Yang aku enggak nyangka adalah ….
… harusnya aku udah nyangka
ini dari dulu, tapi tetep aja aku enggak nyangka ….
… Tino berasal dari keluarga
berada.
Sesi seksiku bersama Edvan
harus kuakhiri seketika. Aku setengah bersyukur sesi itu berhenti, karena aku
enggak bisa ngebayangin rasa bersalah ngewe diam-diam barengan Edvan,
meskipun aku setengah mati pengin menikmati kontol Edvan.
Tapi enggak. Kalau empat
tahun terakhir cintaku kudedikasikan kepada Tino, maka cintaku hanya untuk
Tino. Titik. Bool-ku sekarang sudah di-reserve untuk Tino semata.
Edvan paham ketika kubilang
Tino butuh kutemani pulang karena neneknya meninggal. Dia langsung memakai lagi
celananya sambil mengangguk. “Elu temenin dia aja,” sembari menyambar kausnya,
dan memasangkannya ke badan.
“Elo marah, ya?”
“Enggak.” Edvan memasang
senyum lebar tanpa gigi. “Ya masa gue marah atas duka orang lain. Enggak,
anjir!” Edvan mengacak-acak rambutku.
“Tapi elo lagi sange
gara-gara Fina, dan itu gara-gara gue—”
“Gue bisa coli!”
sergah Edvan sambil terkekeh. Dia menyambar hape-nya juga. “Udah, lu
tenang aja.”
Edvan merentangkan tangannya
lebar-lebar sebelum berlalu keluar. Otomatis aku memeluk tubuhnya, merebahkan
kepalaku di bahu Edvan. Kudekap erat tubuh atletis itu. Kurasakan kenyamanan
yang sempat kurasakan dari Tino dulu, sebelum hidupnya hancur seperti sekarang
ini. Edvan mengusap-usap kepalaku. Dia bahkan mengecup kening dengan intim.
“Kita bakal bantu Tino
keluar dari musibah ini,” bisik Edvan, dengan suara berat. “Kita bakal bikin
Tino tersenyum lagi. Buat elo.”
Setelah dekapan nyaman itu
berakhir, Edvan pun membuka pintu, celingukan di koridor memastikan tak ada
ririwa bernama Romi di sekitar, kemudian dia berlari tunggang langgang menuju
kamarnya sendiri dan menutup pintu.
Aku masih duduk di atas
tempat tidurku selama lima menit sebelum akhirnya Tino menelepon untuk
mengatakan dia sudah ada di depan gerbang kosan. Aku berlari secepat kilat, turun
untuk menghampirinya.
Kami berkendara tengah malam
menyusuri Jl. Daan Mogot yang tak pernah sepi dari kendaraan—khususnya truk. Kami
masih berkompetisi dengan pengendara motor yang kerja di Jakarta, tapi rumah di
Tangerang. Di jembatan Pelangi sebelum Kalideres, Tino membelokkan mobil ke
area Mal Daan Mogot, menuju kompleks Citra Garden yang berlokasi tak jauh dari
situ.
Sepanjang perjalanan, Tino
tak mengatakan apa-apa. Aku sempat menawarkan diri untuk menyetir, tetapi Tino
hanya menggelengkan kepala. Jadi, aku duduk dalam diam di kursi penumpang, tak
berani mengatakan apa pun kepada orang yang sedang berduka. Tino memandang
jalanan dengan tatapan kosong. Agak mengebut menyusul setiap kendaraan yang ada
di depan kami. Berbelok ke Mal Daan Mogot pun agak kencang, sehingga mobil
kurasa oleng ke kiri.
Aku deg-degan bukan main.
Berkali-kali hampir berkata, “Gue aja yang nyetir, Bang,” tapi enggak pernah
berhasil mengatakannya.
Untungnya, kami tiba dengan
selamat.
Di sebuah rumah yang besar,
yang wow, dengan pilar-pilar bercorak emas, dan halaman depan yang rumputnya
hijau dan semua vegetasinya tumbuh sehat. Mobilku hampir enggak bisa diparkir
di dekat rumah itu, karena sudah banyak mobil mewah lain yang parkir lebih dulu
dari kami—mungkin dari keluarga besar Tino. Aku hanya bisa terpana kagum
melihat Tino ternyata bukan chindo biasa-biasa.
