Pada umumnya, para gay akan memilih pura-pura tidak di kosan supaya setelah Indah pergi mereka bisa lanjut ngocok kontol Saga atau at least ndusel-ndusel ketek Saga lagi.
Sayangnya, penyelesaian masalah tidak sesederhana menghindar
seperti itu.
“YAAAAAANNNGGG ...?! BANGUUUNNN ...!”
TOK! TOK! TOK!
Saga langsung melompat dari tempat tidur dan mengambil celana
boksernya. Dia juga menyambar kaus belel tipis yang tampaknya sering dia
gunakan sehari-hari di dalam kosan. Dalam tempo kilat dia sudah berpakaian
lengkap.
Rama menarik lagi celananya sambil menyambar ponsel di atas
meja. Rupanya ada tiga pesan dari Indah yang belum terjawab disertai dua missed
call. Rama memutar otak mencari cara mengatasi ini.
“Elo mau temuin dia atau pura-pura enggak di kosan?” tanya
Saga, berbisik pelan sekali.
Rama menggelengkan kepala tidak tahu. Kepalanya mumet
menentukan apa yang harus dilakukan. Dengan panik, Rama menjawab, “Gue
pura-pura enggak di kosan aja.”
“Tapi mobil elo ada di luar, kan?”
“Oh, fuck.” Rama menepuk jidatnya sendiri.
Dan, sedetik kemudian, Indah juga mengatakan hal yang sama. “YAAANNNGGG
...?! Kamu di dalam, kaaannn ...?! Mobilmu ada di depan, lhooo ....”
TOK! TOK! TOK!
Rama terduduk lagi di atas tempat tidur, mulai stres. Dia tak
pernah mengalami hal seperti ini. Dia tak pernah selingkuh. Tak pernah
dipergoki kekasih sendiri sedang ena-ena dengan orang lain dalam situasi
terpojok.
Belum juga Rama menemukan solusi, Indah menelepon. Namanya
menyahut berkali-kali di layar. Menggetarkan ponsel di tangan Rama.
“Oke ..., gue mau angkat ini di kamar mandi,” kata Rama
kemudian, bertindak cepat. “Elo jangan keluar dulu. Please.”
“Aman. Gue tunggu di sini.” Saga duduk lagi di ujung tempat
tidur, dekat ke kamar mandi.
Rama masuk ke kamar mandi, menutup pintunya, tetapi tidak
rapat. Masih ada sejengkal celah pintu yang terkuak. Rama merasa perlu menjawab
di kamar mandi agar suaranya bergaung.
“Halo?” sapa Rama, menerima panggilan telepon.
Indah membuka panggilan video. Wajah Indah memenuhi layar,
dengan latar belakang kamar kosan Rama. “Yang? Kamu di mana?”
“Aku enggak bisa nyalain video. Lagi di kamar mandi. Lagi
nyetor.”
“Ya gapapa, kali. Kayak yang aku enggak
pernah lihat kamu lepas celana aja. Kamu di mana, sih?”
“Aku lagi di kosan teman. Aku enggak bisa buka video, nanti
suaranya jadi loudspeak. Temanku masih tidur.”
Di layar, Indah terlihat mengerutkan alis. Indah menutup lagi
videonya dan berbicara melalui panggilan telepon biasa. “Bukannya semalam
kamu di kosan, Yang? Kita kan teleponan.”
Benar juga, batin Rama baru teringat. Dengan perut
mulas, seperti semua alasan yang Rama kelitkan ke orang-orang ketika ingin
menutupi identitasnya, Rama pun membual, “Enggak lama dari nelepon kamu,
temenku datang ke kosan. Dia jemput aku.”
“Ngapain malam-malam datang ke kosanmu?
Cowok apa cewek?”
“Cowok. Minta bantuan ngerjain tugas. Tapi laptop dia di
kosan, jadi aku ke kosan dia. Kita ngerjain sampe jam 2 pagi. Terus aku
ketiduran tempat dia. Ini aku baru bangun.”
“Di mana kosannya?”
“Jauh. Ngng ... di Dalung. Dari Tiara Gatsu ke utara
lagi.”
“Oh.” Indah tampak tak puas. “Kamu punya
sepatu baru?”
“Hah? Sepatu baru?”
“Kamu pake apa ke kosan temenmu? Kenapa semua sepatu kamu
masih di sini, semua sandal kamu masih di sini, malah mendadak ada dua sepatu
baru yang belum pernah aku lihat. Ini sepatu siapa? Udah jelek, pula.”
Rama menepuk lagi jidatnya. Semua alas kaki Rama ada di luar.
Kamar Rama berada di ujung gedung, aksesnya buntu. Sehingga, di bagian ujung
lorong yang tertutupi atap dan dinding, Rama letakkan rak sepatu tinggi untuk
menyimpan seluruh alas kakinya. Termasuk sepatu oren tempat dirinya dan Saga
meletakkan kunci kamar akhir-akhir ini.
Sepatu Rama hanya tujuh pasang, ditambah dua pasang sandal
rumah. Indah sudah melihat semua alas kaki itu. Masuk akal jika Indah
mempertanyakan yang barusan.
“Aku ... aku punya sandal baru. Dikasih teman. Kemarin. Aku
pake itu.”
“Oh.” Indah terdiam lagi. Masih terdengar belum
puas. “Di luar juga ada asbak, ada puntungnya. Ini kamu yang ngerokok atau
teman kamu?”
