“I love you.”
....
Kalimat itu menjadi kata-kata
pertama yang meluncur di kamar. Yang mengucapkannya ....
... Rama.
“I love you,” ulang Rama,
dengan mata berkaca-kaca. Kedua manik matanya masih menelisik manik mata lelaki
yang dicintainya beberapa tahun terakhir. “I’ve always love you ...,
dari SMA .... Tapi please jangan mainin perasaan gue. If you hate me,
hate me! Gue lebih bisa nerima itu dibandingin elo ngerendahin gue,
terus elo nyium gue.”
“Fuck you!” sergah Saga
dengan suara tercekat. Kata-kata itu diucapkan dengan dua nuansa berbeda.
Nuansa amarah, sejatinya frasa fuck you sering dilontarkan ke
orang-orang. Namun ada juga nuansa sayang. Mengumpat kesal, tetapi sebenarnya menginginkan.
“Fuck you!” ulang Saga,
sambil mendengkus.
Mata Rama makin berair.
“Fuck you! Fuck you! Fuck you!”
Kemudian, Saga melakukan hal yang tidak terprediksi.
Dia mencium lagi bibir Rama.
“FUCK YOU!” Dia
mengumpat, tetapi dia memagut bibir Rama, melesakkan lidahnya ke dalam, begitu
mulutnya menguasai mulut Rama, dia mengisapnya.
Sambil mencumbu Rama dengan
buas—sama sekali tidak romantis (lebih mirip seperti pemerkosaan)—napas Saga
mendengkus, matanya terpejam kuat (antara sangat menghayati atau sangat kesal
kepada Rama), dan Saga menggeram marah.
“Eeeeeeergh!”
Saga juga menggigit bibir Rama
dengan gemas.
Bahunya berguncang, seperti menahan
tangis.
Kedua tangan Saga sudah tidak di
leher Rama, tetapi disusupkan ke bawah ketek Rama, lalu terulur ke atas agar
Saga bisa merengkuh Rama dengan erat. Satu tangannya menekan kepala Rama ke
wajahnya. Satu tangan lain menekan punggung Rama ke dadanya.
Cumbuan itu bertahan beberapa menit
hingga akhirnya Saga menyerah. Dia melepaskan pagutannya, bernapas dengan
sangat panas ke wajah Rama, dan menundukkan pandangan.
Rama hanya bisa terdiam syok. Cumbuan
tadi brutal, tanpa konsen, tidak intim, seolah-olah Rama adalah binatang yang
bisa dicium seenaknya. Namun, Rama tetap memandang wajah Saga yang terlihat
bingung dan tertekan. Rama marah pada ciuman itu, tetapi rasa cinta Rama kepada
Saga sebesar itu sehingga empati menguasai tubuhnya.
“I love you,” ulang Rama
untuk kali kesekian. Menegaskan kepada Saga bahwa kalimat itu tak akan berubah
meski Saga membinasakannya.
Lalu, secara ajaib, keduanya
mengatakan sesuatu secara bersamaan.
“Harusnya kita enggak pernah
sekosan.”
Saga langsung menaikkan pandangan
menatap mata Rama.
Rama membelalak kecil karena
kalimatnya sama persis dengan Saga, kata per kata, dan mereka mengatakannya
pada waktu yang sama.
Lalu, gara-gara jinx itu,
ketegangan di antara keduanya mencair. Pipi mereka naik perlahan-lahan.
Soalnya ...
.... bibir mereka tersenyum.
....
Saga terkekeh.
Rama terkekeh.
Saga mengadukan lagi keningnya ke
kening Rama, membiarkan puncak hidung mereka saling bersentuhan, lalu senyum
mereka terkembang lembar hingga lama-lama tergelak juga. Di titik ini, akhirnya
Saga merosot. Dia menggulingkan tubuhnya ke samping, lalu melorot duduk ke atas
lantai, bersandar pada tepian tempat tidur.
Rama melakukan hal yang sama. Dia
merosot ke atas lantai, menarik lututnya, lalu memeluknya.
Kepala mereka direbahkan ke tempat
tidur, menengadah menatap langit-langit kamar.
“Mau-maunya elo suka ama gue, Ram,”
ungkap Saga sambil mengatur napas. Suaranya terdengar lemas, seperti orang yang
sedang sakit.
Rama hanya tersenyum kecil. “Iya,
itu pertanyaan gue juga. Mau-maunya gue ama elo.”
“Gue enggak punya value,
kan?” Saga menyenggol Rama dengan sikunya. “Gue sebatang kontol. Gue seenaknya
....”
Rama masih tersenyum kecil. “Iya,
gue minta maaf buat itu.” Rama menghela napas. “Bukan berarti yang gue bilang
ke Indah itu salah ..., elo emang kontol, Ga.”
