(SKS) Part 5




“Menurut gue ..., mending jangan dicukur, Ga.”

Itu adalah kata-kata pertama Rama setelah memberi jeda beberapa saat untuk berpikir. Rama menghela napasnya dan menutup pintu kamar. Dia menghampiri Saga, mengamati bulu ketek lelaki itu dengan senyum kecil, lalu menarik kursi belajarnya untuk duduk.

“Gue punya shaver. Tapi shaver-nya cuma gue pake di bawah sono. For safety reason, gue enggak bisa pinjemin karena elo sexually active. Takutnya ada crabs di situ, Pthirus pubis, kutu kemaluan ..., entar gue jadi kena juga.”

“Bukannya better kalau area situ gundul, Ram?” Saga mundur dan menyandarkan pantatnya ke meja yang menjadi pembatas antara common area dan kamar tidur. Dia melipat tangan di depan dada sambil mengerutkan alis. “Kalau bersih kan, kutu kemaluannya enggak akan nular.”

Shaving atau waxing ningkatin risiko IMS,” balas Rama seraya geleng-geleng kepala. “Luka kecil setitik gara-gara shaving di sekitar situ bisa bikin elo kena klamidia ..., herpes ..., HPV .... Meskipun elo udah pake kondom.”

“Asli, Ram?”

“Yang kuliah kedokteran di ruangan ini siapa?”

Dengan terpaksa, Saga hanya manggut-manggut saja mendengar itu. Ada kekecewaan dalam dirinya karena rencana ngewe dengan bule Ukraina itu mungkin terhambat gara-gara urusan perbuluan. Sedapat mungkin Saga memutar otak mencari alternatif lain agar tujuannya tercapai.

“Tunggu sehari dua hari boleh, lah,” lanjut Rama. “Kalau baru dicukur sekarang, terus langsung dipake tempur ..., risikonya tinggi.”

“Jadi gapapa kalau gue mau gundulin juga?”

“Secara medis sih jangan. Jembut elo itu bisa ngelindungin titit elo dari bakteri, dari gesekan di balik celana, bahkan ngatur suhu juga. Kalau harus dipendekin, ya jangan sampe gundul, Ga. Minimal sisain satu senti. Biar enggak gampang iritasi.”

Saga menunduk dan menurunkan celana jeans-nya agar jembut itu bisa mengintip keluar. Dia menyisir jembut paling atas dengan jemarinya, memainkannya. “Banyak cewek yang suka sebenarnya,” gumam Saga.

Gue aja suka, Ga, tambah Rama dalam hati. Gue enggak mau sehelai pun bulu elo cukur dengan sengaja demi orang lain. “Soalnya elo lebih bagusan banyak bulunya.”

“Hah?”

“Hah?”

Rama membeku tiba-tiba.

“Elo ngomong apa?” tanya Saga, masih sambil menarik-narik jembutnya ke atas, keluar dari celana.

FUCK!

Rama panik bukan main. Ternyata ada satu kalimatnya, YANG SEHARUSNYA DIUCAPKAN DALAM HATI, meluncur keluar dari mulut Rama tanpa disadari. Enggak keras suaranya, tapi Saga bisa mendengarnya.

“Gue lebih bagusan banyak bulunya?” ulang Saga, akhirnya mendongak menatap Rama, melipat lagi tangannya di depan dada, dan melepaskan jembut-jembut itu. (Jembut-jembutnya masih menyempil keluar dari balik celana Saga.)

Rama mulas bukan main. Jantungnya seperti hampir copot. Dia tak bisa bergerak karena seluruh tubuhnya lemas seketika. Namun, berhubung kemampuan akting Rama sudah sekaliber Oscar-Award winner (bertahun-tahun berperan sebagai seorang lelaki straight), Rama pun merespons, “Bulu-bulu elo tuh bikin elo macho, Ga.”

Lalu, Rama menyadari pernyataan itu gay banget. Karena enggak mungkin lelaki straight memuji ke-macho-an lelaki lain.

Jadi, Rama mencoba menambahkan, “Gue aja pengin ..., bulu-bulu elo.”

“Pengin?”

GOBLOK LU RAM!

“Pengin punya kayak elo,” sergah Rama meralat, sambil menelan ludah. Rama benar-benar panik. “Misalnya ..., bulu ketek elo itu ... seksi.”

Fuck.

Saga mengangkat lagi satu lengannya, lalu dengan tangannya yang lain dia tarik-tarik bulu keteknya. Pandangannya terlihat bingung menatap bulu keteknya sendiri.

Rama mencoba menyelamatkan dirinya untuk kali terakhir. Dirinya sudah panik. Yang dia tahu, kalau sudah kecemplung begini, mendingan tenggelam dulu ke bawah, lalu meluncur ke permukaan air. Jadi, Rama berkata, “Udah dari lama gue iri sama elo.”

Saga menoleh bingung.

“Bulu ketek elo, bulu jembut elo, lebat. Punya gue kan normal aja. Cewek yang pernah ama gue, rata-rata lebih suka cowok yang banyak bulunya. Makanya gue iri pengin kayak elo. Pengin serimbun elo.”

Saga manggut-manggut. “Si Melinda aja suka bulu-bulu gue,” gumamnya. “Yang kemaren gue maen ama dia di sini, yang elo belajar di situ ..., pas gue di-sepong, elo lihat enggak? Si Melinda ndusel-ndusel di jembut gue.” Saga terkekeh.

“Gue enggak tahu. Gue lagi nelepon kayaknya.”

“Oh iya. Elo lagi nelepon.” Saga tersenyum kecil membayangkan lagi bagian itu. “Gila, gila.”

