Boti alim bernama Lanang itu membuat heboh hampir seisi kosan. Kupikir, boti yang berani selingkuh dengan cowok yang jauuuhhh lebih ganteng dari pacarnya sendiri, pasti seorang boti tangguh yang tahan banting. Ternyata, melihat Tino sempakan doang, dia mampus.
“Mas? Mas?” Tino
menggoyang-goyang bahu Lanang. Cukup kuat guncangannya, sampai kepala Lanang
terayun-ayun depan belakang. “Mati kali, ya?”
Kutoyor kepala Tino. “Ya
kagak, lah! Masa langsung mati?! Mas? Mas Lanang?!” Aku mencoba mencubit
hidungnya.
Namun, boti itu tetap
terkapar pingsan.
“Mas? Bangun, Mas!” Plak!
Plak! Tino mencoba menampar pipi Lanang.
“Mas!” Aku menghardik
Lanang. “Mas Tino bugil, Mas! Kontolnya ngaceng siap masuk ke bool
lu, Mas!”
Tino menoyor kepalaku.
“Ngapa lu ngomong gitu, sik?!”
“Siapa tahu dia bangun
denger elu bugil!”
“Lah, elu bilang dia pingsan
gara-gara gue sempakan! Kalau gue bugil, dia bisa almarhum, anjing?!” Tino
mendengus dan kembali mengguncang tubuh Lanang. “Mas? Mas?”
Karena kami cukup berisik,
seseorang di ujung lain lorong mendengarnya. Kebetulan, orang itu adalah Edvan
dan Romi.
“OMG! Ada pembunuhan!” teriak Romi lebai.
Edvan langsung berlari ke
arah kami. Dan, dia hampir telanjang. What the fuck? Dia cuma pakai
kolor doang. Sisanya enggak pake apa-apa. Sama aja kayak Tino sekarang yang
cuma sempakan doang.
Romi membuntuti Edvan di
belakangnya. Jadi, aku buru-buru menyikut Tino sambil membisikinya, “Pake
celana! Cepetan!”
Namun, Tino tidak
mengindahkanku. Edvan dan Romi keburu tiba di depan kami dan langsung ikut
berjongkok untuk melihat situasi. “Kenapa?”
“Enggak tahu, tiba-tiba
pingsan,” balasku.
“Sini. Gue cek dulu,” kata
Edvan, dengan telaten langsung berlutut di samping Lanang, lalu bersikap seperti
petugas medis profesional. Mengecek lubang hidung, nadi di pergelangan tangan,
di leher, dan lain sebagainya. Aku beneran curiga, jangan-jangan Edvan memang mata-mata
macam James Bond yang sedang menyamar jadi pemuda urakan tukang main game,
yang juga jago merayu homo macam aku padahal dia straight tulen.
Edvan membaringkan Lanang di
atas lantai, lalu melakukan prosedur CPR. Dia menekan rahang Lanang hingga mulut
boti itu menganga, lalu mencoba mengembuskan napas ke dalamnya.
“Eh, eh, eh, apa-apaan
itu?!” Romi tiba-tiba berteriak tidak terima. “Kenapa kamu cium sih, Beb! Aku
enggak terima! ENGGAK TERIMA!”
Romi mendadak heboh.
Suaranya keras sekali, tampaknya bisa membangunkan semua orang di kosan ini. Beberapa
burung yang sedang bertengger di pohon samping kosan, tepat di samping tangga
ke bawah, beterbangan karena kaget oleh suara Romi.
“Memangnya aku kurang apa,
HAH?! AKU KURANG APA?! Lanasia nih selera fashion aja nol! NOL!”
Edvan sampai harus bangkit
dan menoyor wajah Romi hingga banci itu tersungkur ke atas lantai dan kepalanya
terbentur dinding. “Berisik, lu! Gue lagi CPR, anjir!”
“PCR?! Untuk apa PCR?!”
dengus Romi makin heboh. “Dia Covid, HAH?!”
Edvan enggak memedulikan
Romi yang berisik. Dia kembali memberikan napas bantuan untuk Lanang, yang
tampaknya anteng banget pingsan sambil bibirnya dicipok Edvan terus-menerus.
Keributan itu mengundang
penghuni lain, tepatnya Enzo … dan Kevin. Aku tidak tahu kalau Kevin sedang ada
di sini. Dan dia telanjang dada, cuma pakai celana boxer. Dadanya ada
garis-garis merah, seperti sedang dikerok karena masuk angin. Keduanya berlari
panik menghampiri kamar Tino.
