Bilangan sixty nine yang disebutkan Saga meraung-raung
dalam kepala Rama. Ratusan pertanyaan untuk Saga melayang-layang juga dalam
kepala. Pertanyaan seperti, kapan Saga melakukan 69? Dengan siapa melakukannya?
Apakah dengan laki-laki juga melakukannya? Benarkah dengan Riki melakukannya?
Bagaimana bisa mereka berdua tahu-tahu melakukan 69?
Riki satu kelas dengan Rama sewaktu kelas XI. Naik kelas XII,
konfigurasi murid diacak lagi dan Riki berbeda kelas dengan Rama. Hanya delapan
orang yang satu kelas dengan Rama di kelas XII, salah satunya adalah Saga.
Meski begitu, Rama tahu Saga menjaga pertemanannya dengan teman-teman di kelas
XI. Rama sering menemukan Saga nongkrong bersama Riki di kantin atau lapangan
basket belakang sekolah.
Riki sama seperti Saga. Anak nakal yang terpaksa masuk MIPA,
sehingga tak pernah benar-benar peduli pada nilai akademiknya. Kerjaannya
bolos, merokok, mabuk-mabukan, mem-bully guru yang ngondek,
termasuk melabrak adik kelas. Namun, Riki bukan “tetua” di antara geng anak
nakal itu. Dia seperti penggembira di belakang layar. Hanya untuk meramaikan
saja. Tidak seperti Saga yang sejak SMA sudah tersohor mewakili sekolah untuk
pertandingan bola basket.
Jika benar Saga melakukan sixty nine dengan Riki, Rama
tak sanggup membayangkannya. Soalnya, Riki hanyalah lelaki kurus, tidak
ganteng, pendiam, hampir tak pernah bisa menjawab pertanyaan dari guru, dan
pernah enggak mandi berhari-hari sehingga satu kelas menjadi bau. Dalam
bayangan Rama, kalaupun Saga pernah nyepong kontol seorang lelaki,
harusnya bukan Riki.
Gara-gara memikirkan itu, bilangan 69 tak bisa dienyahkan
dalam kepala Rama. Tiba-tiba saja semua pilihan lain lenyap entah ke mana. Yang
ada dalam kepalanya adalah “kemungkinan” bahwa Rama bisa melakukan 69 dengan
Saga.
Namun, bagaimana melakukannya tanpa dicurigai sebagai gay?
Rama menutup bukunya. Dia enyahkan tangan Saga dari kontolnya,
lalu berdiri menghadap Saga yang seksinya bukan main. Melihat Saga setengah
telanjang, mati-matian Rama menahan diri untuk tidak menerkam lelaki itu dan
melahapnya. Momen “memetik mangga” yang terjadi beberapa jam lalu masih terekam
jelas seperti core memory.
Rama melipat tangan di depan dada, berakting malas-malasan
supaya tidak kelihatan ngebet. Dia menghela napas. “Gue cuma kangen ngewe
ama cewek gue aja,” mulai Rama. “Semester ini kuliah gue padat, jadi gue belum ngewe
berbulan-bulan. Lihat elo ngewe si Melinda, gue juga pengin, tapi
seperti yang elo tahu ..., gue mesti belajar.”
“Aman, Bro. Santuy. Gue paham.” Saga berjalan lebih
dekat ke arah Rama. Dia menepuk lengan Rama dengan santai, seperti dua lelaki straight
kalau lagi ngobrol. “Elo mau gue ngapain?”
Rama bisa mencium aroma sabun mandi Rama yang menguar dari
kulit Saga. Titik-titik air yang masih belum terusap handuk, yang ada di dada
Saga, terlihat menggiurkan untuk dijilat. Pandangannya turun ke jendolan di
balik celana belel Saga untuk sesaat, lalu pandangan itu naik lagi ke wajah
Saga.
“Gue pengin di-sepong,” jawab Rama akhirnya. “Kalau
ngocok doang mah, tiap hari juga bisa. Gue pengin ada mulut yang ngisap
punya gue.”
“Oke.” Saga mengangkat tangannya, tanpa perlawanan.
“Dan gue enggak masalah kalau harus nyepong punya elo.
Daripada kita awkward kalau elo doang yang nyepong.”
“Sixty nine berarti?”
Rama mengangguk.
“Nice.” Saga mengangkat satu jempolnya, terlihat
setengah ragu.
Dan mereka berdua pun awkward tiba-tiba. Padahal tujuan
sixty nine adalah supaya tidak awkward karena masing-masing
kontol akan di-sepong, masing-masing mulut akan menyepong. Namun,
mereka berdua sama-sama menggaruk tengkuk sambil melemparkan pandangan ke arah
lain, tak berani menatap satu sama lain.
“Gue belum pernah nyepong,” ungkap Rama jujur.
Saga manggut-manggut. Dia berkacak pinggang, membiarkan bulu
keteknya menggantung seperti akar beringin di bawah lipatan lengan. Bulu ketek
itu lurus dan lebat, hampir mengalihkan perhatian rama. “Tapi elo pernah jilmek?”
“Ya pernah, lah.”
“Ya ... sama aja, Ram. Entar elo masukin ke mulut ...,
isap-isap ..., kayak cewek elo nyepong elo. Terus ..., kalau bingung
ngapain lagi ..., elo bisa jilat yang lain.”
Kenapa malah Saga yang ngajarin gue nyepong? tanya Rama dalam
hati. Yang homo kan gue!
Ketika menjelaskan soal itu, Saga pun tak berani menatap Rama.
Pembicaraan itu benar-benar awkward, seperti dua orang asing yang harus ngewe
untuk kali pertama.
“Oke,” kata Rama.
“Oke.” Saga pun menatap ke seluruh kamar kosan. “Di mana?”
“Kasur aja.” Rama menelan ludah. “Tapi gue belum mandi, Ga.
Belum bersih-bersih.”