“Teman,” jawab Rama segera. “Yang semalam jemput ke sini.”
“Oh.” Indah menghela napas. “Aku di depan
kosan kamu sekarang. Jam berapa kamu pulang?”
“Belum tahu. Kenapa emangnya?”
“Kita kan mau brunch hari ini. Kamu lupa?” Indah
mendengus kesal.
Rama mengusap wajahnya, menyesal karena dia bisa seteledor itu
melupakan janjinya yang ini. Beberapa hari lalu Rama mengiakan ajakan Indah
untuk brunch di Over the Moon Cafe di area Sanur. Habis brunch,
mereka mau nonton film di ICON Mall Bali.
“Akhir-akhir ini kamu beda, Yang,” ungkap Indah tiba-tiba, dramatis. “Kita
jarang ketemu lho. Ini kalau aku enggak datang langsung ke kosanmu, entah kapan
aku bakal main ke sini lagi. Kamu udah ada yang baru, ya?”
“Enggaaakkk ...,” sahut Rama lemas. “Kenapa kamu mikir gitu,
sih?”
“Ya soalnya kita enggak ketemu sesering
dulu.”
“Aku lagi banyak tugas aja. Kamu tahu sendiri, anak FK mana
bisa socialize sering-sering. Tiap hari isinya buku mulu.”
“Ck! Alibi!” sungut Indah.
“Alasan,” ralat Rama. “Alibi tuh cuma dipake di hukum pidana.
Artinya aja beda sama konteks yang kamu maksud.”
“Jadi gimana? Kita jadi ke Sanur?”
“Oke. Ya udah. Kita ke kafe yang kamu bilang kemaren itu.”
“Kamu ke kosan dulu, kan? Kosanmu ada di
tengah-tengah antara Dalung sama Sanur, lho. Jadi kita bisa berangkat bareng
dari sini.”
Oh, fuck. Benar juga, batin Rama.
“Enggak bisa. Aku lapar, aku mau makan sekarang. Kita langsung ketemu aja di
sana.”
“Kejauhan. Kita cari kafe daerah situ aja!”
“Di mana?”
“Aku mau ke BAKED. yang baru di Batu
Bolong. Kita ketemu di sana aja, gimana?”
“BAKED. bukannya di Seminyak Village? Yang kita pernah ke sana
malam-malam, kan?”
“Iya. Tapi yang ini baru. Tempatnya masih
bagus buat di-posting
ke Instagram.”
“Terus nontonnya gimana?”
“Kita pikirin entar aja. Palingan kita ke
Living World aja biar dekat ke kosan. Gimana, Yang?”
Rama menghela napas. “Oke. See you at BAKED..”
“Oke.”
Setelah panggilan terputus, Rama keluar dari kamar mandi untuk
melihat apakah Indah sudah pergi atau belum. Saga sudah melepas lagi kausnya.
Sehelai handuk tersampir di bahu, seperti mau mandi.
“Gue antar elo ke BAKED.,” kata Saga tiba-tiba. “Gue mau ke
area situ juga siang ini.”
“Dari mana elo tahu gue mau ke BAKED.?” Rama mengerutkan alis,
sambil celingukan menatap ke arah jendela, mencari-cari siluet Indah.
“Orang yang elo telepon ada di luar. Gue denger semua.” Saga
terkekeh kecil sambil menepuk bahu Rama. “Cewek elo langsung cabut barusan.
Tapi gue mandi duluan, ya. Kebelet.”
“Bentar. Elo mau ngantar gue ke sana? Gapapa?”
“Aman, Bro. Sekalian gue keluar.” Dengan jail Saga mencubit
puting Rama sambil berjalan masuk kamar mandi.
“Argh!” Rama terkekeh geli dan baper.
“Lagian elo ngakunya enggak bawa mobil, kan?” sahut Saga
sambil menutup pintu kamar mandi. “Aman, Bro! Gue antar aja!”
[ ... ]
Secara teknis, di Bali ini, Rama punya mobil dan motor. Namun
dalam situasi ini, Rama tak bisa menggunakan keduanya. Dia terlanjur berbohong
kepada Indah, dan seperti semua kebohongan di seluruh dunia, akan menyeret
pembohongnya ke skenario-skenario yang merepotkan.
Rama tak terbiasa menumpang ke orang lain selama di Bali. Dia
hampir selalu ada di jok kemudi. Ketika Rama membuntuti Saga hingga ke
motornya, dada Rama berdebar-debar karena pengalaman pertamanya dibonceng
justru bersama kekasih hatinya sejak SMA.
Motor Saga hanyalah motor matic sewaan yang sudah tua dan
kelihatan rapuh—bumper dan spion-nya hampir lepas. Platnya DK, disewa per bulan
dengan harga murah. Meski enggak “keren”, tapi karena yang mengemudikannya
Saga, tetap saja lelaki itu kelihatan ganteng dan bikin horny.
“Gue pegangan ke mana?” tanya Rama jujur setelah duduk di jok
belakang. Rama tidak menemukan handle yang biasanya menempel di
belakang.
“Ke mana aja yang menurut elo enak, Ram,” canda Saga sambil
menyalakan motor.
“Kalau pengin enak mah pegangan ke kontol, Ga,” balas
Rama, sama-sama bercanda.
