(SKS) Yang Tidak Terpilih Part 7




Apa yang terjadi jika pilihan lain yang menang?

Sewaktu aku menyusun pilihan untuk Part 8 ini, ada tiga topik utama yang kusasar. Aku berkonsultasi dengan ChatGPT dan Gemini, memetakan reaksi seseorang secara psikologis dalam menghadapi problem kayak Rama. Kujabarkan dulu Rama dan Saga itu siapa, lalu konflik yang Rama lalui bersama Saga apa, lalu AI ini menganalisis possible reaction untuk karakter macam Rama.

Hasil yang keluar adalah:

1. Damage Control (Hubungi Indah terlebih dahulu)

2. Confrontation (Balas grup dan marah-marah)

3. Withdrawal (Keluar grup dan blok orang-orang)

Mengapa? Karena secara natural, Rama mementingkan image-nya sebagai lelaki straight di atas segalanya. Sudah berhasil menikmati Saga pun, dia masih syok ketika orang-orang mengira dirinya gay. Aku pribadi sih kalau sudah dapatin Sagaku, enggak peduli orang mau ngatain aku gay. Yang penting aku dapatin lelaki yang sudah kucintai sejak SMA. Yang ku-coli-in hampir tiap hari. Kayak dapat jackpot miliaran rupiah. Ngapain masih harus mikirin kata orang kalau impian terbesarku sudah kudapatkan.

Sayangnya, ini adalah Rama. Bagi Rama, pendapat orang soal dirinya itu penting. Alhasil, ketiga topik utama itu dibangun untuk melindungi identitasnya.

 

(2) Balas grup dan marah-marah

Ini merupakan direct attack dari Rama. Situasi yang kacau harus dikontrol langsung oleh Rama, caranya dengan manipulasi. Harapannya, kalau Rama berhasil meng-gaslight orang-orang di grup, nama baik Rama akan terselamatkan. Lalu, apa yang terjadi kalau ini yang menang?

Rama itu pintar, woy. Ranking 1 di SMA dan SNBP FK sebelum kelulusan. Kecerdasan logical/mathematical-nya brutal. Kalau harus memanipulasi orang, ya dia jago. Rama akhirnya balas di grup dan marah-marah pada sikap immature semua orang menghadapi isu ini. Dia bawa-bawa hukum pidana Indonesia untuk mengancam member grup bahwa apa yang mereka lakukan berpotensi untuk dibawa ke meja hijau. Misalnya, pencemaran nama baik, fitnah, hingga cyberbullying. Rama bilang dia sudah screenshot semua percakapan, dan siap mengumpulkan bukti-bukti untuk dilaporkan ke polisi.

Tak hanya itu, satu per satu orang “dibaca” oleh Rama di grup. Tidak semua, tapi yang aktif menghina Rama di grup disebutkan kekurangan-kekurangan mereka yang faktual Rama ketahui dari SMA.

Misal, “Wanto, kalau pas SMA aja lo demen bahas toketnya si Vina ke gue, enggak pantas lo ngerasa sok suci nge-judge gue yang 100% enggak ada bukti valid pacaran sama si Saga. Kalau tujuan elo ngerasa lebih baik dari gue, gue malah jadi kasihan karena pencapaian hidup elo serendah itu sampe ngerasa perlu dragging others down ke level elo cuma supaya elo setara ama gue.”

Kata-kata itu menyakitkan sekali, tetapi berhasil membuat grup itu bungkam. Secara kolektif, mereka meminta maaf kepada Rama dan bersedia bekerja sama untuk fokus membahas objektif grup, yaitu mencari Saga. Sayangnya Rama sudah muak dengan mereka dan memutuskan enggak akan membantu mengoneksikan Saga ke mereka gara-gara tindakan mereka di grup. Rama tinggalkan grup itu dan lanjut tidur sepanjang hari. (Rama baru tidur pukul 8 pagi, baru bangun pukul 4 sore. Tidur lelap yang enggak terusik meski ada ribut-ribut di sekitarnya.)

Konflik meningkat ketika kata-kata Rama yang membahas soal pidana itu MENGINSPIRASI member grup untuk melakukan hal yang sama. Ya, member grup meninggalkan Rama. Mereka tidak mengusik Rama. Namun, mereka membantu Hesti melaporkan Saga ke kepolisian atas dugaan penelantaran anak. Dasar hukumnya UU Nomor 35 tahun 2014 dan KUHP Pasal 304.

Hesti berhasil mengumpulkan cukup bukti (sekali lagi, terinspirasi oleh Rama yang merong-merong di grup), untuk akhirnya mengadukan Saga ke Polres di Jakarta. Vina membantu Hesti menghubungi orang tua Rama untuk menanyakan alamat kosan Rama. Vina dan dua orang polisi datang ke kosan Rama, tujuannya supaya Rama bersedia memberi tahu alamat kosan Saga. Vina pikir, siapa tahu kalau ada polisi, Rama mau kerja sama.