“ANJING!” Saga menyikut dada Rama.
“Aaargh!” Rama kesakitan sambil
memegang dadanya, tetapi kemudian terkekeh. Setelah kekehannya reda, Rama
melanjutkan, “Tapi gue yang paling tolol .... Soalnya gue cintanya ama manusia
kontol kayak elo, Ga.”
“Hahaha ....” Giliran Saga yang
terkekeh.
Mereka terdiam selama beberapa saat
untuk meredakan kekehan kecil itu. Keduanya menghela napas, masih menatap
langit-langit dengan pandangan kosong, berjibaku dengan pikiran masing-masing.
“Enggak sedikit pun elo cinta si
Vina, dulu?” tanya Saga.
Dengan berat hati, Rama menjawab,
“Enggak.” Rama menoleh dan menatap wajah Saga dari samping. “Sebelum ama Vina,
gue udah suka ama elo.”
“Terus kenapa gue enggak dikejar?”
“Karena satu, itu sia-sia,” jawab
Rama. “Enggak mungkin elo punya perasaan yang sama ke gue. Dan dua ..., gue
juga sama-sama kontol. Gue lebih mentingin image gue dibandingin
perasaan gue.”
“Elo bener.” Saga tersenyum
sebelah. “Pertama, I hate you. Kedua, I hate you karena sok-sok
sempurna di depan semua orang.” Saga mengangkat satu tangannya ke depan wajah
Rama, lalu mengacungkan jari tengah. “Fuck you.”
“Still love you,” balas Rama
kukuh.
“Anjing ...,” umpat Saga sambil
terkekeh.
Keduanya terdiam lagi. Sama-sama
menghela napas. Sama-sama merenungi langit-langit kamar dengan pandangan
kosong.
“Harusnya kita enggak sekosan, Ga,”
ungkap Rama memecah keheningan. Kali ini dia mengatakannya sendiri. “Harusnya
gue kembali ke rutinitas awal aja .... Coli tiap malam sambil bayangin
elo.”
Saga meringis membayangkan itu.
Namun, Saga juga mengangguk setuju. “Ya. Harusnya gue enggak nebeng di sini.
Semua yang gue tinggalin di Jakarta ..., yang gue hindarin ..., semua muncul lagi
gara-gara elo.”
Saga lalu menegakkan kepalanya,
menatap ke depan, sambil melipat kedua tangannya di bawah kepala untuk
menyamankan dirinya. Ketek Saga terekspos.
Rama menoleh dan melihat ketek
seksi itu tepat di sebelah wajahnya. Ketek Saga basah oleh keringat,
bulu-bulunya menempel ke kulit. Cahaya lampu memberikan kilat yang seksi dan
menggiurkan. Rama menelan ludah saat menghidu aroma enak ketek Saga.
“Enggak usah pamer ketek,” kata
Rama, sambil memalingkan mukanya. “Adrenalin gue lagi tinggi gara-gara sparring
ama elo. Gue bisa merkosa elo sekarang.”
“Elo sange bukan urusan
gue,” ledek Saga merendahkan, tanpa menurunkan tangannya. “Gue tahu elo suka
bulu-bulu gue.”
“How?”
“Elo harus lihat muka elo sendiri
waktu nolak ngasih shaver buat gue cukuran. Elo mupeng lihat ketek gue.”
Hal itu terdengar sangat memalukan,
tetapi Rama sudah di titik terendahnya sekarang. Rama sudah terlanjur membuka
segalanya untuk Saga. Membiarkan Saga tahu dirinya homoseksual, termasuk
mencintainya. Rama rasa, kinky-nya pada ketek atau jembut Saga bukanlah
hal yang krusial pada momen ini.
“Jadi sekarang gimana?” tanya Rama, memecah keheningan.
“Oh, kirain elo mau merkosa gue.”
Saga menoleh dengan wajah meledek.
“Bisa diatur,” balas Rama, menoleh
ke arah Saga dan melihat wajah kekasih hatinya itu dari dekat—tentu dengan bulu
ketek Saga menghiasi pandangan mereka berdua. “Tapi berhubung elo hampir
ngerusak MacBook baru gue ..., gue bakal bikin elo tanggung jawab dulu.”
“Elo aja tahu, gue orangnya enggak
bisa tanggung jawab.”
“Elo juga tahu kan, apa pun yang
gue pengin bisa gue dapatin?” tantang Rama. “Kagak cinta si Vina aja, gue bisa
pacaran ama dia. Apalagi cuma bikin elo tanggung jawab.”
Saga menelan ludah. Dia merasa
terpukul ketika nama Vina disebut lagi oleh Rama. Saga menurunkan kedua
tangannya, menundukkan kepala, lalu terlihat murung.
“Elo mau ngusir gue?” tanya Saga,
setengah berbisik.
