Halo, Kak!
Tenang aja, aku enggak baper sama Erick, kok. Hatiku masih
hanya untuk Fian.
Palingan sekarang aku bingung, kalau kesempatan ngewe
sama Erick itu datang lagi, apakah aku akan sanggup menolaknya?
Soalnya, ngewe dengan Erick semalam menjadi salah satu ngewe
ter-the-best yang pernah kurasakan seumur hidup. Kalau Erick bisa sampai
ke-PD-an mengira aku baper kepadanya, kurasa itu bukan hal yang
mustahil-mustahil amat. Ngewe-ku dengan Erick bukan sekadar pelampiasan
nafsu, kontol masuk bool, crot crot crot, lalu semua selesai.
Bagiku awalnya begitu. Kan, aku sedang sange parah
gara-gara Fian, lalu aku digoda habis-habisan oleh Bondan, wajar kalau aku
menikmati ngewe dengan Erick secara totalitas. Namun obrolan kami
setelah ngewe, ketika Erick berkata bahwa dia sebenarnya sayang kepada
Ezel tetapi tak tahu cara mengungkapkannya, membuatku merasa iri.
Aku jadi pengin memiliki Erick sebagai kakakku.
Ezel boleh iri karena aku dekat dengan Fian dan aku pernah
melihat kontol Fian. Namun aku iri setengah mati karena Ezel punya kakak
seperti Erick, yang menyebalkan dan ngomel-ngomel, tetapi siap melakukan apa
pun—bahkan menjual dirinya—demi keamanan sang adik. Aku yakin betul, tidak akan
ada satu pun dari 12 kakak kandungku yang akan melakukan itu untukku.
Sehabis obrolan intim after sex itu aku dan Erick bangkit
dari tempat tidur dan membersihkan diri. Kondom akhirnya dilepaskan dari
kontol, warna spermanya sudah berubah bening. Erick ikut mandi di kosanku,
tetapi dia memutuskan untuk menginap di kamarku malam itu.
Dia tidur telanjang, by the way. Katanya supaya aku
bisa memainkan kontolnya kalau-kalau aku kangen.
(Kumainkan kontolnya sih memang, saat dia tidur. Bahkan
kuambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan sebelum aku benar-benar dipinang
Fian dan tak akan pernah bisa kembali lagi ke tentara elite angkatan udara yang
narsis ini.)
Keesokan paginya, sebelum Erick berangkat dari kosanku, dia
sempat membahas lagi soal Ezel.
“Jadi ... hidup si Ezel ..., berapa lama lagi?”
“What the fuck?!” Aku terkekeh sambil geleng-geleng
kepala. “Aku mana tahu umur dia berapa lama lagi.”
“Enggak ada di surat dokternya, hah?”
“Enggak, lah! Ezel baik-baik aja, Bang. Dia sedang sakit, tapi
sakitnya aku yakin bisa disembuhkan. Dia belum punya vonis mati dari dokter
mana pun.”
“Tapi kalau kena AIDS pasti mati, kan?” Erick masih meyakini
bahwa Ezel terjangkit penyakit homoseksual, yaitu HIV AIDS.
“Enggak kena AIDS juga kita bisa mati, Bang. Enggak jadi abadi
juga.”
“Berapa duit buat biaya pengobatannya?”
“Untuk urusan itu, Abang enggak usah mikirin.”
“Duit gue enggak banyak, tapi gue udah nabung. Kalau butuh
apa-apa, please ..., elo hubungi gue.”
“Kalau Ezelnya enggak mau?”
“Jangan dengerin dia! Kalau dia mesti berobat ke rumah sakit,
minum obat AIDS seumur hidup yang mahal itu, please kontak gue, biar gue
yang bayarin pengobatannya.”
Pertama, HIV AIDS tidak ada obatnya, karena virus mana pun
memang tidak ada obatnya. Virus influenza pun tidak ada obatnya. Untuk melawan
virus, hanya bisa dilakukan dengan antibodi. Makanya Covid-19 kemaren kita
semua divaksin, karena memang harus tubuh kita sendiri yang melawan virus.
Kedua, terapi ARV (atau “obat-obat HIV”) itu gratis dari
pemerintah. Silakan kunjungi puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatannya.
(Di klinik biasanya bayar, tapi enggak mahal-mahal banget. Di klinikku, satu
botol ARV harganya 75 ribu untuk konsumsi satu bulan. Termasuk terapi
Cotrimoxazole untuk 1–2 tahun pertama.)
Ketiga, aku makin iri dengan Ezel karena punya kakak sesayang
Erick. Yang benar-benar memperjuangkan adiknya.
“Nanti kukabari update-nya, oke?” tawarku. “Untuk
sekarang, kita kasih waktu buat Ezel ngadepin ini semua. Jangan desak dia.
Jangan ngomel-ngomel terus ama dia.”
“Enggak bisa.” Erick mendengus. “Gue suka gatal pengin jitak
dia.”
“Ya siapa tahu kalau Abang lebih lembut ke dia ... dia bakal
lebih terbuka sama Abang?”
Erick sudah membuka mulutnya, tetapi menutupnya lagi. Dia tak
mengatakan komentar apa pun. Dia mengenakan sepatunya, meminta parfumku,
menyemprotkannya banyak-banyak di lehernya, lalu pamit pergi.
Tepat beberapa saat setelah kepergian Erick, aku mendapatkan
sebuah pesan WhatsApp.
Dari Xavier.
WOY! KESINI! SI DAVIN MATI! BANTU GUE!
[ ... ]
Meskipun aku selalu bilang ke semua orang bahwa aku ini
hanyalah perawat, bukan dokter, terkadang aku memiliki pengetahuan yang juga
dimiliki seorang dokter. Sebagai anak bungsu yang jarak kakak-kakaknya cukup
jauh, aku sering merasa sendirian di rumah. Karena kesepian, aku banyak membaca
buku dan jurnal. Karena aku masuk ke jurusan keperawatan, aku banyak membaca
jurnal-jurnal medis—termasuk pengetahuan medis yang sebenarnya bukan urusanku.
Aku menyadari aku tak punya kapasitas, kompetensi, maupun hak untuk melakukan
tindakan medis setara dokter. Namun aku tahu, dalam hal menyelamatkan nyawa
manusia, aku harus mengerahkan semua yang kutahu agar tidak ada korban jiwa.
