“Menurut gue ..., mending jangan dicukur, Ga.”
Itu adalah kata-kata pertama Rama setelah memberi jeda
beberapa saat untuk berpikir. Rama menghela napasnya dan menutup pintu kamar.
Dia menghampiri Saga, mengamati bulu ketek lelaki itu dengan senyum kecil, lalu
menarik kursi belajarnya untuk duduk.
“Gue punya shaver. Tapi shaver-nya cuma gue pake
di bawah sono. For safety reason, gue enggak bisa pinjemin karena elo sexually
active. Takutnya ada crabs di situ, Pthirus pubis, kutu
kemaluan ..., entar gue jadi kena juga.”
“Bukannya better kalau area situ gundul, Ram?” Saga
mundur dan menyandarkan pantatnya ke meja yang menjadi pembatas antara common
area dan kamar tidur. Dia melipat tangan di depan dada sambil mengerutkan
alis. “Kalau bersih kan, kutu kemaluannya enggak akan nular.”
“Shaving atau waxing ningkatin risiko IMS,”
balas Rama seraya geleng-geleng kepala. “Luka kecil setitik gara-gara shaving
di sekitar situ bisa bikin elo kena klamidia ..., herpes ..., HPV .... Meskipun
elo udah pake kondom.”
“Asli, Ram?”
“Yang kuliah kedokteran di ruangan ini siapa?”
Dengan terpaksa, Saga hanya manggut-manggut saja mendengar
itu. Ada kekecewaan dalam dirinya karena rencana ngewe dengan bule
Ukraina itu mungkin terhambat gara-gara urusan perbuluan. Sedapat mungkin Saga
memutar otak mencari alternatif lain agar tujuannya tercapai.
“Tunggu sehari dua hari boleh, lah,” lanjut Rama. “Kalau baru
dicukur sekarang, terus langsung dipake tempur ..., risikonya tinggi.”
“Jadi gapapa kalau gue mau gundulin juga?”
“Secara medis sih jangan. Jembut elo itu bisa ngelindungin
titit elo dari bakteri, dari gesekan di balik celana, bahkan ngatur suhu juga.
Kalau harus dipendekin, ya jangan sampe gundul, Ga. Minimal sisain satu senti.
Biar enggak gampang iritasi.”
Saga menunduk dan menurunkan celana jeans-nya agar
jembut itu bisa mengintip keluar. Dia menyisir jembut paling atas dengan
jemarinya, memainkannya. “Banyak cewek yang suka sebenarnya,” gumam Saga.
Gue aja suka, Ga, tambah Rama dalam hati. Gue enggak mau
sehelai pun bulu elo cukur dengan sengaja demi orang lain. “Soalnya elo
lebih bagusan banyak bulunya.”
“Hah?”
“Hah?”
Rama membeku tiba-tiba.
“Elo ngomong apa?” tanya Saga, masih sambil menarik-narik
jembutnya ke atas, keluar dari celana.
FUCK!
Rama panik bukan main. Ternyata ada satu kalimatnya, YANG
SEHARUSNYA DIUCAPKAN DALAM HATI, meluncur keluar dari mulut Rama tanpa
disadari. Enggak keras suaranya, tapi Saga bisa mendengarnya.
“Gue lebih bagusan banyak bulunya?” ulang Saga, akhirnya
mendongak menatap Rama, melipat lagi tangannya di depan dada, dan melepaskan
jembut-jembut itu. (Jembut-jembutnya masih menyempil keluar dari balik celana
Saga.)
Rama mulas bukan main. Jantungnya seperti hampir copot. Dia
tak bisa bergerak karena seluruh tubuhnya lemas seketika. Namun, berhubung kemampuan
akting Rama sudah sekaliber Oscar-Award winner (bertahun-tahun berperan
sebagai seorang lelaki straight), Rama pun merespons, “Bulu-bulu elo tuh
bikin elo macho, Ga.”
Lalu, Rama menyadari pernyataan itu gay banget. Karena
enggak mungkin lelaki straight memuji ke-macho-an lelaki lain.
Jadi, Rama mencoba menambahkan, “Gue aja pengin ..., bulu-bulu
elo.”
“Pengin?”
GOBLOK LU RAM!
“Pengin punya kayak elo,” sergah Rama meralat, sambil menelan
ludah. Rama benar-benar panik. “Misalnya ..., bulu ketek elo itu ... seksi.”
Fuck.
Saga mengangkat lagi satu lengannya, lalu dengan tangannya yang
lain dia tarik-tarik bulu keteknya. Pandangannya terlihat bingung menatap bulu
keteknya sendiri.
Rama mencoba menyelamatkan dirinya untuk kali terakhir.
Dirinya sudah panik. Yang dia tahu, kalau sudah kecemplung begini, mendingan
tenggelam dulu ke bawah, lalu meluncur ke permukaan air. Jadi, Rama berkata,
“Udah dari lama gue iri sama elo.”
Saga menoleh bingung.
“Bulu ketek elo, bulu jembut elo, lebat. Punya gue kan normal
aja. Cewek yang pernah ama gue, rata-rata lebih suka cowok yang banyak bulunya.
Makanya gue iri pengin kayak elo. Pengin serimbun elo.”
Saga manggut-manggut. “Si Melinda aja suka bulu-bulu gue,”
gumamnya. “Yang kemaren gue maen ama dia di sini, yang elo belajar di situ ...,
pas gue di-sepong, elo lihat enggak? Si Melinda ndusel-ndusel di
jembut gue.” Saga terkekeh.
“Gue enggak tahu. Gue lagi nelepon kayaknya.”
“Oh iya. Elo lagi nelepon.” Saga tersenyum kecil membayangkan
lagi bagian itu. “Gila, gila.”
“Girls love body hair, Ga.” Rama mengangkat bahu. “Itu
simbol kejantanan lelaki. Daripada elo harus gundul demi ngewe ama bule,
mendingan cari bule yang nerima elo apa adanya. Gimana kalau cewek berikutnya
yang elo ajak main ilfeel karena badan elo kayak anak SD, mulus enggak
ada bulunya.”