Rama menghela napas, sebelum
menjawab, “Enggak.” Kebalikannya, Rama kembali menyandarkan kepala ke tempat
tidur dan menatap langit-langit. “Gue bakal ajak elo ke Jakarta. Ketemu Hesti.
Selesaikan masalah kalian di sana. Balik lagi ke Bali, elo bakal jadi cowok
yang responsible. Baik itu ke diri elo, maupun ke anak elo.”
“Ngawur.” Saga terkekeh
merendahkan. “Elo mau maksa gue bayar tiket pesawat pake daun?”
“Tiket pesawat elo bukan urusan
elo,” tegas Rama. “Elo bakal ikut gue, kita bakal ketemu Hesti, kalian bakal
bikin kesepakatan yang nguntungin semua pihak, terus kita balik lagi ke sini.
Misal entar elo mau keluar dari kamar gue, silakan. Gue enggak akan nahan elo.”
Saga menoleh. Dia terpana menatap
Rama. Sama seperti yang selalu terjadi, Saga tak tahu bagaimana mengungkapkan
emosinya. Apakah dia berterima kasih, apakah dia membantah, apakah dia menego?
Saga hanya bisa menghela napas dan
menunduk lagi menatap tangannya di atas pangkuan. Sebagai orang yang terbiasa
“menghindar” dari apa pun, Saga malah membuka topik baru. “Cewek elo masuk
rumah sakit.”
Rama menoleh dengan alis mengerut.
“Kok, bisa?”
“Indah sama Vina ke sini, terus
Indah fitnah Vina, katanya elo bilang ke Indah, Vina benci gue bla bla bla. Gue
enggak tahu kalian ngobrolin apa aja. Terus Vina dorong cewek elo, sampe kena
ke meja sono, kayak gue tadi ....” Saga menunjuk meja belajar Rama dengan
bibirnya. “Terus mereka ke UGD.”
Rama hanya mengerjapkan matanya
dengan pelan. Dia menenangkan dirinya sambil berkata, “Oke, entar habis ini gue
ke rumah sakit. Hape gue lowbat. Sekalian juga kita ke sana buat
ngobatin babak belur kita.”
“Enggak usah,” jawab Saga. “Gue
pantas bonyok kayak gini.”
“Enggak. Elo bakal ikut gue ke
rumah sakit habis ini,” tegas Rama. “Karena gue anak FK, elo enggak bisa
macam-macam nyepelein kesehatan elo. Kita cek dulu bagian-bagian vital kita,
terus obatin. Kalau setelah ngecek elo mau nunggu di mobil, silakan. Tapi gue
bakal lanjut nyamperin si Indah. Yang pasti, besok atau lusa ....”
Rama mikir-mikir dulu.
“Kemungkinan besar lusa ..., kita
bakal ke Jakarta. Elo enggak bisa nolak.”
Lalu, Rama mengacungkan
kelingkingnya. “Janji?”
Saga mengerutkan alis melihat
kelingking itu. “Gue bukan anak kecil.”
“Janji?” tegas Rama sambil menatap
tajam Saga di sampingnya.
Saga hanya bisa menghela napas,
menelan ludah, dan dengan pasrah mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Rama. “Oke.”
Dan, bertepatan dengan kelingking
itu dikaitkan, sebuah suara tiba-tiba muncul di ruangan.
“The bluetooth device is
connected successfully.”
[ ... ]
Untungnya, tidak ada luka serius
dialami Rama dan Saga. Ya, muka mereka agak bonyok. Bibir pecah dan berdarah,
lebam di pipi, benjolan kecil di kepala, lecet di tangan, sedikit lebam di
bawah mata, pelipis luka, dan beberapa area lain yang mulai berwarna biru. Namun,
setelah melakukan pemeriksaan mendalam dengan berbagai tes laboratorium, tidak
ada cedera internal yang serius. Tidak ada cedera kepala, tidak ada patah atau
retak tulang, tidak ada pendarahan internal. Semuanya aman.
Dan, semuanya dibayar oleh Rama
dari tabungannya. Nilainya fantastis, tetapi Saga tak perlu tahu.
Keduanya selesai berurusan di IGD
dalam waktu 2 jam, mendapatkan perawatan luka-luka kulit, salep antibiotik, dan
obat pereda nyeri seperti ibuprofen. Setelah dipulangkan dari IGD, mereka makan
di kafe depan rumah sakit sembari Rama memesan tiket pesawat dari Denpasar ke
Jakarta untuk hari Selasa.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10
malam ketika Rama menghabiskan makan malamnya dan bermaksud mengunjungi Indah
di rumah sakit yang sama.
“Vina udah balas gue. Indah udah
dipindahkan ke kamar rawat inap. Elo mau ikut gue ke sana atau nunggu di
mobil?” tanya Rama sambil berdiri dan memasukkan ponselnya ke saku.