Buru-buru kusenggol Tino.
“Cepet pake celana, anjir! Yang lain seenggaknya pake kolor!”
Tino pun masuk ke kamarnya
untuk mengenakan celana pendek terdekat yang bisa dia temukan.
“Ada apa?” tanya Kevin.
Anjing.
Ganteng banget, ya Tuhan.
Seksi pula. Gemoy. Badan kekarnya itu berisi, dan tampak empuk, tampak
enak diajak cuddle semalaman. Waktu Kevin berlari menghampiri kami,
dadanya itu naik turun. Ngegemesin. Dia tipe-tipe lelaki yang bikin kita
otomatis pengin ngomong, “Peluk aku, Mas. Peluk aku hingga malaikat maut
menjemput.”
Edvan menjelaskan yang
sedang dia lakukan, dan semua informasi yang dia tahu dariku.
“Tadi juga dia tiba-tiba
lari pas ketemu saya di bawah,” kata Kevin.
“Lah, sama!” Edvan menghela
napas. “Kepalanya kejedot, terus dia baca mantra, terus dia lari lagi.
Tahu-tahu ada di sini, lagi pingsan.”
“Mungkin dia lagi sakit?”
“Dia lagi Covid! BAHAYA!
Awas kalian semua! Minggir!” jerit Romi dengan dramatis. “Lempar dia ke bawah.
Dia bawa penyakit!”
Tidak ada yang
mendengarkannya.
“Mungkin di kamarnya ada
obat-obatan?” kata Kevin. “Kita bawa Mas Lanang ke sana aja. Takutnya sakit
jantung, atau paru-paru.”
“Ya, bener,” ungkap Edvan.
Dia langsung menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Lanang, bersiap untuk
membopongnya.
“EH! EH! EH! NGAPAIN?! MAU
APA KAMU GENDONG-GENDONG DIA?!” Of course, Romi jadi ribut lagi.
“Berisik, anjir!” hardik
Edvan, mulai kesal.
“Aku enggak ikhlas kamu
gendong dia sendirian ke sana!”
Supaya tidak drama
berkelanjutan, Kevin tiba-tiba memutar ke depan Edvan dan menyusupkan lengannya
juga ke bawah tubuh Lanang. “Ya udah, sama saya aja. Kita gendong barengan.”
Aku langsung melirik ke arah
Enzo. Wajahnya tampak enggak ikhlas melihat Kevinnya yang ganteng, memesona, gemoy,
dan idaman setiap boti seluruh dunia itu, menggendong Lanang, sang boti
alim tukang selingkuh.
Kebetulan saat Edvan dan
Kevin akan mengangkat tubuh Lanang, Tino keluar dari kamar dengan kondisi sudah
koloran, tapi masih telanjang dada. Jadi, aku langsung menariknya, “Bang! Elo
gendong juga!”
Tino mengerutkan alisnya.
“Hah?! Ngapain? Itu udah ada dua orang!”
“Udah, ih! Biar adil! Semua
cowok gendong si Lanang!”
“Pan elu juga cow—”
Kudorong Tino supaya
langsung menghampiri Edvan dan Kevin. Terpaksa, dia juga membopong tubuh
Lanang. Tubuh yang sebenarnya enggak perlu-perlu amat digendong sama tiga orang
kayak begini. Tapi daripada Romi ribut terus, atau batin Enzo tersiksa melihat
Kevin gendong boti lain, ya sudah semua lelaki straight ganteng
di sini gotong-royong menggendong Lanang. Biar adil.
Ketiga cowok itu membopong
Lanang menyusuri lorong menuju kamarnya di ujung sana. Romi tetap tak terima,
tetapi seenggaknya Enzo sudah jauh lebih waras. Enzo menghampiri Romi untuk
menepuk bahunya.
“Kamu enggak apa-apa kan,
Rom?”
“Iyuh, iyuh, iyuh! What
are you doing, Bitch?!”
Tepat ketika ketiga lelaki
itu berbelok menuju lorongnya Lanang, sang boti yang sedari tadi pingsan
pun bangun. Aku yang berada di belakang Tino untuk ikut mengawasi, melihat
Lanang membuka matanya lebar-lebar. Lalu, dia celingukan menatap tiga lelaki
tampan, telanjang dada, sedang menggotongnya.
Lanang pingsan lagi.
Kali ini sambil mimisan.
What the fuck?!
