai apa pun di sekitar meja, agar dia bisa tetap berdiri. Buku-buku tebal tentang medis berjatuhan dari atas rak. Menimpa meja, kepala Saga, maupun menggelinding hingga ke atas lantai.

“Elo gila, ya?!” sahut Rama dengan napas ngos-ngosan. “Elo kesambet apa anjing tiba-tiba nonjok?!” Rama memegang pipinya yang mulai terasa panas.

Alih-alih menjawab pertanyaan Rama, Saga hanya menatap teman sekamarnya itu dengan alis mengerut hebat ke tengah, napas mendengkus, dan sorot mata penuh amarah. Satu tangan Saga meraba-raba bagian atas meja dan kebetulan menemukan MacBook Pro M5 yang tertindih satu buku. Dia ambil laptop Apple itu dengan satu tangan, lalu melemparkannya ke arah Rama.

“ANJING!” Rama membelalak terkejut melihat laptop 30-an juta itu dilempar ke arahnya. Tepat mengarah ke wajah Rama. Sebagai pemain basket kampus, tentu saja lemparan Saga akurat menyasar muka Rama.

Tak ada yang bisa Rama lakukan selain menghadang wajahnya dengan satu lengan, sambil satu tangannya mencoba menangkap MacBook-nya. Ada sedikit hantaman ke lengan, lalu MacBook itu merosot jatuh ke bawah, sempat ditahan oleh paha Rama, sempat pula disambar satu tangan Rama di bagian ujungnya, tetapi karena casing semua MacBook itu licin dan sulit dipegang, MacBook itu pun menggelosor jatuh ke atas lantai.

DUK!

Tepat di bagian sudutnya.

WHAT THE FUCK?!” teriak Rama sembari buru-buru mengambil MacBook-nya dengan kedua tangan.

Rama murka. Pertama, dia tak tahu mengapa Saga tiba-tiba menyerangnya secara membabi buta. Kedua, melemparkan MacBook terbarunya ke muka adalah pelanggaran luar biasa. Ini melampaui batas. Tak ada alasan lagi bagi Rama untuk bertanya-tanya. Baginya, Saga kerasukan iblis.

Sambil meletakkan laptopnya dengan satu tangan ke atas credenza pemisah ruang, Rama mengangkat kaki untuk menghantam wajah Saga yang masih ada di atas meja. “GOBLOK LO, YA?!”

DUG!

Namun, Saga sempat menggeser wajahnya, sehingga kaki Rama menghantam jejeran bukunya sendiri di atas meja. Karena kaki Rama sedang ada di atas meja, Saga menggunakan kesempatan itu untuk mendorong Rama ke belakang. Kedua tangan Saga ditekan ke perut Rama, lalu Rama dibuat tersungkur ke seberang ruangan, tepatnya ke meja makan lipat, lemari serbaguna, dan jejeran koper Saga.

BRRRUUUKKK ...!

“AAARGH!” Rama mengerang kesakitan sembari berguling untuk keluar dari benda-benda yang berjatuhan menimpa dirinya. Rama mengguncang kepala karena mulai merasa pusing.

Saga berdiri tertatih-tatih di depan meja. Bahunya naik turun, tersengal-sengal mencari napas. “Cewek lo sama si Vina ke sini,” ungkap Saga, dengan nada tajam dan murka. Saga tetap melayangkan sorot mata predator, seolah-olah ingin menghabisi Rama. “Mulut cewek lo kagak disekolahin!”

Dengan nafsu, Saga melompat dan menendang Rama yang masih terkapar di atas lantai, tak memberi kesempatan kawannya itu untuk bangkit. BUK! Setelahnya, Saga menindih tubuh Rama, menduduki perutnya, lalu menghajar wajah Rama dengan kepalan tangannya.

“Cewek lo bilang otak gue di kontol!”

BUK!

Bibir Rama tergigit sehingga darah mengalir sedikit dari mulutnya.

“Gue enggak punya value!”

BUK!

Tonjokan itu setengah meleset. Alih-alih kena wajah Rama, kepalan tangan Saga menghantam bahu Rama.

“Gue enggak punya masa depan!”

BUK!

Tonjokan itu meleset lagi. Kali ini kena ke koper-koper Saga sendiri, yang kebetulan ada di samping wajah Rama. Buku-buku jari Saga langsung lecet dan memerah.

“Gue ....”

Yang berikutnya tak selesai karena Rama langsung menangkisnya. Pun, suara Saga mulai bergetar. Seakan-akan ada emosi yang meluap dari dada Saga, yang tak bisa keluar kecuali mengalir bersama air mata.

Sebelum Saga melanjutkan hantamannya, satu tangan Rama menggapai-gapai area di sekitar dan menemukan piring melamin yang kini tercecer karena rak piring jatuh berantakan ke atas lantai saat Rama menghantam meja lipat. Rama ambil piring itu dan hantamkan ke kepala Saga.

