(SKS) Yang Tidak Terpilih Part 6




Apa yang terjadi jika pilihan lain yang menang?

Well, kebetulan cuma satu pilihan lain yang enggak menang. So here’s the explanation:

 

Ketika Saga keluar dari kamar mandi, Rama menenangkan dirinya dan berpura-pura tak terjadi apa pun. Mati-matian dia berakting baik-baik saja sambil Saga mengenakan pakaian lalu pergi untuk ngewe dengan bule. Setelah pergi, Rama mencoba mencari cara untuk menyelamatkan dirinya dalam grup itu.

Part ini akan berisi rangkaian obrolan Rama dan orang-orang di grup Cari Saga, di mana Rama akan berkelit ke sana kemari, membuat kebohongan-kebohongan baru, bahkan memanipulasi seluruh member agar mengarahkan ‘blame’ kepada Hesti. Rama terpaksa membual seperti:

Hesti yang ganjen dan maksa-maksa Saga, meskipun Saga enggak mau sama dia. Sebenarnya Saga diperkosa sama Hesti. Makanya Saga enggak mau anak itu lahir. Hubungan seks itu enggak terjadi atas dasar suka sama suka. Saga merasa dimanfaatkan.

Tentunya Hesti membantah dan mengatakan kejadiannya tidak seperti itu. Rama yang sudah bertahun-tahun berbohong kepada dunia soal seksualitasnya dengan lihai menampik kata-kata Hesti dengan berkata, Apa buktinya elo yang benar dan gue yang salah? Gue enggak ada di lokasi waktu kalian main, tapi gue denger perspektif Saga di sini. Perspektif yang kalian semua enggak libatkan dalam keputusan kalian. Cuma dengar dari sisi Hesti, lalu mendadak Saga yang jadi penjahatnya. Adilkah kayak begitu?

Adilkah kalian lihat satu foto yang kebetulan tangan gue lagi ke depan, terus kalian nuduh-nuduh gue pacaran sama si Saga? Ketika faktanya gue baru denger kasus soal Saga dari Vina dan besoknya gue berhasil contact dia dan gue AJAK dia buat ngobrol dan selesaiin masalah ini. Gue mau nyambungin dia ama Hesti, tapi apa yang kalian lakukan?

Kalian bisanya cuma nuduh gue gay dari satu foto. Pantesan kalian cuma di situ-situ aja. Enggak berkembang ke mana-mana. Cuma jadi korban lamtur. Korban gosip. Salah angle dikit mikirnya ke mana-mana. Logika berpikirnya enggak dipake. Enggak heran waktu ujian matematika kalian semua nyontek jawaban gue biar lulus!

Rama terdengar jahat dan angkuh. Grup berubah liar, tetapi berbeda dengan Part 7 yang akhirnya terbit, yang liar di sini justru Rama.

Sebagian dari anggota grup meminta maaf. Sebagian lain hanya diam. Vina salah satu yang meminta maaf, tetapi Rama terlanjur marah besar. Dia merasa berhak untuk merendahkan semua orang di grup. Bukannya benar-benar mencari Saga hingga ketemu dan menyelesaikan masalah Hesti, malah bikin grup gaje yang isinya ngomongin Rama homo.

Rama pun keluar dari grup dengan dada berdebar-debar nafsu. Rama tahu persis yang dia lakukan ini salah besar. Namun, Rama tak bisa menarik lagi kata-katanya. Image dia sebagai lelaki straight harus dipertahankan.

Malam itu Rama menangis karena menyesal karena telah menjadi orang jahat. Kortisolnya memuncak, Rama jadi stres. Dia tak bisa tidur.

Saga pulang pukul 4 pagi, happy karena habis ngewe. Rama yang stres dan penuh nafsu mencoba melampiaskan emosinya itu kepada Saga, tentunya dengan cara sensual. Rama mengaku pengin enam sembilan lagi seperti tempo hari. Saga sebenarnya lelah, tetapi atas dasar “membayar jasa menumpang”, Saga membiarkan Rama menyepong kontolnya. Namun, Saga sedang enggak mood nyepong Rama, jadi dia minta izin untuk enggak nyepong. Rama tak masalah.

Sepanjang subuh, Rama menyepong Saga hingga crot. Lagi-lagi, Rama menelan pejuhnya. Untuk sementara, emosi Rama bisa tertolong. Dia merasa sudah menyelesaikan masalah semalam, meskipun Rama merasa dirinya sangat jahat kepada teman-temannya—khususnya Hesti. Rama dibayang-bayangi rasa bersalah kepada perempuan yang kini membesarkan anaknya Saga, yang hanya ingin tahu Saga di mana, tapi Rama sukses membuat Hesti terlihat seperti lonte yang tidak tahu diri.