Saga membalas dengan tawa. “Hahaha.”
Dan sudah.
Tidak menampik, tidak menyeringai jijik, tidak meluruskan
dengan bilang pegangan ke mana gitu, seolah-olah enggak apa-apa kalau Rama
pegangan ke kontol. BRRRMMM ...! Tahu-tahu motor melaju meninggalkan
kosan dan Saga tidak membahas apa pun lagi sepanjang perjalanan.
Terpaksa Rama menjaga gaya sentrifugal dirinya sendiri dengan duduk
tegak, kaku, sambil mengencangkan otot pantat. Tujuannya agar tidak terjengkal
jatuh ke belakang. Sesekali kalau Saga menarik gas terlalu kuat, Rama akan
mencengkeram bahu Saga dengan spontan. Tapi begitu laju motor stabil, Rama akan
menurunkan lagi tangannya ke paha sendiri. Kejadiannya berulang-ulang, pegang
bahu, turunkan, pegang bahu, turunkan, pegang bahu, turunkan.
Kira-kira di area Kerobokan, ketika situasi lalu lintas agak
padat dan macet karena adanya rekayasa lalu lintas, Saga tiba-tiba mengulurkan
tangan ke belakang, menarik tangan Rama, lalu meletakkannya ke pinggang Saga.
Satu saja, yang kiri. Membuat Rama ragu-ragu apakah tangan kanannya memegang
pinggang Saga juga atau tidak. Melihat dari laju motor yang ngegas ngerem
ngegas ngerem, Rama pun meletakkan tangan kanannya di pinggang Saga yang
ramping.
Sungguh, tak pernah Rama sedeg-degan ini. Rama hanya bisa
duduk kaku dan mencengkeram pinggang Saga dengan hati-hati. Telapak tangannya
terasa hangat karena gugup. Rama hampir tak bisa pura-pura menatap ke sekitar.
Yang Rama tatap adalah tengkuk Saga dan betapa dirinya mengagumi tengkuk itu.
Selama bermenit-menit, Rama mengagumi Saga dari belakang.
Lebar bahunya, garis cukuran rambut di kepalanya, punggungnya, empuk
pinggangnya diremas-remas, dan aromanya yang khas. Sewaktu Saga menoleh untuk
melihat lalu lintas di belakang karena dia mau belok, Rama melihat profil wajah
itu dari samping. Tampak sempurna. Wajah Saga serius dan ganteng.
Hingga akhirnya—
CKIIIIIIITTT ...!!!
—Saga terpaksa ngerem karena seorang bule memotong jalurnya
dengan ugal-ugalan, lalu ngebut dan kabur.
“Anjing! Tolol!” gumam Saga marah. Saga lanjut melajukan motor
dengan kecepatan normal. Alisnya mengerut kesal sambil berkali-kali menoleh ke
belakang untuk memastikan tak ada lagi bule norak yang mengendarai sepeda motor
serampangan.
Yang enggak normal adalah suasana hati Rama. Ketika rem
mendadak itu terjadi, tubuh Rama terpelanting ke depan, dadanya menghantam
punggung Saga. Pada saat yang sama, kedua tangannya terulur juga, lepas dari
pinggang Saga. Lalu ketika Rama menarik tangan itu, tak sengaja kedua tangannya
mendarat di perut Saga.
Tangan itu sudah tidak di pinggang Saga. Tangan Rama sudah
bertemu, tepat di area kancing celana Saga. Saling menyusupkan jemari.
Jantung Rama bertalu-talu menyadari posisi tangannya makin
dekat ke kontol Saga.
Alih-alih menarik lagi tangan itu ke tempat semula, Rama malah
ingin membalas kejailan Saga di kosan tadi—waktu Saga mencubit tetek Rama
sebelum masuk kamar mandi—dengan meremas kontol Saga. Niatnya bercanda saja.
Cowok ke sesama cowok kalau bercanda gimana.
Rama remas kontol itu ....
... kontolnya masih lemas, of course ....
... dua kali remas ....
... jeda ....
... dua kali remas lagi ....
... jeda ....
... dan tak ada respons apa-apa dari Saga ....
... Rama remas lagi kontol itu dari luar celana, sampai lima
kali, hampir seperti memijatnya, dan apa yang Saga lakukan?
....
Saga menarik tepian bawah bajunya ke atas, lalu menudungi
tangan Rama yang sedang ada di atas kontolnya.
Rama membeku.
Saga baru saja menyembunyikan tangan Rama yang sedang jail.
Dengan dada makin berdebar-debar cemas sekaligus bergairah,
Rama lanjut meremas-remas kontol itu. Kontol Rama otomatis ngaceng.
Saga sama sekali tidak mengatakan apa pun. Tidak menoleh untuk
tersenyum jail. Tidak memberi klarifikasi. Tidak memberikan reaksi. Yang ada
malah beberapa ratus meter kemudian, tangan kiri Saga menyusup masuk ke dalam
kausnya ....
... lalu membuka kaitan celananya.
Ritsleting-nya dia turunkan setengah sambil merapikan posisi
duduk.
Rama jantungan. Terlebih ketika Rama menyusupkan satu
tangannya ke dalam celana itu, langsung ke dalam sempaknya juga, lalu meremas
kontol Saga. Semua dilakukan tanpa obrolan, tanpa kode. Mengalir begitu saja.
