(SKS) Part 6




Pada umumnya, para gay akan memilih pura-pura tidak di kosan supaya setelah Indah pergi mereka bisa lanjut ngocok kontol Saga atau at least ndusel-ndusel ketek Saga lagi.

Sayangnya, penyelesaian masalah tidak sesederhana menghindar seperti itu.

“YAAAAAANNNGGG ...?! BANGUUUNNN ...!”

TOK! TOK! TOK!

Saga langsung melompat dari tempat tidur dan mengambil celana boksernya. Dia juga menyambar kaus belel tipis yang tampaknya sering dia gunakan sehari-hari di dalam kosan. Dalam tempo kilat dia sudah berpakaian lengkap.

Rama menarik lagi celananya sambil menyambar ponsel di atas meja. Rupanya ada tiga pesan dari Indah yang belum terjawab disertai dua missed call. Rama memutar otak mencari cara mengatasi ini.

“Elo mau temuin dia atau pura-pura enggak di kosan?” tanya Saga, berbisik pelan sekali.

Rama menggelengkan kepala tidak tahu. Kepalanya mumet menentukan apa yang harus dilakukan. Dengan panik, Rama menjawab, “Gue pura-pura enggak di kosan aja.”

“Tapi mobil elo ada di luar, kan?”

“Oh, fuck.” Rama menepuk jidatnya sendiri.

Dan, sedetik kemudian, Indah juga mengatakan hal yang sama. “YAAANNNGGG ...?! Kamu di dalam, kaaannn ...?! Mobilmu ada di depan, lhooo ....”

TOK! TOK! TOK!

Rama terduduk lagi di atas tempat tidur, mulai stres. Dia tak pernah mengalami hal seperti ini. Dia tak pernah selingkuh. Tak pernah dipergoki kekasih sendiri sedang ena-ena dengan orang lain dalam situasi terpojok.

Belum juga Rama menemukan solusi, Indah menelepon. Namanya menyahut berkali-kali di layar. Menggetarkan ponsel di tangan Rama.

“Oke ..., gue mau angkat ini di kamar mandi,” kata Rama kemudian, bertindak cepat. “Elo jangan keluar dulu. Please.”

“Aman. Gue tunggu di sini.” Saga duduk lagi di ujung tempat tidur, dekat ke kamar mandi.

Rama masuk ke kamar mandi, menutup pintunya, tetapi tidak rapat. Masih ada sejengkal celah pintu yang terkuak. Rama merasa perlu menjawab di kamar mandi agar suaranya bergaung.

“Halo?” sapa Rama, menerima panggilan telepon.

Indah membuka panggilan video. Wajah Indah memenuhi layar, dengan latar belakang kamar kosan Rama. “Yang? Kamu di mana?”

“Aku enggak bisa nyalain video. Lagi di kamar mandi. Lagi nyetor.”

“Ya gapapa, kali. Kayak yang aku enggak pernah lihat kamu lepas celana aja. Kamu di mana, sih?”

“Aku lagi di kosan teman. Aku enggak bisa buka video, nanti suaranya jadi loudspeak. Temanku masih tidur.”

Di layar, Indah terlihat mengerutkan alis. Indah menutup lagi videonya dan berbicara melalui panggilan telepon biasa. “Bukannya semalam kamu di kosan, Yang? Kita kan teleponan.”

Benar juga, batin Rama baru teringat. Dengan perut mulas, seperti semua alasan yang Rama kelitkan ke orang-orang ketika ingin menutupi identitasnya, Rama pun membual, “Enggak lama dari nelepon kamu, temenku datang ke kosan. Dia jemput aku.”

“Ngapain malam-malam datang ke kosanmu? Cowok apa cewek?”

“Cowok. Minta bantuan ngerjain tugas. Tapi laptop dia di kosan, jadi aku ke kosan dia. Kita ngerjain sampe jam 2 pagi. Terus aku ketiduran tempat dia. Ini aku baru bangun.”

“Di mana kosannya?”

“Jauh. Ngng ... di Dalung. Dari Tiara Gatsu ke utara lagi.”

“Oh.” Indah tampak tak puas. “Kamu punya sepatu baru?”

“Hah? Sepatu baru?”

“Kamu pake apa ke kosan temenmu? Kenapa semua sepatu kamu masih di sini, semua sandal kamu masih di sini, malah mendadak ada dua sepatu baru yang belum pernah aku lihat. Ini sepatu siapa? Udah jelek, pula.”

Rama menepuk lagi jidatnya. Semua alas kaki Rama ada di luar. Kamar Rama berada di ujung gedung, aksesnya buntu. Sehingga, di bagian ujung lorong yang tertutupi atap dan dinding, Rama letakkan rak sepatu tinggi untuk menyimpan seluruh alas kakinya. Termasuk sepatu oren tempat dirinya dan Saga meletakkan kunci kamar akhir-akhir ini.

Sepatu Rama hanya tujuh pasang, ditambah dua pasang sandal rumah. Indah sudah melihat semua alas kaki itu. Masuk akal jika Indah mempertanyakan yang barusan.

“Aku ... aku punya sandal baru. Dikasih teman. Kemarin. Aku pake itu.”