Hal pertama yang kulakukan tentu saja memanggil ambulans dari
rumah sakit terdekat dari apartemennya Davin. Hal berikutnya adalah menaiki
Gojek dan memintanya mengebut ke apartemen tersebut dengan alasan ingin
menyelamatkan nyawa. Ambulans tiba terlambat ke apartemen gara-gara ada iringan
Angkatan Darat yang baru tiba ke kota. Rombongan ini membawa tank baja dan
peralatan militer lain, seakan-akan sedang parade militer di Korea Utara.
Banyak jalan tertutup dan macetnya minta ampun. Macetnya benar-benar mengunci
jalan raya, ambulans tak bisa maju sedikit pun tak peduli suara sirinenya
bergaung keras seperti sangkakala. Rombongan angkatan darat ini juga terkunci,
enggak bisa maju.
Tentu saja aku juga kena macet. Tapi namanya motor, driver-nya
dengan lihai membawaku ke gang-gang kecil dan jalan setapak pinggir sawah agar
bisa tiba di apartemen lebih cepat. Sepanjang jalan aku mengobrol dengan Xavier
lewat telepon sambil memintanya melakukan beberapa hal. Misal, memiringkan
tubuh Davin ke kiri dan menekuk kaki kanannya ke lantai. Kenapa harus seperti
itu?
Karena dari mulut Davin keluar buih.
Aku belum tahu secara pasti itu apa. Namun Xavier meneleponku
dengan panik lewat panggilan video dan menunjukkan situasi Davin yang tak
sadarkan diri. Dari sudut-sudut mulutnya keluar buih. Di dekatnya, ada
obat-obatan entah apa, plus ada botol minuman keras yang sudah habis. Memiringkan
ke kiri akan membantu mengeringkan buih atau busa di mulut dan mencegah busa
itu masuk ke tenggorokan hingga tersedak.
Sewaktu aku tiba di apartemen itu, mata Xavier bengkak karena
menangis. Dia menarik tanganku kuat-kuat dan tak sudi melepaskannya meskipun
kami sedang berada di dalam lift. Begitu keluar dari lift, aku ditariknya
hingga ke unit apartemen Davin, hampir saja aku tersungkur jatuh karena Xavier
terlalu kuat dan cepat.
Begitu aku berada di depan Davin, aku langsung mengecek
mulutnya untuk melihat buihnya seperti apa. Apakah itu muntah, apakah ada
makanan, atau barang-barang asing dan lain sebagainya. Aku juga mengangkat
kepala Davin agar mendongak, supaya Davin bisa mendapatkan udara.
Sambil meracau panik, Xavier menjelaskan obat yang dikonsumsi
Davin secara berlebihan. Lelaki itu menelan benzodiazepines hingga overdose
dan mencampurnya dengan alkohol.
Kubersihkan buih-buih di mulutnya, lalu aku melakukan CPR dari
mulut ke mulut.
Alhamdulillah ambulans datang tak lama setelah pertolongan
medis yang kulakukan dan Davin pun bisa kami bawa ke rumah sakit terdekat,
meskipun agak terlambat (karena macetnya kan belum terurai sepenuhnya). Namun
setidaknya di dalam ambulans ada masker oksigen dan berbagai peralatan medis
yang bisa menyambung napas Davin.
Kira-kira tiga jam setelah Xavier mengabariku soal Davin,
lelaki itu akhirnya bisa dirawat secara intensif di ICU.
Rasanya semua berlalu begitu cepat. Di sinilah aku merasa
bahwa apa yang kulakukan dan kupelajari selama ini sebenarnya bisa
menyelamatkan nyawa seseorang. Kupikir aku hanyalah lelaki gay mesum
yang berharap bisa melihat kontol pasien ganteng atau bekerja dengan santai di
klinik swasta dengan mengisi dokumen pasien dan mengecek tekanan darah mereka.
Semua hasil bacaan jurnalku yang enggak kugunakan di ujian keperawatan mana pun
itu bisa menyelamatkan nyawa.
Mungkin aku harus mulai memanifestasikan ucapan orang-orang
soal gelar dokter untukku. Alih-alih berkata, “Bukan, aku hanya perawat,” aku
harus mengatakan, “belum jadi dokter, masih perawat, lagi ngumpulin uang dan
nyali buat apply ke kedokteran”.
Untuk kali pertama, Xavier akhirnya duduk dengan lemas dan
wajah lesu. Dia menenangkan napasnya yang memburu sambil menunduk menatap
lututnya dengan tatapan kosong.
Aku baru saja kembali dari bagian administrasi untuk
melengkapi segala kebutuhan seperti asuransi, pembayaran, mengurus ruang rawat
inap, dan lain sebagainya. Aku sudah paham apa yang terjadi pada Davin, atau
setidaknya berdasarkan keterangan Xavier sepanjang dia bersamaku pagi ini. Namun
aku tidak tahu mengapa dia melakukan itu.
Jadi, aku duduk di sebelah Xavier dan mengusap-usap
punggungnya.
Xavier agak menggigil. Bukan karena kedinginan, melainkan
ketakutan. Apa yang dilihatnya membuat dia trauma.
“Elo udah bilang kalau kita keluarganya? Elo kakaknya?” tanya
Xavier tergesa-gesa.
“Iya, udah.”
Xavier bersikeras untuk tidak menghubungi keluarga Davin soal
ini. Jadi aku dipaksa mengaku sebagai keluarga Davin. Aku menyetujui hal
tersebut, asalkan ketika Davin membaik, keluarga Davin dikabari soal ini.
Xavier setuju.
Setelah mendengar jawabanku, Xavier pun mengusap wajahnya dan
membenamkan wajah tampan itu ke telapak tangannya selama beberapa saat. Selama
beberapa saat dia hanya terdiam sampai akhirnya melepaskan usapan tangan dan
memilih menatap ujung sepatunya dengan tatapan kosong.
“Apa emang ini jalan Tuhan, ya?” tanya Xavier pelan, tanpa
menoleh ke arahku. “Gue ama si Davin kagak dilolosin AAU ..., karena kita
berdua emang ... selemah itu?”
Aku menggeleng tak setuju. “Enggak melulu bukan jalan Tuhan,
sih. Bukan kamu sama Davin enggak ada jalan ke AAU, tapi emang bukan tahun ini
aja. Mungkin ini peringatan supaya kalian takes time dulu sampai
bener-bener siap.”
