Apa yang terjadi jika pilihan lain yang menang?
Sewaktu aku menyusun pilihan untuk Part 8 ini, ada tiga topik
utama yang kusasar. Aku berkonsultasi dengan ChatGPT dan Gemini, memetakan
reaksi seseorang secara psikologis dalam menghadapi problem kayak Rama.
Kujabarkan dulu Rama dan Saga itu siapa, lalu konflik yang Rama lalui bersama
Saga apa, lalu AI ini menganalisis possible reaction untuk karakter macam
Rama.
Hasil yang keluar adalah:
1. Damage Control (Hubungi Indah terlebih dahulu)
2. Confrontation (Balas grup dan marah-marah)
3. Withdrawal (Keluar grup dan blok orang-orang)
Mengapa? Karena secara natural, Rama mementingkan image-nya
sebagai lelaki straight di atas segalanya. Sudah berhasil menikmati Saga
pun, dia masih syok ketika orang-orang mengira dirinya gay. Aku pribadi
sih kalau sudah dapatin Sagaku, enggak peduli orang mau ngatain aku gay.
Yang penting aku dapatin lelaki yang sudah kucintai sejak SMA. Yang ku-coli-in
hampir tiap hari. Kayak dapat jackpot miliaran rupiah. Ngapain masih
harus mikirin kata orang kalau impian terbesarku sudah kudapatkan.
Sayangnya, ini adalah Rama. Bagi Rama, pendapat orang soal
dirinya itu penting. Alhasil, ketiga topik utama itu dibangun untuk melindungi
identitasnya.
(2) Balas grup dan marah-marah
Ini merupakan direct attack dari Rama. Situasi yang
kacau harus dikontrol langsung oleh Rama, caranya dengan manipulasi.
Harapannya, kalau Rama berhasil meng-gaslight orang-orang di grup, nama
baik Rama akan terselamatkan. Lalu, apa yang terjadi kalau ini yang menang?
Rama itu pintar, woy. Ranking 1 di SMA dan SNBP FK sebelum
kelulusan. Kecerdasan logical/mathematical-nya brutal. Kalau harus
memanipulasi orang, ya dia jago. Rama akhirnya balas di grup dan marah-marah
pada sikap immature semua orang menghadapi isu ini. Dia bawa-bawa hukum
pidana Indonesia untuk mengancam member grup bahwa apa yang mereka lakukan berpotensi
untuk dibawa ke meja hijau. Misalnya, pencemaran nama baik, fitnah, hingga cyberbullying.
Rama bilang dia sudah screenshot semua percakapan, dan siap mengumpulkan
bukti-bukti untuk dilaporkan ke polisi.
Tak hanya itu, satu per satu orang “dibaca” oleh Rama di grup.
Tidak semua, tapi yang aktif menghina Rama di grup disebutkan kekurangan-kekurangan
mereka yang faktual Rama ketahui dari SMA.
Misal, “Wanto, kalau pas SMA aja lo demen bahas toketnya si
Vina ke gue, enggak pantas lo ngerasa sok suci nge-judge gue yang 100%
enggak ada bukti valid pacaran sama si Saga. Kalau tujuan elo ngerasa lebih
baik dari gue, gue malah jadi kasihan karena pencapaian hidup elo serendah itu
sampe ngerasa perlu dragging others down ke level elo cuma supaya elo
setara ama gue.”
Kata-kata itu menyakitkan sekali, tetapi berhasil membuat grup
itu bungkam. Secara kolektif, mereka meminta maaf kepada Rama dan bersedia
bekerja sama untuk fokus membahas objektif grup, yaitu mencari Saga. Sayangnya
Rama sudah muak dengan mereka dan memutuskan enggak akan membantu mengoneksikan
Saga ke mereka gara-gara tindakan mereka di grup. Rama tinggalkan grup itu dan
lanjut tidur sepanjang hari. (Rama baru tidur pukul 8 pagi, baru bangun pukul 4
sore. Tidur lelap yang enggak terusik meski ada ribut-ribut di sekitarnya.)