“Oh.” Indah terdiam lagi. Masih terdengar belum puas. “Di luar juga ada asbak, ada puntungnya. Ini kamu yang ngerokok atau teman kamu?”

“Teman,” jawab Rama segera. “Yang semalam jemput ke sini.”

“Oh.” Indah menghela napas. “Aku di depan kosan kamu sekarang. Jam berapa kamu pulang?”

“Belum tahu. Kenapa emangnya?”

“Kita kan mau brunch hari ini. Kamu lupa?” Indah mendengus kesal.

Rama mengusap wajahnya, menyesal karena dia bisa seteledor itu melupakan janjinya yang ini. Beberapa hari lalu Rama mengiakan ajakan Indah untuk brunch di Over the Moon Cafe di area Sanur. Habis brunch, mereka mau nonton film di ICON Mall Bali.

“Akhir-akhir ini kamu beda, Yang,” ungkap Indah tiba-tiba, dramatis. “Kita jarang ketemu lho. Ini kalau aku enggak datang langsung ke kosanmu, entah kapan aku bakal main ke sini lagi. Kamu udah ada yang baru, ya?”

“Enggaaakkk ...,” sahut Rama lemas. “Kenapa kamu mikir gitu, sih?”

“Ya soalnya kita enggak ketemu sesering dulu.”

“Aku lagi banyak tugas aja. Kamu tahu sendiri, anak FK mana bisa socialize sering-sering. Tiap hari isinya buku mulu.”

Ck! Alibi!” sungut Indah.

“Alasan,” ralat Rama. “Alibi tuh cuma dipake di hukum pidana. Artinya aja beda sama konteks yang kamu maksud.”

“Jadi gimana? Kita jadi ke Sanur?”

“Oke. Ya udah. Kita ke kafe yang kamu bilang kemaren itu.”

“Kamu ke kosan dulu, kan? Kosanmu ada di tengah-tengah antara Dalung sama Sanur, lho. Jadi kita bisa berangkat bareng dari sini.”

Oh, fuck. Benar juga, batin Rama. “Enggak bisa. Aku lapar, aku mau makan sekarang. Kita langsung ketemu aja di sana.”

“Kejauhan. Kita cari kafe daerah situ aja!”

“Di mana?”

“Aku mau ke BAKED. yang baru di Batu Bolong. Kita ketemu di sana aja, gimana?”

“BAKED. bukannya di Seminyak Village? Yang kita pernah ke sana malam-malam, kan?”

“Iya. Tapi yang ini baru. Tempatnya masih bagus buat di-posting ke Instagram.”

“Terus nontonnya gimana?”

“Kita pikirin entar aja. Palingan kita ke Living World aja biar dekat ke kosan. Gimana, Yang?”

Rama menghela napas. “Oke. See you at BAKED..”

“Oke.”

Setelah panggilan terputus, Rama keluar dari kamar mandi untuk melihat apakah Indah sudah pergi atau belum. Saga sudah melepas lagi kausnya. Sehelai handuk tersampir di bahu, seperti mau mandi.

“Gue antar elo ke BAKED.,” kata Saga tiba-tiba. “Gue mau ke area situ juga siang ini.”

“Dari mana elo tahu gue mau ke BAKED.?” Rama mengerutkan alis, sambil celingukan menatap ke arah jendela, mencari-cari siluet Indah.

“Orang yang elo telepon ada di luar. Gue denger semua.” Saga terkekeh kecil sambil menepuk bahu Rama. “Cewek elo langsung cabut barusan. Tapi gue mandi duluan, ya. Kebelet.”

“Bentar. Elo mau ngantar gue ke sana? Gapapa?”

“Aman, Bro. Sekalian gue keluar.” Dengan jail Saga mencubit puting Rama sambil berjalan masuk kamar mandi.

“Argh!” Rama terkekeh geli dan baper.

“Lagian elo ngakunya enggak bawa mobil, kan?” sahut Saga sambil menutup pintu kamar mandi. “Aman, Bro! Gue antar aja!”


[ ... ]


Secara teknis, di Bali ini, Rama punya mobil dan motor. Namun dalam situasi ini, Rama tak bisa menggunakan keduanya. Dia terlanjur berbohong kepada Indah, dan seperti semua kebohongan di seluruh dunia, akan menyeret pembohongnya ke skenario-skenario yang merepotkan.

Rama tak terbiasa menumpang ke orang lain selama di Bali. Dia hampir selalu ada di jok kemudi. Ketika Rama membuntuti Saga hingga ke motornya, dada Rama berdebar-debar karena pengalaman pertamanya dibonceng justru bersama kekasih hatinya sejak SMA.

Motor Saga hanyalah motor matic sewaan yang sudah tua dan kelihatan rapuh—bumper dan spion-nya hampir lepas. Platnya DK, disewa per bulan dengan harga murah. Meski enggak “keren”, tapi karena yang mengemudikannya Saga, tetap saja lelaki itu kelihatan ganteng dan bikin horny.

“Gue pegangan ke mana?” tanya Rama jujur setelah duduk di jok belakang. Rama tidak menemukan handle yang biasanya menempel di belakang.

“Ke mana aja yang menurut elo enak, Ram,” canda Saga sambil menyalakan motor.

“Kalau pengin enak mah pegangan ke kontol, Ga,” balas Rama, sama-sama bercanda.