Singkat cerita, kami
berhasil membawa Lanang ke kamarnya. Akbar menyambut kami dengan alis berkerut,
seperti agak “terganggu”. Tapi dia tetap membiarkan ketiga cowok yang hampir
telanjang itu membaringkan Lanang ke atas tempat tidur. Setelahnya, Romi membawa
Edvan pulang. Enzo juga menarik Kevin kembali ke kamarnya. Sementara aku
menendang Tino agar balik ke kamarnya juga.
“Cari lagi celana sana!”
kataku, sambil mendorongnya keluar.
“Terus, elo—”
“Gue tungguin si Lanang.
Udah, elo siap-siap, gih. Kan mau interview!”
Tino pun kembali ke kamarnya
untuk bersiap-siap. Sementara aku, dengan manis duduk di kamar Lanang, menunggu
Lanang siuman. Tentu aku punya agenda lain. Aku kepo habis sama kedua orang
ini. Jadi aku menawarkan diri untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada Akbar,
sambil aku duduk di kursi mereka dan melihat ke sekeliling.
“Jadi gitu, Mas. Tiba-tiba
pingsan. Kita juga enggak tahu gara-gara apa,” kataku, mengakhiri cerita.
“Terus ini berdarah gini
kenapa?”
“Nah itu juga enggak tahu.
Tiba-tiba aja mimisan.”
Akbar kembali mengelap wajah
Lanang yang masih menyisakan sedikit darah. Sembari menunggu Lanang siuman, aku
pun mengedarkan pandangan ke seisi kosan.
Layout-nya sangat berbeda dari kosanku. Malah kayaknya kosan ini lebih besar
dari kosanku. Ada sekat yang memisahkan ruang untuk “umum” dan kamar tidur. Ada
dapur yang perabotannya cukup lengkap. Ada juga area khusus untuk salat. Setiap
dekorasinya bernuansa Islami. Ada lukisan bergambar Ka’bah, makan Nabi Ibrahim,
dan Masjidil Haram. Kaligrafi Islami juga ditempel di mana-mana. Bahkan hampir
tidak ada foto Akbar atau Lanang di tembok ini. Jam dindingnya menggunakan
angka dengan penulisan bahasa Arab.
Aroma “orang Arab” cukup
kental menguar di dalam kamar ini. Bahkan menurutku ini terasa menyengat. Bunga
mawar tampak berada di mana-mana. Bahkan ada kelopak bunga mawar kering yang
dikumpulkan di dalam toples, entah untuk apa.
“Kalau Mas Leo mau ninggalin
kamar saya, enggak apa-apa, Mas,” kata Akbar kemudian. “Biar saya saja yang
menunggu Lanang.”
“Oh, gapapa. Saya tunggu
saja sampai Mas Lanang siuman. Takutnya dia kaget. Tadi pingsannya depan saya,
bangun-bangun malah ketemu Mas. Sekalian saya mau jelasin apa yang terjadi.”
Akbar tampak enggak setuju.
Dia enggak nyaman dengan keberadaanku di sini. Tapi sorry, ya, aku bakal
tetap ada di sini. Aku masih kepo atas lenyapnya dirimu di tangga belakang
kosan itu, Mas!
“Omong-omong, tempo hari
saya sempat lihat Mas jalan ngelewati depan kamar saya,” kataku, tanpa
basa-basi lagi. “Mas parkir di belakang sekarang?”
Akbar tampak terkejut. Hanya
sedikit saja, tetapi kedua alisnya itu tak bisa berbohong. Dia memberi jeda
beberapa saat, seperti mempertimbangkan sesuatu. Sebelum akhirnya Akbar
menjawab, “Iya.”
“Oh, gitu, ya? Tadinya aku
mau nyapa Mas. Tapi Masnya keburu hilang. Hehe. Cepet banget.”
Akbar hanya menjawabku
dengan senyuman kecil saja.
Orang ini benar-benar enggak
bisa diajak ngobrol.
Atau … dia menyembunyikan
sesuatu.
“Mas sudah tahu soal
videonya Tino?” tanyaku lagi, benar-benar kepo. Habisnya tadi si Lanang enggak
tahu-menahu soal itu.
Akbar tampak cemas. Dia tak
berani menatapku. Pandangannya berpaling ke arah lain sembari tangannya
menggosok tengkuk dengan canggung. “Video apa?”
Kuasumsikan dia enggak tahu.
“Oh, video … ngng … video Youtube.”
“Saya enggak pernah pake
aplikasi-aplikasi macam begitu. Bidah. Zaman Nabi, enggak ada yang kayak
begitu.”