“Gue gemetaran, anjir ....” Dia menatap tangannya sendiri yang
memang masih tremor kecil. “Gimana ceritanya gue perang ngadepin Israel kalau
ngelihat si Davin aja gue bisa merinding ....”
“Spesifik amat sih perangnya ngelawan Israel!” sahutku sambil
terkekeh kecil. “Ya udah, sih .... Situasi darurat tadi kan bukan something
yang kamu lihat sehari-hari. Wajar kalau masih syok. Nanti pas keterima AAU,
pasti bisa latihan buat ngadepin situasi-situasi kayak begitu di medan perang.”
“Gue mau jadi jet fighter, anjing.” Xavier mendengus.
“Tangan gemeteran gini mana bisa megang setir pesawat. Emang udah harusnya gue
ngubur mimpi ini.”
“Jangan dulu mikirin itu. Kita fokus ke kesembuhan Davin
dulu.” Kuusap lagi punggung itu dengan lembut. “Tadi aku udah ngobrol sama
dokter yang nanganin Davin. Di IGD tadi Davin udah dikasih infus juga. Davin
udah masuk ICU buat dimonitor. Napasnya udah oke, enggak ada cairan yang masuk
ke paru-paru, organ-organ vitalnya aman. Tapi masih unconscious, jadi
kita mesti nunggu progresnya.”
Xavier meresponsku dengan berkata, “Si Davin kagak diundang ke
pembukaan.”
Aku terlonjak kecil. “Sudah ada ... pengumumannya?”
Xavier mengangguk. “Batch-nya si Davin, yang elo
periksain kemaren ..., sebagian besar udah dapat undangannya. Davin kagak
dapat.”
“Kapan?”
“Kemarin sore.” Xavier mengusap lagi wajahnya sambil
menenangkan diri. “Gue udah siap batalin keikutsertaan gue ..., tapi dia patah
hati banget, Bro. Kita nunggu sampe malam ... undangan buat dia kagak
nyampe-nyampe. Gue nginep tempat dia ..., gue hibur dia ..., tapi dia udah
hancur. Udah ngomong pengin mati berkali-kali ....”
Aku masih belum memahami sekrusial apa penerimaan di AAU ini.
Berapa kali harus kukatakan bahwa semua penyakit yang mungkin mencegah mereka
masuk AAU adalah penyakit yang bisa diobati. Aku yakin, misal Davin punya
prostatitis, Davin bisa melakukan operasi dan kembali tahun depan dengan lebih
prima.
“Gue jaga dia supaya enggak macam-macam ...,” lanjut Xavier
dengan tatapan nelangsa. “Tapi gue meleng dikit ..., gue ketiduran subuh-subuh
karena ngantuk ..., bangun-bangun dia udah ..., begitu.”
“You saved his life, Mas. Yang penting Davin selamat,”
ungkapku.
“Tapi emang si Davin pengin diselamatin?” Xavier menoleh ke
arahku. “Gimana kalau dia memang pengin mati? Apa yang bisa ngejamin dia enggak
coba bunuh diri lagi?”
“Aku ... aku enggak bisa jamin itu—“
“Jadi tentara tuh satu-satunya goal dia. Kalau enggak
masuk, dan enggak masuk tahun ini, ya udah ..., hidup dia hancur. Dia enggak
bisa balik lagi ke rumahnya. Pride si Davin tinggi. Lebih tinggi dari
gue. Masuk AU tuh bisa nyelamatin harga dirinya. Spesifik pula. Bukan AD, bukan
AL. Harus AU. Kalau dia kagak keterima AU tahun ini, ya .... Sama aja ....”
Xavier menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Sama aja
mati sebenarnya. Enggak ada pilihan lain.”
Aku tak bisa merespons itu karena aku enggak tahu cerita Davin
secara utuh. Aku hanya bisa bersimpati dengan mengangguk paham dan mendoakan
yang terbaik. Aku ingin sekali menentang cara berpikir Davin, tapi kurasa
sia-sia mengatakannya di sini. Soalnya, pertama, yang ada di depanku bukan
Davin. Kedua, ini bukan situasi dan kondisi yang tepat untuk menasihati
seseorang.
Yang bisa kukatakan hanyalah hal-hal pendukung lain semacam, “Aku
juga udah order pemeriksaan prostat buat Davin. Mumpung udah di rumah sakit,
kalau bener dugaanku si Davin itu prostatitis ..., bisa sekalian perawatan di
sini. Siapa tahu masih ada kesempatan lain buat Davin.”
Giliran Xavier yang terdiam seribu bahasa. Dia menyandarkan
punggungnya ke dinding, lalu mendongak menatap langit-langit rumah sakit yang
dicat berwarna putih. Dia terdiam selama beberapa waktu sebelum akhirnya
berkata, “Thanks. Udah bantuin kita.”
“You’re welcome.” Kutepuk bahu Xavier pelan-pelan. “Makasih
juga udah mau nolongin temanmu itu, meskipun harusnya kamu langsung telepon
rumah sakit, sih ..., bukan nelepon aku. Hahaha ....”
“Cuma elo yang gue percaya.” Xavier menoleh ke arahku dan
menatapku dengan tatapan sayu. Tatapan tulus dan jujur.
Aku hampir tak bisa berkata-kata. “Thanks?” kataku,
agak seperti pertanyaan. “Tapi next time ..., untuk urusan darurat kayak
gitu, please langsung hubungi petugas medis yang terdekat, ya. Kosanku
jauh banget dari apart-nya Davin.”
“Gue kagak berani. Cuma elo yang bikin gue tenang.”
Aku menyipitkan mata tak percaya. “Pantas aja
dihalang-halangin rezekinya buat jadi tentara AU. Masa yang begitu aja harus
nunggu kedatangan aku, sih?”
“Gue sayang elo soalnya.” Xavier menyenggol lenganku.
Aku terdiam kaku.
Aku sudah mendengar soal ini sebelumnya, tapi dalam situasi
ini, aku jadi bingung bagaimana menanggapinya.
“Gue baru datang ke sini sebulan, cuma elo yang bisa bikin
hati gue nyaman, Bro. Meskipun elo resek, kagak mau bantuin si Davin.”
“Kita cuma ketemu beberapa kali, Mas. Jangan ngadi-ngadi
pake sayang segala.”
