(PPT) Part 16 Bag. A




Yang aku enggak nyangka adalah ….

… harusnya aku udah nyangka ini dari dulu, tapi tetep aja aku enggak nyangka ….

… Tino berasal dari keluarga berada.

Sesi seksiku bersama Edvan harus kuakhiri seketika. Aku setengah bersyukur sesi itu berhenti, karena aku enggak bisa ngebayangin rasa bersalah ngewe diam-diam barengan Edvan, meskipun aku setengah mati pengin menikmati kontol Edvan.

Tapi enggak. Kalau empat tahun terakhir cintaku kudedikasikan kepada Tino, maka cintaku hanya untuk Tino. Titik. Bool-ku sekarang sudah di-reserve untuk Tino semata.

Edvan paham ketika kubilang Tino butuh kutemani pulang karena neneknya meninggal. Dia langsung memakai lagi celananya sambil mengangguk. “Elu temenin dia aja,” sembari menyambar kausnya, dan memasangkannya ke badan.

“Elo marah, ya?”

“Enggak.” Edvan memasang senyum lebar tanpa gigi. “Ya masa gue marah atas duka orang lain. Enggak, anjir!” Edvan mengacak-acak rambutku.

“Tapi elo lagi sange gara-gara Fina, dan itu gara-gara gue—”

“Gue bisa coli!” sergah Edvan sambil terkekeh. Dia menyambar hape-nya juga. “Udah, lu tenang aja.”

Edvan merentangkan tangannya lebar-lebar sebelum berlalu keluar. Otomatis aku memeluk tubuhnya, merebahkan kepalaku di bahu Edvan. Kudekap erat tubuh atletis itu. Kurasakan kenyamanan yang sempat kurasakan dari Tino dulu, sebelum hidupnya hancur seperti sekarang ini. Edvan mengusap-usap kepalaku. Dia bahkan mengecup kening dengan intim.

“Kita bakal bantu Tino keluar dari musibah ini,” bisik Edvan, dengan suara berat. “Kita bakal bikin Tino tersenyum lagi. Buat elo.”

Setelah dekapan nyaman itu berakhir, Edvan pun membuka pintu, celingukan di koridor memastikan tak ada ririwa bernama Romi di sekitar, kemudian dia berlari tunggang langgang menuju kamarnya sendiri dan menutup pintu.

Aku masih duduk di atas tempat tidurku selama lima menit sebelum akhirnya Tino menelepon untuk mengatakan dia sudah ada di depan gerbang kosan. Aku berlari secepat kilat, turun untuk menghampirinya.

Kami berkendara tengah malam menyusuri Jl. Daan Mogot yang tak pernah sepi dari kendaraan—khususnya truk. Kami masih berkompetisi dengan pengendara motor yang kerja di Jakarta, tapi rumah di Tangerang. Di jembatan Pelangi sebelum Kalideres, Tino membelokkan mobil ke area Mal Daan Mogot, menuju kompleks Citra Garden yang berlokasi tak jauh dari situ.

Sepanjang perjalanan, Tino tak mengatakan apa-apa. Aku sempat menawarkan diri untuk menyetir, tetapi Tino hanya menggelengkan kepala. Jadi, aku duduk dalam diam di kursi penumpang, tak berani mengatakan apa pun kepada orang yang sedang berduka. Tino memandang jalanan dengan tatapan kosong. Agak mengebut menyusul setiap kendaraan yang ada di depan kami. Berbelok ke Mal Daan Mogot pun agak kencang, sehingga mobil kurasa oleng ke kiri.

Aku deg-degan bukan main. Berkali-kali hampir berkata, “Gue aja yang nyetir, Bang,” tapi enggak pernah berhasil mengatakannya.

Untungnya, kami tiba dengan selamat.