“Iya juga, ya.” Saga manggut-manggut sambil menunduk lagi
menatap jembut-jembutnya yang menyempil keluar dari balik celana.
Tiba-tiba mereka berdua terdiam tanpa pembicaraan apa pun.
Jedanya cukup panjang. Saga sibuk memainkan lagi jembut-jembut yang menyempil
keluar. Rama sibuk mengamati Saga memainkan jembut-jembut yang menyempil
keluar.
Rama sange, tentu saja.
Rama juga happy karena Saga tidak jadi menggunduli
tubuhnya. Rama tak bisa membayangkan jika ketek yang seksi itu, atau area perut
bawah yang menggiurkan itu kini botak tanpa bulu.
Keheningan yang merayap di antara mereka mulai menghadirkan
lagi rasa canggung. Mengingat Rama merasa Saga menghindarinya seminggu
terakhir, Rama berinisiatif untuk membahas kejadian minggu lalu.
“Sorry buat yang kemaren,” ungkap Rama sambil
membungkuk dan menggosok tengkuknya, tak berani menatap Saga.
Saga mendongak. “Yang mana?”
Rama menghela napas lalu menunjuk tempat tidur dengan dagunya.
“Yang di situ.”
Saga menoleh sebentar, masih bingung dengan bagian yang mana.
“Yang gue telen.”
“Oooh.” Sekarang Saga yang canggung. Saga juga mengalihkan
pandangan ke arah lain.
“Sorry gue lancang ngisap elo terus-terusan sampe elo
keluar di dalam.”
“Aman, Bro. Aman.” Saga menghela napas. Ada jeda sejenak juga
sampai akhirnya Saga berbicara, “Sorry gue keluar di mulut elo.”
“That’s okay. Gue yang salah. Gue denger elo nyuruh
berhenti, tapi gue malah lanjut karena gue pengin tahu, gue bisa bikin elo
keluar atau enggak. Ternyata bisa.”
“Itu karena gue yang hyper.”
“Itu sih pasti. Hahaha.”
“Hahaha.”
Kecanggungan meleleh lagi.
Sambil meredakan kekehannya, Saga menambahkan, “Ini penyakit
gue dari kecil. Dari SD gue suka banget ama cewek bugil. Gue sering ngintip
mbak-mbak mandi. Gue pernah mainin memeknya sepupu gue. Kacau, lah. Kacau.
Namanya juga bocah.”
“Iya. Namanya juga laki.”
“Malam pertama gue pas masih SMP, Ram. Ama cewek gue. Gue
pura-pura pengin mainin memek dia, lama-lama masuk juga. Hahaha. Dari situ, gue
lebih sering ngewe daripada coli.”
“Oya?” Rama mendongak menatap wajah Saga.
Lelaki itu mengangguk kecil, sambil mengusap-usap perutnya ala
cowok straight kalau lagi ngobrol santai. “Gue kagak suka ngocok.
Sukanya dikocokin. Jadi kalau enggak masuk juga ..., yang penting ada yang
ngocokin, itu gue udah aman tuh.” Saga terkekeh. Lalu, tiba-tiba memainkan
nenennya.
Bukan dalam konteks seksual. Cowok straight, kalau lagi
telanjang dada begini, lalu mengobrol santai dengan cowok straight lain,
kadang tanpa sadar memainkan tubuhnya. Menarik-narik puting, menarik-narik bulu
ketek, mengusap-usap perut, kadang memainkan kontol juga.
Sambil setengah melamun, Saga menarik-narik puting itu di
depan Rama.
Sebagai gay pencinta Saga, Rama hampir melayang ke
surga melihat adegan itu. Terpaksa Rama merapatkan paha agar kontol ngaceng-nya
tidak terekspos.
“Elo lebih suka dikocokin ..., atau lebih suka ngocok sendiri,
Ram?” tanya Saga kemudian.
Jawaban yang benar adalah ngocok sendiri, biar ritme, grip,
dan speed-nya bisa Rama sesuaikan. Namun di depan Saga, Rama menjawab, “Dikocokin.”
“Sama, anjir.” Saga terkekeh. “Gampang lah, Bro. Kalau lagi
pengin, terus kita enggak ada objek, saling bantu aja.” Saga mengangkat kedua
alisnya dengan penuh kode. “Simbosis mutualistis.”
Mutualisme, anjeng! Untung gue suka elo,
Saga!
Karena relasi itu benar-benar mencair, Rama mulai nekat flirting
ke arah sensual. “Halah ..., kosan aja gue bagi ama elo, ngocokin titit elo
doang mah santuy.” Rama mengangkat jempol.
“Hahaha.” Saga mengangkat jempol dengan gelak tawa yang santai.
“Asyik, Bro. Asli. Gue tungguin. Hahaha.”
“Mau apa lagi? Mau jembutnya gue nduselin?
“Anjir! Hahaha ....”
“Keteknya gue nduselin juga?”
“Udaaahhh ....” Sambil terkekeh, Saga menarik sehelai tisu
yang berada di dekatnya, lalu meremasnya hingga menggumpal, kemudian
melemparkannya ke wajah Rama.
Sambil menghindar dari gumpalan tisu itu, Rama tetap
melanjutkan, “Cipokan juga gue terima.”
“Baper elo nanti.” Saga geleng-geleng kepala.
“Atau mau gue jilmek lagi di belakang?”
Anehnya, tawa Saga malah mereda. Vibes-nya mendadak
berubah. Saga tidak terlihat marah, tetapi Saga kepo. “Elo sekangen itu ama
cewek elo, sampe pantat gue elo jilatin?”
Rama setengah panik melihat reaksi Saga. “I ... iya. Hehehe.