“Ngewe ama elo enak, anjir!” Xavier menyenggolku lagi.
Aku membelalak panik soalnya di sekitar kami ada pengunjung
lain yang sama-sama menunggu kursi rumah sakit ini. “Pelanin!” desisku.
Xavier malah menatapku dengan serius, mengunci pandangannya,
dengan tatapan agak-agak sayu yang ganteng nauzubillah. “Gue serius.”
“Iya. Tapi enggak usah keras-keras!” sahutku. Kucubit
pelan-pelan lengan Xavier.
“Aw!” Xavier hanya mengusap kulit yang kucubit itu beberapa
kali. “Gue serius. Waktu kita maen kemaren ..., gue enggak pernah ngerasain
yang gue rasain ama elo.”
“Itu cuma nafsu, Mas.”
“Atau ... memang guenya suka ama elo.”
“Enggak. Kamu enggak suka aku,” desisku, agak hati-hati agar
tidak kedengaran orang lain. “Kamu cuma butuh laki-laki buat pelampiasan masa
lalu kamu. Sejatinya kamu sukanya perempuan.”
“Perempuan mah cuma bikin ngaceng doang,” balas
Xavier. “Tapi elo ..., elo bikin gue pengin meluk elo tiap hari. Bikin gue
pengin uyel-uyel elo. Bikin elo keenakan lagi.”
Aku membelalak dan mencubit paha Xavier diam-diam. Cubitan itu
seharusnya menyakitkan, tetapi Xavier menahannya.
“Elo bikin gue ikhlas ngelepasin AAU ..., kalau emang gue bisa
dapatin elo.”
“Don’t say that.”
“Elo yang don’t say that, anjir!” Xavier menyenggolku
dengan kesal. “Iya gue tahu, gue belum sebrutal si Rafianto itu. Tapi gue bisa
buktiin, gue bisa kayak dia. Suatu hari gue bisa gantiin posisi dia di hati
elo.”
“Xavier!” Aku menggeram panik. Seorang kakek menoleh ke arah
kami dari seberang koridor.
“Elo mau bukti pertama?”
“Enggak.”
“Bukti pertama adalah ...,” Xavier mendengus tak acuh, “...
sejak gue main ama elo, gue enggak pernah maen ama siapa pun lagi.”
“Itu bukan bukti, ya!”
“Itu bukti kalau gue orangnya setia.”
“Setop!” Aku membelalak dan mencubit lagi paha Xavier dengan
gemas.
“Aw!” Xavier mengusap-usap area yang kucubit barusan. “Gue
tahu, emang udah janji gue buat ngewe ama elo tiap hari. Tapi elonya
malah kepincut ama lelaki lain,” gerutu Xavier sambil menyipitkan mata,
menunjukkan wajah sebal. “Tapi seenggaknya gue bisa nunjukin kalau gue maunya
cuma sama elo. Kalau elo gimana? Udah ngewe ama siapa aja?”
“Enggak ama siapa-siapa!” sahutku kesal.
Melupakan fakta bahwa ....
... semalam aku ngewe dengan Erick.
“Kalau kita suka sama orang, meskipun belum jadian, kita tuh
wajib jaga diri. Sebagai bukti bahwa ketika kita bebas pun, kita punya niat
baik ama orang itu. Kalau elo gimana? Udah setia ama si pilot yang badannya
gede itu?”
Aku membuka mulutku untuk menjawab, tetapi anehnya tak ada
kata-kata keluar dari mulutku.
Satu pun.
Dalam kepala, aku meneriakkan berbagai macam jawaban untuk
menyanggah opini ngaco Xavier. Jelas aku punya pendapat lain. Dan, pendapatku
jauh lebih bisa diterima akal sehat dibandingkan apa yang Xavier bilang
barusan. Kalau kita belum milik seseorang, semua orang masih boleh mencoba
kita. Sama kayak beli baju di toko, selama bajunya belum dibeli oleh siapa pun,
baju itu bisa dicoba siapa pun untuk melihat apakah pantas atau tidak. Apakah
pas atau tidak. Itu proses panjang yang membutuhkan waktu dan pengorbanan.
Setia kepada seseorang enggak sebatas enggak ngewe sebelum jadian.
Namun tetap saja, semua argumen itu hanya ada dalam kepalaku.
Xavier menatapku dengan senyum sebelah. “Exactly.”
Lalu Xavier tiba-tiba pergi ke kamar mandi, meninggalkan topik
pembicaraan itu tanpa memberiku kesempatan untuk membantah. Ketika dia kembali,
dia tak mau membahasnya lagi. Aku juga tak bisa membahasnya. Aku menunduk
murung dan sedikit tertohok atas tuduhan Xavier.
Kami diperbolehkan menjenguk Davin selama dua menit, ditemani
seorang perawat, sebelum akhirnya mencari makan siang. Usai makan siang, aku
pulang duluan karena aku punya kabar darurat lain.
Ezel mengirimiku pesan WhatsApp.
Hasilnya udah keluar mas roh, aku positif
kanker.
[ ... ]
Sebelum aku lanjut, aku mau ngasih tahu Kakak kalau aku cuti
hari ini. Ketika aku ngebut menuju apartemen Davin, aku me-WhatsApp atasanku
juga bahwa hari ini tidak ada med check lagi di lanud, tapi aku ada
kondisi darurat lain yang memaksaku untuk tidak masuk kerja. Karena penyusunan
jadwal kerja minggu ini sudah fiks, bahwa aku memang tidak akan bekerja di
klinik sampai Jumat, atasanku mengizinkan dengan mudah (tidak perlu mencari
pengganti).
Tapi sialnya, aku tetap harus pergi ke klinik karena Ezel ada
di klinik. Sedang menangis di pojokan melihat hasilnya. Dia hanya mau bicara
denganku.
Geca yang bilang begitu. Ketika aku sedang menunggu driver
Gojekku datang, Geca menelepon, “Elo di mana?”
“OTW klinik.”
“Temen elo yang kemaren biopsi nangis di
pojokan. Nyari elo.”
“Iya, gue lagi OTW ke situ, kok. Lagi nunggu gojek.”
“Bukannya elo cuti hari ini?”
“Penginnya sih gitu. Tapi ya udah, gue ke sana. Tunggu, ya.”