Saga terkekeh. “Santuy, Bro. Elo belum mandi masih
lebih bersih dibandingin si Riki udah mandi. Hahaha.” Saga berjalan ke sakelar
lampu common area. “Ini gue matiin aja lampunya, ya? Takutnya elo jijik
lihat kontol gue. Hahaha.”
“Hahaha.”
GUE PENGIN LIHAT KONTOL ELO, ANJENG!
Namun, terlambat. Ctrek! Saga sudah mematikan lampu common
area, menyisakan lampu tidur warna ungu yang biasa mereka gunakan untuk
tidur.
Rama berjalan ke tempat tidur dengan dada berdebar-debar
kencang. Dia masih tak percaya ini akan terjadi. Seseorang yang bertahun-tahun
terakhir hanya ngewe dalam kepala Rama, kini beneran akan “main” dengan
Rama. Dia sempat menampar pelan pipinya untuk memastikan ini bukan mimpi.
“Buka aja bajunya,” bisik Saga. Lelaki itu melepas celana
belelnya, telanjang bulat dalam kamar yang gelap remang-remang.
Rama hampir jantungan ketika melihat siluet tubuh telanjang
Saga dari belakang. Rama bisa melihat bulat pantat itu, dengan belahan pantat
yang terlihat seksi. Napas Rama memburu, punggungnya terasa makin dingin,
kulitnya merinding. Rama hampir membeku ketika melihat tubuh telanjang itu
berjalan ke meja terdekat untuk menyampirkan celana pendek belelnya. Ironisnya,
ketika Saga berbalik ke arah Rama, dengan malu Rama berbalik ke arah lain
sambil melepas kausnya.
Sambil menelanjangi diri, Rama bisa mendengar Saga memanjat
naik ke atas tempat tidur. Setelah tak ada kain apa pun membalut tubuh Rama,
dia berbalik menghadap Saga. Kontol Rama ngaceng tegak ke atas, keras
seperti monumen. Kepala kontolnya terlihat mengilat di bawah remangnya cahaya
violet.
“Wow,” gumam Saga sambil mengangkat kedua alisnya saat melihat
kontol Rama. Dia bahkan terpukau selama beberapa saat seperti orang yang syok. “Punya
elo segede itu, tapi jarang elo pake Ram?”
Rama hanya menunduk malu sambil menutup kontolnya dengan kedua
tangan. Meski dipegang dengan kedua tangan, kontol Rama masih menyisakan
sedikit batang dan kepala kontol yang bulat besar.
Rama tak menjawab pernyataan Saga. Dia mencoba melihat kontol
Saga, tetapi Saga sedang menggenggam kontolnya sendiri dengan satu tangan. Saga
sedang mengocoknya karena kontol Saga sedang flaccid. Sayangnya, dalam
satu genggaman flaccid itu, Rama tak bisa melihat apa-apa. Kepala kontol
Saga juga tidak mencuat keluar. Rama hanya bisa melihat biji pelernya saja—yang
tadi sudah Rama remas lembut waktu Saga main sama Melinda.
Saga berbaring menyamping. Kakinya ada di kepala ranjang,
kepalanya ada di ujung tempat tidur. Artinya, Rama harus berbaring berlawanan
arah.
“Elo kalau mau keluar bilang yak!” sahut Saga di bawah sana.
“Yoi.”
Rama kini berbaring di depan tubuh Saga, wajahnya sejajar
dengan kontol Saga. Sayangnya kontol itu masih digenggam Saga, jadi Rama sampai
detik ini belum melihat sedikit pun kontol Saga. Sementara di bawah sana,
kontol Rama sudah berada di depan wajah Saga. Satu tangan Saga sudah memegang
pangkal kontol Rama.
“Hmmm ....” Rama mendesah merasakan kontolnya dipegang Saga.
Benar-benar nikmat.
Padahal hanya dipegang saja.
Lalu, karena Saga perlu menggunakan kedua tangannya untuk
memasukkan kontol Rama ke mulut, akhirnya ....
... tangan itu lepas dari kontol Saga.
Mungkin ini lebai, tetapi Rama benar-benar membeku terpukau mendapati
kontol itu akhirnya terkuak di depan wajah Rama. Hanya berjarak beberapa senti
saja dari hidung Rama. Kontol yang sudah disunat. Mungil—belum ngaceng.
Menggantung di antara jembut hitam yang lebat.
Rama membeku karena kontolnya juga mulai di-sepong
Saga. Rama merasakan bibir kenyal mengatup kepala kontol Rama, diikuti satu
rongga basah yang hangat, yang langsung bergerak maju mundur tanpa basa-basi.
Nikmat sekali, ya Tuhan ..., batin Rama.
Setelah mendapatkan lagi kontrol di tubuhnya, Rama pun
mendekatkan wajah ke kontol Saga. Dengan satu tangan, dia mengepit kontol lemas
itu di bagian pangkal, lalu memasukkan seluruhnya ke dalam mulut.
Hmmmmmmppphhh ....
....
Rasanya seperti melayang ke surga.
Kontol Saga kenyal dan dingin. Seperti balon yang belum
ditiup, lalu diisi air. Lembut, tetapi berisi. Kepala kontolnya seperti ampela
yang sudah direbus. Ada rasa sabun Rama di kontol ini. Namun, karena bibir Rama
menempel ke pangkal kontol Saga, hidung Rama terbenam di biji peler Saga, Rama
bisa mencium aroma kontol yang khas. Aroma kontol yang lembap kepanasan berada
di balik sempak.
“Hmmmmmmppphhh ....”
Rama mengisap lembut kontol flaccid itu. Lidah Rama
menari liar ke setiap bagian kontol, mencoba menggelitiknya. Kontol Saga
terkulum penuh di dalam mulut Rama. Soalnya, kontol ini masih saja lemas.
Jembut Saga menggelitik dagu Rama, membuat Rama merinding keenakan.
“Aaaaaahhh ....”