Ketika Vina dan dua polisi Bali datang ke kosan itu, yang membuka pintu justru Saga (karena Rama kan sedang tidur). Ya sudah, sekalian saja, polisi itu menjelaskan adanya laporan pengaduan penelantaran anak dari Hesti. Berkasnya sudah masuk ke kepolisian. Polisi datang memberikan surat panggilan agar Saga datang ke kantor polisi besoknya untuk memberikan klarifikasi. (Hanya klarifikasi saja sebenarnya, bukan ditahan atau dipenjara.) Lalu, dua polisi itu pun pergi, sementara Vina masih ada di depan kosan itu.

Meski bukan ditahan, Saga tetap panik bukan main. Lututnya lemas, perutnya mulas, mukanya pucat. Masalah dia kenapa jadi bawa-bawa polisi segala? Vina yang ada di situ menjelaskan ke Saga bahwa tindakan ini terinspirasi dari Rama di grup yang menyelesaikan masalah lewat hukum pidana. Vina juga berniat menunggu Rama bangun untuk minta maaf secara langsung atas kegaduhan, tapi Ramanya benar-benar tertidur pulas. Saga bilang nanti akan disampaikan maafnya kalau Rama sudah bangun dan Vina boleh pergi karena Saga masih syok didatangi polisi.

Setelah Vina pergi, dengan panik dan resah Saga duduk di kursi belajar Rama. Dia mencoba menenangkan dirinya, tetapi tak berhasil. Dia coba nyalakan speaker bluetooth-nya untuk menenangkan diri, tetapi speaker-nya enggak mau nyala. Saga merasa makin kesal. Dia memukul-mukul meja karena marah, kesal, dan takut. Saga tidak mau masuk penjara.

Gara-gara berisik memukul meja, Rama pun terbangun. Rama duduk dan bertanya, “Kenapa, Ga?”

Saga mendongak dengan ekspresi marah. Lalu Saga menghampiri Rama dan meninjunya.

BUK!

“BANGSAAATTT!”

Dan bagian setelahnya SAMA PERSIS dengan apa yang ada di Part 8.2, termasuk pilihan voting-nya. (Paling disesuaikan di dialognya bahwa gara-gara Rama, sekarang polisi ikut campur dalam masalah Saga. Seharusnya Rama diam saja. Enggak usah marah-marah di grup.)

 

(3) keluar dari grup dan blok orang-orang

Rama secinta itu kepada Saga, berasa Saga adalah suaminya sendiri, sehingga Rama mencoba untuk meniru apa yang Saga lakukan. Hubungannya dengan Saga memang sedang tidak baik, tapi siapa tahu jika Rama bersikap seperti Saga (being avoidant) maka Saga akan mulai open up kepada Rama.

Pagi itu, Rama memblok semua orang di grup itu, termasuk Vina, lalu keluar dari grup terang-terangan. Dia menyimpan ponselnya, lalu lanjut tidur. Mungkin karena kelelahan Rama pun berhasil tidur.

Siang hari Rama terbangun dan menemukan Saga sedang merokok di depan kamar, sedang melamun. Rama menghampirinya dan mengatakan bahwa Rama sudah blok semua orang dan keluar dari grup. Saga mengonfirmasi tindakan Rama dengan berkata, “Oke.” Namun tak ada respons apa-apa lagi. Setelah didesak Rama, Saga hanya berkata, “Yang lo lakuin udah bener. Tinggalin aja semua yang ganggu hidup lo.”

Kemudian, Saga pamit pergi. Entah ngewe entah ke mana.

Part ini akan berlangsung hingga tiga hari. Setelah obrolan kecil bersama Saga, Rama juga mengasingkan diri dari dunia. Dia bolos kuliah sepanjang Senin, Selasa, Rabu. Dia mengalihkan frustrasinya dengan main Mobile Legends sepanjang waktu. Rama uninstall WhatsApp dan semua media sosial, lalu hanya berbaring main Mobile Legends hingga lupa makan lupa tidur.

Rama berada dalam state depresi. Mengabaikan grup itu memang mudah. Namun tekanan psikologis setelahnya menggerogoti mental Rama. Sepanjang waktu Rama memikirkan apa kata orang. Sepanjang waktu Rama membayangkan apa yang Saga pikirkan soal dirinya. Maka dari itu Rama malah main game berpuluh-puluh jam. Sambil main game dia juga menangis hingga air matanya kering. Indah berkali-kali datang ke kosannya, mengetuk pintu, tetapi Rama mengabaikan. Bahkan, Rama mengunci pintu dan tidak membiarkan Indah masuk. Ponselnya flight mode agar tidak ada yang meneleponnya. Main Mobile Legends hanya pakai WiFi.

Ke mana Saga? Minggu dan Senin malam Saga tidak pulang. Selasa siang dia muncul, mandi, ganti baju, pergi lagi. Malamnya, dia tak pulang lagi. Namun, Rabu pagi akhirnya Saga muncul kembali dan mendapati Rama kondisinya menyedihkan. Saga ajak Rama untuk sarapan dan mengobrol.