Hari Rabu, empat hari sejak malam itu, Rama mulai merasakan tenggorokannya tidak nyaman. Di kosan, Saga juga menghampiri Rama untuk bertanya kenapa kencingnya terasa perih di ujung uretra, dan ada semacam nanah seperti ingus keluar dari lubang kontolnya. Saga bertanya karena Rama kan calon dokter, siapa tahu Rama bisa membantu. Rama yang mengalami sakit tenggorokan selama empat hari terakhir, yang kayaknya tak pernah sembuh dengan Degirol atau permen pelega tenggorokan mana pun, langsung mengajukan pertanyaan dengan panik, “Terakhir ngewe pake kondom enggak?!”

“Semalam? Pake.”

“Bukan! Waktu gue nyepong elo, malam minggu! Itu pake kondom?”

Saga mengingat-ingat. Lalu, wajahnya berubah cemas. Itu adalah ngewe dengan bule, di mana bule adalah tipe cewek favorit Saga, dan ketika si bule minta jangan pake kondom sambil mengaku dia sudah minum birth control pill, Saga dengan mudah melepas kondom yang sudah dipasang sehingga Saga ngewe tanpa pengaman.

Hari itu juga Rama membawa Saga ke klinik swasta terdekat untuk melakukan pemeriksaan mikroskopis (gram stain), yaitu pengambilan sampel dari nanah di ujung kontol Saga. Dalam 2 jam hasilnya keluar dan Saga positif gonore. Rama bisa mengambil kesimpulan dini bahwa dirinya juga kemungkinan mendapatkan gonore oral.

Keduanya pulang ke kosan dengan lemas. Saga meminta maaf berkali-kali ke Rama. Permintaan maaf itu benar-benar romantis, sampai-sampai Saga memegang tangan Rama sepanjang berjalan di lorong kosan menuju kamar. Namun, sebelum mereka tiba di kamar, mereka terkejut dengan kehadiran Vina dan Hesti di depan kamar Rama.

Vina, sebagai salah satu mantan Rama, memiliki kontak orang tua Rama. Vina mencoba menghubungi mereka untuk mendapatkan alamat kosan Rama. Vina memperpanjang liburannya di Bali dan menerbangkan Hesti ke Bali agar bisa ketemu Rama secara langsung. Tujuan Vina sebenarnya baik, terinspirasi dari kata-kata Rama sendiri untuk melihat sebuah cerita dari dua sisi, sekalian meluruskan sisi mana yang benar, Saga atau Rama, maka Vina mencoba mempertemukan Hesti ke Rama.

Keempatnya berpandangan terkejut. Rama dan Saga terkejut karena Vina dan Hesti bisa ada di depan kamar. Vina dan Hesti terkejut karena Saga ternyata ada bersama Rama, bahkan sedang berpegangan tangan dengan Rama.

Apa yang harus Rama lakukan?

Pilihan voting: (1) Lepaskan tangan Saga, lanjut berkelit, dan mengusir keduanya dari kosan; (2) Membuka pintu kamar dan biarkan semua orang masuk, mengekspos Rama pada risiko bahwa dirinya mengatakan omong kosong di grup 4 hari lalu; (3) Menarik tangan Saga, dan membawa Saga pergi tanpa mereka sempat berbicara.

 

So, bravo! Pilihannya kemarin cuma dua, tapi Teman-Teman sudah memilih pilihan yang tepat. Soalnya, pilihan yang dibahas di atas hanya memperparah sebuah isu yang sudah parah. Sejak pilihan “Pura-Pura Tidak di Kosan” itu terpilih, sejujurnya jalan cerita Rama dan Saga akan memburuk hingga ending. Jadi, di Part 6 kemarin pilihannya dibuat dua untuk melihat apakah Pembaca masih punya hati untuk bersikap “jujur”?

Ya, apa yang terjadi di Part 7 saat ini terdengar menyakitkan. Bahkan, tidak menarik. Soalnya enggak ada adegan seks. Wkwkwk. Kalau pilihan yang atas menang sih at least Rama bisa nyepong kontol Saga meski ujung-ujungnya kena gonore.

Pada akhirnya, untuk mendapatkan buah yang manis, kita harus sabar menunggu buah itu matang dari pohonnya.

Terima kasih sudah membaca dan mem-voting.

Sekarang, sudah ada voting yang baru di Part 7. Pilihan voting-nya enggak ada yang bagus. But it’s necessary. Mana yang lebih ingin kalian lakukan di antara ketiga pilihan tersebut?

Ingat, kita sudah di Part 7. Besok, di Part 8 sudah pasti menjadi puncak konflik. Setelahnya part 9 dan 10 akan menjadi penutup cerita ini. Pilihan di Part 7 menentukan ENDING CERITA ini.

 

Salam,

Matheus Axilla


Part 5 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Voting yang Tidak Terpilih | Part 7

Komentar