Zaman Nabi juga homoseksual
enggak boleh eksis. Elu ngapain masih maksiat ama si Lanang, anjeng?!
“Oke,” kataku pendek, sambil
tersenyum lebar dan berusaha menjaga suasana tetap aman terkendali, tanpa perlu
ada yang merong-merong atau gimana.
“Mas sudah boleh
meninggalkan kamar saya, Mas. Tidak apa-apa,” kata Akbar sekali lagi. Kali ini
lebih tegas.
Dan aku keras kepala.
Seperti zodiakku, Leo, aku tetap duduk di sana dan tersenyum lebar. “Enggak.
Saya bakal tunggu Mas Lanang siuman, mastiin dia baik-baik saja, baru saya akan
pergi. Saya yang ada di lokasi waktu dia pingsan, Mas. Etikanya, saya nemenin
dia sampai siuman. Jadi semua orang yang tadi terlibat bantuin Mas Lanang bisa
tahu dari saya …, bahwa Lanang baik-baik aja.”
Akbar tampak enggak suka ide
itu.
But I don’t care.
Aku akan tetap duduk di sini
dan menunggu, siapa tahu aku bisa tahu rahasia yang kamu sembunyikan selama ini
… Mas Akbar.
[ … ]
Enggak, Cuy. Enggak berhasil
dapat apa-apa.
Sehabis Lanang siuman, aku
belum dapat informasi apa pun dari Akbar. Padahal aku sudah menekan Akbar
dengan berbagai cara. Lelaki alim itu tahu caranya menghindari pertanyaan.
Kata-katanya diplomatis dan meyakinkan. Hampir seperti preacher.
Jadi, setelah Lanang bangun,
aku hanya bisa melaporkan kepada Lanang seluruh hal yang terjadi semenjak dia
pingsan. Setelah itu aku pamit pergi dan belum berkomunikasi lagi dengan kedua
orang tersebut. Ketika aku kembali ke kamar pun, Tino sudah berangkat. Sudah
tidak ada di kamarnya.
Aku tidak bertemu lagi
dengan Tino hingga Minggu siang. Sumpah. Kupikir aku akan bertemu Tino malam
hari, sepulang dia interview. Namun aku tak menemukannya di kamar hingga
pukul 11 malam. Ketika aku terbangun keesokan paginya, aku masih belum bisa
menemukan Tino.
Kurasa Tino tidak pulang ke
kosan semalam.
Pukul sembilan pagi, seorang
perempuan datang ke Kosan Hamid. Dia tampak mahal. Gaunnya bermerek. Warnanya
mencolok. Sebuah tas berwarna kontras menggantung dari bahunya. Makeup-nya
lumayan berat, padahal aku yakin dia bisa tampil cantik tanpa perlu makeup
setebal itu.
Perempuan itu keturunan
Tionghoa. Badannya tinggi, ramping, dengan rambut bergelombang yang terlihat
dirawat mahal di salon kecantikan. Dia bisa ikutan Miss Indonesia kapan pun dia
mau. Mungkin memenangkan kompetisinya juga.
Aku melihatnya melewati
depan kamarku saat aku sedang membereskan kamar dan sengaja membuka pintu
lebar-lebar demi menunggu Tino. Aku tahu Tino mengendarai motornya untuk pergi interview
kemarin, sehingga dia akan parkir motornya di bagian lain gedung, lalu dia akan
menggunakan lorong ini menuju kamarnya. Dia tidak akan menggunakan tangga di
samping kamarnya, kecuali dia menggunakan mobilku dan parkir di area belakang.
Nah, saat kulihat perempuan itu berjalan percaya diri di lorong, seakan-akan
tahu mau ke mana, aku langsung berhenti menyapu.
Aku tak pernah melihat
perempuan itu sebelumnya.
Aku meluncur ke pintu dan
melihat perempuan itu berhenti di depan kamar Tino.
Dia mengetuknya dengan tidak
sabar. “CHRIS?!” TOK! TOK! TOK! “Chris?! BUKA!” Dia juga mencoba membuka
kenopnya, tetapi pintu tak dapat terbuka.
Chris?
Perempuan itu tahu nama
kecil Tino.
Personal trainer itu tak pernah bercerita secara detail kepadaku, tetapi aku tahu nama
depannya, secara lengkap, adalah Christiano. Ada nama Chinese, kalau tidak
salah Chen, di bagian tengahnya. Lalu ada nama keluarganya yang tak pernah di-reveal
kepadaku. Namun, sejak awal, kalau aku memanggil Chris, Tino terlihat marah.