DUK!

Saga tahu Rama akan menghantamnya, tetapi Saga tidak tahu akan dihantam dengan apa. Saga mencoba menghindar lalu merasakan kepalanya dipukul oleh benda keras di area pinggir kepala. Tidak sampai gegar otak, tetapi Saga otomatis berguling turun karena takut benda itu barang pecah belah yang akan melukainya.

Saga langsung meringkuk dan menutup kepalanya. Tampak ketakutan.

Rama yang tampaknya paham situasinya, langsung bangkit dan berkata, “Sorry ....” Rama cukup pintar untuk mengerti bahwa mungkin Indah ke sini dan membeberkan semua kejelekan Saga yang Rama karang-karang ke Indah pagi tadi. “Maksud gue sebenarnya—“

“DASAR BENCONG LO!”

Deg.

Rama membeku mendengar makian itu.

“TUKANG NYEPONG KONTOL!”

Sungguh, rasanya seperti sebilah pisau yang dingin ditusukkan ke dada Rama, lalu mengoyak-ngoyak bagian dalamnya. Seluruh tubuh Rama merinding dalam rasa beku yang menyakitkan.

Rama tersinggung.

Rama sakit hati.

“HOMO TAI!”

Rama kecewa.

Mendengar kekasih hatinya sendiri mengejeknya dengan makian yang belasan tahun Rama coba tutupi mati-matian rasanya sangat menyakitkan. Dada Rama otomatis panas dan sesak. Tubuhnya seakan-akan membeku seperti batu. Tak bernyawa.

Pandangan mata Rama mulai mengabur.

Di antara 8 miliar orang di dunia ini, please jangan kamu Ga yang menghina aku dengan kata-kata itu.

Tenggorokan Rama tercekat. Bahunya naik turun. Emosi Rama meluap.

Ya, Rama mencintai Saga. Tapi Rama tidak sudi mendengar kata-kata hinaan itu meluncur dari mulut cinta sejatinya. Dengan tangis meledak, Rama bangkit dan menendang Saga di atas lantai.

BUUUKKK!

FUCK YOOOUUU!

Rama menendang Saga sekali lagi.

BUUUKKK!

Saga berguling melewati batas common area dan ruang tidur. Tendangan Rama yang kedua cukup kuat untuk membuat kepala Saga terbentur ke kaki lemari di depan tempat tidur. Benturannya menyobek kecil area di sekitar alis, lalu mengalirkan darah ke pelipis Saga.

“Aaaaaargh ....” Saga membelalak sambil mengerang dan merintih.

Seraya menangis, mengelap mulutnya yang berdarah, dan terisak-isak, Rama berseru, “IYA! GUE GAY! ELO ENGGAK SUKA?!”

Saga tak menjawab. Saga terkapar lemas di atas lantai sambil memegang kepalanya yang pusing sedikit.

Rama melompat menduduki perut Saga, gantian menghajar kawannya itu. Kepalan tangannya meninju pipi kiri Saga.

BUK!

“GUE EMANG HOMO, BANGSAT!”

Meninju sekali lagi pipi kiri Saga. Air mata Rama menetes ke atas dada Saga yang telanjang

BUK!

“GUE SUKA KONTOL!”

Meninju sekali lagi, tetapi kali ini tinjuannya diarahkan ke lemari di samping kepala Saga.

BUK!

“GUE SANGE LIHAT COWOK!”

Emosi dan isak tangis menguasai tubuh Rama. Meski membabi buta dengan pandangan mata mengabur dipenuhi air mata, Rama tetap meninjukan tangannya dengan kuat, seakan-akan ingin menghajar wajah Saga hingga mampus.

Namun, Rama hanya meninju lemari di samping wajah Saga.

BUK!

“GUE SANGE LIHAT ELO!”

Meninju lemari sekali lagi.

BUK!

“GUE SUKA KONTOL ELO!

Meninju lemari sekali lagi.

“GUE SUKA ELO!”

BUK!

“GUE ....”

Rama tak sanggup lagi. Dia meninjukan kepalan tangannya ke lantai, lalu menunduk dan menangis terisak-isak. Bahunya berguncang. Buku-buku jarinya luka. Bagian lemari yang ditonjoknya cekung ke dalam, seperti akan hancur, saking kuatnya tinjuan tangan itu.

“BANGSAT LO GA!” umpat Rama di tengah tangisnya. Air mata menetes ke wajah Saga. “BAJINGAN!”

Meninju lantai. Namun lemas.

Buk.

“Gue butuh elo semalam ....” Rama menarik napas panjang karena dadanya terasa sangat sesak. “Tapi elo enggak peduli sama masalah ini ....”

Meninju lagi lantai dengan lemas.

Buk.