Situasi di bawah sana juga hampir membuat Rama keok. Sepong-an
Saga, sejujurnya, tidak seenak sepong-an Indah maupun mantan-mantan
cewek Rama yang lain. Kelihatan jelas Saga ini lelaki straight karena
Saga hanya peduli mengulum kontol ngaceng Rama maju mundur tanpa ada servis
tambahan apa pun.
Satu tangan Saga menggenggam batang kontol Rama dekat ke
pangkal. Mulutnya mencoba menelan kontol ngaceng itu, tetapi sejauh ini
hanya masuk bagian kepala saja. Mungkin ada sedikit bagian batang yang masuk
mulut Saga, tapi seringnya enggak. Saga juga tidak menggunakan lidahnya. Saga
hanya membuka mulut lebar-lebar, menggerakkan kepalanya maju mundur, membuat
kepala kontol Rama basah, dan ....
... sudah. Itu saja.
Di lain sisi, Rama mulai merasakan kontol Saga mengeras
setelah seluruh bagiannya digelitik oleh lidah Rama yang basah. Rama mulai
mengisap kontol Saga kuat-kuat hingga pipi Rama cekung ke dalam. Setelah kontol
itu terasa ngaceng setengah, Rama mulai menggerakkan mulutnya maju
mundur. Bagian kepala dan setengah batang atas sudah mengeras, sementara
pangkal dan setengah batang bawah masih letoy dan lemas.
Saga tampaknya kaget melihat kontolnya mulai ngaceng.
Saga melepaskan kontol Rama dari mulutnya untuk mengatur napas. Dia mengocok
kontol Rama dengan satu tangan, tetapi asal-asalan. Saga mengintip ke bawah,
melihat bagaimana Rama menyepong kontolnya.
Tanpa sadar, Saga mendesah, “Aaaaaahhh ...,” dengan mata merem
setengah. Setelah menghayati nikmatnya sepong-an Rama, Saga pun kembali
mengulum kontol Rama dan mengulang gerakan sepong-an seperti sebelumnya.
Sejujurnya Rama tak tahu cara menyepong karena ini
adalah sepong-an kontol pertamanya seumur hidup. Yang Rama lakukan hanya
menghayatinya dengan khidmat, mengisapnya dengan sungguh-sungguh, menikmatinya
dengan penuh cinta. Rama membenamkan kontol Saga hingga bibirnya menyentuh
pangkal kontol yang berjembut lebat itu, yang bulu-bulunya langsung menggelitik
wajah Rama, bahkan ada yang masuk ke lubang hidung Rama. Lalu, Rama tarik
mulutnya hingga sisa kepala kontol Saga di dalam mulut. Kemudian, Rama gelitiki
frenulumnya yang sensitif, sebelum akhirnya menelan lagi kontol itu hingga
bibirnya menyentuh lagi pangkal kontol Saga.
Rama lakukan berulang-ulang dengan konstan. Dengan ritme yang
sama. Dengan lidah yang tak berhenti menari liar menggelitik setiap bagian
kontol di dalam mulut.
“Anjiiinnnggghhh ....” Saga mengumpat dan mendesah,
kembali melepaskan kontol Rama dari mulutnya. Saga mengintip ke bawah.
Ujung-ujungnya, Saga hanya mengocok kontol Rama di bagian pangkal, sementara
pandangannya ditujukan ke Rama yang menyepong dengan penuh penghayatan.
Rama memejamkan matanya, menikmati sepong-an itu
seperti sedang bermain instrumen musik klasik. Tanpa Rama sadari, kontol Saga ngaceng
penuh. Setelah ngaceng pun, Rama tetap memaksakan seluruh kontol masuk
ke dalam mulutnya. Ketika bibir Rama menyentuh perut Saga, kepala kontolnya
mendesak uvula Rama, membuatnya tersedak, hampir saja muntah. Air mata Rama
mengalir dari sudut-sudut mata.
Dan, Rama tetap melanjutkannya.
“Ram ..., jangan terlalu—aaahhh .... Fuck!” Saga
menarik napas panjang. “Ram ...?”
Rama tak mengindahkan panggilan itu. Dia tetap menelan kontol ngaceng
Saga hingga dirinya tak bisa bernapas, tetap menggelitik batang kontol itu
dengan lidahnya, meski lidahnya sudah pegal sedari tadi. Dan Rama tetap
mengisapnya dengan lembut.
Saga mulai bangkit setengah. Napasnya memburu.
“Ram ...?” Napas Saga berubah menjadi desahan-desahan. “Santai
dulu, Ram ....”
Kedua tungkai Saga mulai menegang. Tungkai itu lurus menekan
kepala ranjang. Saga meringis. Dia menatap kontol ngaceng Rama, mencoba menyepong-nya
lagi, tetapi hanya bertahan dua kali sepong-an. Setelah itu Saga
mendongak lagi ke bawah, menatap Rama yang tak berhenti menyepong
kontolnya.
“Ram ... pelan-pelan, Ram .... Aaaaaahhh ....” Bola mata Saga
berputar ke atas untuk sesaat. Mulutnya menganga kecil. “Fuck ....
Anjiiinnnggghhh ... Raaammmhhh ....”
Rama tuli.
Rama mengisap dan mengulum kontol itu tanpa ampun. Tanpa jeda.
Tanpa ada tanda-tanda untuk berhenti. Kontol Saga sudah basah total oleh ludah
Rama. Menetes ke atas seprai. Termasuk air mata yang mengalir di pipir Rama.
Namun, Rama benar-benar gigih.
Tubuh Saga mulai mengentak-entak kecil. Kedua tungkainya
benar-benar lurus menjejak ke dinding. Saga sudah tak sanggup menatap Rama
lagi. Dia membenamkan wajahnya ke atas tempat tidur, meringis keenakan, sambil
satu tangannya tetap menggenggam kontol ngaceng Rama.
Dan, Saga diam saja.
Menghayati.
Soalnya ....
....
Crot! Crot! Crot! Crot! Crot!
Saga ejakulasi.