Saga membalas dengan tawa. “Hahaha.”

Dan sudah.

Tidak menampik, tidak menyeringai jijik, tidak meluruskan dengan bilang pegangan ke mana gitu, seolah-olah enggak apa-apa kalau Rama pegangan ke kontol. BRRRMMM ...! Tahu-tahu motor melaju meninggalkan kosan dan Saga tidak membahas apa pun lagi sepanjang perjalanan.

Terpaksa Rama menjaga gaya sentrifugal dirinya sendiri dengan duduk tegak, kaku, sambil mengencangkan otot pantat. Tujuannya agar tidak terjengkal jatuh ke belakang. Sesekali kalau Saga menarik gas terlalu kuat, Rama akan mencengkeram bahu Saga dengan spontan. Tapi begitu laju motor stabil, Rama akan menurunkan lagi tangannya ke paha sendiri. Kejadiannya berulang-ulang, pegang bahu, turunkan, pegang bahu, turunkan, pegang bahu, turunkan.

Kira-kira di area Kerobokan, ketika situasi lalu lintas agak padat dan macet karena adanya rekayasa lalu lintas, Saga tiba-tiba mengulurkan tangan ke belakang, menarik tangan Rama, lalu meletakkannya ke pinggang Saga. Satu saja, yang kiri. Membuat Rama ragu-ragu apakah tangan kanannya memegang pinggang Saga juga atau tidak. Melihat dari laju motor yang ngegas ngerem ngegas ngerem, Rama pun meletakkan tangan kanannya di pinggang Saga yang ramping.

Sungguh, tak pernah Rama sedeg-degan ini. Rama hanya bisa duduk kaku dan mencengkeram pinggang Saga dengan hati-hati. Telapak tangannya terasa hangat karena gugup. Rama hampir tak bisa pura-pura menatap ke sekitar. Yang Rama tatap adalah tengkuk Saga dan betapa dirinya mengagumi tengkuk itu.

Selama bermenit-menit, Rama mengagumi Saga dari belakang. Lebar bahunya, garis cukuran rambut di kepalanya, punggungnya, empuk pinggangnya diremas-remas, dan aromanya yang khas. Sewaktu Saga menoleh untuk melihat lalu lintas di belakang karena dia mau belok, Rama melihat profil wajah itu dari samping. Tampak sempurna. Wajah Saga serius dan ganteng.

Hingga akhirnya—

CKIIIIIIITTT ...!!!

—Saga terpaksa ngerem karena seorang bule memotong jalurnya dengan ugal-ugalan, lalu ngebut dan kabur.

“Anjing! Tolol!” gumam Saga marah. Saga lanjut melajukan motor dengan kecepatan normal. Alisnya mengerut kesal sambil berkali-kali menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada lagi bule norak yang mengendarai sepeda motor serampangan.

Yang enggak normal adalah suasana hati Rama. Ketika rem mendadak itu terjadi, tubuh Rama terpelanting ke depan, dadanya menghantam punggung Saga. Pada saat yang sama, kedua tangannya terulur juga, lepas dari pinggang Saga. Lalu ketika Rama menarik tangan itu, tak sengaja kedua tangannya mendarat di perut Saga.

Tangan itu sudah tidak di pinggang Saga. Tangan Rama sudah bertemu, tepat di area kancing celana Saga. Saling menyusupkan jemari.

Jantung Rama bertalu-talu menyadari posisi tangannya makin dekat ke kontol Saga.

Alih-alih menarik lagi tangan itu ke tempat semula, Rama malah ingin membalas kejailan Saga di kosan tadi—waktu Saga mencubit tetek Rama sebelum masuk kamar mandi—dengan meremas kontol Saga. Niatnya bercanda saja. Cowok ke sesama cowok kalau bercanda gimana.

Rama remas kontol itu ....

... kontolnya masih lemas, of course ....

... dua kali remas ....

... jeda ....

... dua kali remas lagi ....

... jeda ....

... dan tak ada respons apa-apa dari Saga ....

... Rama remas lagi kontol itu dari luar celana, sampai lima kali, hampir seperti memijatnya, dan apa yang Saga lakukan?

....

Saga menarik tepian bawah bajunya ke atas, lalu menudungi tangan Rama yang sedang ada di atas kontolnya.

Rama membeku.

Saga baru saja menyembunyikan tangan Rama yang sedang jail.

Dengan dada makin berdebar-debar cemas sekaligus bergairah, Rama lanjut meremas-remas kontol itu. Kontol Rama otomatis ngaceng.

Saga sama sekali tidak mengatakan apa pun. Tidak menoleh untuk tersenyum jail. Tidak memberi klarifikasi. Tidak memberikan reaksi. Yang ada malah beberapa ratus meter kemudian, tangan kiri Saga menyusup masuk ke dalam kausnya ....

... lalu membuka kaitan celananya.

Ritsleting-nya dia turunkan setengah sambil merapikan posisi duduk.

Rama jantungan. Terlebih ketika Rama menyusupkan satu tangannya ke dalam celana itu, langsung ke dalam sempaknya juga, lalu meremas kontol Saga. Semua dilakukan tanpa obrolan, tanpa kode. Mengalir begitu saja. Rama langsung menggenggam kontol Saga yang kenyal dan hangat. Kontol itu sudah ngaceng setengah.