Di sebuah rumah yang besar, yang wow, dengan pilar-pilar bercorak emas, dan halaman depan yang rumputnya hijau dan semua vegetasinya tumbuh sehat. Mobilku hampir enggak bisa diparkir di dekat rumah itu, karena sudah banyak mobil mewah lain yang parkir lebih dulu dari kami—mungkin dari keluarga besar Tino. Aku hanya bisa terpana kagum melihat Tino ternyata bukan chindo biasa-biasa.

Kami berjalan hingga ke depan gerbang, tetapi Tino tidak masuk ke dalam. Gerbang itu terbuka lebar. Pintu depannya juga terbuka lebar. Dua pintu tinggi, seperti di istana, yang menampilkan kesibukan di bagian dalamnya. Orang-orang tampak gelisah dan panik di sana. Sekitar tiga anak muda mengobrol di teras. Mungkin sepupu atau keponakan Tino.

“Elo … enggak akan masuk?” tanyaku pelan.

Tino menelan ludah. Dia tak menjawabku. Dia hanya menatap ke dalam rumah, tetapi tetap bergeming di depan gerbang.

Rupanya, seorang gadis muncul dan berlari keluar. Umurnya mungkin masih belasan awal. Chinese, tentu. Rambutnya panjang, penampilannya sangat sederhana seperti chindo Jakbar yang jarang memedulikan gaya berbusana. Dia menghambur ke pelukan Tino, mendekapnya beberapa saat sebelum akhirnya menengadah.

“Aku kangen,” bisiknya.

Tino masih belum mengindahkan gadis itu. Tino masih menatap ke dalam rumah, dengan mata berkaca-kaca. Tatapannya kosong plus sedih.

Gadis itu melepaskan pelukannya, lalu menarik satu tangan Tino. Namun, Tino tetap diam. “Ayo masuk, Ko! Gapapa.”

Tino bergeming. Dia menunduk menatap gadis itu. “Ada siapa aja … di dalam?”

“Semuanya ada di dalam.”

Tino tampak gelisah mendengar jawaban itu. Dia menggelengkan kepala, “Koko di sini aja, Mei.”

Ck!” Gadis yang mungkin berzodiak Taurus atau Gemini karena namanya Mei dan pasti lahir bulan Mei itu berdecak. “Ih, gapapa, kok. Mama yang nyuruh aku nelepon Koko. Pasti Mama enggak apa-apa sama Koko. Ayo, ih!”

“Semua orang sekarang benci Koko, Mei-Mei. Koko enggak bisa masuk.”

Oh, ralat. Ternyata dia dipanggil Mei-Mei karena posisinya adik perempuan.

“Yang benci Koko cuma Cici sama tante-tante yang lain,” ungkap Mei-Mei. “Sama Baba. Sama Yeye. Sama Mas Jeffrey. Mbak Yuni juga. Terus, ngng … yah, temen-temen arisannya Mama. Dikit, kok. Aku enggak benci Koko.”

Tino menghela napas. “Koko enggak bisa masuk.” Suara Tino terdengar lirih. “Koko enggak boleh masuk—”

“Apaan, sih?! Pasti boleh, kok!” Mei-Mei mencoba menarik tubuh Tino yang kekar itu. Namun tubuh Mei-Mei terlampau mungil dan feminin. Tangannya kurus. Kakinya kurus. Toketnya aja hampir kelihatan rata. Tentu saja Tino tak bergeming ditarik-tarik anak perempuan yang jauh lebih kecil tubuhnya. “Eeeeeergh …! Ayo, ih!”

“Koko enggak boleh masuk, Mei. Koko … Koko dilarang pulang ke rumah sama Cici.”

“Boleh, koookkk …!” Mei-Mei masih berusaha menariknya. Dia kelihatan kayak seorang anak kecil sedang mencoba menarik pesawat terbang. “Eeeeeergh …! Batu amat sih, Koko?! Sandalnya dipaku ke aspal, ya?”

“Koko di sini aja, Mei—”

“Ya terus kenapa datang ke sini?!” sergah Mei-Mei akhirnya. Frustrasi. Mei-Mei berkacak pinggang dengan menggemaskan. Dia mendengus juga.

