“Kenapa, Ram?”
Saga menyapa Rama dengan pertanyaan itu ketika keluar dari kamar
mandi. Tubuh telanjangnya hanya dililit handuk di pinggang dengan titik-titik
air menempel di atas kulitnya yang kecokelatan.
Rama masih membeku tak percaya melihat isi grup itu. Dadanya
berdebar-debar, kali ini bukan karena kesengsem oleh presensi Saga di dekatnya.
Rama lemas, tak tahu harus melakukan apa. Dicap sebagai gay sukses meninju
jiwanya hingga terasa melayang entah ke mana.
Saga mengerutkan alisnya melihat situasi Rama. Sambil
mempelajari apa yang terjadi, Saga melepas handuknya, membiarkan dirinya
telanjang bulat lagi sambil mengelap titik-titik air yang belum kering. Saga
berbalik ke arah lemari, mengeluarkan pakaian yang akan dikenakannya malam ini.
Rama dapat melihat punggung dan pantat telanjang yang seksi
itu, tetapi sungguh Rama tidak tertarik sama sekali. Kortisolnya naik.
Jantungnya seakan-akan berhenti berdetak. Rama mengumpulkan tenaga agar bisa
mengatakan sesuatu dari mulutnya—yang rasanya sulit sekali.
Saga mengenakan sempak ke tubuhnya, lalu mengelap rambutnya
yang basah. Dia pun berbalik dengan jendolan di sempak yang lumayan besar.
Kemungkinan kontol itu masih setengah ngaceng akibat dikocokin di kamar
mandi tadi.
“Woy,” panggil Saga, melambaikan tangan di depan wajah Rama.
Saga menyipitkan matanya dengan curiga sambil mulai mengenakan celana.
“Orang-orang nemuin kita,” kata Rama akhirnya, setelah menelan
ludah dengan susah payah. Menggunakan tangannya yang gemetar, Rama mengambil
lagi ponsel yang terjatuh ke atas tempat tidur, kemudian menunjukkan
pesan-pesan itu ke Saga.
Setengah telanjang, Saga menyambar iPhone Rama dan membacanya
secara cepat. Rama dapat melihat Saga terpengarah kecil membacanya, tetapi tak
ada reaksi emosional apa pun. Seolah-olah itu hanya obrolan sampah sebuah grup.
Dugaan Rama itu terbukti dengan Saga melemparkan ponsel Rama
ke atas tempat tidur dan berkata, “Lebai amat sih mereka.” Lalu, Saga berbalik
memunggungi Rama untuk membuka lipatan kausnya.
“Mereka mikir kita macam-macam, Ga!” sahut Rama, menuntut.
“Fotonya ada!”
“Pelukan doang, Bro.”
“Tapi sekarang mereka mikirin something yang bukan
sebenarnya!” Rama menyugar rambutnya dengan panik. Yang setelah Rama
pikir-pikir, yang “sebenarnya” jauh lebih parah dari yang teman-temannya itu
pikirkan. Rama melihat layar ponselnya yang terus menampilkan notifikasi pesan
masuk di grup WhatsApp itu. “Pasti mereka ngomongin soal kita sepanjang malam
ini ....”
Saga tak merespons. Dia mengambil deodorannya, mengolesnya ke
ketek seksinya yang berbulu, lalu menyemprotkan parfum ke badan. Hingga Saga mengenakan
kaus, dia enggan berbalik menghadap Rama. Baru setelahnya Saga berbalik untuk
mengambil tasnya, yang kebetulan berada di dekat Rama. Itu pun Saga menundukkan
pandangan.
“Gimana kalau mereka ngomongin yang bukan-bukan? Gimana kalau
mereka melantur ke sana kemari, nuduh kita yang enggak bener, terus karena
dibahas terus-terusan, malah jadi realita mereka—“
“Elo kenapa sih terlalu peduli sama omongan mereka?” tanya
Saga sekilas, sebelum kemudian membuka pintu dan berlalu ke luar untuk
mengenakan sepatu.
“Ya jelas gue peduli, soalnya kita masih kontakan ama mereka. Well
at least, gue, ya! Gue masih ngobrol ama mereka meskipun gue jauh.” Rama
membuntuti Saga hingga ke depan kamar. “Gimana kalau kita dilaporin ke polisi,
hm?”
“Lebai,” jawab Saga, bergumam, hampir tidak kedengaran.
“Gimana kalau akhirnya ortu elo tahu soal ini? Soal elo enggak
ngekos lagi di kamar itu, tapi elo numpang di gue? Gimana kalau mereka marah
ama elo, terus elo enggak dikasih duit lagi, gimana caranya elo ngidupin anak
elo, hm? Gimana kalau teman-teman kita ini bocor ke sana kemari. Satu angkatan
sekarang tahu elo ngapain, termasuk kita berdua dikira mesra-mesraan kayak
gini. Gimana kalau mereka datang ke Bali dan nyari kita? Gimana kalau mereka
tahu kos gue di mana, dan mereka nyusul ke sini.”