Dalam sisa perjalanan itu, Rama meremas-remas kontol Saga tanpa henti. Rama mainkan frenulumnya dengan jari. Rama pelintir kanan kiri. Rama susupkan jemarinya di antara jembut Saga yang lebar, membiarkan rambut-rambut pubis itu menggelitik sela-sela jarinya. Lalu Rama kocok pelan-pelan ketika memungkinkan.

Tak butuh waktu lama hingga kontol Saga ngaceng keras lagi, berdiri tegak dengan kepala kontol mencuat keluar celana—tapi masih tertutupi kaus Saga.

Rama memainkan kontol ngaceng itu dengan menggelitik frenulumnya menggunakan ujung jari. Rama bisa merasakan kontol Saga berkedut-kedut keenakan.

Selama kejadian nakal itu, Saga tak mendesah atau mengomentari aksi Rama. Yang ada malah Saga membahas hal lain. “Elo kalau pake mobil enggak bisa masuk sini, Ram,” katanya, berbelok ke arah Umalas. “Ini entar nembus ke Canggu Shortcut.”

“Kenapa enggak bisa lewat sini?”

“Ada jembatan kecil yang dipalang. Mobil enggak bisa lewat.”

“Ooohhh ... jadi cuma motor aja.”

“Yoi.”

“Tembusnya ke mana?”

“Ke Berawa. Dari situ elo bisa langsung ke Nelayan, terus ke Batu Bolong. Elo BAKED.-nya Batu Bolong, kan?”

“Iya, Bro.”

“Kita lewat sini aja, ya.”

“Siap, Bro. Gue ngikut.”

Dan selama obrolan itu, tangan Rama masih ada di dalam celana Saga, masih mengurut-urut kontol ngaceng Saga.

Next obrolan apa? Saga membahas topik general. “Kalau elo ke kiri, elo bisa langsung ke Canggu. Ke FINNS.”

“Gue enggak pernah lewat sini,” balas Rama sambil menoleh ke kiri. Tangannya masih meremas-remas kontol Saga. “Gue biasanya dari arah Canggu Raya, yang ada bunderan, tapi kotak, yang muter-muter itu—“

“Ooohhh ... yang ada sawah itu? Ya, ya. Macet terus itu.”

“Emang, Bro. Hahaha ....”

“Kalau elo naek motor, pake shortcut aja. Lebih cepet ke area sini.”

“Halah, Ga. Ke sini aja gue jarang! Hahaha .... Cuma nongkrong di kosan aja buat belajar.”

“Hahaha.”

Rama mulai merasakan telapak tangannya basah oleh precum Saga. Rama mempercepat pijatan tangannya di kontol ngaceng Saga.

Lalu lintas di sekitar mereka sebenarnya ramai. Namun memang motor Saga hampir tak pernah berhenti sepanjang menyusuri Canggu Shortcut. Tidak ada persimpangan dengan lampu lintas yang mungkin akan menyetop perjalanan mereka. Paling hanya diperlambat ketika berbelok. Yang artinya, tangan Rama masuk ke celana Saga tuh mungkin tidak akan diperhatikan siapa pun.

Sejak kejadian rem mendadak itu pun, tubuh Rama menempel ke punggung Saga. Satu tangannya yang tidak masuk juga masih berpegangan ke perut Saga. Mereka berdua hampir seperti dua orang pacaran yang sedang naik motor berboncengan.

“Cewek elo udah nyampe?” tanya Saga kemudian, setelah melewati Starbucks Nelayan.

“Kayaknya udah.”

“Entar elo bisa pulang sendiri ke kosan?”

“Halah, santuy, Bro. Gue bisa pake Grab.”

“Jauh, anjir. Dari Batu Belig ke Renon bisa kena ....” Saga berhenti. Seperti orang yang sedang mengalkulasikan sesuatu di kepalanya, menghitung tarif taksi online dengan jarak sejauh itu, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah ....

Crot. Crot. Crot. Crot. Crot.

... kontol Saga ejakulasi, menyemburkan sperma ke tangan Rama.

Saga terlihat menahan napas sejenak. Bahunya menegang. Lalu, setelah sensasi orgasme intens itu selesai, Saga melanjutkan kalimatnya, “... bisa kena dua ratus ribuan, Ram. Gue pernah soalnya.” Saga bersikap eakan-akan crot itu tidak terjadi di bawah sana.

Sambil mengeluarkan tangannya pelan-pelan dari balik celana Saga, Rama merespons, “Enggak masalah, Bro! Gue pernah nge-Grab dari bandara ke Kintamani. Bisa sampe dua juta itu.”

“Hahaha .... Gokil, gokil!” Saga geleng-geleng dengan bahu berguncang kana tertawa. “Maksudnya tadi kalau elo mau gue jemput ....”

“Enggak usah. Gue ama cewek gue soalnya.”

“Asyiiikkk .... Hahaha. Siap, Bro.”

Rama menarik tangannya dan melihat telapak tangannya dipenuhi cairan putih kental yang hangat. Sebelum mereka tiba di lokasi tujuan, Rama menjilati sperma Saga di telapak tangannya. Sampai tandas. Soalnya enggak mungkin sperma itu dilap ke bajunya, atau ke baju Saga. Apalagi jika dibuang ke jalan raya.