Tapi bukan cewek yang ini. Cewek gue yang dulu.” Jawaban Rama ini mengarang
bebas. “Cewek yang sekarang agak-agak demanding. Ngewe-nya juga
ribet. Lebih simpel ama elo, Ga.” Nah, kalau yang itu jujur dari hati.
“Cewek yang mana?”
Aduh, pake ditanya. Rama menggosok lagi tengkuknya sambil
mencoba mencari jawaban tercepat. Satu-satunya yang masuk ke kepala Rama adalah
Vina, karena tadi sudah bertemu Vina, dan Saga kenal Vina.
“Vina,” jawab Rama.
Saga manggut-manggut. “Emang ngangenin dia.” Saga menggumpal
lagi tisu, dan kembali melemparkannya ke Rama. “Goblok emang lu ..., pake putus
dari dia.”
“Ya namanya juga enggak jodoh, Ga. Cuma kemaren ..., pas lihat
pantat elo ..., gue jadi nafsu kebayang si Vina. Tapi ....” Ada sebuah dorongan
dalam hati Rama untuk berkata jujur. Dorongan ini meledak menjadi kalimat yang
mungkin akan disesali Rama berikutnya. “Tapi ternyata enak juga punya elo, Ga. Gue
lagi mumet aja mungkin. Lagi curious juga. Penasaran kalau jilat punya
cowok gimana .... Pas gue jilatin, gue keenakan. Makanya gue suruh elo kocokin
sampe gue keluar. Sensasinya sama aja kayak ke cewek.”
“Oke.”
Kecanggungan merebak lagi.
Rama mulai panik kembali. Maka dari itu, Rama mulai mengganti
topik ke hal yang sebenarnya ingin Rama tanyakan sedari tadi.
“Omong-omong soal Vina,” kata Rama, “barusan gue ketemu ama
dia di Potato Head. Dia lagi di Bali.”
Saga yang tadinya menunduk canggung, mengangkat kepalanya.
“Vina ..., mantan elo?”
Rama mengangguk. “Gue tahu ini bukan urusan gue, tapi kalau
elo emang lagi ada masalah ..., it’s okay, Ga.”
Tiba-tiba saja Saga mengumpat, “Fuck,” dengan suara
pelan, sambil dia berdiri dan berbalik. Kedua tangannya di atas kepala,
memamerkan ketek lebatnya. Saga pun mondar-mandir di depan tempat tidur. Saga
mulai paham arah pembicaraan Rama ke mana. Dia terlihat panik. Gelisah.
Kepalanya geleng-geleng kecil dengan ketek terekspos seksi.
Rama dapat melihat dada Saga naik turun karena napasnya
memburu.
“Gue anggap elo tahu apa yang mau gue omongin ini,” lanjut
Rama. “Vina ngasih tahu soal reunian kelas kita kemaren. Dia juga nyeritain
semua gosip yang dibahas di sana. Semuanya. Termasuk elo.”
Saga pun berbalik memunggungi Rama.
Rama hanya bisa melihat lengan kekar dan bahu lebar itu dari
belakang.
“It’s okay, I won’t judge. Gue di sini justru ....”
Rama tak tahu harus mengatakan apa. “Justru ..., kalau elo butuh bantuan, please
bilang. Gue mungkin bukan the best savior, tapi kalau gue bisa bantu,
gue bakal bantu—“
“Duit bulanan gue ..., gue kirim buat beli susu,” ungkap Saga
kemudian, masih memunggungi Rama. “Financial situation yang gue omongin
kemarin tuh ... ya soal itu. Gue masih dapat duit dari bokap nyokap gue, tapi
terpaksa uang kosan harus gue kirim ke dia supaya dia ada pegangan. Sorry
kalau elo harus find out soal ini kayak begini, Ram.”
“It’s okay, Bro,” gumam Rama. Dia berdiri dari
kursinya, menghampiri Saga. Rama menepuk-nepuk bahu Saga dari belakang. “Gue
enggak tahu se-complicated apa masalah elo. Sejauh ini gue baru denger
dari satu sisi aja. Itu pun sisinya si Vina, yang dapat cerita dari orang lain
juga. Gue enggak pernah tahu dari sisi elo. Kalau elo belum siap cerita, that’s
okay. Kalau elo butuh waktu buat nyelesaiin masalah elo ini sendiri, I
appreciate that.
“Gue cuma bisa bantu apa pun yang bisa gue bantu. Soal kosan
doang mah ..., enggak usah dipikirin. Soal sabun-sabun gue yang elo
pake, atau koleksi kondom gue yang mendadak habis—“
Saga tiba-tiba berbalik. “Sumpah entar gue ganti, Ram.”
“It’s okay, Ga. Gapapa.” Rama tersenyum lebar sambil
meremas bahu Saga. “Itu semua hal kecil doang. Itu kondom bulan depan udah expired
juga anjir. Bagus, lah, kalau elo pake. Hahaha.”
Saga mengusap wajahnya. Lalu, dia berkacak pinggang sambil
mengatur napas.
Rama menepuk bahu Saga, “Gue enggak akan bisa bantu elo duit.
Soalnya duit gue juga masih dari ortu, gue enggak punya penghasilan tambahan.
Tapi hal-hal yang punya gue, kalau emang bisa di-share, gue bakal share
ama elo. Jadi elo enggak usah khawatir.”
“Thanks, Ram.” Saga balas menepuk Rama. Di pinggang.
“Jadi, ini enggak usah dicukur,” Rama dengan jail menarik bulu
ketek Saga, “ini jangan dicukur juga,” Rama memegang perut rata Saga, “kalau
mau ngewe ama bule, cari lagi yang lain lah, Ga. Elo kan ganteng. Enggak
bakal susah dapetin cewek bule di sini.”
Saga terkekeh.
Rama pun mundur sambil berjalan ke kamar mandi. “Oh iya, elo
mau ke mana sore ini? Ada acara?”
Saga melihat jam di pergelangan tangannya. “Harusnya sih main
ama si Ukraina sejam lagi.”