“Mereka tahu kos elo di mana?” tanya Saga, tanpa mengangkat
kepala dan masih sibuk mengenakan sepatunya.
Dengan napas ngos-ngosan Rama mengingat-ingat. “Enggak.” Lalu,
Rama menelan ludah. “Enggak ada yang tahu, tapi mereka bisa aja nanya ke bokap
nyokap gue, terus nyokap gue mungkin ngebocorin gue ngekos di mana, terus ....”
Rama tak bisa melanjutkan. Yang terdengar adalah suara
napasnya terengah-engah karena panik.
Saga sudah selesai mengenakan sepatu. Dia berdiri dan
merapikan tasnya. Dengan santai, seolah-olah ini bukanlah masalah besar, dia
berkata, “Orang-orang SMA masih aja drama.” Saga menggelengkan kepalanya sambil
mengecek ponsel. “Gue enggak mau mikirin ini sekarang.” Lalu, menyakui lagi
ponsel itu dan berjalan mundur. “Kita omongin nanti.”
Setelahnya, Saga berbalik pergi meninggalkan Rama.
[ ... ]
Meski ini Sabtu malam, kalau sudah pulang berkencan bersama
Indah, Rama akan tetap belajar untuk kelas-kelas di minggu berikutnya. Malam
itu, Rama tak bisa belajar. Hatinya mencelos menatap Saga dengan mudahnya
berjalan menyusuri lorong meninggalkan Rama sendirian di depan kamar kosan.
Dengan lesu Rama masuk lagi ke kamarnya dan menutup pintu.
Tangannya gemetar tanpa bisa dia kendalikan. Rama mencoba duduk di kursi
belajarnya, tetapi dadanya terasa sesak. Dia hanya bisa bertahan satu menit
saja. Setelahnya dia menoleh ke arah ponsel di atas tempat tidur lalu
memutuskan menghampirinya dan melihat sedalam apa Rama terjatuh ke jurang malam
ini.
Hati-hati Rama duduk di atas tempat tidur. Dia menyambar
ponsel pelan-pelan tetapi tak langsung membuka kunciannya. Dia masih melihat
notifikasi pesan-pesan pendek di grup. Namun, tatapan Rama kosong. Pikirannya
sedang melayang entah ke mana.
Dia menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Dia teringat
pada salah satu kelas Mekanika Pernapasan ketika dirinya mendapati pasangan
praktikumnya, Gio pingsan setelah mengalami takipnea parah. Gue harus
tenangin napas gue, batin Rama. Jangan sampai gue pingsan dan gagal
ngejelasin yang sebenarnya ke orang-orang di grup ini.
Atau lebih tepatnya, menjelaskan sebuah skenario yang akan
menyelamatkan Rama. Kalau bisa sekaligus menyelamatkan Saga. Namun, sungguh,
Rama sedang tak bisa memikirkan Saga saat ini. Image-nya sebagai lelaki
heteroseksual yang sudah dia bangun sejak SD, sejak dia tahu dirinya
homoseksual dan mati-matian menjaga diri agar terlihat “straight”, kini
terancam. Seolah-olah dirinya sedang ditinju hingga seluruh tulangnya remuk.
Rama menarik tubuhnya hingga bersandar ke kepala ranjang. Dia
memegang ponselnya tapi masih belum berani membuka ponsel. Rama merasakan malu
teramat sangat. Benar, belum ada konfirmasi dari Rama bahwa dirinya gay,
tetapi semua temannya terlanjur berpikir ke arah sana. Rama malu membayangkan
semua mantannya di SMA yang mungkin berpikir jijik pernah pacaran—atau ngewe—dengan
Rama yang ternyata seorang gay.
Rama malu membayangkan semua teman SMA-nya yang meminta
nasihatnya saat akan pedekate ke cewek karena merasa Rama adalah lelaki straight
paling alfa di SMA sejak berhasil pacaran dengan Vina. Apa yang akan
teman-temannya itu pikirkan soal Rama? Bahwa Rama itu bullshit? Tukang
ngibul?
Penipu?
Tangan Rama bergetar lagi. Bahunya berguncang, seakan-akan
ingin menumpahkan tangisan, tetapi Rama menahannya mati-matian agar tidak
menangis. Dadanya terasa campur aduk. Pada saat bersamaan terasa engap, sesak,
sekaligus kosong dan hampa.
Rasanya dunia ini dingin. Rasanya seluruh tubuh Rama,
dagingnya, tulangnya, darahnya, dingin. Rama seakan-akan ditelanjangi, dibuat coming
out, tapi bukan karena Rama yang coming out. Rama “ditemukan”.
Rasanya benar-benar menyakitkan jika orientasi seksualnya yang gay
diumumkan oleh orang lain, bukan oleh Rama sendiri.
Rama mengerjapkan matanya kuat-kuat. Dia juga mengguncang
kepalanya, berusaha mengenyahkan semua pikiran menyeramkan soal orang-orang
kepada dirinya. Ingin sekali Rama memejamkan mata dengan kuat, lalu ketika
membuka mata semua itu lenyap dan selesai. Bahwa ini hanya mimpi di siang
bolong saja. Bahwa grup itu tak pernah ada.