Hingga mereka tiba di kafe tujuan, tak ada sedikit pun bahasan tentang crot barusan. Mereka berdua tidak bersikap awkward seperti tempo hari, tetapi tak ada yang berani membahas soal itu juga. Tahu-tahu mereka sampai di depan BAKED. Batu Bolong dan Rama turun dari joknya.

“Mau gue bawain helmnya?” tanya Saga, mengulurkan tangan.

“Enggak usah. Gue bawa aja. Habis ini elo mau ke mana?”

“Gue mau ke Umalas, yang tadi kita lewat. Ketemuan ama temen.” Sambil menjawab, sambil Saga diam-diam mengaitkan lagi kancing celana dan menaikkan ritsletingnya. “Elo pulang jam berapa?”

“Belum tahu. Tapi tadi gue simpan kunci di tempat biasa. Kalau elo pulang duluan, ambil aja di situ.”

“Ah, noted. Oke. Gue cabut dulu!” Saga menoleh ke belakang untuk melihat lalu lintas.

“Sip! Thanks, Ga!”

“Aman!” Dan Saga pun memutar motornya, melaju pergi meninggalkan Rama di depan kafe.

Begitu Rama berbalik, dia terlonjak kaget. “ARGH!” soalnya Indah sudah berdiri di belakangnya, melipat tangan di depan dada. Meskipun Indah pasti tidak melihat adegan ngocokin kontol Saga di atas motor, tapi deg-degannya tetap sama, seolah-olah Indah memergoki Rama selingkuh. “Sejak kapan kamu di sini?!”

“Aku udah nyampe dari tadi. Udah pesan juga. Itu tadi teman kamu?” Indah menyipitkan mata menatap kepergian Saga di ujung jalan.

Rama menoleh sejenak ke belakang, dengan hati harap-harap-cemas, semoga Indah tidak menangkap binar-binar bahagia Rama dibonceng Saga barusan. “Ya! Ya. Dia ... dia yang bawa aku pagi tadi buat ngerjain tugas.”

“Dia Saga, kan?”

What the fuck?!

Rama membeku mendengar Indah mengetahui nama Saga. Rasanya wajah Rama memucat dan kedua kakinya tersemen ke atas trotoar depan kafe. “Kamu ..., kamu kenal dia?”

“Dia yang main di basket kemaren, kan? Yang kita nonton bareng?”

Rama menelan ludah. “I ... iya. Betul.”

“Bukannya dia kampusnya beda dari kamu. Dia FK juga?”

Tak ada alasan untuk berbohong lebih jauh. Sampai titik ini, berbohong hanya memaksa Rama membuat kebohongan lain yang merepotkan. Sebagai gay discreet, Rama mempelajari bahwa tidak setiap hal perlu ditutupi. Jadi untuk urusan ini, Rama mengaku jujur, “Bukan. Dia kampusnya beda dariku. Dia teman SMA-ku di Jakarta.”

Indah manggut-manggut. “Iya memang dia dari Jakarta. Aku enggak nyangka aja kamu kenal sama dia.”

“Wait! How do you know all of this?!”

Indah masih menegakkan kepalanya mengamati kepergian Saga. Setelah Saga benar-benar lenyap, Indah pun menoleh ke arah Rama. “Dia famous, Yang. Di antara cewek-cewek. Temanku aja ada yang pernah main sama dia.”

Bagian main sama cewek-cewek tak membuat Rama terkejut. Rama masih tak bisa terima bahwa Indah mengetahui soal Saga selama ini.

“Yang jadi pertanyaanku,” lanjut Indah, “kenapa kamu enggak heboh pas nonton basket kemaren kalau Saga emang teman SMA-mu?”


[ ... ]


Pada akhirnya, sepanjang hari Sabtu itu, Rama menghabiskan seluruh hari bersama Indah. Setelah makan di BAKED., mereka pergi ke Living World, menonton ke bioskop, jalan-jalan di mal, belanja, nongkrong di kafe mencoba dessert yang sedang viral, makan malam, dan akhirnya pergi ke kosan Indah untuk berciuman sampai bosan. Rama tersiksa dengan penampilannya sepanjang hari. Gara-gara harus mempertahankan skenario menginap di kosan teman, Rama hanya mengenakan celana dan kaus santai, dan sandal Saga yang kebesaran, yang kebetulan ada di dalam koper—jadi tidak dilihat Indah ketika menunggu di depan kamar.

Namun, yang membuat Rama tak nyaman adalah kecurigaannya bahwa Indah “mungkin” menyukai Saga.

Sepanjang brunch di BAKED., topik soal Saga muncul berkali-kali. Semuanya diinisiasi oleh Indah, tak peduli Rama membelokkan topik ke arah lain.

“Tapi emang menurutku seksi, sih. Makanya temen-temenku, kalau lihat Saga, bawaannya mesum mulu. Kayak jantung tuh deg-degan enak, gitu. Kamu paham kan? Misal kamu lihat Aura Kasih, itu pasti kamu deg-degan karena dia seksi, kan?”

Enggak, jawab Rama dalam hati. Namun, Rama tak memberikan respons apa pun selain melanjutkan kunyahan sourdough-nya yang keras.