Tino menelan ludah.

“Kalau cuma nyampe gerbang doang sih enggak usah datang ke sini, Nyet!” Mei-Mei menonjok perut Tino. Yang tampaknya tak berimbas apa-apa. “Percuma ke sini tapi enggak mau ketemu Apoh!”

“Kan bisa ketemu di rumah duka.”

“Halah! Ke rumah sendiri aja enggak mau masuk. Apa kabarnya rumah duka?!” Mei-Mei menatap Tino dengan pandangan menuduh. Kedua tangannya dilipat di depan dada.

“Koko janji bakal datang ke rumah duka.”

“Enggak usah!”

“Mei ….”

“Masuk sekarang, atau enggak usah ketemu Apoh lagi selama-lamanya!”

Tino menghela napas untuk mempertimbangkannya. Mungkin posisinya cukup vulnerable, sehingga waktu Mei-Mei tiba-tiba menarik tangan Tino, sandalnya sudah enggak dipaku lagi ke aspal. Tino berhasil ditarik Mei-Mei.

Dan gobloknya ini chindo kekar ganteng malah menarik tanganku!

FUCK!

Mei-Mei berlari menarik tangan Tino, lalu Tino menyambar tanganku dan memaksaku ikut ke dalam rumah.

Untungnya enggak sampai rumah. Untungnya pas di teras, Tino melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tanganku. Tiga remaja laki-laki yang sedang nongkrong di teras mengamati Tino tanpa ekspresi.

Aku tahu ekspresi itu. Ekspresi cowok-cowok chindo yang dalam kepalanya punya banyak judgment, tapi raut mukanya datar, lalu setelah orangnya pergi dia bakal ngomongin yang barusan lewat. Mei-Mei menarik Tino masuk ke dalam, tergesa-gesa melepas sandal. Aku ketinggalan di teras, berdiri dengan awkward di dekat tiga remaja itu.

Untungnya mereka enggak begitu tertarik kepadaku. Ketika Tino dan Mei-Mei masuk ke dalam, menghampiri kerumunan keluarga yang sedang sibuk menelepon sana-sini, ketiga remaja itu langsung berbisik-bisik.

Nya, kan yang video ngocok e kesebar?”

Aok.”

Satu di antara mereka terkikik. “Kek bincong, Cuy!”

“Kok bisa ya Ko Chris dikerjain bencong? Apeee yang menarik dari bencong?”

“Suka titit kali. Hahaha. Ko Chris suka cewek yang ada burungnya.”

“ANJING!”

“LGBT anjir!”

“NAJIS! Hahaha …!”

What the fuck?!

Karena enggak nyaman, aku melipir lagi meninggalkan teras. Namun baru juga satu langkah, aku berhenti dan menoleh ke dalam. Ketiga remaja itu juga menegakkan kepalanya, melirik ke area di dalam rumah, di mana seorang perempuan tiba-tiba menjerit marah.

“Ooohhh … tukang ngocok keluarga pulang juga, hah?!”

Itu perempuan yang tempo hari datang ke kosan.

Seorang perempuan yang lebih tua menghardiknya. “CLARA! Jangan bikin keributan.”

“Siapa yang nelepon dia, hm?!” jerit Clara. “Siapa yang suruh dia datang ke sini?!”

“Ssshhh …!”

Meski anggota keluarga lain juga tak suka pada kehadiran Tino, hanya Clara yang benar-benar vokal mengutarakan kata hatinya. Clara berteriak-teriak marah menghina dan mencaci maki Tino di depan semua keluarga, seakan-akan punya agenda untuk membuat semua orang se-Citra Garden tahu bahwa Tino pernah coli bareng waria.

“Biarin aja kali Ci!” Mei-Mei membalas. “Ini kan apohnya Koko juga.”

“Tapi gara-gara dia Apoh meninggal!”

“CLARA!”