Ingin sekali Rama terbangun dan menemukan Saga ada di
sampingnya, telanjang dan bisa Rama nikmati ketek, puting, maupun kontolnya
seperti pagi tadi. Lalu semua masalah ini hanyalah mimpi buruk yang
menakut-nakuti Rama.
Namun, kenyataannya tak seperti itu. Ketika Rama membuka
ponselnya, grup itu masih ada di sana. Masih aktif dengan pesan-pesan penuh
pertanyaan, tuduhan, ancaman, ledekan, dan penghinaan. Seakan-akan, malam semua
orang di dalam grup itu menjadi lebih baik gara-gara “gosip” panas soal Rama
dan Saga. Seolah-olah ini topik paling bergengsi di negeri ini, mengalahkan
setiap isu di MBG maupun Palestina. Bahkan orang-orang yang Rama tahu jarang
aktif di grup mana pun mendadak ada di sini hanya untuk memberikan pesan one-liner
macam ....
Hahaha.
Gila gila.
Anjir!
Serius mereka pacaran?
Si saga trauma kali! Masuk ke cewek malah
berojol anak jadi masuk ke si rama.
Anjing bener!
Hahaha!
Panggilan kepada Rama agar membalas pesan itu berulang kali
digaungkan. Rama tidak pernah mengatur WhatsApp-nya agar read tidak
terdeteksi. Semua orang akan tahu apakah pesan terkirim ke Rama atau sudah
dibaca atau belum. Yang artinya semua orang di grup tahu bahwa Rama sudah
membaca pesan-pesan itu.
Balas ram! Gw tau lo udh baca.
Ya masa ranking 1 di kelas ga bisa baca
grup wa
Wkwkwk
Atau lo lg sibuk ngentu sm si saga?
Kmu botinya bukan ram?
Napas Rama kembali memburu membaca pesan-pesan itu. Tentu saja
tak semua orang menghina atau meledek Rama. Beberapa kawan SMA-nya mencoba
netral.
Gengs kalo kalian ngomong kyk gtu mana mau
rama ngaku. Let him talk.
Kyaknya kalian lebai anjir. Cuma pelukan
doang mereka.
Tunggu si rama balas dulu. Gmn kalau itu
cuma mirip doang mukanya?
Ya lu mikir aja Zahra, masa ada org
kebetulan mirip si rama boncengan sama orang yg mirip si saga? Mikiiirrr!!
Mksud aku jangan nuduh dulu. Misal bener ya
biarin mereka jelasin dong.
Atau bisa jadi itu ai
Bisa jadi si vina generate gambar saga sama
rama di bali, pelukan di motor, kayak di tiktok.
Oh iya kyk ai yang naik helikopter itu kan?
Enak aja! Mana bisa gue bikin gambar ai,
anjir! Prlu gw kirim foto2 lain yg blur yg ga kelihatan muka mereka? Si saga
ngebut anjir
Yang terakhir itu dari Vina. Namun intinya, tak semua orang
menekan atau menuduh Rama yang bukan-bukan. Sayangnya, jumlah itu tak cukup.
Rama tetap tertekan dan ketakutan.
Rama paham, Saga sudah ada jadwal berkencan malam ini. Namun,
Rama berharap Saga mau peduli pada masalah ini. Soalnya, ini melibatkan Saga
juga. Okelah kalau Saga tak peduli pada kasusnya dengan Hesti, tapi sekarang
kasus Saga melibatkan Rama juga. Rama sudah baik hati menampung Saga di sini,
sudah ikhlas memberi ruang kepada Saga untuk menyelesaikan masalah Hesti ketika
Saga siap, bahkan Rama membelikan beberapa kebutuhan personal Saga.
Seharusnya Saga bersedia membantu Rama meluruskan hal-hal yang
tidak benar.
(Atau, sekali lagi, lebih tepatnya hal-hal yang ditutupi Rama
selama ini.)
Rama mengecek jam di ponselnya berkali-kali. Satu jam sejak
kepergian Saga, Rama masih belum membalas apa pun di grup itu. Rama sudah
mengetik beberapa kalimat di notes iPhone-nya, segala jenis pesan yang
mungkin akan Rama kirimkan ke grup.
Sori baru balas. Gw juga baru nemu dia di
bali. Dia lagi liburan juga. Lalu setelah denger cerita dari Vina, gw ajak dia
ngobrol ke kafe di canggu gitu. Itu salah angle aja guys. Gw ga pelukan.
Sori baru balas. Gw ga tau itu siapa. Hari
ini gw ama cewek gw ke living world. Nonton, makan, ke kosan dia pacaran,
begituanlah biasa hehe. Ada fotonya di cewek gw. Sumpah gw juga kaget mukanya
mirip bgt ama gw. Wkwkwk. Kok bisa sih vin?
Sori baru balas. Itu bukan saga guys. Itu
temen gw di kampus. Namanya andrew. Emang mukanya agak2 mirip ama si saga.