“Hmmmph! Aaah .... Aaah .... Aaahhh ....” Tidak ada
erangan berlebihan, hanya desahan-desahan kecil dari tubuh Saga yang
mengentak-entak. Seluruh tubuh Saga mengerang. Wajah Saga dibenamkan
dalam-dalam ke permukaan kasur. Otot pantatnya menegang, menciptakan cekungan
di samping. Perutnya membusung ke arah Rama. Biji pelernya berkedut-kedut,
memompa sperma keluar melalui uretra.
Rama akhirnya terbangunkan. Kebetulan dia sedang membenamkan
seluruh kontol ngaceng Saga di mulutnya—bibir Rama sedang mencium
pangkal kontol berjembut lebat itu—ketika Rama merasakan cairan hangat
tiba-tiba memenuhi kerongkongannya. Rama berhenti menggerakkan mulutnya maju
mundur. Rama membeku. Matanya terbuka, menatap biji peler Saga dalam
remang-remang violet kamar.
Cairan sperma itu menyemprot kerongkongannya.
Otomatis Rama menahan napas, agar jalur yang terbuka adalah
jalur menuju perut. Rama menelan seluruh sperma itu tanpa banyak bertanya.
Glek. Glek. Glek.
Semprotannya cukup banyak. Rasa air maninya aneh, tetapi Rama
tetap diam dan menelan semuanya. Rama biarkan kontol itu bersarang di dalam
mulutnya hingga tak ada lagi kedutan-kedutan otot selangkangan menembakkan
sperma keluar. Rama harus menahan napas cukup lama.
Setelah kedutan di kontol itu berhenti. Rama pun mengeluarkan
kontol Saga dari mulutnya. Rama menarik napas panjang, mengatur pernapasannya
agar tenang.
Mereka berdua terdiam. Masih berbaring menyamping.
Masing-masing memegang kontol satu sama lain, tetapi tak ada yang berani
bicara.
Saga malu karena crot di dalam mulut Rama.
Rama malu karena menelan crot-nya Saga.
Saga malu karena seorang lelaki straight tak seharusnya
crot di-sepong laki-laki.
Rama malu karena seorang lelaki straight tak seharusnya
menelan sperma lelaki lain.
Itu menjadi dua menit paling awkward dalam hidup
mereka. Di tengah kecanggungan itu, mereka masih saja mengocok pelan kontol ngaceng
satu sama lain. Tak ada yang berani membahas kejadian tersebut.
Akhirnya, Rama memecah keheningan. “Gue ... gue pegel, Ga.
Boleh ganti posisi?”
“Oh. Oke.” Saga mencoba bangkit, tetapi dia tak tahu harus ke
mana. “Gimana posisinya?”
Rama masih tak berani menatap Saga di bawah sana. Dia melihat
lutut Saga sudah ada yang ditekuk ke atas, sehingga pahanya terekspos. Rama
tiba-tiba menyusupkan kepalanya di antara paha itu. Lidahnya menyusuri kontol
Saga dari kepala ke pangkal, lalu ke biji peler, tahu-tahu kepalanya menyusup
di antara dua paha Saga.
Saga bingung, tetapi dia menuruti saja. Dia mengangkat pahanya
ke atas, kemudian merasakan tangan Rama menarik pantatnya mendekat,sehingga
terpaksa ....
... Saga merangkak di atas tubuh Rama.
Saga benar-benar bingung karena kini bool Saga ada di
atas wajah Rama. Kedua kaki Saga ditekuk seperti duduk di antara dua sujud,
lalu di bawah pahanya ada dua lengan Rama terselip. Saga sudah akan menegur
Rama bahwa kontol Saga ada di bawah wajah Rama sekarang, yang ada di depan Rama
adalah bool Saga, barangkali Rama agak-agak rabun ayam mengira dia masih
bisa menyepong kontol Saga.
Namun, Saga merasakan bool-nya ....
... dijilat Rama.
Mulut Saga menganga kecil. Dia menoleh, tetapi tak bisa
melihat wajah Rama, karena seluruh kepala Rama diduduki pantatnya. Sempat Saga
memanggil, “Ram ...?” tetapi tak ada jawaban. Saga ingin sekali mengingatkan
bahwa itu bool-nya, tetapi lama kelamaan ..., Saga terbuai oleh lumatan
lidah Rama di bool-nya.
“Aaaaaahhh ....” Hampir tanpa suara, Saga mendesah. Saga
meringis. Dia akhirnya membungkuk menindih tubuh Rama. Wajahnya berada di
samping kontol ngaceng Rama. Saga masih menggenggam batang kontol Rama.
Namun, Saga tak berani menampakkan wajahnya ke dunia.
Saga malu.
Sungguh.
Malu karena jilatan Rama di bool-nya terasa geli-geli
enak.
“Aaaaaahhh ....” Bahkan, suara desahan keenakan itu hampir
seperti bisikan.
Saga membenamkan wajahnya di paha Rama, meringis menahan diri,
mati-matian menjaga agar tubuhnya tidak mengentak-entak keenakan seperti sedang
orgasme.
Soalnya, rasanya seperti orgasme.
“Aaaaaahhh ....”
Dalam pikiran Saga, mungkin Rama sedang rindu jilmek, makanya
Rama menjilat-jilat bool Saga. Dia ragu apakah dirinya harus
menghentikan aksi Rama di bawah sana, atau Saga biarkan saja Rama menjilati
sesuka hatinya? Masalahnya, jilatan di bool itu benar-benar enak. Saga
tak ingin kepergok menikmatinya.
Di lain sisi, Rama menikmati rimming itu dengan puas.
Ya, Rama hampir tak bisa bernapas. Wajahnya ditindih pantat Saga seluruhnya.
Hidung Rama ada di belahan pantat Saga. Dagu Rama ditindih perineum Saga.
Lehernya digantungi biji peler Saga. Alhamdulillah mulutnya berada tepat di bool
Saga, di kerutannya yang masih perawan dan sempurna. Jadi, Rama menjulurkan
lidahnya dan menggelitik bool itu sebisa mungkin.
Rama engap, tak bisa bernapas. Namun, dia tak berhenti.