Keributan itu terjadi selama beberapa menit. Jangan dikira Tino banyak membela di ruangan itu. Hanya Mei-Mei saja yang ngotot bahwa Tino berhak menemui neneknya sebelum mobil dari rumah duka menjemput. Semua orang di sana tak menyukai Clara yang berisik, tapi mereka setuju dengan Clara.

Aku bisa melihat beberapa om Tino menatap lelaki itu dengan pandangan menuduh. Mereka geleng-geleng kepala sembari menatap Tino dari ujung kepala ke ujung kaki. Seakan-akan malu bisa satu keluarga dengan Tino. Tante-tantenya pun enggak kalah judes. Mereka bisik-bisik jijik satu sama lain. Satu di antara mereka meludah. Satu yang lain merinding ngeri, karena bisa-bisanya bertemu Tino di tempat ini, ketika suasana rumah sedang berduka.

Tentu sebagian yang lain berusaha menghentikan keributan ini karena fokus keluarga harusnya kepada Apoh. Namun mereka juga tidak berada di pihak Tino.

Ayah Tino, seorang lelaki Tionghoa yang sudah tua, dengan rambut beruban dan kemeja longgar yang berantakan, mengusir Tino.

“Pergi kamu dari sini!” titahnya dengan suara menggelegar. Tiga remaja di teras sampai berpegangan tangan.

“Tuh kan, Om Chen kalau udah marah nyeremin,” bisik salah satu dari mereka.

“Kamu cuma bikin malu keluarga!” lanjutnya.

Tino hanya diam di sana. Menunduk. Masih belum juga dikasih kesempatan menemui neneknya di kamar. Bahu Tino berguncang. Dari jauh aku bisa melihat dia terisak-isak sedih. Hatinya sedang berduka, lalu hati itu kini terluka. Di depan semua orang dirinya dihina-dina.

“Koko mau ketemu Apoh dulu, Babaaa …,” rengek Mei-Mei.

“Jangan ikut campur kamu!” sentak ayah Tino. “Lepasin tangan kamu itu. Nanti kamu ketularan virus! Virus HIV karena dia mainnya sama waria!”

Tentu saja aku memutar bola mata.

“Ko Chris juga cucunya Apoh!” balas Mei-Mei ngotot.

Baba tak sudi anaknya memegang tangan Tino terus-terusan. Beliau mencoba menarik tangan Mei-Mei dari Tino, tetapi Mei-Mei bertahan. Tino berusaha melepaskan Mei-Mei juga, enggak mau adiknya itu terlibat dalam proses penghinaan dan pencacimakian ini.

“Lepaskan, Mei-Mei!” sembur Baba.

“Enggak!”

“Mei, lepaskan, Mei,” kata Tino, dengan suara pelan yang hampir enggak kedengaran.

PLAK!

Tiba-tiba, Baba menampar Tino, membuat personal trainer itu tersungkur ke atas lantai. Semua orang terkesiap. Kecuali Clara yang langsung berseru, “MAMPUS!” Mei-Mei mencoba menghampiri Tino lagi, tetapi Baba menahan tubuhnya.

Intinya, perseteruan itu drama to the max.

Aku enggak sanggup menceritakan kelanjutannya gimana. Aku enggak sanggup melihat anggota keluarga Tino yang lain merendahkan dan menginjak-injak Tino. Satu di antara tantenya meludahi Tino. Aku langsung berbalik pergi menghampiri pagar. Aku benci kalau aku enggak bisa berbuat apa-apa. Kan enggak mungkin aku melemparkan diriku ke sana untuk menyelamatkan Tino.

Elu siapa, anjing?! Mana penampilan lu kagak ada cina-cinanya.

Entar dikira waria yang ngocok bareng Tino, pula! Makin-makin mereka benci sama Tino karena dikira LGBT.

Aku berjalan dengan agak emosi menghampiri pagar. Kebetulan, sebuah mobil jenazah berwarna hitam dari salah satu rumah duka besar di Jakarta Barat, muncul. Pasti mobil ini mau menjemput neneknya Tino. Dari jok depan, melayang seekor gay dengan agak terburu-buru menghampiri rumah.