Orangnya juga tunggu kiris. Hehehe. Tapi bukan kok. Andrw klo motoran emang
ngebut, jd klo dari jauh ya kayak si saga.
Namun tak ada satu pun pesan yang dikirim. Percaya tak
percaya, lebih dari 20 kali Rama membuat pesan-pesan itu. Setiap selesai satu
pesan, dia akan menghapus seluruhnya dan membuat pesan yang baru karena merasa
pesan tersebut tidak akan menyelamatkan situasi. Otaknya yang biasanya cerdas
dan pintar, yang selalu membawanya ke peringkat-peringkat atas di kelas, bahkan
mampu membawanya lulus jurusan kedokteran, di mana sejauh ini IPK-nya selalu di
atas 3,8, tak mampu melahirkan ide-ide cemerlang menanggapi grup Cari Saga.
Rama tahu, makin lama dibiarkan, makin kreatif karangan cerita
teman-teman SMA-nya akan Rama dan Saga. Sayangnya Rama tak tahu apa yang bisa
dilakukan.
Rama mengecek lagi jam.
Belum ada tanda-tanda Saga akan pulang.
Selama apa sih Saga ngewe-nya?
Kenapa Saga enggak kepikiran soal ini semua?
Grup mulai berkonspirasi. Ada beberapa orang yang mulai
mengulik media sosial Rama. Melihat konten-konten Rama, bahkan siapa saja yang following
follower Rama.
Anjir gw baru ngeh si rama ngefollow
pemenang2 lmen of the year. Gay bgt lu ram.
Eh iya dong gw jg ngecek followernya dia
difollow temen gw yang gay. Kenapa jg coba dia ngefollow si rama?
Kenal kali?
Kenal dari mana? Temen gw ini orang
lampung. Sekampus ama gw. Dianya mah gay. Tapi knp dia follow si rama anjir?
Cek dah, following si rama banyakan artis2
hollywood yg cowok dibandingin cewek. Wkwkwk.
Halah dia juga follow yoshi sudarso. Cowok
yg follow dia fiks gey.
Eh eh kata temen gw yang boti, klo cowok
ngefollow yusufhendratno berarti boti. Si rama juga follow. Anjay! Hahaha...
Ya ngapain juga dia follow nicholas saputra
anjing! fiks gey
Dada Rama sesak lagi. Bahunya sampai berguncang naik turun
sampai-sampai Rama harus memejamkan mata kuat-kuat, menengadahkan kepala,
menegakkan tubuh, menarik napas panjang, lalu mengepalkan tangannya. Semua
dalam usaha untuk menenangkan diri.
Bukannya tenang ....
... setetes air mata mengalir ke atas pipi Rama.
Dengan tangan gemetar, Rama buru-buru mengelapnya dan menarik
napas lagi. Rasanya menyakitkan sekali membaca pesan-pesan itu. Perihnya
terjadi di rahang, di hati, di perut, di seluruh tubuhnya. Seperti membangun
tumpukan kartu yang tinggi sekali, hingga membentuk menara, lalu seseorang
menghancurkannya dengan mudah.
Rama tak ingin menangis, tetapi air mata menetes bergantian.
Rama pejamkan matanya makin kuat hingga area matanya terasa sangat sakit.
Napasnya tak bisa dia atur dengan tenang. Napas itu masuk dan keluar setiap
satu detik.
Rama terkena serangan panik.
Kejadian itu berlangsung selama beberapa menit. Pada akhirnya
Rama tenang lagi. Namun, dia tak mau membuka grup WhatsApp. Alih-alih, dia
membuka akun Instagramnya dan menggulir hingga ke foto-foto terlama. Rama
memastikan tak ada pose-posenya yang “ngondek” atau mengindikasikan
dirinya gay. Sejauh ini tidak ada. Soalnya Rama selihai itu memerankan
lelaki manly dan straight di hidupnya. Rama juga inginnya meng-unfollow
seluruh akun yang akan membuat orang menyimpulkan dirinya gay. Namun
Rama sudah terlambat. Sebagian dari temannya men-screenshot following
Rama, sehingga jika Rama tiba-tiba meng-unfollow mereka malah akan
mengonfirmasi bahwa tuduhan mereka benar.
Rama kembali melihat jam.
Saga masih belum pulang.
Rama akhirnya tiba di foto-foto paling bawah di Instagramnya.
Ya, tidak ada foto dia yang terlihat ngondek. Namun, dia baru menyadari
bahwa selama ini hidupnya disetir oleh orang lain. Hanya karena dirinya tak mau
dicap homoseksual, dia membuat sebuah persona sempurna sebagai lelaki straight
untuk menipu semua orang. Literally, semua orang. Tak ada yang tahu
dirinya gay. Rama tak pernah bertemu dengan orang di aplikasi kencan gay,
dan tak pernah menunjukkan fotonya pada gay mana pun.
Secara harfiah, hanya Ramalah yang tahu bahwa Rama gay.
Fotonya main futsal bersama teman-teman SMP, padahal Rama tak
suka futsal, terlihat ganteng dan gagah. Harapannya, kalau main futsal,
orang-orang akan menganggap Rama straight.