“Si Vina ada di situ?”
“Ada.”
“Gue enggak ikut,” kata Saga sambil
menyambar kunci mobil Rama. “Gue tunggu di mobil elo.”
“Ganteng-ganteng pengecut,” ledek
Rama sambil tersenyum sebelah.
“Lebih pengecut yang sukanya dari
SMA, tapi baru bilang I love you-nya barusan,” balas Saga tak mau kalah.
“Fuck you,” umpat Rama
sembari terkekeh.
“Gue tunggu di mobil. Kabarin kalau
elo udah selesai.”
Indah mengalami kompresi tulang
belakang (compression fracture) setelah dihantam Vina hingga membentur
meja belajar Rama. Vina sempat mengirimkan X-ray tulang belakang Indah lewat
WhatsApp dan menjelaskan sedikit soal apa yang dikatakan dokternya, tetapi Rama
langsung tahu arahnya ke mana. Indah harus dirawat hingga tiga hari untuk
diobservasi. Tidak akan ada operasi. Namun mungkin Indah harus mengenakan brace
punggung (korset tulang belakang) sebagai manajemen nyeri.
Sewaktu Rama masuk ke ruang rawat
inap kelas 1, ada dua tempat tidur di situ, tetapi tempat tidur satunya kosong.
Indah sedang berbaring nyaman di atas tempat tidur, dengan kepala tempat tidur
dinaikkan sekitar 45 derajat. Kedua tangannya bermain ponsel. Vina juga ada di
sana, duduk di kursi di samping tempat tidur, tampak bete menunggu Rama.
Ketika Rama muncul di depan mereka,
keduanya membelalak kaget melihat wajah Rama.
“Keserempet tronton lu?!” tanya
Vina.
Rama hanya menghela napas dan
tersenyum kecil. Dia memutuskan mengabaikan pertanyaan Vina dan langsung ke
intinya. “Vin, thanks udah nemenin Indah. Elo udah makan malam?”
“Elo pikir gue bisa ninggalin princess
elo ini demi makan malam?”
“Kamu harus tanggung jawab, ya!”
sahut Indah, nyolot.
“Terus kalau gue mati kelaperan,
gimana caranya gue tanggung jawab, anjing—“
“Udah, udah, udah, Indah jadi
urusan gue sekarang,” sergah Rama menengahi. “Di depan rumah sakit, masih area
rumah sakit ini juga, ada kafe yang buka 24 jam. Elo makan dulu di sana. Open
bill aja, entar gue yang bayar pas gue jemput elo ke situ.”
“Jadi gue makan di sana sendirian sambil
nungguin elo?”
“Barusan sih gue makan ama Saga di
situ. Perlu gue mintain dia buat nemenin elo?”
“Anjing, najis!” Vina mendengkus
kesal.
Pada saat bersamaan, Indah
membelalak dengan mata berbinar-binar, “Saga ada di sini ...?” Indah terkesiap
seperti fans ketemu idolanya.
Rama dan Vina menoleh ke arah Indah
dengan tatapan heran. Namun, keduanya tak menanggapi pertanyaan itu.
Vina berdiri dan menyambar tasnya di
atas meja. Dia berjalan keluar kamar sambil berkata, “Gue bakal pesen yang
mahal, dan elo yang harus bayar.”
“Be my guest!” balas Rama.
Setelah kepergian Vina, Indah
bertanya, “Kenapa Saga enggak diajak masuk?”
“Dia enggak mau masuk,” jawab Rama
sekenanya. Rama menarik kursi yang tadi diduduki Vina, lalu duduk di sebelah
tempat tidur. “Gimana kabarnya?”
“Sakit, lah.” Indah memutar bola
mata. “Gara-gara mantan kamu tuuuhhh .... Kasar banget, sih. Cantik-cantik tapi
dorong orang kayak badak. Kenapa kamu pernah pacaran sama dia, sih?”
“Aku enggak mau bahas masa laluku,
Yang,” balas Rama, tenang. “Sorry kalau Vina bikin kamu kayak begini. It
was all my fault—“
“Ya enggak, lah! Ini salah si Vina.
Dia yang dorong aku. Bukan kamu!”
“Ini semua gara-gara aku,” kata
Rama berani. Rama menundukkan pandangannya, tetapi nyalinya sedang
menguat-nguatkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya—meski tidak sepenuhnya.
“Biaya rumah sakitmu, aku bayar juga setengahnya. Tadi di WhatsApp aku udah
diskusi ama Vina. Dia sepakat buat bagi dua. Dia yang dorong kamu, tapi kalau
bukan gara-gara aku ..., Vina enggak akan dorong kamu.”