“Misi, misi, misi,” katanya sok cantik sambil melewatiku yang sudah hampir tiba di gerbang.

Aku bisa langsung nyebut dia gay, karena dia ngondek. Kayaknya dia tahu ada keributan di rumah ini, dan dia pengin segera melihatnya. Dia anggota keluarga Tino. Sebab dia memakai kemeja dan celana panjang biasa, enggak seperti petugas dari rumah duka yang mengenakan seragam khusus.

Cowok itu menghampiri pintu buru-buru. Satu dari remaja di teras memanggilnya. “Om Marcell!”

“Masih ribut-ribut, enggak? Masih, kaaan?” tanyanya panik. Kemudian, Marcell berhenti di depan pintu, mengintip ke dalam dengan penuh rasa tertarik.

Dari gelagatnya, kemungkinan dialah yang membocorkan ke keluarga Tino soal Tino VCS sama waria. Karena pertama, video itu hebohnya kan di komunitas gay. Kedua, dari mana keluarganya tahu itu ngocok sama waria? Di video yang tersebar kan Tino ngocok bareng “Lidya”. Bareng video perempuan bermemek yang nge-loop dengan asal.

Su pasti ada homo yang membeberkan segalanya.

Tino berjalan keluar tak lama setelah kedatangan Marcell. Tino berjalan cepat, setengah menangis, menghambur keluar dengan terburu-buru.

Melihat sosok itu, aku langsung melompat dan berlari ke mobilku. Sengaja aku duduk di kursi pengemudi, karena aku enggak mau balik ke kosan disetiri orang yang lagi depresi kayak gitu. Tino melihatku masuk di kursi sopir, jadi dia langsung memutar dan duduk di kursi penumpang. Sebagian keluarga Tino menghambur keluar untuk melihat ke mana Tino pergi. Marcell yang mengintip paling depan.

Ketika Tino masuk ke dalam mobil, dia seperti sesak napas. Bahunya berguncang. Matanya berair dan dia mengelapnya berkali-kali.

“Ja … jalan, Bro …,” katanya, dengan suara bergetar.

Aku menyalakan mesin mobil dan langsung melaju ke depan, dan ….

Eh, jangan. Kalau ke depan nanti aku harus lewat rumah Tino.

Dan ada mobil jenazah juga. Kayaknya aku enggak akan bisa lewat,

Mendingan aku putar balik saja. Aku mencoba berputar ….

Fuck. Jalannya sempit.

Ya sudah. Aku mundur saja.

Aku memundurkan mobil selama sekitar seratus meter hingga bertemu pertigaan, lalu aku membanting setir ke arah berlawanan, sehingga aku bisa melaju ke arah gerbang.

“Bukan ke sini …,” kata Tino, terisak-isak. “Itu buntu.”

ANJING LU, LEO!

Dengan panik aku memutar lagi mobil ke arah buntut mobilku tadi berputar. Aku berhasil memutar dan membawa mobil ke arah gerbang. Sempat menyenggol satu bak sampah hingga isinya tumpah ruah ke atas aspal, tapi aku enggak peduli. Aku mengebut pergi meninggalkan tempat itu, mati-matian mencari jalan keluar yang langsung mengakses ke tol.

Aku marah, anjir.

Aku kesal melihat perlakuan keluarga Tino.

Aku memegang setir erat-erat, enggak tahu gimana melampiaskan amarahku.

Namun setiap aku melirik ke arah Tino, marahku lenyap. Aku jadi sedih melihatnya. Tino masih kayak yang sesak napas. Dia kayak enggak mau nangis, tapi tubuhnya enggak bisa menahan itu. Air matanya terus keluar. Bahunya terus berguncang. Tenggorokannya terus tercekat. Bola matanya memantulkan kilat air. Pipinya basah. Meski Tino menahan diri agar isakannya tidak terdengar, aku tetap dapat mendengarnya dengan jelas.