Seharusnya, hasil biopsi itu keluar dalam 3–5 hari.
Perkiraanku sih Senin atau Selasa. Aku terkejut karena dua hari setelah biopsi,
hasilnya sudah ada.
Begitu aku sampai di klinik, Ezel ada di lobi utama. Dia duduk
di kursi tunggu paling pojok, dekat pot bunga lidah mertua dan satu banner
besar tentang kampanye antirokok. Dia sedang pushrank Mobile Legend
ketika aku tiba. Namun mukanya terlihat sedih dan kertas hasil biopsi yang ada
di pangkuannya terdapat bagian permukaan yang keriting, seperti terkena air,
lalu mengering. Mungkin itu air mata Ezel.
“Hei!” sapaku, duduk di sampingnya. “Gimana kabarmu?”
Ezel tak menjawabku. Dia masih asyik memainkan game-nya
hingga dia di-slain musuh dan terpaksa menunggu sekitar 30 detik sebelum
respawn. Dia menoleh ke arahku dan menyenggol, “Mas Roh yang pesan Grab,
ya.”
“Ke mana?”
“Ke kosanku.”
“Oh. Ke kosanmu?”
Ezel mengangguk dan menatap lagi Mobile Legends-nya. “Aku
enggak mau pulang sendiri.”
Ya sudah, mumpung aku cuti, dan aku sudah berjanji kepada
Erick untuk menjaga Ezel dengan hadiah ngewe intens semalam, kupesankan
taksol untuk menjemput kami. Sambil menunggu aku mendatangi station para
perawat dan mengobrol sebentar dengan Geca.
“Temen gue itu udah ngobrol ama dr. Yudis?”
“Udah. Gue temenin sampe ke atas. Gue juga kaget hasilnya
keluar cepet. Gue kagak ikut masuk, tapi kayaknya dia positif kanker.”
“Waktu elo assist di biopsinya dia, gimana?”
“Ya gue mah cuma jadi asisten, anjir. Mana gue paham
biopsinya gimana.” Geca melongokkan kepala dari meja untuk melihat ke arah Ezel
yang masih main. “Orangnya baik. Pendiam. Tapi nurut. Waktu pulang kemaren juga
nunduk terus. Antara sopan atau malu.”
“Semua jawaban benar,” balasku.
“Dia tadi nangis di tangga,” tambah Geca. “Gue temenin buat
tunggu di lobi. Terus gue tanya bisa dijemput siapa, dia penginnya elo yang
jemput.”
“Iya ini gue lagi nunggu Grab.” Aku menghela napas. “Gue cemas
dr. Yudis nyampeinnya terlalu blak-blakan, enggak ada basa-basinya.”
“Halah! Dokter bencong itu mah emang bibirnya lacur.
Semua pasien dia langsung stres kalau denger dia ngomong.”
Game Ezel selesai ketika Grab kami datang. Ezel
kalah di Mobile Legends. Namun ekspresi wajahnya sudah sedih jauh sebelum dia
menyelesaikan game itu. Kami mengendarai Grab hingga ke kosan Ezel.
Kutemani dia turun di depan gang dan berjalan hingga ke kosan.
Pak Guntur ada di halaman depan, sedang menyapu. Beliau
terkejut karena kami jalan berdua dari luar. Dengan salah tingkah dia
membalikkan badan dan menyapu area yang aku yakin sudah dia bersihkan
sebelumnya.
Ezel sama sekali tak menoleh ke Pak Guntur ketika kami
berjalan masuk dan melewatinya.
Pak Guntur pun tidak menyapa kami.
Sesampainya di kamar, Ezel langsung membuka sepatu, menyimpan
tas, membuka jaket, dan duduk di atas tempat tidur. Dia menyodorkan kertas
hasil biopsinya kepadaku, menyuruhku membacanya.
Jujur, aku enggak begitu paham membaca hasil biopsi prostat. Ada
gleason score yang kuketahui apa maksudnya, tetapi aku tak punya cukup
ilmu untuk menentukan apakah angka-angka di situ buruk atau tidak. Aku langsung
membaca diagnosis akhir.
Adenocarcinoma of the prostate,
intermediate risk. Gleason 3+4=7 in 4/12 cores with perineural invasion.
Ada rekomendasi juga di bagian bawah diagnosis itu. Pilihan
perawatan lanjutan.
Radical prostatectomy vs. radiation
therapy.
Oke. Di bagian ini, aku enggak bisa bertindak seolah-olah aku
dokter, karena aku sama sekali enggak paham beberapa istilah di sini. Aku
sempat meng-google beberapa istilah, tetapi tak punya cukup waktu untuk
memahami secara keseluruhan.
“Dokternya bilang,” kata Ezel, “Ini kanker prostat. Gleason
tujuh. Bukan di satu titik. Ada empat katanya yang muncul. Ada PNI juga, udah
nyebar ke jaringan. PNI itu apa? Partai Nasional Indonesia?”
Aku menggelengkan kepala sembari mencoba tersenyum. “PNI itu perineural
invasion. Sejenis ..., proses penyebaran sel gitu.”
“Oh.” Ezel hanya mengangguk kecil, tak begitu peduli pada
singkatan sebenarnya. Mungkin dia mengatakan Partai Nasional Indonesia untuk
menghibur dirinya saja.
Aku ikut naik ke atas tempat tidur, duduk bersila di depan
Ezel yang masih menundukkan kepalanya. Mungkin Ezel ingin menangis, tetapi air
matanya sudah hampir habis. Aku tak tahu harus mengatakan apa, jadi aku meraih
tangannya dan menggenggamnya dengan lembut. “It’s okay. Kita jalan
sama-sama sampai kamu sembuh, ya.”
Ezel menggelengkan kepalanya. “Kata dokternya ..., kankernya
sudah mau masuk ke syaraf. Sudah menyebar. Diam-diam. Agresif.”
“Iya, kan kita mau tangani sekarang, ya?”
Ezel tak mendengarkanku. “PSA aku 36, itu gede banget katanya.
Gede enggak Mas Roh?”
Aku tak sanggup berbohong. Angka 36 untuk PSA sih gede banget.
Namun aku tetap berkata, “Kita bakal turunin angkanya bareng-bareng.”
“Harusnya aku datang lebih awal,” lanjut Ezel, mengabaikanku. “Katanya
harus ada perawatan besar-besaran. Mahal. Ada operasi. Ada radiasi. Enggak ada
yang enak.”