Kami berjalan hingga ke
depan gerbang, tetapi Tino tidak masuk ke dalam. Gerbang itu terbuka lebar.
Pintu depannya juga terbuka lebar. Dua pintu tinggi, seperti di istana, yang
menampilkan kesibukan di bagian dalamnya. Orang-orang tampak gelisah dan panik
di sana. Sekitar tiga anak muda mengobrol di teras. Mungkin sepupu atau
keponakan Tino.
“Elo … enggak akan masuk?”
tanyaku pelan.
Tino menelan ludah. Dia tak
menjawabku. Dia hanya menatap ke dalam rumah, tetapi tetap bergeming di depan
gerbang.
Rupanya, seorang gadis
muncul dan berlari keluar. Umurnya mungkin masih belasan awal. Chinese,
tentu. Rambutnya panjang, penampilannya sangat sederhana seperti chindo
Jakbar yang jarang memedulikan gaya berbusana. Dia menghambur ke pelukan Tino,
mendekapnya beberapa saat sebelum akhirnya menengadah.
“Aku kangen,” bisiknya.
Tino masih belum
mengindahkan gadis itu. Tino masih menatap ke dalam rumah, dengan mata
berkaca-kaca. Tatapannya kosong plus sedih.
Gadis itu melepaskan
pelukannya, lalu menarik satu tangan Tino. Namun, Tino tetap diam. “Ayo masuk,
Ko! Gapapa.”
Tino bergeming. Dia menunduk
menatap gadis itu. “Ada siapa aja … di dalam?”
“Semuanya ada di dalam.”
Tino tampak gelisah
mendengar jawaban itu. Dia menggelengkan kepala, “Koko di sini aja, Mei.”
“Ck!” Gadis yang
mungkin berzodiak Taurus atau Gemini karena namanya Mei dan pasti lahir bulan
Mei itu berdecak. “Ih, gapapa, kok. Mama yang nyuruh aku nelepon Koko. Pasti
Mama enggak apa-apa sama Koko. Ayo, ih!”
“Semua orang sekarang benci
Koko, Mei-Mei. Koko enggak bisa masuk.”
Oh, ralat. Ternyata dia
dipanggil Mei-Mei karena posisinya adik perempuan.
“Yang benci Koko cuma Cici
sama tante-tante yang lain,” ungkap Mei-Mei. “Sama Baba. Sama Yeye. Sama Mas
Jeffrey. Mbak Yuni juga. Terus, ngng … yah, temen-temen arisannya Mama. Dikit,
kok. Aku enggak benci Koko.”
Tino menghela napas. “Koko
enggak bisa masuk.” Suara Tino terdengar lirih. “Koko enggak boleh masuk—”
“Apaan, sih?! Pasti boleh,
kok!” Mei-Mei mencoba menarik tubuh Tino yang kekar itu. Namun tubuh Mei-Mei
terlampau mungil dan feminin. Tangannya kurus. Kakinya kurus. Toketnya aja
hampir kelihatan rata. Tentu saja Tino tak bergeming ditarik-tarik anak perempuan
yang jauh lebih kecil tubuhnya. “Eeeeeergh …! Ayo, ih!”
“Koko enggak boleh masuk,
Mei. Koko … Koko dilarang pulang ke rumah sama Cici.”
“Boleh, koookkk …!” Mei-Mei
masih berusaha menariknya. Dia kelihatan kayak seorang anak kecil sedang
mencoba menarik pesawat terbang. “Eeeeeergh …! Batu amat sih, Koko?! Sandalnya
dipaku ke aspal, ya?”
“Koko di sini aja, Mei—”
“Ya terus kenapa datang ke
sini?!” sergah Mei-Mei akhirnya. Frustrasi. Mei-Mei berkacak pinggang dengan
menggemaskan. Dia mendengus juga.
Tino menelan ludah.