“Kamu ini ngomong apa, sih?!” seru
Indah sambil bangkit dari rebahannya untuk membungkuk ke arah Rama. Namun, “Aw!
Aw! Aw! Aduh! Sakit! Aaaaaargh!”
“Jangan bungkuk dulu.” Rama bangkit
untuk merebahkan lagi Indah ke atas tempat tidur dan menyelimutinya lagi dengan
hangat. “Rebahan dulu.”
“Aaawww ...!” Indah meringis ngilu.
Setelah ngilu Indah reda, Rama
melanjutkan. “Aku bohong,” mulainya. “Vina udah move on dari aku sejak
lama. Dia enggak suka aku sekarang. Tapi aku sama dia jadi temen. Aku enggak
punya perasaan apa-apa ke dia, dia juga enggak punya perasaan apa-apa sama aku.
Jadi tadi pagi ... aku ... aku melebih-lebihkan. Harapannya kamu lupain soal
Vina. Supaya aku enggak ribet ngejelasin ke kamu kalau aku sama dia cuma
teman—biasanya cewek tuh enggak pernah percaya kalau aku masih temenan sama
mantanku. Jadi awalnya, aku ngira kamu bakal enggak mau ngobrol sama dia.”
“Tapi dia nyari-nyari kamu! Berarti
dia masih mau sama kamu!”
“Dia nyari Saga. Bukan nyari aku.
Ada problem di almamater SMA-ku, yang melibatkan Saga, di mana kebetulan
aku tahu di mana Saga, jadi Vina nyari aku untuk nyari Saga.”
“Yang soal Saga hamilin Lesti itu,
kan?!”
Rama ingin meralat nama itu, tetapi
Rama hanya bisa menghela napas dengan lelah dan berkata. “Ya, yang itu.”
“Sampe kamu dikira pacaran sama
Saga, kan?” ungkap Indah sambil mendengkus. “Tadi Vina cerita lebih detail soal
grup itu. Kayaknya ada detail yang enggak sama antara cerita kamu sama cerita
Vina, tapi of course, aku lebih percaya kamu lah, Sayang.”
Rama hanya bisa menyimpul senyum
tanpa menunjukkan giginya. Keheningan merebak selama beberapa saat di ruangan
itu.
“Betewe, kenapa kamu
memar-memar gitu, Sayang?”
“Oh.” Rama mengusap-usap pipinya
yang agak bengkak. “Aku berantem.”
“Sama?”
Dengan jujur Rama menjawab, “Saga.”
Indah membelalak panik. “Ih, ya
ampun, kenapaaa ...? Kok bisaaa ...? Ngapain kalian berantem? Kalian bukan
ngerebutin aku, kan? Oh, jangan-jangan, kalian ngerebutin Vina, ya?! Anjing,
lah! Terus Saga gimana? Bonyok juga mukanya? Dia gapapa, kan?!”
Rama bingung menjawab rentetan
pertanyaan itu. Alih-alih menjawab satu per satu, Rama malah berkata, “I
think we should take a break.”
“WHAT?!” Indah
membelalak dengan mata bulat, mencoba duduk tegak lagi, lalu kesakitan, “Aw!
Aw! AAAWWW!” Dia berbaring lagi pelan-pelan ke atas tempat tidur sambil
meringis. Setelah merasa nyaman, Indah melanjutkan, “Kamu ngajak aku putus?”
“Enggak,” jawab Rama. “Kita
istirahat dulu masing-masing. Boleh?”
“Ya tapi kenapa?”
“Aku lagi stres, banyak masalah,
aku belum bisa nyelesaiin masalahku sambil harus nemenin kamu juga. Aku lagi
pengin sendiri, beresin masalahku, nanti begitu aku lebih siap, lebih sehat,
kita bisa ngobrolin lagi soal ini—“
“Tapi kan tujuan dari pacaran
adalah untuk saling menemani, Yang. Saling menyelesaikan masalah. Apa pun
masalahnya, aku akan bantu kamu.”
“Masalah yang ini aku enggak bisa share
ke kamu. Aku harus selesaiin sendiri.”
“Masalah yang mana?”
Rama hanya menggelengkan kepalanya.
Dia mulai tak berani menatap wajah Indah. Pandangannya terfokus pada punggung
tangan Indah yang sedang ditusuk infus, tetapi pandangan itu pun kosong.
“Kamu punya gebetan baru, hm?”
Rama menggelengkan kepala.
“Kamu punya cewek lain?”
Rama masih menggelengkan kepala.
“Kamu suka sama cewek lain?
Rama menggelengkan kepala lagi.
Secara teknis Rama tidak berbohong.
Hatinya tidak berlabuh ke gebetan baru. Pun, tidak punya cewek lain, tidak suka
cewek lain.
Hatinya setia mencintai Saga.
Laki-laki dari masa lalunya.