“Elo enggak pernah peduli ama masalah lo.”

Buk.

“Kapan elo mau jadi dewasa ... hiks hiks ..., dan nyelesaiin—“

“TAI!”

DUK!

Saga meninju wajah Rama sekali lagi, membuat Rama terpaksa berguling ke samping. Lalu, Saga menarik kerah Rama hingga tubuh kawannya itu terangkat, kemudian mendorongnya ke credenza. Tanpa bisa Saga kuasai, air mata juga mengalir di atas pipinya. Dia berdiri membungkuk menghadap Rama yang kini mencoba berdiri berpegangan ke credenza. Mulutnya sudah membuka untuk mengumpat dan menghina Rama lagi ....

... tetapi tak ada kata-kata yang keluar.

Bahu Saga berguncang. Tenggorokan Saga tercekat. Sebagai laki-laki, dia mencoba melawan isak tangisnya dengan sekali lagi menghina Rama.

“Kaum laknat ....” Saga terisak. “Kaum neraka ....” Terisak lagi. “Kaum pembawa kiamat ....”

Rama hanya bisa bersandar ke credenza dengan lemas. Dia menunduk dengan mata terpejam, mencoba menghentikan air mata yang terus-menerus mengalir. Seluruh tubuhnya memar-memar, nyeri, dan ngilu. Namun yang lebih sakit adalah hatinya ketika mendengar hinaan-hinaan itu.

“Homo bangsat ....”

Meski menghina, nada suara Saga tak seagresif sebelumnya. Selain tenggorokannya terasa sesak menahan tangis, pun Saga tak tahan melihat lelaki yang sudah menolongnya beberapa minggu terakhir berdiri lemah, terpukul oleh kata-kata Saga sendiri, dan menangis tanpa suara.

Menyadari dia tak sanggup menghina lagi, Saga menarik sekali lagi kerah baju Rama ke arahnya, lalu melayangkan tinjuan ke wajah Rama.

Rama berhasil menghindar, memiringkan kepalanya. Lalu, Rama mendorong tubuh Saga hingga mundur menabrak lemari baju yang tadi.

“Otak elo emang di kontol, Ga!” sahut Rama, dengan air mata mengalir masuk ke dalam mulutnya, membuatnya mencecap asin. “Gue enggak nyesal udah bilang gitu ke cewek gue ....”

Saga hanya bersandar ke lemari sambil mengatur napasnya.

You’re irresponsible!

“Elo avoidant!

“Elo seenaknya!

“Elo tukang boong!

“Elo ngacengan!” Rama menarik napas panjang di antara napasnya yang memburu. “Kontol gue yang homo ini lebih suci dibandingin kontol lo yang udah keluyuran ke mana-mana!

“Udah otak lo di kontol!” Rama menelan ludah dengan susah payah. “Kontol lo juga muna!”

“FUCK YOU!” balas Saga, ketika ada kesempatan.

“Ngatain gue homo ....” Rama mengatur napas dulu. “Tapi gue sepong ..., kontol lo NGACENG, ANJING!”

“BACOOOT, ANJIIINNNGGG ...!!!”

Saga melompat ke arah Rama untuk menghajar wajah kawannya itu sekali lagi.

BUK!

Kena kepala Rama saat Rama mencoba menghindar, tetapi bogem mentah itu menghantam bagian kiri kepalanya—di dekat telinga.

Rama tersungkur ke atas tempat tidur. Telungkup. Ketika mencoba telentang, dia menemukan Saga melompat ke atas tubuhnya, merangkak sambil satu tangan mencekik leher Rama, dan satu tangan teracung di atas kepala Rama, bersiap menonjoknya.

“PUKUL, GA!” hardik Rama menantang, di tengah lehernya yang tertekan. Suaranya hampir tak bisa keluar. Air mata menggenang penuh di matanya. Darah mengalir dari sudut bibir, sudah tersapu ke pipi. Kemerahan di kulit, cikal bakal memar, sudah mulai muncul di wajah Rama.

“PUKUL!” tantang Rama.

Saga masih tetap diam. Tangan itu mengepal sangat kuat di udara. Bergetar seakan-akan mengumpulkan seluruh energi yang ada untuk akhirnya menghantam kepala Rama hingga remuk.

“GUE RELA MATI ....” Rama mencoba mengangkat tangan Saga di lehernya, agar dia bisa bicara.

Napas Saga memanas, menerpa wajah Rama.

Wajah Saga berada sangat dekat dengan wajah kawannya itu. Saga dapat melihat bagaimana Rama begitu terpukul, sedih, kecewa, dan marah atas perbuatan Saga. Bukan hanya urusan adu jotos ini, tapi segala kesalahan yang Saga lakukan ke semua orang. Saga dapat melihat air mata itu mengalir ke pelipis Rama, jatuh ke telinganya yang basah oleh keringat.