Konflik meningkat ketika kata-kata Rama yang membahas soal
pidana itu MENGINSPIRASI member grup untuk melakukan hal yang sama. Ya, member
grup meninggalkan Rama. Mereka tidak mengusik Rama. Namun, mereka membantu
Hesti melaporkan Saga ke kepolisian atas dugaan penelantaran anak. Dasar hukumnya
UU Nomor 35 tahun 2014 dan KUHP Pasal 304.
Hesti berhasil mengumpulkan cukup bukti (sekali lagi,
terinspirasi oleh Rama yang merong-merong di grup), untuk akhirnya
mengadukan Saga ke Polres di Jakarta. Vina membantu Hesti menghubungi orang tua
Rama untuk menanyakan alamat kosan Rama. Vina dan dua orang polisi datang ke
kosan Rama, tujuannya supaya Rama bersedia memberi tahu alamat kosan Saga. Vina
pikir, siapa tahu kalau ada polisi, Rama mau kerja sama.
Ketika Vina dan dua polisi Bali datang ke kosan itu, yang
membuka pintu justru Saga (karena Rama kan sedang tidur). Ya sudah, sekalian
saja, polisi itu menjelaskan adanya laporan pengaduan penelantaran anak dari
Hesti. Berkasnya sudah masuk ke kepolisian. Polisi datang memberikan surat
panggilan agar Saga datang ke kantor polisi besoknya untuk memberikan
klarifikasi. (Hanya klarifikasi saja sebenarnya, bukan ditahan atau dipenjara.)
Lalu, dua polisi itu pun pergi, sementara Vina masih ada di depan kosan itu.
Meski bukan ditahan, Saga tetap panik bukan main. Lututnya
lemas, perutnya mulas, mukanya pucat. Masalah dia kenapa jadi bawa-bawa polisi
segala? Vina yang ada di situ menjelaskan ke Saga bahwa tindakan ini
terinspirasi dari Rama di grup yang menyelesaikan masalah lewat hukum pidana.
Vina juga berniat menunggu Rama bangun untuk minta maaf secara langsung atas
kegaduhan, tapi Ramanya benar-benar tertidur pulas. Saga bilang nanti akan
disampaikan maafnya kalau Rama sudah bangun dan Vina boleh pergi karena Saga masih
syok didatangi polisi.
Setelah Vina pergi, dengan panik dan resah Saga duduk di kursi
belajar Rama. Dia mencoba menenangkan dirinya, tetapi tak berhasil. Dia coba
nyalakan speaker bluetooth-nya untuk menenangkan diri, tetapi speaker-nya
enggak mau nyala. Saga merasa makin kesal. Dia memukul-mukul meja karena marah,
kesal, dan takut. Saga tidak mau masuk penjara.
Gara-gara berisik memukul meja, Rama pun terbangun. Rama duduk
dan bertanya, “Kenapa, Ga?”
Saga mendongak dengan ekspresi marah. Lalu Saga menghampiri
Rama dan meninjunya.
BUK!
“BANGSAAATTT!”
Dan bagian setelahnya SAMA PERSIS dengan apa yang ada
di Part 8.2, termasuk pilihan voting-nya. (Paling disesuaikan di
dialognya bahwa gara-gara Rama, sekarang polisi ikut campur dalam masalah Saga.
Seharusnya Rama diam saja. Enggak usah marah-marah di grup.)
(3) keluar dari grup dan blok orang-orang
Rama secinta itu kepada Saga, berasa Saga adalah suaminya
sendiri, sehingga Rama mencoba untuk meniru apa yang Saga lakukan. Hubungannya
dengan Saga memang sedang tidak baik, tapi siapa tahu jika Rama bersikap seperti
Saga (being avoidant) maka Saga akan mulai open up kepada Rama.