“Kalau cuma nyampe gerbang
doang sih enggak usah datang ke sini, Nyet!” Mei-Mei menonjok perut Tino. Yang
tampaknya tak berimbas apa-apa. “Percuma ke sini tapi enggak mau ketemu Apoh!”
“Kan bisa ketemu di rumah
duka.”
“Halah! Ke rumah sendiri aja
enggak mau masuk. Apa kabarnya rumah duka?!” Mei-Mei menatap Tino dengan
pandangan menuduh. Kedua tangannya dilipat di depan dada.
“Koko janji bakal datang ke
rumah duka.”
“Enggak usah!”
“Mei ….”
“Masuk sekarang, atau enggak
usah ketemu Apoh lagi selama-lamanya!”
Tino menghela napas untuk
mempertimbangkannya. Mungkin posisinya cukup vulnerable, sehingga waktu
Mei-Mei tiba-tiba menarik tangan Tino, sandalnya sudah enggak dipaku lagi ke
aspal. Tino berhasil ditarik Mei-Mei.
Dan gobloknya ini chindo
kekar ganteng malah menarik tanganku!
FUCK!
Mei-Mei berlari menarik
tangan Tino, lalu Tino menyambar tanganku dan memaksaku ikut ke dalam rumah.
Untungnya enggak sampai
rumah. Untungnya pas di teras, Tino melepaskan genggaman tangannya di
pergelangan tanganku. Tiga remaja laki-laki yang sedang nongkrong di teras
mengamati Tino tanpa ekspresi.
Aku tahu ekspresi itu.
Ekspresi cowok-cowok chindo yang dalam kepalanya punya banyak judgment,
tapi raut mukanya datar, lalu setelah orangnya pergi dia bakal ngomongin yang
barusan lewat. Mei-Mei menarik Tino masuk ke dalam, tergesa-gesa melepas
sandal. Aku ketinggalan di teras, berdiri dengan awkward di dekat tiga
remaja itu.
Untungnya mereka enggak
begitu tertarik kepadaku. Ketika Tino dan Mei-Mei masuk ke dalam, menghampiri
kerumunan keluarga yang sedang sibuk menelepon sana-sini, ketiga remaja itu
langsung berbisik-bisik.
“Nya, kan yang video
ngocok e kesebar?”
“Aok.”
Satu di antara mereka
terkikik. “Kek bincong, Cuy!”
“Kok bisa ya Ko Chris
dikerjain bencong? Apeee yang menarik dari bencong?”
“Suka titit kali. Hahaha. Ko
Chris suka cewek yang ada burungnya.”
“ANJING!”
“LGBT anjir!”
“NAJIS! Hahaha …!”
What the fuck?!
Karena enggak nyaman, aku
melipir lagi meninggalkan teras. Namun baru juga satu langkah, aku berhenti dan
menoleh ke dalam. Ketiga remaja itu juga menegakkan kepalanya, melirik ke area
di dalam rumah, di mana seorang perempuan tiba-tiba menjerit marah.
“Ooohhh … tukang ngocok
keluarga pulang juga, hah?!”
Itu perempuan yang tempo
hari datang ke kosan.
Seorang perempuan yang lebih
tua menghardiknya. “CLARA! Jangan bikin keributan.”
“Siapa yang nelepon dia,
hm?!” jerit Clara. “Siapa yang suruh dia datang
ke sini?!”
“Ssshhh …!”
Meski anggota keluarga lain
juga tak suka pada kehadiran Tino, hanya Clara yang benar-benar vokal
mengutarakan kata hatinya. Clara berteriak-teriak marah menghina dan mencaci
maki Tino di depan semua keluarga, seakan-akan punya agenda untuk membuat semua
orang se-Citra Garden tahu bahwa Tino pernah coli bareng waria.
“Biarin aja kali Ci!” Mei-Mei membalas. “Ini kan apohnya Koko juga.”
“Tapi gara-gara dia Apoh
meninggal!”
“CLARA!”