“Gue ... rela ... mati ...,” ulang Rama mati-matian di tengah jalan napasnya yang ditutup. Suaranya kecil dan mulai melengking, nyaris tak bisa bicara. “Di tangan ... orang ... yang gue ... cintai ....”

Lalu, Rama menutup matanya dengan tenang. Sisa air mata masih mengalir dari masing-masing sudut matanya. Rama mengikhlaskan nyawanya diambil orang yang dicintainya.

“Pukul aja, Ga ....”

Rama berserah kepada Saga.

Rama yang seharusnya tak terlibat pada urusan Saga, yang mungkin tak akan mengeluarkan hinaan-hinaan untuk Saga andai saja Saga bertanggung jawab pada masalahnya sendiri.

Rama yang menampung Saga tanpa banyak bertanya.

Rama yang melindungi Saga dari masalah yang Saga hindari bertahun-tahun terakhir.

Rama yang kebagian dampak dari perbuatan Saga.

Rama yang masih dengan sopan menunggu momen tepat untuk menikmati Saga, meskipun Rama punya banyak kesempatan untuk melecehkannya.

Rama yang kini tak berdaya di bawah tubuh Saga.

Yang menutup mata dengan damai.

Saga merasakan adrenalinnya memuncak lagi. Tangannya makin bergetar di udara, bersiap untuk meluncur ke bawah dan menghantam wajah tampan di depannya ini. Napasnya memburu.

Dengan sangat intens, Saga menarik napas panjang, lalu meluncurkan tangannya ke bawah.

BUUUKKK!!!

....

....

....

....

....

....

....

Kepalan tangan itu mendarat ....

....

....

....

... di atas permukaan kasur.

Tepat di samping wajah Rama.

....

....

....

Namun, ada juga yang mendarat di wajah Rama.

....

....

....

Bibir Saga.

Cup.

Saga memagut mulut Rama dan mencumbunya sambil menangis. Kedua mata Saga terpejam kuat. Air mata mengalir keluar ke pipinya. Mulutnya melumat mulut Rama yang berdarah, melesakkan lidahnya ke dalam mulut Rama, lalu mencium kawannya itu di tengah isak tangis yang memilukan. Bibirnya mencumbu, tetapi bibir itu berguncang dalam rasa sakit.

....

Rama membelalak terkejut. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan lidah Saga menyeruak masuk di dalam mulutnya dan menari-nari, seolah-olah ingin menguasai Rama sepenuhnya.

Rama merasakan bibir kenyal yang sudah diidamkannya tiga tahun terakhir itu mengatup bibirnya dengan kuat, seakan-akan tak ingin melepaskannya.

Rama merasakan guncangan tangis seorang lelaki yang punya jutaan beban emosional di dalam hatinya, yang sudah cukup lama ditimbun tanpa bisa diungkapkan, yang sudah melewati banyak denial hingga tak dapat diekspresikan. Emosi gelap yang Saga sembunyikan. Yang akhirnya tumpah ruah dalam cumbuan intens penuh air mata.

....

Setelah memagut dan mencumbu Rama sekian lama, Saga pun melepaskan ciuman itu dan melanjutkan tangis dengan menempelkan keningnya ke kening Rama.

Hidung mereka beradu.

Bergetar karena guncangan, bahkan Saga sempat membenturkan keningnya pelan-pelan sebanyak tiga kali ke kening Rama.

Seperti menyesali.

Namun, membutuhkan pertolongan juga.

Tangisan Saga tak ada suaranya.

Air mata Saga menetes lebih berisik dibandingkan isak tangis Saga.

Rama membiarkan Saga menumpahkan rasa sedih, sakit, frustrasi, kecewa, malu, dan takut itu keluar lewat air mata.

Rama hanya terdiam hingga Saga membuka mata dan kedua manik mata mereka saling bertapapan.

Lalu, dalam kamar yang hening itu, sebuah kata-kata muncul ....

....

Kata-katanya adalah ....


[ ... ]

Bersambung ....


Voting sudah selesai.

Hasil voting terlampir di bawah.


Part 8.1 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 9.1


Hasil voting:

Jumlah pemilih: 253 orang

Sebanyak 59% (149 orang) pilih “I love you”

Sebanyak 8% (20 orang) pilih “Harusnya kita enggak pernah sekosan”

Sebanyak 9% (23 orang) pilih “Fuck you!”

Sebanyak 24% (61 orang) pilih “The bluetooth device is connected successfully”

Belum ada pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.

Maka dari itu, Part 9.1 akan mengikuti suara terbanyak. Storyline dari voting yang tidak terpilih akan tayang setelah Part 10 terbit.

Dengan ini, seluruh voting yang terjadi di Part 8.2 setelah penayangan Part 9.1 sudah tidak berlaku lagi.

Komentar