Rama luluh karena Saga yang mengajaknya. Dia happy karena Saga mau mengobrol lagi dengannya. Topik obrolan mereka soal being avoidant. Dengan lihai Saga tanamkan ke Rama bahwa menghindar kadang bisa menjadi solusi terbaik.

Pulang dari sarapan pagi, hubungan mereka membaik. Rama happy sekali karena Saga tampak begitu ganteng, baik, dan accepting. Sebagai hadiah karena Rama menghindar dari grup itu, Saga memberikan Rama speaker bluetooth Cina yang dulu menemani Saga dalam masa-masa depresi mereka.

“Enggak usah ML mulu, Ram. Nih, dengerin musik pake speaker ini. Suaranya kocak. Jadi nge-bass semua. Hahaha.”

Tentu saja Rama menerima hadiah itu dengan senang hati. Benda ini sangat murahan dan tak berkualitas, tetapi karena ini dikasih oleh Saga, Rama merasa ini hadiah yang sangat berharga. Sesampainya di kosan, Rama mencoba menyambungkan bluetooth speaker ke ponselnya, tetapi tak berhasil. Saga juga mencoba mengotak-atik speaker itu agar bluetooth-nya nyambung. Mereka begitu terpaku pada speaker, berjalan menunduk dengan asyik menuju kamar, tanpa menyadari bahwa di depan kamar mereka terdapat banyak sekali orang.

Orang tua Rama, orang tua Saga, Hesti, dan anaknya Saga.

Karena Rama tak bisa dihubungi, Vina dan member grup mencoba menghubungi keluarga Rama. Orang tua Rama juga tidak bisa menghubungi Rama, membuat suasana makin panik. Vina akhirnya menjelaskan kabar terakhir yang diketahui, sehingga keluarga Rama mempelajari bahwa “Rama gay, pacaran dengan Saga, yang menghamili Hesti, dan kini punya anak yang ditelantarkan”.

Orang tua Rama marah. Dia mengajak orang tua Saga bicara. Bersama Hesti dan anak Saga, keenamnya terbang ke Bali untuk menemui Rama dan Saga. Apalagi orang tua Saga juga mengonfirmasi bahwa Saga ngekos di kosan yang sama dengan Rama.

Setelah kedatangan Rama dan Saga di kosan, akhirnya Saga, keluarganya, Hesti, dan anaknya, berdiskusi di dalam kamar Rama. Sementara Rama dan kedua orang tuanya berdiskusi di kafe terdekat. Rama dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya gara-gara gosip itu. Dia diskors, tidak boleh main ke mana-mana lagi selain kuliah. Tidak boleh pacaran dengan Indah juga. Ibunya akan tinggal di kosan Rama selama satu bulan penuh untuk mengawasi Rama. Tentunya, mereka menyuruh Rama menjauhi Saga. Uang bulanan Rama akan dipotong. Semua sarapan, makan siang, dan makan malam Rama, akan dilakukan bersama sang ibu, tidak dengan siapa pun.

Rama mencoba melawan, tetapi Rama digampar oleh ayahnya di kafe—di depan semua orang. Rama yang makin depresi karena gosip soal dirinya gay lalu pacaran dengan Saga itu menyebar luas ke semua orang di SMA-nya, bahkan viral di media sosial, di akun-akun macam lamtur dengan berita, “Seorang lelaki menghamili perempuan hingga punya anak, lalu pindah ke Bali dan menjadi gay, pacaran dengan lelaki lain,” yang meski berita itu soal Saga tetapi foto Rama sebagai pacar gay-nya ada di slide Instagram berita tersebut, hanya bisa menangis menerima semua itu.

Hidup Rama hancur lebur.

Sekembalinya Rama ke kosan, ternyata Saga sudah membereskan semua barangnya ke dalam koper. Kebetulan sekali mobil Grab Saga dan keluarga sudah ada di depan ketika Rama dan orang tuanya tiba di kosan. Saga baru saja memasukkan koper ke dalam mobil. Orang tua Saga, Hesti, dan anaknya ada di dalam mobil. Rama menghampiri Saga dan memeluknya sebelum berpisah.

Sambil mereka berpelukan erat, ada kata-kata yang muncul di tengah pelukan itu. Dan ini menjadi pilihan voting-nya.

I love you, harusnya kita enggak pernah sekosan, fuck you, dan the bluetooth device is connected successfully.

Jika menurutmu ini adalah pilihan terburuk, berterimakasihlah kepada empat orang yang memilih menghubungi Hesti terlebih dahulu di akhir-akhir masa voting. Soalnya selama berhari-hari, pilihan inilah yang nomor satu. Wkwkwk. Mendekati penutupan voting, tiba-tiba pilihan nomor 1 memuncak lagi ke atas.

 

Ya, semua pilihan ini akan berakhir di voting yang sama. Dan seperti yang kubilang berkali-kali di setiap platform, voting Part 8.2 akan menentukan ENDING Part 10. Jadi, silakan voting sesuai keinginan hati.

 

Salam,

Matheus Axilla


Part 6 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Voting yang Tidak Terpilih | Part 8

Komentar