Fotonya bersama semua mantannya, dengan pose-pose mesra yang
dipaksakan, seperti misal merangkul, hampir mencium, mendekap dari belakang
dengan romantis, mencium pipi, dan segala pose romantis cowok ke ceweknya, yang
masih saja Rama pasang di linimasanya demi bukti otentik bahwa Rama sukanya ke
cewek.
Fotonya naik gunung bersama teman-teman cowok, camping
di alam, arung jeram, reels melompat ke sebuah danau hidden gem
tanpa peralatan keselamatan, dan segala aktivitas fisik yang maskulin demi
menyatakan kepada dunia bahwa dirinya seorang laki-laki jantan.
Bukan hanya itu, beberapa reels-nya bahkan menggunakan sound
dari lagu Samsons berjudul Naluri Lelaki. Lirik, “Aku adalah lelaki
yang tak pernah lelah mencari wanita. Aku adalah lelaki yang pantang menyerah
memikat wanita,” menjadi lirik dalam beberapa videonya—meski videonya tidak
berkaitan dengan hal tersebut. Semua demi menegaskan bahwa dia adalah lelaki
yang gundah menunggu wanita, selalu ingin dibuai wanita, ingin berjuta wanita
di sisinya, merindukan pujaan dari wanita, minta tolong para wanita dekati
Rama, hampiri Rama, jamahi Rama, agar dia bijaksana, bahagia, dan merasakan cinta.
Itu adalah hidup Rama.
Hidup menyedihkan yang diisi dengan segala usaha mendapatkan
validasi bahwa dia laki-laki penyuka perempuan, padahal aslinya ....
... dia homoseksual tulen.
Tak sekali pun senyum dan pose itu asli dan tulus. Semuanya
dipenuhi rekayasa penipuan. Semuanya dilakukan demi “memuaskan orang-orang”.
Tak pernah sedikit pun keberhasilannya dianggap lelaki straight
memuaskan hati Rama. Setiap Rama berhasil, dia hanya akan merasa lega.
Dia lega karena orang-orang puas Rama seorang lelaki straight.
Dan beginilah hasilnya ketika tak pernah jujur pada dirinya
sendiri atau orang-orang. Cinta sejatinya hanya sebatas saling ngocokin tanpa
ada masa depan yang membahagiakan. Cinta sejatinya menganggap masalah ini lebai
dan drama sembari pergi untuk ngewe seorang perempuan di luar sana.
Cinta sejatinya hanya memberikan harapan palsu kepada Rama.
....
Rama selalu tahu rasanya menyeramkan jika seksualitasnya
diketahui banyak orang.
Rama tidak tahu bahwa lebih menyeramkan seksualitasnya
“ditemukan” oleh orang-orang.
Pada akhirnya, Rama hanya bisa merosot sambil melelehkan air
mata ke atas pipinya. Ini mungkin terdengar lebai bagi banyak orang, tapi bagi
laki-laki yang secara konsisten dan rapi menutupi seksualitasnya dari dunia,
ketahuan gay adalah sebuah kekalahan terbesar.
Lebih menyakitkan dibandingkan masuk neraka.
Ga, can we talk about this? Kmu dmn?
Pesan WhatsApp pertama yang Rama kirim justru kepada Saga.
Hingga tengah malam berlalu dan kuntilanak memulai shift
kerjanya, balasan itu tak pernah datang dari Saga.
Pujaan hatinya, lelaki yang selalu dirindukannya, cinta
matinya, tak peduli pada Rama.
Dan ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan tuduhan-tuduhan
keji di grup itu.
[ ... ]
“You look sad.”
“No I don’t sad.”
“Then why you’re not hard?”
“I ... I ... I tired.”
“I think your head is somewhere else.”
“No. It’s here. Wait.”
“Just go.”
“No, wait—“
“It’s obvious. You think about something else. Is it other
woman?”
“No! No ....”
“Just go. I think I just wanna sleep. Bye.”
Bule asal Australia itu mendorong Saga dan turun dari tempat
tidur untuk mengenakan lagi celana pendeknya. Dia pergi ke kamar mandi dan
menggosok gigi.
Saga terhempas ke atas ranjang hotel dalam kondisi
menyedihkan. Telanjang bulat. Sangat seksi dengan tubuh toned—kurus tapi
ada kekarnya. Bulu ketek dan jembutnya membuat dia tampak macho. Belum
lagi wajah tampannya yang memiliki sex appeal tinggi. Namun sayang,
kontolnya terkulai lemas di atas jembutnya.
Kontol itu hanya setengah ngaceng. Bagian kepalanya
keras, tapi bagian pangkalnya lembek.