Keributan itu terjadi selama
beberapa menit. Jangan dikira Tino banyak membela di ruangan itu. Hanya Mei-Mei
saja yang ngotot bahwa Tino berhak menemui neneknya sebelum mobil dari rumah
duka menjemput. Semua orang di sana tak menyukai Clara yang berisik, tapi
mereka setuju dengan Clara.
Aku bisa melihat beberapa om
Tino menatap lelaki itu dengan pandangan menuduh. Mereka geleng-geleng kepala
sembari menatap Tino dari ujung kepala ke ujung kaki. Seakan-akan malu bisa
satu keluarga dengan Tino. Tante-tantenya pun enggak kalah judes. Mereka
bisik-bisik jijik satu sama lain. Satu di antara mereka meludah. Satu yang lain
merinding ngeri, karena bisa-bisanya bertemu Tino di tempat ini, ketika suasana
rumah sedang berduka.
Tentu sebagian yang lain
berusaha menghentikan keributan ini karena fokus keluarga harusnya kepada Apoh.
Namun mereka juga tidak berada di pihak Tino.
Ayah Tino, seorang lelaki
Tionghoa yang sudah tua, dengan rambut beruban dan kemeja longgar yang
berantakan, mengusir Tino.
“Pergi kamu dari sini!” titahnya dengan suara menggelegar. Tiga remaja di teras sampai
berpegangan tangan.
“Tuh kan, Om Chen kalau udah
marah nyeremin,” bisik salah satu dari mereka.
“Kamu cuma bikin malu
keluarga!” lanjutnya.
Tino hanya diam di sana.
Menunduk. Masih belum juga dikasih kesempatan menemui neneknya di kamar. Bahu
Tino berguncang. Dari jauh aku bisa melihat dia terisak-isak sedih. Hatinya
sedang berduka, lalu hati itu kini terluka. Di depan semua orang dirinya
dihina-dina.
“Koko mau ketemu Apoh dulu,
Babaaa …,” rengek Mei-Mei.
“Jangan ikut campur kamu!” sentak ayah Tino. “Lepasin tangan kamu itu. Nanti kamu ketularan
virus! Virus HIV karena dia mainnya sama waria!”
Tentu saja aku memutar bola
mata.
“Ko Chris juga cucunya Apoh!” balas Mei-Mei ngotot.
Baba tak sudi anaknya
memegang tangan Tino terus-terusan. Beliau mencoba menarik tangan Mei-Mei dari
Tino, tetapi Mei-Mei bertahan. Tino berusaha melepaskan Mei-Mei juga, enggak
mau adiknya itu terlibat dalam proses penghinaan dan pencacimakian ini.
“Lepaskan, Mei-Mei!” sembur Baba.
“Enggak!”
“Mei, lepaskan, Mei,” kata Tino, dengan suara pelan yang hampir enggak kedengaran.
PLAK!
Tiba-tiba, Baba menampar
Tino, membuat personal trainer itu tersungkur ke atas lantai. Semua
orang terkesiap. Kecuali Clara yang langsung berseru, “MAMPUS!” Mei-Mei
mencoba menghampiri Tino lagi, tetapi Baba menahan tubuhnya.
Intinya, perseteruan itu drama
to the max.
Aku enggak sanggup
menceritakan kelanjutannya gimana. Aku enggak sanggup melihat anggota keluarga
Tino yang lain merendahkan dan menginjak-injak Tino. Satu di antara tantenya
meludahi Tino. Aku langsung berbalik pergi menghampiri pagar. Aku benci kalau
aku enggak bisa berbuat apa-apa. Kan enggak mungkin aku melemparkan diriku ke
sana untuk menyelamatkan Tino.
Elu siapa, anjing?! Mana
penampilan lu kagak ada cina-cinanya.
Entar dikira waria yang
ngocok bareng Tino, pula! Makin-makin mereka benci sama Tino karena dikira
LGBT.
Aku berjalan dengan agak
emosi menghampiri pagar. Kebetulan, sebuah mobil jenazah berwarna hitam dari
salah satu rumah duka besar di Jakarta Barat, muncul. Pasti mobil ini mau
menjemput neneknya Tino. Dari jok depan, melayang seekor gay dengan agak
terburu-buru menghampiri rumah.