“Kita hadapi bareng-bareng ya, Zel.”
“Misal berhasil diambil pun ..., kankernya ..., aku enggak
akan sama lagi kayak sebelumnya.”
“Enggak sama apa, sih? Jangan dulu pesimis gitu, Zel.”
“Dokternya bilang, kasus yang kayak gini biasanya gagal.”
What the fuck?! Dasar bencong biadab!
Apa-apaan sih ngomong kayak begitu ke pasien?! Di mana
kata-kata optimisnya?!
Mau nolong orang apa bunuh orang?!
“Aku enggak pernah dengar klinikku gagal nyelamatin pasien
kanker,” kataku.
Setengah berbohong.
Ada kok yang gagal. Itu pun karena pasiennya datang ke klinik
di stadium kanker yang tinggi, sehingga meski dirujuk ke rumah sakit bagus pun,
semuanya sudah terlambat.
Aku enggak percaya statement dari dr. Yudis. Boti
egois macam dia mana mau berempati pada pasien. Ini bukan kasus pertama dr.
Yudis mengatakan sesuatu ke pasien yang ditangkap dengan salah kaprah. Boti
itu memang mengatakan yang sebenarnya, tapi selayaknya mulut boti
seluruh dunia (pedas bagaikan cabe rawit), dr. Yudis menyampaikan diagnosis
seolah-olah besok hari kiamat. Beberapa pasien sulit bangkit dari keterpurukan
mental gara-gara mendengar diagnosis dr. Yudis. Sayangnya klinik enggak bisa
berbuat apa-apa karena apa yang dikatakan dr. Yudis memang benar sesuai
keadaannya.
Aku mencari cara untuk menghibur Ezel. Kubaca lagi hasil
diagnosis itu.
“Oh! Enggak, kok! Ini artinya masih bisa sembuh, nih!” Aku
menunjukkan kertas itu dan menunjuk Adenocarcinoma dengan percaya diri.
“Ini bahasa medis, artinya pasien bisa sembuh dan sehat walafiat.”
Adenocarcinoma adalah jenis kanker yang berkembang dari
sel-sel kelenjar, yang biasanya menghasilkan lendir atau cairan.
“Bohong.”
“Eh, bener!” Aku lalu menunjuk tulisan di sebelahnya, “Nih ...
intermediate. Artinya masih aman. Enggak sampai gimana-gimana.”
Ezel meliriknya sejenak, tetapi ekspresi wajahnya tak berubah.
Dia terdiam beberapa saat. Matanya menatap kosong jemari yang dia mainkan di
atas pangkuan. Kata pertama yang keluar dari mulut Ezel adalah, “Jadi berapa
lama lagi aku hidup Mas Roh?”
“Ck!” Aku mendengus karena gemas. “Kamu bakal masih
hidup 70 tahun lagi.”
“Tujuh puluh hari?”
“Tujuh puluh tahun. Kamu bakal masih hidup cukup lama, Ezel.
Kamu bakal lanjutin kuliah, lulus kuliah, kerja dengan gaji tiga digit di SCBD,
jadi kalau kamu mau bayar si Yusuf Hendratno itu supaya kamu bisa pegang
burungnya, kamu bisa. Ya? Jangan patah semangat dulu.”
Ezel menggelengkan kepala. “Dia pasti enggak akan mau.”
“Yaaa ... masih ada selebgram lain yang mau, mungkin? Sekarang
udah 2024, cowok-cowok kekar ganteng rela ngasih burungnya buat kita mainin,
asalkan kita bayar dia dan ngasih liburan gratis ke Bali buat dia bikin konten.
Makanya yang penting kamu sehat, sembuh, dan cari uang yang banyak.”
Ezel masih menggelengkan kepala. “Kalau Fauzi Wahyudi mungkin
bisa, ya.”
“Hah? Siapa itu Fauzi Wahyudi?” Aku membuka ponsel dan mencari
nama itu di Instagram.
Uh, cucok. Badannya ganteng dan body-nya kekar.
Sebelas dua belas ama Fian.
Follow.
“Ya boleh, lah. Mungkin dia bisa dibayar supaya burungnya bisa
dipegang,” kataku, sambil menggulir beberapa foto Fauzi Wahyudi selama beberapa
saat, sampai akhirnya teringat bahwa aku sedang bicara heart to heart
dengan Ezel. “Tapi intinya, kamu harus sehat dulu, harus—“
“Oh!” Ezel membelalak, seperti teringat sesuatu, “atau Mingyu
Seventeen.”
“Enggak usah halu.” Aku menyipitkan mata tak percaya. Kutarik
kedua tangan Ezel mendekat ke arahku. Terpaksa Ezel mendongak menatapku.
“Tugasmu sekarang adalah percaya kalau kamu bisa sehat dan sembuh. Percuma kamu
punya cita-cita megang burungnya Yusuf Hendratno kalau kamunya aja pesimis bisa
panjang umur. Dengerin aku ....
“Kita enggak pernah tahu umur kita sampai kapan. Aku yang
enggak kanker pun bisa mati duluan dibandingin kamu. Jangan sampai vonis dari
dokter nutup pintu kamu. Suratnya aja masih ngasih pilihan treatment ...
nih ..., radical prostatectomy sama terapi radiasi. Artinya kankermu ini
masih bisa disembuhkan. Kalau di bagian rekomendasinya ditulis contact
person San Diego Hills Memorial Park, baru deh kita tinggal nunggu embusan
napas terakhir. Tapi ini kan enggak!
“Jadi ..., bisa enggak kita bareng-bareng ngadepin ini, hm?”
Ezel menatapku selama beberapa saat. Dia mencoba mencerna
kata-kataku, tetapi ekspresi wajahnya tak berubah sedikit pun. “Kenapa Mas Roh
ngelakuin ini buatku?”
“Karena ... karena ... karena aku perawat, Zel. Udah tugasku
untuk nemenin pasien sampai sembuh.”
“Tapi aku enggak bayar Mas Roh untuk nemenin aku.”
“Spesial kamu, aku enggak butuh bayaran.”
Ezel terdiam lagi. Dia menatap kedua tangannya yang sedang
kugenggam. Wajahnya masih terlihat sedih, tetapi sekarang dia menunduk dengan
lebih legowo.