Sudah satu jam Saga mencoba ngewe bule Aussie itu,
tetapi tak berhasil. Dia sudah mengocok kontolnya dengan pelumas agar keenakan
dan ngaceng. Sempat berhasil ngaceng, tetapi setelahnya loyo
lagi. Padahal, bule ini merupakan tipe Saga banget. Toketnya besar, badannya
ramping, kulitnya tanned, rambutnya pirang, dan wajahnya cantik. Di
situasi normal, kontol Saga akan terus-terusan ngaceng menghadapi cewek
bule kulit putih macam begini. Kapan hari Saga sampai crot lima kali,
mengentot bule tipe yang sama, dalam kurun waktu dua jam saja. Sengebet itu
Saga pada cewek bule.
Namun malam itu, Saga harus mengakui kekalahannya.
Grup Cari Saga itu mengacaukan malamnya.
“ARGH!” Saga mengerang kesal sambil bangkit untuk duduk.
Susah-susah dia merayu bule ini di bar siang tadi—setelah mengantar Rama ke
Batu Belig—ujung-ujungnya Saga gagal menikmati hadiahnya secara penuh.
Yang bisa Saga lakukan kini mengenakan lagi seluruh
pakaiannya, mengetuk pintu kamar mandi untuk berpamitan, lalu meninggalkan
hotel. Saga menyusuri jalanan Bali yang mulai sepi dengan motornya. Dia sampai
di Pantai Kuta yang gelap, yang lampu-lampunya hanya menyorot area pasir dekat
jalan saja, tidak sampai ke bibir pantai. Saga parkir di sana dan berjalan
memasuki area pantai.
Saga tak membuka sepatunya. Dia tak peduli jika pasir-pasir
mulai masuk ke kakinya. Dia menghabiskan beberapa batang rokok sambil menatap
lautan gelap. Matanya terlihat kosong. Pikirannya melayang ke mana-mana—seperti
yang dituduhkan bule tadi.
Saga tak menangis, meski hatinya meraung-raung marah. Dia
membenci keadaan. Dia membenci takdirnya. Dia membenci semua ketololan yang
sudah dia lakukan, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia membenci dirinya
yang hiper. Dia membenci Hesti. Dia membenci anak itu. Dia membenci Hesti
karena melahirkan anak itu. Ingin sekali dia menghajar wajah perempuan itu
karena sudah membuat hidupnya sulit. Membuatnya harus kabur ke pulau lain demi
ketenangan hati.
“AAAAAARGH!” Saga berteriak hingga otot-otot lehernya menegang
dan timbul ke permukaan kulit. “AAAAAAAAAARGH!”
Dia membenci dirinya sendiri.
Dia membenci fakta bahwa kini Rama sampai harus terbawa-bawa
akibat ulahnya.
“AAANNNJJJIIIIIIIIINNNGGG ...!!!” Saga menendang pasir ke
lautan gelap. “FFFUUUUUUCCCKKK! AAAAAAAAARGH!”
Pasir-pasir itu dia tendang dengan murka. Seperti men-sleding
pemain bola lawan. Pasir-pasir beterbangan ke sana kemari. Sebagian mengenai
diri Saga sendiri. Bahkan, menciprat hingga ke matanya. Namun, Saga tak peduli.
Seluruh tubuhnya lembap oleh keringat, tetapi bukan karena cuaca Bali. Tubuh
itu begitu marah sampai-sampai menghangat tak terkendali.
“ANJIIINNNGG! FUCK YOU!!!” Saga menendang pasir sampai-sampai
dirinya melangkah maju ke bibir pantai dan ujung-ujungnya dia menendang ombak
yang menghantam kakinya. “AAAAAARGH!”
Air laut terciprat ke sana kemari saat ditendang. Saga
terjatuh dalam posisi merangkak di atas bibir pantai. Setengah celana
panjangnya otomatis basah. Sepatunya sudah pasti basah.
Dalam kegelapan malam, teriakan-teriakan amarah dan penyesalan
itu berkumandang tanpa henti.
[ ... ]
Rama tidak tidur.
Rama tidak bisa tidur.
Dia berbaring di sisi tempat tidurnya, membiarkan sisi Saga
tetap kosong dengan harapan Saga akan pulang lalu tidur di sini. Rama tahu Saga
tak akan peduli pada masalah ini. Rama tahu dirinya sendirian di sini—tak akan
ada yang membantu. Namun Rama secinta itu kepada Saga sampai-sampai dia masih
menyisakan ruang itu di atas tempat tidurnya agar Saga bisa tidur.
Entah Saga bakalan tidur di sini atau tidak.
Rama sudah selesai menangis. Dia terbujur lemas menatap
langit-langit kamarnya. Penerangan berubah keunguan karena ini sudah masuk fase
tidur. Namun, Rama hanya bisa diam dengan tatapan kosong.
Dia belum membalas apa pun di grup itu. Dia masih merasakan
layarnya berkedip-kedip setiap pesan WhatsApp masuk ke ponselnya. Bedanya, Rama
sudah tidak tahu apa lagi yang mereka bicarakan di sana. Apakah masih membahas
Rama? Ataukah sudah berganti ke topik lain?
Entahlah.
Rama merasa jiwanya sudah melayang pergi entah ke mana, yang
ada di atas tempat tidur itu hanyalah seonggok daging yang tak berguna, yang
bertahun-tahun berakting heteroseksual di depan seluruh manusia demi validasi
yang tidak ada artinya.