Girls love body hair, Ga.” Rama mengangkat bahu. “Itu simbol kejantanan lelaki. Daripada elo harus gundul demi ngewe ama bule, mendingan cari bule yang nerima elo apa adanya. Gimana kalau cewek berikutnya yang elo ajak main ilfeel karena badan elo kayak anak SD, mulus enggak ada bulunya.”

“Iya juga, ya.” Saga manggut-manggut sambil menunduk lagi menatap jembut-jembutnya yang menyempil keluar dari balik celana.

Tiba-tiba mereka berdua terdiam tanpa pembicaraan apa pun. Jedanya cukup panjang. Saga sibuk memainkan lagi jembut-jembut yang menyempil keluar. Rama sibuk mengamati Saga memainkan jembut-jembut yang menyempil keluar.

Rama sange, tentu saja.

Rama juga happy karena Saga tidak jadi menggunduli tubuhnya. Rama tak bisa membayangkan jika ketek yang seksi itu, atau area perut bawah yang menggiurkan itu kini botak tanpa bulu.

Keheningan yang merayap di antara mereka mulai menghadirkan lagi rasa canggung. Mengingat Rama merasa Saga menghindarinya seminggu terakhir, Rama berinisiatif untuk membahas kejadian minggu lalu.

Sorry buat yang kemaren,” ungkap Rama sambil membungkuk dan menggosok tengkuknya, tak berani menatap Saga.

Saga mendongak. “Yang mana?”

Rama menghela napas lalu menunjuk tempat tidur dengan dagunya. “Yang di situ.”

Saga menoleh sebentar, masih bingung dengan bagian yang mana.

“Yang gue telen.”

“Oooh.” Sekarang Saga yang canggung. Saga juga mengalihkan pandangan ke arah lain.

Sorry gue lancang ngisap elo terus-terusan sampe elo keluar di dalam.”

“Aman, Bro. Aman.” Saga menghela napas. Ada jeda sejenak juga sampai akhirnya Saga berbicara, “Sorry gue keluar di mulut elo.”

That’s okay. Gue yang salah. Gue denger elo nyuruh berhenti, tapi gue malah lanjut karena gue pengin tahu, gue bisa bikin elo keluar atau enggak. Ternyata bisa.”

“Itu karena gue yang hyper.”

“Itu sih pasti. Hahaha.”

“Hahaha.”

Kecanggungan meleleh lagi.

Sambil meredakan kekehannya, Saga menambahkan, “Ini penyakit gue dari kecil. Dari SD gue suka banget ama cewek bugil. Gue sering ngintip mbak-mbak mandi. Gue pernah mainin memeknya sepupu gue. Kacau, lah. Kacau. Namanya juga bocah.”

“Iya. Namanya juga laki.”

“Malam pertama gue pas masih SMP, Ram. Ama cewek gue. Gue pura-pura pengin mainin memek dia, lama-lama masuk juga. Hahaha. Dari situ, gue lebih sering ngewe daripada coli.”

“Oya?” Rama mendongak menatap wajah Saga.

Lelaki itu mengangguk kecil, sambil mengusap-usap perutnya ala cowok straight kalau lagi ngobrol santai. “Gue kagak suka ngocok. Sukanya dikocokin. Jadi kalau enggak masuk juga ..., yang penting ada yang ngocokin, itu gue udah aman tuh.” Saga terkekeh. Lalu, tiba-tiba memainkan nenennya.

Bukan dalam konteks seksual. Cowok straight, kalau lagi telanjang dada begini, lalu mengobrol santai dengan cowok straight lain, kadang tanpa sadar memainkan tubuhnya. Menarik-narik puting, menarik-narik bulu ketek, mengusap-usap perut, kadang memainkan kontol juga.

Sambil setengah melamun, Saga menarik-narik puting itu di depan Rama.

Sebagai gay pencinta Saga, Rama hampir melayang ke surga melihat adegan itu. Terpaksa Rama merapatkan paha agar kontol ngaceng-nya tidak terekspos.

“Elo lebih suka dikocokin ..., atau lebih suka ngocok sendiri, Ram?” tanya Saga kemudian.

Jawaban yang benar adalah ngocok sendiri, biar ritme, grip, dan speed-nya bisa Rama sesuaikan. Namun di depan Saga, Rama menjawab, “Dikocokin.”

“Sama, anjir.” Saga terkekeh. “Gampang lah, Bro. Kalau lagi pengin, terus kita enggak ada objek, saling bantu aja.” Saga mengangkat kedua alisnya dengan penuh kode. “Simbosis mutualistis.”

Mutualisme, anjeng! Untung gue suka elo, Saga!

Karena relasi itu benar-benar mencair, Rama mulai nekat flirting ke arah sensual. “Halah ..., kosan aja gue bagi ama elo, ngocokin titit elo doang mah santuy.” Rama mengangkat jempol.

“Hahaha.” Saga mengangkat jempol dengan gelak tawa yang santai. “Asyik, Bro. Asli. Gue tungguin. Hahaha.”

“Mau apa lagi? Mau jembutnya gue nduselin?

“Anjir! Hahaha ....”

“Keteknya gue nduselin juga?”

“Udaaahhh ....” Sambil terkekeh, Saga menarik sehelai tisu yang berada di dekatnya, lalu meremasnya hingga menggumpal, kemudian melemparkannya ke wajah Rama.

Sambil menghindar dari gumpalan tisu itu, Rama tetap melanjutkan, “Cipokan juga gue terima.”

“Baper elo nanti.” Saga geleng-geleng kepala.

“Atau mau gue jilmek lagi di belakang?”

Anehnya, tawa Saga malah mereda. Vibes-nya mendadak berubah. Saga tidak terlihat marah, tetapi Saga kepo. “Elo sekangen itu ama cewek elo, sampe pantat gue elo jilatin?”