“Mas Roh baik banget,” komentar Ezel kemudian, dengan suara
pelan.
Aku bingung harus mengatakan apa. “Karena kita teman, Zel.”
“Mas Roh selalu jagain aku.”
“Enggak juga, sih—“
“Waktu kita kecebur ke sungai ..., waktu kita dililit ular
....”
“Bukan kita yang dililit ular—“
“Mas Roh peduli waktu aku cedera. Mas Roh enggak nge-judge
aku waktu aku main sama ... bapak kosan.”
“Karena apa yang kalian lakukan bukan urusanku. Enggak
seharusnya aku ikut campur—“
“Mas Roh juga yang nyaranin aku periksa sampai aku ketahuan
kanker.”
“Itu tugasku.”
“Coba aja Mas Roh sama kayak aku. Mungkin kita bisa pacaran.”
Enggak sih, Cong. Enggak gitu juga
konsepnya.
Ezel mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil. “Makasih ya,
Mas.”
Aku membalas senyuman itu. “Jadi ..., kamu mau lanjut treatment-nya,
kan?”
Ezel malah mengangkat bahunya. “Enggak tahu. Aku enggak punya
pilihan lain. Aku sih sudah siap mati. Tapi Abang pasti enggak ngizinin.”
“Enggak akan ada Abang yang ngizinin, Zel. Yang bener aja. Coba,
bilang sama aku, ada enggak satu cita-cita yang pengin kamu raih sebelum kamu
mati, hm?”
Ezel menunduk dan terpana menatap seprai di bawah kami. “Ada,”
katanya pelan. “Aku pengin peluk Mas Raf sekali lagi sebelum aku mati.”
Agak nyesek dengernya, tapi aku aminkan saja. Toh hanya
pelukan, kan? “Good. Sekarang, gunakan cita-cita itu untuk nyemangatin
kamu jalanin treatment. Bisa?”
Ezel masih saja mengangkat kedua bahunya. Wajahnya terlihat
tak yakin.
“Memangnya ..., memangnya Mas Raf bakal mau peluk aku
semalaman?”
Aku sih enggak mengizinkan, tapi dalam situasi ini, aku tetap
berkata, “Mau. Tapi dia enggak mau meluk mayat. Dia mau meluk Ezel yang hidup.
Yang berjuang buat sehat. Yang ngikutin setiap treatment dengan patuh,
dengan disiplin, dengan senyum .... Dia cuma mau peluk Ezel yang semangat.”
“Aku cuma butuh satu hari,” kata Ezel kemudian. Dia menatap
kosong udara di sampingnya. “Satu hari barengan Mas Raf. Pacaran. Pelukan.
Ciuman. Habis itu ... udah.”
Ngelunjak ya ini boti.
“Enggak sama Mingyu aja?” tawarku.
Ezel menggelengkan kepala. “Saat ini, sebelum aku mati, yang
di mana sebentar lagi aku mati ..., aku cuma mau satu hari bareng Mas Raf. Itu
aja. Aku enggak minta lebih Mas Roh.”
Aku tak bisa mendebatnya. Aku hanya bisa terdiam karena
kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Ezel. Meskipun aku tidak ikhlas Ezel
pacaran satu hari dengan Fian, setidaknya, saat ini, hal itu bisa mendorong
Ezel untuk terus menyembuhkan diri. Mendingan Ezel sama Fian sih dibandingkan
Fian sama Deva.
“Nanti kalau aku mati ..., Mas Roh mau jagain abangku?” tanya
Ezel tiba-tiba.
Aku terkesiap bingung. “Kebalik, anjir. Yang tentara tuh
abangmu. Dia yang harus jagain aku. Warga Negara Indonesia.”
Ezel terkekeh kecil. “Maksudnya, temani abangku supaya enggak
kesepian.”
“Abangmu kayaknya enggak pernah kesepian. Temannya banyak.”
“Iya, sih. Tapi kayaknya Abang lagi dekat sama Mas Roh, ya?”
“Hah?” Jantungku berdegup kencang seketika.
Ezel mendekat sejenak ke arahku, menghidu sesuatu, lalu dia
duduk bersandar lagi ke dinding di belakangnya. “Pagi tadi, sebelum aku ke
klinik, Abang main ke kosan aku. Sebentar. Dia maksa buat ngantar aku ke
kampus, tapi aku bilang aku enggak ada kuliah. Padahal ada. Jadi, Abang pergi
lagi. Tapi ..., Abang bawa makanan favorit aku. Sama dia mijetin bahu aku.
Tiba-tiba. Yaaa ... sambil ngomel-ngomel, tapi sebelumnya Abang enggak pernah
pijatin aku.”
“Terus hubungannya sama aku apa?”
“Abang pake parfumnya Mas Roh,” kata Ezel. “Aromanya sama
banget. Fresh. Kayak baru disemprot. Abang nginap di kosan Mas Roh
semalam?”
“Enggaaak, kok. Enggak.” Aku menelan ludah dengan panik. “Kamu
ini ngomong apa sih Zel? Haha. Mana mungkin aku sama abangmu tiba-tiba jadi
temenan. Haha. Aku takut sama abangmu.”
Ezel terlihat tak percaya. “Ya gapapa kalau temenan juga. Aku
pengin Mas Roh temenan juga sama Abang kalau aku nanti mati. Supaya Abang
enggak sedih.”
Aku yang kalang kabut karena enggak mau ketahuan semalam ngewe
sama kakaknya Ezel, hanya bisa melambaikan tangan di depan wajah Ezel, “Ah,
kamu ini, ngomong mati mulu. Udah dong. Ayo kita fokus buat kesembuhannya.”
“Aku pengin Mas Roh temenan sama Abang karena Mas Roh orangnya
setia.”
“Ya ... enggak juga, sih.”
“Mas Roh setia nemenin aku. Pasti Mas Roh setia nemenin
abangku. Mas Roh kayaknya bukan tipe orang yang serampangan.” Ezel tersenyum
lebar. “Bukan tipe yang suka sama orang, tapi jalan ke sana kemari sama yang
lain. Aku lihat Mas Roh selalu jaga silaturahmi.”
Lagi-lagi lidahku kelu.
“Beruntung cewek yang jadi pacar Mas Roh. Soalnya, Mas Roh
orangnya baik. Perhatian. Tulus. Dan jujur.”
Tak ada lagi yang kulakukan selain tersenyum kaku.