“Misi, misi, misi,” katanya
sok cantik sambil melewatiku yang sudah hampir tiba di gerbang.
Aku bisa langsung nyebut dia
gay, karena dia ngondek. Kayaknya dia tahu ada keributan di rumah ini,
dan dia pengin segera melihatnya. Dia anggota keluarga Tino. Sebab dia memakai
kemeja dan celana panjang biasa, enggak seperti petugas dari rumah duka yang
mengenakan seragam khusus.
Cowok itu menghampiri pintu
buru-buru. Satu dari remaja di teras memanggilnya. “Om Marcell!”
“Masih ribut-ribut, enggak?
Masih, kaaan?” tanyanya panik. Kemudian, Marcell berhenti di depan pintu,
mengintip ke dalam dengan penuh rasa tertarik.
Dari gelagatnya, kemungkinan
dialah yang membocorkan ke keluarga Tino soal Tino VCS sama waria. Karena
pertama, video itu hebohnya kan di komunitas gay. Kedua, dari mana
keluarganya tahu itu ngocok sama waria? Di video yang tersebar kan Tino ngocok
bareng “Lidya”. Bareng video perempuan bermemek yang nge-loop dengan
asal.
Su pasti ada homo yang membeberkan segalanya.
Tino berjalan keluar tak
lama setelah kedatangan Marcell. Tino berjalan cepat, setengah menangis,
menghambur keluar dengan terburu-buru.
Melihat sosok itu, aku
langsung melompat dan berlari ke mobilku. Sengaja aku duduk di kursi pengemudi,
karena aku enggak mau balik ke kosan disetiri orang yang lagi depresi kayak
gitu. Tino melihatku masuk di kursi sopir, jadi dia langsung memutar dan duduk
di kursi penumpang. Sebagian keluarga Tino menghambur keluar untuk melihat ke
mana Tino pergi. Marcell yang mengintip paling depan.
Ketika Tino masuk ke dalam
mobil, dia seperti sesak napas. Bahunya berguncang. Matanya berair dan dia
mengelapnya berkali-kali.
“Ja … jalan, Bro …,”
katanya, dengan suara bergetar.
Aku menyalakan mesin mobil
dan langsung melaju ke depan, dan ….
Eh, jangan. Kalau ke depan
nanti aku harus lewat rumah Tino.
Dan ada mobil jenazah juga.
Kayaknya aku enggak akan bisa lewat,
Mendingan aku putar balik
saja. Aku mencoba berputar ….
Fuck. Jalannya sempit.
Ya sudah. Aku mundur saja.
Aku memundurkan mobil selama
sekitar seratus meter hingga bertemu pertigaan, lalu aku membanting setir ke
arah berlawanan, sehingga aku bisa melaju ke arah gerbang.
“Bukan ke sini …,” kata
Tino, terisak-isak. “Itu buntu.”
ANJING
LU, LEO!
Dengan panik aku memutar
lagi mobil ke arah buntut mobilku tadi berputar. Aku berhasil memutar dan
membawa mobil ke arah gerbang. Sempat menyenggol satu bak sampah hingga isinya
tumpah ruah ke atas aspal, tapi aku enggak peduli. Aku mengebut pergi meninggalkan
tempat itu, mati-matian mencari jalan keluar yang langsung mengakses ke tol.
Aku marah, anjir.
Aku kesal melihat perlakuan
keluarga Tino.
Aku memegang setir
erat-erat, enggak tahu gimana melampiaskan amarahku.
Namun setiap aku melirik ke
arah Tino, marahku lenyap. Aku jadi sedih melihatnya. Tino masih kayak yang
sesak napas. Dia kayak enggak mau nangis, tapi tubuhnya enggak bisa menahan
itu. Air matanya terus keluar. Bahunya terus berguncang. Tenggorokannya terus
tercekat. Bola matanya memantulkan kilat air. Pipinya basah. Meski Tino menahan
diri agar isakannya tidak terdengar, aku tetap dapat mendengarnya dengan jelas.