Rama setengah panik melihat reaksi Saga. “I ... iya. Hehehe. Tapi bukan cewek yang ini. Cewek gue yang dulu.” Jawaban Rama ini mengarang bebas. “Cewek yang sekarang agak-agak demanding. Ngewe-nya juga ribet. Lebih simpel ama elo, Ga.” Nah, kalau yang itu jujur dari hati.

“Cewek yang mana?”

Aduh, pake ditanya. Rama menggosok lagi tengkuknya sambil mencoba mencari jawaban tercepat. Satu-satunya yang masuk ke kepala Rama adalah Vina, karena tadi sudah bertemu Vina, dan Saga kenal Vina.

“Vina,” jawab Rama.

Saga manggut-manggut. “Emang ngangenin dia.” Saga menggumpal lagi tisu, dan kembali melemparkannya ke Rama. “Goblok emang lu ..., pake putus dari dia.”

“Ya namanya juga enggak jodoh, Ga. Cuma kemaren ..., pas lihat pantat elo ..., gue jadi nafsu kebayang si Vina. Tapi ....” Ada sebuah dorongan dalam hati Rama untuk berkata jujur. Dorongan ini meledak menjadi kalimat yang mungkin akan disesali Rama berikutnya. “Tapi ternyata enak juga punya elo, Ga. Gue lagi mumet aja mungkin. Lagi curious juga. Penasaran kalau jilat punya cowok gimana .... Pas gue jilatin, gue keenakan. Makanya gue suruh elo kocokin sampe gue keluar. Sensasinya sama aja kayak ke cewek.”

“Oke.”

Kecanggungan merebak lagi.

Rama mulai panik kembali. Maka dari itu, Rama mulai mengganti topik ke hal yang sebenarnya ingin Rama tanyakan sedari tadi.

“Omong-omong soal Vina,” kata Rama, “barusan gue ketemu ama dia di Potato Head. Dia lagi di Bali.”

Saga yang tadinya menunduk canggung, mengangkat kepalanya. “Vina ..., mantan elo?”

Rama mengangguk. “Gue tahu ini bukan urusan gue, tapi kalau elo emang lagi ada masalah ..., it’s okay, Ga.”

Tiba-tiba saja Saga mengumpat, “Fuck,” dengan suara pelan, sambil dia berdiri dan berbalik. Kedua tangannya di atas kepala, memamerkan ketek lebatnya. Saga pun mondar-mandir di depan tempat tidur. Saga mulai paham arah pembicaraan Rama ke mana. Dia terlihat panik. Gelisah. Kepalanya geleng-geleng kecil dengan ketek terekspos seksi.

Rama dapat melihat dada Saga naik turun karena napasnya memburu.

“Gue anggap elo tahu apa yang mau gue omongin ini,” lanjut Rama. “Vina ngasih tahu soal reunian kelas kita kemaren. Dia juga nyeritain semua gosip yang dibahas di sana. Semuanya. Termasuk elo.”

Saga pun berbalik memunggungi Rama.

Rama hanya bisa melihat lengan kekar dan bahu lebar itu dari belakang.

It’s okay, I won’t judge. Gue di sini justru ....” Rama tak tahu harus mengatakan apa. “Justru ..., kalau elo butuh bantuan, please bilang. Gue mungkin bukan the best savior, tapi kalau gue bisa bantu, gue bakal bantu—“

“Duit bulanan gue ..., gue kirim buat beli susu,” ungkap Saga kemudian, masih memunggungi Rama. “Financial situation yang gue omongin kemarin tuh ... ya soal itu. Gue masih dapat duit dari bokap nyokap gue, tapi terpaksa uang kosan harus gue kirim ke dia supaya dia ada pegangan. Sorry kalau elo harus find out soal ini kayak begini, Ram.”

It’s okay, Bro,” gumam Rama. Dia berdiri dari kursinya, menghampiri Saga. Rama menepuk-nepuk bahu Saga dari belakang. “Gue enggak tahu se-complicated apa masalah elo. Sejauh ini gue baru denger dari satu sisi aja. Itu pun sisinya si Vina, yang dapat cerita dari orang lain juga. Gue enggak pernah tahu dari sisi elo. Kalau elo belum siap cerita, that’s okay. Kalau elo butuh waktu buat nyelesaiin masalah elo ini sendiri, I appreciate that.

“Gue cuma bisa bantu apa pun yang bisa gue bantu. Soal kosan doang mah ..., enggak usah dipikirin. Soal sabun-sabun gue yang elo pake, atau koleksi kondom gue yang mendadak habis—“

Saga tiba-tiba berbalik. “Sumpah entar gue ganti, Ram.”

It’s okay, Ga. Gapapa.” Rama tersenyum lebar sambil meremas bahu Saga. “Itu semua hal kecil doang. Itu kondom bulan depan udah expired juga anjir. Bagus, lah, kalau elo pake. Hahaha.”

Saga mengusap wajahnya. Lalu, dia berkacak pinggang sambil mengatur napas.

Rama menepuk bahu Saga, “Gue enggak akan bisa bantu elo duit. Soalnya duit gue juga masih dari ortu, gue enggak punya penghasilan tambahan. Tapi hal-hal yang punya gue, kalau emang bisa di-share, gue bakal share ama elo. Jadi elo enggak usah khawatir.”

Thanks, Ram.” Saga balas menepuk Rama. Di pinggang.

“Jadi, ini enggak usah dicukur,” Rama dengan jail menarik bulu ketek Saga, “ini jangan dicukur juga,” Rama memegang perut rata Saga, “kalau mau ngewe ama bule, cari lagi yang lain lah, Ga. Elo kan ganteng. Enggak bakal susah dapetin cewek bule di sini.”

Saga terkekeh.

Rama pun mundur sambil berjalan ke kamar mandi. “Oh iya, elo mau ke mana sore ini? Ada acara?”