“Terus apaaa ...?!” jerit Indah tak
terima.
Rama hanya menelan ludah dengan
susah payah. Dia ingin menangis, tetapi tak bisa menangis. Mengapa? Karena
perasaannya ke Indah tak sekuat itu. Tubuhnya tak merasa pantas meneteskan air
mata untuk perempuan ini.
Alih-alih menjawab pertanyaan
Indah, Rama mengangkat wajahnya dan berkata, “Malam ini aku akan temenin kamu
sampai pagi. Aku udah WhatsApp-an sama ibumu, aku bayarin tiket pesawat ke sini
supaya ibumu bisa nemenin kamu sampe observasi selesai. Selasa aku ke Jakarta,
buat nyelesaiin masalahku. Mungkin seminggu, or ... I don’t know.”
“What?! Kamu ngapain ke
Jakarta?! Bentar lagi UAS! Kenapa kamu tiba-tiba tinggalin aku di tengah aku
lagi menderita begini, hm?! Apa emang semua cowok sama aja?! Habis manis sepah
dibuang?!”
Rama hanya mendesah kecil.
Pandangannya masih kosong menatap selimut Indah. “Maybe?” jawab Rama.
“Cowok emang sama aja!” Indah
mendengkus dan melipat tangannya di depan dada. “Giliran ceweknya masuk rumah
sakit, lumpuh, enggak bisa dipake ngentot, terus ditinggalin gitu aja!”
Selama beberapa menit, Indah
mencerocos tanpa henti membahas betapa berengseknya semua laki-laki, termasuk
Rama. Indah juga menjelek-jelekkan Rama dengan lebai, sama seperti Indah
menjelek-jelekkan Saga di depan Vina. Hal-hal yang Rama tak pernah lakukan,
yang hanya berupa asumsi saja, misal kalau Rama lupa mengklik Like di posting-an
Instagram terbaru Indah sehingga Indah berpikir Rama sudah punya cewek baru,
dicerocoskan seolah-olah itu fakta.
Rama tak bisa berkutik. Rama hanya
diam saja, mendengarkan semua itu dengan tatapan kosong ke atas selimut Indah.
Rama tak punya energi untuk membalas. Tak merasa membalas akan menjadi jawaban
yang tepat. Mungkin memang Rama berengsek.
Rama rasa dirinya sudah sangat
berengsek sejak awal. Memacari banyak perempuan tetapi yang ada dalam hatinya
hanyalah Saga, tak pernah ada cewek-cewek ini.
Bisa jadi Rama lebih kontol
dibandingkan Saga. Rama hanya memanfaatkan semua ceweknya untuk image
lelaki straight yang dia bangun. Tanpa benar-benar mencintai mereka.
Semua ciuman dari Rama, ketika memejamkan mata, dia lakukan sambil membayangkan
Saga. Semua entotan Rama, ketika kontolnya masuk ke memek cewek-ceweknya, dia
lakukan sambil membayangkan seks bersama Saga. Semua kata-kata manis Rama,
semua ditujukan untuk Saga secara diam-diam.
Rama merasa orang paling avoidant
di sini bisa jadi bukan Saga, melainkan Rama sendiri.
Rama menghindar dari jati dirinya
yang sebenarnya.
Ramalah kontol yang tidak punya value
itu.
....
Rama melamun terlalu dalam,
menyadari keberengsekan dirinya sendiri sampai-sampai tidak menyadari Indah
sudah berubah haluan dari memaki-maki Rama menjadi memelas-melas.
“... dan aku tuh enggak pernah
ketemu orang sebaik kamu. Please, kalau aku emang salah udah bikin Vina
marah, please maafin aku. Jangan tinggalin aku, Ayaaannnggg ....” Indah
menangis. Pipinya sudah basah sedari tadi.
Rama terkesiap ketika menyadari
suasana baru itu. Dia iba melihat Indah, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
“Aku enggak bisa hidup tanpa kamuuu
... huhuhu ....” Indah terisak-isak.
Entah mengapa, Rama secara
tergelitik berkata, “Kalau sama Saga bisa?”
Indah tak merespons selama beberapa
saat. Dia terisak-isak dulu sambil memutar otak. “Dia ... dia single
juga sekarang?”
“I don’t know,” jawab Rama
sambil berdiri dan melihat jam di ponselnya. “Aku mau ketemu Vina dulu.”
“Lho? Kamu beneran ninggalin
akuuu?!”
Rama berjalan menjauhi tempat tidur
Indah. “Sebentar aja. Vina nungguin di kafe.”
“Please jangan tinggalin
akuuu!”
Rama mengabaikannya dan terus
berjalan ke arah kafe.
[ ... ]
“Elo yang mau ngantar gue, kan?”
tanya Vina sembari membuntuti Rama keluar dari kafe. Rama baru saja membayarkan
makanan Vina.