Rama langsung menggenggam kontol Saga yang kenyal dan hangat. Kontol itu sudah ngaceng
setengah.
Dalam sisa perjalanan itu, Rama meremas-remas kontol Saga
tanpa henti. Rama mainkan frenulumnya dengan jari. Rama pelintir kanan kiri.
Rama susupkan jemarinya di antara jembut Saga yang lebar, membiarkan
rambut-rambut pubis itu menggelitik sela-sela jarinya. Lalu Rama kocok
pelan-pelan ketika memungkinkan.
Tak butuh waktu lama hingga kontol Saga ngaceng keras
lagi, berdiri tegak dengan kepala kontol mencuat keluar celana—tapi masih
tertutupi kaus Saga.
Rama memainkan kontol ngaceng itu dengan menggelitik
frenulumnya menggunakan ujung jari. Rama bisa merasakan kontol Saga
berkedut-kedut keenakan.
Selama kejadian nakal itu, Saga tak mendesah atau mengomentari
aksi Rama. Yang ada malah Saga membahas hal lain. “Elo kalau pake mobil enggak
bisa masuk sini, Ram,” katanya, berbelok ke arah Umalas. “Ini entar nembus ke
Canggu Shortcut.”
“Kenapa enggak bisa lewat sini?”
“Ada jembatan kecil yang dipalang. Mobil enggak bisa lewat.”
“Ooohhh ... jadi cuma motor aja.”
“Yoi.”
“Tembusnya ke mana?”
“Ke Berawa. Dari situ elo bisa langsung ke Nelayan, terus ke
Batu Bolong. Elo BAKED.-nya Batu Bolong, kan?”
“Iya, Bro.”
“Kita lewat sini aja, ya.”
“Siap, Bro. Gue ngikut.”
Dan selama obrolan itu, tangan Rama masih ada di dalam celana
Saga, masih mengurut-urut kontol ngaceng Saga.
Next obrolan apa? Saga membahas topik general.
“Kalau elo ke kiri, elo bisa langsung ke Canggu. Ke FINNS.”
“Gue enggak pernah lewat sini,” balas Rama sambil menoleh ke
kiri. Tangannya masih meremas-remas kontol Saga. “Gue biasanya dari arah Canggu
Raya, yang ada bunderan, tapi kotak, yang muter-muter itu—“
“Ooohhh ... yang ada sawah itu? Ya, ya. Macet terus itu.”
“Emang, Bro. Hahaha ....”
“Kalau elo naek motor, pake shortcut aja. Lebih cepet
ke area sini.”
“Halah, Ga. Ke sini aja gue jarang! Hahaha .... Cuma nongkrong
di kosan aja buat belajar.”
“Hahaha.”
Rama mulai merasakan telapak tangannya basah oleh precum
Saga. Rama mempercepat pijatan tangannya di kontol ngaceng Saga.
Lalu lintas di sekitar mereka sebenarnya ramai. Namun memang
motor Saga hampir tak pernah berhenti sepanjang menyusuri Canggu Shortcut.
Tidak ada persimpangan dengan lampu lintas yang mungkin akan menyetop
perjalanan mereka. Paling hanya diperlambat ketika berbelok. Yang artinya,
tangan Rama masuk ke celana Saga tuh mungkin tidak akan diperhatikan siapa pun.
Sejak kejadian rem mendadak itu pun, tubuh Rama menempel ke
punggung Saga. Satu tangannya yang tidak masuk juga masih berpegangan ke perut
Saga. Mereka berdua hampir seperti dua orang pacaran yang sedang naik motor
berboncengan.
“Cewek elo udah nyampe?” tanya Saga kemudian, setelah melewati
Starbucks Nelayan.
“Kayaknya udah.”
“Entar elo bisa pulang sendiri ke kosan?”
“Halah, santuy, Bro. Gue bisa pake Grab.”
“Jauh, anjir. Dari Batu Belig ke Renon bisa kena ....” Saga
berhenti. Seperti orang yang sedang mengalkulasikan sesuatu di kepalanya,
menghitung tarif taksi online dengan jarak sejauh itu, tetapi yang
sebenarnya terjadi adalah ....
Crot. Crot. Crot. Crot. Crot.
... kontol Saga ejakulasi, menyemburkan sperma ke tangan Rama.
Saga terlihat menahan napas sejenak. Bahunya menegang. Lalu,
setelah sensasi orgasme intens itu selesai, Saga melanjutkan kalimatnya, “...
bisa kena dua ratus ribuan, Ram. Gue pernah soalnya.” Saga bersikap eakan-akan crot
itu tidak terjadi di bawah sana.
Sambil mengeluarkan tangannya pelan-pelan dari balik celana
Saga, Rama merespons, “Enggak masalah, Bro! Gue pernah nge-Grab dari bandara ke
Kintamani. Bisa sampe dua juta itu.”
“Hahaha .... Gokil, gokil!” Saga geleng-geleng dengan
bahu berguncang kana tertawa. “Maksudnya tadi kalau elo mau gue jemput ....”
“Enggak usah. Gue ama cewek gue soalnya.”
“Asyiiikkk .... Hahaha. Siap, Bro.”
Rama menarik tangannya dan melihat telapak tangannya dipenuhi
cairan putih kental yang hangat. Sebelum mereka tiba di lokasi tujuan, Rama
menjilati sperma Saga di telapak tangannya. Sampai tandas. Soalnya enggak
mungkin sperma itu dilap ke bajunya, atau ke baju Saga. Apalagi jika dibuang ke
jalan raya.