“Ikut gue ke GrandLucky aja gimana?” tanya Rama sambil
berjalan mundur. “Gue mau belanja bulanan. Jadi kalau elo mau sekalian beli
sabun, atau kondom, bisa sekalian.”
“Boleh, boleh.” Saga mengacungkan jempolnya.
“Habis GrandLucky, kalau mau nongkrong sunset-an di
Canggu juga ayo. Siapa tahu elo mau nyari cewek. Hahaha.”
“Hahaha. Oke sip!”
“Gue pipis dulu. Entar kita naik mobil aja.”
Rama pun masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Dia
bersandar di balik pintu, menghidu tangannya yang tadi menarik bulu ketek Saga
dengan jail. “Hmmm .... aaahhh ....” Menghirup aromanya dengan khidmat.
Rama sange.
[ ... ]
Ada banyak yang ingin Rama sampaikan soal Hesti bersama Saga.
Namun, dia tak mau merusak dinamika relasi mereka berdua. Rama tak mau mereka
terjerumus dalam rasa canggung yang menyesakkan dada. Pelan-pelan saja,
pikir Rama. Tidak perlu memberondong Saga dengan segala informasi dari Vina.
Salah satunya tentang tak adanya nama Saga di PDDikti. Jika
Saga di-drop out dari kampusnya pun, nama Saga harusnya tetap tercatat.
Bulan lalu Saga masih tampil dalam pertandingan basket bersama kampus itu.
Enggak mungkin Saga tidak tercatat sebagai mahasiswa di sana.
Namun, biarkan itu menjadi kepingan-kepingan misteri yang Rama
kuak seiring waktu. Yang paling penting sekarang adalah mempererat hubungan
Rama dan Saga. Rama tahu dia tak akan pernah memiliki Saga, apalagi ternyata
Saga seorang ayah. Yang bisa Rama lakukan adalah memanfaatkan kesempatan
sekosan ini sebagai alat untuk berada lebih dekat dengan Saga.
Maka dari itu, Rama betulan membawa Saga belanja ke
GrandLucky, salah satu supermarket besar yang ada di Bali. Mereka menaiki mobil
Rama melewati ramainya lalu lintas Denpasar (yang ramai karena jalanannya
sempit). Rama sudah tidak merasakan lagi debaran dada, mulas perut, maupun
dinginnya keringat seperti yang selalu dia rasakan selama ini. Ya, Rama masih
grogi-grogi-naksir dengan hadirnya Saga di jok penumpang. Namun, sensasi itu
malah membuat hati Rama terasa nyaman dan damai.
Di GrandLucky, mereka menyusuri setiap lorong meskipun tak ada
yang dibeli di lorong tersebut. Topik soal kehidupan mereka di Bali mendominasi
perbincangan. Apalagi yang berkaitan dengan kehidupan seksual Saga.
“Di sini orang-orangnya enggak muna,” ungkap Saga sambil
membolak-balik satu kotak kondom untuk melihat deskripsi produk. “Kalau mereka
pengin, ya mereka bilang. Enggak perlu ngumpet-ngumpet juga.”
“Jangan ambil yang itu. Ketebelan. Udah gitu kecil-kecil. Enggak
enak,” kata Rama sambil menarik Okamoto 003 di jejeran kondom mahal.
“Punya elo aja yang kegedean, Ram. Hahaha.” Saga menyenggol
Rama sambil setuju mengambil merek kondom yang lebih mahal. “Tapi bisa bangkrut
gue kalau tiap maen pake yang ini ....”
“Enggak akan lebih mahal dari susu bayi. Udah, masukin aja. It’s
on me.”
“Hahaha .... Thanks, Bro.” Saga menyenggol lagi lengan
Rama, lalu meraup kira-kira enam kotak kondom mahal itu ke dalam keranjang.
Rama pikir hanya dua atau tiga kotak saja sih yang akan Saga
beli. Tapi ya sudah.
“Sejak kejadian itu,” lanjut Saga, memimpin Rama berjalan lagi
menyusuri lorong berikutnya, “Gue enggak pernah enggak pake kondom.”
“Takut kebablasan lagi?”
Saga mengiakan dengan gerakan alis ke atas. Dia menghela napas
panjang lalu menambahkan, “Makanya kalau gue lagi enggak pake kondom, asli ...,
itu bisa enak banget.”
“Tapi kalau lagi di-sepong, elo enggak pake kondom,
kan?”
“Gue sih sering pake,” ungkap Saga. “Enggak semua cewek pengin
ngisap telanjang kayak gitu. Ada juga yang mesti dikaretin dulu. Makanya kondom
ada varian rasa.”
“Tapi kalau enggak pake, sensasinya lebih enak, kan?”
“That’s why, Bro,” balas Saga, lalu tersenyum tengil
sambil mengedipkan sebelah matanya. Rama pikir Saga akan menjelaskan kelanjutan
dari that’s why-nya, tetapi Saga malah mengedikkan kepala ke arah lain,
“Yuk!”
Rama paham Saga merujuk pada kejadian dirinya crot di
dalam mulut Rama.
“That’s why” Saga crot karena sepong-an Rama
memang seenak itu karena tanpa kondom.
Dari GrandLucky, keduanya melaju ke area Canggu yang macet dan
tiba di FINNS Beach Club menjelang matahari terbenam. Karena ini Jumat sore, beach
club itu ramai. Kolamnya hampir penuh, setiap daybed-nya terisi, dan
barnya juga masih diduduki banyak orang. Alhasil, Rama dan Saga berjalan kaki
dulu di Pantai Berawa, dengan santai membiarkan kaki mereka didebur ombak
sambil menyusuri garis pantai barat Bali itu ke Nelayan, Canggu, Batu Bolong,
hingga Muncuk Catu.