Setelah dua menit tanpa udara karena diduduki saga, akhirnya
Rama mengangkat sedikit pantat itu hingga merasakan lagi udara sejuk kamar di
wajahnya. Pada kesempatan itu dia berkata, “Kocok aja, Ga.” Lalu, Rama menarik
lagi pantat Saga ke wajahnya, dan menjilati bool Saga.
Saga akhirnya mengocok kontol Rama dengan satu tangan. Kontol
itu ada di sebelah telinga Saga, terasa hangat dan keras. Saga masih
membenamkan wajahnya di paha Rama, soalnya Saga sedang berjuang setengah mati
untuk tidak mendesah akibat jilat bool yang geli-geli nikmat itu. Tangan
Saga mengocok kontol Rama cukup cepat tanpa dilihat.
Untungnya, tak lama setelah perintah kocok itu ....
CROT! CROT! CROT! CROT! CROT!
... Rama ejakulasi.
Spermanya melompat jauh sekali ke atas. Tak ada yang
melihatnya, tetapi semburan sperma itu melompat setinggi satu meter di semburan
pertama. Sperma itu jatuh melompat membentuk kurva, jatuh ke atas pantat Saga.
Hampir kena kepala Rama. Lalu semburan berikutnya mendarat di sepanjang
punggung Saga yang atletis hingga akhirnya sperma-sperma terakhir meleleh ke
atas bahu Saga.
Keduanya terdiam sesaat setelah ejakulasi Rama. Masing-masing
mengambil napas.
Lalu, karena Saga tak tahan lagi dengan bibir dan lidah Rama
di bool-nya, Saga pun bangkit. Dia turun dari tempat tidur, berdiri
membelakangi Rama, dan berjalan mengambil handuk.
“Gue dulu ya yang mandi. Punya elo pada jatuh ke punggung gue.
Hehe,” katanya, tetap canggung.
“Sip, sip, Bro.” Rama pun duduk dan sama-sama mengalihkan
pandangan ke arah lain. “Thanks, ya.”
“Aman, Bro.”
Hingga Saga masuk kamar mandi, Saga tak berani menghadap Rama.
Soalnya, kontol Saga ngaceng. Jilatan bool itu
hampir saja membuat Saga crot lagi.
[ ... ]
Meski keduanya sudah melewati batas normal pertemanan dengan
saling menyepong, mereka tetap kembali ke aktivitas normal keesokan
harinya. Malah, dua hari pertama menjadi dua hari paling canggung di antara
keduanya. Tak ada satu pun dari mereka berani membahas kejadian pada malam itu.
Persoal sperma Saga yang ditelan Rama tidak dibahas. Persoal Rama menjilati bool
Saga tidak dibahas.
Setelah Saga mandi malam itu, Rama langsung mandi setelahnya.
Rama coli di kamar mandi sambil membayangkan menjilati bool Saga,
jadi tanpa diketahui Saga, Rama crot dua kali malam itu. Ketika Rama
keluar kamar mandi, Saga sudah tidur.
Keesokan paginya, kala Rama sudah bersiap diri pergi ke
kampus, Saga terbangun dari tidurnya. Mereka kembali menjadi dua orang yang
enggak akrab-akrab banget berada dalam satu ruangan.
“Kuliah, Ram?”
“Iya, Bro.”
“Pagi?”
“He-eh.”
Lalu, Rama selesai mengikat tali sepatunya. Dia beranjak
mengambil tas dan pamit. “Biasa ya, Ga, kunci di sepatu oren.”
“Aman, aman.” Saga mengacungkan satu jempolnya.
Rama pun berangkat ke kampus.
Sudah, seperti itu saja. Tidak menjadi romantis. Tidak menjadi
intim. Tidak berkembang ke mana-mana. Mereka juga tidak saling menatap ketika
berbicara. Keduanya takut apa yang terjadi saat sixty nine itu membuat
suasana berubah total.
Saga tetap tak ditemukan di kosan setiap Rama pulang dari
kampus. Saga hanya akan ada ketika Rama terbangun pagi-pagi, itu pun Saga
tertidur pulas. Entah pulang jam berapa atau ngapain. Malam kedua Rama mencoba
belajar sampai pukul 2 dini hari, Saga masih belum pulang juga. Tapi besok
paginya ketika Rama bangun pukul 6 pagi, Saga sudah ada di sampingnya sedang
tertidur.
Rama menyimpulkan bahwa kehidupannya dengan Saga akan seperti
itu selamanya. Rama sudah memupus harapan kejadian semacam sixty nine
akan terulang lagi di masa depan. Rama hanya bisa bersyukur dia punya materi
ingatan yang konkrit soal kontol, bool, dan tubuh telanjang Saga. Kali
berikutnya dia coli memfantasikan Saga, Rama tinggal mengingat malam sixty
nine saja.
Satu minggu sejak malam itu, Rama mengamati Saga setidaknya
sudah ngewe lagi sebanyak tiga kali. Kondom-kondom bekas berisi sperma
yang sudah berubah bening, yang ujung atasnya diikat, ditemukan di dalam tempat
sampah. Pelumas Rama juga sudah berkurang lebih dari setengah. Bahkan, ketika
Rama mengecek stok kondomnya, jumlahnya sudah berkurang banyak. Terlihat jelas
Saga mengambil kondom-kondom ini tanpa izin. Agak kurang ajar, tetapi concern
Rama bukan di situ.
Rama mulai mengira Saga menghindari Rama.
Tampaknya, Saga sengaja ngewe ketika Rama tak ada,
khawatir Rama sange dan akhirnya minta sixty nine lagi.
Agak sedih memikirkan kesimpulan itu. Seolah-olah Saga
menyesal pernah sixty nine dengan Rama. Padahal kalau Saga ngewe
lagi di depan Rama, Rama bisa menahan diri. Toh, rasa penasaran Rama sudah
terbayar. Rama sudah nyepong Saga, sudah mainin pelernya, bahkan sudah
menjilati bool-nya. Kalau Rama tak bisa mendapatkan lagi momen itu, ya
sudah.
