Apa yang terjadi jika pilihan lain yang
menang?
Well, kebetulan cuma satu pilihan lain yang
enggak menang. So here’s the explanation:
Ketika Saga keluar dari kamar mandi, Rama menenangkan dirinya
dan berpura-pura tak terjadi apa pun. Mati-matian dia berakting baik-baik saja
sambil Saga mengenakan pakaian lalu pergi untuk ngewe dengan bule.
Setelah pergi, Rama mencoba mencari cara untuk menyelamatkan dirinya dalam grup
itu.
Part ini akan berisi rangkaian obrolan Rama dan orang-orang di
grup Cari Saga, di mana Rama akan berkelit ke sana kemari, membuat
kebohongan-kebohongan baru, bahkan memanipulasi seluruh member agar mengarahkan
‘blame’ kepada Hesti. Rama terpaksa membual seperti:
Hesti yang ganjen dan maksa-maksa Saga,
meskipun Saga enggak mau sama dia. Sebenarnya Saga diperkosa sama Hesti.
Makanya Saga enggak mau anak itu lahir. Hubungan seks itu enggak terjadi atas
dasar suka sama suka. Saga merasa dimanfaatkan.
Tentunya Hesti membantah dan mengatakan kejadiannya tidak
seperti itu. Rama yang sudah bertahun-tahun berbohong kepada dunia soal
seksualitasnya dengan lihai menampik kata-kata Hesti dengan berkata, Apa
buktinya elo yang benar dan gue yang salah? Gue enggak ada di lokasi waktu kalian
main, tapi gue denger perspektif Saga di sini. Perspektif yang kalian semua
enggak libatkan dalam keputusan kalian. Cuma dengar dari sisi Hesti, lalu
mendadak Saga yang jadi penjahatnya. Adilkah kayak begitu?
Adilkah kalian lihat satu foto yang
kebetulan tangan gue lagi ke depan, terus kalian nuduh-nuduh gue pacaran sama
si Saga? Ketika faktanya gue baru denger kasus soal Saga dari Vina dan besoknya
gue berhasil contact dia dan gue AJAK dia buat ngobrol dan selesaiin masalah
ini. Gue mau nyambungin dia ama Hesti, tapi apa yang kalian lakukan?
Kalian bisanya cuma nuduh gue gay dari satu
foto. Pantesan kalian cuma di situ-situ aja. Enggak berkembang ke mana-mana.
Cuma jadi korban lamtur. Korban gosip. Salah angle dikit mikirnya ke mana-mana.
Logika berpikirnya enggak dipake. Enggak heran waktu ujian matematika kalian
semua nyontek jawaban gue biar lulus!
Rama terdengar jahat dan angkuh. Grup berubah liar, tetapi berbeda
dengan Part 7 yang akhirnya terbit, yang liar di sini justru Rama.
Sebagian dari anggota grup meminta maaf. Sebagian lain hanya
diam. Vina salah satu yang meminta maaf, tetapi Rama terlanjur marah besar. Dia
merasa berhak untuk merendahkan semua orang di grup. Bukannya benar-benar
mencari Saga hingga ketemu dan menyelesaikan masalah Hesti, malah bikin grup
gaje yang isinya ngomongin Rama homo.
Rama pun keluar dari grup dengan dada berdebar-debar nafsu. Rama
tahu persis yang dia lakukan ini salah besar. Namun, Rama tak bisa menarik lagi
kata-katanya. Image dia sebagai lelaki straight harus
dipertahankan.
Malam itu Rama menangis karena menyesal karena telah menjadi
orang jahat. Kortisolnya memuncak, Rama jadi stres. Dia tak bisa tidur.
Saga pulang pukul 4 pagi, happy karena habis ngewe.
Rama yang stres dan penuh nafsu mencoba melampiaskan emosinya itu kepada Saga,
tentunya dengan cara sensual. Rama mengaku pengin enam sembilan lagi seperti
tempo hari. Saga sebenarnya lelah, tetapi atas dasar “membayar jasa menumpang”,
Saga membiarkan Rama menyepong kontolnya. Namun, Saga sedang enggak mood
nyepong Rama, jadi dia minta izin untuk enggak nyepong. Rama tak
masalah.
Sepanjang subuh, Rama menyepong Saga hingga crot.
Lagi-lagi, Rama menelan pejuhnya. Untuk sementara, emosi Rama bisa tertolong.
Dia merasa sudah menyelesaikan masalah semalam, meskipun Rama merasa dirinya
sangat jahat kepada teman-temannya—khususnya Hesti. Rama dibayang-bayangi rasa
bersalah kepada perempuan yang kini membesarkan anaknya Saga, yang hanya ingin
tahu Saga di mana, tapi Rama sukses membuat Hesti terlihat seperti lonte yang
tidak tahu diri.