Saga melihat jam di pergelangan tangannya. “Harusnya sih main ama si Ukraina sejam lagi.”

“Ikut gue ke GrandLucky aja gimana?” tanya Rama sambil berjalan mundur. “Gue mau belanja bulanan. Jadi kalau elo mau sekalian beli sabun, atau kondom, bisa sekalian.”

“Boleh, boleh.” Saga mengacungkan jempolnya.

“Habis GrandLucky, kalau mau nongkrong sunset-an di Canggu juga ayo. Siapa tahu elo mau nyari cewek. Hahaha.”

“Hahaha. Oke sip!”

“Gue pipis dulu. Entar kita naik mobil aja.”

Rama pun masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Dia bersandar di balik pintu, menghidu tangannya yang tadi menarik bulu ketek Saga dengan jail. “Hmmm .... aaahhh ....” Menghirup aromanya dengan khidmat.

Rama sange.


[ ... ]


Ada banyak yang ingin Rama sampaikan soal Hesti bersama Saga. Namun, dia tak mau merusak dinamika relasi mereka berdua. Rama tak mau mereka terjerumus dalam rasa canggung yang menyesakkan dada. Pelan-pelan saja, pikir Rama. Tidak perlu memberondong Saga dengan segala informasi dari Vina.

Salah satunya tentang tak adanya nama Saga di PDDikti. Jika Saga di-drop out dari kampusnya pun, nama Saga harusnya tetap tercatat. Bulan lalu Saga masih tampil dalam pertandingan basket bersama kampus itu. Enggak mungkin Saga tidak tercatat sebagai mahasiswa di sana.

Namun, biarkan itu menjadi kepingan-kepingan misteri yang Rama kuak seiring waktu. Yang paling penting sekarang adalah mempererat hubungan Rama dan Saga. Rama tahu dia tak akan pernah memiliki Saga, apalagi ternyata Saga seorang ayah. Yang bisa Rama lakukan adalah memanfaatkan kesempatan sekosan ini sebagai alat untuk berada lebih dekat dengan Saga.

Maka dari itu, Rama betulan membawa Saga belanja ke GrandLucky, salah satu supermarket besar yang ada di Bali. Mereka menaiki mobil Rama melewati ramainya lalu lintas Denpasar (yang ramai karena jalanannya sempit). Rama sudah tidak merasakan lagi debaran dada, mulas perut, maupun dinginnya keringat seperti yang selalu dia rasakan selama ini. Ya, Rama masih grogi-grogi-naksir dengan hadirnya Saga di jok penumpang. Namun, sensasi itu malah membuat hati Rama terasa nyaman dan damai.

Di GrandLucky, mereka menyusuri setiap lorong meskipun tak ada yang dibeli di lorong tersebut. Topik soal kehidupan mereka di Bali mendominasi perbincangan. Apalagi yang berkaitan dengan kehidupan seksual Saga.

“Di sini orang-orangnya enggak muna,” ungkap Saga sambil membolak-balik satu kotak kondom untuk melihat deskripsi produk. “Kalau mereka pengin, ya mereka bilang. Enggak perlu ngumpet-ngumpet juga.”

“Jangan ambil yang itu. Ketebelan. Udah gitu kecil-kecil. Enggak enak,” kata Rama sambil menarik Okamoto 003 di jejeran kondom mahal.

“Punya elo aja yang kegedean, Ram. Hahaha.” Saga menyenggol Rama sambil setuju mengambil merek kondom yang lebih mahal. “Tapi bisa bangkrut gue kalau tiap maen pake yang ini ....”

“Enggak akan lebih mahal dari susu bayi. Udah, masukin aja. It’s on me.”

“Hahaha .... Thanks, Bro.” Saga menyenggol lagi lengan Rama, lalu meraup kira-kira enam kotak kondom mahal itu ke dalam keranjang.

Rama pikir hanya dua atau tiga kotak saja sih yang akan Saga beli. Tapi ya sudah.

“Sejak kejadian itu,” lanjut Saga, memimpin Rama berjalan lagi menyusuri lorong berikutnya, “Gue enggak pernah enggak pake kondom.”

“Takut kebablasan lagi?”

Saga mengiakan dengan gerakan alis ke atas. Dia menghela napas panjang lalu menambahkan, “Makanya kalau gue lagi enggak pake kondom, asli ..., itu bisa enak banget.”

“Tapi kalau lagi di-sepong, elo enggak pake kondom, kan?”

“Gue sih sering pake,” ungkap Saga. “Enggak semua cewek pengin ngisap telanjang kayak gitu. Ada juga yang mesti dikaretin dulu. Makanya kondom ada varian rasa.”

“Tapi kalau enggak pake, sensasinya lebih enak, kan?”

That’s why, Bro,” balas Saga, lalu tersenyum tengil sambil mengedipkan sebelah matanya. Rama pikir Saga akan menjelaskan kelanjutan dari that’s why-nya, tetapi Saga malah mengedikkan kepala ke arah lain, “Yuk!”

Rama paham Saga merujuk pada kejadian dirinya crot di dalam mulut Rama.

“That’s why” Saga crot karena sepong-an Rama memang seenak itu karena tanpa kondom.

Dari GrandLucky, keduanya melaju ke area Canggu yang macet dan tiba di FINNS Beach Club menjelang matahari terbenam. Karena ini Jumat sore, beach club itu ramai. Kolamnya hampir penuh, setiap daybed-nya terisi, dan barnya juga masih diduduki banyak orang. Alhasil, Rama dan Saga berjalan kaki dulu di Pantai Berawa, dengan santai membiarkan kaki mereka didebur ombak sambil menyusuri garis pantai barat Bali itu ke Nelayan, Canggu, Batu Bolong, hingga Muncuk Catu.