“Saga tuh kayak ada ... cool-cool-nya, gitu. Yang senyum dikit aja, cewek-cewek bisa baper. Tapi saking bapernya, cewek tuh mau aja diperkosa sama dia dengan ikhlas. Enggak apa-apa misal tetek kita diperkosa tangan Saga yang gede itu. Soalnya, tiap Saga pegang bola basket aja, dada kita tuh berasa lagi di-dribble Saga. Menurut kamu gimana, Yang?”

“Hmmm ....” Dengan bete Rama hanya menelan santapannya melewati kerongkongan. Yang Rama tanggapi malah hal lain. “Pemerkosaan terjadi karena satu pihak enggak mau, atau enggak ngasih konsen, buat pihak lain menyentuh dia. Kalau kamu ikhlas itunya diremas Saga, itu bukan pemerkosaan. Itu namanya horny.”

Namun, Indah tidak menanggapi. “Si Tita pernah main ama si Saga. Enak banget katanya waktu main. Keras banget. Uuuhhhhhh ... Itu si Tita nyeritanya berulang-ulang. Dia mah kayaknya enggak absen kalau timbasket kampusnya si Saga lagi tanding.”

Alih-alih merespons, Rama langsung melihat telapak tangannya sendiri. Tangan yang beberapa saat sebelumnya meremas-remas kontol Saga, yang bisa mengonfirmasi betapa keras kontol tersebut.

“Aku tahu kayaknya dia player. Dia cuma mau fun doang ama cewek-cewek. Enggak akan bisa diajak serius. Mokondo, pula.”

Rama tertarik mendengar kata kunci itu. “Mokondo?

“Kadang kalau makan atau jalan ke mana gitu, Tita yang bayarin si Saga. Mereka pernah makan di Nuris. Kan itu lumayan mahal, ya. Si Saga bilang, Tita bayar dulu aja, entar Saga transfer. Tapi sampe sekarang belum ditransfer. Tapi kalau orangnya kayak si Saga sih, ya udahlah, ya. At least, mokondo juga, ganteng dia mah.”

“Hmmm ....” Rama bergumam.

“Kayak kamu, Yang, maksudnya. Ganteng juga,” tambah Indah, supaya tidak mencurigakan. “Meskipun kamu tuh beda gantengnya. Kalau si Saga kan, ganteng-ganteng-cool. Seksi. Hot, gitu. Kalau kamu husbandable banget. Cowok baik-baik, cowok pintar, punya mobil.”

“Hmmm ....”

“Oh iya, kenapa enggak kita ajak si Saga hang out bareng kapan-kapan? Makan di mana gitu, bertiga?”

Di situlah Rama menyimpulkan Indah mungkin naksir Saga juga. Obrolan soal Saga masih muncul beberapa kali meski mereka sudah di Living World atau di kosan Indah. Rama sempat juga menegur, “Can we not talk about him?

“Lah, kok kamu sewot?” balas Indah defensif. “Itu kan temen kamu.”

“Kan kita lagi pacaran berdua gini, kenapa bahas orang lain? Sebenarnya kamu pacaran sama aku atau sama si Saga?”

“Ya tapi kan orang lainnya temen kamu! Sama aja kayak aku nyeritain soal teman-temanku ke kamu. Bukan berarti kita jadi pacaran sama orang yang kita obrolin. Kok hari ini kamu kayak yang ngehindar dari aku, ya?”

Dan di situlah, supaya tidak memperpanjang perdebatan, Rama meminta maaf lalu mulai mencumbu bibir Indah dengan intim. Tujuannya, selain mengunci mulut Indah dari membahas Saga, juga untuk menunjukkan Rama masih mencintai Indah.

Soalnya, makin lama Rama menghabiskan waktu dengan Indah, makin Rama menyadari dirinya mencintai Saga teramat sangat. Rama tak bisa melepaskan sosok Saga dari kepalanya meskipun Indah yang ada di sampingnya. Film di bioskop tak diamati Rama sama sekali karena pikirannya melayang ke tengkuk seksi itu dan bagaimana kontol ngaceng Saga ada di dalam genggaman tangannya.

Rama merindukan Saga. Dada Rama berdebar oleh gairah setiap kali teringat siluet wajah tampan dan seksi itu. Semua yang Indah katakan soal Saga memang benar. Saga se-cool itu. Tapi kan enggak mungkin Rama menimpali dengan persetujuan. Entar jadinya aneh kalau tiba-tiba Rama bilang ke Indah, “Iya banget, deeehhh .... Apalagi otot lengannya itu, ugh! Kenyal-kenyal keras.” Khawatir Rama keceplosan dan malah membahas ketek Saga yang pagi ini aromanya enak bukan main.

Akhirnya, pukul 11 malam Rama pulang ke kosan dengan perasaan campur aduk. Rama happy dengan apa yang terjadi pagi tadi, tetapi bingung juga dengan situasinya bersama Indah. Jika benar Indah naksir Saga, apa yang harus Rama lakukan? Saingan? Most likely, kalau disuruh milih, Saga akan memilih Indah karena Indah punya toket dan memek—sesuatu yang Rama tak miliki. Haruskah Rama merasa iri dan sedih akan hal tersebut?