Kami tak berbicara sepatah kata pun. Aku paham. Aku melajukan mobil ke Kosan Hamid dan memarkirkannya di tempat biasa. Selama sekitar setengah jam, kami masih duduk di dalam mobil. Aku menunggu Tino keluar, tapi Tino enggak keluar juga. Dia masih menahan tangisnya agar enggak keluar. Bahunya berguncang hebat. Pandangannya kosong.

“Ayo, Bang …. Kita istirahat,” bisikku, setelah duduk dengan awkward bermenit-menit. “Besok kuantar ke rumah duka.”

Tino menjawab ajakanku dengan cara keluar dari mobil dan berjalan menunduk hingga ke kamarnya. Aku membuntutinya masuk ke kamar Tino. Kututup pintu kamar, lalu kubantu Tino meletakkan semua barangnya seperti hape dan dompet ke atas meja.

Tino langsung melepaskan kausnya. Dia melemparkannya sembarang ke atas lantai, sembari kemudian menghempaskan tubuh setengah telanjangnya ke atas tempat tidur. Kedua tangannya terentang. Kepalanya menengadah ke atas. Matanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong, tetapi mengilat-ngilat.

Aku enggak tahu harus ngapain. Terakhir kali Tino begini sih, aku disuruh pergi karena dia pengin sendiri. Sekarang dia enggak ngomong kayak gitu, tapi apakah aku harus pergi juga kayak kemarin?

Karena aku orangnya nekat, akhirnya kuputuskan untuk memeluk Tino saja. Aku enggak ngomong apa-apa, aku langsung susupkan kedua tanganku ke bawah punggung Tino, lalu aku menindih tubuh personal trainer itu dengan lembut. Aku merebahkan kepalaku ke dada Tino, mendengarkan detak jantung dan pernapasannya yang berisik.

Tak kusangka, Tino membalas pelukanku. Namun ketika dia mendekapku, tangisnya pecah.

Tino tak menahan lagi rasa sedih, marah, malu, dan kecewanya. Dia menangis dengan suara keras. Tubuhnya berguncang dan sesak. Aku berusaha melepaskan diri, tetapi Tino malah semakin mengeratkan pelukannya.

Anjir.

Pelukan ini nyaman, Bro.

Pelukan ini bikin aku tenang.

Aku enggak masalah menghabiskan waktu nemenin Tino menumpahkan semua perasaannya. Bahkan meski wajahku terbenam di dadanya yang bidang dan kekar.

Tapi, ada satu masalah.

….

Melihat Tino menangis …, membuatku merasa nyaman.

Nyaman karena Tino hanyalah manusia biasa. Tino hanyalah lelaki yang punya perasaan, yang bisa sedih dan kecewa atas perlakuan keluarganya. Tidak setiap saat Tino menjadi lelaki macho yang kuat dan gagah. Tino juga bisa hancur.

Tino juga bisa menangis.

….

Dan gara-gara itu, aku merasa Tino lebih seksi.

Cowok yang bisa menumpahkan emosinya, adalah cowok yang menarik.

….

Dan karena menarik ….

… tubuhku melakukan sesuatu yang sangat kurang ajar gara-gara hal ini.

….

Aku ngaceng.

….

Iya. Anjing emang kontolku!

Cuma gara-gara Tino terlihat manusiawi, punya perasaan dan lain sebagainya, aku sange. Mungkin ditambah faktor aku memang lagi sange sebelum semua ini terjadi. Jadi kayak yang … klik! Rasa sange-ku berbalas pantun dengan Tino yang tampak seksi. Mana Tino telanjang dada, wajahku ada di dadanya, skin to skin, merasakan getaran di dalam dada itu ….

… ya sudah. Hancur, lah pertahananku.

Kontolku mengeras di balik celana.

Mati-matian aku menaikkan pantat, agar kontolku tidak menekan tubuh Tino.