Pantai-pantai itu ramai oleh orang yang sedang menikmati matahari terbenam—kebetulan cuacanya cerah sore ini. Anjing-anjing berlarian bersama pemiliknya. Bule-bule berbaring santai di atas bean bag sambil menyesap bir dan mengenakan bikini. Turis-turis lokal berfoto bersama rombongannya sambil berbisik-bisik bahwa para bule ini kok enggak tahu malu ya pake bikini di tempat terbuka seperti pantai-pantai ini. Khususnya para nurul yang bergerombol ke sana kemari sambil selfie.

Rama dan Saga berjalan telanjang kaki hampir satu jam, menenteng alas kaki mereka sambil membahas masa-masa SMA. Karena pernah dua tahun satu kelas, obrolan mereka banyak. Khususnya perspektif masing-masing untuk kejadian yang sama.

“Gue baru balik dari ruang OSIS anjir pas Pak Purnomo kena serangan jantung. Itu habis istirahat, kan?”

“Oh iya, ya. Elo kan Ketua OSIS.”

“Gue masuk kelas, tahu-tahu udah rame aja dikerumunin.”

“Si Pak Purnomo juga baru masuk. Kita-kita lagi mau ke bangku masing-masing. Tapi belum nyampe meja, dia udah kolaps.”

“Elo lagi di kelas?”

“Gue kayaknya ... gue enggak ke mana-mana hari itu. Itu masa-masa gue pacaran ama si Neti.”

“Ooohhh ... iya, iya! Elo sempat pacaran ama dia!” Salah satu orang yang Rama benci adalah Neti, karena Neti bisa pacaran sama Saga. Padahal menurut Rama, Neti tuh enggak cantik. Kulitnya jerawatan. Rambutnya juga aneh. “Kok bisa sih elo pacaran ama dia?”

“Cuma sebulan doang, anjir.”

“Iya, tahu. Tapi kenapa bisa?”

“Karena bisa diajak main, Ram. Hahaha ....” Dengan bangga Saga mengangkat dagu, “Gue yang merawanin dia. Ada tujuh cewek yang gue perawanin di SMA.”

“Termasuk si Hesti?”

“Anjing elo, Ram!” Saga mendorong wajah Rama hingga Rama hampir tersungkur. Namun, Saga bercanda saja. Setelahnya dia tertawa.

Rama ikutan tertawa dan melanjutkan lagi jalan-jalan sore sepanjang pantai itu. Ketika mereka kembali lagi ke FINNS, beberapa kursi di bar sudah kosong dan mereka pun menempatinya.

Obrolan mereka sudah mulai merambah anatomi kemaluan perempuan. Saga semangat sekali membahas jutaan pengalamannya dengan perempuan dan bagaimana dia memainkan setiap memek ini hingga para cewek ketagihan. Saga bicara seolah-olah dia dokter kelamin profesional yang sangat berpengalaman. Banyak cewek yang jatuh hati kepadanya dan minta dijadiin pacar.

“Kecuali Vina, ya?” sindir Rama.

“Anjing!” Saga hampir tersedak karena sedang menenggak bir. “Sialan lu!” Saga menyikut Rama di sebelahnya sambil tergelak. “Tapi emang dia susah banget didapatin.”

“Gampang ...,” jawab Rama, terkekeh kecil. “Dia suka cowok yang rapi, yang pinter, yang obrolannya bukan seks doang.”

“Elo main kan ama dia?”

“Ya main, lah!” Rama menenggak birnya dengan bangga. “Di rumah dia, anjir. Pas bonyoknya lagi enggak ada.”

“Wahahaha! Parah!” Saga menyikut lagi. Wajahnya mulai teler karena beberapa minuman Saga mengandung vodka, sehingga Saga mulai mabuk.

Sepanjang duduk dua jam di bar itu, selain mengobrol, Saga juga menggoda beberapa cewek yang ada. Biasanya Saga menyapa siapa pun yang duduk dekat mereka, atau jika ada yang lewat di belakangnya. Namun, obrolan yang menjurus itu rata-rata tidak berakhir ke mana-mana. Kecuali satu cewek lokal dari Jakarta yang sedari tadi ngirim-ngirim kode ke Saga, dan Saga pun memberi balasan positif. Cewek itu menghampiri meja mereka, berbincang-bincang di tengah ingar bingar lagu beat yang diputar club, tahu-tahu keduanya pergi ke toilet. Begitu Saga kembali ke meja, Saga hanya terkekeh sambil merangkul Rama, “Anjing, ketahuan! Hahaha! Gue disuruh pergi!”

“Apaan, sih?” Rama celingukan ke belakang, mencari cewek Jakarta tadi.

“Gue lagi di-sepong si Tania, yang barusan, tapi ada security gedor-gedor pintu karena kelamaan. Terus kita diusir. Hahaha ...! Yuk, Ram!”

Rama baru menemukan seorang security berdiri dan melihat ke arah mereka dengan pandangan tak suka. Dengan pasrah Rama pun membayar bill dan membuntuti Saga ke luar. Saga memberi kode telepon dengan jarinya ke arah Tania yang sudah kembali lagi ke mejanya, duduk bersama teman-temannya. Yang artinya mereka berdua sudah bertukar nomor WhatsApp.

“Enggak lanjut ama dia?” tanya Rama sambil keduanya berjalan menuju mobil.

Setengah mabuk, dan menyelesaikan sekaleng bir yang belum habis, Saga menjawab, “Kagak bisa. Dia ada acara malam ini. Tapi besok atau lusa mau janjian ketemu. Paling gue ajak dia ke kosan.”

“Oke.” Rama manggut-manggut. “Jadi tadi sempet ngapain?”

“Cuma cipokan ama nyepong doang.” Saga bersendawa kecil. “Gue remas juga teteknya.”