Aku tahu, banyak perempuan
main ke kosan Tino. Most of the time untuk ngewe bersama Tino. At
least sebelum kejadian bersama Lidya itu terjadi. Namun, tak ada satu pun
dari perempuan itu yang akan memanggilnya Chris.
Aku menghampiri perempuan
itu. “Kayaknya orangnya enggak ada di kamar, Mbak.”
Perempuan itu menoleh dengan
dramatis. Napasnya memburu marah. “Ke mana orangnya?”
Aku mengangkat bahu. “Dari
semalam enggak pulang,” jawabku.
“Tapi dia masih ngekos di
sini, kan?!”
“Christiano?”
“Ya!” Dia menjawabku dengan
agak menyentak.
“Masih, Mbak. Masih di situ.
Lagi enggak ada aja—”
“Jam berapa dia pulangnya?”
sergah perempuan itu sembari membetulkan tas di bahu, diikuti dengan melipat
tangan di depan dada. Dia juga berbalik menghadapku dengan galak. Seolah-olah
ini semua kesalahanku karena Tino enggak ada di kosannya.
Aku mengangkat bahu lagi.
“Kurang … tahu?”
“Coba kamu WhatsApp!”
titahnya.
“Sudah. Belum dibalas.”
Dan itu aku jujur ya, Gays.
Sudah ku-WhatsApp dari semalam, tapi memang belum dibalas oleh Tino sampai pagi
ini. Dan aku enggak mau “berlebihan” mengkhawatirkan Tino. He was fine,
kok kemaren sewaktu memilih celana buat interview. Dia juga memutuskan
meminjam salah satu celanaku yang stretchy untuk interview. Aku
sudah mentransfernya uang yang dipinjam, dan dia sudah membalas, “Thanks,”
lewat Whatsapp. Baru setelahnya dia enggak ada kabar lagi.
Perempuan itu mendengus. Dia
berpikir keras.
“Oke,” katanya. Lalu, dia
berjalan melewatiku dan keluar dari kosan.
[ … ]
Perempuan itu kembali lagi
sekitar pukul dua siang. Pada saat itu, Tino juga baru pulang. Bedanya
kira-kira lima menit saja. Tino tidak lewat depan kosanku, tapi aku mendengar
Tino membuka pintu kamarnya. Jadi, aku melompat dari tempat tidur lalu
menghambur keluar kamar.
Benar, Tino sedang membuka
kunci kamar. Dia menoleh melihatku yang muncul begitu saja.
“Hey, Bro!” sapanya.
Tersenyum lebar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Memang kayaknya dia
baik-baik aja. Kayak habis mandi, malah. Dia enggak kelihatan habis dirampok
atau gimana.
“Kok baru pulang, sih?”
sergahku sembari berjalan menghampirinya.
Tino membuka pintu kamar
lebar-lebar, lalu melempar tasnya ke atas meja. Aku berdiri di ambang pintu,
mengamatinya melepas kemeja, menguak badan kekar yang seksi, lalu melempar
kemejanya sembarangan juga. “Gue ketemu temen lama. Dia ngajak main, kita
minum-minum, terus gue mabok … yah … gue nginep kosan dia. Cowok, kok. Straight
juga. Lo tenang aja.”
“Terus kenapa Abang enggak
ngabarin?!”
“Wasted, Bro. Mana
kepikiran gue buat WhatsApp elo.” Sepanjang menjelaskan semua itu, Tino enggak
berani menatap mataku. Aku mencium adanya kebohongan dengan cerita itu.
Misalnya, Tino tampak segar
bugar. Enggak ada tampang hangover atau gimana.
Tapi aku enggak akan
mendesaknya terlalu jauh. “Tadi ada perempuan datang ke sini,” laporku. “Dia
nyari Abang dan dia ….”
Kata-kataku terhenti karena
di lorong kosan terdengar suara kelotak sepatu berhak tinggi yang menggema
tergesa-gesa. Aku menoleh dan melihat perempuan itu sudah datang lagi ke tempat
ini. Dia berjalan lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Wajahnya tampak marah.
Aku benar-benar enggak bisa
melanjutkan kata-kataku karena perempuan itu langsung mengambil alih “scene”
Tino. Dia menghambur masuk ke kamar Tino tanpa permisi, lalu berdiri di tengah
ruangan, menghadap Tino yang setengah telanjang, hampir membuka celana
panjangnya.