Bakal enggak bermoral banget sih menurutku. Ada orang yang sedang berduka karena neneknya meninggal, lalu orangnya diusir keluarganya dan enggak boleh ketemu neneknya, bahkan orangnya dihina-hina dan dicaci maki, apa kata Semesta kalau aku memilih untuk ngaceng di situasi seperti ini?!

Tapi sumpah. Aku sange banget.

Udah sagapung.

Anjing.

Makin lama aku dipeluk tubuh telanjang seksi yang lagi vulnerable ini, makin aku pengin ngewe.

Untuk kali pertama dalam hidupku, aku menawarkan diri untuk pergi.

“Mungkin kamu butuh sendiri, Bang,” kataku, sembari mengangkat kepala dan melepaskan pelukanku. Biasanya aku kepo dan enggak mau diusir sama orang yang lagi pengin sendiri. Tapi kali ini aku harus ninggalin Tino sendiri.

Tino langsung menutup wajahnya dengan malu. Air mata sudah membasahi seluruh pipinya. Aku berdiri dan berbalik. Bukan karena enggak tega melihat Tino, melainkan kontolku beneran ngaceng dan berkedut-kedut hangat.

“Aku pulang dulu ya Bang. Kalau butuh teman, kabari aja. Tapi aku rasa Abang lagi butuh sendiri sekarang.”

Tino meredakan dulu tangisnya untuk beberapa saat. “I … iya.”

Kupeluk Tino untuk kali terakhir. Kemudian, aku berjalan pelan keluar dari kamar Tino. Sengaja aku enggak menoleh. Lebih sengaja lagi aku enggak memutar badanku.

(Kontolku beneran mencoba menyeruak keluar, membentuk tenda dari balik celanaku. What the fuck?!)

Aku lalu menutup pintu dan melihat Tino sudah memanjat naik ke atas tempat tidurnya. Meringkuk sembari memeluk guling.

Aku berjalan menyusuri koridor.

Aku sange banget.

….

Apa aku pergi ke kamarku?

Enggak.

….

Aku mengetuk kamar Edvan.

Tok! Tok! Tok!

“Masuuukkk …!” balas Edvan dari dalam.

Aku masuk ke dalam dengan hati-hati. Sebisa mungkin tak mengeluarkan suara. Edvan sedang di depan komputernya, sedang main game. Dia telanjang dada. Di kepalanya tercantol headphone besar, yang satu telinganya terkuak lebar.

Edvan menoleh ke arahku sambil menaikkan alis. “Udah pulang lu? Gimana Tino?”

Aku mengangkat bahu. “He’s fine. Butuh waktu sendiri.” Aku berjalan mendekati Edvan. “Elo … elo udah coli?”

“Belom. Gue mabar dulu barusan. Kenapa?”

Aku menelan ludah dan mengatakan sesuatu yang enggak kusangka akan keluar dari mulutku, apalagi di tengah suasana berduka seperti ini. “Gue sange. Gue pengin di-ewe. Ayo kita lanjutin yang tadi.”

Edvan melongo mendengar itu. Dia menurunkan headphone-nya pelan-pelan, mempertimbangkan tawaranku. Tak lama dari situ dia berkata, “Oke.”

Dan kami pun ….


[ … ]

Bersambung ....


Part 15 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 16 (Bag. B)


Halo, Kak!

Seperti biasa, kalau aku menerbitkan something free, maka akan ada something berbayar yang terbit, ya! Kali ini, yang terbitnya adalah Part 10 Sekosan yang tidak terpilih voting! Ada dua versi:

Muscle Bottom (Rama top, Saga bottom)

Muscle Top (Rama bottom, Saga top)

Harga: Rp30.000,- per versi. (Rp50.000,- membeli keduanya)

Pembelian HANYA DILAKUKAN melalui WhatsApp, email, atau Telegram

Terlampir beberapa halaman pertama dari masing-masing versi ya:

Part 10 Sekosan Muscle Bottom (Rama top) untuk 7 halaman pertama

Part 10 Sekosan Muscle Top (Rama bottom) untuk 6 halaman pertama


Komentar