Pantai-pantai itu ramai oleh orang yang sedang menikmati
matahari terbenam—kebetulan cuacanya cerah sore ini. Anjing-anjing berlarian
bersama pemiliknya. Bule-bule berbaring santai di atas bean bag sambil
menyesap bir dan mengenakan bikini. Turis-turis lokal berfoto bersama
rombongannya sambil berbisik-bisik bahwa para bule ini kok enggak tahu malu ya
pake bikini di tempat terbuka seperti pantai-pantai ini. Khususnya para nurul
yang bergerombol ke sana kemari sambil selfie.
Rama dan Saga berjalan telanjang kaki hampir satu jam, menenteng
alas kaki mereka sambil membahas masa-masa SMA. Karena pernah dua tahun satu
kelas, obrolan mereka banyak. Khususnya perspektif masing-masing untuk kejadian
yang sama.
“Gue baru balik dari ruang OSIS anjir pas Pak Purnomo kena
serangan jantung. Itu habis istirahat, kan?”
“Oh iya, ya. Elo kan Ketua OSIS.”
“Gue masuk kelas, tahu-tahu udah rame aja dikerumunin.”
“Si Pak Purnomo juga baru masuk. Kita-kita lagi mau ke bangku
masing-masing. Tapi belum nyampe meja, dia udah kolaps.”
“Elo lagi di kelas?”
“Gue kayaknya ... gue enggak ke mana-mana hari itu. Itu
masa-masa gue pacaran ama si Neti.”
“Ooohhh ... iya, iya! Elo sempat pacaran ama dia!” Salah satu
orang yang Rama benci adalah Neti, karena Neti bisa pacaran sama Saga. Padahal
menurut Rama, Neti tuh enggak cantik. Kulitnya jerawatan. Rambutnya juga aneh.
“Kok bisa sih elo pacaran ama dia?”
“Cuma sebulan doang, anjir.”
“Iya, tahu. Tapi kenapa bisa?”
“Karena bisa diajak main, Ram. Hahaha ....” Dengan bangga Saga
mengangkat dagu, “Gue yang merawanin dia. Ada tujuh cewek yang gue perawanin di
SMA.”
“Termasuk si Hesti?”
“Anjing elo, Ram!” Saga mendorong wajah Rama hingga Rama
hampir tersungkur. Namun, Saga bercanda saja. Setelahnya dia tertawa.
Rama ikutan tertawa dan melanjutkan lagi jalan-jalan sore
sepanjang pantai itu. Ketika mereka kembali lagi ke FINNS, beberapa kursi di
bar sudah kosong dan mereka pun menempatinya.
Obrolan mereka sudah mulai merambah anatomi kemaluan
perempuan. Saga semangat sekali membahas jutaan pengalamannya dengan perempuan
dan bagaimana dia memainkan setiap memek ini hingga para cewek ketagihan. Saga
bicara seolah-olah dia dokter kelamin profesional yang sangat berpengalaman.
Banyak cewek yang jatuh hati kepadanya dan minta dijadiin pacar.
“Kecuali Vina, ya?” sindir Rama.
“Anjing!” Saga hampir tersedak karena sedang menenggak bir.
“Sialan lu!” Saga menyikut Rama di sebelahnya sambil tergelak. “Tapi emang dia
susah banget didapatin.”
“Gampang ...,” jawab Rama, terkekeh kecil. “Dia suka cowok
yang rapi, yang pinter, yang obrolannya bukan seks doang.”
“Elo main kan ama dia?”
“Ya main, lah!” Rama menenggak birnya dengan bangga. “Di rumah
dia, anjir. Pas bonyoknya lagi enggak ada.”
“Wahahaha! Parah!” Saga menyikut lagi. Wajahnya mulai teler
karena beberapa minuman Saga mengandung vodka, sehingga Saga mulai mabuk.
Sepanjang duduk dua jam di bar itu, selain mengobrol, Saga
juga menggoda beberapa cewek yang ada. Biasanya Saga menyapa siapa pun yang
duduk dekat mereka, atau jika ada yang lewat di belakangnya. Namun, obrolan
yang menjurus itu rata-rata tidak berakhir ke mana-mana. Kecuali satu cewek
lokal dari Jakarta yang sedari tadi ngirim-ngirim kode ke Saga, dan Saga pun
memberi balasan positif. Cewek itu menghampiri meja mereka, berbincang-bincang
di tengah ingar bingar lagu beat yang diputar club, tahu-tahu
keduanya pergi ke toilet. Begitu Saga kembali ke meja, Saga hanya terkekeh
sambil merangkul Rama, “Anjing, ketahuan! Hahaha! Gue disuruh pergi!”
“Apaan, sih?” Rama celingukan ke belakang, mencari cewek
Jakarta tadi.
“Gue lagi di-sepong si Tania, yang barusan, tapi ada security
gedor-gedor pintu karena kelamaan. Terus kita diusir. Hahaha ...! Yuk, Ram!”
Rama baru menemukan seorang security berdiri dan
melihat ke arah mereka dengan pandangan tak suka. Dengan pasrah Rama pun
membayar bill dan membuntuti Saga ke luar. Saga memberi kode telepon
dengan jarinya ke arah Tania yang sudah kembali lagi ke mejanya, duduk bersama
teman-temannya. Yang artinya mereka berdua sudah bertukar nomor WhatsApp.
“Enggak lanjut ama dia?” tanya Rama sambil keduanya berjalan
menuju mobil.
Setengah mabuk, dan menyelesaikan sekaleng bir yang belum
habis, Saga menjawab, “Kagak bisa. Dia ada acara malam ini. Tapi besok atau
lusa mau janjian ketemu. Paling gue ajak dia ke kosan.”
“Oke.” Rama manggut-manggut. “Jadi tadi sempet ngapain?”
“Cuma cipokan ama nyepong doang.” Saga bersendawa
kecil. “Gue remas juga teteknya.”
“Belum masuk?”
Saga menggeleng.
“Pake kondom?”