Suasana hati Rama berubah membaik ketika dia sampai di kamar kosannya dan menemukan Saga sudah pulang. Pintu tak dikunci, tetapi Saga tidak ada di dalam kamar. Ada suara aliran air dari kamar mandi, mungkin Saga sedang mandi.

Masalahnya, Rama sedang kebelet pipis.

Rama minum air terlalu banyak saat makan malam. Begitu cipokan di kosan Indah, Rama ingin sekali pipis. Rama menghindari pipis di kamar Indah khawatir kontolnya ketahuan enggak ngaceng selama cipokan bermenit-menit itu. Sekaligus khawatir Indah ngajak ngewe mumpung Rama akan buka celana.

Sepanjang bercumbu, Rama mengingatkan Indah berkali-kali dia harus mengerjakan tugas kuliah malam ini jadi tak bisa melakukan apa pun selain berciuman dan meremas-remas toket Indah. Kelihatannya Indah orgasme karena ada satu momen di mana Indah mendesah dan mengerang keenakan berkali-kali, dengan napas pendek-pendek. Indah memejamkan mata, sehingga Rama memainkan memek Indah agar orgasme itu terasa nyaman.

Setelahnya, karena Rama benar-benar kebelet pipis, Rama pun pamit dan pulang menaiki Gojek dalam kondisi kandung kemihnya penuh.

Maka dari itu, sesampainya di kamar, Rama langsung mengetuk, “Ga! Sorry, masih lama enggak? Gue kebelet.”

Saga langsung menjawab, “Masuk aja! Enggak dikunci!”

Agak deg-degan juga disuruh masuk ketika Saga lagi mandi, tetapi Rama betulan ingin pipis sehingga dia langsung membuka pintu dan menemukan Saga sedang membelakanginya sambil mematikan keran shower.

Sorry. Gue pengin pipis dari tadi.”

“Aman, Bro,” balas Saga santai. Dia memompa sabun cair Rama ke tangannya, lalu membalur sabun itu ke tubuhnya hingga berbusa.

Denah kamar mandi itu sederhana. Ketika pintu dibuka, satu area yang sejajar pintu adalah area shower. Di dinding seberang pintu, di atasnya, terdapat kucuran shower. Lalu, di satu area sisanya, tepat di samping shower, ada toilet. Toilet itu menghadap ke pintu, sehingga ketika Rama berdiri di depan toilet untuk kencing, Saga juga berdiri di samping Rama, menghadap ke dinding.

Awalnya, Rama hanya fokus ke kebeletnya: bergegas mengangkat dudukan toilet, mengeluarkan kontol dari celana, lalu mengeluarkan air kencingnya. Rama sudah melihat tubuh telanjang Saga dari belakang. Punggung dan pantatnya terlihat seksi dan basah kuyup. Namun, Rama masih fokus mengeluarkan air seni yang sedari tadi minta dibuang.

Saga kebetulan sedang menyabuni area perut dan kontolnya. Dia buat busa yang banyak melalui jembut, sambil satu tangannya menarik-narik kontol lemas itu ke depan berkali-kali. Setelahnya, Saga mulai menyabuni area lain tubuhnya. Ke dada atau keteknya. Saga sempat menoleh sekali ke Rama ketika berdiri di depan toilet, tetapi tak memberikan ekspresi apa pun. Saga hanya lanjut menyabuni tubuh seolah-olah lelaki masuk ke kamar mandi lelaki lain yang sedang mandi adalah hal lumrah.

Setengah perjalanan kencing itu, Rama mulai merasakan gairah merayap di setiap pembuluh darahnya. Dia baru menyadari bahwa mandinya sang kekasih hati terasa sangat seksi di hatinya. Napas Rama mulai memburu. Dia menoleh ke samping, ke kontol Saga yang berbusa. Entah apa yang menarik secara seksual dari kontol berbusa itu, tetapi Rama tak dapat menahan diri untuk tidak mengulurkan tangannya dan memainkan lagi kontol itu.

Saga menunduk sejenak melihat tangan Rama ada di kontolnya.

Lalu, seperti tadi pagi, Saga mengabaikannya. Saga lanjut menyabuni keteknya, membiarkan tangan itu meremas-remas kontol Saga.

Saga tidak membahasnya.

Rama tidak membahasnya.

Saga malah memutar setengah badannya ke belakang untuk mengambil pencuci muka Rama, menuangnya ke telapak tangan, dan mengusapkannya ke seluruh wajah.

Sepanjang proses itu, Rama masih saja meremas-remas kontol Saga.

Lama-lama, Rama harus agak nungging karena kontolnya mulai ngaceng. Pipisnya mulai mancur ke atas sehingga Rama perlu menyesuaikan arah tembakannya.

Kontol Saga ternyata ngaceng juga kalau dimainkan dengan busa sabun yang licin ini. Sesekali tubuh Saga mengentak kecil, seperti ngilu, geli, dan keenakan dicampur jadi satu.

Namun, masih seperti sebelumnya, tak ada satu pun dari mereka yang membahas tangan Rama di kontol Saga.

Bahkan, hingga Rama selesai kencing, tangan Rama masih saja memainkan kontol Saga.