Hingga mereka tiba di kafe tujuan, tak ada sedikit pun bahasan
tentang crot barusan. Mereka berdua tidak bersikap awkward
seperti tempo hari, tetapi tak ada yang berani membahas soal itu juga.
Tahu-tahu mereka sampai di depan BAKED. Batu Bolong dan Rama turun dari joknya.
“Mau gue bawain helmnya?” tanya Saga, mengulurkan tangan.
“Enggak usah. Gue bawa aja. Habis ini elo mau ke mana?”
“Gue mau ke Umalas, yang tadi kita lewat. Ketemuan ama temen.”
Sambil menjawab, sambil Saga diam-diam mengaitkan lagi kancing celana dan
menaikkan ritsletingnya. “Elo pulang jam berapa?”
“Belum tahu. Tapi tadi gue simpan kunci di tempat biasa. Kalau
elo pulang duluan, ambil aja di situ.”
“Ah, noted. Oke. Gue cabut dulu!” Saga menoleh ke
belakang untuk melihat lalu lintas.
“Sip! Thanks, Ga!”
“Aman!” Dan Saga pun memutar motornya, melaju pergi
meninggalkan Rama di depan kafe.
Begitu Rama berbalik, dia terlonjak kaget. “ARGH!” soalnya
Indah sudah berdiri di belakangnya, melipat tangan di depan dada. Meskipun
Indah pasti tidak melihat adegan ngocokin kontol Saga di atas motor, tapi
deg-degannya tetap sama, seolah-olah Indah memergoki Rama selingkuh. “Sejak
kapan kamu di sini?!”
“Aku udah nyampe dari tadi. Udah pesan juga. Itu tadi teman
kamu?” Indah menyipitkan mata menatap kepergian Saga di ujung jalan.
Rama menoleh sejenak ke belakang, dengan hati
harap-harap-cemas, semoga Indah tidak menangkap binar-binar bahagia Rama
dibonceng Saga barusan. “Ya! Ya. Dia ... dia yang bawa aku pagi tadi buat
ngerjain tugas.”
“Dia Saga, kan?”
What the fuck?!
Rama membeku mendengar Indah mengetahui nama Saga. Rasanya
wajah Rama memucat dan kedua kakinya tersemen ke atas trotoar depan kafe. “Kamu
..., kamu kenal dia?”
“Dia yang main di basket kemaren, kan? Yang kita nonton bareng?”
Rama menelan ludah. “I ... iya. Betul.”
“Bukannya dia kampusnya beda dari kamu. Dia FK juga?”
Tak ada alasan untuk berbohong lebih jauh. Sampai titik ini,
berbohong hanya memaksa Rama membuat kebohongan lain yang merepotkan. Sebagai gay
discreet, Rama mempelajari bahwa tidak setiap hal perlu ditutupi. Jadi
untuk urusan ini, Rama mengaku jujur, “Bukan. Dia kampusnya beda dariku. Dia
teman SMA-ku di Jakarta.”
Indah manggut-manggut. “Iya memang dia dari Jakarta. Aku
enggak nyangka aja kamu kenal sama dia.”
“Wait! How do you know all of this?!”
Indah masih menegakkan kepalanya mengamati kepergian Saga.
Setelah Saga benar-benar lenyap, Indah pun menoleh ke arah Rama. “Dia famous,
Yang. Di antara cewek-cewek. Temanku aja ada yang pernah main sama dia.”
Bagian main sama cewek-cewek tak membuat Rama terkejut. Rama
masih tak bisa terima bahwa Indah mengetahui soal Saga selama ini.
“Yang jadi pertanyaanku,” lanjut Indah, “kenapa kamu enggak
heboh pas nonton basket kemaren kalau Saga emang teman SMA-mu?”
[ ... ]
Pada akhirnya, sepanjang hari Sabtu itu, Rama menghabiskan seluruh
hari bersama Indah. Setelah makan di BAKED., mereka pergi ke Living World,
menonton ke bioskop, jalan-jalan di mal, belanja, nongkrong di kafe mencoba dessert
yang sedang viral, makan malam, dan akhirnya pergi ke kosan Indah untuk
berciuman sampai bosan. Rama tersiksa dengan penampilannya sepanjang hari.
Gara-gara harus mempertahankan skenario menginap di kosan teman, Rama hanya
mengenakan celana dan kaus santai, dan sandal Saga yang kebesaran, yang
kebetulan ada di dalam koper—jadi tidak dilihat Indah ketika menunggu di depan
kamar.
Namun, yang membuat Rama tak nyaman adalah kecurigaannya bahwa
Indah “mungkin” menyukai Saga.
Sepanjang brunch di BAKED., topik soal Saga muncul
berkali-kali. Semuanya diinisiasi oleh Indah, tak peduli Rama membelokkan topik
ke arah lain.
“Tapi emang menurutku seksi, sih. Makanya temen-temenku, kalau
lihat Saga, bawaannya mesum mulu. Kayak jantung tuh deg-degan enak, gitu. Kamu
paham kan? Misal kamu lihat Aura Kasih, itu pasti kamu deg-degan karena dia
seksi, kan?”