“Masih gue pake, anjing! Hahaha!” Saga tiba-tiba menarik
kausnya ke atas, menunjukkan celana jeans-nya belum dikaitkan, lalu dia
menarik celana itu ke depan beserta sempaknya.
Rama yang sedang ada di sampingnya dapat melihat kontol lemas
yang masih dibungkus kondom. Rama terkejut karena ini masih di tempat umum.
Banyak orang berseliweran di sekitar mereka.
Untungnya Saga hanya memamerkan kontol lemas berkondom itu
beberapa detik saja. Setelahnya dia berjalan lagi sambil merangkul Rama, karena
langkahnya mulai agak sempoyongan.
Kelihatannya vodka berhasil membuat mood Saga gembira.
Ya, Saga agak-agak mabuk, tetapi setidaknya dia tidak sedih karena gagal ngewe
dengan bule Ukraina itu. Sepanjang perjalanan pulang, Saga masih meracau
tentang memek. Rama hanya sanggup menimpali dengan “iya” atau terkekeh paham,
padahal sebenarnya Rama enggak begitu tertarik dengan apa yang Saga bicarakan.
Saga masih bisa berjalan sendiri, meskipun kepalanya
berkali-kali dia guncang karena pusing. Saga berjalan duluan ke kamar, lalu
berdiri di depan pintu sambil mendorong kusennya—menunggu Rama muncul dengan
kunci kamar. Begitu Rama tiba dan membukakan pintu, Saga langsung melepas
sepatunya, melemparkan sembarang, dan membuka bajunya.
“Elo mau keluar lagi malam ini?” tanya Rama sambil meletakkan
belanjaan dari GrandLucky ke atas meja.
“Enggak.” Saga menghempaskan pantatnya ke atas tempat tidur,
bertopang pada kedua tangannya. Dia menenangkan dirinya. “Toh hari ini gue udah
kencan ama elo.”
Rama tahu Saga cuma bercanda, tetapi Rama tetap deg-degan
mendengar itu. Rama tersipu malu, tak berani mengangkat wajahnya menatap sang
pujaan hati. Dia mengunci pintu dengan napas memburu, kemudian membereskan
beberapa isi belanjaan ke kulkas atau lemari.
Setelah Rama selesai merapikan belanjaan, Saga tampaknya sudah
mendingan sedikit. Dia berdiri dan mulai melorotkan celananya. Termasuk
sempaknya. Dalam pencahayaan terang, untuk kali pertama ....
... Rama melihat kontol Saga.
Kontol itu, anehnya, setengah ngaceng. Masih terbalut
kondom. Saga menarik ujungnya agar kondom lepas, tetapi kondom itu tak lepas
juga.
Dengan inisiatif, Rama pun berjongkok di depan Saga dan
membantunya melepaskan kondom itu pelan-pelan. Dada Rama berdebar-debar saat
wajahnya kembali berada dekat dengan kontol sang pujaan hati. Rama tersenyum
kecil, mungkin tipsy tipis-tipis juga, merasa sangat bahagia bisa
menatap kontol itu dengan sangat jelas.
Namun, karena Rama berjongkok, Saga tiba-tiba memegang kepala
Rama, dan mengarahkan kontolnya ke wajah Rama.
“Isap,” bisik Saga di tengah keheningan.
Rama membelalak. Dia
mendongak menatap wajah Saga di atasnya.
Saga tak memberikan ekspresi apa-apa selain ekspresi sange
karena sepong-annya tidak tuntas di beach club tadi. Saga
mengulangi perintahnya, “Isap.”
Dan Rama pun ..., mengulum kontol itu.
Rama sudah melepaskan kondom di kontol Saga sebelum
memasukkannya ke dalam mulut. Entah setan apa yang menguasai Saga, tetapi
kontol itu membesar dan mengeras selama berada di dalam mulut Rama. Kontol
hangat yang kulitnya kenyal dan licin, yang langsung memenuhi mulut Rama hingga
calon dokter itu hampir tersedak. Hidung Rama terbenam di jembut Saga yang
lebat. Rama hirup aroma jembut Saga kuat-kuat, membiarkan kepalanya terisi oleh
memori jembut Saga yang nikmat.
“Aaaaaahhh ....” Saga memejamkan matanya menikmati sepong-an
Rama. Saga menggerakkan panggulnya maju mundur agar kontolnya bisa menggenjot
mulut Rama. Kedua tangannya berpegangan ke meja sementara pantatnya meliuk-liuk
dengan ahli. “Anjing .... Aaaaaahhh ....”
Rama tak bisa berkata apa-apa selain membiarkan kontol itu melecehkan
mulutnya. Kepala kontol Saga menghantam uvula Rama berkali-kali. Gerakan kontol
itu cukup cepat, sehingga Rama hanya bisa melantunkan napas tercekat.
“Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...!
Hmph ...!”
Rama mulai memejamkan matanya seperti teler. Lidahnya
menari-nari dengan liar menyambut kontol Saga yang bergerak keluar masuk.
Setiap kali hidung Rama terbenam di jembut Saga yang lebat, Rama mendesah penuh
syukur. “Hmmmmmmhhh ....” Aroma jembut itu begitu nikmat. Aroma kontol
dalam situasi lembap, dengan ada sedikit aroma sabun Rama.
“Anjiiiiiinnnggg .... Enak elo, Raaammmhhh ... Aaaaaahhh ....”
Saga meracau setengah mabuk. Kedua otot lengannya mengeras saat berpegangan.
Tampaknya seluruh tubuh Saga mulai menegang. Meski Saga menunduk ke bawah, dia
tak terganggu pada fakta bahwa yang menyepong-nya adalah seorang
laki-laki. Saga tetap memutar matanya ke atas hingga memutih untuk mengkhidmati
nikmatnya mulut Rama. “Anjiiinnnggg .... Aaaaaahhh ....”
“Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...!
Hmph ...!”
Mumpung Saga sudah telanjang, Rama pun mengulurkan tangannya
ke atas dan mulai memilin-milin puting Saga.