Kamis malam, hati Rama masih terasa nyes menyadari Saga
menghindarinya. Rama tak bisa berbuat apa-apa selain mencoba mengalihkan
pikiran dengan belajar. Untungnya, sebuah pesan WhatsApp masuk dan sedikit
menghibur hatinya. Dari Vina. Mantannya waktu SMA.
Beb, gw lg di bali anjir, hayu ketemuuuu
....
Dengan senyum setengah, Rama membalas, Jangan manggil beb
anjing, gw udh punya cewek.
Bodo, balas Vina. Ayo lunch di potatohead
besok. Lo kuliah ga?
Rama mengecek jadwal kuliahnya, Ada, presentasi kelompok,
tapi gw udah presentasi, dan gw belum ambil jadwal bolos di matkul ini. Oke,
kita ktemu di sana.
NICE! See you there!
Vina adalah salah satu dari cewek yang pernah di-ewe
Rama, khususnya saat SMA, saat Rama ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dia
adalah lelaki straight. Bedanya Vina dari semua mantan Rama adalah
hubungan mereka berubah menjadi persahabatan. Tak ada kecanggungan sedikit pun
setelah mereka putus. Kalau membahas hubungan seks mereka, keduanya akan
membahas sambil tertawa, tidak menyesal atau apa. Energi Vina menyenangkan,
bisa membuat mood Rama kembali baik. Jadi, Rama memutuskan untuk bertemu
mantannya ini diam-diam tanpa memberi tahu Indah.
Vina seorang model. Seorang finalis GADIS Sampul. Posturnya
setinggi Rama. Rambutnya bagus, wajahnya cantik, tubuhnya langsing, pujaan
hampir semua laki-laki di SMA mereka. Vina populer. Gabung juga dengan geng
cewek-cewek populer yang cantik, langsing, kaya, dan untouchable. Ketika
Rama pacaran dengan Vina, banyak teman lelaki Rama yang memuji sekaligus iri. Hubungan
itu makin memantapkan personal branding Rama sebagai seorang lelaki straight.
Jadi kalau boti-boti di SMA mulai menaruh curiga
kepada Rama, bahkan bertanya, “Ram, kok elo cocok sih ngobrol ama cewek-cewek?
Biasanya laki tuh enggak klop ama cewek, anjir. Tapi elo mulus banget temenan
ama cewek-cewek. Elo gay?”
Rama bisa menjawab, “Kalau gay, ngapain gue pacaran ama
si Vina?”
Boti-boti itu biasanya ingin membantah,
tetapi mereka mengurungkannya. Kemungkinan besar para boti ini sudah
mendeteksi kehomoan Rama, hanya saja mereka belum menemukan titik kelemahan
Rama. Jadinya, sampai hari ini, belum ada yang tahu orientasi seksual Rama yang
sebenarnya.
Vina mengubah hidup Rama secara signifikan. Percaya enggak
percaya, Saga merupakan salah satu cowok yang pernah mencoba menembak Vina,
tetapi Vina menolaknya. Vina sendiri yang cerita ke Rama waktu mereka sudah
putus. Katanya Saga sempat mencoba pedekate dengan me-WhatsApp Vina setiap
hari, memberikan cokelat saat Valentine, bahkan mengajak kencan. Tidak hanya
Saga, sebenarnya. Begitu Vina putus dari Rama, selusin cowok langsung menempel
kepadanya.
Ketika Rama menemui Vina di Potato Head keesokan harinya, dia
merasakan lagi nostalgia SMA itu. Rasanya seperti kembali ke masa-masa setelah
putus di mana mereka jadi lebih dekat dibandingkan saat pacaran.
Singkat cerita, Vina cerita dirinya sedang healing
sendirian di Bali, tetapi sudah memiliki itinerary yang padat untuk
liburan tiga malam ini. Sehabis dari Potato Head, dia akan mengikuti kelas meditasi
dari seorang guru tersohor asal India di Canggu. Malamnya Vina ketemuan dengan
teman SMP-nya di La Favela untuk minum-minum. Rama dan Vina bertukar kabar
seperti gimana kuliah, gimana Bali, gimana Yogyakarta (tempat kuliah Vina), gimana
kabar si anu, si itu, si ono, si ini, masih ingat pas SMA kita pernah begini,
pernah begitu, atau si siapa dimarahi guru, atau kecebur got, atau ngompol di
celana, dan lain sebagainya.
Sampai akhirnya, topik Saga mendadak muncul.
“Elo udah tahu kabar terbaru si Saga?” tanya Vina tiba-tiba,
di tengah mereka membahas soal Dinda yang katanya sudah menikah bulan lalu,
tetapi enggak mengundang siapa pun dari sekolah mereka.
Rama yang sedang meneguk frozen sangria-nya hampir
tersedak mendengar nama itu. “Saga?” ulangnya.
“Elo tahu enggak kalau dia ngilang?”
Rama membeku. “Ngilang?”
Vina manggut-manggut sambil menyesap passionello martini-nya
sebelum melanjutkan. “Enggak ada yang tahu dia di mana aja, anjir. Dia mendadak
ngilang enggak ada kabar. IG enggak pernah update. Di grup dia udah
keluar. Enggak ada yang berhasil kontak dia.”
Sungguh, Rama masih membeku. Mukanya melongo.
“Elo ingat Saga, kan? Yang pernah nembak gue, anjir!” Vina
menonjok lengan Rama sambil terkekeh. “Yang ganteng, anjir! Yang main basket.
Ingat enggak?”
“Iya, iya, ingat. Apa maksudnya dia ngilang? Bukannya dia
kuliah di ....”
Kata-kata Rama tak pernah selesai karena Vina langsung
memotongnya, “Dia ngilang ih, Beb! Tiga bulan dari kita semua lulus, enggak ada
kabarnya lagi. Emang elo enggak notice dia enggak pernah chat
apa-apa lagi di grup kelas?”