“Chris?” sapanya, agak
menyentak.
Tino menelan ludah. Dia
menatap perempuan itu dengan tatapan tajam, seperti ikutan marah, tetapi Tino
tak bisa berbuat apa-apa. Tino mengambil napas panjang, kemudian dia menoleh ke
arahku. Yang Tino lakukan berikutnya adalah ….
… menghampiri pintu, lalu
menutupnya.
Tino mengunci pintu. Di
depan wajahku.
Dan setelahnya, aku bisa
mendengar perempuan itu marah-marah.
“Jadi ini yang kamu lakukan
buat keluargamu, hah?! Bikin malu keluargamu sendiri?!”
Aku membelalak terkejut
mendengar itu. Aku membeku di depan pintu, mendengar omelan-omelan menyakitkan
hati dari perempuan itu. Kutempelkan telingaku ke pintu, sehingga aku bisa
mendengar pertengkaran di dalam kamar dengan lebih jelas.
Aku tak bisa menyampaikan
semua yang kudengar kepadamu, karena kadang-kadang suara perempuan itu enggak
begitu jelas. Yang pasti dia marah-marah sepanjang berada di dalam. Bahkan, ada
suara gaduh seperti sesuatu yang terjatuh, atau mungkin Tino dipukul benda
tumpul. Entahlah. Aku enggak bisa mengintip dari jendela karena tirainya masih
tertutup.
Perseteruan itu terjadi
selama hampir sepuluh menit dan aku menguping di luar pintu dengan perasaan
cemas. Kedengarannya, Tino tak diberikan kesempatan untuk bicara sama sekali.
Yang kudengar cuma suara perempuan itu saja yang mengoceh.
Tahu-tahu, suara kunci pintu
diputar terdengar.
Aku melompat mundur, hampir
terjengkang ke bawah dari pagar lorong.
Perempuan itu membuka pintu
kamar Tino dengan kasar, lalu membantingnya ke dinding. BRAK!
“Dan ini semua salahmu!”
katanya tajam, sambil menunjuk Tino di dalam. “Kalau terjadi apa-apa sama Apoh,
ini semua salahmu! PAHAM?!”
Perempuan itu pun menghambur
keluar dengan emosi. Dia mengabaikanku yang masih ada di depan pintu. Dia
menjejakkan kakinya di lorong seperti model-model di New York Fashion Week.
Seperti kuda yang berjalan bangga. Dia berbelok di pertigaan pertama. Lalu
menghilang.
Dengan tenang aku mencoba
mengintip ke dalam kamar Tino. Kamar itu berantakan. Seakan-akan, perempuan
tadi sengaja menjatuhkan setiap barang yang ada di atas meja ke atas lantai.
Ada gelas yang pecah. Ada lampu lahar yang pernah kuberikan dulu untuk Tino,
pecah juga di atas lantai.
Lalu Tino ada di mana?
Tino duduk di atas tempat
tidurnya. Tampak berantakan. Basah, seperti habis disiram. Dan ada bekas luka
sayatan di lengannya. Beberapa bagian tubuhnya, seperti pipi atau dadanya,
kemerahan. Seolah-olah baru saja ditonjok dengan kuat.
Aku membelalak sambil
menutup mukaku. Aku melompat masuk, tetapi Tino langsung mengangkat tangannya.
Dia menunduk tanpa menatapku.
Tino berkata, “Gue mau
sendiri dulu, Bro,” katanya, dengan suara lirih.
“Tapi—”
“Please,” tegas Tino.
Napasnya memburu. “Gue butuh waktu sendiri. Jangan ganggu gue dulu.”
“Gue bantu beresin ya?
Gimana? Enggak akan gue tanya-tanya soal—”
“Enggak usah. Thanks,”
jawab Tino, tetap tanpa mengangkat kepalanya. Tanpa menatap ke wajahku. Tino
menunduk, seakan-akan menyembunyikan air mata di wajahnya. “Gue … gue mau
sendirian dulu.”
Aku hampir tak bisa
menerimanya, tetapi aku ….
… aku enggak bisa seenaknya
memaksakan kehendakku.
Aku belum dapat informasi
apa-apa soal siapa perempuan tadi dan apa yang sebenarnya terjadi di kamar ini.
Dengan langkah berat aku keluar dari kamar Tino, menutupnya ….
… dan tidak bertemu Tino
hingga beberapa hari berikutnya.
mari kembalikan masa kejayaan blogspot 💖❤️
BalasHapus