“ANJING!” Saga mengentak terkejut. Tubuhnya bergidik kecil
ditemani senyuman yang lebar di bibir. “Terus, Ram! Terus! AAAAAAHHH ...!”
Suara Saga terdengar sangat macho. Desahannya terdengar seperti preman
yang menggeram.
“Hmph ...! Hmph ...! Hmph ...!”
Rama tak bisa berkutik. Dia hanya bisa membiarkan mulutnya
digenjot kontol Saga sementara kedua tangannya memainkan puting sang pujaan
hati. Kadang tangan itu bergerilya ke sana kemari, misal meremas dada Saga yang
kekar, atau menyusup ke ketek Saga merasakan tekstur bulu keteknya yang lebat,
atau bahkan menarik-narik bulu ketek Saga.
Saga tak tampak terganggu dengan permainan tangan Rama. Dia
hanya fokus pada nikmatnya kontol di dalam mulut Rama. Lama-lama genjotannya
makin cepat dan Saga pun memegang kepala Rama dengan kedua tangannya.
Mengapa? Karena Saga sudah mencapai puncaknya.
Tiba-tiba dia benamkan kontolnya dalam-dalam di mulut Rama,
lalu diam, tak bergerak.
“HMMMMMMPPPHHH!” Rama terkejut karena rongga mulutnya dibenamkan
kontol ngaceng Saga secara tiba-tiba. Dijejali dan diam beberapa detik.
Pada detik ketiga setelah kontol itu mendiami mulut Rama, dia
menyadari ....
CROT! CROT! CROT! CROT! CROT!
... Saga sedang ejakulasi.
“Eeergh! Eeergh! Eeergh!” Tubuh Saga mengentak-entak
keenakan. Hidungnya mengernyit hebat. Mulutnya mengerang kecil, menahan napas.
Saga membungkuk ke depan. Tubuhnya hampir limbung karena tak
kuasa menahan nikmat itu. Dengan sengaja dia semburkan spermanya ke
kerongkongan Rama, tak peduli untuk minta izin terlebih dahulu, tak peduli jika
Rama mungkin belum siap.
Rasanya nikmat sekali. Mata Saga berputar ke atas dengan mulut
menganga kecil. Bahunya naik turun, mengatur napas yang memburu.
Lalu, Saga mundur sambil mengeluarkan kontolnya, dan ....
BRUK!
... menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.
Saga rebahan dengan setengah tungkainya menjuntai ke atas
lantai. Perut Saga kembang kempis mencari napas. Kontol Saga masih ngaceng,
berkilat basah oleh ludah Rama, lubangnya masih melelehkan setetes sperma yang
ketinggalan. Kepala Saga geleng-geleng seperti orang teler. Senyumnya sempat
terkembang dua kali, seperti orang gila yang keenakan. Kemudian, mulutnya itu
menganga kecil mencari napas.
Saga tak mengatakan apa-apa lagi selain melantunkan sisa-sisa
erangan keenakan karena crot. “Aaaaahhh .... Aaaaaahhh ....”
Tak sampai dua menit sejak dia jatuh telentang di atas
ranjang, Saga pun tertidur.
[ ... ]
Rama sungguh berbahagia. Dia bersyukur kemarin sore berhasil
mencegah Saga mencukur bulu-bulu di tubuhnya. (Atau dalam bahasa yang benar,
rambut tubuh.) Tidurnya pulas mendapati dirinya sudah kencan dengan Saga
sepanjang sore. Belanja ke supermarket seperti pasangan suami istri, membeli
kebutuhan pokok. Jalan-jalan di pantai Bali hingga matahari terbenam dan langit
benar-benar gelap. Quality time di bar, mengobrolkan apa pun sambil
minum-minum dan berteriak lantang karena suara musiknya terlalu keras.
Dan semua ditutup dengan sepong-an itu.
Rama melihat kontol Saga dalam penerangan jelas, lalu Rama menyepong
kontol itu hingga crot lagi dalam mulutnya. Rama berbahagia ketika dia
dapat menelan lagi sperma Saga ke dalam perutnya.
Sungguh, rasanya seperti terbang ke langit ketujuh.
Benar-benar membahagiakan. Perut Rama terasa hangat, dada Rama seperti dipenuhi
awan-awan putih yang menenangkan, hati Rama seperti lega dan tak punya beban.
Rasanya seperti bergelung di sofa yang nyaman, ditutupi selimut hangat,
ditemani secangkir teh kamomil yang masih mengepul panas.
Saking bahagianya, Rama tak kepikiran untuk berbuat kurang
ajar ke pujaan hatinya itu. Padahal, Saga dalam kondisi tidur, tak sadarkan
diri, dan telanjang bulat. Bisa saja Rama perkosa Saga kalau mau. Namun, Rama
malah menggeser Saga ke bagian tempat tidurnya, lalu Rama tinggalkan untuk
mandi. Rama masih sempat beres-beres kamar, menelepon Indah untuk mengucapkan
selamat malam, mengunggah konten di Instagram-nya, sebelum akhirnya tidur
bersama Saga.
Rama selimuti tubuh telanjang Saga yang kontolnya sudah lemas,
dan sudah dibersihkan juga oleh Rama menggunakan tisu basah. Ya, Saga belum
mandi, tetapi Rama tak masalah. Rama matikan lampu, lalu dia tidur di sebelah
Saga dengan sangat berbahagia.
Saking bahagianya, Rama terbangun dengan perasaan tenang
keesokan paginya. Rama terbangun pukul 7 pagi pada hari Sabtu. Untung saja hari
Sabtu, sehingga tak ada alarm pagi yang akan membangunkannya. Ketika Rama
membuka mata, dia sedang berbaring menghadap Saga. Wajahnya berada tepat di depan
ketek Saga.