Rama tidak tahu bagaimana menghadapi hari esok. Rama tidak
tahu apa yang akhirnya harus dia katakan di grup itu. Rama tahu beberapa
anggota grup mulai mengirimnya pesan pribadi, tetapi Rama tidak tahu bagaimana
harus meresponsnya. Satu di antara member itu adalah guru matematikanya, yang
kebetulan menjadi wali kelas Rama bersama Saga di jenjang XII, dan beliau masuk
ke grup karena isu utamanya adalah soal Saga. Dulu guru matematika itu sangat
bangga kepada Rama karena mendapatkan nilai hampir sempurna di seluruh
pelajaran.
Rama tak berani membayangkan apa yang guru matematika itu
pikirkan soal Rama sekarang.
Soal seksualitasnya.
Soal dirinya bersama Saga, sang buronan yang menghamili anak
orang.
....
Rama tak tahu, apakah mulai besok dirinya mati saja ...?
Ataukah dia masih punya kesempatan melanjutkan hidup?
Rasanya sih seperti ingin mati.
....
Sekalinya Rama membuka ponsel, dia hanya ingin melihat
pesannya kepada Saga. Apakah Saga akhirnya membalas pesan itu?
....
Belum.
Saga belum membalasnya.
....
Dari membuka ponsel itu, Rama tahu sekarang sudah pukul 04.17.
Dan kebetulan ....
Ckrek!
... pintu kamar terbuka.
....
Saga akhirnya pulang.
Dalam siluet remang-remang kamarnya, Rama dapat melihat Saga
membuka sedikit celah di pintu untuk memastikan pintunya tidak dikunci. Lalu,
Saga melepas sepatunya dan berjibaku entah ngapain di luar sana. Tak lama,
sosok tinggi kurus itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Saga juga
menguncinya dengan perlahan, mengira Rama sudah terlelap.
Rama bisa melihat Saga menggulung bagian bawah celana
panjangnya—entah untuk apa.
Ketika Saga berbalik, pandangan mereka bertemu untuk sesaat.
Saga menyadari Rama belum tidur, tetapi dia tetap tak menyapa. Saga meletakkan
tasnya, melepas kausnya, melorotkan celana panjangnya, lalu melilitkan
handuknya ke pinggang dalam kondisi sempaknya masih terpasang. Setelah handuk
terpasang, barulah Saga menurunkan sempaknya. Setelah itu, Saga masuk ke kamar
mandi tanpa mengatakan apa pun kepada Rama.
Di situ, Rama merasa sakit hati.
Saga bahkan sudah tak sudi telanjang bulat lagi di depan Rama.
Padahal beberapa jam lalu Saga dengan santai telanjang di depan Rama sebelum
mengenakan baju, sekarang tubuhnya harus ditutupi handuk dulu?
Ingin rasanya Rama menangis lagi karena kecewa, tetapi air
matanya sudah kering.
Rama hanya bisa menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
Terbujur diam. Kaku. Lemas. Dadanya terasa sesak. Telinganya mendengarkan
dengan detail dan saksama suara air mengalir di kamar mandi. Dirinya menunggu
dengan setia hingga Saga muncul di dalam kamar dan mengatakan sesuatu.
Sepuluh menit Saga mandi, lelaki itu keluar dengan handuk
dililit di pinggang. Saga mengambil kaus belel dan celana pendeknya, yang
biasanya digunakan untuk tidur. Lalu, Saga masuk lagi ke kamar mandi hanya
untuk mengenakannya.
Rama menelah ludah dengan pahit.
Lelaki itu betulan tak sudi telanjang lagi di depan Rama.
....
Ketika Saga muncul lagi, Saga langsung menjemur handuknya di
tempat biasa, kemudian naik ke atas tempat tidur di bagiannya sendiri. Saga
berbaring miring menghadap tembok, memunggungi Rama.
Saga langsung mencoba tidur tanpa mengatakan apa-apa, meskipun
Rama yakin Saga sudah berkali-kali melihat mata Rama yang terbuka dalam
remangnya kamar.
....
....
....
Rama memberanikan diri untuk mengajak Saga bicara. Dia
memegang tangan Saga yang tersampir di atas tubuhnya.
Namun ....
... Saga menepisnya. Saga letakkan tangan Rama ke bawah, tanpa
menoleh sedikit pun.
Lalu, Saga berkata, “Besok aja.”
Kata-kata itu terdengar dingin dan menyakitkan. Rasanya hati
dan jiwa Rama sudah mati. Padahal Rama memanggil bukan untuk ngewe atau
melakukan hal-hal sensual. Rama hanya ingin membahas yang tadi.
Dada Rama kembali sesak.
Susah payah Rama mencoba menahan tangisnya lagi.
Pujaan hatinya ini tampaknya tak punya niat baik untuk
menyelesaikan masalah yang sedang berlangsung. Semua aksi-aksi nakalnya bersama
Rama dilakukan bukan karena Saga peduli. Saga hanya ingin menikmati Rama tanpa
benar-benar acuh. Seluruh sentuhan-sentuhan sensual di antara mereka berdua tak
ada artinya bagi Saga.