Kami tak berbicara sepatah
kata pun. Aku paham. Aku melajukan mobil ke Kosan Hamid dan memarkirkannya di
tempat biasa. Selama sekitar setengah jam, kami masih duduk di dalam mobil. Aku
menunggu Tino keluar, tapi Tino enggak keluar juga. Dia masih menahan tangisnya
agar enggak keluar. Bahunya berguncang hebat. Pandangannya kosong.
“Ayo, Bang …. Kita
istirahat,” bisikku, setelah duduk dengan awkward bermenit-menit. “Besok
kuantar ke rumah duka.”
Tino menjawab ajakanku
dengan cara keluar dari mobil dan berjalan menunduk hingga ke kamarnya. Aku
membuntutinya masuk ke kamar Tino. Kututup pintu kamar, lalu kubantu Tino
meletakkan semua barangnya seperti hape dan dompet ke atas meja.
Tino langsung melepaskan
kausnya. Dia melemparkannya sembarang ke atas lantai, sembari kemudian
menghempaskan tubuh setengah telanjangnya ke atas tempat tidur. Kedua tangannya
terentang. Kepalanya menengadah ke atas. Matanya menatap langit-langit dengan tatapan
kosong, tetapi mengilat-ngilat.
Aku enggak tahu harus
ngapain. Terakhir kali Tino begini sih, aku disuruh pergi karena dia pengin
sendiri. Sekarang dia enggak ngomong kayak gitu, tapi apakah aku harus pergi
juga kayak kemarin?
Karena aku orangnya nekat,
akhirnya kuputuskan untuk memeluk Tino saja. Aku enggak ngomong apa-apa, aku
langsung susupkan kedua tanganku ke bawah punggung Tino, lalu aku menindih
tubuh personal trainer itu dengan lembut. Aku merebahkan kepalaku ke
dada Tino, mendengarkan detak jantung dan pernapasannya yang berisik.
Tak kusangka, Tino membalas
pelukanku. Namun ketika dia mendekapku, tangisnya pecah.
Tino tak menahan lagi rasa
sedih, marah, malu, dan kecewanya. Dia menangis dengan suara keras. Tubuhnya
berguncang dan sesak. Aku berusaha melepaskan diri, tetapi Tino malah semakin
mengeratkan pelukannya.
Anjir.
Pelukan ini nyaman, Bro.
Pelukan ini bikin aku
tenang.
Aku enggak masalah
menghabiskan waktu nemenin Tino menumpahkan semua perasaannya. Bahkan meski
wajahku terbenam di dadanya yang bidang dan kekar.
Tapi, ada satu masalah.
….
Melihat Tino menangis …,
membuatku merasa nyaman.
Nyaman karena Tino hanyalah
manusia biasa. Tino hanyalah lelaki yang punya perasaan, yang bisa sedih dan
kecewa atas perlakuan keluarganya. Tidak setiap saat Tino menjadi lelaki macho
yang kuat dan gagah. Tino juga bisa hancur.
Tino juga bisa menangis.
….
Dan gara-gara itu, aku
merasa Tino lebih seksi.
Cowok yang bisa menumpahkan
emosinya, adalah cowok yang menarik.
….
Dan karena menarik ….
… tubuhku melakukan sesuatu
yang sangat kurang ajar gara-gara hal ini.
….
Aku ngaceng.
….
Iya. Anjing emang kontolku!
Cuma gara-gara Tino terlihat
manusiawi, punya perasaan dan lain sebagainya, aku sange. Mungkin
ditambah faktor aku memang lagi sange sebelum semua ini terjadi. Jadi
kayak yang … klik! Rasa sange-ku berbalas pantun dengan Tino yang
tampak seksi. Mana Tino telanjang dada, wajahku ada di dadanya, skin to skin,
merasakan getaran di dalam dada itu ….
… ya sudah. Hancur, lah
pertahananku.
Kontolku mengeras di balik
celana.
Mati-matian aku menaikkan
pantat, agar kontolku tidak menekan tubuh Tino.