Rama tahu soal itu, tetapi Rama pikir Saga sudah move on
dari SMA. Bagi Rama itu wajar. Rama saja sudah jarang mengobrol di grup SMA.
Hanya beberapa murid saja yang masih aktif mengisi grup. Saga adalah murid yang
tak pernah chat apa pun lagi setelah lulus. Yang sebenarnya tidak aneh,
karena banyak orang melakukan itu.
“IG dia bukannya masih update?” ungkap Rama.
“Mana ada, anjir! Foto dia aja setahun lalu!” Vina membuka
Instagram-nya. Dia langsung menunjukkan foto black and white sebuah
kafe. “Nih! Entah di mana ini.”
Itu di Yamuna, Kerobokan. Rama tahu soal itu. Mungkin Saga
sedang kencan dengan salah satu ceweknya, lalu memfoto sok-sok nyeni, lalu
mengunggahnya. Satu tahun lalu, Rama dan Saga sudah ada di Bali.
Rama mengamati setiap foto yang kini ditunjukkan Vina. Rama
baru sadar, semua foto itu adalah foto lama. Tak pernah ada foto baru selama
setahun terakhir. Selama ini urusan Rama ke akun IG Saga adalah coli.
Rama akan menggulir ke foto-foto yang ada Saganya, lalu coli, lalu crot,
lalu lupa bahwa dia sudah men-coli-kan foto-foto itu berulang kali.
“Kayaknya gue pernah lihat dia posting story,” ungkap
Rama lagi.
“Halah, story-story gaje yang enggak nunjukin dia lagi
di mana. Palingan story di kafe. Atau botol bir. Atau lagi nge-gym,
tapi enggak kelihatan nge-gym di mana.”
Benar sih, pikir Rama.
“Emang kenapa dia ngilang?”
“Elo tahu Hesti anak IPS yang dulu sering main ke kelas kita,
karena dia pacaran sama si Saga? Di akhir-akhir semester, lah. Menuju ujian.”
“Ya. Inget. Kenapa dia?”
“Dia hamil.” Vina menyesap lagi minumannya sebelum
melanjutkan, “Dihamilin si Saga.”
Rama membeku lagi. Mulutnya menganga. “Serius?”
Vina mengangguk yakin. “Gue juga tahunya enam bulan kemaren
pas reunian. Yang elo enggak bisa ikut gara-gara elo kuliahnya di Bali terus
ada ujian. Of course si Saga juga enggak muncul. Anak-anak langsung ngegosip,
katanya si Hesti ketahuan hamil pas kelulusan. Anaknya lahir kira-kira Desember
tahun kemaren, lah. Kemungkinan mereka ngewe-nya pas kita Ujian Sekolah.
Bapaknya udah jelas si Saga.”
Rama masih terdiam membeku. “Terus ..., si Saganya tahu?”
“Tahu. Tapi kabur. Enggak ada yang tahu dia kuliah di mana.”
“What do you mean? Semua mahasiswa tercatat di
PDDikti.”
“Ya nama dia enggak ada.”
Rama membuka ponselnya dan mengecek website PDDikti sembari
mendengarkan Vina melanjutkan ceritanya.
“Hesti sempat ketemu si Saga sekali, tahun ini. Diam-diam tapi.
Saga cuma mau ketemu anaknya kalau si Hesti datang sendiri. Tuh anak nurut, dan
akhirnya Saga ketemu anak kandungnya sendiri. Di hotel gitu, lah. Semalam.
Habis itu Saga pergi lagi. Ada kok fotonya si Saga lagi gendong anaknya.” Vina
menunjukkan satu foto dari IG Hesti yang menampilkan Saga sedang menggendong
bayi. Dari takarir Hesti, kelihatan sekali Hesti masih mengharapkan Saga.
“Si Hesti enggak nuntut pertanggungjawaban?”
Vina menggelengkan kepala. “Saganya minta gugurin, Hestinya
enggak mau. Jadi secara teknis itu tanggung jawab si Hesti. Dia juga enggak
nuntut apa-apa dari si Saga. Keluarga si Hesti juga udah pasrah. Jadi ya udah,
sih. Cuma yaaa ... can you believe it? Teman kelas kita ngehamilin anak
orang, lalu menghilang gitu aja tanpa kabar.”
Rama baru selesai mengecek PDDikti.
Nama Saga tidak terdaftar sekali pun di sana. Semua orang yang
bernama Saga tidak ada yang berkuliah di Bali dengan Jurusan Pendidikan
Olahraga.
“I think he’s problematic sejak SMA,” lanjut Vina. “Secara
tampang, mukanya tuh ganteng, tapi bukan ganteng yang banget-banget, tapi seksi
aja gitu. Bikin pengin ngamar ama dia. Cuma ya karena gue tahu dia orangnya
kayak gimana, jangankan pacaran ama dia, ngewe pun gue mikir-mikir dulu.
Mending gue ngewe ama elo lagi anjir, meskipun elo bukan the best,
tapi daripada sama si Saga ....”
Rama tidak mendengarkan pernyataan itu. Dia juga tak
tersinggung soal ngewe-nya bukan the best. Rama sedang fokus
mencerna fakta yang baru diterimanya. Yang lama-lama berujung pada ....
... apakah ini ada kaitannya dengan kesulitan keuangan Saga
dan fakta bahwa dia tak bisa lagi membayar kos sampai harus numpang ke Rama?
[ ... ]
Obrolan soal Saga tak berlangsung lama. Vina mengakhirinya
dengan candaan, “Pokoknya kalau elo tahu di mana Saga, kabari-kabarin, yeee
.... Dicariin bokapnya si Hesti! Hahaha! Suruh tanggung jawab sama anaknya. At
least pulang, lah. Jangan jadi pengecut!”