Tidak ada pembicaraan apa pun sejak
Rama datang lalu membayar makan malam itu. Rama langsung membukakan pintu kafe
agar Vina bisa keluar duluan.
“Saga yang ngantar elo,” jawab
Rama.
“Najis!” sergah Vina jijik. “Kalau
gitu gue naik Grab aja.”
“Kalau gitu elo yang bayar semua
biaya RS si Indah.”
“What the fuck?! Kan tadi
kita udah deal mau patungan.” Vina berhenti berjalan. Dia berkacak
pinggang dan memelotot.
Rama ikut berhenti berjalan. Dia
berbalik dan berkata, “Kalau gitu, biarin Saga ngantar elo—“
“Enggak!” tegas Vina. Dia langsung
melipat tangan di depan dada. “Gue bakal pulang naik Grab daripada gue semobil
sama si kontol itu! Gue ikhlasin deposit lima juta waktu cewek elo masuk IGD
barusan! Cuih!”
Rama menghela napas. “Secara
teknis, elo yang nyelakain Indah. Elo harus cover semuanya, Vin. Gue
enggak punya kewajiban buat seteng-seteng ama elo. Yang ada malah gue
rugi karena cewek gue elo bikin cedera.”
“Ck! Tapi gue enggak mau
diantar Saga!” Vina mendengus kesal.
“Biarin Saga ngantar elo ke hotel malam
ini, semua biaya Indah gue yang tanggung. Bisa?”
Vina membelalak mendengar itu.
“Serius?”
“Ya, serius. Ayo!”
Vina pun membuntuti Rama ke
parkiran mobil. Dia tidak banyak bertanya kecuali memastikan bahwa deal
itu betulan bisa terjadi hanya dengan Vina diantar Saga. “Pokoknya elo harus
transfer gue depositnya untuk buktiin elo bakal bayar semua.”
“Gue transfer pas elo nyampe hotel
setelah diantar si Saga. Kalau elo minta turun di tengah jalan, perjanjian
batal.”
“Gue enggak mau kalau harus nyium
dia.”
“Gue enggak minta elo cipokan atau ngewe
ama dia.”
“Terus kenapa elo keukeuh
gue harus diantar Saga?”
Kebetulan mereka sudah tiba di
depan mobil Rama. Saga yang sedang duduk di kursi pengemudi membelalak kaget
saat melihat Rama berdiri bersama Vina di luar. Selama beberapa saat Saga
terpana menatap perempuan yang dicintainya itu ada di depannya, kemudian dia
beranjak turun pelan-pelan.
Dada Saga berdebar-debar melihat
Vina ada di situ—meskipun Vina memutar bola mata dan memalingkan wajahnya ke
arah lain, tak mau melihat Saga. Pelan-pelan Saga menghampiri mereka.
Malu-malu. Saga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Salah tingkah.
Vina melihat wajah Saga yang babak
belur dan memutar bola mata. “Kalian janjian keserempet tronton bareng?”
“Gue ....” Saga tak bisa
berkata-kata. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, melirik diam-diam
Vina, merasakan lidahnya kelu.
“Gue tonjok dia, dia nonjok gue. That’s
it,” ungkap Rama bantu menjawab.
“Apa semua cowok kalau berantem
harus pake kekerasan, hm? Pake tonjok-tonjokan? Enggak bisakah diselesaikan
baik-baik?!” seloroh Vina tak percaya.
Rama hanya bisa mengangkat
tangannya, lalu menunjuk papan nama rumah sakit di seberang area parkir. “Kita
semua ada di sini gara-gara elo pake kekerasan pas berantem ama Indah. Elo sama
aja.”
Vina menelan ludah dengan malu.
“Bener juga.”
Rama mengambil napas panjang
sebelum mulai mengutarakan maksudnya. “Ga, elo antar Vina ke hotel sekarang.”
Saga membelalak kaget. Dia melirik
ke Vina sejenak, sebelum kemudian berbisik, “Emang Vina mau—“
“Vin, gue ama Saga bakal ke Jakarta
hari Selasa,” sergah Rama memenggal kata-kata Saga. “Kita mau ketemu Hesti. Gue
bakal ajak Saga nyelesaiin masalah dia ama anaknya. Jadi silakan bubarin grup
Cari Saga itu karena nyatanya kalian semua cuma bacot doang tapi enggak
nemu-nemu Saga di mana. Gue yang bakal bawa Saga nanti ke Hesti. Elo enggak perlu
memperkeruh masalah dengan bikin gosip-gosip yang enggak relevan ke masalah
utama.”
“Ck! I’m sorryyy ...,”
ungkap Vina sambil melepaskan lipatan tangan di depan dadanya. Bahu Vina
melorot. “Gue enggak ada maksud nge-frame kalian berdua, anak-anaknya
aja yang kreatif ngehaluin kalian.”