“Belum masuk?”

Saga menggeleng.

“Pake kondom?”

“Masih gue pake, anjing! Hahaha!” Saga tiba-tiba menarik kausnya ke atas, menunjukkan celana jeans-nya belum dikaitkan, lalu dia menarik celana itu ke depan beserta sempaknya.

Rama yang sedang ada di sampingnya dapat melihat kontol lemas yang masih dibungkus kondom. Rama terkejut karena ini masih di tempat umum. Banyak orang berseliweran di sekitar mereka.

Untungnya Saga hanya memamerkan kontol lemas berkondom itu beberapa detik saja. Setelahnya dia berjalan lagi sambil merangkul Rama, karena langkahnya mulai agak sempoyongan.

Kelihatannya vodka berhasil membuat mood Saga gembira. Ya, Saga agak-agak mabuk, tetapi setidaknya dia tidak sedih karena gagal ngewe dengan bule Ukraina itu. Sepanjang perjalanan pulang, Saga masih meracau tentang memek. Rama hanya sanggup menimpali dengan “iya” atau terkekeh paham, padahal sebenarnya Rama enggak begitu tertarik dengan apa yang Saga bicarakan.

Saga masih bisa berjalan sendiri, meskipun kepalanya berkali-kali dia guncang karena pusing. Saga berjalan duluan ke kamar, lalu berdiri di depan pintu sambil mendorong kusennya—menunggu Rama muncul dengan kunci kamar. Begitu Rama tiba dan membukakan pintu, Saga langsung melepas sepatunya, melemparkan sembarang, dan membuka bajunya.

“Elo mau keluar lagi malam ini?” tanya Rama sambil meletakkan belanjaan dari GrandLucky ke atas meja.

“Enggak.” Saga menghempaskan pantatnya ke atas tempat tidur, bertopang pada kedua tangannya. Dia menenangkan dirinya. “Toh hari ini gue udah kencan ama elo.”

Rama tahu Saga cuma bercanda, tetapi Rama tetap deg-degan mendengar itu. Rama tersipu malu, tak berani mengangkat wajahnya menatap sang pujaan hati. Dia mengunci pintu dengan napas memburu, kemudian membereskan beberapa isi belanjaan ke kulkas atau lemari.

Setelah Rama selesai merapikan belanjaan, Saga tampaknya sudah mendingan sedikit. Dia berdiri dan mulai melorotkan celananya. Termasuk sempaknya. Dalam pencahayaan terang, untuk kali pertama ....

... Rama melihat kontol Saga.

Kontol itu, anehnya, setengah ngaceng. Masih terbalut kondom. Saga menarik ujungnya agar kondom lepas, tetapi kondom itu tak lepas juga.

Dengan inisiatif, Rama pun berjongkok di depan Saga dan membantunya melepaskan kondom itu pelan-pelan. Dada Rama berdebar-debar saat wajahnya kembali berada dekat dengan kontol sang pujaan hati. Rama tersenyum kecil, mungkin tipsy tipis-tipis juga, merasa sangat bahagia bisa menatap kontol itu dengan sangat jelas.

Namun, karena Rama berjongkok, Saga tiba-tiba memegang kepala Rama, dan mengarahkan kontolnya ke wajah Rama.

“Isap,” bisik Saga di tengah keheningan.

Rama membelalak. Dia  mendongak menatap wajah Saga di atasnya.

Saga tak memberikan ekspresi apa-apa selain ekspresi sange karena sepong-annya tidak tuntas di beach club tadi. Saga mengulangi perintahnya, “Isap.”

Dan Rama pun ..., mengulum kontol itu.

Rama sudah melepaskan kondom di kontol Saga sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Entah setan apa yang menguasai Saga, tetapi kontol itu membesar dan mengeras selama berada di dalam mulut Rama. Kontol hangat yang kulitnya kenyal dan licin, yang langsung memenuhi mulut Rama hingga calon dokter itu hampir tersedak. Hidung Rama terbenam di jembut Saga yang lebat. Rama hirup aroma jembut Saga kuat-kuat, membiarkan kepalanya terisi oleh memori jembut Saga yang nikmat.

“Aaaaaahhh ....” Saga memejamkan matanya menikmati sepong-an Rama. Saga menggerakkan panggulnya maju mundur agar kontolnya bisa menggenjot mulut Rama. Kedua tangannya berpegangan ke meja sementara pantatnya meliuk-liuk dengan ahli. “Anjing .... Aaaaaahhh ....”

Rama tak bisa berkata apa-apa selain membiarkan kontol itu melecehkan mulutnya. Kepala kontol Saga menghantam uvula Rama berkali-kali. Gerakan kontol itu cukup cepat, sehingga Rama hanya bisa melantunkan napas tercekat.

“Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...!”

Rama mulai memejamkan matanya seperti teler. Lidahnya menari-nari dengan liar menyambut kontol Saga yang bergerak keluar masuk. Setiap kali hidung Rama terbenam di jembut Saga yang lebat, Rama mendesah penuh syukur. “Hmmmmmmhhh ....” Aroma jembut itu begitu nikmat. Aroma kontol dalam situasi lembap, dengan ada sedikit aroma sabun Rama.

“Anjiiiiiinnnggg .... Enak elo, Raaammmhhh ... Aaaaaahhh ....” Saga meracau setengah mabuk. Kedua otot lengannya mengeras saat berpegangan. Tampaknya seluruh tubuh Saga mulai menegang. Meski Saga menunduk ke bawah, dia tak terganggu pada fakta bahwa yang menyepong-nya adalah seorang laki-laki. Saga tetap memutar matanya ke atas hingga memutih untuk mengkhidmati nikmatnya mulut Rama. “Anjiiinnnggg .... Aaaaaahhh ....”

“Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...!”