Enggak, jawab Rama dalam hati. Namun, Rama tak
memberikan respons apa pun selain melanjutkan kunyahan sourdough-nya
yang keras.
“Saga tuh kayak ada ... cool-cool-nya, gitu. Yang
senyum dikit aja, cewek-cewek bisa baper. Tapi saking bapernya, cewek tuh mau aja
diperkosa sama dia dengan ikhlas. Enggak apa-apa misal tetek kita diperkosa
tangan Saga yang gede itu. Soalnya, tiap Saga pegang bola basket aja, dada kita
tuh berasa lagi di-dribble Saga. Menurut kamu gimana, Yang?”
“Hmmm ....” Dengan bete Rama hanya menelan santapannya
melewati kerongkongan. Yang Rama tanggapi malah hal lain. “Pemerkosaan terjadi
karena satu pihak enggak mau, atau enggak ngasih konsen, buat pihak lain
menyentuh dia. Kalau kamu ikhlas itunya diremas Saga, itu bukan pemerkosaan.
Itu namanya horny.”
Namun, Indah tidak menanggapi. “Si Tita pernah main ama si
Saga. Enak banget katanya waktu main. Keras banget. Uuuhhhhhh ... Itu si Tita
nyeritanya berulang-ulang. Dia mah kayaknya enggak absen kalau timbasket
kampusnya si Saga lagi tanding.”
Alih-alih merespons, Rama langsung melihat telapak tangannya
sendiri. Tangan yang beberapa saat sebelumnya meremas-remas kontol Saga, yang
bisa mengonfirmasi betapa keras kontol tersebut.
“Aku tahu kayaknya dia player. Dia cuma mau fun
doang ama cewek-cewek. Enggak akan bisa diajak serius. Mokondo, pula.”
Rama tertarik mendengar kata kunci itu. “Mokondo?”
“Kadang kalau makan atau jalan ke mana gitu, Tita yang bayarin
si Saga. Mereka pernah makan di Nuris. Kan itu lumayan mahal, ya. Si Saga
bilang, Tita bayar dulu aja, entar Saga transfer. Tapi sampe sekarang belum
ditransfer. Tapi kalau orangnya kayak si Saga sih, ya udahlah, ya. At least,
mokondo juga, ganteng dia mah.”
“Hmmm ....” Rama bergumam.
“Kayak kamu, Yang, maksudnya. Ganteng juga,” tambah Indah,
supaya tidak mencurigakan. “Meskipun kamu tuh beda gantengnya. Kalau si Saga
kan, ganteng-ganteng-cool. Seksi. Hot, gitu. Kalau kamu husbandable
banget. Cowok baik-baik, cowok pintar, punya mobil.”
“Hmmm ....”
“Oh iya, kenapa enggak kita ajak si Saga hang out
bareng kapan-kapan? Makan di mana gitu, bertiga?”
Di situlah Rama menyimpulkan Indah mungkin naksir Saga juga.
Obrolan soal Saga masih muncul beberapa kali meski mereka sudah di Living World
atau di kosan Indah. Rama sempat juga menegur, “Can we not talk about him?”
“Lah, kok kamu sewot?” balas Indah defensif. “Itu kan temen
kamu.”
“Kan kita lagi pacaran berdua gini, kenapa bahas orang lain?
Sebenarnya kamu pacaran sama aku atau sama si Saga?”
“Ya tapi kan orang lainnya temen kamu! Sama aja kayak aku
nyeritain soal teman-temanku ke kamu. Bukan berarti kita jadi pacaran sama
orang yang kita obrolin. Kok hari ini kamu kayak yang ngehindar dari aku, ya?”
Dan di situlah, supaya tidak memperpanjang perdebatan, Rama
meminta maaf lalu mulai mencumbu bibir Indah dengan intim. Tujuannya, selain
mengunci mulut Indah dari membahas Saga, juga untuk menunjukkan Rama masih mencintai
Indah.
Soalnya, makin lama Rama menghabiskan waktu dengan Indah,
makin Rama menyadari dirinya mencintai Saga teramat sangat. Rama tak bisa
melepaskan sosok Saga dari kepalanya meskipun Indah yang ada di sampingnya.
Film di bioskop tak diamati Rama sama sekali karena pikirannya melayang ke
tengkuk seksi itu dan bagaimana kontol ngaceng Saga ada di dalam
genggaman tangannya.
Rama merindukan Saga. Dada Rama berdebar oleh gairah setiap
kali teringat siluet wajah tampan dan seksi itu. Semua yang Indah katakan soal
Saga memang benar. Saga se-cool itu. Tapi kan enggak mungkin Rama
menimpali dengan persetujuan. Entar jadinya aneh kalau tiba-tiba Rama bilang ke
Indah, “Iya banget, deeehhh .... Apalagi otot lengannya itu, ugh! Kenyal-kenyal
keras.” Khawatir Rama keceplosan dan malah membahas ketek Saga yang pagi ini
aromanya enak bukan main.
Akhirnya, pukul 11 malam Rama pulang ke kosan dengan perasaan
campur aduk. Rama happy dengan apa yang terjadi pagi tadi, tetapi
bingung juga dengan situasinya bersama Indah. Jika benar Indah naksir Saga, apa
yang harus Rama lakukan? Saingan? Most likely, kalau disuruh milih, Saga
akan memilih Indah karena Indah punya toket dan memek—sesuatu yang Rama tak
miliki. Haruskah Rama merasa iri dan sedih akan hal tersebut?