“Tetep salah elo ngebangun asumsi
yang enggak bener,” balas Rama. “Elo ngirim foto tanpa konteks, tanpa tanya
dulu apa yang sebenernya terjadi, dan elo diam aja enggak meluruskan apa pun.”
“Yeah that’s my fault,”
ungkap Vina dengan wajah sedih. “Tadinya gue nyamperin elo ke kosan juga mau
minta maaf. Obrolan mereka udah menyimpang, tapi gue tahu elo enggak aktif di
grup, jadi gue mau ngobrol langsung.”
“Apology accepted,” balas
Rama santai. Dia lalu menatap Saga dan Vina bergantian. “Gue tahu gue enggak
akan pernah bisa ngejodohin kalian berdua, tapi please pake perjalanan
dari RS ini ke hotel Vina buat ngobrol. Semua yang dibilang Indah itu omong
kosong, datangnya dari gue, jadi gue yang minta maaf urusan itu. Gue yang responsible
sama semua fitnahan Indah. Maka dari itu, Vin ..., pake trip pulang
ini—meskipun bentar—buat nyampein unek-unek elo yang sebenernya ke Saga. Elo
benci dia juga sampein aja. At least alasan bencinya bener, bukan
dibuat-buat si Indah.
“Dan elo, Ga,” lanjut Rama sambil
menoleh ke Saga, “Pake trip ini buat numpahin unek-unek elo juga, ke si
Vina. Gue enggak jamin Vina bakal tiba-tiba suka ama elo—probably makin
najis ama elo. Tapi kalau elo berani numpahin perasaan elo yang sebenarnya ...
semuanya ... tanpa perlu berharap si Vina suka balik atau apa ..., gue jamin
elo lebih lega dan bahagia.
“Just like I did today,”
ungkap Rama, menatap mata Saga dengan serius.
Saga menelan ludah dan menundukkan
kepalanya. “Oke,” katanya pelan.
“Bisa, Vin?” Rama menyenggol Vina.
Vina menarik napas panjang dan
mengembuskannya kuat-kuat. Perlahan-lahan dia menoleh menatap Saga, mencoba
memberanikan diri menatap lelaki yang seharian ini bikin Vina sebal. Saga
tampak GR ditatap seperti itu, kepalanya berpaling ke arah lain dengan senyum
yang ditahan-tahan agar tidak berkembang. “Oke,” balas Vina pasrah, “But I
cannot guarantee rasa benci gue ilang ke elo, Ga.”
Saga hanya bisa menggosok
tengkuknya tanpa bisa merespons lebih.
“Enggak usah khawatir, fans
Saga banyak,” ungkap Rama sambil menepuk kap mesin mobilnya. “Yoh. Anterin, Ga.
Habis dari hotel, elo pulang ke kosan aja. Gue stay di sini sampe pagi.
Oke?”
“O ... oke.” Saga masih tak berani
menatap wajah Vina.
“Ya udah! Kalau elo beneran ke
Jakarta, kabarin gue, ya! Flight gue besok. Gue ke Jakarta dulu tiga
hari sebelum balik ke Jogja. Awas aja kalau kita enggak ketemuan di sana!”
sahut Vina sambil berjalan masuk ke dalam mobil Rama, duduk di kursi penumpang.
Setelah Vina masuk mobil, Saga
geleng-geleng kepala sambil menatap Rama. “Fuck you!”
“I love you,” balas Rama
tanpa suara sambil menyunggingkan senyum sebelah.
“FUCK ... YOU!” Saga
mengacungkan jari tengah ke Rama, tetapi bibir Saga tersenyum.
Ya, itu senyum terindah yang pernah
Rama lihat dari Saga.
Ketika Saga masuk ke dalam mobil,
duduk di jok kemudi, menyalakan mobil, lalu melaju meninggalkan area parkir, Rama
melihat Saga tersenyum bahagia.
Sangat bahagia.
Senyum itu ditahan-tahan, tak mau
ditampakkan di depan pujaan hatinya. Namun kerutan mata yang bahagia itu
menunjukkan Saga sedang bergembira bisa berduaan bersama Vina, seperti remaja
yang sedang kasmaran ke seseorang, lalu orang itu ngajak jalan berdua. Dari
luar, Rama bisa melihat bibir Saga berkedut-kedut, menahan senyum happy.
Setelah mobil melaju pergi, Rama
hanya bisa mengulang kalimat itu sekali lagi.
“I love you ..., Saga.”
[ ... ]
Bersambung ....
Tidak akan ada voting pada part ini. Silakan lanjut ke part berikutnya.
Part 8.2 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 9.2
Komentar
Posting Komentar