Usai berpisah dari Vina, Rama langsung pulang ke kosannya. Sepanjang
perjalanan, Rama termenung pada informasi soal Saga. Dia masih tak percaya itu
terjadi. Semuanya memang masuk akal, mengingat hobi Saga adalah ngentot sana
sini. Di-sepong Rama saja spermanya muncrat tanpa aba-aba. Misal Saga
telat ngangkat pas lagi crot, enggak akan aneh kalau dia ngehamilin anak
orang.
Akan tetapi, apakah itu berkaitan juga dengan kondisi Saga
yang mencurigakan akhir-akhir ini?
Diusir dari kosan. Tak punya uang untuk ngewe bareng
Melinda di Oyo. Pulang entah jam berapa. Entah pergi kuliah atau tidak. Menggunakan
semua peralatan mandi Rama seolah-olah beli sabun pun tak mampu. Tak pernah
kelihatan membawa buku. Dan banyak pertanyaan lain yang membuat Rama ragu
apakah Saga betulan mahasiswa aktif di Bali atau bukan?
Ingin sekali Rama membahas soal ini bersama Saga. Ingin sekali
Rama menawarkan bantuan, atau membantu mencari solusi dari masalah Saga. Rama
tak masalah kalau Saga masih harus menumpang di kosannya—toh Rama juga
menikmati kehadiran Saga meskipun lelaki itu lumayan jorok, kurang ajar, dan
hobinya ngewe doang. Takutnya Saga tak tahu cara mengekspresikan
perasaannya, Rama ingin sekali menjadi pihak yang mendengarkan. Siapa tahu Saga
ingin bertemu anaknya, tetapi dia tak tahu cara mengatakannya.
Hari Jumat, biasanya Rama pulang sore karena ada kuliah
presentasi siang hari. Mengingat hari ini dia bolos untuk bertemu Vina, Rama
pun pulang di luar jadwal seharusnya. Ketika dia tiba di kosan, ternyata Saga
sedang ada di dalam kamar.
Saga sedang mengaduk-aduk laci pribadi Rama.
“Oh, hei. Ram!” Saga melompat kecil, terkejut ketika Rama
tiba-tiba membuka pintu.
“Oh. Hei. Lagi ... nyari apa?”
Saga menghampiri lagi laci Rama itu, “Elo punya ... shaver?”
“Alat cukur?”
“Yoi.” Saga mengaduk-aduk lagi, tetapi tak
menemukannya. Dia menutup kembali laci. Saga sedang telanjang dada, tetapi
tungkainya dibalut celana jeans. Antara dia mau pergi, atau dia baru
pulang dari suatu tempat.
“Buat apa?”
“Buat ... nyukur.” Saga terkekeh canggung.
“Kamu enggak punya jenggot,” balas Rama, masuk ke kamar
setelah membuka sepatu, lalu meletakkan ransel di tempat biasanya.
“Hehehe.” Saga masih terkekeh. Dia menggaruk kepalanya dengan
salah tingkah, lagi-lagi tak berani menatap wajah Rama. “Gue mau ... nyukur ...
yang lain.”
Rama membelalak kecil.
Akhirnya, Saga menyerah. Dia mengakui dengan jujur. “Gue mau
main, Ram. Hehehe ... ama cewek.”
“Melinda?”
“Oh, bukan. Beda lagi.” Saga menggaruk tengkuknya. “Dia dari
Ukraina. Tapi dia ... dia kagak suka yang banyak bulunya. Elo tahu sendiri, kan
....” Saga mengangkat satu tangannya untuk menunjuk bulu keteknya, lalu tangan
itu juga berputar-putar di depan selangkangannya, menunjukkan area jembut. “You
know lah.”
“Elo mau grooming?”
“Nah, itu.” Saga mengangkat jempolnya dengan awkward.
“Emang bisa shaving sendiri?”
“Kalau elo mau bantuin juga gue enggak masalah, Ram. Hehehe.”
Saga cengar-cengir lagi, matanya melirik ke arah Rama, tetapi kemudian
dilemparkan ke arah lain dengan malu.
Dada Rama berdebar-debar. Mendengar kemungkinan dia bisa
mencukur bulu-bulu di tubuh Saga, darahnya berdesir dengan cepat. Tentu saja
Rama mau mencukurkan bulu-bulu itu, meskipun sebenarnya Rama menyukai bulu-bulu
di tubuh Saga. Rama berharap bulu-bulu itu tak pernah dicukur.
Tapi sebenarnya apa yang harus Rama lakukan?
Bahas dulu perkara kehamilan Hesti karena itu lebih penting?
Membuka ruang diskusi dengan Saga, barangkali dia butuh bantuan? Yang artinya,
jangan pernah berikan akses pada shaver itu? Jangan ada sehelai pun bulu
yang dicukur dari tubuh Saga?
Ataukah, lupakan soal Hesti dan langsung cukur seluruh bulu di
tubuh Saga? Baik itu bulu ketek, jembut, dan yang ada di bool Saga itu?
Pura-pura saja Rama tak tahu cerita soal Hesti dan berharap Saga akan cerita
secara inisiatif suatu hari nanti?
Ataukah, pinjamkan shaver hanya jika Saga mau membuka
diskusi soal Hesti? Dengan syarat, bulu keteknya tidak boleh digunduli—hanya
jembut saja yang boleh dicukur? Mungkin dengan alasan shaver-nya tidak pernah
dipake untuk ketek. Itu pun
Atau mungkin ..., Rama tawarkan cukur ketek saja, dengan
alasan jembut adalah simbol kejantanan pria—semua perempuan akan suka—sambil
sedikit demi sedikit membuka topik soal Hesti dan melihat bagaimana reaksi Saga
ketika nama itu tiba-tiba disebut Rama?
Manakah pilihan yang paling aman, tepat, tetap menjaga relasi
antara Rama dan Saga, tetapi Rama bisa tahu lebih banyak tentang isu Saga, dan
tentunya Rama tetap puas dengan situasi rambut-rambut di tubuh Saga setelah
ini?
[ ... ]
Voting digagalkan.
Cek pilihan voting yang tidak terpilih di sini
Part 3 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 5
Komentar
Posting Komentar