Dia hanya menikmati manfaatnya, tetapi menyangkal maknanya.
....
Karena sakit hati, Rama pun berbalik memunggungi Saga. Rama
sedikit marah pada perlakuan Saga barusan. Rama mengambil ponsel di atas meja
dan akhirnya memberanikan diri membuka WhatsApp.
Ada 900 pesan tak terbaca dari grup Cari Saga. Ada beberapa missed
call ke WhatsApp-nya, yang entah dari siapa saja.
Kemudian, ada sekitar belasan pesan pribadi yang belum
terbaca, yang sebagian besar berasal dari anggota grup tersebut.
Pesan dari Indah juga ada. Pesan terakhir yang muncul adalah, Yang!
Ini maksudnya apa sih?
Rama mengerutkan alis.
Kenapa Indah bertanya seperti itu?
Lalu, ada pesan dari Wanto, salah satu member grup Cari Saga,
yang pesan terakhirnya adalah, Itu beneran cewek lu yg namanya indah itu?
Kenapa nama Indah disebut-sebut? tanya Rama dalam hati. Jantung Rama
berdebar-debar lagi karena Wanto sampai tahu nama Indah. Soalnya, Indah bukan
dari SMA yang sama. Rama menemui Indah di sini, di Bali, dan baru kenal
beberapa bulan ke belakang saja.
Rama langsung bangkit terduduk dalam gelap. Jempolnya bergetar
di atas layar yang menunjukkan grup Cari Saga. Rama sedang mengumpulkan
kekuatan untuk membuka grup.
....
Klik.
....
Rama masuk ke dalam grup.
Pesan-pesan teratas bukanlah pesan yang mengkhawatirkannya.
Namun, ketika Rama menggulir ke bawah, Rama menemukan masalah utamanya.
....
Seseorang berhasil tahu siapa pacar Rama, lalu mencoba
menghubunginya lewat DM, dan kebetulan Indah membalas. Orang itu menunjukkan
foto Rama dan Saga berboncengan di motor, di mana Rama memeluk Saga dari
belakang. Orang itu hanya mengonfirmasi apakah ini Rama dan Saga? Indah yang
pagi tadi memang bertemu Rama dalam setelan tersebut dan melihat Saga dalam
setelan yang sama di foto mengonfirmasi bahwa iya itu mereka.
Kemudian, Indah bertanya ada masalah apa dengan foto itu, dan
orang tersebut membeberkan sebuah narasi yang disimpulkan dari obrolan grup.
Bahwa Saga menghamili perempuan bernama Hesti, melahirkan
seorang bayi, lalu Saga kabur ke Bali, pacaran dengan Rama supaya bisa ngentot
berkali-kali tanpa bisa menghamili.
Dia menekankan bahwa Rama pacaran dengan Saga.
Dan semua percakapannya bersama Indah dia screenshot ke
grup.
....
Perut Rama mulas. Jantungnya mencelos lagi. Nyawanya melayang
lagi, entah malaikat mana yang mencabutnya, tetapi Rama terduduk lemas di atas
tempat tidur dengan hati yang hampa. Dia hampir tak bisa bernapas. Dia merasa
kosong. Ingin menangis lagi tapi tak tahu apakah dia masih bisa menangis atau
tidak.
Apa yang harus Rama lakukan?
....
Hanya tiga hal yang ada dalam kepala Rama sekarang.
Apakah menghubungi Indah dan menjelaskan semuanya sambil
berkelit bahwa temannya itu sedang bercanda? Yang artinya Rama harus berbohong
lagi.
Ataukah membalas grup sambil marah ke semua orang, bahwa
mereka semua crossed the line, bahwa mereka akan Rama tuntut untuk
pencemaran nama baik, sambil berkelit lagi bahwa apa yang mereka tuduhkan itu
salah semua?
Ataukah keluar dari grup, memblok semua orang yang ada di
grup, dan melakukan apa yang Saga lakukan ke Hesti dan anaknya: kabur dan
menghilang dari semua orang di masa lalunya?
Yang mana yang harus Rama lakukan?
[ ... ]
Bersambung ....
Voting sudah selesai.
Hasil voting terlampir di bawah.
Part 6 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 8.1
Hasil voting:
Jumlah
pemilih: 187 orang
Sebanyak 38%
(71 orang) pilih “Hubungi Indah terlebih dahulu”
Sebanyak 26%
(49 orang) pilih “Balas grup dan marah-marah”
Sebanyak 36%
(67 orang) pilih “Keluar dari grup dan blok orang-orang”
Belum ada
pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.
Maka dari
itu, Part 9.1 akan mengikuti suara terbanyak. Klik di sini untuk melihat cerita yang tidak terpilih.
Dengan
ini, seluruh voting yang terjadi di Part 7 setelah penayangan Part 8.1 sudah
tidak berlaku lagi.
Komentar
Posting Komentar