Hari Rabu, empat hari sejak malam itu, Rama mulai merasakan
tenggorokannya tidak nyaman. Di kosan, Saga juga menghampiri Rama untuk
bertanya kenapa kencingnya terasa perih di ujung uretra, dan ada semacam nanah
seperti ingus keluar dari lubang kontolnya. Saga bertanya karena Rama kan calon
dokter, siapa tahu Rama bisa membantu. Rama yang mengalami sakit tenggorokan
selama empat hari terakhir, yang kayaknya tak pernah sembuh dengan Degirol atau
permen pelega tenggorokan mana pun, langsung mengajukan pertanyaan dengan panik,
“Terakhir ngewe pake kondom enggak?!”
“Semalam? Pake.”
“Bukan! Waktu gue nyepong elo, malam minggu! Itu pake
kondom?”
Saga mengingat-ingat. Lalu, wajahnya berubah cemas. Itu adalah
ngewe dengan bule, di mana bule adalah tipe cewek favorit Saga, dan
ketika si bule minta jangan pake kondom sambil mengaku dia sudah minum birth
control pill, Saga dengan mudah melepas kondom yang sudah dipasang sehingga
Saga ngewe tanpa pengaman.
Hari itu juga Rama membawa Saga ke klinik swasta terdekat
untuk melakukan pemeriksaan mikroskopis (gram stain), yaitu pengambilan
sampel dari nanah di ujung kontol Saga. Dalam 2 jam hasilnya keluar dan Saga
positif gonore. Rama bisa mengambil kesimpulan dini bahwa dirinya juga
kemungkinan mendapatkan gonore oral.
Keduanya pulang ke kosan dengan lemas. Saga meminta maaf
berkali-kali ke Rama. Permintaan maaf itu benar-benar romantis, sampai-sampai
Saga memegang tangan Rama sepanjang berjalan di lorong kosan menuju kamar. Namun,
sebelum mereka tiba di kamar, mereka terkejut dengan kehadiran Vina dan Hesti
di depan kamar Rama.
Vina, sebagai salah satu mantan Rama, memiliki kontak orang
tua Rama. Vina mencoba menghubungi mereka untuk mendapatkan alamat kosan Rama.
Vina memperpanjang liburannya di Bali dan menerbangkan Hesti ke Bali agar bisa
ketemu Rama secara langsung. Tujuan Vina sebenarnya baik, terinspirasi dari
kata-kata Rama sendiri untuk melihat sebuah cerita dari dua sisi, sekalian
meluruskan sisi mana yang benar, Saga atau Rama, maka Vina mencoba mempertemukan
Hesti ke Rama.
Keempatnya berpandangan terkejut. Rama dan Saga terkejut
karena Vina dan Hesti bisa ada di depan kamar. Vina dan Hesti terkejut karena
Saga ternyata ada bersama Rama, bahkan sedang berpegangan tangan dengan Rama.
Apa yang harus Rama lakukan?
Pilihan voting: (1) Lepaskan tangan Saga, lanjut berkelit, dan
mengusir keduanya dari kosan; (2) Membuka pintu kamar dan biarkan semua orang
masuk, mengekspos Rama pada risiko bahwa dirinya mengatakan omong kosong di
grup 4 hari lalu; (3) Menarik tangan Saga, dan membawa Saga pergi tanpa mereka
sempat berbicara.
So, bravo! Pilihannya kemarin cuma dua, tapi Teman-Teman sudah
memilih pilihan yang tepat. Soalnya, pilihan yang dibahas di atas hanya
memperparah sebuah isu yang sudah parah. Sejak pilihan “Pura-Pura Tidak di
Kosan” itu terpilih, sejujurnya jalan cerita Rama dan Saga akan memburuk hingga
ending. Jadi, di Part 6 kemarin pilihannya dibuat dua untuk melihat
apakah Pembaca masih punya hati untuk bersikap “jujur”?
Ya, apa yang terjadi di Part 7 saat ini terdengar menyakitkan.
Bahkan, tidak menarik. Soalnya enggak ada adegan seks. Wkwkwk. Kalau pilihan
yang atas menang sih at least Rama bisa nyepong kontol Saga meski
ujung-ujungnya kena gonore.
Pada akhirnya, untuk mendapatkan buah yang manis, kita harus
sabar menunggu buah itu matang dari pohonnya.
Terima kasih sudah membaca dan mem-voting.
Sekarang, sudah ada voting yang baru di Part 7. Pilihan voting-nya
enggak ada yang bagus. But it’s necessary. Mana yang lebih ingin kalian
lakukan di antara ketiga pilihan tersebut?
Ingat, kita sudah di Part 7. Besok, di Part 8 sudah pasti
menjadi puncak konflik. Setelahnya part 9 dan 10 akan menjadi penutup cerita
ini. Pilihan di Part 7 menentukan ENDING CERITA ini.
Salam,
Matheus Axilla
Part 5 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Voting yang Tidak Terpilih | Part 7
Komentar
Posting Komentar