Mumpung Saga sudah telanjang, Rama pun mengulurkan tangannya ke atas dan mulai memilin-milin puting Saga.

“ANJING!” Saga mengentak terkejut. Tubuhnya bergidik kecil ditemani senyuman yang lebar di bibir. “Terus, Ram! Terus! AAAAAAHHH ...!” Suara Saga terdengar sangat macho. Desahannya terdengar seperti preman yang menggeram.

“Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...!”

Rama tak bisa berkutik. Dia hanya bisa membiarkan mulutnya digenjot kontol Saga sementara kedua tangannya memainkan puting sang pujaan hati. Kadang tangan itu bergerilya ke sana kemari, misal meremas dada Saga yang kekar, atau menyusup ke ketek Saga merasakan tekstur bulu keteknya yang lebat, atau bahkan menarik-narik bulu ketek Saga.

Saga tak tampak terganggu dengan permainan tangan Rama. Dia hanya fokus pada nikmatnya kontol di dalam mulut Rama. Lama-lama genjotannya makin cepat dan Saga pun memegang kepala Rama dengan kedua tangannya.

Mengapa? Karena Saga sudah mencapai puncaknya.

Tiba-tiba dia benamkan kontolnya dalam-dalam di mulut Rama, lalu diam, tak bergerak.

“HMMMMMMPPPHHH!” Rama terkejut karena rongga mulutnya dibenamkan kontol ngaceng Saga secara tiba-tiba. Dijejali dan diam beberapa detik.

Pada detik ketiga setelah kontol itu mendiami mulut Rama, dia menyadari ....

CROT! CROT! CROT! CROT! CROT!

... Saga sedang ejakulasi.

Eeergh! Eeergh! Eeergh!” Tubuh Saga mengentak-entak keenakan. Hidungnya mengernyit hebat. Mulutnya mengerang kecil, menahan napas.

Saga membungkuk ke depan. Tubuhnya hampir limbung karena tak kuasa menahan nikmat itu. Dengan sengaja dia semburkan spermanya ke kerongkongan Rama, tak peduli untuk minta izin terlebih dahulu, tak peduli jika Rama mungkin belum siap.

Rasanya nikmat sekali. Mata Saga berputar ke atas dengan mulut menganga kecil. Bahunya naik turun, mengatur napas yang memburu.

Lalu, Saga mundur sambil mengeluarkan kontolnya, dan ....

BRUK!

... menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.

Saga rebahan dengan setengah tungkainya menjuntai ke atas lantai. Perut Saga kembang kempis mencari napas. Kontol Saga masih ngaceng, berkilat basah oleh ludah Rama, lubangnya masih melelehkan setetes sperma yang ketinggalan. Kepala Saga geleng-geleng seperti orang teler. Senyumnya sempat terkembang dua kali, seperti orang gila yang keenakan. Kemudian, mulutnya itu menganga kecil mencari napas.

Saga tak mengatakan apa-apa lagi selain melantunkan sisa-sisa erangan keenakan karena crot. “Aaaaahhh .... Aaaaaahhh ....”

Tak sampai dua menit sejak dia jatuh telentang di atas ranjang, Saga pun tertidur.


[ ... ]


Rama sungguh berbahagia. Dia bersyukur kemarin sore berhasil mencegah Saga mencukur bulu-bulu di tubuhnya. (Atau dalam bahasa yang benar, rambut tubuh.) Tidurnya pulas mendapati dirinya sudah kencan dengan Saga sepanjang sore. Belanja ke supermarket seperti pasangan suami istri, membeli kebutuhan pokok. Jalan-jalan di pantai Bali hingga matahari terbenam dan langit benar-benar gelap. Quality time di bar, mengobrolkan apa pun sambil minum-minum dan berteriak lantang karena suara musiknya terlalu keras.

Dan semua ditutup dengan sepong-an itu.

Rama melihat kontol Saga dalam penerangan jelas, lalu Rama menyepong kontol itu hingga crot lagi dalam mulutnya. Rama berbahagia ketika dia dapat menelan lagi sperma Saga ke dalam perutnya.

Sungguh, rasanya seperti terbang ke langit ketujuh. Benar-benar membahagiakan. Perut Rama terasa hangat, dada Rama seperti dipenuhi awan-awan putih yang menenangkan, hati Rama seperti lega dan tak punya beban. Rasanya seperti bergelung di sofa yang nyaman, ditutupi selimut hangat, ditemani secangkir teh kamomil yang masih mengepul panas.

Saking bahagianya, Rama tak kepikiran untuk berbuat kurang ajar ke pujaan hatinya itu. Padahal, Saga dalam kondisi tidur, tak sadarkan diri, dan telanjang bulat. Bisa saja Rama perkosa Saga kalau mau. Namun, Rama malah menggeser Saga ke bagian tempat tidurnya, lalu Rama tinggalkan untuk mandi. Rama masih sempat beres-beres kamar, menelepon Indah untuk mengucapkan selamat malam, mengunggah konten di Instagram-nya, sebelum akhirnya tidur bersama Saga.

Rama selimuti tubuh telanjang Saga yang kontolnya sudah lemas, dan sudah dibersihkan juga oleh Rama menggunakan tisu basah. Ya, Saga belum mandi, tetapi Rama tak masalah. Rama matikan lampu, lalu dia tidur di sebelah Saga dengan sangat berbahagia.

Saking bahagianya, Rama terbangun dengan perasaan tenang keesokan paginya. Rama terbangun pukul 7 pagi pada hari Sabtu. Untung saja hari Sabtu, sehingga tak ada alarm pagi yang akan membangunkannya. Ketika Rama membuka mata, dia sedang berbaring menghadap Saga. Wajahnya berada tepat di depan ketek Saga.