Bakal enggak bermoral banget
sih menurutku. Ada orang yang sedang berduka karena neneknya meninggal, lalu
orangnya diusir keluarganya dan enggak boleh ketemu neneknya, bahkan orangnya
dihina-hina dan dicaci maki, apa kata Semesta kalau aku memilih untuk ngaceng
di situasi seperti ini?!
Tapi sumpah. Aku sange
banget.
Udah sagapung.
Anjing.
Makin lama aku dipeluk tubuh
telanjang seksi yang lagi vulnerable ini, makin aku pengin ngewe.
Untuk kali pertama dalam
hidupku, aku menawarkan diri untuk pergi.
“Mungkin kamu butuh sendiri,
Bang,” kataku, sembari mengangkat kepala dan melepaskan pelukanku. Biasanya aku
kepo dan enggak mau diusir sama orang yang lagi pengin sendiri. Tapi kali ini
aku harus ninggalin Tino sendiri.
Tino langsung menutup
wajahnya dengan malu. Air mata sudah membasahi seluruh pipinya. Aku berdiri dan
berbalik. Bukan karena enggak tega melihat Tino, melainkan kontolku beneran ngaceng
dan berkedut-kedut hangat.
“Aku pulang dulu ya Bang.
Kalau butuh teman, kabari aja. Tapi aku rasa Abang lagi butuh sendiri
sekarang.”
Tino meredakan dulu
tangisnya untuk beberapa saat. “I … iya.”
Kupeluk Tino untuk kali
terakhir. Kemudian, aku berjalan pelan keluar dari kamar Tino. Sengaja aku
enggak menoleh. Lebih sengaja lagi aku enggak memutar badanku.
(Kontolku beneran mencoba
menyeruak keluar, membentuk tenda dari balik celanaku. What the fuck?!)
Aku lalu menutup pintu dan
melihat Tino sudah memanjat naik ke atas tempat tidurnya. Meringkuk sembari
memeluk guling.
Aku berjalan menyusuri
koridor.
Aku sange banget.
….
Apa aku pergi ke kamarku?
Enggak.
….
Aku mengetuk kamar Edvan.
Tok! Tok! Tok!
“Masuuukkk …!” balas Edvan dari dalam.
Aku masuk ke dalam dengan
hati-hati. Sebisa mungkin tak mengeluarkan suara. Edvan sedang di depan
komputernya, sedang main game. Dia telanjang dada. Di kepalanya tercantol
headphone besar, yang satu telinganya terkuak lebar.
Edvan menoleh ke arahku
sambil menaikkan alis. “Udah pulang lu? Gimana Tino?”
Aku mengangkat bahu. “He’s
fine. Butuh waktu sendiri.” Aku berjalan mendekati Edvan. “Elo … elo udah coli?”
“Belom. Gue mabar dulu
barusan. Kenapa?”
Aku menelan ludah dan
mengatakan sesuatu yang enggak kusangka akan keluar dari mulutku, apalagi di
tengah suasana berduka seperti ini. “Gue sange. Gue pengin di-ewe.
Ayo kita lanjutin yang tadi.”
Edvan melongo mendengar itu.
Dia menurunkan headphone-nya pelan-pelan, mempertimbangkan tawaranku.
Tak lama dari situ dia berkata, “Oke.”
Dan kami pun ….
[ … ]
Bersambung ....
Part 15 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 16 (Bag. B)
Halo, Kak!
Seperti biasa, kalau aku menerbitkan something free, maka akan ada something berbayar yang terbit, ya! Kali ini, yang terbitnya adalah Part 10 Sekosan yang tidak terpilih voting! Ada dua versi:
Muscle Bottom (Rama top, Saga bottom)
Muscle Top (Rama bottom, Saga top)
Harga: Rp30.000,- per versi. (Rp50.000,- membeli keduanya)
Pembelian HANYA DILAKUKAN melalui WhatsApp, email, atau Telegram.
Terlampir beberapa halaman pertama dari masing-masing versi ya:
Part 10 Sekosan Muscle Bottom (Rama top) untuk 7 halaman pertama
Part 10 Sekosan Muscle Top (Rama bottom) untuk 6 halaman pertama
Komentar
Posting Komentar