Suasana hati Rama berubah membaik ketika dia sampai di kamar
kosannya dan menemukan Saga sudah pulang. Pintu tak dikunci, tetapi Saga tidak
ada di dalam kamar. Ada suara aliran air dari kamar mandi, mungkin Saga sedang
mandi.
Masalahnya, Rama sedang kebelet pipis.
Rama minum air terlalu banyak saat makan malam. Begitu cipokan
di kosan Indah, Rama ingin sekali pipis. Rama menghindari pipis di kamar Indah
khawatir kontolnya ketahuan enggak ngaceng selama cipokan bermenit-menit
itu. Sekaligus khawatir Indah ngajak ngewe mumpung Rama akan buka
celana.
Sepanjang bercumbu, Rama mengingatkan Indah berkali-kali dia
harus mengerjakan tugas kuliah malam ini jadi tak bisa melakukan apa pun selain
berciuman dan meremas-remas toket Indah. Kelihatannya Indah orgasme karena ada
satu momen di mana Indah mendesah dan mengerang keenakan berkali-kali, dengan
napas pendek-pendek. Indah memejamkan mata, sehingga Rama memainkan memek Indah
agar orgasme itu terasa nyaman.
Setelahnya, karena Rama benar-benar kebelet pipis, Rama pun
pamit dan pulang menaiki Gojek dalam kondisi kandung kemihnya penuh.
Maka dari itu, sesampainya di kamar, Rama langsung mengetuk,
“Ga! Sorry, masih lama enggak? Gue kebelet.”
Saga langsung menjawab, “Masuk aja! Enggak dikunci!”
Agak deg-degan juga disuruh masuk ketika Saga lagi mandi,
tetapi Rama betulan ingin pipis sehingga dia langsung membuka pintu dan
menemukan Saga sedang membelakanginya sambil mematikan keran shower.
“Sorry. Gue pengin pipis dari tadi.”
“Aman, Bro,” balas Saga santai. Dia memompa sabun cair Rama ke
tangannya, lalu membalur sabun itu ke tubuhnya hingga berbusa.
Denah kamar mandi itu sederhana. Ketika pintu dibuka, satu
area yang sejajar pintu adalah area shower. Di dinding seberang pintu,
di atasnya, terdapat kucuran shower. Lalu, di satu area sisanya, tepat
di samping shower, ada toilet. Toilet itu menghadap ke pintu, sehingga
ketika Rama berdiri di depan toilet untuk kencing, Saga juga berdiri di samping
Rama, menghadap ke dinding.
Awalnya, Rama hanya fokus ke kebeletnya: bergegas mengangkat
dudukan toilet, mengeluarkan kontol dari celana, lalu mengeluarkan air
kencingnya. Rama sudah melihat tubuh telanjang Saga dari belakang. Punggung dan
pantatnya terlihat seksi dan basah kuyup. Namun, Rama masih fokus mengeluarkan
air seni yang sedari tadi minta dibuang.
Saga kebetulan sedang menyabuni area perut dan kontolnya. Dia
buat busa yang banyak melalui jembut, sambil satu tangannya menarik-narik
kontol lemas itu ke depan berkali-kali. Setelahnya, Saga mulai menyabuni area
lain tubuhnya. Ke dada atau keteknya. Saga sempat menoleh sekali ke Rama ketika
berdiri di depan toilet, tetapi tak memberikan ekspresi apa pun. Saga hanya
lanjut menyabuni tubuh seolah-olah lelaki masuk ke kamar mandi lelaki lain yang
sedang mandi adalah hal lumrah.
Setengah perjalanan kencing itu, Rama mulai merasakan gairah
merayap di setiap pembuluh darahnya. Dia baru menyadari bahwa mandinya sang
kekasih hati terasa sangat seksi di hatinya. Napas Rama mulai memburu. Dia
menoleh ke samping, ke kontol Saga yang berbusa. Entah apa yang menarik secara
seksual dari kontol berbusa itu, tetapi Rama tak dapat menahan diri untuk tidak
mengulurkan tangannya dan memainkan lagi kontol itu.
Saga menunduk sejenak melihat tangan Rama ada di kontolnya.
Lalu, seperti tadi pagi, Saga mengabaikannya. Saga lanjut
menyabuni keteknya, membiarkan tangan itu meremas-remas kontol Saga.
Saga tidak membahasnya.
Rama tidak membahasnya.
Saga malah memutar setengah badannya ke belakang untuk
mengambil pencuci muka Rama, menuangnya ke telapak tangan, dan mengusapkannya
ke seluruh wajah.
Sepanjang proses itu, Rama masih saja meremas-remas kontol
Saga.
Lama-lama, Rama harus agak nungging karena kontolnya mulai ngaceng.
Pipisnya mulai mancur ke atas sehingga Rama perlu menyesuaikan arah
tembakannya.
Kontol Saga ternyata ngaceng juga kalau dimainkan
dengan busa sabun yang licin ini. Sesekali tubuh Saga mengentak kecil, seperti
ngilu, geli, dan keenakan dicampur jadi satu.
Namun, masih seperti sebelumnya, tak ada satu pun dari mereka
yang membahas tangan Rama di kontol Saga.
Bahkan, hingga Rama selesai kencing, tangan Rama masih saja
memainkan kontol Saga.