Pagi itu, Rama memblok semua orang di grup itu, termasuk Vina,
lalu keluar dari grup terang-terangan. Dia menyimpan ponselnya, lalu lanjut
tidur. Mungkin karena kelelahan Rama pun berhasil tidur.
Siang hari Rama terbangun dan menemukan Saga sedang merokok di
depan kamar, sedang melamun. Rama menghampirinya dan mengatakan bahwa Rama
sudah blok semua orang dan keluar dari grup. Saga mengonfirmasi tindakan Rama
dengan berkata, “Oke.” Namun tak ada respons apa-apa lagi. Setelah didesak
Rama, Saga hanya berkata, “Yang lo lakuin udah bener. Tinggalin aja semua yang
ganggu hidup lo.”
Kemudian, Saga pamit pergi. Entah ngewe entah ke mana.
Part ini akan berlangsung hingga tiga hari. Setelah obrolan
kecil bersama Saga, Rama juga mengasingkan diri dari dunia. Dia bolos kuliah
sepanjang Senin, Selasa, Rabu. Dia mengalihkan frustrasinya dengan main Mobile
Legends sepanjang waktu. Rama uninstall WhatsApp dan semua media sosial,
lalu hanya berbaring main Mobile Legends hingga lupa makan lupa tidur.
Rama berada dalam state depresi. Mengabaikan grup itu
memang mudah. Namun tekanan psikologis setelahnya menggerogoti mental Rama. Sepanjang
waktu Rama memikirkan apa kata orang. Sepanjang waktu Rama membayangkan apa
yang Saga pikirkan soal dirinya. Maka dari itu Rama malah main game berpuluh-puluh
jam. Sambil main game dia juga menangis hingga air matanya kering. Indah
berkali-kali datang ke kosannya, mengetuk pintu, tetapi Rama mengabaikan. Bahkan,
Rama mengunci pintu dan tidak membiarkan Indah masuk. Ponselnya flight mode
agar tidak ada yang meneleponnya. Main Mobile Legends hanya pakai WiFi.
Ke mana Saga? Minggu dan Senin malam Saga tidak pulang. Selasa
siang dia muncul, mandi, ganti baju, pergi lagi. Malamnya, dia tak pulang lagi.
Namun, Rabu pagi akhirnya Saga muncul kembali dan mendapati Rama kondisinya
menyedihkan. Saga ajak Rama untuk sarapan dan mengobrol.
Rama luluh karena Saga yang mengajaknya. Dia happy
karena Saga mau mengobrol lagi dengannya. Topik obrolan mereka soal being
avoidant. Dengan lihai Saga tanamkan ke Rama bahwa menghindar kadang bisa
menjadi solusi terbaik.
Pulang dari sarapan pagi, hubungan mereka membaik. Rama happy
sekali karena Saga tampak begitu ganteng, baik, dan accepting. Sebagai
hadiah karena Rama menghindar dari grup itu, Saga memberikan Rama speaker
bluetooth Cina yang dulu menemani Saga dalam masa-masa depresi mereka.
“Enggak usah ML mulu, Ram. Nih, dengerin musik pake speaker
ini. Suaranya kocak. Jadi nge-bass semua. Hahaha.”
Tentu saja Rama menerima hadiah itu dengan senang hati. Benda
ini sangat murahan dan tak berkualitas, tetapi karena ini dikasih oleh Saga,
Rama merasa ini hadiah yang sangat berharga. Sesampainya di kosan, Rama mencoba
menyambungkan bluetooth speaker ke ponselnya, tetapi tak berhasil. Saga
juga mencoba mengotak-atik speaker itu agar bluetooth-nya
nyambung. Mereka begitu terpaku pada speaker, berjalan menunduk dengan
asyik menuju kamar, tanpa menyadari bahwa di depan kamar mereka terdapat banyak
sekali orang.