Pujaan hatinya itu tidur dengan kedua tangan terulur ke atas kepala. Telentang, dengan kedua kaki terbuka lebar. Selimutnya sudah turun, menguak kontol yang sedang ngaceng karena morning wood. Matanya masih terpejam dan Rama bisa mendengar dengkuran kecil dari mulutnya.

Rama langsung menghidu aroma ketek Saga pada pagi hari. Aroma serutan pensilnya sungguh kuat, tetapi berkesan cheesy dan asin. Rama mendekatkan wajahnya ke ketek Saga. Dia endus ketek itu, lalu hirup kuat-kuat aromanya.

Rama langsung teler. Keenakan. Dadanya berdebar-debar, sehingga Rama otomatis memegang kontol dan mengocoknya.

Lama-lama, Rama mengocok kontol ngaceng-nya sambil ndusel di ketek Saga.

Lama-lama pula, ndusel-an itu membangunkan Saga. Wajah Rama terbenam terlalu dalam di ketek berbulu itu. Saga mengangkat kepala, setengah sadar melihat temannya sedang menikmati keteknya sambil coli. Alih-alih marah atau apa, Saga tiba-tiba mendekap kepala Rama dengan lengannya.

Rama terkejut saat menyadari Saga ternyata sudah bangun.

Namun, Rama tak bisa berkutik saat Saga dengan sengaja meng-headlock Rama lebih dalam ke keteknya. Mata Rama membelalak, tetapi pandangannya langsung gelap karena seluruh wajah Rama kini terbenam di ketek itu. Kulit wajahnya terasa geli oleh tekstur bulu ketek Saga. Rama hampir tak bisa bernapas sehingga dia menghirup ketek itu kuat-kuat.

Rama panik sebenarnya. Hatinya langsung cemas, takut Saga berpikiran macam-macam karena Rama kepergok ndusel di ketek Saga.

Akan tetapi, Saga malah mendekatkan tubuhnya ke Rama, memindahkan tangan Rama dari kontolnya ke kontol Saga, membiarkan Rama mengocok kontol Saga saja. Saga berbaring miring, mendorong Rama agar rebahan telentang. Ketek Saga menindih wajah itu, membekap Rama tanpa udara. Lalu, Saga pun mengocok kontol Rama sambil geleng-geleng kepala menatap tebalnya kontol sang kawan.

Ya, pagi itu keduanya saling mengocok. Tanpa kata-kata, tanpa permisi, tanpa kesepakatan, tanpa kata-kata romantis. Mungkin ini hanyalah eksekusi janji yang keduanya pernah ikrarkan, yaitu saling membantu kalau sedang sange.

Mungkin Saga merasa Rama sedang kangen ceweknya, sementara yang available hanya Saga, sehingga Saga pun dengan ikhlas mengocok kontol tebal itu.

Rama hampir mampus. Bukan karena wajahnya ditindih ketek Saga hingga tak ada lagi udara, tetapi Rama sudah mencapai puncaknya. Kedua kaki Rama menyelonjor lurus, tanda-tanda hampir ejakulasi.

“Hmmmmmmppphhh ....”

Rama hampir crot.

Dalam waktu beberapa detik, Rama pun akan—

TOK! TOK! TOK!

“YAAANNNGGG! Kamu udah bangun?!”

Indah mengetuk pintu depan.

“Fuck!”

Kedua lelaki itu beringsut menjauh dengan panik. Bahkan mereka menggeser tubuh saling menjauh, seolah-olah khawatir ada orang lain menemukan mereka saling mengocok kontol.

Saga terlihat syok dan panik.

Rama terlihat lebih syok dan panik.

Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat sebelum akhirnya menatap ke arah pintu.

“Cewek elo?” bisik Saga.

“Iya.”

“YAAANNNGGG?! Kamu udah bangun BELOOOMMM ...?!”

TOK! TOK! TOK!

Apa yang harus Rama lakukan?

Membuka pintu, membiarkan Indah masuk, lalu mengenalkan Saga apa adanya? Bahwa Saga adalah teman SMA-nya yang kini share kosan bareng di sini.

Ataukah membuka pintu dan mengenalkan Saga sebagai tamu yang kebetulan menginap di sini? Yang artinya Rama harus buru-buru memasangkan baju ke Saga, karena tak mungkin Saga dipertontonkan telanjang bulat begini dengan kontol ngaceng.

Tapi bagaimana kalau Indah mengenali bahwa Saga adalah pemain basket yang bertanding melawan kampusnya Indah bulan lalu?!

Ataukah sebaiknya Rama menyembunyikan Saga di kamar mandi, menemui Indah, lalu langsung mengajaknya pergi keluar sehingga Indah tak bertemu Saga sama sekali?

Atau abaikan saja Indah? Pura-pura tak ada di kosan, atau Rama telepon dari kamar mandi dan berkata Rama sedang di luar bersama temannya, sehingga tak ada di kosan?

Apa yang harus Rama lakukan?!


[ ... ]

Voting sudah selesai.

Hasil voting terlampir di bawah.


Part 4Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 6

 

Hasil voting:

Jumlah pemilih: 130 orang

Sebanyak 14% (18 orang) pilih “Kenalkan Saga ke Indah apa adanya”

Sebanyak 22% (29 orang) pilih “Kenalkan Saga, tapi tidak jujur sepenuhnya”

Sebanyak 14% (18 orang) pilih “sembunyikan Saga, bawa Indah pergi”

Sebanyak 50% (65 orang) pilih “pura-pura tidak di kosan”

Belum ada pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.

Maka dari itu, Part 6 akan mengikuti suara terbanyak. Klik di sini untuk melihat cerita yang tidak terpilih.

Dengan ini, seluruh voting yang terjadi di Part 5 setelah penayangan Part 6 sudah tidak berlaku lagi.



Komentar