Saga juga mulai berdiri diam, mendorong satu tangannya ke
dinding, memejamkan mata mengkhidmati permainan tangan itu, lalu mengatur
napasnya. Seluruh tubuhnya yang perlu disabuni, sudah selesai disabuni.
Topik soal nakalnya tangan Rama akhirnya dibuka oleh Saga
ketika dia memutuskan untuk membilas tubuhnya. “Bro ..., jangan diperas terus,
Bro. Entar habis. Hehehe.” Saga berbisik dengan suara dalam yang seksi.
“Bakal habis emang?”
“Ya habis kalau dikeluarin terus.” Saga terkekeh sambil tetap
mengkhidmati kocokan tangan Rama. Namun akhirnya Saga melepaskan tangan Rama
dari situ. “Jangan. Gue mau ketemu cewek sekarang. Mau main ama dia. Jangan
sampe punya gue lemas depan dia.”
Rama mengamati kontol Saga. “Ah, enggak ada lemas-lemasnya
tuh. Malah keras kayak beton.”
“Ya makanya, Brooo ....”
Saga pun menyalakan shower sementara Rama menekan flush.
Karena tak mungkin adegan sensual itu lanjut di tengah-tengah
Saga mandi, Rama pun memutuskan keluar dengan senyum lebar. Sudah cukup kok,
batin Rama. Enggak usah muluk-muluk minta yang aneh-aneh. Toh hubungan
mereka sudah enggak awkward lagi. Sudah nyaman.
Rama meninggalkan Saga yang kini sedang melunturkan busa sabun
dari tubuhnya dengan kontol ngaceng tegak ke atas. Rama menyambar ponsel
di atas tempat tidur yang selama pipis tadi kayaknya bergetar tanpa henti.
Ada puluhan pesan tak terbaca.
Rama kebingungan. Ketika membuka WhatsApp, tiba-tiba saja Rama
sudah dimasukkan ke sebuah grup yang bernama:
CARI SAGA
Dan pesan-pesan awal yang Rama terima adalah ....
Nih gw masukin aja si Rama di sini
Biar jelas ga berspekulasi
Ayo Ram jelasin ini maksudnya apa
Di bawah message itu ada sebuah foto. Fotonya diambil
agak blur, karena itu adalah foto motor yang sedang melaju cukup kencang,
dengan dua orang manusia duduk di atasnya.
Dua orang itu adalah Saga dan Rama.
Dalam posisi Rama memeluk Saga dari belakang.
Yang artinya satu tangan Rama sedang masuk ke dalam celana
Saga.
Namun, karena difoto dari sisi kemudi jalan, tangan Rama yang
sedang mengocok kontol Saga terhalang oleh setang motor. Bagian itu tidak
kelihatan, tetapi fakta bahwa Rama seakan-akan memeluk Saga terlihat sangat
jelas.
Itu si Saga kan Ram?
Dia lagi di Bali atau kalian selama ini
tinggal bareng?
Orang2 lg nyari dia woy
Lu kalau punya infonya knp kga ngabarin
dah?!
Bukannya bantu malah mesra2an ama si
SANGSAT. Saga Bangsat.
Wkwkkw.
Ram?
Si Vina lagi di bali. Dia yg motoin itu
pagi tadi.
WTF??!! Kalian masukin si Rama ke sini?!
Kan gw udh bilang, this is between us aja, anjir! Pesan ini datang dari Vina.
Yang di bawahnya disambung dengan pesan dari Hesti, Rama,
ini aku Hesti. Bener kamu lagi di Bali sama Saga sekarang?
Bolehkah aku dikonekin sama Saga, Ram?
Pls
Anaknya lagi sakit.
Pls kasih tahu Saga ada di mana.
Kagak bakal ngasih tahu dia! WKWKWK.
Selain nipu elu, Hes, si Saga juga nipu si
Rama. Dipikat biar jatuh cinta.
WKWKWK.
Kasih tau kita si saga dmn ram atau kita
smua nyimpulin elo homo dan nyembunyiin si saga selama ini dari kita.
Pantesan anjing lu diem2 bae selama di
bali.
Kasih tau ram! Kita2 mau kesitu jemput si
sangsat biar mampus!
Fuck u ram!
....
Pluk!
Ponsel Rama jatuh ke atas tempat tidur. Rama membeku dalam
rasa panik. Matanya membelalak. Tubuhnya tak bisa bergerak. Napasnya memburu.
Apa yang harus Rama lakukan?!
Beri tahu Saga soal ini lalu cari solusinya bersama atau ....
... selesaikan masalah ini sendiri tanpa melibatkan Saga?!
Pilihan mana yang akan membuat Saga tetap di sini?
Perlukah Rama melindungi Saga ....
... atau membantu korban kejahatan Saga?!
Hasil voting:
Jumlah pemilih: 156 orang
Sebanyak 71% (111 orang) pilih “Beri tahu Saga soal grup itu, cari solusi sama2”
Sebanyak 29% (45 orang) pilih “Sembunyikan soal grup, selesaikan sendiri”
Belum ada pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.
Maka dari itu, Part 7 akan mengikuti suara terbanyak. Klik di sini untuk melihat cerita yang tidak terpilih.
Dengan ini, seluruh voting yang terjadi di Part 6 setelah penayangan Part 7 sudah tidak berlaku lagi.

Komentar
Posting Komentar