Orang tua Rama, orang tua Saga, Hesti, dan anaknya Saga.
Karena Rama tak bisa dihubungi, Vina dan member grup mencoba
menghubungi keluarga Rama. Orang tua Rama juga tidak bisa menghubungi Rama,
membuat suasana makin panik. Vina akhirnya menjelaskan kabar terakhir yang
diketahui, sehingga keluarga Rama mempelajari bahwa “Rama gay, pacaran
dengan Saga, yang menghamili Hesti, dan kini punya anak yang ditelantarkan”.
Orang tua Rama marah. Dia mengajak orang tua Saga bicara. Bersama
Hesti dan anak Saga, keenamnya terbang ke Bali untuk menemui Rama dan Saga.
Apalagi orang tua Saga juga mengonfirmasi bahwa Saga ngekos di kosan yang sama
dengan Rama.
Setelah kedatangan Rama dan Saga di kosan, akhirnya Saga,
keluarganya, Hesti, dan anaknya, berdiskusi di dalam kamar Rama. Sementara Rama
dan kedua orang tuanya berdiskusi di kafe terdekat. Rama dimarahi habis-habisan
oleh orang tuanya gara-gara gosip itu. Dia diskors, tidak boleh main ke
mana-mana lagi selain kuliah. Tidak boleh pacaran dengan Indah juga. Ibunya
akan tinggal di kosan Rama selama satu bulan penuh untuk mengawasi Rama.
Tentunya, mereka menyuruh Rama menjauhi Saga. Uang bulanan Rama akan dipotong.
Semua sarapan, makan siang, dan makan malam Rama, akan dilakukan bersama sang
ibu, tidak dengan siapa pun.
Rama mencoba melawan, tetapi Rama digampar oleh ayahnya di
kafe—di depan semua orang. Rama yang makin depresi karena gosip soal dirinya gay
lalu pacaran dengan Saga itu menyebar luas ke semua orang di SMA-nya, bahkan
viral di media sosial, di akun-akun macam lamtur dengan berita, “Seorang
lelaki menghamili perempuan hingga punya anak, lalu pindah ke Bali dan menjadi
gay, pacaran dengan lelaki lain,” yang meski berita itu soal Saga tetapi
foto Rama sebagai pacar gay-nya ada di slide Instagram berita tersebut, hanya
bisa menangis menerima semua itu.
Hidup Rama hancur lebur.
Sekembalinya Rama ke kosan, ternyata Saga sudah membereskan
semua barangnya ke dalam koper. Kebetulan sekali mobil Grab Saga dan keluarga
sudah ada di depan ketika Rama dan orang tuanya tiba di kosan. Saga baru saja
memasukkan koper ke dalam mobil. Orang tua Saga, Hesti, dan anaknya ada di dalam
mobil. Rama menghampiri Saga dan memeluknya sebelum berpisah.
Sambil mereka berpelukan erat, ada kata-kata yang muncul di tengah
pelukan itu. Dan ini menjadi pilihan voting-nya.
I love you, harusnya kita enggak pernah sekosan, fuck
you, dan the bluetooth device is connected successfully.
Jika menurutmu ini adalah pilihan terburuk, berterimakasihlah
kepada empat orang yang memilih menghubungi Hesti terlebih dahulu di akhir-akhir
masa voting. Soalnya selama berhari-hari, pilihan inilah yang nomor satu.
Wkwkwk. Mendekati penutupan voting, tiba-tiba pilihan nomor 1 memuncak lagi ke
atas.
Ya, semua pilihan ini akan berakhir di voting yang sama. Dan seperti
yang kubilang berkali-kali di setiap platform, voting Part 8.2 akan menentukan
ENDING Part 10. Jadi, silakan voting sesuai keinginan hati.
Salam,
Matheus Axilla
Part 6 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Voting yang Tidak Terpilih | Part 8
Komentar
Posting Komentar