Pujaan hatinya itu tidur dengan kedua tangan terulur ke atas
kepala. Telentang, dengan kedua kaki terbuka lebar. Selimutnya sudah turun,
menguak kontol yang sedang ngaceng karena morning wood. Matanya
masih terpejam dan Rama bisa mendengar dengkuran kecil dari mulutnya.
Rama langsung menghidu aroma ketek Saga pada pagi hari. Aroma
serutan pensilnya sungguh kuat, tetapi berkesan cheesy dan asin. Rama
mendekatkan wajahnya ke ketek Saga. Dia endus ketek itu, lalu hirup kuat-kuat
aromanya.
Rama langsung teler. Keenakan. Dadanya berdebar-debar,
sehingga Rama otomatis memegang kontol dan mengocoknya.
Lama-lama, Rama mengocok kontol ngaceng-nya sambil ndusel
di ketek Saga.
Lama-lama pula, ndusel-an itu membangunkan Saga. Wajah
Rama terbenam terlalu dalam di ketek berbulu itu. Saga mengangkat kepala,
setengah sadar melihat temannya sedang menikmati keteknya sambil coli.
Alih-alih marah atau apa, Saga tiba-tiba mendekap kepala Rama dengan lengannya.
Rama terkejut saat menyadari Saga ternyata sudah bangun.
Namun, Rama tak bisa berkutik saat Saga dengan sengaja meng-headlock
Rama lebih dalam ke keteknya. Mata Rama membelalak, tetapi pandangannya
langsung gelap karena seluruh wajah Rama kini terbenam di ketek itu. Kulit
wajahnya terasa geli oleh tekstur bulu ketek Saga. Rama hampir tak bisa
bernapas sehingga dia menghirup ketek itu kuat-kuat.
Rama panik sebenarnya. Hatinya langsung cemas, takut Saga
berpikiran macam-macam karena Rama kepergok ndusel di ketek Saga.
Akan tetapi, Saga malah mendekatkan tubuhnya ke Rama,
memindahkan tangan Rama dari kontolnya ke kontol Saga, membiarkan Rama mengocok
kontol Saga saja. Saga berbaring miring, mendorong Rama agar rebahan telentang.
Ketek Saga menindih wajah itu, membekap Rama tanpa udara. Lalu, Saga pun
mengocok kontol Rama sambil geleng-geleng kepala menatap tebalnya kontol sang
kawan.
Ya, pagi itu keduanya saling mengocok. Tanpa kata-kata, tanpa
permisi, tanpa kesepakatan, tanpa kata-kata romantis. Mungkin ini hanyalah
eksekusi janji yang keduanya pernah ikrarkan, yaitu saling membantu kalau
sedang sange.
Mungkin Saga merasa Rama sedang kangen ceweknya, sementara
yang available hanya Saga, sehingga Saga pun dengan ikhlas mengocok
kontol tebal itu.
Rama hampir mampus. Bukan karena wajahnya ditindih ketek Saga
hingga tak ada lagi udara, tetapi Rama sudah mencapai puncaknya. Kedua kaki
Rama menyelonjor lurus, tanda-tanda hampir ejakulasi.
“Hmmmmmmppphhh ....”
Rama hampir crot.
Dalam waktu beberapa detik, Rama pun akan—
TOK! TOK! TOK!
“YAAANNNGGG! Kamu udah bangun?!”
Indah mengetuk pintu depan.
“Fuck!”
Kedua lelaki itu beringsut menjauh dengan panik. Bahkan mereka
menggeser tubuh saling menjauh, seolah-olah khawatir ada orang lain menemukan
mereka saling mengocok kontol.
Saga terlihat syok dan panik.
Rama terlihat lebih syok dan panik.
Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat sebelum
akhirnya menatap ke arah pintu.
“Cewek elo?” bisik Saga.
“Iya.”
“YAAANNNGGG?! Kamu udah bangun BELOOOMMM
...?!”
TOK! TOK! TOK!
Apa yang harus Rama lakukan?
Membuka pintu, membiarkan Indah masuk, lalu mengenalkan Saga
apa adanya? Bahwa Saga adalah teman SMA-nya yang kini share kosan bareng
di sini.
Ataukah membuka pintu dan mengenalkan Saga sebagai tamu yang
kebetulan menginap di sini? Yang artinya Rama harus buru-buru memasangkan baju
ke Saga, karena tak mungkin Saga dipertontonkan telanjang bulat begini dengan
kontol ngaceng.
Tapi bagaimana kalau Indah mengenali bahwa Saga adalah pemain
basket yang bertanding melawan kampusnya Indah bulan lalu?!
Ataukah sebaiknya Rama menyembunyikan Saga di kamar mandi,
menemui Indah, lalu langsung mengajaknya pergi keluar sehingga Indah tak
bertemu Saga sama sekali?
Atau abaikan saja Indah? Pura-pura tak ada di kosan, atau Rama
telepon dari kamar mandi dan berkata Rama sedang di luar bersama temannya,
sehingga tak ada di kosan?
Apa yang harus Rama lakukan?!
[ ... ]
Voting sudah selesai.
Hasil voting terlampir di bawah.
Part 4 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 6
Hasil voting:
Jumlah pemilih: 130 orang
Sebanyak 14% (18 orang) pilih
“Kenalkan Saga ke Indah apa adanya”
Sebanyak 22% (29 orang) pilih
“Kenalkan Saga, tapi tidak jujur sepenuhnya”
Sebanyak 14% (18 orang) pilih
“sembunyikan Saga, bawa Indah pergi”
Sebanyak 50% (65 orang) pilih
“pura-pura tidak di kosan”
Belum ada pembaca yang menggagalkan
voting lewat jalur eksklusif.
Maka dari itu, Part 6 akan mengikuti suara terbanyak. Klik di sini untuk melihat cerita yang tidak terpilih.
Dengan ini, seluruh voting yang terjadi di Part 5 setelah penayangan Part 6 sudah tidak berlaku lagi.

Komentar
Posting Komentar