Saga juga mulai berdiri diam, mendorong satu tangannya ke dinding, memejamkan mata mengkhidmati permainan tangan itu, lalu mengatur napasnya. Seluruh tubuhnya yang perlu disabuni, sudah selesai disabuni.

Topik soal nakalnya tangan Rama akhirnya dibuka oleh Saga ketika dia memutuskan untuk membilas tubuhnya. “Bro ..., jangan diperas terus, Bro. Entar habis. Hehehe.” Saga berbisik dengan suara dalam yang seksi.

“Bakal habis emang?”

“Ya habis kalau dikeluarin terus.” Saga terkekeh sambil tetap mengkhidmati kocokan tangan Rama. Namun akhirnya Saga melepaskan tangan Rama dari situ. “Jangan. Gue mau ketemu cewek sekarang. Mau main ama dia. Jangan sampe punya gue lemas depan dia.”

Rama mengamati kontol Saga. “Ah, enggak ada lemas-lemasnya tuh. Malah keras kayak beton.”

“Ya makanya, Brooo ....”

Saga pun menyalakan shower sementara Rama menekan flush.

Karena tak mungkin adegan sensual itu lanjut di tengah-tengah Saga mandi, Rama pun memutuskan keluar dengan senyum lebar. Sudah cukup kok, batin Rama. Enggak usah muluk-muluk minta yang aneh-aneh. Toh hubungan mereka sudah enggak awkward lagi. Sudah nyaman.

Rama meninggalkan Saga yang kini sedang melunturkan busa sabun dari tubuhnya dengan kontol ngaceng tegak ke atas. Rama menyambar ponsel di atas tempat tidur yang selama pipis tadi kayaknya bergetar tanpa henti.

Ada puluhan pesan tak terbaca.

Rama kebingungan. Ketika membuka WhatsApp, tiba-tiba saja Rama sudah dimasukkan ke sebuah grup yang bernama:

CARI SAGA

Dan pesan-pesan awal yang Rama terima adalah ....

Nih gw masukin aja si Rama di sini

Biar jelas ga berspekulasi

Ayo Ram jelasin ini maksudnya apa

Di bawah message itu ada sebuah foto. Fotonya diambil agak blur, karena itu adalah foto motor yang sedang melaju cukup kencang, dengan dua orang manusia duduk di atasnya.

Dua orang itu adalah Saga dan Rama.

Dalam posisi Rama memeluk Saga dari belakang.

Yang artinya satu tangan Rama sedang masuk ke dalam celana Saga.

Namun, karena difoto dari sisi kemudi jalan, tangan Rama yang sedang mengocok kontol Saga terhalang oleh setang motor. Bagian itu tidak kelihatan, tetapi fakta bahwa Rama seakan-akan memeluk Saga terlihat sangat jelas.

Itu si Saga kan Ram?

Dia lagi di Bali atau kalian selama ini tinggal bareng?

Orang2 lg nyari dia woy

Lu kalau punya infonya knp kga ngabarin dah?!

Bukannya bantu malah mesra2an ama si SANGSAT. Saga Bangsat.

Wkwkkw.

Ram?

Si Vina lagi di bali. Dia yg motoin itu pagi tadi.

WTF??!! Kalian masukin si Rama ke sini?! Kan gw udh bilang, this is between us aja, anjir! Pesan ini datang dari Vina.

Yang di bawahnya disambung dengan pesan dari Hesti, Rama, ini aku Hesti. Bener kamu lagi di Bali sama Saga sekarang?

Bolehkah aku dikonekin sama Saga, Ram?

Pls

Anaknya lagi sakit.

Pls kasih tahu Saga ada di mana.

Kagak bakal ngasih tahu dia! WKWKWK.

Selain nipu elu, Hes, si Saga juga nipu si Rama. Dipikat biar jatuh cinta.

WKWKWK.

Kasih tau kita si saga dmn ram atau kita smua nyimpulin elo homo dan nyembunyiin si saga selama ini dari kita.

Pantesan anjing lu diem2 bae selama di bali.

Kasih tau ram! Kita2 mau kesitu jemput si sangsat biar mampus!

Fuck u ram!

....

Pluk!

Ponsel Rama jatuh ke atas tempat tidur. Rama membeku dalam rasa panik. Matanya membelalak. Tubuhnya tak bisa bergerak. Napasnya memburu.

Apa yang harus Rama lakukan?!

Beri tahu Saga soal ini lalu cari solusinya bersama atau ....

... selesaikan masalah ini sendiri tanpa melibatkan Saga?!

Pilihan mana yang akan membuat Saga tetap di sini?

Perlukah Rama melindungi Saga ....

... atau membantu korban kejahatan Saga?!


[ ... ]

Voting sudah selesai.
Hasil voting terlampir di bawah.


Hasil voting:

Jumlah pemilih: 156 orang

Sebanyak 71% (111 orang) pilih “Beri tahu Saga soal grup itu, cari solusi sama2”

Sebanyak 29% (45 orang) pilih “Sembunyikan soal grup, selesaikan sendiri”

Belum ada pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.

Maka dari itu, Part 7 akan mengikuti suara terbanyak. Klik di sini untuk melihat cerita yang tidak terpilih.

Dengan ini, seluruh voting yang terjadi di Part 6 setelah penayangan Part 7 sudah tidak berlaku lagi.



Komentar