Aku bukan orang yang baik, Zel. Aku bukan
orang yang setia.
Aku adalah kebalikan dari semua yang kamu
katakan soal aku.
Maaf.
[ ... ]
Bersambung ....
31B. Aku Kan Vers | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | Part 33
Seperti biasa, bersamaan dengan penerbitan cerita gratis, aku juga menerbitkan cerita berbayar. Terlampir spesifikasinya:
Ini adalah one shot yang tidak terkait
dengan cerita mana pun.
Judul: Gairah Mudik
Tipe: Muscle Bottom
Isi: 21.500 kata dan 182 halaman
Harga: Rp40.000
Tokoh: Kalandra (keponakan) dan Doni
(paman).
Top: Kalandra
Bottom: Doni
Adegan intim: hand job, fivesome, worship to armpit
and nipple, oral, anal
Genre: Romantis dan
erotika
Blurb:
Seksualitas Kalandra sebagai seorang gay mirip seperti mudik, yaitu berupa perjalanan. Dimulai dari Lebaran 2017 ketika dia melihat perkakas pamannya untuk kali pertama. Lalu berkembang di lebaran-lebaran berikutnya dengan sensualitas yang makin intens tiap kali mudik. Akankah di Lebaran 2026 ini Kalandra mendapatkan sang paman seutuhnya?
Cuplikan Part 1:
Entah pukul berapa obrolan di kamar itu berakhir. Kalandra
memutuskan tidur duluan karena tidak sanggup berbunga-bunga menatap Doni di
bawah kasur sana. Kalandra berbaring, membelakangi semua orang, menghadap ke
dinding. Karena masih kecil dan baru saja melewati perjalanan jauh, Kalandra
tidur dengan mudah.
Lewat tengah malam, kira-kira dua jam sebelum sahur, Kalandra
terbangun karena ingin pipis. Dia berbalik dan menemukan kamar tidur Doni sudah
gelap gulita. Semua orang yang tadi ramai mengobrol sudah tidur lelap. Arka
bahkan mendengkur.
Jantung Kalandra berdebar ketika menyadari Doni tidur tepat di
sampingnya. Tidur telentang, satu tangan di bawah kepala, satu tangan masuk ke
dalam celana, entah untuk apa. Namun, yang membuat Kalandra berdebar adalah
fakta bahwa Doni tidur telanjang dada. Dalam kegelapan, Kalandra dapat menghidu
aroma tuubh Doni yang cowok banget. Menguar lembap di kamar yang lama-lama
memang terasa panas karena dihuni langsung oleh empat orang.
Kalandra membelalak melihat siluet ketelanjangan itu dalam
gelap. Kalandra bisa melihat lagi puting susu Doni yang menggiurkan dan
perutnya yang berisi. Anehnya, Kalandra makin ingin kencing. Sensasi “aneh” itu
terjadi lagi di area selangkangannya dan Kalandra pikir dia harus buru-buru ke
kamar mandi untuk kencing.
Namun, Kalandra tak sengaja menyenggol kaki Doni.
“Eh, Lan!” Doni terbangun, mengangkat kepalanya. “Mau ke
mana?”
“Mau pipis,” jawab Kalandra jujur sambil memanjat turun.
“Amang juga,” kata Doni kemudian. Dengan cepat Doni bangkit
dan berjalan hati-hati di atas kasur palembang agar tidak menginjak Gavin yang
sedang terlelap. “Hayu, bareng aja!” Doni pun menemani Kalandra menuju kamar
mandi belakang rumah melewati selasar terbuka di teras belakang.
Kalandra masih mengira “bareng aja” tuh artinya sama-sama ke
kamar mandi, lalu nanti pipisnya gantian. Namun, ketika Doni menyalakan lampu
dan membuka pintu kamar mandi, lalu berkata, “Sok, masuk!” Kalandra tidak masuk
ke dalam kamar mandi sendirian.
Doni juga ikut masuk.
Doni tutup pintu, lalu kunci.
Doni berdiri di depan toilet, tepat di samping Kalandra yang
sudah siap kencing.
Kemudian, Doni melorotkan celananya hingga ke tengah paha.
Kalandra hampir pingsan.
Dia melihat kontol orang dewasa untuk kali pertama.
Kalandra membelalak tak percaya ketika kontol Doni terekspos
di depan matanya secara cuma-cuma. Kontol itu tampak sangat besar bagi Kalandra
yang masih berumur 10 tahun. Kepala kontolnya pink, bulat, dengan batang
berwarna cokelat yang punya pola bekas sunat. Yang membuat Kalandra terpukau
adalah jembut keriting Doni yang lebat—soalnya Kalandra tidak punya. Jadi
Kalandra takjub bukan main.
Apalagi ketika air kencing keluar dari lubang kontol Doni,
entah mengapa Kalandra menganggap fenomena itu indah dan nikmat sekali untuk
diamati.
Dengan napas memburu, Kalandra mengangkat kepala untuk melihat
wajah Doni. Namun, Doni sedang memejamkan mata dan mendongak. Dari tinggi badan
Kalandra yang hanya sepantar perut Doni, visual pamannya benar-benar
menggairahkan. Puting itu begitu dekat. Aroma tubuh itu begitu nikmat. Dan
kontol itu benar-benar memikat.
Benar-benar besar (bagi Kalandra).
Akhirnya, Kalandra menatap kontol Doni tanpa berkedip sembari
mengaguminya sepenuh hati. Dia tak menyadari ada yang berkembang di tubuhnya.
Malah Doni yang menyadari, “Ngaceng, kamu? Hahaha!”
Kalandra yang kaget langsung menoleh ke atas, menemukan Doni
menunjuk kontol Kalandra dengan dagunya, lalu Kalandra melihat ke bawah, dan
dia melihat kontolnya berukuran lebih besar dari biasanya, dengan batang yang
terasa keras, sehingga air kencingnya menyembur lebih tinggi dan melenceng.
Kalandra membelalak panik.
“Tenang aja,” kata Doni, sambil terkekeh. “Itu namanya morning wood. Berarti, kamu udah gede. Udah waktunya kamu lihat bokep! HAHAHA!”
Silakan lakukan pembelian di sini (lynkid) atau direkomendasikan menghubungi penulis secara langsung. WhatsApp | Telegram

Komentar
Posting Komentar